Kind: captions Language: id Pertanyaan berikutnya, apakah kita, Anda, dan saya mau mengimani sesuatu yang hanya didasarkan atas sebuah kemungkinan? Sahabat Akela yang saya kasihi, video ini adalah kelanjutan dari video pertama yang menjelaskan kronologi subprime mortgage crisis hingga lahirnya Bitcoin dan sebuah agama digital baru tanpa Tuhan yang mengiringinya. Sesuai yang saya jelaskan di bagian akhir video tersebut, dalam video ini kita akan membahas bahwa pada periode menjelang halving ketiga tahun 2020, narasi Bitcoin ini mulai bergeser dari medium of exchange pengganti fiat menjadi storage of value dan kemudian mengalami transformasi lagi menjadi sebuah alat politik. Menjelang akhir 2019, pasar uang Amerika sudah menunjukkan gejala stress liquidity melalui repo market crisis September 2019. Ini enggak terlalu besar memang dampaknya ke market. Ketika pandemi Covid-19 mulai merebak pada bulan Maret 2020, pasar keuangan global panik indeks saham anjlok imbal hasil obligasi turun ke rekor terendah. dan likuiditas mengering. Defed merespon dengan langkah yang luar biasa. Menurunkan suku bunga ke 0 hingga 25 basis point. Jadi hanya 0,25. meluncurkan kembali Qlimited, yakni dengan cara membeli US Treasuries dan mortgage back security senilai lebih dari 4 triliun US dalam waktu kurang dari setahun serta membuka fasilitas kredit korporasi dan municipal bonds untuk pertama kalinya dalam sejarah. Neracavet melonjak dari 4,1 triliun US dollar ke hampir 7,4 triliun US hanya dalam beberapa bulan saja. Langkah ini berhasil menstabilkan market dan memicu rally besar di S&P 500 dan Nasdaq, tapi juga membuka era baru likuiditas yang berlebihan yang kelak memicu lonjakan harga aset dan inflasi tinggi pada tahun 2022. Akan tetapi ketika The Fed melakukan Qi besar-besaran pada tahun 2020 dan nilai dolar tertekan, komunitas Bitcoin beralih narasi dari uang masa depan pengganti fiat menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi alias digital gold. Narasi Bitcoin kini bergeser menjadi storage of value. Investor institusional seperti Micro Strategy, Tesla, dan Square mulai membeli Bitcoin sebagai reserve aset mereka. Sementara figur seperti Paul Todor Jones dan Stanley Dracen Miller menyebutnya sebagai the fastest horse in the race melawan pelemahan dolar. Narasi ini sangat berbeda dari semangat revolusioner tahun 2010 sampai 2016. Bitcoin kini diposisikan bukan untuk menggantikan sistem keuangan, melainkan menumpang di dalamnya sebagai aset penyimpan nilai spekulatif, speculative storage of value. Dengan demikian, Bitcoin mengalami rebranding ideologi dari gerakan anti bank menjadi produk investasi yang justru tumbuh subur berkat kebijakan bank sentral sejak tahun 2020. Michael Sayer secara terbuka menyatakan bahwa Bitcoin bukan mata uang untuk transaksi sehari-hari, melainkan aset penyimpan nilai tertinggi yang pernah diciptakan manusia, bahkan lebih unggul dari emas. Dalam wawancaranya termasuk di CNBC pada bulan September 2020 dan Lex Freedman Podcast di tahun 2021, seller menegaskan Bitcoin is not meant to buy coffee. It's a store of value, a digital property, not a digital currency. Perhatikan ya, teliti kata-katanya. Inilah pergeseran yang saya perlu jelaskan ke Anda. Pandangan ini muncul setelah Micro Strategy perusahaannya mulai mengonversi lebih dari 250 juta US Do cash menjadi Bitcoin karena ia menilai dolar sedang