Transcript
_v4JRcw3Rhg • Gaji Suami Kalah Jauh, Tapi Justru Rumah Tangganya Harmonis… Kok Bisa?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0650__v4JRcw3Rhg.txt
Kind: captions Language: id Profitnya berapa, Mbak? Berapa? [tertawa] Gak mesti yo, Mas. Naik turun. Rata-rata berapa? Rata-rata di sebulannya 1 jam 100, 1,5 [musik] jam 140, 2 jam 180. Kurang keren gitu. Kurang keren gitu loh. [tertawa] Heeh. Opo loh, Mek tukang londri kayak gitu gek. Opo pekerjaane mek me antar jemput anake ndak punya skill gitu. ketika mendapatkan penghasilan sendiri rasa lebih superior dari suami. Mbak Fitriah, asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Grogi terus terang karena dihadapkan oleh dua orang ibu rumah tangga yang independen banget. Mungkin penghasilan saya lebih lebih sedikit daripada sampean berdua ini, [tertawa] Mbak. Kita boleh kenalan dulu. Kita kan mungkin belum kenal ee Mbak Vinda ya. Betul ya, Mbak Vinda sama Mbak Fitria. Iya, betul. Siap, Mbak. Dulu ceritanya gimana kok bisa sampai menjadi seorang independent woman? Saya bilangnya independent woman aja ya, supaya lebih universal ya. Iya. Oke. Gimana dari Mbak Vinda dulu deh? Iya, Mbak Vinda. Oke. Ee awalnya ketika pandemi Mas, itu kan sudah lumayan lama di rumah aja. Oke. Eh, terus tiap hari itu berpikir aku tuh harus ngapain ya kan bosan. He. Selain bosan kalau ee dari lulus sekolah kan kita udah udah terbiasa punya penghasilan ya, Mas. Habis gitu ketika pandemi tiba-tiba ee tidak ada penghasilan dan tidak ada kegiatan, akhirnya ee suatu ketika tuh ee di rumah itu kan biasanya ada pelanggan pijit, ada langganan saya pijit. Iya. Terus beliaunya itu sudah sepuh, sudah purna tugas. Jadi kan terus tiba-tiba kok saya berpikir ee nyapo kok enggak aku aja jadi tukang pijet gitu. Heeh. Nah, dari situ mulainya. Oke. Heeh. Ini besty juga sama Mbak Fitri ya? Iya. Lumayan lama kenal. [tertawa] Oh, kenal di mana? Dulu kerja di tempat yang sama, Mas. Di mana, Mbak? Di ada produsen gamis. Oh, yang yang bangkrut itu ya? [tertawa] Bangkrut diperjelas. Tapi bukan bangkrut sebenarnya colabs ya. [tertawa] Aduh. Iya. Kenal lama berarti. Iya. Ee sejak bekerja di situ atau sebelumnya sudah kenal? Sejak bekerja di situ. Oh. Dulu sebagai apa sih? Saya di sana sebagai finance. Mbak Vinda admin. Iya, admin produksi. Oh. Lek di sini kok kayak asing gitu ya? kayak berjarak gitu wong biasane biasanya tuh gosip bareng [tertawa] ng jaim profesional jaim nihim [tertawa] aduh ya ampun dan dari apa ya lebih sopannya memang dibilang pijet atau terapis oh ya biasanya sebutan kerennya terapis Mas tapi saya juga gak masalah lek disebut tukang pijat Oh, gitu. [tertawa] Karena ya memang itu profesi saya memang basicnya atau ningat jadi tukang pijet? Oh, ndak. Kepikiran aja ndak ada Mas. [tertawa] Ajake nom-noman jadi tukang pijit kan ndak keren ya sebenarnya. Heeh. Banget [tertawa] banget malahan gunah. Tapi ternyata eh enjoy sih sampai saat ini. Enjoy. Oke. Berapa lama Sudan profesinya? Ini jalan 5 tahun. Oh. Yalah betah berarti. Iya karena ternyata menyenangkan [tertawa] gara-gara apa? Cuan ya. Iya. Ee selain itu juga anu, Mas waktunya sangat fleksibel sekali. Oh oke oke oke oke oke. Sama juga Mbak Fitri cukang pijit juga bukan. Oh iya. Oke. [tertawa] Iya. Kalau saya buka usaha laundri, Mas, di rumah. Di rumah? Iya. Oke. Awalnya itu ya cuma iseng yo. Enggak iseng sih. Coba coba-coba gitu loh. Kan ada suami saya kan tukang servis mesin cuci AC gitu kan. Terus kok dimanfaatkan bisa mesin cucinya coba. Oh dimanfaatkan. [tertawa] diberdayakan daripada nganggur. Terus kan biasa di apa biasa kerja toh terus itu pas sama ya Mbak kita pas pandemi itu terus kita keluar terus kok di rumah kok biasane ada kegiatan enggak ada. Heeh. Akhirnya ya itu punya inisiatif juga laundri itu. Oke. Oke. Oke. Artinya sebelum sudah bekerja setelah keluar kerja dari salah satu produk fashion itu Iya. Baru mendirikan usaha. Iya. Oke. Siap-siap. Laondri langsung ya? Iya langsung laundri. Itu aja usahanya. Kalau dulu awalnya ya. Tapi sekarang sama supplier MBG. Mas weh. Berapa dapur Mbak? Masih empat. Oh, masih bahasan masih empat. Apa distrip ngasih apa? Ayam. Ayam sama soya. Susu soya itu loh. Oh. Berapa? Berapa banyak kalau soya itu? Satu dapur. Sebulan dua kali satu dapur itu. Kalau kalau ayam itu semine. Kadang ya 3 hari sekali, kadang 2 hari semin dapure. He. Loh soya sebulan dua kali. kali. Iya. Satu dapur itu. Oh. Oh, berartinya anu ya ee variasinya menu ya. Variasinya menu. Oke oke oke oke oke. Banyak juga nih. Cuma pakai empat dapur loh. Mbak empat dapur. Iya ya. Peng kali. Iya kan? [tertawa] Kan minder aku. Mbah. Alah masj minder. Iya. [tertawa] Gajinya host host podcast gini ndak ndak seberapa. [tertawa] Oke. Senang menjalani aktivitas itu, Mbak? Iya, senang soalnya bisa nyambi sama antar jemput anak saya. Oh, i sekolah ya kan bisa fleksibel, Mas. Oke, oke, oke, oke. Bisa sama nyambi di rumah, pekerjaan di rumah gitu. Heeh. Heeh. Anak berapa, Mbak? Anak satu. Alhamdulillah, Mas. Alhamdulillah. Ya ampun. Usia usia 9 tahun. 