Kind: captions Language: id Sekitar 1 pekan lalu, Google Scholer memunculkan kembali fitur EE terbaru yang akan sangat memudahkan kita menulis laporan penelitian hingga membantu kita menyusun artikel jurnal berkualitas. Fitur AI terbaru tersebut bernama Scorlab yang dapat kita gunakan secara gratis. Munculnya Scorlab menambah fitur AI yang ada di Google Scholar. Selain Google Scholor PDF Reader yang pernah kita bahas di channel YouTube saya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi dengan saya di channel YouTube saya, Ensiklopedia Ahmad Fauzi, channel yang membahas berbagai platform AI yang bermanfaat untuk bidang penelitian, pendidikan, ataupun bidang-bidang yang lain. Di video kali ini, mari kita bahas fitur terbaru dari Google Scholer, yaitu Scor Lab. Di sini bisa kita lihat ketika kita akses colorgoogle.com di halaman depan di sini ada pemberitahuan ada yang baru new color labai power scolor search. Kemudian kita bisa menggunakan atau memanfaatkan fitur ini dengan sangat mudah. Kita cukup klik tombol ini. Try scolor lab. Setelah kita klik try color lab akan muncul seperti ini. Ask a detail research question to find relevant paper. Dengan menggunakan fitur AI ini, kita bisa memberikan atau menyampaikan berbagai pertanyaan penelitian kita pada Google Scholar. Dan nanti Google Scholer akan mencarikan berbagai artikel jurnal ataupun referensi ilmiah yang dapat mendukung atau menjawab pertanyaan tersebut serta referensi-referensi yang dia gunakan dan referensi tersebut bisa langsung kita akses juga. Oke, langsung saja kita coba memanfaatkan fitur terbaru dari Google Scaller ini. Kita bisa membuat beberapa pertanyaan dari yang ringan hingga mendalam. Misalkan seperti ini, saya ingin meneliti terkait bagaimana pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Maka saya buat pertanyaan sederhana seperti ini. Does social media affect the mental health of teenagers? Ini saya copy ya, kita copy. Kemudian kita masukkan di sini askol yang ada di bagian bawah sini. Kita paste. Kita juga bisa langsung ketik pertanyaan kita di sini secara langsung. Setelah kita masukkan pertanyaan kita, lalu kita bisa menekan tanda panah ke kanan seperti kertas ini ya, pesawat kertas ya. Ini tinggal kita tekan saja. Setelah kita tekan tombol pesawat kertas tersebut, Google Scaller khususnya Scor Lab ini akan mencarikan berbagai referensi ilmiah yang ada di dalam database dia. Seperti yang kita ketahui, Google Scholar itu salah satu database ya, salah satu pengindeks juga ya. sehingga dia memiliki banyak referensi ilmiah yang dia indeks. Nah, berbagai referensi ilmiah yang dia miliki tersebut menjadi dasar dia menjawab pertanyaan kita. Nah, di sini bisa kita lihat ya, saya ingin tanya apakah memang media sosial itu berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja? Dia jawab, "Ya, di sini ya, ini paper pertama ya. paper pertama me-review literatur seperti ini mengatakan ya kebanyakan penelitian mengatakan bahwasanya ada hubungan antara media sosial dengan mental health ya namun ini weak sama inkonsisten ya. Kemudian ada juga penelitian lain mengkonfirmasi beberapa tipe media sosial dapat memberikan hubungan yang sebaliknya ya dengan berbagai outcome mental health. Nah, kemudian ini paper kedua ya, dia juga jawab sehingga di sini bisa kita lihat ya, kita memberi pertanyaan kemudian nanti dia akan mencarikan referensi-referensi yang bisa menjawab pertanyaan tersebut lalu dia bedah berdasarkan paper atau referens yang dia dapat itu jawaban pertanyaannya yang kita berikan seperti apa. Nah, ini jawabannya ya. Sehingga di sini ada pertanyaan dia cari paper pertama. paper pertama dia bedah dia jawab berdasarkan paper pertama ini. Pertanyaan ini kemudian juga dijawab menggunakan paper kedua. Paper kedua dia dapat. Kemudian berdasarkan paper kedua tersebut dia jawab menggunakan jawaban seperti ini dan seterusnya. Dan di sini menarik ya ini banyak yang bagus ini ya publisher-nya. Ini Saint Direct, ini Taylor Francis ini Springer ya ini Jemir ya. Jurnal-jurnal bagus semua ini. Dan ini bisa kita akses ya, langsung kita akses misalkan di sini ya, tinggal kita