Siapa Sangka! Dari Obrolan Tongkrongan, Tercipta Bisnis Pertanian Bernilai Miliaran
oeAAUMvXmsw • 2025-10-01
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Bisnis yang baik kita bisnis yang
berdiri di atas masalah. Jadi masalahnya
apa? Oh, masalahnya katakanlah OCAB di
sini harganya Rp50.000 terus, Mas. Kalau
orang pertanian yang suka petani, wah
itu cuan besar tu. mungkin sama pom
bensin 5 mahasiswa.
[Musik]
Karena kami berprinsip begini,
kemandirian pangan itu harus dimulai
dari kemandirian pupuk, kemandirian
insek, fungi, dan perangkat semuanya.
Dan ini sangat bisa kita buat sendiri
asalkan kita mau.
[Musik]
Nah, jawarm sensitivitasnya untuk
sementara melo melo di Jogja sendiri
kita dapat pesanan itu hampir 10 ton,
Mas. Per minggu. Untuk nila itu kita
dapat 2 ton per hari. Itu bukan bisnis
kecil. itu bisnis yang sangat besar
untuk teman-teman kampung seperti kamu.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Dimas
Kristui Kusumaputra. Saya adalah founder
dari Rejofarm Integrated Farming atau
lebih lengkapnya Sociopr Integrated
Farming. Kami bergerak di bidang
pengolahan limbah, kemudian agri dan
agrobisnis. Kami berlokasi di Rejontani,
Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Ada aktivitas pertama yang kita lakukan
tuh basicnya adalah pengolahan limbah.
Sebenarnya secara basic semua limbah
organik itu kita olah, kemudian nanti
kita integrasikan bisa menjadi satu
kegiatan peternakan, perikanan, atau
pertanian. Jadi, limbah itu kita dapat
dari sebenarnya di lingkungan sekitar.
Jadi kalau kita bicara historinya adalah
bagaimana keberlimpahan limbah itu
seperti taiah, hewan, bisa ayam, bisa ee
sapi, bisa kambing itu belum termatkan
secara optimal. Kemudian limbah-limbah
seperti dedaunan, limbah dapur, kemudian
limbah-limbah pabrik-pabrik yang memang
basicnya mereka memproduksi pangan
seperti susu, roti, kadang-kadang juga
limbah dari bekas satu kegiatan budidaya
seperti ee lok jamur seperti itu. Ya,
itu adalah dasar kita dalam pembuatan
kegiatan kita. Justru terletak pada
keberlimbahan limbah. Kemudian dari sana
kita mencoba untuk membuat suatu
pengolahan. Kemudian dari pengolahan itu
kemudian tercipta produk. Contohnya
misalnya seperti kita mengolah stok
jamur kemudian ditambah dengan kotoran
hewan. Kemudian itu kita proses dengan
berbagai cara. Salah satunya mungkin
dengan ee cacing atau bisa juga dengan
membuat bokasi seperti difermentasi
menggunakan bakteri gitu. Kemudian
limbah susu, kemudian limbah roti itu
kita fermentasi. ada yang kita giling.
Kemudian itu kita jadikan pakan ternak
seperti ikan atau seperti ayam. Saya
kira seperti itu. Kemudian itu kita
tambahkan tentunya dengan beberapa
seperti di musim-musim padi itu jumlah
sekam padi itu berlimpah sekali, Mas.
Kemudian itu kita beli dalam jumlah yang
besar untuk dijadikan bek tol. Kemudian
di satu sisi kita juga menanam jagung
untuk nanti dimix supaya kelengkapan
gizinya juga terpenuhi. Kira-kira
begitu. Tapi basic kita itu sebenarnya
justru di pengolahan limbah organiknya.
