Trump Liberation Day, The Beginning of the World's Nightmare? (Part 1) : The Dark History of the ...
dr-JQY6GX-Y • 2025-04-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Jadi konsekuensi tanggung jawab negara
penerbit World's Reserve Currency pada
dasarnya adalah menyediakan sekaligus
menjamin likuiditas pasar konsumen
global dan pasar investasi global. Akan
tetapi ini akan berakibat terjadinya
current account defisit yang semakin
lama semakin bertambah besar seiring
dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara
lain di dunia.
Oke, sahabat Akela. Pada tanggal 2 April
2025 lalu, hari Rabu, Trump mengumumkan
tarif resiprokal untuk seluruh negara di
dunia. Dia juga menyebut hari itu
sebagai Liberation Day.
Sejak itu bursa saham seluruh dunia
termasuk juga Wall Street sendiri itu
crash. Saya pun benar-benar tidak
menyangka bahwa Trump mengambil
kebijakan perang tarif yang sedemikian
ekstrem.
Guna menjelaskan resiprokal tarif ini,
saya perlu menjelaskan berbagai fakta
sejarah serta beberapa landasan teori
makroekonomi. Dan karena itu, mohon maaf
video ini jadi rada panjang dan terpaksa
harus saya bagi menjadi dua bagian dan
kita mulai dari bagian yang pertama.
Sejarah gelap Smooth Holy Act berulang.
Kebijakan resiprokal tarif Trump ini itu
sedemikian ekstrem karena bila
dibandingkan dengan kebijakan tarif
sebelumnya di mana ia hanya menerapkan
pada beberapa produk tertentu saja dan
terhadap negara tertentu saja dalam hal
ini adalah Tiongkok, Meksiko dan Kanada.
Namun kali ini Trump menerapkannya pada
semua produk dan semua negara di dunia.
Vietnam contohnya dikenakan tarif impor
sebesar
46%, Tiongkok 34% pada awalnya, Taiwan
32% dan Indonesia juga
32%. Khusus Tiongkok 34% ini di atas 20%
yang sudah dikenakan sebelumnya. Pada
video sebelumnya berjudul Amerika versus
Tiongkok, perang dagang ronde 2 dimulai.
Saya sudah menjelaskan dampak perang
tarif tersebut terhadap Amerika Serikat
dan Tiongkok. Namun kali ini berbeda.
Tarif resiprokal ini berlaku untuk semua
produk dari semua negara di dunia yang
diekspor ke Amerika. Trump menyebutnya
sebagai tarif resiprokal. Sehubungan
dengan itu, saya perlu jelaskan
sejarahnya bahwa selain Trump zaman
dahulu kala juga ada Presiden Amerika
yang juga memberlakukan kebijakan tarif
resiprokal mirip seperti yang dilakukan
Trump sekarang ini. Dan yang saya
maksudkan adalah zaman Presiden Herbert
Huve di tahun 1930.
Undang-undangnya dinamai dari dua
sponsor utamanya dan itu adalah Senator
Rich Mood dari Uta dan anggota DPR atau
House of Representative Willis Se Holly
dari Oregon. Dua-duanya anggota Partai
Republik. Awalnya rancangan
undang-undang ini dirancang untuk
membantu petani dengan menaikkan tarif
pada produk pertanian
impor. Namun selama proses legislasinya
di kongres, ada banyak tekanan dari
berbagai kelompok industri yang
menyebabkan terjadinya perluasan cakupan
tarif ke sektor manufaktur dan
barang-barang lainnya. Akibatnya
rancangan undang-undang tersebut berubah
menjadi kebijakan proteksionisme yang
jauh lebih luas daripada hanya sekedar
sektor pertanian
saja. Herbert Hoover yang menjabat
sebagai Presiden Amerika sejak
1929 memainkan peran kunci dalam
kelahiran Smooth Holy Act.
Meskipun sikapnya terhadap undang-undang
ini ambivalen, namun selama kampanye
Presiden tahun 1928, Huve berjanji untuk
mendukung petani dengan kebijakan tarif.
