Mantan Penjual Pentol Raup Cuan 3 Juta Sehari dari Tanaman Tanduk Rusa!
Zh1rbqsBc3c • 2025-12-05
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Aku
mempelajari sebenarnya kenapa aku terjun
di sini. Ini namanya plederium ya. Dan
dia itu ada keunikan sendiri sebenarnya
ya. Keunikan itulah. Oh ternyata saya
juga baru paham. Oh ternyata ini
harganya sampai segini-segini. Itu emang
betul soalnya dari nilai dari keunikan
tanaman itu sendiri. Mungkin dia tuh
berkarakter tegak atau dia tuh pendek
itu jadi kerdil. Itu malah lakunya
mahal. Saya sendiri sempat enggak
membayangkan lah kok ini sampai laku R3
juta. Itu enggak masuk akal mungkin dari
pemikiran orang-orang. Tapi itu sendiri
aku lihat dari mindset kita sendiri sih,
Mas. Gini aku lihat kayak tanaman ini.
Ini mungkin ada beberapa ini loh aku di
rumahku banyak harganya [musik] murah.
Tapi kalau aku sendiri jual ini saya
patuk dengan harga Rp20 juta katakan ya.
Alhamdulillah laku juga R juta. Jadi
mecet itu kita bawa sendiri sebenarnya
lek tanaman loh ya. Soalnya mungkin
patokan harga itu enggak ada. Orang hobi
itu enggak ada [musik] patokannya.
Amin.
Kebanyakan orang-orang itu mintanya yang
sudah perform dan sudah tampilan
pokoknya. Soalnya saya sendiri kan
pecinta juga sebenarnya. Akhirnya
gara-gara itu tadi cuan akhirnya
pecinta. [tertawa]
Kalau laku teruskan otomatis istri
tambah cinta.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya Supartono asli
dari Mojokerto. Nah, di sini saya sampai
di Blitar itu ternyata aku iseng-iseng
ke rumah adik saya. Ternyata hawanya di
sini tuh enak, adem. Nah, itu. Heeh.
Akhirnya kok tertarik ya. Akhirnya pind
ke sinilah. Sebenarnya kembarannya istri
saya itu di sini tuh. Jadi kalau
kembaran itu enggak boleh jauh-jauh
[tertawa]
katanya gitu. Jadi akhirnya ya jadi
magnet lah akhirnya ke sini juga itu.
Saya sendiri di sini terus terang
sekarang e di bidang tanaman e itu di
bidang tanaman cuman ee sebelum tanaman
tuh banyak usaha-usaha yang dimulai
rintis udah naik jatuh lagi. Itu
sebenarnya aku sudah mengalami tiga
usaha ini. Yang pertama saya usaha ulat
kandang yang buat pakan burung itu. Nah
itu saya kan tertatik pertama masuk sini
tuh saudara saya tuh ternak terkandang.
Nah itulah [musik] cuman saya tuh
langsung ikut aja cum saya belum tahu
problem-problemnya gimana. Wis mulai
ikut aja. Saya usahakan diri. Saya
kirim-kirim sendiri. Usahanya
alhamdulillah lancar. Naik, naik naik.
Ternyata ee habis itu enggak tahulah ada
masanya dia tuh enggak enggak bisa panen
gitu. Jadi sebenarnya ada mitos juga
sih. Saya kan kontrak ya pertama di sini
kan kontrak itu pas totokan juga mungkin
e saya kurang mental mungkin ya itu dan
kurang e biaya lagi. [tertawa]
Jadi di situ kebetulan aku kan panen.
Sebelum panen itu aku lihat dari kecil
sampai sudah agak besar itu searnya
banyak ya. Otomatis kan kalau di
dihitung-hitung otomatis panennya kan
banyak. Kalau satu kotak biasanya satu
satu kotak itu mendapatkan kurang lebih
1,5 kilo lah. Lah ternyata pas dipanen
itu habis enggak sampai 2 ons lah. Itu
saya akhire usaha itu lagi wis tak
pertahankan ternyata rugi banget saya
gulung tikar ya sekitar kurang lebih
sekitar hampir 3050 lah sama
hutang-hutang sama teman-teman saya ada
yang membiaya juga ray new saya wis tak
pandani. Ya itu juga ada. Usaha kedua
saya mulai minat itu ke kuliner jualan
donat. Donat saya titip-titipkan ke
toko-toko. Ternyata jualan di sini sama
di Mojokerto itu beda jauh harganya.
