Trump Liberation Day, Bagian 2, Reciprocal Tariff : Senjata Ekonomi Pemusnah Massal Trump?"
98hSPkpjs0w • 2025-04-11
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
bagi Amerika selaku
penerbit World Reserve Currency mata
uang US Dollar yang digunakan sebagai
mata uang global, mata uangnya
perdagangan
internasional, current account deficit
itu adalah konsekuensi yang harus dia
alami. Economic boom yang dialami
Amerika juga mengalir ke negara-negara
produsen dalam bentuk current account
surplus. Bagian yang kedua, Trifin
Dilemma and Nixon Shock. Sebagaimana
saya sudah jelaskan dalam video episode
yang pertama bahwa Amerika itu harus
menjalankan neraca perdagangan defisit
untuk menyediakan likuiditas yang cukup
untuk dunia.
Tetapi pertumbuhan defisit yang terlalu
cepat ini merusak kepercayaan pada
konvertibilitas dolar terhadap emas.
Trivin menyuarakan ini dalam
testimoninya di Kongres Amerika pada
tahun 1960 dalam bukunya Gold and the
Dollar Crisis. dan dia langsung
memprediksi bahwa sistem gold standard
Bretonwood tersebut akan runtuh ketika
cadangan emas Amerika tidak lagi cukup
untuk mendukung dolar yang beredar di
luar negeri. Dengan kata lain, kecepatan
pertumbuhan penambangan emas yang
diproduksi oleh Amerika itu tidak
sanggup untuk
mengimbangi penerbitan mata uang global
dolar yang digunakan untuk transaksi
ekonomi global.
Satu dasawarsa sesudah prediksi Robert
Trifin tersebut tepatnya tanggal 15
Agustus
1971, prediksi Trivin ini menjadi
kenyataan. Presiden Richard M. Nixon
kemudian mengambil langkah drastis untuk
mengatasi krisis ini dalam pidato
televisi nasional yang legendaris dan
dikenal dengan sebutan Nixon Shock.
Isinya ada tiga. Yang pertama adalah
penangguhan konvertibilitas emas.
Nixon menutup jendela emas atau gold
Windows dan menghentikan konversi dolar
ke emas oleh bank sentral manaun di
negara manapun. ini mengakhiri pilar
utama gold standard system Bratton
Woods. Terbukti Gold Standard tidak bisa
diaplikasikan untuk sistem mata uang
global karena bertentangan dengan dalil
viser. Yang kedua, pengendalian harga
dan upah. Untuk menekan inflasi domestik
yang melonjak, Nixon memberlakukan
pembekuan sementara pada harga dan upah
boleh naik. Yang ketiga adalah tarif
impor. Nixon mengenakan tarif 10% pada
semua barang impor untuk mengurangi
defisit perdagangan Amerika yang sedang
berjalan. Keputusan ini diambil setelah
tekanan mendesak dari pasar dan
rekomendasi dari Menteri Keuangan John
Kennelly serta penasihat ekonomi seperti
Paul Voke contohnya yang kemudian
menjadi Fchamen. Sejak saat itu dunia
meninggalkan sistem gold standard dan
sekaligus menandai lahirnya sistem uang
fiat yang kita pergunakan hingga
sekarang ini. Salah satu konsekuensi
negatif dari sistem uang fiat adalah
uang menjadi kehilangan fungsinya.
sebagai penyimpan nilai atau stories of
value. Namun saya tidak bahas hal ini
karena saya sudah banyak menjelaskan
mengenai hal ini pada video-video
lainnya khususnya mengenai sistem moneta
global hingga aset kripto pasca Nixon
Shock dan runtuhnya Bratton Woods pada
awal tahun
1970-an, ekonomi Amerika memang
mengalami pasang surut tapi secara
keseluruhan terus bertumbuh terutama
pada era Ronald Reagan dan Bill Clinton.
Ketika Regan menjabat sebagai presiden
pada tahun
1981, Amerika menghadapi stakflasi
inflasi tinggi sekitar 13,5% pada tahun
1980 dan pengangguran yang juga tinggi
di level
7,6%. Nixon Shock dan Oil Crisis tahun
1970-an telah melemahkan ekonomi
Amerika.
