20 Tahun Jadi Karyawan Akhirnya Punya Bisnis Sendiri, Omzet 50 Juta Perbulan!
pYWY8eb2Am0 • 2025-12-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kalau boleh dicompare waktu hasil dari
usaha yang menghasilkan ini sama gaji
dari di kantor itu gedean mana waktu
resign satu klien bisa satu gaji saya
ketika 1 bulan gitu loh Mas.
Wih satu kalian aja sudah compare sama
ini ya.
Iya.
Jadi kan memang kreatif itu gajinya
enggak nentu Mbak.
Iya.
Kadang-kadang bulan ini bisa R juta, R00
juta, R00 juta.
Bulan depan bisa jadi cuma sejuta. Kalau
manajemen keuangannya Mbak Oci gimana?
Berarti kan ke depan banyak gambar yang
bisa dihasilkan oleh AI dan semakin
pintar nih AI.
Iya, betul.
Bidang yang Mbak Oji gelutin apakah
masih bisa survive atau dak?
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Mas
selamat datang Mbak Oji di pecah telur
tetangga sebenarnya kita
terima kasih. [tertawa]
Oke, jadi kita mau belajar nih,
Teman-teman. Jadi Mbak Oci ini adalah
seorang yang kemudian ini yang juga di
anu Mbak Oci. Jadi banyak juga penonton
dari pecah telur itu orang yang sekarang
masih kerja dan ingin berbisnis.
Nah, ini kan relate dengan Pak Oji dulu
seorang
pekerja yang luar biasa panjang nih 20
tahun
kurang lebih 20 tahun Mas
20 tahun bekerja kemudian bisa memulai
bisnis sendiri. Iya. Ah, boleh dong
diceritain dulu kenapa kok apa kok
resign kemudian buka usaha sendiri,
Mbak? Heeh.
Iya. Oke, terima kasih, Mas Agung. Ee
memang itu saya bekerja kurang lebih 20
tahun itu di
ee lembaga keuangan, Mas. Itu ada dua
perusahaan dan sebelumnya
lulus kuliah itu saya langsung kerja
tapi enggak langsung di situ. Ada di
tempat adalah sebuah apa kayak lembaga
negeri gitu loh, Mas. itu cuma
ASN maksudnya
ee boleh disebut nama enggak sih? Boleh
boleh boleh boleh.
Saya dulu pernah lulus itu langsung di
honorer kejaksaan, Mas.
Oke.
Gitu 1 tahun kurang lebih 1 tahun.
Kemudian karena saya jurusannya kan
enggak di
ee enggak bidang hukum ya, Mas ya.
Kemudian saya melamar di tempat lain.
Waktu itu sempat kerja sebelum di
lembaga keuangan saya tuh sempat ee
kerja jadi seacam marketing atau sales
gitu, Mas. H
di obat pernah kan di detailer itu loh,
Mas. Gitu nanti kan ke dokter-dokter
jadi ya memasarkan kayak gitu Mas ee
biar apa dokter nulis nulis resepnya.
Kemudian pernah juga di sales ee ini
kayak seluler gitu, Mas.
E
cuma kan ya
banyak ya
lumayan sebelum ke [tertawa]
ke lembaga keuangan tadi gitu. Walaupun
waktu itu gajinya sih ya belum seberapa
kalau yang di sales seluler itu ya, Mas.
Kalau yang di ee obat atau detailer tuh
lumayan sih sebenarnya di zamannya itu
sudah lumayan karena tahu sendiri kan
kalau marketing tuh
kita nerimanya
ya di atas yang back office kayak gitu
ya, Mas. Kemudian waktu itu yang membuat
saya akhirnya ke lembaga keuangan karena
ada
ee saya kan di luar kota, Mas. Itu kan
saya di Jember waktu kerjanya. Kemudian
ada lowongan yang buka di Kediri.
Kemudian saya harus ee intinya balik
lagi ke Kediri saya
ee ngelamar ya di perusahaan lembaga
keuangan tersebut mm punyanya Jepang
kan. otomatis ya waktu itu banyak yang
ngincer ya pengin masuk ke situ dan
alhamdulillahnya saya keterima di
lembaga keuangan itu gitu. Kemudian di
situ bertanya lumayan lama Mas karena
kan saya tuh sebenarnya ee orangnya apa
ya lumayan loyal gitu Mas ee
oh terhadap perusahaan itu kayak loyal
gitu ya. itu saya kurang lebih hampir 9
tahun.
Saya 9 tahun karena waktu itu saya mulai
resign karena sebenarnya saya juga sudah
ada us ee usaha, Mas. Selain bekerja tuh
saya ada usaha waktu itu buka ee kayak
toko baju gitu ya, Mas. Cuma masih kecil
ada yang jagain waktu itu. Cuma saya
kerja tiap harinya.
Heeh. He he.
Kemudian ee ternyata di perjalanan
waktunya usaha saya itu enggak jalan.
Mungkin karena jalan
dua gitu ya. ya kurang mungkin kurang ee
apa fokus atau gimana. Akhirnya saya
memilih untuk
resign tadi.
Ee iya cuma saya akhirnya bekerja lagi
di tempat lain yang saya mendapat
tawaran yang lebih dibanding kantor
lama. Cuma waktu itu saya di Surabaya.
Bentar bentar bentar.
Gigih.
Jadi awalnya kan kerja di Kediri
kemudian resain untuk memulai bisnis.
Ee awalnya kan saya kerja di luar kota
sebelum di Kediri. Luar kota di Jember.
Oke.
Kemudian saya
sudah sebelum banget berarti ya.
[tertawa]
Iya, Mas. Perjalanannya lumayan lumayan
lama karena
20 tahun lebih kan
yang 9 tahun itu di Kediri kan?
Di Kediri
ya di se habis itu resign
resign karena saya bisnis baju cuma
enggak jalanis.
Enggak jalan. Oh enggak jalan enggak
jalan kan 1 tahun lebih lah hampir 2
tahun tapi enggak jalan.
Akhirnya saya bekerja lagi.
Oh.
Dapat tawaran di Surabaya. Tapi sama
kantornya di lembaga keuangan juga yang
di Mandiri Finance, maaf ya saya sebut
namanya
itu di Surabaya, Mas. Tapi
kurang lebih
1 tahun.
Bagian apa, Mbak?
Saya dulu waktu itu di regional saya
administrasinya jadi kayak ada email
masuk
terus ada kayak saya nglobi eh lebih ke
gitu.
Oke. Oke.
Admin regional. Jadi kalau cabang-cabang
nanti ngemail saya yang
Iya kayak gitu. mungkin agak penurunan
dibanding tempat kerja saya yang lama
yang dari punyanya Jepang yang oto itu
ya.
Ee tapi karena saya awalnya memang dari
Oto itu mau usaha tapi ternyata usaha
enggak jalan, otomatis saya ngembaliin
buat ngembaliin modal lagi saya kerja
lagi gitu loh Mas ceritanya
gitu. Terus terus 1 tahun lebih kurang
lebih 1 tahun sih di Surabaya itu
mengharuskan saya itu pulang ke Kediri
karena ibu sakit.
Hm. H
akhirnya ada tawaran mutasi ke Kediri.
