Transcript
ZFJ2rtVO4qY • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 3 - BREAKTHRU 2023 BY LEADING INNOVATION
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0067_ZFJ2rtVO4qY.txt
Kind: captions
Language: id
bagi [musik] pengembangan kualitas SDM
Aparatur Sipil Negara [musik]
baik dari Jawa Timur maupun dari
berbagai daerah lain.
[musik]
Baby, You give me ice [musik] and
you're giving me wind and rain.
Some [musik] kind of butterfly.
Baby, you get me up.
You whip up my appetise. [musik]
Don't leave me ey and drive.
Oh,
I don't want to jinx it [musik] baby
and
myself.
[musik]
Don't want to overthink it, baby.
Just
[musik]
baby. You get me I
You're giving [musik] me wind and rain.
Some kind of butterfly.
[musik]
Maybe you me up.
You whip up my [musik]
time.
Don't leave me and drive.
Oh,
but I don't [musik] want to jinx it,
baby.
Let's not get [musik] ahead of my time.
Oh, [musik]
but I don't want to miss you, baby.
So, I [musik] stand up at my by
Oh.
[musik]
Maybe you give me
win In the rain
it's gna butterfly
[musik]
baby you me
[musik]
you're up my
don't leave me dr
you get me I [musik]
ging rain [musik]
some kind of butterfly
baby Maybe you feel that [musik]
you're whip up my time.
Don't leave me here.
Oh.
[musik]
Oh.
[musik] Oh.
Oh.
Oh. [musik]
Oh.
[musik]
Oh man.
[musik]
Ada satu message yang saya ingin
sampaikan dengan
diskusi hari ini adalah kalau [musik]
Anda ingin membangkit Indonesia sebagai
satu negara yang punya industri dan
bisnis yang kompetitif [musik]
sebagai pegawai negeri
kita harus memberi satu jasa yang justru
mendorong rakyat kita untuk berusaha.
Kalau kita melihat orang datang dengan
sifat terima-terima ya, takdir-takdir
dalam hidupnya, itu berarti rakyat itu
tidak berkuasa, tidak punya
punya kekuatan untuk berusaha apa, tidak
optimis.
Sangat berkaitan. [musik] orang harus
pakai akalnya dan juga etik dan moral
dalamusan. Dan inilah yang kita harapkan
daripada pegawai negeri. [musik]
Moral, etik, ee akal ini semuanya sangat
kunci.
Moral moral, etik, dan akal. Terima
kasih Prof Edward. Boleh kita berikan
applause untuk Prof. Edward.
[musik]
Bapak, Ibu yang sudah hadir di
Sasanawiata Praja, [musik]
mohon izin boleh sedikit bergeser ke
depan Bapak Ibu tempat duduknya. [musik]
Kita jumpa lagi dalam webinar ASN
belajar yang dipersembahkan oleh BPSDM
Provinsi Jawa. Bagatut, monggo Mbak
Novi.
Sebelum memulai acara [musik] kita pada
hari ini,
hal yang patut sobat ASN perhatikan
[musik]
agar acara dapat berjalan dengan lancar.
yang pertama tulis nama [musik] sesuai
dengan format
sekaligus boleh diinformasikan ke
teman-teman yang lain karena jam 09.00
Kita mulai kamera matikan mikrofon
sedikit dipercepat untuk naik ke lantai
du.
Lalu pastikan posisi kamera tidak
membelakangi cahaya agar wajah sobat ASN
dapat terlihat dengan jelas.
Dan jangan lupa gunakan virtual [musik]
background yang sudah kami sediakan.
Virtual background dapat diunduh pada
link yang [musik] dikirimkan melalui
WhatsApp bagi sobat ASN yang sudah
mengisi link pendaftaran.
Apabila Sobat ASN ingin mengajukan
pertanyaan atau berpartisipasi
interaktif, [musik]
Sobat ASN dapat menggunakan reaction
angkat tangan atau raise hand pada Zoom
meeting.
Siapkan pula alat tulis sobat ASN.
Selain untuk mencatat hal-hal penting,
hal ini dapat mempertajam pemahaman
Sobat ASN tentang materi yang
disampaikan.
Untuk mendapatkan sertifikat elektronik
pada webinar ini, Sobat ASN [musik]
wajib mengisi link presensi yang kami
bagikan pada saat webinar berlangsung.
Jangan lupa [musik] juga untuk mengisi
link kuisioner ya agar sertifikat
elektronik [musik] Sobat ASN dapat
langsung diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Selamat [musik] mengikuti webinar ASN
Belajar.
[musik]
Aduh, gimana sih ini? Kok sertifikatnya
belum muncul juga ya? Padahal udah isi
link presensi.
Ada apa sih, Bro? Kok kelihatannya
bingung begitu? Ini loh, Bu. Saya kan
sudah isi link presensi, tapi kok
sertifikatnya belum ada ya? Padahal kan
katanya setelah isi link presensi kita
dapat langsung mengunduh sertifikatnya.
Bu Novi sudah mengisi link kuisioner
belum? Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi
setelah mengisi link presensi, Bu Novi
juga harus mengisi link kuisioner MONEF.
Baru deh sertifikat akan dikirimkan
melalui What. Sini, sini Bu, saya
bantuin.
[musik]
Berikut ini adalah tutorial cara
menggunakan aplikasi IndeF untuk
mendapatkan eertifik. [musik]
[musik]
ASN akan dapat langsung mengunduh
e-sertifikat.
Ingat ya, link e-sertifikat yang
diterima setiap orang akan berbeda dan
semua pesan pemberitahuan ini akan
dikirimkan melalui WhatsApp bukan email.
Nah, gimana Bu Novi? Mudah bukan?
Wah, iya Bu Yanti ternyata mudah dan
cepat ya. Terima kasih banyak Bu atas
bantuannya. Saya udah enggak bingung
lagi deh. Sama-sama, Bu Novi.
Nah, untuk Sobat ASN jangan lupa untuk
segera mengisi link presensi ya. Karena
link presensi hanya dapat diakses pada
hari H pelaksanaan webinar sampai dengan
pukul 23.59 waktu Indonesia bagian
barat.
Tetap semangat dan ikuti terus webinar
ASN belajar.
Apa
sih yang [musik] kita inginkan untuk
masa depan? Keluarga yang sehat,
pendidikan yang merata,
akses untuk air [musik] bersih, ekonomi
yang kuat,
atau lingkungan yang terawat?
Semua itu adalah
cita-cita kita [musik] bersama. Melalui
sustainable development goals atau SDGs,
negara-negara termasuk Indonesia [musik]
telah turut serta dalam mewujudkan
tujuan bersama tersebut. Indonesia
sendiri sudah membuat banyak pencapaian
seperti
tingkat [musik] kemiskinan yang terus
berkurang,
akses pelayanan publik yang semakin
baik,
pendidikan [musik] dasar yang semakin
tercukupi,
dan tingkat literasi nasional yang
tinggi.
Akan tetapi, kita tidak [musik] boleh
lemah
sebab masih banyak tantangan yang
menghadang di depan mata.
Ketimpangan sosial masih sangat
Ketimpangan sosial [musik]
yang masih sangat terasa.
Kebakaran dan kerusakan hutan.
Kebakaran dan kerusakan [musik] hutan.
Kekerasan terhadap perempuan.
Sampah plastik yang [musik] merusak
lingkungan.
Samp yang merusak lingkungan.
Pengangguran anak muda yang masih
pengangguran anak muda yang masih
tinggi.
Pekerjaan-pekerjaan yang belum usai
[musik] ini harus segera kita tuntaskan.
Semua tantangan ini bisa kita taklukkan
hanya [musik] bila kita bergerak
bersama. Sebab saya yakin
tanpa kamu
kebakaran hutan akan terus ada.
Tanpa [musik] kamu
perempuan akan terus berhadapan dengan
kekerasan. Tanpa kamu,
anak-anak Indonesia [musik] masih terus
belajar tanpa lampu.
Tanpa kamu,
anak-anak Indonesia masih juga tidak
mendapatkan gizi yang cukup.
Dan tanpa kamu,
potensi [musik] anak muda menjadi
pengangguran akan terus ada.
Tanpa kamu,
tujuan-tujuan [musik] kita itu hanyalah
mimpi belaka. Jadi,
mari kita berjalan beriring. Mari kita
berjalan [musik] beriring.
Mewujudkan cita-cita kita bersama.
Mewujudkan cita-cita kita bersama. Dan
[musik] pastikan tak ada satuun kawan
kita yang tertinggal di belakang.
17 tujuan untuk mengubah Indonesia yang
lebih baik. Mari kita bangun Indonesia
bersama-sama.
[musik]
Sesungguhnya
[musik]
peningkatan ketentraman kemudian
ketertiban umum dan peningkatan kualitas
pelayanan publik bagi masyarakat di Jawa
Timur.
[musik]
hanya jadi eksportir bahkan saja maka
Indonesia tidak [musik] akan bisa
menjadi negara
[musik]
kita menghadapi perubahan yang luar
biasa karena itu kita harus melahirkan
orang yang berasa tepat
Iya. Jangan diikut tanpa strategi. Nah,
strateginya itu harus demen ya. Jadi aku
juga sayang
tidak
[musik]
[musik] bertemu dengan orang yang kita
temui hari itu first impression kita itu
yang menentukan apakah hari itu waktu
ketemu first impressionnya tadi positif.
Kalau positif akan dibawa oleh orang
tersebut akan [musik]
paling dalam. Betul.
Betul.
Ya. Sebelah kanan ada tiga macam. Pisau
yang paling tua
[musik]
ya. Salam optimis.
Luar biasa.
[musik]
Baik Bapak Ibu ucapkan selamat datang.
Salam optimis Jim Bant,
[musik]
Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian
Dalam Negeri, Bapak Dr. Drandas Agus
Patoni, M.Si. Kita berikan tepuk tangan.
Pemerintahan itu tidak boleh staan dan
pemerintahan itu selalu ada solusi. Jadi
apapun masalahnya selalu ada solusi. APD
tidak ada perdaya bisa pakai peran
daerah misal. Anggaran tidak tersedia
boleh dilaksanakan yang penting adalah
kita tahu aturannya, tahu caranya.
Waduh.
macam-macam. Wah, nanti naik lagi. Oh,
turun lagi misalnya. Ada apa? Semakin
banyak orang komen semakin bagus kenapa
konten kita akan
floating? Kalau dalam bahasa sos akan
akan akan kayak baron
bertahun-tahun itu ada mitos dalam
kehidupan orang tidak bisa melakukan ini
terjadi
jadi segala sesuatu yang masih
saya bertugas saudara adalah memilih
Impossibility.
Saatnya kita emosional booster. Bukan
vaksin aja yang diboster, mental kita
harus diposter. Kita kegiatan.
Kalau itu semua bisa kita jalankan
dengan baik, maka insyaallah akan kita
dapat yang namanya public trust. Oleh
karena itu, ayo kita buktikan.
loyalitas kita, kesetiaan kita bukan
apa-apa, tapi ayo program-program yang
menjadi komitmen politik kita, komitmen
kemasyarakatan kita yang masih belum
tercapai.
Optimis
[musik]
BBSDM Provinsi Jawa Timur.
Halo
dari Kepala Bidang PKK
ya. Langsung saja.
Hai
undur
[musik]
Innovation. What is it? How do you do
it? Innovation is all about coming up
with new ideas or improving old ones.
[musik] We can think about innovation as
a process to create these ideas and test
them. From scientists to designers,
artists to engineers, anyone can
innovate to solve problems. This process
starts off with a need or a challenge.
What is a problem that you might like to
solve? Have a think about all the
different ways to solve this problem.
What already exists? What materials can
you use? Think about some inspiration
from the world around you [musik] or
even ask some friends to help you come
up with some ideas.
Then make a prototype. A prototype is
like a draft. It doesn't have to be
perfect or work properly or even use the
same materials as the final product.
Often you'll make lots and lots of
prototypes before your final design.
In order to figure out whether it does
what you want it to do, you need to test
it. This is often the part where you
learn the most about your idea. Is your
prototype doing what you want it to do?
Can you improve it? What changes would
you like to make? After testing your
prototype, [musik] figure out what you
want to change and refine it. Did it
fail completely? Great. Use this failure
as feedback to help improve it. You can
change something big or small or even go
back to the drawing board and start from
the beginning. [musik]
Innovation is nothing new. Everyone has
done it at some point in their lives.
Whether it's making a new invention,
coming up with a new dance routine, or
even writing a story. Have a look around
you. Are there any problems or
challenges that you'd like to solve?
Next time you have a problem, have a go
using this process.
Have a go thinking, making, trying
[musik] and refining. You never know
what you could come up with.
[musik]
Aduh, gimana sih ini? Kok sertifikatnya
belum muncul juga ya? Padahal udah isi
link presensi.
Ada apa sih, Bu Novi? Kok kelihatannya
bingung begitu? Ini loh, Bu. Saya kan
sudah isi link presensi tapi kok
sertifikatnya belum ada ya? Padahal kan
katanya setelah isi link presensi kita
dapat langsung mengunduh sertifikatnya.
Bu Novi sudah mengisi link kuisioner
belum?
Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi. Salam sejahtera bagi kita
semua sobat ASN di mana pun berada.
Senang sekali pagi hari ini saya Grace
Mamahit bisa kembali lagi berjumpa dan
juga menyapa seluruh sobat ASN dalam ASN
belajar seri 3. Kita berikan tepuk
tangan untuk acara kita yang luar biasa
dan memang begitu luar biasa karena ini
berbeda dari seri-seri yang sebelumnya.
di ruangan ini tepatnya di Sasanawiata
Praja. Saya tidak sendirian tapi ada
seluruh karyawan atau pegawai dari BPSDM
Provinsi Jawa Timur hadir bersama-sama
dengan kita. Boleh kita berikan tepuk
tangan.
Dan tentu saja hadir juga salah satu
narasumber kita yaitu Prof. Candra Fajri
Ananda, S. M.Sc., PhD. Selamat datang,
Prof. Tentu saja ini bukan kali yang
pertama Profesor dapat hadir karena
sudah sering sekali terus membersamai
program di Cororpu SDJIS BPSDM Provinsi
Jawa Timur. Dan pagi hari ini, Sobat
ASN, saya juga ingin menyapa seluruhnya
yang berada di Zoom maupun juga di
YouTube BPSDM Jatim TV. Jangan lupa kita
punya jargon kali ini ASN belajar. Jadi
kalau saya sampaikan ASN belajar boleh
dibalas dengan semangat belajar, sukses
bersama. Kita coba ya, kita coba ASN
belajar
semangat belajar sukses bersama. ASN
belajar
sukses bersama. Kita berikan tepuk
tangan sekali lagi.
Baiklah, Bapak Ibu, pagi hari ini juga
sudah hadir di virtual bersama-sama
dengan kita. Beliau
luar biasa sekali karena sudah
menyempatkan waktu bersama-sama dengan
kita ya. Nanti kita akan dengarkan
bersama keynote speech beliau. Sobat ASN
di ASN belajar seri ketiga ini kita
punya satu tema yaitu breakthrough 2023
by leading innovation. Kata inovasi
jelas sudah tidak asing lagi di telinga
kita dan bahkan sudah sering dilakukan.
Korpu SDJIS BPSDM Provinsi Jawa Timur
salah satu instansi yang juga mencetak
berbagai inovasi. Bahkan sudah ribuan
dari para peserta-peserta pelatihan yang
lulus dari kawah candra di muka Provinsi
Jawa Timur. Ya. Namun
tentu saja yang menjadi tantangan kita
sekarang bagaimana kita melahirkan atau
menciptakan inovasi-inovasi baru yang
lain daripada yang lain, namun juga bisa
menjadi solusi dan memberikan alternatif
bagi masyarakat untuk memberikan
pelayanan publik yang terbaik. Ya. Dan
tentu saja bukan hanya itu, tapi tujuan
kita bersama adalah mewujudkan birokrasi
yang berkelas dunia. Hari ini di seri
ketiga dalam tema Breakthrough 2023 by
Leading Innovation, kita akan tahu
bersama langkah-langkah seperti apa,
praktik-praktik baik seperti apa, bahkan
juga mindset apa yang sebenarnya harus
kita miliki dan kita lakukan untuk
terciptanya inovasi-inovasi baru,
inovasi-inovasi
yang lain daripada yang lain. Kita akan
temukan jawabannya hari ini. Dan jangan
lupa kita juga mau ingatkan untuk sobat
ASN, Bapak, Ibu yang juga sudah ada di
Sasanawiata Praja sudah isi link
presensi. Jika belum boleh langsung dian
saja QR code yang ada di meja
masing-masing. Kemudian untuk sobat ASN
yang bergabung di virtual baik di Zoom
dan juga di YouTube kita silakan ada di
running tag yang ada di layar Sobat ASN
yaitu bit.ly/hadir.
/hadirbreakthrough.
Jangan lupa hanya huruf besar ya.
Bit./hadirбakthrough.
Dan kemudian setelah mengisi presensi
sobat ASN bisa juga mengisi link MONEV
monitoring dan juga evaluasi.
Kalau sudah isi link MONEV baru Sobat
ASN bisa mengunduh sertifikatnya ya. Dan
tentu saja layanan contact person kita
di WA 082119411
akan dibuka sampai 2 hari ke depan. Jadi
jika ada sobat ASN yang belum familiar
menggunakan aplikasi INDEF untuk
mengunduh sertifikat ini, jangan
khawatir. Don't worry ya. Kita akan
bantu Sobat ASN sampai link presensi ini
akan berlaku sampai tanggal sampai hari
ini saja pukul 23.59 59 sampai nanti
malam ya. Pastikan data yang dimasukkan
benar karena tentunya ini juga merupakan
salah satu praktik baik Sobat ASN untuk
memasukkan data dengan benar. Karena
data yang sudah masuk dalam aplikasi
INDF tentu saja tidak bisa direvisi
manual. Baiklah, sobat ASN, jangan lupa
juga kita mau ingatkan
bahwa di Instagram kita di BPSDM Jatim
dan juga Wipro Communication, kita punya
giveaway tebak kata. Hadiahnya
macam-macam, banyak sekali dan tentu
saja ini eksklusif ASN belajar. Ada
payung, ada power bank, ada diffuser,
dan juga ada t-shirt. Jangan sampai
sobat ASN melewatkannya. Ada juga yang
katanya sudah sempat koleksi nih
kayaknya merchandise ASN belajar ya.
Baik, sebelum kita akan dengarkan
keynote speaker kita yang hari ini
sepertinya sedikit terkendala tapi kita
akan maksimalkan. Baiklah kalau begitu
kita akan saksikan terlebih dahulu satu
tayangan berikut ini tentang The
Innovation Cycle.
Innovation. What is it? How do you do
it? Innovation is all about coming up
with new ideas or improving old ones. We
can think about innovation as a process
to create these ideas and test them.
From scientists to designers, artists to
engineers, anyone can innovate to solve
problems. [musik]
This process starts off with a need or a
challenge. What is a problem that you
might like to solve? Have a think about
all the different ways to solve this
problem. What already exists? What
materials can you use? Think about some
inspiration [musik]
from the world around you or even ask
some friends to help you come up with
some ideas.
Then make a prototype. A prototype is
like a draft. It doesn't have to be
perfect or work properly or even use the
same materials as the final product.
Often you'll make lots and lots of
prototypes before your final design.
In order to figure out whether it does
what you want it to do, you need [musik]
to test it. This is often the part where
you learn the most about your idea. Is
your prototype doing what you want it to
do? Can you improve it? What changes
would you like to make? After testing
your prototype, [musik] figure out what
you want to change and refine it. Did it
fail completely? Great. Use this failure
as feedback to help improve it. [musik]
You can change something big or small or
even go back to the drawing board and
start from the beginning. Innovation is
nothing new. Everyone has done it at
some point in their lives. Whether it's
making [musik] a new invention, coming
up with a new dance routine, or even
writing a story. Have a look around you.
Are there any problems or challenges
[musik] that you'd like to solve? Next
time you have a problem, have a go using
this process. Have a go thinking,
making, trying and refining. You never
know what you could come up with.
economy chemical companies courcing
[musik] ideas globally consumer goods
companies utilizing artificial
intelligence socialer
companies [musik] of
[musik]
aduh gimana sih ini kok sertifikatnya
belum muncul juga ya padahal udah isi
link presensi sih. Ada apa sih, Bu Novi?
Kok kelihatannya bingung begitu?
Ini loh, Bu. Saya kan sudah isi link
presensi tapi kok sertifikatnya belum
ada ya? Padahal kan katanya setelah isi
link presensi kita dapat langsung
mengunduh sertifikatnya. Bu Novi sudah
mengisi link kuisioner belum?
Hah? Kuisioner apa, Bu? Jadi setelah
mengisi link presensi, Bu Novi juga
harus mengisi link kuisioner MONF. baru
deh sertifikat akan dikirimkan melalui
WhatsApp. Sini sini Bu, saya bantuin.
Berikut [musik] ini adalah tutorial cara
menggunakan aplikasi INDEF. Untuk
mendapatkan e-sertifikat, yang pertama
pastikan Sobat ASN sudah mengisi link
pendaftaran yang terdapat pada Flyer ASN
belajar. Link pendaftaran ini dapat
diisi maksimal 1 hari sebelum acara
webinar dilaksanakan.
PSN akan dapat langsung mengunduh
e-sertifikat.
Ingat ya, link e-sertifikat yang
diterima setiap orang akan berbeda dan
semua pesan pemberitahuan ini akan
dikirimkan melalui WhatsApp bukan email.
Nah, gimana Bu Novi? Mudah bukan?
Wah, iya Bu Yanti ternyata mudah dan
cepat ya. Terima kasih banyak Bu atas
bantuannya. Saya udah enggak bingung
lagi deh. Sama-sama, Bu Novi.
Nah, untuk sobat ASN jangan lupa untuk
segera mengisi link presensi ya. Karena
link presensi hanya dapat diakses pada
hari H pelaksanaan webinar sampai dengan
pukul 23.59 Waktu Indonesia bagian
barat.
Tetap semangat dan ikuti terus webinar
ASN belajar.
[musik]
Innovation. What is it? How do you do
it? Innovation is all about coming up
with new ideas or improving old ones. We
can think about innovation as a process
to create these ideas and test them.
From scientists [musik]
to designers, artists to engineers,
anyone can innovate to solve problems.
This process starts off with a need or a
challenge. What is a problem [musik]
that you might like to solve? Have a
think about all the different ways to
solve this problem. What already exists?
What materials can you use? [musik]
Think about some inspiration from the
world around you or even ask some
friends to help you come up with some
ideas.
Then make a prototype. A prototype is
like a draft. It doesn't have to be
perfect or work properly or even use the
same materials as the final product.
Often you'll make lots and lots of
prototypes before your final design.
In order to figure out whether it does
what you want it to do, you need to
[musik] test it. This is often the part
where you learn the most about your
idea. Is your prototype doing what you
wanted to do? Can you improve it? What
changes would you like to make? After
testing your prototype, [musik]
figure out what you want to change and
refine it. Did it fail completely?
Great. Use this failure as feedback to
help improve it. You can change
something big or small or even go back
to the drawing board and [musik] start
from the beginning. Innovation is
nothing new. Everyone has done it at
some point in their lives. Whether
[musik] it's making a new invention,
coming up with a new dance routine, or
even writing a story. Have a look around
you. Are there any problems or
challenges that [musik] you'd like to
solve? Next time you have a problem,
have a go using this process.
