Transcript
QBq77SEBB3w • Bank Regional Amerika Kembali Terancam, bagimana Bank Bank di indonesia Tetap Aman?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0136_QBq77SEBB3w.txt
Kind: captions Language: id Anda saya kita semua bangsa Indonesia sudah bayar pelajar mahal harga pelajaran itu adalah 527,5 triliun [Musik] oke kali ini ada satu lagi bank bermasalah di Amerika dan itu adalah face Republic bank alias FRC seperti biasa Mari kita lihat neraca atau Balance sheetnya total aset FRC adalah 212,6 miliar US Dollar total liabilitiesnya adalah 195,2 miliar sehingga total equity hanya 17,45 miliar ini membuat leverage adalah 11,2 kali sementara rasio solvabilitas FRC adalah 92% hal ini menunjukkan bahwa FRC memiliki leverage yang sangat tinggi sehingga risiko leverage dan solvabilitasnya jadi tinggi jika anda mau bandingkan silakan bandingkan dengan bank-bank yang ada di Indonesia yang bisa anda temukan penjelasannya di dalam video yang ini susu kolapsnya Bang as giliran gonjang-ganjing gimana bang-bang di Indonesia jika Anda nonton video tersebut anda akan paham bahwa bank-bank di Indonesia ternyata memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih sehat dibandingkan dengan bank-bank regional di Amerika di mana kinerja operasionalnya nampak pada return on equity-nya juga jauh lebih baik dibandingkan dengan bank-bank regional bahkan hingga bank nasional sekalipun di Amerika hal ini tidak lain karena Indonesia pernah mengalami pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan sehubungan dengan krisis moneter yang terjadi di tahun 1998 di zaman Orde Baru Indonesia tidak memiliki pemisahan otoritas moneter dengan otoritas fiskal keduanya ini berada di dalam kendali pemerintah itu sebabnya Kenapa saya tidak setuju ketika adanya wacana dalam bentuk apapun namanya Mau mmt kamu apa segala macam yang menggabungkan kedua otoritas ini di bawah satu kendali pemerintah Oke saya jelasin sejarahnya semuanya berawal pada tanggal 27 Oktober 1988 pada waktu itu Presiden Soeharto melalui Gubernur BII Adrianus Moi meluncurkan paket kebijakan yang paling fenomenal di zaman Orde Baru melalui paket kebijakan yang populer dikenal dengan sebutan Pato 88 ini pendirian Bank Swasta Nasional itu dipermudah cukup dengan modal 10 miliar rupiah saja swasta publik siapapun itu sudah bisa mendirikan bank umum nasional Adapun pendirian bank perkreditan rakyat atau BPR ini bahkan bisa dilakukan dengan modal hanya 50 juta Rupiah saja dengan adanya faktur 88 ini industri perbankan nasional bumi dan berdasarkan data orang Indonesia pada bulan September 1988 jumlah perbankan nasional sebelum adanya faktur 88 tersebut hanya ada 108 bank umum yang terdiri dari 6 bank pemerintah 64 Bank Swasta 27 BPD dan 11 bank campuran total kantor bank umum pada periode itu tercatat ada 1359 unit akan tetapi setelah adanya Pato 88 jumlahnya meningkat pesat menjadi 1525 unit Puncak penambahan bank adalah pada tahun 1994 di mana jumlah bank swasta mencapai 166 unit bank campuran ada 40 unit dan BPR nya itu ada 99 6 unit dalam kurun waktu 6 tahun sejak diluncurkannya pakto 88 itu terjadi peningkatan jumlah bank swasta mulai dari semula 64 jadi 166 alias meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dua setengah kali lipat faktor 88 ini membawa berkah bagi beberapa konglomerat diantaranya Mochtar Riyadi mendirikan Lippo bank William Surya Jaya mendirikan bank Suma Aburizal Bakrie mendirikan bank Nusa Nasional tidak ketinggalan putra-putri Presiden Soeharto juga mendirikan bank Bambang trihatmodjo mendirikan bank Andromeda mbak Tutut mendirikan Bang Yama bahkan beberapa