Siapa Sangka! Dari Obrolan Tongkrongan, Tercipta Bisnis Pertanian Bernilai Miliaran
oeAAUMvXmsw • 2025-10-01
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Bisnis yang baik kita bisnis yang berdiri di atas masalah. Jadi masalahnya apa? Oh, masalahnya katakanlah OCAB di sini harganya Rp50.000 terus, Mas. Kalau orang pertanian yang suka petani, wah itu cuan besar tu. mungkin sama pom bensin 5 mahasiswa. [Musik] Karena kami berprinsip begini, kemandirian pangan itu harus dimulai dari kemandirian pupuk, kemandirian insek, fungi, dan perangkat semuanya. Dan ini sangat bisa kita buat sendiri asalkan kita mau. [Musik] Nah, jawarm sensitivitasnya untuk sementara melo melo di Jogja sendiri kita dapat pesanan itu hampir 10 ton, Mas. Per minggu. Untuk nila itu kita dapat 2 ton per hari. Itu bukan bisnis kecil. itu bisnis yang sangat besar untuk teman-teman kampung seperti kamu. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Dimas Kristui Kusumaputra. Saya adalah founder dari Rejofarm Integrated Farming atau lebih lengkapnya Sociopr Integrated Farming. Kami bergerak di bidang pengolahan limbah, kemudian agri dan agrobisnis. Kami berlokasi di Rejontani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Ada aktivitas pertama yang kita lakukan tuh basicnya adalah pengolahan limbah. Sebenarnya secara basic semua limbah organik itu kita olah, kemudian nanti kita integrasikan bisa menjadi satu kegiatan peternakan, perikanan, atau pertanian. Jadi, limbah itu kita dapat dari sebenarnya di lingkungan sekitar. Jadi kalau kita bicara historinya adalah bagaimana keberlimpahan limbah itu seperti taiah, hewan, bisa ayam, bisa ee sapi, bisa kambing itu belum termatkan secara optimal. Kemudian limbah-limbah seperti dedaunan, limbah dapur, kemudian limbah-limbah pabrik-pabrik yang memang basicnya mereka memproduksi pangan seperti susu, roti, kadang-kadang juga limbah dari bekas satu kegiatan budidaya seperti ee lok jamur seperti itu. Ya, itu adalah dasar kita dalam pembuatan kegiatan kita. Justru terletak pada keberlimbahan limbah. Kemudian dari sana kita mencoba untuk membuat suatu pengolahan. Kemudian dari pengolahan itu kemudian tercipta produk. Contohnya misalnya seperti kita mengolah stok jamur kemudian ditambah dengan kotoran hewan. Kemudian itu kita proses dengan berbagai cara. Salah satunya mungkin dengan ee cacing atau bisa juga dengan membuat bokasi seperti difermentasi menggunakan bakteri gitu. Kemudian limbah susu, kemudian limbah roti itu kita fermentasi. ada yang kita giling. Kemudian itu kita jadikan pakan ternak seperti ikan atau seperti ayam. Saya kira seperti itu. Kemudian itu kita tambahkan tentunya dengan beberapa seperti di musim-musim padi itu jumlah sekam padi itu berlimpah sekali, Mas. Kemudian itu kita beli dalam jumlah yang besar untuk dijadikan bek tol. Kemudian di satu sisi kita juga menanam jagung untuk nanti dimix supaya kelengkapan gizinya juga terpenuhi. Kira-kira begitu. Tapi basic kita itu sebenarnya justru di pengolahan limbah organiknya. Dulu awalnya teman-teman di Rejof ini tidak ada satuun yang petani. Kalau saya sendiri background saya di engineering, Mas. Jadi saya punya perusahaan di engineering dan kawan-kawan di sini. baik itu manajernya, kemudian senior manajernya, manajer-manajernya itu hampir 100% tidak ada yang pernah berkegiatan di dunia peternakan, perikanan, maupun pertanian. Karena ide ini berawal dari tongkrongan saja dulu tapi sudah cukup lama di tahun 2013 waktu kita nongkrong-nongkrong. Kemudian kita membahaslah pada ujung diskusi itu kita membahas soal bagaimana besok kita ke depannya. Karena kebetulan kegiatan kita kan waktu itu banyak disurvei topografi