Transcript
PvQxuwcxwpI • Tutup Usaha Bergengsi Ratusan Juta, Pilih Jualan Nasi Uduk Gerobakan di Pinggir Jalan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0659_PvQxuwcxwpI.txt
Kind: captions
Language: id
Saya sempat punya coffee shop yang
[musik] waktu itu alhamdulillah atas
izin Allah itu 3 bulan pertama omsetnya
masyaallah luar biasa sekali
dan waktu itu harus tutup gitu karena
memang waktu itu pandemi terus kita ada
PPKM segala macam yang mengharuskan kita
harus tutup dan akhirnya kehilangan
gitu. Untuk itu kalau sama sewa tempat
ya waktu itu sekitar R50 juta, Mas. aku.
Masyaallah. [musik]
Karena mesin kopinya sendiri mungkin
ya cukup mahal. Mungkin ee bisa
dikisaran kurang lebih R0 juta sama
Grinder waktu itu.
Itu pun yang enggak bagus-bagus banget.
Maksudnya udah yang
menengah ke atas. Insyaallah. Heeh.
Itu kalau saya pribadi sih ee kesuksesan
kita itu kan bukan dari [musik]
banyaknya harta. Jadi,
kalau saya itu lebih ke kebermanfaatan
kita untuk banyak orang [musik] sih.
Terkadang suatu hal yang paling ingin
kita genggam justru adalah hal yang
harus kita lepaskan
agar tidak ada harapan melebihi harapan
kepada selainnya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat datang kembali saudara saya.
Masyaallah.
Masyaallah. bahasanya sudah [tertawa]
kecipratan panjenengan, Pak.
Masyaallah.
Akhina fillah. Masyaallah.
Saudara saya dalam
apa ya, Pak? Berbisnis dan juga dalam
berkeseharian. Pak Sikit selamat datang
di Pecah Telur.
Terima kasih Mas Agung atas undangannya
pagi ini.
Karena mumpung pas libur, Pak ya, hari
Senin ya, Pak?
Iya. Setiap Senin kita libur.
Alhamdulillah. [tertawa]
Ada satu ee satu kutipan yang saya itu
sering senang gitu ya dengan postingan
Pak Sikit akhir-akhir ini. Mungkin
postingan ini juga dilandasi sebuah
kejadian nyata dan saya menarik tentang
postingan ini. Saya tulis ini tadi, Pak.
Jadi kutipannya adalah terkadang sesuatu
yang paling kita harapkan justru menjadi
sesuatu yang kita lepaskan. Wah, ini
dalam ini, Pak. Menurut saya, Pak.
Masyaallah. Ah, itu gimana, Pak?
Jadi memang gini, Mas Agung ee ee pada
dasarnya kan kita apa namanya mengimani
kalimat istirja innalillahi wa inna
ilaihi rojiun. Bahwasanya sesungguhnya
kita adalah milik Allah dan kita akan
kembali kepadanya. Jadi, he
ee kutipan itu sih sebenarnya dari hasil
saya ikut kajian ee ee waktu itu Ustaz
Abdurrahman Zahir hafizahullahu taala ee
beliau ee mengatakan ee yang kurang
lebih seperti tadi itu
agar apa? Agar kita ee berharap itu
tidak terlalu berharap kepada selain
kepada Allah gitu, Mas. Aku e kurang
lebih seperti itu sih itu eatnya gitu.
Heeh. Nah, ini atas keja berarti kan KU
ini kan sudah lama dan mungkin sudah
sudah apa ya sudah mengkristal di di
kehidupan kita dan terlebih juga umat
muslim.
Tapi kok akhir-akhir ini di sering
diposting gitu ada kejadian apa gitu.
Iya kurang lebih sebenarnya sudah lama
juga itu apa namanya kata-kata yang
sengaja saya simpan. Jadi
ee kebetulan di kehidupan saya itu sudah
sering kehilangan Mas Agung. Jadi
mungkin kalau boleh saya flashback dulu
ee saya harus meninggalkan pekerjaan
saya yang lama waktu itu di Surabaya dan
harus juga meninggalkan teman-teman saya
yang lama juga di sana gitu kan. Terus
kemudian ee di bidang usaha pun waktu
saya pindah ke Tulung Agung itu saya
sempat punya coffee shop yang waktu itu
alhamdulillah atas izin Allah itu 3
bulan pertama omsetnya masyaallah luar
biasa sekali
dan waktu itu harus tutup gitu karena
memang waktu itu pandemi terus kita ada
PPKM segala macam yang mengharuskan kita
harus tutup dan akhirnya kehilangan
gitu. Padahal menurut saya itu adalah
suatu apa namanya? Hal yang pengin saya
genggam karena ee saya berpikir itu ee
selain ee coffee shop itu mendatangkan
apa? Rezeki buat saya khususnya dan
teman-teman apa barista itu juga saya
ada acara di sana. Itu yang bertujuan
untuk dakwah sebenarnya untuk apa
namanya
orang-orang yang awam untuk lebih
mengenal Islam gitu. itu waktu itu
namanya cofe story.
Nah, itu jadi merasa kehilangan sekali
sih waktu itu.