9 tahun. Oh, mau mau ya? Udah gede, Mbak, ya? Siap-siap. Ah. Enggak ada resisten, Mbak, ya, dari suami ketika menjalani usaha kira-kira? Ya, pokoknya selama masih bisa membagi waktu gak apa-apa gitu. Suami saya bilang begitu. Iya. Masih bisa. Oh, ya, Mbak ya, masih bisa membagi waktu gak apa-apa lek kamu mampu gitu. Hm. Peran istri tidak tertinggalkan? Insyaallah tidak. [tertawa] Siap. Inspiratif. Mbak Vinda juga begituah? Iya, Mas. Malah saya sangat sangat fleksibel. Lebih lebih fleksibel lagi. Maksudnya kan saya sehari itu cuma ambil satu pelanggan. Oh. Kadang-kadang kalau agak dipaksa bisa dua. Heeh. Jadi misal pagi jam 09.00 sampai 11.00 selebihnya ya sudah di rumah. Oh. fleksibel makanya saya enjoy. Oke oke oke. Berapa sekali treatmen, Kak? Per jamnya 100, Mas. Oh 1 jam 100, 1,5 jam 140 2 jam 180. Oh ya lumayan gantian apa gimana? [tertawa] Oh jadi tukang pijat. Iya alih profesi jadi tukang pijat [tertawa] segitu per jamnya. Kalau di kota kecil lumayan besar itu, Mbak. Cukup. Iya, lumayan besar. Iya. Iya. Udah bisa ngapain aja, Mbak? H dari profesi itu sudah dapat apa aja juga? Oh, kebetulan saya ndak terlalu suka beli beli, Mas. Jadi, saya lebih senang lihat duit sih. [tertawa] Lebih ke nyiapin tabungan kalau nanti suatu saat perlu apa gitu. ada gitu. Hm. Perlu bisa jajan terutama suka jajan. [tertawa] Perlu rumah ada, perlu mobil ada, ada. Amin. [tertawa] Perlu tanah ada gitu. Ada harapannya gitu. [tertawa] Ya Allah, kok bisa bahkan saya bisa sampai ngumrohin keluarga? Ee semoga belum sih, sementara belum. Oh. Oh, oke oke oke oke oke. Dipakai apa, Mbak? Biasanya uangnya sebagai ibu rumah tangga kan juga dinafkahi nih. Iya. Dibuat apa uangnya biasanya? Atau uang istri ya uang istri, uang suami juga uang suami, uang istri juga uang suami atau bagaimana? Lebih ke dipakai jajan loh, Mas. Jajan. Suka jajan kuliner gitu. Beli makan, beli jajan gitu aja sih. Oke. Kalau belanja lainnya gak gak terlalu. Belanja-belanja gamis, hijab, pakaian. Oh, alhamdulillah sekarang ee misal pengin apa gitu kan jadi bisa beli sendiri. Hm. Kalau dulu kan harus nabung dulu gitu. Iya. Karena tapi suami masih tetap menafkahi? Masih dong [tertawa] kan tugasnya. Saya kira wis udah kamu [tertawa] cari uang sendiri. Wah, masih masih alhamdulillah. Wah, dua double nih pendapatannya. Amin. Amin. Amin. Iya. Iya. Ee minder enggak, Mbak, suami, Mbak? Katanya ke kok gak pernah tanya toh, Mas? [tertawa] Oh, gitu. Enggak pernah tanya. Nanti coba tak tanyain ya. Boleh ya tanyain ya. [tertawa] Yang saya tahu profile-nya suami Mbak Vinda ini kan pengajar. Iya. Yang dulu juga masih honorer. Terus tiba-tiba ee Mbak Vinda inisiatif untuk menjadi terapis yang ternyata penghasilannya lebih banyak. Honorer kan gak banyak Mbak ya. Iya. Mengenaskan, Mbak. Iya. Anu Mas Lek aku bilang sambatan. [tertawa] Eh, tapi mungkin lebih ke berkahnya kali ya. Apa yang dirasakan, Mbak? Ee tentang keberkahan yang dirasakan dari ee meskipun secara pendapatan tidak banyak dari suami, tapi bentuk tanggung jawabnya tetap menafkahi dengan segala kekurangannya. Iya. apa yang Mbak Vinda rasakan dari mungkin pasca merasakan itu atau keberkahan apa yang secara material dirasakan ee tentang keberkahan ini anu, Mas, kalau orang lihat saya tuh katanya alhamdulillah hidupnya penak. [tertawa] Alhamdulillah. Iya. Heeh. Gitu ya. Alhamdulillah semuanya sehat. Oh. Suami sehat, saya sehat, rukun gitu. Mungkin bagian dari berkahnya kali ya. Heeh. Heeh. Heeh. Iya. Seperti itu. Mbak Fitria juga. Iya, Mas. Gimana? Gimana? Gimana? Ya, orang itu lihat penak yo kamu nk rumah wis bisa dapat uang gitu paling. Heeh. Terus, terus, terus. Ya, alhamdulillah ya rukun sama suami, sama keluarga, anaknya sehat sehat itu wis alhamdulillah. Iya. suami tetap menafkahi juga. Iya, [tertawa] tetap masuk itu. Ee pernah enggak berpikiran perspektif bahwasanya ketika mendapatkan penghasilan sendiri ee merasa lebih superior dari suami, Mbak Fitria? I kalau dak sih, Mas. Gak ya? Gak. Iya. Yo tetap kodrate kan tetap wanita kan yo tetap harus dibawahi suami ya Mas. Ah gitu ya. Iya. Gak pernah gara-gara cekcok rumah tangga gara-gara nafkah gitu keuangan. Mm gak sih. Alhamdulillah sejauh ini. [tertawa] Jangan sampai jangan sampai jangan sampai. Iya. Kalau Mbak Vinda, pandangan Mbak Vinda sebagai istri yang bisa menafkahi atau punya penghasilan sendiri? Pandangannya Mbak Vinda bagaimana di tengah keluarga yang mungkin juga perannya masih ada suami yang bisa menafkahi? Saya ini, Mas, berusaha menempatkan diri saya tuh tetap di bawah suami gitu loh. Maksudnya ee walaupun saya istilahnya apa-apa bisa beli sendiri ya, tapi itu saya kalau mau beli sesuatu tuh izin dulu, Mas. Oh, iya. Aku boleh beli ini enggak gitu? H aku beli ini gimana boleh enggak gitu. Terus juga kalau mau ke mana-mana juga tetap bilang, "Oh, aku ke sini, aku ikut ibu ke sini boleh gak?" gitu. Tetap gitu. Oh, biar suami tuh apa ya, Mas, istilahnya? Tetap dia merasa sebagai kepala di rumah itu. Heeh. Tetap dihargai gitu. Aku tetap seperti itu. Oh, oke oke oke. Wih. Berat enggak sih, Mbak, menjalani itu? Pernah enggak tiba-tiba setan bisiki, "Wong gue lu, L kamu itu loh penghasilanmu lebih banyak, superior lah gitu." Gak pernah sama sekali tiba-tiba setan bisi gitu. [tertawa] Ee kadang tuh kepikiran lebih ke anu Mas, nanti kalau tua gimana? Kan ndak ndak ndak ada dana pensiun gitu kan. Kan ndak dapat pensiun gitu. Makanya saya sekarang lebih senang kenabung sih. Oh. Heeh. Karena