File TXT tidak ditemukan.
Bisnis Sejak Usia 23, Kini Sukses Raup Omzet Ratusan Juta dari Jualan Pisang Tanduk
5RIaWlBDJ_w • 2025-11-26
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Intinya saya tuh bukan bukan tipe anak
muda yang giat belajar, yang tekun
sekolah itu bukan seperti itu. Ndak
sempat kuliah. Bahkan kalau dibilang SMA
lulus pun sebenarnya saya gak lulus.
Keseringan bolos, Mas. Harusnya gak
boleh. Cuma akhirnya waktu kenaikan
kelas 3 itu saya ndak naik kelas 3. Ah,
terus saya ambil paket C seperti itu.
Tapi dalam prinsip hidup saya itu memang
saya itu ndak mengutamakan pendidikan.
Semacam ilmu bagaimana kita menjual
suatu produk itu bukan dari apa yang
produk kita bawa, tapi bagaimana kita
menyampaikan [musik] ke customer seperti
itu. Jadi katakanlah kita jualan sandal
jepit pun yang aslinya harga Rp5.000
bagaimana kita bisa jual di harga
Rp50.000 itu yang saya pakai sampai
sekarang. Jadi saya jualan pisang pun
seperti itu.
Jadi kalau yang saya amati semakin besar
usaha kita itu semakin besar juga utang
kita, Mas. Karena itu termasuk dalam
perputaran ekonomi dagang kita, ya.
Bukan berarti kita jualan selalu rugi
punya utang sama tengkula itu enggak
seperti itu. Yang jelas kan pasti saya
pun jual dagangan saya kan enggak selalu
cash juga, Mas. Jadi ada
temponya juga ada perjanjian-perjanjian
tertentu. Harapan saya waktu itu semoga
Corona enggak usai-usai gitu loh. Jadi
saya tetap bisa ambil untung banyak
gitu. Tapi ya nak ndak bisa seperti itu
jug lah. Yang jelas dari corona itu saya
sudah punya titik balik. Saya bisa ambil
pick up, saya bisa ngangsur minimal di 2
tahun pertama. Dari saya punya pick up
itu saya bisa lanjut nawarkan ke
pabrik-pabrik, Mas.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya Febrian selaku owner
dari Hoki Banana, salah satuer pisang
tanduk terbesar di Indonesia. Soalnya
dari pisang tanduk itu sendiri itu di
Indonesia itu
sangat terbatas, Mas.
Biasan
jadi cuma ada di beberapa daerah saja.
Contohnya kalau di Jawa Timur itu cuma
ada di Tulungagung sama Trenggalek. Ada
seperti di Lumajang itu ada. Cuma itu
beda jenis. Kalau yang saya maksud ini
yang saya bawa ini adalah pisang tanduk
[musik] jenis botol ya. Jadi pisang
tanduk botol itu seperti ini Mas. Dia
secara fisik hampir sama dengan
tanduk-tanduk yang lain. Cuma dia
memiliki fisik yang lebih panjang, lebih
bulat. Jadi perbedaan utama adalah di
dagingnya yang lebih bulat. Ini untuk
market utama kita itu justru untuk
industri, Mas. [musik] Industri yang
saya maksud di sini itu sebagai bahan
baku keripik pisang. Khususnya keripik
[musik] pisang yang berbentuk koin
bulat-bulat seperti itu. Terus ada lagi
ini mulai jalan itu untuk ekspor ke
Jepang sama ke Arab Saudi. Untuk
faktanya saya belum tahu sendiri
ekspornya ke mana. Cuma ketika saya
tanya sama [musik] pihak pabrik ini buat
apa? Itu katanya buat tepung. Jadi
tepung pisang gitu. Jadi ini nanti
prosesnya seperti singkong gitu. Seperti
singkong. Nanti dibuat tepung lalu
diekspor. Kalau saya gudang dari Hoki
Banana itu sendiri itu berada di Desa
Deyeng, Kecamatan Ringrejo, Kabupaten
Kediri. Cuman untuk lahan pisang ee
pisang tanduk ini itu saya manfaatkan
kelompok tani yang ada di daerah
Trenggalek sama Tulungagung.
Jadi saya merintis usaha [musik] pisang
ini sejak tahun
2017. Tapi itu nak langsung kontinue
sampai sekarang, Mas. Jadi yang pertama
ketika saya mulai itu awalnya bukan
langsung pisang dulu, tapi saya main
durian. Durian. Jadi itu pertama saya
terjun di dunia hasil bumi itu saya
pegang durian. Waktu itu di periode
pertama saya ada untung, Mas. Begitu
saya sudah merasakan untung, muncullah
ambisi. Ambisi ya saat itu ya masih
tergolong anak muda lah, Mas ya. Ambisi
saya begitu besar, begitu menggebu-gebu.
