Transcript
goOFQM4syuY • Webinar 137 Mengelola Bahaya dan Risiko Gempa untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Tangguh
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0171_goOFQM4syuY.txt
Kind: captions
Language: id
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi menjelang
siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan
sekalian. Selamat datang kembali di
webinar Ekoed EDU ke-137.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semuanya yang sudah selalu setia
untuk mengikuti acara webinar ini. Dan
hari ini webinar Eko Edu akan mengangkat
tema mengelola bahaya dan resiko gempa
untuk membangun lingkungan yang lebih
tangguh. Dan perkenalkan saya Dini yang
akan bertugas sebagai moderator pada
acara ini. Dan baik Bapak Ibu semuanya
sebelum memulai webinar pada siang ini,
alangkah baiknya kita berdoa
bersama-sama dengan sesuai dengan agama
dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu
berdoa dipersilakan.
Berdoa dicukupkan. Untuk selanjutnya
mari kita menyanyikan lagu Indonesia
Raya secara bersama-sama. Diharapkan
kepada Bapak Ibu untuk duduk.
[musik]
Baik Bapak, Ibu semuanya, untuk
selanjutnya izinkan saya mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami
ee yaitu yang pertama adalah pelatihan
dan sertifikasi operator pengumpulan
limbah B3 atau OPM LB3 gelombang pertama
yang akan dilaksanakan pada tanggal 15
hingga 19 Desember 2025. Adapun biaya
investasinya sebesar Rp6.500.000.
Kemudian pada selanjutnya yaitu kami
akan mengadakan pelatihan perhitungan
emisi gas rumah kaca atau GRK dan
perdagangan karbon gelombang 2022
gelombang 22. pada tanggal 5 sampai
dengan 9 Januari 2026. Dan untuk biaya
investasinya yaitu sebesar Rp3.600.000.
Namun apabila Bapak Ibu melakukan
pembayaran sampai dengan tanggal 26
Desember 2025 ee Bapak Ibu akan
mendapatkan harga spesial yaitu di early
bird di harga Rp3.300.000.
Lalu kemudian selanjutnya ini pada
tanggal yang sama yaitu 5 sampai dengan
9 Januari 2026 kami di sini akan
mengadakan pelatihan dan sertifikasi
penanggung jawab pengendalian pencemaran
air atau PPPA gelombang 4 yang di mana
biaya investasinya itu sebesar
Rp8.500.000.
Namun Bapak Ibu akan mendapatkan diskon
10%
apabila Bapak Ibu melakukan pembayaran
sampai dengan 4 Januari 2026.
Dan untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi admin kami di Anto dan Nisa.
Dan Bapak Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yaitu ada Instagram,
YouTube channel, Facebook dan juga
website resmi kami di www.edu.co.id.
Dan juga Bapak Ibu yang tertarik
langsung untuk mendaftar, silakan
langsung akses saja di
pendaftaran.ecoedu.co.id.
Dan selain itu juga kami di sini
terdapat inhouse training yang dapat
dilakukan secara offline maupun online
sesuai dengan permintaan dari instansi
dan perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi
kami tunggu Bapak Ibu semua di pelatihan
dan baik Bapak Ibu untuk selanjutnya
kita akan langsung saja masuk pada
kegiatan utama kita yang di mana webinar
kali ini kita akan berdiskusi mengenai
mengelola bahaya dan risiko gempa untuk
membangun lingkungan yang lebih tangguh.
Dan di sini juga kami telah menghadirkan
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya. Dan langsung saja saya
memperkenalkan narasumber kita hari ini
yaitu adalah Prof. Dr. Irwan Meilano,
ST, M.Sc. Beliau merupakan guru besar
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian di
Institut Teknologi Bandung. Dan mungkin
saya akan menyap terlebih dahulu.
Selamat pagi menjelang siang, Prof.
Irwan.
Selamat pagi, Mbak Dini. Terima kasih
untuk undangannya. Mudah-mudahan suara
saya bisa terdengar dengan baik.
Ya, terdengar dengan baik, Prof. Ya.
Baik, Prof. Mungkin ee di sini sebelum
kita mulai, izinkan saya untuk
menyampaikan beberapa teknis terlebih
dahulu. Yaitu yang pertama untuk
pemaparan dilaksanakan selama 1 seteng
jam, kemudian nanti dilanjutkan dengan
sesi tanya jawab menggunakan aplikasi
Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya
jawab secara langsung. Baik, untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Prof. Irwan dan
kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat
mengikuti acara webinar ini.
Baik, ee terima kasih. Selamat pagi
Bapak Ibu sekalian.
Ee
ee semoga Anda semua dalam Bapak Ibu
dalam keadaan sehat.
Ee
pagi ini ee saya akan mendiskusikan
beberapa topik yang didasakan semakin
relevan.
ee terutama
sesudah kita menyaksikan bagaimana
kerugian ekonomi, dalam lingkungan,
kerusakan, bahkan korban jiwa yang
diakibatkan oleh bencana
ee di Sumatera beberapa hari terakhir.
dan ee mari kita sama-sama untuk
ee terus mendukung agar
ee upaya penanggulangan
bisa berlangsung dengan baik dan lebih
penting dari itu agar bencana ini tidak
terulang di masa depan.
Saya akan coba sharing slide saya.
Mohon diinformasikan apabila
ee slide-nya sudah terlihat,
belum terlihat, ataupun
apabila slide-nya tidak terlihat secara
utuh.
Ee sudah full screen ya, Prof. Oke.
Oke. Baik, terima kasih.
Sebentar saya coba perbaiki.
Baik ee Bapak Ibu sekalian ee sebelum
memulai ee paparan izinkan saya
memperkenalkan diri terlebih dahulu
untuk memberikan
ee background dan mungkin apabila ada
potensi kerja sama ke depan dengan
senang hati nanti ee kita bisa
berkolaborasi.
Ee seperti yang tadi dijelaskan oleh Ibu
Deni, nama saya Irwan Melano. Ee
saya guru besar dalam bidang ee geisi
gempa bumi.
Dan selama pendidikan ee yang telah saya
lalui, saya berfokus pada ee aspek ee
geodetik untuk keperluan kebencanaan
khususnya ee kebencanaan ee gempa bumi.
ee sejak saya menyelesaikan studi
S3 di tahun 2006
ee
dalam 20 tahun terakhir saya telah
melakukan penelitian
terutama yang terkait dengan
membuat ee model gempa bumi berdasarkan
ee data pengamatan geodetik.
kemudian ee terlibat dalam membangun
peta gempa Indonesia atau Sesmik Hazard
Analysis Map atau kota sering disebut
sebagai peta SPSHA
yang menjadi dasar pembangunan
infrastruktur di Indonesia ee menjadi
anggota tim peta gempa Indonesia sejak
tahun 2028 sampai sekarang.
Dan dalam 6 tahun terakhir saya tertarik
dengan penelitian yang
menghubungkan antara ee sumber gempa
ee hazat gempa,
dampak kerusakan gempa, dan kerugian
ekonomi dalam topik yang disebut sebagai
disaster risk financing.
Eh, topik disaster risk financing akan
masuk ke dalam bahasan diskusi hari ini.
Jadi, selain membahas mengenai ee
potensi gempa, dampak gempa, saya akan
memberikan
ee
ee akan memberikan penjelasan yang cukup
detail terkait dengan ee disa financing.
Bapak, Ibu sekalian ee mengapa topik ini
relevan? mengapa kita ee
penting untuk membahas topik ini hari
ini
dengan beberapa
dengan beberapa argumentasi. Yang
pertama bahwa
ee sampai saat ini kita tidak bisa
menghentikan kejadian gempa. Belum ada
teknologi yang membuat gempa tidak
terjadi.
Tetapi kita paham bahwa kerusakan dan
korban
bisa dikurangi secara signifikan pada
saat kita memiliki persiapan yang baik.
Jadi walaupun gempa tidak bisa
dihentikan
seperti layaknya juga letusan gunung api
kita tidak bisa menghentikan letusan
gunung api seperti layaknya cyclon ee
kita tidak bisa menghentikan cyclon
tsunami kita tidak bisa menghentikan
tsunami tetapi kerusakan dan korban jiwa
akibat bencana tersebut bisa dikurangi
secara signifikan
serta kerugian ekonomi apabila apabila
kita memiliki persiapan dan mitigasi
yang tepat.
Kemudian ee fakta yang kedua
bahwa
lingkungan yang baik, lingkungan yang
sehat akan membawa korban yang lebih
sedikit.
Kita seringki menyaksikan bahwa ee gempa
dengan kekuatan yang sama di lokasi yang
berbeda akan mengakibatkan
akan menghasilkan jumlah korban yang
berbeda.
gempa dengan magnitude.
Enam di suatu kota yang memiliki
lingkungan yang baik, tidak
mengakibatkan korban jiwa yang besar
dibandingkan di daerah dengan lingkungan
yang kurang baik.
Curah hujan yang tinggi sama-sama di
atas 300 mili.
Tetapi di suatu wilayah dengan kondisi
lingkungan yang baik, lingkungan yang
sehat tidak akan mengakibatkan banjir,
longsor. Tetapi di lingkungan yang
kurang sehat, bahkan lebih rendah dari
angka tersebut bisa mengakibatkan banjir
dan longsor yang besar.
Dan ini membawa kita pada diskusi bahwa
tata ruang yang baik, infrastruktur yang
baik, dan perencanaan yang adaptif di
bisa mengurangi
dampak dari ee bencana.
Kemudian ada fakta yang penting sekali
untuk kita diskusikan.
Kita bisa melihat bahwa kecepatan
urbanisasi
meningkatkan risiko.
Tidak di semua kota, tetapi pada daerah
dengan lingkungan yang tidak baik, maka
urbanisasi menjadi faktor yang
menyebabkan risiko semakin tinggi.
Untuk itu, maka diskusi hari ini menjadi
sangat relevan. Mengapa bahaya dan
risiko gempa?
Mengapa bahaya dan risiko gempa sangat
penting untuk kita kelola untuk
membangun lingkungan yang lebih tangguh?
Lingkungan yang
pada saat terjadi gempa kemudian tidak
menjadi bencana. Jadi tidak harus bahwa
kejadian gempa menjadi bencana.
Tidak menjadi keharusan bahwa curah
hujan tinggi tropis menjadi bencana pada
saat kita bisa mengelola bahaya dan
risiko
dengan baik melalui pembangunan
lingkungan yang lebih tangguh.
Mari kita ee pelajari sama-sama
bagaimana ee jejak gempa di Indonesia
dan dampaknya.
kita bisa memulai walaupun sebetulnya
jejak gempa di Indonesia jauh sangat
lama. kita pernah catatan, kita pernah
memiliki ee kita pernah memiliki catatan
gempa bahkan
lebih tua dari usia republik ini. Ee
kita pernah milik catatan di tahun
1800-an
bagian dari utara Jakarta di kota tua
itu pernah hancur akibat gempa bumi.
Kota Cirebon pernah hancur juga akibat
gempa bumi. Kota Semarang, kota
Surabaya, kota Bandung di tahun 1800-an
pernah mengalami gempang.
Begitu pula kota-kota di Sumatera. Kita
pernah memiliki kerajaan yang sangat
besar, kerajaan Samudra Pasai yang
bahkan ee informasinya
ee
bahkan informasinya
ee
memiliki duta besar sampai ke negeri
Cina.
Kemudian kita tidak bisa melihat di mana
jejak dari kerajaan besar tersebut. Kita
tidak bisa melihat bagaimana
sisa peradaban dari
sisa dari peradaban besar tersebut.
Kemungkinan besar kerajaan Samudra Pas
hancur akibat bencana gempa dan bencana
tsunami. Tapi mari kita lihat ee
beberapa gempa yang terjadi sesudah
tahun 2000. Misalnya gempa Aceh 2004,
jumlah korban jiwa mendekati 300.000 di
berbagai negara. Di Indonesia saja
mendekati 200.000
dengan kerugian ekonomi yang sangat
dahsyat. Nanti kita akan sedikit
membahas lebih detail kejadian gempa
ini. Kedua yaitu gempa Yogyakarta. Gempa
yang berlangsung
kurang dari 20 detik tapi mengakibatkan
lebih dari 6.000 korban jiwa.
29.000 rumah rusak dan mengakibatkan
kerugian ekonomi mendekati 20 triliun.
Begitu pula gempa palu 2018
menghasilkan tidak hanya gempa tetapi
juga tikifaksi
tanah longsor
robekan tanah yang secara signifikan
mengakibatkan korban jiwa lebih dari
yang tercatat lebih dari 2000 jiwa tapi
mungkin yang tidak tercatat lebih dari
itu. Setelah itu gempa Cianjur 2022,
gempa dengan magnitud yang sangat kecil
di bawah 5,5 tetapi mengakibatkan
korban jiwa. Jadi kita bisa melihat
bahwa kerugian ekonomi akibat bencana
khususnya gempa bumi
berdampak sangat dahsyat untuk wilayah
kita.
Untuk itu, Bapak Ibu sekalian, maka ee
saya akan membahas pat.
Tetapi penekanan ee akan diberikan dalam
ee untuk membahas tiga hal saja, tapi
saya siapkan empat hal. Nanti kita lihat
ee waktunya apakah mungkin kita membahas
keseluruhan karena saya berharap untuk
bisa lebih banyak diskusi dengan Bapak
Ibu sekalian.
ee saya akan memberikan waktu di setiap
akhir dari satu sesi untuk membuka
diskusi
ee
agar kemudian Bapak Ibu tidak lupa ee
walaupun nanti di akhir apabila waktunya
masih ada kita akan membuka juga sesi
diskusi.
Saya bagi menjadi empat bagian yaitu
yang sangat mendasar bagaimana memahami
bahaya gempa bumi. sedikit menjelaskan
beberapa konsep teoritis mekanisme gempa
bumi. Saya akan jelaskan dengan mudah.
Kemudian saya akan membahas bagaimana
risiko gempa bumi didefinisikan.
Kemudian akan sedikit membahas ee
walaupun tidak secara langsung bagaimana
menghubungkan antara ee penelitian gempa
bumi dengan pembangunan yang
berkelanjutan.
Dan yang terakhir saya akan membahas
cukup banyak ee topik baru yang ee yang
ingin saya perkenalkan ke banyak pihak,
yaitu eh pbiayaan risiko bencana atau
disaster risk financing and insurance.
