Transcript
tZMWyx_GJbk • Krisis Hutang RI Jalan Keluar atau Jalan Buntu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0285_tZMWyx_GJbk.txt
Kind: captions Language: id guna menjaga supaya interest to tax revenue ratio ini tidak bablas tembus 25% maka mau tidak mau pemerintah terpaksa harus menaikkan target penerimaan pajak Sahabat Akela yang saya kasihi, selama beberapa hari ini situasi di berbagai kota besar di negara kita sungguh teramat sangat mencekam. Kendati pun masih belum semencekam seperti insiden Mei tahun 1998. Atas nama Akela, saya juga mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian saudara Afan Kurniawan juga semua yang jadi korban berbagai kerusuhan dan kebakaran yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini. Oke, dalam video ini saya tidak akan bahas mengenai demo dan kerusuhan. Dan saya juga tidak berupaya untuk bilang si A yang benar atau si B yang salah. Enggak. Mohon diingat bahwa saya tidak dalam rangka mengkritik siapun termasuk netizen, influencer hingga tokoh-tokoh pemerintah, DPR dan sebagainya. Melainkan seperti biasa saya hanya berupaya mengungkapkan data dan fakta dengan bahasa yang jauh lebih mudah dipahami sehingga Sahabat Akela bisa menilainya sendiri. Pada bulan Februari 2024, saya mengunggah video berjudul Hutang Amerika tembus 34 triliun US Do. Bagaimana dengan Indonesia? Dalam video tersebut intinya saya mengatakan bahwa saya bukan orang yang anti hutang. Namun konsern saya, kekhawatiran saya adalah produktivitas hutang. Video ini lumayan panjang karena ada banyak data dan fakta yang akan kita bahas kali ini. Semoga sahabat Akela bisa sabar menyimaknya sampai selesai. Oke. Gini, dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita berhutang bisa saja misalnya untuk membeli suatu aset bisa berupa mesin, kemudian komputer, kemudian kendaraan bermotor yang ditujukan untuk bisnis yang menghasilkan income yang lebih besar. daripada biaya yang harus dibayarkan untuk bunga dan cicilan utang tersebut. Maka jadilah utang tersebut jadi utang yang produktif, berhutang untuk menghasilkan income. Namun kadang kita juga bisa jumpai ada orang yang berhutang untuk beli komputer atau kendaraan bermotor, namun tidak ditujukan buat bisnis yang menghasilkan, melainkan digunakan buat main game misalnya atau kalau motor ia dipakai buat jalan-jalan dan lain sebagainya. Maka jika demikian halnya, hutang tersebut menjadi hutang yang nonproduktif alias konsumtif atau tidak menghasilkan. Hutang produktif yang di-manage dengan baik, efektif untuk menumbuhkan kondisi keuangan kita. Sebaliknya, hutang yang konsumtif itu sangat buruk untuk kondisi keuangan kita. Dalam dunia investasi atau trading ini sama seperti kita membeli suatu aset dengan leverage alias margin. Jika harga aset yang dibeli itu naik, maka keuntungan kita akan jauh lebih dahsyat karena ada leverage-nya. Namun sebaliknya, jika harga berbalik turun kerugiannya itu tidak kalah dahsyatnya dan Anda bisa terancam fal sell akibat margin call. perusahaan broker akan menjual rugi semua aset Anda secara paksa dan tidak ada yang bisa Anda lakukan apa-apa. Hal yang sama juga terjadi dalam skala makroekonomi. Untuk lebih jelasnya, seperti biasa, mari kita buka nota keuangan dan APBN tahun anggaran 2014. Sejak dahulu kala kita ambil contoh APBN tahun 2014 ini, beban terbesar APBN kita adalah subsidi pemerintah. Di mana subsidi energi adalah yang terbesar meliputi subsidi BBM dan LPG dan subsidi listrik sebesar Rp350 triliun. Ditambah subsidi non energi meliputi pangan, pupuk, benih, public service obligation, bunga kredit program, dan