Akhirnya yang awalnya saya cuma ngambil
dari pengepul itu 200 biji, 300 biji
langsung saya ambil 1.000 biji, 2.000
biji. Dan alhamdulillah di saat itu saya
sudah mulai ditegur. Maksud saya ditegur
yang namanya usaha itu jangan selalu
[musik] mengutamakan ambisi dalam bentuk
kerugian, Mas. Itu ee masih dibilang
rugi kecillah. Itu waktu itu saya masih
di usia 23 kalau enggak 24. Iya. itu
saya mulai [musik] belajar jualan.
Sebelumnya saya biasa, Mas, kayak
anak-anak sekolah biasa sekolah, ngopi.
Intinya saya itu bukan bukan tipe anak
muda yang giat belajar, yang tekun
sekolah itu bukan seperti itu. Nak
sempat [musik] kuliah. Bahkan kalau
dibilang SMA lulus pun sebenarnya saya
gak lulus. Keseringan [musik] bolos,
Mas. harusnya gak boleh. Cuma akhirnya
waktu kenaikan kelas 3 itu saya nak naik
kelas 3. Ah, terus saya ambil paket C
seperti itu. Tapi dalam prinsip hidup
saya itu memang saya itu ndak
mengutamakan pendidikan. Setelah itu
saya kelas 3 itu enggak naik sambil ee
kejar paket C itu saya sudah mulai coba
kerja, Mas. Jadi kerja jadi sales
pertama jadi sales ya kayak sendal
apalah macam-macam produk seperti itu.
Nah di situ saya punya ilmu awal ilmu
marketing saya itu di situ. Jadi kalau
secara hasil itu memang tidak seberapa,
cuma ilmunya Mas yang saya dapat sampai
sekarang itu masih saya manfaatkan.
semacam ilmu bagaimana kita menjual
suatu produk itu bukan dari apa yang
produk kita bawa, tapi bagaimana kita
menyampaikan ke customer seperti itu.
Jadi katakanlah kita jualan sandal jepit
pun yang aslinya harga Rp5.000,
bagaimana kita bisa jual di harga
Rp50.000? Itu yang saya pakai sampai
sekarang. Jadi saya jualan pisang pun
seperti itu. Jadi bukan pedagang pisang
yang ambil dari tengkulak kemudian saya
jual ke pasar ambil untung
sekian-sekian. Gak seperti itu, Mas.
Jadi lebih ke bagaimana saya membawakan
barang yang saya punya.
Jadi ceritanya begini. Waktu kerugian
durian itu penyebabnya sebagian itu
sebenarnya bukan karena pasar, Mas. Tapi
karena mental saya yang belum begitu
siap untuk pegang barang yang saya bawa
itu. Jadi, setiap buah, setiap dagangan
itu kan mempunyai karakter
sendiri-sendiri. Katakanlah seperti
durian itu 3 hari harus habis. [musik]
Ketika gak habis ya yang pasti itu
kerugian buat saya. Kemudian ada satu
sosok di balik durian [musik] itu Mas
namanya kalau saya boleh sebut namanya
Pak Jalal. Jadi beliau itu adalah salah
satu pengepul durian yang ada di
Trenggalek. Saya pertama dapat curian
juga dari dia. Itu pun bukan karena saya
searching di media sosial atau apa. Ya,
intinya saya niat dari rumah pergi ke
Trenggalek mau kulaan duren gitu.
Akhirnya sama Allah ditunjukkan ke
rumahnya Pak Jalal itu. Di situ
alhamdulillah Pak Jalal itu orangnya
bagus. Dia punya pemikiran anak muda
juga. Jadi kalau dia lihat anak muda
yang istilahnya punya semangat, [musik]
punya daya saing di pasar itu dia berani
rugi, berani modali gitu. Jadi kenapa
saya bisa rugi juga di situ? Yang
awalnya saya cuma berani bawa durian
200, 300 biji sama dia langsung
ditantang bawa 1000 biji, bawa 2000 biji
seperti itu. Dan dia juga siap rugi,
Mas. Seandainya saya gak bisa jual, dia
pun siap rugi. Bahkan kalau saya boleh
jujur sampai detik ini saya bicara di
sini itu saya masih punya hutang sama
dia dari jualan duren itu. Cuma bukan
itu yang dia yang diharapkan dari saya
tuh bukan saya membayar hutang p dia,
tapi yang diharapkan tuh dia itu merasa
bangga kalau saya itu bisa berhasil. Ee
waktu itu lumayan sekitar 14 juta. Waktu
itu masih ya masih nol. Benar-benar
masih nol. Tapi di situlah saya sudah
mulai belajar rugi, Mas. Namanya kita
jual kan walaupun sekarang pun juga
[musik] masih sering rugi. Jadi dari
background saya sendiri itu memang kan
bukan terlahir dari keluarga pengusaha.