Eh, topik yang sangat baru eh merupakan
kerja sama kami dengan Kementerian
Keuangan yang didukung oleh LPDP. Baik,
ee izinkan saya untuk membahas topik
yang pertama, bagaimana memahami bahaya
gempa bumi.
Untuk membahas topik yang pertama, ee
izinkan saya untuk memperlihatkan
kembali foto yang diambil di tahun 2000
akhir 2024 yang menggambarkan bagaimana
tsunami berdampak sangat dahsyat di
Provinsi Aceh. Bapak, Ibu bisa melihat
di kejauhan ada garis pantai dan Bapak
Ibu bisa menduga bahwa lokasi ini
terletak jauh dari garis pantai tapi
dekat dengan ee muara sungai ee berjarak
kira-kira 2 kilo dari garis pantai. Dan
Bapak Ibu bisa melihat
kerusakan yang sangat luar biasa akibat
tsunami.
Ee perlu diketahui bahwa bencana gempa
tsunami 2024
merubah teori dasar gempa bumi, merubah
banyak aspek mengenai gempa bumi,
termasuk merubah ee diri saya sendiri.
Jadi saya awalnya belajar program doktor
di Jepang mengenai Gunung Api. Tetapi
tahun 2024 saat itu saya adalah
mahasiswa program doktor. Tahun kedua
saya baru masuk tahun kedua program
doktor. Dan kemudian saya memutuskan
untuk merubah topik riset saya menjadi
ee lebih pada gunung api,
lebih pada gempa bumi daripada gunung
api. Bapak, Ibu sekalian mungkin pernah
melihat gambar ini. Ini bisa dilihat ini
adalah gampa citer satelit yang sebelah
kiri di Januari 2023 yang sebelah kanan
akhir Desember 2024. Bisa melihat
bagaimana kerusakan rumah yang berjarak
lebih dari 2 kilo dari garis pantai.
Tidak hanya rumahnya yang rusak,
lingkungannya pun hancur. Tidak ada satu
bangunan yang bisa bertahan, semuanya
hancur. Dan saya survei ke lokasi ini di
bulan Maret, 4 bulan sesudah kejadian.
Dan kita bisa melihat dengan mata kepala
sendiri bagaimana dampak kerusakan. Mari
saya coba perlihatkan bagaimana dampak
kerugian ekonomi akibat bencana. Jadi
Bapak Ibu bisa melihat salah satu dampak
terdahsyat dari bencana adalah gempa
bumi. Jadi saya kumpulkan dalam ee 20
tahun sejak tahun 2000. Bencana apa saja
ya yang kemudian berdampak sangat serius
di muka bumi ini? Yang nomor satu adalah
gempa bumi. Kerugiannya lebih dari 5.000
triliun. Yang artinya apabila gempa bumi
ee di Jepang ini ee terjadi di
Indonesia, maka kita harus meriset
kembali sejarah kita karena kerugian
ekonominya tiga kali lebih besar
daripada ee PDB kita, daripada maaf
daripada APBN kita. Jadi bayangkan
daripada uang yang kita miliki
kerugiannya jauh lebih besar.
Iya. Kemudian setelah itu eh diikuti
oleh hurikin ataupun topan dahsyat
terjadi di terutama di Amerika. Setelah
itu banjir di Thailand sampai R triliun.
Banjir di Cina lebih dari 500 triliun.
Kemudian gempa di Sicuan ee sampai 448
triliun. Saya pernah menjadi ee dosen
tamu di Siichuan University dan
menyaksikan ee bagaimana dahsyatnya
akibat gempa Siuan. Tapi di waktu yang
bersamaan saya pun menyaksikan bagaimana
dahsyatnya Cina membangun kembali daerah
Sicuan menjadi daerah yang sangat maju,
daerah yang kemudian bisa lebih bertahan
apabila bencana gempa terjadi di masa
depan. Kemudian gempa di banjir Pakistan
yang mengakibatkan ee kerugian ekonomi
lebih dari 100 triliun. Bapak, Ibu
sekalian, sekarang saya akan ee lihat
dalam konteks korban korban jiwa. Jadi,
yang tadi kerugian ekonomi. Kemudian
saya ubah cara melihat data dengan
melihat korban jiwa. Maka dari 10 yang
terbesar ee enam di antaranya akibat
dari gempa bumi. Kenapa gempa bumi
mengakibatkan korban jiwa yang sangat
besar?
Jadi salah satu kejadian bencana dengan
korban terbesar adalah gempa Haiti pada
tahun 2010 korban jiwanya mendekati
300.000
jiwa. Pertanyaannya adalah kenapa gempa
bumi mengakibatkan korban jiwa yang
besar? Jawabannya adalah karena waktunya
sangat pendek, hanya beberapa detik.
Bapak, Ibu coba lihat kolom data yang
saya perhatikan yang terkait dengan
durasi kejadian bencana gempa bumi.
Kejadian gempa bumi berlangsung sangat
sebentar. Gempa Haiti hanya berlangsung
60 detik. Gempa Aceh adalah gempa
terlama yang pernah tercatat dalam
sejarah manusia hanya berlangsung 600
detik.
ee
gempa bam itu hanya berlangsung 22
detik, korban jiwanya 30.000. Jadi tidak
ada kejadian bencana yang waktunya
sangat pendek kecuali gempa bumi. Bapak,
Ibu bisa melihat untuk banjir itu
beberapa minggu, siklon tropis itu
beberapa hari, topan itu beberapa
minggu, tetapi untuk gempa bumi hanya
beberapa detik. Dan ini mengakibatkan
bahwa memahami gempa bumi menjadi sangat
penting. Salah satu faktornya karena
durasi kejadiannya sangat pendek. Bapak,
Ibu sekalian,
seandainya suatu saat di masa depan kita
bisa memprediksi gempa selayaknya
prakiran cuaca. Misalnya di tempat Bapak
Ibu dalam beberapa jam ke depan kita
bisa memperkirakan
akan besok pagi akan terjadi gempa
dengan magnitudo 3 tetapi kalau di
wilayah lain hanya terjadi 2,5 misalnya.
Itu akan sangat baik dan saya percaya
suatu saat di masa depan kita bisa
melakukannya. Tetapi saat ini kita belum
bisa. Saat ini kita belum bisa
memprediksi gempa bumi selayaknya.
memprediksi cuaca.
Dan kemudian pada saat kita tidak bisa
memprediksi, kita harus kemudian
merenung kembali faktor-faktor apa yang
menyebabkan gempa merusak. Dan untuk itu
maka kita akan mempelajari lebih baik
agar faktor-faktor tersebut tidak
memberikan dampak yang dahsyat. Yang
pertama adalah ground shaking atau
goncangan dahsyat yang dikuantifikasi
dengan nilai pick ground acceleration
atau akselerasi maksimal yang
menggambarkan kekuatan gempa. Kabar
baiknya kita sudah bisa menghitung di
awal seberapa kekuatan gempa yang
mungkin terjadi, goncangan yang mungkin
terjadi di masa depan. Kita sudah bisa
melakukannya. Yang kedua adalah nilai
yang kedua adalah amplifikasi. Tanah
lunak dan sedimen yang tebal akan
memperkuat guncangan gempa bahkan
membuat tanah menjadi cair. Yang menjadi
penyebab gempa Jogja mengakibatkan
kerugian dan korban yang sangat besar
adalah amplifikasi goncangan yang
diperkuat. Yang membuat gempa Cianjur
2002 dampaknya sangat dahsyat adalah
amplifikasi. Lapisan tanah lunak produk
dari letusan gunung api membuat tanahnya
halus, gembur, tetapi di waktu yang
bersamaan bisa menambah goncangan gempa.
Dan apabila lapisan tanah lunak kemudian
diikuti dengan lapisan air yang sangat
tebal, ada lapisan kemudian pangkalang
air di bagian bawah, maka akan
ee aquuiver yang dangkal akan ditambah
goncangan yang kuat akan menghasilkan
amplifikasi dan juga ee amplifikasi dan
juga likuivfaksi. Kemudian faktor yang
lain adalah kerentanan akibat struktur.
Bapak, Ibu sekalian, izinkan saya untuk
ee memperlihatkan bagaimana para ilmuwan
mengkuantifikasi potensi gempa. Jadi,
kami sudah bisa mengkuantifikasi potensi
gempa dengan dengan mendefinisikan satu
angka ajaib yang kemudian bisa
bermanfaat untuk pengurangan resiko
bencana. Apa angka ajaib tersebut? Angka
ajaib tersebut adalah A atau percepatan
gempa.
Jadi yang yang diperlukan bukan
kemampuan untuk memprediksi kapan gempa
terjadi. Tapi sekarang yang lebih
penting, pengetahuan yang lebih penting
kita miliki adalah memperkirakan
berapa kemungkinan
nilai dari percepatan gempa yang disebut
dengan A itu bisa terjadi.
Jadi satu angka penting yang kemudian
digunakan
oleh banyak pihak, oleh banyak pakar
termasuk
ahli struktur, termasuk ahli geoteknik
untuk merancang bangunan adalah
mengetahui besarnya percepatan gempa
bumi. Jadi kalau kita bisa mengetahui A
dan apabila nilai A tersebut dikalikan
dengan massa, maka kita akan mengetahui
gaya gempa yang bekerja di suatu
bangunan. Jadi kita sudah bisa
memperkirakan berapa gaya gempa yang
terjadi di suatu bangunan
bahkan sebelum bangunan tersebut
dibangun.
Untuk itu, untuk menjamin agar
bangunannya tidak rusak, maka kita harus
membangun bangunan lebih kuat daripada
gaya gempa yang mungkin terjadi. Atau
kita bisa mengurangi gaya gempa tersebut
di dalam bangunan dengan menggunakan ee
peredam gaya gempa. Jadi, ada banyak
sekali dumping sistem semacam per yang
digunakan untuk mengurangi gaya gempa.
Bapak, Ibu sekalian. Sedikit cerita
bahwa di ITB kami memiliki bangunan yang
sangat tua yaitu observatorium Bosca.
Dibangun pada tahun 1923
dan pembangunannya selesai di tahun
1926.
Salah satu pengamat ee bintang tertua di
Indonesia bahkan tertua di belahan bumi
paling selatan.
Dan yang menarik dari bangunan yang
sangat tua tersebut, di bagian bawah
dari strukturnya sudah ada sistem
penahan gempa sederhana di zaman itu
tahun 1923 yang tujuannya adalah
mengurangi nilai percepatan gempa
terhadap bangunan terhadap
observatorium.
Jadi pada saat kita bisa menghitung
percepatan gempa di awal, maka kita bisa
membuat infrastruktur kita lebih baik
daripada potensi percepatan gempa yang
mungkin terjadi. Begitu pula pada saat
kita bisa menghitung percepatan gempa di
suatu lereng dikalikan dengan massa,
maka akan menghasilkan gaya lereng yang
mungkin menghasilkan longsoran.
Apabila kita bisa mengetahui
percepatannya, maka ada dua pilihan
kita. memperkuat longsorannya,
memperkuat lereng tersebut sehingga
tidak longsor atau kita menghindari
wilayah infrastruktur yang dibangun
dekat dengan lereng. Jadi pada saat
secara alamiah terjadi longsor, maka
infrastruktur kita tidak rusak, penduduk
kita tidak menjadi korban, tidak
terjadi, tidak terdapat kerugian
ekonomi.
Manfaat yang ketiga, pada saat kita bisa
menghitung besarnya percepatan gempa
atau A, maka akan membantu kita untuk
apabila nilai dari percepatan gempa
bertemu dengan suatu tadi lapisan lunak
yang kaya dengan air,
aqui yang sangat dangkal, dikalikan
suatu konstanta dan percepatan maka kita
akan mengetahuilah ee bagaimana potensi
lukufaksi di wilayah tersebut.
Pertanyaannya adalah apabila kita sudah
bisa mengetahui potensi likuifaksi,
lantas apa yang kita lakukan?
Apa yang kita lakukan pada saat kita
mengetahui potensi tekuifaksi? Ada dua
pilihan. kita bisa membangun ee
infrastruktur kita,
memastikan infrastruktur kita pondasinya
mencapai batuan dasar yang lunak
sehingga walaupun lapisan atas mengalami
likuifaksi, bangunan kita tidak roboh.
Atau pilihan yang lain adalah mengurangi
kadar air di dalam tanah sehingga
likuaksi tidak terjadi atau pilihan yang
lainnya tidak membangun di wilayah
tersebut. Jadi kemudian kita memiliki
berbagai pilihan untuk memastikan bahwa
ee bangunan masih bisa berdiri, kerugian
ekonomi tidak terjadi.
Bapak, Ibu sekalian, saya akan bercerita
sedikit bagaimana nilai dari percepatan
atau nilai A tersebut dihitung. Jadi,
satu angka penting ee angka ajaib yang
menjadi dasar pengurangan risiko bencana
bumi tersebut. Bagaimana dihitung? Yang
pertama tentu saja memahami kondisi
tektonik di Indonesia.
Ee kita paham Indonesia berada dalam
paling tidak empat ee tektonik ee empat
lempeng tektonik utama dari lempeng
bagian selatan dari Rasia atau dikenal
dengan Sunda Blok. Kemudian sedikit
bergerak ke arah timur kita menemukan
lempeng laut Filipin. Ke arah timur lagi
merupakan lempeng Pasifik dan bergerak
ke selatan. Dominannya dibangun dari
lempeng Australia. Pertemuan dari empat
lempeng tersebut menjadi area subduksi,
menjadi area polusi, menjadi area
transform, menghasilkan banyak gempa di
Indonesia. Ini gempa yang kami plot
dalam 20 tahun terakhir. Ada be
gempa-gempa yang kecil, ada gempa yang
besar, ada beberapa gempa yang sangat
besar. Dan Bapak Ibu kalau jeli melihat
masih ada beberapa wilayah yang kemudian
mengalami kekosongan gempa
yang artinya
ini kabar yang ee menjadi perhatian kita
semua. Tidak kita harapkan tetapi sangat
mungkin gempa terjadi di dalam
lingkaran-lingkaran merah yang saya
tampilkan dalam slide ini. Bapak Ibu
sekalian. Kemudian informasi mengenai
kejadian gempa, sumber gempa bumi.
Akumulasi energi yang didapatkan dari
GPS kami kumpulkan untuk mendefinisikan
sumber gempa. Ada nilai magnitudo di
sini di dalam wilayah di mohon maaf
apabila angkanya kecil tapi Bapak Ibu
apabila jeli bisa melihat ada potensi
magnitud gempa yang bisa terjadi di
wilayah tersebut.