Dulu awalnya teman-teman di Rejof ini
tidak ada satuun yang petani. Kalau saya
sendiri background saya di engineering,
Mas. Jadi saya punya perusahaan di
engineering dan kawan-kawan di sini.
baik itu manajernya, kemudian senior
manajernya, manajer-manajernya itu
hampir 100% tidak ada yang pernah
berkegiatan di dunia peternakan,
perikanan, maupun pertanian. Karena ide
ini berawal dari tongkrongan saja dulu
tapi sudah cukup lama di tahun 2013
waktu kita nongkrong-nongkrong. Kemudian
kita membahaslah pada ujung diskusi itu
kita membahas soal bagaimana besok kita
ke depannya. Karena kebetulan kegiatan
kita kan waktu itu banyak disurvei
topografi gitu. Ide awalnya adalah kita
pada waktu saya masih ingat sekali
adalah menanam pohon pepaya dan
alhamdulillah pada waktu itu panennya
sebenarnya cukup baguslah untuk pemula
tapi kita kalah di harga.
Pengepul-pengepul itu ya mempermainkan
harganya sesemasinya. Kemudian kita
bergeser lah kalau kita menanam kita
harus bikin pupuk. pada waktu itu masih
simpel. Kotoran hewan kita jadikan
kasing, casting kita jadikan pupuk.
Kemudian gitu. Nah, dari situ kemudian
ada beapa kawan yang kebetulan pelihara
lele, kita mencoba untuk lele lagi. Jadi
di kita kalah juga di harga karena
faktor inflasinya itu enggak seimbang.
Antara pertumbuhan harga pelet pakan
dengan pertumbuhan harga dagingnya itu
gak balance. Jadi di waktu itu ternyata
ini bisnis yang jadi kurang profitable.
Di satu sisi kita juga ada kendala di
cuaca, perubahan cuaca. Karena cuaca
sekarang kan enggak menentu. Jadi yang
awalnya itu gampang jadi sedikit ada
tantangan gitu. Kemudian dari situ kita
menyadari akan satu hal bahwa ketika
kita terlalu banyak tergantung pada
produk-produk di luar apa yang kita
bisa, nah maka dari itu secara bisnis
itu menjadi sesuatu yang lemah,
fondasinya, kurang kuat. Kemudian ide
soal pengolahan sampah mungkin bisa
dikatakan muncul dari sana. Jadi pada
waktu itu ee kita mulai berpikir gimana
kalau kita membuat bahan dasarnya
kemudian baru berpikir bahan dasar ini
untuk apa. Nah, kemudian waktu itu
langsung kita vendor reset lah
kecil-kecilan soal sebenarnya
ketersediaan limbah di sekitar kita itu
seperti apa. Dan ternyata ee kami
menemukan berapa waktu buah itu sangat
berlimpah dalam jumlah mungkin di Sleman
sendiri itu ribuan ton.
[Musik]
Pada akhirnya kenapa kita memilih untuk
berkecimpung di dunia pertanian? Karena
karena kita menyadari beberapa hal.
Pertama adalah sekarang anak-anak muda
itu enggak ada yang mau ke sawah.
Sedangkan kan kebetulan di daerah kita
sawah masih cukup luas gitu. Kemudian
kalau kita ikuti cara konvensional
membeli pupuk kemudian kita tanam jagung
atau apa itu kita hitung sebagai sebuah
bisnis pasti itu bukan satu bisnis yang
menjanjikan. Maka dari itu kita coba
untuk memperluas diskusi, mencari
beberapa literasi sebenarnya apa sih
hal-hal yang bisa kita lakukan dengan
apa yang kita punya tuh apa gitu.
