Ide Gila Anak Muda Bangun Cafe Unik Ala Amerika di Tengah Sawah - Tibal Garden!
Sk4RAQcmzFg • 2025-11-17
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[musik]
Bisa dikatakan per bulan gaji karyawan
sama gaji saya tinggian gaji karyawan
[tertawa]
tekad saya bulat. Karena ketika saya
wisuda ijazah saya langsung kasihkan ke
mama saya ini ijazah tolong dipegang
tolong disimpan karena saya merasa saya
enggak akan menggunakan ijazah ini untuk
daftar ke manaun. Oke [musik] ijazah
saya terima. kamu tidak mau bekerja di
perusahaan atau di kantor atau di
manapun yang harus menggunakan ijazah
untuk mendaftarnya, ya sudah saya
support.
[musik]
Kebetulan salah satu owner kita yang
sedikit senior kasih pecutan ke kita
lah. Kalau kita pengusaha kita berhenti
di sini ya kita enggak bisa memperbesar
perusahaan kita di situ turning
point-nya. Akhirnya tercutalah di Bal
Garden.
Yang pasti nomor satu ya karyawan saya
dahulukan. [musik]
Karyawan harus mampu dulu, karyawan
harus terbayar dulu hak-haknya karena
mohon maaf saya anti kalau untuk tidak
menggaji mereka. tidak menggaji mereka
dalam artian sesuai apa yang sudah
mereka kerjakan, apapun yang terjadi.
[musik]
Mungkin saya sedikit titip pesanlah
untuk anak-anak muda sekarang, terutama
yang di umuran saya atau yang di bawah
saya [musik] yang bisa membentuk kalian
itu attitude. Yang pertama, tanpa
attitude siapapun orangnya tidak akan
bisa jadi apa-apa. Jadi, terutama jadi
anak muda jangan takutlah untuk jadi
pengusaha. Enggak usah takut. Enggak
usah takut untuk jadi pengusaha.
[musik]
Jadi pengusaha itu
[musik]
perkenalkan saya Grac Arman Rivaldo.
Saya salah satu owner Tibal Grup
Indonesia atau yang sekarang berada di
Tibal Garden 24/7 bisa dikatakan saya
berada di Tibal Grup Indonesia ini. Saya
memang yang fokus pada SDM misalnya
karyawan karena kebetulan memang saya
lulusan sarjana administrasi bisnis tapi
yang fokusnya ke SDM. Jadi saya lebih
sebenarnya sebagai owner di sini sebagai
owner yang aktif aktif langsung ke
karyawan. Tibal Group Indonesia ini ada
tiga ownernya. Yang satu fokusnya ke
keuangan dan yang satu sebagai investor
pasif. Jadi dia lebih fokusnya ke
peaching kalau misal ada kerja sama di
luar tibal atau kerja sama-kerja sama
dengan partner-partner bisnis yang di
luar. Salah satu ownnya itu beliau.
Tibal Garden ini berdiri tahun 2023.
Kebetulan cabang kedua dari Tibal Grup
Indonesia. Nah, cabang pertama kita itu
ada di tahun 2020. Terus berlanjut bukan
buka cabang lagi ya, kita tempatnya
pindah. Pindah dari tempat yang lama ke
tempat yang baru yang tibal kofe yang
sekarang ini di zaman Sultan Agung itu
2021. Tanpa sengaja saya bersama dua
owner tibal yang lainnya itu lagi
jalan-jalan sore di salah satu tanah
ownernya Tibal ini di seberang Tibal
Garden ini tanahnya benar-benar di
seberang sawah lah. Kita cuman lagi
iseng aja. Maksudnya ada tanah yang
nganggur mau diapain? Saya tertariklah.
Misalnya kalau di sini karena ya
kebetulan Jalan Tibal Garden ini kalau
di Kota Blitar bisa dikatakan ini
pinggir lah ya pinggir terus jalannya
kecil bukan di pusat kota. Terus saya
kepikirannya apa mau bikin FnB lagi
cabangnya Tibal. Terus kita sempat
survei tanahnya yang di depan Tibal
Garden sekarang ini. Terus salah satu
teman saya jalan nyebrang ke sini.