Saya kembali ke Kediri.
Terus kurang lebih 10 tahun itu saya ada
di Kediri
terakhir resign yang 2 tahun kemarin
itu, Mas. Itu sih ceritanya.
Berarti 10 tahun terakhir itu ya di
tetap di perusahaan mandiri itu
tapi cabang Kediri.
Ohya. Yang awalnya dari Surabaya mutasi
karena ibu sakit.
Tapi boleh kayak gitu mutasi itu bisa ya
ada tawaran soalnya
ee waktu itu
ya enggak apa-apa ya Mas. Ini adik saya
itu kenal sama kepala cabang saya, jadi
nego gitu loh, Mas.
Wah, ini pakai oral ini ya. [tertawa]
Karena ee ibu kan sakit otomatis
iya iya.
Cari ini e tempat untuk balik Kediri.
Kalau kalau nurutin saya, saya itu
penginnya tetap di luar kota karena
mungkin kalau di regional atau di
Jakarta itu kan untuk naik jabatan atau
karirnya tuh lebih cepat, Mas.
Itu sebenarnya sudah ada beberapa
tawaran ya kalau di sana. Cuma karena
kondisi
ibu yang mulai sakit, otomatis saya
sudahudah memilih untuk balik ke Kediri.
E
sebenarnya waktu itu juga pilihan, Mas.
Satu sisi saya pengin mengejar karir
saya, satu sisi karena ibu mulai
sakit-sakitan. Jadi saya kembali ke
Kediri. Terus saya akhirnya 10 tahun ini
di Mandiri itu terakhir saya resign yang
2 tahun kemarin itu.
Oke. Berarti ketika ada waktu itu kan
ada dua pilihan tuh. Jadi
antara fokus di Surabaya
Iya.
Yang di mana karirnya bisa lebih cepat.
Kemudian yang kedua adalah tawaran harus
pulang ke Kediri
merawat orang tua.
Tapi
karirnya bisa jadi agak lebih slow down.
Kenapa memilih yang kedua, Mbak?
Iya. Karena ee saya sebenarnya dari
kecil kan enggak sama ibu.
H
saya sebenarnya kan dari kecil tuh sama
nenek
gitu ya. Di tinggnya di Caruban Mas
gitu kan. Saya dari kecil sampai besar
itu dibesarkan di sana sebenarnya saya
ketemu dengan orang tua saya itu sudah
besar.
He.
Waktu itu saya memilih akhirnya
untuk pulang ke Kediri merawat ibu itu
karena saya merasa ini waktunya saya
berbakti.
Iya. Karena mungkin dari kecil saya kan
enggak dekat sama orang tua ya. Jadi itu
saya berpikir udahlah ini kesempatan
saya untuk
dekat sama
orang tua,
ibu sama orang tua gitu sih. Itu
akhirnya membuat saya pilihan ya udah
walaupun mungkin sebenarnya karir saya
mungkin masih single terus karir kan
bisa lebih cepat Mas kalau di
sana dibanding di Kedi
apalagi kan corporate besar kan jadi
ibarat atasnya masih banyak gitu. Nah,
gitu sih. Dan otomatis kalau balik ke
Kediri ee gaji saya juga
penurunan nih.
Benar. Benar.
Banyak enggak selisihnya?
Lumayan, Mas. Waktu itu 1 seteng ada loh
selisihnya itu.
Iya. Turunnya itu ya
1 seteng bagi warga kita, warga Kediri
dan Tulungagung dan sekitarnya sangat
besar
selisihnya ya. Hm. Betul. [tertawa]
Aku jadi penasaran kok waktu kecil
tinggal sama nenek kenapa?
Oh, ini Mas saya itu anak pertama,
cucu pertama.
Oh.
Terus semua di lingkungan keluarga saya
tuh saya pertama ponaan pertama. Jadi
tuh nenek itu kayak ee
enggak ngebolehin untuk Bapak Ibu tuh
ngerawat saya di Kediri. Bapak kan
dinesnya di Kediri ya.
Oh.
sempat waktu tuh jadi kayak rebutan
kayak gitu sih. Terus saya
banyak yang sayang ceritanya [tertawa]
neneknya saking sayangnya akhirnya
enggak boleh tinggal di Kediri gitu.
Itu drama, Mas. Dulu waktu kecil itu
drama banget beneran. Kalau saya
misalnya liburan 1 minggu sekolah saya
kan di sana
liburan 1 minggu di Kediri itu nenek
saya itu sudah nyuruh om saya untuk
jemput saya untuk pulang ke Caruban. E
sedangkan ibu saya kalau libur pulang ke
sana lihat saya pertama itu nangis balik
Kediri nangis itu setiap dulu setiap ee
ketemu di masa kecil saya itu air
melihat ibu menangis
nenek saya juga enggak mengizinkan saya
ke
Kediri kayak gitu loh.
Ee wih sampai segitunya ya.
Iya. Cuma akhirnya anu, Mas mungkin
karena ee itu juga ya, akhirnya waktu
akhirnya benar-benar lepas itu ketika
nenek meninggal.
Oh,
akhirnya mau enggak mau saya kan full
pindah ke Kediri.
Ke Kediri. Usia berapa itu waktu nenek m
kuliah? Ee semester akhir skripsi.
Oh, berarti jadi usia kecil kemudian
sampai kuliah itu di Cicaruban ya?
SMA, Mas. SMA saya sempat pindah ke
sini. H
itu pun juga ada drama karena emang
maksudnya gini ee nenek saya itu enggak
mengizinkan untuk saya pindah ke Kediri.
Enggak enggak diperbolehin, enggak
dilepasin gitu loh, Mas. Cuma kan waktu
itu mungkin orang tua ya, Ibu itu ee
senang kan kalau mungkin anaknya bisa
berkumpul dengan kita kayak gitu ya.
Terus akhirnya
walaupun saya pindah ke Kediri, sekolah
di Kediri cuma setiap minggu tuh saya
pulangnya masih di Caruban. He.
Cuma memang benar-benar lepas itu memang
ketika nenek
meninggal itu saya sudah full pindah
Kediri.
Ee kalau ee boleh ini kedekatan saya
sama ibu sama nenek itu lebih
lebih dekat sama nenek ya?
Iya nenek. Dan itu sebelum meninggal 40
hari itu di rumah sakit yang ngerawat
saya. Maksudnya
ya mungkin ada ya ee Bu Dir atau tante
atau Om cuma wajib saya yang nungguin.
Untung waktu itu pas libur kuliah, Mas.
Iya. Iya.
itu dan yang nungguin waktu pas
menghembuskan nafas itu juga saya di
sebelahnya gitu.
Tadi tuh saya kira oh karena nenek sudah
enggak ada akhirnya bisa kembali ke
Kediri gitu.
Oh enggak.
E saya mikirnya tadi gitu. Oh [tertawa]
tapi ternyata malah sedih sekali ya di
situ ya momennya sedih ya.
Iya sedih
sedih.
Lanjut Pak.
Iya.
Jadi ee akhirnya ada kesempatan tuh
untuk merawat Ibu kan di Dikri. Ibu
masih ada sekarang
2019 sudah enggak ada, Mas. Iya.