Kemudian fakta-faktanya itu ternyata
banyak dan cukup menarik dan ini mungkin
teman-teman bisa mengadopsinya. Contoh
gini, kenapa buah-buah yang tersedia di
pasaran sekarang itu rata-rata buah-buah
yang impor? Apakah kita tidak bisa
membuat buah yang seenak itu? Kalau bisa
lah kenapa tidak dibuat? Pertanyaannya
begitu. Kemudian kita mencoba apa yang
paling mungkin untuk kita coba? dua dulu
lah kita bicara anggur dulu kemudian
yang kedua adalah kita bicara melon
bagaimana kita bisa menyaingi buah-buah
impor itu dengan apa yang kita buat
sekarang dan ternyata itu works gitu
bahkan saat ini opportunity yang datang
ke kita dan kemampuan kita saat ini
masih belum balance artinya
opportunitynya masih cukup besar gitu
dan kita juga mencoba untuk scale up
yang kedua kemudian ada
opportunity-oportunity
pendampingnya ternyata Ternyata banyak
juga yang sebenarnya ingin seperti kami,
tapi tidak tahu bagaimana belajarnya,
dari mana. Karena kalau mengikuti dari
kami terlalu lama. Karena kita dulu kan
bingung mau tanya siapa enggak. Belum
ada model yang seperti kita. Maka dari
itu ya kita akhirnya bikin satu program
edukasi bagaimana kawan-kawan yang
pengin mengembangkan bisnis seperti kita
itu bisa belajar ke sini. Dan itu
ternyata menjadi salah satu bisnis
tersendiri soal bagaimana edukasi
pertanian itu dijalankan.
Kemudian yang ketiga, ketika kita bicara
scale up, produsen itu menanyakan selalu
dua hal. Pertama adalah apakah kita
berani menjamin kualitas? Kedua, apakah
kita berani menjamin secara kuantitas?
Jadi, selalu pertanyaannya di dua ini.
Karena setahu kami belum ada ya petani
melon itu yang skala besar yang berani
konsisten kualitas dan kuantitasnya itu
belum ada. Dan ternyata setelah kami
praktikkan, oh itu tidak bukan hal yang
mudah. Kenapa? Ketika kita membuat satu
melon, efeknya apa? Kita menciptakan
endemi penyakit. Karena kan dia panennya
kita jadwalkan katakanlah seminggu atau
2 minggu sekali. Jadi penyakit itu jadi
endomi. Muncul masalah-masalah baru.
Tapi justru di situ menariknya Mas.
Kebetulan kita konsorsium juga dengan
ITS, kemudian dengan Telcom University
berkaitan dengan bagaimana pertanian itu
kita majukan. Ternyata untuk menjamin
ketersediaan keberlangsungan budidaya
sebuah kuantitasnya bagus, kualitasnya
bagus, itu bukan urusan orang petani,
Mas. Tapi itu adalah urusan teman-teman
biologi, teman-teman kimia. Mungkin
kalau ini nanti kita bicara efisiensi
mungkin teman-teman elektro. gitu.
Ternyata pertanian itu membutuhkan
disiplin ilmu yang cukup banyak. Contoh
ketika kita harus berurusan dengan
bakteri, fungi, dan virus. Siapa orang
yang paling ngerti? Jelas bukan petani,
tapi orang biologi. Bagaimana kita bisa
melakukan pencegahan baik secara
sistemik maupun secara kontak. Jelas itu
urusan teman-teman kimia. Nah, sedangkan
fakta sekarang yang terjadi adalah
teman-teman yang mungkin berkecimbung di
dunia pertanian,
di dunia kimia, di dunia biologi itu
sedikit sekali yang bergerak di bidang
pertanian. Padahal itu jalan ninjanya di
situ. Kalau kita hitung berapa
perputaran uang di pertanian, berapa
tenaga kerja yang bisa ditimbulkan dari
situ, itu sangat-sangat besar sekali.
Karena itu alasan kami berkornosium dan
mungkin kami juga membuka beberapa kerja
sama tentunya kami pengin mengumukkan
orang-orang yang sejiwalah bagaimana
pertanian ini bisa kita garap semaksimal
mungkin. Karena kami berprinsip begini,
kemandirian pangan itu harus dimulai
dari kemandirian pupuk, kemandirian
insek, fungi, dan perangkat semuanya.
Dan ini sangat bisa kita buat sendiri
asalkan kita mau
21.