Nah, kemudian setelah kita memahami
magituduk gempa, maka kita akan
melakukan proses perhitungan yang
disebut dengan seismic hazard analisis.
Nah, SESM hajat analisis menghasilkan
nilai percepatan gempa atau menghasilkan
nilai A yang sangat penting angka ajaib
yang digunakan di negara manapun untuk
mengurangi risiko gempa bumi. Dan
Indonesia ternyata sudah punya peta
gempa, sudah punya peta yang
menggambarkan nilai percepatan nilai A
tersebut. Misalnya yang paling tua
dibangun 1983.
ee ini dibangun oleh suatu konsultan
Indonesia bekerja sama dengan konsultan
dari New Zealand. Kenapa waktu itu kita
membuat? karena untuk kepentingan
membangun infrastruktur strategis waktu
itu. Jadi tahun 0-an Bapak Ibu yang
mungkin seumuran saya bisa paham bahwa
tahun 0 kita membangun banyak sekali
sekolah, ada Impres, kita membangun
banyak sekali fasilitas kesehatan
termasuk Puskesmas di seluruh Indonesia
dan ini program yang sangat berhasil
diakui oleh WHO. Berhasil menurunkan
banyak penyakit. berhasil menurunkan
tingkat buta huruf di Indonesia secara
signifikan. Nah, peta tersebut di-update
tahun 2002. Jadi, nilai percepatan
gempa, nilai A tadi yang saya sampaikan
itu kemudian nilainya berubah menjadi
nilai yang baru. Dan kemudian tahun 2006
saya pulang bergabung dalam tim tahun
dan menghasilkan peta tahun 2010. Ini
peta gempa yang kita bangun di tahun
2010 menjadi standar nasional. Kemudian
tahun 2017 kita update dan sekarang kita
update kembali menjadi peta terbaru
tahun 2025. Jadi ini adalah peta gempa
Indonesia terbaru ee dan baru
diterbitkan ee peta-peta gempa yang
sebelumnya ini menjadi SNI menjadi SNI
1726 SNI bangunan tahan gempa yang di
dalamnya ada informasi kata gempa. Bapak
Ibu sekalian ee izinkan saya mengakhiri
bagian pertama dari diskusi ee dari
presentasi hari ini. Ee sebelum saya
lanjutkan, apabila Bapak Ibu memiliki
pertanyaan ee silakan disampaikan.
Ee saya kembalikan kepada moderator. Ee
terima kasih.
Silakan apabila pertanyaan sambil
memberikan waktu kepada saya untuk ee
break sebentar.
Oke. Baik, Prof. di sini kebetulan
sudah ada juga ee yang rise hand yaitu
Pak Sugeng Wijono
dan mungkin bagi Bapak Ibu yang lain
apabila ada hal yang ingin ditanyakan
juga dipersilakan untuk menggunakan
fitur lens-nya.
Ee mungkin dipersilakan kepada Pak
Sugeng untuk menyampaikan pertanyaannya.
Oke, terima kasih. Selamat pagi, Pak
Irwan. Ee kami ingin menanyakan beberapa
Pak Irwan. Jadi, tadi saya sudah
diutarakan bahwa ee ee analisis mengenai
hasad atau katakanlah ee ancaman atau
bahaya itu untuk gempa kan dihasil salah
satu parameter tadi percepatannya, Pak.
percepatan gempa atau percepatan media
untuk ee ee mengantarkan gempa. Nah,
apakah ada parameter-par lain, Pak,
dalam rangka menyusun ee peta ancaman
gempa selain percepatan, Pak? Jadi,
parameter-parameter lain yang nanti
mungkin bisa digunakan oleh beberapa
lembaga. Jadi sekarang itu kan yang
mengamati gempa ada Pusgen, ada pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi, ada BMKG.
Jadi ee walidata yang nanti diberikan
kepada BNPB
untuk membuat peta risiko gempa itu yang
mana, Pak? Artinya apa? Masing-masing ee
walidata tadi itu mengadakan pertemuan
sehingga keluar menjadi satu masukan
sebagai peta hasad atau peta bahaya atau
ancaman. Kemudian dikirimkan ke BNPB
untuk menjadi bahan membuat peta risiko
gempa. Saya kira itu, Pak Irwan. Terima
kasih, Pak Irwan.
Baik. Ee terima kasih, Pak Sugeng. Ee
mohon maaf, Pak Sugeng. Bapak di mana,
Pak, sekarang, Pak?
Saya ada di geologi, Pak. Disiplin saya
itu geologi. Dan ee ini kemungkinan saya
pengin menanyakan karena kan walid data
untuk gempa itu ada beberapa institusi
ya, Pak ya. yang saya lihat itu BMKG
kemudian Pusg kemudian juga apa pusat
PLANID Mitigasi dan bencana geologi itu.
Nah itu nanti sebagai wali data apakah
itu mengadakan apa ni komunikasi dulu
kemudian menjadi satu output peta
ancaman yang akan diberikan kepada BNPB
untuk membuat peta risiko gempa itu loh
Pak.
Baik terima kasih. ya memperhatikan
faktor kerentanan juga dan bahkan
kemarin itu berkembang faktor kerentan
itu menjadi ee masukan yang cukup besar
yang kemungkinan bisa menggantikan apa e
kapasitas dan kapasitas itu termasuk
kerentanan fisik ini menjadi diskusi
yang menarik kemarin Pak terima kasih
Pak Irwan
I terima kasih Pak Sugeng untuk ee
diskusinya
ee ee Bapak Sugeng di di Jakarta atau di
mana, Pak? Maaf,
saya di Jogja, Pak. Di Geologi, Pak.
[tertawa]
Iya, di Jogja. Iya. Salam, Pak Sugeng.
Ee
iya
selalu senang bisa berkunjung ke Jogja,
Pak. Dan mudah-mudahan kita bisa bertemu
secara langsung. Oke.
Ee
jadi yang Bapak tanyakan sangat penting.
Ee yang pertama ee milih apa saja atau
tadi Bapak menyatakan parameter apa saja
yang digunakan dalam
ee hazat gempa bumi sebagai ee sebagai
parameter yang digunakan untuk
menghitung resiko.
Baik. Ee Bapak, Ibu sekalian, satu angka
yang lazim digunakan dalam menghitung
hazat gempa di manapun di seluruh dunia
adalah nilai percepatan.
Percepatan gempa. Percepatan gempa
biasanya ditunjukkan dalam dua nilai.
Yang pertama adalah big ground
acceleration atau percepatan
puncak di tanah, percepatan maksimal
kadang-kadang disebut sebagai eh
maksimal percepatan maksimal ground
acceleration. Yang kedua adalah
respon spektra. Kalau respon spektra itu
bicara bagaimana percepatan berpengaruh
pada struktur bangunan disesuaikan
dengan jenis dan tingkat bangunannya.
itu sangat membantu untuk keperluan
desain bangunan.
Jadi ee kita cukup memiliki satu
variabel utama walaupun nanti ada yang
lain. Jadi kalau pertanyaannya mana saja
maka yang saya rekomendasikan terpenting
itu satu. Tapi walaupun ada yang lain.
Jadi kalau ee yang satu ini sudah ada
baru yang lain mengikuti. Tapi jangan
yang lain dulu baru yang ini gitu ya.
Jadi percepatan itu adalah ee nilai
penting.
Ee sebagai ilustrasi bahwa peta gempa
kami kemudian diadopsi menjadi bagian
dari perhitungan risiko di indeks risiko
bencana yang digunakan oleh BNPB. Nah,
ee kabar baiknya mungkin berbeda sedikit
berbeda untuk hazat yang lain karena
kebetulan saya pun menghitung ee untuk
kebet untuk keperluan
ee
tadi topik terakhir yang akan saya
sampaikan pembiayaan risiko bencana.
Kami menghitung ilan hazard yang lain
selain gempa bumi juga. Tetapi saya
melihat bahwa untuk hazat gempa bumi
salah satu faktor yang menguntungkan di
Indonesia karena adanya satu kelompok
yang tadi juga Bapak sebutkan yaitu
Pusg, Pusat Studi Gempa Nasional yang
kemudian
secara formal dan informal menggabungkan
seluruh kekuatan di Indonesia.
Jadi ee kalau Bapak perhatikan maka
anggota dari Pusgen itu termasuk juga
Badan Geologi PVMPG, termasuk juga BMKG
menjadi bagian dari Pusg termasuk juga
BRIN
penelitinya terlibat dalam Pus termasuk
kami yang ada di kampus juga terlibat
dalam Pusat dan banyak sekali
kampus-kampus lain terlibat termasuk UI
UGM kampus lain tergabung dalam pushgame
sehingga kemudian secara produk menjadi
konsensus nasional.
menjadi produk yang kemudian untuk itu
maka produk Pusgen itu menjadi SNI, Pak.
Nah, begitu menjadi SNI maka kemudian
bisa menjadi dasar bagi siapapun dan
kami sangat mendorong agar instansi
menggunakan ee produk kami nanti datanya
dan bahkan datanya available untuk
publik. Bahkan Bapak Ibu bisa
mendapatkan kalau Bapak Ibu masukkan
nilai koordinat ada aplikasi yang kami
buat dan waktu itu kami simpan di
Kementerian PU dan di Brin kalau tidak
salah ee Bapak Ibu masukkan nilai
koordinat maka bisa keluar nilai A-nya,
nilai percepatan gempanya di wilayah
tempat Bapak Ibu sekalian.
Jadi kalau ee misalnya pertanyaannya ee
ee variabel apa yang paling penting,
maka yang kami rekomendasikan adalah
variabel percepatan.
Walaupun nanti percepatan itu ada
macam-macam, ada background
acceleration, ada spectral acceleration
dan nanti percepatan tersebut yang kami
dapatkan di batuan dasar itu harus
ditingkatkan ketermukaan. Jadi nanti ada
karena setiap daerah memiliki
karakteristik faktor artifikasi yang
berbeda-beda. Tapi kalau bicara faktor
dasar itu dulu ee percepatan. Nah,
sesudah itu terpenuhi dan kami
menyaksikan beberapa negara eh kalau
Amerika Jepang itu masih menggunakan
faktor yang sama acceleration seperti
tapi kami melihat beberapa negara
seperti New Zealand itu ditambahkan
faktor yang lain yaitu rapture yaitu
robekan bidang tanah.
Bagi kami itu menarik. Ee kami pun
sedang mengkaji agar robekan bidang
tanah itu kami masukkan juga ee karena
ini dua faktor yang independen bukan
faktor turunan, gitu. Jadi kalau
misalnya longsor, likuifaksi,
ee kemudian tsunami itu adalah faktor
turunan dari kedua faktor tersebut. Jadi
kalau kita bisa mendefinisikan nilai
dari robekan, maka ee robekan itu
faktornya adalah distribusi slip, maka
kita bisa menghitung ketinggian tsunami.
Kalau kita bisa menghitung nilai
goncangan terhadap suatu wilayah
ditambahkan kelerengan bisa menghitung
potensi land, kita bisa menghitung
potensi likuifaksi. Jadi kedua faktor
utama ini merupakan faktor dasar yang
kemudian bisa diturunkan menjadi bencana
kolateral. dari gempa bumi yang lainnya.
Jadi, dua hal tersebut menurut kami
menjadi variabel penting dalam konteks
perhitungan hazard. Pertanyaan
selanjutnya, Bapak tanyakan, siapa wali
datanya? Wali data untuk ee untuk eh
untuk data percepatan itu ada di Pusgen
dan sudah kami SNIK-an, Pak.
Kemudian bisa diakses oleh publik ee
nilainya,
Pak. Itu kalau tadi tadi, Pak, ya.
F volt tadi itu tergantung apa? Skala
skala skala persebarannya atau mungkin
pada skala ee gerakan vertikalnya ya,
Pak ya?
Iya, betul, Pak. Jadi proses ee jadi
proses untuk membangun ee saya izinkan
ee untuk menampil menampilkan slide,
Pak, ya. Jadi proses untuk menghitung
percepatan dan robekan tersebut, proses
awalnya adalah memahami sumber gempa.
Jadi pada saat memahami sumber gempa
maka di situ ada magnitudo, Pak. Jadi
ada magnitudo gempanya harus kita
ketahui. Dan tidak hanya magnitudo, kita
harus mengetahui periodisasi kejadian
gempa. Ada magnitude. Berarti kalau
periodisasi ada slip rate seb atau laju
geser dari sumber gempa. Jadi seberapa
seberapa sering gempa tersebut itu
terjadi? itu itu faktor yang kita sebut
sebagai sumber. Nah, dan itu biasanya ee
pengguna tidak perlu tahu, Pak. Jadi,
pengguna ya nanti bagian rumitnya itu
bagian kami yang mengerjakan. Nah, dalam
konteks pengguna termasuk kalau Bapak,
Ibu di daerah ataupun tadi Bapak
menyampaikan BNPB, maka lebih fokus pada
dampaknya dan dampak tersebut adalah
percepatan. Dan sekarang kita masukkan
juga ee kami sedang berpikir serius
untuk memasukkan aspek robekan juga ke
dalam ee ke dalam ee komponen yang
dihasilkan dalam SESMIK Hazard. Selama
ini kita sampai SNI yang terbaru kita
baru memasukkan unsur percepatan, tapi
kita sedang sedang mempertimbangkan
dengan serius untuk memasukkan ee faktor
perbaikan juga. Mudah-mudahan menambah
diskusi.
Pak, mungkin sedikit pertanyaan, Pak.
Jadi pada saat BNPB itu membuat peta
risiko bencana atau indeks risiko
bencana ya, Pak ya. Itu ee pihak Pusken
dilibatkan enggak ya, Pak ya? Karena kan
ee kan di BNPB itu mungkin multidisiplin
ada di situ ya, Pak, ya. Jadi waktu dia
membuat ee menghitung indeks risiko kita
yang didasarkan kepada hasad kemudian
dikalikan dengan kerentanan atau
vulnerability kemudian dibagi kapasitas
itu pihak Pusken dilibatkan enggak, Pak?
Iya. Jadi ee kalau kami meyakini bahwa
ee
peta risiko bencana
tidak tidak multiperpose, Pak. Ya, jadi
tidak satu peta risiko itu tidak
digunakan untuk
berbagai kepentingan. Peta risiko BNPB
sangat baik. Ee menurut saya ee salah
satu pata risiko yang perlu diadopsi
oleh berbagai daerah untuk keperluan
manajemen pengurangan risiko bencana.
