Transcript
lWjqastIjBA • Terungkap! Kenapa Nasabah Sekuritas Indonesia RAWAN Jadi Sorganya Hacker Dunia?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0287_lWjqastIjBA.txt
Kind: captions Language: id Dari semua negara-negara ini hanya ada satu bursa saham. Transaksi rata-rata tiap harinya itu lumayan gede, mencapai 18 sampai R triliun per harinya. Namun, security-nya hanya single factor authentication. Tidakkah Anda lihat bahwa kondisi ini membuat Indonesia ini sekarang jadi surganya para hacker di seluruh dunia? Oke, sahabat Akela, beberapa orang di Akela khususnya yang trading dan berinvestasi di Bursa Efek Indonesia menggunakan platform trading sekuritas resmi anggota Bursa Efek Indonesia kali ini mengalami suatu kejadian yang sangat menyakitkan. kan akhir-akhir ini marak sekali kejadian peretasan atau hacking atas akun-akun nasabah di sekuritas-sekuritas Bursa Efek Indonesia. Sahabat Akela bisa baca sendiri di berbagai media di mana ada RDN yang dibobol hacker. RDN itu adalah singkatan dari rekening dana nasabah dan itu adalah rekening bank yang dibuka atas nama nasabah. Sekuritas ketika membuka account di sekuritas tertentu, sekuritas tidak ikut memiliki rekening itu, melainkan hanya punya hak instruksi terbatas, yakni menarik dana dari RDN untuk menyelesaikan transaksi saham yang nasabah lakukan di bursa dan mengkredit hasil penjualan saham kembali masuk ke RDN apabila yang bersangkutan menjual sahamnya. Jika nasabah bermaksud untuk menarik atau withdrawal dananya, maka nasabah harus menginstruksikannya melalui withdrawal instruction yang tersedia pada software aplikasi sekuritas dan dana hanya bisa ditransfer ke akun bank nasabah yang sudah didaftarkan pada saat pembukaan rekening sekuritas sejak awal. di mana nama pemilik account bank harus sama persis karakter perkarakter. Tidak boleh ada yang beda sedikit pun dari nama yang terdaftar selaku pemilik akun sekuritas. Beda, yang satu ada gelarnya, yang satu enggak ada gelarnya. Itu aja udah ditolak. Enggak bisa. Nama akun bank harus persis sama dengan nama akun sekuritas. Pertanyaannya, lantas bagaimana ada kejadian dana beberapa nasabah di RDN masing-masing bisa ditransfer ke akun bank yang namanya sama sekali berbeda dengan pemilik akun RDN. Kemungkinan besar terjadi unaauthorized login pada servernya sekuritas yang kemudian memerintahkan pemindahan dana dari akun-akun RDN yang terdaftar di sekuritas tersebut ke suatu akun lain milik si hacker atau peretas. Dan begitu dananya masuk, peretas langsung menarik semua dana dan yang bersangkutan lenyap bak ditelan bumi. Nah, belum selesai kasus ini ternyata beberapa orang jadi beberapa ya bukan satu di komunitas Akela mengalami hal yang sangat aneh di mana dalam hitungan jam terjadi ratusan transaksi yang sengaja dibuat rugi hingga akun mereka mengalami kerugian hingga 90% lebih. Oke, gini ceritanya. Antara periode tanggal 4 September hingga Selasa, 9 September, jadwal saya sangat padat. Ada beberapa pesan di Telegram grup dan WhatsApp grup yang tidak sempat terbaca. Ternyata pada tanggal 4 September, Ibu Analia Setiawan sharing di grup trainer Akela mengenai pengalaman pahitnya di salah satu sekuritas Bursa Efek Indonesia. Saya pikir pada waktu itu ya biar Bu Ana urus dulu permasalahannya ke pihak sekuritas terkait saya. Kemudian japri dia pada tanggal 10 September 2025. Saya ingin tahu sampai di mana progres penyelesaiannya. Saya katakan bahwa dia harus ambil tindakan serius dan sesudah melihat detail permasalahannya nampaknya memang pihak otoritas harus turun tangan. Dan berdasarkan pengalaman selama ini, supaya pihak otoritas turun tangan, maka dia perlu mengungkapkan perkaranya ke ruang-ruang publik. Saya enggak tahu benar gak kayak gitu. Coba Sahabat