Webinar 140 Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan
MZbp1kZfdaY • 2026-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Oke,
asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat siang Bapak, Ibu, dan
rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko Edu ke-140.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semua yang sudah selalu setia untuk
mengikuti acara webinar ini. Dan hari
ini webinar Eko akan mengangkat tema
mitigasi perubahan iklim melalui sektor
kehutanan dan penggunaan lahan. Dan
perkenalkan saya Dini yang akan bertugas
sebagai moderator pada acara ini. Baik
Bapak Ibu semuanya, mungkin sebelum kita
mulai webinar pada siang ini, alangkah
baiknya kita berdoa terlebih dahulu
menurut agama dan kepercayaan
masing-masing. Untuk itu berdoa
dipersilakan.
Berdoa dicukupkan.
Untuk selanjutnya mari kita menyanyikan
lagu Indonesia Raya secara bersama-sama.
Diharapkan kepada Bapak Ibu semuanya
untuk duduk tegak.
[musik]
Oke, baik Bapak Ibu semuanya untuk acara
selanjutnya di sini izinkan saya
mempromosikan pelatihan-pelatihan dalam
waktu dekat ini yang akan
diselenggarakan oleh Ekoed Eedu
yaitu yang pertama adalah ee kami di
sini akan mengadakan pelatihan dan
sertifikasi penanggung jawab operasional
pengolahan air limbah atau POPA. Di sini
ee pelatihannya memiliki sertifikasi
BNSP yang akan dilaksanakan pada tanggal
2 hingga 6 Februari 2026. Adapun apabila
Bapak Ibu melakukan biaya investasi pada
H-1 pelatihan, Bapak Ibu akan
mendapatkan diskon sebesar 10%.
Lalu kemudian dilanjutkan di minggu
selanjutnya pada tanggal 9 hingga 13
Februari 2026. Di sini kami akan
mengadakan dua pelatihan, yaitu yang
pertama adalah pelatihan life cycle
assessment atau LCA, kemudian ada
pelatihan pemodelan kualitas air sungai
Kualukai, dan WASP gelombang 21. Dan di
mana Bapak Ibu untuk kedua pelatihan ini
Bapak Ibu masih mendapatkan kesempatan
untuk mendapatkan ee promo early bird
dari kami yang di mana pembayarannya itu
dibatasi hingga 30 Januari 2026. apabila
Bapak, Ibu ingin mendapatkan harga ee
promosi early bird. Lalu kemudian,
nah selain itu juga di sini kami akan
mengadakan pelatihan dasar AMDAL
gelombang 21 yang di mana di sini
dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 26
Februari 2026. Adapun biaya investasinya
yaitu sebesar Rp4.500.000.
Dan untuk informasi lebih lanjut, Bapak
Ibu bisa menghubungi kami melalui
WhatsApp WhatsApp admin yaitu ada Anto
Danisa. Kemudian Bapak Ibu juga di sini
bisa mengunjungi sosial media kami ada
Instagram di @ekoedu.id,
kemudian ada YouTube channel, kemudian
Facebook, Twitter, dan juga website
resmi kami di www.ecoedu.co.id
ecoedu.co.id
ataupun jika Bapak Ibu langsung berminat
untuk mendaftar, Bapak Ibu silakan saja
untuk mengakses di
pendaftaran.efocedu.co.id.
Nah, selain itu juga kami di sini
terdapat inhouse training yang dapat
dilaksanakan secara offline maupun
online itu tergantung sesuai dengan
permintaan dari instansi ataupun
perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami
tunggu Bapak Ibu di pelatihan kami.
Dan baik Bapak Ibu untuk selanjutnya
kita akan langsung saja masuk pada
kegiatan utama kita yang di mana webinar
kali ini kita akan membahas tentang
mitigasi perubahan iklim melalui sektor
kehutanan dan penggunaan lahan. Dan
tentu saja kami juga sudah meng
menghadirkan narasumber yang sangat
kompeten di bidangnya untuk memberikan
wawasan serta materi yang bermanfaat
ini. Dan mungkin langsung saja saya
memperkenalkan narasumber kita hari ini
yaitu adalah Bapak Dr. Arif Darmawan,
Sphud, M.Sc. Beliau merupakan dosen
jurusan kehutanan di Universitas Lampung
dan kebetulan juga Pak Arif sudah ada di
dalam ruangan Zoom. Mungkin saya akan
menyapanya terlebih dahulu. Selamat pagi
menuju siang, Pak Arif.
Selamat pagi, Mbak
I. Bagaimana kabarnya, Pak Arif hari
ini? Baik sekali. Mohon maaf nih saya
tadi terbirit-birit lari jadi agak
telat. [tertawa]
Aduh, semangat sekali ya, Pak, untuk
memberikan ilmu kepada Eko Edu ini.
Insyaallah. Oke. Baik, mungkin Pak Arif
saya ingin menyampaikan dulu beberapa
teknis yaitu yang pertama untuk
pemaparan akan di untuk pemaparan
dilaksanakan selama 1 jam lalu kemudian
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab
dengan menggunakan aplikasi Slido dan
dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung mungkin sekitar 30
menit. Dan untuk mengefektifkan waktu
saya serahkan ruangan Zoom ini kepada
Pak Arif dan kepada Bapak Ibu semuanya.
selamat mengikuti acara webinar ini.
Baik, terima kasih Mbak moderator. Ee
saya sapa dulu yang ee jadi pemirsa hari
ini. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita
semua.
Em, saya melihat ada banyak sekali ini
ya yang apa
hadir di webinar hari ini. Luar biasa.
Jadi ada berapa nih saya lihat ada 725
ya. Luar biasa itu. Jadi ee saya
pertama-tama mengucapkan terima kasih
atas apa namanya kehormatannya bisa
mengundang saya ee ke acara ini. Karena
biasanya saya lihat juga Eko Edu ini
Mbak kalau tiap bulan gitu ya. [tertawa]
Biasa kalau dosen melihat supaya ada
sertifikatnya juga gitu ya. [tertawa]
Baik, hari ini saya akan coba sampaikan
ee sebenarnya hal umum ya tentang ee
perubahan iklim gitu ya. Nah, karena
em saya di bidang kehutanan makanya saya
akan menyampaikan
ee
beberapa aspek mengenai mitigasi
perubahan iklim melalui sektor kehutanan
dan penggunaan lahan. Begitu. Ee
perkenalkan diri, nama saya Arif
Darmawan. Saya dosen di jurusan
Kehutanan. Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung.
Selain jadi dosen, saya juga dulu pernah
di ee 10 tahun yang lalu ya mungkin 15
tahun yang lalu saya anggota Satgas Red
Plus ya waktu itu di UKP4 di bawah Pak
Kuntoro Mangku Subroto. Kemudian juga
Badan Red Plus. Kemudian juga setelah
itu saya ee sempat menjadi konsultan di
beberapa
apa mitra pembangunan seperti UNDP, FAO,
WWF dan hampir semuanya ee berkaitan
dengan mitigasi perubahan iklim melalui
sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
Jadi ketika saya diminta untuk mengisi
webinar ini, saya akan coba sharing
pengalaman gitu ya. Jadi apa yang
terjadi sebenarnya? Kenapa ee sektor
kehutanan dan penggunaan lahan ini
menjadi isu yang seksi sekarang ya,
terutama terkait dengan mitigasi
perubahan iklim. Baik, kita mulai saja.
Ee outline yang saya akan sampaikan
kira-kira seperti ini ya. Jadi bagian
satu saya akan coba sampaikan isu
perubahan iklim dan akibatnya. Kemudian
bagian dua saya akan bicara mengenai
konvensi perubahan iklim dan komitmen
Indonesia.
Kemudian bagian tiga itu saya akan coba
sampaikan beberapa hal mengenai
sumber-sumber emisi dan serapan
eh GSG ya atau GRK, greenhouse gas
bahasa Inggrisnya, bahasa Indonesianya
gas rumah kaca dari project forest
carbon atau project karbon hutan gitu
ya. Kemudian bagian empat, beberapa
project forest carbon atau volume ee
yang ada dan sukses di Indonesia.