Oh, akhirnya juga ada kesempatan untuk
merawat ya ibu juga ya.
I saya diberi kesempatan akhirnya
berbakti sama ibu.
He.
Saya dua orang yang akhirnya tahu ketika
saya itu di sebelahnya menghembuskan
nawas nenek saya dan ibu saya.
Itu benar-benar pas momen yang mungkin
tidak semua. Adik saya pun belum tentu
yang di Jakarta itu enggak bisa gitu
loh, Mas. Tapi saya akhirnya bisa
ngerawat ibu gitu.
Mohon maaf, apa ada sesuatu dengan Ibu?
Kayaknya kok ada apa begitu.
Enggak sih
enggak aman-aman juga sebenarnya ya.
Enggak, enggak, Mas. Cuma Ibu kan memang
sakit ee lama ya, maksudnya kayak
menahun gitu loh.
H
gitu sih kalau dari Ibu. Oke, lanjut.
Tadi kenapa kok kemudian setelah 10
tahun
Iya,
enak tuh kerja, berkarir juga enak,
kemudian resign dan memilih berbisnis
awalnya ya, Mas ya. Itu kan ee kalau di
tempat kerja saya dulu itu Sabtu Minggu
tuh sering lembur
awalnya gitu. Kemudian pada suatu ketika
hari Minggu itu tidak diperbolehkan
ngelembur. Jadi dulu tuh kehidupan saya
itu walaupun weekend saya tuh di kantor
Mas. Saya tuh senang kerja gitu loh
dulu.
Iya holik gitu. Jadi
ee daripada saya sama mungkin sama teman
ya saya menghabiskan waktu di kantor
lembur tapi saya juga dapat duit gak
caranya gitu ya. Cuma waktu itu ada pas
efisiensi hari Minggu tuh enggak boleh
enggak boleh lembur
lembur. Otomatis saya ngisi kegiatan
apa yang positif gitu. Akhirnya saya
punya hobi di fotografi, Mas.
Fotografi itu memang senang dari kecil.
H
juga saya ada kamera poket waktu itu
kan. Jadi saya oh ternyata saya mungkin
ini aja ee saatnya untuk ngembangin ini
hobi saya cuma waktu itu cuma ngisi
kegiatan longgar saya di hari Minggu
itu.
Akhirnya saya belajar foto fotografi itu
terus gabung ke komunitas-komunitas Mas
awalnya tuh ada komunitas
ee mak-mak gitu loh Mas. Nah saya itu di
situ ketuanya terus saya itu
komunitas apa itu mak-mak.
Eh tapi sekarang sudah udah enggak ada.
[tertawa]
Ada dulu Mas
dulu apa namanya? Contoh
dulu SO BC Kediri
apa?
Sobat Kediri dulu.
Oh sobat Kediri.
Nah itu di situ kan ee saya berbagi
ilmu. Saya senang gitu loh, Mas ee
sharing ilmu. Jadi dulu kalau saya
ngantor misalnya pulangnya jam 5. Saya
itu ngumpulkan member-member saya.
Nanti siapa yang bisa gabung di kafe
saya nanti ngajarin foto
secara gratis.
Iya. Waktu itu saya belum berbayar masih
hobi.
Sekarang berbayar ya kayaknya. [tertawa]
dulu. Iya, Mas. Dan itu saya senang
ngajarin
ibu-ibu gitu.
Oh, ngajarin apa? Foto berarti ya?
Fotografi, Mas. Fotografi. Terus editnya
ee simpel sih pakai HP. Cuma mereka kan
senang kebanyakan kan member saya itu
selain ibu-ibu rumah tangga biasa, dia
juga punya usaha UMKM gitu loh, Mas.
Jadi dengan foto pakai HP pun
hasilnya bagus,
bagus gitu waktu dulu. dan membernya kan
enggak cuma Kediri kan, Kediri dan
sekitar, Nganjuk, Blitar, Tulungagung,
Trenggalek. Jadi setiap bulan tuh 3
bulan tuh ada Mid Mas. Kadang ke
Tulungagung, kadang ke Trenggalek kayak
gitu kadang ke kafe ke Kediri gitu.
Berarti awalnya untuk mengisi hari
Minggu itu yang enggak boleh lembur itu.
Iya, awalnya itu.
Terus masuk komunitas saya berbagi
sharing sama ibu-ibu. Terus ee akhirnya
ada undangan ngisi acara tapi masih
seputar ibu-ibu juga untuk ibu-ibu waktu
itu apa ya, Mas? Perkumpulan Ibu-ibu
pegawai negeri gitu loh, Mas. I
terus undangan dari ada dulu universitas
yang di Kediri gitu pernah juga
cuma itu masih sebatas karena orang
melihatnya saya masih hobi di situ foto
foto-foto gitu loh Mas sebatas hobi itu
di tahun 2017
awal Januari ingat saya itu kalau enggak
Februari
kemudian sampai akhirnya terakhir itu
2019 akhir Mas itu saya sudah mulai
yang ada berbayarnya. Tapi saya enggak
enggak enggak niat untuk
oh ini saya berbayar itu enggak, Mas.
Awalnya itu memang permintaan dan saya
diamplopin kayak caranya gitu loh, Mas.
Oh, iya. Iya.
Itu ceritanya gitu. Akhir 2019 waktu itu
memang
ee belum COVID ya, belum COVID, Mas itu.
Oke.
Siap.
Gitu sih.
Jadi kalau resignya tahun berapa?
Berarti
risnya 2023 Oktober, Mas.
Oh, baru banget ya?
Iya. 2 tahun ini.
Oh, itu mengawali berarti artinya begini
ya, ketika kita sudah mau resignya
atau pas waktu mengawali itu enggak ada
niatan resign atau gimana?
Sudah, Mas.
Sudah, ya. Oh,
sudah. Awalnya tuh memang karena selain
kantor jadwal saya tuh foto lumayan
sering.
Heeh. padat gitu loh, Mas. Otomatis
kalau saya kerja, saya bisa ngambilnya
itu jadwal di hari Minggu
atau saya ambil cuti.
Otomatis kalau saya misalnya kerja di
kantoran ya otomatis kalau cuti itu 1
bulan paling enggak saya pakai 2 hari
itu sudah
sudah lumayanlah. Nanti
belum
belum omongan ee teman-teman sekantor
ya. Kalau
dua misalnya 1 bulan dua tapi totalnya 1
tahun kan 12 hari ya Mas.
Cutinya?
Cutinya. Jadi saya ngambilnya di situ.
Hm. gitu sih, Mas. Cuma ee pada akhirnya
dengan job saya yang semakin ramai,
akhirnya saya memutuskan untuk
berani mengundurkan diri.
Iya, gitu sih, Mas.
Berarti juga anu ya ini juga ee saya mau
mengulang sebuah statement nanti kalau
benar ya kan kalau salah bukan seperti
itu bilang gitu ya. Jadi artinya ketika
orang mau resign harus dipersiapkan ya,
harus dipersiapkan panjang gitu loh.