Akela ketik di kolom komentar. Berkali-kali Ibu Ana mengungkapkan bahwa dia tidak bertujuan menyerang sekuritas. Saya paham memang tidak perlu menyerang sekuritas. Namun sebagai warga negara apalagi yang kita bisa lakukan? Selain mengungkapkan kejadian apa adanya berdasarkan data dan fakta. Lagi pula ini kan prinsipnya Akela toh. Ibu Ana akhirnya memberanikan diri untuk tampil di channel di Overpost. Saya juga berikan linknya di deskripsi. Sebagai salah satu mentor beliau di Akela khususnya bursa Saham Amerika options, dan crypto. Saya sangat prihatin atas kejadian yang menimpanya ini. Nah, sekarang mari kita bahas detailnya. Menurut keterangan Ibu Ana, dia sudah melaporkan melalui email ke CS Seuritas perihal adanya transaksi mencurigakan ini pada hari Kamis, 4 September 2025 setelah jam bursa tutup. Lalu berhubung Jumatnya tanggal merah kemudian Sabtu Minggu libur, maka hari Senin 8 September 2025 dia melaporkan ke kantor pusat tapi hanya dapat bertemu dengan CS dan CS sudah mengakui bahwa mereka sudah menerima info ini dan kembali mendengar penjelasan langsung secara fisik dari Bu Ana langsung. Supaya Sahabat Akela jelas, saya sekarang jelaskan detail bagaimana proses transaksi saham yang terjadi di Bursa Efek Indonesia. Yang pertama, awal transaksi dan itu disebut T + 0. Setiap transaksi saham dimulai dari nasabah. Bila nasabah A ingin menjual saham X Y, dia memberikan instruksi order jual ke anggota bursa, yakni sekuritas tempat ia buka rekening. Sebaliknya, bila ada nasabah B yang ingin membeli saham XY Z tersebut, si B ini juga memasukkan instruksi order beli ke perusahaan sekuritas lain tempat dia buka rekening. Di tahap ini disebut T+0, artinya hari transaksi terjadi. Semua order baik jual dan beli yang masuk akan bertemu di sistem perdagangan Bursa Efek Indonesia yaitu IDX Trading System. Di sinilah terjadi proses matching order. Harga yang cocok antara penjual dan pembeli akan langsung terbentuk menjadi transaksi. Kemudian lanjut tahap dua terjadi proses pencatatan atau trade data. Nah, begitu transaksi terjadi di sistem IDX, data perdagangan langsung dikirim ke KP clearing penjaminan efek Indonesia dan KC Custodian Central Effect Indonesia. KP berperan sebagai lembaga clearing yang menjamin agar setiap transaksi bisa diselesaikan. Jadi, pihak penjual ada sahamnya, pihak pembeli ada duitnya. Jadi pembeli pasti dapat saham dan penjual pasti menerima dan KC berperan sebagai lembaga custodian yang mencatat kepemilikan efek di subrekening masing-masing investor. Jadi perhatikan di sini baik IDX, KP dan KC mereka memiliki data lengkap baik penjual maupun pembeli. Di sinilah momen krusialnya saya sebut ini sebagai golden moment. Jika ada dugaan terjadinya unauthorized transaction, seharusnya transaksi tersebut bisa dikategorikan sebagai transaksi mencurigakan dan membutuhkan investigasi lanjutan terlebih dahulu. Nah, Bu Ana melapor ke sekuritas sehubungan dengan adanya transaksi mencurigakan sore hari sesudah market tutup pada hari Kamis, 4 September 2025. Itu kita sebut T + 0. Pada hari besoknya itu Jumat jadi tidak terhitung karena libur tanggal merah. Sabtu Minggu juga libur jadi enggak kehitung. Nah, hari kerja berikutnya yakni Senin 8 September 2025. Dia kembali ke sekuritas secara fisik hadir untuk melaporkan unauthorized transaction yang menguras 90% dana di akun sekuritasnya tersebut. Berarti kita sebut hari Senin itu sebagai T + 1. Dia melapor tepat pada saat golden moment. Nah, tahap berikutnya adalah t + 2. Kita sebut t +2 ini itu adalah terjadinya proses penyelesaian di pasar modal Indonesia. Transaksi saham itu diselesaikan dengan sistem T+2. Artinya 2 hari bursa setelah transaksi terjadi, proses serah terima dana dan efek itu harus sudah