Transcript
ZFJ2rtVO4qY • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 3 - BREAKTHRU 2023 BY LEADING INNOVATION
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0067_ZFJ2rtVO4qY.txt
Kind: captions Language: id bagi [musik] pengembangan kualitas SDM Aparatur Sipil Negara [musik] baik dari Jawa Timur maupun dari berbagai daerah lain. [musik] Baby, You give me ice [musik] and you're giving me wind and rain. Some [musik] kind of butterfly. Baby, you get me up. You whip up my appetise. [musik] Don't leave me ey and drive. Oh, I don't want to jinx it [musik] baby and myself. [musik] Don't want to overthink it, baby. Just [musik] baby. You get me I You're giving [musik] me wind and rain. Some kind of butterfly. [musik] Maybe you me up. You whip up my [musik] time. Don't leave me and drive. Oh, but I don't [musik] want to jinx it, baby. Let's not get [musik] ahead of my time. Oh, [musik] but I don't want to miss you, baby. So, I [musik] stand up at my by Oh. [musik] Maybe you give me win In the rain it's gna butterfly [musik] baby you me [musik] you're up my don't leave me dr you get me I [musik] ging rain [musik] some kind of butterfly baby Maybe you feel that [musik] you're whip up my time. Don't leave me here. Oh. [musik] Oh. [musik] Oh. Oh. Oh. [musik] Oh. [musik] Oh man. [musik] Ada satu message yang saya ingin sampaikan dengan diskusi hari ini adalah kalau [musik] Anda ingin membangkit Indonesia sebagai satu negara yang punya industri dan bisnis yang kompetitif [musik] sebagai pegawai negeri kita harus memberi satu jasa yang justru mendorong rakyat kita untuk berusaha. Kalau kita melihat orang datang dengan sifat terima-terima ya, takdir-takdir dalam hidupnya, itu berarti rakyat itu tidak berkuasa, tidak punya punya kekuatan untuk berusaha apa, tidak optimis. Sangat berkaitan. [musik] orang harus pakai akalnya dan juga etik dan moral dalamusan. Dan inilah yang kita harapkan daripada pegawai negeri. [musik] Moral, etik, ee akal ini semuanya sangat kunci. Moral moral, etik, dan akal. Terima kasih Prof Edward. Boleh kita berikan applause untuk Prof. Edward. [musik] Bapak, Ibu yang sudah hadir di Sasanawiata Praja, [musik] mohon izin boleh sedikit bergeser ke depan Bapak Ibu tempat duduknya. [musik] Kita jumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh BPSDM Provinsi Jawa. Bagatut, monggo Mbak Novi. Sebelum memulai acara [musik] kita pada hari ini, hal yang patut sobat ASN perhatikan [musik] agar acara dapat berjalan dengan lancar. yang pertama tulis nama [musik] sesuai dengan format sekaligus boleh diinformasikan ke teman-teman yang lain karena jam 09.00 Kita mulai kamera matikan mikrofon sedikit dipercepat untuk naik ke lantai du. Lalu pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya agar wajah sobat ASN dapat terlihat dengan jelas. Dan jangan lupa gunakan virtual [musik] background yang sudah kami sediakan. Virtual background dapat diunduh pada link yang [musik] dikirimkan melalui WhatsApp bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran. Apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, [musik] Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau raise hand pada Zoom meeting. Siapkan pula alat tulis sobat ASN. Selain untuk mencatat hal-hal penting, hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan. Untuk mendapatkan sertifikat elektronik pada webinar ini, Sobat ASN [musik] wajib mengisi link presensi yang kami bagikan pada saat webinar berlangsung. Jangan lupa [musik] juga untuk mengisi link kuisioner ya agar sertifikat elektronik [musik] Sobat ASN dapat langsung diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Selamat [musik] mengikuti webinar ASN Belajar. [musik] Aduh, gimana sih ini? Kok sertifikatnya belum muncul juga ya? Padahal udah isi link presensi. Ada apa sih, Bro? Kok kelihatannya bingung begitu? Ini loh, Bu. Saya kan sudah isi link presensi, tapi kok sertifikatnya belum ada ya? Padahal kan katanya setelah isi link presensi kita dapat langsung mengunduh sertifikatnya. Bu Novi sudah mengisi link kuisioner belum? Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi setelah mengisi link presensi, Bu Novi juga harus mengisi link kuisioner MONEF. Baru deh sertifikat akan dikirimkan melalui What. Sini, sini Bu, saya bantuin. [musik] Berikut ini adalah tutorial cara menggunakan aplikasi IndeF untuk mendapatkan eertifik. [musik] [musik] ASN akan dapat langsung mengunduh e-sertifikat. Ingat ya, link e-sertifikat yang diterima setiap orang akan berbeda dan semua pesan pemberitahuan ini akan dikirimkan melalui WhatsApp bukan email. Nah, gimana Bu Novi? Mudah bukan? Wah, iya Bu Yanti ternyata mudah dan cepat ya. Terima kasih banyak Bu atas bantuannya. Saya udah enggak bingung lagi deh. Sama-sama, Bu Novi. Nah, untuk Sobat ASN jangan lupa untuk segera mengisi link presensi ya. Karena link presensi hanya dapat diakses pada hari H pelaksanaan webinar sampai dengan pukul 23.59 waktu Indonesia bagian barat. Tetap semangat dan ikuti terus webinar ASN belajar. Apa sih yang [musik] kita inginkan untuk masa depan? Keluarga yang sehat, pendidikan yang merata, akses untuk air [musik] bersih, ekonomi yang kuat, atau lingkungan yang terawat? Semua itu adalah cita-cita kita [musik] bersama. Melalui sustainable development goals atau SDGs, negara-negara termasuk Indonesia [musik] telah turut serta dalam mewujudkan tujuan bersama tersebut. Indonesia sendiri sudah membuat banyak pencapaian seperti tingkat [musik] kemiskinan yang terus berkurang, akses pelayanan publik yang semakin baik, pendidikan [musik] dasar yang semakin tercukupi, dan tingkat literasi nasional yang tinggi. Akan tetapi, kita tidak [musik] boleh lemah sebab masih banyak tantangan yang menghadang di depan mata. Ketimpangan sosial masih sangat Ketimpangan sosial [musik] yang masih sangat terasa. Kebakaran dan kerusakan hutan. Kebakaran dan kerusakan [musik] hutan. Kekerasan terhadap perempuan. Sampah plastik yang [musik] merusak lingkungan. Samp yang merusak lingkungan. Pengangguran anak muda yang masih pengangguran anak muda yang masih tinggi. Pekerjaan-pekerjaan yang belum usai [musik] ini harus segera kita tuntaskan. Semua tantangan ini bisa kita taklukkan hanya [musik] bila kita bergerak bersama. Sebab saya yakin tanpa kamu kebakaran hutan akan terus ada. Tanpa [musik] kamu perempuan akan terus berhadapan dengan kekerasan. Tanpa kamu, anak-anak Indonesia [musik] masih terus belajar tanpa lampu. Tanpa kamu, anak-anak Indonesia masih juga tidak mendapatkan gizi yang cukup. Dan tanpa kamu, potensi [musik] anak muda menjadi pengangguran akan terus ada. Tanpa kamu, tujuan-tujuan [musik] kita itu hanyalah mimpi belaka. Jadi, mari kita berjalan beriring. Mari kita berjalan [musik] beriring. Mewujudkan cita-cita kita bersama. Mewujudkan cita-cita kita bersama. Dan [musik] pastikan tak ada satuun kawan kita yang tertinggal di belakang. 17 tujuan untuk mengubah Indonesia yang lebih baik. Mari kita bangun Indonesia bersama-sama. [musik] Sesungguhnya [musik] peningkatan ketentraman kemudian ketertiban umum dan peningkatan kualitas pelayanan publik bagi masyarakat di Jawa Timur. [musik] hanya jadi eksportir bahkan saja maka Indonesia tidak [musik] akan bisa menjadi negara [musik] kita menghadapi perubahan yang luar biasa karena itu kita harus melahirkan orang yang berasa tepat Iya. Jangan diikut tanpa strategi. Nah, strateginya itu harus demen ya. Jadi aku juga sayang tidak [musik] [musik] bertemu dengan orang yang kita temui hari itu first impression kita itu yang menentukan apakah hari itu waktu ketemu first impressionnya tadi positif. Kalau positif akan dibawa oleh orang tersebut akan [musik] paling dalam. Betul. Betul. Ya. Sebelah kanan ada tiga macam. Pisau yang paling tua [musik] ya. Salam optimis. Luar biasa. [musik] Baik Bapak Ibu ucapkan selamat datang. Salam optimis Jim Bant, [musik] Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Bapak Dr. Drandas Agus Patoni, M.Si. Kita berikan tepuk tangan. Pemerintahan itu tidak boleh staan dan pemerintahan itu selalu ada solusi. Jadi apapun masalahnya selalu ada solusi. APD tidak ada perdaya bisa pakai peran daerah misal. Anggaran tidak tersedia boleh dilaksanakan yang penting adalah kita tahu aturannya, tahu caranya. Waduh. macam-macam. Wah, nanti naik lagi. Oh, turun lagi misalnya. Ada apa? Semakin banyak orang komen semakin bagus kenapa konten kita akan floating? Kalau dalam bahasa sos akan akan akan kayak baron bertahun-tahun itu ada mitos dalam kehidupan orang tidak bisa melakukan ini terjadi jadi segala sesuatu yang masih saya bertugas saudara adalah memilih Impossibility. Saatnya kita emosional booster. Bukan vaksin aja yang diboster, mental kita harus diposter. Kita kegiatan. Kalau itu semua bisa kita jalankan dengan baik, maka insyaallah akan kita dapat yang namanya public trust. Oleh karena itu, ayo kita buktikan. loyalitas kita, kesetiaan kita bukan apa-apa, tapi ayo program-program yang menjadi komitmen politik kita, komitmen kemasyarakatan kita yang masih belum tercapai. Optimis [musik] BBSDM Provinsi Jawa Timur. Halo dari Kepala Bidang PKK ya. Langsung saja. Hai undur [musik] Innovation. What is it? How do you do it? Innovation is all about coming up with new ideas or improving old ones. [musik] We can think about innovation as a process to create these ideas and test them. From scientists to designers, artists to engineers, anyone can innovate to solve problems. This process starts off with a need or a challenge. What is a problem that you might like to solve? Have a think about all the different ways to solve this problem. What already exists? What materials can you use? Think about some inspiration from the world around you [musik] or even ask some friends to help you come up with some ideas. Then make a prototype. A prototype is like a draft. It doesn't have to be perfect or work properly or even use the same materials as the final product. Often you'll make lots and lots of prototypes before your final design. In order to figure out whether it does what you want it to do, you need to test it. This is often the part where you learn the most about your idea. Is your prototype doing what you want it to do? Can you improve it? What changes would you like to make? After testing your prototype, [musik] figure out what you want to change and refine it. Did it fail completely? Great. Use this failure as feedback to help improve it. You can change something big or small or even go back to the drawing board and start from the beginning. [musik] Innovation is nothing new. Everyone has done it at some point in their lives. Whether it's making a new invention, coming up with a new dance routine, or even writing a story. Have a look around you. Are there any problems or challenges that you'd like to solve? Next time you have a problem, have a go using this process. Have a go thinking, making, trying [musik] and refining. You never know what you could come up with. [musik] Aduh, gimana sih ini? Kok sertifikatnya belum muncul juga ya? Padahal udah isi link presensi. Ada apa sih, Bu Novi? Kok kelihatannya bingung begitu? Ini loh, Bu. Saya kan sudah isi link presensi tapi kok sertifikatnya belum ada ya? Padahal kan katanya setelah isi link presensi kita dapat langsung mengunduh sertifikatnya. Bu Novi sudah mengisi link kuisioner belum? Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi. Salam sejahtera bagi kita semua sobat ASN di mana pun berada. Senang sekali pagi hari ini saya Grace Mamahit bisa kembali lagi berjumpa dan juga menyapa seluruh sobat ASN dalam ASN belajar seri 3. Kita berikan tepuk tangan untuk acara kita yang luar biasa dan memang begitu luar biasa karena ini berbeda dari seri-seri yang sebelumnya. di ruangan ini tepatnya di Sasanawiata Praja. Saya tidak sendirian tapi ada seluruh karyawan atau pegawai dari BPSDM Provinsi Jawa Timur hadir bersama-sama dengan kita. Boleh kita berikan tepuk tangan. Dan tentu saja hadir juga salah satu narasumber kita yaitu Prof. Candra Fajri Ananda, S. M.Sc., PhD. Selamat datang, Prof. Tentu saja ini bukan kali yang pertama Profesor dapat hadir karena sudah sering sekali terus membersamai program di Cororpu SDJIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dan pagi hari ini, Sobat ASN, saya juga ingin menyapa seluruhnya yang berada di Zoom maupun juga di YouTube BPSDM Jatim TV. Jangan lupa kita punya jargon kali ini ASN belajar. Jadi kalau saya sampaikan ASN belajar boleh dibalas dengan semangat belajar, sukses bersama. Kita coba ya, kita coba ASN belajar semangat belajar sukses bersama. ASN belajar sukses bersama. Kita berikan tepuk tangan sekali lagi. Baiklah, Bapak Ibu, pagi hari ini juga sudah hadir di virtual bersama-sama dengan kita. Beliau luar biasa sekali karena sudah menyempatkan waktu bersama-sama dengan kita ya. Nanti kita akan dengarkan bersama keynote speech beliau. Sobat ASN di ASN belajar seri ketiga ini kita punya satu tema yaitu breakthrough 2023 by leading innovation. Kata inovasi jelas sudah tidak asing lagi di telinga kita dan bahkan sudah sering dilakukan. Korpu SDJIS BPSDM Provinsi Jawa Timur salah satu instansi yang juga mencetak berbagai inovasi. Bahkan sudah ribuan dari para peserta-peserta pelatihan yang lulus dari kawah candra di muka Provinsi Jawa Timur. Ya. Namun tentu saja yang menjadi tantangan kita sekarang bagaimana kita melahirkan atau menciptakan inovasi-inovasi baru yang lain daripada yang lain, namun juga bisa menjadi solusi dan memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memberikan pelayanan publik yang terbaik. Ya. Dan tentu saja bukan hanya itu, tapi tujuan kita bersama adalah mewujudkan birokrasi yang berkelas dunia. Hari ini di seri ketiga dalam tema Breakthrough 2023 by Leading Innovation, kita akan tahu bersama langkah-langkah seperti apa, praktik-praktik baik seperti apa, bahkan juga mindset apa yang sebenarnya harus kita miliki dan kita lakukan untuk terciptanya inovasi-inovasi baru, inovasi-inovasi yang lain daripada yang lain. Kita akan temukan jawabannya hari ini. Dan jangan lupa kita juga mau ingatkan untuk sobat ASN, Bapak, Ibu yang juga sudah ada di Sasanawiata Praja sudah isi link presensi. Jika belum boleh langsung dian saja QR code yang ada di meja masing-masing. Kemudian untuk sobat ASN yang bergabung di virtual baik di Zoom dan juga di YouTube kita silakan ada di running tag yang ada di layar Sobat ASN yaitu bit.ly/hadir. /hadirbreakthrough. Jangan lupa hanya huruf besar ya. Bit./hadirбakthrough. Dan kemudian setelah mengisi presensi sobat ASN bisa juga mengisi link MONEV monitoring dan juga evaluasi. Kalau sudah isi link MONEV baru Sobat ASN bisa mengunduh sertifikatnya ya. Dan tentu saja layanan contact person kita di WA 082119411 akan dibuka sampai 2 hari ke depan. Jadi jika ada sobat ASN yang belum familiar menggunakan aplikasi INDEF untuk mengunduh sertifikat ini, jangan khawatir. Don't worry ya. Kita akan bantu Sobat ASN sampai link presensi ini akan berlaku sampai tanggal sampai hari ini saja pukul 23.59 59 sampai nanti malam ya. Pastikan data yang dimasukkan benar karena tentunya ini juga merupakan salah satu praktik baik Sobat ASN untuk memasukkan data dengan benar. Karena data yang sudah masuk dalam aplikasi INDF tentu saja tidak bisa direvisi manual. Baiklah, sobat ASN, jangan lupa juga kita mau ingatkan bahwa di Instagram kita di BPSDM Jatim dan juga Wipro Communication, kita punya giveaway tebak kata. Hadiahnya macam-macam, banyak sekali dan tentu saja ini eksklusif ASN belajar. Ada payung, ada power bank, ada diffuser, dan juga ada t-shirt. Jangan sampai sobat ASN melewatkannya. Ada juga yang katanya sudah sempat koleksi nih kayaknya merchandise ASN belajar ya. Baik, sebelum kita akan dengarkan keynote speaker kita yang hari ini sepertinya sedikit terkendala tapi kita akan maksimalkan. Baiklah kalau begitu kita akan saksikan terlebih dahulu satu tayangan berikut ini tentang The Innovation Cycle. Innovation. What is it? How do you do it? Innovation is all about coming up with new ideas or improving old ones. We can think about innovation as a process to create these ideas and test them. From scientists to designers, artists to engineers, anyone can innovate to solve problems. [musik] This process starts off with a need or a challenge. What is a problem that you might like to solve? Have a think about all the different ways to solve this problem. What already exists? What materials can you use? Think about some inspiration [musik] from the world around you or even ask some friends to help you come up with some ideas. Then make a prototype. A prototype is like a draft. It doesn't have to be perfect or work properly or even use the same materials as the final product. Often you'll make lots and lots of prototypes before your final design. In order to figure out whether it does what you want it to do, you need [musik] to test it. This is often the part where you learn the most about your idea. Is your prototype doing what you want it to do? Can you improve it? What changes would you like to make? After testing your prototype, [musik] figure out what you want to change and refine it. Did it fail completely? Great. Use this failure as feedback to help improve it. [musik] You can change something big or small or even go back to the drawing board and start from the beginning. Innovation is nothing new. Everyone has done it at some point in their lives. Whether it's making [musik] a new invention, coming up with a new dance routine, or even writing a story. Have a look around you. Are there any problems or challenges [musik] that you'd like to solve? Next time you have a problem, have a go using this process. Have a go thinking, making, trying and refining. You never know what you could come up with. economy chemical companies courcing [musik] ideas globally consumer goods companies utilizing artificial intelligence socialer companies [musik] of [musik] aduh gimana sih ini kok sertifikatnya belum muncul juga ya padahal udah isi link presensi sih. Ada apa sih, Bu Novi? Kok kelihatannya bingung begitu? Ini loh, Bu. Saya kan sudah isi link presensi tapi kok sertifikatnya belum ada ya? Padahal kan katanya setelah isi link presensi kita dapat langsung mengunduh sertifikatnya. Bu Novi sudah mengisi link kuisioner belum? Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi setelah mengisi link presensi, Bu Novi juga harus mengisi link kuisioner MONF. baru deh sertifikat akan dikirimkan melalui WhatsApp. Sini sini Bu, saya bantuin. Berikut [musik] ini adalah tutorial cara menggunakan aplikasi INDEF. Untuk mendapatkan e-sertifikat, yang pertama pastikan Sobat ASN sudah mengisi link pendaftaran yang terdapat pada Flyer ASN belajar. Link pendaftaran ini dapat diisi maksimal 1 hari sebelum acara webinar dilaksanakan. PSN akan dapat langsung mengunduh e-sertifikat. Ingat ya, link e-sertifikat yang diterima setiap orang akan berbeda dan semua pesan pemberitahuan ini akan dikirimkan melalui WhatsApp bukan email. Nah, gimana Bu Novi? Mudah bukan? Wah, iya Bu Yanti ternyata mudah dan cepat ya. Terima kasih banyak Bu atas bantuannya. Saya udah enggak bingung lagi deh. Sama-sama, Bu Novi. Nah, untuk sobat ASN jangan lupa untuk segera mengisi link presensi ya. Karena link presensi hanya dapat diakses pada hari H pelaksanaan webinar sampai dengan pukul 23.59 Waktu Indonesia bagian barat. Tetap semangat dan ikuti terus webinar ASN belajar. [musik] Innovation. What is it? How do you do it? Innovation is all about coming up with new ideas or improving old ones. We can think about innovation as a process to create these ideas and test them. From scientists [musik] to designers, artists to engineers, anyone can innovate to solve problems. This process starts off with a need or a challenge. What is a problem [musik] that you might like to solve? Have a think about all the different ways to solve this problem. What already exists? What materials can you use? [musik] Think about some inspiration from the world around you or even ask some friends to help you come up with some ideas. Then make a prototype. A prototype is like a draft. It doesn't have to be perfect or work properly or even use the same materials as the final product. Often you'll make lots and lots of prototypes before your final design. In order to figure out whether it does what you want it to do, you need to [musik] test it. This is often the part where you learn the most about your idea. Is your prototype doing what you wanted to do? Can you improve it? What changes would you like to make? After testing your prototype, [musik] figure out what you want to change and refine it. Did it fail completely? Great. Use this failure as feedback to help improve it. You can change something big or small or even go back to the drawing board and [musik] start from the beginning. Innovation is nothing new. Everyone has done it at some point in their lives. Whether [musik] it's making a new invention, coming up with a new dance routine, or even writing a story. Have a look around you. Are there any problems or challenges that [musik] you'd like to solve? Next time you have a problem, have a go using this process. Have a go thinking, making, trying ini, perkembangan teknologi informasi sudah menjadi aspek penting bagi peningkatan di segala bidang. Salah satunya pada rana pemerintah Kota Surabaya, Distruk Capil Kota Surabaya sebagai perangkat daerah selaku instansi [musik] pelaksana yang membidangi urusan administrasi kependudukan terus berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik yang [musik] mudah, cepat, santun, dan sepenuh hati dengan mencetuskan berbagai inovasi aplikasi dan inovasi layanan. Diharapkan dengan hadirnya inovasi pelayanan tersebut mampu untuk memudahkan masyarakat dalam mengurus administrasi kependudukan. Salah satu inovasi dari Disduk Capil Kota Surabaya adalah program Londong Balap. Londong [musik] Balap menjadi salah satu inovasi layanan integrasi pelayanan terpadu yang merupakan akronim dari layanan online dan terpadu [musik] one gate system bersama di Stuk Capil Kota Surabaya dan Pengadilan Negeri Surabaya. Inovasi layanan ini hadir untuk menjawab sejumlah permasalahan masyarakat terkait pergantian dokumen kepeludukan seperti perubahan nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, dan nama orang tua di akta kelahiran yang dalam hal ini membutuhkan [musik] putusan pengadilan negeri. Pemohon yang ingin menggunakan layanan londong balap [musik] cukup mendaftar di kelurahan. Setelah itu akan dilakukan proses review oleh pengadilan negeri dan jika sudah divalidasi [musik] nantinya akan diberikan jadwal sidang untuk menerima keputusan pengadilan negeri dan produk adindung seperti akta kelahiran, KK, dan KTP elektronik secara langsung. Dari registrasi sampai ke proses persidangan semuanya berjalan lancar. Proses sesuai dengan prosedur. He lancar, tidak ada halangan. sidangnya juga sangat cepat dan [musik] sangat mudah untuk kita ya sebagai warga. Kolaborasi pelayanan melalui lontong balap ini [musik] sebagai sarana untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pelayanan publik khususnya pengadilan negeri Surabaya dan [musik] Pemerintah Kota Surabaya. Warga Kota Surabaya, yuk dokumen kependudukanmu diurus segera. Bagi yang sudah punya kartu keluarga, punya KTP elektronik, cek lagi datanya sudah di-update atau [musik] belum. Datanya sudah data terbaru atau belum. Karena memiliki dokumen kependudukan adalah langkah pertama untuk bisa mendapatkan pelayanan publik yang lengkap. [musik] Terima kasih, Pak Walikota, Pak Kepala Dinas DUP Capil. Terima kasih seluruh warga Surabaya. Maju terus, sehat terus, sukses selalu. Seluruh saudara-saudara saya di Kota Surabaya melakukan [musik] atau mengurus adminuk di Kota Surabaya jauh lebih mudah sekarang. Ayo cepat diurus sehingga pelayanan publik Surabaya akan tepat sasaran yang menjadi yang terbaik bagi warga kota Surabaya. [musik] [musik] Sobat ASN, kita masih di ASN belajar seri ketiga. Boleh kita berikan tepuk tangan. Tentu saja masih semangat. Coba cek dulu semangatnya. ASN belajar. Semangat belajar. Sukses bersama. Nah, berikut ini kita akan bersama-sama mendengarkan keynote speech yang akan disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang sudah bergabung secara virtual bersama kita, yaitu Bapak Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP. [musik] Bapak Taufik selamat pagi. Selamat pagi. Baik. Apakah suara saya boleh sedikit dikeraskan Bapak biar terdengar lebih jelas? Baik Bapak selamat pagi Pak Taufik pagi I. Silakan Bapak. cukup ya cukup cukup jelas. Silakan Pak Taufik ee bisa dimulai ya. Ya, silakan Bapak. Baik. Ee terima kasih yang kami hormati Bapak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Pak Aris. Terima kasih nih Pak Aris atas kesempatannya. Yang kami hormati para pembicara ya di sini yang telah hadir bersama kita dan yang kami banggakan seluruh ASN Provinsi Jawa Timur yang hadir pada acara yang sangat penting ini adalah seri ketiga ASN belajar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua. Om swastiastu. Salam sehat untuk kita semua. Sekali lagi terima kasih atas kesempatannya. Saya kira forum seri 3 ASN belajar ini merupakan forum yang sangat penting, terutama sejalan dengan tema acara kita pada pagi hari ini yaitu breakthrough 2023 by Leading Innovation. Jadi ini termasuk forum yang menurut hemat kami sebagai bagian upaya prakarsa Provinsi Jawa Timur untuk membangun ekosistem inovasi ya. Karena inovasi ini membutuhkan ekosistem yang kondusif untuk seluruh komponen ya, pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, kota ya ini seluruhnya perlu ee apa membutuhkan ekosistem inovasi yang kondusif. Jadi ini ee merupakan prakarsa yang sangat baik. Oleh karena itu, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang sangat tinggi. Apalagi kalau kita perhatikan saat ini yang sudah bergabung bersama kita ini sudah dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi baik di tingkat nasional bahkan juga internasional. [musik] Saat ini juga beliau menjabat sebagai guru besar Universitas Brawijaya. Ladies [musik] and gentlemen, please give applause. Bapak Profandra Fajri Ananda, S. MSC, PhD. [musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Ee sebelumnya kita mungkin bisa belajar ya ee bahwa penyelenggaraan secara hybrid ini ternyata memang bisa ee ada gangguan seperti sekarang. Tapi setidaknya applause untuk kita semua ASN yang terus mau belajar, yang terus mau berubah untuk menjadi lebih baik. Hari ini saya ucapkan terima kasih untuk undangan eh sharing-nya terutama pada Pak Aris sebagai Kepala BPSDM dan sekaligus sebagai PJ Walikota Batu. Kenapa saya sebut ini? Karena kebetulan saya tinggalnya di Batu. Jadi, Pak Aris ini walikota saya. Yang kedua, ee tentu para pembicara, Pak Yonan, kebetulan sebenarnya mulai hari ee Selasa saya itu di Jakarta dan mestinya saya minta online juga, tapi kata Pak Sugeng, "Oh, jangan on ee online, Prof." gitu. Karena kita diharapkan seluruh warga BBSDM juga mengikuti secara langsung. Dan kebetulan Bu Menteri hari ini ngisi acara di Sumenep dan harusnya saya juga mendampingi Bu Menteri juga. Dan ternyata ee tadi malam saya setelah guyon-guyon suasana batin sudah enak baru ngomong kalau saya minta izin untuk memberikan materi hari ini. Jadi moga-moga apa yang kita lakukan secara bersama-sama ini menjadi kebaikan bagi kita semua. Topik hari ini saya pikir topik yang menarik ya. Jadi ada kata-kata breakthrough. Breakthrough itu sebenarnya dalam bahasa ee kita itu terobosan. Terobosan yang tentu kenapa kita menerobos biasanya adalah untuk menuju ee pencapaian tujuan yang lebih cepat, lebih tepat dan murah kan gitu. Gak ada terobosan itu malah kemudian menjadi tidak efisien. menjadi tidak tepat sasaran, tidak tercapai tujuannya. Jadi, break through sebenarnya adalah bagaimana strategi yang harus kita lakukan untuk bisa membangun. Sehingga breakthrough itu biasanya juga kaitannya dengan apa yang kita sebut dengan inovasi. Maka inovasi itu seperti tadi sedikit disampaikan oleh Pak Taufik adalah membutuhkan environment, membutuhkan suasana, membutuhkan lingkungan yang baik. maka breakthrough tidak akan terjadi pada organisasi yang tidak sehat. Break through tidak akan terjadi pada organisasi di mana dalam organisasi itu tanda petik ya ee tidak berlaku performance yang menjadi ukuran sebagai basis karirnya seseorang. Nah, kebetulan saya sudah 3 tahun berkarir di ee ngikutin lah ya ngikuti di Kementerian Keuangan. Mungkin nanti saya bisa sharing bagaimana di Kementerian Keuangan itu yang katanya Kementerian Sultan gitu ya, kementerian Sultan. Tetapi bagaimana kinerja seseorang itu sangat sangat harus terukur sehingga sangat diperlukan ee inovasi-inovasi di dalam menjalankan tugas-tugasnya. Hari ini saya ingin menyampaikan beberapa hal. Ada tiga tiga poin yang ingin saya sampaikan. Yang pertama adalah mengapa kita memerlukan perubahan-perubahan ini di dalam ASN. Bahkan tadi malam saya mendengarkan ada tambahan honorer ya di organisasi ASN ini hampir sekitar 2 juta, Pak. Padahal ASN ini jumlahnya sekitar sekitar 4,5 juta. Jadi hampir 6 juta. Padahal dengan cara seperti ini, kita ingat di Undang-Undang HKPD yang baru tahun 2022 belanja ASN itu tidak boleh melebihi 30%. Kalau jumlah honor nambah sekitar 2 juta, berarti apa yang kita bisa bayangkan? Kapan ini dimulai? di Undang-Undang HKPD disampaikan bahwa pelaksanaan undang-undang HKPD ini akan berjalan 5 tahun setelah undang-undang ini digedok atau diberlakukan. Berarti tahun 2027. Nah, sekarang sudah tinggal 4 tahun lagi. Mestinya sudah mulai berlaku pengurangan-pengurangan jumlah pegawai yang tentu basisnya adalah kinerja. seseorang tidak dipakai karena kinerjanya buruk. Seseorang tidak lagi ada dalam posisi itu karena kinerjanya tidak mendukung kinerja organisasi. Ya, oleh karena itu tadi saya sampaikan maka organisasi menjadi sangat penting. Kenapa itu kita lakukan? Kita sedang menuju Indonesia 2045. Slide-nya bisa dilanjut enggak, ya? Indonesia menuju 2045. Kenapa 2045 ini sering disampaikan juga oleh Presiden? Kalau kita lihat pada tahun 2045 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia itu sekitar 319 juta. 319 juta. Dan ini sudah kurang hampir sekitar ee 20 tahun lagi, Pak. 20 tahun kayaknya enggak enggak lama ya. Yang kedua, umur produktif itu sekitar 47%. Secara ekonomi income per kapitanya sudah harus menjadi 23.000 US. Artinya maka kita tidak mungkin tidak berubah kalau mau menuju ke sana. Ekonomi selalu tumbuh 5% 5,01 5,1 kan begitu Pak ya. Selama pandemi kita bahkan lebih rendah. ekonomi harus tumbuh untuk mencapai 23.000 US dolar per kapita itu harus tumbuh sekitar 7%. Nah, untuk tumbuh seperti itu harus berubah, Pak. Yang bahasanya Bu Menteri menggunakan kata-kata tidak inovasi tapi transformasi, perubahan. Intinya adalah inovasi, transformasi, intinya perubahan. yang tentu perubahannya adalah perubahan menjadi lebih baik, perubahan menjadi lebih efisien, lebih cepat, kalau bisa lebih murah dan itu tidak mungkin ya tidak mungkin meninggalkan yang namanya teknologi atau digital. Maka teman-teman sudah mulai harus membayangkan bagaimana ya kalau digitalisasi masuk dalam kantor saya, berapa banyak orang yang berkurang. Saya kasih ilustrasi, Pak. Tahun 2004 Undang-Undang tentang Perbendaraan Direktorat Jenderal Perbendaraan itu pegawainya hampir 16.000, Pak. Sekarang sudah tinggal 6.000 sekian tahun. Berapa tahun? Hampir 19 tahun. Artinya perubahan ini kemudian merubah jumlah yang namanya pegawai itu dengan digitalisasi. Dulu kalau kita mau mencairkan ke kantor kas negara itu harus bawa amplop-amplop gitu, Pak. Ya, sekarang sudah melalui transaksi perbankan sehingga jumlah pegawainya menurun. Sehingga kalau kita lihat 2045 itu menjadi target kita menyongsong 20 ee 45 ini Indonesia harus bagaimana. Yang kedua kita lihat di slide yang kedua ya, yang ketiga halaman 3 halaman 4 sori. Di dalam RPJM itu itu pemerataan antar wilayah, meningkatkan keunggulan kompetitif, pelayanan dasar, kemudian sinergi pemanfaatan ruang ini membutuhkan peran pemerintah yang berbeda. Slide keempat ya. Sehingga kalau kita lihat Indonesia yang ada sekian banyak pulau, ribuan pulau ini tidak bisa kita lakukan dengan cara-cara biasa. kita perlu melakukan terobosan-terobosan baru di dalam mengelola kewilayahan Indonesia ini. Dan di situ kalau Bapak-bapak, Ibu-ibu perhatikan, kalau dilihat dari PDRB berdasarkan pengeluaran government spending, belanja pemerintah itu menjadi kunci. Bahkan dari hasil evaluasi kita ya, hasil evaluasi kita belanja pemerintah itu selalu di kuarter keempat. Jadi kuarter ketiga itu bahkan kemarin tahun 2022 kita mengalami kontraksi, mengalami penurunan. Tahun 2002 ee 22 itu di kuarter keempat baru mulai positif gitu. Berapa banyak SILPA? Silpa terus naik. Macam-macam sebabnya SILPA ini. Tetapi bisa secara umum kita katakan betapa kualitas SDM di birokrasi itu menjadi kunci. termasuk yang sekarang kita perhatikan yang mungkin hari ini kita bisa diskusikan. Next. Nah, sehingga menuju 2002 ee 45 itu kita perlu melakukan apa yang kita sebut dengan transformasi ekonomi yang tadi sudah saya sampaikan. Kemudian ini menuntut juga reformasi struktural. Kita tidak mungkin lagi bayangkan kalau Undang-Undang HKPD itu diberlakukan nantinya, maka daerah itu harus ada namanya pinjaman daerah. Kalau daerah ada pinjaman daerah, Bapak bisa bayangkan seorang pengelola utang daerah ini dia seperti bagian triseriy kalau diperbankan. Bagian triseri itu gajinya gede banget, Pak, kalau diperbana ada resiko-resikonya. Kalau itu ada di pemda-pemda, maka tentunya gajinya pegawai pemda yang ngelola utang ini enggak mungkin sama dengan ASN yang lain. Berarti memang perubahan mulai dari reward systemnya harus berubah, manajemen pengelolaan daerah juga berubah. Bahkan sekarang ini akan dimulai tadi malam Bu Menteri cerita akan dimulai Kabupaten Bojonegoro untuk membuat indomen fun karena ee DBH-nya minyak gara-gara harga minyak dunia naik drastis itu Bojonegoro itu ee ada kelebihan sekitar 3 triliun rata-rata. Nah, ini harusnya sudah masuk ke dalam indomen fund yang tentu kita mikir siapa di pemda ini yang bisa mengelola itu, punya enggak skill untuk mengatur ini. Nah, oleh karena itu perlu ada perubahan-perubahan yang harahnya adalah produktivitasnya harus menjadi lebih tinggi. Kemudian yang kedua, ekonominya tumbuh lebih cepat. Kemudian memperkuat ketahanan ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Next. Nah, untuk seperti itu maka kuncinya tetap Pak sumber daya manusia. Jadi kuncinya adalah sumber daya manusia. Kita ingat Ristomezi. Kalau kita belajar sejarahnya Jepang ya, sejarahnya Jepang itu mereka mengirim tahun 1900 anak-anak mudanya ke luar negeri untuk melihat ini loh dunia itu seperti ini. Tadi malam itu kebetulan Bu Menteri Keuangan kita ee hari ini beliau-beliau ke Sumenep ya. Tadi malam kita makan-makan di layar, Pak, di daerah sini. Pada waktu makan-makan, habis itu selesai. Selesai makan. Kebetulan Pak Sekjen saya itu, Sekjen Kementerian Keuangan itu dari Bondowoso. Habis makan ya sudah ngobrol aja. Terus katanya Bu Menteri gini, "Ini habis makan enggak ada apa-apa ini. Gak ada makanan penutup atau apa gitu." yang Pak Sekjen persepsinya beliau ya habis makan ya sudah jagongan kan orang-orang di Bondowoso begitu gitu. Terus katanya ibu, "Woh Bapak ini kurang banyak ke luar negeri katanya." Jadi memang perspektif baru itu bisa dibangun dengan cara banyak melakukan perjalanan, tidak harus ke luar negeri, tetapi mempelajari hal-hal baru, kesiapan untuk mempelajari hal baru. Dan ini ujungnya adalah dalam manusia SDM. Yang kedua, modal fisik juga perlu. Kita hampir setiap tahun dalam APBN itu membangun infrastruktur itu hampir sekitar 300 sampai 400 triliun. Bahkan proyek nasional kita PSN proyek strategi nasional itu hampir sekitar ee sekitar angkanya hampir sekitar 600 triliun ya. Jadi kalau kita lihat modal fisik juga penting. Modal fisik juga penting. SDM-nya bagus tapi infrastrukturnya enggak siap juga akan tidak mencapai optimal. Yang keempat adalah sumber daya alam. ya, sumber daya alam kita memang sudah perlu membuat tata kelola yang lebih baik terhadap pengelolaan sumber daya alam ini. Jangan sampai mungkin tahun 2030 misalkan sumber daya alam kita sudah mulai tidak ada lagi. Yang terakhir adalah modal sosial. Jadi di dalam membangun SDM itu atau membangun daerah, membangun negara, kita kenal ada yang disebut dengan modal sosial. Modal sosial itu apa? Modal sosial itu rasa tanggung jawab bersama, kebersamaan yang di negara kita mungkin di beberapa wilayah sudah mulai menghilang ya, tapi di banyak wilayah masih ada itu. Jawa Timur ini masih sangat besar. Bagaimana kita memanfaat kebersamaan-kebersamaan masyarakat itu evaluasi kisa kita terkait dengan penggunaan dana 20% pendidikan itu angka PISA. Pisah itu adalah ukuran untuk nilai matematika. Kita jauh di bawah fitnah, Pak. Berarti 20% pendidikan ini perlu kita review lagi, gitu. Kalau kita lihat temuan-temuan terkait dengan SILPA, perencanaan yang tidak tepat, ada something yang salah di dalam birokrasi kita sehingga SILPA ini kemudian terus membesar. Nah, ini tentu reformasi perlu kita lakukan di bidang tata kelola pemerintahan kita. Kemudian yang kedua, bagaimana modal sosial ini terus kita bangun. Kita memang sudah mulai membangun hubungan-hubungan yang baik. Tidak hanya dengan lingkungan pemerintahan saja antar pemerintahan, antar OPD gitu ya, tapi juga dengan masyarakat. sekarang ini di sektor perpajakan misalkan ee besok ya kita ada kerja sama sama Bu Gubernur, teman-teman dari pajak Direktorat Jenderal