Tapi Regan kemudian menerapkan kebijakan
ekonomi berbasis penawaran atau dikenal
dengan supply side economy termasuk
pemotongan pajak besar, deregulasi, dan
pengurangan pengeluaran
pemerintah. Ini merangsang investasi dan
pertumbuhan ekonomi dengan PDB Amerika
tumbuh rata-rata 3,5% per tahun selama
masa jabatannya.
Ekonomi regen ini dikenal dengan sebutan
reganomics dan dia juga mulai mendorong
liberalisasi perdagangan untuk
memperluas pasar ekspor Amerika. Pada
tahun 1988 ia menandatangani Kanada US
Free Trade Agreement atau
CUSFTA yang menghapuskan tarif antara
Amerika dan Kanada ini kemudian kelak
menjadi cikal bakalnya NAFTA. Regan juga
mendukung negosiasi putaran Uruguay
dalam Guard General Agreement on Tarif
and Trade yang akhirnya melahirkan WTO
World Trade
Organization. Era perdagangan bebas yang
fondasinya dibangun di zaman Regan ini
kemudian mencapai puncaknya di era Bill
Clinton. Clinton mewarisi ekonomi yang
mulai pulih dari resesi awal tahun
1990-an. Ia fokus pada pertumbuhan
berbasis teknologi dan perdagangan
global dengan tingkat pengangguran turun
menjadi 4% pada akhir masa jabatannya
dan surplus anggaran pertama sejak tahun
1969. Pada tanggal 1 Januari 94, Clinton
menandatangani nafta yakni memperluas
USFTA Regan dengan memasukkan Meksiko.
Kesepakatan ini yang dirundingkan sejak
era George HW Bush.
menghapuskan sebagian besar tarif antara
Amerika, Kanada, dan Meksiko. Tujuannya
adalah meningkatkan perdagangan
investasi dan lapangan kerja. Meskipun
dikritik karena dampaknya pada pekerja
lokal manufaktur Amerika. Clinton
memainkan peran kunci dalam mendirikan
WTO yang menggantikan GD pada 1 Januari
95. Setelah putaran Uruguay
selesai, WTO menjadi organisasi permanen
untuk mengatur perdagangan global dengan
mekanisme penyelesaian sengketa dan
aturan yang lebih kuat. Amerika sebagai
ekonomi terbesar mendorong liberalisasi
lebih lanjut termasuk masuknya Tiongkok
ke WTO pada tahun 2001 yang diselesaikan
di akhir masa jabatan Clinton. Anda
lihat yang di sebelah Clinton ini adalah
Surongji. Perdagangan Amerika melonjak,
ekspor ke Kanada dan Meksiko jadi naik
150% dalam dekade pertama nafta. Ekonomi
Amerika itu tumbuh rata-rata 4% per
tahun pada tahun 90-an didorong oleh
booming di tchnology atau dan
globalisasi.
Akan tetapi sejak era perdagangan bebas
yang dimulai secara signifikan pada masa
Ronald Reagan dan diperluas di eranya
Bill Clinton ini dengan NAFTA dan WTO,
otomatis trade defisitnya Amerika juga
membengkak secara konsisten. Karena itu
artinya global economy growing dengan
adanya kebijakan regonomik berupa
pemotongan pajak dan deregulasi.
meningkatkan permintaan domestik.
Sementara dolar kuat karena suku
bunganya tinggi untuk melawan inflasi
membuat impor lebih murah dan ekspor
Amerika jadi mahal. Pada tahun 1983,
defisit perdagangan Amerika melonjak
jadi 67 miliar. Naik drastis itu
dibandingkan tahun 1980-an. Defisit
dengan Jepang khususnya menjadi sorotan
karena impor mobil dan elektronik yang
sangat besar. Untuk mengatasi defisit,
Amerika kemudian mendorong terjadinya
Plaza Accord pada dasarnya menegosiasi
Jepang dan negara-negara lain guna
melemahkan US Dollar terhadap yen dan
mata uang lainnya. Meski ekspor Amerika
akibatnya sempat naik sementara, tapi
lagi-lagi defisitnya tetap bertumbuh
karena konsumsi domestik yang kuat dan
ketergantungan pada barang impor. Ketika
NAFTA diberlakukan pada tahun 94 dan WTO
berdiri pada tahun '95, perdagangan
Amerika memang meningkat. ekspor keada
dan Mexico naik tajam. Namun impornya
juga bertumbuh growing. Defisit dengan
Meksiko itu misalnya ya melonjak dari
1,7 miliar tahun 93 ini naik jadi 15,8
miliar pada tahun 2000 dalam 7 tahun
naik dari 1,7 miliar jadi 15,8 miliar.