Kemudian bagian lima, bagaimana sih
sebenarnya perkembangan projject forest
carbon saat ini dan prospek ke depannya.
Nah, kita mulai dengan yang pertama ya.
Ini yang sangat dasar dan perlu kita
pahami ketika kita bicara tentang
perubahan iklim, mitigasi, adaptasi, dan
seterusnya gitu ya. Jadi ee yang
mendasari perubahan iklim sebenarnya
pemanasan global ya. Dan ini ketika saya
terangkan di kelas pun banyak yang
bingung ya antara pemanasan global dan
perubahan iklim ya. Sebenarnya itu aksi
reaksi gitu ya. Jadi pemanasan global
itu peristiwa naiknya suhu permukaan
bumi ya. Jadi yang disebabkan oleh efek
rumah kaca ya. Efek rumah kaca itu ee
seperti kita di rumah kaca ya, itu kan
lebih hangat ya. Jadi kalau rumah kaca
itu punya lapisan kaca di atasnya yang
membuat ee cahaya matahari yang masuk ke
bumi itu kemudian dia tidak ee
seluruhnya balik lagi ke
atas ya, ke atmosfer, ke luar bumi, tapi
ada yang tertahan dan balik lagi
sehingga sebagian panas tertahan di
atmosfer oleh gas rumah kaca ya. Jadi
membuat suhu bumi tetap hangat gitu.
Jadi ini yang kita sebut efek rumah kaca
yang disebabkan apa? Yang menyebabkan
kalau di atmosfer ya yang menyebabkan
itu adalah yang kita sebut sebagai gas
rumah kaca ya. Nah gas rumah kaca ini
dulu ya ketika
ee mungkin 50 100 tahun yang lalu itu
bagus ya. Karena dengan adanya rumah
kaca ee ada gas rumah kaca itu membuat
bumi kita hangat ya. Jadi kalau tidak
ada ee gas rumah kaca itu beberapa
penelitian menyebutkan bahwa
di tropis ya di ee apa di bagian tropis
di bumi itu rata-rata suhunya itu
sekitar 16 derajat Celcius ya. Bayangkan
kalau misalnya 16 derajat Celcius di
tropis ee kalau di subtropis berapa ya?
Mungkin bisa minus terus dan itu ee
sangat dingin ya. Artinya gas rumah kaca
itu baik menghangatkan bumi ketika
jumlahnya juga ee tidak berlebihan ya.
Akan tetapi ketika konsentrasi gas rumah
kaca ya CO2, CH4 dan seterusnya dan
kawan-kawannya yang semakin meningkat
ini dia akan membuat
efek rumah kaca ini semakin tebal ya
semakin banyak sehingga menyebabkan
panas bumi yang terperangkap di atmosfer
semakin banyak ya. Jadi inilah yang kita
sebut sebagai pemanasan global jadi
mengakibatkan peningkatan suhu bumi ya.
Jadi ee inilah yang sebenarnya
ee sering jadi isu ya pemanasan global.
Nah,
kalau kita lihat kenapa ee gas rumah
kaca itu meningkat ya? Gas rumah kaca
itu kan sebenarnya ikatan utamanya C ya,
karbon C. Jadi C itu apa? Itu C. C itu
sebenarnya
ikatan organik ya. Semua yang sifatnya C
itu biasanya organik ya, fotosintesis
menghasilkan glukosa itu organik. C6H12
O6 misalnya, kemudian juga daging,
kemudian ee tumbuhan dan segalanya itu
organik. Artinya ee dalam siklus karbon
itu ada beberapa siklus karbon atau
siklus organik itu berkaitan dengan
beberapa proses ya. misalnya
fotosintesis ya. Fotosintesis ini yang
paling penting sebenarnya. Jadi
bagaimana CO2 itu bisa diserap oleh
tumbuhan kemudian ee tumbuhan
mengubah C tadi ke dalam glukosa menjadi
glukosa dan membuat O2 keluar. Artinya
ee O2 itu diperlukan untuk respirasi dan
glukosa itu diperlukan untuk makanan ya.
Nah, ketika glukosa itu terbentuk dan
dikonsumsi ya sehingga akan masuk ke
proses kedua rantai makanan ya. Jadi ee
glukosa akan dikonsumsi oleh makhluk
hidup lainnya ya misalnya herbivora.
Kemudian herbivora ini yang punya ikatan
karbon juga dimakan oleh karnivora ya.
Dan ini membuat sebuah rantai makanan ya
yang juga ee
apa namanya? ada proses respirasi atau
pembakaran ya. Jadi setiap ee makhluk
hidup dia punya proses respirasi artinya
dia menghisap O2 mengeluarkan CO2 kan.
Jadi ini ee rantai makanan dan respirasi
ini berjalan beriringan gitu ya. Nah,
kemudian ketika ee makhluk hidup ini
mati ya dia akan membusuk. Nah,
pembusukan ini akan mengurai
C tadi ke dalam menjadi CO2. Kalau
misalnya terkubur dia CO2 atau C-nya ada
di tanah. Ketika dia ada di permukaan,
dia akan menjadi CO2 dan naik ke
atmosfer.
Ini proses keempat, dekomposisi. Nah,
proses kelima ada pembakaran fosil ya.
Jadi C tadi ikatan C yang didapatkan
dari tumbuhan lampau ya yang berupa batu
bara.
Kemudian ada ee apa namanya?
Ee makhluk hidup atau
binatang-binatang ya yang lampau itu
terkubur dalam tanah. Itu kan kita ambil
ya, kita sedot, kita keluarkan batu
baranya dibakar ya diproses ini.
Kemudian juga fosilnya kita keluarkan
kita bakar. Artinya apa? Pembakaran ini
akan mengeluarkan CO2. CO2 bertambah,
CO2 bertambah dari pembusukan, CO2
bertambah juga dari laut ya. Jadi dari
laut ini ada proses rantai makanan, ada
juga proses fotosintesis yang cukup
besar. Bahkan di laut ini ee
banyak prosesnya cuma ee maksudnya
fotosintesis banyak. Hanya saja ee apa
namanya
untuk penyimpanannya atau reservoir-nya
memang ee apa akan lebih banyak di hutan
gitu ya. reservoir. Artinya ee C ini
disimpan di dalam pohon beratus tahun
gitu ya, ribuan tahun. Sehingga ee
apabila
ini nanti ditebang ini pasti akan ee
menyebabkan atau mengeluarkan C2 ya.
Jadi melepaskan C-nya ke atmosfer lagi.
Jadi artinya apa?
ee proses-proses siklus karbon ini
semuanya ee alami gitu ya, alami ini.
Tapi proses yang manusia atau
antropogenic activities ini yang
menyebabkan
CO2 itu semakin banyak di atmosfer gitu
ya.
Jadi ee proses alami ada, tapi proses
manusia atau antropogenic activities ini
yang menyebabkan ee CO2 semakin banyak.
Artinya pemanasan global juga tidak ee
kalau menurut saya tidak akan ada proses
balik ya. Karena
kita tahu manusia semakin banyak
kebutuhan ya. Misalnya saya di kantor
ini ee merasa
apa namanya? Nyaman ya karena ada AC
misalnya. Kemudian juga ada kita ee bisa
apa webinar seperti ini ada listrik ya.
Listrik itu kan dari banyaknya dari batu
bara ya, AC juga batu bara dan
seterusnya. Jadi ee inilah yang banyak
menyebabkan GRK, antropogenic
activities.
ya. Jadi ee
apa namanya? Aktivitas-aktivitas manusia
yang memang melepas CO2 ke udara.
Misalnya apa? Di bidang energi ya yang
tadi saya bilang ada di pembangkit
listrik ee batu bara, penggunaan batu
bara ya. Kemudian juga di volu
agriculture forestry and other use ini
terkait dengan deforestasi, degradasi,
kemudian juga ee lahan gambut misalnya
ya.
