Transcript
EUW5OAN-D0I • Skandal Ekonomi Terbesar RI? Penjualan BCA Rp200 Triliun Jadi Rp5 Triliun!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0282_EUW5OAN-D0I.txt
Kind: captions Language: id Jika BCA dibiarkan bangkrut, maka uang Anda dan saya sebagian besar bakal lenyap angin. Karena total aset BCA jika dijual hanya bisa membayar 66,3% tabungannya kita semua ini. Oke, Sahabat Akela. Coba bayangkan ada bank sebesar BCA yang hari ini jadi raksasa perbankan Indonesia dulu pernah disebut bernilai Rp200 triliun. Tapi anehnya di tahun 2002 konsorsium Faralon dan Jarum Group bisa mengambil alih 51% sahamnya hanya dengan R5 triliun saja. Kok bisa ini skandal atau harga wajar? Nah, belakangan ini ada seorang tokoh ekonom yang diberitakan media tengah mendorong Bapak Presiden Prabowo Subianto menyelamatkan uang negara yang terkait mega skandal BLBI termasuk mengambil alih 51% saham BCA. Beliau ini menduga adanya rekayasa dalam akuisisi 51% saham BCA oleh Jarum Grup Kerajaan Bisnis milik Budi Hartono di era Presiden Megawati Soekarno Putri. Oke, sebelum saya bahas detailnya, seperti biasa ada baiknya kita kembali dulu ke berbagai data dan rentetan fakta sejarah yang melatar belakangi Bank BCA ini. Sahabat Akela, ada satu prinsip penting dalam penyelenggaraan makroekonomi suatu negara dan ini sudah sangat sering saya bahas dalam berbagai di channel ini. Prinsip penting yang saya maksudkan adalah pemisahan yang tegas antara lembaga fiskal pemerintah dan lembaga moneter bank sentral. Namun hal ini tidak terjadi di masa Orde Baru. B sepenuhnya berada di bawah otoritas presiden. Pada tahun 1986, pemerintah Orde Baru ingin mendorong pertumbuhan ekonomi. Presiden Soeharto kemudian memerintahkan tim ekonomi termasuk di antaranya Wijoy Niti Sastro, Radius Prawiro dan Ali Wardana untuk mencari jalan keluar. Strateginya adalah diversifikasi ekonomi nonmigas, yakni mendorong sektor manufaktur, perdagangan, dan jasa. Guna menunjang hal ini, dibutuhkan akses pembiayaan yang sangat luas. Maka lahirlah rangkaian deregulasi dan puncaknya adalah Presiden Soeharto meminta Menteri Keuangan Radius Prawiro dan Gubernur BI Arifin Sirgar untuk membuka keran perbankan sehingga lahirlah paket 27 Oktober 1988 atau dikenal dengan Pakto 88. Ini melalui Fakto 88, modal di store minimum untuk mendirikan bank umum diturunkan menjadi hanya Rp10 miliar saja. Sementara untuk mendirikan bank perkreditan rakyat atau BPR hanya butuh modal Rp50 sampai Rp100 juta saja. Akibatnya terjadilah ledakan jumlah bank dari 111 bank umum jadi 239 bank umum di tahun 1994 ditambah ribuan bank perkreditan rakyat. Pada periode itu sering terjadi berbagai kasus di mana bank terpaksa mencairkan kredit kepada grup perusahaannya sendiri dengan menggunakan aset kolateral yang sebenarnya masih diagunkan. Praktik yang paling kasar alias terang-terangan adalah sertifikat asli itu masih diagunkan. Namun anak perusahaan dalam satu grup dengan bank yang akan menyalurkan kredit kembali mengajukan kredit ke bank tersebut dalam grup konglomerat yang sama dengan menggunakan fotokopi sertifikat yang aslinya sedang diagunkan. Luar biasa ya. Zaman itu bahasa populernya adalah aset yang sama bisa disekolahin berkali-kali. Periode tahun 1980-an hingga awal 1990-an adalah zaman keemasan pertumbuhan ekonomi Indonesia. GDP Indonesia rata-rata mencapai pertumbuhan 7 hingga 8% tiap tahunnya sepanjang tahun 1989 sampai 1996. Namun ingat semuanya ini dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh yakni over leverage yang terbuka lebar akibat pakto 88. Menariknya di zaman itu