Pajak yang intinya nantinya itu para WP itu diajak ngomong duitmu ituu kayak kita ambil dari Bapak Ibu semua, kita pakai apa saja dan seterus. Jadi komunikasi antara pemerintah dan masyarakat itu semakin wajib hukumnya harus menjadi bagian di dalam proses pengambilan keputusan maupun kebijakan yang kita lakukan. Next. Nah, walaupun begitu kita ini menghadapi tantangan yang enggak ya kita masih melihat tantangan global. Kita enggak pernah tahu tuh Rusia sama Ukrain ini berubah apa enggak, berhenti perang apa enggak. Dampak dari peperangan itu yang jelas adalah disrupsi di bidang supply. Industri-industri yang bahan bakunya dari daerah sana gak bisa dikirim ke kita, Pak. Dampaknya adalah inflasi di mana-mana. Terakhir eh Federal Reserve Bank Amerika, Bank Sentral Amerika sudah meningkatkan tingkat bunganya sudah menjadi 4,5. Itu tertinggi sepanjang Amerika berdiri, gitu. Nah, konsekuensinya kalau Amerika menaikkan tingkat suku bunga, banyak kapital dari Indonesia ini lari ke sana semua, Pak. Dan ini tentu menjadi catatan kita. Nah, oleh karena itu di domestik kita punya masalah satu, perdagangan internasional mungkin akan terganggu karena permintaan negara-negara yang tadi mengalami konflik itu akan menurun. Kita lihat dalam 2 tahun terakhir neraca perdagangan kita ini sudah surplus dan ini bagus untuk ekonomi ya. Tapi ini enggak tahu kita apakah tahun 2023 akan seperti itu. Kemudian yang kedua, kontribusi global value chain yang masih rendah. Kita ini enggak ngikut gitu. Walaupun ada yang bilang itu ya bersyukur juga. Karena kalau kita ngikut ke sana seperti Korea yang menjadi bagian dari industri otomotif yang besar, saat ada konflik itu dia terganggu. Jadi Korea adalah satu negara yang sangat menggantungkan pendapatan negaranya dari ekspor 70%. Kita enggak. Nah, kita ini sangat tergantung pada domestik, kepada daya beli masyarakat. Itu alasan mengapa pemerintah satu tetap memberikan hampir sekitar 500 triliun dalam bentuk perlindungan sosial, BLT dan seterusnya. Satu. Yang kedua, menjaga inflasi supaya kita tetap mau belanja. Karena ekonomi itu kuncinya belanja. Dan yang jangan lupa, jangan lupa saya selalu bilang bahwa ekonomi kita seperti ini tertolong ini karena masih banyak di Indonesia ini orang yang masih pergi berjamaah salat subuh berdoa. Tahun 2020 itu sudah ada pesimis, Pak. Waduh kita ini gimana tahu-tahu ada perang. Siapa yang nyuruh perang? Enggak ada, Pak. Bukan orang kita mestinya. Gara-gara perang harga minyak dunia naik ya. Sawit naik, batu bara naik, gas naik. ya kita untung hanya penerimaan pajak kita di atas 100%. Bahkan untuk tahun ini 2022 sudah 120%-an, Pak targetnya melebihi target. Jadi bukan berarti kita bersyukur karena ada perang ya, tapi saya pikir karena orang Indonesia itu baik-baik, banyak doanya, ekonomi kita terbantu. Belum lagi saya bicara zakat sama infak. Bapak bisa bayangkan kejadian di Turki itu. Turki itu inflasinya hampir 90%, Pak. Mata uangnya turun hampir sekitar 50%. Tapi ya tenang-tenang aja, enggak ada demo. Ternyata saya cek di sana lembaga zakat, lembaga wakaf itu bekerja secara maksimal. Yang itu harusnya persis hampir sama dengan kejadian di Indonesia. Next. Nah, kenapa inovasi ini kemudian menjadi penting? Jadi, kebutuhan dasar untuk modal menjadi meningkatkan daya saing itu yang pertama adalah institusinya. Kita harus menciptakan. Kalau tadi kata Pak Taufik dari ee deputi atau sekretaris ee BAPENAS, sekretaris umum BAPENAS, beliau mengatakan untuk berinovas. Inovasi itu memerlukan environment, memerlukan lingkungan organisasi yang sehat. itu penting. Yang kedua, infrastrukturnya harus memadai. Kalau kita memang mau masuk ke digitalisasi, kita siapkan infrastrukturnya. Alat-alat kantor semua sudah harus connected, semua ada digital dan seterusnya. Yang ketiga, peningkatan tingkat kesejahteraan. Saya pikir Pemprop Jatim sudah cukup lumayan bagus memberikan kesejahteraan ini. Nah, ini kita perlu berpikir juga gimana caranya sistem insentif ini sudah harus berubah. Tentu baiknya adalah performance base ya. Yang keempat kesehatan dan kesediaan pendidikan. Jadi kebutuhan dasar kita terutama kesehatan dan pendidikan sudah harus terpenuhi pada saat kita mau berinovasi. Kalau itu masih kurang, mungkin kita tidak akan sempat berpikir untuk berinovasi. Itu yang pertama. Yang kedua, terpinya supply skill labor. Tadi saya sampaikan sama Pak Kaban sebelum acara ini, kita harus ngecek karena beliau sekarang dari Walikota Batu. Berapa banyak pegawai di Kota Batu yang mengikuti training-training pengembangan skill? Jadi pengembangan skill itu bagian dari insentif yang kita berikan kepada karyawan. Bapak-bapak, Ibu-ibu bisa bayangkan kalau kita punya karyawan dan tidak pernah ditraining, ngantor aja berarti enggak ada pengembangan skill. Itu enggak benar, ya. Kemudian yang kedua, kita perlu membuat bagaimana pasar tenaga kerja ini juga efisien. Nah, tiga hal ini jadi pendekatan multidisiplin yang seperti sekarang mungkin ada yang bagian A bagian B di dalam OPD atau di bagian organisasi ee kantornya, tapi semuanya adalah bagaimana kita kemudian mengedepankan kita pendekatan multidisiplin mau menerima hal-hal baru. Kita juga perlu banyak membaca penelitian. Bahkan dulu pada waktu saya masih aktif, sering aktif di BPPEDA Provinsi Jawa Timur, saya minta punya perpustakaan yang update supaya kita baca terus gitu. Nah, organisasi publik itu biasanya menerapkan dalam bahasa yang lain namanya knowledge management. Bagaimana di dalam organisasi itu anggota-anggota di dalamnya itu kita push untuk terus belajar membaca, menulis, termasuk melakukan riset yang kemudian dilombakan. Sehingga yang menerapkan itu Kementerian Keuangan yang saya tahu, kemudian Bank Indonesia. Sehingga di Bank Indonesia walaupun kita ini enggak jadi pejabatnya di struktural, mereka bikin tulisan menjadi fungsional, jadi peneliti yang kemudian dilombakan yang hadiahnya juga gede juga sebagai insentif. Maka kita perlu melihat ini sebagai suatu enablers. Jadi lingkungan kerja yang baik, sistem insentif yang baik, organisasi yang sehat itu nantinya akan mendorong yang namanya inovasi itu. Dan ini juga harus di-support leadership-nya, kemudian knowledge yang dikembangkan dan budaya kerja. Tiga-tiga hal ini akan muncul leadership yang kuat itu muncul apabila organisasinya juga sudah mulai sehat. Nah, sekarang topik yang kedua. Saya ingin menyampaikan peran kunci APBN di dalam mendorong transformasi ini. Ini saya sedikit cerita tentang APBN kita ee karena ini bagian dari tugas saya sebagai ee staf khusus Kementerian Keuangan. Kalau kita lihat transformasi ekonomi mendorong pertumbuhan yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. Ini sebenarnya pokok-pokok kebijakan fiskal kita tahun 2003. Jadi, ada kata-kata pertumbuhannya harus lebih tinggi, harus inklusif. Inklusif itu artinya melibatkan banyak hal. Maka kita mendorong daerah juga untuk melakukan pinjaman daerah gitu ya. Walaupun kata teman-teman PTSMI pada waktu pandemi kemarin banyak yang pinjam sekarang belum ada gitu. Jadi maunya daerah memang tingkat bunganya nol gitu. Jadi enggak ada enggak ada beban gitu ya. Nah, sekarang sudah kembali normal malah belum ada daerah yang melakukan pinjaman. Kemudian yang terakhir adalah berkelanjutan. Nah, arahnya sebenarnya lebih banyak salah satu poin peningkatan kualitas SDM. Jadi, berkali-kali saya ulang-ulang bahwa transformasi kita perlukan, perubahan ini kita perlukan, tapi kunci perubahan dan transformasi itu di SDM. Pada waktu Pak PJ Walikota yang kebetulan Pak Paris sebagai kabannya BPSDM mau banyak melakukan perubahan kebentur-bentur beliau ini kok SDM-nya enggak siap, enggak ada reaksi, enggak ada komen, ada grup pimpinan, ada masalah ini ya diam aja gitu. Jadi ini kan masalah SDM ini menjadi problem serius pada waktu kita mau membangun suatu organisasi yang sehat. Sehingga mulai sistem rekrutmen-nya perlu kita review, pengembangan skill-nya perlu kita review. Berapa banyak mereka ikut training, trainingnya apa saja. Kalau habis training terus orang-orang ini ke mana jadi apa, ini harus kita review semua. Kebetulan saya juga sebagai komisaris Bank Jatim, saya mer-review semua itu ada ini kok yang pergi kok ini terus ya gitu. Ada apa ini? Ternyata hasil perginya itu trainingnya enggak ada apa-apa ya, hanya karena teman-teman. Akhirnya kita rubah sistem bagaimana mengirim seseorang kepada lembaga pendidikan yang luar yang di luar. Nah, ini ee akhirnya kita ketemulah solusinya untuk bagaimana membangun skill yang lebih baik. Next. Oleh karena itu, APBN punya peran yang penting. Ee pertama reformasi struktural, akselerasi, mendorong pembangunan ekonomi hijau, penguatan kualitas modal manusia, terutama pendidikan kesehatan, dan berlinsos. Dan dananya ya untuk pendidikan itu hampir sekitar 612 triliun. Itu menurut saya angka yang sangat besar. Makanya pendidikan kita kalau ternyata hasilnya masih kalah sama Vietnam, terus saya mikirnya apa yang salah? Apakah sedot beberapa wilayah di Jawa Timur yang saya teliti ya seperti Kabupaten Malang, DA-nya habis untuk gaji guru? Loh, to kad pernah seperti itu gitu. Apakah kemudian DA ini harus kita atur belanjanya gitu? itu menyalahi konsepsi DAO. Kita ke DAK. Wah, ini kalau DAK banyak terlalu banyak fisiknya. Jadi ini memang kita kebentur-bentur pada waktu mau melakukan perubahan-perubahan ini. Tapi yang jelas sampai tahun 2030 harus kita rubah konsepsi penggunaan dana pendidikan ini. Yang jelas insentif guru akan tetap gitu ya. Karena ternyata ee guru ini juga membawa perubahan perekonomian terutama ya setelah guru-guru dapat insentif dan macam-macam itu ya beli mobil kreditnya ke perbankan juga jadi ada gitu ya. Sayangnya masih banyak juga kemudian muncul masalah baru di beberapa kota perceraian itu tinggi dan didominasi guru juga gitu. Mungkin karena gajinya lebih tinggi pikirannya jadi aneh-aneh gitu. Tapi mestinya tidak di sana, tidak ke sana. Mestinya kelebihan dari penerimaan itu untuk pengembangan skill dari masing-masing gitu. Ada beberapa sekolah yang menjadi binaan saya di Malang ya, itu gurunya kebetulan sekolah swasta ee pondok-pondok modern gitu, Pak ya. SPB-nya mahal dan gurunya 1 tahun tuh 10 orang mesti saya suruh pergi ke luar negeri. Yang paling banyak ke Jepang. untuk belajar tentang pelayanan. Karena di Jepang sudah sangat mapan yang semacam itu. Jadi tantangannya kalau kita lihat reformasi ini rendahnya literasi keuangan di bidang keuangan terutama ya. Kemudian biaya transaksi ini rata-rata di sektor keuangan. Jadi per sektor itu kalau kita lihat sektor keuangan kita pinjol marak keamanannya lemah. Kemarin saya tulis digitalisasi temarak gitu ya. Semarak. tapi keamanannya lemah. Jadi ini juga edukasi keuangan itu juga sangat lemah sekali dan memang kejahatan-kejahatan perbankan terutama digitalisasi itu bahkan sudah sampai pada pembicaraan digemarin. Jadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Next. Oleh karena itu, next, kita bisa melihat mobilisasi pendapatan menjadi sangat penting untuk menyusun perubahan-perubahan ini. Next, ya. Kemudian, bagaimana kita belanja yang lebih baik? Belanja yang lebih baik ini tidak mungkin bisa dilakukan apabila perencanaannya buruk. mekanisme perencanaan ini yang selama ini didominasi oleh teman-teman birokrat ya, itu tidak akan berjalan untuk menghasilkan APBD yang baik. Kemarin saya sempat menjadi salah satu juri untuk menentukan kepala daerah yang baik yang ada lima kalau enggak salah ya. Ada salah satu kandidat yang baik ini very strong leadership. Saya enggak sebutkan kotanya ya. Beliau sangat strong gitu. Dan beliau mewajibkan OPD-nya tidur di masyarakat sambil bercerita. Hari berikutnya harus memberikan laporan. Artinya belanja permasalahan lah gitu. Jadi sebelum Musren bank itu OPD-OPD tidur di rumah-rumah masyarakat. Nah ini adalah cara-cara baru yang tadi saya sampaikan. Ini bentuk inovasi bagaimana mengcollek problem pembangunan yang ada di masyarakatnya. Kapan hari ki fakultas saya itu raker di Banyuwangi. Nah, kemudian ee kita nunggu Bu Apuk, Pak Bu Bupati. Ternyata beliau dari tidur di masyarakat. Jadi dipakai oleh beliau dih cerita ya ini saya adopsi dari ee salah satu wilayah yang tadi saya sebutkan itu. Dan ternyata bagus ya, ternyata bagus dan ini akhirnya program-programnya menyentuh. Bahkan program-program fisik itu kayak jalan rusak. Hari itu langsung bisa diselesaikan. Yang tidak bisa diselesaikan k kemiskinan. Ini kan long term atau middle term. Tapi kalau jalan rusak sudah langsung kepala dinas ee PU-nya harus ikut terus langsung bangun. Jadi pendekatan-pendekatan baru di dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan itulah bagian dari inovasi yang kita perlukan saat ini. Ya. Kemudian yang ketiga, kita perlu juga pembiayaan inovatif. Jadi tadi saya sempat bilang sama ee Pak Aris sebagai PJ Walikota Batu. Saya bilang, "Pak Aris, alun-alun batu itu dulu konsepsinya karena dulu saya ikut terlibat di awal-awal pendirian Kota Batu itu adalah untuk menyeimbangkan karena objek wisatanya bayar semua. Jatak, apalagi macam-macam itu. Nah, ini harus gratis nih alun-alun ini. Tapi karena gratis kemudian masyarakat mengatakan, "Wah, ini karena gratis akarepe dewe." gitu. Saya selalu bilang tidak ada yang gratis, Pak. Di dunia enggak ada yang gratis. Kalau gratis berarti enggak ada maintenance kan gitu. Ak saya bilang, "Udah, Pak di apa dipagerin aja atau dibatasi pembiayaan. Ini dibiayai hotel A. Hotel A suruh ngerawat, Pak. Hotel B itu seperti di Singapura. Bagaimana kebun binatang yang burung itu dibiayai oleh hotel B, hotel C, toko A, toko B gitu, Pak. Burung ini dibiayai oleh ini. Jadi, itu namanya pembiayaan inovatif yang bisa kita lakukan untuk pembiayaan public services gitu, tidak harus APBD. Nah, ini bisa kita lakukan bagaimana swasta itu akan masuk kalau dia yakin memang uangnya aman. perusahaan dia kalau di teorinya CSR apapun namanya atau responsibility yang lain itu membantu brandingnya perusahaan. Asumsinya adalah birokratnya itu tidak aneh-aneh sama dia. Maka sangat penting, sangat penting ya, sangat penting birokrasi itu menunjukkan kepercayaan itu sampai mereka para pihak ketiga terutama perusahaan, bisnis sektor gitu ya, secara umum itu percaya uangnya aman. Ini juga kami lakukan pada waktu dulu pada waktu Chel Samsung di Pasuruan. didemo terus oleh masyarakat. Kan orang Pasuruan tuh kebanyakan ngaji di pondok. Chil Samsung itu adalah industri yang high input technology. Harus alumni teknik kimia atau kimia gitu ya atau teknik mesin gitu. Yang itu enggak mungkin orang-orang yang di pondok itu sekolah-sekolah yang begitu gitu. Akibatnya ini berdiri kemudian mereka jadi penonton saja akhirnya iri kok yang menikmati pendatang karena kasus itu. Kemudian saya bantu juga pondok bata-bata di Pamekasan kalau enggak salah itu untuk merubah kurikulum pondoknya ada pelajaran tentang mengelola gas gitu ya supaya teman-teman pondok ini alumninya bisa kerja di perusahaan gas gitu. Jadi ini memang membutuhkan perubahan semuanya ini. Kalau tidak maka kita akan menjadi penonton. Sudah ada contohnya. Masyarakat Betawi tahun akhir 90 sori akhir 80 tahun 91 Pak. Banyak yang menjual tanahnya itu kemudian naik haji. Yang terjadi sekarang adalah warga Betawi itu di pinggir-pinggir semua, Pak. Dan itu akhirnya memunculkan permasalahan baru. Jadi sangat penting komunikasi antara birokrasi di pemda misalkan dengan para pelaku usaha yang baik gitu. Kita duitmu pakai ini loh, nanti duitmu akan seperti ini dan seterusnya. Yang keempat adalah mitigasi risiko. Ya, jadi ini memang ada ilmunya sendiri ya. Ada namanya risk management itu. Jadi setiap kali ada kerja sama mengelola ini, Bu Menteri sudah mikir, "Pak, BUMDBUMD yang dibuat oleh pemda itu kan kekayaan yang dipisahkan. Bagaimana pemerintah pusat itu mengoleksi yang namanya dana penerimaan dari pajak, dari cukai, kemudian dibagi hasilkan ke daerah, kemudian ditransfer ke daerah, terus di daerah dibikin BOMD yang hasilnya nol bahkan rugi. Kan seperti buang ini yang kerja keras terus ini, Pak. namanya itu kalau di dalam teori tidak sharing the pain. Yang ini berat mencari dananya, yang ini enak aja pakainya gitu. Bu Menteri sudah minta tolong dong dievaluasi itu, gitu. Jadi ini memang perubahan-perubahan ini akan terus terjadi, Pak. Mengingat memang kondisi ekonomi dunia yang sudah banyak dibahas. Kita enggak tahu apakah ada resesi atau tidak dan seterusnya. Next. Oleh karena itu, next, ya. Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan dengan isu banyak perubahan itu yang pertama kita harus menjaga komitmen ini. Kita harus jaga. Biasanya orang Indonesia itu harus ada contohnya, Pak. Contohnya gimana gitu ya. Contohnya gimana dan seterusnya. Maka komitmen ini harus dibangun dengan cara menjaga apa yang kita awali sampai akhir dan tujuannya harus tercapai, komitmen harus kita jaga. Bahwa kalau saya berbuat baik di kantor saya ada rekognisi, ada kepastian bahwa karir saya juga akan berjalan dengan baik, maka organisasinya juga harus baik. Maka ini tentu menjadi komitmen pimpinan di dalam organisasi itu. Yang kedua, hindari ego sektoral. Ini enak ngomongnya ya. Ini enak. Tapi sulit, Pak. Saya yakin kepala daerah itu kepala daerah ini pikiran auditor, Pak. Kalau saya orang BBK, kalau saya masuk ke daerah tertentu, daerah Allah, pertama kira-kira saya masuk ke mana? Setelah masuk ke kepala daerah pasti masuk kepada lembaga yang menjadi kepercayaan kepala daerah, walikota atau bupatinya. Dilihat dari mana? Dilihat dari berapa banyak anggarannya? Pertama, pendidikan, p-nya bagian perencanaan, bagian penerimaan daerah. Bapenda misalkan itu pasti orang dekatnya kepala daerah ya sudah dia akan masuk ke situ dulu, ya. Oleh karena itu biasanya yang non empat ini ya yang penting ada lah gitu. Sehingga kadang-kadang mereka sulit untuk kerja sama, mereka merasa nomor dua bukan pejabat nomor satu gitu. Nah, ini harus dihilangkan ya. Maka di Kementerian Keuangan itu Pak sekarang ada istilah Kemen Q1. Bapak tahu kan insentif terbesar itu diteman-teman pajak Pak. Jadi salah satu eselon 1 dipajak dengan eselon 1 di DJKN kekayaan negara atau perbendaraan itu bisa sepertiganya, Pak, gajinya sehingga pajak ini terlalu besar. Nah, sehingga Bu Menteri pada waktu mau muter ini kalau diputar ke perbendaraan orang pajak itu seperti ee tanda petik hukuman walaupun naik. Nah, ini sekarang lagi di-review lagi gitu. supaya tidak terjadi ego sektoral. Jadi, ego sektoral itu omongannya gampang, tapi dalam praktiknya sangat sulit. Orang pajak mengatakan, saya kasih contoh begini, teman-teman pajak itu mengatakan kita ini penting semua. Perbendaraan juga penting, ee cukai juga penting, pajak juga penting, DJPK juga penting. Di antara yang penting itu tapi ada yang tidak vital. Tangan ini penting, Pak. Tapi kalau kita kehilangan tangan, masih hidup kita. Jantung ini ya penting ya vital. Enggak ada jantung mati kita. Saya mengibaratkan pajak itu vital itu. Makanya di Amerika lembaga pengelola e pajak itu di luar government, Pak, langsung ke presiden. Nah, ini lagi diskursus itu walaupun Bu Menteri tetap enggak harus masuk dalam Kementerian Keuangan. Karena untuk membuat strategi ke depan kalau enggak tahu penerimaannya bagaimana gitu. Jadi ini memang ee jadi diskursus untuk bisa ee terus menjadi layanan yang lebih baik. Kemudian moral hazard, kepentingan yang menyatu ya ini masih saudaranya ini gitu. Ini terjadi karena kebanyakan dalam organisasi itu masih ada saudaranya A, saudaranya B, saudaranya C gitu. kami di Bank Jatim itu sama sehingga transformasi yang kita canangkan 2022 itu agak terhambat terhambat ya karena memang kita berhadapan dengan yang tadi saya sebutkan ini. Ini rekrutmennya ini saudaranya ini dan seterusnya ada moral haza di sana. Yang terakhir adalah mengontrol hasil. Monf itu wajib. Kalau kita membuat kebijakan seminggu lagi harus kita cek sudah dijalanin belum. terutama di birokrasi ya. Kalau di perusahaan-perusahaan ee kayak Universitas Telkom ya kalau saya kasih contoh itu muridnya hampir sekitar ee 20.000, pegawainya di bawah 100 karena semua sudah digital. Saya di Brawijaya pegawai itu yang non PNS ya, non ASN itu ada 1700 pengeluarannya hampir R85 miliar. Saya bilang ini resiko ini. Setelah dicek, "Oh, iya ini masih saudaranya ini saudaranya ini." gitu. Ini penyakit organisasi. Saya yakin tidak hanya di kampus, di birokrasi mungkin ya gak jauh bedah. Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita mengevaluasi caranya gitu, Pak. Penugasan kontrol. Penugasan kontrol paling simpel di dalam mengontrol manajemen itu adalah mengontrol apa yang sudah kita tugaskan. Nah, akhirnya ada yang ngomong, "Pak, kalau begitu jadi pemimpin itu berat." Iya, memang jadi pemimpin tuh berat. Saya sempat jadi dekan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Brawijaya. Saya saya bilang sampai saya itu berusaha mengelencerkan karyawan, Pak. Saya yang saya sendiri tidak pernah ke sana. Ke Cina. Saya gak pernah ke Cina tapi karyawan saya sudah semua. Itu dengan upaya yang sudah menggil lah. Intinya jadi pemimpin tu isinya berkorban tok. Saya bilang gitu. Sehingga tidak enak. Tetapi Allah kan menjanjikan kalau kita muslim ya. Allah menjanjikan kalau mau milih pintu surga dari jadilah pemimpin yang adil. Kan gitu Pak. Ya, kita harapannya itu aja. Jadi kalau kita beranggapan jadi pemimpin untuk menambah aset, nambah ini, pasti niat itu enggak akan bagus gitu ya. Bahkan Bu Menteri itu, Pak, bekas ee atau bukan bekas ya, ex eh direkturnya WBank, bosnya WBank. Kalau di LHKPN coba dicek enggak banyak, Pak. Jadi ini memang Bu Menteri tadi malam bilang karena cerita cerita tentang cucunya beliau gitu. I have one question from my grandson katanya dia karena sering-sering ngomong bahasa Inggris Pak. Dia bilang karena kita ini mau diundang Pak Said. Pak Said itu kepala banggarnya DPR RI di Sumenep. Makanya beliau ke Sumenep. Bu, Pak Said itu ee rumahnya bagus, Bu. Gitu. Ada lift-nya katanya. Terus ketawa ibunya itu kayak seperti pertanyaan cucu saya ya gitu. Cucu saya bilang, "You are finance minister of republic Indonesia but you don't have any elevator in your house." Katanya gitu. Kamu ini Menteri Keuangan Indonesia yang katanya hebat, Menteri Keuangan terbaik dan tapi kok enggak punya lif di rumahmu katanya gitu. Jadi itu sampai anak-anak itu sudah mengukur karena dia omongan dari teman-temannya baru kelas 1 SD mengukur orang tuanya, kakek, neneknya itu dari materi. Jadi ini memang menjadi tantangan kita kalau kita siap menjadi pemimpin harusnya kita review ulang ini apakah kita masih seperti itu? Oke, next. Maka SDM unggul itu sebenarnya jadi kunci. Jadi SDM unggul ini jadi kunci. Minggu lalu saya diajak kalau yang dari Malang mesti tahu ada kawasan ekonomi khusus di Singosari. Pak Bupati juga pengin bikin SDM unggul. Terus tahu-tahu saya diminta kemudian saya suruh jadi ee ya pemimpinnya untuk perubahan itu ya. Terus kita mau menggandeng eh London Kings Collegu. Kita mau bikin kampus, mau bikin ini gitu. Terus saya bilang gini aja, memang SDM ini kunci dari semuanya. Kalau kita belajar dari sejarah Nabi pun gitu ya, yang dibangun oleh Nabi itu sebenarnya bukan tata kelola. Yang dibangun adalah individu-individu. Kan asabikunal awalun cuma berapa orang? 15 orang. tapi bisa merubah peradaban bangsa Arab zaman itu. Jadi orang ini yang memang kunci dari perubahan. Nah, kalau kita lihat perbandingannya ya antara Singapura dengan kita ya angka-angkanya ya mulai APK kemudian PISA yang tadi saya sampaikan kita tuh sangat rendah bahkan dari Malaysia kalah jauh kita. Makanya kalau pemimpinnya kalau kita kemarin mendengarkan bagaimana Mahatir ngomong gitu ya, sori Pak Anwar Ibrahim ngomong kita kayaknya missing missing seorang leader dengan perkataan-perkataan visioner gitu. Itu karena didukung oleh pendidikan yang baik. Kemudian dari sisi kesehatan kita juga melihat angka stunting masih tinggi. Jawa Timur termasuk yang tinggi stuntingnya. Jadi kalau kita lihat pendidikan dan kesehatan ini, kita perlu paham bahwa ya kita masih perlu kerja keras untuk menghasilkan yang namanya SDM unggul itu dari sisi makro. Nah, apa yang harus kita respon? Pertama, oh kenapa ini slide-nya? Pertama, kita harus menghilangkan yang namanya scaring effect. Memang dampak pandemi ini cukup besar walaupun sekarang sudah mulai hilang. Bahkan tadi saya perhatikan mungkin 90% enggak ada yang pakai masker juga gitu. Jadi sudah orang enggak enggak takut lagi. This is very important ya. Karena kalau orang takut-takut itu enggak berani jalan, enggak berani ke restoran, ekonomi kan jadi buruk ya. Kemudian yang kedua, kita juga masih melihat ekonomi dunia masih belum menunjukkan kepastian yang bagaimana. Yang tadi sudah saya sampaikan masalah struktural di SDM, infrastruktur birokrasi ini memang lagi digodok ya. Undang-undang HKPD itu Pak untuk teman-teman pemda ya itu akan memaksa kita sebenarnya tidak boleh lagi seperti dulu. Maka saya itu ya kalau ada teman-teman pemda ASN sekolah ikut kursus ikut training seperti saya senang Pak. Saya senang. Jadi seperti hari ini pun saya sebenarnya kesulitan waktu gitu ya. Tapi karena saya merasa saya bilang sama Bu Menteri, "Bu, ini yang nanti yang ikut hampir sebagian besar pemda di Jawa Timur Buitu ya sudah gitu salam sama Pak Jonan gitu. Saya pengin ketemu Pak Jonan juga." Jadi intinya sebenarnya masalah struktural itu SDM, infrastruktur, birokrasi ini sudah jadi masalah umum. Kita memang pada tahun 2014, Pak, itu kita Pak Jokowi di awal pemerintahannya minta gaji PNS itu ASN itu R30 juta zaman itu. Zaman itu ya kita bikin simulasi itu hanya bisa tercapai apabila ASN kita ini jumlahnya 2,5 juta. Nah, sekarang itu sudah 4,5 juta honorer tadi malam ee teman-teman dijanjan, Dirjen Penganggaran cerita ada honorer sekitar 2 juta gitu. Aduh, itu Bu Menteri gini loh, terus gimana itu gitu. Jadi memang kita diadakan pada tantangan organisasi secara nasional ya itu yang seperti itu gitu. Jadi memang ee saya enggak yakin itu bisa dilakukan 4 tahun lagi untuk mengurangi belanja pegawai maksimal 30%. Itu tantangannya cukup berat untuk sampai masuk ke sana. Next, slide 17 ya. Jadi bagaimana dalam peningkatan daya saing berarti gitu. Jadi kalau kita lihat dibandingkan di dunia, dibandingkan di dunia kita ini menduduki 75 dari 132 untuk inovasi, Pak. Hampir separuh. Kemudian di region Southeast Asia, Indonesia menduduki peringkat 13. Ya, itu tapi dari sekitar 16 negara. Jadi kalau kita perhatikan kita enggak bagus di dalam inovasi. Kalau kita lihat dari peningkatan reset development kita enggak ada 1% Pak 0,2%. Bahkan BRIN itu, BRIN itu tadi malam ibunya cerita minta anggarannya itu ee di atas 10. Tahun 2022 itu 8 8,4 triliun, Pak, anggarannya Brin. Hanya kepakai 1 triliun enggak ada. Katanya, Ibu, ngapain minta banyak-banyak? Wong segitu aja enggak habis gitu. Jadi ini memang kebiasaan riset, inovasi terutama menjadi basisnya itu belum belum menyatu di tempat kita. Kalau kita lihat memang penganggarannya masih semacam itu. Next. Oleh karena itu di dalam pengembangan ini pertama sistem manajemen ASN perlu kita review ulang. Mulai sistem rekrutmen mungkin sekarang sudah mulai baik. Bahkan jumlah ASN sebenarnya growth-nya sudah mulai turun. Grow-nya sudah mulai turun. Udah minus growth gitu ya. Tapi manajemennya termasuk misalkan kemampuan kolaborasi itu menjadi sangat penting. Kemudian yang berikutnya adalah meningkatkan kompetensi. Jadi kompetensi seringki di tempat saya itu ada pelatihan untuk training-training keuangan daerah. Pemda itu ngirim 2 bulan, Pak, dulu ya 2 bulan. Tapi kita evaluasi setelah balik ke ee ke apa kantornya, ke pemdanya, posisinya tuh enggak ada hubungannya dengan keuangan. Ditaruh di mana, ditaruh di mana gitu. Sehingga kompetensinya enggak bermanfaat. Dia punya kompetensi tapi tidak dimanfaatkan. Nah, ini juga perlu kita ingatkan juga. Kemudian yang berikutnya database. Nah, ini penting ya database ini ee kita jangan sampai membuat kajian, membuat ee perencanaan tanpa database yang bagus. Database ini memang problem besar saat kita memberikan subsidi kemarin, subsidi PBM, kompensasi gitu ya. itu ternyata banyak yang tidak tepat sasaran karena memang seharusnya kita merubah itu. Kemudian tata kelola manajemen ASN kapan seseorang naik pangkat, kapan seseorang dibayar berapa, insentifnya berapa, gitu ya. Ini harus terukur semuanya. Jadi kalau kita masuk pada performance base, maka ukuran-ukurannya harus orang bisa mengetahuinya. Bahkan sistem remunerasi itu harusnya temannya tahu, "Oh, Pak Candra dibayar berapa ya remunnya ya?" gitu. Sehingga orang, "Pak Candra kok gitu dibayar segitu padahal saya lebih aktif misalkan gitu." Jadi ada yang saling mengontrol. Nah, transparasi di dalam pengelolaan ini kadang-kadang enggak tahu kenapa sih fulan tahu-tahu jabat itu padahal kemampuannya atau banyak masalah dan seterusnya. Jadi, ini memang PR-PR perubahan. Nah, ini topik terakhir bagaimana tata kelola pemerintahan yang kita perlukan untuk mencapai pengembangan inovasi. Next. Jadi kalau kita lihat di grafik ini ya yang sebelah kanan ya itu 3 tahun terakhir pertumbuhan ASN itu sudah negatif sebenarnya pertumbuhannya. Jadi sebenarnya kita sudah minus growth, kita sudah mulai mencoba mengurangi. Tapi kalau tertekan oleh honorer tadi itu jadi masalah ya. Akan jadi masalah sehingga keluhan DA yang kurang, tunjangan profesinya kurang gitu ya. Itu juga karena jumlahnya itu tidak ada koordinasi. Ini juga menjadi konsern kita. Next. Kalau kita lihat sebaran sebaran ASN kita memang didominasi oleh Jawa dan Sumatera ya, Jawa dan Sumatera. Sehingga kalau kita memang mau memperbaiki tentunya ya fokusnya di Jawa Sumatera apalagi tekanan ekonominya juga cukup besar 80% ekonomi Indonesia ya Jawa Sumatera. Jadi memang ASN ini menjadi kunci penting juga untuk membangun perekonomian. Next. Ini kalau kita lihat rasio jumlah penduduk dan jumlah ASN. Kalau dilihat dari angka-angka ini yang baik-baik itu sebagian besar di Jawa yang rasionya lebih rendah dari rata-rata. Yang di atasnya misalkan ada Bengkulu, ada Aceh, yang paling besar itu Papua ya. Jumlah AS-nya banyak, penduduknya sedikit gitu. Nah, ini tentu akan menjadi overhead cost bagi organisasi itu. Pasti layanan publiknya harusnya kan tambah bagus, Pak. Ya, itu jadi buruk karena memang duitnya habis untuk gaji, gaji, gaji gitu. Next. Nah, sebagian besar dari jumlah yang angka tadi itu sebagian besar adalah di ee guru ya. Jadi di fungsional ada juga di pelaksana CFU maupun angka-angka ini menunjukkan yang tadi saya sampaikan dominasi di guru itu cukup besar ya ASN. Nah, makanya tapi kalau hasilnya tadi yang saya sampaikan di depan PISA kita masih rendah, di ASEAN juga kita kurang gitu ya, pertanyaannya adalah bagaimana membangun sektor pendidikan yang lebih bagus lagi ke depan tanpa harus mengurangi fasilitas atau insentif yang diberikan kepada guru. Nah, oleh karena itu next kita juga melihat bahwa kualitas SDM ini akhirnya juga mengurangi serapan belanja juga. Jadi yang tadi saya sampaikan SILPA-silpa yang besar itu bisa jadi karena perencananya enggak pas, bisa jadi tumpang tindih sehingga enggak ada yang mau berkorban. Ya udah, aku nunggu diselesaikan mereka. atau daripada aku nanti tanda petik diproses di tempat lain, aku lebih baik enggak melakukan apa-apa. Dan ini semua akhirnya jadi seperti yang sekarang kita lihat seringkiali terjadi. Nah, oleh karena itu birokrasi yang bagus adalah organisasinya pertama right sizing gitu ya. Ya, right sizing ukuran pemda ini memang harusnya kita review. Kalau jumlah penduduk sekian ee minta tambahan 1 menit lagi penduduknya sekian mestinya pemdanya sebesar apa. Yang kedua, SDM aparatur integritas kompetensi yang hari ini kita bicarakan. Kemudian akuntabilitasnya ya, siapa melakukan apa dan targetnya apa, capaiannya bagaimana. Ini harusnya semua orang bisa tahu. Jadi harus terbuka gitu ya sehingga bisa saling mengontrol. Next. Mungkin di halaman terakhir aja ya, di halaman 28. Jadi strategi reformasi birokrasi itu pertama ee penyederhanaan birokrasi. Penyederhanaan di slide 28 ya. Penyederhanaan birokrasi. Kemudian tata laksananya menjadi mudah. Dan ini memang tidak mungkin tanpa digitalisasi ya. Tanpa digitalisasi. Memang Indonesia ini ada yang bilang disperse. Ada Jawa yang tingkat pendidikannya bagus di luar Jawa yang seperti itu. Jadi pada saat digitalisasi belum tentu di sana internet ada, belum tentu listriknya nyala terus. Internetnya bisa beli, tapi nyalanya listrik tidak dan seterusnya. Kemudian birokrasi yang bersih dan akuntabel dan melayani. Yang terakhir percepatan peningkatan kualitas pelayanan publik. Jadi ini memang inovasi itu harusnya menghasilkan layanan yang lebih cepat, tepat sasaran, dan murah. Jadi saya pikir itu ee yang bisa saya sampaikan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kita berikan tepuk tangan Bapak Ibu Prof. Candra terima kasih banyak. Walaupun ada beberapa slide yang harus skip ya, tapi tidak apa-apa karena memang waktu juga kalau bicara soal inovasi kayaknya 1 minggu itu harusnya ya, Prof. ya. Nah, hari ini sudah ada beberapa penanya. Kita akan ke penanya yang di Sasanawiata Praja dulu. Silakan Bapak Ibu yang ingin bertanya ke Prof. Candra, silakan. Mungkin Bapak Ibu para widya iswara silakan. Ini hari ini juga ada pelantikan Widya Iswara, Pak. Baru saja oleh Pak Kaban. Silakan, Bapak. Silakan. Boleh dipakai mic meja jika memang ada mic mejanya. I. Baik, silakan. Dengan Bapak siapa, Pak? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Saya nama saya Kostoro Widya Iswara dari BPSDM. Ee saya ingin bertanya ini, Pak, tentang inovasi di sektor publik, ya. Jadi kalau di private itu ada namanya discretionary expense di mana inovasi itu di biaya itu ee kalau diistilahkan dalam aspek hukum diskresi itu adalah pengabaian terhadap kebijakan umum. Artinya inovasi itu tidak bisa serta-merta bisa dilakukan pertanggung jawaban pada saat itu juga. Ini yang menjadi persoalan di sektor publik, Bapak ini karena pernah ada tulisannya Pak Mardiasmo. Eh, inovasi itu harus ada diskresi. Kalau tidak ada diskresi ya barangkali kurang fleksibel di dalam melakukan inovasi dan kemudian eh di sana kita berhadapan dengan korupsi gitu, Pak. Jadi ini bagaimana tip-tipnya? Bagaimana apa apabila itu kita sandingkan Pak di sektor publik. Baik itu Pak terima kasih. Baik Pak Kusworo. Izin Pak Kustoro. Kustoro. Kustoro. Baik silakan Prof. Memang kadang-kadang ASN enggak takut berinovasi karena takut dengan aturan-aturan. Iya. Iya. Ee dalam satu Terima kasih, Pak Kustor ya. Jadi memang setiap ASN, setiap pegawai itu punya kalau bahasa praktisnya tus ya kan gitu. tugas dan fungsinya dia di sini gitu. Nah, kemudian biasanya kemudian mereka akan melakukan apa yang biasa mereka lakukan rutin. Misalkan dia ee kayak di tempat saya dulu ya karena ada pegawai yang dia hanya lulusan SMA tapi dia memahami itu namanya Facebook kemudian Messos lah ya. Anak-anak yang mendaftar ke dia itu harus antri Pak. antri daftar gitu. Bagian dia hanya mengelola pendaftaran skripsi. Tapi kemudian dia kemudian loh ini kok antrinya panjang. Udahlah daftarnya melalui Facebook. Zaman itu. Melalui Facebook aja daftarnya. Jadi akhirnya mereka enggak perlu antri. Ini yang saya sebut jadi cepat dari everywhere mereka bisa daftar kemudian layanannya jadi cepat. Jadi itu yang saya sebut inovasi dalam konteks di mana tusinya dia tetap enggak sampai keluar, enggak melanggar aturan, tapi dia melakukan cara-cara baru untuk memberikan kualitas layanan yang baik. Dan ini menurut saya harusnya begitu gitu. Bisa kita bayangkan ya kalau antrian itu sampai 10 20 anak mahasiswa akhirnya pegawainya harus dua tiga orang dengan cara itu yang dua orang enggak perlu kerja. Walaupun itu ada polisi lain terkait dengan mengurangi jumlah pegawai, tetapi itu menunjukkan betapa inovasi itu penting. Yang kedua, saya ambil con kebetulan saya dulu sekolahnya di Jerman, saya 92 sampai 98 di Jerman. Itu kalau di kita imigrasi, saya ini punya international student di fakultas saya pada waktu saya jadi dekan. Seringki anak-anak international student ini tahu-tahu terlambat visanya, Pak. Izin tinggalnya hilang atau kurang habis. per hari didenda Rp1 juta. Menariknya orang-orang imigrasi itu enggak ngingetin gitu, Pak. Kan ini mahasiswa ya biasanya kan anak-anak itu main ke pantai di Malang Selatan gitu ya. Eah anak-anak asing kan memang perlunya begitu ngambil sekolah di Brawijaya bukan karena apa-apa lebih banyak karena jalan-jalan ke pantai karena wisatanya gitu. Nah kemudian imigrasinya itu seperti kayak nunggu kayak kalau kita ini polisi yang singitan itu loh, Pak. sudah ada ini baru dia datang ke kampus ini diproses dendanya sekian dan seterusnya gitu. Saya bandingkan dulu pada waktu saya dulu di Jerman sama saya kan orang asing juga 2 minggu itu sudah ditelepon Candra siapin ya kamu sudah mau habis tuh gitu. Nah, sehingga zaman itu di kota saya di Goting kota pendidikan itu pegawai Pemkod-nya cuma 90 orang padahal belum era digital seperti sekarang. Tapi mereka sudah seperti itu gitu. Jadi betapa cara-cara mereka lakukan untuk supaya enggak apa enggak antrian panjang gitu. Jadi ini memang harusnya kita melakukan seperti itu. Jadi jangan sampai kita kemudian melakukan perubahan tapi kemudian mengganggu tusi yang lain. Nah itu biasanya kemudian ada konflik. Nah, kalau sudah ada konflik macam-macamlah akhirnya ada korupsi dan seterusnya. Kenapa ada korupsi? Dari beberapa riset itu misalkan antrian panjang biasanya yang dilayan itu kepengin cepat. Iya, kayak Dela EJR ya untuk uji kendaraan itu kan tempel-tempelnya banyak tuh. Karena semua pengin cepat, karena pengin cepat nambahin gitu. Nah, di Jerman itu sudah beda, Pak. Itu