Transcript
MSCyWTGeDKU • Operasi Midnight Hammer: Serangan Bunker Buster AS Guncang Iran! Awal Perang Dunia ke-3?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0273_MSCyWTGeDKU.txt
Kind: captions Language: id Sahabat Akela, sebagaimana kita ketahui bersama saat ini tengah pecah perang antara Israel dengan Iran. Dan pada saat video ini saya buat, Presiden Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat sudah meluncurkan serangan bom yang menggunakan bom GBU 57 Series MOP atau Massif Ordnance Penetrator, yakni bom seberat 30.000 1000 pound atau 13,6 ton yang merupakan precision guided bangke busted bom terbesar di dunia saat ini. Bom ini diangkut dengan pesawat siluman B2 Spirit. Seperti biasa, dunia maya di Indonesia itu langsung ramai. Dan seperti biasa, channel Akela juga akan membahas krisis ini dimulai dari latar belakang sejarahnya. Ketika saya menyebut latar belakang sejarah, maka Anda mungkin akan menduga peristiwa 7 Oktober 2023 serangan Hamas atas Israel. Well, enggak jauh sebelum itu. Kalau jauh sebelum itu, Anda mungkin akan menyebut perang Lebanon, Intifada, Yomkipur, atau bahkan perang Arab Israel pertama tahun 1948. Enggak juga. jauh sebelum itu ya, karena saya akan memulainya dari tahun 632 Masehi. Jadi harap maklum jika videonya jadi agak panjang. Nah, kenapa 632 Masehi? Saya akan mengajak Anda untuk mengerti, memahami latar belakang sejarahnya secara lengkap dari awal muasalnya sekali. Pada tahun 632 Masehi, Madinah berduka. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam wafat. Meninggalkan umat Islam dalam kesedihan mendalam. Namun di tengah duka, sebuah pertanyaan besar menggantung. Siapa yang akan memimpin umat Islam setelah Nabi tiada? Para sahabat utama dari kalangan Muhajirin dan Ansyar segera berkumpul di Sakifah Bani Saidah. Dan setelah memusyawarahkan secara panjang lebar, mereka akhirnya memutuskan untuk memilih Abu Bakar Assiddiq sebagai khalifah pertama. Inilah cikal bakal mazhab Suni yang meyakini bahwa pemimpin umat harus dipilih melalui musyawarah. Tapi tidak semua setuju. Sebagian umat ternyata ya, terutama keluarga Nabi merasa bahwa Ali bin Abi Thalib sepupu sekaligus menantu Rasulullah adalah pilihan yang lebih layak bagi mereka. Ali bukan hanya dekat secara darah, tapi juga secara spiritual dengan Nabi. Dari sinilah lahir mazhab Siah yang memegang teguh bahwa kepemimpinan Islam hanya sah jika berasal dari Ahlul Bait atau keluarga Nabi. Nah, kepemimpinan Abu Bakar atau lengkapnya Abu Bakar As-Siddiq radhiallahu anhu disingkat RA sebagai bentuk penghormatan bahwa beliau ini adalah sahabat Nabi. Kepemimpinan Abu Bakar adalah tonggak periode dimulainya era khulafau Rasyidin yang merujuk pada empat orang pemimpin umat Islam pertama sepeninggal Abu Bakar. Saya agak percepat sedikit ya, Sahabat Akela. Kekhalifahan berlanjut ke Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Kemudian Utsman bin Affan radhiallahu anhu. Dan akhirnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Namun masa kepemimpinan Ali ini penuh gejolak. Perang Jamal, kemudian ada perang Sifin dan puncaknya tragedi Karbala pada tahun 680 Masehi. Di Karbala, Husain bin Ali, cucu Nabi ini dibunuh dengan sangat kejam. Peristiwa ini langsung mengguncang umat Islam dan menjadi luka abadi khususnya bagi Syiah. Dan peristiwa ini diyakini melambangkan pengkhianatan dan ketidakadilan. Sejak saat itu, Sunni dan Syiah semakin menjauh berbeda