Lebih murah di sini. P saya kan oh ini
jual gini gini. Oh ternyata itu enggak
seperti yang saya bayangkan. Harganya
emang minim di sini. Jadi misalkan di
Mojokerto R.00 di sini itu sekitar
1.000-an. Oke, terjun itu sudah lumayan
banyak juga dan beberapa bulan sudah
lumayan ada beberapa pelanggan terus
turun lagi sepi enggak tahu gitu mungkin
e bosen atau gimana enggak tahu ternyata
turun lagi. Dari situlah aku tuh enggak
patah lagi mau coba ular. Aku pengin
ular itu pokoknya berhasil gitu.
Ternyata gitu lagi sampai entek saya
bilang ke istri saya gini, "Mah, aku
enggak boleh usaha sendiri aku ikut
orang aja." Saya sampai medo. Yang
paling mirisnya, Mas PN sampai enggak
bisa bayar listrik segel. Iya. Sampai
segitu sampai minim gitu saya
sampai gak bisa sampai [musik] disegle.
Sebenarnya sebulannya ee sekitar 7080 ya
sampai segitu ya. Betul sampai minimnya
segitu. Dari situlah pasrah wis pokoknya
berdoa. Aku enggak bisa usaha sendiri
mungkin aku coba ikut orang lain. Ikut
orang lain bayaran R30.000, Mas. Satu
hari itu aku enggak jauh-jauh dari ular.
Soalnya saya satu kepengin usaha lagi,
kepengin cari ilmunya lagi. Ular
Hongkong saya masih kepengin soalnya.
Tapi dari situ aku sebenarnya kan mau
belajar juga jadi seperti usahaku
sendiri itu. Akhirnya yang punya itu
melihat cara kerjaku. Oh, ternyata bagus
akhirnya ya dinaik-naikkan. Nah, dari
situ aku muncul lagi istri saya kan gini
bilangnya, "Oh, ya ini tanaman ini loh
aku suka." Aku eling itu di daerah
Siraencong, perkebunan teh itu.
Siraencong itu ada saya itu sudah minim
banget, Mas. Aku pergilah ke Siraencong
sama [musik] istri dan berdua aja.
Setelah itu aku enggak tahu ya, mungkin
sirah konceng itu kan sebenarnya bisa
lewat wingi. Nah, saya itu lewat
Ngandusari, lewat Ngandusari itu
ternyata jalannya tuh hutan dan jalannya
sudah enggak enak. Pakai sepeda itu tadi
kanan kiri jurang, Mas. Wies pokoknya
aduh banyaklah rintangan di situ.
Akhirnya sampailah e di tengah-tengah
itu saya tanya, "E, Sirangencong
gimana?" Ternyata Sirang Kencong itu
masih jauh, Mas. Mungkin separuh
perjalanan lah. Wis sampean balik ku
nanggung sampeyan terusno manding
terusno ae. Nah, saya itu khawatir
bensin habis, ban bocor. Kenanjak wis
akhir alhamdulillah berdoa wis akhirnya
nyampai situ. Ah, itu dapat Monstera.
Dari situlah inspirasi Monstera pertama
itu sebelum COVID ya. Jadi sebelum COVID
itu eh saya jualan jadi e bibit-bibit
itu tadi saya pecahi saya tanam-tanam
setelah beberapa tahun akhirnya ada
COVID itu beloslah tanaman ngambil dari
hutan terus saya sama tatpamnya di situ
kan ada di Sira Kencong itu. Pak aku mau
ambil itu boleh? Boleh. Iya, udah izin.
Betul. Udah izin.
Kalau tanaman aku tanaman berarti mulai
2018, Mas. Sebenarnya ya kan enggak
pecinta tanaman. Tapi kalau hobi menjadi
uang itu baru saya terjunin. Nah, itu
penting ya. Jadi kita hobi itu harus
jadi cuan. Tapi lek misalkan e aku hanya
hobi terus enggak jadi cuan, enggak anu.