Kemudian juga di sampah juga sama ini
menghasilkan CH4 dan CO2 yang cukup
signifikan. Kemudian juga di IPPU atau
di industri ya ini juga menghasilkan ee
CO2 yang signifikan. Jadi ee
bottom line-nya atau yang perlu kita
garis bawahi adalah antropogenic
activities ini yang menjadi sebab dari
pemanasan global.
Nah, sekarang kita bicara perubahan
iklim. Jadi, kalau kita bicara perubahan
iklim itu sebenarnya dampak ya, dampak
dari pemanasan global. Nah, jadi
kenaikan temperatur bumi berdampak pada
terganggunya keseimbangan iklim bumi
sehingga mempengaruhi berbagai aspek
pada perubahan alam dan kehidupan
manusia seperti kualitas dan kuantitas
air, habitat, hutan, kesehatan, lahan
pertanian, dan ekosistem wilayah
pesisir. Jadi kalau kita lihat ini data
dari dulu saya ambil tahun 2017 ya waktu
itu masih ada istilahnya apa ya
knowledge managemen di dippi ya. Jadi
menyebabkan eh apa ee datanya ee
menyebutkan bahwa suhu rata-rata tahunan
selama 30 tahun mengalami penyimpangan
yang ekstrem dari nilai rata-rata
anomali. Jadi kita bisa lihat ee dulunya
mungkin agak sedikit ee jelas ya.
Kemudian setelah ee 96 itu naik turunnya
sangat ekstrem ya. Ini 2006 ekstrem
kemudian rendah ya. Elnina lanino apa el
Lan lan elninonya kelihatan sangat
ekstrem sekali gitu ya. Nah, kita lihat
sekarang ya, bagaimana
ee bencana-bencana itu bukan bukan kayak
yang mudah-mudah ya, bencana Aceh
misalnya itu kan juga karena ee siklon
yang dulunya tidak pernah ada ya. Kalau
saya tanya ke teman-teman di ee apa
ee
BMKG kita ya sebenarnya siklon itu
dulunya tidak pernah ada tapi jadi ada
gitu. Nah, itu yang yang dulunya tidak
ada, sekarang ada itu makin banyak gitu
ya. Jadi ini yang jadi masalah. Nah,
dampaknya seperti ini ya. Jadi ada
macam-macam yang berkepanjangan ya.
Karhutla berkepanjangan, kekeringan kita
berkepanjangan misalnya. Jadi ada 2015,
2019 itu yang paling parah sebenarnya
saya ee ambil ya. Jadi ee
waktu itu sampai berapa bulan itu ee
Palembang tertutup ee asap ya sampai
kawan saya akhirnya mengungsi dari
Palembang ke Bogor misalnya. Jadi itu ee
dampak dari kebakaran Hutla ee Karutla
ya. Kemudian juga kalau kita lihat di
BNPB itu 60% bencana yang terjadi di
Indonesia sepanjang
202 2014 hingga 2023 itu didominasi
akibat banjir dan tanah longsor disusul
oleh angin puting beliung dan karhutla.
Jadi ini tuh jadi akan semakin banyak
ya. Jadi, Bapak, Ibu kalau sudah bulan
Desember, Januari, Februari itu yang
biasanya kita dulu, wah ini liburan ya
sama anak-anak kita sekarang. Jadi,
waduh ini gimana nih nanti Salat Sunda.
Kalau saya salat Sunda nih pergi jolok
enggak gitu. Jadi ee apa
ee Desember, Januari, Februari itu jadi
banyak yang ekstrem ya ee hujan besar,
kemudian longsor dan seterusnya. ya kita
bisa lihatlah di berita-berita sekarang
gitu.
Nah, kemudian ini dampak perubahan iklim
juga yang sangat ditakutkan ya. Jadi
manusia makin banyak tapi akan
kemungkinan terjadi kerawanan pangan ya.
Bayangkan kalau misalnya ini terjadi
luar biasa ya.
Jadi ee apa namanya? Karena iklim itu
menjadi berubah ya dari sebuah
ee apa namanya? Kebiasaan atau ee
musimannya
misalnya yang harusnya musim hujan kok
masih kemarau, yang harusnya kemarau kok
masih hujan dan seterusnya itu akan yang
paling rawan terganggu adalah pertanian.
Sektor pertanian. Kalau sektor pertanian
terganggu apa akibatnya? Tentu saja ee
kerawanan pangan itu menjadi hal yang
cukup ditakutkan ya. Apalagi kalau ya
apa kalau kita bicara politik sekarang
itu selalu kan wah ini pokoknya pangan
harus ee cukup dan seterusnya suas
sembadalah dan seterusnya. Jadi kalau
kita tidak melihat aspek perubahan iklim
ini, itu juga akan jadi ee
si bukan sia-sia ya, tapi juga tidak
akan efektif ketika kita bicara
sosemedap pangan, pupuk dan seterusnya,
tapi kita tidak melihat aspek perubahan
iklim gitu.
Nah, itu kira-kira ee dampak secara
ee apa ya umum ya dari perubahan iklim.
Jadi ee saya bicara dari perubahan ee
apa pemanasan global, perubahan iklim
dan dampaknya. Nah, sekarang kita bicara
mitigasi dan adaptasi. Ini dua kata yang
ee biasa
kita sampai atau kita dengar ya ketika
ee ada pada situasi
ee yang tidak bisa kita hindari ya.
Misalnya apa? Bencana ya. Bencana itu di
Indonesia itu ring of fire artinya
memang negeri bencana gitu. Sehingga
ketika BNPB bilang mitigasi bencana itu
memang bencana itu tidak bisa dihindari
ya kalau di Indonesia karena memang
sudah pasti ya kira-kira begitu. Nah,
kemudian adaptasi juga sama. Adaptasi
itu karena ya memang bencana sudah pasti
akan terjadi maka kita harus beradaptasi
ya. Nah, sama juga dengan perubahan
iklim. Jadi perubahan iklim itu seperti
saya bilang di awal itu bukan lagi
proses yang bisa dibalik gitu. Apakah
kita bisa balik lagi seperti yang dulu,
Pak? Saya kira akan sulit ya, karena ya
itu tadi yang menyebabkan perubahan
iklim atau e pemanasan global ya itu
sebenarnya
dari antropogenic activities, dari
kebiasaan kita yang sudah berubah ya.
Dulu kita enggak punya handphone,
sekarang handphone listrik kita perlu
banyak, energi perlu banyak, mobil juga
perlu banyak misalnya, dan seterusnya.
Jadi apa yang bisa kita lakukan? Yang
pertama itu mitigasi ya. Jadi mitigasi
dalam konteks perubahan iklim adalah
upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah
kaca ya yang dilepaskan ke atmosfer
untuk menanggulangi dampak perubahan
iklim. Nah, jadi tujuan utama dari
mitigasi itu adalah mengurangi emisi gas
rumah kaca dan memperlambat terjadinya
perubahan iklim dan pemanasan global.
Artinya dengan teknologi apapun kita
coba ya ee misalnya nih ee pembangkit
listrik itu yang tadinya emisinya sekian
ditekan dengan menggunakan teknologi
tertentu atau untuk dari sektor
kehutanan kita akan melakukan penanaman
sekian ribu hektar gitu ya, sekian juta
hektar untuk perubahan iklim atau kita
mengurangi deforestasi sekian ribu
hektar untuk perubahan iklim dan
seterusnya gitu. Jadi ini yang kita
sebut mitigasi. Yang kedua adalah kita
sebut adaptasi ya. Jadi adaptasi adalah
upaya mengurangi dampak negatif
perubahan iklim melalui strategi
antisipasi dan penyesuaian dengan
kondisi atau sistem alam. Jadi adaptasi
ini lebih pada ya udahlah sudah terjadi
perubahan iklim bagaimana kita
beradaptasi ya. Ee biasanya kita pakai
jaket terus ya sudah kita berubah jadi
pakai kemeja saja misalnya setiap hari
gitu ya. Kalau saya juga mungkin seperti
itu ya. Dulunya saya pakai ee apa? Batik
lengan panjang. Sekarang saya tidak suka
batik lengan panjang karena panas ya.