Have a go thinking, making, trying
ini, perkembangan teknologi informasi
sudah menjadi aspek penting bagi
peningkatan di segala bidang. Salah
satunya pada rana pemerintah Kota
Surabaya, Distruk Capil Kota Surabaya
sebagai perangkat daerah selaku instansi
[musik] pelaksana yang membidangi urusan
administrasi kependudukan terus berupaya
untuk memberikan pelayanan terbaik yang
[musik] mudah, cepat, santun, dan
sepenuh hati dengan mencetuskan berbagai
inovasi aplikasi dan inovasi layanan.
Diharapkan dengan hadirnya inovasi
pelayanan tersebut mampu untuk
memudahkan masyarakat dalam mengurus
administrasi kependudukan. Salah satu
inovasi dari Disduk Capil Kota Surabaya
adalah program Londong Balap. Londong
[musik] Balap menjadi salah satu inovasi
layanan integrasi pelayanan terpadu yang
merupakan akronim dari layanan online
dan terpadu [musik] one gate system
bersama di Stuk Capil Kota Surabaya dan
Pengadilan Negeri Surabaya.
Inovasi layanan ini hadir untuk menjawab
sejumlah permasalahan masyarakat terkait
pergantian dokumen kepeludukan seperti
perubahan nama, tempat tanggal lahir,
jenis kelamin, dan nama orang tua di
akta kelahiran yang dalam hal ini
membutuhkan [musik] putusan pengadilan
negeri. Pemohon yang ingin menggunakan
layanan londong balap [musik] cukup
mendaftar di kelurahan. Setelah itu akan
dilakukan proses review oleh pengadilan
negeri dan jika sudah divalidasi [musik]
nantinya akan diberikan jadwal sidang
untuk menerima keputusan pengadilan
negeri dan produk adindung seperti akta
kelahiran, KK, dan KTP elektronik secara
langsung. Dari registrasi sampai ke
proses persidangan semuanya berjalan
lancar.
Proses sesuai dengan prosedur. He
lancar,
tidak ada halangan. sidangnya juga
sangat cepat dan [musik]
sangat mudah untuk kita ya sebagai
warga.
Kolaborasi pelayanan melalui lontong
balap ini [musik] sebagai sarana untuk
membangun kepercayaan masyarakat
terhadap penyelenggara pelayanan publik
khususnya pengadilan negeri Surabaya dan
[musik]
Pemerintah Kota Surabaya.
Warga Kota Surabaya, yuk dokumen
kependudukanmu diurus segera. Bagi yang
sudah punya kartu keluarga, punya KTP
elektronik, cek lagi datanya sudah
di-update atau [musik] belum. Datanya
sudah data terbaru atau belum. Karena
memiliki dokumen kependudukan adalah
langkah pertama untuk bisa mendapatkan
pelayanan publik yang lengkap. [musik]
Terima kasih, Pak Walikota, Pak Kepala
Dinas DUP Capil. Terima kasih seluruh
warga Surabaya. Maju terus, sehat terus,
sukses selalu.
Seluruh saudara-saudara saya di Kota
Surabaya melakukan [musik] atau mengurus
adminuk di Kota Surabaya jauh lebih
mudah sekarang. Ayo cepat diurus
sehingga pelayanan publik Surabaya akan
tepat sasaran yang menjadi yang terbaik
bagi warga kota Surabaya. [musik]
[musik]
Sobat ASN, kita masih di ASN belajar
seri ketiga. Boleh kita berikan tepuk
tangan.
Tentu saja masih semangat. Coba cek dulu
semangatnya. ASN belajar.
Semangat belajar. Sukses bersama. Nah,
berikut ini kita akan bersama-sama
mendengarkan keynote speech yang akan
disampaikan oleh Sekretaris Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional,
Sekretaris Utama Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional yang sudah
bergabung secara virtual bersama kita,
yaitu Bapak Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP.
[musik]
Bapak Taufik selamat pagi.
Selamat pagi.
Baik.
Apakah suara saya
boleh sedikit dikeraskan Bapak
biar terdengar lebih jelas?
Baik Bapak selamat pagi Pak Taufik
pagi
I. Silakan Bapak. cukup
ya cukup cukup jelas. Silakan Pak Taufik
ee bisa dimulai ya.
Ya, silakan Bapak.
Baik. Ee terima kasih yang kami hormati
Bapak Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur, Pak Aris. Terima kasih nih
Pak Aris atas
kesempatannya.
Yang kami hormati para pembicara ya di
sini yang telah hadir bersama kita dan
yang kami banggakan
seluruh
ASN Provinsi Jawa Timur yang hadir pada
acara yang sangat penting ini adalah
seri ketiga ASN
belajar.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua. Om
swastiastu.
Salam sehat untuk kita semua. Sekali
lagi terima kasih atas kesempatannya.
Saya kira forum seri 3 ASN belajar ini
merupakan forum yang sangat penting,
terutama sejalan dengan tema acara kita
pada pagi hari ini yaitu breakthrough
2023 by Leading Innovation. Jadi ini
termasuk forum yang menurut hemat kami
sebagai bagian upaya prakarsa Provinsi
Jawa Timur untuk membangun ekosistem
inovasi
ya. Karena inovasi ini membutuhkan
ekosistem yang kondusif untuk seluruh
komponen ya, pemerintah Provinsi Jawa
Timur mulai dari tingkat provinsi,
kabupaten, kota ya ini seluruhnya perlu
ee apa membutuhkan ekosistem
inovasi yang kondusif. Jadi ini ee
merupakan prakarsa yang sangat baik.
Oleh karena itu, kami menyampaikan
apresiasi dan penghargaan yang sangat
tinggi. Apalagi kalau kita perhatikan
saat ini yang sudah bergabung bersama
kita ini sudah
dalam berbagai kegiatan yang berhubungan
dengan ekonomi baik di tingkat nasional
bahkan juga internasional. [musik] Saat
ini juga beliau menjabat sebagai guru
besar Universitas Brawijaya. Ladies
[musik] and gentlemen, please give
applause. Bapak Profandra Fajri Ananda,
S. MSC, PhD.
[musik]
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi
kita semua. Ee sebelumnya
kita mungkin bisa belajar ya ee bahwa
penyelenggaraan secara hybrid ini
ternyata memang bisa ee ada gangguan
seperti sekarang. Tapi setidaknya
applause untuk kita semua ASN
yang terus mau belajar,
yang terus mau berubah untuk menjadi
lebih baik.
Hari ini saya ucapkan terima kasih untuk
undangan eh sharing-nya terutama
pada Pak Aris sebagai Kepala BPSDM
dan sekaligus sebagai PJ Walikota Batu.
Kenapa saya sebut ini? Karena kebetulan
saya tinggalnya di Batu. Jadi, Pak Aris
ini walikota saya.
Yang kedua, ee tentu para pembicara, Pak
Yonan, kebetulan sebenarnya mulai hari
ee Selasa saya itu di Jakarta dan
mestinya saya minta online juga, tapi
kata Pak Sugeng, "Oh, jangan on ee
online, Prof." gitu. Karena kita
diharapkan seluruh warga BBSDM juga
mengikuti secara langsung. Dan kebetulan
Bu Menteri hari ini ngisi acara di
Sumenep dan harusnya saya juga
mendampingi Bu Menteri juga. Dan
ternyata ee tadi malam saya setelah
guyon-guyon suasana batin sudah enak
baru ngomong kalau saya minta izin untuk
memberikan materi hari ini. Jadi
moga-moga
apa yang kita lakukan secara
bersama-sama ini menjadi kebaikan bagi
kita semua.
Topik hari ini saya pikir topik yang
menarik ya. Jadi ada kata-kata
breakthrough.
Breakthrough itu sebenarnya dalam bahasa
ee kita itu terobosan.
Terobosan yang tentu kenapa kita
menerobos biasanya adalah untuk menuju
ee pencapaian tujuan yang lebih cepat,
lebih tepat dan murah kan gitu. Gak ada
terobosan itu malah kemudian menjadi
tidak efisien.
menjadi tidak tepat sasaran, tidak
tercapai tujuannya. Jadi, break through
sebenarnya adalah bagaimana strategi
yang harus kita lakukan untuk bisa
membangun. Sehingga breakthrough itu
biasanya juga kaitannya dengan apa yang
kita sebut dengan inovasi.
Maka inovasi itu seperti tadi sedikit
disampaikan oleh Pak Taufik
adalah membutuhkan environment,
membutuhkan suasana, membutuhkan
lingkungan yang baik.
maka breakthrough tidak akan terjadi
pada organisasi yang tidak sehat.
Break through tidak akan terjadi pada
organisasi di mana dalam organisasi itu
tanda petik ya ee tidak berlaku
performance yang menjadi ukuran sebagai
basis karirnya seseorang. Nah, kebetulan
saya sudah 3 tahun berkarir di ee
ngikutin lah ya ngikuti di Kementerian
Keuangan. Mungkin nanti saya bisa
sharing bagaimana di Kementerian
Keuangan itu yang katanya Kementerian
Sultan gitu ya, kementerian Sultan.
Tetapi bagaimana kinerja seseorang itu
sangat sangat harus terukur sehingga
sangat diperlukan ee inovasi-inovasi di
dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Hari ini saya ingin menyampaikan
beberapa hal. Ada tiga tiga poin yang
ingin saya sampaikan. Yang pertama
adalah
mengapa kita memerlukan
perubahan-perubahan ini di dalam ASN.
Bahkan tadi malam saya mendengarkan
ada tambahan honorer ya di organisasi
ASN ini hampir sekitar 2 juta, Pak.
Padahal ASN ini jumlahnya sekitar
sekitar 4,5 juta. Jadi hampir 6 juta.
Padahal dengan cara seperti ini, kita
ingat di Undang-Undang HKPD yang baru
tahun 2022
belanja ASN itu tidak boleh melebihi
30%.
Kalau jumlah honor nambah sekitar 2
juta,
berarti apa yang kita bisa bayangkan?
Kapan ini dimulai? di Undang-Undang HKPD
disampaikan bahwa
pelaksanaan undang-undang HKPD ini akan
berjalan 5 tahun setelah undang-undang
ini digedok atau diberlakukan.
Berarti tahun 2027. Nah, sekarang sudah
tinggal 4 tahun lagi. Mestinya sudah
mulai berlaku pengurangan-pengurangan
jumlah pegawai yang tentu basisnya
adalah kinerja. seseorang tidak dipakai
karena kinerjanya buruk. Seseorang tidak
lagi ada dalam posisi itu karena
kinerjanya tidak
mendukung kinerja organisasi. Ya, oleh
karena itu tadi saya sampaikan maka
organisasi menjadi sangat penting.
Kenapa itu kita lakukan? Kita sedang
menuju Indonesia 2045.
Slide-nya bisa dilanjut enggak, ya?
Indonesia menuju 2045.
Kenapa 2045 ini sering disampaikan juga
oleh Presiden?
Kalau kita lihat pada tahun 2045
diperkirakan jumlah penduduk Indonesia
itu sekitar 319 juta.
319 juta. Dan ini sudah kurang hampir
sekitar ee 20 tahun lagi, Pak. 20 tahun
kayaknya enggak enggak lama ya.
Yang kedua,
umur produktif itu sekitar 47%.
Secara ekonomi income per kapitanya
sudah harus menjadi 23.000 US. Artinya
maka kita tidak mungkin tidak berubah
kalau mau menuju ke sana. Ekonomi selalu
tumbuh 5% 5,01
5,1 kan begitu Pak ya. Selama pandemi
kita bahkan lebih rendah.
ekonomi harus tumbuh untuk mencapai
23.000 US dolar per kapita itu harus
tumbuh sekitar 7%.
Nah, untuk tumbuh seperti itu harus
berubah, Pak. Yang bahasanya Bu Menteri
menggunakan kata-kata tidak inovasi tapi
transformasi,
perubahan.
Intinya adalah inovasi,
transformasi, intinya perubahan. yang
tentu perubahannya adalah perubahan
menjadi lebih baik, perubahan menjadi
lebih efisien, lebih cepat, kalau bisa
lebih murah dan itu tidak mungkin ya
tidak mungkin meninggalkan yang namanya
teknologi atau digital.
Maka teman-teman sudah mulai harus
membayangkan
bagaimana ya kalau digitalisasi masuk
dalam kantor saya, berapa banyak orang
yang berkurang. Saya kasih ilustrasi,
Pak. Tahun 2004 Undang-Undang tentang
Perbendaraan Direktorat Jenderal
Perbendaraan itu pegawainya hampir
16.000, Pak. Sekarang sudah tinggal
6.000
sekian tahun. Berapa tahun? Hampir 19
tahun. Artinya perubahan ini kemudian
merubah
jumlah yang namanya pegawai itu dengan
digitalisasi. Dulu kalau kita mau
mencairkan ke kantor kas negara itu
harus bawa amplop-amplop gitu, Pak. Ya,
sekarang sudah melalui transaksi
perbankan sehingga jumlah pegawainya
menurun. Sehingga kalau kita lihat
2045 itu menjadi target kita menyongsong
20 ee 45 ini Indonesia harus bagaimana.
Yang kedua
kita lihat di slide yang kedua ya, yang
ketiga halaman 3 halaman 4 sori. Di
dalam RPJM itu
itu pemerataan antar wilayah,
meningkatkan keunggulan kompetitif,
pelayanan dasar, kemudian sinergi
pemanfaatan ruang ini membutuhkan peran
pemerintah yang berbeda.
Slide keempat ya. Sehingga kalau kita
lihat Indonesia yang ada sekian banyak
pulau, ribuan pulau ini tidak bisa kita
lakukan dengan cara-cara biasa.
kita perlu melakukan terobosan-terobosan
baru di dalam mengelola kewilayahan
Indonesia ini.
Dan di situ kalau Bapak-bapak, Ibu-ibu
perhatikan, kalau dilihat dari PDRB
berdasarkan pengeluaran government
spending, belanja pemerintah itu menjadi
kunci.
Bahkan dari hasil evaluasi kita ya,
hasil evaluasi kita
belanja pemerintah itu selalu di kuarter
keempat.
Jadi kuarter ketiga itu bahkan kemarin
tahun 2022 kita mengalami kontraksi,
mengalami penurunan. Tahun 2002 ee 22
itu di kuarter keempat baru mulai
positif gitu.
Berapa banyak SILPA? Silpa terus naik.
Macam-macam sebabnya SILPA ini. Tetapi
bisa secara umum kita katakan betapa
kualitas SDM di birokrasi itu menjadi
kunci.
termasuk yang sekarang kita perhatikan
yang mungkin hari ini kita bisa
diskusikan. Next.
Nah, sehingga menuju 2002 ee 45 itu kita
perlu melakukan apa yang kita sebut
dengan transformasi ekonomi yang tadi
sudah saya sampaikan. Kemudian ini
menuntut juga reformasi struktural. Kita
tidak mungkin lagi bayangkan kalau
Undang-Undang HKPD itu diberlakukan
nantinya, maka daerah itu harus ada
namanya pinjaman daerah. Kalau daerah
ada pinjaman daerah, Bapak bisa
bayangkan seorang pengelola utang daerah
ini dia seperti bagian triseriy kalau
diperbankan.
Bagian triseri itu gajinya gede banget,
Pak, kalau diperbana ada
resiko-resikonya.
Kalau itu ada di pemda-pemda,
maka tentunya gajinya pegawai pemda yang
ngelola utang ini enggak mungkin sama
dengan ASN yang lain.
Berarti memang perubahan mulai dari
reward systemnya harus berubah,
manajemen pengelolaan daerah juga
berubah.
Bahkan sekarang ini akan dimulai tadi
malam Bu Menteri cerita akan dimulai
Kabupaten Bojonegoro untuk membuat
indomen fun karena ee DBH-nya minyak
gara-gara harga minyak dunia naik
drastis itu Bojonegoro itu ee ada
kelebihan sekitar 3 triliun rata-rata.
Nah, ini harusnya sudah masuk ke dalam
indomen fund yang tentu kita mikir siapa
di pemda ini yang bisa mengelola itu,
punya enggak skill untuk mengatur ini.
Nah, oleh karena itu perlu ada
perubahan-perubahan
yang harahnya adalah produktivitasnya
harus menjadi lebih tinggi. Kemudian
yang kedua, ekonominya tumbuh lebih
cepat. Kemudian memperkuat ketahanan
ekonomi dan pertumbuhan yang
berkelanjutan. Next.
Nah, untuk seperti itu maka kuncinya
tetap Pak sumber daya manusia.
Jadi kuncinya adalah sumber daya
manusia.
Kita ingat Ristomezi. Kalau kita belajar
sejarahnya Jepang ya, sejarahnya Jepang
itu mereka mengirim tahun 1900 anak-anak
mudanya ke luar negeri
untuk melihat ini loh dunia itu seperti
ini. Tadi malam itu kebetulan Bu Menteri
Keuangan kita ee hari ini beliau-beliau
ke Sumenep ya. Tadi malam kita
makan-makan di layar, Pak, di daerah
sini. Pada waktu makan-makan, habis itu
selesai. Selesai makan. Kebetulan Pak
Sekjen saya itu, Sekjen Kementerian
Keuangan itu dari Bondowoso.
Habis makan ya sudah ngobrol aja. Terus
katanya Bu Menteri gini, "Ini habis
makan enggak ada apa-apa ini. Gak ada
makanan penutup atau apa gitu."
yang Pak Sekjen persepsinya beliau ya
habis makan ya sudah jagongan kan
orang-orang di Bondowoso begitu gitu.
Terus katanya ibu, "Woh Bapak ini kurang
banyak ke luar negeri katanya."
Jadi memang perspektif baru itu bisa
dibangun dengan cara banyak melakukan
perjalanan, tidak harus ke luar negeri,
tetapi mempelajari hal-hal baru,
kesiapan untuk mempelajari hal baru. Dan
ini ujungnya adalah dalam manusia SDM.
Yang kedua, modal fisik juga perlu. Kita
hampir setiap tahun dalam APBN itu
membangun infrastruktur itu hampir
sekitar 300 sampai 400 triliun.
Bahkan proyek nasional kita PSN proyek
strategi nasional itu hampir sekitar ee
sekitar angkanya hampir sekitar 600
triliun ya. Jadi kalau kita lihat modal
fisik juga penting. Modal fisik juga
penting. SDM-nya bagus tapi
infrastrukturnya enggak siap juga akan
tidak mencapai optimal. Yang keempat
adalah sumber daya alam. ya, sumber daya
alam kita memang sudah perlu membuat
tata kelola yang lebih baik terhadap
pengelolaan sumber daya alam ini. Jangan
sampai mungkin tahun 2030 misalkan
sumber daya alam kita sudah mulai tidak
ada lagi. Yang terakhir adalah modal
sosial.
Jadi di dalam membangun SDM itu atau
membangun daerah, membangun negara, kita
kenal ada yang disebut dengan modal
sosial. Modal sosial itu apa? Modal
sosial itu rasa tanggung jawab bersama,
kebersamaan yang di negara kita mungkin
di beberapa wilayah sudah mulai
menghilang
ya, tapi di banyak wilayah masih ada
itu. Jawa Timur ini masih sangat besar.
Bagaimana kita memanfaat
kebersamaan-kebersamaan masyarakat itu
evaluasi kisa kita terkait dengan
penggunaan dana 20% pendidikan itu angka
PISA. Pisah itu adalah ukuran untuk
nilai matematika. Kita jauh di bawah
fitnah, Pak.
Berarti 20% pendidikan ini perlu kita
review lagi, gitu.
Kalau kita lihat temuan-temuan terkait
dengan SILPA, perencanaan yang tidak
tepat, ada something yang salah di dalam
birokrasi kita sehingga SILPA ini
kemudian terus membesar. Nah, ini tentu
reformasi perlu kita lakukan di bidang
tata kelola pemerintahan kita. Kemudian
yang kedua, bagaimana modal sosial ini
terus kita bangun. Kita memang sudah
mulai membangun hubungan-hubungan yang
baik. Tidak hanya dengan lingkungan
pemerintahan saja antar pemerintahan,
antar OPD gitu ya, tapi juga dengan
masyarakat. sekarang ini di sektor
perpajakan misalkan
ee besok ya kita ada kerja sama sama Bu
Gubernur, teman-teman dari pajak
Direktorat Jenderal Pajak yang intinya
nantinya itu para WP itu diajak ngomong
duitmu ituu kayak kita ambil dari Bapak
Ibu semua, kita pakai apa saja dan
seterus. Jadi komunikasi antara
pemerintah dan masyarakat itu semakin
wajib hukumnya
harus menjadi bagian di dalam proses
pengambilan keputusan maupun kebijakan
yang kita lakukan. Next. Nah, walaupun
begitu kita ini menghadapi tantangan
yang enggak
ya kita masih melihat tantangan global.
Kita enggak pernah tahu tuh Rusia sama
Ukrain ini berubah apa enggak, berhenti
perang apa enggak. Dampak dari
peperangan itu yang jelas adalah
disrupsi di bidang supply.
Industri-industri yang bahan bakunya
dari daerah sana gak bisa dikirim ke
kita, Pak. Dampaknya adalah inflasi di
mana-mana.
Terakhir eh Federal Reserve Bank
Amerika, Bank Sentral Amerika sudah
meningkatkan tingkat bunganya sudah
menjadi 4,5. Itu tertinggi sepanjang
Amerika berdiri, gitu.
Nah, konsekuensinya kalau Amerika
menaikkan tingkat suku bunga, banyak
kapital dari Indonesia ini lari ke sana
semua, Pak. Dan ini tentu menjadi
catatan kita. Nah, oleh karena itu di
domestik kita punya masalah satu,
perdagangan internasional mungkin akan
terganggu karena permintaan
negara-negara yang tadi mengalami
konflik itu akan menurun.
Kita lihat dalam 2 tahun terakhir neraca
perdagangan kita ini sudah surplus dan
ini bagus untuk ekonomi ya. Tapi ini
enggak tahu kita apakah tahun 2023 akan
seperti itu. Kemudian yang kedua,
kontribusi global value chain yang masih
rendah. Kita ini enggak ngikut gitu.
Walaupun ada yang bilang itu ya
bersyukur juga. Karena kalau kita ngikut
ke sana seperti Korea yang menjadi
bagian dari industri otomotif yang
besar, saat ada konflik itu dia
terganggu.
Jadi Korea adalah satu negara yang
sangat menggantungkan pendapatan
negaranya dari ekspor 70%.
Kita enggak. Nah, kita ini sangat
tergantung pada domestik, kepada daya
beli masyarakat. Itu alasan mengapa
pemerintah satu tetap memberikan hampir
sekitar 500 triliun dalam bentuk
perlindungan sosial, BLT dan seterusnya.
Satu. Yang kedua, menjaga inflasi supaya
kita tetap mau belanja. Karena ekonomi
itu kuncinya belanja.
Dan yang jangan lupa, jangan lupa saya
selalu bilang bahwa ekonomi kita seperti
ini tertolong ini karena masih banyak di
Indonesia ini orang yang masih pergi
berjamaah salat subuh berdoa. Tahun 2020
itu sudah ada pesimis, Pak. Waduh kita
ini gimana tahu-tahu ada perang. Siapa
yang nyuruh perang? Enggak ada, Pak.