Tetapi ia menginginkan pendekatan yang
lebih terukur dan fleksibel. Seperti
contohnya memberikan Komisi Tarif
Amerika Serikat wewenang lebih besar
untuk menyesuaikan tarif berdasarkan
kebutuhan. Jadi enggak langsung dihantem
gitu. Namun ketika rancangan
Undang-Undang Smooth Holly sampai di
mejanya, tekanan politik dari Partai
Republik dan Kongres itu sangat kuat.
Meskipun lebih dari 1000 ekonom
menandatangani petisi yang
memperingatkan bahwa tarif tinggi akan
memperburuk ekonomi global dan memicu
retaliasi pembalasan dari negara lain,
Huve tetap menandatangani undang-undang
tersebut pada bulan Juni tahun 1930.
Smooth Holy Act memiliki dampak buruk
yang sangat luas. Banyak negara seperti
Kanada dan negara-negara Eropa membalas
dengan menaikkan tarif mereka sendiri
terhadap barang Amerika yang menyebabkan
perdagangan internasional langsung
merosot
tajam. Menurut data historis,
perdagangan dunia turun sekitar 66%
antara 1929 sampai 1934.
Ekspor Amerika sendiri merosot dari 5,2
miliar pada tahun 1929 menjadi hanya 1,7
miliar pada tahun
1933. Penurunan perdagangan ini
memperburuk depresi besar atau great
depression yang sebenarnya sudah mulai
berjalan dengan stock market crash yang
terjadi di Wall Street pada tahun 1929.
Negara-negara yang bergantung pada
ekspor ke Amerika Serikat seperti
contohnya Jerman dan Jepang mengalami
kontraksi ekonomi yang paling parah.
Bank-bank Amerika juga menarik pinjaman
dari Eropa menyebabkan krisis perbankan
di negara-negara seperti Jerman dan
Austria pada tahun 1931.
Jerman sendiri atau lebih tepatnya
Republik War yang sudah terpuruk akibat
reparasi perang dunia pertama
berdasarkan perjanjian
Versaye sangat rentan terhadap guncangan
ekonomi global. Ketika Great Depression
berlangsung, ekspor Jerman yang
merupakan pendorong utama pemulihan
ekonominya di tahun
1920-an menyusut drastis karena
proteksionisme global yang dipicu oleh
Smutth Holy EG ini. Krisis perbankan
tahun 1931 yang diperparah oleh
penarikan pinjaman Amerika menyebabkan
pengangguran langsung melonjak hingga
lebih dari 30% pada tahun
1932 dengan jutaan orang kehilangan
pekerjaan dan tabungannya. Kondisi
ekonomi yang memburuk ini menjadi ladang
subur bagai satu partai yang masih muda
sebetulnya dan namanya adalah partai
nazi dipimpin oleh Adolf Hitler. Nazi
memanfaatkan kemarahan rakyat terhadap
kemiskinan, pengangguran, dan penghinaan
Versae untuk mendapatkan dukungan.
Pada tahun 1933, Hitler menjadi kanselir
dan Jerman mulai mengejar kebijakan
ekspansionismenya untuk mengatasi krisis
ekonominya itu. Hitler percaya bahwa
Liberaum di Eropa Timur akan menyediakan
sumber daya dan lahan untuk mengatasi
keterbatasan ekonomi Jerman.
Krisis ekonomi global mempercepat
militarism Jerman yang akhirnya memuncak
dengan invasi ke Polandia pada tanggal 1
September 1939. Dan ini adalah cikal
bakal dimulainya Perang Dunia Kedua. Di
Jepang sendiri, Great Depression juga
memiliki dampak yang sangat
menghancurkan. Jepang bergantung pada
ekspor sutra dan barang manufaktur ke
Amerika. Akan tetapi, Smooth Holy Act
dan proteksionisme lainnya menutup pasar
utama ini. Ekspor sutra Jepang ke
Amerika misalnya turun lebih dari 50%
antara tahun 1929 hingga 1931.