Jadi ketika ee BPBD ee ingin
melaksanakan proses
ee pengurangan upaya pengurangan risiko
bencana, maka sangat penting untuk
menggunakan peta risiko
yang dihasilkan oleh BNPB. Tetapi untuk
keperluan berbeda, maka peta risiko itu
bisa dihitung dengan cara berbeda.
Tetapi apa yang sama? yang sama adalah
petaha zatnya.
Ya, jadi kemarin itu dalam pertemuan itu
kan model risiko bencana itu kan menjadi
diskusi menarik karena ada rencana
peraturan yang menggantikan peraturan
kepala BNPB tahun 2012 itu loh, Pak.
Jadi model dari apa IR atau risiko
bencana itu sama dengan apa hasad
kalikan vulnerability V dibagi kapasitas
itu ee kelihatannya ada ada sesuatu
perubahan khususnya dalam ee penanganan
vulnerability yang mungkin eh
overlapping dengan mitigasi gitu loh,
Pak.
Iya. Ee saya ee saya paham saya ikut
terlibat lewat pembuatan perka nomor 2
tahun 2012.
Ee
tetapi yang ingin saya sampaikan bahwa
ee
bahwa tidak ada satu peta risiko yang
digunakan untuk seluruh kepentingan
ya. sehingga untuk kepentingan yang
sekarang apabila saya perhatikan bahwa
peta risiko
BNPB sangat kuat dalam konteks ee
kerentanan dan kapasitas.
Ee
ee menurut saya itu sangat baik terutama
untuk keperluan upaya pengurangan risiko
bencana sehingga daerah bisa memahami
kapasitas mana yang harus ditingkatkan,
kerentanan mana yang kemudian harus
dikurangi itu sangat baik. tetapi tidak
berarti bahwa petar resiko tersebut bisa
digunakan untuk berbagai kepentingan.
Ee
karena itu
itu yang mungkin bisa sampaikan
karena menjadi landasan untuk
perencanaan penanggulangan bencana itu
loh yang yang sudah wajib dilakukan oleh
provinsi maupun kabupaten kota itu loh
Pak.
Nanti kita I
saya saya sangat setuju dan mungkin
cocok Pak untuk kebutuhan itu.
Iya. Tetapi kalau dalam konteks untuk
misalnya ee saya sekarang bidang saya
sedang mempelajari dengan detail bidang
terkait dengan pembiayaan risiko bencana
ee mungkin ee bagian dari kapasitasnya
harus dimodifikasi bahkan mungkin tidak
dimasukkan. Begitu pula kerentanannya
lebih fokus pada kerentanan fisik saja.
Iya.
Jadi ee untuk keperluan perencanaan,
penanggulangan bencana itu oke, tetapi
untuk keperluan yang lain ee kita harus
memodifikasi. Jadi tadi diskusi Bapak
mengenai perubahan indikator IRBI bisa
jadi cocok
tetapi untuk satu aplikasi, untuk satu
kepentingan. Tetapi mungkin untuk
kepentingan yang lain, Bapak, Ibu
apabila punya kepentingan yang berbeda,
objektif yang berbeda di daerah, maka
cara perhitungannya bisa jadi berbeda.
Jadi tidak satu resep yang tunggal bisa
digunakan untuk keperluan yang untuk
seluruh keperluan. Nanti saya akan ee
perkenalkan perhitungan
ee risiko yang saya lakukan dan Bapak
Ibu kalau jeli bisa melihat itu berbeda
dengan Per nomor 2 tahun 2012.
Oke, terima kasih Pak Erwan.
Baik ee Bapak Ibu sekalian ee saya ee
izinkan saya untuk ee melanjutkan
diskusi.
Ee kita akan masuk ke bagian yang kedua
yaitu menjelaskan pembentukan dari
risiko. Dari tadi sudah ada diskusi yang
baik terkait dengan ee ee perhitungan
risiko yang saya ikut terlibat dalam
proses pembuatan Perk nomor 2 tahun
2012.
Ee
ee saya meyakini bahwa ee kata kunci
dari risiko adalah probabilitas
terjadinya
probabilitas terjadinya kerugian. Jadi
kata kunci dari risiko adalah potensi
terjadinya kerugian yang artinya
kemudian kita harus memahami ancaman
untuk menjadi kerugian. Tetapi ada ada
yang kedua yaitu aspek probabilitas.
Nah, aspek probabilitas itu yang
kemudian kita perlu pahami. Dari mana
kemudian risiko itu menjadi
probabilitas? Artinya risiko itu bisa
terjadi, bisa tidak terjadi. Jadi ada
aspek kemungkinan bahkan atau ketidak
mungkinan risiko itu terjadi. Ee untuk
itu nanti kita perlu ee membahas
bagaimana proses membangun suatu risiko.
Bapak, Ibu sekalian, ini adalah model
dasar bagaimana satu risiko dibangun.
Jadi, komponen ini adalah model dasar
komponen bagaimana risiko dibangun.
Bapak, Ibu yang bekerja dalam aspek
lingkungan mungkin bisa menelaah apakah
ee model yang tadi disampaikan
dikembangkan BNPB itu sesuai atau tidak
sesuai. Tetapi Bapak, Ibu yang bekerja
dalam ee
ee pengurangan risiko bencana di daerah
terutama di BPBD itu kami sangat
mendukung itu digunakan. Tetapi untuk
aplikasi yang lain Bapak Ibu silakan
melihat objektifnya. Nah, tetapi apapun
apapun ee jenis aplikasi ataupun apapun
kemanfaatan yang akan Bapak Ibu
ee kemanfaatan kajian risiko yang ee
akan Bapak Ibu ee gunakan, maka ada
beberapa komponen dasar yang seharusnya
ada di dalam kajian risiko. Komponen
dasar tersebut adalah memahami bahaya
atau hazard.
ini menjadi sangat penting. Ee saya
tidak hanya bicara gempa bumi, tetapi
saya juga bicara mengenai ee
ee saya juga bicara mengenai ee ee
gunung api dan banjir. Jadi, memahami
hazat itu adalah komponen yang sangat
penting.
Bagi saya memahami hazat adalah
ibaratnya adalah memahami ee diri kita
sendiri.
Jadi untuk negara sebesar Indonesia
memahami
artinya adalah memahami
bagaimana
ee izin Prof. suaranya hilang ya.
Oh iya. E
jadi untuk ee untuk Indonesia memahami
hazat adalah memahami ee bangsa kita
sendiri.
Dan satu hal penting yang ee saya ingin
Bapak Ibu ee tidak lupa ee Bapak Ibu
selalu mengingat bahwa Hazad jadi ee ee
saya adalah ee orang yang bekerja dalam
bidang hazat bahwa hazat itu adalah
probabilitas, kemungkinan. Itu yang
ingin saya tekankan pada Bapak, Ibu
sekalian
bahwa curah hujan tinggi itu adalah
probabilitas.
Tadi nilai A atau percepatan gempa itu
adalah probabilitas, tapi dia adalah
komponen utama. Saya sering melihat
beberapa pakar kemudian
memfokuskan risiko pada aspek
kerentan.
Itu aspek yang penting juga. Tetapi
tidak mungkin ada kerentanan apabila
tidak ada haza.
Jadi pastikan Bapak, Ibu sekalian,
Bapak, Ibu sekalian memiliki pengetahuan
yang baik akan haza.
Bahkan bagian haza itu sering sekali
dilupakan.
Yang penting kita memiliki ee
aturan penanggulangan bencana. Yang
penting kita memiliki komunitas ee
pengurangan risiko bencana. Yang penting
kita memiliki ketahanan sosial yang
kuat.
Tetapi apabila hazana tidak kita pahami,
maka dampaknya akan sangat serius. Jadi
menurut saya fundamental penting dari
memahami risiko adalah memahami hazard
atau bahaya.
Dan bahaya adalah probabilitas.
Suatu fenomena yang memiliki
probabilitas.
untuk menghasilkan kerusakan atau
kerugian.
Untuk itu maka risiko itu menjadi
probabilitas.
Risk is eh probability functions.
Pertanyaannya adalah kenapa risiko
probabilitas?
Karena bahaya adalah probabilitas.
Yang kedua
adalah exposure atau keterpaparan.
Keterpaparan itu artinya adalah memahami
lingkungan kita sendiri,
atribut lingkungan kita sendiri, nilai
aset dari lingkungan kita sendiri,
bangunan kita sendiri, rumah kita
sendiri.
Kita perlu mengetahui seperti apa rumah
kita,
apa fondasi dari rumah kita, apakah
rumah kita cukup kuat?
berapa lantai rumah kita?
Saya sering melihat sekarang banyak
sekali bangunan ee yang atapnya
menggunakan bajaringan,
tapi gentengnya masih genteng yang lama.
Jadi mungkin gentengnya masih lama,
genteng lama masih bagus, tapi kemudian
atapnya itu sudah mulai dimakan rayap.
Nah, diganti bajar ringan tapi
gentingnya masih yang sama.
Dan itu pasti romboh setiap gempa. Ini
saya perhatikan banyak sekali bajar
ringan tidak cukup kuat untuk menahan ee
mungkin ada jenis bajar ringan yang kuat
tapi kebanyakan tidak digunakan untuk
bisa menahan genting dan itu rusak. Yang
kedua adalah kerentanan.
Kerentanan bicara seberapa mungkin aset
yang kita miliki akan terpapar oleh
peristiwa bencana.
Kerentanan kadang-kadang dibagi menjadi
kerentanan sosial, kerentanan fisik.
Kadang-kadang bagian kerentanan yang
positif dijadikan sebagai ee ee
kadang-kadang kita menambahkan unsur
capacity di situ.
Tetapi menurut saya yang paling basic
yang membangun risiko dalam konteks
pembangunan risiko dan ini menurut saya
paling fundamental nanti bisa masuk
unsur kapasitas. Walaupun cukup
hati-hati ketika kita memasuk unsur
kapasitas karena kita menggabungkan
indeks risiko dengan indeks ketahanan
atau resilience.
Jadi kalau tidak hati nanti kita bisa
mixing konsep sebetulnya. Tetapi dalam
konsep dasar pembangun risiko maka
bahaya keterpaparan dan kerentanan.
Kemudian kita mensimulasikan, menghitung
dampak.
Dampak ini penting digunakan untuk
kesiapsiagaan,
untuk mengevaluasi dampak yang mungkin.
Jadi, sebelum memasukkan sebelum
memasukkan unsur kapasitas,
kita hitung dulu potensi dampaknya
secara sederhana,
secara fundamental.
Nah, nilai dampak yang mungkin jadi
dampak dari seluruh kejadian bencana.
Jadi kalau misalnya begini, dampak dalam
seluruh kejadian bencana itu misalnya
gempa bumi ini kita sedang menghitung
gempa. Maka gempa bumi
di suatu wilayah bisa memiliki karena
tadi ada probabilitas bisa memiliki
kemungkinan magnitude yang bervariasi.
Bisa magnitud 3 maka dampaknya seperti
apa? Magnitud 5 dampaknya seperti apa?
Magnitud 5,5 6 seperti apa? 6,1 6,2 pada
kemudian seluruh dampak itu kita
gabungkan
maka kita mendapatkan peta risiko.
Jadi peta risiko adalah gabungan atau
compound probability dari berbagai
kemungkinan dampak.
kita bisa fokus hanya menghitung dampak
dulu dan kita tertarik untuk mengurangi
dampak dengan memasukkan unsur kapasitas
kemudian itu oke.
Tetapi kemudian dalam konteks ee
perhitungan
dasar dari risiko
kita kita bisa menghilangkan unsur
kapasitas untuk mendapatkan risiko.
Cukup menggabungkan beberapa dampak dan
menjadi perhitungan risiko. Tapi kalau
kita tadi di ingin masukkan juga
kapasitas sebagai faktor pembagi itu pun
oke. Tapi harus ingat ketika memasukkan
kapasitas apa tujuannya
akan ke mana peta risiko kita akan
menjadi apa manfaatnya dan tidak bisa
peta risiko digunakan untuk seluruh
kepentingan.
Tapi kalau yang basic itu bisa
digunakan.
Itu yang ingin saya sampaikan. dan
kemudian peta risiko tersebut ee jadi
ada beberapa model yang kemudian
membangun peta risiko. Ee jadi ini
misalnya ee ini peta risiko di seluruh
Indonesia yang ee kami buat. Jadi kami
pun menghasilkan peta risiko untuk
seluruh bencana di seluruh Indonesia ee
khususnya untuk keperluan ee
pengembangan konsep yang sedang kami
lakukan yaitu
ee ee pembiayaan risiko bencana atau
disaster risk financing.
Ee Bapak, Ibu sekalian ee izinkan di
bagian akhir sebelum ee diskusi lanjutan
saya ingin memperkenalkan ee riset yang
sedang saya lakukan dalam 6 tahun dalam
6 tahun terakhir yaitu ee riset terkait
dengan pembiayaan risiko bencana. DRF
disaster risk financing pembiayaan
risiko bencana. Kadang-kadang orang
tambahkan iitu insurance. Tapi insurance
itu tidak faktor bukan faktor utama.
Kita cukup berhenti di DRF, disaster
risk financing atau pembiayaan risiko
bencana. Ini adalah ee hal yang baru dan
ee
ee kita sangat ee dorong agar Indonesia
memiliki skema pembiayaan risiko bencana
yang lebih baik.
ee Bapak, Ibu sekalian, mengapa perlu
ada skema pembiayaan risiko rencana?
alasannya yaitu ee saya menyaksikan
cukup lama, saya bekerja cukup lama di
bidang ee kebencanaan lebih dari 20
tahun dan saya menyaksikan bahwa
strategi penanggulangan yang negatif
akan memperlambat kemajuan pembangunan
atau malah membuat orang berada dalam
kondisi kemiskinan atau mereka atau
bahkan mendorong mereka untuk kembali ke
dalamnya dan bukan kemudian bangkit
dengan lebih baik.
Ee misalnya sebagai contoh bahwa gempa
dan tsunami 2024 menghancurkan lebih
dari 100.000 kapal nelayan
dan mengakibatkan kerugian yang sangat
besar.
Contoh yang lain misalnya gempa di
Lombok tahun 2018 mengakibatkan
perlambatan ekonomi di daerah Lombok
terutama akibat sektor pariwisata.
Karena responnya tidak cepat maka
berdampak pada
menurunnya pertumbuhan ekonomi.