Bukan orang kita mestinya. Gara-gara
perang harga minyak dunia naik ya. Sawit
naik, batu bara naik, gas naik.
ya kita untung hanya penerimaan pajak
kita di atas 100%.
Bahkan untuk tahun ini 2022 sudah
120%-an,
Pak targetnya melebihi target. Jadi
bukan berarti kita bersyukur karena ada
perang ya, tapi saya pikir karena orang
Indonesia itu baik-baik, banyak doanya,
ekonomi kita terbantu. Belum lagi saya
bicara zakat sama infak.
Bapak bisa bayangkan kejadian di Turki
itu. Turki itu inflasinya hampir 90%,
Pak.
Mata uangnya turun hampir sekitar 50%.
Tapi ya tenang-tenang aja, enggak ada
demo. Ternyata saya cek di sana lembaga
zakat, lembaga wakaf itu bekerja secara
maksimal. Yang itu harusnya persis
hampir sama dengan kejadian di
Indonesia.
Next.
Nah, kenapa inovasi ini kemudian menjadi
penting? Jadi, kebutuhan dasar untuk
modal menjadi meningkatkan daya saing
itu yang pertama adalah institusinya.
Kita harus menciptakan. Kalau tadi kata
Pak Taufik dari ee deputi atau
sekretaris ee BAPENAS, sekretaris umum
BAPENAS, beliau mengatakan untuk
berinovas. Inovasi itu memerlukan
environment, memerlukan lingkungan
organisasi yang sehat.
itu penting. Yang kedua,
infrastrukturnya harus memadai. Kalau
kita memang mau masuk ke digitalisasi,
kita siapkan infrastrukturnya.
Alat-alat kantor semua sudah harus
connected, semua ada digital dan
seterusnya. Yang ketiga, peningkatan
tingkat kesejahteraan.
Saya pikir Pemprop Jatim sudah cukup
lumayan bagus memberikan kesejahteraan
ini. Nah, ini kita perlu berpikir juga
gimana caranya sistem insentif ini sudah
harus berubah. Tentu baiknya adalah
performance base ya.
Yang keempat kesehatan dan kesediaan
pendidikan. Jadi kebutuhan dasar kita
terutama kesehatan dan pendidikan sudah
harus terpenuhi pada saat kita mau
berinovasi. Kalau itu masih kurang,
mungkin kita tidak akan sempat berpikir
untuk berinovasi.
Itu yang pertama. Yang kedua, terpinya
supply skill labor. Tadi saya sampaikan
sama Pak Kaban sebelum acara ini, kita
harus ngecek karena beliau sekarang dari
Walikota Batu. Berapa banyak pegawai di
Kota Batu yang mengikuti
training-training pengembangan skill?
Jadi pengembangan skill itu bagian dari
insentif yang kita berikan kepada
karyawan. Bapak-bapak, Ibu-ibu bisa
bayangkan kalau kita punya karyawan dan
tidak pernah ditraining,
ngantor aja berarti enggak ada
pengembangan skill. Itu enggak benar,
ya. Kemudian yang kedua, kita perlu
membuat bagaimana pasar tenaga kerja ini
juga efisien. Nah, tiga hal ini jadi
pendekatan multidisiplin yang seperti
sekarang mungkin ada yang bagian A
bagian B di dalam OPD atau di bagian
organisasi ee kantornya,
tapi semuanya adalah bagaimana kita
kemudian mengedepankan kita pendekatan
multidisiplin mau menerima hal-hal baru.
Kita juga perlu banyak membaca
penelitian. Bahkan dulu pada waktu saya
masih aktif, sering aktif di BPPEDA
Provinsi Jawa Timur, saya minta punya
perpustakaan
yang update supaya kita baca terus gitu.
Nah, organisasi publik itu biasanya
menerapkan dalam bahasa yang lain
namanya knowledge management.
Bagaimana di dalam organisasi itu
anggota-anggota di dalamnya itu kita
push untuk terus belajar membaca,
menulis, termasuk melakukan riset yang
kemudian dilombakan. Sehingga yang
menerapkan itu Kementerian Keuangan yang
saya tahu, kemudian Bank Indonesia.
Sehingga di Bank Indonesia walaupun kita
ini enggak jadi pejabatnya di
struktural, mereka bikin tulisan menjadi
fungsional, jadi peneliti yang kemudian
dilombakan yang hadiahnya juga gede juga
sebagai insentif. Maka kita perlu
melihat ini sebagai suatu enablers. Jadi
lingkungan kerja yang baik, sistem
insentif yang baik, organisasi yang
sehat itu nantinya akan mendorong yang
namanya inovasi itu. Dan ini juga harus
di-support leadership-nya, kemudian
knowledge yang dikembangkan dan budaya
kerja. Tiga-tiga hal ini akan muncul
leadership yang kuat itu muncul apabila
organisasinya juga sudah mulai sehat.
Nah, sekarang topik yang kedua.
Saya ingin menyampaikan peran kunci APBN
di dalam mendorong transformasi ini.
Ini saya sedikit cerita tentang APBN
kita
ee karena ini bagian dari tugas saya
sebagai ee staf khusus Kementerian
Keuangan. Kalau kita lihat
transformasi ekonomi mendorong
pertumbuhan yang tinggi, inklusif, dan
berkelanjutan. Ini sebenarnya
pokok-pokok kebijakan fiskal kita tahun
2003. Jadi, ada kata-kata pertumbuhannya
harus lebih tinggi, harus inklusif.
Inklusif itu artinya melibatkan banyak
hal. Maka kita mendorong daerah juga
untuk melakukan pinjaman daerah gitu ya.
Walaupun kata teman-teman PTSMI
pada waktu pandemi kemarin banyak yang
pinjam sekarang belum ada gitu. Jadi
maunya daerah memang tingkat bunganya
nol gitu. Jadi enggak ada enggak ada
beban gitu ya. Nah, sekarang sudah
kembali normal malah belum ada daerah
yang melakukan pinjaman. Kemudian yang
terakhir adalah berkelanjutan.
Nah, arahnya sebenarnya lebih banyak
salah satu poin peningkatan kualitas
SDM. Jadi, berkali-kali saya ulang-ulang
bahwa transformasi kita perlukan,
perubahan ini kita perlukan, tapi kunci
perubahan dan transformasi itu di SDM.
Pada waktu Pak PJ Walikota yang
kebetulan Pak Paris sebagai kabannya
BPSDM mau banyak melakukan perubahan
kebentur-bentur beliau ini kok SDM-nya
enggak siap, enggak ada reaksi, enggak
ada komen, ada grup pimpinan, ada
masalah ini ya diam aja gitu. Jadi ini
kan masalah SDM ini menjadi problem
serius pada waktu kita mau membangun
suatu organisasi yang sehat. Sehingga
mulai sistem rekrutmen-nya perlu kita
review, pengembangan skill-nya perlu
kita review. Berapa banyak mereka ikut
training, trainingnya apa saja. Kalau
habis training terus orang-orang ini ke
mana jadi apa, ini harus kita review
semua. Kebetulan saya juga sebagai
komisaris Bank Jatim, saya mer-review
semua itu ada ini kok yang pergi kok ini
terus ya gitu. Ada apa ini?
Ternyata hasil perginya itu trainingnya
enggak ada apa-apa ya, hanya karena
teman-teman. Akhirnya kita rubah sistem
bagaimana mengirim seseorang kepada
lembaga pendidikan yang luar yang di
luar. Nah, ini ee akhirnya kita
ketemulah solusinya untuk bagaimana
membangun skill yang lebih baik.
Next.
Oleh karena itu, APBN punya peran yang
penting. Ee pertama reformasi
struktural, akselerasi, mendorong
pembangunan ekonomi hijau, penguatan
kualitas modal manusia, terutama
pendidikan kesehatan, dan berlinsos. Dan
dananya ya untuk pendidikan itu hampir
sekitar 612 triliun. Itu menurut saya
angka yang sangat besar.
Makanya pendidikan kita kalau ternyata
hasilnya masih kalah sama Vietnam, terus
saya mikirnya apa yang salah? Apakah
sedot beberapa wilayah di Jawa Timur
yang saya teliti ya seperti Kabupaten
Malang, DA-nya habis untuk gaji guru?
Loh, to kad pernah seperti itu gitu.
Apakah kemudian DA ini harus kita atur
belanjanya gitu? itu menyalahi konsepsi
DAO.
Kita ke DAK. Wah, ini kalau DAK banyak
terlalu banyak fisiknya. Jadi ini memang
kita kebentur-bentur pada waktu mau
melakukan perubahan-perubahan ini. Tapi
yang jelas sampai tahun 2030 harus kita
rubah konsepsi penggunaan dana
pendidikan ini. Yang jelas insentif guru
akan tetap gitu ya. Karena ternyata ee
guru ini juga membawa perubahan
perekonomian terutama ya setelah
guru-guru dapat insentif dan macam-macam
itu ya beli mobil kreditnya ke perbankan
juga jadi ada gitu ya. Sayangnya masih
banyak juga kemudian muncul masalah baru
di beberapa kota perceraian itu tinggi
dan didominasi guru juga gitu. Mungkin
karena gajinya lebih tinggi pikirannya
jadi aneh-aneh gitu.
Tapi mestinya tidak di sana, tidak ke
sana. Mestinya kelebihan dari penerimaan
itu untuk pengembangan skill dari
masing-masing gitu. Ada beberapa sekolah
yang menjadi binaan saya di Malang ya,
itu gurunya kebetulan sekolah swasta ee
pondok-pondok modern gitu, Pak ya.
SPB-nya mahal
dan gurunya 1 tahun tuh 10 orang mesti
saya suruh pergi ke luar negeri. Yang
paling banyak ke Jepang.
untuk belajar tentang pelayanan.
Karena di Jepang sudah sangat mapan yang
semacam itu. Jadi tantangannya kalau
kita lihat reformasi ini rendahnya
literasi keuangan di bidang keuangan
terutama ya. Kemudian biaya transaksi
ini rata-rata di sektor keuangan. Jadi
per sektor itu kalau kita lihat sektor
keuangan kita pinjol marak keamanannya
lemah. Kemarin saya tulis digitalisasi
temarak gitu ya. Semarak. tapi
keamanannya lemah. Jadi ini juga edukasi
keuangan itu juga sangat lemah sekali
dan memang kejahatan-kejahatan perbankan
terutama digitalisasi itu bahkan sudah
sampai pada pembicaraan digemarin.
Jadi tidak hanya di Indonesia tetapi
juga di luar negeri. Next.
Oleh karena itu, next, kita bisa melihat
mobilisasi pendapatan menjadi sangat
penting untuk menyusun
perubahan-perubahan ini. Next, ya.
Kemudian, bagaimana kita belanja yang
lebih baik? Belanja yang lebih baik ini
tidak mungkin bisa dilakukan
apabila perencanaannya buruk.
mekanisme perencanaan ini yang selama
ini didominasi oleh teman-teman birokrat
ya, itu tidak akan berjalan untuk
menghasilkan APBD yang baik. Kemarin
saya sempat menjadi salah satu juri
untuk menentukan kepala daerah yang baik
yang ada lima kalau enggak salah ya. Ada
salah satu kandidat yang baik ini very
strong leadership. Saya enggak sebutkan
kotanya ya. Beliau sangat strong gitu.
Dan beliau mewajibkan OPD-nya tidur di
masyarakat
sambil bercerita. Hari berikutnya harus
memberikan laporan. Artinya belanja
permasalahan lah gitu. Jadi sebelum
Musren bank itu OPD-OPD tidur di
rumah-rumah masyarakat.
Nah ini adalah cara-cara baru yang tadi
saya sampaikan. Ini bentuk inovasi
bagaimana mengcollek problem pembangunan
yang ada di masyarakatnya. Kapan hari ki
fakultas saya itu raker di Banyuwangi.
Nah, kemudian ee kita nunggu Bu Apuk,
Pak Bu Bupati. Ternyata beliau dari
tidur di masyarakat. Jadi dipakai oleh
beliau dih cerita ya ini saya adopsi
dari ee salah satu wilayah yang tadi
saya sebutkan itu. Dan ternyata bagus
ya, ternyata bagus dan ini akhirnya
program-programnya menyentuh. Bahkan
program-program fisik itu kayak jalan
rusak. Hari itu langsung bisa
diselesaikan. Yang tidak bisa
diselesaikan k kemiskinan. Ini kan long
term atau middle term. Tapi kalau jalan
rusak sudah langsung kepala dinas ee
PU-nya harus ikut terus langsung bangun.
Jadi pendekatan-pendekatan baru di dalam
menyelesaikan permasalahan pembangunan
itulah bagian dari inovasi yang kita
perlukan saat ini. Ya. Kemudian yang
ketiga, kita perlu juga pembiayaan
inovatif.
Jadi tadi saya sempat bilang sama ee Pak
Aris sebagai PJ Walikota Batu. Saya
bilang, "Pak Aris, alun-alun batu itu
dulu konsepsinya karena dulu saya ikut
terlibat di awal-awal pendirian Kota
Batu itu adalah untuk menyeimbangkan
karena objek wisatanya bayar semua.
Jatak,
apalagi macam-macam itu. Nah, ini harus
gratis nih alun-alun ini.
Tapi karena gratis kemudian masyarakat
mengatakan, "Wah, ini karena gratis
akarepe dewe." gitu. Saya selalu bilang
tidak ada yang gratis, Pak. Di dunia
enggak ada yang gratis. Kalau gratis
berarti enggak ada maintenance
kan gitu. Ak saya bilang, "Udah, Pak di
apa dipagerin aja atau dibatasi
pembiayaan. Ini dibiayai hotel A. Hotel
A suruh ngerawat, Pak. Hotel B itu
seperti di Singapura. Bagaimana kebun
binatang yang burung itu dibiayai oleh
hotel B, hotel C, toko A, toko B gitu,
Pak. Burung ini dibiayai oleh ini. Jadi,
itu namanya pembiayaan inovatif yang
bisa kita lakukan
untuk pembiayaan public services gitu,
tidak harus APBD.
Nah, ini bisa kita lakukan bagaimana
swasta itu akan masuk kalau dia yakin
memang uangnya aman.
perusahaan dia kalau di teorinya CSR
apapun namanya atau responsibility yang
lain itu membantu brandingnya
perusahaan.
Asumsinya adalah birokratnya itu tidak
aneh-aneh sama dia.
Maka sangat penting, sangat penting ya,
sangat penting birokrasi itu menunjukkan
kepercayaan itu sampai mereka para pihak
ketiga terutama perusahaan, bisnis
sektor gitu ya, secara umum itu percaya
uangnya aman. Ini juga kami lakukan pada
waktu dulu pada waktu Chel Samsung di
Pasuruan.
didemo terus oleh masyarakat. Kan orang
Pasuruan tuh kebanyakan ngaji di pondok.
Chil Samsung itu adalah industri yang
high input technology. Harus alumni
teknik kimia atau kimia gitu ya atau
teknik mesin gitu. Yang itu enggak
mungkin orang-orang yang di pondok itu
sekolah-sekolah yang begitu gitu.
Akibatnya ini berdiri kemudian mereka
jadi penonton saja akhirnya iri kok yang
menikmati pendatang karena kasus itu.
Kemudian saya bantu juga pondok
bata-bata di Pamekasan kalau enggak
salah itu untuk merubah kurikulum
pondoknya ada pelajaran tentang
mengelola gas gitu ya supaya teman-teman
pondok ini alumninya bisa kerja di
perusahaan gas gitu. Jadi ini memang
membutuhkan perubahan semuanya ini.
Kalau tidak maka kita akan menjadi
penonton. Sudah ada contohnya.
Masyarakat Betawi tahun akhir 90 sori
akhir 80 tahun 91 Pak. Banyak yang
menjual tanahnya itu kemudian naik haji.
Yang terjadi sekarang adalah warga
Betawi itu di pinggir-pinggir semua,
Pak.
Dan itu akhirnya memunculkan
permasalahan baru. Jadi sangat penting
komunikasi antara birokrasi di pemda
misalkan dengan para pelaku usaha yang
baik gitu. Kita duitmu pakai ini loh,
nanti duitmu akan seperti ini dan
seterusnya. Yang keempat adalah mitigasi
risiko. Ya, jadi ini memang ada ilmunya
sendiri ya. Ada namanya risk management
itu. Jadi setiap kali ada kerja sama
mengelola ini, Bu Menteri sudah mikir,
"Pak, BUMDBUMD yang dibuat oleh pemda
itu kan kekayaan yang dipisahkan.
Bagaimana pemerintah pusat itu
mengoleksi yang namanya dana penerimaan
dari pajak, dari cukai, kemudian dibagi
hasilkan ke daerah, kemudian ditransfer
ke daerah, terus di daerah dibikin BOMD
yang hasilnya nol bahkan rugi.
Kan seperti buang ini yang kerja keras
terus ini, Pak. namanya itu kalau di
dalam teori tidak sharing the pain. Yang
ini berat mencari dananya, yang ini enak
aja pakainya gitu. Bu Menteri sudah
minta tolong dong dievaluasi itu, gitu.
Jadi ini memang perubahan-perubahan ini
akan terus terjadi, Pak. Mengingat
memang kondisi ekonomi dunia yang sudah
banyak dibahas. Kita enggak tahu apakah
ada resesi atau tidak dan seterusnya.
Next.
Oleh karena itu, next, ya. Oleh karena
itu, apa yang harus dilakukan dengan isu
banyak perubahan itu yang pertama kita
harus menjaga komitmen ini. Kita harus
jaga. Biasanya orang Indonesia itu harus
ada contohnya, Pak. Contohnya gimana
gitu ya. Contohnya gimana dan
seterusnya. Maka komitmen ini harus
dibangun dengan cara menjaga apa yang
kita awali sampai akhir dan tujuannya
harus tercapai, komitmen harus kita
jaga. Bahwa kalau saya berbuat baik di
kantor saya ada rekognisi,
ada kepastian bahwa karir saya juga akan
berjalan dengan baik, maka organisasinya
juga harus baik. Maka ini tentu menjadi
komitmen pimpinan di dalam organisasi
itu. Yang kedua, hindari ego sektoral.
Ini enak ngomongnya
ya. Ini enak. Tapi sulit, Pak. Saya
yakin kepala daerah itu kepala daerah
ini pikiran auditor, Pak. Kalau saya
orang BBK,
kalau saya masuk ke daerah tertentu,
daerah Allah, pertama kira-kira saya
masuk ke mana?
Setelah masuk ke kepala daerah pasti
masuk kepada lembaga yang menjadi
kepercayaan kepala daerah, walikota atau
bupatinya.
Dilihat dari mana? Dilihat dari berapa
banyak anggarannya? Pertama, pendidikan,
p-nya
bagian perencanaan, bagian penerimaan
daerah. Bapenda misalkan itu pasti orang
dekatnya kepala daerah
ya sudah dia akan masuk ke situ dulu,
ya. Oleh karena itu biasanya yang non
empat ini ya yang penting ada lah gitu.
Sehingga kadang-kadang mereka sulit
untuk kerja sama, mereka merasa nomor
dua bukan pejabat nomor satu gitu. Nah,
ini harus dihilangkan
ya. Maka di Kementerian Keuangan itu Pak
sekarang ada istilah Kemen Q1.
Bapak tahu kan insentif terbesar itu
diteman-teman pajak Pak. Jadi salah satu
eselon 1 dipajak dengan eselon 1 di DJKN
kekayaan negara atau perbendaraan itu
bisa sepertiganya, Pak, gajinya
sehingga pajak ini terlalu besar. Nah,
sehingga Bu Menteri pada waktu mau muter
ini kalau diputar ke perbendaraan orang
pajak itu seperti ee tanda petik hukuman
walaupun naik.
Nah, ini sekarang lagi di-review lagi
gitu. supaya tidak terjadi ego sektoral.
Jadi, ego sektoral itu omongannya
gampang, tapi dalam praktiknya sangat
sulit. Orang pajak mengatakan, saya
kasih contoh begini, teman-teman pajak
itu mengatakan kita ini penting semua.
Perbendaraan juga penting, ee cukai juga
penting, pajak juga penting, DJPK juga
penting. Di antara yang penting itu tapi
ada yang tidak vital.
Tangan ini penting, Pak. Tapi kalau kita
kehilangan tangan, masih hidup kita.
Jantung ini ya penting ya vital. Enggak
ada jantung mati kita. Saya
mengibaratkan pajak itu vital itu.
Makanya di Amerika lembaga pengelola e
pajak itu di luar government, Pak,
langsung ke presiden.
Nah, ini lagi diskursus itu walaupun Bu
Menteri tetap enggak harus masuk dalam
Kementerian Keuangan. Karena untuk
membuat strategi ke depan kalau enggak
tahu penerimaannya bagaimana gitu. Jadi
ini memang ee jadi diskursus untuk bisa
ee terus menjadi layanan yang lebih
baik. Kemudian moral hazard, kepentingan
yang menyatu ya ini masih saudaranya ini
gitu. Ini terjadi karena kebanyakan
dalam organisasi itu masih ada
saudaranya A, saudaranya B, saudaranya C
gitu. kami di Bank Jatim itu sama
sehingga transformasi yang kita
canangkan
2022 itu agak terhambat terhambat ya
karena memang kita berhadapan dengan
yang tadi saya sebutkan ini. Ini
rekrutmennya ini saudaranya ini dan
seterusnya ada moral haza di sana. Yang
terakhir adalah mengontrol hasil. Monf
itu wajib. Kalau kita membuat kebijakan
seminggu lagi harus kita cek sudah
dijalanin belum. terutama di birokrasi
ya. Kalau di perusahaan-perusahaan
ee kayak Universitas Telkom ya kalau
saya kasih contoh
itu muridnya hampir sekitar ee 20.000,
pegawainya di bawah 100
karena semua sudah digital.
Saya di Brawijaya pegawai itu yang non
PNS ya, non ASN itu ada 1700
pengeluarannya hampir R85 miliar. Saya
bilang ini resiko ini. Setelah dicek,
"Oh, iya ini masih saudaranya ini
saudaranya ini." gitu. Ini penyakit
organisasi. Saya yakin tidak hanya di
kampus, di birokrasi mungkin ya gak jauh
bedah.
Nah, sekarang pertanyaannya adalah
bagaimana kita mengevaluasi caranya
gitu, Pak. Penugasan kontrol. Penugasan
kontrol paling simpel di dalam
mengontrol manajemen itu adalah
mengontrol apa yang sudah kita tugaskan.
Nah, akhirnya ada yang ngomong, "Pak,
kalau begitu jadi pemimpin itu berat."
Iya, memang jadi pemimpin tuh berat.
Saya sempat jadi dekan di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Brawijaya. Saya saya
bilang sampai saya itu berusaha
mengelencerkan karyawan, Pak. Saya yang
saya sendiri tidak pernah ke sana. Ke
Cina. Saya gak pernah ke Cina tapi
karyawan saya sudah semua. Itu dengan
upaya yang sudah menggil lah. Intinya
jadi pemimpin tu isinya berkorban tok.
Saya bilang gitu. Sehingga tidak enak.
Tetapi Allah kan menjanjikan kalau kita
muslim ya. Allah menjanjikan
kalau mau milih pintu surga dari jadilah
pemimpin yang adil. Kan gitu Pak.