subsidi pajak totalnya menjadi 403 triliun. Selain itu, pos pengeluaran pemerintah terbesar lainnya adalah pembayaran bunga hutang di tahun 2014 besarnya mencapai triliun. Pada waktu itu nominal PDB kita atau GDP adalah 10.542,7 triliun. Berdasarkan rasio hutang terhadap PDB sebesar 25,59 persal hutang pemerintah saat itu adalah Rp2.697,9 triliun. Pada tahun 2014, total penerimaan pajak atau tax revenue pemerintah adalah Rp1.280,39 triliun. Nah, berdasarkan data-data ini kita bisa hitung sekarang rasio pembayaran bunga terhadap tax revenue atau interest to tax revenue ratio besarnya adalah 10,5% yang artinya dari total keseluruhan penerimaan pajak pemerintah 10,5%-nya digunakan buat bayar bunga hutang. Berdasarkan rule of time IMF dan World Bank, angka ini masih jauh di bawah ambang batas bahaya atau berisiko 25%. Kembali ke PDB, output ekonomi Indonesia saat itu mencapai nominal Rp10.542,7 triliun di mana ekonominya bertumbuh sebesar 5,02% year over year. melambat bilamana dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 5,58%. Nah, sekarang mari kita lihat tahun 2024. Posisi utang kita di penghujung 2024 adalah sebesar 8.680,13 triliun. Berarti jika kita bandingkan dengan tahun 2014, dalam 10 tahun saja posisi utang negara kita naik sebanyak 3,2 kali lipat. Sementara itu, rasio hutang terhadap PDB kini menjadi 39,2%. Bandingkan dengan dep to GDP ratio tahun 2014 itu hanya 25,59%. Berarti terjadi peningkatan nilai nominal hutang yang masif signifikan namun tidak diiringi pertumbuhan output ekonomi yang seimbang sebesar peningkatan posisi hutang. Akibatnya dep to GDP rati-ya naik menjadi 39,2%. Perhatikan lagi untuk pembiayaan utangnya kini naik jadi Rp483,6 triliun. Berarti ada peningkatan pembiayaan utang sebesar 3,6 kali lipat bilamana dibandingkan dengan tahun 2014. Posisi output nominal PDB kita di tahun 2024 berdasarkan catatan dari BPS adalah sebesar 22.139 triliun. Jika dibandingkan dengan output PDB tahun 2014 sebesar Rp10.542,7 triliun, berarti ekonomi negara kita dalam 10 tahun terakhir sudah bertumbuh sebesar 2,1 kali lipatnya. Jadi dari data-data ini kita bisa memperoleh kesimpulan bahwa selama 10 tahun terakhir ekonomi Indonesia bertumbuh 2,1 kali lipat. Namun ini diperoleh dengan beban hutang yang meningkat sebesar 3,2 kali lipat dan pembiayaan hutang yang naik sebesar 3,6 kali lipat. berarti peningkatan nominal hutangnya jauh lebih pesat ketimbang pertumbuhan ekonomi yang diperoleh. Namun mari kita lanjutkan gali datanya dulu. Dalam buku kedua, nota keuangan beserta APBN tahun anggaran 2025, kita bisa lihat bahwa subsidi pemerintah justru turun menjadi Rp244,14 triliun. di mana subsidi energi yang sebelumnya adalah pos pengeluaran terbesar kini turun menjadi 157,16 triliun dan ditambah kompensasi listrik menjadi Rp176,39 triliun. Bila kita bandingkan dengan subsidi yang diterima masyarakat di tahun 2014 sebesar Rp350 triliun, maka berarti angka subsidi pemerintah di tahun 2024 ini sudah berkurang sebanyak 49,6%. Maksudnya jika dulu BBM, LPG, dan listrik itu ditraktir pemerintah sejumlah nilai tertentu, maka kini traktirannya itu berkurang kira-kira separuhnya. Nah, ini jangan dikomplain, tapi tetap disyukuri. Lah wong namanya ditraktir kok gak disyukuri. Masih mending masih dikasih traktiran ketimbang Singapura contohnya ini enggak ada traktiran sama sekali. Oke, lanjut. Di tahun 2025 ini pembayaran bunga utang dialokasikan sebesar 552,8 triliun. Sementara target penerimaan pajak pada APBN 2025 ditetapkan sebesar Rp2.490 triliun. Dengan demikian, jika kita hitung rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan pajak kini naik menjadi 23,9% dan ini berarti sudah mendekati ambang batas berisiko di kisaran 25%. Ini juga sinkron dengan data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan dalam buku kedua Nota Keuangan beserta APBN 2025. Nampak jelas bagaimana pertumbuhan beban bunga hutang yang meningkat terus sejak 2020 hingga 2025. Nah, sekarang mari kita lihat postur APBN kita tahun anggaran 2025. Dalam dokumen ini kita bisa lihat pendapatan negara sebesar Rp3.005,1 triliun. Sementara belanja negara itu adalah Rp3.621. 3 triliun. Dengan demikian berarti pengeluaran atau belanjanya itu lebih besar daripada pendapatannya. Dalam dunia ekonomi, hal seperti ini dikenal dengan istilah defisit dan dalam hal ini terjadi defisit sebesar Rp16,2 triliun. Jangan buru-buru panik atau punya pikiran negatif. Defisit anggaran di mana pengeluaran pemerintah lebih besar dari pendapatannya itu tidak selalu melupakan suatu hal yang buruk. Dalam banyak situasi, defisit anggaran malah dapat menjadi alat yang strategis dan diperlukan untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih besar. Salah satu alasan utama defisit contohnya ya ini anggaran bisa dianggap baik adalah ketika digunakan sebagai kebijakan fiskal yang ekspansif untuk menghadapi resesi ekonomi dengan meningkatkan belanja pemerintah misalnya buat pembangunan infrastruktur, subsidi atau bantuan sosial. Pemerintah menyuntikkan aliran dana ke dalam perekonomian. Hal ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat, mendorong permintaan, dan menciptakan lapangan kerja baru yang pada akhirnya akan menggerakkan kembali roda ekonomi yang melambat. Oke, mari kita teruskan. Pertanyaan selanjutnya adalah lantas bagaimana kita bisa membiayai defisit sebesar Rp616,2 triliun tersebut? Jawabnya adalah melalui pembiayaan utang sebesar R75,9 triliun. Apa tuh artinya? Oke, gini. Jika kita buka halaman 44 dalam informasi APBN 2025, di situ nampak jelas pembiayaan hutang sebesar Rp775,9 triliun. Dan ini artinya pemerintah akan menerbitkan surat utang baru atau SBN surat berharga negara baru senilai Rp775,9 triliun. Anggaran subsidi dinaikkan kembali menjadi total 307,9 triliun dengan rincian 104,5 triliun untuk subsidi non energi dan 203,4 triliun untuk subsidi energi. Sampai tahap ini mungkin banyak di antara sahabat Akela yang sudah bisa melihat masalah yang tengah dihadapi pemerintah saat ini. Itu adalah rasio pembayaran bunga hutang terhadap penerimaan pajak. Dengan adanya penerbitan SBN baru guna menutup defisit anggaran, maka logikanya beban pembayaran bunga hutang pada APBN berikutnya akan naik. Dan jika target penerimaan pajaknya itu tetap, maka rasio I/T ini berarti pasti naik. Pertanyaannya naik jadi berapa? Ya, ayo kita estimasi. Kita asumsikan tahun 2026 berarti ada hutang baru sebesar R75,9 triliun. Anggap dengan tingkat kupon SBN rata-rata 6% aja maka akan ada tambahan beban bunga sebesar Rp46,55 triliun. Jika kita tambahkan dengan beban bunga existing yang sekarang ini berarti menjadi total R599,45 triliun. Jika target penerimaan pajak di tahun 2026 itu tetap, maka rasio pembayaran bunga terhadap tax revenue kini menjadi 25,95%. Dengan kata lain, interest to tax revenue ratio kini masuk ke kategori dep service pressure. Dampaknya ruang fiskal kita jadi menyempit, belanja produktifnya negara ini jadi semakin tertekan. Dan yang lebih seram lagi, deb rating kita, peringkat utang kita bisa terancam kena downgrade. Yang downgrade siapa? Yang downgrade adalah SNP, Moodies, and FIT. Dan jika ini diowngrade ini akan semakin menaikkan beban bunga. Karena kalau di