Enggak enggak kemudian ada niatan resign
sekarang ada niat besok resign kan
enggak gitu ya. Kalau saya yang resenter
ini memang ada sudah ada persiapan 1
tahun sebelumnya saya sudah bikin tempat
bikin tempat walaupun itu kecil terus
sudah saya sudah lumayan punya klien
Mas. Jadi ketika saya resign kemarin
sudah jalan gitu loh Mas.
Siapsap
walaupun selesai resign tuh enggak
enggak selalu mulus ya mesti ada
naik turunnya ya pastinya.
Apa yang membedakan? Jadi, Mbak Oji
waktu itu ketika risin yang pertama yang
dari Kediri kemudian buka usaha fashion.
Iya. Iya.
Di dua di kerja.
Iya.
Habis itu juga usaha kurang berhasil.
Tapi yang ini kerja tapi juga babat
bisnis berhasil. Apa yang membedakan?
I kalau dulu mungkin kesiapan mental
juga, Mas. Saya mungkin
usianya otomatis kan waktu itu masih
enggak enggak seperti 2 tahun kemarin
ya, Mas. itu otomatis kan peristiwanya
yang ee fashion fashion itu kan 10 atau
13 tahun yang lalu ya mungkin secara
kematasan mungkin lagi kalau dulu ya
lagi ada di bawah enggak enggak pas
enggak ramai atau sepi tuh saya langsung
down gitu loh Mas
mungkin langsung gitu langsung maaf yo
ee istilahnya udah mutung gitu loh Mas
kalau sekarang ya
patah gitu ya
iya kalau sekarang namanya usaha kan
pasti naik turun ya kadang gini ya pas
ramai yo ramai kalau pas ee agak turun
orderannya Ya. Ya. Cuma saya lebih
mempersiapkan ke mentalnya aja sih.
Jadi secara mental sudah berbeda ya Oji
yang dulu sama Oji yang saat ini.
Iya. Mungkin saya rasa itu sih kalau
modal itu kan mungkin semua orang bisa
mengusahakan ya misalkan ya Mas ya.
Belum tentu sih.
Oh belum tentu ya. [tertawa]
Iya sih itu sih Mas saya rasa
mental apa yang dimiliki Mbak Oci
sekarang
pada akhirnya ya. Iya. Yang kemudian
bisa survive di industri yang mungkin
juga
bisa digolongkan juga industri yang
langka ya, tidak common gitu. Kalau
kuliner kan bilang ee itu umum g
kalau fotografi kan
apalagi sekarang ada AI dan sebagainya.
Apa yang membuat
seorang Pak Oji ini bisa survive di
industri ini?
Iya saya percaya bahwa ee semua proses
itu ada hasilnya gitu loh, Mas. Oke,
saya tetap konsisten. Maksudnya yang
saya jalani itu mungkin orang lain
melihatnya kan pelan kayak gitu ya. Oh,
ee jalannya cuma gitu. Cuma saya percaya
kalau yang saya lakukan dengan proses
ini tuh
ada ada apa ya tangga yang saya tapakin
tuh suatu saat saya ada di tangga
kesekian gitu loh, Mas. Soalnya dari
awal itu kan saya memang hobi saya
enggak enggak punya Mas namanya ee
mungkin kamera kan saya pakai HP
awalnya. Oh, katanya kamera poket tadi
itu HP maksudnya
itu bukan kamera poket itu enggak bisa
saya pakai lagi waktu itu. Kalau dulu
kan
dulu punya kamera poket tapi pas waktu
foto-foto enggak pakai poket enggak
pakai HP, Mas. Awalnya
pakai HP. HP apa dulu?
Dulu Samsung sama iPhone 4S, Mas.
Oh, iya. [tertawa]
Tapi masih zaman 2013 ee punya saya
awalnya. Terus akhirnya
saya pakai di 2016 akhir tuh saya sudah
mulai belajar.
itu sudah berani
di Instagram gitu loh, Mas ceritanya
awalnya.
Jadi saya rasa ee keterbatasan itu tidak
menghambat untuk berkembang atau untuk
maju.
Oke.
Karena saya merasa memang saya itu dulu
foto pertama itu memang pakai HP, Mas.
HP. Kemudian saya juga keterbatasan
waktu saya kan motonya kapan kalau saya
kerja. Heeh. Heeh.
Pagi itu saya sempatkan
istirahat itu kan karena di kantor sama
rumah dekat ya. Saya usahakan waktu
istirahat pulang saya itu moto Mas
biar bisa posting itu dulu. Terus pulang
kantor tuh saya usahakan Mas saya itu
bisa foto gitu walaupun pakai HP.
Maksudnya kalau diposting itu untuk apa
ya? Kan saya kira tadi itu foto itu
untuk klien ya bukan ya?
Belum Mas. Saya kan masih hobi waktu itu
awalnya.
Oh jadi foto-foto makanan diposting gitu
aja?
Iya.
Tujuannya untuk
waktu itu awalnya karena hobi. Heeh.
Senang aja berarti
senang aja.
Saya senang untuk mengisi Instagram saya
lah. Dari situ orang mengenalnya, "Oh,
fotone Mbak Oci itu loh, Mas." Awalnya
tuh.
Bentar, bentar, bentar.
Tapi kalau hanya untuk hobi kok sampai
dibela-belain gitu loh. Dibela-belain
istirahat pulang pagi
pagi foto. Makanya kalau untuk sekedar
hobi kok sampai dibela-belain gitu. Anu,
Mas, saya tuh kalau mestinya punya
keinginan belajar itu tak iniin
benar-benar.
Oh,
saya pengin bisa gitu loh, Mas. Kan saya
senang fotografi itu dari kecil. Cuma
saya enggak punya
apa ya wadah waktu itu tuh ke situ.
Karena kuliah saya kan jurusannya
administrasi niaga ya,
enggak di jurusan seni fotografi gitu.
Otomatis ketika saya menemukan ada wadah
Instagram itu
iya saya itu kayak termotivasi untuk
saya harus bisa,
harus bisa walaupun saya dengan
keterbatasan
cuma pakai HP atau mungkin saya kerja
kalau kerja gitu kan
pagi Pak Mas sebelum berangkat kantor
tuh saya moto seadanya
moto apa gitu contoh moto apa
moto dulu kan awalnya tuh saya enggak
moto makanan Mas saya tuh paling benci
moto makanan
oh [tertawa] gitu ya
saya hindari karena dia saya tahu kalau
moto makanan tuh natanya tuh susah gitu
gitu loh. Saya tuh yang tahu saya foto
tuh apa? Bunga, Mas. Oh,
bunga di depan. Kalau kayak gitu ya saya
tu sampai hunting, Mas. Pagi itu cari
bunga yang ada embunnya itu keliling,
Mas. Sampai sampai kelut kayak gitu ya.
Sampai kelut.
Beneran, Mas. [tertawa] Ada teman saya
itu yang saya ajak ke sana itu maksudnya
prosesnya kayak gitu.
Ke kantor jam berapa kok sampai kelut
itu?
Iya. Kalau kelut tuh saya ngambilnya di
hari Minggu. Oh, hari libur.
Tapi kalau yang ngantor itu paling di
sekitar
rumah hunting memang cari objek lah ini
gitu ya.
