Kind: captions Language: id Kadang orang mau sukses mau berkembang itu enggak punya tempat untuk berkembang. Heeh. Kalau sukses sendiri ruangnya cuma segini. Kalau masuk ke ekosistem bisa ruangnya segini. Akhirnya pergerakannya bisa lebih. Saya yakin tidak ada orang yang benar-benar ahli dalam bisnisnya 100%. Maksudnya gini. Heeh. bisnis itu permasalahannya kan come and go. He. Kadang itu mungkin dia sekolah S2 [musik] wirausaha, tapi bisa jadi masalah yang dihadapi enggak ada dalam perkuliahan. Kita itu punya energi sampai terbuang sia-sia apalagi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Iya. Jadi selain itu masalah tanggung jawab, komitmen, prioritas juga. Jadi organisasi itu ekosistem itu sudah masuk prioritasku, Mas. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mbak Lutfi lagi semoga tidak bosan ya. [tertawa] Ee setelah kemarin cukup sukses mengadakan sebuah event perdana di Tulungagung pasar tumbuh, maka kita akan mengulik-ngulik apa sih sebenarnya misi dari pasar tumbuh. Tapi cukup sukses loh, Mbak. Itu event perdanaan di Tulungagung. sebuah organisasi baru juga di Telagung dan luar biasa dampaknya. Insyaallah. Alhamdulillah. [tertawa] Semua karena doanya Mas Agung, perannya Mas Agung di sini juga luar biasa. Terima kasih. Pecah telur, Mbak Lutfi. Ee tak lihat kita mau mengawali diskusi ini dari sebuah komunitas. Jadi hari ini juga ngetren juga di beberapa diskusi-diskusi Heeh. di apa ee di media-media juga bahwasanya pengusaha itu harus berkomunitas. Nah, bagaimana kalau pendapat Mbak Luthfi yang tak lihat ini sangat sibuk berkomunitas juga nih? Pendapat Mbak Lutfi bagaimana? Heeh. Kalau ee tergantung mindset ya, pengusaha itu dia mau suksesnya berawal dari mana? Oke. Dan cara suksesnya seperti apa? Heeh. He. Kalau saya itu mindset sukses itu bareng-bareng, gotong-royong disengkuyung. Il apalagi ilmu ilmu berwirausaha. Ketika kami enggak bisa mendapatkan ilmu di bangku kuliah. He he. Ketika learning by doing di bisnis kita juga minim. Mungkin kita membutuhkan orang lain yang utamanya di ekosistem, di komunity yang akhirnya nanti sense of belonging-nya beda. He. Bagaimana membawa mindset ke organisasi atau ekosistem beda. Cara jawane ditekoki tips trik. Kalau secara pribadi mungkin saya tanya Mas Agung ngajak ngopi sama ketika Mas Agung kita bergabung dalam ekosistem ketika kita sharing pasti sudah beda pembawaannya. Itu yang saya maksud. He sukses dan sugih bareng-bareng itu mindset saya kayak gitu sih. Berarti ke ekosistemnya, ekosistem untuk maju bareng-bareng begitu. Betul. Jadi kalau saya niatnya kayak gitu. Kenapa saya sampai banyak ekosistem yang saya masuki? Heeh. Heeh. He. Terus semangat banget di situ. Totalitas. Selain saya itu segala sesuatu harus totalitas he juga ee mindset itu yang saya bawa value itu. He. Biar akhirnya kalau orang berorganisasi seperti yang sudah dilakukan Mas Agung dulu di Kopdar 2 Sumo. Heeh. He. Sharing tentang bagaimana permodalan dan sebagainya. Ketika itu dibawa secara personal pasti abot. Heeh. H. Tapi karena dalam ekosistem ketika Mas Agung sudah memutuskan untuk masuk organisasi, jadi otomatis ngalai mau berbagi sama teman-teman yang lain dan tidak subjektif. Objektif akhirnya manfaatnya semua merasakan. Jadi kayak gitu contohnya. Siap. Berarti kalau boleh di kita poin-poin ini Mbak, jadi manfaat organisasi itu pertama untuk apa? E katakanlah tiga hal lah. Tiga hal yang paling utama. Manfaat berkomunitas bagi pengusaha itu apa sih, Mbak? Heeh. Nomor satu adalah ruang. Ruang. Heeh. Kadang orang mau sukses, mau berkembang itu enggak punya tempat untuk berkembang. Heeh. Kalau sukses sendiri ruangnya cuma segini. Kalau masuk ke ekosistem bisa ruangnya segini. Akhirnya pergerakannya bisa lebih luas. Itulah kenapa ekosistem itu ruang untuk berkembang, ruang untuk tumbuh. Heeh. Gitu. Contoh konkritnya seperti apa, Mbak? Contoh konkretnya kayak yang saya alami misal di sumo. Heeh. Ketika saya masuk sumo, saya bisa tambah kenalan, tambah ruang. Ketika saya belum di sumal ee mikir saya bisnis saya ya wis di sini-sini aja. Tapi ternyata ketika sudah masuk ke sumu ternyata orangnya banyak. Heeh. Dan tersebar di mana-mana. Akhirnya ruang saya untuk bertumbuh, untuk bisa dikenal, untuk bisa belajar mengembangkan diri ternyata luas dan benar. Akhirnya dilihat oleh Muhammadiyah. Heeh. Kemudian bisa buka cabang. Itu kan berarti kan ruang. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Harapan saya di semua teman-teman yang bergabung di ekosistem juga gitu. He. Nah, ruang apa aja berarti masuk ke poin kedua. Oke. Yang kedua. Heeh. Ruang apa? pertama bisa ruang untuk belajar. Hmm. Saya yakin tidak ada orang yang benar-benar ahli. He dalam bisnisnya 100%. Maksudnya gini. Heeh. Bisnis itu permasalahannya kan come and go. He. Kadang itu mungkin dia sekolah S2 wirausaha tapi bisa jadi masalah yang dihadapi enggak ada dalam perkuliahan. He. Tapi itu mungkin bisa jadi sarana untuk belajar di ekosistem. Mungkin ada bisnisnya yang sama atau dari ngobrol gini akhirnya ketemu sebuah pemikiran bagus. Oh, dari A masalah SDM ternyata ketemu seperti ini, seperti ini. Dibelajar cari ilmu. Heeh. Heeh. Ketiga adalah otomatis adalah konektivitas. He. Ekosistem pasti anggotanya banyak. He heeh. Jadi pasti kumpul sama orang. Jadi otomatis bisnisnya pelan-pelan networking-nya nambah. Heeh. He he. Keempat, awareness dan marketing bisnis ini cocok banget. Apalagi kalau sudah sepakat dalam sebuah ekosistem itu kita untuk mengembangkan dan bermanfaat untuk anggota. Heeh. Makanya saya itu di semua ekosistem saya konsep bahwa ekosistem ini harus bermanfaat untuk anggota nomor satu itu. Hm. ojo sampai anggota itu mek dijai kasarane mek dijaki urunan tapi enggak dapat manfaatnya makanya nah ini peran kita bersama nih pi carane biar bermanfaat dipikir bareng-bareng siap kayak gitu aku mintanya tiga dikasih empat we bonus [tertawa] bonus terima kasih tapi ya nah di antara itu tadi ya untuk mendapatkan manfaat yang empat itu tadi atau dan mungkin banyak poin-poin yang tidak disebutkan Heeh komunitas semacam apa yang harus kita ikutin. Nah, gitu. Heeh. Yang pertama, komunitas yang sesuai bidang ya. J misal kita wirausaha. Heeh. Heeh. Ya, kita di komunity wirausaha gitu. Kalau kita mungkin di ee komunity suka membaca misal ya, kita di komunity yang sama passion-nya sama. He he. Itu dari segi label dulu. Kedua, kita lihat dulu juga apa visi misi visi misi organisasinya itu apa, ekosistemnya itu apa, mau dibawa ke mana? Heeh. Nah, ketiga adalah bagaimana kita memandang masuk ke ekosistem. Jadi, dari diri kita, selain kita melihat ekosistem itu kayak gimana, kita balik juga lihat diri kita. Apakah kita langsung melebu ekosistem itu maunya aku terus bisnisku langsung gede? Nah, itu enggak mungkin. Itu namanya menggantungkan ekspektasi ke orang lain. Padahal kita aja berjalan sendiri enggak bisa kok menggantungkan ke orang. Nah, itu konsep yang salah. Kadang ada orang masuk ke ekosistem maunya aku masuk ke situ bisnisku tos ramai. Nah, itu konyol sih. He, heeh. Heeh. Terus piye sih bener? Berarti sing benar ya ekosistem itu dibangun bareng-bareng kan gak mungkin kayak membangun bisnis buka dasar rombong di depan gak mungkin langsung payuh kalau enggak kita promosi, kalau enggak kita bikin tester, kalau enggak kita ee awareness-nya juga dapat jadi sama. Heeh. Heeh. Siap, Mbak Lutfi. Katakanlah Mbak Lutfi ini kan sudah banyak menau ee join banyak komunitas lah ya. yang paling menurut Mbak Lutfi yang paling apa ya berdampak gitu. Heeh. Atau mungkin bangun ekosim yang paling berhasil yang pernah Mbak Lutfi bangun dan juga berdampak bagi Mbak Lutfi apa itu? Heeh. Oke. Secara mindset. Heeh. Heeh. Ini yang paling ini gak apa-apa ya sebut sebut nama ini ya. Gak apa-apa kalau secara mindset membangun itu dimi. Hm. Karena saya di HIPMI itu sejak 2017. Oh, lama ya. Heeh. Sejak awal awal HIBMnya ada di Tulungagung itu dan konsep saya adalah ketika masuk ke organisasi itu saya harus aktif. He. Orang itu tidak akan merasakan manfaat berorganisasi kalau enggak aktif. Oh, pasif itu enggak dapat manfaat ya? Enggak dapat ya apa? Hmm. Misal masuk organisasi me menang tok nyimak di grup. Tapi kalau ada kopdar atau ada acara seminar, workshop kumpul-kumpul gak datang ya enggak dapat. Heeh. Heeh. Empat itu enggak dapat. Heeh. He gitu. Jadi harus dimanfaatkan kalau secara karena sudah 2017 sebenarnya saya di TDA juga sudah sejak 2016 tapi ya itu tadi karena gak aktif hmm akhirnya enggak begitu berdampak juga di betul itu. Jadi semua saya rasakan gitu. Kedua adalah sumu. Hm. sumu ini memang masih baru kalau di Tulungagung masih 6 bulan ini. Tapi ee ketika berkenalan dengan sum pertama kali saya langsung ee kayak modele satset ambil peluang aja kayak gitu. Dan ternyata ee impact Muhammadiyah tinggi sekali di luar ekspektasi saya baru membuka sumu di Tulungagung 3 bulan. 