terdevaluasi akibat kebijakan QFET. Dari sinilah narasi baru lahir Bitcoin sebagai digital gold 2.0. sebuah aset untuk melindungi kekayaan dari inflasi bukan alat tukar atau medium of exchange dalam daily ekonomi. Mengakhiri mimpi awal Satosi tentang peer topeer cash system dan sekaligus menggantinya dengan satu visi baru digital scarcity as the ultimate store of value. Sebagaimana saya katakan di awal video ini dalam teori moneter klasik, nilai uang bersandar pada tiga fungsi utama. Yang pertama adalah sebagai medium of exchange atau alat tukar. Fungsi yang kedua adalah sebagai unit of account atau satuan nilai harga. Yang ketiga adalah sebagai stories of value, yakni penyimpan daya beli. Secara historis, fungsi nomor 3 selalu muncul dari fungsi yang pertama. Sesuatu bisa menyimpan nilai karena ia sering digunakan dan dipercaya dalam transaksi. Emas misalnya menjadi stories of value karena selama berabad-abad sudah dipakai sebagai alat tukar universal. Bukan sebaliknya. Secara empiris korelasi harga Bitcoin terhadap NASDQ dan liquidity cycle-nya The Fed menunjukkan bahwa ia lebih cocok disebut sebagai high beta tech equity. Ya, mirip kayak saham teknologi yang nilai betanya atau nilai korelasinya terhadap indeks NASDAK itu tinggi ya. Kalau NASAKnya naik 2% dia naiknya 4%. Itu dua kali lipatnya Nazdak bukan seperti Mas ya. Di tahun 2012 menuju awal 2013 Bitcoin bullish. Anda bisa lihat di chart ini Bitcoin bullish, NASDAQ bullish gold malah beish. Kemudian di akhir 2021 hingga awal 2022, Bitcoin baris, NASDAQ juga baris, namun gold bullish. Kemudian di kuartal pertama 2025, Bitcoin baris, NASDAQ juga sama baris, namun gold bullish. Dengan kata lain, Bitcoin ini lebih banyak miripnya sama NASDA ketimbang sama gold dalam hal pergerakan harganya. Ini artinya nilai penyimpanan Bitcoin hanya valid selama likuiditas global longgar dan narasinya tetap hidup. Begitu suku bunga naik dan likuiditas diperketat oleh bank sentral dalam hal ini adalah the maka nilai Bitcoin ikut jatuh. menandakan bahwa fungsi store of value-nya itu sesungguhnya tidak inherent melainkan bersifat psikologis alias sentimen. Ketika Bitcoin meninggalkan fungsi alat pembayaran, medium of exchange itu sudah tidak pernah dinarasikan lagi karena volatilitasnya tinggi, biaya transaksi mahal, dan konfirmasinya lebih lambat, jauh lebih lambat karena hanya 7uh transaksi pers. ia kehilangan pondasi fundamentalnya sebagai uang atau medium of exchange. Maka storage of value Bitcoin tidak lagi bersandar pada utilitas ekonomi, tapi pada kepercayaan kolektif atau collective belief bahwa someeday orang lain akan bersedia membeli Bitcoin dengan harga yang lebih mahal, lebih tinggi. Dengan kata lain, nilai Bitcoin kini bergantung pada narasi bukan sirkulasi. Berdasarkan laporan Kansas City FET antara periode 2021 sampai 2024 disebutkan bahwa penggunaan cryptocurrency untuk pembayaran oleh konsumen Amerika menurun dari kisaran 3% ke hanya 2%. Tapi catat, mereka menyebut kripto secara umum yang mencakup stable coin seperti USDC dan USDT atau teter. Berarti lebih dari 98% transaksi crypto adalah untuk fungsinya sebagai storage of value alias trading ataupun investasi. Bukan sebagai medium of exchange atau sebagai alat pembayaran. Laporan tersebut tidak membedakan berapa persen dari penggunaan itu adalah Bitcoin versus stable coin versus token lainnya. Sehingga kemungkinan