licens yang dibagikan jadi nak monopoli. Jadi diberikan lisensi yang bisa dimanfaatkan sehingga ee apa ini ee kayak reparasi mobil itu dapat namanya TUV itu, Pak. TUV itu biasanya untuk bahwa garasi atau reparasi mobil ini bisa melakukan uji kendaraan bermotor ya sehingga antriannya hilang. Antrian itulah yang menyebabkan kita nambahin biaya. Nah, ini yang kemudian dilakukan. Nah, sehingga solusinya adalah Windows-nya diperbanyak. Windows-nya diperbanyak atau melalui medsos atau digital tadi gitu. Nah, problem ketiga tantangannya kalau kita masuk digitalisasi itu security-nya itu lemah kita. Jadi kita ini saya ini kan saya ini staf khususnya Menteri Keuangan. Saya ini komisarisnya bank. Kemarin saya itu pulang dari masjid enggak tahu saya mikirnya kenapa gitu ya. Habis itu di BRI Pak saya ngisi beberapa informasi yang diperlukan pulang masjid. itu. Habis itu saya sadar, "Oh, iya ya, kok ada ini ya, ternyata benar uang saya hilang 5 menit itu Rp20 juta." Jadi digitalisasi itu tantangannya adalah security, keamanan dan itu memang kadang-kadang karena kurangnya pengetahuan, karenanya pemahaman yang masih kurang. Jadi di Indonesia itu namanya literasi keuangan sudah cukup bagus, tetapi problem ee pendidikan keuangannya masih kurang, keamanan dan seterusnya. Saya pikir itu. Terima kasih. Baik. Baik. Terima kasih Prof. Candra. Baru saja hadir Bapak Ignasi Yusionan bersama-sama dengan kita. Selamat datang Pak Ignasi Yusionan. Baik, kita lanjutkan dulu untuk penanya di Zoom ya. Silakan. Ini sudah ada Bapak Sugeng Karyono, Kelurahan Winongo, Kota Madiun. Pak Sugeng silakan. Boleh dibuka mic-nya, Pak. Pak Sugeng selamat pagi. Madiun apa kabar, Pak Sugeng? Nah, ini dia beliaunya, Pak. Kok nge-vreze? Nah, gitu. Pak Sugeng selamat pagi ya. Sejumnya luar biasa nih, Pak Sugeng. Silakan, Pak. Langsung saja dibuka mic-nya, kemudian langsung bertanya kepada Prof. Candra. Iya, dibuka dulu dong mic-nya. Di-unmute dulu, Pak Sugeng. Iya, Pak Sugeng. I dengar Ibu ya. Iya, silakan, Pak. Terima kasih kepada Profesor Candra. Eh, tertarik dengan materi Prof. tadi saksikan bahwa apa beliau telah memimpin beberapa pengalaman yaitu dengan ee mengkaji dengan pembina Rasulullah bahwa kalau bisa seorang pemimpin itu adalah mengalah gitu loh. Nah, kemudian yang perlu kami pencahkan analisis manajemennya bagaimana Bu bisa kita terapkan jika kita sebagai pimpin bisa mengetahui bahwa kita atau anak tua kita tuh betul-betul ee inten dengan apa yang kita supportkan pada mereka sehingga bisa mendukung daripada kinerja dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Itu aja, Prof. Terima kasih. Mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih, Pak Sugang. Silakan boleh langsung ditanggapi, Prof. Iya, terima kasih, Pak Sugeng. Jadi memang jadi pemimpin itu konsekuensinya ya harus mimpin, harus ke depan, harus berk, harus memberikan contoh. Jadi kalau memang pemimpin tidak bisa memberikan contoh ya gimana di depan tapi yang ngasih contoh belakangnya kacau balau juga gitu. Oleh karena itu ee persyaratan-persyaratan menjadi pemimpin yang tadi sempat sedikit saya singgung bahwa memang intinya kita perlu membawa ee perubahan di dalam model-model kepimpinan yang kita lakukan dengan cara memberikan contoh termasuk juga yang tadi malam saya ceritakan ya ee bagaimana ee Bu Menteri itu memberikan rasa percaya diri ya kepada dirjen-dirjen yang kadang-kadang yang takut ee menghadapi macam-macam tekanan seperti sekarang ini. Jadi, ini memang ee menjadi seorang pemimpin berarti siap berkorban. Kemudian yang kedua memberikan contoh contoh-contoh praktis mestinya yang harus diberikan yang untuk memberikan kenyamanan bahwa perubahan yang kita lakukan itu akan membawa dampak yang baik bagi organisasi secara keseluruhan. Tanpa contoh itu orang kita orang Indonesia itu mungkin enggak mau melakukan apa yang dilakukan Pak Jonan di PTK KAI di awal itu kan ternyata sampai sekarang ee bisa ditiru gitu ya oleh mungkin anak didiknya Pak Yan ituu kata kunci seorang pemimpin itu harus nyiapkan penggantinya. Jadi kadang-kadang pemimpinnya berganti ya, pemimpinnya berganti perubahan sudah enggak terjadi lagi gitu. I seringkiali begitu. Sering kali begitu. Jadi memang pemimpin itu selalu ada, makanya selalu ada orang di lingkaran pemimpin itu yang akan menjadi calon-calon penerusnya. I nah ini penting sekali. Kadang-kadang kita tidak bisa ee seperti itu. Ilmunya di PDW gitu ya. [tertawa] dia enggak tahu apa ee ada rahasia ini anak buahnya enggak ngerti gitu. Sehingga sepertinya kadang-kadang seseorang pimpinan terutama di public organization ya itu di-support si fulan, si fulan ini A sampai Z tahu semua tapi padahal pegawainya juga banyak gak direken semua gitu. Nah, ini juga menjadi catatan bagaimana seorang pemimpin itu mampu mengedukasi bawahannya, menyiapkan penggantinya. dan memberikan ruang yang sama bagi semuanya untuk tumbuh dan berkembang. Baik, kemudian ini ada penanya terakhir kita di Zoom adalah Bapak Muhammad Thaha. Pak Toha selamat pagi ya. Pak Toha. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih, Mbak. Ee asalamualaikum, Prof Chandra. Asalamualaikum. Iya, langsung saja, Pak To eh ini dari paparan Prof. Candra tadi ada satu hal yang menarik. Saya eh apa tertarik tadi dengan Prof. Candra bilang bahwa di dunia birokrasi terutama ASN itu ada dilema. Dilema pertama ASN ya sebagai ee apa namanya? Elemen terdepan pelayanan birokrasi itu menjadi faktor kunci. Tetapi di satu sisi lain, ASN juga ya ternyata jadi penghambat bagi pelayanan birokrasi sendiri. Karena pertama tadi Prof bilang karena jumlahnya yang terlalu gemuk. Terus yang kedua kita tahu juga apa kompetensi ASN juga ya masih sangat terbatas. Tapi ee pernah beberapa kali ada ini untuk P Jun ini dan segala macam tapi sampai hari ini eks kebijakan itu tidak pernah dijalankan. Pertanyaan saya sederhana Prof. kira-kira menurut Prof. langkah apa? Langkah apa yang harus ee langkah inovasi atau langkah apa yang harus diambil oleh pemerintah ee menghadapi ini? Apakah membiarkan saja hal ini apa berlalu sampai nanti waktunya-nya berkurang dengan sendirinya karena apa zero growth tadi atau apa berupaya untuk mengembangkan kompetensinya walaupun ini masih sangat berat karena nanti akan ber apa berimplikasi kepada anggaran atau harus pemerintah harus melakukan cut off terhadap jumlah pegawai terutama ya pegawai-pegawai yang dianggap tidak berkompeten ya sudah diselesaikan. Kemudian yang kedua, kira-kira menurut Prof resiko apa ee kalau kita ee apa tadi Prof bilang tentang manajemen risiko, risiko apa yang kira-kira di akan dihadapi pemerintah ketika langkah-langkah itu ee diambil? Mungkin itu saja, Prof. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, silakan bisa langsung ditanggapi, Prof. Oke, terima kasih, Mas Toha. Eh, Mas Toha dari mana nih? Oh, iya, Mas. Pak Toha dari mana, Pak? Pak Toha instansinya boleh dari Kementerian Desa Prof. Kementerian Desa Baik ya. Oke, terima kasih. Jadi sebenarnya kalau kita perhatikan kemarin ada statement dari Menpan dana kemiskinan 500 triliun ee banyak habis untuk apa nih rapat studi banding gitu-gitu kan. Jadi kemudian saya cek di anggarannya. Jadi itu memang anggaran perlinsos itu anggaran perlinsos itu 516 triliun kalau enggak salah angkanya angka tepatnya ya. Dan untuk kemiskinan itu memang ada kebiasaan di birokrasi itu biasanya terus ada tim bentuk tim ini dananya dari situ juga. Nah misalkan 100 miliar lah itu tim itu bisa rapat bisa 40% nanti dana untuk orang yang menjadi targetnya itu paling 60% aja. Nah, ini yang kemudian harusnya yang kita rubah ya, kita rubah. Nah, bagaimana merubahnya? Kami di Kementerian Keuangan merubahnya ya dari pola spendingnya, pola belanjanya. Seperti yang tadi saya sampaikan, harusnya diatur belanja yang seperti itu, honor dan macam-macam tidak boleh melebihi let's say 25% dari total anggaran yang ada gitu ya. Itu yang pertama. Yang kedua, belanja pegawai di APBD itu bahkan ada yang sampai 80% sehingga APBD-nya itu habis untuk gaji aja gitu. Yang ini juga jadi masalah yang tadi. Makanya PR-nya adalah membuat ukuran yang tepat organisasi pemda itu berapa. Kalau pegawainya, let's say penduduknya 210.000, 220.000 seperti kota Batu, pegawainya R7.000 R tapi penduduknya hampir 1 juta, pegawainya juga 7.000 gitu. Sebenarnya gimana nih ukurannya gitu. Jadi kadang-kadang teman-teman pemda tuh diatur ya bahwa kewenangannya ini OPD yang harus ada ini sehingga itu ngepas-ngepaskan gitu mestinya ya. OPD yang ada itu sesuai dengan kebutuhan daerah aja atau mungkin beberapa dirangkap aja gitu. Masa misalkan kayak kehutanan, akhirnya Kota Malang ada itu dinas kehutanan. Wong kota kok ada kehutanan, akhirnya memaksakan diri ada hutan kota gitu. Jadi ini memang ngapain juga ada hutan kota? [tertawa] Jadi ini memang apa ya ee kalau saya dalam tulisan-tulisan saya, saya nyebut sebagai obsession of fear, ketakutan-ketakutan. Karena kita sudah orde baru 30 tahun. itu kalau berbuat gini salah, nanti di ini akhirnya jadi takut gitu ya. Jadi memang pemerintah itu mau mengatur itu semua tapi ada yang kritis terhadap pemerintah. Wah ini desentralisasi fiskal hilang dong jadi sentralisasi gitu semua diatur Jakarta gitu. Jadi ini memang Indonesia ini sebagai informasi ya, ada yang sudah sangat bagus, Mandiri bisa buktinya Banyuwangi tapi di luar Jawa masih banyak daerah yang harus kita atur semua belanjanya. Maka tadi seperti data di tadi kan, rasio antara jumlah pegawai dengan jumlah penduduk itu ada yang tinggi sekali. Ini juga PR kita. Nah, apa resikonya kalau kita enggak melakukan perubahan? Kalau kita tidak selesaikan ini masalah ini, pertama risiko fiskal pasti ada. Maka yang tulisan tentang ee kualitas belanja yang lebih baik atau tulisan saya terakhir minggu lalu di Sindo saya nulis spending better gitu ya. Intinya adalah belanja yang buruk karena perencananya buruk. Berarti perencanaan yang buruk itu dibuat oleh siapa? Teman-teman birokrasi juga, SDM juga gitu. Makanya risiko itu kita akan hadapi. Yang kedua, kalau ini tidak kita selesaikan, maka target-target pembangunan yang dicanangkan kepala daerah pasti tidak tercapai. Pasti tidak tercapai. Dan ini kalau tidak cepat kita lakukan, ya berarti kita menunda permasalahan. Jadi seperti orang jatuh cinta lah ya. Kalau ada masalah enggak diselesaikan ya ada masalah dari kasih sayang mau diberikan. Jadi ini memang harus PR kita semua. kita di tahun 2024 ini target kita memang belanja pegawai ini harus kita drop ini. Tapi Bu Menteri tadi malam bilang ini akan menjadi sulit pada saat kepala daerah ini juga orang politik ya karena mereka punya agenda-agenda lain. Jadi ini memang tantangan berat bagi bangsa kita ya. APBN-nya dari sekitar 500 triliun tahun sekarang APBN kita sudah hampir 3.000. ya. Tapi pola belanja kita tetap nih, orangnya tetap, sistem birokrasi kita tetap makanya silpanya terus naik. Nah, ini kan PR kita semua terutama yang di ASN gitu. Nah, ini salah satunya yang kita bicarakan hari ini bagaimana kualitas perencanaan yang baik itu bisa kemudian mendorong kualitas belanja APBD atau APBN kita menjadi lebih baik. Saya pikir itu. Terima kasih. Baik, kita berikan tepuk tangan Bapak, Ibu. sesi Q& yang sudah dijawab oleh Prof. Candra beserta dengan ilmu-ilmunya hari ini. Prof. Candra, terima kasih banyak atas waktunya hari ini. Kami silakan boleh kembali ke tempat duduk. Dan Bapak, Ibu, Sobat ASN, tentu saja seperti yang disampaikan oleh Prof. Candra bahwa inovasi itu harus cepat, mudah digunakan dan murah. Ada contohnya yaitu inovasi yang ada di Kabupaten Sampang, inovasi Pak Kawal. Sebelum ke narasumber yang berikutnya, mari kita saksikan dulu inovasi Pak Kawal. Saya ini [musik] kan seorang nelayan. Berkangkat subuh sore baru pulang. Jadi tidak ada waktu. [musik] Sobat ASN kita masih di ASN belajar seri ketiga. Boleh diberikan tepuk tangan Bapak Ibu untuk seri ketiga ini. Masih semangat dong? Masih. Coba kita cek dulu suara Bapak Ibu yang ada di Sasanawiat Praja. Di Zoom juga boleh. Tapi enggak usah open mic ya. Boleh langsung saja disebutkan ASN belajar. Semangat belajar sukses bersama. Sekali lagi dong ASN belajar semangat belajar sukses bersama. Tepuk tangan sekali lagi. Kalau tadi sudah ada Prof. Candra. Bapak, Ibu, dan juga Sobat ASN menuturkan bagaimana sih langkah-langkah, cara-cara seperti apa yang bisa kita lakukan, kemudian tantangannya seperti apa. Nah, narasumber kita yang berikutnya sudah melakukannya, Sobat ASN. Dulu saya berpikir, ah kayaknya enggak mungkin nih saya termasuk menjadi salah satu orang yang ee pesimis waktu itu, ya. Tapi dengan terobosan-terobosan apa yang telah dilakukan oleh beliau kemudian berubah. Jadi optimis kita semua. Ternyata bangsa ini bisa berubah. He is the history maker. Beliau meyakini impossible is nothing. Karena ternyata enggak ada dalam kamus beliau impossible itu ya. Beliau telah menempuh pendidikan sebagai sarjana ekonomi akuntansi di Universitas Airlangga tahun 6. Kemudian Master of Arts International Relation and Affair Flirer School of Law and Diplomacy di tahun 2005. dan beliau dianugerahi Dr. Honoris Kausah [musik] oleh Universitas Airlangga di tahun 2021. Beliau pernah menjabat sebagai CEO [musik] PT Kereta Api Indonesia tahun 2009 sampai 2014, Menteri Kabinet Kerja Republik Indonesia tahun 2014 sampai 2019. Di tahun 2020 sampai [musik] sekarang beliau menjabat sebagai komisaris independen PT Union Level Indonesia Tbik. Kemudian di tahun 2021 sampai dengan sekarang beliau menjabat sebagai chairman and independent commissioner PT Anabetic Technologies Tbk. [musik] Dan di Center Indonesia beliau sebagai senior advisor di tahun 2021 sampai sekarang. Dan saat ini beliau juga menjabat sebagai the chairman Mars McLenon Indonesia. Penganugerahan yang pernah diraih atau didapatkan oleh beliau banyak sekali. [musik] Di antaranya tahun 2017 beliau dianugerahi Lifetime Achievement Award oleh Management Institute Economics and Business School of University of Indonesia. 2019, Lifetime Achievement Award Institute of Indonesia Chatter Accountance. Kemudian di tahun 2021 [musik] oleh Badan Pengatur Hil Republik Indonesia, beliau juga dianugerahi Lifetime Achievement Award 2016 oleh pemerintah Perancis. Beliau dianugerahi Leung Doner. Kemudian 2020 oleh pemerintah Republik Indonesia beliau diberikan bintang mahaputra utama dan yang paling baru 2020 oleh pemerintah Jepang. Beliau diberikan predikat sebagai The Order of the Rising Sun Gold and Silver Star. Ladies and gentlemen, Bapak, Ibu, Sobat ASN, kita berikan tepuk tangan yang luar biasa. Inilah Bapak Dr. Onaris Kausa Ignatius Jonan, Dres. AK, MA, CPA, CA. [musik] Makasih. Saya turun ke bawah ya. Mohon izin. Ee Bapak Ibu sekalian. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. [musik] karena zaman juga sudah berubah. ee stakeholder Bapak Ibu sekalian ya, masyarakat itu juga sebagian besar sekarang arloginya juga sudah bukan arlogi metal. Jadi arloginya itu arlogi plastik ya Bu ya. Jadi ini mestinya kita harus mau melakukan banyak perubahan atau ee mengikuti perkembangan zaman gitu. Nah, kalau saya boleh sharing di sini di dalam pemikiran saya kalau mau melakukan inovasi atau pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat ini tidak boleh bahwa apa yang dilakukan itu hanya pilot project ya. Jadi ya senangnya rapat gitu yang nanti difoto buat kampanye dan sebagainya terus akhirnya lama-lama enggak jalan gitu ya. Contohnya apa? Banyak contohnya. Misalnya itu mesin, mesin pembaca mesin pembaca paspor otomatis yang di bandara sutta itu sudah enggak jalan, paling kurang enggak dipakai ya. Nah, ini sebenarnya yang kayak begini ini maunya apa gitu ya. Maunya ini cuma buat pameran atau tidak atau mau sungguh-sungguh supaya bisa berjalan panjang dan sebagainya. Kira-kira begitu. Eh, saya coba satu-satu ya. Eh, next. Operatornya siapa ini? Oke, ininya agak ketutupan ya situ ya, enggak tahu kenapa. Oke, saya cerita soal prinsip-prinsip dulu ya, berikutnya. Oke, ininya gerak. Yang sini enggak gerak. Oke, thank you. Eh, ini ini prinsip pertama untuk building value creation. Yang pertama itu saya kutip dari Charles Darwin. Charles Darwin mengatakan, "It is not the strongest of the species that survive nor the most intelligent but the one most responsive to change." Ya, jadi ini bukan quote saya, tapi ini quote-nya Charles Darwin yang mengatakan bahwa ee yang paling bisa survive itu yang paling responsif kepada perubahan. Jadi bukan yang paling kuat dan sebagainya. Kalau kita lihat ee peradaban panjang ya 5.000 tahun yang lalu sampai 10.000 tahun yang lalu ada peradaban Mesir, Mesir Kuno, peradaban Tiongkok ya. Lalu ada ya Iskandar Agung ya, terus Mesopotamia lalu sampai ke e Romawi dan sebagainya akhirnya habis ya. Karena satu yang menurut saya memang juga paling penting kalau tidak responsif terhadap perubahan biasanya berat untuk bertahan terus. Ya memang orang bilang, "Pak, tapi selama ada negara pasti ada pemerintahan." Itu betul ya. Selama ada negara itu betul ada pemerintahan. Cuma kalau setiap selama ada negara ada pemerintahan, bentuknya pemerintahan pasti berubah-berubah ya. Tidak ada yang bisa menurut saya itu mengalahkan zaman itu. Enggak ada ya. Tidak ada. Sudah dicoba berkali-kali ya. Mulai Napoleon, mulai Adolf Hitler, mulai ee yang lain-lain ya mulai mau cetung juga waktu mulai mendeklarasikan kemerdekaan di Tiongkok juga tetap enggak bisa. Akhirnya harus berubah. Kalau enggak mau berubah, habis. Contoh lagi, kalau Bapak Ibu masih ingat ee ini yang umurnya dibawah 40 kan jarang ya kalau lihat penampakannya ini ya kan. Iya. Jaranglah, jarang. Saya enggak, saya enggak tanya sih, Bu. Cuma cuma cerita ini kalau kita lihat ya, 20 tahun yang lalu, 30 25 sampai 30 tahun yang lalu itu kalau kita lihat perusahaan-perusahaan besar di dunia ya, 10 perusahaan terbesar di dunia atau 20 itu separuhnya Jepang. Sekarang ada enggak? Enggak ada. Enggak ada sama sekali. 