Jalan paling cepat untuk menciptakan
lapangan pekerjaan itu pasti dari
pertanian. Contoh saya lihat seberapa
kebangetannya kita. Ada satu perusahaan
dia ngimpor jahe itu ber tahun ribuan
ton. Itu menandakan seberapa
kebangetannya kita dalam membudidayakan
sesuatu.
Dulu itu sejah itu dilempar aja hidup,
Mas. Kalaupun sekarang banyak
tantangannya ya itu tadi kita bisa
bersinergi gitu untuk bagaimana ini kita
bisa produksi kendalanya jamur
kendalanya ini kan kita punya banyak
ahli gitu. Sebenarnya kalau bicara soal
skala budidaya apalagi untuk pemenuhan
kebutuhan baik dari premium atau kita
bicara soal bagaimana kita bisa
menyaingi paling tidak separuhlah dari
buah-buah impor itu diisi oleh buah
lokal gitu. itu saja. Mungkin kita butuh
puluhan ribu orang untuk memproduksi
itu. Itu yang saat ini ee kami coba
bagaimana Rejovan bisa selalu memberikan
edukasi gitu khususnya kepada anak-anak
muda. Karena saya yakin jalan paling
enak untuk menuju financial freedom itu
ya pertanian. Kita bicara pengolahan
limbah. pengolahan limbah itu kita bisa
menciptakan beberapa produk seperti POC,
kemudian NPK organik, kemudian media
tanam, kemudian kita bisa menciptakan ee
beberapa produk seperti mencaburkan POC
dengan ada yang seperti amonium fosfat,
monokalium fosfat yang di mana
penggunaan kimianya ini kita kurangi
sampai dengan atau hanya menggunakan 20%
dari sampai 30% dari takaran dosis. Jadi
kalau sementara ini kita sedang meriset
bagaimana organic full itu bisa atau
tidak, kita belum PD untuk saat ini
karena itu dalam proses development
gitu. Tapi ke depan kita ingin itu
menjadi ee sebuah kenyataan gitu bahwa
organik ini tidak terbatas pada nutrisi
saja tapi tentu fungi dan insek. Jadi
dari situ kemudian bagaimana produk yang
kita buat ini kemudian kalau kita lempar
ke pasar kita tahu sendiri Mas kalau
petani kita diberikan satu teknis baru
itu merubah kebiasaan itu tidak mudah
ya. Yang paling mungkin adalah bagaimana
produk-produk yang sudah kita buat ini
kemudian kita pakai atau kita gunakan
untuk produk-produk yang mungkin nanti
secara pasar itu bisa diterima dengan
baik. Nah, salah satunya adalah melon.
Jadi, akhirnya menjadi satu sistem
integrasi. Jadi kalau kita bisa katakan
sebenarnya mau melon, mau cabe, mau
tomat, apapun itu, itu hanya alat
konversi. Bagaimana kita mengkonversi
limbah menjadi sebuah kegiatan yang
deliverable. Akhirnya adalah sebuah
kegiatan yang bersifat premium. Otomatis
efeknya adalah perputaran uang yang
besar. Nah, efeknya perputaran uang yang
besar ini tentu menjadi bisnis yang
cukup profitable. di satu sisi kita
mempunyai kekuatannya sendiri. Kenapa?
Karena sebagian besar pupuk ini kita
produksi sendiri. Jadi kalau kita bicara
apa efeknya ketika seperti itu, yang
pertama tentu secara sosial karena
kebetulan konsep yang kita buat adalah
konsep adat karya. Tentu ini akan
menciptakan lapangan pekerjaan. Yang
kedua adalah konsep secara lingkungan.
bagaimana penanganan terhadap
limbah-limbah khususnya limbah organik
itu terjadi. Kemudian yang ketiga tentu
adalah efek secara ekonomi. Kenapa?
Karena kita bisa menyediakan produksi
itu secara konsisten baik secara
kualitas maupun kuantitas.