Gitu,
Pak Ziget. Waktu kalau teman-teman
mungkin belum paham konteksnya, jadi Pak
Zigit dulu adalah seorang boleh dibilang
bangkir ya, seseorang yang kemudian
kerja di perbankan kemudian kata-katanya
hijrah begitu, Pak. Ya,
insyaallah, Mas. [tertawa]
Hijrah dari Surabaya meninggalkan
profesi lama
kemudian berpindah ke Tulungagung dan
membuka usaha.
Usaha pertama berarti ya koncoi kopi
itu, Pak?
Ee kalau usaha pertama itu malah di
Surabaya dulu di bidang minuman juga
cuman waktu itu masih pakai
gerobak-gerobak gitu.
Terus sempat jualan di di apa namanya?
Pinggir jalan juga. H
ee sempat ee usaha juga ditiketing waktu
itu dimodalin sama teman. Heeh. Heeh.
Terus ya saya pulang karena memang ee
kayaknya kita enggak enggak akan apa
namanya bisa bertahan dengan biaya hidup
di Surabaya dengan apa pendapatan kita
yang
ee jauh sudah berkurang dari sebelumnya
gitu. Jadi kita realistis waktu itu
saya ngajak istri, ngajak anak-anak dan
alhamdulillah istri ngikut dan ya konco
mungkin bisa dibilang usaha yang
kesekian ya ee bukan usaha pertama juga
gitu. usaha yang kesekian dan itu saya
rasa itu ee ya cukup berhasil sih
sebenarnya cuman
ya karena lain dan apa lain hal gitu
kita harus tutup dan berganti ke usaha
yang lainnya yang insyaallah sampai
sekarang Mas Agung usaha tersebut gitu
yang anu itu ya nasi uduk Bang Jenggot.
Betul sekali. [tertawa]
Ee sebenarnya kan dari apa ya menurutku
dari segi dari segi tujuan juga baik ya.
Jadi Pak Sigit ketika pulang dari
Surabaya kemudian hijrah ke Tulungagung
membuka usaha kopi yang di situ ada
ngajinya kan ada kajiannya kopi story
itu kan
artinya dari segi dari segi tujuan sudah
baik ya ada ngajak barista ada ngajinya
insyaallah juga halalan thayiban lah
dibanding usaha sebelumnya yang di
Surabaya.
Tapi kalau kita bilang konteks ini kita
coba dari sudut pandang spiritual gitu
ya, semua yang terjadi itu kan atas
kehendak Allah ngih.
Betul sekali.
Ee segala hal yang baik ataupun yang
buruk kalau Allah tidak berkehendak maka
tidak akan
terjadi.
Terjadi gitu ya. Tentu juga kita harus
ikhtiar merubah dan sebagainya ya.
Betul.
Tapi kalau dari sudut pandang yang itu
kemudian Pak ee Sigit ini sudah memiliki
tujuan yang baik, usaha yang baik.
Lantas kok apa ya kira-kira ya message
Allah dari dari tutupnya usaha konci
kopi itu apa? Kan sudah baik nih ee
sudah mencoba yang lebih baik juga gitu.
Apa kira-kira apa sikit kalau jenengan?
Kalau saya ini kan apa ya ee kita
sebagai seorang muslim ee harus
mengimani yang namanya takdir. H.
Jadi mungkin ee saya sudah pernah apa
dengar juga bahwa apa yang terjadi di
sini itu apa namanya? Sudah tercatat
takdir kita ee nanti akan seperti apa
gitu. Jadi
ee kalau kita beriman sama takdir Allah,
insyaallah semua akan nyaman gitu,
enggak akan apa namanya? Ngundel gitu.
Tidak akan kecewa. Iya, betul sekali Mas
Agung. Itu sih saya lebih ke mungkin ini
ee takdir Allah qadarullah saya harus
ee meninggalkan usaha yang lama. Kalau
tinggal melihat apa namanya ini kenapa
sih gitu kan saya sudah melakukan yang
terbaik ee usaha-usaha saya juga
ee insyaallah ini untuk kebaikan gitu
kok malah saya harus tinggalkan itu gitu
ya. saya mengimani takdir dan insyaallah
itu
ee jauh akan lebih baik untuk saya dan
orang-orang sekitar gitu, Mas Agung.
Jadi, ya sesimpel itu. Oh, ini takdir
gitu aja
atau gimana? Ada apakah enggak ada
evaluasi atau apa gitu ada enggak atau
gimana?
Eh, kalau muhasabah pasti ada Mas Agung.
Ya, mungkin ini mungkin salah satu
mungkin cara Allah untuk mencuci harta
saya mungkin bisa jadi seperti itu gitu.
mungkin apa namanya cara-cara saya dalam
mengelola ini kurang benar sesuai dengan
apa yang apa namanya Allah ee syariatkan
gitu.
Bisa jadi seperti itu sih.
Ee baikbaik. Nah, ini kadang-kadang kan
kita ini ee mencoba menyatukan dua
elemen yang kadang-kadang
kita melihat itu berbeda tapi sebenarnya
enggak berbeda. Jadi sudut pandang
spiritual dan sudut pandang ilmu bisnis
kan gitu tuh, Pak.