lembaga seperti asuransi Bumiputera juga mendirikan bank bank Bumiputera namanya koperasi ABRI nggak ketinggalan mendirikan bank Yudha Bakti saat itu saya pun masih terlalu muda dan lugu untuk memahami betapa besarnya resiko deregulasi perbankan boro-boro paham lika-liku makro ekonomi dan dunia perbankan ngerti konsepnya aja nggak karena saya bukan lulusan ekonomi namun sekarang saya bisa Jelaskan kepada anda semua bahwa deregulasi perbankan itu pada dasarnya membuka paparan Resiko leverage yang sangat besar Pak Hari bisa nggak sih ngomong tuh jangan pakai istilah-istilah yang susah dipahami orang awam kayak begitu oke oke Sabar ya gini saya kasih contoh ilustrasi aja ada konglomerat a dia buka bank a dia juga punya usaha di perkebunan kelapa sawit misalnya dan guna memperluas usahanya dia butuh utang ke bank ketimbang ribet utang ke bank lain dia langsung telepon tuh Dirut bank a yang notabene adalah berarti karyawannya sendiri sesuai prosedur tentunya Bang a akan meminta polateral atau jaminan aset untuk utang utang harus ada jaminannya serta berbagai persyaratan guna menjamin kemampuan PT Perkebunan milik konglomerat a ini buat bayar hutangnya buat melunasi hutangnya untuk itu konglomerat a dengan mudahnya bilang ke Dirut Bang a Ya udah untuk sertifikat tanah ntar nyusul aja lu Cairin dulu kreditnya Lu cariin deh fotocopy sertifikat apa kek terserah Ntar kalau pembebasan lahannya udah kelar gue pasti kasih ke lu sertifikatnya mengenai persyaratan lainnya ya Lu atur dong pokoknya gua akan maunya terima beres lu yang lu kerja tugas lu adalah pokoknya utang ini air kreditnya cair kondisinya sekarang jadi beda PT Perkebunan butuh utang ke bank A dan tugas bank a untuk mencairkan pinjaman tersebut merekayasa jaminannya atau kolateralnya serta menyiapkan berbagai dokumen yang dibutuhkan guna memperlancar proses pencairan kredit ini anda sekarang tentu bertanya Wah kalau begitu Ketika suatu saat PT Perkebunan tidak bisa bayar hutangnya Terus bagaimana jawabnya adalah konglomerat akan bilang kamu kan minta agar supaya PT Perkebunan ini bayar utang kan Nah caranya adalah PT Perkebunan harus bisa ekspansi supaya meningkatkan daya saing sehingga bisa mengalami keuntungan dan bisa bayar utang-utangnya untuk itu maka bank a meski cairkan kredit lagi dong dan untuk jaminannya seperti biasa ya kamu pikirin pakai aja sertifikat yang lama dulu ntar kalau kreditnya udah cair pasti kita kasih kolateral yang baru masa nggak percaya kalau krendingnya nggak dicairin Ya udah PT Perkebunan nggak bisa bayar hutang dan tutupin tutup aja pailitin aja Bang a silahkan Sita aja asetnya semua dan berhubung sejak awal valuasi aset yang digunakan sebagai jaminan memang sudah di make up sekian kali lipat maka jika aset tersebut dilelang Bang A itu langsung rugi besar dan dirutnya terpaksa kena pecat ini baru Salah satu dampak faktur 88 ada banyak kajian mengenai ini dan orang-orang yang paham detail semuanya ini maka fix anda dan saya berarti kita sudah tidak mudah lagi ya Oke namun Bukankah dengan faktor 88 ini dunia perbankan nasional tumbuh pesat bisnis berkembang di mana-mana Oh jelas ya deregulasi perbankan pada prinsipnya adalah memberikan leverage pada aktivitas ekonomi hutang pada dasarnya adalah menggunakan uang masa depan guna membangun bisnis saat sekarang ini semakin besar utang yang digunakan maka semakin besar leveragenya leverage seperti yang sering sekali saya katakan adalah pedang bermata dua positifnya adalah ekonomi akan tumbuh sangat pesat hingga suatu saat terjadi masalah hingga pertengahan 1997 Bank Indonesia mengunci atau pack kurs 2400 namun