Saya lebih suka batik ee lengan pendek
kalau untuk ke kampus gitu. Jadi itu
upaya adaptasi ya. Tujuan tujuan
utamanya adalah mengurangi kerentanan
dan meningkatkan ketangguhan masyarakat.
Jadi apa saja yang ee kita lakukan untuk
adaptasi tentu saja seperti sistem
informasi cuaca.
Sekarang BMKG luar biasa ya menurut
saya. Loncatan teknologi BMKG selalu
menyampaikan dia juga sudah via apa
namanya aplikasi ya. Kemudian juga
banyak apa wah ini kemungkinan akan ada
apa namanya
ee badai besar misalnya dan seterusnya
itu BMKG luar biasa. sehingga sistem
informasi cuaca ini bisa kita lihat
sebagai upaya adaptasi untuk perubahan
iklim, sistem pertanian, peringatan
dini, dan seterusnya. Jadi, ini dua hal
ya, mitigasi artinya kita tetap berusaha
untuk mengurangi gas rumah kaca ke
atmosfer. Kemudian adaptasi adalah upaya
menyesuaikan diri terhadap perubahan
iklim,
ya gitu.
Nah, ee karena perubahan iklim ini
bersifat global,
makanya ada konvensi perubahan iklim
dunia, ya. Jadi, ada namanya
UNFCC, United Nation Framework
Convention on Climate Change. Jadi,
UNFCC ini punya dua kamar ya, nanti kita
jelaskan ya. ada kamar ee politik ya di
situ ada negara-negara bernegosiasi
untuk ee sebuah apa namanya keputusan
atau kesepakatan perubahan iklim
misalnya kesepakatan Paris yang terakhir
ya itu dihasilkan dari COP atau eh
conference of parties. Ini yang kita
sebut sebagai kamar politik ya,
negara-negara itu bernegosiasi.
Tapi ada juga yang kita sebut sebagai
kamar ee apa namanya?
Kamar researcher atau kamar ilmuwan ya,
ilmuwannya UNFCC namanya IPCC
intergovernmental panel on climate
change. Jadi IPCC itu merupakan kamar
ilmuwannya UNFCC. Jadi, ilmuwan-ilmuwan
di IPCC itu akan menyampaikan
laporan-laporan terbaru tentang
perubahan iklim, dampak, dan seterusnya
yang akan dipakai sebagai bahan kajian
oleh para politisi di COP. Kira-kira
begitu. Nah, dari beberapa COP terakhir
itu yang paling ee
berhasil sebenarnya di Paris ya. ya COP
tahun 21 2015 ini membuat kesepakatan
Paris ya yang kita pakai sampai sekarang
gitu. Jadi ee apa itu Paris agreement
ya. Jadi intinya kesepakatan Paris itu
kalau dulu ee
zamannya Kyoto Protokol itu hanya
negara-negara maju saja yang bertanggung
jawab sama perubahan iklim ya. karena ya
mereka kan industri ya mengeluarkan
emisi banyak dan seterusnya. Tapi
ternyata setelah waktu berjalan negara
berkembang juga ternyata punya ee apa
punya kontribusi banyak dalam perubahan
iklim terutama dari sektor polu ya dari
sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
Jadi banyaknya deforestasi di
negara-negara berkembang itu menjadi isu
yang kemudian
ee diakui juga oleh negara-negara
berkembang ya misalnya Indonesia ya. Oke
kita ngakulah kalau untuk vol kita besar
emisinya nanti kita bisa lihat ya di eh
apa namanya
NDC Indonesia nationally determined
contribution ya. Nah, ee kesepakatan
Paris ini
ee berlaku sampai tahun 2030, Bapak dan
Ibu. Jadi ee ini merupakan kesepakatan
yang paling mengikat ya saat ini dan ini
hampir disepakati oleh semua negara ya,
kecuali beberapa negara kita tahulah
seperti Amerika Serikat yang katanya
menarik diri dan seterusnya gitu ya.
Tapi saya kira ee
memang geopolitik ini juga sangat
mengganggu perubahan iklim gitu ya.
termasuk di Indonesia juga ganti
presiden, ganti kebijakan dan seterusnya
gitu.
Nah, jadi ee seperti saya sebutkan Paris
Agreement itu ee
yang sekarang mengikat ya di
internasional tentang perubahan iklim.
Nah, ee saya coba jelaskan Paris
Agreement, NDC, dan pranegara gitu. Jadi
kita tadi sudah ee apa ee diskusi ya
membahas bahwa kalau zaman dulu
negara-negara maju saja yang menjadi
ee target perubahan apa pengurangan
emisi. Nah, sekarang semua negara itu ee
sebagai aktor utama. Artinya ya semua
negara itu punya hak dan kewajiban untuk
menurunkan emisinya gitu. Jadi gitu ya.
Jadi ee bagaimana caranya ya setiap
negara itu nanti akan mengeluarkan yang
namanya nationally determine
contribution ya ee atau kita sebut NDC
ya NDC. Jadi eh negara akan ee di situ
menyampaikan emisi saya berapa dan
kemudian komitmen saya untuk mengurangi
emisi sampai 2030 berapa gitu ya. Nah
itu kira-kira NDC. Nah, kemudian
di sini ee Paris Agreement ini jelas
mendelegasikan
ee apa
ee kewajiban tiap negara itu ke tiap
negara masing-masing ya. Beda dengan
Kyoto Protokol itu semuanya di
sekretariat ya. Nah, itu akhirnya tidak
begitu menarik. Nah, ketika Paris
Agreement ini setiap negara itu berhak
ee mengatur ya. Jadi aturan main dan
mekanisme mitigasi perubahan iklim di
tiap negara bisa berbeda. Dan ini yang
ngatur adalah negara masing-masing gitu.
Jadi tiap negara harus menyampaikan
bahwa emisi saya itu paling banyak dari
ini ya. Kemudian saya akan melakukan
ini, ini, ini untuk menurunkan emisi dan
seterusnya.
Nah, Indonesia seperti ini Bapak dan
Ibu. Jadi ini saya ambil dari enhance
National Determine Contribution of
Republic Indonesia. Second ya. Yang
kedua, jadi kita menyampaikan kepada
dunia bahwa yang paling banyak emisinya
di Indonesia adalah dari forestry and
other land use. Kita lihat di sini 647
dari 1,3 gigon
ya. Jadi paling tinggi energi nomor du
agrikultur atau pertanian. nomor
Nah, di sinilah kemudian akhirnya ee
apa
kita apa ini komitmen kita. Komitmen
kita menurunkan emisi sebanyak 31,89%
dengan kemampuan sendiri dan 43,2%
apabila mendapatkan bantuan
internasional.
Jadi, kira-kira begitu. Jadi, Indonesia
sudah menyampaikan bahwa emisi yang
terbesar
itu dari forestry, dari kehutanan dan
penggunaan lahan. Makanya
ee mitigasi dari sektor kehutanan dan
penggunaan lahan, mitigasi perubahan
iklim itu menjadi
ee apa ya menjadi sebuah keniscayaan
kalau di Indonesia. Kira-kira begitu.
Nah, kalau komitmennya selain NDC
apalagi sebenarnya sudah banyak yang
dilakukan ya dari mulai Paris agreement
kemudian ee penandatanganan
apa namanya ratifikasi ya pada bulan
November
2016. Kemudian ada eh NDC, update NDC
tahun 2021. Kemudian kita juga ee
menyampaikan LTS LCCR ya. LTS LCCR itu
ee apa ya? Itu kayak ee NDC itu kan
komitmennya. Kalau LTS itu bagaimana
mencapainya gitu step-stepnya kira-kira
begitu ya. Nah, LTC LTS LCCR ini
kemudian ditransformasikan di dalam
negeri menjadi volun neting. Kira-kira
begitu. Jadi voluneting itu sebenarnya
pengejauan tahan dari LTS LCCR gitu.
