Webinar 133 Ekonomi Sirkular dan Peluang Pengembangannya
zHflxit7EUc • 2025-11-06
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko Edo ke-13. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semua yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Dan hari ini webinar Ekoed Edu akan mengangkat tema ekonomi sirkular dan peluang pengembangannya. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya, mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu untuk duduk tegak. [musik] Ya. Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di sini izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami, yaitu di minggu selanjutnya pada tanggal 10 hingga 14 November 2025. Di sini kami akan mengadakan dua pelatihan, yaitu yang pertama adalah pelatihan penunjang dokumen AMDAL dan SLO persetujuan teknis untuk emisi udara gelombang 21. Kemudian pelatihan dan sertifikasi pengambilan contoh uji air atau PCUA gelombang 3. Kemudian dilanjutkan pada minggu selanjutnya yaitu tanggal 17 hingga 21 November 2025. Di sini kami akan mengadakan pelatihan penunjang dokumen AMDAL persetujuan teknis untuk limbah B3 gelombang 11. Dan untuk itu, Bapak Ibu apabila Bapak, Ibu ee mengikuti pelatihan penunjang dokumen AMDAL baik yang untuk emisi udara ataupun limbah B3, Bapak Ibu ketika melakukan pembayarannya pada H-1 pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10% sehingga Bapak Ibu cukup membayarkan biaya investasi sebesar Rp3.600. R600.000. Dan kemudian untuk sertifikasi PCUA Bapak Ibu ee cukup mengeluarkan biaya investasi sebesar Rp.500.000. Dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami yaitu Riris dan Nisa. Bapak, Ibu juga bisa mengunjungi sosial media kami yaitu ada Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter, dan juga website resmi kami di www.ecoedu.co.id. Dan juga bagi Bapak Ibu yang tertarik langsung untuk mendaftar, silakan akses ke pendaftaran.co.id. Dan selain itu juga kami di sini terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline sesuai sesuai dengan permintaan dari instansi atau perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami tunggu Bapak Ibu semua di pelatihan dan baik Bapak Ibu, selanjutnya kita akan langsung masuk pada kegiatan utama kita yang di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai ekonomi sirkular dan peluang pengembangannya. Dan tentu saja di sini kami telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Dan langsung saja baik, perkenankan saya untuk memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu Bapak Fitrian Ardiansyah. Beliau merupakan ISG and Impact Director ACLF di ADM Capital Climate Hong Kong. Dan kebetulan juga ee Pak Fitrian sudah ada di dalam ruangan Zoom. Mungkin saya akan menyapa terlebih dahulu. Selamat siang, Pak Fitrian. Selamat pagi menjelang siang. Asalamualaikum. Ya. Waalaikumsalam, Pak Fitrian. Apa kabarnya hari ini, Pak? Eh, baik, terima kasih. Senang sekali ee bisa diundang ee ee ke Eko Edu dan menyapa Bapak Ibu sekalian juga. I kami juga sangat ee berterima kasih kepada Pak Fitrian atas terima undangan dari kami. Ee mungkin ee izin Pak Fitrian sebelum melanjutkan atau melakukan pemaparan ini, saya akan menyampaikan beberapa teknis terlebih dahulu yaitu yang pertama untuk pemaparan ini akan dilaksanakan selama 1 seteng jam kemudian dilanjutkan lagi dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Dan untuk itu untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Pak Fitrian dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti pelatihan eh mengikuti webinar mohon maaf. Terima kasih. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Ee mungkin saya ingin minta bantuan ee untuk slide-nya ya. Oke. Oke. Emm, slide-nya sudah ya? Ee Mbak Dini ya? Oh, sudah, Pak. Oke. Oke, makasih ya. Selamat pagi sekali lagi Ibu, Bapak, rekan-rekan peserta webinar. E terima kasih kepada ee Eko Edu terutama atas undangan dan kesempatan untuk berbagi. Sekali lagi kalau enggak salah saya sudah ini yang kali ketiga ya ee saya ada di ruangan Eko Edu. Ee nama saya Fitri Adiansyah. Eh sehari-hari saya dipercaya menjadi ESG, environment social and governance dan juga impact director di suatu eh impact fund atau pembiayaan yang punya dampak eh dari Asia Climate Smart Landscape Fund yang berbasis di Hongkong eh dimanage atau dikelola oleh satu lembaga eh keuangan non perbankan ADM Capital. Eh basisnya di Hongkong tapi coverage kita ada di Asia Pasifik termasuk juga Indonesia, Australia, New Zealand dan sekitarnya. Hari ini ee terutama kita akan membahas ekonomi sirkular. Ee bukan sekedar konsep lingkungan yang saya pahami tentunya, tapi mungkin nanti Bapak Ibu sekalian bisa kita membahas lebih lanjut bahwa ini sebenarnya pendekatan pembangunan yang mudah-mudahan bisa mengubah cara kita memproduksi, mengkonsumsi ee dan juga berinvestasi. Jadi, ekonomi sirkular ini ee menantang kita untuk berpikir ulang bagaimana limbah bisa menjadi sumber daya. ee mungkin next slide eh ee bagi sumber daya kemudian bagaimana ee desain ini bisa mencegah ee polusi limbah sejak awal dan bagaimana sistem bisa dibangun agar regeneratif dan juga bukan eksploitatif. Ee kenapa? Karena e banyak ee ekspert pakar ee juga ee menyatakan bahwa Indonesia kali ini nih terutama mungkin di pulau-pulau besar ee seperti Jawa yang juga pada penduduknya Bali dan sebagainya. kita nih sedang ada di titik kritis, titik kritis dan krisis. Di satu sisi kita ingin membangun ee mengembangkan banyak hal. Ee tapi ee di sisi lain karena pembangunan, karena konsumsi kita, karena produksi kita, limbah ee sampah dan ee polusi menjadi lebih banyak dan lebih kompleks. Jadi ee ini sesuatu yang sangat-sangat menantang bagi kita. di satu pihak kita ingin maju, di pihak lain ee ada istilahnya konsekuensi karena kemajuan itu. Ee apa yang kita lihat misalnya ee sungai-sungai badan air, banyak plastik di sana dari pesisir juga hingga residu industri di hulu dan sebagainya. Ah, di sisi lain kita melihat peluang juga ee yang luar biasa sebenarnya. Karena kalau kita punya mindset bahwa limbah sampah itu adalah sesuatu yang sebenarnya juga ee bisa jadi sesuatu yang sangat bermanfaat, ini bisa kita inovasikan ya. Bisa inovasi dari ulang, biomaterial daya laut, teknologi