Jadi Bapak Ibu saya itu ya peternak sapi
biasa. Gak ada ee istilahnya keturunan
pedagang [musik] atau gimana itu gak
ada. Jadi murni inisiatif saya ingin
berdagang dan saya diberikan petunjuk
jalan di bidang itu gitu.
Cara menutup kerugian. Kalau bagi
sebagian orang ya, Mas ya, mungkin
[musik] nyari pinjaman ke sana ke sini
ban nutup hutang. Cuma kalau saya beda,
Mas. Saya punya trik beda. Hutang
biarlah menjadi hutang. Waktu itu sampai
sekarang. Yang penting kita masih ada
niat untuk membayar. Dan yang penting
lagi usaha kita masih bisa jalan. Dari
usaha yang kita jalankan terus-menerus
pasti ada keuntungan kan, Mas. Gak
mungkin kan kita setelah rugi-rugi terus
seperti itu kan gak mungkin. Pasti ada
titik di mana kita sudah belajar kenapa
saya bisa rugi, kita bisa intropeksi. Di
situlah kita nanti ke [musik] depannya
bisa dapat untung. Di balik keuntungan
itu kita bayar sedikit-sedikit untuk
bayar hutangnya. Seperti itu. Kita terus
terang aja keadaannya seperti ini. Yang
penting kita usahanya masih sambung kan
begitu. Jadi kalau yang saya amati
semakin [musik] besar usaha kita itu
semakin besar juga utang kita, Mas.
Iya. Karena itu termasuk dalam
perputaran ekonomi dagang kita ya. Bukan
berarti kita jualan selalu rugi punya
utang sama tengkula itu enggak seperti
itu. Yang jelas kan pasti saya pun jual
dagangan saya kan enggak selalu cash
juga, Mas. Jadi ada ada temponya juga
ada perjanjian-perjanjian tertentu.
Waktu itu kebetulan setelah saya rugi
musim duren habis, Mas. Kemudian saya
diarahkan sama Pak [musik] Jalal itu
untuk jualan pisang. Jadi ini belum
masuk ke ranah pisang tanduk ya, Mas ya.
Saya diarahkan ke jualan pisang. Itu
semua macam pisang, Mas. Jadi saya coba
ya semacam nyeles gitu, Mas. kayak
pengalaman saya jadi saya bawa ke pasar,
saya bawa ke toko, tak tawarkan begini
begini. Dan alhamdulillah jawaban mereka
itu rata sama. Sudah ada yang ngirim,
Mas. Itu jawaban yang paling menyakitkan
buat [musik] sales itu sudah ada yang
ngirim. Nah, di situ saya berpikir lagi,
gimana caranya saya bisa jualan pisang.
Akhirnya saya pergi ke pasar subuh.
Pasar subuh itu yang pasar-pasar
tradisional biasa. Cuma dia bukanya
waktu subuh. Biasanya yang belanja itu
pedagang-pedagang keliling seperti itu.
Di situ bagaimana dagangan saya? Prinsip
saya itu bukan seberapa banyak untung
saya waktu dagang, tapi seberapa banyak
barang yang saya habiskan di hari itu.
Mau rugi mau untung harus habis hari
itu. Jadi tahap pertama saya cari untung
dulu sedikit-sedikit. Kalau waktunya
sudah mepet sudah hampir matahari terbit
ya yang penting barang habis. Karena
target saya itu barang habis bukan saya
dapat untung banyak. Karena percuma,
Mas. Buah itu kita dapat untung banyak
tapi nyisa akhirnya busuk. Dan
alhamdulillah setelah itu datang corona,
Mas. Jadi yang pisang tanduk ini waktu
saya pertama pegang itu saya [musik]
ambil dari tengkulak itu R.500 itu
langsung turun di R200300
per kilo. Itu luar biasa sekali kejadian
itu, Mas. Waktu itu Mas ya mungkin ya
mungkin waktu itu gini jangankan buat
beli pisang, [musik] buat beli beras
saja mungkin masyarakat waktu corona itu
susah, Mas. Itu yang pertama. Yang kedua
mungkin karena sosialisasi kita terbatas
kan dibatasi ada lockdown juga kan Mas.
Cuma itulah, [musik] Mas. Corona itu
menjadi awal titik balik saya atau awal
pijakan saya [musik] sampai menjadi
besar sekarang ini. Jadi begini, Mas.
Pada awalnya e pisang tanduk nama
lainnya pisang biar itu dia larinya cuma
ke industri pabrik, industri keripik
aja. Cuma waktu corona semua pabrik
produsen keripik itu [musik] tutup, Mas.
Akhirnya saya coba bawa ke pasar. Jadi
awalnya pisang tanduk ini itu awalnya
cuma buat setor ke pabrik, buat industri
kerip aja, Mas. Tapi begitu corona kan
itu pabrik pabrik itu tutup. Akhirnya
saya punya inisiatif saya bawa ke pasar.