downownrade maka yield obligasinya naik dan ini akan menaikkan beban bunga untuk penerbitan SBN berikutnya. ke depannya pemerintah akan semakin disudutkan untuk menaikkan pajak atau menerbitkan SBN baru hanya buat bayar bunga alias terjadilah yang namanya dep spiral. Dep spiral itu adalah utangnya jadi tambah lama tambah gede, tambah lama tambah gede tanpa bisa dicegah. Guna menjaga supaya interest to tax revenue ratio ini tidak bablas tembus 25%. Maka mau tidak mau pemerintah terpaksa harus menaikkan target penerimaan pajak. Sebagai bahan perbandingan, interest to tax revenue ratio Thailand saat ini adalah 5,7%. Malaysia itu 14,71% dan Singapura itu hanya 0,15%. Nah, sampai sini jelas ya. di satu pihak. Jika interest to tax ratio bablas tembus 25% maka credit rating terancam downgrade ruang fiskal jadi semakin sempit. Alternatif lain adalah pemerintah terpaksa harus menaikkan target penerimaan pajaknya sehingga jika pembayaran bunga naik, namun karena tax revenue-nya juga naik kan, pajak penerimaan pajaknya naik, maka rati-ya tetap terjaga di bawah 25%. Nah, sampai sini tarik napas panjang dulu ya. Saya mohon Anda semua bersabar. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita bisa sampai pada kondisi yang terjepit seperti ini dan bagaimana solusinya? Oke, gini. Sepanjang satu Dasa Warsa terakhir ini ada banyak sekali proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah. Kita berterima kasih sama pemerintah atas banyaknya pembangunan infrastruktur tersebut. Namun masalahnya adalah di antara begitu banyaknya belanja modal pemerintah dan atau investasi yang dilakukan oleh pemerintah sepanjang 10 tahun terakhir, ada beberapa yang tidak sesuai harapan, tidak menghasilkan multiplier effect ekonomi yang diharapkan, sepi pengunjung hingga operasionalnya merugi. Ini adalah hantaman paling menyakitkan bagi APBN kita. Proyek sebagian dibiayai melalui penerbitan surat utang. Namun sesudah proyeknya jadi, ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga sepi dan merugi. Contoh pertama adalah Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati. Bandara Internasional Jawa Barat Kertjati terletak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Total pembangunannya menelan investasi sebesar lebih dari R,5 triliun. Bandara berjarak kurang lebih 100 km dari Bandung dan 200 km dari Jakarta. Sejak mulai beroperasi pada tahun 2018, bandara ini sepi pengunjung dan akibatnya sejak Juni 2025 rute domestiknya ditutup sehingga hanya ada satu rute internasional ke Singapura. Diberitakan pemerintah Jawa Barat menanggung kerugian operasional hingga Rp60 miliar per tahunnya. Ini adalah PR pertama yang harus diselesaikan pemerintah. Contoh kedua adalah sirkuit Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengembangan proyek dimulai pada tahun 2019 oleh BUMN PT Pengembangan Pariwisata Indonesia Persero dengan dukungan dari AIB menelan investasi hingga Rp6,5 triliun. Kawasan Mandalika sendiri oleh pemerintah ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus. Sirkuit ini resmi dibuka pada 12 November 2021 dan langsung menjadi tuan rumah acara balap kelas dunia seperti MotoGP dan World SBK. Pembiayaan utama dari Asian Infrastructure Investment Bank atau AIB sebesar 248 juta US dar lebih kurang 78,5% dari total pendanaan. Namun harap diperhatikan, utang ini dipikul oleh BUMN PT Pengembangan Pariwisata Indonesia Pesero alias ITDC. Jadi bukan termasuk dalam utangnya pemerintah. Pemerintah hanya suntik modal Rp500 miliar ke ITDC. Terus masalahnya apa kalau gitu? Masalahnya adalah ITDC kini menanggung utang sebesar Rp4,6 