pengelolaan limbah, dan model bisnis berbasis sirkular ini yang nantinya mungkin kita bisa didiskusikan adalah bisa kemudian juga tumbuh dari level UMKM yang sangat-sangat sederhana. atau kecil hingga level korporasi dan juga skalanya besar yang akan dibantu oleh pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Jadi ee kita melihat ya bahwa pendekatan ekonomi sirkular ini bisa jadi bisa menggabungkan banyak hal nantinya. Mengatasi isu kemudian juga membantu kita tetap ee bisa lebih maju dan berkembang dalam konteks pembangunan, tapi juga tentunya harus ada kolaborasi nantinya. Nah, ini daftar isi dari ee presentasi atau sharing saya kali ini. Ee nanti ee mudah-mudahan akan lebih komplit dan tentunya ada tanya jawab yang ee kita ee sangat nantikan. Saya saya sangat bersedia untuk diskusi. Ee lanjut. Nah, mungkin pertama kita telusuri sebenarnya apa sih ekonomi sirkular itu kan. Jadi ee mungkin Bapak Ibu ee yang pernah ee melihat atau kita sama-samaah pernah ee SMA kuliah dan sebagainya mungkin kita tahu bahwa ada hukum termodinamika ya. Jadi ee energi meter dan sebagainya ee enggak hilang, Pak. Mungkin efisiensinya berkurang tapi enggak hilang. Berarti ada sesuatu yang kemudian habis kita pakai kita konsumsi ada yang dibuang kan. Nah, itu residu-residu itulah yang harus kita lihat. Jadi, bagaimana ekonomi sirkular itu adalah sebenarnya suatu sistem untuk kita membantu berpikir bagaimana kita bisa meminimalkan limbah atau polusi atau byproduct istilahnya dari ee hasil konsumsi, dari hasil produksi kita dan kemudian memaksimalkan nilai yang ee kita ee ambil dari sumber daya yang kita pakai. Misalnya, misalnya ee kalau dilihat di ee apa gambaran tadi yang di kanan bisa kelihatan bahwa sumber daya yang masuk dari sistem produksi dan konsumsi kita itu kalau bisa tidak terlalu banyak. Jadi kita efisiensikan tapi kemudian yang keluar juga tidak terlalu banyak kita bisa pakai lagi. Pada dasarnya ekonomi sirkular seperti itu. Close loop lah intinya. Jadi berbeda dari pendekatan linear yang mungkin selama ini kita kenal. Kalau linear kan kita ambil, kita pakai, kita buat, kita buang gitu kan. Seakan-akan ee kita selalu akan ada sumber daya yang tidak habis gitu terus-menerus. Jadi pada gilirannya ekonomi sirkular ini menekankan pada gimana kita bisa mendesain sistem kita sehingga ee input yang kita pakai ee sumber daya yang kita pakai itu bisa lebih minimum dan lebih bermanfaat. Ah, kemudian tetap kita daur ulang, kita pakai terus dalam sistem produksi dan konsumsi kita ee sehingga tidak ee ada hal yang mubazil sehingga limbah dan ee pada gilirannya sesuatu yang dibuang akan minimal dan limbahnya juga kalau bisa kita kemudian pakai lagi dan sebagainya. Jadi tujuannya bukan hanya untuk mengurangi dampak lingkungan ee menurut saya, tapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih efisien, tangguh, dan mudah-mudahan juga nanti berkeadilan karena nanti ee resource atau sumber daya yang ada itu bisa dipakai bersama. Jadi menurut BPPENAS, data-data yang saya dapatkan juga dari pemerintah, jika kita serius melakukan transisi eh menuju ekonomi sirkular ini, Indonesia sebenarnya berpotensi meningkatkan PDB ya produk domestik bruto kita hingga Rp593 triliun pada tahun 2045. Kenapa? Ya tentunya karena value yang kebuang gara-gara kita menyampah, membuang limbah dan sebagainya itu kita bisa manfaatkan lagi masuk dalam ekonomi kita dan ekonomi kita berkembang. Bukan hanya itu, em ada catatan juga ee dari banyak pihak bahwa kalau itu bisa dilakukan sebanyak sekitar 4,4 juta pekerjaan baru bisa tercipta di sektor-sektor seperti pengelolaan limbah, logistik, manufaktur berkelanjutan, dan ekonomi kreatif. Kalau ee Bapak-bapak yang tahu dan senang ee sepak bola misalnya mungkin tahu bahwa sekarang beberapa jersey atau ee apa sih namanya? seragam ee klub sepak bola di luar negeri ee tim nasional dan sebagainya sudah memakai beberapa produk-produk dari ekonomi sular dari ee recycle plastik dan sebagainya. Nanti kita bisa diskusikan bersama. Jadi pada dasarnya di banyak negara dan sudah mulai juga sih di Indonesia ini bukan sekedar ee wacana atau rencana. Jadi ini sudah ada strategi pembangunan nasional yang mungkin ee perlu kita dorong bersama untuk kita adopsi di level ee kabupaten atau provinsi kabupaten dan mungkin juga desa nantinya ee dalam bentuk berbagai kebijakan dan juga yang penting adalah peta jalan lintas sektornya seperti apa. Jadi menariknya prinsip-prinsip sirkularitas ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi kita. Kalau kita tahu gotong-royong, hidup hemat, memperbaiki barang sebelum membeli yang baru, kemudian memanfaatkan yang sudah ada, memanfaatkan kembali sumber daya yang ada dan sebagainya. Sebenarnya semua sudah harusnya ya tertanam dalam budaya kita sejak lama. Tantangannya sebenarnya menurut saya ya sekarang adalah bagaimana kita memperkuat nilai-nilai tersebut dengan teknologi, inovasi ee dan kebijakan yang tepat. Jadi, bagaimana kita membangun ekosistem yang mendukung pelaku usaha kita semua nih juga konsumen terutama UMKM juga untuk bertransformasi dan bagaimana kita memastikan bahwa transisi ini atau transformasi ini inklusif. Jadi melibatkan banyak pihak, membuka peluang dan juga bahkan bukan menutupnya. Jadi ee banyak hal yang kita bisa bahas, banyak hal yang kita bisa lihat dan opportunity atau peluangnya juga banyak. Dan ini mudah-mudahan kalau kita bisa lakukan fondasi banget nih masa depan ekonomi Indonesia. Karena banyak sekali sumber daya kita yang sekarang sepertinya banyak tapi lama-lama akan habis walaupun katanya itu renewable karena kita membuangnya, memubazirkannya dan kadang-kadang juga membuatnya menjadi lebih buruk ya kayak sungai dan sebagainya kan bagus tuh renewable tapi karena banyak sampah banyak ini jadi lebih buruk kualitasnya dan kuantitasnya akirnya enggak bisa pakai. ee ee slide selanjutnya. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, ketika kita bicara tentang ekonomi sirkular ee sebenarnya kita bicara tentang transformasi yang sangat-sangat sistemik. Jadi cara baru kita harus ee berbeda ya dalam memandang produksi, konsumsi, dan nilai sumber daya itu. Ee menurut banyak pihak ada lima sebenarnya pilar utama yang menjadi atau bisa dikatakan fondasi pendekatan ini. Yang pertama tentunya desain. Jadi desain dari produk itu sendiri. Kita harus kemudian mengubah desain menjadi lebih berkelanjutan. Contoh saya yang saya sampaikan tadi mengenai jersei timnas, tim nasional gitu kan. ersi ee klub-klub sepak bola di luar tuh sudah kemudian sudah didesain bukan hanya lebih bagus, lebih baru dan sebagainya, tapi juga ee materialnya seperti apa gitu. Jadi produk tidak dirancang lagi untuk ee pertama ee sumber dayanya juga lebih lebih ee minimum ya memakai sumber daya baru. Jadi sumber daya yang sudah ada sampah atau plastik yang bisa diyeluk tapi juga produknya tidak dirancang untuk cepat rusak. Jadi yang disebut eh fast fashion ya. Jadi, e fashion yang cepat dan sebagainya sudah kemudian direduksi. Jadi, kalau bisa dia lebih durability ya, lebih lama, tidak cepat rusak sehingga tidak cepat dibuang. Tapi memang banyak sekali kita sekarang dapat ee tantangannya dapat banyak produk dari luar, saya enggak usah sebutkan dari negara mana yang cepat banget, murah banget dan akhirnya ketika sekali pakai belum sampai sebulan udah udah rusak ya, misalnya karena mungkin seing murahnya kita beli lagi, kita beli lagi jadi sampah gitu kan. Nah, jadi yang kita fokuskan adalah gimana desain ini bisa menjadi lebih lama, lebih tidak cepat rusak, memanfaatkan sumber daya yang lebih baik lagi ee sehingga ee bisa didaur ulang dan sebagainya. Desain ini sebagai awal ee dan alat yang strategis menurut saya karena dia bisa kemudian mencegah limbah sejak awal karena dia mereduksi ee mengurangi sumber daya yang dipakai dan kemudian memperpanjang siklus hidup barang itu sendiri. Jadi kalau kita lihat sebagai ee misalnya pemerintah, sisi pemerintah, bisa enggak kita kemudian memberikan semacam insentif, semacam support, apakah pengurangan pajak? Saya enggak enggak lihat eh apa enggak enggak enggak merasa ini banyak dilakukan ya ee untuk misalnya inovasi-inovasi desainer, inovasi-inovasi produk dari suatu perusahaan atau UMKM yang kemudian bisa e lebih tahan lama ini sebenarnya. Jadi mereka akan lebih kompetitif kalau bisa di-support seperti itu ya. Terus yang kedua, penggunaan bahan daur ulang dan ee terbalukan ya. Jadi kita perlu beralih sekarang dari bahan baku yang lumayan ekstraktif yang habis cepat gitu kan. Boros energi, boros e sumber daya alam dan sebagainya. Apalagi juga menghasilkan emisi tinggi menuju material atau bahan yang bisa diperbaharui dan diproses ulang. Jadi plastik yang cepat sekali pakai dan kemudian ee dibuang. Nah, mungkin harus kita cari alternatif ee apakah kemudian kita pakai ee plastik yang sudah bisa terus-menerus recycle atau alternatif bahan lainnya yang sekarang juga lagi di ee gagas inovasinya menggunakan kasafa atau singkong, menggunakan siwit atau rumput laut menjadi alternatif plastik dan sebagainya. Jadi langkah ini ketika kita menggunakan bahan yang bisa ulang dan terbalukan bukan hanya kemudian menambah nilai ee memberikan nilai tambah ya dari produk itu sendiri, tapi juga sebenarnya tentunya kita akan berkontribusi terhadap ee kebijakan pemerintah ee dan negara ini yang untuk mengurangi jajak karbon climate change dan sebagainya, tapi juga membuat inovasi terhadap ee rantai pasok yang baru ya. Jadi ada beberapa yang mungkin dulu misalnya nanam singkong untuk makan, sekarang nanam singkong untuk menjadi ee bahan baku ee alternatif ee plastik misalnya atau bahan baku alternatif ee apa energi misalnya dan sebagainya. Itu yang kita lihat ee bisa jadi terobosan dan ee sekali lagi ini tentunya perlu di support. Yang ketiga ee yang yang penting adalah dalam konteks pilar ekonomi e sirkular adalah model bisnisnya itu harus berbasis ee reuse, repair, dan sewa. Maksudnya apa? Jadi harus ada pergeseran dari kepemilikan yang kita punya gitu kan. Mungkin ada beberapa yang kalau ee kita enggak punya ee maksudnya gini ee kalau kita punya atau kita beli kan kita cenderung kemudian ee gampang juga kemudian membuangnya. Tapi kalau bisa kemudian ee getuk tular kemudian ee apa menyewakan dan sebagainya sehingga bisa dipakai banyak pihak ee secara brentet dan sebagainya itu mungkin ee konsumen ee tidak melulu kemudian akan beli lagi beli lagi. Jadi ada beberapa yang sekarang mungkin kalau di ee perkotaan ee kita lihat ada ee apa ee ee model-model bisnis yang ee apa yang yang tr love misalnya yang sesuatu yang sebenarnya sudah dipakai tapi ee sayang untuk dibuang kemudian disewakan kembali ataupun dijual ee sehingga karena bahannya masih bagus dan sebagainya value-nya masih ada. Nah, fleksibilitas seperti itu mungkin perlu kemudian didorong lebih lanjut sehingga pelaku usaha bisa memperpanjang nilai produk yang ada dan ini ee juga biasanya menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan efisien. Saya dulu pernah ee ee lama tinggal ee di negara lain misalnya di Australia. ee banyak sekali ee ketika ee apa ee rekan-rekan kita atau kita sendiri ee punya bayi misalnya kan biasanya ada peraturan di sana untuk ee kalau kita naik mobil si bayi harus ditempatkan di ee tempat duduk spesial atau spesifik untuk bayi atau anak-anak kecil. Enggak boleh duduk ee apa diendong atau apapun. Tapi kalau beli itu kan sangat mahal. Jadi biasa biasanya kemudian ada model usaha untuk menyewakan atau kemudian ee meminjam tapi dengan pembayaran tertentu ketimbang kita beli kemudian kalau enggak dipakai karena sudah enggak punya bayar lagi kita buang jadi sampah dan sebagainya. Kemudian itu jadi model bisnis baru. Hal-hal semacam itu mungkin kita bisa ee lihat apa saja sih yang bisa jadikan dijadikan peluang ee yang sebelumnya kalau kita beli tentunya nanti mungkin terlalu mahal atau kemudian kalau sudah enggak dipakai dibuang dan sebagainya. Jadi ee model bisnis seperti ini bisa jadi terobosan. Yang keempat yang mungkin sangat-sangat berhubungan dengan banyak pihak dari pusat sampai daerah adalah sebenarnya manajemen limbah dan daur ulang yang lebih efektif. Jadi kita lihat mindset kita ee mungkin Bapak Ibu sekalian sudah paham bahwa sekali lagi limbah atau sampah itu sebenarnya bukan harusnya ee dianggap sebagai akhir dari siklus, tapi seharusnya awal dari proses yang kita ingin ciptakan. Jadi konteksnya tadi lingkaran bukan linear. Tapi sayangnya memang banyak