Jadi saya matangkan dulu, Mas. Saya
[musik] bawa ke pasar, saya ecer. Jadi
per tandan itu per gini itu berapa
berapa gitu. Kalau dihitung per kilo itu
saya masih bisa jual di atas Rp3.000,
Mas. [musik] Spesialnya di situ, triknya
di situ. Dan kenapa ini laris sekali di
pasar? Karena sebelumnya belum ada di
pasar. [musik] Orang penasaran, Mas. Itu
pisang apa kok gede-gede? Itu
mengesampingkan rasanya loh, Mas. Kalau
rasanya memang pisang ini buat gorengan
ada rasa asam. Rasanya lebih ke asam
daripada manisnya. Makanya untuk
industri keripik. Apalagi kan saya waktu
itu sudah sudah domisili di Kediri di
Pasar Sambi waktu itu, Mas. Laris, Mas.
Itu itu 1 hari itu saya habis 1 ton
paling sedikit 1 hari. Kalau waktu itu
katakanlah 3.000* [musik]
1 ton gitu aja. lumayan itu akhirnya
saya meluaskan jaringan lagi dari yang
pertama saya cuma ambil di Trenggalek
saya coba cari di Tulungagung akhirnya
saya kenal sama yang namanya Mbak Yuli.
Nah, itu ceritanya juga bilang [musik]
lucu ya lucu dibilang ngenes ya ngenes.
Mas
waktu itu saya cuma punya modal
Rp800.000. Saya belum punya pickup. Saya
cuma pinjam mobilnya Bapak saya. Mobil
Cherry. Cherry tapi bukan cerry pickup.
Cherry station, Cherry Buntet itu dan
punya modal Rp800.000. Saya ke sini,
Mas, datang ke tempat ini, ke tempatnya
Mbak Yuli nih. R800.000. Saya tuh kayak
orang enggak dianggap, Mas. Namanya
orang enggak dianggap maksudnya gini,
ini dibilang pedagang, tapi kok modalnya
cuma Rp800.000
yang dibawa mobilnya juga bukan mobil
pickup. [musik] Saya utang Rp100.000 aja
gak dikasih, Mas, waktu itu. Karena
mungkin tampang saya waktu itu ya memang
memang gak meyakinkan. [musik]
Mungkin auranya orang pegang uang sama
dak itu emang sudah beda, Mas. Jadi
utang [musik] Rp100.000, kurang
Rp100.000 aja belanjaan saya itu gak
boleh waktu itu. Akhirnya ya saya
[musik] ya udah Rp800.000 dapat sekian
saya bawa ke pasar lagi subuhnya satu
hari itu habis saya balik lagi ke sini
terus Mas seperti terus suatu hari
corona semakin panjang stok pisang di
pengepul itu di mana-mana semakin penuh
Mas. Jadi mereka sudah mulai kebingungan
mau jual ke mana, mau jual [musik] ke
mana. Nah, saya itu coba iseng-iseng
nyari label-label keripik, produk-produk
keripik itu. [musik] Saya cari labelnya
kan biasanya ada alamatnya, ada nomor
teleponnya seperti itu. Nah, itu saya
hubungi satu-satu, Mas. Nah, waktu itu
waktu corona itu tapi tetap aja belum
ada hasil akhirnya ya ya udahlah saya
saya tekuni dulu lah. Jadi waktu itu
saya belum ada arah, Mas. usaha saya ini
mau kelanjutnya seperti apa, saya belum
ada arah, ya udah tulus saja ya udah
ambil barang kita bawa ke pasar jualan
cuma gitu aja. Akhirnya dapat sekitar
[musik] 1 tahun corona itu saya
memberanikan diri ambil kredit pick up,
Mas. Harapan saya waktu itu semoga
Corona enggak usai-usai gitu, jadi saya
tetap bisa ambil untung banyak gitu.
Tapi ya ndak ndak bisa seperti itu jug
lah. Yang jelas dari corona itu saya
sudah punya titik balik. Saya bisa ambil
pick up, saya bisa ngangsur minimal di 2
tahun. pertama dari saya punya pickup
itu saya bisa lanjut nawarkan ke
pabrik-pabrik Mas seperti itu. Mungkin
yang dekat-dekat dulu ada yang di
Jombang, ada yang di Surabaya, di
Sidoarjo. Intinya masih dekat-dekat
daerah Jawa Timur lah. Setelah saya
punya pick up ya mungkin dilihat dari
sepak terjang saya mungkin, Mas ya. bawa
uang seadanya, ambil barang seadanya,
sehari habis ambil lagi. Nanti
keuntungannya [musik] sebagian
ditambahkan lagi buat pulaan kan seperti
itu.