triliun dan ini harus benar-benar dipantau oleh pemerintah. Ini adalah PR kedua yang harus diselesaikan pemerintah. Berikutnya adalah Patimban Port, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ini adalah pelabuhan yang dibangun sekitar 70 km dari kawasan industri Karawang dan Bekasi, lebih kurang 145 km dari Jakarta. Pembangunan dimulai dari tahun 2018 dengan total investasi diperkirakan mencapai R3,2 triliun. Hingga tahun 2025, infrastruktur berupa jalan tol khusus ke pelabuhan belum sepenuhnya selesai sehingga membuat biaya logistik masih tinggi. Banyak eksportir dan atau importir yang masih nyaman lewat Tanjung Prifrastruktur dan ekosistem logistiknya itu sudah lebih matang. Volume kontainer dan mobil ekspor masih di bawah kapasitas karena infrastruktur pendukungnya belum lengkap. Ini adalah PR pemerintah yang berikutnya. Jika Sahabat Akela perhatikan, ada banyak sekali proyek-proyek seperti ini. Tol Transumatra contohnya ya disingkat TTS. Ini adalah jaringan tol terpanjang di Indonesia dengan panjang kurang lebih 2.800 km menghubungkan Aceh hingga Lampung. Total kebutuhan investasi TTS ini diperkirakan lebih dari Rp500 triliun. Penyertaan modal negara atau PMN dari APBN sampai tahun 2023 sudah lebih dari Rp15 triliun. Namun banyak ruas tol sepi kendaraan terutama di daerah Sumatera bagian utara dan tengah. Contoh ruas Medan hingga Binjai dan Pekanbaru Dumai. trafficnya rendah jauh sekali di bawah proyeksi visibility study awalnya. Selanjutnya ini adalah proyek kereta cepat wus yakni kereta cepat pertama di Asia Tenggara untuk menghubungkan Jakarta Bandung lebih kurang 142 km. Proyek ini dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC, Konsorsium BUMN Indonesia, PTKAI, Wijaya Karya, PTPN 8, dan PT Jasa Marga dengan konsorsium China Railway. awalnya ditetapkan tidak mengganggu APBN sama sekali, namun biaya pembangunan jadi membengkak dari Rp70 triliun menjadi Rp113 triliun sehingga terjadi PMN atau penyertaan modal negara dan tercatat sebagai pembiayaan investasi. Nah, dalam laporan keuangan PTKAI per 30 Juni 2025, PT PSBI sebagai entitas anak usaha PTKAI sekaligus pemegang saham terbesar PTKCIC mencatatkan kerugian hingga Rp4,2 triliun. Kerugian terus berlanjut di tahun ini. Sepanjang Januari hingga Juli atau semester pertama tahun 2025, PTPSBI juga merugi sebesar Rp1,63 triliun. Dan selanjutnya, bagaimana dengan proyek legendaris yang satu ini? Ibu kota negara alias IKN. Total investasi diperkirakan 466 triliun dengan rentang waktu pembangunan 2022 sampai 2045. Skema awalnya 20% dari APBN dan sisanya itu swasta BUMN dan KPBU atau kerja sama pemerintah badan usaha. Namun realisasinya investor swasta dan asing itu sangat minim sehingga mayoritas pembangunan awal terpaksa harus ditopang oleh APBN lewat belanja kementerian lembaga PMN atau penyertaan modal negara dan dana pemulihan ekonomi nasional pasca COVID. Menurut rencana pembangunan menengah nasional ini menunjukkan proporsi pembiayaan dari APBN sebesar R90,4 triliun. By the way, harap perhatikan saya tidak anti IKN. Saya demen IKN malahan sekarang jadi alternatif tempat wisata. Namun dalam kondisi ruang fiskal yang semakin terjepit, tidakkah kita harus memilah-milah mendahulukan mana yang harusnya lebih prioritas didahulukan? Toh coba kita lihat Bapak Presiden dan seluruh Menteri semuanya masih ngantor di Jakarta kan. Ada banyak belanja dan investasi pemerintah yang efek multiplier-nya ke ekonomi itu baru bisa dinikmati jauh dari sekarang. beberapa malah sekarang ini dalam kondisi merugi. Ini harus segera ditanggulangi. Membangun sesuatu sepanjang duitnya ada itu gampang. Namun tantangannya sesudah aset tersebut selesai dibangun dan didanai dari utang negara, bagaimana aset tersebut bisa benar-benar produktif dan menjelma jadi sentra ekonomi yang baru. Itu adalah tantangan yang harus segera diselesaikan. Kemudian di sektor pertambangan khususnya sektor pengolahan nikel terutama untuk produk seperti nickel pig iron atau NPI, feronel dan mix hydroxide precipitate atau MHP. Mereka ini memperoleh tax holiday alias pembebasan pajak hingga 15 hingga 20 tahun. 