Betul sekali. Nah, kalau diilai dari
dipenang dari sudut bisnis, apa
pelajaran yang Pak Zigit waktu itu bisa
share kepada kita ketika awal-awal
ramai, 3 bulan ramai kemudian harus
tutup di bulan keempat gitu kan berarti
ya. Nah, itu apa Pak Sikit?
Betul. Ee kalau waktu itu juga
sebenarnya sudah planning matang ya.
Kita waktu itu undang yang namanya
konsultan karena memang saya enggak
punya ilmu di bidang kopi sebelumnya. He
kita bayar kultan, kita training untuk
baristanya gitu dan untuk apa namanya ee
di bidang itu pun akhirnya kan kita tahu
ilmunya gitu kan.
Oke.
Kan kita harus tahu ee apa namanya
sebelum beramal kan kita harus berilmu
terlebih dahulu gitu kan. He.
Nah, sebenarnya secara teori itu
insyaallah sudah lakukan, kita sudah
lakukan
dan kita enggak ada yang tahu takdir
Allah bahwa tahun itu adalah tahun
pandemi.
Jadi, ya kita berbaik sangka aja gitu.
Berbaik sangka kepada Allah. Karena
hal-hal yang bersifat teknis itu
semuanya sudah kita lakukan kan. Ee jika
kalian tidak mengetahui maka bertanyalah
pada ahlinya kan gitu. He,
makanya saya sempat undang konsultan itu
waktu itu Indonesia Coffee Master 2019.
Jadi kita enggak main-main. Udah serius
banget loh itu ya. Indonesian Cafe
Master diundang ke sini.
Betul. Itu ada Mas Dadeng Darmawan, ada
yang ada Mas Ovi Kurniawan sama Mbak
Irma Roseta itu sampai sekarang beliau
masih di Kopi Nasional masih punya nama
gu.
Jadi kita memang serius gitu untuk apa
namanya belajar kopi waktu itu gitu Mas
Agung.
ee belajarnya itu dari segi rasa atau
dari segi manajemen atau dari apa, Pak?
Sikit
ee waktu itu kita semuanya jadi ee dari
mulai ee manajemen mulai dari handle
customer sama menu itu semua di training
gitu semuanya.
Pak, kalau boleh dibilang modal awal
dalam pendirian koncoi kopi kemudian
mendatangkan konsultan dan lain
sebagainya itu di kisaran berapa dulu
waktu itu bukanya? Waktu itu kalau sama
sewa tempat ya waktu itu sekitar R50
juta, Mas Agung.
Masyaallah.
Karena mesin kopinya sendiri mungkin
ya cukup mahal. Mungkin e bisa dikisaran
kurang lebih R0 juta sama Grinder waktu
itu.
Itu pun yang enggak bagus-bagus banget.
Maksudnya udah yang
menengah ke atas. Insyaallah.
Heeh.
Gitu.
Kalau di dari 3 bulan itu ee dari
250 juta yang kita keluarkan untuk model
koncoi kopi kemudian berjalan 3 bulan
omsetnya berapa, Pak, bulanan?
Omset waktu itu sih e diangka R5 juta
waktu itu. Kalau dibilang balik modal ya
enggak balik modal.
Omsetnya R5 juta per bulan.
Per bulan gitu. R 35 juta. Dan kita
waktu itu harus sewa
lokasi.
Sewa lokasi.
Dan ya alhamdulillah alatnya itu masih
ada
dan kalau dinominalkan ee
ya cukup masih cukup baguslah harganya.
Cuman ee sebenarnya semua enggak harus
dinilai dengan materi ya modal mungkin
bisa ket yang lebih
saya dapat mungkin di pengalaman Mas
Agung
karena pengalaman kan memang harus
dilalui gitu kan.
Jadi kalau mungkin saya enggak melangkah
waktu itu, saya enggak akan tahu apa
namanya dunia usaha, dunia bisnis gitu
mungkin
gitu. lebih ke pengalaman aja yang saya
dapat mungkin saat ini gitu.
Baik, baik. Siap. Saya masih penasaran
harga kalau kita mau sewa konsultan
begitu kalau
mungkin kan ee mungkin ini berbeda
bidang beda harga.
Cuma kalau untuk di bidang kopi kisaran
berapa, Pak? kayak menghadirkan
kalau Kang waktu itu kita harga teman
karena memang saya sebelum cerita sama
beliau-beliau itu bahwa
ee background saya seperti ini, salgi
merintis, mau usaha gitu dan
ee itu harga spesial saya enggak enggak
bisa sebutkan karena memang
enggak mungkin saya dapat harga segitu.
Heeh. gitu. Karena ee saya tahu beliau
sempat kirim ke Milan, ke luar negeri
itu ikut barista Championship waktu itu
dan kalau saya bayar seper segitu itu
enggak mungkin
saya rasa itu enggak enggak cukup
mungkin murah banget
karena pertolongan Allah juga waktu itu
beliau mau ke jadi juri ke Jogja juga
jadi mampir ke sini dulu ke Tulungagung
lalu
lanjut ke Jogja gitu.
H
mungkin kalau enggak enggak karena Allah
yang gerakkan mereka ke Tulungagung. He
ya enggak akan enggak akan dapat harga
segitu gitu waktu itu.
Oke. Itu kan harga teman. Kalau harga
umumnya berapa berarti? Kalau harga umum
kan boleh disebut berarti
harga umum kalau kita franchise saja
contoh brand A itu sudah di R0 juta, Mas
Aku.