Sementara itu, populasi Jepang yang
tumbuh cepat dan keterbatasan sumber
daya alam domestik memperburuk tekanan
ekonomi, pengangguran langsung melonjak
dan kerusuhan sosial langsung meletus di
tingkat pedesaan.
Pemimpin militer Jepang melihat ekspansi
teritorial sebagai satu-satunya solusi.
Mereka berargumen bahwa menguasai
wilayah yang kaya akan sumber daya alam
seperti Mansuria yang merupakan bagian
dari Tiongkok akan memberikan Jepang
akses ke bahan baku seperti batu bara
dan biji besi serta pasar baru. Pada 18
September 1931, Jepang merekayasa
insiden mukden sebagai alasan untuk
menginvasi Mancuria mendirikan negara
boneka Manchuko pada tahun
1932. Invasi ini didorong oleh kebutuhan
ekonomi yang diperpara oleh runtuhnya
perdagangan global akibat great
depression dan kebijakan seperti smooth
holy act.
Setelah invasi Mansuria pada tahun 1931,
Jepang terus memperluas ambisi
imperialisnya untuk mengamankan sumber
daya dan dominasi regional. Pada tahun
1937, Jepang melancarkan perang Tiongkok
Jepang kedua dengan full scale invasion
ke Tiongkok. Menargetkan wilayah kaya
sumber daya untuk mendukung ekonomi dan
militernya.
Jepang membutuhkan minyak, karet, timah,
dan bahan baku lainnya yang sebagian
besar tidak tersedia di kepulauan
Jepang. Amerika Serikat yang saat itu
masih bersikap netral dalam konflik
global mulai khawatir dengan agresivitas
Jepang. Sebagai respons, Amerika
memberikan dukungan ekonomi pada
Tiongkok melalui pinjaman dan mulai
membatasi ekspor strategis ke Jepang.
Ketegangan meningkat pada tahun 1940
ketika Jepang menandatangani pakta
tripartit dengan Jerman dan Italia
membentuk aliansi Poros dan menduduki
IndoCina, Prancis untuk mengamankan
akses ke sumber daya Asia Tenggara. Pada
bulan Juli 1941, sesudah Jepang
menduduki IndoCina Selatan, Amerika
bersama Inggris dan Belanda
memberlakukan embargo minyak yang ketat
terhadap Jepang. Ini merupakan pukulan
besar karena Jepang mengimpor lebih dari
80% minyaknya dari Amerika. Tanpa minyak
bumi, mesin perang Jepang termasuk
angkatan laut dan industri militernya
akan lumpuh dalam hitungan bulan.
Cadangan minyak Jepang diperkirakan
hanya cukup untuk 18 hingga 24 bulan
dalam kondisi normal dan akan lebih
cepat habis jika perang berlanjut.
Pemimpin militer Jepang akhirnya
menghadapi dilema, mundur dari ekspansi
dan kehilangan muka serta sumber daya
atau merebut wilayah kaya minyak di Asia
Tenggara, terutama Hindia, Belanda dan
itu adalah negara kita sekarang ini,
Indonesia yang saat itu dikuasai Belanda
di bawah pengaruh sekutu. Namun mereka
tahu bahwa langkah ini akan memicu
konflik langsung dengan Amerika Serikat
yang memiliki kepentingan strategis di
kawasan lautan Pasifik termasuk Filipina
yang saat itu merupakan wilayah Amerika
Serikat. Jepang menyadari bahwa Amerika
Serikat dengan armada pasifiknya yang
berbasis di Pearl Harubber Hawaii adalah
ancaman terbesar bagi ekspansi mereka.