dalam hukum bahkan hingga ibadahnya, bahkan hingga pandangan tentang otoritas keagamaan. Namun konflik antar negara yang kita kenal hari ini baru benar-benar membara sejak tahun 1979. Nah, sekarang kita masuk ke tahun 1979. Di Iran rakyat bangkit melawan Shah Reza Palevi, raja yang sekuler dan didukung oleh Barat berarti Amerika Serikat. Rezimnya digulingkan. Dan dari pengasingan, seorang ulama Syiah, Ayatullah Rahullah Qomeni kembali datang pulang ke Iran untuk memimpin. Ia mendirikan Republik Islam Iran, sebuah negara yang tak hanya mengganti monarki dengan republik, tetapi juga memperkenalkan teokrasi berbasis wilayat al-Fqih di mana ulama memegang kendali tertinggi. Tapi Iran tidak berhenti di situ. Komeni punya visi besar, yakni menyebarkan ideologi revolusi Islam Siah ke seluruh dunia Muslim. Ini bukan sekedar mimpi. Ini ancaman nyata bagi negara-negara Suni seperti Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara teluk. Mereka kini melihat Iran bukan lagi sebagai tetangga, tetapi sebagai kekuatan revolusioner yang ingin mengguncang tatanan kawasan. Akibatnya ketegangan pun meledak. Akhirnya pada tahun 1980, Irak yang dipimpin oleh Saddam Husein menyerang Iran. Memicu perang Iran Irak yang berlangsung 8 tahun dan menelan lebih dari 1 juta jiwa. Perang ini mengajarkan Iran pelajaran pahit. Mereka tak bisa menang dengan konfrontasi langsung. Karena itu mereka kemudian beralih ke strategi baru, yakni membangun jaringan proksi dan milisi bersenjata di seluruh area Timur Tengah. Iran kemudian mulai menjalin pengaruh melalui kelompok-kelompok bersenjata yang didukungnya. Yang pertama adalah Hizbullah di Lebanon yang kini jadi kekuatan politik dan militer. Yang kedua ada hutis di Yaman yang mengacaukan stabilitas teluk. Yang ketiga ada milisisiah di Irak yang memperkuat cengkraman Iran di Baghdad. Kemudian jangan lupa pemerintahan Basyar Al-Asad di Suriah sekutu setia Teheran. Bahkan Hamas dan Islamic Jihad di Gaza juga mendapat dukungan Iran. Jaringan inilah yang membentuk apa yang disebut sebagai bulan sabit siah atau the Siah Cresen. Sabuk pengaruh siah yang membentang dari teheran melintasi Baghdad, Damaskus, Berut hingga Gaza. Bagi Iran ini adalah cara untuk memperluas ideologi dan kekuatan tanpa perang terbuka. Tapi bagi negara-negara Sunni ini adalah mimpi buruk. Iran bukan lagi sekedar menyebarkan ajaran, mereka menyokong senjata, pelatihan dan agenda politik yang mengguncang kawasan. Nah, lompat ke tahun 2020, tepatnya 15 September 2020, dunia dikejutkan oleh Abraham Accords. Untuk pertama kalinya Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Negara-negara Arab ini membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sesuatu yang dulu tidak pernah terbayangkan. Mengapa mereka kok mau melakukannya? Jawabnya sederhana. Iran. Mereka merasa adanya ancaman dari Teheran mendorong mereka mencari sekutu baru termasuk Israel. Kesepakatan ini digagas dan difasilitasi oleh pemerintahan Donald Trump yang pertama dulu sebelum Joe Biden melalui peran utama Jaret Kusner, suami Ivan Katram dan Avi Berkovic didampingi Stepen Menucin, US Treasury Secretary, Menteri Keuangannya saat itu. Selain itu, ada harapan akan stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan. Bahkan Arab Saudi yang selama ini menjaga jarak mulai melirik kemungkinan bergabung ke Abraham, didorong oleh Amerika Serikat dan bahkan dimediasi oleh Tiongkok perdamaian seolah