Oh
untuk franchise ya R0 juta, ada yang
Rp15 juta gitu.
Oke. Kalau franchise tentunya lebih
mahal kan, Pak kalau dari kalau
konsertan mungkin agak di bawah ya.
mungkin di bawah itulah itu karena cuma
setup aja kan bukan cuma sih ee set up
set up [tertawa]
jadi nata semua begitu ya bantuin set up
lah ya
betul sekali
oke
pernah enggak berpikir seperti ini Pak
Sikit
ah ya Allah kenapa sih pandeminya tahun
ini gitu kenapa enggak tahun depan gitu
[tertawa] kalau tahun depan kan sudah
agak lumayan minimal sudah 3 bulan plus
1 tahun gitu sudah balik modal gitu
pernah enggak terbik seperti itu
kalau waktu itu enggak sih karena memang
apa ya semua mengalami misi Masung. Jadi
enggak cuman saya sendiri yang waktu itu
apa namanya mengalami
kesusahan. Jadi itu sudah jadi bencana
nasional juga waktu itu kan.
Betul.
Dan makanya saya mungkin dari situ juga
ee hikmahnya saya jadi kreatif nih
kira-kira apa yang bisa di
kerjakan di masa pandemi seperti yang
lalu itu gitu. Maka
I
apa namanya? muncullah ee kayaknya kalau
buat ngopi orang waktu itu ee lebih ke
kebutuhan pokoknya daripada untuk
sekedar ngopi gitu.
Karena makanya tercetuslah
nasi uduk itu. Mungkin kalau saya enggak
mulai koncoi kopi dulu ya enggak akan
ada nasi uduk Bang Jenggot sampai
sekarang. [tertawa]
Nah gini Pak Sikit. Eh jadi kejadian itu
juga mengenai di saya. Jadi ee waktu
izin memberikan informasi tambahan.
Masyaallah. [tertawa]
Jadi waktu itu juga mengenai di saya.
Jadi waktu tahun 2019 juga saya lagi
gencar-gencaran scale up. Jadi semua tak
pertaruhkan untuk scale up bisnis
fashion saya gitu ya. Dan di tahun itu
kita enggak tahu
kok tiba-tiba pandemi. Nah,
kadang-kadang guyonan saya sama
teman-teman kayaknya kalau pandeminya
itu diundur 1 tahun saya sudah saya
sudah kaya raya. Ini [tertawa]
itu guyonan ya. bukan untuk tidak
menerima takdir gitu ya, tapi karena ada
pandemi itu kemudian fashion saya
menjadi tidak berkembang.
Adanya ada pecah telur juga.
Masyaallah. Lebih besar lagi ya Allah
ganti. Masyaallah.
Masyaallah. [tertawa]
Kalau lebih besar dari segi nominal
tidak.
Lebih besar dari segi nominal gitu
tidak. Karena waktu itu fnya luar biasa
gede. Tapi kalau lebih besar dari hal
ketenangan iya. Lebih besar dari hal
kemudahan iya. Dan mungkin dari segi
kebermanfaatan, Mas.
Insyaallah dari segi kebermanfaat.
Masyaallah
ya lebih bermanfaat ya karena ee ini
luar biasa menggerakkan banyak orang
pecah telur itu.
Begitu.
Masyaallah.
Berarti Pak Sikit juga gitu ya. Jadi
kalau dilihat dari kalau dicompare nih
antara oncoi kopi dan juga nasi uduk
Bang Jenggot ini berarti lebih mantapan
nasi uduk Bang Jenggot begitu ya. Kalau
secara apa namanya orang lihat prestige
gitu kan pasti wah ini owner coffee shop
kayaknya lebih keren ya.
Lebih keren keren gitu. Cuman dari
dibilang kalau ee Bang Jenggot itu kan
ee kayak apa ya breakfast stol gitu.
Jadi kayak gerobak gitu Mas awalnya gitu
sebelum punya tempat yang apa namanya
lebih proper dari yang
sebelum-sebelumnya itu kan kita pakai
gerobak dulu
gitu. Jadi ya tapi sih sebenarnya
nyaman-nyaman aja di mau dibilang owner
coffee shop atau dibilang bakul sego itu
saya aman-aman aja yang penting saat ini
halal dan lebih tenang insyaallah gitu.
He
berarti kalau dari kalau tadi kan saya
dipecah ter lebih tenang, lebih nyantai,
lebih insyaallah lebih manfaat. Kalau
dari nasi uduk Bang Jot ini lebihnya apa
dibandingkan
koncoi kopi?
ya
lebih apa ya kan waktu itu tutup kan
waktu itu tutup dan saya belum menikmati
hasilnya boleh dibilang
ee belum menikmati hasilnya dan ini
alhamdulillah ee cukuplah untuk apa
hidup sehari-hari untuk sekolah
anak-anak gitu insyaallah lebih itu dan
lebih banyak karyawan juga kan untuk
sebelumnya.
Pak, itu secara mekanisme seperti apa
ya? Katakanlah ee buka 3 bulan kemudian
pandemi datang langsung ditutup gitukah
atau seperti apa?
