Resume
X86n1xfeZOI • Usaha Sederhana Ibu Rumah Tangga, Hasilnya Bisa Beli Rumah & Kuliahkan Anak, Modal Cuma 20 ribu
Updated: 2026-02-12 02:30:53 UTC
Berikut resume komprehensif dari transkrip wawancara Bu Winarsih (Kletek Hidayah) – Kelurahan Kutoyar, Kabupaten Tulungagung.
1) Profil singkat & konteks usaha
- Narasumber memperkenalkan diri sebagai Bu Winarsih, pelaku industri rumahan bernama Kletek Hidayah yang berlokasi di Kelurahan Kutoyar, Tulungagung.
- Usaha sudah berjalan kurang lebih sejak 2007, dan ia menegaskan memulai dari nol.
2) Produk: apa itu “kletek” dan cirinya
- Kletek dijelaskan sebagai jajanan jadul berbahan ketela (singkong) yang dibumbui rempah (cabai, garam, bawang, dll.), lalu digoreng sehingga bentuknya seperti kerupuk.
- Karakter tekstur: keras/renyah; ia menanggapi komentar “kleteke kok atos (keras)” dengan humor: “kalau empuk ya roti.”
3) Latar belakang ekonomi & perjalanan sebelum menemukan “kletek”
- Awalnya ia dan suami bekerja sebagai buruh jahit: suami memotong kain, ia menjahit—namun terasa berat dan melelahkan.
- Kemudian mencoba jualan gorengan dengan sistem titip jual ke penjual-penjual (dibakul-bakul), dijalani sampai sekitar 7 tahun, tetapi tetap terasa berat karena kebutuhan hidup meningkat dan ekonomi terasa sulit.
- Ia juga sempat mencoba jualan di sekolah, namun situasi ekonomi tetap dirasa sulit, sampai akhirnya mencoba fokus ke kletek.
4) Titik awal usaha kletek: modal sangat kecil & penjualan keliling
- Ia menyebut memulai dengan modal sekitar Rp20.000, dibawa ke pasar untuk membeli tela/ketela.
- Saat itu belum punya motor; ia berjualan dengan sepeda, membungkus dalam kemasan kecil (seribuan), lalu menawarkan dari tetangga ke tetangga sedikit demi sedikit.
- Ia menekankan prosesnya bertahap: “kok bati terus sesuk neh (untung lalu besok lagi)”—menandakan akumulasi modal dari keuntungan harian.
5) Strategi bertahan: fokus, ketekunan, dan membangun jalur pasar
- Ada nasihat yang ia terima: jangan terlalu banyak gonta-ganti usaha; satu saja ditekuni.
- Ia menekankan etos kemandirian: suami tidak ingin “ikut orang” jika bisa membangun usaha sendiri, dan berharap bisa mempekerjakan orang.
-
Ia menggambarkan pola pemasaran:
-
Ada pesanan via WA dari toko-toko.
- Jika tidak, ia door-to-door ke toko (dari toko ke toko).
- Mereka kini merasa sudah punya “jalur” penjualan yang lebih mapan.
6) Pertumbuhan permintaan & skala produksi
- Perkembangan pesanan: dari awal “satu bungkus”, lalu meningkat (ada yang minta 10–15 bungkus, 20 bungkus), hingga pesanan los-losan (curah) 5 kilo, dan terus bertambah.
- Kapasitas produksi harian yang disebut: sekitar 220 kilo per hari.
- Distribusi utama: disebut Tulungagung saja, karena kapasitas dan kemampuan jangkauan terbatas.
7) Peran keluarga & digitalisasi sederhana
- Keluarga terlibat aktif: suami, anak, dan Bu Winarsih sendiri ikut bekerja.
- Anak membantu dengan online/HP, dan ini sangat membantu pemasaran; pembeli mengetahui produk dari Google/online.
8) Operasional kerja: pemilik ikut turun tangan
- Ia menekankan bahwa pemilik tidak hanya “duduk”; bila ada pekerja tidak masuk, ia ikut menggoreng, ikut proses produksi (nutuk/kerja teknis), dan juga keliling untuk urusan pemasaran/operasional.
- Prinsip relasi kerja: ia menyampaikan nuansa kerja yang setara—“tidak ada antara karyawan sama bos”, semua bekerja.
9) Dampak ekonomi: aset, pendidikan anak, dan peningkatan taraf hidup
- Ia menyebut dulu tidak punya rumah, lalu berkat usaha bisa memiliki rumah/meningkat taraf hidup.
- Ia mampu menyekolahkan anak hingga kuliah, dan merasa sangat bersyukur atas perkembangan itu.
- Latar pendidikan pribadi: ia menyebut dirinya hanya lulusan SD, tetapi berusaha keras agar anak-anak bisa sekolah lebih tinggi (SMP, SMA “klambi abu-abu”), bahkan ada anak yang ingin kuliah dan akhirnya bisa.
10) Tenaga kerja yang diserap
- Ia menyebut mampu mengaryakan sekitar 13 orang (termasuk keterlibatan keluarga inti).
11) Ketahanan produk (shelf life) & penyimpanan
- Daya tahan kletek disebut sekitar 1 bulan, dengan catatan tidak terkena matahari dan disimpan di tempat yang teduh/baik.
12) Nilai yang ditekankan: ikhtiar, ibadah, dan cita-cita sosial
- Ia menekankan usaha dijalankan dengan niat baik, “bismillah”, dan memandang bekerja sebagai bagian dari ibadah.
- Harapan pengembangan usaha: ingin lebih besar dan bisa membuka lapangan kerja, terutama menolong ibu-ibu yang belum punya pekerjaan.
- Doa dan cita-cita keluarga: berharap anak-anak menjadi saleh/salehah dan sukses dunia-akhirat; juga menyebut keinginan ibadah seperti umrah/haji bersama suami bila dimampukan.
13) Penutup narasi
- Di akhir, Bu Winarsih menyampaikan ucapan terima kasih dan salam penutup, menegaskan identitas usaha Kletek Hidayah di Kutoyar, Tulungagung.