[Musik]
telu
saya mendengar dari beberapa teman
kemarin membeli pupuk slow rilis itu
bahkan dari luar negeri gitu dengan
harga yang ratusan ribu saya bilang kita
bahkan bisa buat lebih bagus dari itu.
Harganya tidak sampai 20% dari itu. Nah,
bagaimana kesempatan-kesempatan seperti
ini pun kita banyak melewatkan. Bahkan
sebenarnya kalau kita tanaman-tanaman
besar pun seperti alpukat, kemudian
seperti durian itu kalau dibelah secara
organik itu pasti hasilnya akan lebih
bagus. Terutama di tes terutama di
rasanya. Organik itu memiliki kekasan
rasa yang tidak dimiliki oleh kimia.
Contoh, dia lebih tahan lama dari sisi
penyimpanan. Yang kedua, dia punya
karakteristik rasa yang bagus. Kalau
misalnya kita bicara tanaman hias ya
pasti warnanya akan lebih khas. Kemudian
kalau bicara kita buah-buahan ya dia
akan lebih manis dan mungkin lebih
crunchy gitu-gitu. Kalau kita bicara
rejoam sendiri sebenarnya misinya
banyak. Pertama adalah bagaimana
kegelisahan saya pribadi dulu sama
kawan-kawan. pertama adalah berkaitan
banyak sekali teman-teman kita atau
saudara-saudara kita yang belum memiliki
pekerjaan. Kemudian yang kedua yaitu
tadi ketersimbaan limbah yang cukup
karena pada waktu itu sempat ketika TPS
piungan itu ditutup di Jogja itu, nah
itu sempat ada kebingungan ee tentang ya
pembuangan sampah. Kemudian yang ketiga
adalah berkaitan dengan bisnis. Di Jogja
ini ada satu bisnis yang enggak masuk
akal tapi terus dilakukan. Saya
kadang-kadang agak sedikit heran dengan
investor-investor ini. Saya kafe itu kan
bukan uang 100 200 juta. Enggak. Itu
uang miliaran dan dibuang begitu saja.
Kenapa kok orang berpikir model bisnis
yang kemungkinan ruginya itu besar saja
banyak investornya? Kemudian dari situ
kita berpikir, oh kita harus bikin satu
model dong yang bagus gitu. bagaimana
teman-teman investor ini mendapatkan
satu edukasi kemudian nyambung dengan
tadi masalah sosial tentang ketersaan
lapan pekerjaan, nyambung dengan
bagaimana lingkungan kemudian nyambung
dengan dan kegiatan bisnisnya itu
sendiri gitu. Jadi awalnya kita hanya
kor kita itu benar-benar di pengolahan
limbah. Kemudian ini kita konversi saja
alat konversinya apa bebas. bisa ikan,
bisa ayam, kemudian bisa melon, bisa
anggur, bisa tomat, bisa apa apapun itu.
Tapi seiring berjalannya waktu kita juga
mengadopsi isu-isu itu untuk kemudian
menjadi satu develop bisnis baru di
kita, menjadi satu model bisnis baru,
gitu. Dan ini pun kami juga terus
berkembang dengan apa? dengan
berkolaborasi tentu dengan universitas,
mungkin besok dengan perbankan, mungkin
nanti ee dengan kawan-kawan di eksekutif
maupun di yudikatif ya legislatif lah.
Karena tentu kalau ketika kita bicara
pergerakan sosial itu tentu semua elemen
itu bisa terlibat gitu.
Yang paling parah itu adalah di dunia
kosmetik. Sebenarnya kosmetik itu kita
itu letak geografis kita itu
memungkinkan 80% obat-obatan itu kita
bisa produksi. Mungkin fakta itu sudah
banyak yang tahu gitu, tapi faktanya
kita impor semua.