sebagian besar dari jumlah yang kurang dari 2% itu adalah stable coin seperti USDC atau USDT. Berdasarkan laporan dari Cenalisis hingga bulan Juni 2020 lebih dari 80% Bitcoin yang beredar digunakan untuk investasi maupun trading. Sementara 19,9% tidak pernah dipindahkan sama sekali dari wallet address-nya sejak lebih dari 5 tahun. Sehingga oleh Cnalisis diasumsikan hilang. Pemiliknya tidak bisa mengaksesnya. bisa jadi karena hardware wallet-nya rusak, seat phrase-nya hilang, yang bersangkutan juga mungkin meninggal dunia dan sebagai macam-macam. Namun dari data-data ini nampak jelas bahwa Bitcoin sudah tidak lagi digunakan sebagai medium of exchange. Kalaupun ada persentasenya itu teramat sangat kecil, apakah itu berarti ke depannya harga Bitcoin bakal hancur? Beberapa kalangan memang kemudian menyebutkan bahwa Bitcoin suatu saat pasti hancur karena value Bitcoin tidak lagi bersandar pada utilitas ekonomi tapi pada kepercayaan kolektif. Pendapat ini biasanya didasarkan pada teori ekonomi klasik Smith and Ricardo bahwa nilai memang datang dari kegunaan dan kerja. Namun harap diingat dalam ekonomi modern Marx, Feblen, Benjamin, Bordeo muncul konsep baru yakni simbolic value. Nilai yang berasal dari pengakuan sosial, bukan fungsi praktis. sebuah lukisan Picasso misalnya ini enggak bisa dimakan, enggak bisa jadi apa-apa, tidak bisa jadi alat tukar, tapi nilainya ratusan juta dolar karena narasi kelangkaan dan aura historisnya. Anda mungkin bertanya, "Lah tapi kan lukisan Picasso itu bisa dipajang, sementara Bitcoin tidak." Nah, di sinilah letak perdebatannya. Menurut Walter Benyamin dalam isnya yang sangat terkenal, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction tahun 1936, lukisan Picasso ini memiliki aura ya istilahnya Benjamin untuk menyebut keunikan pengalaman yang lahir dari kehadiran fisik dan konteks historisnya. Anda bisa berdiri di depan kanvas lukisan Picasso, melihat sapuan kuas aslinya dan merasa ada yang sakral di situ. Bitcoin memang tidak memiliki tubuh, tidak memiliki wujud, warna, dan bentuk. Bitcoin adalah data kriptografis murni yang hidup di jaringan. Tidak bisa disentuh, untouchable, tidak bisa dipajang. Namun Bitcoin menggantikan aura fisik dengan aura algoritmik. Ia memperoleh kesakralannya bukan dari bentuk, tapi dari algoritma matematikanya yang tak bisa dibobol. Nah, pertanyaannya lagi sekarang, bagaimana jika suatu saat kelak ada satu teknologi yang bisa mendisrupsinya, yang bisa bobol? Oke, gini. Keamanan Bitcoin bersandar pada dua algoritma utama. Sia 256. Sia itu adalah secure has algorithm 256 yang berfungsi sebagai sistem hasing untuk memastikan bahwa setiap blok itu unik dan tidak dapat dirubah tanpa mengubah seluruh rantai blockchain tersebut. serta ECDSA atau Elliptic Curve Digital Signature algorithm yang menjamin hanya pemilik private key yang sah dapat mengirimkan Bitcoin dari suatu alamat ke alamat lainnya. Dengan kekuatan komputasi klasik berbasis biner, kedua algoritma ini nyaris mustahil bisa dibobol. membalik suatu hasa 256 saja itu bakal memerlukan waktu lebih lama dari umur alam semesta. Gak masuk akal. Namun munculnya komputasi quantum atau quantum computing ini membawa potensi ancaman baru karena komputer quantum dapat memproses jutaan kombinasi secara paralel menggunakan algoritma short dan Grover yang secara teoritis mampu menebak private key dari public key dan