Ee kita sempat bertahan waktu itu karena
kan ada kayak apa namanya anjuran untuk
PPKM untuk buka di malam hari gitu atau
malam hari dibatasin gitu kan.
Cuman
ee kayaknya jadi enggak lebih enggak
efektif. Jadi mau enggak mau kita juga
harus berhenti gitu
karena ya itu apa namanya semua kan
harus tutup di jam sekian gitu kan waktu
itu. Enggak boleh apa kumpul-kumpul
gitu.
Pertahannya berapa lama?
Itu
kita mulai Oktober Mas Agung akhir
Desember itu kita harus sudah close dan
baru mulai lagi setahun kemudian
dan itu sudah mendekati habisnya sewa
tempat. Hm.
Makanya saya muncullah apa ide itu tadi.
Oh, kira-kira apa ya ini ee agar saya
enggak kalau mau ngelanjutin untuk sewa
kontraknya juga lumayan gede waktu itu
gitu
yang kira-kira bisa buat apa namanya
usaha lainnya gitu.
Siap. Siap. Kalau tercetus nasi uduk
Bang Jenggot itu setelah berapa lama
dari kejadian itu?
itu. Jadi waktu kita sudah mulai tutup
itu kan 9 ee 9 bulan itu kan kita
operasional, sempat operasional
dan apa ya harus buka tutup, buka tutup
yang akhirnya enggak efektif. Nah, ini
kayaknya kita harus saya harus inilah
punya apa ya, punya set ee set usaha
yang lain gitu. Terus
akhirnya ada salah salah seorang
customer kita juga ee mungkin saya
sebutkan namanya Mas Anggar itu, Mas.
kira-kira
ee apa ya ini diskusi karena beliau juga
ee ada background usaha franchise waktu
itu. Franchise minuman
terus
ya sama-sama dalam posisi apa namanya
kurang lagi turun lagi ini akhirnya
turun
ada ide itu gitu dengan modal yang
sangat minim waktu itu. Ya sudah kita
ini pas coba nge-grade kita test food
dan ya alhamdulillah diterima Mas Agung
waktu itu karena memang waktu itu
ee apa ya konsumsi sarapan di pagi hari
itu masih jarang.
Hm.
Waktu itu tuh masih jarang banget di
Tulungagung nasi uduk apalagi nasi uduk
gitu kan.
Heeh. Heeh. Kok memilih nasi uduk itu
idenya dari nasi uduk karena nasi uduk
belum ada atau seperti apa?
Kalau nasi uduk sendiri di Tulungagung
waktu itu sudah ada. Sudah yang lama
sudah ada. Cuman sepertinya bukanya di
malam hari.
Heeh. Heeh.
Nah, kalau di waktu saya di Jakarta
sempat di Surabaya juga itu nasi uduk
itu salah satu menu sarafan favorit gitu
dan itu kayaknya belum ada di kota saya
gitu waktu itu.
Jadi ya sudahah kita apa namanya kita
research gitu kan. He.
Akhirnya ketemu sampai pas diterima
lidahnya orang Tulungagung. Heeh. He he.
Akhirnya pernah sampai berapa cabang G?
Kalau banyak Kak ya kalau Pak ya.
Kalau cabangnya kalau yang di
Tulungagung sendiri sempat ada enam
masaku. Sempat ada enam. Terus sekarang
tinggal empat. Cuman kalau yang
apa namanya mitra itu banyak. Ada yang
di Malang, di Batu. Kalau itu sudah kita
sempat 14 kota.
Hm.
Kalau di luar kota berarti apa?
Franchise atau apa?
Iya. Kemitraan.
Mitra lepas.
Gimana tuh? Mitra lepas tuh. Jadi nanti
kita ajarin ee mitra itu sampai apa
namanya? Sampai bisa sampai jualan. Nah,
kemudian hasilnya 100% untuk
untuk mitra. Jadi kita sudah enggak
dapat ini ini aja gitu.
Bantuin set up gitu ya judulnya ya kayak
ya kayak yang konsultan kopi tadi ya.
Betul sekali Mas Agung.
Cuman masih pakai nama nasi suduk Bang
Jenggot gitu.
Oh. enggak takut. Kemudian misal
ternyata dia melakukan sebuah SOP yang
kurang baik kemudian jadi
e ke sini karena dampaknya enggak enggak
enggak ada kekhawatiran seperti itu.
Insyaallah sih ini sih asal apa namanya
masih sesuai dengan resep 111 lah Mas.
Oh
itu masih sesuai dengan
selama ini baik-baik aja begitu ya.
Insyaallah seperti itu.
Nah, mungkin di antara penonton pecah
telur juga kalau ingin di kotanya ingin
memiliki
usaha nasi uduk Bang Jenggot itu di
kisaran berapa, Pak?
Kalau mitra lepas di kisaran R22 juta,
Masku.
Hm. Dapatnya?
Dapatnya nanti SOP resep kita ajarin
sampai bisa. Sampai bisa masak, sampai
bisa. Terus SOP kru lapak itu nanti
sampai jualannya seperti apa. Terus
mungkin desain
bootnya, desain apa namanya menunya
tampilan. Misalkan kalau pakai ruko,
tampilan rukoon yang seperti apa [musik]
itu kita bantu sampai
sampai jualan mas.