2 bulan sampai 3 bulan itu sudah 50. He. Padahal kalau ngomongin target dari pusat cuma 60 setahun, tapi ini sudah melebihi target gitu kalau ngomongin target dan target member. Iya. Hm. Dan ketika bikin gerakan Heeh. Heeh. Kaget saya gitu. di usia organisasi 5 bulan bikin pasar tumbuh jadi dan berhasil gitu loh. Event-nya ada, sori pergerakannya ada terus ternyata ya ada hasilnya gitu. Itu bagi saya luar biasa. Wow banget ya. Heeh. Heeh. Heeh. Kalau mungkin HIPMI kita sudah sering banyak tahu dan mungkin karena sudah lama jadi banyak orang juga sudah tahu. Saya lebih penasaran ke sumu. Heeh. Sebenarnya ee sumu ini organisasi baru kan, Pak ya, di kancah apa banyak organisasi yang sudah ada. Betul ya? Heeh. Masih 3 tahun di pusat. 3 sampai 4 tahun lah. He. Serikat Usaha Muhammadiyah. Betul. Oke. Tadi dibilang target member memang apakah ada target member kayak gitu juga, Mbak di begitu ya. Iya. Jadi kalau di Zoom itu ee ketua dipilih sama pusat. Heeh. Heeh. Dengan yang memenuhi kualifikasi, ada beberapa kualifikasi. Terus kemudian untuk menjaga sustainability itu harus ada pencapaian ee iya KPI-nya salah satunya member terus harus ada kegiatan bersama anggota setiap bulan. Itulah kenapa kita ada kopdar-kobdar terus kemudian ada sinau bareng dan sebagainya. itu KPI juga. Hm. Ketika nanti dalam 1 tahun tidak ee tidak berjalan baik KP-nya ya, pusat bisa kayak mengganti begitu ya. Betul. Jadi kalau mungkin di HIPM itu muscap dipilih oleh rakyat, dipilih oleh anggota. Kalau sumar masih penunjukan. Iya. Dengan GPI-KPI tertentu. Baik. Terus aku juga kan terlibat diajak Mbak Lucu ini ceritanya. Iya. sudah untuk jadi salah satu pengurus begitu ya. Gimana aku ganti tanya dong gimana [tertawa] kesannya masih ee mungkin 5 bulan ya bergabung ya 6 bulan. Heeh. He jujur aku kayak ee anu, Mbak melihat Mbak Lutfi yang sangat aktif kemudian sangat totalitas itu saya kayak menjadi nyaliku itu mengecil gitu loh. Hah? Malah gitu maksud maksudku itu aku kok enggak iso seperti Mbak Ludwi gitu loh. Oh tak pikir malih pah aku kok anu ndak ndak melu sumu gitu nak ya. Hah? Malih wedi melu sumur gitu. juga lebih pengin seperti karena tadi saya juga sebenarnya mindsetnya itu ingin totalitas di segala hal yang saya lakukan. He. Tapi karena ternyata kan totalitas itu ketika mungkin waktu kita terbatas dan banyak juga kewajiban-kewajiban kita yang sudah kita emban. Kewajiban berbisnis, mengelola banyak tim, kemudian juga ada keluarga yang harus kita kasih waktu, ruang dan sebagainya. Kadang-kadang itu kan menjadi ee mana ya yang harus kita prioritaskan dan kemudian mana yang belum kita bisa ambil. Nah, aku nelok Mbak Lutfi itu minder gitu loh. Wah, Mbak Lutfi luar biasa ya. Saya sendiri misal kayak kayak di event yang ini nanti kita bahas nih pasar tumbuh kan kontribusi saya kan sangat sangat minim gitu. Memang aku dari awal juga enggak begitu ikut karena memang wah kayaknya aku belum sanggup belum siap gitu. Dan untungnya menurut menurut saya teman-teman di komunitas Sumu itu kayak memberikan kebebasan juga ketika belum bisa aktif di satu event atau sebuah gerak. Tertentu juga enggak begitu di enggak gitu apa ya diceng iki enggak melu dan ee kayak gitu. Jadi yo aku untuk ini anu tapi yo salut sih sama Mbak Lutfi keaktifan. Jadi pengin seperti itu ya. adalah energi ee kita itu punya energi sampai terbuang sia-sia apalagi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Iya. Jadi selain itu masalah tanggung jawab, komitmen, prioritas juga. Jadi organisasi itu ekosistem itu sudah masuk prioritasku, Mas. Hm. Bahkan setiap hari itu saya setting priority itu jamnya wis settle ya. Heeh. Eh, distraction-nya adalah saya itu jam tidur 2 hari sekali. Saya tuh enggak bisa tidur setiap hari, Mas. Gak bisa tidur setiap hari? Iya. Makanya kemarin saya telepon jenengan itu belum tidur itu. Heeh. 2 hari itu karena kemampuan otakku itu mikirnya enggak bisa di rem [tertawa] ini. Masih aku masih kaget aja. Iya, gitu. Tidur dua kali dua hari sekali itu kaget aku. Heeh. Jadi kayak tadi pagi saya tidur jam 09.00 pagi itu saya terakhir tidur kemarin malam kemarin usaha [tertawa] gitu. Kok kok bisa gitu? Kok bisa gitu? Uh, pikiran itu kadang lek wis berpikir gitu ya, Mas. Aja gitu ndak bisa dirim. Jadi itu lek ndak tak losnya aku malah enggak bisa tidur dan scrolling enggak jelas. Enggak jelas. Scrolling enggak jelas habis