diriku menyadari kita berdua gak bukan pegawai, gak dapat pensiun. Jadi ya harus rajin nabung. Oh. Itu aja sih. Nabungnya dalam bentuk apa? Sementara masih dalam bentuk uang. [tertawa] Soalnya Mas masih tinggi mau beli. Nunggu turunnya ternyata gak turun-turun [tertawa] malah naik naik turun. daerah itu biasanya nabungnya kan tanah, sawah gitu. Belum sebanyak itu. [tertawa] Nominalnya belum bisa untuk dibelikan itu. Oh, oke oke oke oke. Mbak Fitria ee pernah merasa capek juga enggak? Mungkin dari sisi istri udah apalagi anak juga masih kecil disuruh ngantar gitu. Adakah rasa capek tiba-tiba terus? Karena gini, Mbak. Saya tuh meyakini bahwasanya setan itu ketika tidak bisa menggoda suami, tidak bisa goda laki-laki, godanya itu biasanya dari istri gitu. [tertawa] Pernah enggak minimal bisiki awak kamu itu sudah superior, harusnya bisa lebih superior gitu. Iya. Yo pernah, Mas. [tertawa] Heeh. Mestine yo pernah. Nggih. Pernah. Tapi ya wis tetap dididukne, diunggahne, tetap mikir, oh iya lek ndak apa ndak begini kok apa jenenge [tertawa] nanti pokok intine jalane begini ya wis dijalani aja gitu tetep di anu nopo legowo lah diunggah udukne ngoten tetep ngunggah-nguduk maksudde piye mbak apa mbak bahas [tertawa] mikel dur mendung kadang mikir kadang yo slow oke tapi pernah Pernah capek juga ya? Iya pernah Mas. Biasanya ngapain Mbak Lek kalau udah kalau capek ya wis dolan Mas ke mana gitu sesederhana itu ya bareng suami. Iya kalau sami repot ya sendiri Mas tapi izin tetapan aku mau ke sana. Gak rewel ya. [tertawa] Gak rewel. Enak banget. Masyaallah. Subhanallah. Mbak ee Mbak Fitri, saya tuh sebenarnya pengin punya gambaran aktivitas usaha laundri yang Mbak Fitria jalankan sekaligus supplier ya disebut di dapur MBG itu aktivitas usahanya tuh ngapain sih dari hulu hilirnya tuh kayak apa? Kalau saya pagi itu kan ke laundri dulu, Mas. Buka buka laundri. Nanti kalau yang jaga sudah datang kadang tak tinggal itu antar anter ke supplier itu. Nanti pokok kalau laundri wis ada yang jaga kenek di pasaran gitu saya keluar ngurusi yang MBG itu. Oke oke oke oke. Profitnya berapa, Mbak? Berapa? Enggak mesti ya, Mas. Naik turun rata-rata berapa? Rata-rata di sebulannya delan. Wih. kebersih kalau laundri itu belum masih kotor. Oh laundri saja itu. Keren. Kalau MBG-nya? Kalau MBG-nya ini masih jalan baru kok belum kok berani Mbak support MBG? Anu Mas suami [tertawa] yang support. Oh iya. Suami saya kan ikut itu kayak bangun instalasi kompornya di MBG itu. Terus dia tanya-tanya sudah dapat supplier apa belum? Terus dimasukin akhirnya sama suami saya. Oh. Oh, kan bayarnya lancar anu apa di tempo kalau soya itu langsung kalau ayam di tempo minggu. Hmm. Tapi pasti dibayar ya. Masih lancar ini, Mas. Di tengah isu-isu berkeliaran gitu enggak takut tuh, Mak? Tiba-tiba. Iya. Iya. Takut sebenarnya. [tertawa] Mbak, model bisnis yang Mbak Fitria jalankan tuh sebenarnya bagaimana? Atau hanya mengalir aja? Kalau saya ya Heeh. Cuma mengalir [tertawa] gitu aja. Gitu aja ya. Iya. Heeh. Tapi memang orang daerah tuh gitu semua ya, Mbak? Enggak tahu tanpa ilmu, tanpa anu ngalir aja bikin bisnis ya jalan gitu. Heeh. [tertawa] Enggak perlu dihitung-hitung. Enggak perlu dihitung-hitung pakai finance, enggak perlu dihitung-hitung pakai trik marketing yang kayak apa, digitalisasi, meta ads, ROA dan lain sebagainya, CRM dan sebagainya. Kayaknya juga enggak pernah dengar ya kata-kata itu. Itu anu, Mas. Lebih ke Nak bisa. [tertawa] Gak dong. Gak pernah ikut ya, Mbak seminar-seminar gitu gak pernah. Oh, dan dak dong, ndak dong, dak [tertawa] dong. Enggak dijalani nak. Oh, [tertawa] gitu ya. Ya wis mengalir gitu aja lah. Gimana Mbak kalau mungkin dari Mbak Vinda cara kenal orang supaya order ke Mbak Vinda gimana untuk awalnya dulu anu Mas apa endorse di kacamata Tulungagung. Oh influencer mikro. Iya. Oke, gitu awalnya itu. Tapi lebih ke ini ternyata yang lebih jalan itu anu dari mulut ke mulut gitu. Oh, pijet di Mbak Yu enak gitu. Hm. Gitu. Atau enggak biasanya pelanggan itu bikin story di sosmet itu juga lumayan jalan. Oh, oke. Artinya juga pakai media sosial ya? Iya, tetap tetap pakai kalau di usaha saya. Tapi yang penting posting aja, enggak dipikirkan ini posting harus konten yang kayak apa gitu. Iya, tapi untuk sekarang saya sudah ndak pernah posting. [tertawa] Kalau dulu masih rajin. Kalau istilahnya kan karena masih babat ya, jadi harus harus pegang sosmat. Kalau sekarang juarang banget, Mas. Oke, alhamdulillah sudah jalan. Berarti pelanggannya sudah tetap nih. Iya. Oh, sudah tetap. Pelanggan baru juga masih ada sih, Mbak. Kenapa enggak ambil anu, Mbak ee pelanggan satu hari lima gitu? Penginnya cuannya gitu, Mas. Lek cuane pengin, lek tenagane [tertawa] ndak pengin capek, Mas. Satu itu capek banget. Dua yang capek. Kalau satu enggak. Kalau dibagi misal pagi satu, siang satu, sore satu kan sudah dapat tiga tuh. Kenapa enggak begitu? Masih ada spare waktu untuk istirahat itu anu, Mas. Lebih ke besok bangun tidur itu cuaek kalau saya ya. Kalau saya loh. Heeh. Heeh. Heeh. Artinya dibatasin tetepan ya. Iya. Walah karena saya ada prioritas lain sih. Jadi gak boleh capek terlalu capek gitu. Tapi capeknya tuh berbanding terus sama cuannya gitu ya. Iya benar. Secapek itu, Mbak