Transcript
7eaBE_QTfbk • Bitcoin : Dari Krisis Wall Street ke Lahirnya 'Agama Digital'
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0289_7eaBE_QTfbk.txt
Kind: captions Language: id dengan semboyan. We don't trade. We believe para pemilik Bitcoin mulai menyebut diri mereka holdlers. Bukan lagi trader, melainkan penjaga iman agama digital yang bertahan dalam volatilitas yang ekstrem. Sahabat Akela, saya ingin mengawali video kali ini dengan flashback perjalanan Bitcoin sejak awal-awal kelahirannya hingga sekarang ini. Anda sadari atau tidak sadari ada perbedaan narasi yang menyertai perjalanannya. Bitcoin-nya tetap sama, namun cerita yang mengiringinya bergeser. Bagi yang ingin mempelajari fundamental Bitcoin, saya rasa hal ini penting untuk kita teliti. Bitcoin ini lahir pada tahun 2009. Saat itu Amerika tengah terguncang krisis subprime mortgage. Nah, supaya jelas karena ini semua ada kaitannya dengan kelahiran Bitcoin, saya akan bahas mulai masalah supremtgage yang mencapai puncaknya pada peristiwa kebangkrutan Lemon Brothers, salah satu bank terbesar di Amerika pada tanggal 15 September 2008. Di Amerika, bank-bank investasi awalnya membeli kontrak kredit rumah, mortgage namanya, dari para mortgage lander atau penyedia KPR seperti country wide atau new century, lalu menggabungkannya menjadi paket besar yang disebut MBS alias mortgage back securities dan CDO collateralized. Dep obligation yang dijual ke investor global sebagai aset berpendapatan tetap atau bonds obligasi berimbal hasil tinggi. Namun dianggap aman karena telah diberi rating triple A oleh lembaga pemeringkat seperti SNP, Moodis, dan F. Ketika permintaan terhadap CDO ini meledak, booming, dan stok kredit rumah berkualitas itu menipis, habis, bank-bank investasi mulai melobi para lenders ini, para penyedia KPR untuk membuat kontrak hipotek baru tanpa perlu verifikasi pendapatan, tanpa perlu verifikasi kemampuan membayar atau melunasi kredit. Cukup dengan KTP dan tanda tangan yang kemudian kontrak hipotek seperti ini dikenal dengan sebutan subprime mortgage. Kredit berisiko tinggi ini kemudian kembali dibeli oleh investment banks, dikemas ulang menjadi CDO trenches berdasarkan tingkat risiko yang dipoles oleh lembaga pemeringkat dan dijual lagi ke investor di seluruh dunia tanpa memperhatikan bahwa di balik produk tersebut tersembunyi jutaan kredit yang sebenarnya sudah berada di ambang gagal bayar. Ketika suku bunga KPR yang tadinya rendah mulai naik pada tahun 2006 hingga 2007, jutaan mortgage lander khususnya subprime ini tidak sanggup lagi membayar cicilan. Mortgage delinquencies atau gagal bayar KPR langsung melonjak tajam menyebabkan arus kas MBS dan CDO yang bergantung pada pembayaran cicilan itu tiba-tiba macet. Akibatnya nilai CDO tersebut anjlok. Lembaga rating terpaksa menurunkan peringkat atas ribuan produk triple A menjadi jangbond. Dan para investor di seluruh dunia jadi panik karena tidak tahu lagi berapa nilai aset mereka yang sebenarnya. Likuiditas hilang total. Bank-bank yang menyimpan CDO di neraca mengalami kerugian raksasa mulai dari Bearsterns dan Lemon Brothers hingga City Group dan AIG. Dalam hitungan minggu kepercayaan antar bank lenyap, pasar kredit frozen membeku, dan sistem keuangan global collapse. Memicu krisis finansial 2008 yang dikenal dengan sebutan the great financial crisis. Dan itu mencapai puncaknya ketika Lemon Brother, salah satu bank terbesar di Amerika yang sudah berusia 158 tahun pada tanggal 15 September 2008 terpaksa mengajukan chapter 11 alias pilit. Kebangkrutan Len langsung menimbulkan masalah pada AIG, perusahaan asuransi terbesar di Amerika saat itu. AIG tidak sanggup membayar collateral calls atas jutaan kontrak CDS kredit default swap yang terkait dengan CDO sampah milik Limen tersebut. AIG ini adalah perusahaan asuransi. CDS adalah kontra asuransi polis yang melindungi investor yang