Kebetulan waktu itu sore lahan Tibal
Garden ini itu bekas sawah, Mas. Tapi
enggak ada tanamannya sama sekali. Jadi
luas gitu. Terus teman saya nyebrang
view-nya kok bagus. Ada sunset, ada
kereta lewat. Pas itu momennya jam .00
sore atau .30 sore. Coba kalau misal
lahan ini untuk kafe menarik enggak?
Saya mulainya dari situ dulu, habis itu
stop. Sudah. Maksudnya enggak ada
keberlanjutan nih tentang bikin cabang.
Terus selang 1 bulan saya mulai
kepikiran lagi sama tempat ini.
Maksudnya oh tempatnya bagus, menarik,
terus sedikit jauh dari hirup pikuk kota
lah maksud saya. Kebetulan dua orang
owner yang ada di Tibal ini juga
tertarik gimana kalau kita buka cabang.
Nah, mulainya dari situ tiba garden ini
kebetulan yang punya itu teman sekolah
orang tua saya. Makanya saya bilang
semesta yang mendukung. Kebetulan itu
saya tanya ternyata sebelumnya ini untuk
sawah karena sawahnya sudah tidak
digunakan lagi, kontraknya tidak
berlanjut. Saya tawarilah gimana kalau
tempat ini saya pakai untuk kafe. Jadi
lahannya bukan lahan produktif lagi.
Kebetulan beliaunya yang punya tanah ini
ACC. Nah, mulai ini kita belum ada
gambaran, Mas. Sebenarnya saya bikin
konsep seperti liben ini kita belum ada
gambaran sama sekali ya. Pokoknya kita
sewa tempatnya aja dulu.
Saya tertariknya ini karena view-nya,
karena lokasinya. Ya udah, gimana kalau
kita bikin konsep odor utamanya gitu
dulu sih. Terus saya ada nyeletuk usul
kan di Blitar belum ada nih yang punya
konsep yang lebih arahnya ke
Eropa-Europaan. Oh, sor sori sor bukan
Eropa, Amerika. Kan kebanyakan klasiknya
klasik Eropa nih. Kayak
bangunan-bangunan lama yang dibikin
klasik Eropa kayak sofanya atau apanya
klasik Eropa. Saya tertariknya malah
klasik yang Amerika. Makanya ini kan
konsepnya bangunannya perkebunan
pertanian yang ada di Amerika. Gayong
bersambut salah satu teman saya juga
kasih gambaran gimana kalau kita bikin
seperti ini, seperti ini, seperti ini.
Wah, akhirnya jadilah dial garden gitu.
Kalau yang matar belakangi titik balik
itu saya dan salah satuor tibal juga
ketika kita lulus kuliah, kita sama-sama
nih satu fakultas, satu universitas,
satu kelas malah bingung habis lulus
kita mau ngapain. Karena saya pribadi
memang saya enggak pengin misalnya kerja
di salah satu institusi atau ke
pemerintahan. Saya enggak pengin. Saya
memang pure c-cita saya memang jadi
pengusaha. Cuman background keluarga
besar saya semua pengusaha. Jadi saya
tertarik jadi pengusaha karena yang
pertama kali ada di benak saya jadi
pengusaha itu fleksibel. Saya bingung
nih sama teman saya namanya Dio. Apa
yang harus kita lakukan? Kebetulan saya
sama rekan saya ini suka nongkrong.
Terus gimana ya kalau misal 2019 itu kan
di Malang masih baru hype-nya coffee
shop dan lain-lain masih baru. Gimana
kalau kita bawa ke Blitar? Ya, sedikit
nekat juga. Akhirnya kita tercetus ini
mau bikin dulu masih kedai kopi belum
coffee shop, masih kedai kopi bentuknya
masih rumah gitu juga diselingi dengan
kondisi saya buka pertama itu ketika
COVID baru masuk ke Indonesia, COVID
masuk lockdown. Jadi sempat terbenci
sebentar akhirnya kita mikir apakah kita
bikin kafe ini mau dilanjut enggak?
Padahal sudah kontrak, sudah mulai
membangun. Akhirnya di situ kita
tercetuslah gimana kalau namanya titik
balik. Dulu masih belum disingkati bal
dulu namanya masih titik balik nama
kafenya. Titik balik kedai kopinya titik
balik lah. Itu filosofinya adalah titik
balik dari kehidupan kita nih berdua
sebagai owner. Titik baliknya itu ya di
sini
modal berapa ngawali pertama?