klik saja. Nah, sehingga nanti kita langsung diarahkan ini ya ke PDF atau ke referensi yang dia kutip tersebut. Sehingga dengan fitur ini sangat memudahkan kita nanti ketika kita nulis artikel atau laporan ya. Misalkan saya ingin buat latar belakang atau ingin buat pembahasan. Nah, di latar belakang ataupun di pembahasan kita perlu mencari referensi-referensi yang mendukung pernyataan kita atau mendukung temuan kita. Kita masukkan saja temuan penelitian kita apa. Kita ubah menjadi pertanyaan atau menjadi pernyataan singkat berkaitan dengan temuan yang kita dapat tersebut. Kemudian kita bisa lebih dalam menanyakan pada dia. Ini kan masih umum ya. Sekarang kita buat pertanyaan lebih dalam lagi. Misalkan ini ya, apa saja faktor yang dapat meningkatkan kecemasan remaja ketika menggunakan media sosial? Sehingga di sini kita tidak hanya bisa bertanya secara umum, tetapi kita bisa spesifikkan pertanyaan kita. Lagi-lagi ini akan mendukung kita ketika menulis artikel ataupun laporan ya. Misalkan paragraf 1 kita ingin menceritakan apa, kita masukkan kecorab. Dia akan carikan PDF-PDF-nya. Kemudian nanti dia berikan jawaban berdasarkan artikel-artikel yang dia kumpulkan. Kemudian paragraf kedua kita ingin bahas apa? Kita masukkan lagi di sini. Dia cari berbagai referensinya kemudian nanti tinggal kita baca dan kita sitasi. Ini sangat memudahkan kita ketimbang kita menggunakan Google Scholar secara konvensional. Misalkan di sini saya memberikan pertanyaan yang sama ya, tinggal saya paste tadi pertanyaan kedua kemudian saya klik tanda loop ini. Sehingga di sini kita mendapatkan berbagai paper yang berkaitan dengan pertanyaan ini. Tapi kita enggak tahu ini paper ini membahasnya seperti apa, paper yang kedua ini berkaitan dengan pertanyaan kita seperti apa, paper yang ketiga ini jawabannya berdasarkan pertanyaan kita seperti apa. dia hanya mencarikan paper dan kita harus membacanya satu persatu. Sedangkan menggunakan scholar lab kita memberikan pertanyaan, dia tidak hanya mencarikan referensinya, tetapi dia bedah referensi tersebut untuk menjawab pertanyaan kita tadi. Nah, ini ini kan saya mau tanya faktor-faktor apa yang dapat meningkatkan kecemasan remaja saat menggunakan media sosial? Berdasarkan paper pertama, ternyata ini ya ada faktor kognitif juga ada mekanisme neurobiologis. Kemudian paper kedua ya di sini berkaitan juga dengan fatig ya. Fatig itu apa? Kelelahan ya. Kemudian juga ini FOMO ya. Kemudian paper ketiga ya di sini ada confounding factornya ya. Kemudian ini juga ada volumonya. Ini sangat memudahkan kita nanti ketika membangun suatu tulisan yang kaya akan referensi. Dan ini juga bisa kita lihat ya, banyak dari publisher besar juga Saint Derek, Wiile ya, dan sebagainya. Dan lagi-lagi bisa langsung kita akses sehingga kita bisa cek artikelnya secara langsung. Karena ini yang membuat adalah Google Scholer, maka referensinya ini ya semuanya ada ya, tidak mengada-ada ya. Kan banyak itu ee di luar sana yang bisa membuatkan paragraf beserta sitasi dan referensi, tetapi ketika dicek referensinya ternyata referensinya mengada-ada. Ternyata tidak ada di dunia nyata tetapi dia buat-buat. Nah, ini sudah terjawab. Kemudian sekarang kita buat pertanyaan yang lebih rumit lagi. Kita pengin tahu ya, ternyata di sini sudah banyak penelitian terdahulu yang membahas terkait pengaruh sosial media terhadap kesehatan mental. Nah, sekarang kita pengin tahu kelemahan dan keterbatasan berbagai penelitian terdahulu terkait topik tersebut. Dengan pertanyaan ini nanti juga akan memudahkan kita membuat paragraf untuk memunculkan rais gap dan novelty untuk penelitian kita. Seperti yang kita ketahui ya, ketika kita nulis intro, ketika kita nulis pendahuluan dari artikel atau proposal, kita harus menyampaikan secara jelas bahwasanya penelitian kita ini memiliki kebaruan. yang kebaruan itu berdasarkan kelemahan atau keterbatasan penelitian terdahulu. Nah, sekarang kita coba ya dengan menggunakan pertanyaan ini kita tanyakan pada Google Scal. Saya copy lagi kemudian saya enter. Maka dia akan mencari jawabannya, mencari paper-paper yang bisa menjawab pertanyaan saya ini. Lalu