Resume Komprehensif Webinar Eko Edu ke-137
Informasi Umum
- Tema: Mengelola Bahaya dan Risiko Gempa untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Tangguh
- Narasumber: Prof. Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc
- Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung
- Pakar Geodesi Gempa Bumi
- Anggota Tim Peta Gempa Indonesia (Pusgen) sejak 2008
- Peneliti Disaster Risk Financing (6 tahun terakhir, kerja sama dengan Kemenkeu & LPDP)
- Moderator: Dini (Eko Edu)
BAGIAN 1: Memahami Bahaya Gempa Bumi
Relevansi Topik
| Fakta Kunci | Penjelasan |
|---|---|
| Gempa tidak bisa dihentikan | Belum ada teknologi untuk menghentikan gempa, letusan gunung api, siklon, atau tsunami |
| Kerusakan & korban bisa dikurangi | Dengan persiapan dan mitigasi yang tepat |
| Lingkungan sehat = korban lebih sedikit | Gempa M6.0 di kota dengan lingkungan baik mengakibatkan korban lebih sedikit |
| Urbanisasi meningkatkan risiko | Di daerah dengan lingkungan tidak baik, urbanisasi menjadi faktor peningkat risiko |
Jejak Gempa Dahsyat di Indonesia (Pasca 2000)
| Kejadian | Korban Jiwa | Kerugian Ekonomi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Gempa & Tsunami Aceh 2004 | ~200.000 (Indonesia), ~300.000 (total) | Sangat dahsyat | Merubah teori dasar gempa bumi; durasi 600 detik (terlama dalam sejarah) |
| Gempa Yogyakarta 2006 | >6.000 | ~20 triliun | Durasi <20 detik; 29.000 rumah rusak |
| Gempa Palu 2018 | >2.000 (tercatat) | Besar | Disertai likuifaksi, longsor, robekan tanah |
| Gempa Cianjur 2022 | Ratusan | Signifikan | Magnitude <5.5 tapi dampak besar karena amplifikasi |
Mengapa Gempa Mengakibatkan Korban Besar?
Jawaban: Durasi kejadian sangat pendek (hanya beberapa detik)
| Bencana | Durasi |
|---|---|
| Gempa Haiti 2010 | 60 detik (korban ~300.000) |
| Gempa Aceh 2004 | 600 detik (terlama) |
| Gempa Bam | 22 detik (korban 30.000) |
| Banjir | Beberapa minggu |
| Siklon/Topan | Beberapa hari/minggu |
Faktor Penyebab Gempa Merusak
-
Ground Shaking (Goncangan)
- Dikuantifikasi dengan Peak Ground Acceleration (PGA) atau percepatan maksimal
- Sudah dapat dihitung sebelum gempa terjadi -
Amplifikasi
- Tanah lunak dan sedimen tebal memperkuat guncangan
- Penyebab utama kerusakan besar di Jogja 2006 dan Cianjur 2022
- Produk letusan gunung api membuat tanah halus namun memperkuat goncangan -
Likuifaksi
- Terjadi ketika ada lapisan tanah lunak + aquifer dangkal + goncangan kuat
- Tanah menjadi cair -
Kerentanan Struktur Bangunan
Angka Ajaib: Percepatan Gempa (A)
Rumus dasar: F = m × A (Gaya = massa × percepatan)
Manfaat mengetahui nilai A:
- Merancang bangunan lebih kuat dari gaya gempa potensial
- Menggunakan sistem peredam (damping system)
- Menghitung potensi longsor (A × massa = gaya lereng)
- Menghitung potensi likuifaksi
Contoh penerapan:
- Observatorium Bosscha ITB (dibangun 1923-1926) sudah memiliki sistem penahan gempa sederhana di bagian bawah struktur
Peta Gempa Indonesia
| Tahun | Keterangan |
|---|---|
| 1983 | Peta pertama (untuk infrastruktur strategis) |
| 2002 | Update pertama |
| 2010 | Update kedua (menjadi SNI) |
| 2017 | Update ketiga |
| 2025 | Peta terbaru (baru diterbitkan) |