Jadi setelah corona Mas [musik]
sudah bisa kapasitas semakin besar itu
setelah Corona. Jadi yang awalnya itu
pengirim pisang biar ini cuma daerah
lokalan aja, Jawa Timur. Saya coba
[musik] tawarkan di e daerah lain, Mas.
Seperti Jawa Tengah, Jawa Barat. seperti
itu saya hubungi dulu, Mas. Jadi, saya
cari di website-nya seperti itu. Lalu
saya posting juga di salah satu media
sosial tentang diri saya seperti itu.
Kemudian ada satu telepon masuk itu dari
Jawa Barat, Mas. Saya itu dimintai
kiriman ke Jawa Barat itu 3 ton pisang
[musik] tanduk. Dari situ saya tuh jadi
berpikir, Mas. namanya. Kita baru
pertama kali kan waktu itu mau kirim
luar daerah kan itu di tahun 2000
22 awal 2022. Jadi ada orderan pertama
ke sana [musik] itu di tahun itu saya
masih berpikir, "Mas nanti kalau tak
kirim ke sana itu benar-benar dibeli apa
dak?" Kan begitu. Tapi ya kembali lagi
namanya jiwa muda saya masih ada yang
penting berangkatlah. Masalah di sana
mau dibeli beneran apa dak? Wis gak
[musik] usah dipikirlah. Intinya nekad
aja gitu, Mas. Ternyata alhamdulillah
penerimanya itu yang punya pabrik itu
baik dan dia pelanggan pertama saya di
daerah Jawa Barat dan sampai sekarang
[musik] Mas beliau makin besar saya juga
alhamdulillah makin besar seperti itu.
Jadi yang awalnya dia kapasitas 3 ton
dari saya sekarang per minggunya 8 ton
seperti hari ini kita juga mau persiapan
[musik] kirim ke sana. Kalau stok dari
hoki banana itu per harinya kalau 10 ton
lebih Mas. Iya. Karena kita kan sistem
hoki banana itu kemitraan. Jadi kita
bermitra dengan banyak pengepul di
daerah Tulungagung sama Trenggalek itu
kalau dikumpulkan semua sehari kalau 10
ton itu sudah paling sedikit, Mas. Cuma
untuk hari-hari ini mungkin karena
politik negara kita yang sering tidak
stabil, permintaan paling banter per
minggu itu paling [musik] di angka 30
sama 40 ton lah per minggu. Cuman
permintaan terbesar [musik] pisang
tanduk kita itu di bulan-bulan Ramadan,
Mas, atau di [musik] hari-hari besar?
Kalau di bulan Ramadan itu
sebanyak-banyaknya stok kita, kita bisa
jual pasti habis. Karena itu puncaknya
pabrik-pabrik produksi, Mas.
Kalau untuk stok kita konsisten per hari
itu paling sedikit 10 ton. [musik] Cuma
untuk pengiriman paling 1 minggu itu
kita ambil jadwal untuk ke luar daerah
itu dua atau tiga kali pengiriman.
[musik]
Sisanya itu di daerah lokal mungkin
Tulungagung, Jombang, Gresik, [musik]
Solo seperti itu. Paling jauh itu ke
Jambi. Ada yang suplai ke Jambi ada. Itu
dari sini bawa ke Jambi. Dari Jambi
masih dibawa ke [musik] Riau. Sebenarnya
dari Jambi itu juga ada, Mas. Pisang ini
tuh ada sama persis. Bahkan kalau waktu
bulan-bulan Ramadan puasa kayak gitu,
saya malah ambil dari Jambi bawa ke
sini. Karena [musik] buat di Jawa itu
stoknya kurang saking banyaknya
permintaan. Jadi ada dari Jambi bawa ke
Jawa, ada dari Sulawesi [musik]
bawa ke Jawa seperti itu ya. Saya nak
terlalu memperhatikan [musik] tapi saya
pernah lihat untuk satu transaksi di
bulan-bulan itu satu mobil itu mencapai
50 sampai Rp0 juta, Mas. Itu di angka 7
ton seteng [musik] muatannya.
Mungkin kalau R00 juta ada [musik]
insyaallah. Kalau untuk profit ya
mungkin satu satu mobil seperti ini kita
ambil keuntungan [musik] itu di 50%
bersih. Cuma ndak ndak seenteng yang
dibayangkan, [musik] Mas. Jadi kita itu
harus ada target. Kalau dari awalnya tuh
saya belum ada arah, saya sudah mulai
menemukan arah, Mas. Walaupun saya ini
istilahnya usahanya kecil, [musik]
perseorangan, tapi saya memulai membuat
sistem dan target. Jadi sistem itu
bagaimana saya mendapatkan barang,
kemudian bagaimana [musik] saya
memperlakukan barang itu, kemudian
bagaimana cara saya mengirim agar
[musik] sampai tujuan itu barang saya
masih fresh, masih bagus. Kemudian
bagaimana cara saya mengajak [musik]
customer itu untuk percaya kepada saya.