Thailand dan Malaysia juga melakukan hal yang sama. Kredit dari bank itu meluber ke properti dan aset-aset spekulatif. Kredit bermasalah dan kolateral fiktif itu juga marah. Tanda-tanda kehancuran mulai nampak di tahun 1996 di mana neraca perdagangan Thailand itu defisit lebih dari 8% GDP-nya. Dengan demikian berarti Thailand membeli barang dan jasa dari luar negeri jauh lebih banyak daripada kemampuan ekspornya. Kalau defisit transaksi ini berjalan besar, negara terpaksa harus bakar cadangan devisa untuk mempertahankan kurs. Dan begitu Hun seperti Quantum Fun punyanya George Soros dan kawan-kawan menyerang Thabat pada Mei hingga Juli 1997, Bank of Thailand kehabisan devisa. Sehingga pada tanggal 2 Juli 1997, Tai Bad terhadap US Dollar terpaksa dilepas sehingga BAT langsung jatuh dan krisis pun dimulai. Satu macan Asia tumbang, Soros dan kawan-kawan tertarik melihat peluang pada macan Asia satunya lagi dan itu adalah Malaysia. Pada bulan Agustus hingga September 1997, Quantum Van Soros mulai short sell Malaysian ringgit. Bank negara Malaysia BNM mencoba mempertahankan kurs dengan intervensi devisa sehingga cadangan devisa Malaysia yang jumlahnya sekitar 30 miliar dolar mulai terkuras habis dan Malaysian ringgit pun terpuruk jatuh dari, Malaysian per US dollar. menjadi 3,2 Malaysian per US dolar. Hanya dalam beberapa bulan saja. Ringgit jatuh dari 2,5 menjadi 4,8 per US Doah. Sementara itu di Indonesia pemerintah Orde Baru saat itu sudah memerintah selama lebih dari 30 tahun. Sentimen negatif dari Thailand dan Malaysia memicu gelombang permintaan US Dollar dalam negeri. Pada tanggal 14 Agustus 1997, BI melepas rupiah ke free float sehingga kurs US dollar terhadap rupiah itu melesat dari Rp2.400 menjadi Rp2.800 per US dollar dalam hitungan hari. Ini memicu kepanikan investor asing yang diikuti investor domestik dan masyarakat juga ikut panik sehingga terjadilah capital flight besar-besaran. Permintaan US Dollar di dalam negeri melonjak dan rupiah kolaps. Jatuhnya rupiah membuat beban utang luar negeri swasta melonjak sehingga banyak perusahaan yang kolaps. Bank-bank dias dan collaps guna mencegah sistem keuangan total hancur. Bank Indonesia kemudian menggelontorkan bantuan likuiditas Bank Indonesia atau BLBI hingga 144,5 triliun pada zaman itu. Namun masalahnya adalah banyak konglomerat malah memakai BLBI untuk capital flight guna membeli aset luar negeri atau sekedar mengamankan kekayaan pribadinya. Dari Rp14,5 triliun sebagian besar tidak pernah kembali lagi ke kas negara. BPK menyatakan potensi kerugian negara lebih dari Rp100 triliun. Guna menstabilkan kurs rupiah, pemerintah akhirnya terpaksa meminta bantuan kepada IMF. Dan pada tanggal 31 Oktober 1997, Indonesia resmi mengumumkan letter of intent dengan IMF di mana IMF menyetujui paket bantuan 43 miliar US DO berupa dana gabungan dari AMF, Bank Dunia, EDB, dan negara-negara donor. Pada tanggal 26 Januari 1998 sebagai salah satu syarat program bantuan AMF kepada Indonesia melalui Keppres nomor 27/198, pemerintah mendirikan BPPN, Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Kendati pun Indonesia sudah menandatangani letter of intent dengan IMF pada November 1997 dan mendirikan BPPN pada bulan Januari 1998. Kris ternyata tidak langsung berhenti. Justru setelah itu situasi makin memburuk. Inflasi melonjak hingga tembus 77,6% sepanjang tahun 1998. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terus merosot. Mahasiswa mulai melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi. Pada tanggal 12 Mei 1998 terjadi insiden penembakan yang mengakibatkan empat orang mahasiswa Trisakti tewas. Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan. Mereka gugur sebagai pahlawan reformasi. Kejadian ini menyulut kemarahan publik yang terjadi keesokan harinya pada tanggal 13 Mei hingga 15 Mei 1998 terjadilah kerusuhan massal yang terjadi di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Medan, dan Solo. Terjadi penjarahan massal toko-toko dan pusat perbelanjaan, pembakaran gedung dan kendaraan. kekerasan rasial di mana banyak korban etnis Tionghoa, rumah dan toko-toko mereka diserang. Lebih dari 1000 orang korban meninggal dunia. banyak laporan termasuk dari berbagai LSM dan Komnas perempuan tentang terjadinya pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa. Isu ini menambah kecaman internasional dan memperkuat tekanan politik agar Presiden Soeharto mundur. Dan akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 terjadilah peristiwa bersejarah. Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dan mengalihkan tonggak kekuasaan pemerintah ke wakil presiden Habibi. Sejak akhir 1997, kepercayaan publik pada bank swasta nasional menurun. Banyak nasabah menarik dana besar-besaran dari bank-bank milik konglomerat. BCA sebagai bank dengan jaringan ATM dan transaksi keliring paling luas di Indonesia menjadi salah satu bank yang paling tertekan. Karena BCA adalah bank pembayaran terbesar. Pada akhir Januari tahun 1998, BI melaporkan nasabah telah menarik sekitar 17 triliun dari BCA hanya dalam hitungan minggu. Di tengah gelombang kerusuhan dan ketidakpastian politik saat itu, di bulan yang sama, bulan Mei 1998, Bank BCA mengalami rus nasabah panik menarik dana dalam jumlah besar. Dalam beberapa hari saja dana keluar lebih dari R hingga Rp15 triliun. Liditas BCA lumpuh. Muncul risiko sistemik. Jika BCA sampai kolaps, maka seluruh sistem pembayaran nasional bakal ikut lumpuh. Pada tanggal 29 Mei 1998, pemerintah garing Bank Indonesia resmi menetapkan BCA sebagai bank takeover atau BTO. Posisi utang BLBI yang sudah disuntikkan ke BCA tercatat Rp29,9 triliun. Kepemilikan saham Salim Grup pemilik lama BCA dialihkan ke BPPN sebagai bagian penyelesaian BLBI dan restrukturisasi. Guna menyelamatkan BCA, pemerintah kemudian menyalurkan obligasi rekapitalisasi kurang lebih jumlahnya sekitar 60 triliun. Tapi ini nanti. Sejak itu BCA masuk dalam program rekapitalisasi bersama 12 bank lain. Dan untuk menjaga stabilitasnya pemerintah menunjuk manajemen baru. Salim Grup kehilangan kendali penuh. Saham mayoritas BCA kini menjadi milik negara milik BPPN. Pada tanggal 7 Juni 1999, untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan Pemilu Demokratis pasca Orde Baru. Pemilu ini diikuti 48 partai politik hasil euforia reformasi. Suasana penuh harapan. Rakyat antusias memilih setelah puluhan tahun hanya punya tiga partai, Golkar, P3, dan PDI. Pada sidang umum MPR Oktober tahun 1999, Gus Dur akhirnya terpilih sebagai Presiden RI yang keempat. Setelah Gus Dur terpilih, pendukung Megawati marah karena pada saat itu PDIP adalah partai pemenang pemilu dan terjadilah demonstrasi besar-besaran berupa kerusuhan di berbagai kota, terutama Bali dan Jawa Tengah. Untuk meredakan situasi, MPR kemudian memilih Megawati sebagai Wakil Presiden RI. Di era Gus Dur, isu besar BLBI mencuat. Banyak pemilik bank dianggap menyalahgunakan dana talangan. DPR kemudian membentuk Pansus BLBI di tahun 2000. Kris tahun 1998 membuat bank-bank di Indonesia bangkrut untuk menyelamatkan sistem keuangan. Pemerintah kemudian mengeluarkan obligasi rekapitalisasi ke bank-bank termasuk BCA. Khusus