sekali sekarang ee konvensional sistem kita adalah kita pakai ya kita ambil sumber dayanya kita pakai untuk produksi terus kita konsumsi kalau enggak dipakai lagi buang. sehingga kita tahu di TPA tempat pembuangan akhir makin lama makin menumpuk makin menumpuk dan akhirnya ee pemerintah daerah, pemerintah kota dan sebagainya harus cari lahan lagi. Akhirnya berantem lagi sama ee masyarakat sekitar kena bau, karena ini dan sebagainya. itu yang ee pada gilirannya menciptakan masalah-masalah baru. Jadi, kalau mindset dari awal sudah bisa dirubah, bagaimana kemudian sistem pengumpulannya menjadi lebih ee sistematik, efisien, pemilih pemilihan sampahnya juga ee lebih tepat, pengelolaannya lebih tepat, material yang sebenarnya masih bisa diselamatkan, masih bisa tetap dipakai, bisa masuk ke ee siklus ekonomi yang memang lebih produktif dan menciptakan nilai tambah. Jadi, ada beberapa terobosan Bapak, Ibu sekalian yang pernah ee saya dan beberapa rekan lakukan misalnya di ee sektor tekstil ya. Ee mungkin kalau Bapak Ibu ada di Jawa Tengah ada beberapa ee pabrik tekstil atau garmen. Kemudian dia tahu bahwa kalau untuk membuat baju atau bahan-bahan ee produksi yang lainnya itu kan ada cutting-cuttingnya. Kemudian ee udah setelah bahan atau produknya jadi, cutting-kating yang sisanya itu seringkiali sebelum-sebelumnya itu harus dibuang. Nah, ini yang sebenarnya sangat-sangat disayangkan alhasil yang bisa dilakukan dan perbosannya sudah ada. Si pabrik ini kemudian bekerja sama dengan pabrik lain yang memang sudah biasa membuat benang atau membuat ee apa ee ya benang dan ee material lainnya untuk bahan-bahan tekstil lainnya. Kemudian itu diproses lagi hasil-hasil pemilahan cutting itu dan jadi benang lagi yang baru. Ee memang benang yang baru ini tantangannya secara teknologi adalah dia ee tidak sekuat sebelumnya karena mungkin karena sudah diblend sebagainya dan sebagainya. Ee dan sayangnya ee ketika ini mau di ee apa dipakai lagi untuk ee beberapa produk ee ada requirement atau syarat dari ee yang impor ya. Kalau kita misalnya mau ekspor ke negara-negara seperti di Eropa segala macam, persentase eh recycle-nya itu harus berapa persen dan sebagainya itu mungkin belum masuk tuh ke Indonesia. Jadi karena masih mungkin kontennya masih kecil kalau itu banyak akan diakui sebagai ee produk recycle. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, sebenarnya produk recycle itu enggak melulus 100% recycle. Jadi, misalnya polyester, nilon, dan sebagainya kalau dia dicampur 30% 40% ee mungkin masih bisa dianggap recycle gitu kan, recycle material. Nah, kalau itu banyak inputnya ee produk-produk dawur ulang ini itu akan memudahkan Indonesia masuk ke pasar-pasar yang memang mengakui dan memberikan nilai tambah terhadap produk-produk tersebut. Nah, ini harus ada kemudian komitmen kerja sama ter si sektor swastanya pemerintah untuk negosiasi dengan ee importir yang ada di ee negara-negara maju seperti Eropa dan sebagainya. Ee terakhir pilar ekonominya seperti yang saya sampaikan tadi tentunya tentu ee diperlukan kemitraan lintas sektor. Jadi ekonomi sirkular ini tidak bisa berjalan sendiri. Produsen, konsumen, pemerintah, lembaga keuangan harus saling terhubung. masyarakat juga dalam ekosistem yang sangat-sangat transparan dan kolaboratif. Tantangannya banyak masih tentunya walaupun misalnya lima di ekonomi ini kita lakukan. Pertama, skalabilitas. Seringki yang dilakukan saat ini mungkin masih skala-skala kecil untuk recycling, untuk daur ulang, pemilahan sampah dan sebagainya. Nah, ini bagaimana skala-skala kecil ini bisa kita agregasi sehingga skala ekonominya menjadi ee banyak sehingga investasi infrastrukturnya bisa kemudian ditambahkan. Dan berikutnya adalah insentif. Ini masih jadi hambatan utama. Ee istilah kata adalah ngapain saya melakukan itu capek-capek kalau ternyata ujung-ujungnya costnya lebih mahal gitu kan, biayanya lebih mahal atau enggak ada enggak ada support juga yang saya terima, ya udahlah saya buang aja. Nah, itu yang yang terjadi pada gilirannya. Kalau itu dibuang adalah cost-nya ke masyarakat atau ke ee lingkungan akan menjadi lebih besar. Jadi banyak pelaku usaha kecil tuh pada gilirannya belum punya akses ke teknologi, enggak punya kemudian juga akses ke pembiayaan atau ke pasar atau market sirkular itu. Jadi tanpa dukungan yang tepat tentunya kita akan tertinggal dalam transisi ini dibandingkan negara-negara lain seperti Vietnam yang sudah memproduksi banyak sekali untuk garmen ya misalnya yang recycle. Di sinilah sebenarnya peran kita sama-sama untuk memperlihatkan atau melihat bagaimana kita bisa membangun sistem yang memungkinkan ya inklusi ini bisa terjadi sehingga menyediakan insentif dan sebagainya. Eh, next slide. Jadi, Bapak Ibu sekalian ee rekan-rekan yang saya harga ee hormati. Indonesia sebenarnya yang seperti saya katakan tadi ee dan didukung data-data pakar kita tuh sebenarnya lumayan kritis dan krisis ya dalam konteks sampah, limbah dan sebagainya. Kita tuh sudah menghasilkan 60 juta ton atau lebih limbah setiap tahunnya. Bayangkan itu jadi gulung sendiri di beberapa kota-kota besar atau menengah di Indonesia. Dan sayangnya hanya sekitar 7% yang berhasil didaur ulang secara formal, secara resmi. Jadi angka ini menunjukkan bahwa sebenarnya sebagian potensi material kita tuh masih terbuang. Jadi sumber daya kita tuh benar-benar kita sia-siakan. Cuman 7% loh yang kita lakukan. Padahal ini bisa jadi sumber daya baru yang bisa dikelola dengan pendekatan ekonomi sirkular tadi. Tentunya tantangan ini harus kita atasi bersama ya. Dan kita sekali lagi mindsetnya harus melihat ini sebagai peluang besar. Potensi ekonomi sekirual ini sangat-sangat menjanjikan. Terutama kalau kita mau zoom in ya ee ke sektor-sektor tertentu. Yang pertama yang immediately yang dekat banget ya dengan banyak masyarakat di Indonesia adalah sektor pertanian dan perkebunan. Jadi setiap musim panen misalnya kita banyak lihat misalnya di ee pedesaan dekat-dekat Jawa, dekat-dekat Sumatera dan sebagainya banyak sekali yang saya sebut biowaste gitu kan. Ee hasil limbah sisa ee panen gabah atau kan atau Bagas atau apa ini sebenarnya bisa diproses ee dari ee segi banyak hal gitu kan. ceraminya, kulit buahnya, limbah ternaknya