Kemudian saya juga membuat suatu target.
Katakanlah untuk tahun ini target saya
per minggu harus bisa 50 ton. Itu target
ya. Katakanlah kalau kita punya target
seminggu 50 ton mungkin
bleset-belesetnya [musik] ya 30 ton kan
seperti itu. Cuma kalau target kita 1
minggu 1 ton ya [musik] mesetnya ya di
angka 1 kuintal kan gitu. J saya kalau
target itu selalu muluk-muluk Mas biar
kalau meleset itu minimal di
tengah-tengah gitu ya. Itu tadi Mas
bagaimana caranya kita membranding diri
kita ini mungkin melalui media sosial.
Yang pertama pasti media sosial.
Kemudian yang kedua, kita sering ketemu
sama customer. [musik] Kita sering
ketemu sama customer. Kita dengarkan apa
yang menjadi keluhan [musik] mereka
selama ini. Mungkin pisangnya kurang
besar atau pisangnya kurang segar atau
mungkin kalau hari-hari biasa pisang itu
banyak tapi di hari-hari besar sering
telat pengirimannya. Itu yang yang kita
koreksi, [musik] Mas. Jadi kan pengirim
pisang ini kan enggak cuma saya saja.
Tapi apa yang membuat saya beda dengan
pengirim yang lain itu kedekatan saya
sama customer, Mas. Jadi enggak
seolah-olah saya untung diri saya
sendiri. Saya merasa [musik] mereka itu
ujung tumbak saya. Customer itu ujung
tumbak saya. Di saat mereka orderannya
ramai, otomatis kebutuhan bahan bakunya
juga kan ramai. Jadi bagaimana caranya
kita [musik] bisa membantu? Apa sih yang
menjadi kendala dia? Mungkin harganya
terlalu mahal kah atau gimana? Nah, itu
yang yang kita bicarakan.
banyak kendala, Mas. Jadi mulai dari
lokasi pertanian pisang [musik] itu
sendiri itu kan untuk aksesnya itu masih
kebanyakan sebagian besar itu masih
susah. Jadi dari kebun dibawa ke
pengepul itu aksesnya masih [musik]
sangat-sangat susah, Mas. Jadi kalau
musim hujan seperti ini itu pasti petani
itu jarang [musik] ada yang nebang
pisang karena jalannya susah seperti
itu. Itu yang pertama masalah stok. Yang
kedua, susahnya itu kita kan enggak ikut
kirim, Mas. Jadi, kita cuma modal
kepercayaan aja. Ada orderan [musik]
masuk, kita siapkan barangnya, kita
kirim. Jadi untuk orderan itu saya gak
pernah minta DP duluan, Mas. Jadi
kebanyakan kalau ada orderan luar kota
DP dulu sekian. Itu kalau buat saya
malah menghambat, Mas. Karena yang
namanya kita minta DP itu berarti kan
kita masih ada rasa takut. Kalau kita
gak bisa percaya sama customer,
bagaimana customer percaya sama kita?
Jadi, modalnya keberanian dan
kepercayaan aja. Ya sudah, kita percaya
aja. Ini orderan itu memang untuk kita.
Kalau rezeki kita ya kita enggak akan
kehilangan toh walaupun pada akhirnya
saya ditipu [musik] ya ndak sekali dua
kali Mas saya ditipu ya udahlah itu
bukan rezeki saya gitu aja gak sering
[musik] Mas cuma berkali-kali tapi di
saat saya ditipu itu buat [musik] saya
itu suatu pertand Mas ketika saya ditipu
berarti level penjualan saya itu sudah
naik gitu alhamdulillah jadi pertama
saya ditipu orang itu cuma di angka 16
juta itu murni benar-benar mentah-mentah
ditipu saya Mas cerita ceritanya saya
kirim kirim ke seorang makelar lah
katakanlah barang saya dimasukkan ke
pasar atau ke mana saya gak tahu. Yang
jelas barang saya diterima tapi dia gak
balik ke saya buat ngasih [musik] uang
dan alhamdulillah gak lama kemudian saya
bisa beli armada baru Mas. Ya mungkin
itu hikmahnya Mas kalau kita itu penuh
keikhlasan. Kalau dari saya yang
terbesar itu di R5 juta terbesar satu
truk utuh. Alhamdulillah selalu ada
gantinya selama kita ikhlas, [musik]
Mas. Dari orderan yang semakin banyak,
relasi kita semakin banyak, itu pasti
[musik] ada. Intinya kalau prinsip saya
itu usaha, kita harus berani, kita harus
ikhlas juga. Intinya kita berangkat dari
nol, seandainya kembali ke nol itu kita
enggak usah [musik] takut. Emang awalnya
kita tuh nol.