BCA nilainya mencapai Rp60 triliun dengan kupon bunga 11% dibayarkan per tahun. Bagi BCA ini jadi aset besar di neraca. Tapi ingat, obligasi recap adalah instrumen penyelamatan, bukan uang tunai yang bisa langsung dipakai, dibelanjakan. Pada saat itu di zaman Gus Dur, status BCA adalah milik pemerintah via BPPN. Kondisinya waktu itu sangat buruk, kewajiban kepada deposan sangat besar karena BCA adalah bank swasta terbesar penerima dana masyarakat. Aset produktif BCA sebagian besar berupa kredit ke grup usaha sendiri dalam hal ini adalah Salim Grup dan nasabah korporasi lainnya dan sebagian besar sangat banyak macet saat krisis tahun 1997 hingga 1998. Secara likuiditas kas dan aset lancar BCA itu sangat kecil dibandingkan simpanan dana nasabah. Artinya kalau deposan serentak menarik dananya, BCA tidak akan bisa bayar alias bangkrut. Dalam kondisi seperti itu, IMF mendesak pemerintah untuk divestasi atau menjual bank BCA. Tentu ini adalah mission impossible. Emangnya ada yang mau beli bank yang secara akuntansi sudah tidak solven alias jika diras langsung bangkrut supaya bisa dijual. maka kondisi keuangan BCA harus sehat dulu. Dan guna menyehatkan laporan keuangan BCA, pemerintah menerbitkan obligasi rekap atau rekapitulasi senilai Rp60 triliun dan diberikan ke BCA. Dengan cara ini, pemerintah mengembalikan dana deposan masyarakat dengan cara mencicil melalui kupon obligasi besarnya 11 hingga 12% yang ditanggung APBN setiap tahun alias menjadi beban fiskalnya pemerintah tiap tahunnya. Di era Megawati Soekarno Putri, tepatnya di bulan Maret 2002, BPPN kemudian mulai melelang saham BCA. Tender ini diikuti oleh Standard Chartered Bank, Bank DBS Singapura, Temasc Holding Singapura, dan Consorsium Faralon Capital Amerika bersama dengan Alerka Investment Indonesia lewat Farindo Investments Limited. Ender dimenangkan oleh konsorsium Faralon Alerka dengan harga final yang dibayarkan konsorsium Farindo adalah sebesar 531 juta US atau dalam rupiah 5,3 sampai R5,6 triliun tergantung kurs yang dipakai. Banyak yang menilai harga ini sangat murah atau terlalu murah karena BCA saat itu sudah sehat berkat obligasi recap sebesar Rp60 triliun. Di mana jangan lupa pemerintah membayar kupon kepada BCA sebesar 11% atau sekitar 6,6 triliun setiap tahunnya. Nah, sekarang mari kita lihat dasar pemikiran tokoh ekonom diberitakan media tengah mendorong Bapak Presiden untuk mengambil alih 51% saham BCA. Menurut beliau, harga jual BCA itu seharusnya Rp200 triliun. Namun, Faralon hanya menebusnya dengan harga Rp5 triliun. Padahal nilai aset BCA mencapai R triliun. Obligasi recap Rp60 triliun, kemudian bunga Rp42 triliun sehingga totalnya lebih dari Rp200 triliun. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa jadi hitungan saya ya maksudnya beliau nilai BCA itu lebih dari Rp200 triliun tapi hanya dijual R5 triliun sehingga itu tidak waras sama dengan dapat gratisan. Anda saja juga bisa jadi orang terkaya nomor satu di Indonesia seperti Budi Hartono. Hari ini nilai aset BCA mencapai Rp14.400 R00 triliun sebagaimana diberitakan mediainilah.com. Nah, sekarang mari kita periksa berdasarkan data dan fakta. Bagaimana pernyataan beliau ini. Apakah memang sudah seharusnya dan selayaknya pemerintah mengambil alih 51% kepemilikan Bank BCA sesuai dengan saran beliau ini. Sehubungan dengan itu, mari kita buka sumber datanya dulu. Seperti biasa langsung ke data bukan opini yakni laporan keuangan PT Bank Sentral Asia Tbk dan anak Perusahaan tahun 2002. Mari kita buka. Ini adalah neraca konsolidasi dan scroll down ke bawah. Kita akan temukan bahwa