diolah dengan tepat misalnya akan bisa menjadi beberapa produk turunan yang sangat-sangat baik. Bisa langsung di di apa dikelola menjadi pupuk organik misalnya ke komposting dan sebagainya. ee atau kalau kita bisa kemudian memberikan pembiayaan ini yang sedang kami lihat ya di IDM Capital ee dan di beberapa ee lembaga pembiayaan atau perbankan ee gimana kita bisa memberikan KPEX ya pembiayaan untuk ee ee capital expenditure misalnya membangun pabrik skala kecil atau menengah untuk mengelola limbah-limbah dari pertanian peternakan kebunaan itu menjadi biogas. Yogas kemudian bisa disalurkan ke rumah-rumah ee di kampung untuk kemudian memasak. Itu juga sesuatu yang kemudian renewable. Nanti akan dapat juga kredit kartbonnya dan sebagainya. Atau bahan baku industri hijaus. Mungkin teman-teman pernah dengar biochar misalnya kemudian juga bisa masuk ke ee tanah lagi untuk membantu mengurangi degradasi ee lahan misalnya. Jadi pada giderannya ini bukan hanya mengurangi limbah, tapi juga meningkatkan produktivitas lahan kita dan ee mudah-mudahan juga ee ujung-ujungnya meningkatkan ketahanan pangan kita. Karena kalau ini bisa masuk nutriennya kan masih bagus tuh. Kalau bisa masuk ke tanah akan membantu juga produksi dan panen-panen selanjutnya. Yang kedua sektor yang juga sebenarnya lumayan dekat karena kita negara kepulauan adalah perikanan dan kelautan. kita tuh banyak sekali punya biomaterial laut yang masih banyak belum kita manfaatkan. Rumput laut misalnya ee diolah bisa menjadi alternatif tekstil, alternatif bioplastik. Nah, limbah ikan misalnya bisa dimanfaatkan untuk pakan pakan ternak atau di beberapa kesempatan kosmetik. Nah, dengan value yang luar biasa. Ee kita dengar misalnya DNA salmon diperkenalkan di beberapa kota besar untuk kecantikan. Loh, kita kan enggak perlu di salmon. Kenapa kita enggak ngambil dari beberapa ee biometeri laut yang kita punya? Nah, ini sesuatu yang mungkin menjadi tantangan R&D atau pengembangan riset dan development ee apa litbank kita di berbagai perusahaan dan juga pemerintah untuk melihat opsi-opsinya apa. Karena kalau enggak itu jadi dibuang dan sebagainya menjadi hal-hal yang sangat-sangat mubazir. Ee sewit ataupun rumput laut banyak kita pakai memang untuk makanan agar, keragenan dan sebagainya. Tapi sebenarnya banyak sekali spesies atau jenis atau ee variitas rumput laut yang bisa digunakan untuk biimulan, untuk kosmetik, untuk tadi alternatif plastik dan sebagainya. Cuman memang harga kalau di dalam negeri ya masih belum masuk karena ya plastik masih dihargai murah sehingga yang seperti ini kan ketika dianggap mahal orang enggak akan pakai tapi di berbagai negara sudah dipakai dan ini bisa jadi peluang kita untuk ekspor ke negara-negara tersebut. Jadi sektor ini bisa bisa banget sih sebenarnya untuk membuka peluang baru untuk ekonomi kita berbasis ekonomi sirkular. Ketiga ee seperti saya juga tadi sebutkan, manufaktur dan tekstil. ee industri ini ee menghasilkan limbah dan jumlahnya sangat besar seperti saya sebutkan sebelumnya, tapi juga sebenarnya punya potensi inovasi tinggi. Yang paling cepat melakukan inovasi untuk recycle polyester dari botol plastik itu adalah industri manufaktur dan tekstil. Desain-desainnya banyak sekali sepatu-sepatu bagus ya itu hasilnya dari ee materialnya dari recycle dan sebagainya. dan desainnya juga eh seringkiali sudahudah masuk ke desain-desain modular yang memungkinkan pakaian diperbaiki dan digunakan ulang. Ee sekarang juga sudah masuk nih merambah ke ee industri manufaktur lainnya seperti mobil, em kemudian motor dan sebagainya. Jadi pendekatan sekirular industri tekstil, industri manufaktur ini saya pikir menjadi tiang utama harusnya karena kita tahu banyak sekali sekarang tekanan terhadap industri tekstil kita karena tekanan dari import dan sebagainya. Em namun tentunya untuk mewujudkan ini semua tidak mudah, Ibu Bapak sekalian. Kita butuh ekosistem pendukung yang kuat. Pertama mulai dari regulasi yang mendorong desain tadi untuk berkelanjutan ee mendorong juga akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil. Karena kalau enggak ada kapital, enggak ada modal, gimana kita bisa punya infrastruktur, gimana kita bisa punya pabrik dan sebagainya. ee atau tadi enggak ada inovasi karena enggak ada pembiayaannya, enggak ada R&D, enggak ada leadbank dan sebagainya. Kita juga perlu infrastruktur daur ulang yang terintegrasi. Jadi enggak spread all over intinya enggak enggak kemudian ke mana-mana ada di mana-mana sehingga logistiknya mahal. Jadi ada di ee masukkan ke satu kawasan. Jadi insentif bagi inovator dan investor ini bisa masuk ke sektor ini secara bersama. Jadi, Indonesia punya sumber daya selalu ee kasus klasiknya adalah itu. Tapi kita sebenarnya juga punya kreativitas, kita punya semangat gotong-royong, kita punya kekayaan dan super tadi. Tapi gimana kemudian kita perlu ee menjahitnya bersama sehingga menjadi satu sistem yang memungkinkan transisi ini berjalan secara inklusif dan terukur. Eh, next slide, please. Jadi, Ibu Bapak sekalian, ee sebenarnya ada contoh-contoh praktis yang tadi juga sebenar sebenarnya saya sudah sebutkan. Ee di tengah tantangan-tantangan terhadap limbah, krisis, sumber daya alam, banyak sekali muncul inovasi lokal ee yang kita patut apresiasi dan sebenarnya bisa kita pelajari sama-sama. J Indonesia sudah ada alternatif plastik dari ee kasafa ya, dari singkong, dari sewit, dari macam-macam gitu kan. dan mereka bukan hanya memberikan solusi teknis, tapi juga memperlihatkan semangat ee komunitas, semangat pihak swasta baik skala kecil dan menengah untuk mendorong keberlanjutan. Jadi kalau kita lihat C with textile dan ee kemasan hijau ya ini rumput laut sudah ee diperkenalkan, sudah ada file, sudah ada uji coba ee yang sebelumnya dikenal hanya sebagai komoditas pangan, sekarang sudah jadi alternatif plastik. ya, inovasi ini membuka peluang baru. Nah, tentunya ee cuman memang ee tantangan berikutnya adalah ee untuk membudidayakan sewit atau rumput laut itu ternyata enggak enggak mudah dan banyak terkonsentrasi di timur Indonesia. Sedangkan pabrik atau produksinya ada di tengah atau barat Indonesia. Logistiknya terlalu jauh. Nah, sekarang yang kita harus lihat adalah bagaimana ee budidaya