waktu. Jadi saya mending nongkrong di warung bekerja. Heeh. Heeh. Terus lek ndak gitu di masjid sing 24 jam malam-malam berarti ya. Heeh. Jadi jam malam itu koy apa ya? Kadang otakku enggak bisa direm. Bentar, bentar coba kita kronologinya gitu ya. [tertawa] Misal nih kalau saya kronologinya ada di ee podcast sesi sebelumnya. [tertawa] Contoh nih ya, contoh nih ya. Misalnya kan kalau saya ya, kalau saya kan ya aku office hour banget ya. Kalau J kan jam . jam 5. Maksimal magrib pulang pulang keluarga makan malam sama keluarga habis itu juga scroll-scroll bentar nemenin anak belajar. Habis itu di jam 09.00 Kadang-kadang lihat Netflix sebentar. Heeh. Jam 10. Jam 09.10 int mulai tidur lah gitu. Berarti kalau Mbak Lutfi jam 09.10 seperti apa? Kalau saya berarti pagi itu ngurusi anak-anak sekolah terus kadang lek bisa tidur jam 10. Pagi bangunnya zuhur. Oh malah pagi ya? Iya. Jadi makan nokturlah banget. Tapi ya gitu polanya tetap. Saya malam juga sama anak-anak. Anak-anak siapa? Anak-anaknya Mbak Lutfi. Iya. Jadi apa, Mbak mereka gak tidur juga? Oh, masti malam sebelum malam ya habis magrib itu masih sempat ngantar mereka les, ngantar mereka ngaji, makan malam, guyon-guyon kayak gitu. Masih masih ada waktu. Tapi kadang malam gitu jam 09.00 otakku wis. Iya. Muncul banyak ide. Heeh. Banyak ide. Dan lek cewek itu overthinking, Mas. Overthinking. Nah, overthinking itu kadang tak putar daripada over thinking tentang kehidupanku pribadi misal itu tak putar ke kerjaan atau hal-hal opo ekosistem atau nulis ngetik start pos ke mana gitu. Berarti itu di tempat kerja berarti nak merebahkan diri di kasur gak? Gak. Berarti ketika overt malah bangun aja. Iya. Di tempat kerja. Heeh. Seringnya di tempat kerja atau keluar? Keluar. Oh, keluar. Heeh. Jadi aku itu selalu kerja di warung kopi malam hari itu. Heeh. Makanya biasa di warung kopi 24 jam. Saya pulangnya jam .30 jam . Kalau anak-anak waktunya puasa berarti aku kan ngajak mereka sahur. Heeh. Sampai subuhan dan sekolah. Nah, baru setelah selesai itu saya sempat masak-masak, Mas, di rumah itu. Pokoknya sebenarnya kehidupannya berjalan cuma waktunya enggak ideal gitu. Dan itu dua terjadi tidurnya itu 2 hari sekali. Heeh. Kadang kadang-kadang berarti pagi enggak tidur sampai kalaupun sehari sekali ya gitu jam 10. Bangun jam 12.00 zuhur, azan zuhur gitu. Heeh. Makanya itu dari energi-energi itu salah satunya aku mikir yang sekarang tak fokuskan kan dua organisasi HIPMI sama Sumu. Oke oke oke. Itu aku jadi keepeper semua. Iya iya. Kalau di HIPMI kan sekum. Iya iya. Kalau di sumu Korda di HIPMI aku timeekeper. Jadi eh timeline teman-teman program aku yang ngentongi. Ayo bulan ini kita waktya ini ya. W ini ya di semua ya gitu. Aku teman-teman pengurus harian gitu ya masak ya. Aku di HIPMI kan juga anggota silent. Aku masih jadi tahun pertama aku di HIPMI. Jadi aku diam. Heeh. Di sumu juga kan masuk di dua grup anggota dan pengurus. Heeh. Jadi notifikasi itu di dua organisasi yang berbeda. Di dua semesta yang berbeda. Mbak Luti semua [tertawa] loh. Barusan kayaknya Mbak Luti barusan ngomongin kegiatan ini, ini, ini untuk sumu. Heeh. Berapa menit kemudian Heeh. Ngoprak-ngoprak kegiatan di IPMI. Hah? Gitu loh. [tertawa] Ah, wong iki mikir bisnis kapan gitu loh. Itu sebelumnya ngoprak-ngoprak di Zendo. Jadi, jadi wis enek liste gitu loh. Oh, Zendo. Aku wis ngoprak-omprak apa ya hari ini di Zendo. Udah berisik apa ya ini [tertawa] gitu. Gila aku orang ini. Gila gitu gila orang ini gitu loh. Heeh. Nah, oke. Kita bahas di pasar tumbuh. Heeh. Yang menurutku wow. Heeh. Saya kira waktu mohon maaf ya, Mbak. Mohon maaf, Bu Ketua. Santai, santai. Saya enggak ikut dari awal karena memang saya lagi hektik banget di urusan pekerjaan. Gak apa-apa santai. Jadi waktu perencanaan saya enggak ikut, waktu kemudian diskusi-diskusi juga enggak ikut. Saya hadir hanya pas waktu pembukaan. Eh, gak apa-apa. [tertawa] Gede banget menurutku. Loh, kok gede gede gitu loh. Kok gede gitu dan aku enggak ngapa-ngapain gitu loh. Nah, itu gimana sih? Coba diceritakan gitu. [tertawa] Jadi sebenarnya ini rodok cerita rodok tumbuh I iya ee pasar tumbuh itu sebenarnya idenya berasal dari Zendo. Pengin tak realisasikan di Zendo. Oke. Karena keresahanku tentang selama ini orang itu bikin event ya wis sekali selesai sekali selesai. Nah harapanku sebenarnya bisa enggak sih kita bikin sesuatu yang jadikan gerakan gitu? Hm. Jadi ya ada