Resume
goOFQM4syuY • Webinar 137 Mengelola Bahaya dan Risiko Gempa untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Tangguh
Updated: 2026-02-12 02:09:15 UTC

Resume Komprehensif Webinar Eko Edu ke-137

Informasi Umum

  • Tema: Mengelola Bahaya dan Risiko Gempa untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Tangguh
  • Narasumber: Prof. Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc
  • Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung
  • Pakar Geodesi Gempa Bumi
  • Anggota Tim Peta Gempa Indonesia (Pusgen) sejak 2008
  • Peneliti Disaster Risk Financing (6 tahun terakhir, kerja sama dengan Kemenkeu & LPDP)
  • Moderator: Dini (Eko Edu)

BAGIAN 1: Memahami Bahaya Gempa Bumi

Relevansi Topik

Fakta Kunci Penjelasan
Gempa tidak bisa dihentikan Belum ada teknologi untuk menghentikan gempa, letusan gunung api, siklon, atau tsunami
Kerusakan & korban bisa dikurangi Dengan persiapan dan mitigasi yang tepat
Lingkungan sehat = korban lebih sedikit Gempa M6.0 di kota dengan lingkungan baik mengakibatkan korban lebih sedikit
Urbanisasi meningkatkan risiko Di daerah dengan lingkungan tidak baik, urbanisasi menjadi faktor peningkat risiko

Jejak Gempa Dahsyat di Indonesia (Pasca 2000)

Kejadian Korban Jiwa Kerugian Ekonomi Catatan
Gempa & Tsunami Aceh 2004 ~200.000 (Indonesia), ~300.000 (total) Sangat dahsyat Merubah teori dasar gempa bumi; durasi 600 detik (terlama dalam sejarah)
Gempa Yogyakarta 2006 >6.000 ~20 triliun Durasi <20 detik; 29.000 rumah rusak
Gempa Palu 2018 >2.000 (tercatat) Besar Disertai likuifaksi, longsor, robekan tanah
Gempa Cianjur 2022 Ratusan Signifikan Magnitude <5.5 tapi dampak besar karena amplifikasi

Mengapa Gempa Mengakibatkan Korban Besar?

Jawaban: Durasi kejadian sangat pendek (hanya beberapa detik)

Bencana Durasi
Gempa Haiti 2010 60 detik (korban ~300.000)
Gempa Aceh 2004 600 detik (terlama)
Gempa Bam 22 detik (korban 30.000)
Banjir Beberapa minggu
Siklon/Topan Beberapa hari/minggu

Faktor Penyebab Gempa Merusak

  1. Ground Shaking (Goncangan)
    - Dikuantifikasi dengan Peak Ground Acceleration (PGA) atau percepatan maksimal
    - Sudah dapat dihitung sebelum gempa terjadi

  2. Amplifikasi
    - Tanah lunak dan sedimen tebal memperkuat guncangan
    - Penyebab utama kerusakan besar di Jogja 2006 dan Cianjur 2022
    - Produk letusan gunung api membuat tanah halus namun memperkuat goncangan

  3. Likuifaksi
    - Terjadi ketika ada lapisan tanah lunak + aquifer dangkal + goncangan kuat
    - Tanah menjadi cair

  4. Kerentanan Struktur Bangunan

Angka Ajaib: Percepatan Gempa (A)

Rumus dasar: F = m × A (Gaya = massa × percepatan)

Manfaat mengetahui nilai A:
- Merancang bangunan lebih kuat dari gaya gempa potensial
- Menggunakan sistem peredam (damping system)
- Menghitung potensi longsor (A × massa = gaya lereng)
- Menghitung potensi likuifaksi

Contoh penerapan:
- Observatorium Bosscha ITB (dibangun 1923-1926) sudah memiliki sistem penahan gempa sederhana di bagian bawah struktur

Peta Gempa Indonesia

Tahun Keterangan
1983 Peta pertama (untuk infrastruktur strategis)
2002 Update pertama
2010 Update kedua (menjadi SNI)
2017 Update ketiga
2025 Peta terbaru (baru diterbitkan)