membeli CDO. Ketika CDU itu default, maka investor berhak mengajukan klaim atas CDS yang dimilikinya yang diterbitkan oleh AIG. Masalahnya adalah karena begitu besarnya klaim ke AIG, AIG tidak sanggup bayar. Dan jika AIG ikut bangkrut, maka semua kontra asuransi terhadap aset di seluruh dunia ini juga ikut hancur. Di sinilah momen ketika Paulson, US Treasury Secretary, dan Ben Bernanyi pada saat itu Fmanar sepenuhnya akan efek domino yang sedang berjalan. Keesokan harinya, antara 17 hingga 18 September 2008, investor menarik 300 miliar dolar dari money market funds dalam hanya 2 hari saja. Pasar uang jangka pendek langsung frozen membeku total. Paulson dan Benani segera mengundang para pemimpin kongres ke Capital Hill pada malam hari Jumat tanggal 18 September 2008. dan mereka mengajukan proposal agar kongres memberikan dasar hukum guna menyelamatkan ekonomi Amerika. Dalam pertemuan ini, Bernanke mengucapkan kalimat legendarisnya. If we don't do this, we may not have an economy on Monday. Itulah malam di mana mereka benar-benar menyadari efek domino kebangkrutan Lemon telah menjalar ke seluruh sistem moneter global. Malam harinya posen Treasury Secretary secara harafiah literally dia berlutut di depan House speaker Nancy Pelosi memohon agar kongres segera menyetujui paket penyelamatan yang kemudian disetujui menjadi Emergency Economic Stabilization Act of 2008 yang merupakan dasar hukum TARP. TARP ini adalah proposal yang diajukan Paulsen singkatan dari Trouble Asset Relief Program. Pada tanggal 29 September 2008, Dewan Perwakilan Amerika atau House of Representative ternyata menolak voting pertama untuk Emergency Economic Stabilization Act. rancangan undang-undang yang akan memberi wewenang kepada departemen keuangan untuk menjalankan tarp trouble aset releasief program senilai 700 miliar dolar. Penolakan itu memicu kepanikan besar di bursa saham dengan indeks Dow Jones hari itu unlock 777 poin hanya dalam waktu 1 hari. penurunan harian terbesar dalam sejarah saat itu dan langsung menimbulkan efek domino di seluruh dunia. Setelah tekanan publik, lobi gedung putih, dan revisi kecil untuk menambah perlindungan pajak serta limit asuransi simpanan FDIC, Congres akhirnya melakukan revote dan meloloskan IESA Emergency Economic Stabilization Act pada tanggal 3 Oktober 2008 dan langsung ditandatangani oleh Presiden George Wush pada hari yang sama. Keputusan itu menghentikan kepanikan global, mencegah kolapsnya sistem keuangan secara total menyeluruh dan menandai dimulainya era baru intervensi besar-besaran pemerintah dalam pasar yang kemudian dikenal sebagai TAR Trouble Asset Relief Program dan QE quantitative easing. TAR Trouble Asset Relief Program adalah kebijakan fiskal pemerintah. pemerintah ya US Treasury Secretary guna memulihkan likuiditas dan stabilitas sistem keuangan Amerika Serikat yang dalam operasionalnya memberikan wewenang kepada US Treasury untuk membeli, menjamin atau berinvestasi pada aset bermasalah atau toxic aset dari lembaga keuangan. Yang kedua, menyuntikkan modal langsung atau capital injection ke bank-bank agar tetap solven. Yang ketiga, menyediakan dana penyelamatan untuk industri strategis tertentu yang jika gagal akan memperburuk resesi. Tarp senilai 700 miliar dolar ini disetujui kongres untuk menyelamatkan sistem keuangan bukan hanya bank tapi juga AIG, GM, Chrysler, dan jutaan rumah tangga Amerika. Dari jumlah itu sekitar 426 miliar dolar benar-benar digunakan dan 441 miliar kembali ke kas negara. Pada tanggal 14 Oktober 2008, tarp ini akhirnya dilaksanakan di mana Treasury melakukan pembelian saham-saham perbankan atau kemudian lazim dikenal sebagai capital purchase program atau CPP dan menjadi komponen terbesar dari TAR sekitar 205 miliar US dolar. Berarti kurang lebih separuhnya ekonomi Amerika dan ekonomi global berhasil selamat terhindar dari great depression. Namun secara