hingga akhir 1997 kurs rupiah melemah menembus level 5.000 per USD jelas Bank Indonesia tidak sanggup lagi mempertahankan page tersebut puncaknya adalah berakhirnya pemerintahan orde baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto di istana negara dan digantikan oleh wakil presiden Burhanuddin Yusuf Habibie yang kemudian dilanjutkan oleh era reformasi menjelang berakhirnya masa pemerintahannya presiden Soeharto sempat membentuk sebuah lembaga melalui Keputusan Presiden Nomor 27 tahun 1998 BPPN namanya singkatan dari badan penyehatan perbankan nasional tugas pokoknya adalah penyehatan perbankan penyelesaian aset bermasalah dan mengembalikan uang negara yang tersalurkan ke sektor perbankan Akan tetapi karena kinerjanya yang dinilai kurang memuaskan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Lembaga ini dibubarkan pada 27 Februari 2004 Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 2004 tentang pengakhiran tugas dan pembubaran BPPN Oke ketika BPPN dibubarkan Tahukah Anda uang negara yang telah dikucurkan kepada perbankan senilai 699,9 triliun menyusut menjadi 449,03 triliun karena sebagian aset merupakan aset busuk yang nilainya di make up di gelembungkan oleh pemiliknya ya dalam hal ini debitur dari semua ini BPPN berhasil mengembalikan kepada negara hanya 172,4 triliun sisanya sebesar 527,5 triliun itu ya menguap gitu aja berdasarkan data dari YouTube lebih dari 52% penonton channel ini memang berada di bawah usia 45 tahun sehingga wajar aja jika anda berusia 44 tahun saja maka pada saat waktu ini diluncurkan berarti Anda masih berusia 9 tahun kemudian dalam perkembangan selanjutnya jika anda tidak pernah belajar tentang makro ekonomi dan bukannya sosmed atau YouTube dan ketemu narasi yang sangat negatif tentang dunia perbankan biasanya narasi ini berasal dari peristiwa krisis Supreme morgens yang terjadi di Amerika 10 tahun sesudah krisis 98 di Indonesia yakni tahun 2008 Di Amerika ya krisis dan kemudian terjadi lagi krisis bank regional Amerika di tahun 2023 ini maka salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan biasanya adalah jika sudah terjadi krisis berulang begini Kenapa sistem perbankan yang namanya friksional banking ini tetap dipakai Kenapa kok tidak dihilangkan saja dan diganti dengan sistem yang lainnya Oke sebelum saya jawab maka saya akan Jelaskan dulu sistem friksional riset banking yang dianut seluruh dunia bukan hanya Amerika Indonesia tapi seluruh dunia singkatnya gini saya kasih ilustrasi Katakanlah ada Amir dia menabung uangnya sebesar 100 juta rupiah di bank X kemudian datang Budi dimana Budi kemudian meminjam uang dari bank X dan bank X meminjamkan 90 juta rupiah sesungguhnya adalah uang Andi kepada Budi kemudian Budi menggunakan uang yang dipinjamnya ini sebesar 90 juta itu untuk membeli mobil dari Charlie untuk dipakai buat usaha grab dan Charlie kemudian menyetorkan uang hasil penjualan mobilnya ke bank X sebesar 90 juta total saldo bank X ini menjadi 190 juta Kemudian datang Dewi yang hendak meminjam uang dari bank dan bank meminjamkan 81 juta Rupiah dari tabungan Charlie kepada Dewi Dewi kemudian menggunakan uang tersebut guna membeli mesin es krim dan oven untuk usaha toko kuenya dia beli barang-barang ini semua dari Edi dan Edi kemudian menyimpan hasil penjualannya sebesar 81 juta tersebut di bank X total saldo bank X ini menjadi 100 juta tabungannya Amir 90 juta tabungan Charli dan 81 juta tabungan Edi kalau di total semua maka totalnya besarnya adalah 271 juta padahal Ingatkah anda bahwa uang sesungguhnya cuman 100 juta dan dalam dunia makro ekonomi uang 100 juta tunai