Itu sensitivitas kita sebenarnya. Nah,
haram sensitivitasnya untuk sementara
melo melo di Jogja sendiri kita dapat
pesanan itu hampir 10 ton, Mas, per
minggu. Untuk nila itu kita dapat 2 ton
per hari. Bayangkan saja itu bukan
bisnis kecil, itu bisnis yang sangat
besar untuk teman-teman kampung seperti
kamu. Mungkin nanti setelah ini tayang
juga saya yakin akan banyak kawan-kawan
yang mencoba untuk berkolaborasi mungkin
dari universitas atau dari kebanyakan
sih kawan-kawan yang atau bapak-bapak
yang pensiun gitu. Dan kami membuka
seluas-luasnya gitu karena bisnis itu
kan yang bisnis yang baik kita bisnis
yang berdiri di atas masalah. Jadi
masalahnya apa? Oh, masalahnya
katakanlah cabe di sini harganya
Rp50.000 terus, Mas. Enggak pernah
turun. Kalau orang pertanian yang suka
petani, wah itu cuan besar tu. Mungkin
sama pom bensin 5 masih cuan. Ini
fakta-fakta ini harusnya cukup menggugah
untuk anak-anak muda yang benar-benar
pengin menjadi seorang yang punya
cita-cita sebagai financial freedom,
kemudian mempunyai jalan ninjanya
sendirilah gitu. Makanya pertanian masih
sangat-sangat terbuka, luas sekali.
Kalau kita bicara 2011, pekerjaan saya
itu adalah kuli pasir di ini ada sungai
sebelah itu di ujung di sana. Kalau
orang warga kampung saya pasti tahu
gitu. Jadi saya memulainya itu bukan
dari nol, Mas, tapi dari minus. Jadi
bukan orang yang punya stor dan secara
pendidikan pun saya memiliki pendidikan
yang tidak tinggi. Tapi bagi saya pintar
itu bukan masalah pendidikan. Tapi
pintar itu bukan karena sekolah. Menurut
saya sekolah itu adalah tempat yang
paling ideal, paling kondusif untuk
belajar. Tapi yang membikin pintar itu
bukan sekolahnya, tapi belajarnya.
Belajar itu tempat paling kondusifnya
kan di sekolah, di universitas,
tapi juga bisa di mana saja. Jadi
kalaupun jen kuliah getol sampai dapat,
tapi ketika semangat belajarnya itu
sebenarnya rendah, hanya pengin sekedar
lulus atau hanya sekedar tidak ingin
mengecewakan orang tua padahal
ketertarikan Anda tidak di situ. Nah,
itu yang membuat kenapa ya itu tadi
lulusan pertanian enggak mau jadi
pertanian, lulusan kimia mungkin jadi
teller bank gitu. Ini kan sebenarnya kan
sesuatu yang saya bilang bisa sedikit
kacau gitu.
I. Nah, itu kenapa kita akhirnya kalah?
Padahal kita negara yang kaya. Apa sih
kekayaan Indonesia? Mungkin saya yakin
banyak yang enggak tahu. Minyak bumi
katakanlah gitu. Batuar kecil, Mas.
Dibanding dengan pertanian itu kecil.
Perputaran uang per harinya. Ya, padahal
bisnis itu soal perputaran uang, Mas.
Karena keuntungan itu biasanya didapat
dari perputaran uang. Dan bagaimana
bisnis pertanian itu gila sekali.
Misalnya dari petani Rp20.000,
mark up-nya berapa sampai ke konsumen?
Bayangkan kali sekian triliun per hari.
Nah, hal-hal semacam ini kan harusnya
kita sadari bagaimana sensitivitas kita
membaca itu.
[Musik]
Saya memandang pertanian ini tidak
sebagai satu aktivitas budidaya saja,
tapi sebagai bisnis yang autopilot.
Kemudian yang secara limitnya saya tidak
akan kasih batas limitnya. Opportunity
yang ada di Sleman saja saya yakin kami
sudah membutuhkan sekelas GM. Tidak
cukup kalau hanya manajer, harus GM.