benar-benar di depan mata. Tapi tidak semua pihak ternyata senang akan hal itu. Iran yang sejak tahun 1979 konsisten menolak keberadaan Israel secara totalitas. Iran yang memegang teguh prinsip bahwa negara Israel dan seluruh Zionis harus lenyap dari Timur Tengah melihat hal ini sebagai pengkhianatan bagi mereka. Abrahamot adalah bukti bahwa dunia Arab Suni mulai berpaling dari perjuangan Palestina. Bagi Iran, Israel bukan lagi sekedar musuh, tapi keberadaannya sudah dianggap haram. Sejak revolusi 1979, Iran bertekad menghapus Israel dari peta. bukan hanya lewat retorika, tapi juga dengan mendukung kelompok-kelompok seperti Hamas, Hizbullah, dan Islamic Jihad. Bagi mereka perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan. Di sisi lain, dunia suni moderat mulai berpikir berbeda. Negara seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan UAE atau Uni Emirat Arab tetap kritis terhadap Israel, tapi mereka melihatnya sebagai realitas geopolitik yang tak bisa diabaikan. Solusi dua negara maksudnya Israel dan Palestina hidup berdampingan serta diplomasi kini jadi pilihan yang lebih realistis ketimbang perang terus-terusan tanpa akhir. Sahabat Akela, jika Anda masih belum jelas bagaimana persepsi negara-negara Arab Suni, contohnya Arab Saudi terhadap Iran, tahu enggak sebutan apa yang digunakan putra mahkota Muhammad bin Salman tentang Ayatullah Ali Kameni, Supreme Leader Iran? Silakan Anda dengar sendiri dalam cuplikan video berikut ini. But you called theatola the new Hitler of the Middle East. Absolutely. Why? Because he wants to expand. He wants to create his own project in the Middle East very much like Hitler who wanted to expand at the time. Many countries around the world and in Europe did not realize how dangerous Hitler was until what happened? I don't want to see the same events happening in the Middle East. Does Saudi Arabia need nuclear weapons to counter Iran? Saudi Arabia does not want to acquire any nuclear bomb. Dari video tersebut nampak jelas bahwa Arab Saudi melihat Iran sebagai sebuah ancaman. Dan tepat saat Saudi dan Israel hampir mencapai kesepakatan, pada tanggal 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan mendadak ke Israel. Ribuan roket menghujani langit. Pagar perbatasan dijebol dan lebih dari 1200 orang tewas dalam sehari. Serangan ini bukan hanya tragedi, ini langsung mengguncang tatanan kawasan. Abraham Accords ya jelas terguncang. Dunia Arab kembali terpecah antara yang mendukung perjuangan Palestina dan yang mengutamakan stabilitas kawasan. Bagi Israel dan Amerika Serikat, serangan ini jadi titik balik. Mereka kemudian tidak hanya menyerang balik Gaza, tapi juga mulai membidik jaringan proksi Iran di seluruh kawasan yang mengejutkan ternyata tidak ada satuun negara Islam lain yang bergerak menghentikan serangan Israel dan Amerika Serikat. Yang paling nampak jelas adalah serangan udara yang dilakukan Israel sebelum operation Midnight Hammer guna mencapai Iran, pesawat-pesawat tempur Israel ini harus melintasi wilayah udara Arab Saudi, Irak, dan Yordania. Secara teknis, negara-negara ini bisa menutup ruang udara mereka dan menghambat serangan. Tapi yang terjadi adalah mereka memilih diam-diam saja. Di depan publik beberapa pemimpin mungkin mengutuk Israel, tapi di balik layar sikap mereka jelas. Iran adalah ancaman yang lebih besar. Bagi banyak negara Suni, serangan ke Iran justru terasa seperti angin