sesuatu sing ditunggu nanti ketika kita bikin satu orang nunggu kapan nih yang kedua. Nah aku pengin kayak gitu. Terus kemudian aku bikin namanya pasar tumbuh. Nah, kalau aku menjalankan itu di Zendo, jujur aja itu nanti rohnya rohnya akan zendo tok. Orang akan melihat oh iki yang mengeluarkan brand ini. Heeh. Heeh. Jadi kayak subjektif. Oh aku apalagi misal aku ada yang gak suka sama Zendo. Oh k acarane Zendo. Aku enggak mau hadir. Nah aku gak mau kayak gitu. Oke oke oke. Itu yang pertama. Aku nyari rohnya. Kalau masuk ke ekosistem rohnya beda. Semua orang yang merasa punya sense belonging atau punya kepedulian atau punya apa di situ akan ikut mensukseskan bareng-bareng. He he. Kedua adalah kalau secara materi Heeh. Heeh. finansial kalau nanti di Zendo, aku sendiri yang akan cara jawane ngati. Heeh. Kalau orang sponsor masuk bisa jadi melihat Zendo. Aku gak mau sponsor di Zendo. Tapi siapa tahu kalau melihatnya sebagai organisasi sponsor bisa masuk dengan lebih welcome maksudku kayak gitu. Nah, yang ketiga adalah aku pengin gerakan ini dilihat dari anu itu tadi menggerakkan sens bilongin menggerakkan anggota-anggota yang awalnya kayak Mas misal kayak Mas Agung iki piye toh organisasi ini? Jadi karena awareness sum itu belum matang ya cor Jawa belum semua orang tahu bahkan anggota yo banyak sing silent. Aku pengin akhirnya anggota melihat loh ternyata anggota iki eh apa organisasi organisasi tenanan ya kayak gitu. Jadi visi misinya ada tiga ini sing tak bawa. Itulah kenapa akhirnya tak lemparkan ke sumu. Makanya akhirnya aku langsung ngobrol kan sama ketika ke Mas Agung. Aku sudah pernah ngobrol ini enggak sih ketika ngajak masuk sumu. Iya dulu pernah sekilas gitu di apa di diskusi gitu ya mau bikin ini ini ini. Cuma aku enggak expect. Aku juga enggak ngerti konsep yang belum detail lah intinya. Mbak Mbak LI memang e sharingnya belum detail. He. Nah, tadi kan bilang gagasan bukan event aja. Sebenarnya gagasan apa sih sebenarnya yang dibawa pasar tumbuh itu? Heeh. Gagasan karena ee saya sering melihat beberapa dan mengikuti ee e mulai dari kompetisi bisnis, seminar, campaign tentang SDGs. Oke. Terus kemudian sustainability. He. Kemudian ekonomi hijau. H. Kemudian saya melihat beberapa perusahaan-perusahaan CSR itu bergerak di bidang ee ekonomi hijau dan semuanya. Makanya saya akhirnya pengin ini gimana ya kalau dilihat dari segi ee ekosistem. Jadi ee kalau orang ngomongne bisnis hijau oke semua orang bisa. Tapi kalau gerakan biar orang itu awareness akhirnya peduli lingkungan itu gimana? Akhirnya aku mikir itu dan aku sendiri itu orang sing enggak bisa open-open. Jadi enggak bisa ngopeni tanaman, enggak bisa ngopeni hewan. Karena apa? Takut hisab, takut opo yo. [tertawa] Sesimpel tetanggaku itu, Mas enggak pulang-pulang kan rumahnya kosong, ada tanaman-tanaman itu aku sedih. Oh, itu kan harus dipedulikan. Berarti aku sebagai tetangga harus peduli. Jadi tak siram nyiramin gitu. sesimpel itu. Makanya sama lingkungan juga harus dipikirkan seperti itu juga. Nah, apalagi terus akhirnya saya suka Pandawara grup itu juga kan. He yang bersih-bersih kali itu ke sungai itu kan. Heeh. Aku sebenarnya dulu pengin bikin gerakan ATM itu juga ATM Pandawara. Tapi itu enggak mudah gitu loh. Ketika menerjunkan timku aja untuk bersih-bersih masjid, perjuangan mereka itu sudah sebegitu. Apalagi mereka misal tak ajak turun ke sungai itu kasihan deh. Ee kok itu untuk gerakan sosial pandoro itu wis gong banget itu susah ditiru. Siap. Berarti memang idenya itu kayak gerakan peduli lingkungan. Betul. Kemudian karena ini di komunitas pengusaha kemudian dibuat event pengusaha. Betul. Ecogreen festival. Sebenarnya awalnya Eco Green bahasaku adalah Iya e Green. Kemudian ee karena kemarin aku kan setiap teman-teman yang tak ajak masuk sumu yang 10 orang itu semua tak kasih aku nanti mau bikin kayak gini. H termasuk ke Mas Agil. Oh ya nanti bisa ke Alba gitu. Oh iya, cocok ini. Terus habis itu ya gitu aku langsung ke Adimas Hasnan yang punya skecok sama Rendy tak ajak ketemu. Ternyata mereka langsung mau padahal mereka belum pernah handle event, belum pernah pokoknya belum pernah ngerja bareng. Karena dari visi misiku yang tak sampaikan secara lisan pada saat itu mereka mau yo wis dikonsep terus mereka bilangnya harapanku sebenarnya cuma eventnya sehari toh Mas. Heeh. Heeh. Terus kalau event ya, kalau ngomongin event-nya aku sehari tapi gerakannya