Nah, ini ee selain proses apa yang
sifatnya negara juga ee tahun 2022 telah
disahkan ee
apa namanya Perpres 98 tahun
2021 kalau enggak salah ya tentang ee
Nek nilai ekonomi karbon. Kemudian juga
ada peraturan lebih detail ya. Jadi ee
sekarang Perpres-nya sudah nomor 110
tahun 2025 ya tentang Nek dan kemudian
juga didetailkan lagi di kehutanan.
Nah, ini dari sisi peraturan dan saya
coba ee apa namanya? Buat garis besarnya
gitu ya. Jadi arah kebijakan utama untuk
mencapai target dari sektor kehutanan
dan penggunaan lahan itu ada dua kalau
saya lihat ya. Yang pertama itu dari
voluneting ini ee sumber pembayarannya
dari RBP ya yang diterima Indonesia dari
Red Plus terutama ya ee ini sekarang
masih berlangsung. Kemudian yang kedua
adalah nilai ekonomi karbon ya. nilai
ekonomi karbon ini ee lebih ke menjaring
pihak swasta untuk berkontribusi lebih
banyak ya untuk mengurangi emisi dan
juga ee bisa membuat ee semacam
ekosistem ya ekosistem untuk ee
perdagangan karbon di dalam negeri dan
juga ke luar negeri. Kira-kira seperti
itu.
Nah, kemudian ee
ee kita akan bicara tadi kita sudah
bicara masalah kebijakan ya, bagaimana
ee apa dari kebijakan internasional
kemudian
ee bagaimana gratifikasi oleh Indonesia
dan bagaimana proses Indonesia dalam ee
apa mendomestikasi atau menjalankan
ee ratifikasi ASI itu ke dalam kebijakan
nasional, kemudian juga bagaimana
implementasinya gitu ya. Nah, ini kita
akan bicara lebih ke teknis ya. Jadi ee
emisi dari kehutanan dan lahan itu
punya standar ya. Bagaimana mengukurnya
dan seterusnya itu berdasarkan buku-buku
ini ya. Jadi sumber-sumber emisi dan
serapan GHG atau greenhouse gas atau GRK
dari sektor kehutanan dan penggunaan
lahan
itu ee berdasarkan
dari
IPCC Guidelines for National National
Genhouse Inventory ya 2006 IPCC 2006
juga ada suplemen eh untuk wetland ya
2013 kemudian juga ada 2013 rev eh
revise supplement
Ods and practice guidance arising from
the Koto protocol. Kemudian 2019
refinement to the 2006 IPCC guidelines
for National Greenhouse gas inventories.
Jadi ini ee bisa dibilang sebagai
buku buku putihnya ya atau standar semua
ee apa
semua metodologi untuk ee menghitung
emisi dari sektor kehutanan dan
penggunaan lahan. Nah, kira-kira seperti
apa secara umum? Ya, secara umum seperti
ini. Jadi, emisi dari ee kehutanan dan
penggunaan lahan itu dibagi
ee menjadi ya sebenarnya lebih banyak
pada perubahan lahan ya. Jadi ee
apa namanya? Lahan itu bisa kita ee apa
namanya? Kita bisa klasifikasikan ke
dalam kehutanan misalnya atau
forestland, cropland ini lahan
pertanian, grassland, lahan padang
rumput, wetland adalah lahan basah.
Kemudian settlement itu adalah ee
pemukiman dan juga other. Nah,
perubahan dari
ee
berbagai tutupan lahan atau penggunaan
lahan ini dia yang kita hitung sebagai
emisinya gitu. Misalnya forest L
remaining forest L itu emisinya zero
gitu ya. L converted to forest L itu
menyerap emisi dan seterusnya ya. CRO
misalnyaing CRO itu tetap emisinya tetap
ada. Kemudian line converted to crop L
itu apakah emisi atau serapan itu eh
yang secara umum ya. Kemudian juga ada
pitosition atau
apa namanya pembusukan dari gambut
kemudian
gambut apa api dari gambut ya. Ini juga
sebenarnya ada dalam buku IPCC tersebut.
Jadi ketika kita mencoba mengkalkulasi
atau menghitung berapa emisi akibat ee
apa namanya
perubahan lahan dan praktik kehutanan,
kita perlu mengacu kepada ee IPCC
guideline ini gitu kira-kira. Nah, ya
kemudian yang lain misalnya wood
harvestate ini juga ada diatur ya.
Misalnya kalau untuk kehutanan kan
ketika kita melakukan logging itu kan
ada kayu yang kita ambil ya. Jadi kayu
itu juga kita harus tahu berapa
persentasenya. Misalnya saya enggak
yakin dari satu pohon yang kita tebang
itu ee 50%-nya itu dipakai tidak saya
tidak yakin gitu ya. Paling banyak tuh
40% ya. 60% itu jadi
waste ya, jadi sampah. Karena ya memang
ee
apa namanya yang kita ambil itu kan
bukan ee pohon yang sudah kotak ya
biasanya, tapi pohonnya masih bulat gitu
ya. Ee dan yang kita ambil itu biasanya
yang sudah ee apa entah jadi vinir ya.
Vinir. Vinir itu yang kita putar rotari,
kemudian kita pakai pisau, kemudian
dibuat vinir gitu ya atau kita buat kayu
gitu. Nah, ini W-nya ada setiap proses
itu gitu. Jadi ee tetap wood harvest
kita hitung karena itu ee apa namanya?
Kayu yang
ee tidak jadi emisi gitu ya. Kira-kira
seperti itu.
Nah, ini bagaimana proses penghitungan
ya. Kita harus tahu ee
apa namanya dalam ee gas rumah kaca pada
volu ini proses yang terjadi seperti apa
misalnya deforestasi ya. Jadi
deforestasi itu misalnya apakah dari
hutan primer menjadi non forest,
kemudian apakah hutan primer menjadi
sekunder, apakah hutan sekunder menjadi
non forest. Kira-kira seperti itu. Nah,
ini ee ketika kita hitung berapa ee
hutan primer yang menjadi non forexest
atau bukan hutan ini ada emisinya gitu.
Kita hitung ada namanya ee faktor emisi
ya. Dan ini berapa primary forest
menjadi non forest itu yang kita sebut
sebagai data aktivitas ya. Jadi ada
beberapa macam ee apa namanya
ee sumber-sumbernya ya misalnya dari
deforestasi, dari degradasi kalau kita
bicara tentang emisi ya. Kalau dari
Ee mohon ditunggu ya Bapak Ibu semuanya
gamb tadi ada kendala ya Pak.
Oh iya ya. Iya, tadi sempat nge-freze.
Oh, mohon maaf yang dibag.
Tapi sekarang sudah aman, Pak. Oh,
iya. Oke, oke.
Iya, silakan dilanjut, Pak.
Ya, baik baik. Mohon maaf ini. Nah, ee
jadi
sampai mana tadi? [tertawa] Jadi hutan
ee hutan
hutan gambut ya yang tidak tersentuh
atau masih alami itu biasanya tidak
mengemisi karena gambutnya itu masih
tergenang gitu ya, tergenang dan yang
membuat gambut itu mengemisi sebenarnya
proses dekomposisi atau pembusukan ya.
Jadinya ee gambut itu karena tergenang
dia ee memang amonia apa CH4-nya dia
tinggi ya tapi CO2-nya masih rendah
gitu. Nah, ketika dia terganggu atau di
di apa ya? Dikonversi biasanya hutannya
juga ditebang. Kemudian juga ada
kanal-kanal ya. Nah, kanal-kanal ini
gunanya untuk menurunkan menurunkan muka
air tanah. Gambut ini akhirnya tidak
tergenang lagi dan kemudian terjadi
proses pembusukan. Nah, pembusukan
inilah yang kemudian membuat CO2
meningkat gitu ya. Jadi, makanya gambut
ini ee gambut kan sebenarnya
ee sangat besar ya menyimpan ee C ya
karbon gitu ya. Jadi ketika dia
tersingkap dan ketika dia mengering maka
proses pembusukan itu membuat gambut itu
ya menjadi C ya menjadi karboni dioksida
gitu ya apalagi kalau terbakar.