Laksamana Isoroku Yamamoto, perencana
utama serangan berargumen bahwa
satu-satunya cara untuk memastikan
keberhasilan di Asia Tenggara adalah
dengan melumpuhkan kekuatan angkatan
laut Amerika di Pasifik itu dengan cara
meluncurkan serangan mendadak. Tujuannya
bukan untuk menaklukkan Amerika, tapi
untuk memberikan waktu bagi Jepang untuk
mengkonsolidasikan wilayah yang direbut
di wilayah itu sebelum Amerika bisa
pulih. Pada musim gugur 1941, sesudah
negosiasi diplomatik dengan Amerika
gagal, terutama karena Amerika menuntut
Jepang menarik diri dari Tiongkok dan
IndoCina, Jepang memutuskan perang
adalah satu-satunya jalan. Pada tanggal
26 November 1941, armada serang Jepang
yang teri dari enam kapal induk berlayar
diam-diam menuju Hawai. Serangan ini
dirancang untuk menghancurkan
kapal-kapal perang Amerika dan pangkalan
udaranya di Pearl Harbor. Memberikan
Jepang keunggulan sementara di kawasan
Pasifik.
Pada pagi hari tanggal 7 Desember 1941,
Jepang melancarkan serangan mendadak
dengan lebih dari 350 pesawat yang
diluncurkan dari kapal induk. Dalam
waktu 2 jam mereka menenggelamkan atau
merusak parah 8 kapal perang Amerika
termasuk USS Arizona, menghancurkan
hampir 200 pesawat dan menewaskan lebih
dari 2.400 orang. Meskipun serangan ini
sukses secara taktis, Jepang gagal
menghancurkan kapal induk Amerika yang
kebetulan sedang tidak berada di
pelabuhan dan fasilitas bahan bakar yang
kemudian menjadi kunci bagi pemulihan
Amerika. Serentak dengan Pearl Harbor,
Jepang juga melancarkan invasinya ke
Malaya, Filipina, Guam, dan wilayah lain
di Asia Pasifik. menargetkan sumber daya
strategi sekutu ini menunjukkan bahwa
Pearl Harbor adalah bagian dari strategi
yang lebih luas untuk mendominasi
kawasan tersebut. Pada 11 Desember 1941,
Jerman dan Italia sekutu Jepang dalam
fakta tripartit mendeklarasikan perang
terhadap Amerika sehingga menyeret
Amerika sepenuhnya ke perang dunia kedua
di dua front. Di Pasifik melawan Jepang
dan di Eropa melawan Poros.
Jerman dan Italia. Serangan Palhabet
tidak hanya membawa Amerika ke dalam
konflik, tetapi juga mengubah dinamika
perang dengan kekuatan industri dan
militer Amerika yang akhirnya berhasil
membalikkan keadaan melawan Poros.
Sementara itu, pasca invasi Polandia
pada tahun 1939 dan awal keberhasilan
Bitch Creek, Jerman menguasai sebagian
besar Eropa pada tahun 1941.
Namun keputusan fatalnya adalah
menginvasi Uni Soviet melalui operasi
Barbarosa pada bulan Juni 1941 membuka
Front Timur yang sangat melelahkan.
Kekalahan Jerman di Stalingrad itu
menjadi titik balik dengan Jerman
kehilangan ratusan ribu tentara dan
momentum. Pada saat yang bersamaan,
masuknya Amerika ke perang pada tahun
1941 memperkuat sekutu. Pada 6 Juni
1944, pendaratan DD di Normandia membuka
Front Barat memaksa Jerman bertempur
dari dua sisi. Kekuatan udara sekutu
menghancurkan kota-kota Jerman.
Sementara ekonomi Reich runtuh akibat
blokade, kekurangan sumber daya, dan
produksi yang terganggu. Pada April
1945, tentara merah Soviet mengepung
Berlin. Hitler yang semakin paranoid dan
terisolasi di banker bawah tanahnya
menolak untuk menyerah. Pada tanggal 30
April 1945, saat kekalahan sudah tak
terhindarkan, ia bunuh diri bersama
istrinya, Eva
Brown. Jerman akhirnya menyerah tanpa
sarat pada tanggal 8 Mei 1945.