Waktu itu sekitar 35
Dol itu soalnya kan itu gratis ya
gratis saya cacak itu inspirasi istri
saya sebenarnya ya kan ini bagus kan
gitu tadi aku mulai burulah nah ternyata
di militar itu orang-orang itu suka
tanaman kebanyakan ya jadi saya itu
pulang di rumahan seperti itu beli murah
murah murah saya tani sendiri ternyata
pas COVID itu bonggol-bonggol itu enak
Pak laku itu loh malah mirisnya itu gini
kan saya kan online melalui FB ya itu ya
satu media sosial setelah transaksi ya
kan ada dana masuk loh pertama dana
masuk itu juga aku we enak ya ini ya
ternyata di ATM itu habis kan ATM saya
enggak terisi jadi kesedot saldo dulu
sama adminnya itu ngendes istri tapi e
selama-lama enggak apao itu nanti
otomatis akan terisi lagi ee laku lagu
itu sebenarnya menyenangkan istri
sebenarnya tanaman itu aku enggak
begituak Istri saya kan senang ya, jadi
aku ikutlah itu menyenangkan istri mau
nyor terushat-lihat tanamannya itu
iya betul. Jadi yang rawat istri terus
saya itu dibilangin ini bisa dicacah ya
itu saya caca-cacah saya potong-potong
itu saya tandur akhirnya kan dibilang
ini pertama istri saya suka yang ini
cuman saya brosing-bosing ternyata bisa
dicacain diperbanyak perbanyaknya
soalnya lewat caca aja akhirnya saya
perbanyak itu. Setelah itu kita
alhamdulillah dari kita yang ikut masih
ikut di itu tadi ulat ulat Hongkong
masih situ sampai saya di situ tuh
enggak boleh keluar sebenarnya soalnya
sudah cocok sama saya. Saya kan emang
kalau masih ikut orang itu misalkan saya
itu ikut orang pod penggawaku dewe
seperti itu. Jadi enggak perhitungan
carane opo itu bisa bagus sama soalnya
saya juga kepengin belajar seperti itu.
situlah alhamdulillah
nanjak sampai akhirnya di Blitar sini
mungkin agak habis akhirnya kita pindah
ambil ke Batu itu tiap pagi berangkat
gitu tahun
2019 mulai itu langsung kita soalnya kan
pas COVID itu langsung banyak yang
pencint tanaman soalnya kan buat
aktivitas di rumah ya kan enggak boleh
keluar lockdown itu kan otomatis
orang-orang banyak pindahnya ke tanaman
dari situ. kita langsung lumayan hanget.
Ada beberapa yang ambil di hutan cuman
ada yang orang itu minta tampilan jadi
kita ambil ke petani jadi kita juga ada
tanian dan juga ada kita ambil yang
sudah perform sudah tinggal pajang dan
bonggol itu enak kita jual enak karek
nyaca koy ngeracai lombok apa ngeracai
laus didol gitu [musik] aja itu banyak
sekali ya ee tiap hari itu kurang lebih
sekitar 40 50 alhamdulillah wis pokoknya
kita kirim sehari sebenarnya ada ada
teman-teman 150 200 sekali ada iya
sehari soalnya kan ada seller dari
Pekanbaru itu ambilnya banyak sudah
langganan jadi tiap minggu itu ambil
banyak-banyak [musik] dari situlah tapi
dari situ kita tanaman telah COVID
berapa ya mungkin bertahan sampai
sekitar 3 tahunan 3 tahunan tuh masih
lumayan lah masih lumayan setelah itu
harga tanaman anjlok sangat aman
namanya BLT Garden BLT Garden itu juga
lucu juga Saya itu dikasih nama itu sama
Spedc juga. Jadi SPDC itu namanya I opo
ya? Ini Blitar Garden ae ya. Itu dari
situlah SBLT aja bantuan langsung tunai.
itu banyakan orang-orang kayak gitu
cuman seringnya beli langsung transfer,
beli langsung tunai itu aja ah kalebon
[tertawa]
dulu tanaman banyak dulu itu jadi
montera anti monstera kan termasuk
biloendron jadi kita jual semua ya
akhirnya kan kalau pas covid-covid itu
kita main ke rumah teman aja kita upload
tanamannya itu kalau kita punya ser-ser
yang anu ya yang sudah langganan cepat
mudah cari uang e jadi kita main ke
rumah teman foto-foto cair bayaran kakan
di situ. Jadi kita alhamdulillah
akhirnya ke Monseraigata
atau yang lainnya. E sampai Meraigata
kan sempat satu daun itu harganya R5
juta ya. R5 juta itu enak cari uangnya.
Kalau yang mahal-mahal itu ternyata
warigat kuping gajah itu hokeri seperti
itu dan dari itulah terus habis itu
draktis harga menurun. Saya tuh kan
koleksi [musik] ya, punya koleksi banyak
sebenarnya kayak itu tadi Masera
farigata marmo itu yang harganya mahal
ternyata harga turun kita jualnya juga
rugi banget dari harga yang satu daun ee
R5 juta sampai harga satu daun hanya 200
dari kulaan wis enggak nyocok loh Mas
draktis ngedon ada juga [musik] sih e
laku R30 juta seperti ini. Ya, dulu itu
ada yang R30 juta satu tanaman. Sekarang
ini ini lagi otw ke sini soalnya aku
ngambil lagi dari teman saya. Mungkin
harganya lebih dari itu mungkin nanti.
