Mindset Pengusaha China! Sukses Itu Bukan Hoki, Tapi Soal Mental & Konsistensi!
g2m-G9dOC6I • 2025-10-27
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Dari awal mungkin memang istri saya itu kepengin untuk mempunyai suatu usaha sendiri. Jadi ketika di bantu usaha orang tua merasa I can do something more lah. Ya, bagi saya istilahnya aku lebih senang jadi orang bodoh. Karena dengan orang bodoh saya merasa bodoh itu belajar terus untuk bisa lebih baik lagi gitu loh. Mendidik itu enggak cuman memerintah. Jadi saya mencoba untuk melakukan pendekatannya Ki Hajar Dewantoro. Jadi ketika di atas kita masih orang tua ketika di atas si ndak me ngongkon tok. Semua itu kita ada prosesnya. Proses itu ndak gampang. Dan kalau kamu bisa mengatasin itu ya kamu akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Jadi nikmatono prosesnya. Jadi kita mendorong untuk enggak patah semangat. Challenge-nya seperti itu dari yang kami lakukan dan tetap yang utama adalah selalu berserah kepada yang kuasa. agama akan membawa kita apakah e seorang yang beragama pun akan membuat kita akan pasti enak. Enggak. Tetapi paling gak kita mempunyai iman yang menjaga hal yang baik dan menjadi berkat bagi orang lain. [Musik] Perkenalkan saya Henri Gunawan. Saya lahir di Tulungagung dan semua usahanya di Tulungagung semua dan berusaha menjadi putra Tulung Agung yang baik. Ya, nama saya Jeni Tandiono. Saya asli Tulungagung dan untuk saat ini saya merupakan owner dari bebek Teman Ayam, spesialis ayam dan bebek goreng. Awalnya saya di sini ingin memberikan hidangan yang temanya comforting gitu loh. Jadi kayak orang yang sudah kangen rumah gitu ya. Nah, seperti itu lah. Terinspirasi dari menu yang setiap hari yang hampir ada di meja makan yaitu ayam goreng dari mama dulu. Akhirnya itu pun juga melalui proses yang panjang ya. Mos dari trial dan error pun sampai akhirnya kami bisa menemukan resep yang betul-betul pas yang bisa disajikan di TA pusat. [Musik] Sementara harus ketuad dulu ya kan. Jadi beberapa kali ditawarin kami enggak buka cabang. Tapi kami belum berani ya untuk karena mempunyai tanggung jawab moral ketika kita mau membuka cabang atau franchise atau apa kan sebisanya itu kita mau memberikan yang terbaik lah. Enggak cuman digeletakne tok. Oke saya terima uangnya selesai itu milimu. Tapi ya sebuah brand ini yang harus kita jaga dengan standar kualitas yang harapannya kan tetap ya. Makanya kami masih takut terus terang. Apakah next-nya ada yang mau mengajak kami ya meyakinkan kami untuk yuk berkembang bareng? Mungkin saya sih tetap terbuka sih dengan semua opsi-opsi seperti itu dari 2021 ya. Jadi e hampir 4 tahun seperti itu tadi Mas. Saya ingin menghadirkan comfort food ya. Jadi kayak feel like home gitu. Jadi kayak betul-betul kita tuh ya namanya rumah kan tempat kita selalu pulang ya toh. Nah jadi ya sesuatu yang nyaman itu tadi yang saya yang saya sajikan. Jadi ya diterima dengan baik oleh masyarakat Tulungagung dan ya syukurlah kita bisa bertahan sampai sekarang ini. Trial error sampai PD itu kurang lebih 6 bulan cukup lama karena mungkin dulu awalnya saya enggak ada basic FnB ya. Maksudnya saya bukan lulusan jurusan restoran. Heeh. bukan lulusan chef gitu-gitu toh. Jadi ya betul-betul dari rumah gitu loh. Terus akhirnya kan gimana sih cara ngolah ayam ini ungkapnya harus berapa lama supaya bisa keluar tekstur yang betul-betul empuk tapi bumbunya ngeresep juga. Nah, terus untuk rasanya oh ini kurang mungkin kurang asin, kurang manis, kurang apa apa tumbare kurang atau berambangnya kurang kan gitu. terakhir error terus sampai akhirnya ya itu sampai 6 bulan itu sama sekali kita cuman bondo nek ya waktu itu karena mungkin ketika COVID kan sepi ya jadi banyak nganggurnya mungkin istri yo ngapain