kita coba bandingkan dengan Google Scholar biasa ya. Enter. Nah, dia carikan paper-paper-nya tapi kita enggak tahu ini ya berdasarkan paper ini apa kelemahannya dan sebagainya. Nah, kalau kita di Google Scholar khususnya di Scallor Lab dia tidak akan membuatkan literatur review yang membahas keterbatasan penelitian tersebut tetapi dia akan mencari paper-paper yang membahas atau meringkas keterbatasan penelitian-penelitian terdahulu. Nah, di sini ya. Sehingga nanti bisa jadi ya sesuai prediksi saya bisa jadi nanti dia akan menjawab menggunakan paper-paper review karena rata-rata paper review itu me-review kelemahan dan keterbatasan penelitian-penelitian terdahulu terkait topik yang mereka review. Nah, sekarang kita cek. Nah, ini ya an umbrella review ya. Jadinya menggunakan paper umbrella review ini dapat diketahui bahwasanya ini loh kelemahan-kelemahan dan keterbatasan penelitian terdahulu ya. Ini definisi variabel yang lemah ya. Kemudian outcome yang terlalu luas. Oh sori definisi outcome yang terlalu luas berdasarkan paper review yang ditulis oleh Falkenbergl tahun 2022 dari Elsavier. Kemudian ini lagi review a narrative review of longitudinal studies dari Corcoy tahun 2021. Berdasarkan review tersebut ini loh kelemahan-kelemahan penelitian sebelumnya. Kemudian berdasarkan paper ini, ini lagi-lagi sistematic review seperti yang tadi saya katakan dan saya prediksi ya. Kalau papernya review dia akan memberikan juga penjelasan terkait kelemahan dan keterbatasan penelitian terdahulu. Nah, menggunakan paper ini ini kelemahan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Kemudian ini juga a systematic review. Kemudian ini a systematic review of longitudinal studies. Kemudian ini juga systematic review lagi. Nah, kemudian ah ini scooping review ya. Ini a protocol of a scooping. Bisa jadi ini scooping review. Kemudian ini juga ya improving the science of other sosial media and mental health challenges and opportunities. Ya, kita buka aja ini review juga atau bukan? Wah, ini langsung ke PDF-nya nih ya. E di impact of bla bla bla bla di sini. Oke, kita lihat langsung ke methodnya. Oh, ini ya ini menarik ini ternyata bukan paper review ya. Mungkin ya secara umum pertanyaan tersebut akan dijawab dengan paper review tapi tidak menuntut kemungkinan ya ada paper reset yang menjadi dasar jawaban color lab menjawab pertanyaan kita tadi ya. Nah, kalau yang ini bukan paper review eh sori bukan paper reset ini ya. Reason progress and current challenges ini review juga ini ya. Beda sama pertanyaan-pertanyaan di atas ya. Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas itu kita enggak bertanya terkait kelemahan, tetapi kita pengin tahu jawaban dari pertanyaan penelitian umum seperti ini. Maka paper-paper yang dia jawab tidak hanya paper review, tetapi ini ada paper reset ya. Kemudian juga ada paper yang lain ya. Jadinya tergantung pertanyaan kita. Dia akan mencarikan referensi yang paling dekat yang bisa menjawab pertanyaan kita tersebut. Nah, ini PDF yang kita buka ya. Ya, mungkin teman-teman atau Bapak Ibu ingat ya, ini juga menggunakan AI gratis dari Google Scaller yaitu Google Scallor PDF Reader. Secara umum kalau kita buka PDF kan tampilannya sebetulnya tidak seperti ini. Saya buka menggunakan ini misalkan ya. Ini saya copy PDF-nya ya. Termasuk PDF di laptop kita. Kalau kita buka pakai Chrome kan tampilannya seperti ini. Di sisi kiri enggak ada apa-apanya kemudian warnanya gelap dan sebagainya. Namun dengan Google Scholar PDF Reader, Ei gratis lain dari Google Scholar bisa kita lihat di sisi kiri sudah diringkaskan ya abstraknya ini, kuncinya, intronya ini, informasi pentingnya ini literatur review-nya ya. Kemudian ini metodenya dan kalau kita klik salah satunya sret, nah di sisi kanan langsung dia tandai. Ini loh informasi yang menjadi dasar dia meringkas di bagian ini. Saya ke bawah lagi. Misalkan saya ingin ke sini ya. Ini di pembahasan ya. Kita klik. Nah, ini muncul ya. Bagian inilah yang menjadi dasar dari poin ini. Sehingga dengan Google Scholar PDF Reader di sisi kiri ini kita bisa tahu secara ringkas apa yang dibahas dari setiap paper