sosial dan moral publik Amerika saat itu sangat marah. Hal ini wajar mengingat ada banyak kejadian di mana beberapa bangkir Amerika ini sama sekali tidak menunjukkan sense of crisis. Pada saat crisis subprime ini meledak, Mary Lins adalah salah satu bank investasi terbesar di Wall Street dan juga salah satu yang paling terpapar trouble aset CDO dan MBS. Kerugiannya itu mencapai lebih dari 50 miliar dolar. memaksanya terpaksa dijual cepat kepada Bank of America pada tanggal 14 September 2008 bersamaan dengan kejatuhan Lemon Brothers. Kemarahan publik memuncak karena pemerintah dan defed yang memperoleh persetujuan dari kongres menyelamatkan bank melalui TARP dan QI. Tapi jutaan rakyat kehilangan rumah akibat for closure di SIT. Sementara CEO Bank menerima bonus dan baout. Semua ini mengusik rasa keadilan rakyat Amerika yang kemudian memuncak pada gerakan Ocupy Wall Street yang meletus pada tanggal 17 September 2011 di Zukoti Park New York sebagai protes rakyat terhadap keserakahan korporasi, ketimpangan ekonomi, dan build out bank-bank besar pasca krisis 2008 dengan slogan legendaris We are the 99%. Gerakan ini menuding bahwa sistem politik dan keuangan Amerika telah dikuasai oleh segelintir elit kaya 1%. Sementara jutaan warga kehilangan rumah dan pekerjaan. Aksi pendudukan damai ini menyebar ke seluruh dunia menjadi simbol perlawanan terhadap sistem moneter yang menyelamatkan para bangkir dan mengorbankan rakyat sekaligus melahirkan kesadaran baru akan adanya ketimpangan sistemik dalam kapitalisme modern. Sejalan dengan itu, kondisi ini juga melahirkan gerakan anti establishment era modern yang menginspirasi munculnya narasi anti elit. Narasi ini tumbuh dari keyakinan bahwa krisis keuangan, inflasi, dan kebijakan moneter bukan akibat dinamika ekonomi normal, melainkan rencana terpusat oleh segelintir elit bank, bangkir, keluarga kaya atau organisasi rahasia. Dan ceritanya selalu sama, yakni rakyat dikontrol lewat hutang, uang fiat, dan bank sentral. Salah satu yang paling populer adalah klaim bahwa Federal Reserve itu dikendalikan oleh keluarga Rosild atau jaringan bangkir rahasia internasional. Sejak beberapa tahun yang lalu, Akela sering mendang narasi teori konspirasi mengenai The Fat di channel Akela ini. Karena semua narasi teori konspirasi tersebut memang tidak berdasarkan data dan fakta, melainkan hanya sekedar opini alias gosip tak berdasar yang lahir dari kemarahan publik Amerika. Publik Amerika yang marah. Masalahnya kenapa netizen di Indonesia ikut-ikutan mereka? Ya, entah kenapa memang netizen kita asik banget kayaknya ya dengerin teori konspirasi. Rasanya tuh kayak baca novel-novel Dan Brown atau John Grisem. Jika sahabat Akela ada yang ketinggalan videonya, silakan simak pada video yang ini juga, yang ini dan yang ini juga. Di tengah suasana kemarahan publik dan keputusasaan akan rasa ketidakadilan, lahirlah sesuatu yang kecil, anonim, dan misterius. Pada tanggal 3 Januari 2009, seseorang atau sekelompok orang dengan nama Samaran Satosi Nakamoto menambang blok pertama Bitcoin yang dikenal sebagai Genesis blog. Di dalam blog itu tertulis sebuah kalimat yang sangat simbolik. Diambil dari headline surat Kaba The Times hari itu. Bunyinya adalah The Times 3d of January 2009 canceler on bring of second bail out for banks. It bukan kebetulan. Itu adalah sebuah pesan protes. Di zaman itu ada banyak sekali narasi yang dihembuskan media bahwa pemerintah Amerika menyelamatkan bank-bank dengan tax payers money alias uang rakyat. Di sinilah nampak ada satu kekeliruan kecil yang hampir tidak pernah ada yang mengkoreksi seluruh dana tarp yang disalurkan US Treasury di tahun 2008 dalam bentuk CPP hingga akhir 2014 sudah sepenuhnya kembali ke pemerintah dari 426,4 miliar US DO yang disalurkan 441,7 miliar yang kembali. Dengan kata lain, pemerintah memperoleh keuntungan sebesar 15,3 miliar dolar. Lantas kalau sepenuhnya sudah kembali ke pemerintah, malah ada untung. Bagaimana dengan narasi yang selalu dihembuskan media di zaman itu? Bahwa pemerintah Amerika menyelamatkan bank-bank dengan tax payers money alias uang rakyat. Tax payers money yang mana? Loh, tapi kan selain TARP masih ada Qi1, QI2, dan QI3. Quantitatif easing ya, quantitatif easing 1, 2, dan 3 yang nilainya mencapai 3,95 triliun total. Nah, di sinilah letak salah pahamnya. Qantitatif easing adalah kebijakan moneter bukan kebijakan fiskal. Sebagaimana sudah sering saya bahas dalam video-video tentang makroekonomi, harap bedakan antara kebijakan fiskal pemerintah dengan kebijakan moneter bank sentral alias FET. The FET atau bank sentral itu adalah institusi negara non pemerintah. The FET itu bukan pemerintah tapi juga bukan bank swasta. itu adalah institusi negara non pemerintah. The FET memiliki wewenang untuk menambah atau mengurangi jumlah likuiditas. Namun, DEFET tidak memiliki wewenang untuk menggunakan atau membelanjakan uang tersebut. Qi 1, 2, dan 3 dikucurkan defed dengan tujuan menurunkan suku bunga jangka menengah dan jangka panjang. Dalam pidatonya di Broking Institute, Benanke menjelaskan, "Our goal is to reduce longterm interest rates by effecting the supply and demand for longer term securities." Hingga akhir 2014, the F memang berhasil menurunkan suku bunga 10 years yield jangka waktu 10 tahunnya dari 3,9% menjadi hanya 2,3% dan suku bunga 30 years yield 30 tahun turun signifikan dari kisaran 6% menjadi hanya 4%. Ini semua berakibat turunnya suku bunga KPR atau mortgage rate hingga kredit korporasi itu semua bunganya turun. Namun, coba sahabat Akela dengarkan lagi penjelasan saya. Seluruh penjelasan saya panjang lebar ini tidak ada muatan emosinya karena ini semua berdasarkan data dan fakta. Nah, karena tidak ada muatan emosinya, maka tidak ada yang heboh. Dan seandainya pun ada yang menyuarakan analisa ini pada zaman itu, mungkin juga enggak ada yang mau dengerin. Tapi coba bandingkan dengan kalimat ini. Pemerintah menyelamatkan bank-bank dengan tax payers money alias uang rakyat. Rasakan muatan emosionalnya. Satu kalimat itu jauh lebih membakar emosi dan semakin emosional itu semakin heboh semakin viral. Terjadinya dalam blok pertama Bitcoin itu tertulis kalimat the times 3d of January 2009 chancellor on bring of second bail out for banks. Satosi seolah ingin menanamkan kalimat itu sebagai manifesto digital, sebuah sindiran terhadap sistem moneter yang baru saja menyelamatkan para bangkir dengan tanda kutip uang rakyat. Bitcoin lahir sebagai solusi alternatif atas sistem pembayaran menggunakan uang yang ditransfer melalui jaringan antar bank. Ini nampak jelas kok pada definisi Bitcoin yang kita semua bisa baca dengan jelas dalam Bitcoin white paper. A purely peer to peer version of electronic cash would allow online payments to be sent directly from one party to another without going through a financial institution. Sampai sini harap perhatikan bahwa uang pada dasarnya memiliki tiga fungsi dasar. Yang pertama itu adalah sebagai medium of exchange atau alat tukar. Yang kedua adalah sebagai unit of account atau satuan harga. Dan yang ketiga adalah sebagai storage of value. Nah, perhatikan baik-baik di sini. Pada saat Bitcoin diciptakan, ia diciptakan sebagai uang elektronik yang memungkinkan pembayaran secara online yang dapat dikirimkan dari satu pihak ke pihak lainnya tanpa melalui jasa institusi keuangan. Lantas apakah ada fungsi lain yang disebutkan Satosi pada Bitcoin white paper? Jawabnya enggak ada. Dalam white paper tersebut, Bitcoin diciptakan sebagai medium of exchange, termasuk menghilangkan atau meniadakan kebutuhan akan institusi keuangan alias bank sebagai pihak ketiga yang terpercaya, yang melakukan verifikasi dan pencatatan transaksi. That's it. Enggak ada lain. Karena sejak awal difungsikan sebagai medium of exchange