Sementara itu, guna mengakhiri perang
dunia kedua, Presiden Harry Estruman
yang menggantikan Roosevelt setelah
kematiannya pada April
1945 menghadapi dilema satu invasi darat
ke Jepang atau Operation Downfall itu
diperkirakan akan menewaskan ratusan
ribu tentara Amerika dan jutaan warga
Jepang
atau menggunakan satu buah super bom
yang baru dikembangkan melalui Manhattan
Project. di bawah Openheimer di mana
akhirnya langkah yang kedua ini yang
dipilih pada tanggal 6 Agustus
1945 Amerika menjatuhkan bom nuklir
pertama di kota Hiroshima dan pada
tanggal 9 Agustus 1945 Amerika juga
menjatuhkan bom nuklir keduanya di
Nagasaki. Hal ini akhirnya memaksa
Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan
tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus
1945 yang ditandatangani secara resmi
pada tanggal 2 September 1945.
Nah, menjelang berakhirnya Perang Dunia
Kedua pada bulan Juli
1944, 730 delegasi dari 44 negara sekutu
berkumpul di Breton Woods, New
Hampshireye, Amerika untuk merancang
sistem ekonomi baru. Ada dua tokoh
kunci, yakni John Menet Kins dari
Inggris dan Harry Dexter White dari
Amerika yang memimpin conference
tersebut. Brattonwoods agreement
akhirnya menetapkan beberapa poin
penting. Yang pertama dolar Amerika
Serikat sebagai world reserve currency
atau mata uang cadangan dunia di mana
nilai dolar dipatok pada emas atau gold
standard dengan nilai
35 per troy ons dan mata uang lain
dipatok pada dolar menciptakan nilai
tukar tetap yang dapat disesuaikan. Tapi
semua mata uang peg stabil semua flat.
Yang kedua, selain itu Brighton Woods
juga melahirkan pendirian IMF dan Bank
Dunia. IMF dibentuk untuk mengawasi
stabilitas moneter dan memberikan
pinjaman jangka pendek kepada negara
yang membutuhkan. Sedangkan Bank Dunia
fokus pada pembangunan dan rekonstruksi
pasca perang.
Yang ketiga, kerja sama ekonomi.
Negara-negara diwajibkan menjaga
cadangan divisa dan bekerja sama untuk
mencegah devaluasi kompetitif.
Pada sekitar tahun 1960-an, ada seorang
ekonomia Amerika, Robert Triffin
namanya. Di mana dia menjelaskan bahwa
sistem Brighton Woods yang berbasis gold
standard atau dolar yang berbasis emas
menggunakan standar emas, suatu saat
dipastikan akan pasti gagal. Apa yang
dikemukakan Robert Rin sesungguhnya
sangat erat hubungannya dengan dalil
moneter yang sangat terkenal. Visers
equation of exchange yang ditemukan oleh
Irving
Feers. Rumusnya adalah M * V = P * T. Di
mana M adalah jumlah uang yang beredar
atau money supply.
V adalah kecepatan peredaran uang atau
velocity of money. Palah tingkat harga
atau price level. Dan T adalah volume
transaksi atau output
real transaction per output. Persamaan
ini menunjukkan bahwa total nilai
transaksi dalam ekonomi yaitu adalah m *
v sama dengan nilai nominal barang dan
jasa yang dihasilkan yaitu adalah p * t.
Dalam konteks moneter, persamaan ini
menggambarkan bagaimana jumlah uang yang
tersedia dan kecepatan peredarannya
mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi. Jadi, total output barang dan
jasa yang diproduksi dunia itu adalah
sama dengan
total uang dan kecepatan transaksinya M
* V. Sehubungan dengan itu, Amerika
Serikat selaku penerbit World's Reserve
Currency memiliki konsekuensi yang
dilematis. Yang pertama, sebagai
penerbit World Reserve Currency, Amerika
Serikat harus menyediakan likuiditas
global dalam jumlah yang cukup untuk
pertumbuhan ekonomi negara-negara di
seluruh dunia.