Ngawali itu kebetulan modalnya R juta.
Jadi kita bagi dua R juta. Rp50 juta
karena cuma kedai kopi Mas. Kedai kopi
yang kecil.
Ternyata di situ bertumbuh
bertumbuh setengah tahun. setengah tahun
awal itu bertumbuh bertumbuh dalam
artian kita sudah siap setiap bulannya
kasarannya saya sudah bisa gaji karyawan
lah yang penting gaji karyawan sama
untuk hidup kita enggak enggak neko-neko
enggak enggak punya barang yang apa-apa
juga enggak punya ya seadanya lah
maksudnya hidup seadanya yang penting
bisa makan bisa mencukupi kebutuhan saya
secara pribadi ya sudah gitu aja
cukupnya selama 6 bulan terus setelah 6
bulan awal mulailah diberita bermunculan
coffee shop-coffee shop yang besar-besar
lah itu sedikit mengefek lah ke kita
karena kita cuma cuman kedai kopi yang
kecil, pasarnya cuman itu-itu aja,
tempatnya kecil. Dari situ mulailah rasa
ada penurunan. Bisa dikatakan per bulan
gaji karyawan sama gaji saya tinggian
gaji karyawan. [tertawa]
Habis itu dari kita yang berdua ini
salah satu partner kita yang masuk di
tahun kedua kita itu benar-benar kenalan
orang tua saya malah tanya-tanyalah
ngobrol kita gimana sih usaha tentang
FnB itu gimana bla bla bla bla bla.
Terus kebetulan cabang tibal yang lama
itu di seberangnya pas. Saya
nyeletuklah. Saya iseng sebenarnya, Mas.
Saya nyeletuk, "Mas, kalau depan itu
kita kontrak buat bikin coffee shop
boleh enggak?"
Beliaunya langsung tertarik. Kebetulan
di situ beliaunya juga langsung
tertarik, "Oh, enggak apa-apa coba saya
ngobrolkan, tapi saya ikut ya kerja sama
karena beliau tertarik mungkin obrolan
kita tentang coffee shop, tentang FnB.
Beliaunya tertarik, gimana sih kalau
misal coffee shop di Blitar dibikin
lebih besar atau yang bisa dikatakan
tidak pasaranlah karena kita sudah
bermodal rumah yang klasik nih, rumah
yang bawaannya tidak saya apa-apakan.
Jadi benar-benar rumah yang cuman disapu
halamannya, dibersihkan dalamnya, udah
gitu aja tidak dipakai sama sekali.
Kalau bicara privilege saya jujur aja
ya, saya terbuka aja. Memang saya dapat
privilege dari orang tua, tapi dalam
artian privileg-nya bukan uang ya, dari
channel, dari sedikit banyak diketahui
oleh oranglah maksudnya karena orang tua
saya dan lain-lain dari Nah, jadi saya
manfaatkan privilege itu untuk coffee
shop. Jadi gini, Mas. Coffee shop itu
kalau di awal 4 tahun yang lalu ya,
kalau dari awal buka enggak boom, enggak
ramai, ada orang banyak, pasti orang
jarang tertarik untuk datang. Nah, saya
manfaatkan itu dari teman saya pribadi,
dari teman rekanan saya, dari
teman-teman orang tua saya. Promosinya
lewat jalur itu. Ketika opening awal
kita ngundang banyak orang untuk datang
ramai. Nah, itu sedikit menarik mungkin
customer-customer yang lain. Apa sih ada
apa ini kok rameai-ramai? Sebenarnya di
situ, Mas. Tapi tetap kuncinya tetap di
pelayanan dan produk kita yang memang
harus dijaga. Karena kalau kita hanya
menggunakan privilege untuk awal aja,
habis itu ya nyuwun sewu 3 bulan, 4
bulan ke depan pasti habis itu kalau
produk kita enggak punya value yang baik
ke customer pasti ya sudah selesai
habis.
Keinginan untuk menjadi mandiri itu
dimulai sejak setelah lulus kuliah atau
SMA?