Ya, kita harapannya itu aja. Jadi kalau
kita beranggapan jadi pemimpin untuk
menambah aset, nambah ini, pasti niat
itu enggak akan bagus gitu ya. Bahkan Bu
Menteri itu, Pak, bekas ee atau bukan
bekas ya, ex eh direkturnya WBank,
bosnya WBank.
Kalau di LHKPN coba dicek
enggak banyak, Pak.
Jadi ini memang Bu Menteri tadi malam
bilang karena cerita cerita tentang
cucunya beliau gitu. I have one question
from my grandson katanya dia karena
sering-sering ngomong bahasa Inggris
Pak. Dia bilang karena kita ini mau
diundang Pak Said. Pak Said itu kepala
banggarnya DPR RI di Sumenep. Makanya
beliau ke Sumenep.
Bu, Pak Said itu ee rumahnya bagus, Bu.
Gitu. Ada lift-nya katanya. Terus ketawa
ibunya itu kayak seperti pertanyaan cucu
saya ya gitu. Cucu saya bilang,
"You are finance minister of republic
Indonesia but you don't have any
elevator in your house." Katanya gitu.
Kamu ini Menteri Keuangan Indonesia yang
katanya hebat, Menteri Keuangan terbaik
dan tapi kok enggak punya lif di rumahmu
katanya gitu.
Jadi itu sampai anak-anak itu sudah
mengukur karena dia omongan dari
teman-temannya baru kelas 1 SD
mengukur orang tuanya, kakek, neneknya
itu dari materi.
Jadi ini memang menjadi tantangan kita
kalau kita siap menjadi pemimpin
harusnya kita review ulang ini apakah
kita masih seperti itu?
Oke, next.
Maka SDM unggul itu sebenarnya
jadi kunci.
Jadi SDM unggul ini jadi kunci. Minggu
lalu saya diajak kalau yang dari Malang
mesti tahu ada kawasan ekonomi khusus di
Singosari.
Pak Bupati juga pengin bikin SDM unggul.
Terus tahu-tahu saya diminta kemudian
saya suruh jadi ee ya pemimpinnya untuk
perubahan itu ya. Terus kita mau
menggandeng eh London Kings Collegu.
Kita mau bikin kampus, mau bikin ini
gitu. Terus saya bilang gini aja, memang
SDM ini kunci dari semuanya. Kalau kita
belajar dari sejarah Nabi pun gitu ya,
yang dibangun oleh Nabi itu sebenarnya
bukan tata kelola. Yang dibangun adalah
individu-individu.
Kan asabikunal awalun cuma berapa orang?
15 orang. tapi bisa merubah peradaban
bangsa Arab zaman itu. Jadi orang ini
yang memang kunci dari perubahan. Nah,
kalau kita lihat perbandingannya ya
antara Singapura dengan kita ya
angka-angkanya ya mulai APK kemudian
PISA yang tadi saya sampaikan kita tuh
sangat rendah bahkan dari Malaysia kalah
jauh kita.
Makanya kalau pemimpinnya kalau kita
kemarin mendengarkan bagaimana Mahatir
ngomong gitu ya, sori Pak Anwar Ibrahim
ngomong kita kayaknya missing missing
seorang leader dengan
perkataan-perkataan visioner gitu. Itu
karena didukung oleh pendidikan yang
baik. Kemudian dari sisi kesehatan kita
juga melihat angka stunting masih
tinggi. Jawa Timur termasuk yang tinggi
stuntingnya.
Jadi kalau kita lihat pendidikan dan
kesehatan ini, kita perlu paham bahwa ya
kita masih perlu kerja keras untuk
menghasilkan
yang namanya SDM unggul itu dari sisi
makro. Nah, apa yang harus kita respon?
Pertama,
oh kenapa ini slide-nya?
Pertama, kita harus menghilangkan yang
namanya scaring effect. Memang dampak
pandemi ini cukup besar walaupun
sekarang sudah mulai hilang. Bahkan tadi
saya perhatikan mungkin 90% enggak ada
yang pakai masker juga gitu. Jadi sudah
orang enggak enggak takut lagi. This is
very important ya. Karena kalau orang
takut-takut itu enggak berani jalan,
enggak berani ke restoran, ekonomi kan
jadi buruk ya. Kemudian yang kedua, kita
juga masih melihat ekonomi dunia masih
belum menunjukkan kepastian yang
bagaimana. Yang tadi sudah saya
sampaikan masalah struktural di SDM,
infrastruktur birokrasi ini memang lagi
digodok ya. Undang-undang HKPD itu Pak
untuk teman-teman pemda ya itu akan
memaksa kita sebenarnya tidak boleh lagi
seperti dulu.
Maka saya itu ya kalau ada teman-teman
pemda ASN sekolah ikut kursus ikut
training seperti saya senang Pak. Saya
senang.
Jadi seperti hari ini pun saya
sebenarnya kesulitan waktu gitu ya. Tapi
karena saya merasa saya bilang sama Bu
Menteri, "Bu, ini yang nanti yang ikut
hampir sebagian besar pemda di Jawa
Timur Buitu ya sudah gitu salam sama Pak
Jonan gitu. Saya pengin ketemu Pak Jonan
juga." Jadi intinya sebenarnya masalah
struktural itu SDM, infrastruktur,
birokrasi ini sudah jadi masalah umum.
Kita memang pada tahun 2014, Pak, itu
kita Pak Jokowi di awal pemerintahannya
minta gaji PNS itu ASN itu R30 juta
zaman itu.
Zaman itu ya kita bikin simulasi itu
hanya bisa tercapai
apabila ASN kita ini jumlahnya 2,5 juta.
Nah, sekarang itu sudah 4,5 juta honorer
tadi malam ee teman-teman dijanjan,
Dirjen Penganggaran cerita ada honorer
sekitar 2 juta gitu. Aduh, itu Bu
Menteri gini loh, terus gimana itu gitu.
Jadi memang kita diadakan pada tantangan
organisasi secara nasional ya itu yang
seperti itu gitu.
Jadi memang ee saya enggak yakin itu
bisa dilakukan 4 tahun lagi untuk
mengurangi belanja pegawai maksimal 30%.
Itu tantangannya cukup berat untuk
sampai masuk ke sana. Next,
slide 17 ya.
Jadi bagaimana dalam peningkatan daya
saing berarti gitu. Jadi kalau kita
lihat dibandingkan di dunia,
dibandingkan di dunia kita ini menduduki
75 dari 132 untuk inovasi, Pak.
Hampir separuh.
Kemudian di region Southeast Asia,
Indonesia menduduki peringkat 13. Ya,
itu tapi dari sekitar 16 negara. Jadi
kalau kita perhatikan
kita enggak bagus di dalam inovasi.
Kalau kita lihat dari peningkatan reset
development kita enggak ada 1% Pak 0,2%.
Bahkan BRIN itu, BRIN itu tadi malam
ibunya cerita minta anggarannya itu ee
di atas 10. Tahun 2022 itu 8 8,4
triliun, Pak, anggarannya Brin. Hanya
kepakai
1 triliun enggak ada.
Katanya, Ibu, ngapain minta
banyak-banyak? Wong segitu aja enggak
habis gitu. Jadi ini memang kebiasaan
riset, inovasi terutama menjadi basisnya
itu belum belum menyatu di tempat kita.
Kalau kita lihat memang penganggarannya
masih semacam itu. Next.
Oleh karena itu di dalam pengembangan
ini pertama sistem manajemen ASN perlu
kita review ulang. Mulai sistem
rekrutmen mungkin sekarang sudah mulai
baik. Bahkan jumlah ASN sebenarnya
growth-nya sudah mulai turun. Grow-nya
sudah mulai turun. Udah minus growth
gitu ya. Tapi manajemennya termasuk
misalkan kemampuan kolaborasi itu
menjadi sangat penting. Kemudian yang
berikutnya adalah meningkatkan
kompetensi.
Jadi kompetensi seringki di tempat saya
itu ada pelatihan untuk
training-training keuangan daerah.
Pemda itu ngirim 2 bulan, Pak, dulu ya 2
bulan.
Tapi kita evaluasi setelah balik ke ee
ke apa kantornya, ke pemdanya, posisinya
tuh enggak ada hubungannya dengan
keuangan.
Ditaruh di mana, ditaruh di mana gitu.
Sehingga kompetensinya enggak
bermanfaat. Dia punya kompetensi tapi
tidak dimanfaatkan.
Nah, ini juga perlu kita ingatkan juga.
Kemudian yang berikutnya database. Nah,
ini penting ya database ini ee kita
jangan sampai membuat kajian, membuat ee
perencanaan tanpa database yang bagus.
Database ini memang problem besar saat
kita memberikan subsidi kemarin, subsidi
PBM, kompensasi gitu ya. itu ternyata
banyak yang tidak tepat sasaran karena
memang seharusnya kita merubah itu.
Kemudian tata kelola manajemen ASN kapan
seseorang naik pangkat, kapan seseorang
dibayar berapa, insentifnya berapa, gitu
ya. Ini harus terukur semuanya. Jadi
kalau kita masuk pada performance base,
maka ukuran-ukurannya harus orang bisa
mengetahuinya.
Bahkan sistem remunerasi itu harusnya
temannya tahu, "Oh, Pak Candra dibayar
berapa ya remunnya ya?" gitu. Sehingga
orang, "Pak Candra kok gitu dibayar
segitu padahal saya lebih aktif misalkan
gitu." Jadi ada yang saling mengontrol.
Nah, transparasi di dalam pengelolaan
ini kadang-kadang enggak tahu kenapa sih
fulan tahu-tahu jabat itu padahal
kemampuannya atau banyak masalah dan
seterusnya. Jadi, ini memang PR-PR
perubahan. Nah, ini topik terakhir
bagaimana tata kelola pemerintahan yang
kita perlukan untuk mencapai
pengembangan inovasi. Next.
Jadi kalau kita lihat di grafik ini ya
yang sebelah kanan ya itu 3 tahun
terakhir pertumbuhan ASN itu sudah
negatif sebenarnya pertumbuhannya.
Jadi sebenarnya kita sudah minus growth,
kita sudah mulai mencoba mengurangi.
Tapi kalau tertekan oleh honorer tadi
itu jadi masalah ya. Akan jadi masalah
sehingga keluhan DA yang kurang,
tunjangan profesinya kurang gitu ya. Itu
juga karena jumlahnya itu tidak ada
koordinasi. Ini juga menjadi konsern
kita. Next.
Kalau kita lihat sebaran sebaran ASN
kita memang didominasi oleh Jawa dan
Sumatera ya, Jawa dan Sumatera. Sehingga
kalau kita memang mau memperbaiki
tentunya ya fokusnya di Jawa Sumatera
apalagi tekanan ekonominya juga cukup
besar 80% ekonomi Indonesia ya Jawa
Sumatera.
Jadi memang ASN ini menjadi kunci
penting juga untuk membangun
perekonomian.
Next.
Ini kalau kita lihat rasio jumlah
penduduk dan jumlah ASN. Kalau dilihat
dari angka-angka ini yang baik-baik itu
sebagian besar di Jawa yang rasionya
lebih rendah dari rata-rata. Yang di
atasnya misalkan ada Bengkulu, ada Aceh,
yang paling besar itu Papua ya. Jumlah
AS-nya banyak, penduduknya sedikit gitu.
Nah, ini tentu akan menjadi overhead
cost bagi organisasi itu.
Pasti layanan publiknya harusnya kan
tambah bagus, Pak. Ya, itu jadi buruk
karena memang duitnya habis untuk gaji,
gaji, gaji gitu. Next.
Nah, sebagian besar dari jumlah yang
angka tadi itu sebagian besar adalah di
ee guru ya. Jadi di fungsional ada juga
di pelaksana CFU maupun angka-angka ini
menunjukkan yang tadi saya sampaikan
dominasi di guru itu cukup besar ya ASN.
Nah, makanya tapi kalau hasilnya tadi
yang saya sampaikan di depan PISA kita
masih rendah, di ASEAN juga kita kurang
gitu ya, pertanyaannya adalah bagaimana
membangun sektor pendidikan yang lebih
bagus lagi ke depan tanpa harus
mengurangi fasilitas atau insentif yang
diberikan kepada guru. Nah, oleh karena
itu next kita juga melihat bahwa
kualitas SDM ini akhirnya juga
mengurangi serapan belanja juga. Jadi
yang tadi saya sampaikan SILPA-silpa
yang besar itu bisa jadi karena
perencananya enggak pas, bisa jadi
tumpang tindih sehingga enggak ada yang
mau berkorban. Ya udah, aku nunggu
diselesaikan mereka. atau daripada aku
nanti tanda petik diproses di tempat
lain, aku lebih baik enggak melakukan
apa-apa. Dan ini semua akhirnya jadi
seperti yang sekarang kita lihat
seringkiali terjadi. Nah, oleh karena
itu birokrasi yang bagus adalah
organisasinya pertama
right sizing gitu ya.
Ya, right sizing ukuran pemda ini memang
harusnya kita review. Kalau jumlah
penduduk sekian ee minta tambahan 1
menit lagi penduduknya sekian mestinya
pemdanya sebesar apa. Yang kedua, SDM
aparatur integritas kompetensi yang hari
ini kita bicarakan. Kemudian
akuntabilitasnya
ya, siapa melakukan apa
dan targetnya apa, capaiannya bagaimana.
Ini harusnya semua orang bisa tahu. Jadi
harus terbuka gitu ya sehingga bisa
saling mengontrol. Next.
Mungkin di halaman terakhir aja ya, di
halaman 28.
Jadi strategi reformasi birokrasi itu
pertama ee penyederhanaan birokrasi.
Penyederhanaan di slide 28 ya.
Penyederhanaan birokrasi. Kemudian tata
laksananya menjadi mudah. Dan ini memang
tidak mungkin tanpa digitalisasi
ya. Tanpa digitalisasi. Memang Indonesia
ini ada yang bilang disperse. Ada Jawa
yang tingkat pendidikannya bagus di luar
Jawa yang seperti itu. Jadi pada saat
digitalisasi belum tentu di sana
internet ada, belum tentu listriknya
nyala terus. Internetnya bisa beli, tapi
nyalanya listrik tidak dan seterusnya.
Kemudian birokrasi yang bersih dan
akuntabel dan melayani. Yang terakhir
percepatan peningkatan kualitas
pelayanan publik. Jadi ini memang
inovasi itu harusnya menghasilkan
layanan yang lebih cepat, tepat sasaran,
dan murah.
Jadi saya pikir itu ee yang bisa saya
sampaikan. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kita berikan tepuk tangan Bapak Ibu
Prof. Candra terima kasih banyak.
Walaupun ada beberapa slide yang harus
skip ya, tapi tidak apa-apa karena
memang waktu juga kalau bicara soal
inovasi kayaknya 1 minggu itu harusnya
ya, Prof. ya. Nah, hari ini sudah ada
beberapa penanya. Kita akan ke penanya
yang di Sasanawiata Praja dulu. Silakan
Bapak Ibu yang ingin bertanya ke Prof.
Candra,
silakan. Mungkin Bapak Ibu para widya
iswara silakan.
Ini hari ini juga ada pelantikan Widya
Iswara, Pak. Baru saja oleh Pak Kaban.
Silakan, Bapak. Silakan.
Boleh dipakai mic meja jika memang ada
mic mejanya.
I.
Baik, silakan. Dengan Bapak siapa, Pak?
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Saya nama saya Kostoro
Widya Iswara dari BPSDM.
Ee saya ingin bertanya ini, Pak, tentang
inovasi
di sektor publik, ya. Jadi kalau di
private itu
ada namanya discretionary
expense
di mana inovasi itu di biaya itu ee
kalau diistilahkan dalam aspek hukum
diskresi itu adalah pengabaian terhadap
kebijakan umum. Artinya inovasi itu
tidak bisa serta-merta bisa dilakukan
pertanggung jawaban pada saat itu juga.
Ini yang menjadi persoalan di sektor
publik, Bapak ini karena pernah ada
tulisannya Pak Mardiasmo.
Eh, inovasi itu harus ada diskresi.
Kalau tidak ada diskresi ya barangkali
kurang fleksibel di dalam melakukan
inovasi dan kemudian eh di sana kita
berhadapan dengan korupsi gitu, Pak.
Jadi ini bagaimana tip-tipnya? Bagaimana
apa apabila itu kita sandingkan Pak di
sektor publik. Baik itu Pak terima
kasih.
Baik Pak Kusworo. Izin Pak
Kustoro. Kustoro.
Kustoro. Baik silakan Prof. Memang
kadang-kadang ASN enggak takut
berinovasi karena takut dengan
aturan-aturan.
Iya.
Iya. Ee dalam satu Terima kasih, Pak
Kustor ya. Jadi memang setiap ASN,
setiap pegawai itu punya kalau bahasa
praktisnya tus ya kan gitu. tugas dan
fungsinya dia di sini gitu. Nah,
kemudian biasanya kemudian mereka akan
melakukan apa yang biasa mereka lakukan
rutin. Misalkan dia ee kayak di tempat
saya dulu ya karena ada pegawai yang dia
hanya lulusan SMA tapi dia memahami itu
namanya Facebook kemudian Messos lah ya.
Anak-anak yang mendaftar ke dia itu
harus antri Pak. antri daftar gitu.
Bagian dia hanya mengelola pendaftaran
skripsi.
Tapi kemudian dia kemudian loh ini kok
antrinya panjang. Udahlah daftarnya
melalui Facebook. Zaman itu. Melalui
Facebook aja daftarnya. Jadi akhirnya
mereka enggak perlu antri. Ini yang saya
sebut jadi cepat
dari everywhere mereka bisa daftar
kemudian layanannya jadi cepat. Jadi itu
yang saya sebut inovasi dalam konteks di
mana tusinya dia tetap enggak sampai
keluar, enggak melanggar aturan, tapi
dia melakukan cara-cara baru untuk
memberikan kualitas layanan yang baik.
Dan ini menurut saya harusnya begitu
gitu. Bisa kita bayangkan ya kalau
antrian itu sampai 10 20 anak mahasiswa
akhirnya pegawainya harus dua tiga orang
dengan cara itu yang dua orang enggak
perlu kerja.
Walaupun itu ada polisi lain terkait
dengan mengurangi jumlah pegawai, tetapi
itu menunjukkan betapa inovasi itu
penting. Yang kedua, saya ambil con
kebetulan saya dulu sekolahnya di
Jerman, saya 92 sampai 98 di Jerman. Itu
kalau di kita imigrasi, saya ini punya
international student di fakultas saya
pada waktu saya jadi dekan. Seringki
anak-anak international student ini
tahu-tahu terlambat visanya, Pak. Izin
tinggalnya hilang atau kurang habis. per
hari didenda Rp1 juta.
Menariknya orang-orang imigrasi itu
enggak ngingetin gitu, Pak. Kan ini
mahasiswa ya biasanya kan anak-anak itu
main ke pantai di Malang Selatan gitu
ya. Eah anak-anak asing kan memang
perlunya begitu ngambil sekolah di
Brawijaya bukan karena apa-apa lebih
banyak karena jalan-jalan ke pantai
karena wisatanya gitu.
Nah kemudian imigrasinya itu seperti
kayak nunggu kayak kalau kita ini polisi
yang singitan itu loh, Pak.
sudah ada ini baru dia datang ke kampus
ini diproses dendanya sekian dan
seterusnya gitu. Saya bandingkan dulu
pada waktu saya dulu di Jerman sama saya
kan orang asing juga 2 minggu itu sudah
ditelepon Candra siapin ya kamu sudah
mau habis tuh gitu. Nah, sehingga zaman
itu di kota saya di Goting kota
pendidikan itu pegawai Pemkod-nya cuma
90 orang
padahal belum era digital seperti
sekarang. Tapi mereka sudah seperti itu
gitu. Jadi betapa cara-cara mereka
lakukan untuk supaya enggak apa enggak
antrian panjang gitu. Jadi ini memang
harusnya kita melakukan seperti itu.
Jadi jangan sampai kita kemudian
melakukan perubahan tapi kemudian
mengganggu tusi yang lain. Nah itu
biasanya kemudian ada konflik.
Nah, kalau sudah ada konflik
macam-macamlah akhirnya ada korupsi dan
seterusnya.
Kenapa ada korupsi? Dari beberapa riset
itu misalkan antrian panjang biasanya
yang dilayan itu kepengin cepat. Iya,
kayak Dela EJR ya untuk uji kendaraan
itu kan tempel-tempelnya banyak tuh.
Karena semua pengin cepat, karena pengin
cepat nambahin gitu. Nah, di Jerman itu
sudah beda, Pak. Itu licens yang
dibagikan jadi nak monopoli. Jadi
diberikan lisensi yang bisa dimanfaatkan
sehingga ee apa ini ee kayak reparasi
mobil itu dapat namanya TUV itu, Pak.
TUV itu biasanya untuk bahwa garasi atau
reparasi mobil ini bisa melakukan uji
kendaraan bermotor ya sehingga
antriannya hilang. Antrian itulah yang
menyebabkan kita nambahin biaya.
Nah, ini yang kemudian dilakukan. Nah,
sehingga solusinya adalah Windows-nya
diperbanyak.
Windows-nya diperbanyak atau melalui
medsos atau digital tadi gitu. Nah,
problem ketiga tantangannya kalau kita
masuk digitalisasi itu security-nya
itu lemah kita. Jadi kita ini saya ini
kan saya ini staf khususnya Menteri
Keuangan. Saya ini komisarisnya bank.
Kemarin saya itu pulang dari masjid
enggak tahu saya mikirnya kenapa gitu
ya. Habis itu di BRI Pak saya ngisi
beberapa informasi yang diperlukan
pulang masjid. itu. Habis itu saya
sadar, "Oh, iya ya, kok ada ini ya,
ternyata benar uang saya hilang 5 menit
itu Rp20 juta."
Jadi digitalisasi itu tantangannya
adalah security, keamanan dan itu memang
kadang-kadang karena kurangnya
pengetahuan,
karenanya pemahaman yang masih kurang.
Jadi di Indonesia itu namanya literasi
keuangan sudah cukup bagus, tetapi
problem ee pendidikan keuangannya masih
kurang, keamanan dan seterusnya. Saya
pikir itu. Terima kasih.
Baik. Baik. Terima kasih Prof. Candra.
Baru saja hadir Bapak Ignasi Yusionan
bersama-sama dengan kita. Selamat datang
Pak Ignasi Yusionan. Baik, kita
lanjutkan dulu untuk penanya di Zoom ya.
Silakan. Ini sudah ada Bapak Sugeng
Karyono, Kelurahan Winongo, Kota Madiun.
Pak Sugeng silakan. Boleh dibuka
mic-nya, Pak.
Pak Sugeng selamat pagi.
Madiun apa kabar,
Pak Sugeng? Nah, ini dia beliaunya, Pak.
Kok nge-vreze?
Nah, gitu. Pak Sugeng selamat pagi ya.
Sejumnya luar biasa nih, Pak Sugeng.
Silakan, Pak. Langsung saja dibuka
mic-nya, kemudian langsung bertanya
kepada Prof. Candra.
Iya, dibuka dulu dong mic-nya. Di-unmute
dulu, Pak Sugeng.
Iya, Pak Sugeng.
I dengar Ibu ya.
Iya, silakan, Pak.
Terima kasih kepada Profesor Candra.