Jadi manajer, jadi manajer kami itu ada
manajer operasional, ada manajer
infrastruktur, kemudian ada manajer
untuk bisnis development-nya, kemudian
ada manajer untuk GA dan HRD karena
higher dan juga nanti ee pemosesan
setiap e karyawan. Kemudian ada lagi
manajer di pasca produksi. Pas kenapa
kok sebutannya manajer? Karena apa?
pertama dia membawai dari sisi
marketing. Jadi di bawah dia ada semmen
marketing. Kemudian dia juga membawa
dari sisi wisata karena kita menawarkan
wisata edukasi kemudian wisata petik dan
lain sebagainya. Tentu ini membutuhkan
assistant manager secara tersendiri.
Yang ketiga adalah bagaimana kita juga
membangun dari sisi entertain-nya.
Banyak sekali kok entertain yang bisa
muncul. Misalnya mungkin orang banyak
yang penasaran kalau di tempat saya itu
banyak daun itu prosesnya sampai jadi
pupuk seperti apa. Nah, itu mungkin
secara detail itu kita k sudah jadi satu
konten yang cukup menarik itu dan
sensitivitas terhadap hal-hal yang
mungkin ada itulah yang diperlukan
sebenarnya. Dan anak-anak muda sekarang
itu saya pikir anak-anak muda yang sulit
untuk dinasihati, Mas. Tapi menurut saya
mereka itu butuh diinspirasi saja.
Mereka jalan sendiri. Mereka lebih
kreatif daripada kita. Gensi itu menurut
saya ya, saya punya lebih kreatif dari
milenial. Karena mereka lebih kreatif,
maka kalau dinasihati agak susah. Tapi
kalau diinspirasi saya yakin mereka akan
bisa menciptakan sesuatu yang lebih
bagus dari kita. Kalau manajerial
sekarang ada sekitar 16 orang.
Total semua tim di Rejo berapa?
Sementara ada 72
industri besar ya.
Enggak juga. Kalau di pertanian itu
masih raja Mas. Mungkin kalau di kafe
itu sudah besar, tapi di pertanian masih
kecil.
Dapat dikatakan besar ukurannya apa
kalau gitu? Kalau
minimal bisa memenuhi satu kecamatan lah
menurut saya. Satu kecamatan tuh
perputaran uangnya mungkin per harinya
ya. Itu sudah di atas 1,3 M. Mungkin
jenengan baru tahu juga. Coba aja di Mas
dari makan, kosmetik semualah produk
pertanian tuh sebesar itu. Jadi pada
waktu itu sebenarnya saya itu the power
of kepepet saja sebenarnya kepepet dalam
kondisi di mana teman-teman saya mungkin
di keluarga saya, orang-orang sekitar
saya itu ya banyak yang nganggur dan
banyak yang bingung kenapa. Nah, mungkin
karena saya dinilai secara public
speaking mengorganisasinya bagus,
akhirnya kan sambatnya kan ke saya. Nah,
ini terus kemudian setiap hari mencari
solusi apa toh sebenarnya bisnis bikin
bisnis apa yang kita ini semua bisa
kerja, kita semua dapat hasil gitu. Ya
tadi muncullah ide-ide itu dan mungkin
kalau orang di kampung itu saya itu
terkenalnya mungkin sebagai ahli gagal.
Karena saya itu gagal itu mungkin lebih
dari kalau 50 pasti lebih di semua hal
yang saya lakukan ya. Tanam cabe gagal,
melon gagal, lele gagal. Jadi tidak
serta-merta mencapai posisi ini itu atau
di kondisi sekarang itu berjalan yang
mudah. Tidak. Tapi menurut saya kita
usaha gagal bangkit lagi itu susah, Mas.
Tapi menurut saya lebih susah kalau
nganggur.
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Nama saya Dimas Kristi Kusap Putra
founder dari Rejo Farm alamat di Rejoani
Sariharjo, Ngag Sleman. Terima kasih dan
wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:15 UTC
Categories
Manage