itu harus sustain, harus ada terus. Ternyata mereka bilang, "Lek nanti ada bazarnya, ada marketnya sehari kui kesal." Hm. Karena mereka adalah pebisnis FNB. Mereka yang merasakan preparation bazar sehari sama 3 hari itu sama. Dibikin 3 hari aja langsung gitu. Akhirnya konsep kita fokus ini di gerakan ini adalah fokusnya adalah di kegiatan bukan bazarnya. Itulah kenapa di pasar tumbuh itu hanya ada 20 tenan. Heeh. Heeh. Tapi activity-nya full dari pagi sampai malam karena kita pengin banget ada gerakan di situ. Kemudian fokus di activity dan fokus camping ground. Orang bisa lesean, tiduran, ngobrol, keluarga, anaknya main-main kayak gitu loh. Heeh. Heeh. He di di event itu. Heeh. Eventnya ada berapa? 20 20-an kalau enggak salah. He. 20-an. W. Dan itu semua di saya semua ada. Jadi mulai dari ekonomik, green, kemudian sosial. Heeh. Gongnya kan di sosial ya. H. Di hari ketiga itu hari sosial yang ditunggu-tunggu orang banget. Tiga event yang paling menurut Mbak Lutfi paling yang Mbak Lutfi bangetlah. Apa dari pasar tumbuh itu? Kalau aku yang paling ndak bisa move on ya bahasanya ya. Itu namanya pentas istimewa. Pentas istimewa. Oke. Pentas istimewa itu adalah ruang yang kita bentuk untuk adik-adik disabilitas. Hm. Dan ee inklusif untuk tampil. Heeh. ee menunjukkan mereka bisa apa gitu. Jadi kita kerja sama dengan SLB, sekolah inklusif dan juga ee orang tua yang punya anak dengan kebutuhan khusus. Heeh. Alhamdulillah itu luar biasa. Saya sampai melihat orang-orang nangis melihat adik-adik tampil itu susah move on. Enggak bisa move on. Semakin enggak bisa tidur kayaknya. [tertawa] Heeh. Apalagi orang tuanya yang penampil, adik-adik, orang tuanya adik-adik bilang, "Ini pertama kali kita ada pentas untuk kita." Heeh. Heeh. Heeh. Dan itu insyaallah nanti pengin banget tak spesialkan. Jadi benar-benar tak istimewakan mungkin di series pasar tumbuh ke berapa mereka harus secara spesial. Kalau kemarin kan bagian aja gitu ya. Heh. Nanti pengin banget itu kita istimewakan beneran. Jadi pentas istimewa yang benar-benar istimewa karena kemarin penontonnya bagiku kurang banyak. Orang yang di camping ground kurang banyak. Itu kalau sebenarnya kalau dilihat bagus banget. Jadi kita melihat anak nyun sewu tuna rungu wicara mereka menari izin mereka enggak bisa mendengar. He he he. Jadi mereka menari itu dengan dipandu gurunya yang di depan itu. Heeh. Tapi mereka bisa bagus, bisa kompak. itu wis ngiris-ngiris hati wis he kayak gitu. Dan di luar ekspektasi saya, Mas, ternyata ketika saya komunikasi dengan semuanya, semua stakeholder, saya bilangnya e pentasnya tidak usah make up karena izin dari kami tidak ada budget untuk make up. Heeh. Jadi budget kami adalah rasaran nyun sewu ee ya amplop ee semampu kita dan sembako dan sebagainya. Kalau untuk make up izin kita belum ada gitu. Ternyata mereka malah datang itu semangat banget make upan malah ada SLB yang pakai baju kresek koran memang dibentuk untuk acara itu. Gimana saya ndak ndak emis gitu ya. Heeh. [tertawa] Jadi benar-benar daur ulang sesuai tema kita Eog Green Mas itu. Ya Allah aku sampai nu nangis di tendanya Mami Dimsam itu nangis ya. Iya. Jadi wis itu kan mak sama Rendy kan difoto itu aku nangis di camping ground itu karena ya Allah aku gak expect mereka sebahagia ini ketika dikasih ruang. Itulah kenapa aku bikin ee pasar sembuh ini ruang untuk semuanya gitu. Iya. Iya. Oke. Yang kedua itu kegiatan yang paling enggak bisa move on. Yang kedua ada enggak? Yang kedua aku lebih ininya. Jadi sebelumnya nyuwun sewu izin ada event yang di Tulungagung yang katanya kurang sesuai tema. H ternyata ketika aku bikin ini esensinya masuk. Jadi orang yang pertama tenan itu tidak pakai resek. Hm. Kemudian meminimalisir sampah. Oh. Orang budaya membuang sampah. He. Itu benar-benar ada di situ. Kita menyiapkan tempat sampah di beberapa spot. Heeh. kita itu hanya mungut hal-hal kecil lah. Semua aware. Heeh. He. Kemudian jelantah orang bawa jelantah. H. Diapain? Di ditukar pakai uang. Oh jual. Jadi ada tempat barter jelantah dengan uang begitu ya. Betul. Heeh. Gitu. Terus jadi esensinya semua dapat. Terus ee lokasinya bisa kita sulap. Jadi sangat ee nyaman untuk orang camping. Heeh. Heeh. Jadi esensi pergerakannya itu nyampai. Heeh. Heeh. He itu sih. Dan yang ketiga, karena banyak banget agenda itu saya hanya syukur alhamdulillah tok. Ternyata tim sumu yang anggotanya luar biasa ee organisasi yang