Indonesia in the Shadow of China's Deflation or Japan's Recession
f1yue1yb2DQ • 2024-03-12
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
selama ini Tiongkok adalah Mitra dagang
Indonesia yang
terbesar itu sebabnya Bagi kalangan
pengusaha di tanah air pesan saya adalah
harap waspada terhadap kondisi deflasi
Tiongkok
[Musik]
ini sahabat akela dalam video Sebelumnya
saya menjelaskan tentang adanya risiko
deflasi Tiongkok yang bisa jadi
mengancam berbagai industri lokal kita
berdasarkan data yang dirilis resmi oleh
National bureau of statistic of China
sendiri Tiongkok ini sudah mulai masuk
deflasi itu sejak Juli tahun 2023 lalu
di mana saat itu inflasi tiongko minus
0,3% dan hingga Januari 2024 lalu
kondisinya itu semakin buruk yakni
0,8% bilamana dibandingkan dengan bulan
yang sama tahun
sebelumnya bagi yang belum paham deflasi
itu apa dalam makroekonomi deflasi ini
adalah kondisi di mana harga harga
barang dan jasa secara umum turun secara
berkesinambungan terus-menerus dalam
jangka waktu yang cukup lama Kendati pun
kelihatannya justru baik bagi anda dan
saya sebagai konsumen namun bagi
produsen ini adalah kondisi yang paling
mengerikan karena itu akan memaksa
mereka untuk berlomba-lomba menurunkan
harga produk mereka alias perang harga
yang pada akhirnya menggerus keuntungan
perusahaan dan berujung tutupnya
perusahaan dan akhirnya PHK massal pun
tidak dapat lagi
dihindari saya sudah membahas secara
mendetail mengenai deflasi Tiongkok ini
pada video yang ini
link juga akan saya berikan pada
deskripsi dan tips dari saya supaya Anda
tidak ketinggalan video-video terbaru
dari channel ini pastikan diri Anda
sudah subscribe di channel ini aktifkan
alertnya dan bilamana video ini
bermanfaat mohon dukungannya dengan Klik
tombol like-nya juga oke sebagaimana
saya sudah jelaskan juga dalam video
tersebut bahwa dalam dunia
makroekonomi deflasi adalah kondisi
ekonomi yang paling mengerikan dan
sangat sulit dikendalikan itu sebabnya
guna menanggulangi hal ini ada berbagai
cara yang dilakukan pemerintah tiongko
di anaranya mulai dari menurunkan giro
wajib minimum dan itu adalah jumlah dana
minimum yang harus tersedia pada
bank-bank di Tiongkok penurunannya
adalah sebesar 50 basis po atau
0,5% sehingga ini akan memberikan
kemudahan bagi masyarakat yang
membutuhkan pinjaman dana tunai hingga
memberikan insentif pajak berupa
pengembalian value added tax atau PPN
dan pajak konsumsi bagi para
eksportir secara umum PPN di Tiongkok
ini besarnya adalah
13% dan pajak konsumsi itu variasi
tergantung jenis produknya dengan
demikian Seorang eksportir cukup dengan
jual barangnya ke luar negeri dengan
profit
0% atau bahkan sedikit rugi pun mereka
itu masih bisa untung dari restitusi
atau pengembalian pajak pertambahan
nilai dan pajak konsumsi atas
produk-produk yang
diekspor hal ini tentunya akan
berpotensi menggenjot ekspor Tiongkok
sehingga mencegah terjadinya Resesi
akibat deflasi yang
berkepanjangan namun hal ini juga
berarti bahwa harga barang-barangnya
menjadi lebih murah di luar negeri
dibandingkan di dalam negeri dan dalam
dunia ekonomi makro hal semacam ini
dikenal dengan istilah dumping
Policy dumping Policy sendiri bukanlah
hal yang baru ketika Jepang mengalami
spiral deflation di era
1990-an suatu yang oleh masyarakat
Jepang dikenal dengan sebutan
usinawareta junen atau the lost
Decade Jepang juga berupaya
mempertahankan ekonominya dengan
mengekspor deflasinya ke luar negeri
dengan cara damping pocy ini tadi dan di
saat ekonomi Tiongkok masih berjuang
menghadapi deflasi Spiral yang
menghantuinya kini ada berita bahwa
ekonomi Jepang juga mulai terpuruk dalam
jurang
Resesi berita ini heboh sekali ada
banyak pemberitaan mengenai hal ini
mulai dari media Global seperti Rus dan
the New York times hingga media lokal