Konsekuensi ini akan menempatkan Amerika
Serikat sebagai negara konsumen dan
sekaligus membuat neraca perdagangannya
senantiasa defisit yang berarti jumlah
ekspornya itu selalu lebih kecil
dibandingkan jumlah impornya.
Di samping itu, Amerika juga harus aktif
melakukan foreign direct investment
serta menyelenggarakan berbagai pasar
yang memperdagangkan instrumen investasi
global. Dalam hal ini adalah US
Treasuries dan bursa saham yang bisa
diakses investor di seluruh dunia.
Jadi konsekuensi tanggung jawab negara
penerbit World's Reserve Currency pada
dasarnya adalah menyediakan sekaligus
menjamin likuiditas pasar konsumen
global dan pasar investasi global. Akan
tetapi ini akan berakibat terjadinya
current account defisit yang semakin
lama semakin bertambah besar seiring
dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara
lain di dunia.
Current account deficit yang semakin
besar dapat menimbulkan krisis
kepercayaan global terhadap mata uang
World Reserve Currency yang dalam hal
ini adalah US Dollar yang diterbitkan
oleh Amerika Serikat. Karena itu
kuncinya adalah menjaga keseimbangan
antara penyediaan likuiditas global
dengan pertumbuhan current account
defisit. Defisit itu enggak apa-apa,
tapi kecepatan pertumbuhan defisit
jangan ngebut.
tapi diatur,
dikontrol. Semakin besar likuiditas yang
dikucurkan, current account defisitnya
juga semakin besar sehingga dapat
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap
mata uang global itu
sendiri. Sebaliknya semakin
kecil current account deficit, berarti
aliran likuiditas global yang mengalir
ke negara-negara di seluruh dunia itu
juga semakin berkurang. yang berpotensi
mengakibatkan penurunan atau bahkan
anjloknya perdagangan internasional.
Di pihak lain, negara-negara selain
penerbit World Reserve Currency kita
sebut sebagai pengguna mata uang global,
negara-negara ini adalah negara-negara
produsen yang sibuk membangun kapasitas
produksi di mana hasil dari kelebihan
kapasitas produksinya ini digunakan
untuk ekspor. Negara-negara ini memiliki
current account surplus terhadap Amerika
Serikat yang berarti terjadi transfer of
wealth dari Amerika. ke negara-negara
produsen. Ya, lihat aja pertumbuhan
ekonomi suatu negara kan seringki
diwakili oleh GDP gross domestic
product. GDP ini terdiri dari empat
komponen, yakni C + G + I + net trade
balance atau ekspor dikurangi impor X -
M. C itu adalah konsumsi rumah tangga, G
spending atau belanja pemerintah. I
adalah investasi. X - M adalah neraca
perdagangan ekspor dikurangi impor. Jika
neraca perdagangan surplus, maka
otomatis negara yang surplus akan
semakin
sejahtera. GDP-nya naik, sementara
negara yang defisit akan menanggung
beban ekonomi yang dialirkan
negara-negara yang surplus-surplus ini
tadi. Untuk menanggulangi beban ini,
Amerika Serikat harus menyelenggarakan
produk dan pasar investasi sehingga
sebagian aliran dana yang keluar ini
tadi balik kembali lagi ke Amerika dalam
bentuk investasi.
Pada akhir tahun 1950-an dan awal
1960-an, Trivin memperingatkan bahwa
sistem Bratton Woods yang menjadikan
dolar Amerika sebagai mata uang cadangan
global atau World Reserve Currency yang
dipatok pada emas seharga 35 perroy ons
mengandung
kontradiksi fatal atau yang populer
disebut sebagai Trifin dilema.
Nah, Sahabat Akela, Trivin dilema atau
juga populer dengan sebutan paradoks
trivin adalah bagian fundamental yang
sangat penting guna menjelaskan
kekeliruan landasan pemikiran tarif
resiprokal Trump ini. Seperti apa
penjelasan detailnya? Silakan simak pada
video bagian yang kedua.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:49 UTC
Categories
Manage