Kemudian dampak yang lain adanya
kurangnya sumber daya untuk merespon
dengan cepat.
Jadi pada saat kita tidak punya skema
pembiayaan yang baik, maka kita
tidak memiliki sumber daya untuk
merespon segera dan dengan efektif
dan menyebabkan kerugian manusia dan
ekonomi yang meningkat. Jadi, kita
sering melihat bahwa kemudian korban
bertambah
karena respon kita yang terlambat.
Kemudian ee faktor yang ketiga bahwa
pemerintah
misalnya pemerintah daerah misalnya
seringki tidak mampu untuk membiayai,
seringkiali tidak memiliki kemampuan
pembiayaan
untuk merespon bencana dengan cepat.
Pemerintah seringki harus menarik dana
dari pusat dananya berasal dari
pelayanan publik untuk mengalihkan dana
tersebut dari proses pembangunan yang
produktif. Jadi dana yang produktif
kemudian terpaksa dialihkan,
dipindahkan untuk menanggulangi bencana.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, saya ingin
coba bandingkan antara mitigasi risiko
bencana atau manajemen risiko bencana
dengan ee pembiayaan risiko. Jadi,
pembiayaan risiko bencana merupakan
bagian integral dari mitigasi bencana
gempa secara umum. Jadi, jangan
didikotomikan kemudian melihat mana yang
lebih penting. Tidak demikian, tetapi
seharusnya ini merupakan bagian yang
integral.
dan itu di ada memiliki lima pilar
utama.
Baik kemudian pengurangan risiko bencana
ataupun perlindungan pembiayaan risiko
bencana itu memiliki lima pilar.
Pilarnya yaitu sama-sama berdasar pada
identifikasi risiko.
Jadi pada saat kita memiliki
identifikasi risiko yang baik maka kita
kemudian bisa melakukan dua hal. Yang
pertama memitigasi risiko bencana ke
depan. tetapi juga di waktu yang
bersamaan memberikan perlindungan pada
kerugian ekonomi di masa depan. Yang
kedua, pilar yang kedua adalah
pengurangan risiko.
Bagaimana kemudian pembian risiko
bencana bisa mengurangi risiko? Karena
menghindari terjadinya risiko baru.
Banjir diikuti dengan risiko
penyakit pernapasan.
diikuti
dengan risiko penyakit kulit, diikuti
dengan risiko sulitnya air bersih. Gempa
bumi seringki diikuti dengan risiko
masyarakat yang tinggal di pengungsian
itu harus kemudian ee ee terkena
penyakit diare, penyakit ISPA. Itu
terlalu sering kami
saksikan di berbagai tempat.
Jadi apabila kita memiliki pembiayaan
risiko bencana yang baik, maka akan
mengurangi risiko
yang muncul,
risiko baru yang muncul sesudah
terjadinya bencana.
Kemudian yang ketiga adalah
kesiapsiagaan.
meningkatkan kapasitas untuk mengelola
krisis
dengan mengembangkan kapasitas prediksi
dan manajemen bencana dengan lebih baik
pada saat kita memiliki skema pembiayaan
bencana.
Dan yang pilar yang penting yaitu
perlindungan finansial. Jadi jangan
sampai uang yang harus diguna harusnya
digunakan untuk keperluan yang produktif
harus kita kemudian kita pindahkan.
Kemudian yang kelima adalah pemulihan
yang lebih tangguh.
Bapak, Ibu sekalian ee izinkan saya
untuk berbagi dan ini merupakan bagian
akhir dari slide saya. Ada prinsip dari
pembiayaan risiko bencana gempa bumi.
Ada ada empat prinsip. Prinsip yang
pertama bahwa ketepatan waktu pendanaan
ini menjadi faktor yang sangat penting.
Jadi ee saya gambarkan dalam grafik
sumbu X-nya adalah waktu, sumber Y-nya
adalah kebutuhan
dana. Jadi seringki dana itu tidak butuh
sangat besar di awal.
Jadi untuk tahap ee bantuan,
tahap respon cepat mungkin yang hanya
berwarna merah, tapi begitu
recovery warna hijau dananya akan lebih
besar.
Begitu rekonstruksi
membangun ulang itu akan jauh lebih
besar. Untuk itu maka kita harus
kecepatan memang penting, tetapi tidak
semua sumber daya dibutuhkan sekaligus
dalam satu waktu.
Kita harus punya endurance yang sangat
panjang.
Kemudian ee ee faktor yang kedua
yaitu ada lapisan risiko bencana.
Tidak ada satuun instrumen keuangan yang
bisa mengatasi
semua risiko. Tadi saya sampaikan bahwa
tidak ada satu model risiko yang bisa
digunakan untuk seluruh kepentingan.
Jadi, ada yang pertama instrumen dana
cadangan.
Itu itu adalah bagian yang mendesak dan
mungkin kita siapkan di awal. Tapi
seringki ini terbatas apalagi dana
cadangan yang dimiliki pemerintah
daerah. seringkiali tidak ada,
maka harus minta ke pemerintah pusat.
Tapi pemerintah pusat pun akan membatasi
di mana mereka akan memberikan. Nah,
harus ada layer lain yang kemudian
jangan sampai habis di awal terus kita
tidak bisa lagi membantu. Jadi, kemudian
harus ada instrumen keuangan yang
menyediakan likuiditas segera setelah
terjadi bencana,
pembiayaan kontigensi.
Dan kalaupun itu terlewati, maka ada
transfer risiko. Mau tidak mau beberapa
risiko itu harus kita alihkan dalam
bentuk transfer risiko.
Ini misalnya bentuk yang ee
kami diskusikan dengan Kementerian
Keuangan. Jadi dalam bentuk ada lokasi
APBD seringkiali kalau tidak ada ya APBN
kemudian kontigensi. Kalau itu lewat
maka ada pulling fund. Itu yang kami
dorong pulling fund bencana.
Kemudian baru masuk ke aspek yang lain
yang di atasnya.
Kemudian ada prinsip yang ketiga
bagi kami bagaimana dana sampai ke
penerima manfaat sama pentingnya dengan
dari mana asalnya.
Jadi bagaimana dana sampai ke masyarakat
itu sama pentingnya dengan dana dari
asalnya. Jadi seringki dana itu ada tapi
tidak sampai ke masyarakat.
Bagaimana dana tersebut dibagi untuk
rekonstruksi sekolah, pembangunan
kembali infrastruktur, untuk memberikan
makanan bagi masyarakat, dukungan mata
pencaharian itu perlu didefinisikan.
Jadi, bagaimana dana sampai ke penerima
sama pentingnya dengan dana dari mana
asalnya.
Jadi memiliki seringkali menjadi
paradoks memiliki dana yang besar untuk
tanggap bencana
tetapi tidak dapat membelanjakannya
dengan cepat ke daerah.
Jadinya dana ada tapi tidak bisa cepat
diturunkan ke daerah.
Seringki kita tidak punya pengalaman
bagaimana menyalurkan dana. Seringki
bahwa penyaluran dana bencana bahkan
menjadi sumber persoalan. habis
disalurkan terus kemudian pejabatnya
ditangkap oleh kejaksaan atau yang lain
karena kita tidak punya kemampuan untuk
mengelola dan memonitor.
Untuk itu, maka prinsip ini perlu sangat
hati-hati sekali. Dan yang terakhir
adalah perlu membuat keputusan yang
tepat. Maka dan ini menjadi akhir dari
diskusi saya hari ini dan mudah-mudahan
kita punya banyak waktu ee untuk
ngobrol. Untuk membuat keputusan yang
tepat, kita perlu memiliki informasi
yang tepat. Kita perlu memiliki data,
kita perlu memiliki analitis,
kita perlu memahami
ee
memiliki data pengamatan yang kuat
sebagai dasar untuk menghitung kerugian.
membuat membuat keputusan finansial yang
berdasarkan bukti
dan kemudian memiliki kemampuan untuk
memantau dan mengevaluasi strategi
pengurangan risiko bencana khususnya
gempa bumi. Demikian terima kasih yang
ingin saya sampaikan ee Bapak Ibu
sekalian. Ee jadi ada empat hal yang
tadi telah saya diskusikan. Ee dan hal
yang keempat saya hanya ingin
memperkenalkan Bapak Ibu sekalian pada
skema yang ee sedang saya kaji yaitu
memperkenalkan pembiayaan risiko
bencana. Pentingnya pembiayaan risiko
bencana memiliki perencanaan pembiayaan
risiko bencana di level daerah dan level
nasional. Demikian saya kembalikan ee
Mbak Dini apabila masih ada diskusi.
Dipersilakan.
Baik, terima kasih Prof. Irwan atas
pemaparan materinya yang sangat
informatif dan membuka wawasan kita
semuanya. Dan tadi juga kita sudah
mendengarkan bagaimana ee apa memahami
bahaya gempa hingga juga pembiayaan
resiko bencana. Dan baik untuk
selanjutnya di sini kita akan langsung
saja pada sesi tanya jawab dari aplikasi
Slido terlebih dahulu dan mohon ditunggu
sebentar di sini saya akan
menampilkannya.
Oke. Baik. Di sini Prof. Irwan sudah ada
10 pertanyaan yang dari aplikasi Slidu
dan ee dipersilakan kepada Prof. Irwan
untuk bisa langsung saja menjawab
pertanyaannya satu persatu.
Baik. ee pertanyaannya ada di aplikasi
sebentar
ee oh di link ini ya.
Iya ini sudah ada ditampilkan, Prof di
layar.
Oke
sudah ditampilkan di layar. E e mana ya
di layar
saya sudah stop. Oh ini nih ID screen.
Oke maaf.
Baik. Ee ee ada pertanyaan ee saya
sangat menghargai kalau Anda bisa
menyampaikan juga ee siapa yang
bertanya.
Ee yang pertanya pertama saya coba
menjawab ya bagian yang pertama. Apa
inovasi terbaru dengan teknologi
bangunan tahan gempa yang relevan untuk
di ee terapkan ee di daerah ee rawan
bencana gempa bem?
Baik. Ee ini pertanyaan yang ee
strategis tapi ya saya perlu sampaikan
bahwa ee bidang saya bukan ee struktural
engineer, saya bukan ee pakar struktur.
Tapi yang ingin saya sampaikan em
beberapa ee terkait dengan saya mungkin
akan sampaikan secara umum ee teknologi
apa yang kemudian sekarang bergempang eh
maaf berkembang dalam bidang gempa bumi
ya. Ee yang pertama adalah teknologi
peringatan dini. Jadi sekarang ee
berkembang sangat cepat ee teknologi
untuk memberikan peringatan goncangan
gempa. Jadi tadi memberikan tadi kan
saya sampaikan bahwa yang penting gempa
itu yang penting dalam gempa adalah
memiliki pengetahuan akan nilai A
percepatan gempa. Dan kalau kita bisa
memiliki informasi A dengan cepat
sebelum goncangan betul-betul terjadi,
itu disebut sebagai eh earthquake early
warning system atau peringatan dini
gempa bumi. Dan sekarang peringatan dini
gempa bumi berkembang sangat cepat. Jadi
kalau Anda bertanya inovasi terbaru
dalam teknologi untuk gempa bumi
sekarang itu adalah sistem peringatan
lini gempa bumi. Earthquly working
system. Ee saya memiliki dua mahasiswa
S3 yang bekerja di BMKG baru setahun ini
dengan topik tersebut itu akan topik
yang sangat berkembang cepat. Sekarang
di beberapa negara sudah sangat baik.
Anda bisa menyaksikan di Jepang sebelum
goncangan terjadi beberapa ee masyarakat
sudah bisa mendapatkan peningkatan
dirinya lewat handphone. Kita pun sedang
bekerja agar memiliki sistem itu di
Indonesia.
Kemudian teknologi bangunan itu
berkembang sangat cepat. Teknologi
bangunan untuk daerah rawan gempa yang
sekarang ee dikembangkan
ee jadi ada dua pendekatan ya kalau
dalam konteks ter bangunan yaitu
memperkuat struktur pasti ya. Ee tetapi
seringki kemudian cost-nya sangat besar
ataupun batasan strukturnya menjadi
sangat harus sangat rigid. Padahal kan
tidak boleh terlalu rigid juga ya ee
agar dia bisa menahan goncangan gempa.
Nah, sekarang kemudian dikombinasikan
kalau saya perhatikan di beberapa negara
ee mohon maaf kalau referensinya lebih
banyak ke Jepang karena saya ee banyak
terlibat di sana. Mereka menggunakan
damping system. Jadi sistem untuk
mengurangi goncangan, dampak goncangan
terhadap bangunan. Jadi seperti kayak
diberi bantalan dari karet misalnya.
Jadi ketika ee tanahnya bergoncang,
bangunannya tidak bergoncang.
Kemudian dalam konteks bangunan yaitu
desain bangunan tentu saja. Jadi
bangunan yang ringan misalnya kalau
dalam konteks di Indonesia bangunan
ringan tersebut bisa jadi tidak terlalu
tidak harus selalu mahal. bisa jadi
kemudian bangunan yang menggunakan ee
yang lebih ee lebih tidak rigid misalnya
ee bangunan dengan ee berbahan bambu itu
sekarang cukup ee ee
cukup populer digunakan di wilayah Tan
Gempa. kami punya beberapa dosen yang
memang pakar arsitek bambu yang kami
endorse untuk kemudian membantu
wilayah-wilayah yang terkena bencana
khususnya gempa bugut ya. Hm.
Mohon maaf.
Jadi demikian beberapa inovasi dalam
konteks teknologi khususnya yang Anda
sampaikan bangunan tahan gempa.
Ada pertanyaan, apakah peta kebencanaan
khususnya gempa yang berasa yang ber
dari BNPB sudah menggambarkan kondisi
maupun risiko gempa di Indonesia?
Ee jawabannya iya sudah, tetapi ada
tetapinya. Tetapi kemudian ee tadi saya
sampaikan ketika menjawab diskusi dari
Pak Sugeng bahwa ee peta risiko bencana
BNPB itu cocok untuk ee konteks
perencanaan pengurangan risiko bencana.
Bisa jadi apa? ee pertanyaannya adalah
ee untuk apa ee
peta risiko tersebut akan Anda gunakan?
Jadi, tergantung dari kebutuhan.
Kalau misalnya kebutuhan yang Anda
butuhkan misalnya Anda adalah seorang
struktural engineers yang ingin
memperbaiki,
ingin menjamin wilayah atau kota Anda
ataupun misalnya Anda adalah engineers
di suatu oil and gas industry ingin
memastikan bahwa oil and gas facilities
di Anda bisa bertahan akibat gempa.