gitu. Ide awalnya adalah kita pada waktu saya masih ingat sekali adalah menanam pohon pepaya dan alhamdulillah pada waktu itu panennya sebenarnya cukup baguslah untuk pemula tapi kita kalah di harga. Pengepul-pengepul itu ya mempermainkan harganya sesemasinya. Kemudian kita bergeser lah kalau kita menanam kita harus bikin pupuk. pada waktu itu masih simpel. Kotoran hewan kita jadikan kasing, casting kita jadikan pupuk. Kemudian gitu. Nah, dari situ kemudian ada beapa kawan yang kebetulan pelihara lele, kita mencoba untuk lele lagi. Jadi di kita kalah juga di harga karena faktor inflasinya itu enggak seimbang. Antara pertumbuhan harga pelet pakan dengan pertumbuhan harga dagingnya itu gak balance. Jadi di waktu itu ternyata ini bisnis yang jadi kurang profitable. Di satu sisi kita juga ada kendala di cuaca, perubahan cuaca. Karena cuaca sekarang kan enggak menentu. Jadi yang awalnya itu gampang jadi sedikit ada tantangan gitu. Kemudian dari situ kita menyadari akan satu hal bahwa ketika kita terlalu banyak tergantung pada produk-produk di luar apa yang kita bisa, nah maka dari itu secara bisnis itu menjadi sesuatu yang lemah, fondasinya, kurang kuat. Kemudian ide soal pengolahan sampah mungkin bisa dikatakan muncul dari sana. Jadi pada waktu itu ee kita mulai berpikir gimana kalau kita membuat bahan dasarnya kemudian baru berpikir bahan dasar ini untuk apa. Nah, kemudian waktu itu langsung kita vendor reset lah kecil-kecilan soal sebenarnya ketersediaan limbah di sekitar kita itu seperti apa. Dan ternyata ee kami menemukan berapa waktu buah itu sangat berlimpah dalam jumlah mungkin di Sleman sendiri itu ribuan ton. [Musik] Pada akhirnya kenapa kita memilih untuk berkecimpung di dunia pertanian? Karena karena kita menyadari beberapa hal. Pertama adalah sekarang anak-anak muda itu enggak ada yang mau ke sawah. Sedangkan kan kebetulan di daerah kita sawah masih cukup luas gitu. Kemudian kalau kita ikuti cara konvensional membeli pupuk kemudian kita tanam jagung atau apa itu kita hitung sebagai sebuah bisnis pasti itu bukan satu bisnis yang menjanjikan. Maka dari itu kita coba untuk memperluas diskusi, mencari beberapa literasi sebenarnya apa sih hal-hal yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita punya tuh apa gitu. Kemudian fakta-faktanya itu ternyata banyak dan cukup menarik dan ini mungkin teman-teman bisa mengadopsinya. Contoh gini, kenapa buah-buah yang tersedia di pasaran sekarang itu rata-rata buah-buah yang impor? Apakah kita tidak bisa membuat buah yang seenak itu? Kalau bisa lah kenapa tidak dibuat? Pertanyaannya begitu. Kemudian kita mencoba apa yang paling mungkin untuk kita coba? dua dulu lah kita bicara anggur dulu kemudian yang kedua adalah kita bicara melon bagaimana kita bisa menyaingi buah-buah impor itu dengan apa yang kita buat sekarang dan ternyata itu works gitu bahkan saat ini opportunity yang datang ke kita dan kemampuan kita saat ini masih belum balance artinya opportunitynya masih cukup besar gitu dan kita juga mencoba untuk scale up yang kedua kemudian ada opportunity-oportunity pendampingnya ternyata Ternyata banyak juga yang sebenarnya ingin seperti kami, tapi tidak tahu bagaimana belajarnya, dari mana. Karena kalau mengikuti dari kami terlalu lama. Karena kita dulu kan bingung mau tanya siapa enggak. Belum ada model yang seperti kita. Maka dari itu ya kita akhirnya bikin satu program edukasi bagaimana kawan-kawan yang pengin mengembangkan bisnis seperti kita itu bisa belajar ke sini. Dan itu ternyata menjadi salah satu bisnis tersendiri soal bagaimana edukasi pertanian itu dijalankan. Kemudian yang ketiga, ketika kita bicara scale up, produsen itu menanyakan