Resume
PnSMmlZ5pzY • Hasilkan 3-8 Juta Perhari di Umur 23 Tahun - Gorengan Keliling yang FYP di TikTok!
Updated: 2026-02-12 02:32:32 UTC

Berikut resume komprehensif transkrip wawancara tentang usaha gorengan Arumah Food yang dijalankan pasangan muda Yusuf Satria Mandela (23 tahun) dan Mbak Vina.

1) Profil narasumber & gambaran usaha

  • Narasumber utama: Yusuf Satria Mandela, usia 23 tahun; usaha: gorengan (dengan produk andalan risol mayo dan varian gorengan lain) dibantu istrinya Mbak Vina.
  • Pola jualan: lokasi tidak tetap (on the road/OTR), berpindah-pindah titik dan juga hadir di acara seperti CFD (Car Free Day).
  • Titik yang disebut: Bandung, Trenggalek, Pasar Pon (Trenggalek), dan Perigi (Trenggalek).

2) Latar belakang pribadi: “nakal” → berbenah karena ingin nikah & mandiri

  • Yusuf mengaku masa sekolah dulu cukup “nakal”: bolos lama, sering nongkrong/warung kopi, bahkan sempat pindah sekolah.
  • Titik baliknya: rencana menikah tetapi takut tidak punya pemasukan (pendidikan terakhir SMA). Ini memicu tekad mencari penghasilan dan membangun usaha.
  • Ia menyebut masa “tobat” dan berubah lebih serius dipicu tanggung jawab setelah menikah/bertunangan.

3) Jalan karier sebelum usaha: kerja dulu, lalu pilih usaha sendiri

  • Setelah SMA, Yusuf pernah ditawari kuliah tetapi memilih tidak kuliah karena merasa kalau tidak sungguh-sungguh malah “eman-eman” (sia-sia) dan tidak ingin membebani orang tua.
  • Ia sempat kerja di toko baju sekitar 1,5 tahun, lalu keluar karena ingin punya usaha sendiri.

4) Awal usaha gorengan: dari sederhana lalu “naik kelas”

  • Pertama kali jualan gorengan masih “jadul” (mis. singkong goreng, tahu isi bihun, tempe goreng), harga disebut kisaran sangat murah (“2000–3000-an”).
  • Karena ada rencana nikah dan butuh pemasukan, ia mendapat dorongan/masukan dari keluarga (kakak/istri) dan mulai mengembangkan ide dari referensi TikTok dan suasana CFD.
  • Produk awalnya sangat terbatas: risol mayo dan lumpia rebung; total menu awal sekitar 6 item. Setelah jeda persiapan nikah (libur 2–3 bulan), lanjut lagi dan menambah menu menjadi jauh lebih banyak.

5) Produk & menu: dari 6 menjadi 14 varian (dan masih bisa bertambah)

  • Kini menu sudah 14 varian dan masih berpotensi nambah.
  • Contoh varian yang disebut:

  • Risol mayo ori (Rp4.000)

  • Risol mayo “buloknes/gold” (Rp5.000)
  • Risol ayam pedas, risol pizza mozzarella (Rp5.000)
  • Aneka tahu isi (ayam pedas, bakso pedas, jamur bakso pedas)
  • Dimsum goreng keju, sosis solo, lumpia ayam pedas, lumpia rebung, karipap, dll.
  • Yusuf mengerjakan racikan tertentu sendiri (mis. racik mayo, isi tahu), namun sebagian proses sudah “dipegang orang” sambil tetap dipantau.

6) Model bisnis: OTR (pindah-pindah) + titik terjadwal

  • Konsep inti: jualan berpindah tempat mengikuti keramaian dan permintaan pasar.
  • Ia memanfaatkan komentar/permintaan netizen (mis. “minta di sini”) tapi tetap selektif: kalau peminatnya sedikit, dipertimbangkan; biasanya survei dulu titik yang ramai dan cocok.
  • Sistem jadwal: tidak jual tiap hari; ada jadwal titik mingguan supaya pembeli tidak kecewa. Disebut jadwal seperti Senin–Rabu, Minggu CFD, dan Jumat di Perigi (narasi menyiratkan jadwal berkembang/akan ditambah).
  • Ada rencana ekspansi titik ke Kota Tulungagung dan ada permintaan dari Kediri, namun produksi belum cukup mumpuni untuk memenuhi semuanya.