seperti bisnis.com hingga cnbc
Indonesia sesudah saya telusuri ternyata
berita tentang Resesi Jepang ini berasal
dari data PDB atau GDP ya gross domestic
product kalau PDB produk domestik bruto
itu adalah bahasa Indonesianya data PDB
atau GDP Kuartal keemp Jepang yang
diumumkan pertengahan Februari lalu
menunjukkan angka
0,1% kuter on quarter alias bilamana
dibandingkan dengan quarter atau Kuartal
sebelumnya jadi kalau bicara quarter on
quarter berarti Kuartal ini dibandingkan
dengan Kuartal sebelumnya Kuartal itu
adalah Wulan ya 3 bulan di mana angka
pada Kuartal sebelumnya itu juga
menunjukkan angka negatif yakni Min
0,8% quarter on quarter dengan demikian
berarti PDB Jepang sudah terkontraksi
sepanjang dua Kuartal berturut-turut dan
Kebanyakan orang menyebut kondisi ini
sebagai Resesi atau technical
recession Seperti biasa saya ingin
mengajak anda untuk kritis Ayo kita uji
dulu apakah ada data lain yang menunjang
bahwa Jepang saat ini benar-benar
mengalami Resesi sebagaimana yang banyak
diberitakan media dan sama seperti
ketika kita menganalisa ekonomi Tiongkok
salah satu data yang paling mudah guna
mengkonfirmasi adanya Resesi itu adalah
angka pengangguran dan angka
pengangguran usia
muda coba Coba kalian pikirkan sebentar
jika ekonominya Resesi maka angka
pengangguran dan khususnya angka
pengangguran usia muda di Jepang
pastinya Naik dong untuk itu Mari kita
lihat datanya sekarang berdasarkan data
angka pengangguran di Jepang saat ini
berada di level
2,4% dan ini adalah level yang kurang
lebih sama dengan angka pengangguran
sebelum
covid-19 alias angka terendah sepanjang
sejarah Bagaimana dengan angka
pengangguran usia muda atau Youth
unemployment Anda bisa lihat sendiri
Youth unemployment di Jepang saat ini
berada di level
3,8% dan angka ini juga tergolong
terendah sepanjang sejarah Kenapa karena
hanya sedikit di atas titik terendahnya
yakni di level
3,3%. Kayaknya ada yang aneh nih nih
bilangnya Resesi tapi kok
penganggurannya rendah sekali hampir
semua orang pada bekerja enggak nampak
PHK massal yang biasanya terjadi pada
saat Resesi sebagaimana saya jelaskan di
awal Jepang pernah mengalami masalah
ekonomi parah akibat spiral deflasi dan
ini terjadi di tahun
1990-an jika Resesi terjadi di Jepang
maka terjadi an daya beli konsumen yang
berakibat inflasi negatif alias deflasi
data consumer spending Jepang saat ini
sudah naik hampir mendekati level pra
covid dan data ini juga sejalan dengan
data angka penjualan retil angka
penjualan rtail di Jepang bertumbuh
2,4% dibandingkan tahun
sebelumnya lantas Apakah ada deflasi
atau inflasi negatif kondisi inflasi
Jepang turun sudah mendekati level 2%
level ideal tidak nampak adanya inflasi
negatif atau deflasi seperti yang kita
lihat di Tiongkok nah supaya lebih jelas
saya akan membuka data inflasi mulai
dari tahun 2000 di
Jepang coba perhatikan deflasi di Jepang
terjadi sejak tahun 1990-an hingga tahun
2006 seperti yang tadi sudah saya
jelaskan periode ini dikenal dengan
sebutan usinawareta junen alias the lost
Decade kemudian di tahun 2008 sampai
2012 Jepang kembali terkena imbas krisis
subprime mortgage Amerika akibatnya
deflasi lagi dan di tahun 2012 hingga
tahun 2014 deflasinya berlanjut akibat
kena imbas krisis soverein De
negara-negara Uni Eropa khususnya Yunani
spany dan
itia kemudian di tahun 2020 kembali lagi
terjadi deflasi dan itu kita tahu semua
akibat pandemi
covid-19 Akan tetapi sekarang ini
sebagaimana kalian bisa lihat sendiri
inflasi Jepang
positif berada di level
2,2% mendekati level ideal 2% on ini
Arya ekonominya bertumbuh karena kalau
ada inflasi Positif itu adalah ciri-ciri
ekonomi yang
bertumbuh jadi angka pengangguran dan
angka pengangguran usia muda terendah
sepanjang masa consumer spending
mendekati level provid inflasi positif