Standar Nasional: SNI 1726 (Bangunan Tahan Gempa)


BAGIAN 2: Pembentukan Risiko Bencana

Definisi Risiko

Risiko = Probabilitas terjadinya kerugian

Kata kunci: PROBABILITAS - Risiko bisa terjadi atau tidak terjadi

Komponen Dasar Risiko

RISIKO = f(Hazard, Exposure, Vulnerability)
Komponen Penjelasan Catatan Penting
Hazard (Bahaya) Probabilitas fenomena menghasilkan kerusakan FUNDAMENTAL - jangan dilupakan!
Exposure (Keterpaparan) Atribut lingkungan, nilai aset, karakteristik bangunan Memahami kondisi rumah, fondasi, jumlah lantai
Vulnerability (Kerentanan) Seberapa mungkin aset terpapar bencana Bisa fisik atau sosial
Dampak Hasil simulasi/perhitungan Untuk kesiapsiagaan & evaluasi

Prinsip Penting tentang Peta Risiko

"Tidak ada satu peta risiko yang bisa digunakan untuk seluruh kepentingan"

Kepentingan Rekomendasi Peta
Perencanaan pengurangan risiko bencana (BPBD) Peta risiko BNPB sangat cocok
Infrastruktur oil & gas Perlu peta risiko khusus
Kerusakan hutan akibat longsor Perlu peta risiko khusus
Pembiayaan risiko bencana Perlu modifikasi (fokus kerentanan fisik)

BAGIAN 3: Pembiayaan Risiko Bencana (Disaster Risk Financing)

Mengapa Perlu Skema Pembiayaan Risiko Bencana?

  1. Strategi penanggulangan negatif memperlambat kemajuan
    - Contoh: Gempa Aceh 2004 menghancurkan >100.000 kapal nelayan
    - Gempa Lombok 2018 memperlambat ekonomi pariwisata

  2. Kurangnya sumber daya untuk respon cepat
    - Korban bertambah karena respon terlambat

  3. Pemerintah daerah seringkali tidak mampu membiayai
    - Dana produktif terpaksa dialihkan untuk penanggulangan

Lima Pilar Pembiayaan Risiko Bencana

Pilar Fokus PRB Fokus Pembiayaan Risiko
1. Identifikasi Risiko Dasar mitigasi Dasar perlindungan kerugian ekonomi
2. Pengurangan Risiko Mencegah bencana Menghindari risiko baru pasca bencana
3. Kesiapsiagaan Kapasitas prediksi Kapasitas manajemen krisis
4. Perlindungan Finansial - Menjaga dana produktif
5. Pemulihan Tangguh Build back better Build back better

Empat Prinsip Pembiayaan Risiko Bencana

Prinsip 1: Ketepatan Waktu Pendanaan

Timeline Kebutuhan Dana:
Bantuan/Respon → Recovery → Rekonstruksi
(Kecil)          (Besar)    (Sangat Besar)

"Kecepatan memang penting, tetapi tidak semua sumber daya dibutuhkan sekaligus"

Prinsip 2: Pelapisan Risiko (Risk Layering)

Layer Instrumen Karakteristik
1 Dana Cadangan APBD Mendesak, terbatas
2 APBN Backup APBD
3 Pembiayaan Kontingensi Likuiditas segera pasca bencana
4 Pulling Fund Bencana Dana yang selalu tersedia (di BPDLH Kemenkeu)
5 Transfer Risiko Pengalihan risiko

Prinsip 3: Penyaluran Dana

"Bagaimana dana sampai ke penerima manfaat sama pentingnya dengan dari mana asalnya"

Paradoks: Memiliki dana besar tapi tidak bisa membelanjakannya dengan cepat

Masalah:
- Dana ada tapi tidak bisa cepat diturunkan ke daerah
- Tidak punya pengalaman menyalurkan dana
- Penyaluran dana bencana menjadi sumber persoalan hukum