selalu dua hal. Pertama adalah apakah kita berani menjamin kualitas? Kedua, apakah kita berani menjamin secara kuantitas? Jadi, selalu pertanyaannya di dua ini. Karena setahu kami belum ada ya petani melon itu yang skala besar yang berani konsisten kualitas dan kuantitasnya itu belum ada. Dan ternyata setelah kami praktikkan, oh itu tidak bukan hal yang mudah. Kenapa? Ketika kita membuat satu melon, efeknya apa? Kita menciptakan endemi penyakit. Karena kan dia panennya kita jadwalkan katakanlah seminggu atau 2 minggu sekali. Jadi penyakit itu jadi endomi. Muncul masalah-masalah baru. Tapi justru di situ menariknya Mas. Kebetulan kita konsorsium juga dengan ITS, kemudian dengan Telcom University berkaitan dengan bagaimana pertanian itu kita majukan. Ternyata untuk menjamin ketersediaan keberlangsungan budidaya sebuah kuantitasnya bagus, kualitasnya bagus, itu bukan urusan orang petani, Mas. Tapi itu adalah urusan teman-teman biologi, teman-teman kimia. Mungkin kalau ini nanti kita bicara efisiensi mungkin teman-teman elektro. gitu. Ternyata pertanian itu membutuhkan disiplin ilmu yang cukup banyak. Contoh ketika kita harus berurusan dengan bakteri, fungi, dan virus. Siapa orang yang paling ngerti? Jelas bukan petani, tapi orang biologi. Bagaimana kita bisa melakukan pencegahan baik secara sistemik maupun secara kontak. Jelas itu urusan teman-teman kimia. Nah, sedangkan fakta sekarang yang terjadi adalah teman-teman yang mungkin berkecimbung di dunia pertanian, di dunia kimia, di dunia biologi itu sedikit sekali yang bergerak di bidang pertanian. Padahal itu jalan ninjanya di situ. Kalau kita hitung berapa perputaran uang di pertanian, berapa tenaga kerja yang bisa ditimbulkan dari situ, itu sangat-sangat besar sekali. Karena itu alasan kami berkornosium dan mungkin kami juga membuka beberapa kerja sama tentunya kami pengin mengumukkan orang-orang yang sejiwalah bagaimana pertanian ini bisa kita garap semaksimal mungkin. Karena kami berprinsip begini, kemandirian pangan itu harus dimulai dari kemandirian pupuk, kemandirian insek, fungi, dan perangkat semuanya. Dan ini sangat bisa kita buat sendiri asalkan kita mau 21. Jalan paling cepat untuk menciptakan lapangan pekerjaan itu pasti dari pertanian. Contoh saya lihat seberapa kebangetannya kita. Ada satu perusahaan dia ngimpor jahe itu ber tahun ribuan ton. Itu menandakan seberapa kebangetannya kita dalam membudidayakan sesuatu. Dulu itu sejah itu dilempar aja hidup, Mas. Kalaupun sekarang banyak tantangannya ya itu tadi kita bisa bersinergi gitu untuk bagaimana ini kita bisa produksi kendalanya jamur kendalanya ini kan kita punya banyak ahli gitu. Sebenarnya kalau bicara soal skala budidaya apalagi untuk pemenuhan kebutuhan baik dari premium atau kita bicara soal bagaimana kita bisa menyaingi paling tidak separuhlah dari buah-buah impor itu diisi oleh buah lokal gitu. itu saja. Mungkin kita butuh puluhan ribu orang untuk memproduksi itu. Itu yang saat ini ee kami coba bagaimana Rejovan bisa selalu memberikan edukasi gitu khususnya kepada anak-anak muda. Karena saya yakin jalan paling enak untuk menuju financial freedom itu ya pertanian. Kita bicara pengolahan limbah. pengolahan limbah itu kita bisa menciptakan beberapa produk seperti POC, kemudian NPK organik, kemudian media tanam, kemudian kita bisa menciptakan ee beberapa produk seperti mencaburkan POC dengan ada yang seperti amonium fosfat, monokalium fosfat yang di mana penggunaan kimianya ini kita kurangi sampai dengan atau hanya menggunakan 20% dari sampai 30% dari takaran dosis. Jadi kalau sementara ini kita sedang meriset bagaimana organic full itu bisa atau tidak, kita belum PD