Kalau sekarang sini paling mahal cuman
harga Rp10 juta kalau di sini ya. Kalau
sekarang soalnya aku sendiri [musik]
cari yang aman aja sebenarnya ya.
Seperti yang ini dia tuh jumbo banget.
Dia tuh sudah perform dan gede. Nanti
kalau sudah keluar lidah enaknya kalau
tanaman ini seperti ini dia itu kalau
monster varigata kan ada yang misalkan
hijau kan itu misalkan ada yang putih
sendiri ada yang hijau sendiri ini kan
enggak. Ini semakin besar semakin mahal.
Enaknya di situ. Jadi ini semakin dia
tuh besar semakin perform. Emang sengaja
saya bulatin seperti ini. Sebenarnya kan
medianya enggak terlalu gede ini. Itu
sengaja saya bulatin itu nanti
performnya lebih bagus, lebih mempesona
lagi. Dan pernah itu tanaman saya ngedon
banget sama tanaman itu enggak terawat.
Kalau beli ya banyak sih, Mas. Kalau
dihitung-hitung kalau R00 juta, Rp300
juta [musik] ada sekitar 4- tanaman. Dan
dari itulah makanya kan e sempat ambil
yang banyak itu tadi terus harganya
anjlok ah turunlah praktis. Dan stok
kita kan masih ada beberapa dan harga
itu tadi yang kulak-kulak yang
sebelum-sebelumnya kan juga mahal. Gini
misalkan menset kita kan tambah daun
pasti tambah harga dan kita tahan.
Sebenarnya misalkan saya beli Rp20 juta
sudah ditawar Rp25 juta enggak saya
kasihkan. Sebenarnya kan udah untung R5
juta. Saya tahan dulu lah biar nanti
tambah daun biar tambah banyak lah.
[tertawa] Itulah. Dan ternyata enggak
sama yang kita bayangkan kan gitu
ya. Emang benar-benar real itu. Jadi aku
mempelajari sebenarnya kenapa aku terjun
di sini. Ini namanya plediserium ya.
Pltiserium. Dan dia itu ada keunikan
sendiri sebenarnya ya. Keunikan itulah.
Oh ternyata saya juga baru paham. W.
Ternyata ini harganya sampai
segini-segini. Itu emang betul soalnya
nilai dari keunikan tanaman itu sendiri.
Mungkin dia tuh berkarakter tegak atau
dia tuh pendek itu jadi kerdil. Itu
malah lakunya mahal. Saya sendiri sempat
enggak membayangkan lah kok ini sampai
laku R30 juta? Itu enggak masuk akal
mungkin dari pemikiran orang-orang. Tapi
itu sendiri aku lihat dari mindset kita
sendiri si Mas gini. Aku lihat kayak
tanaman ini. Ini mungkin ada beberapa
ini loh aku di rumahku banyak [musik]
harganya murah. Tapi kalau aku sendiri
jual ini saya patuk dengan harga [musik]
R juta katakan ya alhamdulillah laku
juga R juta. Jadi mecet [musik] itu kita
bawa sendiri sebenarnya lek tanaman loh
ya. Soalnya mungkin patokan harga itu
enggak ada [musik] orang hobi itu enggak
ada patokannya. Ah betul. Makanya ada
beberapa orang yang punya seperti ini,
tapi dia tuh enggak dimounting, enggak
dikasih itu, itu harganya juga enggak
menaik. Kalau kita lihat seperti ini kan
ada pigurannya mungkin dimoing besar dan
lihat sudah karakternya sudah bagus kan
otomatis orang itu oh bagus ya
performnya kan gitu dari seni itulah
[musik] seninya di situ. Gini itu itu
membuat saya satu ya satu ee agak fokus
lagi. Saya emang dulunya tanaman sampai
saya kan jadi e ketua di Blitar yang
tanaman itu juga punya [musik] e
komunitas sama Mas Surya juga sama Mas
Surya juga di situ aku kan e pernah
jatuh juga kan jatuh sampai [musik] saya
itu jualan pentol Mas. [tertawa]
Iya, betul. Pentol itu ee saya jual
[musik] sampai kita itu ee ada pas
son-sonan itu kita jual ke sana gruduk.