Eh, tertarik dengan materi Prof. tadi
saksikan bahwa apa beliau telah memimpin
beberapa pengalaman yaitu dengan ee
mengkaji dengan pembina Rasulullah bahwa
kalau bisa seorang pemimpin itu adalah
mengalah gitu loh. Nah, kemudian yang
perlu kami pencahkan
analisis manajemennya bagaimana Bu bisa
kita terapkan jika kita sebagai pimpin
bisa mengetahui bahwa kita atau anak tua
kita tuh betul-betul ee inten dengan apa
yang kita supportkan pada mereka
sehingga bisa mendukung daripada kinerja
dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Itu aja, Prof. Terima kasih. Mohon maaf.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik, terima kasih, Pak Sugang. Silakan
boleh langsung ditanggapi, Prof.
Iya, terima kasih, Pak Sugeng. Jadi
memang jadi pemimpin itu konsekuensinya
ya harus mimpin, harus ke depan,
harus berk,
harus memberikan contoh.
Jadi kalau memang pemimpin tidak bisa
memberikan contoh ya gimana di depan
tapi yang ngasih contoh belakangnya
kacau balau juga gitu. Oleh karena itu
ee persyaratan-persyaratan menjadi
pemimpin yang tadi sempat sedikit saya
singgung bahwa memang intinya kita perlu
membawa ee perubahan di dalam
model-model kepimpinan yang kita lakukan
dengan cara memberikan contoh termasuk
juga yang tadi malam saya ceritakan ya
ee bagaimana ee Bu Menteri itu
memberikan rasa percaya diri ya kepada
dirjen-dirjen yang kadang-kadang yang
takut ee menghadapi macam-macam tekanan
seperti sekarang ini. Jadi, ini memang
ee menjadi seorang pemimpin berarti siap
berkorban. Kemudian yang kedua
memberikan contoh contoh-contoh praktis
mestinya yang harus diberikan yang untuk
memberikan kenyamanan bahwa perubahan
yang kita lakukan itu akan membawa
dampak yang baik bagi organisasi secara
keseluruhan. Tanpa contoh itu orang kita
orang Indonesia itu mungkin enggak mau
melakukan
apa yang dilakukan Pak Jonan di PTK KAI
di awal itu kan ternyata sampai sekarang
ee bisa ditiru gitu ya oleh mungkin anak
didiknya Pak Yan ituu kata kunci seorang
pemimpin itu harus nyiapkan
penggantinya. Jadi kadang-kadang
pemimpinnya berganti ya, pemimpinnya
berganti
perubahan sudah enggak terjadi lagi
gitu.
I seringkiali begitu.
Sering kali begitu. Jadi memang pemimpin
itu selalu ada, makanya
selalu ada orang di lingkaran pemimpin
itu yang akan menjadi calon-calon
penerusnya.
I
nah ini penting sekali. Kadang-kadang
kita tidak bisa ee seperti itu. Ilmunya
di PDW gitu ya. [tertawa]
dia enggak tahu apa ee ada rahasia ini
anak buahnya enggak ngerti gitu.
Sehingga sepertinya kadang-kadang
seseorang pimpinan terutama di public
organization ya itu di-support si fulan,
si fulan ini A sampai Z tahu semua
tapi padahal pegawainya juga banyak gak
direken semua gitu. Nah, ini juga
menjadi catatan bagaimana seorang
pemimpin itu mampu mengedukasi
bawahannya, menyiapkan penggantinya.
dan memberikan ruang yang sama bagi
semuanya untuk tumbuh dan berkembang.
Baik, kemudian ini ada penanya terakhir
kita di Zoom adalah Bapak Muhammad
Thaha. Pak Toha selamat pagi
ya. Pak Toha.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Terima kasih, Mbak. Ee asalamualaikum,
Prof Chandra.
Asalamualaikum. Iya, langsung saja, Pak
To eh ini dari paparan Prof. Candra tadi
ada satu hal yang menarik. Saya eh apa
tertarik tadi dengan Prof. Candra bilang
bahwa di dunia birokrasi terutama ASN
itu ada dilema. Dilema pertama ASN ya
sebagai ee apa namanya? Elemen terdepan
pelayanan birokrasi itu menjadi faktor
kunci. Tetapi di satu sisi lain, ASN
juga ya ternyata jadi penghambat bagi
pelayanan birokrasi sendiri. Karena
pertama tadi Prof bilang karena
jumlahnya yang terlalu gemuk. Terus yang
kedua kita tahu juga apa kompetensi ASN
juga ya masih sangat terbatas. Tapi ee
pernah beberapa kali ada ini untuk P Jun
ini dan segala macam tapi sampai hari
ini eks kebijakan itu tidak pernah
dijalankan. Pertanyaan saya sederhana
Prof. kira-kira menurut Prof. langkah
apa? Langkah apa yang harus ee langkah
inovasi atau langkah apa yang harus
diambil oleh pemerintah ee menghadapi
ini? Apakah membiarkan saja hal ini apa
berlalu sampai nanti waktunya-nya
berkurang dengan sendirinya karena apa
zero growth tadi atau apa berupaya untuk
mengembangkan kompetensinya walaupun ini
masih sangat berat karena nanti akan ber
apa berimplikasi kepada anggaran atau
harus pemerintah harus melakukan cut off
terhadap jumlah pegawai terutama ya
pegawai-pegawai yang dianggap tidak
berkompeten ya sudah diselesaikan.
Kemudian yang kedua, kira-kira menurut
Prof resiko apa ee kalau kita ee apa
tadi Prof bilang tentang manajemen
risiko, risiko apa yang kira-kira di
akan dihadapi pemerintah ketika
langkah-langkah itu ee diambil? Mungkin
itu saja, Prof. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ya, silakan bisa langsung ditanggapi,
Prof.
Oke, terima kasih, Mas Toha. Eh, Mas
Toha dari mana nih?
Oh, iya, Mas. Pak Toha dari mana, Pak?
Pak Toha instansinya boleh
dari Kementerian Desa Prof.
Kementerian Desa Baik ya.
Oke, terima kasih. Jadi sebenarnya kalau
kita perhatikan kemarin ada statement
dari Menpan
dana kemiskinan 500 triliun ee banyak
habis untuk apa nih rapat
studi banding gitu-gitu kan. Jadi
kemudian saya cek di anggarannya. Jadi
itu memang anggaran perlinsos itu
anggaran perlinsos itu 516 triliun kalau
enggak salah angkanya angka tepatnya ya.
Dan untuk kemiskinan itu memang ada
kebiasaan di birokrasi itu biasanya
terus ada tim bentuk tim
ini dananya dari situ juga. Nah misalkan
100 miliar lah itu tim itu bisa rapat
bisa 40%
nanti dana untuk orang yang menjadi
targetnya itu paling 60% aja.
Nah, ini yang kemudian harusnya yang
kita rubah ya, kita rubah. Nah,
bagaimana merubahnya? Kami di
Kementerian Keuangan merubahnya ya dari
pola spendingnya, pola belanjanya.
Seperti yang tadi saya sampaikan,
harusnya diatur belanja yang seperti
itu, honor dan macam-macam tidak boleh
melebihi let's say 25% dari total
anggaran yang ada gitu ya. Itu yang
pertama. Yang kedua, belanja pegawai di
APBD itu bahkan ada yang sampai 80%
sehingga APBD-nya itu habis untuk gaji
aja gitu. Yang ini juga jadi masalah
yang tadi. Makanya PR-nya adalah membuat
ukuran yang tepat organisasi pemda itu
berapa. Kalau pegawainya, let's say
penduduknya 210.000,
220.000 seperti kota Batu, pegawainya
R7.000 R tapi penduduknya hampir 1 juta,
pegawainya juga 7.000 gitu. Sebenarnya
gimana nih ukurannya gitu. Jadi
kadang-kadang teman-teman pemda tuh
diatur ya bahwa kewenangannya ini OPD
yang harus ada ini sehingga itu
ngepas-ngepaskan gitu mestinya ya. OPD
yang ada itu sesuai dengan kebutuhan
daerah aja atau mungkin beberapa
dirangkap aja gitu. Masa misalkan kayak
kehutanan, akhirnya Kota Malang ada itu
dinas kehutanan. Wong kota kok ada
kehutanan, akhirnya memaksakan diri ada
hutan kota gitu.
Jadi ini memang ngapain juga ada hutan
kota? [tertawa]
Jadi ini memang apa ya ee kalau saya
dalam tulisan-tulisan saya, saya nyebut
sebagai obsession of fear,
ketakutan-ketakutan.
Karena kita sudah orde baru 30 tahun.
itu kalau berbuat gini salah, nanti di
ini akhirnya jadi takut gitu ya. Jadi
memang pemerintah itu mau mengatur itu
semua tapi ada yang kritis terhadap
pemerintah. Wah ini desentralisasi
fiskal hilang dong jadi sentralisasi
gitu semua diatur Jakarta gitu. Jadi ini
memang Indonesia ini sebagai informasi
ya, ada yang sudah sangat bagus, Mandiri
bisa buktinya Banyuwangi
tapi di luar Jawa masih banyak daerah
yang harus kita atur semua belanjanya.
Maka tadi seperti data di tadi kan,
rasio antara jumlah pegawai dengan
jumlah penduduk itu ada yang tinggi
sekali. Ini juga PR kita. Nah, apa
resikonya kalau kita enggak melakukan
perubahan? Kalau kita tidak selesaikan
ini masalah ini, pertama risiko fiskal
pasti ada. Maka yang tulisan tentang ee
kualitas belanja yang lebih baik atau
tulisan saya terakhir minggu lalu di
Sindo saya nulis spending better gitu
ya. Intinya adalah belanja yang buruk
karena perencananya buruk. Berarti
perencanaan yang buruk itu dibuat oleh
siapa? Teman-teman birokrasi juga, SDM
juga gitu. Makanya risiko itu kita akan
hadapi. Yang kedua, kalau ini tidak kita
selesaikan, maka target-target
pembangunan yang dicanangkan kepala
daerah pasti tidak tercapai. Pasti tidak
tercapai. Dan ini kalau tidak cepat kita
lakukan, ya berarti kita menunda
permasalahan. Jadi seperti orang jatuh
cinta lah ya. Kalau ada masalah enggak
diselesaikan ya ada masalah dari kasih
sayang mau diberikan. Jadi ini memang
harus PR kita semua. kita di tahun 2024
ini target kita memang belanja pegawai
ini harus kita drop ini. Tapi Bu Menteri
tadi malam bilang ini akan menjadi sulit
pada saat kepala daerah ini juga orang
politik ya karena mereka punya
agenda-agenda lain. Jadi ini memang
tantangan berat bagi bangsa kita ya.
APBN-nya dari sekitar 500 triliun tahun
sekarang APBN kita sudah hampir 3.000.
ya. Tapi pola belanja kita tetap nih,
orangnya tetap, sistem birokrasi kita
tetap makanya silpanya terus naik.
Nah, ini kan PR kita semua terutama yang
di ASN gitu. Nah, ini salah satunya yang
kita bicarakan hari ini bagaimana
kualitas perencanaan yang baik itu bisa
kemudian mendorong kualitas belanja APBD
atau APBN kita menjadi lebih baik. Saya
pikir itu. Terima kasih.
Baik, kita berikan tepuk tangan Bapak,
Ibu. sesi Q& yang sudah dijawab oleh
Prof. Candra beserta dengan ilmu-ilmunya
hari ini. Prof. Candra, terima kasih
banyak atas waktunya hari ini. Kami
silakan boleh kembali ke tempat duduk.
Dan Bapak, Ibu, Sobat ASN, tentu saja
seperti yang disampaikan oleh Prof.
Candra bahwa inovasi itu harus cepat,
mudah digunakan dan murah. Ada contohnya
yaitu inovasi yang ada di Kabupaten
Sampang, inovasi Pak Kawal. Sebelum ke
narasumber yang berikutnya, mari kita
saksikan dulu inovasi Pak Kawal.
Saya ini [musik] kan seorang nelayan.
Berkangkat subuh sore baru pulang. Jadi
tidak ada waktu.
[musik]
Sobat ASN kita masih di ASN belajar seri
ketiga. Boleh diberikan tepuk tangan
Bapak Ibu untuk seri ketiga ini. Masih
semangat dong? Masih. Coba kita cek dulu
suara Bapak Ibu yang ada di Sasanawiat
Praja. Di Zoom juga boleh. Tapi enggak
usah open mic ya. Boleh langsung saja
disebutkan ASN belajar.
Semangat belajar sukses bersama. Sekali
lagi dong ASN belajar
semangat belajar sukses bersama.
Tepuk tangan sekali lagi.
Kalau tadi sudah ada Prof. Candra.
Bapak, Ibu, dan juga Sobat ASN
menuturkan bagaimana sih
langkah-langkah, cara-cara seperti apa
yang bisa kita lakukan, kemudian
tantangannya seperti apa. Nah,
narasumber kita yang berikutnya sudah
melakukannya, Sobat ASN. Dulu saya
berpikir, ah kayaknya enggak mungkin nih
saya termasuk menjadi salah satu orang
yang ee pesimis waktu itu, ya. Tapi
dengan terobosan-terobosan apa yang
telah dilakukan oleh beliau kemudian
berubah.
Jadi optimis kita semua. Ternyata bangsa
ini bisa berubah. He is the history
maker. Beliau meyakini impossible is
nothing. Karena ternyata enggak ada
dalam kamus beliau impossible itu ya.
Beliau telah menempuh pendidikan sebagai
sarjana ekonomi akuntansi di Universitas
Airlangga tahun 6. Kemudian Master of
Arts International Relation and Affair
Flirer School of Law and Diplomacy di
tahun 2005. dan beliau dianugerahi Dr.
Honoris Kausah [musik] oleh Universitas
Airlangga di tahun 2021.
Beliau pernah menjabat sebagai CEO
[musik] PT Kereta Api Indonesia tahun
2009 sampai 2014, Menteri Kabinet Kerja
Republik Indonesia tahun 2014 sampai
2019. Di tahun 2020 sampai [musik]
sekarang beliau menjabat sebagai
komisaris independen PT Union Level
Indonesia Tbik. Kemudian di tahun 2021
sampai dengan sekarang beliau menjabat
sebagai chairman and independent
commissioner PT Anabetic Technologies
Tbk. [musik]
Dan di Center Indonesia beliau sebagai
senior advisor di tahun 2021 sampai
sekarang. Dan saat ini beliau juga
menjabat sebagai the chairman Mars
McLenon Indonesia. Penganugerahan yang
pernah diraih atau didapatkan oleh
beliau banyak sekali. [musik]
Di antaranya
tahun 2017 beliau dianugerahi Lifetime
Achievement Award oleh Management
Institute Economics and Business School
of University of Indonesia.
2019, Lifetime Achievement Award
Institute of Indonesia Chatter
Accountance. Kemudian di tahun 2021
[musik] oleh Badan Pengatur Hil Republik
Indonesia, beliau juga dianugerahi
Lifetime Achievement Award 2016 oleh
pemerintah Perancis. Beliau dianugerahi
Leung Doner. Kemudian 2020 oleh
pemerintah Republik Indonesia beliau
diberikan bintang mahaputra utama dan
yang paling baru 2020 oleh pemerintah
Jepang. Beliau diberikan predikat
sebagai The Order of the Rising Sun Gold
and Silver Star. Ladies and gentlemen,
Bapak, Ibu, Sobat ASN, kita berikan
tepuk tangan yang luar biasa. Inilah
Bapak Dr. Onaris Kausa Ignatius Jonan,
Dres. AK, MA, CPA, CA.
[musik]
Makasih.
Saya turun ke bawah ya. Mohon izin.
Ee Bapak Ibu sekalian.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
[musik]
karena zaman juga sudah berubah.
ee stakeholder Bapak Ibu sekalian ya,
masyarakat itu juga sebagian besar
sekarang arloginya juga sudah bukan
arlogi metal. Jadi arloginya itu arlogi
plastik ya Bu ya. Jadi ini mestinya kita
harus mau melakukan banyak perubahan
atau ee mengikuti perkembangan zaman
gitu.
Nah, kalau
saya boleh sharing di sini
di dalam pemikiran saya kalau mau
melakukan inovasi atau pelayanan yang
lebih baik kepada masyarakat ini tidak
boleh bahwa apa yang dilakukan itu hanya
pilot project ya. Jadi ya senangnya
rapat gitu yang nanti difoto buat
kampanye dan sebagainya terus akhirnya
lama-lama enggak jalan gitu ya.
Contohnya apa? Banyak contohnya.
Misalnya
itu mesin, mesin pembaca mesin pembaca
paspor otomatis yang di bandara sutta
itu sudah enggak jalan, paling kurang
enggak dipakai ya. Nah, ini sebenarnya
yang kayak begini ini maunya apa gitu
ya. Maunya ini cuma buat pameran atau
tidak atau mau sungguh-sungguh supaya
bisa berjalan panjang dan sebagainya.
Kira-kira begitu.
Eh, saya coba satu-satu ya. Eh, next.
Operatornya siapa ini? Oke, ininya agak
ketutupan ya situ ya, enggak tahu
kenapa. Oke, saya cerita soal
prinsip-prinsip dulu ya, berikutnya.
Oke, ininya gerak. Yang sini enggak
gerak.
Oke, thank you. Eh, ini ini prinsip
pertama untuk building value creation.
Yang pertama itu saya kutip dari Charles
Darwin. Charles Darwin mengatakan, "It
is not the strongest of the species that
survive nor the most intelligent but the
one most responsive to change." Ya, jadi
ini bukan quote saya, tapi ini quote-nya
Charles Darwin yang mengatakan bahwa ee
yang paling bisa survive itu yang paling
responsif kepada perubahan. Jadi bukan
yang paling kuat dan sebagainya. Kalau
kita lihat ee peradaban panjang ya 5.000
tahun yang lalu sampai 10.000 tahun yang
lalu ada peradaban Mesir, Mesir Kuno,
peradaban Tiongkok ya. Lalu ada
ya
Iskandar Agung ya, terus Mesopotamia
lalu sampai ke e Romawi dan sebagainya
akhirnya habis ya. Karena satu yang
menurut saya memang juga paling penting
kalau tidak responsif terhadap perubahan
biasanya berat untuk bertahan terus. Ya
memang orang bilang, "Pak, tapi selama
ada negara pasti ada pemerintahan." Itu
betul ya. Selama ada negara itu betul
ada pemerintahan. Cuma kalau setiap
selama ada negara ada pemerintahan,
bentuknya pemerintahan pasti
berubah-berubah ya. Tidak ada yang bisa
menurut saya itu mengalahkan zaman itu.
Enggak ada ya. Tidak ada. Sudah dicoba
berkali-kali ya. Mulai Napoleon, mulai
Adolf Hitler, mulai ee yang lain-lain ya
mulai mau cetung juga waktu mulai
mendeklarasikan kemerdekaan di Tiongkok
juga tetap enggak bisa. Akhirnya harus
berubah. Kalau enggak mau berubah,
habis. Contoh lagi, kalau Bapak Ibu
masih ingat ee
ini yang umurnya dibawah 40 kan jarang
ya kalau lihat
penampakannya ini ya kan. Iya.
Jaranglah, jarang. Saya enggak, saya
enggak tanya sih, Bu. Cuma cuma cerita
ini kalau kita lihat ya, 20 tahun yang
lalu, 30 25 sampai 30 tahun yang lalu
itu
kalau kita lihat perusahaan-perusahaan
besar di dunia ya, 10 perusahaan
terbesar di dunia atau 20 itu separuhnya
Jepang. Sekarang ada enggak? Enggak ada.
Enggak ada sama sekali. 20 tahun yang
lalu, 10 lah 10 15 tahun yang lalu 10%
terbesar di dunia 4 atau 5 dari
Tiongkok. Sekarang juga enggak ada loh
ya tidak ada sama sekali. Makanya saya
bilang ini dunia ini berubahnya makin
lama makin cepat. Nah, kita sendiri itu
menurut saya ya ini bagus sih ada
diskusi ya mengenai ini apa ee inovasi
pelayanan masyarakat dan sebagain ya
bagus sih cuma mudah-mudahan setelah
sharing ini ya kalau yang diundang
ngomong ini kan gampang ya Pak I kan
ngomong ini kan modalnya cuma air satu
gelas iya ya
saya malah asbak
iya tadi dikasih kopi belum minum sudah
dipanggil ke sini. Nah,
nah ini makanya saya bilang jangan
sampai berhenti diskusi ini aja loh ya.
Jangan sampai berhenti di diskusi ini
aja. Jadi saya mohon maaf ee saya tidak
pakai batik segala macam supaya
kelihatannya saya juga up to date gitu
ya.
Ya walaupun
saya yakin kalau yang masih
belum masih bukan Widya Iswara utama
saya pikir saya pasti lebih tua sih ya
kan pasti maksimum 60 iya gitu ya. Nah,
next.
Oke. Ini prinsip kedua apa yang
dikatakan oleh Napoleon Bonapark.
Beliau kalau Napoleon tahu ya, semua
tahu Napoleon. Beliau mengatakan, "If
you build an army of 100 lions and their
leader is a dog, in any fight the lion
will die like a dog. But if you build an
army of 100 dogs and their leader is a
lion, all dogs will fight like a lion."
Saya kira kalau yang suka baca sejarah
atau belajar ilmu militer, saya belajar
ilmu militer itu sampai sekarang ee
ilmu-ilmu dasar ee artilleriy
akademi militer kita sampai sekarang
juga menggunakan apa yang ditulis oleh
Napoleon 250 tahun yang lalu. Ini ini
orang hebat ini ya. Ini kalau ibu
sekolah fakultas hukum kan ya kan ada
kan
BW itu ya BW itu kan Napoleon Code.
Iya itu yang bikin kan beliau. Nah ini
ya negarawan apa panglima perang dan
sebagainya. Beliau mengatakan ini
analogi yang menurut saya hebat sekali
ya. Beliau mengatakan bahwa kalau ee
kita memimpin 100 ekor singa, tapi
pemimpinnya itu seekor anjing, ya nanti
kalau dalam pertempuran kebanyakan
singa-singa itu akan mati seperti seekor
anjing. Dan sebaliknya
analogi ini apa pengertiannya? Kenapa
saya tampilkan analogi ini? Prinsip ini.
Prinsip kedua untuk membuat value
creation itu kalau kita itu membuat
perubahan ya atau membuat value creation
yang bagus dan shisticated dan
sebagainya itu tidak boleh dimulai
dengan mengeluh. Kalau mengeluh anak
buah kita kurang, Pak, ini literasinya
tidak ada. Soal teknologi dan sebagainya
ya pasti enggak jalan
ya. Pasti enggak jalan. tidak ada pernah
menurut saya dalam pengalaman saya
berkarya
tahun tidak ada yang pernah organisasi
itu yang sempurna enggak ada ya pasti
kalau dicari kurang pasti kurang ee
karena saya panjang di Citybank eh
Citybank itu waktu itu lebih dari
500.000 officer di seluruh dunia 110
negara, 101 nationality juga kalau
diskusi ya banyak kurangnya ya. Nah,
kalau ini dibahas terus kekurangannya
enggak akan jalan akhirnya itu adanya
apa adanya itu keluh kesah ya. Nah,
saran saya manfaatkan
sumber daya yang ada ini tapi didorong
dengan baik ya. ya didorong dengan
mestinya bisa kan saya kira Bapak Ibu
sebagian besar di sini pernah naik
kereta api ya
di Indonesia loh ya ya mayoritas pernah
naik kereta api. Coba bayangkan kereta
api
ee di masa lalu kan berantakannya
begitu. Nah, ini tadi mantan Bapak
Kepala BPSDM juga cerita ke saya ee
masih ingat gitu. Jadi gini, waktu saya
mulai ditugaskan di kereta api Februari
ee saya keliling 3 bulan
sampai ke stasiun-stun kecil gitu ya,
misalnya ke stasiun ee Blitar gitu ya.