Iya. Pokoknya saya harus posting satu
hari itu wajib saya posting satu
yang wajib atas dasar
saya sendiri. Karena saya di situ kan
sebagai ketuanya, Mas. Kalau saya harus
mencontohkan yang
Oh, iya. I ya. Ketua komunitas emak-emak
itu ya.
Iya. saya harus mencontohkan gitu loh.
Maksudnya saya bisa ngoyak-ngoyak member
saya, tapi kalau saya sendiri
postinganku enggak ada, terus saya
fotoku jelek, kayak saya gimana gitu
gitu kan. Nanti dibedah di grup.
Nah,
dibedah di grup member itu. Oh, ada grup
itu ya yang menjadi kayak apa ya
responsibility kita untuk bikin
postingan.
Berarti waktu ada grup itu di grup ee
member itu
Heeh.
Mereka bukan murni seorang pebisnis ya.
Ada
ada yang berbisnis, ada yang juga hobi
gitu ya.
Betul betul, Mas.
Oh, oke oke oke
itu sih awalnya itu terus akhirnya
keterusan Mas.
Klien pertama.
Klien pertama itu sebenarnya teman
sendiri Mas.
Heeh.
Dari member saya.
Oke.
Member saya sendiri waktu itu ingat pas
ee biasanya member itu mesti ketemu ya,
Mas, 1 bulan sekali atau kita saya
pulang kantor jam 5. Tuh ayo ngopi ke
mana? Nanti kita moto objeknya makanan
atau ee minumannya di kafe itu ya.
Lah waktu itu ingat waktu itu pas
ee ini loh pas saya traktiran ada ulang
tahun gitu loh ceritanya itu. Terus
salah satu member tuh bilang, "Mbak, aku
tak bawa sekalian produk kopiku ya nanti
minta tolong difotoin
berapa, Mbak." Aduh saya kan enggak
pernah nghargain berapa ya, Mas ya.
Akhirnya wis terserah Mbak Oci berapa
kayak gitu. He
akhirnya ya kita hargai se ininya aja
Mas ya. Murah waktu
sekenanya berapa dulu itu?
250 tapi banyak [tertawa]
banyak pakai banget Mas.
Oh
iya beneran itu
akhirnya berkembang dari situ.
Dari situ terus ada yang minta fotoin
lagi. Cuma masih lingkup teman. Kemudian
ada undangan-undangan itu, Mas. Awalnya
sebenarnya bukan di foto itu sih, saya
ngisi-ngisi materi, Mas.
E kayak seminar-seminar itu.
Iya. Undangan kayak gitu tuh,
seminar-seminar gitu. Malah awalnya tu
sebenarnya itu, Mas. Terus akhirnya
oh selain ngisi ini ternyata akhirnya
kan gitu ya.
Iya. Akhirnya kan pesertanya itu kan
ngelihat hasil foto saya terus akhirnya
motoin gitu loh, Mas. Pada akhirnya.
Oke. Oke. Siap. Siap.
Gitu sih.
Paham. Paham. Paham. [tertawa] Berarti
waktu resign di tahun 2023 itu sudah
sudah cukup berjalan ya?
Sudah, Mas.
Ada studio, ada klien begitu ya.
Sudah.
Kalau boleh dicompare waktu hasil dari
usaha yang menghasilkan ini sama gaji
dari di kantor itu gedean mana waktu
resign?
Satu klien bisa satu gaji saya ketika 1
bulan gitu loh, Mas.
Wih, satu klien aja sudah compare sama
ini ya.
Iya. Hm.
Cuma kan kadang kan enggak mesti sama ya
tiap bulannya. Cuma saya waktu itu
berani mengambil keputusan karena
saya berpikirnya anu tuh Mas lebih
selain masalah nominal ya lebih saya
lebih bisa jadi diri sendiri.
Kreativitas saya. Saya bisa ketemu
banyak orang yang enggak homogen seperti
di kantor.
Banyak yang saya pelajari juga di luar
ketemu banyak owner-owner bisnis di luar
kan, Mas. H
kadang cuma sekedar klien. Jadi kita
bisa sharing juga, Mas. Saya kadang
lumayan dekat sama owner-owner ee yang
lain juga
kayak gitu sih. Banyak hal.
Jadi artinya
ee selain juga kalau hasil kan hampir
mirip-miriplah walaupun itu hanya
dikerjakan satu hari.
Nah, itu artinya ketika
dikerjakan fokus bisa jadi kan hasilnya
lebih tinggi kan.
Iya.
Dan selain itu juga dari segi
apa ya kayak hobi itu terpenuhi. Jadi
Iya. hawanya enjoy gitu loh.
Iya, lebih enjoy saya ngejalannya sih,
Mas. Karena memang
dari hati sih.
Jadi kalau kerja enggak dari hati
kayaknya ya.
Ee karena mungkin kelamaan di [tertawa]
karena tuntutan kali ya.
Tuntutan ya, Mas ya?
Iya. Jadi
20 tahun.
Wih. Mbak boleh waktu risin itu di usia
berapa ya? Boleh
enggak mau ngomong Indonesia? Enggak
apa-apa ya?
Enggak apa-apa. 43.
Oh 43.
Saya sekarang 45.
Wah enggak kelihatan ya? Ya, seperti 50.
[tertawa]
Mungkin karena senang ya, jadi kelihatan
lebih tua loh
gitu ya, Mas.
Bercana seperti umuran 30. [tertawa]
Oke. Oke. Kalau sekarang tentu lebih
banyak ketika ee
tentu lebih banyak yang berbisnis kan
daripada yang bekerja. Betul enggak?
Iya.
Boleh dibocorin enggak? Kira-kira dapat
berapa dari hobi motret itu, Mbak?
Ya mungkin belum sebanyak yang lainnya,
Mas. Cuma e masih di sekitaran dua digit
gitu sih, Mas. Itu aja.
Dua digit kan banyak ya. [tertawa]
Masih belum banyak sih, Mas. Karena saya
kan ee masih timnya masih istilahnya
masih UMKM ya. Jadi masih di bawah 50
sih, Mas.
Sekitar 30 gitu di situ.
Oke. Per bulan.
Iya.
Gitu.
Itu kan enggak ada HP kan kalau motret
kan ya semua milik kita kan.
Iya. Cuma kan kadang naik turun Mas.
Kalau pas ramai bisa segitu, kalau pas
sedikit ya enggak sampai segitu juga
gitu. [tertawa]
Kadang harus nembel-nembel, Mas.
Enggak sampai segitu. Pernah juga gitu
loh. Jadi saya juga ngalamin maksudnya
enggak selalu loh resign itu terus
selalu dapat nominal
e gede kan otomatis kan yang saya ee apa
Mas? Saya gelutin ini masih di produk
sama makanan ya. Enggak. Kalau wedding
kan mungkin sekali ini kan langsung gede
juga kan masih ada yang UMKM, ada yang
kelas resto atau kafe. Jadi kan
ee kalau pas lagi sepi ya enggak dapat,
Mas. Segitu tuh.
Timnya berapa, Mbak?
Kalau yang freelance itu satu. Kalau
yang ini yang bantu saya tadi yang satu
masih dua.
Artinya kan cukup efisien ya dengan
penghasilan segitu banyak loh menurut
saya. Segitu banyak loh ya. Iya.