selesai di T+2 ini. Dari sisi penjual, ia wajib menyerahkan sahamnya ke KC lalu menerima dana hasil penjualan di rekening dana nasabah atau RDN. Dari sisi pembeli, ia wajib menyiapkan dana di RDN lalu menerima saham yang dibelinya tercatat atas namanya sendiri di KC. Dengan demikian, di hari penyelesaian, pembeli resmi memiliki saham dan penjual resmi menerima uangnya. Menurut keterangan Bu Ana, dia melaporkan adanya transaksi mencurigakan ini pada tanggal 4 September melalui email dan 8 September langsung ke kantor sekuritas. Sementara transaksi mencurigakan tersebut terjadi pada tanggal 4 September. Coba perhatikan ini adalah tampilan akun KC Buana. Kita bisa lihat pada tanggal 4 September 2025, KC masih mencatat aset Buana di sekuritas utuh senilai Rp181.200.000. Kemudian coba perhatikan hingga tanggal 8 September hari Senin, KC masih mencatat nilai asetnya sebesar Rp174.885.000. Ada sedikit penurunan dari hari kerja sebelumnya. Ini wajar mengingat ada fluktuasi harga saham. Namun, coba perhatikan apa yang terjadi pada T+2 9 September 2025. Nilai saham aset Buana sekarang hanya tinggal Rp27.314.500. Seharusnya pihak sekuritas begitu terima laporan langsung lapor ke OJK dan OJK cepat tanggap langsung meminta data-data dari KP dan KC serta memerintahkan pihak sekuritas lawan untuk melakukan pembekuan transaksi dan rekening terkait atas dugaan transaksi mencurigakan guna investigasi lebih lanjut. Harap diingat dia sudah lapor sejak closing market T+0 dan kembali secara fisik hadir di kantor sekuritas pada T+ 1. That is the golden moment. Namun nampaknya itu tidak terjadi. Pihak CS Sekuritas hanya menjanjikan bahwa masalah akan segera ditindaklanjuti. Dan sesudah 10 hari ternyata pihak sekuritas hanya melayangkan email yang pada dasarnya masalahnya sedang diinvestigasi dan akan menyampaikan tanggapan lebih lanjut apabila sudah ada hasil. Oke, lanjut ya. Berdasarkan keterangan Ibu Ana, pihak sekuritas juga sempat menginformasikan bahwa ini adalah kasus pertama yang pernah mereka alami ya dari CSnya informasinya begitu. Namun sesudah video podcast Bu Ana di channel di Overpost ditayangkan, ternyata ada beberapa orang, tujuh orang nambah terus jumlahnya sampai puluhan yang menghubungi Bu Ana karena mengalami hal yang serupa di ada yang sekuritasnya sama ada yang beda. OJK bisa menurunkan tim investigasi seharusnya mengenai hal ini. Enggak sulit kok, tinggal bikin saja satu website baru untuk menampung pelaporan diduga korban hacker lengkap dengan SID mereka masing-masing. Tinggal masukkan ke situ. Akela dan semua channel lain saya rasa dengan senang hati akan membantu memberikan menyebarluaskan link yang OJK bikin. Belum selesai masalah yang satu ini, ternyata ada member Akela lainnya lagi, Bapak-bapak, yang menggunakan akun sekuritas yang berbeda dari sekuritasnya Bu Ana dan mengalami hal yang sama persis. Ada ratusan transaksi mencurigakan yang sengaja dibuat lost sehingga pihak lawan transaksi mengalami keuntungan. Dalam hal ini hacker berhasil meretas user ID dan password serta pin nasabah dan melakukan transaksi pada aset atau instrumen dengan likuiditas rendah. Bisa jadi waren juga yang dipakai di mana transaksinya sengaja dibuat rugi sedemikian hingga pihak lawan transaksi yang kemungkinan besar adalah account-nya si hacker mereka yang mengalami keuntungan. Jika ada di antara sahabat Akela yang mengalami hal seperti ini, maka berikut ini adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan. Nomor satu, jelas lapor ke sekuritas. Nomor dua, lapor ke OJK. Nomor tiga, lapor ke unit cyber Polda setempat. Atau yang keempat, lapor ke channel YouTube yang ngetop-ngetop. channelnya Dedy Kobusier, channel-nya Feri Irwandi, The Overpost, dan seterusnya. Yang kelima, alternatif