20 tahun yang lalu, 10 lah 10 15 tahun yang lalu 10% terbesar di dunia 4 atau 5 dari Tiongkok. Sekarang juga enggak ada loh ya tidak ada sama sekali. Makanya saya bilang ini dunia ini berubahnya makin lama makin cepat. Nah, kita sendiri itu menurut saya ya ini bagus sih ada diskusi ya mengenai ini apa ee inovasi pelayanan masyarakat dan sebagain ya bagus sih cuma mudah-mudahan setelah sharing ini ya kalau yang diundang ngomong ini kan gampang ya Pak I kan ngomong ini kan modalnya cuma air satu gelas iya ya saya malah asbak iya tadi dikasih kopi belum minum sudah dipanggil ke sini. Nah, nah ini makanya saya bilang jangan sampai berhenti diskusi ini aja loh ya. Jangan sampai berhenti di diskusi ini aja. Jadi saya mohon maaf ee saya tidak pakai batik segala macam supaya kelihatannya saya juga up to date gitu ya. Ya walaupun saya yakin kalau yang masih belum masih bukan Widya Iswara utama saya pikir saya pasti lebih tua sih ya kan pasti maksimum 60 iya gitu ya. Nah, next. Oke. Ini prinsip kedua apa yang dikatakan oleh Napoleon Bonapark. Beliau kalau Napoleon tahu ya, semua tahu Napoleon. Beliau mengatakan, "If you build an army of 100 lions and their leader is a dog, in any fight the lion will die like a dog. But if you build an army of 100 dogs and their leader is a lion, all dogs will fight like a lion." Saya kira kalau yang suka baca sejarah atau belajar ilmu militer, saya belajar ilmu militer itu sampai sekarang ee ilmu-ilmu dasar ee artilleriy akademi militer kita sampai sekarang juga menggunakan apa yang ditulis oleh Napoleon 250 tahun yang lalu. Ini ini orang hebat ini ya. Ini kalau ibu sekolah fakultas hukum kan ya kan ada kan BW itu ya BW itu kan Napoleon Code. Iya itu yang bikin kan beliau. Nah ini ya negarawan apa panglima perang dan sebagainya. Beliau mengatakan ini analogi yang menurut saya hebat sekali ya. Beliau mengatakan bahwa kalau ee kita memimpin 100 ekor singa, tapi pemimpinnya itu seekor anjing, ya nanti kalau dalam pertempuran kebanyakan singa-singa itu akan mati seperti seekor anjing. Dan sebaliknya analogi ini apa pengertiannya? Kenapa saya tampilkan analogi ini? Prinsip ini. Prinsip kedua untuk membuat value creation itu kalau kita itu membuat perubahan ya atau membuat value creation yang bagus dan shisticated dan sebagainya itu tidak boleh dimulai dengan mengeluh. Kalau mengeluh anak buah kita kurang, Pak, ini literasinya tidak ada. Soal teknologi dan sebagainya ya pasti enggak jalan ya. Pasti enggak jalan. tidak ada pernah menurut saya dalam pengalaman saya berkarya tahun tidak ada yang pernah organisasi itu yang sempurna enggak ada ya pasti kalau dicari kurang pasti kurang ee karena saya panjang di Citybank eh Citybank itu waktu itu lebih dari 500.000 officer di seluruh dunia 110 negara, 101 nationality juga kalau diskusi ya banyak kurangnya ya. Nah, kalau ini dibahas terus kekurangannya enggak akan jalan akhirnya itu adanya apa adanya itu keluh kesah ya. Nah, saran saya manfaatkan sumber daya yang ada ini tapi didorong dengan baik ya. ya didorong dengan mestinya bisa kan saya kira Bapak Ibu sebagian besar di sini pernah naik kereta api ya di Indonesia loh ya ya mayoritas pernah naik kereta api. Coba bayangkan kereta api ee di masa lalu kan berantakannya begitu. Nah, ini tadi mantan Bapak Kepala BPSDM juga cerita ke saya ee masih ingat gitu. Jadi gini, waktu saya mulai ditugaskan di kereta api Februari ee saya keliling 3 bulan sampai ke stasiun-stun kecil gitu ya, misalnya ke stasiun ee Blitar gitu ya. Satu hari saya setelah lepas subuh saya ke stasiun Blitar. Saya tanya dengan juru langsir di sana. Curu langsir itu ee karena kebanyakan dulu juga ASN ya di kereta api itu ee biasanya biasanya sekarang sudah enggak ada ee yang begitu sedikit sekali. Waktu itu mungkin masuknya dari pendidikannya SD ya. Jadi mungkin kalau 20 tahun itu golongannya mungkin 1D masih kalau enggak 2A. Saya tanya, saya jelaskan kita mau berubah begini macam-macam setengah jam. Saya tanya, "Ada pertanyaan enggak?" Beliau jawabannya cuma sederhana waktu itu. "Niku damel nopo, Pak?" "Waduh, saya jadi stres ini." Ya, saya baru tanya ya. Lalu saya tanya, "Anda sekolahnya apa dulu terakhir?" SD usianya berapa? 48 waktu itu sudah dikeret api berapa lama? 27 tahun loh. Saya bilang kalau ini usianya 48 disuruh ikut paket belajar pasti enggak mau ya. Pasti enggak mau ya. Lulus SD itu mau ikut paket belajar itu pasti usianya sekitar 30-an. Itu mungkin masih mau. Tapi kalau sudah 48 enggak mau ya. Sama sekali tidak mau. Kayak sayalah. Saya kalau disuruh sekolah lagi juga enggak mau ya. Jadi pasti enggak mau. Nah, ini yang akhirnya saya keliling gitu ya, macam-macam. Saya tanya direktur ee SDM saya waktu itu. Komposisi pegawai kereta api itu dijelaskan ya per korsa, per tempat, per unit, per apa segala macam rankingnya. Terus per pendidikan. Ternyata waktu itu 70% dari orang yang saya pimpin di kereta api itu sekolahnya hanya SD dan SMP. yang lulusannya S ini pegawai tetap ya itu 24.700 waktu itu. 10.600 itu peg lulusannya itu SD 6.900 sekolahnya itu cuma SLTP jadi ada ST ya zaman dulu ada ST kan ya. Nah dan sebagainya. Satu hari saya menghadap ee Menteri BMN waktu itu, Pak Sofyan Jalil. Saya katakan ini saya nyerah ya, saya nyerah ini. Beliau mengatakan, "Anda biasanya enggak ee tidak mudah menyerah." Saya bilang, "Saya tunjukkan ini mau dirubah bagaimana. 70% itu sekolahnya SD dan SMP." Nah, saya tanya lagi itu waktu itu direktur SDM saya yang sarjana berapa dari 24.700 waktu itu beliau mengatakan kalau hitungan dihitung mulai D3 sampai S3. Ada yang S3 Pak ya. kerjaannya itu ngelamun lah kalau S3 itu. Iya kan ya? Ya. Ya. Kebanyakan belajar itu. Oh betul Bu. Nanti saya cerita berikutnya. Nah kalau dari D3 sampai S3 itu ada 200 dari 24.700. Tapi dia bilang kalau dihitung dari S1 sampai S3 hanya 86 orang termasuk saya. Stasiun kereta api itu waktu itu 750 stasiun. Instalasi tetapnya itu 1351. Terus ngurusnya bagaimana? Saya bilang ke menteri, saya bilang, "Saya nyerah aja deh." Nah, waktu itu untung beliau bilang, "Coba aja, Pak, setahun kalau gagal saya yang tanggung jawab." Oke. Nah, akhirnya saya baca lagi ee apa? Paper saya, defence paper saya waktu saya sekolah di Amerika itu tentang leadership. Karena ini sekolahnya sekolah politik, sekolah pertahanan. Ini tentang Napoleon ya. Tentang ini yang dikut oleh Napoleon ini. Bahwa sebenarnya ya tergantung kita pemimpinnya gitu. Kalau pemimpinnya itu betul-betul seekor singa atau sungguh-sungguh gitu ya, anak buahnya itu mau enggak sekolah juga mestinya bisa. ya. Nah, buktinya bisa kan kan digitalisasi, perubahan dan sebagainya. Saya sudah tawarkan ke Bapak-bapak di depan ini kalau mau diskusi tentang digitalisasi boleh tapi separate issue ya karena waktunya enggak cukup. Tentang digitalisasi itu begini. Operator mainframe-nya kereta AB seluruh Jawa Sumatera itu hampir semua itu sekolahnya hanya STM mesin. Karena saya enggak punya orang. Ya, buktinya bisa lah. Bisanya bagaimana? Gini, ee Pak Menteri Agama yang sekarang waktu dulu masih belum Menteri Agama itu Ketua Umum Banser ya? Ya. Ya. Ansor ya? ya, Banser lah ya. Pernah ketemu saya, beliau jelaskan ini saya ee di Ansor itu bikin anu warum untuk monitor medsos dan sebagainya. Itu juga banyak anu mendidik untuk penangkalan hacker. Saya bilang begini aja gampang. Bisa enggak hacking sistem tiketing kereta api Indonesia? Kalau bisa yuk ambil rumah saya deh. Saya kasih waktu seminggu. Enggak bisa. Enggak bisa. itu enggak pakai sekolah loh sampai rambutnya habis loh. Ini beneran ya. Nah, makanya saya selalu bilang kalau kita mau bikin inovasi, mau bikin value creation pemimpinnya tidak boleh mulai mengeluh anak buah saya kurang literasi. harus dididik yang betul ya karena tidak ada organisasi yang sempurna loh. Ini bukan saya anu ya kritik orang sekolahnya tinggi bukan ya. Tapi mudah-mudahan kalau sekolahnya tinggi itu sumbangs-nya juga lebih besar. Nah itu. Next. Ini prinsip yang ketiga yang ditulis oleh ee Margaret Ch. Smith nanti dilihat aja marker J Smith itu siapa kan bisa dilihat di medsos. Public service must be more than doing a job efficiently and honestly. It must be a complete dedication to the people and to the nation. Ya, ini juga prinsip yang luar biasa mestinya. Nah, ini bisa enggak gitu ya. Kadang-kadang kita sendiri kalau misalnya diukur gitu ya, ditanya di hati masing-masing itu sampai doing a job efficiently dan honestly aja belum tentu menurut saya loh ya. Kenapa? Yang tadi Bapak juga bilang yang anggaran untuk pengentasan kemiskinan katanya Menteri PAN RB katanya Pak 500 heeh rapat gini dan sebagainya gitu ya. Ya, saya enggak tahu angkanya betul apa enggak. Nah, kalau enggak bisa ini pasti enggak beda. Enggak bisa building value Christian sama sekali. Menurut saya kalau kita ngomong revolusi mental dan sebagainya ke pelayanan masyarakat yang jalan yang mana? Ayo cerita ke saya. Ee waktu saya tugas di kabinet saya selalu bilang tidak boleh ada rapat di hotel sama sekali. Wong gedungnya besar-besar kok. Ya lah kalau Jakarta kadang-kadang rapatnya gini supaya dapat dapat SPJ ya SPPD itu rapatnya itu di Bekasi ya kan luar kota I kanya gitu buat saya enggak ada pokoknya. Nah, juga begini. Waktu itu kalau bikin peraturan peraturan menteri ya, saya di dua kementerian ya. Waduh, kalau rapat itu diskusi awal pembukaan ya di Jakarta nanti enggak selesai pindah Batam ya, enggak selesai lagi pindah Manado ya dan sebag buat saya enggak ada ya kalau diskusi sekali 4 jam harus selesai. Harus selesai. Nah, perkara drafting legalnya agak panjang. Oke, ya. Tapi prinsip-prinsipnya itu duduk 4 jam harus selesai loh. Kalau enggak berarti dia juga enggak ngerti menurut saya. Coba saya tanya, Bapak punya anak kan tadi cerita? Iya. Bikin anak masa sampai 4 jam. Nah, itu padahal sekali jadi tanggung jawabnya seumur hidup. Betul kan? Next. Prinsip berikutnya itu yang dikatakan Thomas Alpha Edison, there is no substitute for hardware. Enggak ada yang bisa menggantikan kerja keras. Saya sangat menganjurkan semua aparatur kita itu percaya ini bahwa tidak ada yang bisa menggantikan kerja keras. Ya, ini menurut saya penting sekali. Banyak. Nah, ini bukan mengkritik, saya komen aja sih ya. Ya, standar birokrasi kita itu juga harus mestinya dirubah ya. Tidak bisa kita itu apa kenaikan pangkat. Loh, mosok orang itu naik pangkat dasarnya itu pendidikan loh. Orang sekolah itu karena enggak bisa belajar sendiri. Coba kalau bisa belajar sendiri masa perlu sekolah. Betul enggak, Prof? Betul kan? Ya, ya pasti benarlah ya. Jadi menurut saya ya kalau mau itu kalau mau building inovasi itu yang baik ya itu struktur aparatur ini juga mesti disesuaikan bahwa yang bisa dipromosi itu yang ber apa memberikan dampak besar kepada pelayanan masyarakat ya. Perkara ya sekolah gak sekolah ya. Jangan buta huruf sih ya. Ya perkara sekolah enggak sekolah ya sudah terserah aja ya. Ee kalau mau cerita ya kalau Bapak Ibu yang pernah tinggal Jakarta ya waktu kami menai kereta listrik Jabotabek mulai 2011 itu. Wah pembenahannya kan minta ampun. Jadi ada pegawai kereta api namanya Subakir. Ee waktu saya mulai ditugaskan itu beliau sudah kira-kira mungkin golongannya sudah 3A kali kalau enggak 3B. Masuknya dari SLTA ya, masuknya dari STM atau dari mana enggak tahu saya atau SMK atau apa gitu ya. itu waktu itu kepala stasiun e Surabaya Pasar Turi. Saya ajak ngobrol saya, "Wah, saya pikir orang ini oke juga ini. Sudah dicoba aja dipindah-pindah ya. Dicoba dipindah-pindah." Saya tanya, "Mas, mau sekolah lagi enggak?" "Enggak lah." Malah dia itu yang ngajarin saya loh, "Pak, orang sekolah itu karena enggak bisa belajar sendiri." Oh, ya. Mungkin masuk akal juga ya. Oke. Saya saya ini saya pindah-pindah ya. Dipindah itu ee dicoba pekerjaannya begitu ya. Ya, ada tes si ya tes untuk jadi apa ee kasupsi gitu ya untuk operasi di mana? di Jember terus pindah lagi ya dipromosi, promosi sampai satu hari ee kami di kereta api itu membutuhkan direktur operasi untuk kereta listrik Jabotabek. Kereta listrik Jabot Tabek itu besar loh. Penumpangnya itu sehari R1 juta lebih loh. Ya. Oke. Dites. Saya bilang, "Kamu ikut tes saja." Waduh, Pak. Saya ini sekolahnya cuma SLTA, Pak. yang ikut ini kan banyak seniornya dia yang sekolahnya sarjana. Sudah tes saja kita lihat. Dites independen di UI nomor satu tesnya. Saya panggil, saya bilang, "Ini mau enggak jadi direktur operasi?" Saya bilang, "Enggak enak sama yang enggak apa-apa." Saya bilang, "coba aja." Nah, waktu saya dia oke setelah saya lantik saya suruh pidato. Coba kamu pidato ya. Ya, pidatonya cuma itu ya orang sekolah itu karena enggak bisa belajar sendiri selesai. Sudah. Dan ternyata berhasil ya ternyata berhasil ya kan. Kalau kita lihat anak-anak muda sekarang itu trennya itu sekolah itu makin muda itu trennya sekolah itu bukan untuk gelar ya. bukan gelar. Pasti dia ngejarnya itu kompetensi yang bagus yang bisa bermanfaat untuk dia. Nah, ini saya sangat menganjurkan. Ee struktur ini juga dirubah ya. Struktur ini juga dirubah. Namun apa yang dikatakan eh Thomas Alfa Edison semua tahulah Thomas Alfa Edison siapa ya. Ini ini orang juga enggak sekolah loh ya kan sekolahnya cuma sampai kelas 8. Kalau tahun, kalau struktur model sekarang ya umur 14 tahun diberhentikan dari sekolah karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran sekolah gitu ya. Ini makanya saya bilang ini harus kalau mau inovasi prinsip berikutnya adalah harus kerja keras ya. Enggak ada enggak enggak bisa dikenal oleh apa-apa. Saya enggak percaya sih ya paling kurang sayalah. Saya enggak percaya. Coba sekarang begini, mudah-mudahan yang ada di ruangan ini termasuk saya itu bisa memberikan sumbangsi kepada peradaban manusia sebesar Thomas Alpha Edition. Walaupun saya ragu sih kalau ada yang dari kita bisa sebesar beliau sih kan ini penemu lampu ya lah kita sekolah sampai setinggi ini nemu apa menemukan apa ayo paling ngejar kuum ngejar apa gitu-gitu itu kan ya kan cuma admin aja ini yang mestinya tidak boleh next saya senangnya kalau diundang di Jawa Timur itu bisa ngomong terlepas pas ya. Makanya kalau diundang provinsi lain saya mintanya Zoom aja. Jadi ngomongnya terbatas. Nah, berikutnya ini strategy is important but execution is everything. Kalau mau inovasi, mau building value creation itu eksekusinya yang paling utama ya. Jadi kalau hanya bisa strategi yaitu apa? Enggak akan bisa itu bisa berhasil dengan baik. Itu menurut saya enggak akan bisa. Harus bisa eksekusi sendiri. Saya kasih contoh ya. Saya kasih contoh. Waktu saya mulai masuk di kereta api 2009, wah semua datang. Semua tingk yang di bidang transportasi semua datang. Termasuk bank dunia segala macam itu. Transportation expert semua datang. Mereka bilang, "Kami sudah bikin studi 10 tahun begini, bukunya tebal-tebal." Saya cuma tanya satu, yuk bikin studi begini keretanya, kereta apinya berubah enggak? Layanannya enggak lah. Terus buat apa? Ayo. Ya, kalau buat tulis-menulis saja saya enggak perlu. Nah, ini yang saya bilang mungkin bikin strateginya anu roadmap-nya segala itu bagus, tapi eksekusinya enggak bisa. Kalau eksekusinya enggak bisa, ya enggak bisa aja gitu. Makanya harus ada sekolah mendidik kepemimpinan ya. Ya, ditawarkan aja ya leadership ee apa trainingnya itu kalau perlu kirim ke tempat lain. Jangan di sini misalnya atau di mana gitu. Ini menurut saya supaya eksekusinya bisa. Ee sebagian dulu mantan rekan-rekan saya di kereta api yang sekolahnya tinggi-tinggi itu saya ngetesnya gampang. Panggil kalau Sabtu Minggu karena big taruh aja di stasiun Pasar Senin. Panggil kepala stasiunnya suruh pergi. Coba kamu ngoperasikan jadi kepala stasiun saya tungguin. Kakinya kemeter pasti. Nah, iya kan? Nah, ini yang menurut saya orang harus bisa eksekusi. Kalau ibu-ibu bisalah kalau punya anak kan mestinya bisa. Itu luar biasa kalau orang punya sampai bisa mengandung, melahirkan, ngurusi anak. Ya, Bu. Lah, itu kan eksekusi juga. Iya kan? Kan sebagian juga feeling kan. Iya kan, Bu? mulai bikinnya loh. Next. Mas ada kursusnya enggak ono lah. Eh, prinsip berikutnya ini yang dikatakan Winston Churchill. Saya kira semua tahu Wincent Churchill. There is no worse mistake in public leadership than to hold out false hopes soon to be swap away. Nah, ini menurut saya juga prinsip penting. Jadi, jangan membuat sesuatu itu yang cuma untuk publikasi ya atau cuma untuk apa ya kosmetika lah istilahnya ya. Kalau bisa enggak enggak gitu. Saya kasih contoh ya. Kalau saya lihat teman-teman saya ngerokok itu, perokok itu kalau di sini kan berani ngerokok dibuang gitu ya sembarangan gitu. Coba dia ke Singapura enggak berani kan? Oh, enggak berani. Karena peraturannya jelas ya. Kalau kena dihukumnya berat gitu. Saya enggak pernah buang, Pak. Di sini juga enggak pernah buang. Saya tadi minta asbakan, Bu. Iya. Ya. Jadi menurut saya kalau mau bikin sesuatu itu ya yang sungguh-sungguh ya. Jangan nanti oh lewat temannya bisa pakai cara lain lewat apa. Sekarang Bapak bisa beli tiket kereta api pesan kepala stasiun enggak bisa kan? Enggak bisa pasti semua harus pakai online. Datang ke stasiun bisa beli. Mungkin masih ada loketnya satu ditinggalin satu dan sebagainya. Tapi enggak bisa. Jadi enggak peduli y mau siapa aja kalau tiketnya habis ya habis saja gitu. Nah kalau bisa begitu layanannya bisa ajek ya. Nah kita ini kan kadang-kadang enggak ajek itu kan karena pengecualiannya terlalu banyak. Next tentang building value creation. Saya cerita berapa prinsip ya. Jadi gini, saya lebih condong daripada ngomong inovasi itu membangun apa membangun nilai tambah lah dari apa yang kita kerjakan itu. Nah, manfaatnya itu yang nilai pengguna bukan kita. Kan kita ini kebiasaan begini di birokrasi itu kalau mau begini enggak mau ya sudah. Ini zamannya sudah lain ya. Tahun 0-an itu semua aparatur negara, negara ini dioperasikan dibiayai oleh kebanyakan itu hasil sumber daya alam. Tahun 0-an loh ya pajaknya kecil loh sekarang itu pajaknya mayoritas berapa, Pak? Ya penerimaan negara dari pajak, cukai segala itu berapa? 