Maka Anda harus peta bikin peta risiko
baru.
Apakah misalnya Anda adalah ee
ee
pakar lingkungan misalnya yang ingin
melihat
kerusakan
hutan akibat longsor, ya Anda harus
bikin peta risiko yang baru.
Jadi peta risiko BNPB itu sangat bagus,
sangat saya rekomendasikan untuk ee
perencanaan, pengurangan risiko bencana.
Jadi user utamanya adalah BNPB dan BPBD
terutama.
Untuk yang lain ee
saya sangat ee sangat merekomendasikan
Anda untuk menelaah sebenarnya tujuannya
untuk apa. Beberapa poin yang belum
masuk ke dalam peta risiko BNPB adalah
aspek probabilitas
kecuali dalam peta gempa. Tapi peta
gempa pun probabilitas yang digunakan
adalah 10% dalam 50 tahun. Padahal beda,
beda, beda fungsi, maka peta
probabilitasnya pun berbeda.
Jadi, itu yang menurut saya perlu ee
Anda perhatikan. Tapi secara umum oke.
Sangat baik.
Ee kemudian ada pertanyaan ketiga.
Ee saya ingin bertanya, apakah untuk
sensor longsor dan gempa bisa kita
integrasikan dengan IoT? sehingga
masyarakat akan lebih cepat untuk
evakuasinya. Bisa ee isu di dalam
di dalam peta gempa hubungannya dengan
longsor adalah
ee
pengamatan saya adalah skala informasi.
Jadi begini bahwa peta gempa itu
dibangun dengan asumsi seluruh ee karena
level karena kami membangun untuk level
nasional
dengan asumsi bahwa goncangan terjadi di
batuan dasar.
Padahal longsor itu terjadi di
permukaan.
Jadi pada saat peta gempa ingin
diintegrasikan dengan peta potensi
longsor, maka kita harus mengetahui
percepatan gempa dinaikkan ke permukaan
tergantung jenis tanahnya.
Jadi kalau misalnya ee bisa
diintegrasikan bisa sekali, tapi ada
beberapa stage tambahan dan menurut saya
ini peluang riset yang baik yaitu yang
pertama adalah ee merubah skala
informasi
menjelas menjadi skala informasi yang
digunakan yang bisa digunakan untuk
mengkaji longsor
dan itu kemudian kita harus menambahkan
beberapa informasi tambahan
yaitu ee misalnya percepatan ee
percepatan
percepatan tanah bisa VS30 kita
menyebutnya sebagai percepatan velocity
di 30 gitu ya.
Ee bisa sekali dan saya sangat optimis
bahwa ini akan menjadi masa depan
pemanfaatan IoT untuk berbagai aplikasi
itu bisa sangat detail.
Ee kemudian ada pertanyaan yang
selanjutnya. Saya tinggal di Kalimantan
Barat. Apakah ada potensi
ada potensi terjadi gempa? Jawabannya
iya. Jadi
ee
seperti tadi saya jelaskan bahwa gempa
adalah hazat secara umum adalah
probabilitas.
Jadi ee
ee jadi kemudian
ee
jadi kemudian di wilayah Indonesia di
manaun probabilitas gempa itu ada dan
kita tinggal melihat berapa nilai
maksimum dari probabilitas tersebut.
Jadi kalau kita bandingkan dengan
wilayah yang lain misalnya di Pulau
Jawa, tentu saja bahwa ee magnitud
maksimum untuk gempa di Kalimantan lebih
rendah, tapi tidak berarti tidak ada
gempa. Ee saya ada mahasiswa S3 dari
Brin sekarang yang sedang riset
kegempaan di Kalimantan dan kita melihat
bahwa ada bukti kegempaan di Kalimantan.
Bahkan kita melihat ada bukti akumulasi
regangan di Kalimantan yang berpotensi
untuk menjadi gempa. Ee tapi kabar
baiknya bahwa magnitudo dari gempanya ee
tidak terlalu besar.
Ee kemudian ada pertanyaan dari ee
Saudara Yanto, apakah lokasi daerah yang
yang dapat teridentifikasi zona gempa
menjadi salah satu kebijakan pemerintah
untuk mengosongkan area pemukiman?
Jawabannya tidak.
Ee jadi
ee kita tidak bisa ee
khusus untuk gempa ya untuk mungkin beda
dengan longsor. Jadi kalau longsor
ketika ada potensi longsor memang ee
didorong apabila potensi longsor
tersebut kemudian sulit untuk diperkuat
gitu ya ataupun cost untuk memperkuat
longsornya terlalu mahal. ee Anda kalau
memperhatikan beberapa negara itu
beberapa lereng itu seperti dikunci gitu
ya agar kemudian tidak terjadi longsor.
Khusus untuk ee untuk ee gempa bumi,
maka yang pertama yang harus kita
lakukan adalah mengkuantifikasi potensi
ancamannya.
Jadi pada saat kita mengkuantifikasi
potensi ancamannya, yang bisa kita
lakukan adalah
ee yang bisa kita lakukan adalah
membuat perencanaan wilayah yang
kemudian bangunannya disesuaikan dengan
potensi ancamannya.
Jadi bisa tetapi kemudian disesuaikan
kecuali di dalam koridor yang sangat
pendek. Jadi misalnya ee koridor yang
sangat pendek dari sumber gempa.
Misalnya kalau kita tahu ada sebuah
sesar yang mungkin menghasilkan robekan
atau rapture. Sempat saya tadi sempat
saya bahas sedikit ketika menjawab
diskusi dari Pak Sugeng. Jadi ketika ada
robekan maka tidak ada kemampuan
infrastruktur, tidak ada kemampuan
struktur yang bisa menahannya. Tapi
kalau goncangan itu bisa dilawan dengan
struktur yang baik atau mah struktur
yang ringan kayak struktur bambu seperti
orang seperti rumah gadang di Minang
misalnya, seperti rumah-rumah di Sunda
yang dari ee yang dari bambu yang
kemudian ee di bagian bawahnya itu
dikasih batu. Sehingga saya masih ingat
rumah kakek saya di kampung dulu. ee
jadi ee dikasih bambu sehingga bagian
bawahnya itu ada lahan kosong yang
digunakan sebagai kadang-kadang sebagai
kandang ayam gitu ya. Sehingga rumah tuh
tidak menyentuh tanah. Pada saat ee
goncangan gempa ya rumahnya tuh turun ke
bawah
karena kan berdiri di atas batu. Begitu
gempanya beres ya rumahnya dinaikin ke
atas gitu ya.
Jadi kita sudah punya wisdom ee
masyarakat kita hidup di daerah yang
memiliki potensi gempa dan mereka
sesuaikan bangunannya. Nah, jadi tidak
dikosongkan tapi harus menyesuaikan
bangunan dengan kondisi ee kondisi ee
goncangan gempanya bisa bangunannya
sangat baik memiliki tadi dumping system
kalau kayak di Jepang atau memiliki atau
menggunakan ke wisdom lokal yang sudah
kita miliki di Indonesia dan itu
sebenarnya keren-keren sekali
wilayah-wilayah kita. suku-suku misalnya
saya pernah ke suku Sasah di Lombok itu
mereka sudah punya pengetahuan bangunan
agar mereka bisa hidup di lokasi yang
berpotensi gempa beli. Nah, kecuali
kalau robekan. Jadi kalau robekan tuh
tidak ada kemampuan struktur yang bisa
menahannya. Mau dibangun sekuat apapun
kalau tanahnya robek ya bangunan robek
gitu ya. itu seperti kejadian gempa palu
2018 itu yang disebut sebagai robekan
itu harus dikosongkan tapi
dikosongkannya pendek aja mungkin bisa
jadi 10 m di samping sesar 10 m di kiri
10 m di kanan gitu ya seperti yang
digunakan di New Zealand dan beberapa
wilayah di Amerika jadi cuman cuman
daerah yang sangat sempit itu kosong
jadi kawasan hijaunya itu sebenarnya
sempit enggak usah satu kota
dikosongkan, enggak cuman 10 m disampai
ke sesar tinggal dihitung panjang
sesarnya nya berapa kilo gitu ya
misalnya panjang besarnya 10 kilo, 15
kilo ya dekat itu aja dikosongkan jadi
kawasan hijau. Sisanya disesuaikan nanti
bangunannya.
Ee yang pertanyaan selanjutnya, sejauh
mana kesiapan infrastruktur dan sistem
mitigasi di Aceh dan di Padang apabila
gempa 2004 dan 2009 terulang dari Alex
Karik Kurniawan, ee saya tidak punya
pengetahuan untuk saya bicara mengenai
saya bisa bicara mengenai gempa Padang
dan gempa Aceh 2009. Kami pernah
publikasi saya bisa bicara juga potensi
gempanya. Jadi ee gempa 2009 di di
Padang adalah bukan gempa utama yang
kita khawatirkan karena terjadi di
bagian bawah ee dari zona subduksi yang
kita khawatirkan di zona subdsinya. Ee
tapi saya tidak punya pengetahuan
mengenai kesiapan infrastruktur dan
mitigasi di wilayah tersebut. Itu di
luar pengetahuan saya.
Ee pertanyaan selanjutnya yaitu ee jika
percepatan 0,3 0,3 apakah di cukup
menentukan bangunan tertentu? Apakah
bisa terjadi 0,6G di Maluku dan di
Papua? Jawabannya iya. Percepatan 0,3
itu kalau di ee untuk memberikan
gambaran 0,3g itu seperti apa, nilai
A-nya 0,3 itu seperti apa? yaitu ee pada
saat gempa Jogja 2006. Jadi, Bantul saat
gempa Jogja itu percepatannya 0,3.
0,6 itu di mana? 0,6 itu mungkin di
Teluk Palu saat gempa 2018.
Maluku dan Papua. Iya. Apalagi Papua
pegunungan ee di daerah ada banyak sesar
aktif. ada sesar aiduna di sana dan
sebagainya. Jadi sangat mungkin terjadi,
tidak harapkan tetapi sangat mungkin
terjadi.
Ee perlu kerja sama ESRI ee ESRI saya
kurang paham mungkin ESRI ini adalah eh
penyedia software GIS JIK dan lain-lain
membangun sim warning tingkat bawah
POUJA PKK penguatan dan bencana ya.
Kalau saya sih ee saya percaya pada
kapasitas nasional. Jadi kita bisa
membangun dengan kemampuan sendiri. Asal
banyak stakeholder bekerja ee insyaallah
kita bisa membangun ee dengan kapasitas
sendiri.
Ee pertanyaan nomor dua, penataan kuota
resilience. Mangga silakan ee silakan
saja bisa kontak saya. Saya bisa kontak
di media sosial. Anda bisa cek nama saya
Irwan Melano, bisa kirim ee DM ke saya.
Dan saya pun baru sadar, ternyata saya
lebih mudah diakses di Instagram
dibandingkan WA. Ternyata saya lebih
sering ngecek Instagram dibandingkan WA.
Jadi silakan kalau Anda ingin ada
pertanyaan lain, Anda bisa dikontak ke
Instagram saya. Namanya nama saya aja
dan enggak saya kunci. Anda bisa selalu
bisa mengkebuli.
Ee apakah gempa bisa mitigasi? Tentu
saja kita bicara sekarang dalam
mengurangi melakukan mitigasi untuk
mengurangi risiko.
Ee pertanyaan kedua adalah metode
adaptasi apakah yang paling efektif
untuk di Indonesia? Ee saya rasa yang
paling efektif adalah meningkatkan
literasi.
Jadi
ee salah satu persoalan serius
di kita adalah rendahnya
pengetahuan kita akan diri kita sendiri.
Seperti saya sampaikan dalam memahami
potensi bencana adalah memahami diri
kita sendiri. Jadi kita sering tidak
paham kondisi alam, kondisi lingkungan,
tempat kita tinggal.
Padahal kita sudah punya local wisdom
yang sangat panjang, tapi aspek
modernisasi
ee mungkin pasca penjajahan sehingga
asumsi kita rumah yang keren itu dibuat
dibuat dari batu bata. Padahal di negara
yang batu batanya yang pakai rumahnya
batu bata kayak di Belanda itu memang
enggak ada gempa. Tapi kita niru gitu
ya. Padahal orang benda, orang Belanda
pun ketika ketika buat ee bangunan batu
bata di Indonesia ya bangunannya dibikin
sangat kokoh gitu ya. Saya ingat ee
sekolah saya waktu SMA itu adalah
sekolah Belanda Buger Puger School. Itu
gede gede banget gitu ya ee
kolom-kolomnya. Jadi walaupun orang
Belanda bikin tuh mereka pakai kolomnya
besar-besar, tidak ada besinya tapi ya
pakai tebal-tebal gitu ya. ee karena
mereka paham bahwa ee
mereka harus beradaptasi dengan kondisi
yang lokal.
Jadi menurut saya kata kuncinya adalah
meningkatkan literasi. Jadi tidak ada ee
tidak ada ee cara cepat kecuali
membangun literasi
dalam memahami diri kita sendiri.
memahami potensi bencana sebagai awal
untuk mengurangi risiko bencana.
Demikian, Mbak Dini. Mudah-mudahan ee
saya dapat nilai B pun sudah bersyukur
ini. Mudah-mudahan
ya. Baik, terima kasih Prof. Irwan atas
ee jawaban-jawabannya
dan untuk selanjutnya kita akan
lanjutkan pada sesi
tanya jawab secara langsung dengan
peserta Zoom. Kebetulan ini juga sudah
ada dua ee yang raise hand. Ee namun
mohon izin Pak Sugeng mungkin saya
memberikan kesempatan kepada Pak Sultan
terlebih dahulu.
Ee mangga kepada Pak Sultan bisa
dipersilakan untuk memberikan
pertanyaannya.
Oke, makasih ee moderator ya. Mohon maaf
tidak ini nak buka kamera ya karena
jangan sampai apa ee jaringan. Ee saya
kira pertama-tama saya ee sangat apa
mengapresiasi ya kegiatan kita hari ini
ya dengan materi saya kira sangat aktual
ya. Aktual karena hari ini kita masih
bergelut dengan apa bahaya bencana
kemarin ya yang sudah kita lihat. Nah ee
terima kasih Prof. Irwan. Ee saya
konsern ke materi yang terakhir tadi
disampaikan Prof. Irwan ya terkait
dengan
ee pembiayaan apa itu bencana ya.