ya. Maksudnya kok enggak sampai tiga kan mungkin perspektif laki-laki Mbak ya. Heeh. Oh, sik seik sik masih kuatlah tiga tiga klien dalam satu hari gitu. Ee ndak kepikiran untuk diambil gitu. 3 * 3 sudah 600.000 kali wih 600 30 Rp juta. Kalkulator netizen. [tertawa] Kalkulator netizen bekerja. Iya, Mas. Capek yang yuk. Beneran capek? Capek. Hm. Mungkin apa karena saya ini ya ndak terlalu rajin olahraga jadi Oke. Jadi ya capek. Jangan olahraga, Mbak. Nanti di digiring oh olahraga ujung-ujunge tukang pijet ko nesu kabeh sing olahraga. [tertawa] Apalagi yang fitness-fitness kayak gitu kan. Kasihan sing kasihan reka yo [tertawa] janowo. Tapi pernah melayani me anu ngasih treatment tiga orang dalam satu hari? M dulu awal-awal iya Mas lumayan rajin dulu awal-awal. Hm. Iya gitu. Terus semakin ke sini ya memutuskan untuk ambil satu atau dua saja mentok sementara gitu. Gak tahu nanti lek rajin lagi. [tertawa] Ya ampun. Ada aja. Mbak Mbak Fitria. Dukanya jadi ibu rumah tangga dan menjadi pelaku usaha itu apa, Mbak? Kadang dianggap kurang apa ya? Kurang keren gitu loh. [tertawa] Heeh. Opo loh mek tukang londri kayak gitu gek. opo pekerjaane mek antar jemput anake ndak punya skill gitu. Oh pernah gitu juga? Ya pernah Mas tetangga-tetangga oh hidup di daerah Mas. [tertawa] Oh iya iya iya memang sangat perhatian ya tetangga-tetangga [tertawa] kita itu isnya banyak lek di desa Mas. Perhatian perhatian [tertawa] gosip tukang sayur di RT RW sebelah itu ketahuan di RW sebelahnya tu sebelah cukup tuh Mas CCTV-nya [tertawa] kecepatan sampai pernah dengar itu tukang londri cuma tukang londri gitu tapi ya itu kan buat motivasi Mas Mal emang basicnya apa Mbak saya tuh Heeh sekolah pernah sekolah juga iya sekolah oh pernah tuh masuk kuliah Maksudnya maksudnya bukan sekolah itu pernah [tertawa] Heeh. Pelatihan itu, Mas. Pelatihan laundri itu toh maksudnya bukan yang sekolah kuliah gitu. Oh enggak enggak saya cuma SMA kok, Mas. Oh cuma SMK. Mbak Vinda juga kayaknya [tertawa] masih SMA. Tunggu dulu. Saya penasaran kok diam tiba [tertawa] ke Mbak Vinda dulu de masih ee SMA gak punya skill digitu kan. Pernah dengar sampai ke telinga? Iya iya pernah. Oh, sama gimana ya itu ya karena kayaknya sudah jadi culture dan budayanya ya. Iya. Heeh. Mau dibagaimanakan juga bingung kita ya. Iya. Heeh. Pernah gak ngontor gitu tiba-tiba terus nyapo gitu terus kenapa gitu? Saya [tertawa] diam ya Mas. Tapi kan buat motivasi toh balas dendam terbaik itu menjadi yang lebih baik gitu. [tertawa] Bisa aja. Amin. Amin. Dibuktikan dengan aktivitas usaha lah ya. Iya. He he he. Oke. Ada lagi yang kira yang menjadi dukanya. Saya dukanya ya. Duk biar enggak di delok biar enggak dilihat suka-sukanya aja gitu. Apa ya? Itu sih Masing menyayat hati. Iya. menyayat lek laine ya wis ndak ndak terlalu dipikir [tertawa] ee iya ya gitu. Kalau Mbak Vinda dukanya apa? Dukanya apa ya? Dukanya anu Mas kalau kan saya tukang pijet ya Mas. He. Dukanya itu kalau ndak diumet kipas [tertawa] angin, Mas atau AC gitu, aduh sumuk banget itu saya kurang ini kurang nyaman sama diri saya kalau sumuk gitu. Sumuk itu gerah lah. Gerah. Iya gerah. [tertawa] Ini yang banyak yang lihat kok podcasnya B [tertawa] bahasa Jawa gitu. Maafmaaf gak apa-apa. Gak apa-apa bisa dianslate lah nanti. Ya Allah, sumuk [tertawa] pernah anu pernah ngelayani laki-laki? Tidak, Mas. Hanya perempuan dewasa dan anak-anak. Perempuan dewasa dan anak-anak. Iya. Hm. Semuanya pelanggannya perempuan semua ya, Mbak ya? Iya. Kalau anak-anak bisa cowok juga, tapi kalau sudah SMP saya enggak sih anak-anak. H tetap menjaga itu, Mbak ya. Insyaallah. [tertawa] Dukanya sebenarnya cuman AC aja. Iya sih itu sejauh ini gak ada ini. Saya saya sangat enjoy, Mas dengan usaha saya ini. Gitu. Enggak gitu loh. Saya melihatnya gak ada dukanya di info sama teman itu katanya Bu termasuk sarjana sampean, Mbak. Kok tua? Eh, kok tahu. [tertawa] Iya, Mas. Dan jurusannya ndak nyambung sama sekali. Jurusan mana? Turung Agung Trenggal. Trayek. [tertawa] Trayek itu jurusannya apa? Hukum. Jurusannya [tertawa] gak nyambung. Subhanallah. Sama. [tertawa] Pernah sekolah pernah kuliah di Fakultas Hukum juga. Iya. Di Malang. Di mana? Iya ada di Malang. Eh, Malang tuh pasti template lah. Kalau Brawijaya, UM, UMM gak tahu pasti kampusnya ya. Merdeka. Iya. [tertawa] Bukan mana tuh? Widama di Blimbing. Iya. Tahulah kamagama [tertawa] tahu. Ya ampun pernah. Iya. Jadi anak hukum yang nyasar jadi terapis, [tertawa] jadi tukang pijet. Aduh, perjalanannya ada aja. Kenapa, Mbak? Kok kepikiran gitu loh bagi ee mungkin beda beda sama orangor kota Mbak ya. Di mana orang desa, orang daerah itu kalau ada satu orang yang sekolah gitu, apalagi sekolah hukum tuh pasti kan di dilihat banget kayak dibanggakan apalagi apalagi sama orang tua sekolah fakultas hukum. Iya. bayangane weh jadi pengacara, jadi hakim, notaris, notaris gitu. Ini tukang pi gitu, Mbak. Gak nyambung banget. Dulu ini Mas, awal-awal saya mulai itu orang tua, suami gitu kayak gak percaya gitu saya. Terus kok ujug-ujug ya langsung terjun di ini. Mikirnya tuh gak lama, Mas. Makanya gak kayak ee usaha-usaha yang sebelumnya dipikir dipikir aja ya ini tuh ndak ndak terlalu lama. Heeh. Langsung ini kok pengin terus beberapa hari setelahnya