Saya juga [musik] jual di RTH punya
setan itu juga pernah di rumah sini juga
pernah. Pas tanaman lagi
hancur-hancurnya. Tapi teman saya gini
mengingatkan jenemu sapi BLT Garden naik
OG dan saya memulai dari tanaman
pletiserium [musik]
di sini namanya tanduk rusa dan kita
belinya juga murah sampai teman-teman
yang yang bunga-bunga kowe kok dodolan
ee kembang murah-murah gak poo gak duwe
duit kul isok sing tuku sing murah-murah
kan gitu di situlah ternyata aku posting
posting posting ada yang mau saya jual
dengan harga Rp50.000 kan sudah untung
Mas R5.000 jual Rp50.000 itu enggak
enggak ada pigura-piguranya. Belum
lihat-lihat karakter cenata sampai laku
200 loh kok enak men dari situ kita
fokus lagi ke tanaman. Jadi emang
tanaman itu benar-benar kita harus
menilai. Jadi, oh tanaman apa yang lagi
hit tanaman apa yang itu itu fokus
2023 terakhir di situ dan pertama kali
aku jual ini kita joinan sama teman saya
sama yang pentol itu sama kan
jual-jualan ketemu akhirnya akrep
akhirnya loh awamu enggak dodol ternyata
aku jinan bunga lag woh mangkak no gitu
akhirnya ikutlah ke saya aku melu yo
ternyata dianya ikut sini akhirnya
masarkan di FB jadi host Aku aku itu
malu, Mas. Terserang dari host itu
enggak ada niatan sebenarnya sama
sekali. Pertama, jadi kalau offline
sekarang itu udah praktis menurun.
Banyak yang gulung tikar lah kalau
offline dari online ya online satu EB
pertama itu sama teman saya juga kita
live itu jalan banyak banget ya kan di
live FB itu dan ada pas ada waktu
adiknya teman saya itu ada nikah
ternyata ah Mas aku gak iso yo. Aku tak
kenang nikahan adikku. Tapi Lek FB itu
enggak bisa kayak gitu. Salahnya saya
itu enggak pakai akun saya, pakai
akunnya teman saya ya kan. Dari situ
akhirnya dan itu tadi ada kendala dia
tuh ada acara keluar keluarganya manten
dan 10 hari enggak enggak live dan saya
pembulang saya itu tiap hari kirim saya
mengeluarkan uang terus pemasukan enggak
ada. Saya coba live sendiri enggak bisa
masuk cari teman yang host juga enggak
bisa di situ ngedon banget juga.
Ternyata dari situlah saya nemu saya
main di TikTok saya live sendiri.
Alhamdulillah mulai di situlah dengan
saya sendiri live di situ. Padahal saya
tuh enggak ada saya live di depan kamera
tuh ngomong opo aku gitu loh situlah.
Ternyata gini kalau live kalau ada yang
tanya-tanya itu lebih enjoy ternyata kan
gitu. Jadi kita itu kayak akrab kan gitu
tanya-tanya kalau enggak ada yang tanya
mungkin gabut ya Mas. Di situlah
ternyata di situ aku mulai lagi sendiri
terus akhirnya ada tetangga yang mau
join. Dari situlah alhamdulillah. Saya
pernah 4.000 penonton. Betul. Tapi gini,
dari 4.000 penonton sendiri itu mungkin
tanya ongir-onggir aja biasanya
kebanyakan yang peminatnya itu mungkin
beberapa cuman kita e PD aja l soalnya
orang itu melihat oh itu tanaman apa?
Soalnya tanaman ini enggak enggak lagiak
enggak segitu populer lah di di
rumah-rumah lah gitu. Soalnya kan apa si
ini ini dari Papua, ada yang dari
Sulawesi, ada yang dari Myanmar kan
belum terlalu populer soalnya tanaman
kita dari hutan gitu. Kalau 4.000 itu
mungkin sekitar 10% sebenarnya yang anu
itu tuh 10% pertama Mas akhirnya ada
turun turun turun turun turun itu
gara-gara mungkin kebicangan TikTok
sendiri kan ada ee pembatasan [musik]
apa-apa kan gitu.
Kalau sekarang kalau paketnya kalau kita
itu mungkin sekitar ee 1015-an lah itu
tiap hari. Cuman kita sekarang punya
host senam sekarang. Alhamdulillah. Dan
pertama aku milih ke pliserium, ternyata
ada teman saya dari Vietnam mampir ke
sini order 1000 plan dan ambil yang
kecil-kecil. Dan saya memulai itu kan
enggak mungkin golek anak nih, kan
otomatis golek indukan nih. Jadi aku
beli indukan dapat [musik] yang
anak-anak ni tadi. Untungnya bukan
untung uang, untungnya indukan. Akhirnya
di situlah mulailah sebenarnya ini
banyakan orang-orang sana mulai
lihat-lihat sekarang. Nah, cuman saya
yang ekspor ke sana juga aku banyak sih,
cuman masalahnya tuh besar-besar punya
saya itu peminatnya orang sana
besar-besar dan ongkirnya mahal. Itu
kendalanya kalau kira-kira ya kalau
sehari mungkin R juta sampai R3 juta lah
ya. Alhamdulillah. Jadi seperti itu.