Oke, jadi itu salah satu alasan kenapa
saya memilih jenis pisang tanduk,
[musik] Mas. Jadi dari segi kematangan
itu dia lebih lebih lambat istilahnya
[musik] dia lebih tidak cepat matang
kayak gitu. Dan untuk menjaga bagaimana
pisang itu fresh itu kita mulai dari
petaninya, Mas. Jadi bagaimana petani
itu membawa pisang yang habis dipotong
ke pengepul. Kemudian bagaimana pengebul
istilahnya menyimpan pisang itu kan gak
langsung 1 hari potong langsung hari itu
juga kita kirim kan gak mungkin 2 hari 3
hari kemudian jadi pertama petani bawa
sampai pengepul itu menyimpan itu ada
teknik-teknik khusus agar pisang itu
tetap segar terus di pengiriman pun kita
juga ada teknis khusus [musik] mulai
dari media yang kita pakai itu ada daun
pisang, ada [musik] pelepah pisang itu
untuk menjaga suhu di tumpukan pisang
itu tetap dingin. Dan satu kunci saya
itu dari segi waktu pengiriman, Mas.
Jadi saya selalu pakai target waktu.
Betul. Kalau jenengan pernah lihat mobil
cabe, saya sistemnya seperti itu, Mas.
Jadi dari Kediri ke Bandung itu cuma
[musik] saya kasih waktu 15 jam. Itu
sudah paling telat. Kalau masalah tol
apa dak itu sudah urusan sopirnya, Mas.
Pokoknya saya mau 15 jam paling lambat
nyampai Bandung. [musik] Ongkosan sesuai
yang kita sepakati. Cuma tonasennya pun
makanya saya ndak berani bawa 8 ton, 9
ton gak berani. Paling berat itu 7 ton
saya. Karena kembali lagi saya ndak
mengejar [musik] seberapa untungnya
saya. Cuma saya mengejar bagaimana
customer itu puas dengan pisang [musik]
yang saya kirim. Ada satu lagi Mas,
tekniknya kita harus hafal karakter
pisang itu sendiri. [musik] Jadi pisang
itu kan ada yang mungkin dia memanennya
terlalu tua, ada yang kurang tua.
[musik] Nah, itu kita harus bisa
memilah-milah, Mas. Untuk kiriman jarak
sekian kilometer atau sekian jam yang
kita tempuh, kita harus pilih pisang
yang tidak terlalu tua seperti itu.
Karena nantinya yang dipakai di sana itu
bukan pisang yang matang, Mas. Harus
mentah. Dan itu juga nyampai sana harus
masih [musik] bisa bertahan minimal 2
hari di sana. Jadi selama 2 hari setelah
turun dari mobil saya di pabrik itu nak
boleh matang. Kalau selama 2 hari ada
matang, saya pasti kena klaim. saya
harus ganti kalau sampai saat ini paling
omset saya sekitar R00 jutaan itu, Mas.
Iya. 2 tahun. 2 tahun terakhir ini.
[musik] Alhamdulillah, Mas sudah terbeli
tadi armada teraga. Ada lagi ini call
diesel-nya [musik] juga ada intinya.
Terus ada juga yang terbaru.
Alhamdulillah saya sudah dapat satu
mobil keluarga, Mas ya. Alhamdulillah
kalau saya kembalikan lagi itu nak
terlepas [musik] dari orang-orang yang
pernah memberikan [musik] ilmunya kepada
saya. Jadi di balik kesuksesan saya itu
ada banyak sekali orang yang membagikan
ilmunya kepada saya. Terutama tentang
ilmu [musik]
pemasaran,
ilmu itu tadi keikhlasan, keberanian.
itu semua ada yang menularkan [musik] ke
saya seperti itu. Dan tidak lupa ya
alhamdulillah itu semuanya tidak
terlepas [musik] dari yang maha kuasa
seperti itu, Mas.
[musik]
Kalau dulu saya masih hobi, Mas, bawa
mobil itu. Jadi, pada dasarnya juga saya
tuh hobi hobi kecepatan, [musik]
terutama bawa truk. Jadi, setelah usaha
supplier pisang saya ini berjalan itu
saya pernah di mana ada [musik] titik
kebosanan, Mas. Jadi orderan sudah
lancar, tinggal istilahnya tinggal
rekan-rekan kerja saya tinggal ambil
dari pengepul, bawa ke pabrik, cuma gitu
aja. Saya jadi bosan, Mas. [musik] Di
rumah cuma duduk-duduk jadi bosan.
Akhirnya saya bawa bawa bawa truk, Mas.
Saya saya ngoyo beli truk sendiri tak
buat muat pisang, [musik] muat cabe
seperti itu. Jadi buat mengisi
kekosongan waktu saya itu, Mas, saya
bawa truk. Makanya saat ini kalau
mungkin sopir-sopir yang kerja sama sama
saya buat muat pisang, saya jadi hafal.