yo mungkin gitu ya dari awal mungkin memang istri saya itu kepengin untuk mempunyai suatu usaha sendiri jadi ketika di e bantu usaha orang tua merasa I can do something more lah ya jadi di situ mencoba untuk apa sih sih yang bisa menjadi kebanggaan atau prestasi saya. Jadi, e selama ini memang ketika itu saya merasa, "Oh, saya tidak pernah men-support. Selalu ngomong, "Wes to iki aja bantunan." Tapi di momen itu okelah ya kita coba untuk ya wis aku support kamu lah dengan kamu mau buka ini. Ya sudahlah kita kerjakanlah. Modalnya dari resep mertua buat ayam goreng tok ya kan. Udah itu aja. kita waktu itu bukanya itu ketika sudah ada kelonggaran ya, jadi sudah boleh makan di tempat. Jadi ya di momen itulah maksudnya bukan ketika ketat sekali semua rumah makan ditutup tuh enggak. Kita sudah ya sudah hampir normal sih menurut saya waktu itu tapi masih dalam situasi pandemi. Terus strugglingnya ya waktu itu tidur ya sampai jam 12. Jam . malam kadang kita kirim-ngirim ya sendiri. Saya bagian ngangkat-angkat ngepres terus saya pun buat kopi om. Di sini kan ada kopi om Gun. Saya ngeracik awalnya ngeracik. Saya eduhkan sendiri, botolin sendiri. Jadi Oh iya itu betul. Jadi jam 11. Bukain sini yuk dimasukkan freezer di sinilah. Jadi kita bukain otong-otong sendiri. Itu yang kami lakukan waktu itu. Karena kita harus bisa melakukan sendiri duluah. Intinya untuk sesuatu menjadi besar itu kan kita berproses biasanya mungkin proses itu yang yang harus dilewatin sorosi atau apa yang kemudian untuk menjadi lebih berkembang gitu. Selain mampir pemodal berarti ya. Ya, saya sangat bersyukur sekali suami saya betul-betul mendukung. Jadi, ya dukungannya enggak cuman 100% tapi 120% gitu. Wih. Ya, jadi ya memang seperti yang Pak Gun ceritakan tadi dari awal dari produksi ayam siang itu buka resto kan waktu itu awal-awal kan ramai kan karena banyak orang pengin nyoba kan apa sih bebek teman ayam itu gitu kan. Jadi, siang itu buka resto, terus malam itu produksinya malam. Jadi, dari ayam yang awalnya produksi 10 ekor sampai sekarang sekali produksi 100 sampai 150 gitu ya. Lah waktu si awal-awal itu dulu ya mulai dari bersihkan, motong itu juga saya belajar gitu loh. Betul-betul belajar dari awal terus sampai ya itu malam jadi jam 12.00 malam tuh masih freezer di rumah kan enggak ada jadi freezer di cuman ada di BTA. Itu pun yang freezer box yang 300 mili itu cuman satu itu tok. Itu jadi kita bawa produksian ayam yang masih panas-panas itu dibawa ke sini terus disimpan di sini gitu malam-malam dan ya berdua gitu. Selain itu Pak Gun juga banyak dukungan moral lah kasih semangat terus ide-ide sama kadang suruh mijeti ya toh ya capek kan mijeti sopir pemuda tukang pijet ya kan. Iya, seperti itu ya. Ide-ide promosi apa. Soalnya saya ini basic-nya memang orang produksi basicnya. Walaupun saya sekolahnya marketing ya, tapi saya lebih suka di belakang layar sebenarnya. Jadi saya dari resep-resep itu kalau Pak Gun kan lebih ke ini loh kamu promosio ini loh kayak gini-gini ya gitu sih. Jadi ini kan perempatan BTA. Nah Batik Tulungagung itu memang kan lokasinya kan di sini ya kan. Tapi kan nama batik Tulungagung itu hanya dikenal ketika saya kecil. Saya masih SD atau apa mungkin untuk anak-anak saya paling kita perempatan BTA mungkin enggak tahu. Makanya saya mau menumpangin legend-nya BTA itu kita harus tetap melestarikan BTA tapi tak plesetkan menjadi bebek teman ayam. Ya kan? Bagaimana saya harus mencari singkatan BTA itu untuk tetap legend itu apa ya? Akhirnya muncul ide bebek teman ayam ya. Waktu itu kita sempat kolaborasilah untuk memikirkan apa namanya ide-ide seperti itu ya. Waktu itu terus terang karena istri saya itu lebih menguasain ayam, jadi kami mengajak satu partner yang waktu itu memang