85%, 93%. Berarti semua penghasilan kita termasuk pensiun saya itu kan dibayar dari uang rakyat ya. Berarti customernya siapa? Ya rakyat gitu loh. Coba next. Ya, kalau menyesal loh kok zamannya sudah berubah? Saya orangnya kalau menyesal saya pergi karena saya enggak mau menyesal. Jadi kalau enggak cocok sudah pergi aja gitu. Nah, yang di sini ini enggak tahu menyesal enggak berani pergi apa-apa gitu. Nah, kalau ketawa ya berarti banyak benarnya gitu. Yang pertama ini yang dikatakan oleh Theo Levit. Nanti dicek Theo Levit ini siapa. Creativity is thinking up new things. Innovation is doing new things. Beda loh ya. Kalau Anda menjadi akademisi itu cukup creativity, thinking up new things. But kalau Anda di bukan di akademisi ya, mengoperasikan sesuatu, menjalankan sesuatu yang real mestinya sampai ke inovasi. Jadi tolong Bapak Ibu di sini jangan bikin nanti lomba anu kreativitas ya ngumpulkan paper terus dinilai. Loh kok ngumpulin kertas dinilai itu kan anak sekolah menurut saya. Waktu saya mulai nertibkan itu ya tadi Bapak tanya itu asongan segala macam. Oke coba diskusi di kereta api. Wah rapatnya 2 minggu ya. Jadi si paper-nya? Jadi terus saya tanya yang mau eksekusi siapa? Enggak ada yang ngangkat tangan. Loh ini gimana ini caranya ini? Loh kan enggak bisa didoakan aja bisa selesai. Ayo. Nah, akhirnya apa? Ya sudah mulai eksekusi penertiban pertama itu yang mimpin saya sendiri loh ya ee hampir 15 tahun yang lalu ya mulainya ya buktinya sampai sekarang jalan kan. Nah itu soal jalan tadi ee beliau juga sudah jelaskan. Next. Ini prinsip kedua soal inovasi atau building value creation. Lack of direction is the problem, not lack of time. We all have 24 hours ini kita kadang-kadang enggak sadar. Kita itu nanti kalau disuruh membuat sesuatu yang baru, pelayanan begini, pasti dalam hati itu mengeluh, "Wah, saya itu sudah enggak ada waktu kerjaannya, adminnya sibuk segala macam." Enggak ada orang, enggak ada waktu. Itu Gusti Allah itu tidak akan memberi Anda waktu lebih dari 24 jam 1 hari. Coba saya tanya. Ayo. Ya, berarti Anda itu salah hidup ya, salah arah pasti. Kalau sudah bilang enggak ada waktu, enggak mungkin menurut saya ya. Next. Ini prinsip berikutnya ini dikatakan oleh Brian Mills was mestinya ditanamkan dari CPNS Pak ya. Kalau Anda itu tidak menciptakan nilai manfaat untuk orang lain, berarti Anda itu buang waktu. Mungkin enggak sih ya untuk aparatur itu kebanyakan enggak, tapi pikirannya itu sangat egosentrik menurut saya ya. Jadi yang dipikir itu dirinya sendiri. Karena apa? Sistem panjat malapusnya ini itu adalah sangat egoentrik juga. naik pangkat berdasarkan sekolah itu dirubah, Pak. Mungkin Pempr Jatim itu loh dirubah jadi pionir. Naik pangkat itu berdasarkan prestasi loh. Masa naik pangkat berdasarkan sekolah? Nah, kalau enggak percaya Ibu nanti ke kampus Erlangga itu kan semu semua semua banyak guru besar termasuk rektor segala itu kan angkatan saya atau yang lebih muda setahun 2 tahun atau lebih tua 34. Coba tanya gitu, sekolahnya pintar mana sama saya loh? Serius? Coba tanya. Ini enggak debat saya lulus itu mahasiswa terbaik. Nah, sudah kan selesai kan. Cuma saya malah sekolah terus gitu karena ya itu tadi karena orang sekolah enggak bisa belajar sendiri itu. Nah, ya ini harus dirubah enggak silakan sekolah tinggi. Tapi yang dinilai itu adalah iya performance-nya gitu. Coba kalau Prof. Candra ini bantu Ibu Menkeu apa karena profesor bukan kan? Nah loh benar loh ya. Nah gitu apa karena rambutnya putih enggak juga kan itu di chat ya supaya kelihatan serius gitu ya kan. Next. Nah ini ya. Eh, ini quote yang saya suka sekali, prinsip yang saya suka. Creating value for humanity should not be an afterthought but a core business strategy. Jadi, menciptakan value untuk kemanusiaan itu bukan ya sampingan, tapi ini core. Jadi, Anda bangun value creation, inovasi itu pikirannya itu untuk kesejahteraan yang lebih baik. mestinya lah coba dipikir maunya apa gitu ya. Saya enggak tahu P Prof Jatim targetnya apa gitu. Kalau saya lihat Instagram-nya Ibu Gubernur sih seru sih ke sini ke sana foto sini foto sana gitu ya. Loh enggak benar kan loh coba lihat saya kan follower ya followernya beliau itu kan saya lihatin gitu kadang-kadang saya komen dikomen balik gitu kan. Next. Berikutnya ini J. Summit mengatakan, "To be successful, innovation is not just about value creation but value capture." Nah, ini ya untuk berhasil dianggap berhasil itu penemuan itu bukan hanya menciptakan nilai tapi juga bisa menakap. Jadi gini, kalau nanti pelayanannya diperbaiki, ada pelayanan lebih baik karena inovasi dan sebagainya, mbok coba pada waktu tertentu 6 bulan atau setelah setahun diadakan survei ke masyarakat. Manfaatnya untuk mereka itu apa? Loh, kalau enggak ada manfaatnya terus buat apa gitu. Ini saran saya sih ya. Jadi value capture itu tanya ke usernya ada manfaatnya tidak ya menurut saya loh ya contoh ya kalau di Kementerian Keuangan itu ada satu yang bagus sekali itu apa? Pendaftaran orang mau minta NPWP itu pakai online langsung diketik namanya segala macam 2 hari 3 hari dikirim pakai pos. Kartu NPWP-nya jadi ya. Terus ada suratnya itu jadi. Waduh zaman dulu saya itu mulai punya NPWP tahun 19 90. Waduh. ngurus NPWP itu lebih susah daripada ngurus KTP waktu itu tahun '0 ya. Ya, sekarang sih sudah bagus ya. Ya, banyak yang banyak perbaikanlah ya. Ya, terus ya pasti pelan-pelan. Satu, satu. Next. Eh, Philip Cotler. Saya kira mungkin kalau yang belajar banyak marketing manajemen itu tahu marketing is not the art of finding clever ways to dispose what you make. It is the art of creating genuine customer vale. Kenapa saya cantumkan marketing ini di sini? Kan saya bilang tadi coba tanya Prof. Candra itu menurut Prof. Candra 93% dari penerimaan negara itu berasal dari uang rakyat. Betul enggak? Dalam berbagai bentuk. Oke. Loh, berarti kita itu digaji oleh rakyat. Loh, berarti rakyatnya ini apa? Customer kita lah. Kalau customer itu coba kita mikirnya itu kita bagaimana memasarkan apa yang kita ciptakan itu supaya customernya ini happy kan loh menurut saya gitu loh menurut saya ya. Makanya waktu saya masih tugas, saya selalu bilang, "Kamu enggak usah takut sama saya loh. Buat saya enggak penting itu. Saya enggak terlalu tertarik juga kan. Loh, masa Bapak ini gitu takut sama saya loh. Dia enggak takut pun saya juga enggak peduli. Iya kan? Emangnya? Betul enggak? Loh, kalau misalnya beliau itu bikin salah gitu terus saya ingat-ingat mandi, saya ngingat wajahnya dia kan enggak menarik juga. Oh, gila apa saya?" Ya, saya bilang, makanya enggak usah takut sama Yuk. Mesti takut sama orang yang ngasih makan kamu lah. Itu siapa ya? Masyarakat ya. Kemarin saya nerima salah satu di RUT BMN diskusi dengan saya masih muda sih. Saya enggak kenal sih. Beliau datang duluan gitu dengan berapa stafnya. Saya lihat gini ini yang mau ketemu saya yang mana saya, Pak. Oke. Yang lain tinggal aja gitu. Waduh yang nemenin aja banyak orangnya gitu. Saya bilang, "Eh, saya jadi menteri ke mana-mana cuma satu orang loh, Bapak satu ajudan aja loh." Ya, itu pun untuk keamanan saja ya. Keamanan fisik saja karena bahas bahas senjata kan. Cuma itu aja. Loh, saya enggak menarik rombongannya ibu-ibu gini. Aduh, malah cupet motone ya kan. Mohon maaf loh, Bu. Ini contoh aja Bu ya. Mohon maaf, mohon maaf. Iya. Hah. Jadi menurut saya ini juga mesti spiritnya dirubah ya. Enggak usahlah yang ada kan kalau anak muda sekarang beda ya. Makanya kalau sekarang walaupun di ASN ataukah di TNI, PORI atau di mana aja di diplomatik segala generasi yang lebih muda kalau dia kerja enggak cocok pergi dia. Betul ya? Hah? Oh, pasti pergi. Iya. Yang gak berani pergi ini kan generasi anu. Iya. Arlogi metal ya kan? Iya. Jadi gini, Pak. Kalau kita ini ngomong generasi argi metal ini beda. Kalau saya tanya gitu dengan seorang wanita kenalan gitu, "Umurnya berapa, Mbak?" Kan gak enak kan. Nah, saya itu cuma tanya jam berapa? Boleh dong jam berapa, Mbak? Ya kan dia lihat jam. Kalau jamnya metal ya berarti sudah angkatannya lama. Coba dipraktikkan. Loh, benar. Coba lihat arloginya. Ayo. Next. Ini mungkin yang terakhir ya. Innovation is the ability to see change as an opportunity, not a threat. Not as a threat. Yang katanya sahif job. Nah, ini saya ingin jelaskan begini. Ini omongannya gampang, jalaninnya susah. Kalau mau mendorong sebuah organisasi itu betul-betul bikin value creation dari waktu ke waktu tumbuh terus mengikuti zaman, struktur organisasinya ini juga harus dirubah sangat linien. Satu ya, sangat fleksibel. Yang kedua apa? Yaitu organisasi itu karier plan-nya berdasarkan prestasi, tidak berdasarkan sekolah semata. Ya. Ya, jangan buta huruf, ya. Jangan. Makanya waktu saya di kereta api, saya masuk skala yang membatasi itu masuk golongan 2A maksimum 3B sekarang saya hapus. Sudah enggak peduli saya. Pokoknya yang kerjanya lebih bagus bisa naik. Kalau enggak ya enggak loh. Kalau enggak orang berlomba-lomba sekolah enggak kerja. Heh. Oo. Ya, untung ini Profesor Candra akhirnya kerja. Iya. gak sekolah tok. E mohon maaf loh, Prof. Betul ya. Nah, kenapa saya bilang begini? Kalau ini tidak dirubah ya di nah kita juga harus retraining kembali ya orang-orang di organisasi ini, pegawai segala macam itu supaya tidak melihat perubahan ini sebagai tantangan eh sebagai apa? Sebagai ancaman bagi dia kan. Karena kalau banyak inovasi makin lama pekerjaannya itu mungkin terhapus makin enggak ada ya. Lah kalau makin enggak ada bagaimana ya? Ya coba diretraining supaya dia bisa belajar lagi dan sebagainya. Coba Anda bisa bayangkan 27.000 eh maaf 24.700 sebagai kereta api, 70% sekolahnya SD, SMP itu bisa dididik kembali untuk menerima digitalisasi. Ayo. Itu pun saya lakukan juga rambutnya belum seperti Prof. Candra. Loh, ini fakta loh. Saya enggak chat ini juga belum pakai kacamata, Pak. Iya, gitu. Karena sering lihat arloginya itu. Next. Oke, ini saya putar sedikit judulnya Everlasting Transformation itu begini. Yang ingin saya ee tolong jangan diputar dulu. yang ingin saya sampaikan ini cuma 3 menit kok eh 4 menit maaf videonya itu apa yang saya lakukan 6 tahun itu setelah saya pergi saya pergi dari kereta api sudah hampir 9 tahun buktinya decrep improving dia jalan enggak balik lagi. Enggak balik mau siapapun pemimpinnya enggak bisa balik ya tidak bisa anak-anak juga sudah enggak mau kalau mau kembali lagi. Jadi yang perlu ditanamkan itu adalah jiwa jiwa untuk melayani, jiwa untuk membuat ee nilai tambah kepada masyarakat itu build in di organisasi ini ya. Jadi build in mau siapapun. Nah, kalau bisa ditanamkan dengan baik sehingga waktu kita pergi kan ini pasti satu hari pergi ya. Betul kan? Loh, masa di sini terus enggak mungkin kan? Betul enggak? Oke. Nah, nanti generasi berikutnya ini bekerja dengan lebih baik ya. Jadi itu yang ditanamkan gitu. Jadi tidak shortmed pikirannya. Waduh, nanti kalau ini hasilnya terus begini keenakan nanti yang ganti saya. Ah, ini sudah ngawur ini sudah pikirannya. Atau waduh ini kalau bangunnya kayak begini nanti saya enggak kelihatan prestasinya. Udahlah kan rezeki enggak akan ketukar kok menurut saya. Menurut saya loh ya, tolong diputar ini. Saya ingin cerita video yang dibuat tahun lalu. Buktinya saya pergi 8 tahun di kereta api tahun lalu itu kereta apinya masih tetap bagus kan dulu setengah mati. Betul. Silakan diputar. Ini ini penumpang betulan ini bukan iklan soalnya. [musik] Susah susah kecuali Dir Kai 121. [musik] Saat ini akan saya [musik] tumpahkan keluh kesah ke kereta api Indonesia. Setelah 15 tahun saya tinggalkan Indonesia [musik] [musik] dan menjelang hari yang fitri saya kembali [musik] ke kampung halaman. Tak ada pilihan [musik] lain bagiku menuju Tegal dari Bandara Internasional Soekarno Hatta selain kereta api, tempat di mana banyak [musik] kenangan manis dan traumatis. Ternyata [musik] pilihanku mengecewakan. Ya, mengecewakan. Saya kecewa [musik] pada diri sendiri menjadi orang pesimis. Saya pesimis [musik] Indonesia berubah. Ternyata [musik] bangsa ini bisa berubah. Salah satunya [musik] kereta api Indonesia. Tak ada teriakan [musik] orang-orang yang menjajakan karcis. Yang ada [musik] hanya senyum manis. Senyuman dari pekerja penuh dedikasi. [musik] Tak ada [musik] stasiun kumuh, semua terawatuh. [musik] Dalam kereta [musik] hawa sejuk mengusuk bukan rasa bakuk yang tertempel debu. Tak ada lagi [musik] asongan berlalu. hanya [tepuk tangan] Iya. Yang sini ibu-ibu ngelihat ceritanya, yang sana ngelihat orangnya. Ya enggak apa-apa memang ya. Ya benar ya benar begitu gak yang benar begitu memang itu saya pas kan waktunya Pak? Pas kan enggak ini ya? Pas kan pas ya Bu. Iya, gitu. Harus kayak kereta api pas waktunya. Ya, itu aja lebih kurangnya. Saya mohon maaf saya enggak berniat menyinggung siap pun ya. Jadi supaya semangat gitu. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam, Prof. Yonan boleh ke atas panggung. Kita akan berdiskusi. Dan silakan Bapak Ibu untuk yang berada di ruangan ini akan kami berikan kesempatan tiga orang penanya. Kemudian yang di Zoom ada tiga orang penanya. Silakan. Wah. banyak sekali. Silakan, Pak, ya. Bapak silakan. Baik, terima kasih, Bu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam, Pak Inatius Johan, saya juga mau bertanya. Jadi, Bapak nama siapa dulu, Pak? Nama saya MSU, kebetulan dari BPSDM. Yang saya mau tanyakan terkait dengan sekarang ini kan generasi milenial khususnya ASN. setiap SN itu dituntut untuk inovasi, Pak. Ya, sekolah-sekolah pun mulai dari Laksar, PKP, PKA, PKN itu dituntut untuk membuat inovasi. Salah satunya tadi di-share ee inovasi kawal dari Kabupaten Sampang ya. Jadi ada ribuan inovasi mungkin cuma gini, Pak. Secara teknis pelaksanaan implementasinya di lapangan itu kadang terbentur, Pak. karena terbenturnya satu mereka tidak mempunyai kewenangan. Karena ee untuk aktualisasi itu biasanya kalau pemimpinnya oke, maka ee inovasi itu akan berjalan. Kalau pemimpinnya tidak oke, maka inovasi tidak berjalan. Nah, menurut Bapak, langkah-langkah apa yang harus ee diambil supaya inovasi itu tetap berjalan? Itu aja mungkin dari saya. Terima kasih. Iya, silakan Pak Yonan. Boleh langsung ditanggapi, Pak. Makasih, Pak. Ini pertanyaannya sangat bagus. Jadi kalau menurut saran saya ya, seperti tadi saya katakan itu ya, organisasinya harus dirubah, Pak ya. Kalau organisasinya itu tidak fleksibel menurut saya inovasinya itu akhirnya cuma di atas kertas sama untuk pameran, ya. enggak akan jalan, Pak. Ya, apalagi manfaatnya untuk masyarakat dalam jangka panjang segala macam. Setelah Bapak pergi malah inovasinya berkembang malah sulit sekali menurut saya itu ya. Makanya tadi Bapak mengeluhnya atau mengatakan kalau tidak punya kewenangan bagaimana gitu. Nah, saya bilang makanya saya bilang organisasinya harus fleksibel. Pendelegasian kewenangan itu dalam skala tertentu itu harus ada. Kalau enggak, enggak ada inovasi menurut saya lah. Wong standarnya kaku begitu terus caranya bagaimana? Ayo. Ya itu jawaban saya, Pak. Mudah-mudahan menjawab sih. Baik. Mudah-mudahan menjawab. Tapi sepertinya dari ekspresi kayaknya ya gimana ya, Pak? Ya gitu ya, Pak Suo ya. Halo. Halo, Mbak Mamahid, Mbak Kris. Saya Oh, iya i ya. Silakan Bapak. I penanya kedua kita monggo silakan. Iya, terima kasih ee untuk pembawa acara. Terima kasih untuk Bapak Igniat Wusuyonan. Selamat datang di BPSDM. Saya bangga sekali BPSDM kehadiran Bapak dan ini tadi saya dengar saya lihat sudah memberikan ilmunya yang luar biasa. Iya. Bapak izin dengan Bapak siap sudah Bapak siapa? Nama saya Siswa Herutoto. Iya. Bapak tadi sudah memberikan ilmu bagaimana merubah mindset dari PTKAI terutama ee pegawainya yang sekarang ini sudah berpikir menjadi seorang entrepreneur. Nah, dilematis pegawai negeri. Mohon maaf Pak Jonan karena saya juga Wakil Ketua Korpi Jawa Timur. problematiknya itu bukan saat dia kerja, tapi ketika nanti dia sudah purna tugas itu dia akan menghadapi suatu hal yang sulit. Nah, ini bedanya dengan di Eropa sama di Indonesia. Kalau di Eropa itu pensiun itu merupakan suatu hal yang membanggakan, lebih sejahtera. Kalau di Indonesia ini menurut saya mereka masih belum siap. Contohnya misalnya saya kemarin tuh ee ke Jember bersama bupati mengukuhkan e pengurus Scorpi. Bupatinya itu dulu direktur operasionalnya di PTKI, Pak Hendy itu sekarang jadi bupati menawarkan kepada pegawainya untuk berusaha. Ayo yang ini yang baik yang muda maupun yang sudah usia yang mau pensiun. Handy Handy namanya. Handy. Iya. Betul. Betul Bapak. Untuk memanfaatkan aset-aset dari Pemda Kabupaten Jember yang nanti bisa dikelola mereka dalam rangka untuk menambah kesejahteraannya. tapi tidak ada yang siap untuk itu. Nah, pada kesempatan ini saya mohon ilmu dari Bapak bagaimana merubah mindset pegawai negeri ini supaya mereka sejak awal sudah menjadi seorang entrepreneur sehingga pada saat dia pensiun nanti itu sudah berkembang dan tinggal menikmati. Saya kira ini Bapak terima kasih. Baik. Agar ASN punya jiwa entrepreneur. Pak Jonan, seperti apa mindset yang harus diberikan oleh para-pa WI ini nanti yang mengajar para ASN kita? Kalau punya jiwa entrepreneur dari muda, ya sudah keluar, Pak, dari ASN. Ee tapi saya nangkap, Pak. Anu pertanyaan Bapak maksudnya gini memang ee tadi ee Bapak-bapak yang duduk di meja depan bersama saya itu juga diskusi dengan saya sedikit. Ee saya katakan begini, waktu saya tugas di kereta api Indonesia ee selama 6 tahun kerja itu biaya tenaga kerjanya itu naik, Pak. naiknya gak banyak naiknya itu 450% Pak gitu. Jadi waktu mulai saya sesuaikan itu semua pimpinan di kereta api tidak setuju ya. Pak Menteri BMN dan Menteri Perhubungan waktu itu juga tidak sepakat. Lalu saya katakan, "Loh kita cobalah kalau setahun gagal saya yang diberhentikan." Kan gampang gitu aja. Wong saya juga enggak minta kerjaan ini dulunya. Nah, intinya sebenarnya ee memang kesejahteraannya itu harus diperbaiki, Pak. Kan sekarang ini pemerintah sudah memperbaiki banyak. Satu ada BPJS kesehatan ya kan itu wajib ikut, Pak. Dan hampir kalau ini diikuti kan sudah hampir tidak ada biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh kita dalam standar kewajaran. Ya, itu satu BPJS Ketenagakerjaan kan juga ada ya. Memang begini, yang menjadi momok yang paling menakutkan itu kalau sudah selesai pensiunnya kecil. Ini yang jadi persoalan memang sebenarnya pensiunnya enggak kecil, gaji pokoknya yang kecil, Pak. Ya kan? Itu aja sebenarnya. Jadi ini ini menjadi banyak pikiran. Makanya tadi Bapak tanya bagaimana ini bisa siap menjadi entrepreneur? sebaiknya kalau mau ya kalau mau ini ya sebenarnya di usia kira-kira pertengahan 40 atau 50 Pak atau awal 50 atau di usia 50 itu setiap institusi itu mengadakan ee kelas sendiri ya atau training sendiri bagaimana mempersiapkan orang setelah pasca masa tugas ya sehingga dia punya kesempatan apa mau disalurkan ke perusahaan swasta atau mau apa usaha Jadi ada kelas sendiri untuk mempersiapkan ini, Pak. Dan itu saya sangat menyarankan di banyak negara mereka ada, ya. Di banyak negara mereka ada, di kereta api juga ada, ya. Jadi kalau sudah kira-kira usianya 50 enggak bisa naik lagi, nah sudahudah mulai ya mulai dididik pekerjaan lain gitu supaya nanti enggak sia-sia, Pak. itu makanya kan kalau Pak Hendi kan anu orangnya kreatif ya. Iya. Iya gitu. Iya betulbul. Oke kita berikan tepuk tangan dulu. Semoga Bapak Ibu para WI ini nanti juga ketika memberikan pengajaran kepada para ASN kita juga ada unsur-unsur entrepreneur yang bisa disisipkan. Monggo silakan Bapak I. Ya, terima kasih Pak Jonan. Saya Saiful Rahman, WI Utama. Saya termasuk Iya, Pak. Tahu, Pak. Pak Jonan favorit saya. Jadi setiap mengajar latsar saya selalu putarkan video waktu Pak Jonan jadi direktur KAI itu ya. Makasih, Pak. Iya. Sangat inspiratif, Pak. Tapi saya bicara di sini ee ingin berbagi ee karena saya pernah juga di dunia pendidikan pendidikan formal ee untuk mempersiapkan generasi generasi kita ke depan. Pemerintah ini membuat satu kebijakan ya ee perbandingan antara lulusan SMA dan SMK ya itu berbanding 6040% ya. banyak banyak 60%-nya SMK dengan harapan mereka itu bisa cepat dapat bekerja. Tapi dalam data ya faktanya, fakta di kenyataannya seperti Pak Jon kat tadi ya, sebetulnya kereta api itu harusnya banyak anak STM, harusnya kan anak SMK tapi kenyataannya Oh, enggak banyak Pak, banyak Pak. Banyak juga ya? Banyak penerimaannya yang SLTA itu yang dari SMK mungkin 6070% Pak. Iya, I iya. Malah yang kalau dari SLTA murni itu sudah jarang sekali diterima. Makin ke sini makin jarang, Pak. Nah, itu yang tepat itu, Pak Jan. Tapi kenyataannya dalam data di statistik ya, data BPS pengangguran terbuka ini justru