Heeh.
Berarti memang secara fisik tidak dapat
apapun, tapi akan mendapatkan pembinaan
dan pendampingan.
Bahkan ada tim yang dikirim ke sana
berarti ya?
Ada. Kebetulan ini ke Jakarta.
Oh, ada tim yang ke Jakarta juga. ee
4 hari, sudah 4 hari jalan.
Hm.
Dan alhamdulillah infonya tadi jualannya
juga lumayan.
Oh, ini kesempatan nih bagi teman-teman
penonton pecah telur barangkali yang
pengin memiliki usaha sarapan ya, Pak
ya.
Sarapan dengan menu nasi uduk.
Nasi uduk. Betul sekali.
Nah, brandnya nasi uduk Bang Jenggot
bisa nanti menghubungi Pak Sigit ini ya.
Oke. Ada juga sebuah kabar yang menurut
saya juga relate dengan kata-kata yang
kita opening tadi, Pak.
Sesuatu yang paling kita genggam
harapkan justru menjadi sesuatu yang
kita lepaskan.
Masyaallah.
Yaitu di kejadian akhir-akhir ini
kayaknya ini
tak lihat Pak Sit sibuk sekali pindah
ini. [tertawa]
Kenapa itu Pak?
Ya khadarallah sih sebenarnya kembali ke
takdir ya Mas Agung ya. Mungkin Mas
Agung tahu sendiri sempat nanya.
[tertawa]
Nah.
Kita nanya lokasi sebelahnya
sebelahnya untuk usaha bersama.
Untuk usaha bersama. Insyaallah semoga
Allah mudahkan.
Amin.
Nah, itu
karena itu jadinya yang lapak saya yang
lama yang sudah jalan kurang lebih
hampir 2 seteng tahun Mas Agung itu
lapak utama kan itu
lapak utama pusat kota yang sebelumnya
enggak ada masalah sama sekali sih
sebenarnya. Adem ayam penjualan juga
masyaallah tiap harinya sudah mulai apa
naik terus gitu kan. Nah, tiba-tiba
harus [tertawa] kita harus pindah yang
itu menurut saya nak sekali gitu karena
ee satu dan lain hal itu ya.
Alhamdulillah tetap ada solusi sih kita
harus geser ke sedikit ke lebih ke timur
gitu tapi tetap insyaallah di pusat kota
Tulungagung walaupun tempatnya lebih
kecil gitu lebih kecil dan kita kemarin
sempat launching bebek dan itu jalan Mas
Agung bebek. He.
Eh, untuk sementara bebeknya ee stop
dulu nanti sambil kita nata lagi tempat
yang
apa yang lebih siaplah ini gitu. Berarti
yang di baru ini enggak ada bebek
sementara ini belum ada bebek lagi.
Oh, iya iya iya i
gitu.
Nah, saya juga dapat bocoran.
Selalu Allah menguji kita atau itu di
saat yang kita sedang butuh-butuhnya.
Masyaallah. [tertawa]
lagi waktunya bayar SPP lagi. Iya gitu
kan ya.
Betul Mas ya. Jadi kebetulan banget itu
kan apa namanya ee anak saya yang
pertama Mas Agung ini kalau boleh cerita
jadi ee minta mondoknya di luar di luar
Tulungagung dan kemarin sempat tes
sempat tes dia. Alhamdulillah anaknya
apa namanya? Semangat sekali
alhamdulillah.
Dan saya sebagai seorang ayah kan ee
intinya mendukung ya ee anak laki-laki
nomor satu punya keinginan untuk
melanjutkan pendidikannya di luar kota
kemarin mau minta di Jogja dan
dua-dua pondoknya itu alhamdulillah
lulus
h
dan harus
daftar ulang. [tertawa]
Daftar ulang yang ya nominalnya lumayan
Mas
dua digit lumayanlah buat saya itu harus
harus apa ya namanya? Harus puasa. Iya.
Iya. I
harus puasa untuk apa namanya
keinginan-keinginan yang enggak urit
termasuk keinginan untuk memulai usaha
yang lain mungkin ya.
Jadi ya Allah itu kadang gitu. Jadi
ee kebetulan juga anak saya yang keempat
ini sakit hari ini. [tertawa]
Masyaallah.
Jadi memang apa ya kayaknya kok bareng
gitu ya.
Cuman saya tetap yakin bahwa Allah itu
enggak menguji
ya la yukalifulahu nafsan wah gitu kan.
He
ee tidak kita tidak akan diuji melebihi
batas kemampuan kita gitu. Jadi kita
ee selalu ber ee apa berbaik sangka
kepada Allah bahwa ini semua akan
dilalui gitu.
Saya ada khat yang masyaallah menurut
saya itu ini waktu khat itu memulai nasi
uduk itu pakai khot ini.
Ee yang kurang lebih bunyinya
ee tepat di saat hari buruk menyerang
ada banyak hari baik menunggu giliran.
Masyaallah [tertawa]
itu ya kalau buruknya kan cuman sehari
Mas Agung ya. Insyaallah hari-hari
baiknya
nunggu giliran
menunggu giliran dan menunggu giliran
kita untuk menghampiri.
Masyaallah. [tertawa]
Itu sih kalau saya
Iya. Iya.
selalu yakin akan kebesaran Allah itu.