itu kemudian dengan produksinya bisa didekatkan atau ditemukan di tengah apakah kemudian ada investasi baru di misalnya NTT, NTB atau Sulawesi untuk ee pabrik-pabrik yang bisa langsung mengelola ee sumber-sumber daya alam dari ee rumput laut itu menjadi lebih bisa dimanfaatkan ee dan punya nilai tambah. Berikutnya contoh praktis yang sebenarnya ada di perkotaan ee bank sampah. Tapi sekali lagi bank sampah mungkin banyak orang enggak tahu gitu kan dan orang perkotaan mungkin sudah terlalu sibuk dan sebagainya tidak banyak ee ber ee apa mempunyai link link atau konektivitas dengan bank sampah. Keterkaitan dengan bank sampah. Jadi di beberapa perkotaan ada teman-teman anak-anak muda nih memberikan solusi inovasi mempunyai bank sampah digital dan juga ada perusahaan atau startup yang kemudian ee melakukan itu. Ada dulang untuk sampah ee ee kalau enggak salah sampah elektronik. Ada yang lain untuk sampah organik dan juga sampah ee plastik. ada ada macam-macam yang mungkin nanti kita bisa share sama-sama lewat Ekoed Edu contoh-contoh praktis ini. Jadi mereka membuat semacam platform ee yang kemudian aplikasi atau platform ini bisa diconnect oleh banyak pihak sehingga siapa yang ingin membuang sampahnya tanda kutip itu bisa dikonnect atau dikaitkan dengan siapa yang bisa mengelolahnya. Jadi menghubungkan warga bahkan pembulung sekalipun ee pelaku daur ulang dan sebagainya. Nah, dan di situ ada biasanya ada sistem ee gamifikasi atau sistem insentif. Jadi, kalau sudah ee melakukan itu mereka akan dapat poin dan poin ini ee link ke pelacakan materialnya seperti apa, kalau itu benar, kemudian ee apa sampah atau limbahnya bisa dilakukan ulang bisa. Kemudian si pelakunya mendapatkan poin dan ee dapat insentif dan poinnya bisa ditukar, bisa jadi rupiah, bisa jadi pembelian yang lain dan sebagainya dan sebagainya. ee di apa aplikasi saya sekarang ada beberapa mungkin teman-teman pernah dengar surplus. surplus misalnya aplikasi di mana ee ada beberapa restoran banyak sih sebenarnya sudah masuk yang mungkin Bapak Ibu sekalian tahu ya kalau setiap ee rumah makan atau restoran atau toko kue atau apa di jam-jam tertentu sudah sore atau malam kan sayang sekali ya kalau misalnya dibuang dan akhirnya jadi sampah jadi limbah lagi. Nah, dengan aplikasi ini mereka kemudian bisa memberitahukan konsumen di berbagai tempat bahwa oh jam segini akan ada diskon karena mungkin ini ee sangat sayang untuk kalau ini nanti basi atau sebagainya. Nah, ini apakah ada yang bisa memanfaatkan mau beli tapi tentunya dengan expiry date eh apa e kedeluasannya sudah ditulis dan sebagainya. Nah, karena itu mereka bisa connect. Oh, berarti si pembeli akan bilang, "Oke, saya akan beli." Sehingga itu enggak jadi sampah lagi. Mungkin dimanfaatkan untuk yang lain dan sebagainya. Jadi sistem ini ee walaupun mungkin belum skalanya belum besar tapi minimal ee melakukan kontribusi untuk minimalis minimalisasi sampah dari sampah makanan, limbah makanan dan sebagainya. Jadi yang dulunya jadi beban sekarang jadi peluang ekonomi. Nah, platform-platform seperti ini juga banyak sekarang dikembangkan di berbagai perkotaan. Ee mudah-mudahan ini bisa jadi connect e bisa jadi hal yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Tak kalah penting juga yang saya lihat adalah ee contoh praktis lainnya adalah tumbuh kembangnya ccular MSMI atau UMKM yang fokus banget nih dengan eh cirkular ekonomi sirkuler. Ada UMKM yang fokus banget untuk pengelolaan daur ulang sampai elektronik tadi seperti diulang untuk perbaikan daur ulangnya dan pemanfaatan kembali barang. Ada yang prelove untuk fashion atau baju atau tas dan sebagainya. Ada yang fokus untuk banyak hal gitu kan limbah-limbah lainnya. Jadi mereka kemudian ee bukan hanya memperpanjang nilai produk, kemudian menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga membangun ee sistem ekonomi yang dulunya enggak terkonnect menjadi connect gitu kan. Ee sehingga sistem ekonomi lokalnya menjadi tangguh. Tantangannya masih banyak sih sebenarnya Bapak Ibu sekalian. Yang pertama sekali lagi gimana ini bisa connect ke akses pasar. tadi karena masih skala-skala kecil dan ee yang seperti contoh saya saya ee apa sharing tadi mengenai tekstil bisa enggak kemudian ini dibantu dengan ee negosiasi kemudian juga dengan ee kebijakan sehingga ee produk yang tadinya bagus bisa kemudian kita ekspor dan punya nilai tambah. Kemudian pembiayaan. Pembiayaan itu bisa jadi hambatan yang lumayan paling signifikan karena kalau tanpa pembiayaan tidak akan ada kemudian pabrik yang dibangun untuk pengelolaan daur ulang. Nah, dibandingkan misalnya di negara-negara lain ya, ee seperti negara-negara maju tentunya sudah ada tuh pabrik-pabrik untuk pengelolaan plastik. Sekarang kemarin saya diskusi sama satu ee perusahaan di Yogyakarta yang mereka sudah bergerak untuk ee apa sih namanya? Punya sistem dengan ee pemulung dengan ee TPS ee sebelum sampai ke TPL untuk menyeleksi plastik. Tapi proposal mereka adalah ee plastik ini dikembangkan bukan sekedar untuk menjadi plastik baru, tapi kemudian ee mereka ingin membangun pabriknya untuk melakukan pirolisis. Nah, pirolisis ini ee mungkin teman-teman Ekoedu sudah pernah ada ee sesi sebelumnya ee saya kurang paham yang kemudian mengubah e plastik ini menjadi sumber daya ee BBM ya, bahan bakar minyak yang bisa dipakai untuk kendaraan dan sebagainya. Nah, ini sangat-sangat menarik. Kenapa? Karena kemudian ya kita tahu memang plastik kan dari e materialnya dari ee minyak bumi dan sebagainya ya. Nah, ini bisa kemudian kita sirkul sirkulisasi lagi untuk dipakai plastik-plastik yang tidak bermanfaat tadi yang atau sudah dibuang menjadi bahan bakar minyak dengan teknologi tertentu. Nah, tapi tentunya ini memerlukan pembiayaan, memerlukan research eh penelitian dan pengembangan yang lebih lanjut. Eh, next slide please. Jadi, Ibu Bapak sekalian ee ekonomi sirkular yang seperti yang saya sharing tadi bukan sekedar solusi lingkungan. Ee sekali lagi, jadi dia adalah peluang investasi. Dia punya dampak nyata. Mengurangi limbah itu dampak sangat-sangat nyata. Kita sudah setiap hari mungkin ngelihat ee di sungai, di ee sekitar kita, sampah plastik, sampah banyak hal dan sebagainya. Kemudian kita juga bisa harus melihat