mempercepat pencarian hash hingga separuh tingkat keamanannya. Untungnya teknologi quantum saat ini di tahun 2025 ini masih jauh dari tahap itu. Baru mencapai sekitar 1000 physical cubit. Sementara dibutuhkan lebih dari 10 juta logical cubit stabil untuk menembus ECDSA 256 bit. Meski begitu, komunitas kriptografi telah mengantisipasi ancaman tersebut lewat pengembangan post quantum cryptography atau PQC dengan standar baru dari NIST seperti crystal cyber, crystals di litium, Falcon dan Spinx Plus yang kelak memungkinkan Bitcoin diperbaharui melalui softk menjadi sistem tanda tangan digital tahan kuantum sebelum ancaman itu benar-benar tiba. Memasuki penghujung 2024, Trump dengan cerdik menggunakan Bitcoin sebagai salah satu senjata politiknya. Dalam kampanye 2024 sampai 2025, tokoh-tokoh partai Republik pro Trump seperti Vive Kramaswami, Cinttia Lumis, dan Jedy Fence terang-terangan mendukung kebijakan propto. Sementara Kubu Demokrat menekankan regulasi ketat demi perlindungan konsumen. Bitcoin kini dipakai untuk menyerang institusi keuangan tradisional dan the menggambarkan mereka sebagai lambang penindasan moneter rakyat kecil. Trump bahkan berulang kali menyinggung soal financial freedom dan menyebut crypto sebagai a firewall against central bank tyrany. Sebaliknya, pemerintahan demokrat dianggap anti kebebasan finansial karena mendorong CBDC, central Bank Digital Currency yang dinilai bisa mengawasi rakyat. Di era Trump, Bitcoin bukan lagi sekedar aset digital. Ia telah menjadi simbol ideologis perlawanan terhadap institusi, senjata retorik dalam perang wacana antara kebebasan dan kontrol. Satosi ingin menciptakan sistem tanpa politik, tapi akhirnya justru politiklah yang menciptakan makna baru bagi Bitcoin. Pada saat kelahirannya, Bitcoin diciptakan sebagai medium of exchange, sebuah sistem pembayaran alternatif yang menantang dominasi uang fiat dan bank sentral. Namun setelah pandemi Covid-19 dan ledakan likuiditas global tahun 2020, Michael Seller mentransformasinya menjadi storage of value. Sebuah emas digital yang nilainya tidak lagi bersandar pada fungsinya sebagai medium ofis dalam bertransaksi, melainkan pada kepercayaan kolektif. Memasuki era Trump, Bitcoin mengalami transformasi baru lagi dari penyimpan nilai menjadi alat politik dan simbol ideologis, bendera digital dalam pertarungan antara anti establishment populism dan centralized government. Karena nilainya kini bertumpu pada kepercayaan kolektif, volatilitas pun menjadi konsekuensinya. Sebab kepercayaan kolektif itu kan hampir selalu lahir dari narasi, dari cerita yang menggugah emosi. Dan ketika seorang mempercayai cerita itu lalu mendapat hadiah berupa cuan, maka rasionalitas cerita itu sudah enggak lagi penting. Cuan ini sudah cukup menjadi buktinya. Pada titik itulah kepercayaan berubah menjadi iman. Iman yang terbentuk bukan karena kebenaran, bukan karena realita, tapi karena cuan alias keuntungan. Bitcoin memang pada awal kemunculannya berkembang pesat di Amerika dan di Amerika kebebasan berpendapat itu dijunjung tinggi dan benar-benar dilindungi. Namun kebebasan yang sebebas-bebasnya melahirkan paham libertarian bahwa manusia memiliki kebebasan menentukan jenis kelaminnya sendiri. kebebasan yang sebebas-bebasnya ini juga melahirkan kreativitas memodifikasi doa Bapak Kami menjadi doanya hodel lengkap dengan hodel Bible dan Kongregasi Gereja