rendah di level
2,2% semua data-data ini
bertentangan dengan data Jepang
mengalami technical recession
karenaarter GDP neg selama du Kuartal
berturut-turut Oke Ayo kita periksa data
berikutnya ketika terjadi Resesi
maka laba perusahaan-perusahaan di
Jepang pastinya negatif atau merugi dong
bahkan sedemikian parahnya sehingga
banyak perusahaan yang bangkrut sehingga
karyawannya terpaksa di
PHK berdasarkan dataara agreat atau an
laba operasional perusahaan-perusahaan
di Jepang ini bahkan sempat menyentuh
all time high-nya pada pertengahan tahun
2023 hal ini sejalan dengan data indek
Nike 225 atau indeks saham gabungan yang
berisikan
225 saham unggulan di Osaka stock
exchange sudah menembus level
tertingginya sepanjang sejarah alias all
time high juga
nampaknya memang ada yang error nih di
satu pihak data quarterly GDP
menunjukkan adanya kontraksi dua Kuartal
berturut-turut yang mengindikasikan
terjadinya technical recession namun di
pihak lain data-data lainnya tuh
bertentangan angka pengangguran terendah
sepanjang sejarah consumer spending dan
angka penjualan rtail itu bertumbuh
bagus kemudian laba operasional
korporasi mencapai level tertinggi dan
indeks harga saham gabungan Nik 225
mencapai all time high-nya kunci jawaban
atas misteri Ini sebenarnya sudah pernah
saya ulas di salah satu video-video
akela di Tahun
2022 di mana saat itu quarterly GDP
Amerika juga mengalami angka negatif 2
quarter berturut-turut yang artinya
technical recession namun penjelasan
atas hal ini muncul dari nber
National bure Of Economic research yang
kemudian mendefinisikan bahwa Resesi
adalah penurunan aktivitas ekonomi
secara signifikan yang tersebar di
seluruh perekonomian dan berlangsung
lebih dari beberapa bulan dan Dengan
demikian tidak bisa sesederhana pokoknya
quarterly GDP negatif selama du Karter
berturut-turut berarti Resesi karena
jika diartikan seperti itu maka nantinya
anda akan sering sekali menjumpai adanya
Resesi dan tiba-tiba bulan berikutnya
atau quarter berikutnya tiba-tiba di
pulih sendiri dengan sendirinya tanpa
ada perubahan apa-apa saya sendiri
Akhirnya ketemu satu solusi paling
gampang supaya terhindar jebakan gagal
paham quarterly GDP yang nega 2ar
berturutut ini pengin tahu caranya
gampang caranya pastikan dulu anda sudah
subscribe di channel ini aktifkan tombol
alert-nya dan kami sangat berterima
kasih atas dukungannya dengan Klik
tombol like-nya sudah oke kalau sudah
saya berikan solusinya yang Sekaligus
merupakan daging wagu video
ini solusinya adalah dengan mengganti
data quarterly GDP quarter on quarter
dengan data pertumbuhan GD
quarterly GDP tapi pakai yang annual GDP
growth yakni data quarterly GDP yang
dibandingkan dengan quarterly GDP
Kuartal yang sama pada tahun
sebelumnya ya jadi year on year jangan
pakai quarter on quarter pakainya adalah
year on year Nah sekarang Coba lihat
data annual GDP growth Jepang berikut
ini anda kini tidak lagi melihat adanya
GDP growth atau pertumbuhan PDB negatif
selama dua Kuartal
berturut-turut annual GDP growth
terakhir menunjukkan angka bahwa PDB
Jepang masih bertumbuh 1% bilamana
dibandingkan dengan Kuartal yang sama
tahun
sebelumnya kita akan melihat histogram
yang lebih rapi dan tidak ada wipso
wipso itu adalah fall
signal dan kita tahu periode tahun 1997
sampai 2003 adalah periode Resesi dengan
deflasi Spiral usinawareta junen yang
tadi sudah saya jelasin kemudian 2008
sampai 2010 itu adalah Resesi akibat
kena imbas us supre mortgage dan tahun
2020 adalah Resesi akibat
covid-19 di luar itu hampir tidak nampak
ada
kontraksi lagi-lagi kita menghindarkan
adanya wipsaw atau F signal bandingkan
sekarang dengan grafik GDP growth
quarter on quarter di luar ketiga
periode Resesi usinawareta junen us supr
morgage dan Resesi akibat