opsi bagaimana sistem ekonomi kita yang linear ya, ambil, pakai, buang itu sedikit demi sedikit kita ubah gitu kan sekuat apapun, sedemikian rupa sehingga kita bisa kemudian menjadi lebih lingkar gitu, lebih eh round atau lebih sirkular. Jadi menuju sistem yang bagaimana material yang kita pakai itu sedikit banyak kita kurangi, tapi yang sudah kita pakai sedikit banyak kita bisa inovasikan, kita bisa pakai lebih lanjut. bahkan menjadi produk baru. Tapi ini enggak akan bisa kita lakukan kalau kita enggak dapat investasi, kalau kita enggak dapat pembiayaan, kalau enggak kita dapat support finance-nya. Yang pertama tentunya ini skalanya besar. Kalau kita membuat tadi kawasan terintegrasi enggak enggak mungkin kalau enggak ada investasi kapital yang besar. Jadi perlu misalnya salah satunya green bonds, surat utang, tapi surat utang hijau. Jadi surat utang itu adalah misalnya orang mau investasi dengan membeli surat utang itu sehingga uang yang mereka ee bayarkan itu kita bisa pakai untuk membiayai ee pembangunan pabrik skala besar atau kawasan skala besar. Instrumen seperti ini ee di berbagai negara sih sudah dilakukan dan sangat-sangat memungkinkan untuk mendorong pembuatan fasilitas besar dari ulang karena perlu triliunan rupiah ya. Kemudian produksi bersih, infrastruktur sirkular lainnya juga masuk ke situ. Jadi bukan hanya untuk satu sektor tapi banyak sektor dan kemudian karena konsentrasi cost-nya akan menjadi lebih murah ke depannya. Jadi di Indonesia saya lihat nih ya ada sektor tekstil, elektronik bisa jadi prioritas utama karena potensi daur ulangnya dengan ee investasi yang memang besar e sangat tinggi nih. Jadi mulai limbah kain, limbah atau komponen elektronik. Sekarang sudah banyak kita ada EV kan elektronic vehicle baik yang motor dan mobil. Nah, ini kemudian baterainya gimana nih? kan juga harus ada tuh kemudian ee investasi untuk ee mengelola atau mengolah hal-hal tersebut menjadi lebih ee sirkular, lebih baik dan sebagainya dipakai menjadi sumber daya baru. Yang kedua, pembiayaan yang mungkin bisa kita dorong dan pemerintah sudah kemarin ee menelurkan ee satu Perpres ya nomor 110 2025 mengenai karbon kredit ya, mengenai nilai ekonomi karbon. Kenapa ini penting? Karena dengan kita sirkul ekonomi pada dasarnya kita mereduksi atau mengurangi ee karbon footprint kita, jejak karbon kita. karena kita enggak akan ee ngambil sesuatu baru dari alam. Kita juga enggak membuang yang kemudian menjadi limbah, metaman, dan sebagainya yang menghasilkan emisi. Jadi kita memakainya lagi. Nah, kredit karbon ini mekanismenya kita harus dorong terus nih ke pemerintah sehingga pelaku usaha kita- kita dapat insentif ketika kita melakukan restorasi, kita melakukan ee apa pengurangan emisi dari aktivitas sularer yang kita lakukan. karena kita kan enggak membuang sampah, kita enggak memakai sumber daya alam yang baru dan sebagainya. Nah, komponen emisi yang kita reduksi ini ee bisa seharusnya dikompensasi menjadi karbon kredit di berbagai negara sudah dilakukan itu. Jadi, ini ee membuka peluang pembiayaan. Yang ketiga, pembiayaan berbasis hasil. Nah, ini sudah dilakukan sebenarnya performance based finance. Ee biasanya pembeli yang melakukannya ini misalnya eh kalau saya minta produk Anda ee dan ada komponen recycle komponen daur ulangnya lebih banyak, saya akan bayar lebih. Nah, itu berdasarkan hasil. Nah, premium itu premium pricing ini ee di berbagai produk sudah dilakukan baik di kayu, baik di plastik, baik di komponen manufacturing yang lain. Nah, dana ini tidak dikuturkan hanya berdasarkan rencana tapi juga berdasarkan capaian. Jadi, misal rencananya oke 30% dari total eh komposisi produknya recycle. Tapi kalau mereka dapat lebih 40 atau 50% ada tambahan e premium dari price yang mereka dapatin. Nah, mereka juga bisa menegosiasikan ini menjadi advance payment sebenarnya. Jadi pembayaran yang dimajukan terlebih dahulu itu negosiasi antara si penjual dan pembeli. Nah, ini sebenarnya sudah dilakukan ee tapi skalanya harus kita dorong terus untuk lebih banyak karena ini model ee semacam ini sangat-sangat ee sangat apa ya ee signifikan untuk melakukan perubahan karena konteksnya adalah penjual dan pembeli langsung bernegosiasi. Tapi model ini mendorong akuntabilitas ya. Nah, jadi harus ada transparansi. Jangan sampai udah ngomong kayak gitu kemudian dicek oleh pembelinya. Kalau sayang misalnya pembelinya dari luar eh ternyata kita maaf-maaf kata ngibul gitu kan atau berbohong ternyata hanya komponennya 10% padahal ngakunya 30% 40%. Nah, itu satu sektor akan kena dampaknya semua kalau kita ee sangat ee atau tidak melakukannya dengan jujur. Jadi, itu sangat sangat tidak akan membantu. Terakhir tentunya kemitraan publik, swasta, pemerintah, dan filantropi. Jadi proyek sular ini membutuhkan dukungan lintas sektor terutama kalau kita ingin menjangkau pelaku usaha kecil, kemudian juga komunitas lokal ee insentifnya seperti apa ke mereka, tenaga kerjanya bagaimana kita bisa biayai juga. Mungkin enggak semuanya dari komersial, ada juga filantropi, yayasan yang bisa membantu, pemerintah juga bisa membantu. Jadi kolaborasi yang tepat. Kemudian ada roadmap nasional, sektor-sektor apa aja yang harus didukung, tekstil, elektronik, pertanian, perkebunan, dan sebagainya itu juga mesti kita lihat kelautan. Jadi bayangkan kalau limbah tekstil misalnya dari industri garmen bisa diolah menjadi bahan baku baru, tapi diolahnya, maaf kata diolahnya oleh UMKM setempat kan ada kemitraan tuh jadinya. Nah, ketika UMKM setempat sudah diolah, masuk lagi ke pabrik itu, pabrik itu kemudian bisa mengolah menjadi produk yang akhir dan dijual misalnya ke Eropa, Amerika dan sebagainya, value-nya bisa dapetin lebih dan UMKM yang ada sekitarnya bisa mendapatkan nilai tambah. Saya lihat ini peluang mungkin di sekitaran ee Jawa Barat, Bandung sekitarnya, kemudian juga Jawa Tengah, Boilali sekitarnya untuk tekstil ya. manufaktur yang lainnya juga seperti itu. Kalau makanan mungkin di bahkan di ee apa provinsi seperti Lampung ee dan sebagainya juga menjadi penting gitu kan. Jadi ekonomi sekular sebenarnya sudah dilakukan dan bukan sekedar wacana tapi tentunya investasinya memang butuh lumayan besar dan inovasi dari pembiayaan atau investasi ini