untuk saat ini karena itu dalam proses development gitu. Tapi ke depan kita ingin itu menjadi ee sebuah kenyataan gitu bahwa organik ini tidak terbatas pada nutrisi saja tapi tentu fungi dan insek. Jadi dari situ kemudian bagaimana produk yang kita buat ini kemudian kalau kita lempar ke pasar kita tahu sendiri Mas kalau petani kita diberikan satu teknis baru itu merubah kebiasaan itu tidak mudah ya. Yang paling mungkin adalah bagaimana produk-produk yang sudah kita buat ini kemudian kita pakai atau kita gunakan untuk produk-produk yang mungkin nanti secara pasar itu bisa diterima dengan baik. Nah, salah satunya adalah melon. Jadi, akhirnya menjadi satu sistem integrasi. Jadi kalau kita bisa katakan sebenarnya mau melon, mau cabe, mau tomat, apapun itu, itu hanya alat konversi. Bagaimana kita mengkonversi limbah menjadi sebuah kegiatan yang deliverable. Akhirnya adalah sebuah kegiatan yang bersifat premium. Otomatis efeknya adalah perputaran uang yang besar. Nah, efeknya perputaran uang yang besar ini tentu menjadi bisnis yang cukup profitable. di satu sisi kita mempunyai kekuatannya sendiri. Kenapa? Karena sebagian besar pupuk ini kita produksi sendiri. Jadi kalau kita bicara apa efeknya ketika seperti itu, yang pertama tentu secara sosial karena kebetulan konsep yang kita buat adalah konsep adat karya. Tentu ini akan menciptakan lapangan pekerjaan. Yang kedua adalah konsep secara lingkungan. bagaimana penanganan terhadap limbah-limbah khususnya limbah organik itu terjadi. Kemudian yang ketiga tentu adalah efek secara ekonomi. Kenapa? Karena kita bisa menyediakan produksi itu secara konsisten baik secara kualitas maupun kuantitas. [Musik] telu saya mendengar dari beberapa teman kemarin membeli pupuk slow rilis itu bahkan dari luar negeri gitu dengan harga yang ratusan ribu saya bilang kita bahkan bisa buat lebih bagus dari itu. Harganya tidak sampai 20% dari itu. Nah, bagaimana kesempatan-kesempatan seperti ini pun kita banyak melewatkan. Bahkan sebenarnya kalau kita tanaman-tanaman besar pun seperti alpukat, kemudian seperti durian itu kalau dibelah secara organik itu pasti hasilnya akan lebih bagus. Terutama di tes terutama di rasanya. Organik itu memiliki kekasan rasa yang tidak dimiliki oleh kimia. Contoh, dia lebih tahan lama dari sisi penyimpanan. Yang kedua, dia punya karakteristik rasa yang bagus. Kalau misalnya kita bicara tanaman hias ya pasti warnanya akan lebih khas. Kemudian kalau bicara kita buah-buahan ya dia akan lebih manis dan mungkin lebih crunchy gitu-gitu. Kalau kita bicara rejoam sendiri sebenarnya misinya banyak. Pertama adalah bagaimana kegelisahan saya pribadi dulu sama kawan-kawan. pertama adalah berkaitan banyak sekali teman-teman kita atau saudara-saudara kita yang belum memiliki pekerjaan. Kemudian yang kedua yaitu tadi ketersimbaan limbah yang cukup karena pada waktu itu sempat ketika TPS piungan itu ditutup di Jogja itu, nah itu sempat ada kebingungan ee tentang ya pembuangan sampah. Kemudian yang ketiga adalah berkaitan dengan bisnis. Di Jogja ini ada satu bisnis yang enggak masuk akal tapi terus dilakukan. Saya kadang-kadang agak sedikit heran dengan investor-investor ini. Saya kafe itu kan bukan uang 100 200 juta. Enggak. Itu uang miliaran dan dibuang begitu saja. Kenapa kok orang berpikir model bisnis yang kemungkinan ruginya itu besar saja banyak investornya? Kemudian dari situ kita berpikir, oh kita harus bikin satu model dong yang bagus gitu. bagaimana teman-teman investor ini mendapatkan satu edukasi kemudian nyambung dengan tadi masalah sosial tentang ketersaan lapan pekerjaan, nyambung dengan bagaimana lingkungan kemudian nyambung dengan dan kegiatan bisnisnya