Pertengahan kuliah sih, Mas. Pertengahan
kuliah saya mulai ngerasa nanti kalau
saya usaha itu kalau bisa ketika itulah
karena saya masih mahasiswa ya, saya
masih dibiayai oleh orang tua. Jadi
kalau bisa saya usaha itu harus bisa.
sendiri tanpa merepotkan orang tua
karena saya sendiri yang minta jadi
pengusaha dan tekad saya bulat. Karena
ketika saya wisuda, saya ingat sampai
sekarang yang saya ingat itu ketika saya
wisuda dapat ijazah nih, Mas. Ijazah
saya langsung kasihkan ke mama saya,
"Ini ijazah tolong dipegang, tolong
disimpan karena saya merasa saya enggak
akan menggunakan ijazah ini untuk daftar
ke manapun." Dan kedua orang tua saya
tidak ada kata-kata penolakan. "Oke,
ijazah saya terima. kamu tidak mau
bekerja di perusahaan atau di kantor
atau di manaun yang harus menggunakan
ijazah untuk mendaftarnya, ya sudah saya
support, ya sudah jasa saya kasihkan
sudah saya modal nekat. Memang betul Mas
tadi bilang bisnis coffee stop itu
memang susah kalau enggak punya
komunitas ownernya lah misalnya enggak
punya komunitas. Memang di awal saya
banyak teman, kebetulan saya banyak
teman di komunitas musik, olahraga kita
punya teman. kita memang menggunakan
awalnya itu menggunakan cara itu untuk
ya di awal kafe kita biar ramai dulu nih
gimana coffee shop kita lah biar ramai
dulu kembali lagi value yang kita punyai
itu yang harus jadi patokan jadi kita
enggak bisa selamanya harus menggunakan
cara seperti itu. Kita memang harus
memberikan value. Ketika value kita yang
berikan sudah sesuai dengan pasar dengan
customer yang kita inginkan ya sudah
akhirnya berjalan. Nah, ketika terkait
pembukaan cabang turning point-nya,
kebetulan salah satu owner kita yang
sedikit senior, senior kita itu kasih
pecutan ke kita lah. Ayo jangan berhenti
di sini. Kita ini pengusaha. Kalau kita
pengusaha kita berhenti di sini ya kita
enggak bisa memperbesar perusahaan kita.
Ayo apa lagi nih? Kita harus ngapain
lagi? Nah, itu di situ turning
point-nya. Akhirnya tercutalah di Bal
Garden. Terus terjutalah salah satu
cabang kita juga yang lainnya. Jadi
turning poinnya sedikit disentil lah
oleh senior kita. Ayo jangan gini-gini
aja. Kamu masih muda. Jangan mudah puas.
Kasarannyaalah jangan mudah puas. Ayo
apalagi? Apalagi apalagi? Nah di situ
juga tambah pikiran kita kalau enggak
boleh kita harus berada di zona nyaman.
Kita maunya tetap jalanlah kasarannya
gitu. Kalau di Tibal Grup ini setiap
cabang punya kepala toko
sendiri-sendiri. Memang supervisornya
sudah kita bentuk untuk fokus ke
cabangnya. Kalau coffee shop yang tibal
coffee ya memang supervisornya memang
lebih fokus ke coffee makanya rostery
kita sudah punya cabang rostery di tibal
rostery kita kita taruh di tibal coffee
biar apple to apple biar nyambung kalau
tibal cofe memang fokusnya ke coffee
jadi kepala tokonya memang e bisa
dikatakan ertnya di lebih ke cofe. Kalau
tiba gaden ini memang kepala tokonya dia
fokus ke menyeluruh malah. Maksudnya
tempatnya harus lebih diperhatikan
karena pasar kita kan keluarga ya,
family. Apalagi terbanyak anak-anak
apalagi paling banyak anak-anak. Jadi di
sini macam-macam kita punya hewan
peliharaan, punya kandang kelinci, punya
kandang kura-kura, silkata. Jadi kapal
toko di sini memang lebih fokusnya ke
manajemen itu semua. Jadi malah
kasarannya kalau cofe di sini malah
enggak terlalu. Pasar kita juga bukan
fokus ke coffee malah kalau di sini.