penyumbangnya itu adalah lulusan SMK. Ini kan ee sesuatu yang ironis ya. Pemerintah mendorong SMK kemudian ternyata di lapangan pekerjaan mereka tidak bisa berbuat banyak gitu ya. anak-anak SMA bagaimana ini apa yang perlu untuk supaya mereka tidak terkatung-katung dalam ee setelah lulus itu atau apa yang salah sebenarnya Pak Yonan? Ya, yang salah itu karena pemerintah sendiri juga sistem ee struktur kepegawaiannya itu kan tadi saya katakan naik pangkat karena berdasarkan gelar loh iki opo iki? Iya kan? Kan gitu menurut saya loh ya. Ini yang mestinya dirubah Pak sebagai contoh gitu loh. Jadi pemerintah sendiri menurut saya itu sebaiknya itu mulai pelan-pelan dan cepat-cepat itu merubah bahwa sistem penilaian kinerja itu satu-satunya basisnya itu ya karena kinerja. Loh masa penilaian kerja kinerja karena sekolah iki ya opo carone? Kalau saya loh, Pak ya. Makanya di kereta api dulu saya hapus yang model panjat malapus itu sudah enggak ada buat saya bikin standar baru berdasarkan kinerja gitu aja. Karena kalau tidak nanti yang lulusan STM itu enggak bisa naik walaupun hebat. Lah kalau Bapak mau dorong SMK-nya supaya lebih mudah terserap, coba caranya bagaimana kalau yang dari ujung sininya enggak dibetulkan? Menurut saya loh ya. di Jerman yang luar biasa vocasionalnya. Bapak tahu kan ya? Jerman, di Jepang ya, di Tiongkok juga ya. Coba Bapak lihat di sana ya. Ya. Ee Korea ya, negara-negara yang inovasinya hebat sekali ya, yang pertumbuhan ekonominya juga sangat-sangat luar biasa. Itu pekerjaannya itu mungkin 70% dari vocational school yang istilah Bapak SMK itu. Betul kan? Nah, karena strukturnya juga begitu ya. Mungkin kereta api itu hanya salah satu dari hanya sedikit sekali ya badan usaha milik negara itu yang basisnya itu berdasarkan satu-satunya itu kinerja. Jadi bisa saja begini, orang lulusan sarjana teknik dari universitas atau institut yang terkenal masuknya itu sudah di level yang lima tingkat di atasnya yang SMK ini nanti dalam 20 tahun terkejar, Pak. Dan itu di kereta api sudah dibuktikan. Kalau Bapak sekarang lihat ya misalnya ya ada ee anak perusahaan namanya K services itu ya itu ngurusi restorasi, parkir segala. Coba coba cek itu ada di rout-nya sendiri. Direktur utamanya itu masuknya itu juga dari enggak tahu STM atau apa itu dulu. Benar. Coba Bapak cek ya. Ya. Dari sampai sekarang mereka enggak mau. Mau dirubah enggak bisa. Mereka bilang, "Ya, dasarnya prestasi dong. Perkara saya ngejarnya 25 tahun oke ya dijalani. Tapi harus basisnya prestasi loh. Kalau basisnya sekolah gimana? Nah, itu Pak. Nah, ini kitanya sendiri ini sebagai user harus ngerubah gitu. Nah, kalau kita mengelu ini 70% nganggur atau banyak yang nganggur atau pengangguran terbuka yang menurut Bapak? Ya, karena kita sendiri enggak ngerubah sih bentuknya. Makanya anak-anak kita itu ngejarnya apa loh? Ngejarnya gelar menurut saya loh. Kan kayak kita ini ke dokter, Pak. Ke dokter itu yang penting gelarnya dokternya atau kita sembuh? Loh, enggak. Coba Bapak jawab saya. Heh. Loh enggak Bapak coba jawab yang penting sembuh, kan? Betul kan? Perkara dokter ini gelarnya panjang atau pendek kan gak penting. Iya. Yang penting saya ke sana sembuh. Iya. Iya dong. Betul ya Bu. Betul. Saya setuju. Jadi kompetensi skill itu yang paling utama sebenarnya yang menjadi ee indikator penilaian untuk kinerja ya Pak Yonan. Oke. Kemudian berikutnya kita akan beralih ke Zoom. Ini sudah ada Pak Sulton dari Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur. Pak Sulton selamat siang. Selamat siang, Ibu. Selamat ee siang, Bapak Jonan. Salam kenal. Saya Sultan dari Dinas Koperasi Provinsi Jatim. Ion ini sepertinya generasi baru, Pak. Ini under 40 sepertinya, Pak. Saya Wid Iswara ahli pertama, Pak dari ee Jakarta. Nah, jadi saya ini sangat mengapresiasi sekali Pak, Bu dari tim panitia BPSDM ee berani-beraninya mengundang Pak Jonan ke tempat ee ke Jatim ini bahwa eh nilai building valid creation dari institusi di Jatim ini memang eh sedang mengalami eh peningkatan dan juga ee reformasi birokrasi kita berarti betul-betul diterapkan di Jatim. Ya, Bapak, Ibu. Saya ee memiliki pertanyaan untuk Pak Jonan eh terkait dengan eh quotation dari Napoleon tadi. Army of 100 Lions with leader of dogs. Itu berarti kita dipimpin oleh pemimpin yang ee belum memiliki keberanian seberani singa begitu ya, Pak. Nah, ini seperti apa, Pak? Bapak melakukan evaluasi terhadap ee e institusi Bapak ee dahulu waktu di KAI. Saya yakin mungkin bisa di-sharing bagaimana model kepemimpinan yang ada saat ini bisa ee lebih agile dan juga lebih ee ya mendukung ee misi pemerintah pusat, Pak. Demikian, terima kasih, Pak. Baik. Evaluasi seperti apa, Pak Yonan dulu waktu di KAI? yang Bapak terapkan pada saat itu. Ee saya selalu basisnya itu adalah targetnya tercapai atau tidak. Nah, karena ini kegiatannya operasinya ee kegiatannya itu kegiatan fisik kan pasti kelihatan. Iya. Ya, saya kasih contoh ya yang paling sederhana ya. Waktu saya minta ee waktu saya mengajak teman-teman saya di kereta api itu bagaimana membuat toilet di stasiun dan toilet di dalam kereta itu bersih. Loh, ini kan sederhana ya menurut saya sederhana. Waduh, senior-senior saya di kereta api bilang, "Oh, ini kok diurut kok ngurusin toilet." Loh, saya bilang sama senior-senior saya, kereta api itu operasi yang sangat kompleks. Kalau kita bersihkan toilet aja enggak bisa. Yang lain menurut saya omong kosong. Buktinya toiletnya bersih kan sekarang kan? Bersih. Nah, terus semua kepala stasiun debat dengan saya, Pak. Enggak bisa. Wah. Apalagi kayak kepala stasiun Pasar Turi atau Surabaya ya, kepala stasiun Jakarta, Pasar Sen bilang loh penumpangnya sehari hari biasa aja waktu itu R8.000 Rp10.000 kalau hari Jumat, Sabtu, Minggu itu 25.000 R30.000. Oh, sekarang mungkin kira-kira angkanya dua kali lipat. Nah, saya bilang begini ya. Selama yang pakai manusia harus bisa bersih. Nah, terus debat bersih itu apa? Ya, saya gampang udah daripada debat pakai tulisan sudah saya ajak ke hotel bintang 5 saya tunjukkan, "Sudah kamu ke toilet sudah fotoin sendiri itu ukurannya bersih." Nah, kan gampang enggak tepat. Sudah loh. Iya, kan? Nah, gitu. Saya kasih contoh kedua itu lampu ya, penerangan di peron. Coba Anda sekarang kalau ke stasiun kereta peronnya itu kan terang. Iya. Dulu debat ya. Ini kan teman-teman kan juga sekolah teknik ya. Lumennya berapa? Waduh sudah pakai lumen segala nanti sudah bikin ribut aja. Sudah gini kamu ambil koran setelah magrib kamu baca di bawah lampu ini. Kalau bisa terbaca ya berarti terang. Sudah gitu aja gampang kan. Simpel ya. Iya ya. Jadi sederhana loh. Akhirnya debat stasiun Kutuarjo sudah gini kamu mana ambil koran kamu baca di sini bersuara. Saya juga ngambil koran. Nah coba kamu bisa baca enggak? Nah kalau sudah bacanya sudah au nah ini berarti kurang terang. Kan gampang gitu aja kan ya. Jadi basisnya itu pemanfaatan gitu ya. Contohnya itu yang sederhana loh ini ya. itu jadi kalau Nah sebenarnya begini ya kalau menjadi pemimpin itu bikin ukuran yang sama-sama bisa disepakati dan bisa dimengerti lah ya kalau gak kan setengah mati ya pidato muter-muter gini yang bawah juga malas dengerinnya iya makasih baik jadi simpel dan kemudian standarnya harus juga sama ya ok berikutnya Kita akan beralih ke Pak Kurniawan ini dari Mojokerto, dari SDN Prajurit Kulon 2 Mojokerto, Bapak Kurniawan. Silakan, Pak Kurniawan. Terima kasih waktunya. Ee Bapak Ibu semua. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati Bapak Jonan. Ee saya ingin menanyakan loh ini kok bentuknya sama? orangnya lain. [tertawa] Eh, saya iya saya menanyakan hubungan antar itu, Pak, antara inovasi, korupsi and salary. Terutama yang manajemen di ee koperasi itu luar biasa. terutama nanti di bagian seleri antara Bapak-bapak yang sudah lama bertugas dengan yang punya inovasi ee berhubungan dengan kesejahteraannya berbeda. Nah, tantangan yang Bapak hadapi hubungannya dengan inovasi, corruption and salary. Terima kasih, Pak Jenan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ini sebenarnya bukan tanya, ini kelukesa ini. I [tertawa] curhat sedikit itu, Pak. Maaf ya, Pak. Bercanda ya, Pak. Tapi kan saya juga pernah mimpin birokrasi panjang, Pak. Jadi tahulah kira-kira gini ee berapa hal ya. Satu, saya itu sangat menganjurkan juga bahwa dalam kewajaran dalam skala kewajaran tuh sebenarnya ee senioritas itu ukurannya bukan waktu, Pak ya. bukan masa kerja juga. Karena masa kerja itu kan sebenarnya terkait langsung dengan usia, Pak ya, dengan umur lah. Padahal umur itu bukan punya kita. Umur itu punyanya yang bikin hidup lah. Terus ngapain kita ngurusin yang bukan urusan kita? Coba. Ayo. Ya satu ya. Eh, betul ya, Pak. Loh, kayak Pak Saifulahman itu masih bisa duduk sini itu masa karena beliau. Iya kan? Loh, bisa Bapak usia 64 ya? Nah, iya. Masa Bapak berani bilang itu karena saya berjuang sehat. Enggak mungkin kan? Karena pangestunya Gusti Allah kan, Pak. Nah, jadi jangan bikin ukuran senioritas itu menjadi penting gitu loh. Karena menjadi senior itu karena juga karena usia kan loh. Kalau karena usia kan ngapain kita ngukurnya? Ngukur usia itu e bukan bukan urusan kita. Itu satu. Yang kedua, ini berkaitan dengan penghasilan, Pak ya. Penghasilan itu begini. sekarang itu kalau di ASN ya saya lihat ya atau di BMN juga ya kalau dari tengah dari bawah ya sampai tengah itu bagus sudah sesuai dengan ee rata-rata pasar di Indonesia lah. Tapi kalau tengah ke atas, nah itu enggak ya. Ini yang mungkin harus dibenahi, Pak. Ya menurut saya harus dibenahi kan ya. Kalau orang di Surabaya, Pak itu ya ada harga ada rupa, Pak. Pasti. Iya kan? Betul ya bahasanya ya? Iya. Iya kan, Pak? Nah. Iya kan? Wong cari asar jaga pameran aja ada kelasnya. Iya kan, Mbak? Iya, betul. Betul ya. Betul. Iya. Saya tanya waktu itu, "Kenapa kok ada kelasnya?" Loh, Pak iki ongono rupo, Pak. Oh, ya. Oke. Sepakat ya. Jadi, jadi enggak mesti ngomong ya. Nah, ini di cara bendainya bagaimana? Tadi Pak Saiful Rahman juga ngomong dengan saya. Kalau saya ya waktu tugas itu prinsipnya begini, kita didik kembali organisasi ini sebisa mungkin ya, pelan-pelan dan cepat-cepat supaya apa? Diretraining kembali supaya semua orang itu punya kesempatan yang sama kalau zaman berubah. Yaitu apa? Digitalisasi. Kalau yang bisa diganti pakai mesin, sudah enggak usah pakai orang ya. Nah, orangnya bagaimana? Dididik untuk pekerjaan yang lain. Sehingga apa? Kalau dulunya bisa dikerjakan 10 orang kan dulu. Coba lihat kalau sekretariat pimpinan waduh orangnya lima minimum. Minimum itu lima. Sekretariat menteri itu 20 orangnya Pak. Iya. Saya enggak tahu kerjanya apa aja ya gitu. Nah sekarang kan banyak bisa diganti pakai. Nah kalau bisa diganti pakai mesin sehingga kan anggarannya itu bisa digunakan dengan jumlah orang yang lebih kecil itu sehingga kesejahteraannya lebih baik. Memang saya bilang mestinya kalau kesejahteraannya membaik itu kinerjanya harusnya membaik, Pak. Kalau itu enggak membaik, salahnya pimpinannya, Pak. Gitu. Iya kan saya selalu bilang, kalau perut kosong pasti otaknya kosong. Tapi kalau perutnya isi, otaknya belum tentu isi. Loh, tapi kan loh begini, saya mengambil yang kedua, lebih baik perutnya saya isi kan paling kurang 50-50. Wong namanya belum tentu lah. Kalau yang perutnya kosong sudah pasti otaknya kosong terus mau diapain? Nah, gitu kan. Gitu. Kalau yang mengenai korupsi, saya pikir begini. Tidak ada lembaga yang hebat itu yang governance-nya tidak baik. Saya enggak pernah lihat satu. Kalau governance-nya makin baik, mestinya lembaganya makin hebat. Menurut saya, Pak, ada pertanyaan lain enggak? Mungkin. [tertawa] Baik, terima kasih ya, Pak. Tapi intinya itulah, Pak. Kalau perut kosong pasti otaknya kosong, Pak. Pasti, Pak. Heeh. Ya, tetap kesejahteraan dulu ya, Pak Yonan, ya. Ya, menurut saya. Iya sih. Iya. Oke, kita berikan tepuk tangan dulu dong, Bapak Ibu. Terakhir, pertanyaan terakhir ada Bapak Wijaya EJR. Pak Wijaya EJR ini nama singkatan apa ya kira-kira? Pak Wijaya dari mana? Pak Wijaya dari Dinas Koperasi, Bu. Oh, Pak Wijaya dari Dinas Koperasi. Oke, silakan. Terima kasih atas kesempatannya, Ibu, ya. Silakan. mau bertanya apa kepada salam kepada Bapak Jonan yang ingin saya tanyakan ee begini Bapak ketika kita membuat sebuah inovasi kita kan membuat ee sebuah value yang bermanfaat bagi masyarakat kan karena kita sebagai public service di sini. Ee nah ketika kita membuat sebuah upaya inovasi tersebut dan ee ketika melaksanakannya kita akan menghadapkan beberapa tantangan. Biasanya seperti itu, Pak. Dan eh kutipan yang saya baca dari Pak Jonan tadi terkait eh strategi is important but execution executing is everything. Nah, ee berdasarkan pengalaman Bapak yang saya tanyakan, bagaimana ee menghadapi ee konflik kepentingan, Pak, ketika kita ee menerapkan sebuah inovasi. Nah, sebagaimana yang pernah Bapak alami di KAI ataupun ketika di Menteri ESDM itu Bapak menerapkan sebuah projek terkait energi terbarukan di Pulau Bali. Nah, itu kan banyak konflik kepentingan kan, Pak, di sana, Pak. Nah, ee eksekusi yang seperti apa yang bisa Bapak lakukan agar projek tersebut ini bisa berjalan dengan lancar, Bapak? Seperti itu. Jadi, eksekusi tipsnya itu seperti apa agar inovasi dan value yang kita buat ini bisa bermanfaat bagi masyarakat seperti itu. Terima kasih Bapak. Memang gini ee eksekusi yang baik itu eksekusi yang kitanya sendiri itu tidak punya eh personal interest ya, tidak punya eh vested interest lah untuk kita pribadi gitu. Kalau terkait dengan kewenangan yang di luar kita ya mestinya dijelaskan dengan baik-baik. Belum tentu berhasil sih ya. Belum tentu berhasil menurut saya. Contoh saya kasih contoh. Kalau energi terbarukan di Bali itu mungkin soal ringan sekarang kan jalan. Yang paling susah itu apa? Membuat PLTSA, pembangkit listrik, tenaga sampah. Seluruh Indonesia setengah mati. Saya enggak tahu itu maunya Pemkap Pemko itu maunya apa itu. Saya juga enggak ngerti itu. Iya, Pak. Betul. Sampai ada Perpres sampai dipanggil Bapak Presiden dimarah-marahin di sidang kabinet enggak jalan juga. Ya, saya juga bingung itu sebenarnya maunya apa. Tapi menurut saya yang Bapak bilang itu konflik kepentingan itu kalau menurut saya. Nah, tinggal ini sebenarnya setiap pemimpin maunya apa ke depannya ya maunya ya setiap pemimpin tuh maunya apa gitu. Kalau maunya baik sih mestinya sih jalan sih Pak ya. Kalau maunya baik sih, sehingga akhirnya bisa mengatasi konflik kepentingan itu. Kalau pemimpinnya sendiri enggak punya tendensi apapun, Pak Yonan, ya go ahead gitu ya. Nah, begitu ya, Pak. Ini saya kasih contoh ya. Saya kasih contoh satu. Tapi kalau ee apa lembaga induknya sendiri yang punya inisiator itu kepentingan konflik kepentingannya enggak ada, mestinya jalan sih, Pak. Tinggal waktu aja. Saya kasih contoh satu. Jadi ngobrol dengan Pak Saifulrahman juga bahwa bagaimana menertibkan 750 stasiun mulai dari Aceh sampai Banyuwangi penertiban semua area stasiun saya sudah bilang sama semua pegawai kereta api tidak ada boleh satuun orang yang punya kepentingan pribadi yang sangat melanggar etika yaitu apa? membeli tanah atau membeli lahan di sekitar stasiun setelah ditertibkan itu saya larang betul kalau ketahuan saya pecat pasti enggak ada yang berani sih, Pak. Kenapa? Karena kalau kita yang menertibkan sendiri itu mulai membeli lahan di seputar stasiun itu nanti orang yang merasa terkena penertiban sakit hati pasti. Oh, ini maunya untuk keuntungan sendiri. Nah. gitu loh. Padahal enggak dilarang loh oleh undang-undang dia. Kalau misalnya beli rumahnya orang di dekat stasiun boleh. Iya boleh aja tapi secara etika itu enggak bagus. Iya. Konflik kepentingan itu ukurannya dua menurut saya. Satu itu peraturan dan perundangan. Yang kedua itu etika. Makasih. Baik. Kita berikan tepuk tangan. Ini kayaknya semuanya nyimak benar-benar gitu ya. Luar biasa bertahan sampai .30 loh hari ini Pak Yonan. Biasanya ASN belajar kita sampai jam 12.00 tapi memang hari ini istimewa sekali. Kita berikan tepuk tangan sekali lagi Bapak Ibu Pak Yonan dan sebagai apresiasi Pak Ignas Yonan, kita akan berikan cenderamata dari BPSDM. Kami undang juga Prof. Candra boleh hadir di atas panggung. Dan kami undang Bapak Sekretaris BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Aris Irwansyah boleh hadir juga untuk menyerahkan cenderamata kepada para narasumber kita hari ini. Yang pertama akan diberikan kepada Baik, yang pertama kami silakan kepada Prof. Jandra terlebih dahulu. Baik, kita berikan tepuk tangan sobat ASN. Kemudian diberikan juga kepada Bapak Ignatius Yonan kami. Silakan. Dan bukan hanya pelakat yang diberikan, tapi juga ada sedikit kenang-kenangan ASN [musik] belajar. Baik, ini adalah merchandise eksklusif ASN belajar. Tentu saja [musik] nanti kalau dipakai Pak Yonan pagi-pagi sambil bagi-bagi nasi bungkus biar orang-orang tahu ya. Heeh. Kepada Prof Cendra juga sudah. Boleh foto bersama dulu. Silakan bertiga di depan. Selanjutnya kami silakan. Iya. Bapak tengah, Pak. [musik] Baik, kita akan foto bersama terlebih dahulu. Sobat ASIN yang ada di Zoom jangan lupa isi link presensi ya. Oke. Baik, silakan ke kamera akan kami hitung. Satu, dua, t. Terima kasih. Terima kasih banyak. Dan selanjutnya kita akan berfoto bersama dengan seluruh para sobat ASN yang hadir di sasanawiata Praja. Baik, kami silakan. Boleh menuju ke bawah. Bapak, Ibu boleh berdiri. Kita akan ambil gambar dari atas panggung WiFi bersama dengan Pak Ignatius Jonan dan juga Prof. Candra. Teman-teman silakan boleh ambil gambarnya dari atas panggung. Iya, betul. Semuanya menghadap ke panggung ya. Semuanya menghadap ke panggung. Baik, kita akan foto bersama. Izin akan kami pandu. Silakan boleh ambil posisi dulu, Teman-teman. Yes. Satu, dua, tiga. Pos yang kedua optimis Jatim Bangkit. Tangan kanannya mengepal ke atas. Yang belakang boleh lebih tinggi lagi. Kita akan sukses bersama. Satu, dua, tiga. Baik, foto bersama selesai. Sekali lagi kami haturkan terima kasih untuk Bapak Ines Yusonan, terima kasih juga untuk Prof. Candra. Dan terima kasih untuk seluruh sobat ASN yang sudah mengikuti ASN belajar seri ketiga. Jangan lupa link presensinya sudah bisa langsung diakses bit.li/hadirbreakthrough dan juga ada banyak sekali merchandise. Ikuti giveaway di Instagram kita BPSDM Jatim dan Wipro Communication. Dan tentu saja kita akan jumpa lagi di seri keempat ASN belajar persembahan dari BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya Gres Mahit. Selamat siang. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] AN belajar seri sukses. Ye, [musik] ini diharapkan bahwa organisasi publik seperti Pemda itu dituntut untuk terus melakukan inovasi, teromposan-teromposan hal-hal baru. Saya berharap tahun 2023 adalah adalah tahun untuk menuju inovasi, tahun menuju pelayanan yang lebih baik, tahun yang menuju [musik] I was you me feel [musik] I like you. [musik] by [musik]