per tahun 2002 total aset BCA adalah 117,3 triliun. Wah, berarti benar dong harga jual 51% kepemilikan BCA senilai R5,6 triliun di tahun 2002 itu terlalu murah. Orang ini loh asetnya R117,3 triliun. Oke, sabar tunggu dulu. Ayo kita periksa lagi aset senilai Rp117,3 triliun ini terdiri atas apa saja? Jika kita scroll back ke atas lagi, kita temukan aset terbesar BCA saat itu adalah obligasi pemerintah senilai 47,7 triliun di tahun 2002 dan 58,2 triliun pada tahun 2001. Itulah obligasi recap yang diberikan oleh pemerintah guna penyelamatan Bank BCA. Nah, perhatikan di sini obligasi recap yang disebutkan beliau ini adalah bagian dari total aset BCA yang beliau sebut 100 triliun. Itu nilai tepatnya 117,3 triliun. Jadi obligasi recap yang dimaksudkan ini sebenarnya tidak boleh ditambahkan lagi pada total aset 117,3 triliun. Karena obligasi recap yang nilainya kurang lebih 50 sampai 60 triliun itu sudah termasuk di dalam total aset yang 117,3 triliun. Karena jika ditambahkan lagi ke yang 117,3 triliun, maka terjadilah pelanggaran pada prinsip akuntansi yang disebut double counting. Set yang sama dihitung dua kali. Ditambah lagi bunga Rp42 triliun itu bukan cash hari itu, tapi itu adalah dibayarkan secara bertahap sampai 10 tahun ke depan totalnya 42 triliun. Secara akuntansi. Dengan demikian maka klaim itu sebenarnya menyesatkan. Seharusnya yang benar adalah total aset BCA 117,3 triliun. Jika dikurangkan obligasi reka pemerintah sebesar 47,7 triliun akan ketemu total net aset BCA tanpa bantuan obligasi pemerintah sebesar Rp69,6 triliun. Saya sudah jelaskan di depan bahwa di zaman pemerintahan Gus Dur, bank-bank besar mengalami recapitalization. Bank BCA adalah salah satunya pemerintah memberikan obligasi senilai Rp60 triliun dengan kupon tahunan fix sebesar 11% yang dibayarkan kepada BCA setiap tahun. Wah, kenapa kok pemerintah Gus Dur baik banget ya kasih obligasi puluhan triliun gratis dengan kupon 11% ke BCA? Nah, supaya jelas harap diingat yang namanya neraca itu bahasa Inggrisnya adalah balance seat. Jadi ada dua sisi. Sisi kiri itu adalah aset dan sisi kanan adalah liabilities atau kewajiban ditambah equity alias modal. Sekarang coba lihat kewajiban BCA. Total kewajiban BCA per tahun 2002 adalah Rp15,8 triliun. Sehingga tanpa obligasi rekap pemerintah jika total asetnya saat itu yang senilai 69,6 triliun dijual semuanya habis, maka total penjualannya tidak akan mencukupi kewajibannya sebesar 105,8 triliun. Dalam akuntansi, kondisi seperti ini dikenal dengan sebutan satu kata bangkrut. Anda mungkin berpikir, "Ya udah kalau bangkrut ya biarin aja bangkrut." Terus kenapa emangnya kalau bangkrut? Nah, mari kita scroll up sekarang dan di bagian atas akan nampak kewajiban terbesar BCA saat itu adalah simpanan dari nasabah pihak ketiga dan itu adalah total rekening giro ditambah tabungan ditambah deposit berjangka nasabah-nasabahnya BCA termasuk Anda dan saya. Jika BCA dibiarkan bangkrut, maka uang Anda dan saya sebagian besar bakal lenyap angin. Karena total aset BCA jika dijual hanya bisa membayar 66,3% tabungannya kita semua ini. Ini baru dampak langsungnya. Belum lagi jika kita teruskan ada simpanan dari bank lain sebesar 183 miliar. Belum lagi dampak sistemik yang ditimbulkan jika sampai BCA dibiarkan bangkrut maka akan ada gelombang ras besar-besaran pada bank-bank lainnya. Guna menghidari hal itu, pemerintah kini mendongkrak aset BCA supaya melampaui total kewajibannya, yakni dengan menyuntikkan obligasi rekap senilai Rp60 triliun. Di mana pada tahun 2002 nilainya sudah turun menjadi R7, triliun. Penurunan