atau media pembayaran. Maka posisi Bitcoin saat itu adalah head to head langsung sebagai kompetitor utama uang fiat termasuk menghilangkan kebutuhan akan institusi bank. Saat Satosi Nakamoto Mining Genesis Block pada tanggal 3 Januari 2009, Inggris baru saja menyelamatkan Royal Bank of Scotland atau RBS dan Lloyd TSB lewat bailout pertamanya pada Oktober 2008. Totalnya 500 miliar pound selling. Kalimat chancelor on bring of second bill alp for banks adalah judul utama koran the times edisi tanggal 3 Januari 2009 ketika Menteri Keuangan Inggris Aliste Darling dikabarkan siap menggelontorkan dana baout kedua bagi bank-bank besar seperti ABS dan Lids yang hampir collaps akibat krisis subprime mortgage. Atosi seolah-olah ingin mengatakan untuk apalagi transaksi pakai uang fiat dan mengandalkan bank sebagai perantara. Saya punya sistem yang jauh lebih mudah digunakan lewat online dan enggak butuh bank sama sekali. Kendati pun nampak sederhana. Namun Satosi menawarkan empat fungsi yang sangat powerful. Nomor satu tidak perlu bank sebagai perantara. Trustless system ya. Enggak butuh pihak ketiga yang terpercaya. Yang kedua, tidak bisa dimanipulasi pemerintah. Limited supply. Yang ketiga, transaksi bisa dilakukan langsung antar individu lewat jaringan global, peer to peer. Yang keempat, validasi transaksi dilakukan oleh algoritma kriptografi, bukan institusi yang menjadi pihak ketiga yang terpercaya atau trusted party. Dalam bulan-bulan berikutnya, Satosi merilis perangkat lunak Bitcoin versi 01. kemudian melakukan mining blok-blok awal dan berkomunikasi dengan komunitas kecil cryptograher seperti Halvini yang menerima transaksi Bitcoin pertama pada 12 Januari 2009 sebanyak 10 BTC. Selama 2009 hingga 2010, Bitcoin belum memiliki nilai pasar, hanya dimining untuk eksperimen. Sampai akhirnya pada tanggal 22 Mei 2010 ketika seorang programmer Laslo Hanyex namanya berhasil membeli dua pizza Papa Jones, pizza Supreme ukuran besar seharga 10.000 1000 BTC dan ini menjadi transaksi komersial pertama dalam sejarah Bitcoin yang kemudian diperingati tiap tahun sebagai Bitcoin pizza day menandai momen ketika Bitcoin untuk pertama kalinya berhasil menjadi alat pembayaran di dunia ekonomi rijak white paper 2008 dipromosikan bukan sekedar teknologi tapi sebuah gerakan ideologis sistem pembayaran digital tanpa perlu izin, tanpa bank, tanpa negara, enggak butuh hukum. Komunitas awal seperti Cyberpunks dan Forum Bitcoin Talk ORG sering mengutip kalimat Bitcoin is the future of money. Kemudian we don't need central banks anymore. Pada periode 2012 hingga 2015, narasi bahwa Bitcoin suatu saat akan menggantikan uang fiat semakin menguat dan ini dipicu oleh serangkaian krisis ekonomi global memperlihatkan rapuhnya sistem perbankan konvensional. Kris utang Yunani pada tahun 2012 membuat semua pemerintah di Yunani membatasi penarikan uang tunai dan transfer bank. Kemudian krisis Cyprus tahun 2013 memicu kebijakan bail in sepihak mengambil simpanan nasabah untuk menyelamatkan bank dan hiperinflasi di Venezuela menghancurkan daya beli masyarakat akibat pencetakan uang yang berlebihan oleh pemerintah. Ketiga, peristiwa ini dijadikan bukti hidup oleh komunitas Bitcoin bahwa uang fiat itu korup, rentan manipulasi politik, dan tidak sepenuhnya milik rakyat. Sementara Bitcoin dengan suplly tetap 21 juta dan tanpa otoritas yang terpusat atau centralize dipromosikan sebagai satu-satunya mata uang rakyat yang benar-benar bebas dari intervensi negara. Pada periode pasca krisis 2008 hingga sekitar 2016, berbagai teori konspirasi tentang The Fed dan elite global tumbuh sangat subur, terutama di ruang publik internet dan komunitas kripto. Hal ini tidak sulit dipahami. Ada satu kompetitor baru yang sejak kelahirannya memang ditujukan untuk mendisrupsi suatu sistem yang sudah status quo yang diyakini orang di seluruh dunia. Maka segala narasi yang melemahkan