Kalau di Blitar kita fokusnya menjaga
gimana hubungan kita dengan customer
kita tetap baik. Karena di Blitar brand
besar bisa dikatakan masih belum banyak
yang masuk ya. brand besar di Blitar itu
brand nasional lah. Brand nasional belum
banyak yang masuk di Blitar karena sudah
beberapa ada yang masuk di Blitar dulu
malah brand nasional enggak jalan. Saya
kurang tahu ya alasannya apa ya karena
saya saya fokus ke saya sendiri ya ke
tiba sendiri. Jadi dulu per sempat ada
janji jiwa tutup lain hati itu nasional
semua tutup. Nah jadi mungkin saya
kurang tahu alasannya apa. Jadi kita
fokusnya ke diri kita sendiri. Kita
perbaiki kekurangan-kekurangan kita.
Maksudnya jika ada kurang pelayanan
karena saya pribadi saya fokusnya ke
pelayanan. Saya enggak pengin customer
kita sudah datang meluangkan waktu,
meluangkan uang untuk nongkrong di tiba
tapi kurang mendapatkan pelayanan yang
baik. Makanya saya kalau ada kritik atau
masukan dari customer pasti saya tangani
secepatnya. Maksudnya karyawan sudah
saya bikin SOP kalau ada terjadi hal
namanya usaha enggak ada yang sempurnaah
Mas ya. Masih adalah sedikit kita
langsung pada waktu itu juga harus kita
langsung minta maaf. Yang pertama kita
lakukan minta maaf, yang kedua kita
kasih komplimen itu wajib. Ke manapun
rumahnya, di mana pun tempatnya dia,
karyawan kita tibal pasti nyamperin.
Customer kita berkenan untuk disamperin
ke rumahnya, kita kasih komplimen, kita
pasti langsung samperin. Dan itu ya puji
Tuhannya berlakulah sudah 5 tahun ini
kita masih survive, masih masih eksis.
Jadi salah satu strategi jitunya seperti
itu kan ini sudah 2 tahun ya saya jalan
2 tahun lebih hampir 3 tahun. Di tahun
pertama memang hyp-nya sangat bagus,
sangat bagus banget. Sangat bagus
banget. Setelah 1 tahun kita ada
penurunan dan penurunannya bisa
dikatakan terjun karena tiba garden ini
kan konsepnya sebenarnya kan kita banyak
nih kayak tempat yang sekarang kita
gunakan ini kan indoor kita besar juga
bisa nampung orang juga tapi kan orang
ketibal garden itu meseknya pengin nyore
pengin nyantai lesehan diodor. Jadi
kalau ketika musim hujan nah itu
kalahnya kita. Nah, kebetulan ketika itu
musim hujan ada penurunan sekalian. Wah,
kacau, Mas. Kacau. Memang kacau. Jadi
kalau dikatakan secara mental bisa
dikatakan saya sudah siap. Ya, maksudnya
kita sebagai tim owner itu sudah siap.
Karena saya sudah pernah ngalaminya
ketika awal dulu buka. Enggak mungkinlah
kita usaha lancar-lancar aja terus
enggak ada masalah. Kan kayaknya kok
enggak mungkin toh masalahnya problemnya
pasti ada ya. kita caranya ya yang pasti
nomor satu ya karyawan saya dahulukan
karyawan harus mampu dulu, karyawan
harus terbayar dulu hak-haknya karena
mohon maaf saya anti kalau terkait
karyawan ya saya anti untuk tidak
menggaji mereka tidak menggaji mereka
dalam artian sesuai apa yang sudah
mereka kerjakan apapun yang terjadi hak
mereka harus terpenuhi karena salah satu
motivasi saya juga sebenarnya saya tadi
enggak pengin ngomong karena dikira
nanti bullshit lah ya [tertawa]
motivasi saya jadi pengusaha Karena saya
pengin buka lapangan pekerjaan. Motivasi
saya yang utama sebenarnya itu. Cuman
semakin berkembangnya oh ternyata ada
nih side-sideya saya jadi pengusaha itu
seperti ini, seperti ini, seperti ini.
Jadi yang nomor satu saya karyawan, Mas.
Seperti apapun kondisinya saya tetap
putar otak gimana karyawan saya ini
tercukupi. Yang pertama itu terkait
operasional masih bisa diakalin lah
maksudnya operasionalnya kalau misal
pas. Makanya saya bukanya sedikit siang.