7) Produksi & angka penjualan (yang disebut dalam transkrip)

  • Produksi risol mayo: 5–7 kg, hasilnya sekitar 400-an pcs.
  • Omzet: disebut bisa lebih dari Rp3 juta; pada momen tertentu seperti CFD bisa “tembus” lebih tinggi (angka persis bagian ini terucap tidak jelas di transkrip, tetapi konteksnya omzet CFD lebih besar dari hari biasa).
  • Untuk satu titik OTR, omzet disebut kisaran sekitar Rp2–3 juta.
  • Biaya operasional OTR lebih besar (karena pindah-pindah: transport, logistik, dll.). Ada penyebutan porsi biaya operasional kira-kira 40–50% (narasi menyatakan banyak “kepotong” untuk operasional).

8) Risiko & cara menghadapi kerugian

  • Tantangan utama lapangan: cuaca (hujan) dan fluktuasi keramaian; ada hari “kemarin habis, hari ini masih sisa”.
  • Pernah rugi sampai sekitar Rp500 ribu (hampir), namun dihadapi dengan “ditambelin” dan lanjut berkembang.
  • Jika barang tidak laku karena kondisi tertentu, mereka kadang dibagikan ke orang sekitar (agar tidak mubazir).

9) Strategi pemasaran: dari FB → TikTok → live → pertumbuhan follower

  • Awal promosi: Facebook group.
  • Lalu mencoba TikTok karena melihat yang jualan sering di-share dan ramai; belajar live lewat bantuan kakak.
  • Dampak: follower naik cepat, disebut mencapai 6.000+, dan ada konten yang viewers-nya tembus sangat besar (angka persis tidak terbaca jelas di transkrip, tetapi ditekankan “jutaan”).
  • Prinsip konten: harus percaya diri dengan produk (yakin enak/layak), supaya penyampaian tidak malu-malu.

10) Menjaga kualitas & layanan pelanggan

  • Ada kasus komplain: konsumen bilang “basi” meski merasa produksi fresh; responsnya tegas:

  • ganti rugi (refund/replace) atau

  • pembelian berikutnya digratiskan.
  • Ia juga menerima masukan, misalnya “kurang ini-kurang itu” lalu diperbaiki—menunjukkan orientasi menjaga pelanggan.

11) Dinamika keluarga, relasi, dan dorongan sosial

  • Pernikahan sempat “dikebut” karena faktor kedekatan keluarga/tetangga; ada tekanan sosial (kalau terlalu lama “dilihat-lihat tetangga”).
  • Ia mengaku dulu sempat jauh dari keluarga (bahkan 2 tahunan tidak akur), sering tidak pulang, namun setelah menikah dan berproses, hidupnya lebih tertata.

12) Pelajaran utama yang ditekankan narasumber

  • Konsistensi adalah tantangan terbesar: banyak orang bisa memulai tapi tidak konsisten.
  • Hilangkan rasa malu: meskipun muda, jualan gorengan itu tidak masalah.
  • Harus suka dulu pada bidangnya; kalau setengah-setengah, hasilnya setengah-setengah.
  • Memulai dari nol itu penting agar tahu “step-step”-nya; jika suatu saat jatuh, bisa bangkit karena paham prosesnya.

13) Rencana ke depan

  • Ingin membuat outlet tetap yang lebih lengkap, konsepnya seperti “prasmanan” jajanan: pelanggan bisa ambil sendiri, ada tempat nongkrong, dan menu lebih modern/variatif.
  • Tetap mempertahankan pola OTR di beberapa titik sambil mencari lokasi tetap yang pas.

14) Penutup promosi

  • Mereka menutup dengan memperkenalkan diri sebagai Arumah Food dan mengajak orang mampir saat OTR di Trenggalek, Perigi, Bandung, dan CFD.
Prev Next