75% penambangnya berasal dari China, dari Tiongkok. Investor besar seperti Singhan Group mendapatkan manfaat ini. Mereka sudah berinvestasi hampir 10 miliar US DO di Indonesia sejak tahun 2015. Ekonom senior Bapak Faisal Basri almarhum saya rasa sering membahas perihal ini. Pada Mei 2023, pemerintah memang memutuskan tidak lagi memberikan tax holiday untuk smelter NPI baru karena dianggap tidak lagi memenuhi kriteria industri pionir. Namun pelaku investasi yang sudah diberikan T holiday sebelumnya tetap bisa dinikmati sampai masa berlakunya berakhir. Itu 15 sampai 20 tahun. Jadi di satu pihak negara butuh tax revenue guna membayar beban bunga hutang APBN. Namun investor asing malah dibebaskan dari pajak. Pajak hanya dibebankan ke masyarakat dan pengusaha lokal. Sudah gitu kontraknya berlaku hingga 20 tahun. Saya paham berhubung sudah terlanjur kontrak jangka panjang maka tentu ini sudah tidak bisa diganggu gugat. Namun ini just my idea. Bagaimana jika pemerintah menerapkan ekspor tarif khusus untuk produk nikel dan turunannya. Ini bisa jadi substitusi atas penerimaan pajak yang hilang akibat tax holiday. Jika investornya protes, loh, dulu enggak ada ekspor tarif. Jadi kalau ekspor tuh dikenakan BA ya tarif. Kok sekarang ini jadi bisa jadi ada ekspor tarif. Well, zaman dulu di zaman Joe Biden kan juga enggak ada pernah dengar ada tarif resiprokal kan. Tapi coba lihat apa yang dilakukan Trump sekarang ya. Dia bikin tarif resiprokal. Nah, sekali-kali coba mikir bikin miga gitu kan keren kan? Make Indonesia great again. Yang terakhir program MBG makan bergizi gratis. Bagaimana jika bikin terobosan supaya program tetap berjalan namun tanpa membebani APBN 71 triliun? Lah terus yang bayarin siapa? Well, di dunia ini ada banyak layanan yang kita bisa nikmati dengan gratis. Contohnya kita sekarang kalau mengemudi ke mana-mana pakai Google Map. Emangnya pakai Google Map bayar? Enggak kan? Kemudian Anda nonton video YouTube ini, emangnya bayar? Gratis juga kan? Loh, tapi itu kan produk digital, ini makanan kan beda. Oke, saya kasih satu contoh. Brazil dalam program FOME Zero melibatkan swasta. Dalam hal ini ada Nestley, BRF dan lain-lain. Program FOME Zero ini diluncurkan Presiden Luis Inacio Lula da Silva. Ada banyak kebijakan. Yang pertama adalah school feeding program, makan gratis di sekolah. Tuh, sama kan? Yang kedua, subsidi pangan untuk keluarga berpenghasilan rendah. Yang ketiga, kredit mikro dan dukungan UMKM pertanian. Yang keempat, kampanye kesadaran gizi. Nah, akan tetapi pemerintah sadar beban APBN besar sehingga pemerintah Brazil menggandeng perusahaan besar untuk ikut mendanai dan mendukung program itu. Nestley berhasil membantu suplai susu, biskuit bergizi, dan makanan fortifikasi. BRF atau Brazil Foods, Merger Sadia dan Perdigao memberikan kontribusi protein hewani berupa daging, olahan, ayam, dan lain-lain. Sementara perusahaan agrikultur setempat menyediakan bahan pokok dengan harga subsidi. Bahkan hingga transportasinya itu juga ada sponsornya. Keren kan? Atau barangkali sahabat Akela ada yang punya ide terobosan yang