Sementara itu masuknya Tiongkok ke WTO
tahun 2001 ini mempercepat impor barang
murah terutama manufaktur. Pada tahun
1992 defisit perdagangan Amerika itu R9
miliar atau hanya sekitar 0,6% dari GDP.
Tapi pada akhir masa Clinton di tahun
2000 itu defisit membengkak jadi
miliar atau 3,7%. dari GDP dan hal ini
didorong oleh boom ekonomi yang
meningkatkan konsumsi dan impor. Jadi
ingat ya ketika pertumbuhan ekonomi
Amerika ini booming, konsumsinya juga
otomatis naik sehingga impornya juga
naik. Defisit perdagangan ini mencapai
puncaknya pada tahun 2006 di level 760
miliar dolar atau 5,5% GDP. Terutama
karena impor dari Tiongkok yang melonjak
setelah bergabung dengan WTO. Meski
sempat turun selama resesi tahun 2008,
tapi defisit itu tetap tinggi berkisar
antara 400 sampai 500 miliar dolar per
tahun di eranya Obama. Sampai tahap ini
saya harap sahabat Akela ingat
penjelasan saya mengenai Trivin dilema
yang sudah dikemukakan Robert Trivin di
era tahun 60-an itu bagi Amerika selaku
penerbit World Reserve Currency, mata
uang US Dollar yang digunakan sebagai
mata uang global, mata uangnya
perdagangan internasional.
Current account deficit itu adalah
konsekuensi yang harus dia
alami. Economic boom yang dialami
Amerika juga mengalir ke negara-negara
produsen dalam bentuk current account
surplus.
Nah, Trump menyoroti defisit ini sebagai
masalah besar dengan cara meluncurkan
perang dagang dengan Tiongkok dan
renegosiasi NAFTA menjadi USMCA di tahun
2018. Namun defisitnya tetap besar
mencapai 576 miliar dolar pada tahun
2019. Pada tanggal 2 April 2025, Trump
yang kembali menjabat sebagai Presiden
Amerika setelah pelantikan pada 20
Januari 2025 mengumumkan kebijakan ini
dalam acara yang ia sebut sebagai
Liberation Day di Rose Garden White
House. Trump menemukan cela hukum dan
dia menggunakan kewenangan dari
International Emergency Economic Powers
Act atau IIEPA.
tahun
1977. Dengan undang-undang ini, Trump
mendeklarasikan keadaan darurat
nasional terkait defisit perdagangan
sehingga memungkinkan dia untuk
memberlakukan tarif tanpa persetujuan
kongres.
Kebijakan ini merupakan bagian dari
janji kampanyenya untuk mengembalikan
keadilan perdagangan katanya dan
mengurangi ketimpangan dengan mitra
dagang Amerika. Nah, nanti coba dilihat
yang dimaksud oleh Trump ini
sesungguhnya apa. Tapi sebelum itu, coba
bandingkan pemikiran Trump ini dengan
Trifin dilema.
Current account
deficit lagi-lagi adalah konsekuensi
yang tidak bisa ditolak dari negara
penerbit World's reserve currency,
negara sumber likuiditas dunia. Trump
seringki menuding Tiongkok itu melakukan
currency manipulation, yakni dengan
melemahkan nilai mata uang yuan dengan
tujuan produk-produk Tiongkok menjadi
sangat murah dalam mata uang US Dollar.
Yang dimaksudkan Trump adalah periode
tahun 93 hingga 95 di mana kursi CNY
memang diedevaluasi dari kisaran 5,8
yuan per dolar menjadi 8,7 yuan per
dolarnya. Memang hal ini sempat membuat
produk Tiongkok menjadi sangat
kompetitif dan membuat lonjakan surplus
pada neraca perdagangannya. Sejak itu,
PBOC memang mengunci nilai CNY di
kisaran 8,3 y per dolar. Namun sejak
tahun 2005, Tiongkok nampak sudah
mengakhiri pack CNY terhadap US Dollar
dan membiarkan yuan menguat terhadap
dolar bahkan hingga mencapai kisaran 6 y
per dolar. Akan tetapi karena deflasi
sekarang melemah lagi menjadi kisaran
7,35 yuan per dolar. Nah, sekarang ayo
kita bicara tentang reciprocal tarif.