Nah, makanya isu gambut ini juga sangat
penting dipelajari ketika kita bicara
masalah ee GRK pada sektor volu gitu.
Nah, kemudian itu masalah teknis ya.
Jadi sebenarnya kalau kita ee jelaskan
tentang bagaimana teknis ee penghitungan
emisi dan seterusnya itu bisa satu
semester sendiri ya. Tapi ee saya cuma
menjelaskan hal-hal umum saja gitu ya.
Nanti kalau misalnya ee tertarik ee
mungkin bisa kita lanjutkan ke ee apa
namanya ee
apa bahasan yang lain gitu yang lebih
detail gitu. Nah, sekarang tadi kita
sudah bicara polosi, teknis. Nah,
sekarang langsung nih proyek karbon
hutan itu apa gitu ya. Jadi sekarang ini
banyak orang bertanya ini proyek karbon
hutan tuh seperti apa gitu.
Nah, sebenarnya ada dua tipe dari proyek
karbon hutan ya. Yang pertama itu proyek
yang sifatnya pengurangan emisi dari
sumbernya dan yang kedua itu ada
peningkatan serapan emisi GRK dari
sektor kehutanan dan tutupan lahan. Nah,
dua dua tema ini seperti apa bedanya?
Nah, kalau yang pertama ini mengurangi
emisi melalui volue. Jadi, kegiatannya
seperti apa?
ini adalah aksi-aksi yang berdampak pada
berkurangnya deforestasi. Kenapa kalau
berkurang deforestasi kita bisa
mengurangi emisi? Tentu saja gitu ya.
Ketika kita mendeforestasi maka eh apa?
Reservoir carbon. Reservoir karbon atau
ya reservoir ya reservoir karbon yang
ada di pohon-pohon itu kan akan kita
lenyapkan ya.
Karena reservoid itu kita hancurkan maka
karbon itu akan menguap ke udara ya.
CO2. Artinya ee deforestas itu pasti
menyebabkan ee apa? Bertambahnya CO2 ke
atmosfer. Jadi kalau kita mengurangi
deforestasi artinya ya kita mengurangi
ee emisi itu keluar dari reservoirnya
gitu juga sama berlaku sama ketika
berkurangnya degradasi hutan itu juga
mengurangi reservoil apa? Mengurangi
emisi ke ee atmosfer. Kemudian
berkurangnya kebakaran hutan dan lahan.
Berkurangnya emisi dari lahan gambut.
Jadi ini yang banyak diminati ya oleh
para pengembang proyek karbon hutan ya.
Karena ya itu tadi ada standarnya yang
membuat ini jadi ee kegiatan-kegiatan
ini menjadi bisnisnya wah gitu ya.
Padahal ya ee seperti misalnya saya
langsung aja ngomong vera ya. Vera itu
banyak juga dikecam ya karena bukan
dikecam ya dikritik ya karena ee apa
namanya bisa ee penurunan emisinya.
Banyak yang bilang bahwa itu fake
emission atau ee sebenarnya tidak tidak
mengurangi emisi sesuai ee hitungan
sebenarnya gitu. tapi ya masih dilakukan
dan ee beberapa project masih melakukan
itu ya walaupun sampai ee sekarang sudah
diganti ya. Dulu ada VM 007 namanya yang
Vera lakukan ee yang Vera keluarkan ya
VM007. Nah, sekarang VM007 ini tidak
berlaku lagi ya, sudah diganti jadi VM
0048 gitu. Jadi ee sekarang orang lebih
suka metodologi konservatif kalau kita
bicara tentang ee proyek karbon hutan
ini gitu. Nah, balik lagi ya. Mohon maaf
saya agak di luar di luar apa konteks.
Jadi ini pengurangan emisi dari
sumbernya ya. ketika kita bisa
mengurangi deforestasi, mengurangi
degradasi hutan, mengurangi kebakaran
hutan dan lahan, mengurangi emisi dari
lahan gambut, itu adalah mengurangi
emisi ya dan bisa mendapatkan
ee kredit
dari ee
dari ya dari standar manaun ya yang
kalau dia bisa mengeluarkan standar
misalnya kalau ya Indonesia ada SRN
namanya ya atau Vera atau plan Vivo dan
seterusnya.
Kemudian yang B adalah peningkatan
serapan ya. Nah, ini penyerapan artinya
aksi-aksi yang berdampak pada
penghutanan kembali atau reforestasi
atau penghuntanan areal bukan hutan.
Kemudian meningkatkan upaya pengelolan
hutan yang lebih lestari. Misalnya
menerapkan praktik reduce impact
logging, sertifikasi hutan, sertifikasi
kayu, dan lain sebagainya. Jadi ini yang
banyak orang pahami. Oh, perubahan apa
ee proyek kerbon hutan itu menanam itu
menanam kembali gitu ya. Betul ya. Dalam
konteks ee apa namanya ee proses yang
kita sebut tadi apa? Fotosintesis ya.
Bertambah fotosintesis dia pasti akan
menyerap. Tapi juga ke dalam konteks
reservoir atau ee penyimpan yang A ini
juga sama ya. Jadi dua kegiatan ini juga
sama-sama proyek karbon hutan ya.
Mengurai deforestasi atau menanam itu
sama-sama mengurangi emisi gitu dalam
konteks ee pengukuran emisi gas rumah
kaca.
Nah, ini ada dua tipe proyek ya dalam
karbon hutan. Jadi yang pertama itu yang
kita sebut proyek jurisdiksi. Yurisdiksi
atau dia itu lebih bersifat
administratif ya. Ee seberapa luas itu
luasnya administratif ya. Yang kedua
adalah proyek tapak atau site. Jadi
perbedaannya
proyek yurisdiksi ini menggunakan batas
proyek secara administratif. Misalnya
proyeknya dilakukan di Kabupaten Avinsi
B. atau di negara semuanya ya. Nah, kita
punya pengalaman nih di provinsi dan ee
negara ya nanti saya akan sampaikan.
Kemudian ada juga proyek tapak ya.
Proyek tapak itu menggunakan batas
proyek secara lokal misalnya batas
kelola hutan, taman nasional, PBPH,
hutan desa, hutan kemasyarakatan dan
seterusnya. Jadi ini biasanya ee
proyeknya lebih kecil dan ee apa
namanya?
ee biasanya ini yang dulu ee orang
pahami sebagai koboy karbon ya. Koboy
karbon. Oh, di sini ada MoU dan
seterusnya. Kita mau bikin karbon dan
seterusnya. Ini sebenarnya proyek tapak
ya. Jadi ee bagaimana dua tipe proyek
ini dilakukan gitu. Nah, ini proyek
yurisdiksi ya. Proyek yurisdiksi ini
sudah kita lakukan sejak tahun
10 sebenarnya ya dalam ee kerja sama
Norway dan Indonesia.
Nah, kemudian juga ee ini apakah sudah
menghasilkan? Sudah ya. Jadi proyek e
green climate fund nasional ini
menghasilkan 103,8
juta US Dollar ya. menurunkan emisi
sebanyak 20,3
juta ton CO2 pada tahun 2014 sampai
2016. Ini dilakukannya seluruh
Indonesia. Kemudian juga eh yurisdiksi
di Kaltim ya namanya Kaltim FCPF Carbon
Fund ya 22 juta eh apa ton CO2
diturunkan tahun 2019 sampai 2024 jumlah
pembayarannya 110 juta US dolar.
Kemudian juga ada di Jambi ya namanya
Jambi Biocarbon Fund itu menurunkan
emisi 14 juta ton CO2 tahun 2020 sampai
2025 yang ee mau di apa diakses sebanyak
70 juta US Do. Nah, dalam konteks
bilateral ada Norway RBP ya, Indonesia
dan Norway ini menurunkan 11,7 juta ton
CO2 tahun 2016 sampai 2017 ee sudah ee
menyerap sebanyak 56 juta US Do. Nah,
tahapan eh untuk Norway ini tahapan
emission reduction tahap 2 sedang dalam
proses verifikasi. Nah, ini kita lihat
ya bagaimana eh
apa FR itu jadi bahan acuan ketika FR
itu forest reference emission level ya.