segar. Satu persatu jaringan proksi Iran kemudian mulai goyah. Yang pertama Gaza hancur lebur. Hamas kehilangan kekuatan militer dan politik. Yang kedua, hutis di Yaman terisolasi dan terblokade baik udara maupun laut. Yang ketiga, Hizbullah di Lebanon lumpuh akibat serangan presisi dari Israel. Yang keempat, jauh sebelum ini semua Basyar Al-Asad di Suriah semakin terpojok dan bahkan dikabarkan mengungsi ke Moskow sudah digulingkan. Kemudian puncaknya pada tanggal 21 Juni 2025 Amerika Serikat melancarkan operation Midnight Hammer yang menyasar tiga situs nuklir Iran. Fordo, Nathans, dan Esfahan menggunakan bomb GBU 57 yang diangkut menggunakan pesawat siluman B2 Spirit. Mereka dengan menggunakan bomban bangkebaste terbesar dunia ini menghancurkan ambisi nuklir teheran. Proxi Iran tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah melemah oleh serangan Israel yang sebelumnya. Posisi Iran kini berdiri sendiri, terjepit, terisolasi di tengah kawasan yang berubah. Pada saat video ini dibuat, Iran mengumumkan akan menutup Selat Hormus sebagai respon atas operation midnight hammer yang dilancarkan Amerika. Hal ini memang sudah sering dilakukan Iran, yakni dengan melancarkan berbagai serangan terhadap kapal-kapal dagang atau kapal tanker yang lalu lalang di situ. Bisa dengan cara disita kapalnya ya, kapal dagang atau kapal tanker atau dengan menggunakan serangan drone dan rudal atau pemasangan ranjau laut atau serangan menggunakan kapal cepat arg. Namun lagi-lagi harap diingat bahwa Selat Hormus ini bukan 100% wilayah yang dikuasai Iran. Iran hanya punya pesisir utaranya. Sementara pesisir selatan itu adalah dikuasai Uni Emirat Arab dan Musandam. Slide Hormus ini secara aktif dilalui oleh kapal-kapal dari Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAI, dan Arab Saudi. Juga negara-negara lain di dunia termasuk Tiongkok. Nah, bagaimana respon Trump atas tindakan Iran menutup Selat Hormus? Apakah ada gelombang serangan udara besar-besaran lagi? Ternyata enggak. Trump hanya meminta US Secretary of State Marco Ruby untuk telepon Tiongkok guna meminta Iran membuka Selat Hormus. Loh, kok malah nyuruh Tiongkok? Jawabnya adalah karena sejak tahun 2017 Tiongkok menjadi pengimpor minyak terbesar di dunia melampaui Amerika Serikat. di mana sekitar 40% dari impor minyak Tiongkok berasal dari kawasan Teluk Persia termasuk Arab Saudi, Irak, UAE, dan Iran sendiri. Walaupun sudah di embargo harusnya enggak bisa, tapi tetap aja Iran supply pakai black fleet ya ee jalur gelap yang penting enggak ketahuan. Dan hampir semua pengiriman minyak dari negara-negara tersebut harus melewati Selat Hormus untuk menuju laut Arab, kemudian lanjut ke Samudera Hindia, kemudian lanjut ke Selat Malaka dan terus ke utara nyampai ke Tiongkok. Dengan demikian, jika Selat Hormus ditutup maka Tiongkok akan sangat dirugikan. Bagi Trump nampaknya ini adalah strategi yang lebih efisien karena menggunakan prinsip bisnis bahwa pelanggan adalah raja. Dengan demikian pembeli terbesar berarti adalah maharaja. Penjual harus nurut sama maharaja. Kalau enggak nanti Maharajanya kabur nyari penjual yang lain. Nah, setelah puluhan tahun terbelah oleh ideologi dan konflik sektarian, Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Dunia sunni moderat memilih jalan diplomasi dan stabilitas. Israel yang dulu berdiri sendiri, kini malah punya sekutu tak terduga. Apakah ini awal dari perdamaian menuju