Satu hari saya setelah lepas subuh saya
ke stasiun Blitar. Saya tanya dengan
juru langsir di sana. Curu langsir itu
ee karena kebanyakan dulu juga ASN ya di
kereta api itu
ee biasanya biasanya sekarang sudah
enggak ada ee yang begitu sedikit
sekali. Waktu itu mungkin masuknya dari
pendidikannya SD ya. Jadi mungkin kalau
20 tahun itu golongannya mungkin 1D
masih kalau enggak 2A. Saya tanya, saya
jelaskan kita mau berubah begini
macam-macam setengah jam. Saya tanya,
"Ada pertanyaan enggak?" Beliau
jawabannya cuma sederhana waktu itu.
"Niku damel nopo, Pak?" "Waduh, saya
jadi stres ini." Ya, saya baru tanya
ya. Lalu saya tanya, "Anda sekolahnya
apa dulu terakhir?" SD usianya berapa?
48 waktu itu sudah dikeret api berapa
lama? 27 tahun loh. Saya bilang kalau
ini usianya 48 disuruh ikut paket
belajar pasti enggak mau ya. Pasti
enggak mau ya. Lulus SD itu mau ikut
paket belajar itu pasti usianya sekitar
30-an. Itu mungkin masih mau. Tapi kalau
sudah 48 enggak mau ya. Sama sekali
tidak mau. Kayak sayalah. Saya kalau
disuruh sekolah lagi juga enggak mau
ya. Jadi pasti enggak mau. Nah, ini yang
akhirnya saya keliling gitu ya,
macam-macam. Saya tanya direktur ee SDM
saya waktu itu.
Komposisi pegawai kereta api itu
dijelaskan ya per korsa, per tempat, per
unit, per apa segala macam rankingnya.
Terus per pendidikan. Ternyata
waktu itu 70% dari orang yang saya
pimpin di kereta api itu sekolahnya
hanya SD dan SMP.
yang lulusannya S ini pegawai tetap ya
itu 24.700 waktu itu. 10.600
itu peg lulusannya itu SD
6.900 sekolahnya itu cuma SLTP jadi ada
ST ya zaman dulu ada ST kan ya. Nah dan
sebagainya.
Satu hari saya menghadap ee
Menteri BMN waktu itu, Pak Sofyan Jalil.
Saya katakan ini saya nyerah ya, saya
nyerah ini. Beliau mengatakan, "Anda
biasanya enggak ee tidak mudah
menyerah." Saya bilang, "Saya tunjukkan
ini mau dirubah bagaimana. 70% itu
sekolahnya SD dan SMP." Nah, saya tanya
lagi itu waktu itu direktur SDM saya
yang sarjana berapa dari 24.700
waktu itu beliau mengatakan kalau
hitungan dihitung mulai D3 sampai S3.
Ada yang S3 Pak ya. kerjaannya itu
ngelamun lah kalau S3 itu. Iya kan ya?
Ya. Ya. Kebanyakan belajar
itu. Oh betul Bu. Nanti saya cerita
berikutnya.
Nah
kalau dari D3 sampai S3 itu ada 200
dari 24.700.
Tapi dia bilang kalau dihitung dari S1
sampai S3 hanya 86 orang termasuk saya.
Stasiun kereta api itu waktu itu 750
stasiun. Instalasi tetapnya itu 1351.
Terus ngurusnya bagaimana? Saya bilang
ke menteri, saya bilang, "Saya nyerah
aja deh." Nah, waktu itu untung beliau
bilang, "Coba aja, Pak, setahun kalau
gagal saya yang tanggung jawab." Oke.
Nah, akhirnya saya baca lagi ee apa?
Paper saya, defence paper saya waktu
saya sekolah di Amerika itu tentang
leadership. Karena ini sekolahnya
sekolah politik, sekolah pertahanan. Ini
tentang Napoleon ya. Tentang ini yang
dikut oleh Napoleon ini. Bahwa
sebenarnya ya tergantung kita
pemimpinnya gitu. Kalau pemimpinnya itu
betul-betul seekor singa atau
sungguh-sungguh gitu ya, anak buahnya
itu mau enggak sekolah juga mestinya
bisa. ya. Nah, buktinya bisa kan
kan digitalisasi, perubahan dan
sebagainya. Saya sudah tawarkan ke
Bapak-bapak di depan ini kalau mau
diskusi tentang digitalisasi boleh tapi
separate issue ya karena waktunya enggak
cukup.
Tentang digitalisasi itu begini.
Operator mainframe-nya kereta AB seluruh
Jawa Sumatera itu hampir semua itu
sekolahnya hanya STM mesin. Karena saya
enggak punya orang.
Ya, buktinya bisa lah. Bisanya
bagaimana? Gini, ee Pak Menteri Agama
yang sekarang waktu dulu masih belum
Menteri Agama itu Ketua Umum Banser ya?
Ya.
Ya. Ansor ya? ya, Banser lah ya.
Pernah ketemu saya, beliau jelaskan ini
saya ee di Ansor itu bikin anu warum
untuk monitor medsos dan sebagainya. Itu
juga banyak anu mendidik untuk
penangkalan hacker. Saya bilang begini
aja gampang. Bisa enggak hacking sistem
tiketing kereta api Indonesia? Kalau
bisa yuk ambil rumah saya deh. Saya
kasih waktu seminggu. Enggak bisa.
Enggak bisa.
itu enggak pakai sekolah loh sampai
rambutnya habis loh. Ini beneran ya.
Nah, makanya saya selalu bilang kalau
kita mau bikin inovasi, mau bikin value
creation pemimpinnya tidak boleh mulai
mengeluh anak buah saya kurang literasi.
harus dididik yang betul ya karena tidak
ada organisasi yang sempurna loh.
Ini bukan saya anu ya kritik orang
sekolahnya tinggi bukan ya. Tapi
mudah-mudahan kalau sekolahnya tinggi
itu sumbangs-nya juga lebih besar. Nah
itu. Next.
Ini prinsip yang ketiga yang ditulis
oleh ee Margaret Ch. Smith nanti dilihat
aja marker J Smith itu siapa kan bisa
dilihat di medsos. Public service must
be more than doing a job efficiently and
honestly.
It must be a complete dedication to the
people and to the nation. Ya, ini juga
prinsip yang luar biasa mestinya. Nah,
ini bisa enggak gitu ya. Kadang-kadang
kita sendiri kalau misalnya diukur gitu
ya, ditanya di hati masing-masing itu
sampai doing a job efficiently dan
honestly aja belum tentu menurut saya
loh ya. Kenapa? Yang tadi Bapak juga
bilang yang
anggaran untuk pengentasan kemiskinan
katanya Menteri PAN RB katanya Pak 500
heeh rapat gini dan sebagainya gitu ya.
Ya, saya enggak tahu angkanya betul apa
enggak. Nah,
kalau enggak bisa ini pasti enggak beda.
Enggak bisa building value Christian
sama sekali. Menurut saya kalau kita
ngomong revolusi mental dan sebagainya
ke pelayanan masyarakat yang jalan yang
mana? Ayo cerita ke saya.
Ee waktu saya tugas di kabinet
saya selalu bilang tidak boleh ada rapat
di hotel sama sekali. Wong gedungnya
besar-besar kok.
Ya lah kalau Jakarta kadang-kadang
rapatnya gini supaya dapat dapat SPJ
ya SPPD itu rapatnya itu di Bekasi ya
kan luar kota I kanya
gitu buat saya enggak ada pokoknya. Nah,
juga begini. Waktu itu kalau bikin
peraturan peraturan menteri
ya, saya di dua kementerian ya. Waduh,
kalau rapat itu diskusi awal pembukaan
ya di Jakarta nanti enggak selesai
pindah Batam ya, enggak selesai lagi
pindah Manado ya dan sebag buat saya
enggak ada ya kalau diskusi sekali
4 jam harus selesai.
Harus selesai. Nah, perkara drafting
legalnya agak panjang. Oke, ya. Tapi
prinsip-prinsipnya itu duduk 4 jam harus
selesai loh. Kalau enggak berarti dia
juga enggak ngerti menurut saya.
Coba saya tanya,
Bapak punya anak kan tadi cerita? Iya.
Bikin anak masa sampai 4 jam. Nah,
itu padahal sekali jadi tanggung
jawabnya seumur hidup. Betul kan?
Next.
Prinsip berikutnya itu yang dikatakan
Thomas Alpha Edison, there is no
substitute for hardware. Enggak ada yang
bisa menggantikan kerja keras. Saya
sangat menganjurkan semua aparatur kita
itu percaya ini bahwa tidak ada yang
bisa menggantikan kerja keras.
Ya, ini menurut saya penting sekali.
Banyak. Nah,
ini bukan mengkritik, saya komen aja sih
ya. Ya, standar
birokrasi kita itu juga harus mestinya
dirubah ya. Tidak bisa kita itu apa
kenaikan pangkat. Loh, mosok orang itu
naik pangkat dasarnya itu pendidikan
loh. Orang sekolah itu karena enggak
bisa belajar sendiri.
Coba kalau bisa belajar sendiri masa
perlu sekolah. Betul enggak, Prof? Betul
kan? Ya, ya pasti benarlah
ya. Jadi
menurut saya ya kalau mau itu kalau mau
building inovasi itu yang baik ya itu
struktur aparatur ini juga mesti
disesuaikan bahwa yang bisa dipromosi
itu yang ber apa memberikan dampak besar
kepada pelayanan masyarakat ya. Perkara
ya sekolah gak sekolah ya. Jangan buta
huruf sih ya. Ya perkara sekolah enggak
sekolah ya sudah terserah aja ya.
Ee kalau mau cerita ya kalau Bapak Ibu
yang pernah tinggal Jakarta ya waktu
kami menai kereta listrik Jabotabek
mulai 2011 itu.
Wah pembenahannya kan minta ampun.
Jadi ada pegawai kereta api namanya
Subakir.
Ee waktu saya mulai ditugaskan itu
beliau sudah kira-kira mungkin
golongannya sudah 3A kali kalau enggak
3B. Masuknya dari SLTA ya, masuknya dari
STM atau dari mana enggak tahu saya atau
SMK atau apa gitu ya. itu waktu itu
kepala stasiun e Surabaya Pasar Turi.
Saya ajak ngobrol saya, "Wah, saya pikir
orang ini oke juga ini. Sudah dicoba aja
dipindah-pindah ya. Dicoba
dipindah-pindah." Saya tanya, "Mas, mau
sekolah lagi enggak?" "Enggak lah."
Malah dia itu yang ngajarin saya loh,
"Pak, orang sekolah itu karena enggak
bisa belajar sendiri." Oh, ya. Mungkin
masuk akal juga ya. Oke.
Saya saya ini saya pindah-pindah ya.
Dipindah itu
ee dicoba pekerjaannya begitu ya. Ya,
ada tes si ya tes untuk jadi apa
ee kasupsi gitu ya untuk operasi di
mana? di Jember terus pindah lagi ya
dipromosi, promosi sampai satu hari ee
kami di kereta api itu membutuhkan
direktur operasi untuk
kereta listrik Jabotabek. Kereta listrik
Jabot Tabek itu besar loh. Penumpangnya
itu sehari R1 juta lebih loh.
Ya.
Oke. Dites. Saya bilang, "Kamu ikut tes
saja." Waduh, Pak. Saya ini sekolahnya
cuma SLTA, Pak. yang ikut ini kan banyak
seniornya dia yang sekolahnya sarjana.
Sudah tes saja kita lihat. Dites
independen
di UI nomor satu tesnya.
Saya panggil, saya bilang, "Ini mau
enggak jadi direktur operasi?" Saya
bilang, "Enggak enak sama yang enggak
apa-apa." Saya bilang, "coba aja."
Nah, waktu saya dia oke
setelah saya lantik saya suruh pidato.
Coba kamu pidato ya. Ya, pidatonya cuma
itu ya orang sekolah itu karena enggak
bisa belajar sendiri selesai. Sudah.
Dan ternyata berhasil ya ternyata
berhasil ya kan. Kalau kita lihat
anak-anak muda sekarang itu trennya itu
sekolah itu makin muda itu trennya
sekolah itu bukan untuk gelar ya. bukan
gelar. Pasti dia ngejarnya itu
kompetensi yang bagus yang bisa
bermanfaat untuk dia. Nah, ini saya
sangat menganjurkan. Ee struktur ini
juga dirubah ya. Struktur ini juga
dirubah. Namun apa yang dikatakan eh
Thomas Alfa Edison semua tahulah Thomas
Alfa Edison siapa ya. Ini ini orang juga
enggak sekolah loh ya kan sekolahnya
cuma sampai kelas 8. Kalau tahun, kalau
struktur model sekarang ya umur 14 tahun
diberhentikan dari sekolah karena
dianggap tidak mampu
mengikuti pelajaran sekolah gitu ya. Ini
makanya saya bilang ini harus
kalau mau inovasi prinsip berikutnya
adalah harus kerja keras
ya. Enggak ada enggak enggak bisa
dikenal oleh apa-apa. Saya enggak
percaya sih ya paling kurang sayalah.
Saya enggak percaya. Coba sekarang
begini, mudah-mudahan yang ada di
ruangan ini termasuk saya itu bisa
memberikan sumbangsi kepada peradaban
manusia sebesar Thomas Alpha Edition.
Walaupun saya ragu sih kalau ada yang
dari kita bisa sebesar beliau sih kan
ini penemu lampu ya lah kita sekolah
sampai setinggi ini nemu apa menemukan
apa ayo paling ngejar kuum ngejar apa
gitu-gitu itu kan ya kan cuma admin aja
ini yang mestinya tidak boleh next
saya senangnya kalau diundang di Jawa
Timur itu bisa ngomong terlepas pas ya.
Makanya kalau diundang provinsi lain
saya mintanya Zoom aja. Jadi ngomongnya
terbatas.
Nah, berikutnya ini strategy is
important but execution is everything.
Kalau mau inovasi, mau building value
creation itu eksekusinya yang paling
utama ya. Jadi kalau hanya bisa strategi
yaitu apa? Enggak akan bisa
itu bisa berhasil dengan baik. Itu
menurut saya enggak akan bisa. Harus
bisa eksekusi sendiri. Saya kasih contoh
ya. Saya kasih contoh.
Waktu saya mulai masuk di kereta api
2009, wah semua datang.
Semua tingk yang di bidang transportasi
semua datang. Termasuk bank dunia segala
macam itu. Transportation expert semua
datang. Mereka bilang, "Kami sudah bikin
studi 10 tahun begini, bukunya
tebal-tebal." Saya cuma tanya satu,
yuk bikin studi begini keretanya, kereta
apinya berubah enggak? Layanannya enggak
lah. Terus buat apa?
Ayo. Ya, kalau buat tulis-menulis saja
saya enggak perlu.
Nah, ini yang saya bilang mungkin bikin
strateginya anu roadmap-nya segala itu
bagus, tapi eksekusinya enggak bisa.
Kalau eksekusinya enggak bisa, ya enggak
bisa aja gitu. Makanya harus ada sekolah
mendidik kepemimpinan
ya.
Ya, ditawarkan aja ya leadership ee apa
trainingnya itu kalau perlu kirim ke
tempat lain. Jangan di sini misalnya
atau di mana gitu. Ini menurut saya
supaya eksekusinya bisa.
Ee
sebagian dulu mantan rekan-rekan saya di
kereta api yang sekolahnya tinggi-tinggi
itu saya ngetesnya gampang.
Panggil
kalau Sabtu Minggu karena big taruh aja
di stasiun Pasar Senin. Panggil kepala
stasiunnya suruh pergi. Coba kamu
ngoperasikan jadi kepala stasiun saya
tungguin.
Kakinya kemeter pasti. Nah, iya kan?
Nah, ini yang menurut saya orang harus
bisa eksekusi.
Kalau ibu-ibu bisalah kalau punya anak
kan mestinya bisa. Itu luar biasa kalau
orang punya sampai bisa mengandung,
melahirkan, ngurusi anak. Ya, Bu. Lah,
itu kan eksekusi juga. Iya kan?
Kan sebagian juga feeling kan. Iya kan,
Bu?
mulai bikinnya loh.
Next.
Mas ada kursusnya enggak ono lah.
Eh, prinsip berikutnya ini yang
dikatakan Winston Churchill. Saya kira
semua tahu Wincent Churchill. There is
no worse mistake in public leadership
than to hold out false hopes soon to be
swap away. Nah, ini menurut saya juga
prinsip penting. Jadi, jangan membuat
sesuatu itu yang cuma untuk publikasi ya
atau cuma untuk apa ya kosmetika lah
istilahnya ya. Kalau bisa enggak enggak
gitu.
Saya kasih contoh ya.
Kalau saya lihat teman-teman saya
ngerokok itu, perokok itu
kalau di sini kan berani ngerokok
dibuang gitu ya sembarangan gitu. Coba
dia ke Singapura enggak berani kan? Oh,
enggak berani. Karena peraturannya jelas
ya. Kalau kena dihukumnya berat gitu.
Saya enggak pernah buang, Pak. Di sini
juga enggak pernah buang. Saya tadi
minta asbakan, Bu. Iya.
Ya. Jadi menurut saya kalau mau bikin
sesuatu itu ya yang sungguh-sungguh ya.
Jangan nanti oh lewat temannya bisa
pakai cara lain lewat apa.
Sekarang Bapak bisa beli tiket kereta
api pesan kepala stasiun enggak bisa
kan? Enggak bisa pasti semua harus pakai
online. Datang ke stasiun bisa beli.
Mungkin masih ada loketnya satu
ditinggalin satu dan sebagainya. Tapi
enggak bisa. Jadi enggak peduli y mau
siapa aja kalau tiketnya habis ya habis
saja gitu. Nah kalau bisa begitu
layanannya bisa ajek ya. Nah kita ini
kan kadang-kadang enggak ajek itu kan
karena pengecualiannya terlalu banyak.
Next
tentang building value creation. Saya
cerita berapa prinsip ya. Jadi gini,
saya lebih condong daripada ngomong
inovasi itu
membangun
apa membangun nilai tambah lah dari apa
yang kita kerjakan itu. Nah, manfaatnya
itu yang nilai pengguna bukan kita. Kan
kita ini kebiasaan begini di birokrasi
itu kalau mau begini enggak mau ya
sudah. Ini zamannya sudah lain ya. Tahun
0-an itu semua aparatur negara, negara
ini dioperasikan dibiayai oleh
kebanyakan itu hasil sumber daya alam.
Tahun 0-an loh ya pajaknya kecil loh
sekarang itu pajaknya mayoritas berapa,
Pak?
Ya penerimaan negara dari pajak, cukai
segala itu berapa? 85%,
93%. Berarti semua penghasilan kita
termasuk pensiun saya itu kan dibayar
dari uang rakyat ya. Berarti customernya
siapa?
Ya rakyat gitu loh.
Coba next.
Ya, kalau menyesal loh kok zamannya
sudah berubah? Saya orangnya kalau
menyesal saya pergi karena saya enggak
mau menyesal. Jadi kalau enggak cocok
sudah pergi aja gitu. Nah, yang di sini
ini enggak tahu menyesal enggak berani
pergi apa-apa gitu.
Nah, kalau ketawa ya berarti banyak
benarnya gitu.
Yang pertama ini yang dikatakan oleh
Theo Levit. Nanti dicek Theo Levit ini
siapa. Creativity is thinking up new
things. Innovation is doing new things.
Beda loh ya. Kalau Anda menjadi
akademisi itu cukup creativity,
thinking up new things.
But kalau Anda di bukan di akademisi ya,
mengoperasikan sesuatu, menjalankan
sesuatu yang real mestinya sampai ke
inovasi.
Jadi tolong Bapak Ibu di sini jangan
bikin nanti lomba anu kreativitas ya
ngumpulkan paper terus dinilai. Loh kok
ngumpulin kertas dinilai itu kan anak
sekolah menurut saya.
Waktu saya mulai nertibkan itu ya tadi
Bapak tanya itu asongan segala macam.
Oke coba diskusi di kereta api. Wah
rapatnya 2 minggu ya. Jadi si paper-nya?
Jadi terus saya tanya yang mau eksekusi
siapa? Enggak ada yang ngangkat tangan.
Loh ini gimana ini caranya ini? Loh kan
enggak bisa didoakan aja bisa selesai.
Ayo.
Nah, akhirnya apa? Ya sudah mulai
eksekusi penertiban pertama itu yang
mimpin saya sendiri loh
ya
ee hampir 15 tahun yang lalu ya mulainya
ya buktinya sampai sekarang jalan kan.
Nah itu soal jalan tadi
ee beliau juga sudah jelaskan. Next.
Ini prinsip kedua soal inovasi
atau building value creation. Lack of
direction is the problem, not lack of
time. We all have 24 hours ini kita
kadang-kadang enggak sadar. Kita itu
nanti kalau disuruh membuat sesuatu yang
baru, pelayanan begini, pasti dalam hati
itu mengeluh, "Wah, saya itu sudah
enggak ada waktu kerjaannya, adminnya
sibuk segala macam." Enggak ada orang,
enggak ada waktu. Itu Gusti Allah itu
tidak akan memberi Anda waktu lebih dari
24 jam 1 hari. Coba saya tanya. Ayo. Ya,
berarti Anda itu salah hidup ya, salah
arah pasti.
Kalau sudah bilang enggak ada waktu,
enggak mungkin
menurut saya ya.
Next.
Ini prinsip berikutnya ini dikatakan
oleh Brian Mills
was
mestinya ditanamkan dari CPNS Pak ya.
Kalau Anda itu tidak menciptakan nilai
manfaat untuk orang lain, berarti Anda
itu buang waktu.
Mungkin enggak sih ya untuk aparatur itu
kebanyakan enggak, tapi pikirannya itu
sangat egosentrik menurut saya ya. Jadi
yang dipikir itu dirinya sendiri. Karena
apa? Sistem panjat malapusnya ini itu
adalah sangat egoentrik juga.
naik pangkat berdasarkan sekolah
itu dirubah, Pak. Mungkin Pempr Jatim
itu loh dirubah jadi pionir. Naik
pangkat itu berdasarkan prestasi loh.
Masa naik pangkat berdasarkan sekolah?
Nah, kalau enggak percaya Ibu nanti ke
kampus Erlangga itu kan semu semua semua
banyak guru besar termasuk rektor segala
itu kan angkatan saya atau yang lebih
muda setahun 2 tahun atau lebih tua 34.
Coba tanya gitu, sekolahnya pintar mana
sama saya loh? Serius? Coba tanya.
Ini enggak debat saya lulus itu
mahasiswa terbaik. Nah, sudah kan
selesai kan. Cuma saya malah sekolah
terus gitu
karena ya itu tadi karena orang sekolah
enggak bisa belajar sendiri itu. Nah, ya
ini harus dirubah enggak silakan sekolah
tinggi. Tapi yang dinilai itu adalah
iya performance-nya gitu.
