Sepele Tapi Satu Kesalahan Ini Bisa Bikin Bisnismu Rugi Besar
h08fDX82YkU • 2025-09-11
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kalau kita punya bisnis apapun itu, service itu kan nomor satu. Heeh. Heeh. Handling complain juga dan bagaimana kita recovery-nya setelah kejadian. H. Yang saya amati, saya menyayangkan hotel tersebut recovery-nya lama, Mas. H. Harusnya kalau ee hotel tersebut membaca recovery yang cepat, saya harusnya diundang atau saya dilibatkan untuk recovery. Heeh. He kan begitu. Ini bukan saya mengharapkan bukan ya. Tapi ini konteks recovery ya. Karena saya sudut pandang pebisnis dan juga consulting ya. Heh. Heeh. Heeh. Gara-gara salah kata jadi malapetaka. Malapetaka. Rilate. Ada yang tadi. Relate kayak yang hotel tadi. Benar. Gara-gara salah kata sampai dijarah. Iya. Sampai demo. Ini kan kata-kata yang munculnya enggak nyampai semenit tapi efeknya luar biasa. Kenapa orang banyak salah kata? Biasanya dia terlalu emosional, tidak dipikir dulu, tidak diendapkan dulu. Benar enggak sih kata-kata yang saya munculkan? He. He. Dan perkataan itu cerminan dari tindakan sebenarnya. Nah, yang terjadi kemarin beberapa P figure itu minta maafnya kalau udah didedsak atau sampai sekarang ada yang belum minta maaf kan. Heeh. Heeh. Heeh. Minta maaf aja. Masalah dia ada sisi benarnya minta maaf. Karena apa? Maaf itu adalah bagian dari dia untuk meredam emosi, untuk dia benar-benar tawadu lagi, merendahkan hatinya, mengontrol kondisi. Ini saya mau tidur. Ada orang jenengan siapa namanya? Saya merasa terancam ini. Ini ya. Ada. Silakan sampai polisi. Silakan. Saya merasa terancam. Salah saya apa? Jenengan merasa Ibu. Salah saya apa? Jenengan kan mematuhi peraturan yang ada di sini. Salah saya apa? Salah apa? Jenengan peratuhi peraturan saya baru mau tidur dipanggilin. Salah saya apa? Jenengan silakan cek out aja. I uangnya dikembalikan dong. Silakan ke travelok loh. Udah silakan kalau uang saya balik saya check out mana? Saya tak mau cek out loh. Saya mau siap-siap. Jenengan komplain sama travelok bukan di sini. Jenengan pembayaran di sana kan kalau kalau sudah check inin enggak bisa dong bikin keluar. Ya sudah mana? Sini sini balikin Pak. Jenengan keluar aja sudah enggak mau nyaman tamu-tamu loh saya mau saya usir. Iya dengan kasar saya saya meny ya sudah kembalikan KTP saya langsung cabut. Serius saya cabut ya. Oke. Saya cek out Pak ya. Siap. Oke ya. I yes. E mudah-mudahan uang saya bisa balik. Enggak ada barang saya. Saya tidak mengambil barang satu pun. Tenang aja. Oke, dengan dibuatnya kembali video ini, saya selaku manajemen Hotel Indonesia Syariah Kota Pekalongan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pada tanggal 13 Agustus 2025. [Musik] Mas Rama, kita berdoa dulu semoga nanti diberikan kelancaran, keberkahan. Amin. Amin ya Allah. Kemanfaatan viewer yang banyak tapi membawa manfaat untuk kita semua. Bismillahirrahmanirrahim. Berdoa dimulai. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah, ini saya minder ini. Loh, kenapa Mas? Berhadapan dengan penyiar radio pada zamannya. Ya, pada zamannya. Jadi kalau ngelihat mic gini saya berasa pengin siaran, Mas. Jadi ini kalah apa ya? Kalah kayak ee aura gitu. Bisa aja. Aura host-nya kuat banget. Aduh. Tapi yang pasti saya happy lah nih di sini ya. Mas Rama, selamat datang di Pecah Telur. Yes. Terima kasih Mas Agung. Akhirnya kita bertemu lagi setelah mungkin terakhir ketemu itu di Kediri ya kita ya. Iya. Kediri. Masyaallah. Hampir ya. Dan setelah ketemu di Kediri itu ee kan jadi kenal, jadi follow-followan lah di di Instagram. Tapi saya enggak follow TikTok-nya. Betul. Heeh. Tahu-tahu ramai di TikTok. Wah lah ini kan Mas Rama. Oh gitu. Iya. Saya itu anu, Mas. Jadi kayak muncul itu loh ini kayak aku kayak tahu kayak kenal ini Mas Rama ngapain ini kok apa namanya