kawasan Timur Tengah yang baru ataukah ini justru awal dari sebuah perang dunia ketiga? Bagaimana dengan Rusia dan Tiongkok? Nah, pengin tahu analisanya seperti apa? Oke, bagi yang pengin tahu klik tombol like-nya dulu. Pastikan diri Anda sudah subscribe di channel ini dan pastikan tombol loncengnya aktif supaya Anda tidak ketinggalan video-video terbaru dari Akela. Nah, ayo lanjut. Terus gimana ceritanya Mister Putin? Di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika, Rusia tampak memilih diam hanya menyuarakan sikap diplomatik tanpa melakukan pengerahan militer atau aliansi terbuka dengan Iran. Loh, kok bisa? Yang pertama, fokus Rusia sudah terkuras di Ukraina. Sejak invasi ke Ukraina tahun 2022, Rusia mengalami kehilangan puluhan ribu pasukan kehancuran aset berat, yakni tank, artileri, jet tempur, dan seterusnya. Kemudian jangan lupa mengalihkan pasukan atau logistik ke Iran hanya akan melemahkan garis pertahanan Rusia terhadap Ukraina. Sesuatu yang tidak bisa mereka ambil risikonya saat ini. Yang kedua, ketergantungan Rusia terhadap Israel dalam teknologi dan ekonomi. Rusia dan Israel itu tetap menjaga hubungan teknologi dan migrasi. banyak warga Rusia keturunan Yahudi yang bermigrasi ke Israel. Kemudian Israel dikenal tidak pernah memberikan senjata ofsif ke Ukraina dan Rusia ingin Israel mempertahankan sikap netral itu. Sehingga jika Rusia membela Iran secara militer, maka sangat berpotensi Israel mungkin akan mengubah posisi netralnya dan mulai mengirim sistem senjata canggih ke Ukraina termasuk Iron Dome dan ini bisa sangat menyulitkan Rusia. Yang ketiga, Iran dari dulu bukan sekutu formal Rusia. Iran ini adalah mitra strategis musiman, bukan aliansi pertahanan seperti CSTO atau NATO. Rusia lebih melihat Iran sebagai pemasuk drone murah, yakni Syahid 136, bukan mitra pertempuran. Dengan demikian, membela Iran bukan prioritas eksistensial bagi Rusia. Bilamana dibandingkan contohnya dengan mempertahankan kendali atas Donbas dan Cremia. Nah, lantas mengapa Tiongkok tidak turun tangan mengerahkan persenjataan dan pasukan untuk Iran? Walaupun Tiongkok secara ekonomi dan diplomatik punya hubungan erat dengan Iran, terutama dalam hal energi dan perdagangan, namun dalam konflik bersenjata terbuka ini, Tiongkok sama sekali tidak mengerahkan pasukan atau bahkan menunjukkan dukungan militer secara langsung. Alasannya cukup strategis dan realistis. beberapa yang krusial di antaranya yang pertama doktrin nonintervensi militer langsung. Nah, ini adalah doktrin yang dianut Tiongkok sejak era deng shopping. Kebijakan luar negeri Tiongkok menjunjung prinsip nonintervensi militer langsung kecuali dalam urusan dalam negeri sendiri. Contohnya Taiwan. Sehubungan dengan itu, Tiongkok lebih suka memainkan peran mediator diplomatik ketimbang jadi pihak yang turut bertempur. Yang kedua, perlindungan jalur dagang dan ekonomi global. Tiongk ini sebagaimana tadi sudah saya jelaskan di atas sangat bergantung pada stabilitas Selat Hormus dan laut merah untuk suplai energi dan ekspor impor. Jangan lupa 40% kebutuhan crude oil Tiongkok berasal dari suplai dari Selat Hormus. Perang besar di Timur Tengah hanya akan merusak rantai pasok energi dan memukul ekonomi Tiongkok. Oleh karena itu, Tiongkok lebih memilih netral. dan mendesak gencatan senjata daripada berpihak ke salah satu pihak contohnya Iran. Dan sama seperti Rusia, Iran juga bukan mitra militer strategis