spesialis di bebek. Jadi makanya kita namakan kolaborasi bebek teman ayam. Dan di situ setelah seiring waktu si bebek juga mungkin ada waktu itu ngomong, "Kami harus pisah. Jadi di momen sebelum pisah pun istilahnya apa yang kami sajikan ini harus selalu dari kemampuan kami. Jadi andaikan si bebek harus keluar kolaborasi ini menjadi tidak jadi satu, berarti kami harus tetap bisa menyajikan bebek yang seperti sebelumnya. Jadi akhirnya ya dikerjakan si ayam ini juga bisa berubah menjadi bebek ya kan. Jadi enggak bebek teman ayam, tapi sekarang mungkin bebek tenanan ayam ya toh. Duduk temenan ya tenanan ayam paling. Jadi tetap apa yang idenya adalah kita harus menguasai dengan apa yang harus yang kita bisniskan. Intinya kita harus menjadi ahlinya. Karena banyak petuah-petua dari orang tua, eh kamu kalau tidak menguasain kalau kokimu keluar kamu seperti apa? Jadi kalau di sini kamu mau keluar besok, mau keluar apa? Saya sudah pernah lakuin sampai jam 12.00, jam .00 malam. Enggak apa-apa kamu keluar. Andaikan ekstremnya seperti itu, kami kan masih mempunyai pengalaman di bidang itu. Prosesnya juga sama kayak ayam. Jadi tetap ada trial dan error sampai betul-betul menemukan resep untuk bebek sekarang. Seperti itu hikmah ya. Seperti yang Pak Gun sampaikan, kita tetap harus bisa mandiri. Berarti tetap harus bisa. Jadi walaupun ya walaupun ada pegawa lah atau ada teman kita tadi yang istilahnya sudah enggak kerja sama lagi sama kita, bisnis ini tetap harus running gitu loh. Ya seperti itu sih. Dan kita kan selalu ada moto always find a way. Jadi apapun ya semuanya itu kan proses ya kan. Jadi tinggal bagaimana kita mau mencari jalannya itu seperti apa ya di situ apakah pasti berhasil? Oh tidak. tetapi kan berproses untuk terus always find a way ya. Awalnya ya hanya dulu kita mencari konsep sempat pelanggan untuk membayar dulu dengan pesanan. Terus kadang saya selalu mencoba pendekatan bila saya menjadi customer mana yang paling oke, mana yang paling nyaman. Akhirnya kita rubah ke oke bayarnya di belakang. Lalu seiring waktu kita mulai menyajikan memperlebar area perluasan di samping itu karena juga oh ini butuh revenue streaming yang lain lagi. Apa kalau kita hanya mengandalkan orang datang pun akan menjadi terbatas? Kita kan harus terus mau ngembangkan mencari omset itu apa. Lalu Bu Jeni mempunyai ide buka catering sekarang ee ke kantor-kantor dengan saat ini 16.000 untuk dalam kota dan menunya mulai Senin sampai dengan Jumat itu bervariasi dan biasanya oleh kalangan para staf bank-bank gitu ya umumnya yang menjadi customer BTA Corner. Jadi konsepnya adalah makanan rumah yang kangen masakan rumah itu ya itu konsep yang kami berikan di sini ya agak keponalan sih memang kan untuk marketing. Makanya untuk beberapa saat yang lalu itu sempat sosial media dan sebagainya memang enggak terlalu aktif ya seperti itu. Terus akhirnya ya saya coba konakct pihak luar tempat kerja sama dengan pihak ketiga untuk handle di sisi marketing juga seperti itu. Terus tempo hari juga sempat pakai influencer seperti itu untuk promosi dan juga kalau untuk supply change tetap berusaha cari bahan-bahan yang terbaiklah seperti itu ya. Memang enggak enggak gampang sih ya. Sering kan ditawari ini saya coba dulu cocok enggak baru oh cocok pakai. Kalau enggak saya ya tetap cari lagi, ganti seperti itu sih. Terus ikut pameran di Jakarta ya, pameran food itu. Jadi ya untuk menambah wawasan saya dan juga lihat kompetitor-kompetitor sekarang kan banyak sekali ya maksudnya anak-anak muda sekarang kan inovatif banget gitu loh. Jadi ya sering-sering memperkaya dirilah maksud saya sering lihat tetangga ada apa, terus apa yang bisa diaplikasikan mungkin sambil dimodifikasi sedikit ya. Mungkin lebih kayak gitu sih. Bagi