Nanti silakan bertanya FR itu apa. Tapi
intinya ini adalah baseline yang kita
lakukan untuk ee mengul apa? Apakah
sebuah proyek yang kita lakukan di satu
negara atau satu ee yurisdiksi itu
berhasil atau tidak gitu ya. Yang jelas
harus ee kalau emisi yang sekian
misalnya tahun 2013 kita harus di
bawahnya ya, di bawah emisinya gitu ya.
Jadi ee itu yang menyebabkan ee emisi
kita itu berhasil diturunkan gitu. Nah,
ini proyek yurisdiksi.
Nah, kalau proyek tapak itu apa ya?
Misalnya ini yang paling sukses ya
namanya Rimba Makmur Utama PT RMU seluas
157.000.
75 hektar melalui proyek yang kita sebut
cuttingan mentaya yang terdaftar dalam
vera registri nomor 1477. Ya, ini
lokasinya karbon hutan yang diinisiasi
oleh swasta didominasi oleh izin usaha
pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi
ekosistem ya. Dulu itu ada IUPHHHKRE
sekarang juga namanya PBPH juga ya. Ee
PBPH itu perizinan berusaha pengelolaan
hutan. Jadi, PBPH itu sekarang boleh
melakukan project seperti ini juga ya.
Nah, ini yang paling berhasil ya
mendapatkan pembayaran sekitar 12 juta
US dolar kalau enggak salah ya ee sampai
2020 kemarin ya. Nah, ini ee
mungkin yang sering dicontohkan oleh
pemerintah sehingga membuka ee nilai
ekonomi karbon dan seterusnya.
Nah, ini juga ada proyek tapak yang
sifatnya komunitas ya. Untuk proyek
karbon hutan dengan sel komunitas
misalnya hutan desa atau hutan adat itu
biasanya ee apa ke skema plan vivo ya.
Ini beberapa proyek yang terdaftar di
plan Vivo di Indonesia. Ada Punan Long
Adiu ya, Nangga Lauk, Durian Rambun ya.
Ini ee durian Rambun kalau enggak salah
di Jambi juga ya. Saya saya lupa mohon
maaf kalau lupa. [tertawa]
Jadi oh ini ada ya Durian Rambun Jambi,
proyek bujangraba Jambi, gula-gula
projek singkarak. Ini ada beberapa
projek yang terdaftar dan mereka
menyampaikan bahwa akan menurunkan emisi
dari projject tapak mereka gitu.
Nah, ini yang terakhir. Jadi, semua
proyek-proyek itu harus karena ee balik
ke awal ya, bahwa
pemerintah yang mengatur gitu ya. Nah,
akhirnya pemerintah juga harus
menghitung ya bagaimana proyek
jurisdiksi, bagaimana proyek tapak itu
dilakukan dan menghasilkan berapa emisi
penurunannya gitu. Nah, ada namanya
sistem registri nasional yang mencatat
ya mencatat berapa penurunan emisi yang
dilakukan oleh Indonesia sehingga ini
akan ee nilai atau apa penurunan
emisinya akan menjadi bahan atau
ee apa ya sistem transparansi yang akan
disampaikan ke UNFCC.
bahwa Indonesia menurunkan sekian persen
sesuai dengan NDC atau tidak gitu ya.
Nah, ee SRN merupakan sistem pengelolaan
dan ee pengelolaan penyediaan data dan
informasi berbasis web tentang aksi dan
sumber daya untuk mitigasi perubahan
iklim, adaptasi perubahan iklim, dan Nek
di Indonesia. Jadi ee ini jadi semacam
rumah ya akuntansi besarnya gitu, buku
besarnya penurunan emisi di Indonesia
dari berbagai macam kegiatan.
Nah, kemudian ini mandatnya SRN dalam
Perpres 982021
Nek ya. Jadi fungsi adalah dasar
pengakuan pemerintah atas kontribusi
penerapan NK dalam pencapaian targeti.
Kemudian data dan informasi aksi dan
sumber daya mitigasi penerapan NK upaya
menghindari penghitungan ganda. Ya, ini
yang ee sering menjadi isu juga double
counting ya. Kemudian bahan penelusuran
pengalihan, bahan pertimbangan kebijakan
operasional lebih lanjut sesuai dengan
kebutuhan. Nah, ini juga ee SRN juga
mengeluarkan yang disebut ee SPE,
sertifikat penurunan emisi atau
sertifikat apresiasi. Ini beda lagi.
Kemudian nanti ee ada di karbon
registry-nya gitu. Jadi
Indonesia nanti secara mudah melaporkan
apakah ee bisa menurunkan emisi atau
tidak itu dari sistem SRN ini gitu. Nah,
kalau misalnya Bapak, Ibu mau melihat
sistem registring nasional itu bisa
dilihat di sini sekarang karena dulu di
KLHK, sekarang di KemenLH ya. Ee namanya
srn.kkenemlh.id.
Jadi, kira-kira seperti ini tampak
depannya ya, berapa yang sudah turun
mendaftarkan emisi apa projectnya dan
seterusnya gitu.
Nah, ini yang terakhir ee dari saya,
dari paparan saya. Jadi ee ini murni
pendapat saya ya. Jadi silakan Bapak dan
Ibu punya pendapat masing-masing ya
tentang perkembangan projek forest
karbon saat ini dan prospek ke depannya.
Jadi menurut saya perkembangan forest eh
project forest carbon sampai saat ini
dari aspek regulasi dan kelembagaan
sudah cukup jelas ya. Jadi kelembagaan
jelas ada SRN, ada regulasi juga cukup
mendukung ya pasca Perpres 110 2025
sehingga menjadi penarik atau insentif
sektor swasta untuk melakukan
kajian-kajian awal tentang proyek karbon
hutan. Kemudian dulu ada
ketidakharmonisan antara skema registri
nasional dengan ee skema kredit karbon
yang diusung oleh skema non pemerintah.
Nah, sekarang itu bukan isu utama lagi
karena sudah ada ee apa namanya? Entah
itu
apa istilahnya ya ee mutual recognition
MRA ataupun ada satu lagi istilahnya itu
sudah bisa dilakukan oleh pemerintah.
Kemudian yang ketiga ini penggunaan
standar yang konservatif yang saya
sebutkan tadi. Jadi sekarang mungkin ee
para pengembang proyek akan
ee lebih logik ya ketika mengembangkan
proyek gitu. ini hitungannya seperti
apa, bisnis yang dikeluarkan seperti
apa, apakah masih bisa menguntungkan
atau tidak, gitu. Nah, ini menjadi
pilihan utama para pembeli sertifikat
penurunan emisi gas rumah kaca. Kemudian
Paris Agreement akan berlangsung sampai
2030 dan kemungkinan perdagangan karbon
masih tetap akan berlangsung ya terutama
karena artikel 6 ya itu sudah disetujui.
Artikel 6 itu tentang ee perdagangan
karbon sebenarnya ya baik domestik
maupun internasional ee sebagai
kontribusi sektor swasta dalam aksi
mititigasi perubahan iklim. Walaupun
ketidakpastian pasar akibat kondisi
geopolitik global saat ini menjadi isu
utama ya, terutama bagaimana
ee ya kita tahu sendiri ya ee Amerika
Serikat yang menarik diri kemudian ya
banyak hal lah ya yang terjadi secara
geopolitik dunia ini pasti akan
mempengaruhi
ee Paris Agreement
dan bagaimana Paris Agreement ini akan
apa ee mendapatkan kan atau mencapai
targetnya di tahun 2030.
Mungkin itu saja yang ee saya sampaikan
ya. Mohon maaf kalau kependekan atau
kepanjangan.