hodel. Ee saya tidak bermaksud untuk menghakimi sama sekali enggak apalagi dari sudut pandang spiritual karena saya juga sangat tidak layak untuk itu. Namun saya hanya ingin berbagi satu prinsip penting sederhana sekali. Segala sesuatu yang kita imani tanpa dasar kebenaran yang nyata berarti berlandaskan pada sesuatu yang berada di luar kebenaran. Karena kan pilihannya hanya ada dua, di dalam kebenaran atau di luar kebenaran. Nah, jika iman yang didasarkan atas sesuatu yang di luar kebenaran, maka itulah yang dikenal dengan istilah ilusi. Apakah ilusi pasti akan gagal? Kadang memang sesuatu itu bisa tampak begitu meyakinkan bahkan sangat menggairahkan sampai-sampai kita lupa menanyakan apakah yang kita lihat ini sungguh sebuah realita kebenaran ataukah hanya sebuah kemungkinan yang masih bersifat probabilita. Pertanyaan berikutnya, apakah kita, Anda, dan saya mau mengimani sesuatu yang hanya didasarkan atas sebuah kemungkinan. Well, yang jelas saya tidak. Namun, bagaimana dengan Anda? Silakan ketik di kolom komentar. Saya sendiri ketimbang menjadi seorang faith based holdler. Mengimani sesuatu atas dasar probabilita. Saya lebih memilih untuk memanfaatkan probabilita itu sebagai komoditas dagang. Loh, jadinya trading dong. Yes, trading Bitcoin, trading crypto, tapi bukan berinvestasi atas dasar iman yang bukan berasal dari kebenaran sejati, melainkan berasal dari sebuah narasi yang tidak lain tidak lebih dari sebuah probabilita. Kalau trading berarti tidak bisa long term dong. Wow. Kata siapa? Trading itu ada short term, ada medium term. Saya tidak menolak potensi laba yang ada di Bitcoin. Oh, saya juga doyan cuannya. Namun saya tidak akan menaruh iman saya pada Bitcoin atas dasar sebuah asumsi, atas dasar sebuah probabilitas yang belum real. Saya mengembalikannya pada tempatnya secara proporsional. Bitcoin adalah produk teknologi blockchain. Bitcoin adalah sebuah komoditas digital tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Mengenai pergerakan harganya karena value-nya didasarkan pada kolektive belief atau kepercayaan kolektif yang dibangun oleh sebuah narasi yang diterima banyak orang, maka wajar volatilitasnya jadi tinggi seiring dengan perubahan dan tantangan terhadap narasi tersebut. Lantas bedanya dengan investasi apa? Kalau begitu detailnya saya sudah jelaskan dalam video berjudul investasi trading atau gambling. Sahabat Akela Anda bisa menyimaknya di video yang ini. Pada prinsipnya investasi itu dilakukan pada aset yang produktif, bukan komoditas. Benjamin Graham dalam buku legendarisnya The Intelligent Investor menyebutkan jika tujuan kita menghasil keuntungan dari pergerakan harga aset, maka itu namanya berspekulasi ya. Kita beli sesuatu dengan tujuan bisa jual ke orang lain dengan harga yang lebih tinggi. Maka itu namanya berspekulasi. Tidak ada yang salah dengan berspekulasi asalkan itu dilakukan dengan menggunakan suatu sistem kuantitatif yang sudah teruji. Ben Graham menyebutnya sebagai intelligent speculator. Nah, spekulasi cerdas seperti inilah yang kemudian kita kenal dengan sebutan trading. Jadi ketimbang membiarkan diri hanyut oleh narasi-narasi heboh nonbombastis, saya memilih untuk fokus pada data mengolahnya pada sebuah sistem kuantitatif yang sudah teruji secara statistik dengan quantitatif trading yang didasarkan atas data historis dan back test yang terstruktur, terukur. saya mengubah