yang terakhir dan barangkali yang terbaik dan paling efektif khususnya di negeri ini adalah cukup masuk kamar dan lapor sama Tuhan. Mohon Tuhan memberikan hati yang bisa ikhlas mengampuni yang bersalah ngerampok uang Anda. Karena dengan mengampuni Anda juga diampuni. Berikutnya, jika Anda tidak mengalami masalah seperti ini dan Anda trading atau investasi saham di Bursa Efek Indonesia, maka lakukan hal-hal sebagai berikut. Pastikan Anda update password dan pin Anda secara berkala 3 bulan sekali minimal. Jika Anda bertransaksi menggunakan HP, sebaiknya gunakan HP yang dikhususkan hanya untuk keperluan transaksi atau trading itu saja. Disiplin periksa akun sekuritas Anda minimal dua kali sehari, pagi dan menjelang market close. Jika ada hal-hal yang mencurigakan, segera lapor sekuritas secepatnya. Ingat, golden moment Anda adalah t + 0. pada waktu terjadi transaksi mencurigakan hingga t + 1-nya lewat itu enggak bisa ya. Anda dianggap sudah mengetahui transaksi tapi kok gak lapor. Nah, yang terakhir khusus bagi OJK dan sekuritas-sekuritas BYI, kejadian-kejadian ini bagi saya, bagi kita semua ini adalah wake up call. Terimalah realita bahwa saat ini dunia internet ini sudah berkembang sedemikian hebatnya. di mana semua aplikasi bahkan yang tidak ada hubungannya sama uang, contohnya sosial media kayak Facebook, Instagram, YouTube, TikTok hingga sarana komunikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Gmail, bahkan semua aplikasi hiburan seperti Netflix, Spotify, dan yang lainnya semua sudah menggunakan multiayer security. Saya yakin banyak di antara sahabat Akela yang juga pakai aplikasi Grab, Gojek, Shopee, Tokopedia, Dana, semuanya itu menggunakan two factor authentication atau 2F. Namun saya melihat hampir semua sekuritas Bursa Efek Indonesia belum menerapkan multiayer security seperti itu. Nah, apa itu multilayer security? Oke, multiayer security pada dasarnya adalah sistem keamanan berlapis di mana autentikasi harus melalui minimal dua faktor berbeda dari kategori berikut ini. Kategori pertama, something you know. Contohnya adalah password pin. Itu adalah sesuatu informasi yang hanya Anda yang mengetahui, satu layer. Kemudian layer berikutnya, something you have. apa yang Anda miliki. Contohnya adalah handphone Anda ini ada email-nya, nomor email-nya dan itu nomor unik. Kemudian handphone ini ada aplikasi authentication ya. Authenticator. Contohnya ada ATI, ada Google Security, ada Microsoft Security dan seterusnya. Kemudian ada kartu SIM ya, SIM card Anda kan ada di HP ini. Itu juga bisa namanya OTP. Nanti dikirim SMS dari penyedia telekomunikasi. Layer yang ketiga itu adalah something you are. Ya, contohnya adalah bisa biometrik, bisa berupa sidik jari, wajah, atau retina. Jika kita bandingkan dengan berbagai perusahaan broker di luar negeri, contohnya Interactive Brokers atau Charles Swap, kemudian kalau crypto exchange itu ada Bybit, Binance dan sebagainya, semuanya sudah menggunakan multiayer authentication atau lebih populer dikenal sebagai 2FA, singkatan dari two factors authentication. Bandingkan lagi dengan aplikasi-aplikasi bank di Indonesia seperti MBCA contohnya. Semua itu sudah menggunakan 2FE. Namun hampir semua sistem keamanan sekuritas di Bursa Efek Indonesia masih menggunakan single layer authentication alias hanya user ID, password, dan PIN. User ID, password, dan pin ini hanyalah satu layer, something you know. Dibutuhkan satu layer autentikasi lagi bisa pakai smartphone. Contohnya adalah Google Authenticator, ATI atau Microsoft Authenticator. Ini di-install aplikasinya di HP. Memang 2 F ini seringki menyulitkan nasabah sehingga banyak nasabah pemula yang kemudian komplain perihal pengamanan 2 Fe. Namun ini sangat crucial karena