Bencana.
Nah ee
apalagi ee kalau gak salah
simak tadi bahwa Prof. Irwan ee saat ini
lagi mengkaji ya ee bagaimana sebetulnya
ee pembiayaan-pembiayaan bencana itu
yang ideal ya. Nah, sehingga itu ee yang
saya ingin ee dapatkan gambaran singkat
mungkin dari Prof. Irwan bahwa ee
seperti apa sebetulnya atau bagaimana
sebetulnya ee mengelola dana bencana itu
secara ideal ya. Karena kalau kita
melihat misalnya mekanisme yang ada di
tingkat ee pemerintah itu kan sangat
tidak fleksibel ya. ee apalagi kemarin
kalau kita mendengar ee apa pernyataan
dari Mensos ya, bahwa kalau mau menggali
misalnya dana untuk bencana ya harus
melalui izin misalnya ya itu kan sangat
ee apa namanya sangat birokratis ya
sementara kalau kita bicara bencana itu
kan ya sesuatu yang memang harus kita
tangani cepat ya. Nah, sehingga itu yang
menjadi pertanyaan saya untuk mungkin
singkat saja untuk Prof. Irwan bahwa ee
seperti apa sebetulnya mengelola dana
bencana itu ya ee terutama mungkin kalau
kita bicara ee di awal-awal ya ee
terjadinya bencana ya kalau umpama di
masa rekonstruksi itu ya mungkin ee
memang perlu di situ perencanaan yang
lebih matang ya. Tapi ini apa konteksnya
ketika bencana itu baru apa terjadi ya
atau baru mulai. Saya kira cuma itu saja
Prof. yang saya ingin dapatkan gambaran
yang ee ya katakanlah yang idealnya ya
ee mengelola dana bencana itu terutama
di awal-awal ya terjadinya ee bencana.
Makasih, Prof., makasih ee moderator.
Saya kira cuman itu.
Iya. Eh, terima kasih, Pak Sultan JB. Ee
Bapak sekarang di mana, Pak ee posisi
Bapak?
Oh, i saya kebetulan di Makassar, Prof.
Oh, di Makassar. Baik
Makassar, [tertawa] ya.
Iya. Eh, senang sekali bisa bertemu ee
walaupun hanya lewat Zoom ya.
Mudah-mudahan kita bisa berdialog secara
langsung di masa depan.
Mudah-mudahan, Prof. Insyaallah ya.
Amin. Amin. Insyaallah. Jadi ee
ee saya menyaksikan
ee
banyak sekali bencana yang
ee mohon maaf proses penanggulangannya
tidak maksimal.
Ee
jadi biasanya sesudah kejadian bencana
pasti kami ke lapangan melakukan survei
dari mulai bencana Aceh 2004, Jogja
2005,
Padang 2009,
Nias 2005,
kemudian selatan Jawa 2006,
terus sampai kemudian yang ee Ambon
2021, kemudian Ambon Maaf, Ambon 2019
dan ee sebelumnya ee Palu, Lombok dan ee
bahkan di beberapa daerah sampai 2 tahun
kita masih menyaksikan masyarakat yang
tinggal di pengungsian.
Dan itu kemudian membuat saya menyadari
bahwa respon cepat pada saat bencana ini
menjadi sangat penting
dan untuk memastikan
tidak terjadi resiko baru.
Ee
ee saya mungkin tidak bisa sampaikan di
sini, tapi saya menyaksikan banyak hal
sekali yang sangat menyedihkan ee pada
saat bersama-sama tinggal dengan
masyarakat di daerah pengungsian.
Dan itu kemudian membuat saya yakin
bahwa memiliki
skema pembiayaan yang baik itu menjadi
sangat penting. Untuk itu dalam 6 tahun
terakhir kami melakukan riset ee
ee mengenai topik ini ada beberapa kata
kunci ee dalam proses pembiayaan yang
kemudian
ee ee perlu dilakukan.
Yang
pertama adalah
memiliki informasi
seberapa mungkin,
seberapa besar kemungkinan
kerugian ekonomi yang mungkin terjadi
terhadap pada saat bencana terjadi.
Jadi dan itu mungkin menjadi tidak
relevan dengan apa yang sudah ee
sekarang terjadi karena kan sudah kadung
terjadi ya. Tetapi belajar dari
pengalaman sekarang, maka kita harus
memiliki perhitungan yang baik untuk
bencana nanti di masa depan.
Seberapa besar kemungkinan kerugian
ekonomi
belajar dari yang sekarang. Tetapi dalam
konteks yang sekarang, maka satu hal
yang menurut saya sangat penting adalah
ketepatan waktu untuk pendanaan.
Tetapi ketepatan waktu itu tidak harus
berarti bahwa dana itu kemudian
disalurkan di awal.
Jadi, kecepatan memang penting, tetapi
tidak semua sumber daya dibutuhkan
sekaligus dalam satu waktu.
Nah, agar kemudian ada dana minimal yang
bisa dikeluarkan di dalam waktu segera,
maka ada dua pendekatan. Pendekatan
pertama yaitu pendekatan yang paling
dasar yaitu setiap daerah harus memiliki
kapasitas APBD untuk menanggulangi
bencana sekecil apapun tapi itu harus
diberikan.
Jadi dalam komponen APBD itu harus ada
komponen yang disimpan
untuk merespon cepat bencana. Jadi
jangan sampai kemudian daerah langsung
mendeklare tidak mampu
karena memang dari awal tidak menyimpan
dana walaupun tidak harus besar. sangat
tergantung tadi persepsi kita pada saat
mendefinisikan perencanaan ee pada saat
kemudian mendefinisikan potensi kerugian
kita kemudian akan menyimpan berapa
persen dari APBD kita dalam untuk itu.
Dan kalaupun itu tidak tidak cukup maka
harus segera ditutup dengan e APBN.
Nah, tetapi menurut saya ada satu salah
satu institusi yang penting
yaitu pulling fund bencana.
Ini yang kami sedang dorong sebetulnya.
Jadi, ada pulling fund, ada pengumpulan
dana bencana sekarang itu disimpan di
BPDLH di Kementerian Keuangan yang
menyimpan uang bencana.
Nah, pulling fund ini kemudian harus
cepat bisa dimasukkan pada saat alokasi
pada saat APBD-nya kurang, pada saat
APBN-nya terlambat karena seringkiali
mungkin perlu waktu untuk mencairkan.
Tapi pulling fund itu harus sangat cepat
bisa dicairkan karena uangnya itu selalu
ada di sana tertumpuk dan disimpan
khusus untuk keperluan bencana.
Jadi ada ee ada mekanisme di mana ee
saya menyebutnya sebagai ee
pelapisan keuangan untuk bencana. Jadi
ee kan ee walaupun sebetulnya kan ee
kita ingin ee yang disampaikan BNPB
penting sekali mengurangi risiko bencana
itu lebih penting, itu oke, itu penting.
Tetapi merespon cepat bencana sebagai
awal dari pengurangan risiko bencana di
depan itu kuncinya.
Jadi pada saat bencana terjadi dan kita
tidak bisa merespon bencana dengan cepat
dan itu terjadi berkali-kali di berbagai
bencana saat ini, mohon maaf,
maka sangat sulit untuk bisa meyakinkan
kita bisa melakukan mitigasi dengan
baik.
Jadi, kemampuan kita merespon termasuk
di dalamnya dan saya setelah saya kaji
salah satu persoalan itu adalah
kemampuan keuangan kita. Seringki
uangnya ada tetapi kemudian tidak bisa
dicairkan di waktu yang tepat.
Seringkiali uangnya ada, tapi kita tidak
memiliki mekanisme
struktural yang membuat uang tersebut
bisa efektif, dialokasikan secara
efektif, dicairkan,
dimonitor penggunaannya dengan baik yang
kemudian tidak menjadi persoalan
lanjutan di masa depan.
Jadi seringkiali ee banyak dari kita
sangat konservatif bahkan tidak mau
menerima ataupun mau menyalurkan karena
takut karena memang banyak contohnya
kemudian berulusan dengan penegak hukum.
Kalau menurut saya itu terjadi karena
kita tidak memiliki mekanisme yang kuat
akan hal tersebut dan salah satu
solusinya adalah memperkuat pemanfaatan
pulling fund bencana yang sekarang itu
ada sudah ada di BPDLH ee di bawah
Kementerian Keuangan. Mudah-mudahan saya
mendapatkan diskusi. Mungkin saya izin
10 menit karena atau 5 menit lagi karena
sudah mulai azan di tempat kami.
Oke. Baik, Prof.
Ee mohon ee ditunggu Bapak Ibu, Bapak
Ibu semuanya kita sejenak bre break dulu
5 menit nanti akan kembali lagi pada
pukul 11.5.
Izin, Prof. Apakah sudah bisa dimulai
kembali?
Iya, mangga. Silakan,
ya. Baik. Ee ini karena waktunya tersisa
5 menit lagi, jadi untuk tanya jawabnya
ee mungkin hanya untuk dua penanya yang
sudah raise hand
dan dipersilakan. I baik dan
dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk
menyampaikan pertanyaannya.
Oke, terima kasih
Pak Irwan.
Iya, Mas.
Saya akan ada di Jogja ya waktu gempa
tahun 2006.
Iya. Iya, Pak. Saya ada di Jogja, Pak.
Ini ini studi kasus e kelihatannya
ee yang pertama terkait dengan
pengembangan pemukiman ya, Pak ya. Dulu
sebelum gempa pemukiman itu kan
berkembang ke arah selatan ya, ke arah
selatan ke arah Bantul ya. Ke arah
Bantul. Kemudian daerah-daerahnya tidak
lepas dengan daerah-daerah yang dekat
sesar aktif, sesarupak ya toh. Sehingga
waktu terjadi gempa itu ee korban cukup
banyak. ee banyak rumah-rumah juga
rumah-rumah baru termasuk juga roboh
banyak gedung-gedung pemerintah juga
roboh. Nah, kemudian bergeser lagi ke
arah utara karena takut pada
daerah-daerah selatan yang dekat sesarup
ee ke arah Sleman. Tapi sekarang sudah
lupa lagi, sudah berkembang lagi ke arah
selatan. Nah, terkait dengan apa tadi ee
peta ee apa percepatan gempa ya. peta
percepatan gempa yang Pak Irwan sudah
buat dalam skala nasional. Mungkinkah
itu bisa dimanfaatkan oleh pengembang
sehingga pengembang itu bisa katakanlah
memberikan apa faktor kenyamanan bagi
konsumen gitu loh, Pak. Jadi sehingga
apa ee daerah-daerah yang dipilih bukan
hanya memandang karena harga tanahnya
lebih murah kemudian saya buat di situ
tapi tanpa mempertimbangkan faktor
percepatan gempa tadi. Jadi ee
mungkinkah itu peta percepatan gempa itu
ee ya saya kira ini bisa menjadi ee
tanggung jawab pengembang atau mungkin
juga mungkin ee lembaga yang berkompeten
untuk mengembangkan ee peta percepat
peta percepatan gempa secara detail
sehingga konsumen itu merasa nyaman
dengan lokasi lokasi pemukiman yang baru
yang dibuat oleh para pengembang itu,
Pak. Jadi ini kadang-kadang banyak yang
ee merasa konsumen itu dirugikan.
Dirugikan karena apa? Karena dalam jual
beli ak jual beli tanah itu ee ada poin
yang mengatakan post major. Jadi sewaktu
belum serah terima itu bangunan itu
menjadi tanggung jawab pengembang.
Tetapi kalau sudah serah terima, maka
tanggung jawab ee rumah itu menjadi
tanggung jawab konsumen. Ini padahal
kita tidak mungkin banyak konsumen yang
tidak tahu ya bagaimana sih potensi ee
potensi risiko gempa yang ada di daerah
tersebut. Jadi ini yang pertama. Yang
kedua, kenapa sih pembangunan mitigasi
atau terkait dengan program ee
penanggulangan bencana khususnya
mitigasi struktural itu ya yang jelas
kalau mungkin mengandalkan dana APBD
mungkin kecil sekali, Pak. Tapi itu kan
adalah yang paling penting sebelum
bencana itu terjadi, mitigasi itu
dilakukan seperti katakanlah ee yang
terjadi di Aceh, di Sumatera Utara, di
Sumatera Barat yang terkait dengan
longsor dan banjir itu kan mitigasi
strukturalnya kan hampir sama sekali
tidak tidak muncul atau mungkin sangat
kurang sekali sehingga lemah sekali
sehingga terhadap perubahan fungsi lahan
yang terjadi secara cepat itu ee tidak
bisa katakanlah menanggulhangi mitigasi
mitigasi yang sifatnya struktur
struktural. Ini yang menjadi apa ee
permenungan kita. Bagaimana sih ee
pemerintah itu sadar bahwa mitigasi
struktural itu penting dilakukan sebelum
bencana itu terjadi. Terima kasih, Pak
Irwan.
Ya. Baik, terima kasih. Mungkin kita
gabungkan dengan pertanyaan Pak Budi.
Oke. Baik, Prof. Eh, dipersilakan kepada
Pak Jok untuk menyampaikan pertanyaan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Dengar, Pak? Ya,
clear, Pak.
Heeh. Eh, perkenalkan saya Joko Budi
dari DLH Kabupaten Kutai Timur di
Provinsi Kalimantan Timur. Jadi, sebagai
informasi, Pak
BPBD Kabupaten Kutai Timur itu
ee membentuk
tim gitu pengkajian kebutuhan pasca
bencana. tergantung bencananya, ada
bencana banjir ataupun kebakaran yang
masing-masing kondisi daerah tentunya
berbeda, Pak. Ya.
Dan kami kebetulan sudah melakukan
antisipasi dengan melakukan pengkajian
kebutuhan pasca bencana banjir, Pak.
Karena kebetulan sering terjadi banjir
di Kabupaten Kutai Timur. di mana tim
ini ee melibatkan beberapa SKPD yang
langsung terdampak dengan adanya
kejadian bencana.
Jadi di situ akan menghitung nilai
kerugian dan nilai kerusakan.
Kalau kerusakan itu terhadap fisik, Pak.
Sebagai contoh, pada kejadian bencana
yang pada akhirnya ee menyebabkan jalan
rusak akan dihitung nilai kerusakan dari
perbaikan jalan.