langsung posting gitu. Udah secepat itu. Keputusannya berapa hari itu? Langsung. Oh i satu hari langsung. Iya langsung itu. Terus menyiapkan itu kurang lebih 1 minggu langsung terjun. Cepat Mas. Memang sudah basicnya sudah ada. Oh, sebelumnya ini cuman otodidak aja sebelumnya ya. Setelah itu 1 bulan atau berapa minggu berjalan itu saya ini cari surat izin di dinas kesehatan namanya STPT. Itu harus diperbarui setiap 2 tahun sekali itu saya sudah punya itu. H. Terus kemudian izin berusaha saya sudah punya. Wih, itu lengkap [tertawa] ya karena Fakultas Hukum ya. Semua legalitas harus [tertawa] dipenuhi dulu ya. Iya. Ibaratnya kalau kita berkendara sudah punya SIM-nya gitu. Jadi insyaallah aman. [tertawa] Ya ampun. Ee dua berapa berarti? Satu satu hari langsung diputusin jadi terapis. Heeh. Pernah punya pengalaman yang gak menyenangkan enggak, Mbak? Apa ya, Mas? ee bukan tidak menyenangkan, tapi lebih ke sedikit ini sedikit ada takutnya itu ketika ada orang baru yang WA, kita kan gak tahu itu laki-laki atau perempuan niatnya baik atau tidak itu ketika lokasinya di hotel atau kos-kosan pernah gitu saya cross cek namanya di sosial media kok ndak nemu gitu misalkan. Nah, itu baru ada rasa takut ada. Itu biasanya saya share log ke WA suami. Share log ke WA suami. Saya berangkat jam segini sampai jam segini. Nanti kalau jam segini saya gak WA itu sudah jaga-jaga. Tapi alhamdulillah sejauh ini alhamdulillah aman. Oh, tapi pernah mendapatkan yang begitu yang yang gak aman gitu? Gak pernah ya? Oh, alhamdulillah gak pernah. Cuman itu aja firasa di awal kok ada sedikit takutnya itu. Itu ada buat jaga-jaga. Ee berarti pengalaman pengalaman terapisnya sebagai tukang pijet itu anu berangkatnya dari mijitin suami terus tiba-tiba jadi profesi gitu. Mm lebih ke Iya mungkin ya. [tertawa] Sebenarnya waktu mijitin suami itu 5 menit aja sudah capek Mas. Oh gitu. Kalau kita bukan tukang pijit ya, itu 5 menit aja rasanya udah udah capek. Coba jenengan [tertawa] istrinya nanti lek capek soalnya gak dapat. Iya [tertawa] apa ya itu ya gara-gara enggak dibayar ya mungkin ya. [tertawa] Ya ampun ini. Aduh itu sih dukanya sejauh ini. Usia berapa T sekarang? Maaf. 91 itu berapa? Gak saya santai kok ya, Mas. Gak baper. 91 itu berapa? 34. 34 Mas. Gak pengin mau 34 tuh kan masih bisa tuh daftar ASN. Oh iya. Kadang-kadang ada sekeliling itu menyuruh daftar. Tapi ini Mas ya kemarin pernah daftar. Heeh. Tapi dapat ini dapat peringkat dua yang diambil cuma satu. [tertawa] Alhamdulillah. Oke. Masih banyak bisikan untuk pengin daftar. Ini kan tahun terakhir nih. 3 34. Iya. Oh, terakhir ini ya 34 ya? 35. Oh, 35. Iya. Gak pengin sementara kok belum yo, Mas. Oh, seenak itu, Mbak ya? Jadi tukang pijat. Iya, enak banget. [tertawa] Enjoy. Oke. Waktunya fleksibel. Ibaratnya kerja kalau bisa pagi aja ya bisa. Heeh. Dan yo dapatnya lumayan gitu. Iya. Iya. Dan walaupun ada tempat sepa atau home care lain gitu, alhamdulillah ya saya tetap ada pelanggannya tetap ada. Oh, kayak brand-brand besar yang baru masuk di Tulungagung gitu masih ada juga pelanggannya. Iya, alhamdulillah gak mempengaruhi omset saya, Mas. Weh, [tertawa] gitu. Alhamdulillah ya. Karena mungkin ini ya Mas ee kalau kita lihat sensus ya, jumlah penduduk yang wanita di Tulungagung ini dengan ibaratnya target saya sebulan yang cuman 25 orang itu kan sangat jauh. Jadi alhamdulillah ya masih jalan aja. Hm. Nak terpengaruh, ndak terganggu omsetnya ya gak menurun. Alhamdulillah tetap data juga ya. Iya. 1 bulan 25 tahun. Iya. Engak, saya lihat ini saya lihat ee wanita dewasa di Tulungagung tuh ada berapa gitu. Saya lihat, Mas, [tertawa] pasong paling. Dan saya butuhnya cuman 25 sampai gak sampai 30 itu rasanya sangat masih sangat ini masih sangat okah usaha ini. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Kita pindah jadi tukang pijet aja ya. [tertawa] Itu Mas Saik tuh pantes itu Mas. Masa itu kenapa? Karena roso iya karena secara [tertawa] secara fisik kuat besar terus satu pijetan gini itu udah uh udah. Heeh. Saya soalnya pernah [tertawa] saya dibantu sama Saik tuh. Masyaallah. Ih Mas banyak anu loh Mas banyak suami pelanggan itu yang tanya mbak ndak punya kenalan terapis apa pijet cowok toh? Gitu. Cocok cocok berarti. [tertawa] Jadi timnya jenengan Mbak Ni, Mas nanti. Oh, kalau laki-laki ke Mas ini gitu ya. Mau gak, Mas? [tertawa] Sing penting cu [tertawa] nggih. Oke, Mbak. Kalau kalau Mbak Mbak Fitri ee dari aktivitas usaha laundri terus sama supplier MBG, dapur MBG Mbak ya. Cuannya lebih banyak mana sama suami Mbak? Kalau yang supplier itu kan join sama suami, Mas. Soalnya kalau saya pure di laundry saja. Oh, sebenarnya gitu ya. Oalah. Oh, ada peran suami ternyata ya. Iya. Di MBG uangnya berbarengan berarti ya? Iya. [tertawa] Uang bersama. Bukan bersama, Mas. Punya dia aja. [tertawa] Eh, statusnya bersama. Iya, Mbak. Ee saya melihat jenengan berdoa itu juga luar biasa ketika stereotip orang perempuan apalagi yang ketika punya penghasilan itu pasti minimal menganggap sedikit rendah oleh suami dan ternyata memang pendapatan suami lebih lebih rendah daripada berpap aktivitas usaha jenengan. Eh, selama ini sebenarnya apa yang Mbak Fitria bangun sih sebenarnya dari sisi value, dari sisi nilai-nilai yang mungkin melekat di