Coba kalau
Prof. Candra ini bantu Ibu Menkeu apa
karena profesor bukan kan? Nah loh benar
loh ya. Nah gitu apa karena rambutnya
putih enggak juga kan
itu di chat ya
supaya kelihatan serius gitu ya kan.
Next.
Nah ini ya.
Eh,
ini quote yang saya suka sekali, prinsip
yang saya suka. Creating value for
humanity should not be an afterthought
but a core business strategy. Jadi,
menciptakan value untuk kemanusiaan itu
bukan
ya sampingan, tapi ini core. Jadi, Anda
bangun value creation, inovasi itu
pikirannya itu untuk kesejahteraan yang
lebih baik. mestinya lah coba dipikir
maunya apa gitu
ya. Saya enggak tahu P Prof Jatim
targetnya apa gitu. Kalau saya lihat
Instagram-nya Ibu Gubernur sih seru sih
ke sini ke sana foto sini foto sana gitu
ya. Loh enggak benar kan loh coba lihat
saya kan follower ya followernya beliau
itu kan saya lihatin gitu kadang-kadang
saya komen dikomen balik gitu kan.
Next.
Berikutnya ini J. Summit mengatakan, "To
be successful, innovation is not just
about value creation but value capture."
Nah, ini ya untuk berhasil dianggap
berhasil itu penemuan itu bukan hanya
menciptakan nilai tapi juga bisa
menakap. Jadi gini, kalau nanti
pelayanannya diperbaiki, ada pelayanan
lebih baik karena inovasi dan
sebagainya, mbok coba
pada waktu tertentu 6 bulan atau setelah
setahun diadakan survei ke masyarakat.
Manfaatnya untuk mereka itu apa? Loh,
kalau enggak ada manfaatnya terus buat
apa gitu.
Ini saran saya sih
ya. Jadi value capture itu tanya ke
usernya ada manfaatnya tidak
ya menurut saya loh ya
contoh ya kalau di Kementerian Keuangan
itu ada satu yang bagus sekali itu apa?
Pendaftaran orang mau minta NPWP itu
pakai online langsung diketik namanya
segala macam 2 hari 3 hari dikirim pakai
pos. Kartu NPWP-nya jadi ya. Terus ada
suratnya itu jadi. Waduh zaman dulu saya
itu mulai punya NPWP tahun 19
90.
Waduh. ngurus NPWP itu lebih susah
daripada ngurus KTP waktu itu
tahun '0 ya.
Ya, sekarang sih sudah bagus ya. Ya,
banyak yang banyak perbaikanlah ya. Ya,
terus ya pasti pelan-pelan. Satu, satu.
Next.
Eh, Philip Cotler. Saya kira mungkin
kalau yang belajar banyak marketing
manajemen itu tahu marketing is not the
art of finding clever ways to dispose
what you make. It is the art of creating
genuine customer vale. Kenapa saya
cantumkan marketing ini di sini? Kan
saya bilang tadi coba tanya Prof. Candra
itu menurut Prof. Candra 93% dari
penerimaan negara itu berasal dari uang
rakyat. Betul enggak? Dalam berbagai
bentuk. Oke. Loh, berarti kita itu
digaji oleh rakyat.
Loh, berarti rakyatnya ini apa? Customer
kita
lah. Kalau customer itu coba kita
mikirnya itu kita bagaimana memasarkan
apa yang kita ciptakan itu supaya
customernya ini happy kan loh menurut
saya gitu loh
menurut saya ya. Makanya waktu saya
masih tugas, saya selalu bilang, "Kamu
enggak usah takut sama saya loh. Buat
saya enggak penting itu. Saya enggak
terlalu tertarik juga kan.
Loh, masa Bapak ini gitu takut sama saya
loh. Dia enggak takut pun saya juga
enggak peduli.
Iya kan? Emangnya? Betul enggak? Loh,
kalau misalnya beliau itu bikin salah
gitu terus saya ingat-ingat mandi, saya
ngingat wajahnya dia kan enggak menarik
juga. Oh, gila apa saya?"
Ya, saya bilang, makanya enggak usah
takut sama Yuk. Mesti takut sama orang
yang ngasih makan kamu lah. Itu siapa
ya? Masyarakat
ya.
Kemarin saya nerima salah satu di RUT
BMN diskusi dengan saya masih muda sih.
Saya enggak kenal sih. Beliau datang
duluan gitu dengan berapa stafnya. Saya
lihat gini ini yang mau ketemu saya yang
mana saya, Pak. Oke. Yang lain tinggal
aja gitu. Waduh yang nemenin aja banyak
orangnya gitu. Saya bilang, "Eh, saya
jadi menteri ke mana-mana cuma satu
orang loh, Bapak satu ajudan aja loh."
Ya, itu pun untuk keamanan saja
ya. Keamanan fisik saja karena bahas
bahas senjata kan. Cuma itu aja. Loh,
saya enggak menarik rombongannya ibu-ibu
gini. Aduh,
malah cupet motone ya kan.
Mohon maaf loh, Bu. Ini contoh aja Bu
ya. Mohon maaf, mohon maaf. Iya.
Hah.
Jadi menurut saya ini juga mesti
spiritnya dirubah ya. Enggak usahlah
yang ada
kan kalau anak muda sekarang beda ya.
Makanya kalau sekarang walaupun di ASN
ataukah di TNI, PORI atau di mana aja di
diplomatik segala generasi yang lebih
muda kalau dia kerja enggak cocok pergi
dia. Betul ya? Hah? Oh, pasti pergi.
Iya. Yang gak berani pergi ini kan
generasi anu.
Iya. Arlogi metal ya kan? Iya.
Jadi gini, Pak. Kalau kita ini ngomong
generasi argi metal ini beda. Kalau saya
tanya gitu dengan seorang wanita kenalan
gitu, "Umurnya berapa, Mbak?" Kan gak
enak kan. Nah, saya itu cuma tanya jam
berapa? Boleh dong jam berapa, Mbak? Ya
kan dia lihat jam. Kalau jamnya metal ya
berarti sudah angkatannya lama.
Coba dipraktikkan.
Loh, benar. Coba lihat arloginya. Ayo.
Next.
Ini mungkin yang terakhir ya. Innovation
is the ability to see change as an
opportunity, not a threat. Not as a
threat. Yang katanya sahif job. Nah, ini
saya ingin jelaskan begini. Ini
omongannya gampang, jalaninnya susah.
Kalau mau mendorong sebuah organisasi
itu betul-betul bikin value creation
dari waktu ke waktu tumbuh terus
mengikuti zaman, struktur organisasinya
ini juga harus dirubah sangat linien.
Satu ya, sangat fleksibel. Yang kedua
apa? Yaitu organisasi itu karier
plan-nya berdasarkan prestasi, tidak
berdasarkan sekolah
semata. Ya. Ya, jangan buta huruf, ya.
Jangan. Makanya waktu saya di kereta
api, saya masuk skala yang membatasi itu
masuk golongan 2A maksimum 3B sekarang
saya hapus. Sudah enggak peduli saya.
Pokoknya yang kerjanya lebih bagus bisa
naik. Kalau enggak ya enggak loh. Kalau
enggak orang berlomba-lomba sekolah
enggak kerja.
Heh. Oo. Ya, untung ini Profesor Candra
akhirnya kerja.
Iya. gak sekolah tok. E
mohon maaf loh, Prof.
Betul ya. Nah,
kenapa saya bilang begini?
Kalau ini tidak dirubah ya di nah kita
juga harus retraining kembali ya
orang-orang di organisasi ini, pegawai
segala macam itu supaya tidak melihat
perubahan ini sebagai tantangan eh
sebagai apa? Sebagai ancaman bagi dia
kan. Karena kalau banyak inovasi makin
lama pekerjaannya itu mungkin terhapus
makin enggak ada ya. Lah kalau makin
enggak ada bagaimana ya? Ya coba
diretraining supaya dia bisa belajar
lagi dan sebagainya. Coba Anda bisa
bayangkan 27.000 eh maaf 24.700 sebagai
kereta api, 70% sekolahnya SD, SMP itu
bisa dididik kembali untuk menerima
digitalisasi.
Ayo.
Itu pun
saya lakukan juga rambutnya belum
seperti Prof. Candra.
Loh, ini fakta loh. Saya enggak chat ini
juga belum pakai kacamata, Pak. Iya,
gitu. Karena sering lihat arloginya itu.
Next.
Oke, ini saya putar sedikit judulnya
Everlasting Transformation itu begini.
Yang ingin saya ee tolong jangan diputar
dulu. yang ingin saya sampaikan ini cuma
3 menit kok eh 4 menit maaf videonya itu
apa yang saya lakukan 6 tahun itu
setelah saya pergi saya pergi dari
kereta api sudah hampir 9 tahun buktinya
decrep improving dia jalan enggak balik
lagi. Enggak balik mau siapapun
pemimpinnya enggak bisa balik ya tidak
bisa anak-anak juga sudah enggak mau
kalau mau kembali lagi. Jadi yang perlu
ditanamkan itu adalah
jiwa jiwa untuk melayani, jiwa untuk
membuat ee nilai tambah kepada
masyarakat itu build in di organisasi
ini ya. Jadi build in mau siapapun. Nah,
kalau bisa ditanamkan dengan baik
sehingga waktu kita pergi kan ini pasti
satu hari pergi ya.
Betul kan? Loh, masa di sini terus
enggak mungkin kan? Betul enggak? Oke.
Nah, nanti generasi berikutnya ini
bekerja dengan lebih baik ya. Jadi itu
yang ditanamkan gitu. Jadi tidak
shortmed pikirannya. Waduh, nanti kalau
ini hasilnya terus begini keenakan nanti
yang ganti saya. Ah, ini sudah ngawur
ini sudah pikirannya. Atau waduh ini
kalau bangunnya kayak begini nanti saya
enggak kelihatan prestasinya. Udahlah
kan rezeki enggak akan ketukar kok
menurut saya.
Menurut saya loh ya,
tolong diputar ini. Saya ingin cerita
video yang dibuat tahun lalu. Buktinya
saya pergi 8 tahun di kereta api tahun
lalu itu kereta apinya masih tetap bagus
kan dulu setengah mati. Betul. Silakan
diputar.
Ini ini penumpang betulan ini bukan
iklan soalnya.
[musik]
Susah susah
kecuali
Dir Kai 121. [musik]
Saat ini akan saya [musik] tumpahkan
keluh kesah ke kereta api Indonesia.
Setelah 15 tahun
saya tinggalkan Indonesia [musik]
[musik]
dan menjelang hari yang fitri
saya kembali [musik] ke kampung halaman.
Tak ada pilihan [musik] lain bagiku
menuju Tegal dari Bandara Internasional
Soekarno Hatta
selain kereta api,
tempat di mana banyak [musik] kenangan
manis
dan traumatis.
Ternyata [musik] pilihanku
mengecewakan.
Ya, mengecewakan.
Saya kecewa [musik] pada diri sendiri
menjadi orang pesimis.
Saya pesimis [musik]
Indonesia berubah.
Ternyata [musik]
bangsa ini bisa berubah.
Salah satunya [musik] kereta api
Indonesia.
Tak ada teriakan [musik] orang-orang
yang menjajakan karcis.
Yang ada [musik] hanya senyum manis.
Senyuman dari pekerja penuh dedikasi.
[musik]
Tak ada [musik] stasiun kumuh,
semua terawatuh. [musik]
Dalam kereta [musik]
hawa sejuk mengusuk bukan rasa bakuk
yang tertempel debu.
Tak ada lagi [musik] asongan berlalu.
hanya
[tepuk tangan]
Iya. Yang sini ibu-ibu ngelihat
ceritanya, yang sana ngelihat orangnya.
Ya
enggak apa-apa memang ya. Ya benar ya
benar begitu
gak yang benar begitu memang
itu
saya pas kan waktunya Pak?
Pas kan
enggak ini ya? Pas kan
pas ya Bu. Iya, gitu. Harus kayak kereta
api pas waktunya. Ya, itu aja lebih
kurangnya. Saya mohon maaf saya enggak
berniat menyinggung siap pun ya. Jadi
supaya semangat gitu. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam, Prof. Yonan boleh ke
atas panggung. Kita akan berdiskusi.
Dan silakan Bapak Ibu untuk yang berada
di ruangan ini akan kami berikan
kesempatan tiga orang penanya. Kemudian
yang di Zoom ada tiga orang penanya.
Silakan. Wah. banyak sekali. Silakan,
Pak, ya. Bapak silakan.
Baik, terima kasih, Bu. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam,
Pak Inatius Johan, saya juga mau
bertanya. Jadi,
Bapak nama siapa dulu, Pak?
Nama saya MSU, kebetulan dari BPSDM.
Yang saya mau tanyakan terkait dengan
sekarang ini kan generasi milenial
khususnya ASN. setiap SN itu dituntut
untuk inovasi, Pak. Ya, sekolah-sekolah
pun mulai dari Laksar,
PKP, PKA, PKN itu dituntut untuk membuat
inovasi. Salah satunya tadi di-share ee
inovasi kawal dari Kabupaten Sampang ya.
Jadi ada ribuan inovasi mungkin cuma
gini, Pak. Secara teknis pelaksanaan
implementasinya di lapangan itu kadang
terbentur, Pak. karena terbenturnya satu
mereka tidak mempunyai kewenangan.
Karena ee untuk aktualisasi itu biasanya
kalau pemimpinnya oke, maka ee inovasi
itu akan berjalan. Kalau pemimpinnya
tidak oke, maka inovasi tidak berjalan.
Nah, menurut Bapak, langkah-langkah apa
yang harus ee diambil supaya inovasi itu
tetap berjalan?
Itu aja mungkin dari saya. Terima kasih.
Iya, silakan Pak Yonan. Boleh langsung
ditanggapi, Pak.
Makasih, Pak. Ini pertanyaannya sangat
bagus. Jadi kalau
menurut saran saya ya, seperti tadi saya
katakan itu ya, organisasinya harus
dirubah, Pak ya. Kalau organisasinya itu
tidak fleksibel menurut saya inovasinya
itu akhirnya cuma di atas kertas sama
untuk pameran,
ya. enggak akan jalan, Pak. Ya, apalagi
manfaatnya untuk masyarakat dalam jangka
panjang segala macam. Setelah Bapak
pergi malah inovasinya berkembang malah
sulit sekali menurut saya itu ya.
Makanya tadi Bapak mengeluhnya atau
mengatakan kalau tidak punya kewenangan
bagaimana gitu. Nah, saya bilang makanya
saya bilang organisasinya harus
fleksibel. Pendelegasian kewenangan itu
dalam skala tertentu itu harus ada.
Kalau enggak, enggak ada inovasi menurut
saya lah. Wong standarnya kaku begitu
terus caranya bagaimana? Ayo.
Ya itu jawaban saya, Pak. Mudah-mudahan
menjawab sih.
Baik. Mudah-mudahan menjawab. Tapi
sepertinya dari ekspresi kayaknya
ya gimana ya, Pak? Ya gitu ya, Pak Suo
ya.
Halo. Halo,
Mbak Mamahid, Mbak Kris. Saya
Oh, iya i ya. Silakan Bapak. I
penanya kedua kita monggo silakan.
Iya, terima kasih ee untuk pembawa
acara. Terima kasih untuk Bapak Igniat
Wusuyonan. Selamat datang di BPSDM.
Saya bangga sekali BPSDM kehadiran Bapak
dan ini
tadi saya dengar saya lihat sudah
memberikan ilmunya yang luar biasa.
Iya. Bapak izin dengan Bapak siap sudah
Bapak siapa? Nama saya Siswa Herutoto.
Iya.
Bapak tadi sudah memberikan ilmu
bagaimana merubah mindset dari PTKAI
terutama ee pegawainya
yang sekarang ini sudah berpikir menjadi
seorang entrepreneur.
Nah, dilematis pegawai negeri. Mohon
maaf Pak Jonan karena saya juga Wakil
Ketua Korpi Jawa Timur.
problematiknya itu bukan saat dia kerja,
tapi ketika nanti dia sudah purna tugas
itu dia akan menghadapi suatu hal yang
sulit. Nah, ini bedanya dengan di Eropa
sama di Indonesia. Kalau di Eropa itu
pensiun itu merupakan suatu hal yang
membanggakan, lebih sejahtera.
Kalau di Indonesia ini menurut saya
mereka masih belum siap.
Contohnya misalnya saya kemarin tuh ee
ke Jember bersama bupati
mengukuhkan e pengurus Scorpi. Bupatinya
itu dulu direktur operasionalnya di
PTKI, Pak Hendy
itu sekarang jadi bupati menawarkan
kepada pegawainya
untuk berusaha. Ayo yang ini yang baik
yang muda maupun yang sudah usia yang
mau pensiun.
Handy Handy namanya.
Handy. Iya. Betul. Betul Bapak.
Untuk memanfaatkan aset-aset dari Pemda
Kabupaten Jember yang nanti bisa
dikelola mereka
dalam rangka untuk menambah
kesejahteraannya. tapi tidak ada yang
siap untuk itu. Nah, pada kesempatan ini
saya mohon ilmu dari Bapak bagaimana
merubah mindset pegawai negeri ini
supaya mereka sejak awal sudah menjadi
seorang entrepreneur sehingga pada saat
dia pensiun nanti itu sudah berkembang
dan tinggal menikmati. Saya kira ini
Bapak terima kasih.
Baik. Agar ASN punya jiwa entrepreneur.
Pak Jonan, seperti apa mindset yang
harus diberikan oleh para-pa WI ini
nanti yang mengajar para ASN kita?
Kalau punya jiwa entrepreneur dari muda,
ya sudah keluar, Pak, dari ASN.
Ee tapi saya nangkap, Pak. Anu
pertanyaan Bapak maksudnya gini memang
ee tadi ee Bapak-bapak yang duduk di
meja depan bersama saya itu juga diskusi
dengan saya sedikit. Ee saya katakan
begini, waktu saya tugas di kereta api
Indonesia ee selama 6 tahun kerja itu
biaya tenaga kerjanya itu naik, Pak.
naiknya gak banyak naiknya itu 450%
Pak gitu.
Jadi waktu mulai saya sesuaikan itu
semua pimpinan di kereta api tidak
setuju ya. Pak Menteri BMN dan Menteri
Perhubungan waktu itu juga tidak
sepakat. Lalu saya katakan, "Loh kita
cobalah kalau setahun gagal saya yang
diberhentikan." Kan gampang gitu aja.
Wong saya juga enggak minta kerjaan ini
dulunya. Nah, intinya sebenarnya
ee memang kesejahteraannya itu harus
diperbaiki, Pak. Kan sekarang ini
pemerintah sudah memperbaiki banyak.
Satu ada BPJS kesehatan ya kan itu wajib
ikut, Pak. Dan hampir kalau ini diikuti
kan sudah hampir tidak ada biaya
kesehatan yang harus ditanggung oleh
kita dalam standar kewajaran. Ya, itu
satu BPJS Ketenagakerjaan kan juga ada
ya. Memang begini, yang menjadi momok
yang paling menakutkan itu kalau sudah
selesai pensiunnya kecil. Ini yang jadi
persoalan memang sebenarnya pensiunnya
enggak kecil, gaji pokoknya yang kecil,
Pak. Ya kan? Itu aja sebenarnya. Jadi
ini ini menjadi banyak pikiran. Makanya
tadi Bapak tanya bagaimana ini bisa siap
menjadi entrepreneur? sebaiknya kalau
mau ya kalau mau ini ya sebenarnya di
usia kira-kira pertengahan 40 atau 50
Pak atau awal 50 atau di usia 50 itu
setiap institusi itu mengadakan
ee kelas sendiri ya atau training
sendiri bagaimana mempersiapkan orang
setelah pasca
masa tugas ya sehingga dia punya
kesempatan apa mau disalurkan ke
perusahaan swasta atau mau apa usaha
Jadi ada kelas sendiri untuk
mempersiapkan ini, Pak. Dan itu saya
sangat menyarankan di banyak negara
mereka ada, ya. Di banyak negara mereka
ada, di kereta api juga ada, ya. Jadi
kalau sudah kira-kira usianya 50 enggak
bisa naik lagi, nah sudahudah mulai ya
mulai dididik pekerjaan lain gitu supaya
nanti enggak sia-sia, Pak. itu
makanya kan kalau Pak Hendi kan anu
orangnya kreatif ya.
Iya.
Iya
gitu.
Iya betulbul. Oke kita berikan tepuk
tangan dulu. Semoga Bapak Ibu para WI
ini nanti juga ketika memberikan
pengajaran kepada para ASN kita juga ada
unsur-unsur entrepreneur yang bisa
disisipkan. Monggo silakan Bapak I.
Ya, terima kasih Pak Jonan. Saya Saiful
Rahman, WI Utama. Saya termasuk
Iya, Pak. Tahu, Pak.
Pak Jonan favorit saya. Jadi setiap
mengajar latsar saya selalu putarkan
video waktu Pak Jonan jadi direktur KAI
itu ya.
Makasih, Pak.
Iya. Sangat inspiratif, Pak.
Tapi saya bicara di sini ee ingin
berbagi ee karena saya pernah juga di
dunia pendidikan pendidikan formal
ee untuk mempersiapkan generasi generasi
kita ke depan. Pemerintah ini membuat
satu kebijakan ya ee perbandingan antara
lulusan SMA dan SMK ya itu berbanding
6040%
ya. banyak banyak 60%-nya SMK dengan
harapan mereka itu bisa cepat dapat
bekerja. Tapi dalam data ya
faktanya,
fakta di kenyataannya seperti Pak Jon
kat tadi ya, sebetulnya kereta api itu
harusnya banyak anak STM, harusnya kan
anak SMK tapi kenyataannya
Oh, enggak banyak Pak, banyak Pak.
Banyak juga ya?
Banyak
penerimaannya yang SLTA itu yang dari
SMK mungkin 6070% Pak.
Iya, I
iya. Malah yang kalau dari SLTA murni
itu sudah jarang sekali diterima. Makin
ke sini makin jarang, Pak. Nah, itu yang
tepat itu, Pak Jan. Tapi kenyataannya
dalam data di statistik ya, data BPS
pengangguran terbuka ini justru
penyumbangnya
itu adalah lulusan SMK. Ini kan ee
sesuatu yang ironis ya. Pemerintah
mendorong SMK kemudian ternyata di
lapangan pekerjaan mereka tidak bisa
berbuat banyak gitu ya. anak-anak SMA
bagaimana ini apa yang perlu untuk
supaya mereka tidak terkatung-katung
dalam ee setelah lulus itu
atau apa yang salah sebenarnya Pak
Yonan?
Ya, yang salah itu karena
pemerintah sendiri juga sistem ee
struktur kepegawaiannya itu kan tadi
saya katakan naik pangkat karena
berdasarkan gelar loh iki opo iki? Iya
kan?
Kan gitu menurut saya loh ya. Ini yang
mestinya dirubah Pak sebagai contoh gitu
loh. Jadi pemerintah sendiri menurut
saya itu sebaiknya itu mulai pelan-pelan
dan cepat-cepat itu merubah bahwa sistem
penilaian kinerja itu satu-satunya
basisnya itu ya karena kinerja.