Ada dua hal yang sangat fundamental dan
sangat berisiko dalam reciprokal tarif
yang diumumkan Trump pada tanggal 2
April. Yang pertama adalah berbeda
dengan kenaikan tarif sebelumnya. Di
mana di bagian pertama sudah saya
jelaskan bahwa kalau dulu itu hanya
terbatas pada produk tertentu dari
Tiongkok, Meksiko, dan Kanada. Tapi kali
ini ini berlaku untuk semua produk dari
seluruh dunia. Wah, ini luar biasa. Dan
ini adalah daftar pengenaan resiprokal
tarif atas semua negara-negara di dunia.
Bahkan termasuk Indonesia ini dikenakan
tarif impor sebesar 32% dari nilai
barang yang diimpor Amerika dari
Indonesia.
Pertanyaannya ini angka 32% asalnya dari
mana? Jawabnya oh itu adalah 50% dari
tarif impor yang dikenakan pemerintah
Indonesia atas barang-barang yang
diimpor Indonesia dari Amerika. Yakni
64%.
Pertanyaannya selanjutnya dari mana itu
angka
64%? Emangnya beneran Dirjen Bea Cukai
mengenakan bea masuk impor 64% atas
semua barang dari Amerika? Guna menjawab
hal ini, saya mengunduh dokumen resmi
langsung dari Office of the United
States Street Representative. Dan
berikut ini dokumennya. Dalam dokumen
berjudul Reciprocal Tarif Calculation
nampak definisi resmi White House
mengenai apa itu tarif reciprokal.
Reciprocal tarifs are calculated as the
tarif rate necessary to balance
bilateral trade deficits between US and
each of our trading partners. Dengan
demikian, resiprokal tarif itu dihitung
sebagai tarif yang diperlukan guna
menyeimbangkan defisit perdagangan
bilateral antara Amerika dengan mitra
dagangnya. Dengan demikian, sahabat
Akela semua, Trump ingin menghilangkan
neraca perdagangan defisit dan juga
menghilangkan trade surplus pada mitra
dagangnya. Itu berarti ini bukan tarif
yang dikenakan oleh Dirjen Bea Cukai,
melainkan tarif yang harus diterapkan
oleh pemerintah Amerika apabila mereka
ingin
mengurangi permintaan masyarakat Amerika
akan produk impor dari Indonesia
sehingga trade surplus Indonesia
terhadap Amerika itu hilang. Dan dengan
demikian neraca perdagangan Amerika
terhadap Indonesia tidak defisit lagi.
Dan Trump Administration mengeluarkan
sebuah formula ini. Dia banyak pakai
simbol Yunani ya. Saya akan coba
jelaskan ya. T I = Xi - mi / ε * V * MI.
TUI itu adalah besarnya kenaikan tarif
resiprokal yang diperlukan guna
menghilangkan trade defisit. Xi adalah
nilai ekspor Amerika ke negara tersebut
atau dalam hal ini negara I. Berarti MI
adalah nilai impor Amerika dari negara I
tersebut. Epsilon itu adalah elastisitas
impor terhadap harga produk impor.
Sementara V adalah proporsi impor tarif
yang direfleksikan pada harga produk
impor. Kemudian dokumen ini juga
menyebutkan nilai epsilon ditetapkan
sebesar 4 sementara V = 0,25. Lantas
pertanyaan saya adalah lah ini angka 4
ini hitung-hitungannya dapat dari mana?
Kemudian angka 0,25 ini juga dapatnya
dari mana?
Ternyata jawabnya adalah karena 4 * 1/4
itu 0,25 itu 1/4. Jadi 4 * 1/4 itu sama
dengan 1 alias saling meniadakan. Dengan
demikian, besaran impor tarif yang
diperlukan guna menghilangkan defisit
perdagangan Amerika terhadap negara I
tersebut adalah sebesar selisih ekspor
dikurangi impor Amerika terhadap negara
I dibagi dengan besarnya nilai impor
Amerika dari negara tersebut. Karena
itu, coba hitung sekarang trade defisit
Amerika terhadap Tiongkok adalah
295,4 miliar dolar dan total impor
Amerika dari Tiongkok adalah
438,95 miliar. Jika kita bagi kedua
angka ini maka hasilnya adalah 67%.