Standar Nasional: SNI 1726 (Bangunan Tahan Gempa)
BAGIAN 2: Pembentukan Risiko Bencana
Definisi Risiko
Risiko = Probabilitas terjadinya kerugian
Kata kunci: PROBABILITAS - Risiko bisa terjadi atau tidak terjadi
Komponen Dasar Risiko
RISIKO = f(Hazard, Exposure, Vulnerability)
| Komponen | Penjelasan | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Hazard (Bahaya) | Probabilitas fenomena menghasilkan kerusakan | FUNDAMENTAL - jangan dilupakan! |
| Exposure (Keterpaparan) | Atribut lingkungan, nilai aset, karakteristik bangunan | Memahami kondisi rumah, fondasi, jumlah lantai |
| Vulnerability (Kerentanan) | Seberapa mungkin aset terpapar bencana | Bisa fisik atau sosial |
| Dampak | Hasil simulasi/perhitungan | Untuk kesiapsiagaan & evaluasi |
Prinsip Penting tentang Peta Risiko
"Tidak ada satu peta risiko yang bisa digunakan untuk seluruh kepentingan"
| Kepentingan | Rekomendasi Peta |
|---|---|
| Perencanaan pengurangan risiko bencana (BPBD) | Peta risiko BNPB sangat cocok |
| Infrastruktur oil & gas | Perlu peta risiko khusus |
| Kerusakan hutan akibat longsor | Perlu peta risiko khusus |
| Pembiayaan risiko bencana | Perlu modifikasi (fokus kerentanan fisik) |
BAGIAN 3: Pembiayaan Risiko Bencana (Disaster Risk Financing)
Mengapa Perlu Skema Pembiayaan Risiko Bencana?
-
Strategi penanggulangan negatif memperlambat kemajuan
- Contoh: Gempa Aceh 2004 menghancurkan >100.000 kapal nelayan
- Gempa Lombok 2018 memperlambat ekonomi pariwisata -
Kurangnya sumber daya untuk respon cepat
- Korban bertambah karena respon terlambat -
Pemerintah daerah seringkali tidak mampu membiayai
- Dana produktif terpaksa dialihkan untuk penanggulangan
Lima Pilar Pembiayaan Risiko Bencana
| Pilar | Fokus PRB | Fokus Pembiayaan Risiko |
|---|---|---|
| 1. Identifikasi Risiko | Dasar mitigasi | Dasar perlindungan kerugian ekonomi |
| 2. Pengurangan Risiko | Mencegah bencana | Menghindari risiko baru pasca bencana |
| 3. Kesiapsiagaan | Kapasitas prediksi | Kapasitas manajemen krisis |
| 4. Perlindungan Finansial | - | Menjaga dana produktif |
| 5. Pemulihan Tangguh | Build back better | Build back better |
Empat Prinsip Pembiayaan Risiko Bencana
Prinsip 1: Ketepatan Waktu Pendanaan
Timeline Kebutuhan Dana:
Bantuan/Respon → Recovery → Rekonstruksi
(Kecil) (Besar) (Sangat Besar)
"Kecepatan memang penting, tetapi tidak semua sumber daya dibutuhkan sekaligus"
Prinsip 2: Pelapisan Risiko (Risk Layering)
| Layer | Instrumen | Karakteristik |
|---|---|---|
| 1 | Dana Cadangan APBD | Mendesak, terbatas |
| 2 | APBN | Backup APBD |
| 3 | Pembiayaan Kontingensi | Likuiditas segera pasca bencana |
| 4 | Pulling Fund Bencana | Dana yang selalu tersedia (di BPDLH Kemenkeu) |
| 5 | Transfer Risiko | Pengalihan risiko |
Prinsip 3: Penyaluran Dana
"Bagaimana dana sampai ke penerima manfaat sama pentingnya dengan dari mana asalnya"
Paradoks: Memiliki dana besar tapi tidak bisa membelanjakannya dengan cepat
Masalah:
- Dana ada tapi tidak bisa cepat diturunkan ke daerah
- Tidak punya pengalaman menyalurkan dana
- Penyaluran dana bencana menjadi sumber persoalan hukum
Prinsip 4: Keputusan Berdasarkan Bukti
Kebutuhan:
- Data pengamatan yang kuat
- Analisis kerugian
- Kemampuan monitoring dan evaluasi
BAGIAN 4: Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan dari Slido
| Pertanyaan | Jawaban Prof. Irwan |
|---|---|
| Inovasi teknologi bangunan tahan gempa? | 1) Earthquake Early Warning System (berkembang pesat); 2) Damping system (bantalan karet); 3) Bangunan ringan (bambu) |
| Apakah peta BNPB sudah menggambarkan kondisi risiko gempa? | Ya, cocok untuk perencanaan PRB. Untuk keperluan lain perlu peta khusus |
| Integrasi sensor longsor-gempa dengan IoT? | Bisa, perlu menaikkan perhitungan dari batuan dasar ke permukaan + informasi VS30 |
| Potensi gempa di Kalimantan Barat? | Ada, tapi magnitud maksimum lebih rendah dari Pulau Jawa |
| Apakah zona gempa harus dikosongkan? | Tidak (kecuali zona robekan/rapture). Yang dilakukan: menyesuaikan bangunan dengan potensi ancaman |
| Kesiapan infrastruktur Aceh & Padang? | Di luar pengetahuan narasumber |
| Percepatan 0,3g dan 0,6g? | 0,3g = Gempa Jogja 2006; 0,6g mungkin di Papua (ada banyak sesar aktif) |
| Metode adaptasi paling efektif? | Meningkatkan literasi - memahami diri sendiri dan kondisi lingkungan |
Pertanyaan Langsung
Pak Sugeng (Geologi, Jogja):
- Tentang wali data gempa → Pusgen menggabungkan seluruh kekuatan (BMKG, PVMBG, BRIN, kampus) → Produk menjadi SNI
- Parameter utama: Percepatan (PGA dan Spektral Akselerasi)
- Robekan (rapture) sedang dipertimbangkan untuk ditambahkan
Pak Sultan JB (Makassar):
- Tentang pengelolaan dana bencana yang ideal:
- Setiap daerah HARUS punya alokasi APBD untuk bencana
- Jika tidak cukup → APBN → Pulling Fund (BPDLH)
- Perlu mekanisme pelapisan keuangan
Pak Joko Budi (DLH Kutai Timur):
- Sudah ada tim pengkajian kebutuhan pasca bencana (Jitupasna)
- Prof. Irwan: Bagus, tapi perlu mempertimbangkan probabilitas hazard yang berbeda (banjir 10 tahun vs 25 tahun vs 100 tahun)
Poin-Poin Kunci dan Kesimpulan
Tentang Hazard Gempa:
- Percepatan gempa (A) adalah "angka ajaib" untuk mitigasi
- Peta gempa Indonesia sudah tersedia dan menjadi SNI
- Data percepatan dapat diakses publik melalui aplikasi Pusgen
Tentang Risiko:
- Risiko = Probabilitas × Dampak
- Memahami hazard adalah FUNDAMENTAL
- Tidak ada satu peta risiko untuk semua kepentingan
Tentang Pembiayaan:
- Perlu pelapisan instrumen keuangan
- Kecepatan penting, tapi perlu endurance jangka panjang
- Penyaluran sama pentingnya dengan sumber dana
- Pulling Fund Bencana (BPDLH) perlu diperkuat
Tentang Adaptasi:
- Kunci utama: Meningkatkan literasi masyarakat dan pengambil kebijakan
- Menghidupkan kembali local wisdom (rumah adat yang tahan gempa)
- Bangunan disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan meniru negara lain
Penutup Prof. Irwan Meilano
"Langkah untuk pengurangan risiko bencana tidak mudah dan tantangannya akan jauh lebih berat ke depan, apalagi dampak perubahan iklim. Keterlibatan banyak stakeholder menjadi sangat penting, serta upaya memiliki pengetahuan yang baik dan komprehensif dalam memahami bencana."
Catatan: Narasumber dapat dihubungi melalui Instagram (nama: Irwan Meilano) untuk diskusi lebih lanjut tentang penataan kota resilience atau topik terkait.