Enggak mesti Mas. Soalnya TikTok itu
kadang lagu R10 juta 15 kadang enggak
mesti ya. Rata-rata paling minim
segitulah. Sebenarnya sangat mudah
sekali. Makanya saya itu pilih yang
perawatan sangat mudah kan. Ini sudah
saya kasih media seperti ini mouse hitam
itu ya mous hitam itu tinggal disiram
aja dan saya terus terang di sini itu
tanaman enggak saya pupuk. Masalahnya
gini kalau saya jual segar enggak saya
pupuk ya kan nanti dibeli bu saya di
sana enggak dipupuk aman misalkan
dipupuk lebih subur seperti itu. [musik]
Emang sengaja enggak saya pupuk?
Takutnya takutnya itu ee nanti kalau di
sini saya pupuk sueger-seger, kalau di
sana kan orang bayar kan belum tentu dia
itu mupuk. Takutnya nanti kalau enggak
dipukup pasti akan beda soalnya
ketergantungan ya. Nah, itu sebenarnya
mungkin mungkin saya siasati kalau
misalkan kena hujan ya mungkin medianya
kita pakai poros gitu aja. Jadi ini kita
bentuk seperti bulat itu. Jadi nanti
kalau bulat itu hasilnya kan juga bagus.
Jadi akan melingar gini kan bagus
tertutup juga medianya kan akan tertutup
juga seperti itu. Sebenarnya enggak
berduit juga bisa sebenarnya cuman saya
itu menjarinya emang kalangan yang ee
kebanyakan ya yang masuk ke saya itu
kalangan menengah ke atas sebenarnya.
Soalnya saya jual itu yang sudah [musik]
tampilan dan harganya juga lumayan di
situ. Kalau terbawa mungkin ada yang
harga 100 tapi rata-rata yang pecinta
yang banyak dibeli itu kebanyakan harga
mulai 200 ke atas. Kalau termahal saat
[musik]
ini
kalau ini yang paling gede nih kalau
sekarang ya hanya Rp10 juta kalau di
sini bukan. Iya. Jadi kita bikin.
Makanya saya itu suka kerja tim. Saya
dari dulu itu kepengin punya tim,
makanya saya ada nanti yang ada yang
bikin figura, ada yang mounting, itu
yang ngasih media seperti itu. Kalau ini
sebenarnya 3 tahun masih aman.
Yang bagus itu seperti dia tuh pokoknya
enggak terlalu hitam. Maksudnya itu ini
ada masanya dia tuh akan coklat, ada
masanya dia akan hijau. Nah, jadi
disatnya itu ya ini dia tuh cakep tegak
ini dan seperti itu kan hijau-hijau
semua itu bagus. Tanaman ini juga bisa
di-indor, diordor aman. Tanaman ini
sangat cocok sekali untuk di kafe itu
cocok sekali. Dan yang paling banyak
orderan kita dari Bali sama Jakarta itu
kita packing. Kalau besar-besar kita
pakai packing kayu itu. Kalau yang
kecil-kecil aja bisa via JNT. Itu yang
dari kerdus yang tebal. Bi pakai dakron
biar aman seperti itu. Amannya lagi itu
gini, tanaman ini soalnya enggak terlalu
ee butuh banyak air. Jadi kita kirim
misalkan dia itu lama ke Aceh pernah 10
hari aman itu jadi lebih kering lebih
aman ya kayak gitu. Jadi kita jadi kita
kirim langsung saya kasih calol dari
kipas itu aja w kita sendirikan dulu
biar enggak kebasahan, enggak kena siram
itu aja aman. Sebenarnya kalau kecil,
kalau kecil itu dua atau 3 hari sekali
aja. Tapi kalau misalkan sebesar ini,
seminggu sekali aman itu. Jadi
tergantung penempatan sebenarnya. Kalau
misalkan di indoor, di indoor itu yang
penting satu sirkulasi udara. Sirkulasi
udara itu harus dapat. Kalau misalkan
diindoor tambahan lampu boleh, itu
penyiramannya lebih lama enggak masalah
tu. Jadi tanaman ini enggak begitu
kebanyakan air ya. Jadi lebih lama aja
enggak apa-apa kan. Macam-macam pleti
serum tuh macam-macam. Jadi [musik] ada
karakter-karakter sendiri dia itu yang
akak teduh, ada yang suka panas. Kalau
di sini
ada yang 15 tahun cuman masih ee saya
perawat dulu di situ. Saya rehap lagi
kemarin soalnya nempelnya itu di pohon
dan kejatuhan akhirnya rusak. Saya taruh
di belakang juga. Terus [musik] saya
packing lagi. Bagus. Wis sebenarnya gini
saya juga kan lihat-lihat dari
teman-teman Bali juga kan. Bali kan
tempatnya orang-orang seni ya.