ini akibat sebagian obligasi jatuh tempo itu lebih cepat. Kemudian juga ada reprofiling atau penukaran obligasi di mana beberapa seri obligasi rekap ditukar menjadi seri baru dengan nilai kupon yang jauh lebih rendah kalau enggak salah cuma sekitar 3 sampai 4% dan jangka waktunya lebih panjang. ini ditujukan untuk mengurangi beban APBN tahunan juga karena ada amortisasi atau penyusutan. Dengan suntikan obligasi rekap di zaman Gus Dur ini, Bank BCA tidak jadi bangkrut. Pemerintah zaman Gus Dur sukses menyelamatkan Bank BCA dan ekonomi RI dari krisis moneter 1998 yang luar biasa dahsyat itu. Apakah ini berarti pemerintah mencetak uang buat nombokin BCA? Jawabnya tidak. Yang benar adalah pemerintah mencetak surat utang buat nombokin BCA. Pemerintah kemudian melakukan pembayaran kupon 11% per tahunnya, namun belakangan ditukar dengan obligasi yang kuponnya jauh lebih rendah. Pembayaran kupon ini adalah bagian dari APBN. Nah, jika ditotal sejak tahun 1999 sampai obligasi rekap BCA ini hilang dari neraca sekitar 2007 sampai 2008 dalam kurun waktu hampir satu dasa warsa, total kupon yang diterima BCA itu jumlahnya mencapai kurang lebih sekitar Rp42 triliun. Jika kita lihat data ini memang nampak bahwa harga pembelian Farindo konsorsium Faralon dan Alerka garing jarum grup atas 51% kepemilikan BCA sebesar 5,6 triliun memang nampaknya terlalu murah. Akan tetapi ini sama halnya dengan bilang bahwa harga Bitcoin di tahun 2010 itu terlalu murah. Laslo Hanyex beli pizza bayar pakai 10.000 BC. Anda bisa bayangkan jangan menganalisa sesuatu di masa lampau dengan kacamata yang kita pakai sekarang. kondisi dan situasinya sudah jauh berbeda. Waktu tender BCA tahun 2002 kondisinya itu sangat berbeda dengan hari ini. Ketidakpastian politik itu sangat tinggi. Orang pemerintah reformasi itu baru saja terbentuk, baru jalan 2 tahun. Apa yang terjadi? Presiden terpilih secara demokratis kemudian dimakzulkan oleh MPR yang memilihnya. Neraca BCA nampak sehat itu murni hanya karena adanya injeksi obligasi reka pemerintah sebesar 60 triliun. Namun jangan lupa saat itu obligasi rekap ini peringkatnya adalah jang bon sangat tidak liuid dan tidak bisa dijual sewaktu-waktu. Obligasi rekap itu hanyalah janji bayar pemerintah sebesar 11%. Di mana itu pun pada periode 2002 sampai 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi atau reproving obligasi rekap di hampir semua bank penerima. Kupon diturunkan bertahap dari 12% jadi cuman 3 sampai 4% aja. Jangka waktu dipanjangkan dan beberapa seri itu ditebus lebih awal. Nah, saya ingin menutup video ini dengan satu pertanyaan sederhana. Jika 5,6 triliun itu terlalu murah, pertanyaannya adalah mengapa konsorsium Standard Chartered Bank Astra Internasional AntiC Singapura, kemudian konsorsium Bank of America Rajawali Group, kemudian konsorsium DBS Bank Singapura dan konsorsium UKbased Bank HSBC tidak mengajukan penawar yang lebih tinggi dari konsorsium faralon capital PT Jarum Garing Farindo. Analogi yang sama, jika Anda merasa harga Bitcoin di tahun 2010 itu terlalu murah, pertanyaannya adalah kenapa kok ndak beli Bitcoin di tahun 2010 atau kenapa kok Anda tidak beli saham Nvidia di tahun 2010 misalnya? Nah, Sahabat Akela, jika Anda ingin konsultasi sehubungan dengan trading maupun investasi di Bursa Efek Indonesia, bursa saham Amerika, Forex, Gold, hingga Bitcoin dan aset kripto, ikuti Akela live streaming di channel ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30 WIB di mana Akela akan hadir guna menjawab seluruh pertanyaan Anda. Semoga bermanfaat, sukses selalu dan sampai jumpa.