Dulu saya bukanya pagi, Mas. ini pagi
sampai malam full dengan berjalannya
waktu ada itu ada penurunan terus oh
saya rubah jam buka supaya memotong
operasional lah.
[musik]
Nah, di situ Mas saya berpikir apa yang
harus kita lakukan kan karena enggak
bisa kan kita diam aja akhirnya
sebenarnya pasar garden ini tu apa? Oh,
pasar kita ternyata itu keluarga. Ya
udah, ayo kita apa yang bisa kita
lakukan untuk menaikkan omset kita lagi?
Nekat nih, Mas. Nekat. Dalam artian kita
harus incas modal lagi untuk membangun
wahana. Akhirnya muncullah saya bikin
wahana Bukit Teletabis kecil-kecilan lah
ya untuk kelinci itu. Nah, dari situ
mulailah ada perkembangan. Oh, ketemu
nih kita sudah pasar kita itu di sini
gitu sih, Mas. Orang yang paling berjasa
yang jelas keluarga, Mas ya. terutama
ayah saya. Karena yang bentuk saya
sampai saat ini seperti ini itu ayah
saya. Meskipun ayah saya mampu, tapi
saya dibentuk untuk menjadi orang yang
tidak biasa merasakan apa-apa ada,
apa-apa punya. Saya dibentuk seperti
itu. Jadi kalau kamu pengin sesuatu dari
kecil kalau kamu pengin sesuatu ya kamu
harus usaha dulu dalam artian tunggu
dulu. Enggak bisa kamu minta harus ada.
Padahal kalau dikatakan orang tua saya
mampu ya mampu. Tapi enggak. saya
dibentuk tidak seperti itu. Kuliah pun
ketika mahasiswa pun saya juga dikasih
uang saku yang secukupnya karena saya
diajari untuk survive. Jangan boros yang
pertama itu. Nah, itu yang bikin bentuk
saya. Jangan boros. Jangan jadi orang
yang suka senang-senang dalam artian ya
kamu pengin apa, ya kamu harus lakuin.
Enggak. Saya itu sampai sekarang, Mas,
saya liburan itu bisa dihitung jari lah.
Maksudnya saya liburan untuk
bersenang-senang itu saya bisa dihitung
jari. Karena saya dibentuk oleh orang
tua saya seperti itu. Kamu itu
laki-laki. Kamu harus bisa mem-manage
mana yang penting, mana yang enggak
penting. Mungkin saya sedikit titip
pesanlah untuk anak-anak muda sekarang,
terutama yang di umuran saya atau yang
di bawah saya yang bisa membentuk kalian
itu attitude yang pertama. Tanpa
attitude siapapun orangnya tidak akan
bisa jadi apa-apa. Jadi terutama jadi
anak muda, jangan takutlah untuk jadi
pengusaha. Enggak usah takut. Enggak
usah takut untuk jadi pengusaha. Jadi
pengusaha itu kadang enak, kadang ya
enggak enak banget. [tertawa]
Jadi, marilah kita jadi pengusaha itu
bercita-citalah sebagai orang yang
bermanfaat. Bercita-citalah sebagai
orang yang bisa memberikan manfaat untuk
sekitar ya minimal. Karena kita jadi
pengusaha bukan untuk kita sendiri. Kita
jadi pengusaha untuk karyawan-karyawan
kita, untuk orang-orang yang
menggantungkan hidupnya bersama-sama
dengan kita. Ayolah kita jadi pengusaha
yang baik, jadi pengusaha yang tetap
pada jalur yang baik dan benar.
[musik]
Saya Gresi Arman Rivaldo. Saya salah
satu founder Tibal Grup Indonesia yang
memiliki cabang ada Tibal Coffe, ada
Tibal Coffee Rostery, ada Tibal Garden
dan Depot Juara. Semuanya cabang kita
beralamat di Kota Blitar, Jalan Sultan
Agung yang tibal Cofi nomor 94,
Kecamatan Swetang, Kota Blitar. Yang
kedua, Tibal Garden, Jalan Suryat yang
juga beralamat di Kecamatan San Wetan,
Kota Blitar. Depot Juara yang juga
beralamatan di Kecamatan Swetan, Jalan
Kalimantan, dan yang terakhir tibal
coffee rostery juga Jalan Sultan Agung.
Terima kasih.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:31:50 UTC
Categories
Manage