Prinsip 4: Keputusan Berdasarkan Bukti

Kebutuhan:
- Data pengamatan yang kuat
- Analisis kerugian
- Kemampuan monitoring dan evaluasi


BAGIAN 4: Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan dari Slido

Pertanyaan Jawaban Prof. Irwan
Inovasi teknologi bangunan tahan gempa? 1) Earthquake Early Warning System (berkembang pesat); 2) Damping system (bantalan karet); 3) Bangunan ringan (bambu)
Apakah peta BNPB sudah menggambarkan kondisi risiko gempa? Ya, cocok untuk perencanaan PRB. Untuk keperluan lain perlu peta khusus
Integrasi sensor longsor-gempa dengan IoT? Bisa, perlu menaikkan perhitungan dari batuan dasar ke permukaan + informasi VS30
Potensi gempa di Kalimantan Barat? Ada, tapi magnitud maksimum lebih rendah dari Pulau Jawa
Apakah zona gempa harus dikosongkan? Tidak (kecuali zona robekan/rapture). Yang dilakukan: menyesuaikan bangunan dengan potensi ancaman
Kesiapan infrastruktur Aceh & Padang? Di luar pengetahuan narasumber
Percepatan 0,3g dan 0,6g? 0,3g = Gempa Jogja 2006; 0,6g mungkin di Papua (ada banyak sesar aktif)
Metode adaptasi paling efektif? Meningkatkan literasi - memahami diri sendiri dan kondisi lingkungan

Pertanyaan Langsung

Pak Sugeng (Geologi, Jogja):
- Tentang wali data gempa → Pusgen menggabungkan seluruh kekuatan (BMKG, PVMBG, BRIN, kampus) → Produk menjadi SNI
- Parameter utama: Percepatan (PGA dan Spektral Akselerasi)
- Robekan (rapture) sedang dipertimbangkan untuk ditambahkan

Pak Sultan JB (Makassar):
- Tentang pengelolaan dana bencana yang ideal:
- Setiap daerah HARUS punya alokasi APBD untuk bencana
- Jika tidak cukup → APBN → Pulling Fund (BPDLH)
- Perlu mekanisme pelapisan keuangan

Pak Joko Budi (DLH Kutai Timur):
- Sudah ada tim pengkajian kebutuhan pasca bencana (Jitupasna)
- Prof. Irwan: Bagus, tapi perlu mempertimbangkan probabilitas hazard yang berbeda (banjir 10 tahun vs 25 tahun vs 100 tahun)


Poin-Poin Kunci dan Kesimpulan

Tentang Hazard Gempa:

  1. Percepatan gempa (A) adalah "angka ajaib" untuk mitigasi
  2. Peta gempa Indonesia sudah tersedia dan menjadi SNI
  3. Data percepatan dapat diakses publik melalui aplikasi Pusgen

Tentang Risiko:

  1. Risiko = Probabilitas × Dampak
  2. Memahami hazard adalah FUNDAMENTAL
  3. Tidak ada satu peta risiko untuk semua kepentingan

Tentang Pembiayaan:

  1. Perlu pelapisan instrumen keuangan
  2. Kecepatan penting, tapi perlu endurance jangka panjang
  3. Penyaluran sama pentingnya dengan sumber dana
  4. Pulling Fund Bencana (BPDLH) perlu diperkuat

Tentang Adaptasi:

  1. Kunci utama: Meningkatkan literasi masyarakat dan pengambil kebijakan
  2. Menghidupkan kembali local wisdom (rumah adat yang tahan gempa)
  3. Bangunan disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan meniru negara lain

Penutup Prof. Irwan Meilano

"Langkah untuk pengurangan risiko bencana tidak mudah dan tantangannya akan jauh lebih berat ke depan, apalagi dampak perubahan iklim. Keterlibatan banyak stakeholder menjadi sangat penting, serta upaya memiliki pengetahuan yang baik dan komprehensif dalam memahami bencana."


Catatan: Narasumber dapat dihubungi melalui Instagram (nama: Irwan Meilano) untuk diskusi lebih lanjut tentang penataan kota resilience atau topik terkait.

Prev Next