Karena itu guna menurunkan defisit
perdagangan Amerika terhadap Tiongkok
sebesar 50%, Amerika perlu menerapkan
tarif sebesar 50% di* 67% dan itu adalah
34%. 2 hari sesudah itu, Tiongkok
mengumumkan balasan tarif resiprokal
atas produk-produk impor asal Amerika di
Tiongkok yang besarnya juga 34%. Pada
tanggal 7 April 2025, Trump membalas
kembali dengan ancaman jika
selambat-lambatnya 8 April 2025 Tiongkok
tidak membatalkan tarif impor balasannya
sebesar 34% di atas, maka Amerika akan
menambahkan tambahan tarif sebesar 50%
yang akan diberlakukan secara efektif
pada tanggal 9 April 2025. Jangan lupa
Tiongkok itu sudah dikenakan tarif 20%
kemudian ditambah 34% jadi
54%. Kalau ditambah 50% lagi jadi 104%.
Dan di atas semuanya itu, Trump juga
mengatakan bahwa semua permintaan
diskusi Tiongkok sehubungan dengan tarif
resiprokal ini dihentikan semua
dierminate. Tiongkok kemudian membalas
lagi dengan mengatakan bahwa mereka akan
terus melakukan perlawanan hingga titik
akhir terhadap tarif tambahan tersebut.
Akibatnya kini produk Tiongkok dikenakan
tarif sebesar 104%.
Pasar merespon semua kejadian ini dengan
baris yang sangat tajam. SP 500 sempat
mengalami penurunan hingga
21,39%. Nasdak 26,55% yang artinya sudah
masuk zone be market. Bitcoin sejak awal
tahun sudah turun
31,98% yang artinya juga be market.
Etherium apalagi - 62,99%.
IHSG sejak bulan Oktober 2024 sudah
berish dan hingga kini sudah min
25,58%. Banyak orang kini berharap The
FET akan mampu membalikkan situasi ini
seperti crash SMP 500 dan NASDAK di
tahun 2020 akibat
COVID-19. Di mana pada waktu itu FET
mengucurkan quantitatif eing atau Q atau
defet cetak uang. Sahabat Akela, dalam
tahap ini jangan berharap Qi. Qi itu
adalah langkah pamungkas yang baru
diambil defet ketika ancaman resesi
masih terbuka lebar. Kendati pun suku
bunga sudah dipangkas hingga 0,25%.
Sekarang ini angka penganggurannya
sangat rendah dan inflasinya itu masih
belum mencapai targetnya The FET. Suku
bunga juga masih tinggi karena itu tidak
mungkin
Qi. Nah, sahabat Akela mengenai The FET
saya akan buatkan video tersendiri
khusus tentang antisipasi The FET karena
ini ranahnya sudah beda lagi. Ingat the
FET itu adalah lembaga moneter. Dia
independen. Dan seluruh penjelasan saya
dari awal mengenai tarif resiprokal ini
adalah kebijakan fiskal pemerintah.
Dalam hal ini adalah Trump
administration.
otoritas moneter itu terpisah dan
independen dari otoritas fiskal. Nah,
sahabat Akela, semoga video ini bisa
membantu Anda dalam memahami resiprokal
tarif Trump dan perang dagang 2025 ini
dengan lebih baik. Dan jangan lupa
khusus bagi subscribers channel ini,
Anda bisa konsultasi sehubungan dengan
investasi ataupun trading Anda langsung
dengan saya dan Bapak Hendra Martonoim,
pencipta timu quantitative Trading
System melalui Akela live streaming yang
kami selenggarakan tiap hari Kamis pukul
19.30 WIB di channel ini. Karena itu,
pastikan diri Anda sudah subscribe, klik
tombol like-nya, dan silakan share ke
teman-teman Anda yang membutuhkan.
Semoga bermanfaat semuanya. Sukses
selalu dan sampai jumpa.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:50 UTC
Categories
Manage