Loh masa penilaian kerja kinerja karena
sekolah iki ya opo carone? Kalau saya
loh, Pak ya. Makanya di kereta api dulu
saya hapus yang model panjat malapus itu
sudah enggak ada buat saya bikin standar
baru berdasarkan kinerja gitu aja.
Karena kalau tidak nanti yang lulusan
STM itu enggak bisa naik walaupun hebat.
Lah kalau Bapak mau dorong SMK-nya
supaya lebih mudah terserap, coba
caranya bagaimana
kalau yang dari ujung sininya enggak
dibetulkan? Menurut saya loh ya.
di Jerman yang luar biasa vocasionalnya.
Bapak tahu kan ya? Jerman, di Jepang ya,
di Tiongkok juga ya. Coba Bapak lihat di
sana ya. Ya. Ee Korea ya, negara-negara
yang inovasinya hebat sekali ya, yang
pertumbuhan ekonominya juga
sangat-sangat luar biasa.
Itu pekerjaannya itu mungkin 70% dari
vocational school yang istilah Bapak SMK
itu. Betul kan? Nah, karena strukturnya
juga begitu
ya.
Mungkin kereta api itu hanya salah satu
dari hanya sedikit sekali ya badan usaha
milik negara itu yang basisnya itu
berdasarkan satu-satunya itu kinerja.
Jadi bisa saja begini,
orang lulusan sarjana teknik dari
universitas atau institut yang terkenal
masuknya itu sudah di level yang lima
tingkat di atasnya yang SMK ini nanti
dalam 20 tahun terkejar, Pak.
Dan itu di kereta api sudah dibuktikan.
Kalau Bapak sekarang lihat ya misalnya
ya ada ee
anak perusahaan namanya K services itu
ya itu ngurusi restorasi, parkir segala.
Coba coba cek
itu ada di rout-nya sendiri. Direktur
utamanya itu masuknya itu juga
dari enggak tahu STM atau apa itu dulu.
Benar. Coba Bapak cek ya. Ya. Dari
sampai sekarang mereka enggak mau. Mau
dirubah enggak bisa. Mereka bilang, "Ya,
dasarnya prestasi dong. Perkara saya
ngejarnya 25 tahun oke ya dijalani. Tapi
harus basisnya prestasi loh. Kalau
basisnya sekolah gimana?
Nah, itu Pak. Nah, ini kitanya sendiri
ini sebagai user harus ngerubah
gitu. Nah, kalau kita mengelu ini 70%
nganggur atau banyak yang nganggur atau
pengangguran terbuka yang menurut Bapak?
Ya, karena kita sendiri enggak ngerubah
sih bentuknya. Makanya anak-anak kita
itu ngejarnya apa loh? Ngejarnya gelar
menurut saya loh. Kan kayak kita ini ke
dokter, Pak. Ke dokter itu yang penting
gelarnya dokternya atau kita sembuh?
Loh, enggak. Coba Bapak jawab saya. Heh.
Loh enggak Bapak coba jawab yang penting
sembuh, kan? Betul kan? Perkara dokter
ini gelarnya panjang atau pendek kan gak
penting.
Iya.
Yang penting saya ke sana sembuh.
Iya.
Iya dong.
Betul ya Bu.
Betul. Saya setuju. Jadi kompetensi
skill itu yang paling utama sebenarnya
yang menjadi
ee indikator penilaian untuk kinerja ya
Pak Yonan. Oke. Kemudian berikutnya kita
akan beralih ke Zoom. Ini sudah ada Pak
Sulton dari Dinas Koperasi Provinsi Jawa
Timur. Pak Sulton selamat siang.
Selamat siang, Ibu. Selamat ee siang,
Bapak Jonan. Salam kenal. Saya Sultan
dari Dinas Koperasi Provinsi Jatim.
Ion ini sepertinya generasi baru, Pak.
Ini under 40 sepertinya, Pak.
Saya Wid Iswara ahli pertama, Pak dari
ee Jakarta. Nah, jadi saya ini sangat
mengapresiasi sekali Pak, Bu dari tim
panitia BPSDM ee berani-beraninya
mengundang Pak Jonan ke tempat ee ke
Jatim ini bahwa eh nilai building valid
creation dari institusi di Jatim ini
memang eh sedang mengalami eh
peningkatan dan juga ee reformasi
birokrasi kita berarti betul-betul
diterapkan di Jatim. Ya, Bapak, Ibu.
Saya ee memiliki pertanyaan untuk Pak
Jonan eh terkait dengan eh quotation
dari Napoleon tadi. Army of 100 Lions
with leader of dogs. Itu berarti kita
dipimpin oleh pemimpin yang ee belum
memiliki keberanian seberani singa
begitu ya, Pak. Nah, ini seperti apa,
Pak? Bapak melakukan evaluasi terhadap
ee e institusi Bapak ee dahulu waktu di
KAI. Saya yakin mungkin bisa di-sharing
bagaimana model kepemimpinan yang ada
saat ini bisa ee lebih agile dan juga
lebih ee ya mendukung ee misi pemerintah
pusat, Pak. Demikian, terima kasih, Pak.
Baik. Evaluasi seperti apa, Pak Yonan
dulu waktu di KAI?
yang Bapak terapkan pada saat itu.
Ee
saya selalu basisnya itu adalah
targetnya tercapai atau tidak.
Nah, karena ini kegiatannya operasinya
ee kegiatannya itu kegiatan fisik kan
pasti kelihatan.
Iya.
Ya, saya kasih contoh ya yang paling
sederhana ya. Waktu saya minta ee
waktu saya mengajak teman-teman saya di
kereta api itu bagaimana membuat toilet
di stasiun dan toilet di dalam kereta
itu bersih. Loh, ini kan sederhana ya
menurut saya sederhana. Waduh,
senior-senior saya di kereta api bilang,
"Oh, ini kok diurut kok ngurusin
toilet." Loh, saya bilang sama
senior-senior saya,
kereta api itu operasi yang sangat
kompleks. Kalau kita bersihkan toilet
aja enggak bisa. Yang lain menurut saya
omong kosong.
Buktinya toiletnya bersih kan sekarang
kan?
Bersih.
Nah, terus semua kepala stasiun debat
dengan saya, Pak. Enggak bisa. Wah.
Apalagi kayak kepala stasiun Pasar Turi
atau Surabaya ya, kepala stasiun
Jakarta, Pasar Sen bilang loh
penumpangnya sehari hari biasa aja waktu
itu R8.000 Rp10.000 kalau hari Jumat,
Sabtu, Minggu itu 25.000
R30.000. Oh, sekarang mungkin kira-kira
angkanya dua kali lipat. Nah, saya
bilang begini ya. Selama yang pakai
manusia harus bisa bersih. Nah, terus
debat bersih itu apa? Ya, saya gampang
udah daripada debat pakai tulisan sudah
saya ajak ke hotel bintang 5 saya
tunjukkan, "Sudah kamu ke toilet sudah
fotoin sendiri itu ukurannya bersih."
Nah, kan gampang enggak tepat. Sudah
loh. Iya, kan? Nah, gitu. Saya kasih
contoh kedua itu lampu ya, penerangan di
peron. Coba Anda sekarang kalau ke
stasiun kereta peronnya itu kan terang.
Iya.
Dulu debat ya. Ini kan teman-teman kan
juga sekolah teknik ya. Lumennya berapa?
Waduh sudah pakai lumen segala nanti
sudah bikin ribut aja. Sudah gini kamu
ambil koran setelah magrib kamu baca di
bawah lampu ini. Kalau bisa terbaca ya
berarti terang. Sudah gitu aja gampang
kan.
Simpel ya. Iya
ya. Jadi sederhana loh. Akhirnya debat
stasiun Kutuarjo sudah gini kamu
mana ambil koran kamu baca di sini
bersuara. Saya juga ngambil koran. Nah
coba kamu bisa baca enggak? Nah kalau
sudah bacanya sudah au nah ini berarti
kurang terang.
Kan gampang gitu aja kan ya. Jadi
basisnya itu pemanfaatan gitu ya.
Contohnya itu yang sederhana loh ini ya.
itu jadi kalau
Nah sebenarnya begini ya kalau menjadi
pemimpin itu bikin ukuran yang sama-sama
bisa disepakati dan bisa dimengerti lah
ya
kalau gak kan setengah mati ya pidato
muter-muter gini yang bawah juga malas
dengerinnya
iya
makasih
baik jadi simpel dan kemudian standarnya
harus juga sama ya ok berikutnya Kita
akan beralih ke Pak Kurniawan ini dari
Mojokerto,
dari SDN Prajurit Kulon 2 Mojokerto,
Bapak Kurniawan. Silakan, Pak Kurniawan.
Terima kasih waktunya. Ee Bapak Ibu
semua. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Yang saya hormati Bapak
Jonan. Ee
saya ingin menanyakan
loh ini kok bentuknya sama? orangnya
lain.
[tertawa]
Eh, saya iya saya menanyakan
hubungan antar itu, Pak, antara inovasi,
korupsi and salary. Terutama yang
manajemen di ee koperasi itu luar biasa.
terutama nanti di bagian seleri antara
Bapak-bapak yang sudah lama bertugas
dengan yang punya inovasi
ee berhubungan dengan kesejahteraannya
berbeda. Nah, tantangan yang Bapak
hadapi hubungannya dengan inovasi,
corruption and salary. Terima kasih, Pak
Jenan. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ini sebenarnya bukan tanya, ini kelukesa
ini. I [tertawa]
curhat sedikit itu, Pak.
Maaf ya, Pak. Bercanda ya, Pak. Tapi kan
saya juga pernah mimpin birokrasi
panjang, Pak. Jadi tahulah kira-kira
gini
ee
berapa hal ya. Satu, saya itu sangat
menganjurkan juga bahwa dalam kewajaran
dalam skala kewajaran tuh sebenarnya
ee senioritas itu ukurannya bukan waktu,
Pak ya. bukan masa kerja juga. Karena
masa kerja itu kan sebenarnya terkait
langsung dengan usia, Pak ya, dengan
umur lah. Padahal umur itu bukan punya
kita. Umur itu punyanya yang bikin hidup
lah. Terus ngapain kita ngurusin yang
bukan urusan kita? Coba. Ayo.
Ya satu ya. Eh, betul ya, Pak.
Loh, kayak Pak Saifulahman itu masih
bisa duduk sini itu masa karena beliau.
Iya kan? Loh, bisa Bapak usia 64 ya?
Nah, iya. Masa Bapak berani bilang itu
karena saya berjuang sehat. Enggak
mungkin kan? Karena pangestunya Gusti
Allah kan, Pak. Nah, jadi jangan bikin
ukuran senioritas itu menjadi penting
gitu loh. Karena menjadi senior itu
karena juga karena usia kan loh. Kalau
karena usia kan ngapain kita ngukurnya?
Ngukur usia itu e bukan bukan urusan
kita. Itu satu. Yang kedua,
ini berkaitan dengan penghasilan, Pak
ya. Penghasilan itu begini. sekarang itu
kalau di ASN ya saya lihat ya
atau di BMN juga ya kalau dari tengah
dari bawah ya sampai tengah itu bagus
sudah sesuai dengan ee rata-rata pasar
di Indonesia lah. Tapi kalau tengah ke
atas, nah itu enggak ya. Ini yang
mungkin harus dibenahi, Pak. Ya menurut
saya harus dibenahi kan ya. Kalau orang
di Surabaya, Pak itu ya ada harga ada
rupa, Pak. Pasti.
Iya kan?
Betul ya bahasanya ya?
Iya.
Iya kan, Pak?
Nah. Iya kan? Wong cari asar jaga
pameran aja ada kelasnya. Iya kan, Mbak?
Iya, betul.
Betul ya.
Betul. Iya.
Saya tanya waktu itu, "Kenapa kok ada
kelasnya?" Loh, Pak iki ongono rupo,
Pak. Oh, ya. Oke. Sepakat ya. Jadi, jadi
enggak mesti ngomong ya. Nah, ini di
cara bendainya bagaimana? Tadi Pak
Saiful Rahman juga ngomong dengan saya.
Kalau saya ya waktu tugas itu
prinsipnya begini, kita didik kembali
organisasi ini sebisa mungkin ya,
pelan-pelan dan cepat-cepat supaya apa?
Diretraining kembali supaya semua orang
itu punya kesempatan yang sama kalau
zaman berubah. Yaitu apa? Digitalisasi.
Kalau yang bisa diganti pakai mesin,
sudah enggak usah pakai orang ya. Nah,
orangnya bagaimana? Dididik untuk
pekerjaan yang lain. Sehingga apa? Kalau
dulunya bisa dikerjakan 10 orang kan
dulu. Coba lihat kalau sekretariat
pimpinan waduh orangnya lima minimum.
Minimum itu lima. Sekretariat menteri
itu 20 orangnya Pak. Iya. Saya enggak
tahu kerjanya apa aja ya
gitu.
Nah
sekarang kan banyak bisa diganti pakai.
Nah kalau bisa diganti pakai mesin
sehingga kan anggarannya itu bisa
digunakan dengan jumlah orang yang lebih
kecil itu sehingga kesejahteraannya
lebih baik. Memang saya bilang mestinya
kalau kesejahteraannya membaik
itu kinerjanya harusnya membaik, Pak.
Kalau itu enggak membaik, salahnya
pimpinannya, Pak. Gitu. Iya kan saya
selalu bilang, kalau perut kosong pasti
otaknya kosong. Tapi kalau perutnya isi,
otaknya belum tentu isi.
Loh, tapi kan loh begini, saya mengambil
yang kedua, lebih baik perutnya saya isi
kan paling kurang 50-50. Wong namanya
belum tentu lah. Kalau yang perutnya
kosong sudah pasti otaknya kosong terus
mau diapain? Nah, gitu kan. Gitu. Kalau
yang mengenai korupsi, saya pikir
begini.
Tidak ada lembaga yang hebat itu yang
governance-nya tidak baik.
Saya enggak pernah lihat satu. Kalau
governance-nya makin baik, mestinya
lembaganya makin hebat.
Menurut saya, Pak,
ada pertanyaan lain enggak? Mungkin.
[tertawa]
Baik, terima kasih ya, Pak.
Tapi intinya itulah, Pak. Kalau perut
kosong pasti otaknya kosong, Pak. Pasti,
Pak.
Heeh.
Ya,
tetap kesejahteraan dulu ya, Pak Yonan,
ya.
Ya, menurut saya. Iya sih.
Iya. Oke, kita berikan tepuk tangan dulu
dong, Bapak Ibu.
Terakhir, pertanyaan terakhir ada Bapak
Wijaya EJR. Pak Wijaya EJR ini nama
singkatan apa ya kira-kira? Pak Wijaya
dari mana? Pak Wijaya
dari Dinas Koperasi, Bu.
Oh, Pak Wijaya dari Dinas Koperasi. Oke,
silakan.
Terima kasih atas kesempatannya, Ibu,
ya. Silakan. mau bertanya apa kepada
salam kepada Bapak Jonan
yang ingin saya tanyakan ee begini Bapak
ketika kita membuat sebuah inovasi kita
kan membuat ee sebuah value yang
bermanfaat bagi masyarakat kan karena
kita sebagai public service di sini. Ee
nah ketika kita membuat sebuah upaya
inovasi tersebut dan ee ketika
melaksanakannya kita akan menghadapkan
beberapa tantangan. Biasanya seperti
itu, Pak. Dan eh kutipan yang saya baca
dari Pak Jonan tadi terkait eh strategi
is important but execution executing is
everything.
Nah,
ee berdasarkan pengalaman Bapak yang
saya tanyakan, bagaimana ee menghadapi
ee konflik kepentingan, Pak, ketika kita
ee menerapkan sebuah inovasi.
Nah, sebagaimana yang pernah Bapak alami
di KAI ataupun ketika di Menteri ESDM
itu Bapak menerapkan sebuah projek
terkait energi terbarukan di Pulau Bali.
Nah, itu kan banyak konflik kepentingan
kan, Pak, di sana, Pak. Nah, ee eksekusi
yang
seperti apa yang bisa Bapak lakukan agar
projek tersebut ini bisa berjalan dengan
lancar, Bapak? Seperti itu. Jadi,
eksekusi tipsnya itu seperti apa agar
inovasi dan value yang kita buat ini
bisa bermanfaat bagi masyarakat seperti
itu. Terima kasih Bapak.
Memang gini
ee eksekusi yang baik itu eksekusi yang
kitanya sendiri itu tidak punya
eh personal interest ya, tidak punya eh
vested interest lah untuk kita pribadi
gitu.
Kalau terkait dengan kewenangan yang di
luar kita ya mestinya dijelaskan dengan
baik-baik. Belum tentu berhasil sih ya.
Belum tentu berhasil menurut saya.
Contoh saya kasih contoh. Kalau energi
terbarukan di Bali itu mungkin soal
ringan sekarang kan jalan. Yang paling
susah itu apa? Membuat PLTSA, pembangkit
listrik, tenaga sampah. Seluruh
Indonesia setengah mati. Saya enggak
tahu
itu maunya Pemkap Pemko itu maunya apa
itu. Saya juga enggak ngerti itu.
Iya, Pak.
Betul.
Sampai ada Perpres sampai dipanggil
Bapak Presiden dimarah-marahin di sidang
kabinet enggak jalan juga.
Ya, saya juga bingung itu sebenarnya
maunya apa. Tapi menurut saya
yang Bapak bilang itu konflik
kepentingan itu kalau menurut saya. Nah,
tinggal ini sebenarnya setiap pemimpin
maunya apa ke depannya
ya maunya ya setiap pemimpin tuh maunya
apa gitu.
Kalau maunya baik sih mestinya sih jalan
sih Pak ya. Kalau maunya baik sih,
sehingga akhirnya bisa mengatasi konflik
kepentingan itu. Kalau pemimpinnya
sendiri enggak punya tendensi apapun,
Pak Yonan, ya go ahead gitu ya. Nah,
begitu ya, Pak.
Ini saya kasih contoh ya. Saya kasih
contoh satu.
Tapi kalau ee apa lembaga induknya
sendiri yang punya inisiator itu
kepentingan konflik kepentingannya
enggak ada, mestinya jalan sih, Pak.
Tinggal waktu aja. Saya kasih contoh
satu. Jadi ngobrol dengan Pak
Saifulrahman juga bahwa bagaimana
menertibkan 750 stasiun mulai dari Aceh
sampai Banyuwangi
penertiban semua area stasiun saya sudah
bilang sama semua pegawai kereta api
tidak ada boleh satuun orang yang punya
kepentingan pribadi yang sangat
melanggar etika yaitu apa?
membeli tanah atau membeli lahan di
sekitar stasiun
setelah ditertibkan itu saya larang
betul kalau ketahuan saya pecat pasti
enggak ada yang berani sih, Pak. Kenapa?
Karena kalau kita yang menertibkan
sendiri itu mulai membeli lahan di
seputar stasiun itu nanti orang yang
merasa terkena penertiban sakit hati
pasti. Oh, ini maunya untuk keuntungan
sendiri.
Nah. gitu
loh. Padahal enggak dilarang loh oleh
undang-undang dia. Kalau misalnya beli
rumahnya orang di dekat stasiun boleh.
Iya boleh aja tapi secara etika itu
enggak bagus.
Iya.
Konflik kepentingan itu ukurannya dua
menurut saya. Satu itu peraturan dan
perundangan. Yang kedua itu etika.
Makasih.
Baik. Kita berikan tepuk tangan.
Ini kayaknya semuanya nyimak benar-benar
gitu ya. Luar biasa bertahan sampai .30
loh hari ini Pak Yonan. Biasanya ASN
belajar kita sampai jam 12.00 tapi
memang hari ini istimewa sekali. Kita
berikan tepuk tangan sekali lagi Bapak
Ibu Pak Yonan dan sebagai apresiasi Pak
Ignas Yonan, kita akan berikan
cenderamata dari BPSDM. Kami undang juga
Prof. Candra boleh hadir di atas
panggung. Dan kami undang Bapak
Sekretaris BPSDM Provinsi Jawa Timur,
Bapak Aris Irwansyah boleh hadir juga
untuk menyerahkan cenderamata kepada
para narasumber kita hari ini.
Yang pertama akan diberikan kepada
Baik, yang pertama kami silakan kepada
Prof. Jandra terlebih dahulu.
Baik, kita berikan tepuk tangan sobat
ASN. Kemudian diberikan juga kepada
Bapak Ignatius Yonan kami. Silakan.
Dan bukan hanya pelakat yang diberikan,
tapi juga ada sedikit kenang-kenangan
ASN [musik] belajar.
Baik, ini adalah merchandise eksklusif
ASN belajar. Tentu saja [musik]
nanti kalau dipakai Pak Yonan pagi-pagi
sambil bagi-bagi nasi bungkus biar
orang-orang tahu ya. Heeh. Kepada Prof
Cendra juga sudah. Boleh foto bersama
dulu. Silakan bertiga di depan.
Selanjutnya kami silakan. Iya. Bapak
tengah, Pak.
[musik] Baik, kita akan foto bersama
terlebih dahulu.
Sobat ASIN yang ada di Zoom jangan lupa
isi link presensi ya. Oke.
Baik, silakan ke kamera akan kami
hitung. Satu, dua,
t.
Terima kasih.
Terima kasih banyak. Dan selanjutnya
kita akan berfoto bersama dengan seluruh
para sobat ASN yang hadir di sasanawiata
Praja.
Baik, kami silakan. Boleh menuju ke
bawah. Bapak, Ibu boleh berdiri. Kita
akan ambil gambar dari atas panggung
WiFi bersama dengan Pak Ignatius Jonan
dan juga Prof. Candra. Teman-teman
silakan boleh ambil gambarnya dari atas
panggung.
Iya, betul. Semuanya menghadap ke
panggung ya. Semuanya menghadap ke
panggung.
Baik, kita akan foto bersama. Izin akan
kami pandu. Silakan boleh ambil posisi
dulu, Teman-teman. Yes. Satu, dua,
tiga.
Pos yang kedua optimis Jatim Bangkit.
Tangan kanannya mengepal ke atas. Yang
belakang boleh lebih tinggi lagi. Kita
akan sukses bersama. Satu, dua, tiga.
Baik, foto bersama selesai. Sekali lagi
kami haturkan terima kasih untuk Bapak
Ines Yusonan, terima kasih juga untuk
Prof. Candra. Dan terima kasih untuk
seluruh sobat ASN yang sudah mengikuti
ASN belajar seri ketiga. Jangan lupa
link presensinya sudah bisa langsung
diakses bit.li/hadirbreakthrough
dan juga ada banyak sekali merchandise.
Ikuti giveaway di Instagram kita BPSDM
Jatim dan Wipro Communication. Dan tentu
saja kita akan jumpa lagi di seri
keempat ASN belajar persembahan dari
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya Gres
Mahit. Selamat siang. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[musik]
AN belajar seri
sukses. Ye,
[musik]
ini diharapkan bahwa organisasi publik
seperti Pemda itu dituntut untuk terus
melakukan inovasi, teromposan-teromposan
hal-hal baru. Saya berharap tahun 2023
adalah adalah tahun untuk menuju
inovasi, tahun menuju pelayanan yang
lebih baik, tahun yang menuju
[musik]
I was
you me feel [musik] I like you.
[musik]
by
[musik]