Oh, kalau berangkat jam sekian nyampai
Bandung pasti jam sekian, nyampai
Jakarta pasti jam sekian. Jadi saya
hafal. Jadi kalau ada yang ngomong e
kalau misalnya ada kejadian jam telat
alasan A B C [musik] itu saya sudah tahu
gitu gak bisa diakali gitu soalnya
menjalankan sendiri gitu. Justru dari
waktu saya lulus sekolah sampai sekarang
[musik] ini semakin tua saya semakin
sederhana Mas. Jadi waktu jamak-jama
sekolah, waktu lulus habis habis lulus
sekolah itu malah saya itu orang yang
istilahnya gimana apa ya yang kalau
kalau bilangnya [musik] anak muda
sekarang itu glamor gitu ya. Suka
hal-hal yang mewah, suka jalan-jalan ke
sana [musik] ke sini. Iya. Jadi saya tuh
lumayan di Sendang, Mas. Saya asli
kelahiran Sendang, Tulungagung. Cuma
[musik] saya ndak ndak kerasan tinggal
di Sendang. Saya lebih kerasan tinggal
di kos-kosan di Tulungagung mulai SMA
itu. Jadi ya di situlah e pergaulan
bebas apa keluar malam ngopi nyet waleh
[musik] Mas. Gara-gara waleh dan semakin
usaha kita besar otomatis ee pemikiran
kita itu lebih terfokus [musik] ke
usaha. Karena kendali dari keluarga saya
juga ibaratnya e saya ini kepala
keluarga. Kalau sampai usaha saya ini
gagal atau bangkrut, otomatis yang
menanggung kan anggota keluarga juga,
Mas. Apalagi ada tiga orang anak yang
harus saya perjuangkan.
Ke depannya tentunya yang ingin saya
tingkatkan adalah sistem, [musik] Mas.
Jadi, sistem penjualan saya, saya pengin
punya sistem penjualan yang rapi, yang
kuat. [musik] Jadi ketika nanti tenaga
saya sudah tidak sekuat hari ini, kalau
sudah ada sistem yang jalan, kita
tinggal ikut sistem itu sendiri. Ya,
tentunya [musik]
memperluas pasar lah, Mas. Kemudian saya
juga pengin kalau pisang
tanduk ini, pisang biar ini bisa
dimanfaatkan [musik]
ke bentuk-bentuk olahan yang lain.
Mungkin sekarang ini yang sudah mulai
itu dibuat [musik] isian roti, Mas.
dibuat olahan roti itu. Saya juga ada
customer di daerah Tawangmangu. Jadi
salah satu pusat oleh-oleh [musik]
terbesar di Tawang Mangu yang bahan baku
utamanya itu menggunakan pisang tanduk
dari Boki Banana. Alhamdulillah kalau
sistem [musik] persaingan saya itu ndak
menjatuhkan, Mas. Jadi kenapa saya bisa
bertahan sampai hari ini? Karena saya
tidak pernah menjatuhkan [musik] orang
lain. Jadi justru malah ketika saya
ramai orderan mereka saya ajak, Mas.
Saya ajak ayo barangmu ada berapa? naik
ke truk saya, saya [musik] yang kirim
seperti itu. Karena saya melihat potensi
pisang di Tulungagung ini masih luar
biasa potensinya. Mungkin bisa menjadi
[musik] perhatian juga bagi pemerintah
daerah Tulungagung untuk lebih
memperhatikan petani-petani pisang di
wilayah Tulungagung [musik] ini,
terutama di segi transportasinya, di
jalannya. Ya, intinya sama-sama
menguntungkan, Mas. Jadi, saya juga
semakin untung, petani juga semakin enak
bawa pisangnya. tentunya [musik]
buat APBD daerah kan juga bisa membantu
ya mungkin untuk pemuda-pemuda
di usia [musik] saya saat ini mungkin di
25 ke 30 tahun kita harus segera merubah
pola pikir kita yang mungkin kita
dituntut untuk sekolah harus pintar biar
jadi pejabat biar jadi pegawai apa itu
kita harus berani merubah pemikiran kita
kita yang muda yang memulai usaha
seperti itu. Karena sekecil apapun
usahamu, kalau kamu pemiliknya kamu
adalah bos. Tapi setinggi apapun
jabatanmu, kalau kamu bekerja di tempat
orang lain, ya kamu tetaplah babu. Dan
seperti saya sendiri, saya lebih nyaman
kalau saya tuh jadi bosnya, bukan jadi
babunya seperti itu. Saya Febrian, owner
dari Hoki Banana. Media sosial di TikTok
Hoki Banana atau Mas Febrian di Facebook
juga Hoki Banana. semuanya media sosial
media sosial saya Hoki Banana alamat di
Desa Deyeng Kecamatan Ringinrejo,
Kabupaten Kediri. [musik] Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Okay.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:31:14 UTC
Categories
Manage