Insyaallah.
Siap Pak. Saya ingin saya jadi penasaran
ini seorang mantan bank banker
bahasanya. Bengkir atau banker ya?
Bank bangker. K
bangker. bingkir kok konvensional.
Ee kalau bangker itu kan itu tempat
persembunyian, Pak.
Iya. [tertawa]
Bengkir ya? Bengkir.
Seorang bengkir yang kemudian hijrah,
kemudian
pindah-pindah usaha diterpa banyak ujian
dalam kehidupan juga bangkit lagi, diuji
lagi, bangkit lagi sampai dip ini. Apa
pandangan Pak Sigit tentang bisnis yang
ingin Pak Sigit jalankan? Gitu.
Maksudnya gini ee apakah ingin ee terus
menggede atau ya gini-gini aja atau
seperti apa? Kalau saya pribadi sih ee
kesuksesan kita itu kan bukan dari
banyaknya harta. Jadi,
kalau saya tuh lebih ke kebermanfaatan
kita untuk banyak orang sih. Jadi kalau
ditanya lebih ini ya penginnya sih lebih
banyak, lebih besar gitu maksud
lebih mungkin bisa sampai
ke apa namanya nasional bahkan ke luar
negeri kalau bisa kan siapa tahu gitu
kan.
Ya itu sih lebih ee pengin terus apa
bermanfaat sih gitu.
Jadi kata kuncinya manfaat ya.
I insyaallah. Walaupun sebenarnya ketika
kita lebih besar, lebih nasional, bahkan
lebih internasional secara psikolog ee
secara konsekuensi pasti akan mengganggu
kesibukan kita, Pak.
Betul sekali, Mas. [tertawa]
Nah, itu gimana?
Iya, karena kan apa namanya segala
sesuatu kan pasti kita ada konsekuensi
yang harus kita ambil.
Kalau mau begini-begini aja ya manfaatmu
cuman segitu gitu. Kalau mau kamu lebih
besar
ee pasti ee hal-hal yang kamu apa
namanya? korbankan juga akan lebih
banyak gitu.
Oke. Oke. Oke. Kira-kira nih yang sudah
kan sudah 4 tahun ya di Tulungagung.
Artinya ketika usaha sudah berjalan 4
tahun dan juga ya walaupun belum 5 tahun
ya tapi secara kurva masih stabil
artinya juga orang menyukai produk itu
kalau bahasa kita produknya sudah
ngangenin.
Sudah ngangenin, sudah diterima, sudah
menjadi
ee menjadi rutinitas mereka. Itu
seberapa, Pak? Kalau boleh di dari segi
kuantitas itu berapa anunya penjualannya
atau apa gitu?
Kalau ee kita di lapak pusat kota itu
kan ee memang yang pertama di situ gitu.
Itu daripada lapak-lapak yang apa pakai
gerobak yang kecil itu
itu di kisaran
70 sampai 80 pek per hari, Mas. Jadi
kalau yang
pakai gerobak itu
kita kisaran 35 pack sampai 50 pek
sehari gitu. Heeh.
Cuman ya masing-masing daerah itu juga
enggak sama gitu. Jadi
kita ee apa ya kadang juga salat pagi
gitu kita tambahin pun kadang juga ya
enggak habis jatuhnya malah kadang. Jadi
ee kalau saya pribadi itu untuk yang di
lapak lapak kota itu cenderung ke lebih
ke konsisten kita kalau misalkan hari
Selasa sampai hari Kamis itu kita
jualannya misalkan
10 kilo gitu. Itu dibagi untuk empat
outlet gitu. Nah, kemudian kalau
hari-hari misalkan weekend atau Jumat,
Sabtu, Minggu
biasanya kan di sana itu banyak pesanan.
Bahkan kita ada yang
satu hari itu sempat ngayani sampai 300
pek, Mas, pesenan
di biasanya kalau ada Jumat berkah gitu.
Terus kalau yang weekend itu memang
orang-orang mungkin malas masak kali ya.
Jadi
kita stoknya lebih tambahin biasanya
sampai 13 bahkan sampai kita pernah 18
kilo per hari itu pernah.
He.
Jadi ya itu kita menyesuaikan gitu
sebisa mungkin kita habis. He.
Jangan sampai karena kan kalau nasi uduk
itu beda sama minuman ya kan. Jadi kalau
misalkan enggak habis itu ya
mau enggak mau itu apa namanya kerugian
gitu karena kita enggak jual yang enggak
fresh.
Kita akan masak hari itu, kita jual hari
itu gitu.
Heeh.
Siap. Siap. Kalau dari mitra, Pak, yang
dari berapa kota itu tadi yang
penjualannya paling baik di angka
berapa?
Kalau info ya kemarin itu kalau contoh
di Batu dulu itu sempat sehari
60 pek sempat, Mas. Jadi kita bukanya
pagi kebetulan jam 0.00 pagi sampai jam
11.30 paling siang. He he.
Itu jadi sampai 60 pack gitu. Jadi kalau
misalkan dirata-rata dari harga Rp10.000
sampai Rp18.000 ya mungkin teman-teman
bisa hitung di sana. Masaku
gitu.