fisik ini dikenal dengan sebutan m0 sementara jika kita asumsikan semua tabungan Amir Charlie dan Edi adalah tabungan biasa yang bisa diambil suatu waktu contohnya adalah BCA tabungan tahapan itu misalnya ya Tahapan BCA maka total 271 juta ini disebut M1 kalau kemudian bank X menggunakan sebagian dari M1 ini untuk diinvestasikan misalnya 100 juta diinvestasikan pada surat utang pemerintah atau obligasi maka kini jumlah uang beredarnya menjadi 271 juta ditambah 100 juta sama dengan 371 juta dan disebut M2 jika gara-gara ada krisis perbankan kemudian solusi yang Anda tawarkan adalah lenyapkan semua Sistem perbankan gitu ya kayak Kalau Anda nonton Game of Throne itu itu kayak danary targerian dia kasih perintah naganya drakarizo langsung bakar semua habis semua maka konsekuensinya adalah tidak ada lagi leverage terhadap aktivitas ekonomi ancurin semuanya dalam bahasa sederhana sesuai contoh di atas maka Budi tidak lagi bisa beli mobil dari Cali dia nggak bisa utang gimana ya tidak bisa dia buka usaha grab akibatnya Charlie tidak berhasil jual mobilnya dan karena tidak ada setoran hasil penjualan mobil dari Charlie maka Dewi juga tidak bisa pinjam duit dari bank tidak ada tuh usaha es krim dan toko kuenya dia dan Edi juga akan kehilangan bisnis penjualan mesin es krim dan ovennya ke Dewi berdasarkan data saat ini anda perhatikan baik-baik jumlah m0 Indonesia adalah 813,8 triliun sementara M2 adalah 8.293,6 triliun jika solusi Anda terhadap risiko krisis perbankan adalah lenyapkan sistem sarankannya drag Aris bakar semua maka harga yang harus anda bayar adalah lenyapnya aktivitas ekonomi sebesar 7.479,8 triliun atau 90,2% aktivitas ekonomi yang ada sekarang ini seluruh karyawan Bank kena pihak karena Sistem perbankan lenyap sebagian besar Real laser dan otomotif langsung pailit karena Siapa yang bisa beli rumah atau mobil langsung tunai tunai aja ketika ada krisis perbankan kemudian solusinya adalah melenyapkan seluruh Sistem perbankan maka ini sama saja seperti ada pasien yang terkena suatu penyakit menular Apa solusinya supaya tidak menular ke masyarakat maka solusinya adalah bukannya dicarikan obatnya tapi suntik mati aja pasiennya Saya rasa ini bukan jawaban yang bijaksana banking adalah fasilitas leverage bagi aktivitas ekonomi sama seperti kita trading forex misalnya ada fasilitas leverage supaya tidak terkena resiko margin call caranya gimana caranya adalah dengan disiplin terhadap aturan money management demikian juga dunia perbankan supaya tidak terjadi krisis perbankan lagi solusinya adalah keberadaan regulasi yang jelas dan tidak menimbulkan moral bagi pelaku ekonomi pengawasan yang ketat dan tentunya penting sanksi hukuman yang tegas ya Saya ulangi sanksi hukuman yang tegas di mana regulasi ini jangan di longgar-longgarkan lagi jangan dideregulasi lagi Anda saya kita semua bangsa Indonesia sudah bayar pelajar mahal harga pelajaran itu adalah 527,5 triliun kita sudah bayar lunas pada tanggal 27 Februari 2004 dengan dibubarkannya BPPN sama persis seperti seorang trader yang pernah Cut loss besar selalu ingat-ingat peristiwa ini Jangan sampai terulang kembali caranya adalah disiplin terhadap regulasi dan jangan dideregulasi lagi Bagaimana pendapat anda ketik di kolom komentar Ya seperti biasa jika anda merasa video ini bermanfaat mohon dukungannya share video ini di sosmed anda Klik tombol like pastikan anda sudah subscribe di channel ini dan aktifkan juga tombol lord-nya sehingga YouTube akan memberikan informasi kepada Anda setiap kali kami mengunggah video-video terbaru Terima kasih semuanya sukses selalu dan sampai jumpa [Musik]