Sebenarnya saya jual ya enggak pakai
frame itu harganya emang enggak bisa
ngangkat tinggi lah. Dari situlah aku
lihat-lihat oh di Bali kok bagus ya.
Akhirnya saya buat seperti inilah.
Alhamdulillah ada teman-teman yang mau
kerja di sini buat frame itu ada yang
mounting. Itulah kok tampilannya bagus.
Kita bantrol dengan harga yang agak
atasnya kok alhamdulillah laku. [musik]
Kebanyakan orang-orang itu mintanya yang
sudah perform dan sudah tampilan
pokoknya. Soalnya saya sendiri kan
pecinta juga sebenarnya. Akhirnya
gara-gara itu tadi cuan akhirnya berat
cinta. [tertawa]
Kalau laku teruskan otomatis istri
tambah cinta. He.
Sebenarnya istri saya itu bilangnya
gini, "Ayah hebat lah. Kok apa hebat?"
Ayah itu wis iso menguasno sembarang
kalir. Maksudnya ee nguatkan istri
[musik] saya dari tertekan seberapa
mungkin tertekan e sampai minim itu
tertekan. Wis kok iso hebat yo [musik]
ngasih support lah ke istri saya juga
gitu. Lek istriku seik bilangnya gini
aja, wis pokoke kita usaha pasti ada
jalan. Jadi ada ada momen lagi itu kita
pas ambil monster yang besar, Mas. Jadi
besar sepintu kurang besar ya pakai
tornado kan dan dia itu bawa besar saya
suruh bawa gini. Ah kan berat loh Mas.
Itu aku juga bayangkan berat. Terus pas
lewat di talun itu ada orang nebang kayu
soalnya jatuh ya. Dan akhirnya kita kan
berhenti juga. Orang itu sampai neduh
belakang saya. Mas ikut neduh ya.
[tertawa]
Saking besarnya Mas Sera ikut nedang ya
sama istri saya itu. Itu itu jauh loh
Mas. Padahal di Sira Kencong kita naik
tinggi yang jalannya sudah bergelombang
kanan kiri jurang itu kalau ingat di
situ itu yang jadi kuat sama istri saya.
Alhamdulillah. Betul. itu emang saya tuh
paling suka ya misalkan tetangga yang
itu dan membuka peluang anak-anak
pekerjaan itu ya
pokoknya istri itu harus senang itu
[musik] aja yang saya persembahkan itu
gitu makanya kemarin tuh mobil ada,
alhamdulillah dapat mobil dulunya itu
kita nyewa akhirnya punya mobil terus
akhirnya setelah mobil itu dapat kita
beli mobil lagi buat angkut-angkut
alhamdulillah dari situ. Jadi pokoknya
istri kadang kepengin ya aku pengin
pedah beli aja. [musik] Iya saya gitu
soalnya gini menyenangkan istri itu
insyaallah rezekinya banyak dan satu
orang tua itu utama itu orang tua. Saya
soalnya sudah pernah merasakan gimana
itu ya sama orang tua sampai orang tua
saya tuh ee merawat sampai meninggal.