Mbak Fitria. Kalau saya itu awalnya dulu karena ingin membantu suami, Mas. Ingin bantu cari uang gitu loh buat kebutuhan keluarga gitu. Tapi iya kurang. Tapi semakin ke sini kok senang sama kegiatan cari uang kok [tertawa] senang. Iya gitu lah. Kalau tahu kurang kok berani nikah waktu itu lah iya ndak tahu [tertawa] bucin ampun sing mau yo mek kuwi. Sing mau yo mek kuwi timbangane [tertawa] ko ndak nikah sebelum usaha dinafkahi berapa kalau boleh tahu mungkin sensitif boleh dijawab boleh gak? Mm ya paling dulu itu masih OMR Mas. Woh ya tinggi, Mbak. Kenapa? Tapi tanggungannya banyak, Mas. Kan masih menanggung apa aja? Nanggung orang tua toh, Mas. Masih. Oh, masih ngasih orang tua. Adiknya kan masih kuliah juga. Heh, gitu. Itu ngedom. Akhir akhirnya saya ya memutuskan untuk ya wis tak bantu. Heeh. Buat kebutuhan kita nanti dipikir bareng-bareng gitu. Wih baik banget ya. [tertawa] Kebutuhannya apa selain selain rumah tangga? Apa Mbak? Kebutuhannya selain rumah tangga apa? Orang tua. Iya, orang tua. Terus sama anu apa? Adiknya kuliah itu. Adiknya mase bukan, adiknya suami saya itu kan kuliah juga. Di fasilitasi pendanaan kuliahnya. Iya. Untuk bayar apa UKT itu loh, Mas. Itu yang bayari nanti suami saya. Oh, oke. Kuliah di mana, Mbak? Di UIN. Oh, UIN di sini. UKT kan nak gak murah tuh. Iya. 2 T berapa? Oh, masih murah. Saya kira kalau di angka di 8 sampai 10 itu ber 6 bulan 2 3 gitu. Tapi merasa berat enggak sih, Mbak? Ya awalnya awalnya ya gitu, Mas. Tapi sekarang wis biasa. [tertawa] Oh wis sudah ya sumber cuannya lebih banyak gitu ya. Iya. Heeh. Oke. Oke. Oke. Oke. Quality time-nya bareng suami ketika punya usaha terganggu enggak bareng keluarga? Heeh. Kadang hari Minggu itu yo tetap ditinggal kerja loh, Mas. [tertawa] Jadi ya jarang jarang quality time. Ee enak usaha ya karena ada cuannya ya. [tertawa] Iya. Heeh. Mbak jenengan berdua ini kan juga teman yaitu giih. Kalau di kalau di oncam gini ndak sama sekali ndak ada [tertawa] ndak ada greget ya gregetnya gitu. Ee biasanya kalau di offcam tuh gosipnya apa? Yang diobrolin apa biasanya Mbak Fitri? Apa ya Mbak? Skinc, [tertawa] Mas. Heeh. Diakan skinc-nya [tertawa] enggak ada yang cocok ya, Mbak ya? Oh, gitu. Piye to, Mbak? Opo toh iki cocok gitu temanya. Kok ndak nemplek? [tertawa] E muka kok ndak nemplek yang sering diber justru screen care bukan lika-liku ibu lika-liku istri yang aduh kok abotmen gitu kok beratmen soalnya Mbak Fitri ndak punya lika-liku masak punya makan [tertawa] punya punya apa kalau punya coba [tertawa] rahasia waduh ampun ampun [tertawa] Mbak Mbak Fitri itu memang susah banget untuk dipancing ya. Harus off cam dulu baru [tertawa] aja. Citu. Aduh. Aduh. Eh, Mbak Mbak Vinda. Iya. Pengin jadi terapis sampai kapan, Mbak? Nah, itu dia, Mas. Yang juga saya kadang ini mikir gitu ya. Ada galaunya ada. Soalnya kan ini ibaratnya aktivitas fisik ya, sedangkan kita manusia kan semakin tua fisiknya semakin menurun gitu. Jadi ini ee saya sedang berpikir ikut pelatihan apaagi gitu kan. Saya alhamdulillah lumayan rajin ikut pelatihan itu. Oh. Jadi ini juga sedang mencari sih saya ikut pelatihan apaagi ya enaknya gitu. Hmm. Apa, Mbak, pelatihan yang seru banyak banget diikuti? Bukan mendalami ilmu terapisnya mungkin ya. Ada hubungannya dengan terapis, Mas. Yan tetap. Heeh. [tertawa] Tapi kayak ada ilmu baru apa nih saya ikut, ada saya pengin tahu ilmu apa gitu saya ikut gitu. Berarti pijet bayi body massage segitu-gitu ya seputar itu se itu. Iya. pengin nyanyi band-band besar kayak Kayu putih sama Nakamura. [tertawa] Amin. Penginnya punya gitu atau oke mentok di usia 40 aku sudah punya punya tabungan. Aku pengin beralih ke usaha yang secara fisik tidak terlalu effort banget gitu. H sementara ini sih, Mas, masih tetap di lingkungan terapis gini sih. Cuma nanti mungkin ee ada apa ada tambahan apa gitu. Oh, ber hair orang gitu ya. Mulai hari orang gitu penginnya gitu insyaallah. Itu gimana kalau kalau ternyata pelanggannya lari karena yang pengin yang dipijit tuh yang pengin Mbak Mbak Vinda gitu pelanggannya bukan orang lain. [tertawa] Iya. sempat mikir gitu, Mas. Tapi ini apa saya lebih ke mikir aku tuh bisa enggak ya bekerja sama dengan orang lain gitu loh maksudnya. Heeh. Soalnya ini anu Mas jiwa-jiwa karyawan ini masih jiwa karyawan belum bisa ini nanti kalau hire orang gitu. Heeh. Diriku ini bisa menjadi leader yang baik enggak gitu mikirnya malahan. Oh. Oke oke oke oke oke. Tapi yakin ya. Yakin apa kalau ke depan bertumbuh usahanya? Tetap diterapis ya? Iya tetap diterapis. Semoga aja masih sampai bisa sampai panjang. Amin. Amin. Itu dari tadi duyem terus [tertawa] gak mau komentar apa-apa gitu. Pendengar yang baik. Iya pendengar yang baik. Mbak itu memang kan ke sini tuh cuma modal ketawa [tertawa] nek nemani Mbak Vinda ya kan modal ketawa sama [tertawa] nemenin. Aduh padahal banyak banget yang perlu dikorek dari mbak-mbak Fitria ini. Cuman jawabannya pasti rahasia. [tertawa] Terus gimana coba bagi orang yang pengin tahu usaha laundri itu gimana? Nah, terus sebagai peng dukanya juga sebagai supplier MBG di tengah ISO yang tiba-tiba banyak yang keracunan ini jangan-jangan juga bersumber dari suppliernya kita dari ikan ayam [tertawa] ya takut to Mas sebenere tapi yo dari situ pendapatane ee selama sebenarnya ya ada was-was juga kayak nanti bayarnya juga gimana kan saya belum tahu toh prospeknya ke depan gimana itu sebenarnya yo takut tapi Yo pi dari situ kok pendapatan di tengah isu-isu tiba-tiba dapur tuh beralih ke sekolah Heeh. Tiba-tiba terus tutup nak ada anggaran yang masuk itu katanya ada toh itu. Aku juga takut sebenarnya. [tertawa] Heeh. Banyak yang tutup ya beritanya. Heeh. Tapi gak pernah sampai kena kejadian yang belum keracunan gitu. Belum pernah ya? Belum sementara belum. Jangan sampai Mas. Jangan sampai [tertawa] jangan sampai. Nah, yang dituntut siapa ya kira-kira Mbah ya? Dari supplier kah atau dari penanggung jawabnya dapur ya gitu-gitu gitu. Kalau awalnya kan nanti penanggung jawab dapur terus dapur kan nanti mesti ke supplier-nya. Oh tracking gitu ya. Heeh. Tetap dicari anu. Iya iya iya. Lebih enak mana, Mbak ngurusi bisnis supplier MBG atau launder? H kalau misal minta misalkan diminta memilih satu gitu usaha yang harus bertahan yang harus [tertawa] loh kalau semuanya dapat uang yo gak apa-apa Mas [tertawa] uang kita setuju itu Mbak ya tapi tiba-tiba kiamat gitu terus [tertawa] milih salah satu gitu itu mil saya yang mana kalau sing sekirane bisa dilihat itu kok laundri toh Mas soalnya kan enggak di di masa ke masa itu tetap tetap jalan. Kalau laundri itu kayaknya orang kan tetap yo repot anu bekerja terus ndak ndak bisa nyuci ndak kan tetap kayaknya tetap sampai besok itu tetap jalan kayaknya. Profit marginnya berapa sih, Mbak? Kan tipis banget tuh sekilo. Kalau di sini R.000 di kota besar tuh hampir Rp8.000 sampai Rp9.000 Rp10.000. Iya. Itu anu Mas yang banyak itu dari ekpres bisa ngambil untung banyak itu dari ekpres. Oh. Kalau yang reguler memang nipis. Tapi kalau reguler itu kan setiap e banyak toh, Mas. Heeh. Anu apa kayak ini aku ngantar terus dibawain lagi gitu terus kayak continue gitu. Kalau press itu bisa ngambil laba besar. Hm. Dari deli 8 juta omset itu persentase profitnya berapa, Mbak? Yang didapat profitnya mungkin sekitar berapa, ya? 30-an, Mas. Woh, ya. Ben 30%. He, lumayanlah. Iya. Heeh. Soalnya kan yang nyuci saya sendiri. Wow. Saya sing anu di Oke, oke oke oke. Siap siap siap. Di situ bisnis yang jenengan berdua ini salah satu bisnis yang memanfaatkan orang males. [tertawa] Iya. Heeh. I kan laundri orang males. Kalau Mbak Vinda mungkin orang capek ya. Orang capek capek. Bukan orang malas ya berarti ya. [tertawa] Anu Mas yang malas sayanya cuma ambil satu. Oh iya. [tertawa] gitu. Ee ternyata masih secuan itu ya kan persainnya tuh banyak. Banyak sebenarnya. Iya. Cuma kita yo pintar-pintre anu Mas ngatur kayak dikasih promo gitu. Lek di saya kan lima kali laundri nanti potongan Rp10.000 pokok buat buat promo gitu loh. Ini yang lagi jalan itu. Terus layanan antar jemput juga kan ada sing enggak enggak ada layanan antar jemput. Saya ada. Ya. Terus itu tak kasih promo yang rajin anu masukin laundri itu. Heeh. Sekilonya berapa, Mbak? Cuci kering setrika l.000? Oh, R.000. Iya. Di tempat saya R5.000. Berapa hari? Berapa hari? Anu tiga. Ee 3 hari selesainya 3 hari ya. Oke. Oke. Kalau yang ekpres itu 11.000 selesai sore. Pagi diantar, sore selesai. Yang 2 jam gitu enggak ada? Belum ada. [tertawa] Belum. Belum anu. Belum bisa. Padahal itu cuannya lebih ke lebih gede, Mbak kalau bikin bikin 2 jam. Soalnya mesinnya yo masih terbatas loh, Mas. Oh, mesin cucinya belum banyak. Itu kan sing banyak mestine yang bisa 2 jam itu. Wih cuci sendiri ternyata, Mas. Heeh. Heeh. Saya kira kalau ada timnya berapa kilo sehari nyuci? Sehari bisa sampai wong setelika aja bisa 50 kok ya, Mas. Berarti lebih yang nyetelika di tempat saya itu setiap hari itu segitu 4050-an. Wow. Picis kain anu kilo. Kilo. Kilo. I kilo. 40 kilo. Wah. Enggak capek [tertawa] tangannya. Iya. Siap siap siap. Hm. Aduh. Apa si? Saya kalau laundri mikir, Mbak. Karena lebih kayaknya lebih capek setrika, nyuci. Iya. gitu ya. Heeh. Pernah pernah anu enggak sih, Mbak? Tiba-tiba bosan [tertawa] kalau lelah gitu ya. Lelah gitu ya pasti itu ya. Iya. Heeh. Ya itu Mas. Lek lelah gitu ya wis dolan ke mana gitu. Wis ngeluyur. Heeh. [tertawa] Wis berkeliaran ngoten. Salah satu resiko pebisnis laundri itu kan biasanya anu, Mbak kalau kalau capek itu kan pasti Mas ya. Iya. Tiba-tiba ee kalau bahasa Indonesianya apa? Katutan tuh. Katutan celana dalam gitu. [tertawa] Oh, Risi enggak tiba-tiba ya? Iya, Mas. Tapi yo piye [tertawa] ya? Tetap dicuci, Mas. Tapi kalau tapi ada harganya. Ada harganya sendiri saya kasih biar biak dibaleni neh ngoten. Heeh. Lebih hati-hati ndak di memang netizen tuh senangnya memang bahas seputar omset. Iya. Saya itu sebagai interviewer juga bingung. Nanti kalau dipill omsetnya tiba-tiba khawatirnya pasti gini. Ah, tukang pajak. Iya kan kita belum belum seanu itu. [tertawa] Banyak banget yang yang khawatir seputar itu. Iya. saya jadi host dan jadi nar jadi di konten gitu yang kontennya harus mecari narasumber yang bisa jadi pembicara di konten kita itu selalu tantangannya itu pernah juga enggak enggak pernah disamperin gitu enggak pernah ya transaksi kita kan ini ibaratnya masih butiran ecek-ecek [tertawa] butiran debu Bu. Ee tapi kalau di Jakarta itu mungkin worthed banget ya, Pak ya, dengan treatment yang kayak