saya istilahnya aku lebih senang jadi orang bodoh. Karena dengan orang bodoh saya merasa bodoh itu belajar terus untuk bisa lebih baik lagi gitu loh. Total tim saya ada 25 orang. Emang agak gendut sih karena ya memang yang di resto ini ada dua siif ya. Karena ada dua SIF jadi saya butuh orang yang lebih banyak di sini. Dan yang diproduksi kan ada sendiri. Jadi totalnya tuh ada 25 termasuk admin ya kayaknya. So far kita, puji Tuhan masih selalu tidak merasakan itu. Jadi bertumbuhnya itu hanya ngikutin flow-nya aja. Kita merasa oh butuh nambah kayaknya. Oh butuh nambah. Jadi tidak ada suatu momentum yang der saya langsung nambah. Jadi iya go with the flow lah kita ya. Saya merasa di sini itu kan pasti kalau sesuatu buka baru itu kan pasti akan banyak dicoba karena orang akan terus mencoba. Oh gimana? Jadi saya ngomong sama istri saya, bisnis kuliner ini kalau kita bisa bertahan 6 bulan berarti akan seterusnya. Saya merasa seperti itu. Karena pernah saya melihat ada satu tempat 3 bulan wow wah 4 bulan masih oke. Begitu masuk bulan kelima keenam dia udah hansong ambjok. Jadi kalau saya merasa tes kita itu di 6 bulan pertama. Ketika oke berarti it should be fine. Tapi ya kita kan enggak berilengah. Jadi selalu melihat, mencari kompetitor atau mencari benchmark. Siapa sih yang menjadi kompetitor kami itu? Siapa? Jadi kita tidak pernah merasa sayat, tapi kita mencoba memposisikan saya itu adalah sebagai selalu bukan nomor satu gitu. Apakah itu nomor berapa terserah. Tapi memposisikan bukan nomor satu supaya kami selalu bisa melihat yang nomor satu melakukan apa. Supaya kita terus untuk keep moving ya untuk e mencoba untuk mencari suatu inovasi lah, challenge lah seperti itu. Karena bagi kami nomor satu itu kan menjadi suatu beban. Kita enggak tahu benchmark-nya siapa, kita mau ngapain. Tapi kalau dengan kita bukan nomor satu, kita selalu eh bagaimana sih mau menjadi nomor satu? Kan kita terus keep on trying. Ya kalau ngomong yakin ya hanya percaya wis kalao yo paling gak terukur lah. Kan tidak sampai membuat saya bangkrut istilnya gitu. Jadi, andaikan ketika memulai sesuatu atau melakukan sesuatu pun ya ee andaikan kalah pun paling gak kita harus terukur loh. Ya intinya andaikan ini kukut tak tutup saya masih bisa running bisnis yang lain ya. Karena puji Tuhan kami masih punya bisnis yang lain. Jadi intinya ini kan sebagai apakah ini suatu mainan? Enggak juga. Tapi intinya kalau mainan ya sudah enggak jalan ya. Tapi kan mainan yang harus dibuat sukses. Intinya kan kita mau mengembankan kita kan selalu mencari masalah kan. Ketika saya belajar di bisnis coaching di Surabaya itu kan selalu entrepreneur itu kan selalu orang yang mencari masalah ya kan. Jadi ya ini kita selalu seperti ini ya kan. Jadi andaikan kalah ya kita harus terukurlah. Ee kebetulan di sini itu kan milik mertua yang tidak terpakai. Jadi lahan ini nganggur selama bertahun-tahun. Jadi, oh daripada nganggur ya udah tak pakai aja. Kami pakai kami sewa ke mertua untuk yuk kita berdayakan lah. Jadi kenapa kami karena bagi saya yang menjadi tangan-tangan terberat adalah lokasi. Tapi kami punya lokasi berarti oh aku punya competitive advantage ini. Jadi ya saya gunakan aja toh. Tapi kalau saya enggak punya mungkin saya tidak akan gambling di sini. Jadi karena ada lokasi yang memungkinkan kami untuk mencari masalah, ee orang tua kami itu mirip semuanya. Jadi saya sama Bu Jeni itu mempunyai tradisi atau bentuk didikan didikan yang mirip. Jadi sejak kecil itu kami memang harus bisa membagi waktu antara bermain dan membantu orang tua. Waktu senggang kami pun harus selalu ada waktu untuk bekerja membantu orang tua. Jadi di situ kan secara tidak langsung mentalitas untuk bekerja itu kan ada dorongan untuk heh ojo