itu sendiri gitu. Jadi awalnya kita hanya kor kita itu benar-benar di pengolahan limbah. Kemudian ini kita konversi saja alat konversinya apa bebas. bisa ikan, bisa ayam, kemudian bisa melon, bisa anggur, bisa tomat, bisa apa apapun itu. Tapi seiring berjalannya waktu kita juga mengadopsi isu-isu itu untuk kemudian menjadi satu develop bisnis baru di kita, menjadi satu model bisnis baru, gitu. Dan ini pun kami juga terus berkembang dengan apa? dengan berkolaborasi tentu dengan universitas, mungkin besok dengan perbankan, mungkin nanti ee dengan kawan-kawan di eksekutif maupun di yudikatif ya legislatif lah. Karena tentu kalau ketika kita bicara pergerakan sosial itu tentu semua elemen itu bisa terlibat gitu. Yang paling parah itu adalah di dunia kosmetik. Sebenarnya kosmetik itu kita itu letak geografis kita itu memungkinkan 80% obat-obatan itu kita bisa produksi. Mungkin fakta itu sudah banyak yang tahu gitu, tapi faktanya kita impor semua. Itu sensitivitas kita sebenarnya. Nah, haram sensitivitasnya untuk sementara melo melo di Jogja sendiri kita dapat pesanan itu hampir 10 ton, Mas, per minggu. Untuk nila itu kita dapat 2 ton per hari. Bayangkan saja itu bukan bisnis kecil, itu bisnis yang sangat besar untuk teman-teman kampung seperti kamu. Mungkin nanti setelah ini tayang juga saya yakin akan banyak kawan-kawan yang mencoba untuk berkolaborasi mungkin dari universitas atau dari kebanyakan sih kawan-kawan yang atau bapak-bapak yang pensiun gitu. Dan kami membuka seluas-luasnya gitu karena bisnis itu kan yang bisnis yang baik kita bisnis yang berdiri di atas masalah. Jadi masalahnya apa? Oh, masalahnya katakanlah cabe di sini harganya Rp50.000 terus, Mas. Enggak pernah turun. Kalau orang pertanian yang suka petani, wah itu cuan besar tu. Mungkin sama pom bensin 5 masih cuan. Ini fakta-fakta ini harusnya cukup menggugah untuk anak-anak muda yang benar-benar pengin menjadi seorang yang punya cita-cita sebagai financial freedom, kemudian mempunyai jalan ninjanya sendirilah gitu. Makanya pertanian masih sangat-sangat terbuka, luas sekali. Kalau kita bicara 2011, pekerjaan saya itu adalah kuli pasir di ini ada sungai sebelah itu di ujung di sana. Kalau orang warga kampung saya pasti tahu gitu. Jadi saya memulainya itu bukan dari nol, Mas, tapi dari minus. Jadi bukan orang yang punya stor dan secara pendidikan pun saya memiliki pendidikan yang tidak tinggi. Tapi bagi saya pintar itu bukan masalah pendidikan. Tapi pintar itu bukan karena sekolah. Menurut saya sekolah itu adalah tempat yang paling ideal, paling kondusif untuk belajar. Tapi yang membikin pintar itu bukan sekolahnya, tapi belajarnya. Belajar itu tempat paling kondusifnya kan di sekolah, di universitas, tapi juga bisa di mana saja. Jadi kalaupun jen kuliah getol sampai dapat, tapi ketika semangat belajarnya itu sebenarnya rendah, hanya pengin sekedar lulus atau hanya sekedar tidak ingin mengecewakan orang tua padahal ketertarikan Anda tidak di situ. Nah, itu yang membuat kenapa ya itu tadi lulusan pertanian enggak mau jadi pertanian, lulusan kimia mungkin jadi teller bank gitu. Ini kan sebenarnya kan sesuatu yang saya bilang bisa sedikit kacau gitu. I. Nah, itu kenapa kita akhirnya kalah? Padahal kita negara yang kaya. Apa sih kekayaan Indonesia? Mungkin saya yakin banyak yang enggak tahu. Minyak bumi katakanlah gitu. Batuar kecil, Mas. Dibanding dengan pertanian itu kecil. Perputaran uang per harinya. Ya, padahal bisnis itu soal perputaran uang, Mas. Karena keuntungan itu biasanya didapat dari perputaran uang. Dan bagaimana bisnis pertanian itu gila sekali. Misalnya dari petani Rp20.000, mark up-nya berapa sampai ke konsumen? Bayangkan