ini. Tidak hanya itu ya, kita juga bisa arahkan kursor kita ke salah satu referensi ya. Misalkan nah ini ya Vega saya klik aja Vega. Nah, maka dia akan carikan carikan referensi tersebut. Kemudian tinggal kita klik saja, maka kita akan diarahkan ke referensi tersebut. Nah, ini langsung diarahkan ke referensi tersebut. Saya ulang lagi ya, menggunakan referensi lain. Nah, misalkan di sini ya, ada fundrill 2022. Saya pengin mendapatkan referensi ini secara langsung. Kita tinggal klik saja ya. Kemudian setelah muncul ini kita klik. Akan terbuka nanti ya tab yang berisikan referensi tersebut. Oh, ini luar biasanya Google Scholor PDF Reader. Berbeda sama yang tadi ya. Ketika kita mengakses biasa ya, tidak menggunakan Google Scor PDF Reader, maka tidak ada fitur semacam itu. Ini ngelink ya, tapi ngelinknya ke referensi. Saya klik ini. Nah, ke referensi bukan langsung ngelink ke sitas ee halaman yang berisikan referensi-referensi yang dia sitasi. Ya, saya coba yang ini. Vega klik. Noh, kan dia arahkan ke sini. Vega itu direferensi di sini. Berbeda dengan yang tadi. Ketika kita klik sini akan muncul nanti paper tersebut. Tinggal kita klik tersebut papernya. Maka kita nanti diarahkan ke halaman berisikan paper yang dia citasi itu ya. Nah, kita menggunakan Google Scorer PDF leader. Pernah saya bahas ya di YouTube ini bagaimana cara mendapatkannya dan ini juga gratis. Nah, ya sekarang eranya AI sangat memudahkan kita tidak hanya untuk menulis artikel juga merancang penelitian. Nah, berkaitan dengan merancang penelitian ya saya ingin menyampaikan lagi mengingatkan lagi hari Jumat, Jumat pekan ini ya tanggal 5 Desember kita bisa bertemu via Zoom ya. Kebetulan saya diamanahi oleh kampus saya untuk mengadakan webinar ya bukan webinar sebetulnya ya, kita workshop langsung ya workshop online. Online tapi langsung ya. kita bertemu via Zoom, kita akan praktik dan demonstrasi bersama bagaimana caranya memanfaatkan AI untuk melakukan berbagai hal dari mencari ide penelitian yang mengandung novelty hingga mendesain penelitian berstandar jurnal bereputasi. Di situ nanti kita akan praktik mencari research gap macam research gap yang ada. Kemudian kita tarik menjadi ide penelitian yang berbasis state of the art. Kita susun juga state of the art-nya. Kita identifikasi gap-nya. kita justifikasi novelty penelitian kita. Kemudian dari situ kita kembangkan menjadi desain penelitian yang lengkap yang berstandar jurnal bereputasi. Dengan melakukan hal-hal tersebut yang akan kita lakukan di hari Jumat tersebut, kita nanti bisa menyusun proposal ya. Proposal tidak hanya untuk skripsi, tesis, disertasi, tetapi juga bisa proposal untuk hibah eksternal ya, hibah Bima, ya. ataupun juga kita juga bisa mencari ide penelitian dan mengembangkan desain penelitian bukan untuk hibah atau pendanaan, tetapi untuk penulisan artikel kita secara mandiri. Karena biasanya kita kalau nulis artikel tidak selalu berangkat dari hibah ya. Banyak juga artikel yang kita berangkat dari non hibah, penelitian mandiri. Nah, di situ nanti juga kita bahas ya bagaimana caranya mencari ide penelitian yang penelitiannya enggak perlu turun lapak. yang gratis atau murah, yang waktunya cuma sebentar, tidak butuh tenaga banyak, namun bisa menghasilkan paper yang berkualitas, ide penelitian yang bereputasi, yang sangat berpeluang publish di jurnal terindex Scopus. Alamat pendaftaran untuk workshop hari Jumat ini ya akan saya share di kolom deskripsi di bawah video ini. Tinggal diklik saja sehingga nanti kita bisa bertemu di Zoom tersebut. Kenapa kok Jumat? Ya, karena habis ini saya harus ke Jayapura, Bapak Ibu ya. Hari Selasa dan Rabu saya mengisi di Universitas Cendrawasih. Dan mohon maaf ya, biasanya saya videonya akhir pekan namun sekarang hari Senin baru saya publish karena tadi pagi ya jam 12.00 malam ya tengah malam saya baru kembali dari Kuala Lumpur dari Malaysia sehingga pagi ini saya baru sempat membuat video. Oke terima kasih mohon maaf bila ada kesalahan. Kita bisa berjumpa hari Jumat ataupun juga akhir pekan via YouTube atau hari Jumat via Zoom. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.