nganggur. Ngapain gak enak nganggur ya. Jadi itu yang mungkin membuat kami untuk menjadi pencari masalah itu seperti itu. Mungkin asal muasalnya mungkin seperti itu. Kalau dari orang tua sih ya itu tadi ada satu yang selalu belajarlah. Anggap dirimu bodoh. Itu yang pertama sehingga kamu mau belajar. Lalu jangan mudah menyerah tidak usah bergaya hidup mewah. Jangan beli weh istilahnya jangan beli pujian. E stay sederhana lah ya. Pak Gun ini sebenarnya dia hatinya lembutlah istilahnya. Jadi dia anak bungsu sebenarnya dia itu dekatlah sama mamah. Ya, itu sebenarnya ya sayang sayang saya sama orang tua. Tapi kadang tuh enggak bisa kan ada orang yang bisa mengungkapkan kadang ada orang yang enggak lah. Pak Gun ini termasuk orang yang enggak bisa mengungkapkan perasaan sayangnya dia ke orang tua gitu loh. Terus apalagi dulu kalau ingat-ingat papa mama kita dulu kan masih awal-awal merintis ya. Jadi kita masih kecil dulu awal-awal merintis bisnis itu betul-betul bukan dari keluarga yang maksudnya papa mama kita bukan dari keluarga yang mampu gitu loh. Jadi memang betul-betul harus kerja dari bawah seperti itu. Jadi melihat kerja keras dari mama terutama ya kalau Pak Gun J dia ya merasa itu sih jadi ya enggak semua Cindo apa pasti punya uang gitu enggak mentalitasnya itu karena kemungkinan mereka dulu kan perantau ya jadi kakek nenek saya itu asli dari China jadi datang ke sini dengan tidak mempunyai apapun jadi kan semangat untuk harus hidup ya orang tua saya pun juga bukan dari langsung kaya, merintis dari minus juga ya. Jadi mungkin kalau kita lihat siklus ya kemungkinan orang itu ketika datang dengan minus dia akan terus struggling untuk naik ya. Dia akan punya semangat untuk terus yuk keep on trying ya nyoba nyoba nyoba nyoba nyoba sehingga di momen seperti ini. Nah itu kan makanya ada yang ngong generasi pertama kan merintis generasi keduanya meneruskan. Nah, sekarang yang ketiga itu nanti seperti apa? Kan siklus itu kan pasti akan segini kan. Nah, kita apakah di saya kan akan oke tak teruskan dengan kita masih mewarisi semangat orang tua kan akan tahu eh biyen iki papa mama ngini loh jangan kamu berfoya-foya. Tetapi ketika sudah masuk ke anak nanti mereka akan menganggap, "Oh, papa mamaku wis enak kok engkong ama dia enggak tahu anak kakek neneknya itu bagaimana dulu." Nah, itu kan yang bahaya. Jadi, privilege itu kalau tadi statement apakah ada privilege? Oh, bisa jadi privil itu didapat bukan karena suatu ordal, tetapi karena suatu usaha yang kamu berjuang yo juga dapat rezeki. Itu aja sih. Sekarang kan memang sudah banyak. Bahkan kami pun sudah ngomong sekarang itu adalah sama. Semuanya pun mempunyai kemampuan yang sama. Malah kalau kamu tidak berusaha banyak orang yang akan kompetisi akan sangat terbuka. mendidik itu enggak cuman memerintah. Jadi, saya mencoba untuk melakukan pendekatannya Ki Hajar Dewantoro. Jadi, ketika di atas kita masih orang tua, ketika di atas si nak me ngongkon tok. Misalkan, "Boy, kamu tumpakno sepeda iku." Terus ketika enggak bisa kan mendui ojo numpak io ngono loh. Kita kan dari atas ngomong enggak hanya nyuruh, tapi ketika tumpak ono kan kamu naik tok toh. Ketika dia hanya naik enggak digowes itu kan enggak salah sebenarnya. Tapi kan kita maong tumpak ono iku loh kok menang. Bukan seperti itu, tapi kan kita harus mendampingi tumpak ono ada pedal pancal pancal ke depan yo. Nah, kita mendampingi. Jadi di sisi pendekatan pertama kalau di depan kita memberi teladan, eh saya sebagai orang tua harus misalkan hemat. Aku enggak mau kelihatan, "Hei, kamu papa sugih yo atau oh papa iku yang dikenal banyak orang ya atau apa." Tidak. Tapi kita harus bisa menghormati. Oh, siapapun kamu harus menghormati. Tantangannya adalah kalau teman-temanmu orang mampu