covid-19 masih nampak beberapa kontraksi
kecil-kecil yang susah dijelas kan itu
Resesi Akibat apa di mana quarter
depannya itu dia langsung pulih gitu
masa ada Resesi ya terus kemudian habis
gitu bulan depannya enggak ada perubahan
apa-apa tahu-tahunya dia udah kelar
sendiri itu sudah enggak Resesi lagi itu
Resesi Apaan tuh kalau kayak begitu
kalangan makroekonomi sebenarnya punya
istilah yang lebih akurat untuk
kontraksi kecil-kecil seperti ini dan
ini disut sebagai soft patch atau
Economic
slowdown perlambatan ekonomi namun
istilah ini saya paham kurang populer di
kalangan media karena apa Karena efek
clickbait-nya memang kurang terasa
Kurang greget gitu loh kalau disebut
technical recession wah kan dia rasanya
jadi ngeri-ngeri sedap gitu ya Jadi
kalau ada yang tanya kenapa Jepang
Resesi indeks niknya kok malah all time
high jawabnya ya karena memang tidak ada
Resesi Yang ada hanyalah perlambatan
ekonomi dan untuk pertama kalinya Jepang
berhasil keluar dari perangkap spiral
deflasi yang sudah menghantui Jepang
sejak tahun
1990-an Nah sekarang Mari kita lihat
potensi dampaknya terhadap kondisi
ekonomi di
Indonesia guna menjawab pertanyaan mana
ancaman yang lebih besar deflasi
Tiongkok atau perlambatan ekonomi
Jepang kita lihat saja yang pertama
deflasi Tiongkok itu memang benar
terjadi sudah saya bahas pada video yang
lalu deflasi di bulan Juli tahun 2023
itu Min 0,3% dan di bulan Januari 2024
semakin negatif menjadi minus
0,8% Resesi Jepang berdasarkan data
annual GDP growth tidak nampak adanya
kontraksi yang kedua ayo lihat neraca
perdagangan kita berdasarkan data hingga
akhir 2022
Tiongkok ini menduduki peringkat pertama
negeri asal impor
Indonesia
29% atau hampir sepertiga impor kita ini
berasal dari Tiongkok nilainya mencapai
67,72 miliar us Doll sementara impor
dari Jepang itu hanya
7,4% hanya sekitar 1ere4at impor dari
Tiongkok mengenai ekspor Tiongkok ini
juga menduduki peringkat pertama negara
tujuan ekspor Indonesia yakni 23% atau
hampir 1/4at dari total ekspor Indonesia
memiliki tujuan ke
Tiongkok hal ini juga kembali nampak
pada data bulan November
2023 di mana ekspor non migas Indonesia
ke Tiongkok sebesar 5,4 miliar us Doll
dan impor non migasnya adalah sebesar
5,7 miliar us do sementara ekspor
nonmigas ke Jepang itu hanya 1,4 miliar
us dan impornya juga hanya 1,3 miliar us
Do Dari sini nampak bahwa hubungan
dagang RI dengan Tiongkok ini jauh lebih
besar bilamana dibandingkan dengan
Jepang selama ini Tiongkok adalah Mitra
dagang Indonesia yang
terbesar itu sebabnya Bagi kalangan
pengusaha di tanah air pesan saya adalah
harap waspada terhadap kondisi tionkok
ini doa saya adalah semoga Tiongkok bisa
segera pulih kembali daya beli
masyarakatnya bisa mulai meningkat dan
ada tanda yang positif data pengangguran
usia muda Tiongkok beberapa waktu lalu
sempat membumbung tinggi hingga
21,3% di bulan Juni
2023 dan sesudah itu pemerintah tionkok
memutuskan untuk berhenti merilis data
tersebut ya dia namun pada tanggal 17
Januari 2024 sesudah absen selama 6
bulan National bureau of statistic of
China kembali merilis data angka
pengangguran usia muda dan angkan berada
di level
14,9%. level terendah sejak Tahun
2022 ada harapan Tiongkok berhasil
mengatasi masalah tingginya Youth
unemployment ini mudah-mudah
angka deflasi di bulan-bulan berikutnya
juga bisa semakin membaik berdasarkan
Economic of scale atau skala ekonominya
maka saya lebih memperhatikan deflasi
Tiongkok serta perkembangan ekonomi
Tiongkok secara menyeluruh namun ini
analisa saya bagaimana dengan pendapat
Anda saya membuka ruang diskusi dengan
anda semua silakan ketik pendapat anda
di kolom komentar Ya semoga bermanfaat
sukses selalu dan sampai
[Musik]
jumpa
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:42 UTC
Categories
Manage