noise pasar menjadi sebuah sinyal trading dan menghilangkan emosi dari setiap keputusan trading yang saya ambil. Karena itu tradingnya jadi nyantai alias trading nyantai. Saya kemudian me-manage risikonya dengan menggunakan money management yang terukur dan semuanya diterapkan pada sebuah trading plan yang lengkap. Beli apa, di harga berapa, belinya berapa banyak. stop loss-nya berapa, maksimum ris-nya berapa, dan target profitnya berapa. Kalau ada yang bertanya, bukankah trading itu sama aja dengan judi? Maka saya justru balik bertanya, menurut Anda, siapa sebenarnya yang sedang berjudi? Seorang trader yang sejak awal membuka posisi berdasarkan sinyal trading yang sudah teruji dalam sebuah back test yang memiliki trading plan lengkap, terukur secara kuantitatif, tahu kapan masuk, kapan exitnya, di mana stop loss-nya, berapa target profitnya, dan maksimum resiko yang dia harus pikul. Ataukah seorang yang mengira dirinya sedang berinvestasi tapi justru menaruh seluruh uangnya bahkan uang pinjaman dari temannya ke dalam suatu aset kripto tanpa tahu apa yang harus dilakukan ketika harganya jatuh lalu memilih untuk tetap holdle sembari berdoa. Sejak tahun 2017 Akela menggunakan Timo quantitative trading system yang diciptakan Bapak Hendra Martono guna menentukan kapan saatnya buy dan kapan saatnya sell. baik di bursa saham Indonesia, bursa saham Amerika, Forex, berbagai komoditas hingga Bitcoin dan aset kripto lainnya. Nah, sahabat Akela semua, pada saat video ini saya buat pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, sepintas pada chart Timo nampak adanya pola barish divergence pada Bitcoin dan malam harinya tiba-tiba Trump mengumumkan akan memberlakukan tambahan tarif 100% terhadap produk impor asal China. ini langsung memicu koreksi tajam pada indeks saham Amerika SNP 500 dan NASDAQ dan juga Bitcoin. Sementara gold masih tetap menguat. Ini lagi-lagi menunjukkan karakteristik Bitcoin yang cenderung lebih mirip seperti high beta stock ketimbang aset safe heaven storage of value seperti gold. Pada puncak Bitcoin sebelum sell off dan memasuki periode winter time di tahun 2022. Weekly charge Bitcoin ini juga menunjukkan pola barish divergence terhadap RSI dan McD. Charge Bitcoin ini menunjukkan higher. Namun RSI dan McD menunjukkan lower high. Kini memasuki pengujung 2025, charge Bitcoin lagi-lagi menunjukkan pola beish divergence yang mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2021 menjelang be market 2022. di mana 2022 dan 2026 adalah sama-sama US mid election, yakni tahun pemilu sela guna memilih anggota kongres dan gubernur negara-negara bagian tertentu. Nah, sahabat Akela, Anda butuh konsultasi mengenai analisa tren pergerakan aset kripto anda khususnya memasuki meetem election year 2026. Tenang, khusus bagi subscribers channel ini, Anda bisa konsultasi sehubungan dengan investasi ataupun trading Anda, baik itu aset crypto, saham Bursa Efek Indonesia, saham Amerika, Forex, berbagai komoditas hingga aset-aset kripto lainnya. Langsung dengan saya dan Bapak Hendra Martoon Nolim, pencipta timo quantitative trading system melalui Akela live streaming yang kami selenggarakan tiap hari Kamis pukul 19.30 30 WIB di channel ini. Karena itu, pastikan diri Anda sudah subscribe, klik tombol like-nya, dan silakan share ke teman-teman Anda yang membutuhkan. Semoga bermanfaat semuanya, sukses selalu dan sampai jumpa.