semua kamu bisa bergaul itu umumlah. Tapi bagaimana kamu bisa menghormati yang di bawah kamu itu yang harus kamu bisa lakukan gitu kan sebagai memberikan teladan ya. Yang kedua mendampingi kan mendampingi yaitu eh kamu naik sepeda itu naik di atas sadel berikutnya kamu ada pedal itu pancalan. Nah, naik e lalu pancal kita itu terus kita bisa lepaskan itu kan mendampingi. Lalu di belakang ketika dia enggak perform kah, dia sedihkah kita memberikan support dia mungkin jatuh, "Pah, aku enggak mau naik sepeda lagi." Ngapain gak apa-apa. Semua itu kita ada prosesnya. Proses itu ndak gampang. Dan kalau kamu bisa mengatasin itu ya kamu akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Jadi nikmatono prosesnya. Jadi kita mendorong untuk enggak patah semangat. Challenge-nya seperti itu dari yang kami lakukan. Dan tetap yang utama adalah selalu berserah kepada yang kuasa. Ya, agama akan membawa kita apakah ee seorang yang beragama pun akan membuat kita akan pasti enak. Enggak. Tetapi paling gak kita mempunyai iman yang menjaga ngeril istilahnya. darilnya supaya kita iki enggak ngan ngiri tapi ada fokus di hal yang baik dan menjadi berkat bagi orang lain. Memang untuk saat ini istilahnya apa? One man show ya. Jadi hampir semuanya memang saya yang pegang. Nah, untuk saat ini pun seperti tadi kembali saya terus belajarlah gimana BTA ini bisa terus eksis dan yang pastinya berkembang seperti itu. Untuk ke depannya pengin buka cabang yang pasti langkah awalnya beberapa ini saya banyak rekrut orang ya untuk ee istilahnya membantu saya. Jadi beberapa job-job itu saya serahkan ke mereka biar bisa di-handle mereka. Kemudian saya bisa ya istilahnya fokus di pengembangan GTA ini yang berikutnya itu kayak apa? seperti itu sih dan yang pasti ya enggak lepas dari dari amanat Pak Gun. Saya selalu tanya ya apa gini saya selalu tanya pendapatnya Pak Gun seperti itu sih ya itu langkah awal lah ya kemarin itu ee ya makane kalau bisa tuh jangan tutup gitu loh 365 hari ini kita bisa buka terus seperti itu ya makanya teman-teman ini ya syukurlah mereka bisa bekerja sama dengan baik kalau cabang paling kita enggak mikirin ya karena kami selalu ya go with the flow lah kalau ada peluang ya kita pengin di mana kita enggak mau terlalu ambisius yang seperti apalah pokoke yo yakin dengan rezeki pasti ada yang ngatur lah. Jadi intinya bagaimana kita tetap bisa menjadi berkat lah untuk semuanya ya. Buat ee teman-teman semua bisnis enggak segampang membalik telapak tangan. Pasti ada up-nya, pasti ada down-nya. Tapi yang penting kita harus konsisten dengan apa yang kita kerjakan. terus punya semangat untuk terus belajar, tidak gampang menyerah, enggak gampang putus asa, dan terus belajar gimana caranya supaya bisa jadi lebih baik. Kalau dari saya, kita wajib untuk menguasai hal-hal yang akan kita mau kerjakan dan jangan terlalu overthinking. Go with the flow. Lakukan yang terbaik. Kalau ada kendala ya jangan pernah menyerah. Dan terutama selalu minta perkenanan Tuhan. Bawa Tuhan dalam setiap langkahmu karena ya Dia yang akan memberikan kekuatan. Tapi ya itu tadi tetap kita berjuang jangan pernah menyerah. Karena kalau menyerah ya Tuhan enggak iso opo. Kalau kita enggak mau melangkah doa jengkingo yo sampai salat to 7 kali 10 kali sehari pun tidak akan terjadi. Tapi kan lakukan. Apakah yang kamu lakukan besok itu lebih bagus? Oh, belum tentu. Tetapi kan yo kita selalu membawa harapannya kan semuanya tetap menjadi baik. Always find a way. Selalu itu. Saya Henri Gunawan beserta istri saya. Bila sewaktu-waktu ingin mampir di BTA Corner, Bebek Teman Ayam dan kita mau ngobrol-ngobrol, silakan mampir di bebek Teman Ayam Pangerlima Sudirman nomor 83 Tulungagung. Kami selalu hadir untuk Anda. [Musik]
Resume
Categories