Dengan tim yang sangat efektif hanya
satu orang
dan satu orang itu menurut saya sangat
Heeh.
sangat worthed lah. Jadi sangat worth
it. Jadi kalau untuk ukuran Kediri dan
sekitarnya sangat wored menurut saya
ya. Iya. Pas
kayaknya enggak kayaknya enggak
bersyukur tadi.
Iya. Bersyukur. [tertawa]
Alhamdulillah Mas. Bersyukur. Cuma tadi
kan ee saya mengasumsinya kan pas ramai
ya. Tapi kan kita pas lagi di bawah kan
ada cerita juga saya harus jual lensa
mungkin pernah pas lagi sepi saya harus
bayar karyawan saya [tertawa]
tapi pas waktu sepi masa masa pernah
enggak bisa bayar karyawan
bisa
bis Mas mungkin tapi
kan saya mungkin kalau 1 bulan pas
sepi-sepinya cuma dapat pernah itu waktu
sepi kemarin tuh cuma dapat tiga klien
dan itu tiga klien itu enggak gede. Jadi
ee bisa buat bayar karyawan cuma kan
untuk mungkin biaya kayak lain-lain
mungkin kayak wifi dan kan memang
kreatif itu gajinya enggak nentu mbak.
Iya.
Kadang-kadang bulan ini bisa R juta, R00
juta, R00 juta.
Bulan depan bisa jadi cuma sejuta.
Ya, kurang lebih ke tadi kan asumsinya
seperti itu.
Nah, gitu kan. Nah, jadi kalau kita
manajemennya di cash flow.
Iya. Jadi cash-nya harus rapi, harus
benar-benar ketata gitu. Kalau manajemen
keuangannya Mbak Oci gimana berarti?
Iya,
mohon maaf jadi sharing saya.
Iya, cuma saya memang ee kalau misalkan
dapat segitu kan enggak enggak saya
habiskan bulan itu juga sih ya. Enggak
gitu sih, Mas.
Ditata begitu kan.
Injih. Soalnya kan untuk nutup ke
kebocoran ketika saya lagi pas sepi gitu
kan. Kadang kan
ada bulan-bulan yang saya itu sepi Mas.
enggak enggak ramai gitu kan
gitu sih.
Tapi ee saat ini gimana prospeknya?
Kalau selama in sampai saat ini ya masih
ini sih, Mas e apa ya masih jalan
seperti biasanya. Cuma ada bulan-bulan
yang saya tuh kemarin sempat ngerasa
yang sempat isu-isu ekonomi yang lagi
ini loh, Mas.
Lemah turun itu.
Iya. itu saya sempat ngalamin di
bulan-bulan Agustus kemarin tuh sempat
itu saya
yang lagi sepi-sepinya
gitu.
Tapi kalau menurut Mbak Oji nih kan ke
depan banyak gambar yang bisa dihasilkan
oleh AI dan semakin pintar nih AI.
Iya betul.
Bidang yang Mbak Oji gelutin apakah
masih bisa survive atau gak?
Kalau masalah Ee ya, Mas ya.
Ee kita kalau EE itu kan tidak boleh apa
ya memerangi atau musuhin ya, Mas ya.
Itu tergantung juga
kita sebagai apa ya ee yang megang kan
itu harus otaknya kan tetap kita ya Mas
ya.
He.
Ee itu cuma buat melengkapi saja cuma
jangan sampai menggantikan seperti itu
ya. Cuma kalau untuk pangsa pasar yang
saya biasanya apa? Saya saya kerja sama
dengan saya itu ada salah satu klien itu
contohnya enggak mau pakai ee foto dari
Google atau dari AI. Dia memang benar
benar-benar
murni dari foto dia. Jadi dia masih
bukan bukan masih ya, dia memang
ee memegang untuk otentiknya gitu loh,
Mas. karena dia mungkin ee perusahaan
yang sudah lumayan punya nama brandnya
ya, jadi dia enggak mau berisiko di
jangka panjangnya dan selama ini sih
masih aman-aman aja kalau untuk yang
apa, Mas, untuk tingkat kesadarannya itu
masih
giih ngaten sih.
Artinya ketika bisnis itu sudah mulai
menengah ke atas gitu ya, itu pasti
aware terhadap keuntentikan sebuah foto
begitu ya.
Iya, betul. Malah enggak mau, Mas. pakai
AI berarti kan
pernah waktu saya dapat klien itu saya
enggak mau Mbak pakai diambilkan Google
apa saya minta produk saya sendiri
benar-benar ini
gitu
artinya kan enggak akan terganti berarti
Mbak.
Iya. Jadi artinya juga memang misal nih
aku pemilik kafe atau restoran,
aku kan pasti mendesain sebuah makanan
yang memiliki diferensiasi kan.
Iya.
Yang di mana ini gambarnya mungkin belum
ada di upload di internet sebelumnya kan
gitu atau harus difoto dari makanan ini
gitu.
Iya. Soalnya kan kalau foto sebenarnya
kan kalau diteliti banget itu memang Mas
ada bedanya loh Mas. asli sama kalau
kita ee gitu pasti
dari gambarnya kan dari ketajamannya pun
udah beda ya.
Heeh. Heeh.
Akan ee terlihat sih.
Heeh. Heeh.
Mungkin kalau saya saya kan pernah bikin
ee juga kan ya. Mungkin sepintas bagus
sih hasilnya bisa dibikin kayak
gini-gini. Cuma kalau diteliti banget
itu memang ada bedanya antara yang asli
otentik itu sama yang buatan e sih.
Bedanya apa?
lebih teksturnya atau ketajamannya itu
bakalan beda, Mas.
Apa ya? Ee misalkan kayak kain. Kain tuh
benang dari aslinya kalau difoto aslinya
itu sama yang dari Iya. kayak model
gambar kayak kartun gitu loh, Mas ya.
Walaupun sebenarnya kan tetap tergantung
promnya juga ya. H.
Tapi ya kembali lagi ke klien yang kita
ngambilnya klien di mana? Kalau mungkin
aware atau peduli sama otentik atau
keasliannya enggak enggak enggak bakalan
berpengaruh kok, Mas. Kayak gitu sih.
Heeh. Artinya tetap ada market yang
membutuhkan jasanya. Berarti bisa long
term ya, Mbak ya?
Betul. Iya.
Yang penting marketnya itu kan ada
sendiri untuk yang asli. Kalau
marketing, Mbak, bagaimana cara Mbak Oci
selain juga tadi dari komunitas dan juga
ngajar
atau dari itu aja atau ada
marketing-marketing lain?
Oh, kalau dari saya dulu awalnya sebelum
saya resign itu saya cuma
posting-posting Mas
di Instagram karena kenapa? Saya enggak
berani
ee apa ya terlalu
banget untuk marketingnya karena saya
kan waktunya belum bisa. Tapi setelah
saya resign ada sedikit demi sedikit itu
progres untuk marketingnya. Selain di
Instagram saya di Google Maps itu Mas di
Google itu. Kemudian
di TikTok sekarang sudah ee mulai jalan.
Kalau dulu kan cuma sekedar posting ya.