Ee apa namanya? Saya rasa masih banyak
hal yang belum saya terangkan, bahkan
juga belum saya pahami dalam ee
menyajikan
presentasi tentang mitigasi perubahan
iklim melalui sektor kehutanan dan
penggunaan lahan ini. Ee oleh sebabnya
saya mohon maaf. Ee saya kembalikan lagi
ke moderator. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Terima kasih banyak kepada Pak Arif atas
pemaparan materinya yang sangat ee
menarik dan juga informatif ini. Dan
kita juga sudah mendengarkan ya, Bapak,
Ibu semuanya. Bagaimana tadi Pak Arif
sudah menjelaskan dari tentang isu
perubahan iklim dan akibatnya, kemudian
sumber-sumber emisi dan serapan GRK dari
Project Forest Carbon hingga
perkembangan project Forest Carbon dan
prospek ke depannya. Dan baik ee untuk
itu kita akan lanjutkan pada acara
selanjutnya yaitu tanya jawab dengan
menggunakan aplikasi Slido terlebih
dahulu. Nah, di sini Pak Arif sudah ada
pertanyaan sekitar
ee 11 pertanyaan, Pak. Mungkin bisa
semua Bapak langsung dijawab saja satu
persatu untuk pertanyaannya.
Dipersilakan, Pak Arif.
Baik, saya jawab yang pertama ya. Apa
tantangan terbesar dalam
mengimplementasikan strategi mitigasi
perubahan iklim di sektor kehutanan saat
ini? Nah, tantangan terbesarnya
sebenarnya membuat ekosistemnya ya. Jadi
ekosistemnya itu belum terbangun
sempurna gitu. Jadi ee seperti misalnya
begini, kita
ee punya banyak
buah yang harus dijual tapi pembelinya
belum ada misalnya begitu. Atau pembeli
sudah ada tapi pembelinya itu punya
standarnya tinggi gitu ya. Misalnya kita
jual jeruk nih, jual jeruknya ada 2 ton
misalnya, tapi yang bisa kejual itu cuma
5 kilo gitu ya, karena tidak ee tidak
standar gitu.
Jadi tantangan terbesarnya sebenarnya
membangun ekosistemnya sendiri gitu.
Jadi ee pembeli dan penjual itu harus ee
apa namanya? Sudah tahu dan ee apa
namanya ya?
Para pengembang proyek juga jangan cuma
mikir wah ini bisnis besar tapi ee tidak
tahu bahwa yang besar itu punya
konsekuensi ya. Kalau misalnya kita
lakukan dengan tidak teliti, kemudian
juga dengan ee metodologi yang cuma apa
dilihat dari ekonomi ya, maksudnya
hitung-hitungan ekonomi di atas meja itu
jarang yang berhasil.
Jadi kira-kira seperti itu. Ee kemudian
tantangan terbesar lain ya tentu saja ee
apa ya
kesadarahuan pememberi apa masyarakat
juga ya kalau menurut saya. Jadi
perubahan iklim dan ee proyek karbon ini
seakan-akan jadi barang gaib istilahnya
ya. Kalau di orang kehutanan itu ini
barang gaib nih gitu ya. Enggak ada
bentuknya gitu. itu sebenarnya ee salah
satu ketidakmauan kita untuk paham gitu.
Sebenarnya yang kita lakukan itu untuk
mitigasi apa gitu ya, kemudian dampaknya
apa dan segala macam gitu. Jadi ee
seperti itu. Jadi ada dua menurut saya.
Yang pertama itu ekosistemnya belum
terbangun. Yang kedua adalah ee
bagaimana juga kita membangun
ee apa ya kesadaran bersama atau
pengetahuannya sama gitu tentang
perubahan iklim dan juga mitigasinya.
Jadi mungkin itu jawaban saya yang
pertama.
Kemudian yang kedua, bagaimana mitigasi
terbaik bagi kawasan hulu Jawa Tengah
seperti kasus gunung Selamet yang
baru-baru ini mengalami longsor.
Ya, jadi ini mungkin dalam konteks ee
mitigasi bencana ya,
namanya anonymus ya. Jadi memang yang
saya sebutkan tadi ee perubahan iklim
dan bencana ini menjadi hal yang tidak
apa ya tidak terelakan ya.
Jadi ee kita dalam tahun-tahun ke depan
itu
cuma bisa mengurangi ya supaya tidak
bertambah ya.
Ee makanya mitigasi itu kita harus eh
adaptasi itu harus kita bangun ya.
Misalnya kalau tahu ee bulan Desember
sampai Februari itu ekstrem cuacanya,
kita harus ee sudah apa menyadar tahukan
masyarakat bahwa ini bulan-bulan bahaya,
ekstrem, dan seterusnya. Itu ee salah
satu ee adaptasi ya. Kemudian juga dari
mitigasi tentu saja ee mitigasi
terbaiknya ya kita tahu kalau Gunung
Selamet itu kan
saya pernah ke Gunung Slamet itu ke Guci
dan segala macamnya itu dari mulai
kuliah dulu ya saya kebetulan di
Banyumas Barat dulu di Perhutani
Banyumas Barat jadi
gundulnya itu banyak gitu Pak ya
[tertawa]
jadi banyak areal-areal tuh yang yang
tidak terpohoni atau pohonnya enggak ada
gitu ya. Nah, itu menurut saya penanaman
itu harus dilakukan ya untuk di daerah
sana gitu. Jadi ya itu mungkin salah
satu aksi mitigasinya gitu. Mungkin itu
ee bisa menjawab. Jadi kalau misalnya
ee belum bisa mohon maaf gitu. Ini yang
kedua.
Kemudian yang ketiga dari Lia, bagaimana
cara menjaga hutan yang sudah ditanam
oleh kelompok Proklim agar tidak
ditebang lagi oleh masyarakat untuk
berkebun dan membangun rumah? Nah, ini
pertanyaan yang sifatnya
social engineering ya. Social
engineering itu artinya kita harus tahu
ee bagaimana mengubah ee
apa ya suatu
kebiasaan masyarakat gitu ya. Jadi
misalnya kita tahu bahwa kalau menanam
jenis A itu pasti akan ditebang ya.
Jadi kalau misalnya kita nanam pohon
pastikan itu sudah sesuai dengan
masyarakat gitu. Jadi masyarakat itu mau
nanam alpuket ya kita sediakan alpuket
gitu. Jangan kita ee masyarakat
penginnya nanam alpuket kita kasih bibit
pinus gitu ya. ya masyarakat nanam aja
tapi ya entah 2 bulan 3 bulan lagi
hilang gitu ya. Jadi ee
ketika kita menanam ya menanam itu
sebuah kegiatan yang bagus ya tapi
banyak yang gagal. Kenapa? Karena
semangat kita hanya menanam gitu bukan
memelihara sampai pohonnya jadi besar
gitu ya.
Nah banyak di ini kritik juga buat orang
kehutanan. Jadi kalau nanam itu harus
tanaman kehutanan gitu ya.
harus kayu jati misalnya. Wah, apa
mahoni.
Nah, kita pikir apakah mahoni itu buat
masyarakat ee menguntungkan gitu ya.
Nah, sekarang kalau saya di Lampung itu
ee di sini sudah mulai apa ya ee
blending gitu ya kebutuhan masyarakat.
Dulu nanam wah segala macamnya tanaman
kehutanan gitu. sekarang sudah blending
ya ditanam ya yang masyarakat pengin
misalnya apa alpuket alpuket juga pohon
ya alpukat sekarang yang menjadi apa ee
banyak digemari kemudian juga ee apa tuh
namanya longan bukan longan ya
lengkeng ya lengkeng itu banyak digemari
bahkan oh saya pengin nanam lengkeng Pak
segala macam jadi ya sudah itu sama-sama
pohon juga gitu buat masyarakat
masyarakat itu menghasilkan mereka akan
ee memelihara
karena ada hasilnya buat ee penghijauan
juga pasti berhasil kan
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:09:23 UTC
Categories
Manage