kali sekian triliun per hari. Nah, hal-hal semacam ini kan harusnya kita sadari bagaimana sensitivitas kita membaca itu. [Musik] Saya memandang pertanian ini tidak sebagai satu aktivitas budidaya saja, tapi sebagai bisnis yang autopilot. Kemudian yang secara limitnya saya tidak akan kasih batas limitnya. Opportunity yang ada di Sleman saja saya yakin kami sudah membutuhkan sekelas GM. Tidak cukup kalau hanya manajer, harus GM. Jadi manajer, jadi manajer kami itu ada manajer operasional, ada manajer infrastruktur, kemudian ada manajer untuk bisnis development-nya, kemudian ada manajer untuk GA dan HRD karena higher dan juga nanti ee pemosesan setiap e karyawan. Kemudian ada lagi manajer di pasca produksi. Pas kenapa kok sebutannya manajer? Karena apa? pertama dia membawai dari sisi marketing. Jadi di bawah dia ada semmen marketing. Kemudian dia juga membawa dari sisi wisata karena kita menawarkan wisata edukasi kemudian wisata petik dan lain sebagainya. Tentu ini membutuhkan assistant manager secara tersendiri. Yang ketiga adalah bagaimana kita juga membangun dari sisi entertain-nya. Banyak sekali kok entertain yang bisa muncul. Misalnya mungkin orang banyak yang penasaran kalau di tempat saya itu banyak daun itu prosesnya sampai jadi pupuk seperti apa. Nah, itu mungkin secara detail itu kita k sudah jadi satu konten yang cukup menarik itu dan sensitivitas terhadap hal-hal yang mungkin ada itulah yang diperlukan sebenarnya. Dan anak-anak muda sekarang itu saya pikir anak-anak muda yang sulit untuk dinasihati, Mas. Tapi menurut saya mereka itu butuh diinspirasi saja. Mereka jalan sendiri. Mereka lebih kreatif daripada kita. Gensi itu menurut saya ya, saya punya lebih kreatif dari milenial. Karena mereka lebih kreatif, maka kalau dinasihati agak susah. Tapi kalau diinspirasi saya yakin mereka akan bisa menciptakan sesuatu yang lebih bagus dari kita. Kalau manajerial sekarang ada sekitar 16 orang. Total semua tim di Rejo berapa? Sementara ada 72 industri besar ya. Enggak juga. Kalau di pertanian itu masih raja Mas. Mungkin kalau di kafe itu sudah besar, tapi di pertanian masih kecil. Dapat dikatakan besar ukurannya apa kalau gitu? Kalau minimal bisa memenuhi satu kecamatan lah menurut saya. Satu kecamatan tuh perputaran uangnya mungkin per harinya ya. Itu sudah di atas 1,3 M. Mungkin jenengan baru tahu juga. Coba aja di Mas dari makan, kosmetik semualah produk pertanian tuh sebesar itu. Jadi pada waktu itu sebenarnya saya itu the power of kepepet saja sebenarnya kepepet dalam kondisi di mana teman-teman saya mungkin di keluarga saya, orang-orang sekitar saya itu ya banyak yang nganggur dan banyak yang bingung kenapa. Nah, mungkin karena saya dinilai secara public speaking mengorganisasinya bagus, akhirnya kan sambatnya kan ke saya. Nah, ini terus kemudian setiap hari mencari solusi apa toh sebenarnya bisnis bikin bisnis apa yang kita ini semua bisa kerja, kita semua dapat hasil gitu. Ya tadi muncullah ide-ide itu dan mungkin kalau orang di kampung itu saya itu terkenalnya mungkin sebagai ahli gagal. Karena saya itu gagal itu mungkin lebih dari kalau 50 pasti lebih di semua hal yang saya lakukan ya. Tanam cabe gagal, melon gagal, lele gagal. Jadi tidak serta-merta mencapai posisi ini itu atau di kondisi sekarang itu berjalan yang mudah. Tidak. Tapi menurut saya kita usaha gagal bangkit lagi itu susah, Mas. Tapi menurut saya lebih susah kalau nganggur. [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Nama saya Dimas Kristi Kusap Putra founder dari Rejo Farm alamat di Rejoani Sariharjo, Ngag Sleman. Terima kasih dan wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]
Resume
Categories