masih bayi tapi luar biasa gitu loh. Ini kan enggak bisa jalan karena saya aja atau Dimas aja. Tapi karena semua orang yang punya sense belonging, punya tanggung jawab komitmen untuk mensukseskan ini. Dan ini kita enggak pakai IO, Mas. He. Oh, anak-anak aja ya. Jadi, Heeh. Jadi di IO nih teman-teman sendiri gitu. Makanya susah move on banget. Iya. Iya. Tapi begini, Mbak Lutfi, aku punya pandangan lain ya. Heeh. Gimana? Jadi di komunitas itu tergantung ketuanya. Hm. Gitu ya. Ya. Aktif enggaknya komunitas itu dalam tahun itu loh ya. Kan kayak ketua itu kan punya apa ya? Punya masa jabatan lah ya. Heeh. Heeh. Pertama ditulagu kan Mbak Lutfi sebagai Heeh. Apa bahasanya ya? Pemimpinnya ya. Heeh. Kemudian saya juga aktif di bukan aktif ya mengikuti beberapa komunitas juga ya. Heeh. Tergantung ketuanya. Kalau ketuanya aktif kemudian energinya itu kelihatan kok Mbak itu aktif gitu. Kalau enggak juga di tahun itu, di tahun kepengurus itu juga enggak begitu aktif. I. Nah, ini menurutku karena energinya Mbak Lutfi yang luar biasa yang kemudian nyampai ke teman-teman alhamdulillah sehingga kemudian teman-temannya ini juga ikut aktif gitu loh, Pak. Nah, itu sudut pandangku loh itu. Aku sudut pandang. Wih, luar biasa ini Mbak Lutfi. Jadi karena Mbak Lutfi sangat kan sangat mengayomi teman-teman menurutku opo ya kayak ayo masuk kayak enggak punya anu gitu loh, enggak punya ego dan sebagainya ayo masuk. Kemudian diparani, ditelepon, di WA, di benar-benar di pedulikan gitu. Sehingga mereka itu juga punya ofonging juga akhirnya tinggi gitu. Dan itu kemudian menjadi sebuah gerakan self belonging bareng yang terbukti event-eventnya sukses. Ya, semogalah nanti ada event-event yang luar biasa setelah ini. Heeh. Harapanku kan itu berjalan terus. Heeh. Heeh. He. Dan nanti tergantung mau dibikin seperti apa, Teman-teman. Teman-teman sudah punya banyak ide-ide. Akhirnya alhamdulillah dari Pasar Tumbuh itu akhirnya kemarin panitia kumpul terus mereka punya evaluasi, punya ide-ide cemerlang. Masyaallah, ternyata mancing teman-teman gitu loh. Mancing kreativitas. J belum terpancing bidangku aja. [tertawa] Jadi tenang habis ini kita pikirkan. Siap. Terima kasih. Sudah memikirkan. [tertawa] Oke. Nah ee saya ada sudut pandang lain Mbak Lutfi. Ini saya kira untuk pembahasan sumu sudah dan pasar tumbuh sudah luar biasa. Saya mau membahas tentang ada seseorang yang di mana itu ee saya kalau Mbak melihat Mbak Luti beda. Di mana kegiatan bisnisnya juga bertumbuh, organisasi yang dibawa juga bertumbuh. Tapi ada sebagian orang yang dia itu malah sangat sibuk di organisasi tapi bisnisnya enggak keur. Nah, bagaimana komentar Mbak LI tentang hal itu? Itu wajar. Karena enggak semua orang bisa ideal dengan keputusannya. Memutuskan untuk ee masuk ke organisasi dan berbisnis. Itu kan sebuah keputusan pribadi ya sebenarnya yang ternyata mungkin pas dijalani ternyata ada itu tadi kemampuan tubuh, kemampuan otak, he kemampuan energi itu tadi itu berbeda-beda. Nah, ternyata itu tadi kalau ee saya mungkin juga merasanya malah belum maksimal di semua. Heeh. Heeh. Jadi apa yang disampaikan Mas Agung ee ada pendekatan personal itu memang pendekatan itu juga saya pakai di bisnis saya juga. He. Jadi di organisasi itu saya juga ee mempraktikkan apa yang saya pakai di bisnis. Makanya saya kenal semua tim saya di Tulungagung utamanya. Sama di anggota sumo juga saya harus kenal semua. Tapi selanjutnya nanti ketua bidang yang harus pendekatan secara personal. Heeh. Makanya saya tegaskan ke teman-teman kita itu kalau mau menggerakkan orang kalau secara personal kita enggak kenal mereka. Mereka Heeh. Mereka mau masuk itu yo piye? bingung isin aku engkok ning jero ketemu sopo yo sama ketuanya aku aja belum tahu atau belum tahu namanya itu kayak gitu jadi memang itu kudu ditoto manajemen ya manajemen dan setting priority kayak yang disampaikan Mas Agung maaf Mbak Luffi saya belum itu gak apa-apa karena priority-nya memang ini saya saya itu selalu bersyukur orang mau bergabung Heeh he dan tidak menuntut mereka harus seperti ini. Tapi saya memberikan contoh kasarane bahwa setiap keputusan kita itu harus dipertanggungjawabkan dalam action. Heeh. Heeh. Gitu. Jadi kalau ketika kita sudah memutuskan oke aku mau masuk sumo berarti ya seyogyanya atau masuk hipmi yaogjananya ya aktif. Kalau enggak aktif itu tadi enggak dapat manfaatnya. Siap. Siap gitu. Dua pertanyaan menuju