Sekarang sudah
mulai jalan di TikTok, Instagram. Itu
kalau yang lama itu marketing saya dari
Instagram, Mas. Banyak klien tuh saya
dapat dari Instagram. Kemudian ada yang
dari Google, kemudian ee ini barusan kan
juga website
terus ke TikTok. Cuma yang masih banyak
masuk ke saya itu dari Instagram,
Google, sama TikTok. TikTok ini lagi
mulai
mulai Iya. Dulu saya jarang Mas dapat
dari TikTok
dapat tapi mungkin UMKM akhirnya enggak
ini bukan maksudnya gimana ya maksudnya
kan budget ya lebih ke budget ya itu
mungkin belum masuk kayak gitu cuma ee
sudah beberapa waktu ini dari TikTok itu
udah bisa masuk ke ini level-level paket
saya yang
gitu.
Oke, sebelum bahas paket nih, kalau
marketingnya di TikTok sama Instagram
berarti dengan cara ngonten ya berarti
ya?
Iya,
ngonten Mas. Jadi konten produksi konten
buat di Instagram, TikTok kayak gitu
sih.
Apa kontennya? Kayak behind the scene
gitu atau apa?
Behind the scene. Terus kadang ya
storyting,
terus kadang kayak hiburan, motivasi
kayak gitu-gitu, Mas. Kita kombinasi aja
untuk kontennya. Oke, oke, oke. Kayak
tadi di sini juga ada kamera datang
ngontenin gitu.
Iya, tim saya [tertawa]
itu behind the scene berarti kan gitu
ya.
Kurang lebih seperti itu.
Siap, Pak. Kalau paketnya berapa sih
kalau orang mau ngambil paket foto di
Mbak Oji itu berapa?
Ada beberapa paket sih, Mas, yang
mungkin dari versi lengkap kayak gitu
ya. kita nyebutnya sih premium atau
sesuai dengan request klien itu
ada ee saya ngitungnya di ee satu foto
sih kayak gitu.
Nanti paketnya mungkin satu foto ee satu
paket satu foto masih di kalau di saya
masih di 130-an, Mas.
Oke. Katakanlah ini ada parfum ya.
Parfum ini berbahan dasar ee katakanlah
mawar begitu ya. Berarti nanti kayak di
konsep ada mawarnya, ada ornamen-ornamen
pendukung begitu ya. I
misal ini kan parfum untuk luxeri begitu
ya, berarti ada sebuah elemen yang
menunjukkan ini untuk lakeri begitu.
Iya ya, kurang lebih seperti itu, Mas.
Paham daun daun-daun. Jadi satu foto itu
full paket harganya R30.
Satu foto aja, Mas.
Iya, makinya full dengan desainnya dan
sebagainya.
Nggih. Cuma nanti kalau desainnya itu
nanti kan ee di luar
Heeh. nanti ada kayak ring-rengannya
gitu loh. Kurang lebih itu. He
segitu. Berarti rata-rata kayak orang
mau ngambil foto enggak hanya satu dong,
Mbak. Bisa lebih dari itu ya?
Bisa, Mas.
Bisa lebih dua atau tiga.
Ngambilnya saya minimal satu paket. Jadi
enggak satuan berapa
isinya? Nanti empat.
Oh
ya kurang lebih ketemunya satu paket di
500 sekian lah. 550 600 kayak gitu.
Tergantung konsep juga kan nanti
kayak gitu sih Mas.
Ee dan menurut saya berarti
jarang kalau UMKM pemula mengambil
Iya.
foto ini ya Mbak berarti ya.
Iya Mas. Berarti ini foto untuk usaha
yang sudah jalan begitu ya.
Ada yang misalkan belum jalan pun tapi
dia
aware untuk I
perfeksionis dari awal dia kayak gitu.
Oh
iya ada gitu dia mau buka terus mbak mau
saya mau opening saya pengin difotoin
menu saya
oh
full saya punya konsep seperti ini.
Padahal dia belum jalan, Mas. He.
Tapi sudah langsung
ini
ada yang mungkin kayak baru jalan tuh,
Mbak. Saya ambil yang paket di bawahnya
itu. Itu
bisa juga sih.
Ada paket di bawah itu kayak apa
contohnya?
Contohnya ee
katalog, Mas. Jadi mungkin
background
putih aja.
Oh, oke oke oke oke.
Jadi tanpa ornamen atau tanpa konsep
yang penting kan tajam di situnya aja.
Itu ada, Mas.
Ada juga ya
beberapa itu kayak gitu.
Oke. Siapa, Mbak?
Iya.
Dan menurut saya kayak foto itu
investasi, Mbak.
Iya.
Kan kita kan jadi punya aset mentahnya
kan
yang di mana itu nanti bisa kita gunakan
untuk berbagai
keperluan di
keperluan poster bisa dipakai nanti
video juga bisa ditempel di depannya dan
sebagainya.
Betul.
Jadi itu masuknya bukan kayak bukan
biaya bulanan tapi investasi gitu.
Iya
begitu ya Mbak?
Iya, kebanyakan sih gitu, Mas. Kayak
klien-klien saya misalkan foto di saya
kelihatan itu langsung banyak. Ada kan,
Mas? Langsung banyak gitu ya. Cuma
nanti untuk jangka waktu mungkin agak
lama gitu enggak foto cuma itu bisa
diolah.
Nah, diolah-olah kan betul
terus gitu ada seperti itu. Tapi ada ee
salah satu enggak salah satu sih ada
beberapa klien itu yang ee ngambilnya
tiap momen Mas.
Tiap bulan ada momen tuh selalu Iya. Oh,
se jadi langganan.
Jadi kayak itu yang sudah jalan berarti
ya, sudah jalan. Setiap bulan ada momen
tertentu pasti manggil
Mbak Oji.
Dan biasanya sudah paham kan karena
sudah paham itu
lebih enak ya.
Iya, Mbak Oji, saya punya konsep kayak
gini minta tolong dong ee minta tolong
dicarikan. Jadi karena udah udah mungkin
2 tahunan sudah langganan tuh saya
nyariin konsepnya kayak gini, Mbak.
Gitu.
Oh, iya. Iya, Mbak J. kayak gini gitu.
Jadi, sudah klik. Jadi kita ke ke
komunikasinya juga, Mas.
He. Lebih enak.
Lebih enak kayak gitu sih.
Kalau wilayah layanan, Mbak di mana aja?
Kalau yang saya visit itu masih wilayah
Jawa Timur
sini. Cuma kalau yang produk dikirim itu
sudah beberapa yang dari luar Jawa
Timur, Mas. Gitu sih.
Kalau yang misalkan produk kering yang
bisa dikirim itu ada yang dari ee
Jakarta,
Bekasi sama Bandung tuh ada. He.
Jawa Timur,
Kediri dan sekitarnya kayak mungkin
Tulungagung itu minggu depan saya juga
ke Tulungagung lagi.
Tulungagung lagi. [tertawa]
Siap.
Terus Ponorogo, Mas. Ponorogo,
Mojokerto.
Jauh-jauh ya.
Lumayan Blitar.
Ee
itu Bojonegoro.
Bojonegoro jauh.
Itu dapatnya rata-rata dari sosmet, Mas.