kredibilitas sistem status quo tersebut Wang Fiat akan semakin gencar dihembuskan. beraneka ragam narasi konspiratif bahwa the FET itu hanyalah alat segelintir elit global seperti keluarga Rosild, Rockoveller atau organisasi rahasia yang mengendalikan pencetakan uang dan utang dunia menyebar di berbagai media sosial. Buku-buku seperti The Creature from Jail Island karya G. Edward Grivin dan currency wars karya Songhong Bing menjadi kitab sucinya bagi kelompok anti dan pendukung Bitcoin. Mereka menuduh sistem fiat ini sebagai proyek perbudakan finansial global. Narasi ini dengan cepat menyebar lewat YouTube, forum kripto, dan media sosial. memperkuat keyakinan bahwa Bitcoin bukan sekedar teknologi, melainkan gerakan pembebasan dari cengkaman bank sentral dan elit global. Pada bulan Desember 2017, Bitcoin resmi masuk ke arus utama keuangan global setelah CMI Chicago Mendal Exchange dan CBOI Chicago Board Option Exchange meluncurkan Bitcoin futures memberikan akses legal bagi institusi untuk berspekulasi atau trading atas harga Bitcoin. Sebelum peluncuran itu, harga Bitcoin melonjak gila-gilaan dari sekitar 1.000 US Do per BTC di awal 2017 menjadi hampir 19.800 US per BTC hanya dalam waktu 12 bulan atau 1 tahun. Didorong oleh antusiasme investor retail yang percaya bahwa Bitcoin akan menggantikan uang fiat. Namun begitu kontrak future tersebut aktif pada pertengahan Desember 2017, likuiditas institusional mulai masuk dari sisi short position atau short sell dan gelembung spekulatif tersebut, bubble tersebut yang terjadi tahun 2017 itu langsung burst ya pecah. Dalam waktu 3 bulan, harga Bitcoin anjlok lebih dari 80% menandai berakhirnya bull market pertama yang berskala global dan sekaligus menunjukkan bahwa ketika Bitcoin memasuki sistem keuangan formal, ia tidak lagi menjadi alat revolusi moneter, melainkan menjadi tidak lain aset spekulatif seperti komoditas lainnya. Menjelang akhir tahun 2013, ketika harga Bitcoin anjlok dari 1$.000 menjadi 600. Seorang pengguna forum Bitcoin Talk bernama Game CuB menulis postingan berjudul I'm Holdling. Pada saat itu ia sedang mabuk whisky, frustrasi karena pasar crash dan sebenarnya bermaksud menulis I'm holding. Tapi dari salah ketik itulah lahir kata hodel yang kemudian menjadi legenda di komunitas krypto singkatan dari hold on for dear life. Awalnya hanya lelucon tapi dengan cepat berubah menjadi manifesto kepercayaan. simbol keyakinan bahwa harga Bitcoin akan selalu pulih cepat atau lambat dengan semboyan, we don't trade. We believe para pemilik Bitcoin mulai menyebut diri mereka holdlers, bukan lagi trader, melainkan penjaga iman agama digital yang bertahan dalam volatilitas yang ekstrem. Hodel bukan sekedar taiu lagi. Ia kini berkembang menjadi simbol iman. Sebuah agama digital baru tanpa Tuhan, lengkap dengan gerejanya dan kitab sucinya. Bahkan hingga ada doanya juga yang diposting talewinkle force di account X-nya dulu Twitter. Ya, saya tidak tahu Anda. Namun menurut saya ini sudah tidak pantas. Nah, di tahun 1912 Amerika juga pernah menciptakan sebuah kapal anti tenggelam. Dan kala itu media menulis besar-besar, "Even God himself could not sing this ship." Sama seperti Titanic, Bitcoin juga lahir dari keyakinan bahwa manusia bisa menciptakan sistem yang sempurna. Uang tanpa Tuhan, tanpa negara, tanpa inflasi. Tapi seperti halnya kapal yang dianggap tak mungkin tenggelam, keyakinan bahwa sistem buatan manusia yang tak bisa runtuh pada dasarnya adalah sebuah ketakaburan atau ilusi yang sama. Wah, jadi Bitcoin bakal bullish atau barish nih? Oke, pada periode berikutnya kita akan bahas bagaimana narasi Bitcoin sebagai pengganti fiat kini mulai bergeser menjadi storage of value dan kemudian berkembang lagi menjadi bagian dari sebuah strategi politik. Anda bisa menyimaknya pada bagian kedua Bitcoin dari store of value ke alat politik evolusi iman moneter Bitcoin.