gitu. Ee hanya panggilan menerima panggilan ya. Iya. Homecare. Homecare aja bukan yang orang yang nyamperin Mbak Vinda gitu. Sementara belum, Mas. Kalau homecare itu anu, Mas, kelebihannya kalau misal kita janjian jam 09.00 dan pagi gitu ya. Itu kita ee otomasi kan berangkatnya 0.30 gitu. Jadi kita bisa mulainya jam 09.00 pagi gitu jam 09.00 tet udah udah sampai sana udah ready. Kalau kita nunggu pelanggan datang misal dulu pernah kan Mas awal-awal gitu saya nerima di rumah He. Misalnya janjian jam 09.00 itu datangnya sampai jam 10.30 gitu. Dan dulu saya masih rajin. Jadi untuk jadwal yang kedua tuh saya kan jadi enggak enak. Iya. Jadi molor. Jadi sekarang lebih enjoy sementara ini home care saja gitu. Sak karepe dewe. Kalau kata-kata orang Jawa seenaknya sendiri. Mungkin ini ya Mas ee gawan bayinya itu. Jadi kalau misal ada yang tepat waktu, ada yang molor gitu mungkin ya dianggap habit soalnya Mbak di Indonesia itu molor ya. Tuhet [tertawa] ngaret itu kayak mak dianggap biasa. Heeh. Di R juta itu, Mbak. Heeh. Pembagiannya kayak apa? Udah punya pegawai, sudah punya mesin yang harus dirawat. Iya. Terus omset segitu operasional dan lain sebagainya. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Soalnya saya kalau servis enggak bayar loh, Mas. [tertawa] Kan suami saya bisa. Wah, kelebihannya itu. Iya. G. Heeh. Heeh. Padahal biaya servis lumayan ya. Biaya servis kan mahal tapi enggak ngeluarin buat servis itu. Terus kalau gaji itu saya hitungane borongan. Maksudnya gimana? Itu borongan oleh-olehan bahasane apa? Contohnya itu tukang setelika itu dapat hari ini dapat berapa kilo? He. Terus saya saya kalikan itu sehari itu sehari berapa dapat berapa itu dari pendapatannya dianya telika itu satu hari berapa kilo? Oh. Oh. Berarti ee pegawainya itu digaji by dia dapat berapa kilo untuk? Iya. Iya. Gitu. Sekilonya berapa? Sekilonya 1.000. 1.200 sekarang. 1200. [tertawa] kalkulator Mbak. Saya khawatir kalau 12 menggaji orang 12.200 200 itu dihujat aja. Oh iya. Tapi kan kali faktor kali. Heeh. 1200* 10 aja mah sudah 12.000. Iya. Itu tadi bilangnya 45 sampai 50 kilo kan sehari. Iya. Harus 100 kilo untuk dapat untuk dapat penghasilannya Mbak Vinda sehari. [tertawa] Amin ya Allah. Bukan sehari sejam. Masyaallah. Iya benar. Iya benar. Heeh. Heeh. [tertawa] Loh, saya dapatnya yo dikit toh, Mas. Nyedom ya, Mbak? Heeh. Ngedom. Saya terus terang enggak tega sebenarnya apa [tertawa] tapi untuk menggaji segitu. Tapi ya mau gimana lagi orangnya mau mungkin ya? Mau di Tulungagung loh, Mas. Di Tulungagung. Heeh. Heeh. Itu nanti dia kalau misal repot gitu datangnya siang kok, Mas. Nak nak pagi misal ada keperluan ngantar anaknya apa rapat di sekolahan anake nanti datangnya siang. Oh, fleksibel berarti. Heeh. Iya. Iya. Enak. [tertawa] Iya soalnya borongan ya. Jadi dia mau datang jam berapa terserah. Iya. Iya. Oke. Mmm. Terakhir Mbak ya. Closing statement. sebagai istri yang punya penghasilan lebih daripada suami. Apa yang pengin pesan mungkin yang pengin Mbak Fitria, Mbak Vinda sampaikan kepada orang yang mungkin di Jakarta itu banyak banget, Mbak istri itu yang penghasilannya lebih banyak dari suami. Oh, iya. Jatuhnya pun juga akhirnya divorce dan lain sebagainya. Tapi Mbak Fitria, Mbak Vinda ini memposisikan tetap bisa menjalankan perannya sebagai istri yang baik sesuai tuntunan Kanjeng Nabi yang tentunya pastinya. Apa yang pengin jenengan pesankan, Mbak? Untuk istri-istri yang bekerja seperti saya ee kalau menurut saya hendaknya harus menempatkan suami itu tetap sebagai kepala keluarga. Heeh. kita sebagai pendamping istilahnya di sampingnya atau di belakangnya saja gitu. Tetap hormatlah gitu. Sesederhana itu pesannya ya. Iya, sederhana tapi mungkin tidak semua bisa [tertawa] dan situasi itu hormat terhadap suami sudah Mbak Vinda jalankan bertahun-tahun. Kalau menurut saya di PUV saya harusnya sudah sih, Mas. Kalau kayak contohnya dalam kehidupan sehari-hari ya kita itu tadi saya beli apa izin saya ke mana izin makannya disiapin tetap. Oh iya. Memuji suami itu juga penting tetap gitu. Oh, yang dilihat tuh contohnya mencontoh siapa sih Mbak Vinda ini sebagai kok bisa punya greget menj tetap menjadi istri yang baik gitu? Insyaallah ibu sih. Oh, ibu gitu. Iya, ibu gitu tiap hari bikinin kopi gitu tetap tetap menyiapkan makannya terus walaupun di rumah tetap ya paling gak tetap pakai lipstik gitu-gitulah yang hal simpel tapi menurut saya penting sih. Heeh. He gitu. Kok ada contohnya ya? Masyaallah. Yang gak ujug-ujug begitu karena takut kekerasan [tertawa] enggak? Kudu mal harus nurut gitu enggak ya? Alhamdulillah gak sih. [tertawa] Baik dia. Baik suaminya. Masyaallah. Amin. Siap Mbak Fitria. Gitu juga. Iya. Tetap pokoknya semangat kita, Mas. pendapatan kita lebih banyak tapi kita tetap harus hormat sama suami. Kodratnya kita kan tetap di bawahnya suami gitu. Enggak boleh kau kualat, Mas. [tertawa] Apa jangan-jangan pernah kualat? [tertawa] Palingak sampai I ya. Mbak Vinda, Mbak Fitria, terima kasih sharingnya sebagai ibu rumah tangga dan istri. Eh, next kita ngobrol lagi di luar ini. Semoga apa yang menjadi pesan berdua Mbak Fitria, Mbak Vinda sampai ke para views dan netizen. Terima kasih rekan-rekan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ah.