masih-masih sangat diperlukan ke depannya. Next slide, please. Jadi, Ibu Bapak sekalian ee tadi kita sudah berbicara mengenai pembiayaan, kita sudah berbicara mengenai kolaborasi, tapi ada satu hal yang memang sangat penting dalam konteks ekonomi sekuler. Karena kita perlu mindset baru, kita perlu sesuatu cara berpikir atau cara pandang yang berbeda. Dan karenanya biasanya kita memerlukan teknologi pendukung yang juga baru. Jadi dari dalam transisi menuju ekonomi sekular ini teknologi menurut saya adalah enabler utama eh faktor ee apa yang akan menentukan apakah kita bisa apa enggak. Teknologi misalnya seperti IoT and AI. Nah, jadi bisa mungkin dilakukan ke depannya nanti memantau limbah seperti apa, real time-nya seperti apa, berapa ee sampah yang sudah menggunung di mana, apakah bisa dimanfaatkan, pemilih pemilihannya gimana dan sebagainya. Sekarang sudah dilakukan dengan sistem-sistem aplikasi yang sederhana ya. tadi kan koneksi antara si penjual yang ee misalnya toko kue, toko makanan segala macam, tapi ke depannya itu sistemnya harus di dipakai untuk sektor yang lebih besar lagi. Berikutnya adalah bioteknologi. Ee bioteknologi ini penting banget. Eh, sekarang ada beberapa pilot atau eh testing di mana ada mikrobia misalnya yang di ee introduce, diperkenalkan untuk memakan sampah atau limbah lebih lebih cepat. Dan kemudian residunya bisa menjadi daur ulang ee organik ee untuk jadi misalnya kompos, pupuk dan sebagainya. Ee mungkin Ibu Bapak di beberapa tempat atau di daerah masing-masing tahu Meget ya. Megget itu lava. Kemudian jadi makanan eh sori e limbah dan sebagainya. Jadi dimakan kemudian lavanya menjadi bisa jadi pakan ternak, bisa jadi juga sumber ee oil atau minyak. Nah, untuk goreng dan sebagainya itu sudah diperkenalkan. Saya juga pernah ngelihat di Bali. Saya pernah melihat juga di beberapa tempat di Jawa dan sebagainya ini juga ee ada beberapa ee pelaku usaha di Singapura sudah mencoba untuk memanfaatkan itu dan membeli dari Indonesia untuk oilnya gitu kan. Alternative oil ee dari MAGET misalnya. Kemudian platform digital seperti saya tadi sebutkan, sistem MRV monitoring, reporting verification-nya karena harus transparan. Jangan sampai kita bilang klaim bahwa ini eh recycle atau sudah daur ulang tapi ternyata enggak atau persentasenya kurang. Nah, itu kan akan tidak dipercaya oleh pihak pelaku pasar. Kemudian ee banyak hal ya pengelolaan logistik tentunya menjadi penting karena logistik ini ee akan sangat signifikan mengkoneksi ee si pelaku usaha yang melakukan darur ulang dengan si pembeli atau yang tadi misalnya yang seperti siwit. Jadi budidayanya ada di mana? Di timur Indonesia, tapi publiknya ada di barat Indonesia. Kan nyambungnya terlalu jauh. Alhasil terlalu mahal. Makanya enggak bisa komit, enggak bisa berkompetisi. Nah, bagaimana kita bisa kemudian link antara itu logistiknya juga bisa di diconnect gitu kan. Jadi tantangannya banyak sekali. Masih UMKM terutama di daerah mungkin belum mempunyai akses terhadap teknologi ini atau mungkin tidak punya kapasitas juga untuk mengadopsi teknologi ini. Jadi perlu dukungan untuk training kapasitas mungkin Eco Edu. Nanti kita bisa sama-sama lihat apa aja yang bisa dilakukan. ada beberapa network ee UMKM dari pihak kami misalnya, mungkin bisa kita diskusikan sama-sama untuk apa aja sih teknologi sesederhana apa yang bisa mungkan mungkin untuk UMKM yang fokus makanan, UMKM yang fokus tadi agriway ya menjadi biochar, menjadi ee biostimulan, menjadi ee kompos misalnya ee atau yang daur ulang ee sampah elektronik ya bisa dimanfaatin apa aja. kita punya partner seperti Dulang untuk bisa sama-sama nanti ada training untuk UMKM di daerah bisa jadi sesuatu yang bisa kita sama-sama lakukan. Jadi teknologinya sebenarnya enggak perlu canggih-canggih banget untuk beberapa level. Dia harus terjangkau yang pasti dan relevan bagi pelaku sektor ekonomi sirkular yang ada di daerah masing-masing. Ee lanjut slide berikutnya. Jadi, Ibu Bapak sekalian ee yang kita sama-sama kankan sebenarnya dalam konteks sirkular namanya juga rantainya menjadi bulat ya. Itu enggak bisa kita lakukan sendiri-sendiri. Jadi harus ada keterlibatan ee kolaborasi yang menyeluruh dan setara ya. Jadi, biar kita sama-sama komplemen, kita sama-sama terlibat. Jadi tentunya keterlibatan masyarakat lokal dan UMKM menjadi ujung tombak inovasi dan implementasi di lapangan. komitmen sektor swasta juga sangat penting untuk membangun rantai pasok karena mereka biasanya brand kita tahu ada ee saya pernah eh menjadi advisor di Pepsico misalnya mereka sangat lihat opsi-opsi apa aja yang bisa kemudian mereka lakukan untuk membeli lagi si ee material atau botol yang enggak pakai kemudian mereka akan olah dan sebagainya. Nah, itu ada sistem insentif yang bisa dibangun dengan pelaku sistem pembulung dan sebagainya juga. Jadi menjadi penting komitmen sektor swasta, regulasi dan insentif pemerintah. Apakah bisa misalnya lewat terpres ekonomi hijau sehingga memberikan arah dan dukungan agar transisi yang kita inginkan punya landasan hukum dan fiskal yang kuat. tentunya tentu juga adalah lembaga keuangan ini berperan penting dalam menyediakan pembiayaan inovatif yang seperti tadi saya sebutkan green bond carbon credit dan sebagainya hingga skema berbasis hasil performance base. Namun kolaborasi ini hanya akan efektif Ibu Bapak sekalian jika dibangun satu di atas dasar kepercayaan, transparansi dan juga kesetaraan. Jadi, ekonomi sirkuler ini akan sulit tumbuh ya kalau misalnya tadi enggak ada kolaborasi apalagi enggak ada kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan. Ee lanjut slide berikutnya. Jadi, Ibu Bapak sekalian, ada banyak yang bisa kita lakukan karena ini peluang yang masih ee baru misalnya di berbagai tempat banyak yang enggak tahu juga, tapi value-nya sebenarnya sudah banyak e dihargai di ee misalnya negara-negara yang lain yang membutuhkan produk yang banyak komponen ekonomi sekularnya. Yang pertama pertanyaannya sekarang mungkin bukan mengapa ekonomi sekular ini penting, tapi apa yang bisa kita lakukan sama-sama. atau mungkin sendiri-sendiri ee di awal apa yang kita bisa lakukan. Pertama yang dibutuhkan dan sangat dibutuhkan saat ini adalah gimana kita bisa memba
Resume
Categories