Dari Instagram, dari TikTok. Berarti
kalau di Bojonegoro itu plus transport
berarti, Mbak ya?
Iya, Mas.
Oh,
bisa sehari atau bisa du hari kayak gitu
ya di Bojonegoro itu
tergantung yang difoto itu banyak apa
enggak.
Oh, kalau dikit bisa sehari ya?
Bisa sehari bisa.
Mbak Oji boleh di-share enggak
momen-momen di mana ee Mbak Oji
mengalami masa-masa yang susah untuk
dilalui untuk teman-teman kita yang juga
mungkin melalui fase yang sama? Eh,
mungkin kalau fase sedih itu kan banyak
ya, Mas.
Tapi saya kayak
ee merasa benar-benar
kehilangan atau di titik saya ngerasa
banget bahwa
saya harus berjuang sendiri itu ketika
adik laki-laki saya meninggal.
Hm.
Di tahun 2021.
Hm.
Itu kejadiannya kan lumayan singkat ya,
Mas. He.
Mungkin ketika saya kehilangan nenek,
saya juga saya kehilangan ya.
Kehilangan ibu saya kehilangan. Cuma kan
sakitnya itu sudah lumayan lama.
Maksudnya kalau
ee nenek saya kan satu 40 hari kan saya
menungguin gitu loh, Pak.
Ibu juga
itu kan saya nungguin. Sedangkan adik
saya itu
ya benar ee punya punya komplikasi
sakit. Cuma itu cepat banget ketika saya
ketemu Rabu, Sabtu sudah enggak ada.
Oh,
itu rasanya selain adik kan dia
sosok
kakak buat saya karena ya karena saya
masih sendiri ya, Mas ya. Otomatis saya
dekat sama adik saya. Ee
kalau masalah urusan
yang bersangkutan dengan laki-laki itu
saya selalu adik yang saya buat ngobrol
gitu loh.
Misalkan urusan rumah, misalkan urusan
misalkan mau ngambil mobil itu
adik saya libatkan. Tapi ketika enggak
ada tuh saya benar-benar rasanya tuh
dengan waktu yang singkat tuh seperti
saya tuh kaget gitu loh, Mas. kaget tapi
saya harus bangkit karena apa ya? Ini
yang harus saya lalui gitu loh. He
walaupun enggak ada, saya harus
harus bisa survive.
Iya.
Saya harus bisa sendiri.
Dari situ
saya harus bangkit bahwa ee intinya
saya enggak boleh merasa sendiri gitu
loh. Walaupun ee pada akhirnya adik
enggak bisa
mendukung saya lagi karena sudah enggak
ada ya Mas ya. Cuma saya harus nunjukin
bahwa saya bisa, saya kuat kayak gitu.
Mbak Oji berapa bersaudara?
Tiga. Saya yang anak pertama.
Oh, itu adik yang kedua. N yang kedua
selisihnya agak enggak jauh ya secara
umur ya?
Enggak 2 tahun kurang sebenar.
Oh jadi memang agak akrab gitu ya karena
enggak banyak
diajak ngobrol nyambung
nyambung. Dan dari kecil tuh adik saya
itu cowok cuma kalau ke saya tuh kayak
ya ngayomi terus dia itu dekat banget
apa-apa tuh kalau curhat ke saya
walaupun mungkin secara
ini kan cowok ya adik cuma apa-apa tuh
selalu minta pendapat saya kayak gitu
loh Mas. He.
Terus kuliah pun tuh harus ngikutin saya
apa-apa itu ya karena dekat. Jadi saya
itu benar-benar kayak
kaget gitu loh, Mas.
He he.
Itu sih yang saya ngerasa
kehilangan banget
gitu.
Oke oke oke. Saya boleh tanya tapi kalau
nanti merasa tidak boleh enggak dijawab
ya.
Iya [tertawa]
boleh tisu ya Mas ya.
Boleh boleh.
kan masih udah usianya udah masih lah ya
masih segitu tapi masih sendiri gitu
loh.
Oh iya
kok masih sendiri gitu
enggak sih ya karena bukan karena
apa-apa ya Mas ya lagi fokus kerja aja
enjoy, Mas kayak menikmati aja enjoy.
kayak gitu. Mungkin karena sudah terlalu
lama berkarir ya dari dulu lululus
kuliah itu kan saya langsung kerja ya,
Mas. Jadi,
I
istilahnya saya enggak ada kesempatan
untuk enggak kerja.
Heeh. Heeh. Heeh.
Jadi mungkin saya sudah terbiasa
terbentuk untuk
apa ya fokus ke
ya sudah ke pekerja sampai sekarang itu
pun juga fokus keja.
Iya seperti itu sih.
Berarti enggak ada keinginan. Iya,
normalnya ada lah, Mas. [tertawa]
Ada, Mas. Ya, saya keinginan untuk
apa namanya ee menemukan pasangan
itu ada pastinya gitu.
Tapi tidak untuk di tahun yang dekat
gitu
ya. Kalau diberikan yang cepat ya
alhamdulillah kayak gitu. [tertawa]
Soalnya dulu kan kayaknya doanya waktu
di sana itu ada doa Mas. Sebenarnya doa
saya itu
di sana itu di mana? di waktu saya
umrah.
Umrah. Oke. Oke.
Saya 2009 agak kelas balik ya, Mas ya.
Siap. Siap.
2019 akhir bulan Oktober itu saya kan
umrah gitu ya.
Sebenarnya itu ada
banyak doa ya. Salah satunya kan
diketemukan jodoh sama rezeki selain di
kantor. Waktu itu kan saya masih
ngantor.
Ee
saya tuh tapi enggak tahu, Mas. Rezeki
apa yang saya doakan tuh enggak tahu.
Kan saya tuh sudah di dunia foto
fotografi, tapi saya enggak ada oh saya
harus jadi ini. Enggak, Mas. itu
sebenarnya ngalir. Jadi ee waktu saya
pulang umrah itu baru saya kayak ada
tawaran ngisi acara moto produk itu
mungkin doa saya yang dikabulkan dulu
yang
doa doaanti rezeki selain dari kantor
kan saya memang sudah agak lama pengin
anu tuh Mas pengin enggak di kantor itu
gitu loh. Oh
oke.
Gitu sih.
Berarti tinggal doa yang satu tadi
segera ditunaikan segera dapat jawaban.
Am.
Amin. [tertawa] Mohon doanya ya, Mas ya.
Nah, ini barangkali disiarkan dipecah
telur ya.
Berarti kan ada ni mungkin di antara
mereka yang kemudian tiba-tiba [tertawa]
follow IG-nya gitu.
Siap. [tertawa]
Nama IG-nya apa, Mbak?
@oki_i.
Nanti kita cantumkan di bawah. Jadi,
orang-orang yang mau apa ee nge-follow
dan juga mau jasanya atau belajar
fotografi bisa di situ.
Iya.
Closing statement dari Mbak Oji
I. Jangan lelah, tetap semangat. Terus
yang pasti proses dan hargai proses
untuk bertumbuh dan satu lagi konsisten.
Itu sih, Mas.
Oke, terima kasih Mbak Haji.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:40 UTC
Categories
Manage