akhir. Siap. Eh, pertanyaan pertama adalah saya mau meng mulai masuk sebenarnya ini bukan apa ya, Mbak Lutfi juga bukan pengurus saya kira pengurus Muhammadiyah tapi Mbak Luthfi kan sudah lama di Muhammadiyah sudah ber Iya bukan struktural ya bukan struktural tapi juga aktif di dalamnya itu sudah lama menurut saya sudah lebih dari 10 tahun kan belasan mungkin ya naturalisasi lagi gimana naturalisasi naturalisasi itu gimana? [tertawa] Bukan bukan lahir Muhammadiyah gitu. Lahir itu bukan langsung Muhammadiyah gitu. Oh iya. Tapi saya tuh akhir-akhir ini itu mulai amazing dengan Muhammadiyah. Heeh. Gimana? Terutama terkait manajemennya. Heeh. Jadi seringkiali kon man Muhammadiyah satu-satunya organisasi yang memiliki kekayaan sekian yang asetnya sekian dan kemudian banyak prestasi-prestasi yang kemudian dia ada di situ. Nah, itu menurut sudut pandang Mbak Luthfi yang naturisasi itu [tertawa] seperti apa kok bisa begitu gitu loh. Heeh. Dan itulah yang membuat saya akhirnya anu berpindah organisasi. Ah, jadi karena kayak ee saya dulu melihat izin saya pindahnya karena saya pernah mengabdi di sebuah amal usaha Muhammadiyah. Heeh. He. Saya melihat sosok pemimpin, beliau adalah almarhum Bapak Yahdin. Beliau ketua STA Muhammadiyah Tulungagung. Heeh. Heeh. Heeh. Kasarane rektor, Mas. Rektor. Oke. Iya. Tapi beliau kehidupannya sangat sederhana. Beliau pernah sepertinya jadi kepala Kemenek pada saat itu, tapi mobilnya biasa. He he. Kemudian memimpin dengan sabar, enggak pernah marah. Heeh. Heeh. Terus ketika saya ngelembur, saya selalu harus beli makan karena beliau tahu gaji yang untuk saya hanya Rp250.000. Jangan sampai lembur kok enggak makan. Jangan sampai gajimu itu buat beli makan. Kasarannya gitu loh. Heeh. Heeh. Heeh. Terus sampai beliau itu ee menceritakan bagaimana ikhlas bermuhammadiyah. Heeh. Menghidupi perguruan tinggi yang kecil. Di antara gempuran banyak perguruan tinggi besar. Dari situ saya belajar ternyata dan itu dari beberapa orang juga istilahnya Heeh. Muhammadiyah ini harus tetap hidup. Menghidupi Muhammadiyah itu saya lihat pertama di beliau. Heeh. Sampai nyuwun sewu ee nyekolahne BPKB untuk gaji kita. Hm. Karena ini ee perguruan tinggi swasta itu kan asalnya dari SPP. He he. Mahasiswa yang sedikit beliau tuh sampai setawadu itu. Dan itu ternyata tidak hanya beliau gitu. Oh, banyak orang seperti beliau di Muhammadiyah ternyata gitu. Bahkan izin sekarang Heeh. PDM Pimpinan Daerah Muhammadiyah itu namanya Pak Arif Sujono dan PDA-nya Bu Imro Atin. Saya melihat beliau itu sangat sederhana sebagai sekelas pimpinan organisasi besar di kabupaten. Mobilnya masih panter, Mas. Sampai kemarin kita teman-teman sumusan itu saya saya Adimas sama Rendy itu mereka ternyata kaget loh ee rumahnya sederhana. Hm. Terus mobilnya sederhana malah bagusan mobilku katanya gitu. [tertawa] Padahal ya gitu. Terus ketika ngobrol yang disampaikan itu serba kesederhanaan dan apa ya piye ya dibilang agamis kok agamis? Religius ya. Saya lebih ke melihat sebuah religius dan menghidupi Muhammadiyah biar umatnya kopen sugih bareng. He. Jadi sebenarnya kata-kata jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah, tapi hidupilah Muhammadiyah itu kalau untuk orang anu yo dicakne tenan. Beneran ada gitu loh. Beneran mendarah daging di orang-orang di dalam Muhammadiyah. Betul. Jadi kayak ego-ego pribadi itu disisihno. He. Ada hal yang egois yang bisa kita lakukan tapi itu lebih baik ke organisasi. Makanya aset-aset itu kebanyakan ke Muhammadia. Bahkan ada orang Muhammadiyah, sosok orang Muhammadiyah yang saya kenal ee punya kekayaan luar biasa, tapi memilih mewakafkan sekian puluh M. Heeh. Heeh. He. Untuk Muhammadiyah. Jadi orangnya memang militan semua, Mas. Orangnya setotalitas. Dan yang saya kagumi juga dari Muhammadiyah itu ee enggak semua disaring. Makanya kayak ngomongin politik misal enggak pernah ada Muhammadiyah bilang pilih nomor sekian gitu gak ada. Karena ke masyarakatnya pun ke orang Muhammadiyah pun akan disortir dipikir ini kata misal pimpinan begini ini masuk enggak tetap dipikir sama orang Muhammadiyah. Terima kasih Mbak Lutfi sudah hadir di Sendo. Semoga makin sukses ke depannya. Iya, terima kasih sudah membantu mengolas pasar tumbuh. [tertawa] Doakan gerakan ini sustain bermanfaat. Ditunggu juga Mas Agung untuk ke lapangan. [tertawa] Siap. Sindiran keras. See you, Teman-teman. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.