jika hanya mengandalkan single factor authentication maka zaman sekarang ini sudah teramat sangat rawan. Jika data, password, dan pin berhasil di-hack oleh seorang hacker, maka yang bersangkutan si hackernya, peretasnya itu bisa melakukan berbagai unauthorized transaction yang merugikan nasabah. Nah, jika kita mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan bagian considerance huruf A, jelas dikatakan bahwa untuk mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil diperlukan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan yang terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Atas dasar itu, coba kita bandingkan sekarang. Otoritas Bursa Saham Amerika, Security Exchange Commission dan FINRA sudah sejak lama mewajibkan seluruh sekuritas resmi bursa saham Amerika sekurang-kurangnya menggunakan two factor authentication. Begitu juga FCA, Badan Regulator Bursa Saham Inggris, Bavin, Regulatornya Jerman, Singapore Monetary Authority of Singapore atau MES dan Malaysia semuanya juga mewajibkan multifactor authentication. Begitu juga badan regulator SFC di Hongkong juga Australia semua mewajibkan two factor authentication. Bahkan bursa saham India itu juga mewajibkan two factor authentication. Dari semua negara-negara ini hanya ada satu bursa saham. Transaksi rata-rata tiap harinya itu lumayan gede mencapai 18 sampai R triliun per harinya. Namun security-nya hanya single factor authentication. Tidakkah Anda lihat bahwa kondisi ini membuat Indonesia ini sekarang jadi surganya para hacker di seluruh dunia. Jika kita pelajari peraturan OJK nomor 13 tahun 2025 tentang pengendalian internal dan perilaku perusahaan efek yang melakukan kegiatan usaha penjamin emisi efek dan perantara pedagang efek juga peraturan OJK nomor 12 tahun 2024 tentang penerapan strategi anti fraud bagi lembaga jasa keuangan. Saya tidak bisa menemukan adanya ketentuan yang mewajibkan lembaga jasa keuangan termasuk pedagang perantara efek alias sekuritas untuk menerapkan 2fe atau mfean bagi rekening nasabah terhadap serangan hacker. Buat OJK ini seharusnya tidak sulit. Tinggal terbitkan saja SEOJK, surat edaran OJK yang mengharuskan seluruh sekuritas menggunakan 2FE atau MFE. Masalah akan terjadi justru di pihak sekuritas, terutama pada nasabah-nasabah yang dalam tanda kutip katanya gaptek. Dulu saya tahu ada sekuritas yang berupaya menerapkan ini. Namun menjadi masalah ketika kode OTP nyangkut di penyedia layanan seluler. Jadi SMS-nya gak masuk, orangnya login, masukkan user ID password, kemudian minta kirim OTP, ternyata SMS OTP-nya enggak masuk-masuk nyangkut di penyedia layanan seluler mengakibatkan nasabah malah tidak bisa login ke akunnya. Namun sekarang 2 F atau MFE ini kan tidak hanya melalui OTP SMS. Ada saluran lain OTP pertama misalnya bisa lewat WhatsApp atau akun email bisa. Kemudian di HP itu seperti yang tadi saya bilang ada nomor IMEI International Mobile Equipment Identity juga bisa menggunakan sidik jari Anda atau pakai aplikasi Google Authenticator atau ATI dari TLIO atau Microsoft Authenticator. hambatannya nanti memang akan terjadi pada nasabah-nasabah yang kesulitan menerapkan ini semua. Biasanya katanya karena alasan maaf gaptek. Well, gini semua penambahan lapisan layer security itu memang pasti akan memaksa pelanggan nasabah. Jadi, ada ekstra kerja tambahan kerja yang diperlukan. Well, silakan Bapak, Ibu di OJK, Bursa Fe Indonesia dan para bos sekuritas renungkan kembali. Demi memberikan kenyamanan bagi nasabah-nasabah yang gaptek, Anda rela merisikokan keamanan seluruh nasabah Anda dari sasaran para hacker. Atau Anda memilih spend time, energy, and untuk bikin video edukasi perihal penerapan MFA atau two factor authentication. ke nasabah-nasabah Anda.