lebih brilan, ketik di kolom komentar ya. Negeri ini milik kita bersama. Jika kita mencintai negeri ini, yuk sama-sama fokus ke solusi. Nah, Sahabat Akela, saya ingin menutup video ini dengan satu cerita legendaris ya. Alkisah di abad ke-15 di Jepang itu adalah masa shogun asikaga Yoshimasa. Alkisah. Suatu ketika dalam sebuah jamuan makan, pelayan Yosimasa itu ceroboh dan mengakibatkan cawan kesayangannya sang Sogun ini terjatuh dan pecah. Semua orang sudah menahan napas karena reflek tangan Yosimasa itu sudah langsung menggenggam leher katananya. Namun sahabatnya langsung menggenggam tangannya, menenangkannya sambil berkata, "Akhirnya tiba saatnya untuk membuat cawan ini jadi terlihat jauh lebih indah. Dan atas saran sahabatnya, Yosimasa membuat sayembara kepada seluruh pengrajin tembikar di seluruh Jepang untuk menyambung kembali pecahan-pecahan tembikar tersebut menjadi seindah mungkin. Para pengrajin Jepang kemudian berinovasi. Mereka menyatukan kembali kepingan-kepingan cawan yang sudah pecah itu menggunakan urusi. Itu adalah semacam furnish getah pohon. atau laker gitu ya yang dicampur dengan bubuk emas, perak, atau platinum. Hasilnya luar biasa. Garis-garis retakan yang sebelumnya dianggap sebagai cacat kini berubah menjadi urat-urat keemasan yang menonjol dan sangat indah. Cawan itu jadi jauh lebih unik dan berharga daripada sebelumnya. Justru karena ketika dia pecah tidak dibuang. tapi diperbaiki. Peristiwa itu menandai lahirnya seni tembikar Jepang yang dikenal dengan sebutan Kinsugi atau Kin Sukuroi. Kinsugi lebih dari sekedar teknik memperbaiki keramik. Ada filosofi wabisabi di situ. Keindahan dalam ketidaksempurnaan. Simbol resiliensi dan transformasi. sesuatu yang rusak itu bisa kembali utuh bahkan lebih berharga daripada sebelumnya. Kalau zaman sekarang kan orang sukanya lem biru, lempar beli baru. Ya, kalau lem biru berarti tidak ada kasih dan tanpa kasih tidak ada kemenangan. Saat ini Indonesia mengalami keretakan antara rakyat dengan wakilnya di DPR. Keretakan antara rakyat dengan pejabatnya. keretakan antara rakyat dengan aparat hukumnya. Semua dipicu hanya bermulai dari seseorang yang menyebut pihak yang lainnya dengan sebutan tolol. Saya memang melihat ada tren budaya yang diimpor dari luar dan sekarang akhir-akhir ini ngetren di sosial media, di YouTube, di TikTok. Kalau enggak salah sumbernya dari Andrew Tate katanya. Sehingga sekarang supaya ngetop di TikTok atau YouTube sukanya teriak tolol, goblok atau bodoh. Analisa teknikal dibilang analisa tolol. Orang nge-jym dibilang bodoh. Orang udah pada emosi jiwa kalau dibalas dengan ucapan tolol rasanya kayak apa? Emangnya bisa memadamkan api dengan kirim api yang lebih gede lagi gitu. Setahu saya ini bukan budaya Indonesia. Semakin tinggi posisi dan jabatan, sudah selayaknya semakin rendah hati dan telaten. Sabar menjelaskan satu-satu. Jika kita benar-benar mencintai negeri ini, ayo kita sambung kembali keretakan yang terjadi ini dengan saling mengasihi satu sama lain. Nah, yang terakhir pasa kerusuhan hari ini, Senin, 1 September 2025 ternyata IHSG hanya pullback dan rebound tepat di garis lautan. Jadi beli sama apa dong kita ini. Oke, khusus bagi sahabat Akela yang ingin konsultasi sehubungan dengan trading maupun investasinya baik itu di Bursa Efek Indonesia, bursa saham Amerika, Forex, Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto. Ikuti Akela live streaming di channel ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30 30 WIB di mana Akela akan hadir guna menjawab seluruh pertanyaan Anda. Semoga bermanfaat, sukses selalu dan sampai jumpa.