Tiongkok. Tiongkok memang menjalin kerja sama dagang dan investasi dengan Iran. Benar, tapi tidak pernah membentuk aliansi militer resmi. Tidak ada perjanjian mutual defense seperti NATO. Dukungan Tiongkok hanyalah bersifat ekonomi dan politik, bukan pertahanan. Dan yang lebih penting lagi, Tiongkok ingin tetap menjaga hubungan dagangnya dengan Israel dan Amerika Serikat. Barusan aja ditandatangani perdamaian tahap awal guna menghentikan perang dagang. Jika sekarang mendukung Iran secara militer, maka rusak dah itu. Israel ini adalah mitra teknologi penting bagi Tiongkok di bidang AI, chips, dan cyber security. Sementara Amerika Serikat adalah mitra dagang utama dan pasar ekspor Tiongkok yang terbesar. Jika Tiongkok membela Iran secara militer, maka Israel bisa memutus kerja sama teknologi. Dan jangan lupa Amerika Serikat bisa menambah sanksi, memperketat blokade cip dan semikonduktor dan jangan lupa tarifnya balik lagi 145%. Maka meskipun secara narasi global banyak media menyangka Tiongkok dan Rusia akan membela Iran secara militer, kenyataannya tidak demikian. Kedua negara memilih diam, netral, dan fokus pada kepentingan dalam negeri dan kestabilan global mereka sendiri. Atas dasar itu, saya melihat sangat kecil peluangnya krisis ini berkembang menjadi perang dunia ketiga seperti yang digembor-gemborkan banyak media maupun influencer. yang lebih mungkin terjadi adalah terjadinya peningkatan terorisme pada warga negara Amerika maupun warga negara Israel secara sporadik. Pagi ini Senin 23 Juni 2025 pukul 09.00 pagi WIB hanya nampak reaksi yang sangat tidak signifikan pada S&P 500 futures. SNP 500 itu turunnya cuma minus 0,4%. Nah, sedang minus 0,5%. Bitcoin walaupun kemarin sempat turun hingga menyentuh level 98.000-an, namun ternyata sudah rebound kembali dan ditutup hanya minus 1,1%. Kemudian muncul berita bahwa Selat Hormus ditutup oleh Iran. Berarti crude oil pasti meledak harganya terbang. Well, crude oil memang sempat naik sampai 78,4 dolar per barrel. Namun pagi ini kembali berada di level sekitar 75 US per barrel. Dengan demikian itu hanya naik 1,7% dibanding penutupan sebelumnya. Jika pasar mengantisipasi akan terjadinya perang dunia ketiga seperti yang dihebohkan oleh media, maka seharusnya pagi ini SNP 500 itu sudah crash jauh lebih parah. Coba bandingkan. Bahkan nike itu cuman minus 0,57%. Bandingkan misalnya dengan kejadian ketika Japanese yan carry tradewinding yang pernah saya unggah dalam video Japanesean carry trade unwinding ketika misis kota Nabi mengguncang dunia. Kejadian itu terjadi pada tanggal 5 Agustus 2024, sama-sama hari Senin seperti hari ini. Dan pada saat itu Nike itu crash hingga minus 12,4%. Itu baru dahsyat. Ini minusnya NIKE cuman minus 0,57%. Reaksi pasar pasca operation Midnight Hammer ini benar-benar sangat minim. Satu-satunya sumber yang ramai menyuarakan perang dunia ketiga hanyalah media dan termasuk influencer. Nah, sahabat Akela, semoga video ini bermanfaat untuk Anda dan jangan lupa khusus bagi sahabat Akela yang butuh konsultasi sehubungan dengan trading maupun investasi di Bursa Efek Indonesia, bursa saham Amerika, Forex, Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto. Anda juga bisa ikuti Akela live streaming di channel ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30 WIB di mana Akela akan hadir guna menjawab seluruh pertanyaan Anda lainnya. Semoga bermanfaat, sukses selalu dan sampai jumpa. Yeah.