Itu pas minim-minimnya itu Mas. Orang
tua saya di sini [musik] tuh
sakit-sakitan. kita ee otw ke
Tulungagung Riwa Riwi Riwariwi terus itu
jadi kita lagi drop juga [musik] enggak
punya apa-apa kita ngerawat orang tua
tapi banyak yang sempat gini jangan
sabar nanti ada balasannya itu yakin
saya [musik] di situlah pokoknya intinya
ke orang tua saya itu kita senangkan
dulu orang tua itu boleh Mas saya itu
gitu pokoknya saya itu yo jadi emang
salah satu saya itu kuncinya itu harus
sama-sama tahu dan terbuka sama istri
saya itu dompet aja satu loh yo saya itu
ke mana-mana dompet ituak satu [tertawa]
satu untuk bersama makanya istri mau
minta apa ya situ adanya uang di situ ya
itu pakai mau COD apa ya itu ya buat itu
aja pengin apa ya itu kuncinya di istri
senang insyaallah kita juga senang yang
paling berjaya ya istri saya soalnya
selalu support saya dan yang ini bunga
ini soalnya kan ujung-ujungnya dari
tanaman itu tadi dan paling support dulu
itu saya itu mesos juga gaptek banget
dan istri saya yang mulai jadi di situ
pokoknya istriku is the best pokoke di
keadaan kita sing minim banget itu
sampai di situ aku sampai bilang gini k
istriku kalau Kalau kamu enggak kuat mau
ninggalin aku, enggak masalah. Tapi
alhamdulillah dia tetap setia. [musik]
Soalnya saya itu di bawah bol. Saya itu
kalau bilang apa adanya di Budnya tuh ee
kita tuh pokoknya [musik] enggak enggak
punya usaha, enggak punya apa-apa kan
otomatis kita terendah sendiri toh Mas.
Malah min kan dari situlah parah banget
itu. Itu kurang lebih
6 bulan dari itu kan sampai aku ikut
saiki sekarang bayangkan, Mas gaji
Rp30.000
1 minggu dapat uang berapa sampai
kepengin bakso itu aja seminggu sekali
pengin makan bakso sekarang tebasen
baksone [tertawa]
ya di situlah kita punya semangat ketika
kita terendah gimana istri itu support
kita dan ee gimana dia itu setia sama
kita yang membuat bahagia itu kalau saya
itu pokoknya kita ada masalah kita ada
apapun kita terus terang enggak ada yang
ditutupin [musik]
itu pasti bahagia gitu dan e misalkan
gini w pengin itu ya beli kalau ada ya
beli
Situ saya itu enggak ada pikiran
macam-macam ya, enggak ada pikiran wis
kamu iniini enggak. Soalnya dia itu
bahagia, wis pasti aku kok kijolan
[musik] di situ. Jadi kebahagiaan istri
itu pasti nanti saya juga otomatis
bahagia. Jadi anak-anak ini enggak
enggak enggak pernah lihat saya sampai
tukaran ya, Mbak ya. Alhamdulillah.
Malah anak ini cemburu. Saya itu sukanya
itu tadi mesrak-mesrahan kadang.
[tertawa]
Soalnya saya itu kan anu toh, Mas, bikin
contoh anak-anak juga, anak muda. Jadi
nanti misalkan rumah tangga itu seperti
inilah.
Jadi gini, pokoknya jangan ragu, jangan
bimbang [musik] ya. Punya keyakinan itu
pasti terpenuhi. Jadi kita benar-benar
yakin. Yakin itu utama. Utama itu yakin
pokoknya. Kalau kalau saya sendiri ya
keyakinan itu lebih terpenting kalau
usaha ya pastinya kita didoakan sama
istri sama orang [musik] tua. Jadi
support orang tua sama istri itu sangat
penting ya. Jangan menyiakan orang tua.
Saya itu sudah pernah menyanyiakan orang
tua. Hasilnya juga wasalam. Dan Allah
itu membalas benar-benar membalas dengan
sepenuhnya. Apa yang kita inginkan itu
akan terpenuhi. Soalnya pernah orang tua
saya meninggal itu enggak enggak dapat
mengubur, enggak ikut mengubur. Itu
pernah. Terus saya [musik] diganti
dengan saya merawat orang tua, mertua
saya di sini ya. Mertua dengan [musik]
sakit, dengan mengubur, dengan semuar
itu diganti sepenuhnya. Kehebatan Gusti
Allah di situ. [musik] Saya di Mojokerto
orang tua kan diwar belandong ya. Saya
di kota setahun sekali Mas padahal ide
malah saya yang diambangin sama orang
tua. May saya itu satu orang tua panting
banget dari situlah. Sekarang saya kan
punya orang tua tinggal satu, mertua
juga tinggal satu.
Di situlah utama orang tua sama istri
saya. So saya yang menemani kita pasti
istrah sampai tua [musik] istri mungkin
anak mungkin mungkin ada keluar
sendirinya
juga sayang semua sama anak sama istri
kan sayang semua cuman yang paling utama
istri. Saya Supartono dari selaku owner
BLT Garden. Alamat kita di Sawentar
Kanigoro Blitar Jawa Timur. Eh map-nya
bisa diogling di map BLT Garden. Terima
kasih [musik] banyak. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Rahayu Rayu
terima kasih thank
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:28 UTC
Categories
Manage