Selanjutnya nilai kerugiannya itu adalah
proses dari
ee perbaikan itu, Pak. Misalkan dengan
adanya perbaikan itu akan membuatkan
masyarakat
memutar jalan.
akan dihitung berapa biaya dari ee BBM
yang dikeluarkan masyarakat, kemudian
pendapat dari pendapatan masyarakat itu
termasuk di nilai kerugian. Jadi semacam
itu, Pak. Jadi saya rasa mungkin
beberapa kabupaten, provinsi di
Indonesia sudah ee melakukan dokumen
kebencanaan ini, saya rasa. Demikian,
Pak, dari saya. Terima kasih,
ya. Baik. Ee terima kasih Pak Budi. Ee
jadi ee izinkan saya untuk ee tadi
membahas diskusi yang pertama ee terkait
dengan
ee
dari Pak Sugeng.
Ee
seminggu sesudah kejadian gempa Jogja
ee saya berangkat ke Jogja. Jadi waktu
itu saya sudah bekerja
ee saya bekerja di ee institusi yang
ee ee merespon ee bencana. Jadi salah
satu tugas saya adalah merespon pada
saat bencana terjadi.
Ee kemudian saya minta izin untuk ke
Indonesia karena bencana terjadi di
Indonesia. Jadi saya ee ingin ee
membantu merespon. Saya berangkat ke
Jogja. Ya. Kemudian ee kami melakukan
survei yang intensif di Jogja. Kemudian
ee menulis beberapa karya publikasi dari
hasil survei tersebut.
ee faktor yang menarik dan mungkin
sekarang ee juga sudah banyak diketahui
bahwa
ee persoalan di Jogja di antaranya
adalah percepatan tanah yang lebih
tinggi daripada percepatan yang di
batuan dasar.
Sedangkan peta gempa yang kami buat
adalah mengasumsikan percepatan terjadi
di batuan keras atau di batuan dasar.
Pada saat kemudian gempa terjadi, maka
kemudian percepatan di batuhan dasar.
Untuk menghitung potensi gempa ke depan,
maka kita harus ee menghitung tidak
hanya di petuhan dasar kita naik ke
permukaan. Jadi pada saat dan pada saat
dinaikkan ke permukaan maka khusus untuk
Jakarta eh maaf untuk Jogja karena
sedimen dari produk Merapi kemudian ee
selain juga sedimen sungai di sekitar
sungai Opak tapi dominan karena produk
letusan Gunung Merapi yang hampir 2
seteng tahun sekali meletus. Bahkan
mungkin dalam sejarah kita paham Candi
Borobudur pun sempat hilang gitu.
kemudian sebelum ditemukan kembali
karena tertutup oleh sedimen yang untuk
menunjukkan bahwa sedimennya itu begitu
tebal dan ketebalan sedimen itu kemudian
menghasilkan yang kita sebut sebagai
faktor amplifikasi atau penguatan
gelombang gempa.
Nah, terkait ee yang Bapak sampaikan
agar pengembang menginformasikan
goncangan gempa,
sebetulnya ada faktor teknis tambahan
yang kemudian harus dikuasai oleh
siapapun yaitu
ee menambahkan faktor amplifikasi.
Jadi menambahkan faktor amplifikasi
sehingga goncangan gempa yang kami
hitung itu bisa menjadi nilai goncangan
gempa di permukaan. Ee tidak terlalu
rumit, hanya kemudian kita harus sedikit
memahami kondisi ee lokal dari setiap ee
wilayah.
Dan itu yang tadi saya sampaikan di
bagian
ee di bagian tanya jawab sebelumnya,
yaitu salah satu tantangan kita adalah
ee pengetahuan
dari meningkatkan pengetahuan dari
masyarakat dan pengambil kebijakan, Pak.
Ini mohon maaf. Jadi saya sering
menemukan ee pihak
di daerah yang kemudian tidak memahami
bagaimana proses untuk menggunakan
informasi ee ee informasi percepatan
gempa di batuan dasar sehingga sebagai
dasar sehingga digunakan untuk keperluan
menghitung percepatan di permukaan
dan apabila pengembang bisa melakukan
itu baik tapi kalau tidak ya mungkin itu
dilakukan oleh pihak yang lain, bisa
pemerintah daerah membantu
masyarakat. Kalau saya sih mendorong itu
dilakukan tidak oleh pihak pengembang
atau swasta. Sebaiknya itu menjadi
informasi resmi yang dikeluarkan oleh
pemerintah daerah sehingga tidak ada
dispute dan kepentingan, Pak. Jadi itu
kemudian dikurang di diberikan oleh
pemerintah
daerah yang dengan demikian ee kita bisa
ee masyarakat bisa memahami implikasi
dari adanya goncangan tersebut pada
struktur bangunan yang mereka miliki.
Ee dan satu hal sebetulnya yang penting
bahwa ee goncangan gempa itu adalah
probabilitas. Jadi goncangan gempa
adalah probabilitas. Untuk itu maka
tidak bisa diberlakukan sama untuk
setiap struktur bangunan.
Jadi ee poin yang ingin saya sampaikan
bahwa sebaiknya itu tidak dilakukan oleh
pihak swasta tapi otoritas. Jadi silakan
pemerintah daerah melakukan perhitungan.
Nah, implikasinya kemudian dibicarakan
antara pihak swasta dengan ee pemerintah
dan juga ee calon pemilik bangunan.
Harapannya bahwa ee harapannya yaitu ee
pengembang
pada saat membangun sudah
memperhitungkan hal tersebut yang
artinya bahwa bangunan dibangun lebih
kuat daripada potensi goncangan di
permukaan.
Kemudian yang disampaikan oleh Pak Joko
ee sangat baik sekali ee kami mendengar
ee bahwa ee banyak kota dan provinsi
bahkan itu di seluruh Indonesia karena
itu menjadi
ee
menjadi dasar pendefinisian
kota tangguh bencana gitu. memiliki ee
rencana kontingjensi yang kemudian
berdasarkan pada ee
jitupasna dan sudah ada perka mengenai
perhitungan jitupasna yang dibuat oleh
BNPB dengan sangat baik. Saya rasa ini
upaya yang sangat baik. Ee kita pun
perlu kemudian
ada dua hal, Pak. yang pertama
ee yang pertama ee kalau saya bicara
dalam konteks ee konteks hazat 4emp dulu
yang pertama bahwa pada saat kita
menghitung
kaji cepat potensi kerugian kerusakan
dampak ekonomi tadi disebutkan ada yang
langsung tidak langsung
maka harus menggunakan asumsi dari
hazarda
Dan hazat yang kita gunakan tadi saya
sampaikan bahwa hazat itu adalah
probabilitas.
Maka pertanyaannya adalah kita
menggunakan asumsi probabilitas yang
mana untuk banjir? Apakah kita
menggunakan asumsi banjir 10 tahun?
Apakah kita menggunakan asumsi banjir 25
tahun? Karena itu akan mempengaruhi
perhitungannya.
Apakah perhitungan kita underestimate?
Apakah perhitungan kita overestimate?
Saya yakin kotak kotak-kotak kota
kabupaten di wilayah Sumatera Barat dan
di Aceh itu pasti sudah punya
perhitungan yang seperti Bapak
sampaikan.
Tapi kemudian fakta kita melihat
pada saat bencana terjadi
yang sekarang terjadi bencana di
Sumatera. Dugaan saya bencana terjadi
pada periodisasi perhitungan hazat yang
berbeda dengan perhitungan hazat yang
digunakan dalam jidupas mereka saat ini.
Kenapa itu terjadi? Karena dalam model
jadi bisa jadi jitupasna itu berdasarkan
pada IRB
dan IRBI dalam konteks banjir itu tidak
probabilistik.
Jadi Bapak kalau melihat model hazat
banjir di dalam IRB sekarang itu tidak
probabilistik. Kalau dalam gempa itu
menggunakan probabilitas 10 tahun dalam
dalam maaf ee 10% dalam 50 tahun yang
cocok untuk bangunan rumah. tapi tidak
cocok untuk infrastruktur jembatan
misalnya.
Jadi ee menurut saya hal yang langkah
yang tepat ee langkah yang baik dan kami
apresiasi daerah melakukan tersebut.
Tapi satu hal yang kami kemudian ee
belajar dari terutama pengalaman gempa
di eh maaf ya gempa pun bisa pengalaman
gempa kemarin di ee gempa yang sangat
kecil tapi dampak kerusakannya besar.
misalnya gempa ee
ee gempa Cianjur atau kejadian banjir
kemarin. Saya ee saya paham betul saya
punya banyak teman di PBPD Sumatera
Barat. Mereka punya kajian yang sangat
baik.
Tapi bisa jadi kemudian perhitungan
banjir tidak sesuai dengan banjir yang
terjadi kemarin
yang kemudian kan kita tidak bisa kan ee
ee kita tidak membayangkan bahwa
banjirnya itu sedahsiat itu.
Kita tidak membayangkan bahwa
jadi model banjir kita ee itu adalah ee
berdasarkan topografi.
Bahkan kalau Bapak perhatikan model
banjir yang digunakan ee tapi mungkin
saya bicara itu dalam topik yang berbeda
lah ee tapi poin yang ingin saya
sampaikan dalam konteks model hajat ee
itu harus sesuai dengan atau kita harus
mempertimbangkan potensi-potensi ancaman
yang berbeda sehingga
nilai dari kerugian ataupun kerusakan
itu tidak satu angka tapi berdasarkan
kemungkinan model banjir. Jadi ada model
10 tahun hasilnya ini, model 25 tahun
hasilnya seperti ini. Model 100 tahun
hasilnya seperti ini. Nah,
itu hal yang pertama. Kemudian hal yang
kedua untuk setiap yang kita hitung kita
harus mengetahui dari mana sumber
pendanaannya.
Jadi tidak hanya besar ee
dampak ekonominya yang kita ketahui,
bisa langsung, tidak langsung. dampak
ekonomi yang langsung itu penting sekali
dalam konteks respon
dan tidak langsung itu akan bertambah
besar seiring dengan waktu karena
kehilangan opportunity.
Tapi kita pun harus mengetahui
siapa yang akan dana dana tersebut itu
bersumber dari siapa.
itu menjadi prinsip yang sangat penting
yaitu tadi saya sampaikan dalam diskusi
yang awal kita harus bisa mengetahui
berapa persen alokasi APBD yang akan
kita keluarkan
dan kalau melebihi jadi kalau tadi saya
jelaskan ada beberapa ee model
kemungkinan banjir berdasarkan tingkat
pengulangan banjirnya maka yang bisa
ditanggulingi oleh APBD itu banjir yang
mana?
Dan kita tidak bisa kemudian membuat
satu skenario. Skenario itu harus
banyak.
Nah, begitu terjadi banjir yang sangat
dahsyat seperti di Sumatera itu uangnya
dari mana?
Karena skemanya betul-betul berbeda.
Untuk itu, maka tadi saya sangat ee saya
sangat menyarankan agar kita memiliki
pelapisan
atau layering kan menyebutnya. Jadi
pelapisan dalam pembiayaan risiko
bencana tentu saja semuanya berhasilkan
berdasar pada kajian gitu pasna yang
kami tadi Bapak sampaikan atau kami
menyebutnya kajian risiko pembiayaan
kajian pembiayaan risiko bencana
yang dibuat dalam model yang
probabilistik.
Terima kasih. Mudah-mudahan ee menambah
diskusi
ya. Baik, terima kasih Prof. Irwan atas
ee penyampaian materinya dan juga tanya
jawabnya. Dan mungkin ini waktunya juga
sudah lebih dari pukul 12.00. Jadi untuk
sesi tanya jawabnya dicukupkan dan
terima kasih kepada para peserta yang
sudah berpartisipatif.
Dan untuk itu mungkin sebelum menutup
Zoom-nya apakah ee untuk memberikan
closing statement-nya untuk Prof. Irman.
Saya rasa sudah cukup. Tapi ee ee saya
ingin mengucapkan terima kasih atas
partisipasi dan kesempatan yang
diberikan oleh Eko Udu dan partisipasi
dari Bapak Ibu sekalian.
Ee langkah kita tidak mudah. Langkah
untuk pengurangan risiko bencana itu
tidak mudah dan ee kita menyaksikan
bahwa tantangannya akan jauh lebih berat
ke depan.
ee apalagi ee dampak dari perubahan
iklim ee ataupun variasi dari iklim ini
akan semakin serius ke depannya.
Ee untuk itu keterlibatan dari banyak
stakeholder menjadi sangat penting dan
upaya
untuk memiliki pengetahuan yang baik,
komprehensif
dalam memahami bencana.
dalam upaya pengurangan risiko bencana
dalam merespon. Dan satu hal yang tadi
saya ee mulai perkenalkan di bagian
tempat yaitu pembiayaan risiko bencana
menjadi sangat penting. Mudah-mudahan di
waktu yang singkat ini pengetahuan
sederhana yang saya berikan bisa
bermanfaat bagi Bapak Ibu sekalian.
Terima kasih.
Baik, Prof. Irwan. Untuk selanjutnya
kita akan dokumentasi terlebih dahulu.
Bagi Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan
kameranya dipersilakan.
Di sini saya akan ee mulai untuk
dokumentasi.
Saya akan melakukan perhitungan mundur
dimulai dari angka .
Oke. Baik. Saya akan mulai saja
dokumentasinya. Saya akan melakukan
perhitungan mukur dimulai dari angka
2 1
m dan sekali lagi 3 2 1.
Oke. Baik ee saya ucapkan sekali lagi
terima kasih kepada Prof. Irwan atas
penyampaian materinya yang sangat
bermanfaat dan membuka wawasan bagi kita
semuanya. Dan kehadiran Prof. Irwan
merupakan suatu kehormat kehormatan juga
bagi kami dan semoga di lain kesempatan
kita dapat kembali berdiskusi dan
bertemu dalam kegiatan berikutnya. Dan
dengan hormat kami persilakan kepada
Prof. Irwan apabila ingin meninggalkan
ruangan Zoom.
Oke. Baik Bapak Ibu semuanya, berakhir
sudah acara webinar di hari ini dan bagi
Bapak Ibu yang ingin mendapatkan
e-sertifikat,
Bapak Ibu dapat mengisi link presensi
kehadiran yang tertera di layar ini. Dan
ketika Bapak, Ibu mengisi presensinya,
pastikan nama dan email sudah diketik
dengan benar karena hal ini akan
mempengaruhi pengiriman sertifikatnya.
Dan baik saya akhiri kegiatan webinar
hari ini. Mohon maaf apabila saya ada
salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik
wal hidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
He. Yeah.