Biasanya umumnya Pak dari buka jam .00
pagi sampai umumnya jam berapa?
Tutupnya
tutupnya kalau pas weekend itu jam 09.00
itu biasanya kita sudah sold out.
Bahkan kadang pagi kalau pas kadang kan
ada pesanan yang enggak confirm
sebelumnya jadi memang kita enggak
siapin stoknya gitu. Jadi tiba-tiba jam
. habis juga pernah gitu.
Jadi ya enggak enggak pasti sih gitu.
Cuman kita batasin memang pangsa kita
pangsa pasar kita itu untuk sarapan
itu maksimal 10.30
gitu.
Kalau enggak habis gimana Pak? Berarti
kalau enggak habis ee biasanya nasi itu
kita selametin itu kita jemur Mas Agung.
He.
Tetap kita olah untuk kita jemur. Kalau
orang Jawa jadi karak. H.
Dan jadi karak pun itu kita masih bisa
jual juga.
Jual karak berarti ya.
Jual karak. Jadi enggak benar-benar yang
mubazir gitu enggak karena masih bisa
kita manfaatkan gitu.
Baik. Kalau yang paling repot berarti
persiapan ya, Pak ya?
Persiapan. Persiapan. H-1 biasanya itu
kita inikan lauknya. Jadi meskipun kayak
misteri hari ini Senin gitu ee kita
tetap ee yang di dapur itu tetap
aktivitas karena persiapan untuk besok
pagi untuk lauk-lauk besok gitu.
Tapi untuk ee nasi terus yang harus
fresh di pagi itu ya kita masaknya pagi
gitu.
Hm.
Berarti kalau lauk gitu masaknya di jam
kerja kayak gini jam 0.00 sampai jam
12.00 juga.
Betul gitu. Masak lauk ayam-ayam ataupun
serondeng-serondeng atau apa gitu ya.
Lebih ke kering kentang, kering tempe
gitu. Karena harus ngupas kemudian
goreng segala macam.
Kalau kalau nasi masaknya di pagi
harinya.
Betul sekali.
Jam berapa, Pak? Teman-teman start jam
.00.
Oh
jam 3.00 pagi. Jam .00 masak. Habis itu
ada kan dari gudang itu. Habis itu
didistribusikan ke outlet-otlet gitu.
Betul sekali. Ke outlet-otlet. Ee
berarti misalnya nanti teman-teman mau
ngambil di luaran sana teman-teman
penonton pecat telur ini banyak sekali
Pak penonton pecah telur itu yang chat
ke nomornya admin bank atau Mas
bagi peluang dong. Nah gini-gini ini
juga opportunity juga bagi teman-teman
barangkali mau ee nasi uduk Bang Jenggot
tapi konsekuensinya ya itu harus bisa
masak jam .00
iya
nanti open lapaknya jam .00 sampai jam
09 atau 11.30 lah
.30 11. Terus kemudian juga penjualannya
pun di kisaran antara 50 sampai 90 ya
hariannya ya.
Betul.
Harganya sekitar segitu Rp10.000 sampai
Rp1.000.
Kalau marginnya itu berapa persen, Pak?
Margin kurang lebih 35, Mas.
35% ya. Di luar karyawan
sudah. Oh, sudah termasuk karyawan.
Sudah termasuk karyawan.
Berarti kalau ditungguin sendiri untuk
kegiatan lebih untung lagi dong.
Betul sekali. Kebetulan ada yang mitra
kayak di Jakarta ini
istri beliau yang
nah untuk kegiatan istri gitu ya itu
lebih untung kan karena tidak
mengeluarkan biaya karyawan
kos untuk karyawan
tapi lebih capek sih tentunya
sekali
tapi daripada capek enggak ada kegiat
mending capek ada kegiatan Pak
dan menghasilkan
dan menghasilkan masyaallah [tertawa]
dan kita ini kebutuhan pokok sih
sebenarnya Mas Agung karena kan
ah itu yang beda ya
yang beda dari apa namanya
dari kopi tadi ya kita katakanlah
kompare dari kopi itu beda ya
karena kan tiap hari kita butuh sarapan
Kadang orang buru-buru gitu.
Makanya kita ada TL solusi sarapan
praktis dan higienis.
Ada kata-kata enaknya enggak? Praktis
higienis dan enak.
Itu Mas Agung yang tahu kalau itu.
[tertawa]
Mungkin dari packagingnya juga kan.
Packaging-nya juga. Wah, keren
packaging-nya. Betul
itu.
Iya. I iya iya. Baik, Pak Sigit terima
kasih sudah datang. Closing statement
dari Pak Sigit.
Closing statement apa ya, Mas Agung ya?
[tertawa]
Ee
jadi mungkin mungkin tadi kan ee judul
di awalnya itu kan apa namanya?
Terkadang suatu hal yang paling ingin
kita genggam justru adalah hal yang
harus kita lepaskan
agar tidak ada harapan melebihi harapan
kepada selainnya.
Insyaallah. [tertawa]
Terima kasih Syukran sudah datang.
Selamat semoga usahanya makin sukses,
keluarganya makin sehat, lancar,
bahagia, berkah. Amin.
Di dunia sampai akhirat.
Amin. Terima kasih.
Doa yang sama juga untuk penonton pecah
telur. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.