ribut-ribut gitu loh. Jadi kaget saya Mas waktu itu, Mas. Jadi ee cukup viral kan itu kan kalau saya bilang sangat viral sangat viral karena sampai masuk ke berita nasional sampai masuk TV juga Mas. Sampahas itu ee pemberitaan. Jadi ee video saya itu di-capture. Kemudian ada yang izin, ada yang tidak izin. Kalau yang izin tuh kayak Kompas itu izin. Saya pengin upload videonya untuk pemberitaan. Terus masuk ke CNN juga. CNN izin Trans TV itu izin juga. Ya Allah, masyaallah. Ya, itu sebenarnya apa yang terjadi saat itu di Mas Rama itu? Asik. Ini saya bercerita bukan berarti saya ee belum bisa move on ya, tapi ini mungkin jadi pembelajaran ya. Oke, oke, oke. Dan ini ee kejadiannya tepatnya itu 14 Agustus. Ee singkat cerita saya dari Tegal mau ke Pekalongan besoknya mau ngisi training. Ya, singkat cerita itu sudah saya upload videonya banyak di TikTok dan sudah dipost banyak orang itu. Saya masuk ke sebuah hotel yang hotel itu dibilangnya e terlabel syariah. Makanya saya pilih hotel itu syariah. Kedua, karena hemat promo saya sudah pesan lewat aplikasi namanya Traveloka. Saya mention aja karena Traveloka akhirnya juga sudah klarifikasi gitu kan. Kemudian ee singkat cerita kena biaya tambahan. Kena biaya tambahan. Kemudian saya enggak terima kekeh eh ujung-ujungnya bla bla bla dia ngalah tapi kayak enggak terima atau apa. Ujung-ujungnya jam 11.00 malam saya diusir. E oh awalnya diterima Mas. Jadi loh diterima saya sudah checkin KTP saya itu udah dibawa dan saya udah masuk. Oh udah udah di dalam kamar sudah ganti celana pendek. Iya iya iya iya i. Nah saya ngerekam itu kan awalnya buat laporan ke PHRI karena biaya tambahan itu kan dia menyebutkan si oknum hotel itu ini adalah biaya tambahan kebijakan PHRI. PHR itu Mas Iya. Perkumpulan Hotel restoran Indonesia. Oh. Nah, kebetulan kan saya teman-teman dekatnya kan orang PRI banyak ya. Heeh. Heeh. Heh. Nah, kemudian video itu untuk mengklarifikasi benar enggak sih kalau ada pungutan ini. Nah, besoknya saya ditemuin sama ketua PRI Pekalongan, Mas Trias namanya. Akhirnya ngobrol. Enggak, enggak ada. Ternyata hanya agak apa ya, ghosting lah ya. Hanya memanfaatkan nama PR. Yes. Itu singkat cerita. Kemudian ya ee saya nyampahnya tanda kutip di TikTok karena saya nge-videoin yang diusir itu buat aduan ke polisi tuh. Kalau saya ada apa-apa kan saya satu lawan dua loh ya. Iya. I si baju kuning sama si bapak berkumis itu kan yang yang yang sampai ada netizen mengkaitkan dengan film one for all gitu ya kartun. Masyaallah. Bentar Mas, bentar Mas. Jadi ee kalau boleh tahu itu tambahnya kisaran berapa sih Mas sebenarnya? Kalau yang diberitakan kan sekitar Rp10.000. Iya. Sebenarnya itu enggak Rp10.000. Enggak R.000. Rp25.000. Oh, dia kayak minta tambahan begitu ya. Iya. Digenapan digenapkan menjadi Rp150.000. Saya kan bayarnya sekitar Rp15.000-an karena Oh, ada promo karena ya? Iya, saya ada promo juga. Tapi sekali lagi ini kan bukan masalah nominal ya. Iya, betul betul. Masalah prinsip gitu ya. Akad juga Mas. Akad di awal sudah clear, sudah lunas, kenapa dikasih kena biaya tambahan? Eh, enggak tahunya pasca kejadian itu banyak yang speak up ng-DM saya. He ee sampai ngomong ke saya, sampai nge-screenshot banyak bukti-bukti. He dia adalah korban-korban sebelum saya yang seperti itu. Sama persis. Oh. Dan sama juga di hotel-hotel lainnya. Oh. Tidak hanya di satu hotel ya. Iya. Dan ini pembelajarannya sebenarnya pihak hotel harus clear juga dengan pihak aplikator. Karena dia mengatasnamakan ini aplikator yang ngasih promo akhirnya komisi kita kepotong. Tapi kan kenapa yang dibubankan ke customers kan he itu kan jadi enggak fair ya. Jadi enggak clear. Iya ya. Oh alah gitu. Jadi ee jadi apa maksudnya ketika dia minta itu karena PH tadi I karena dia mengatasnakan ini ee apa tambahan biaya untuk PHRI. Tapi saya kan agak curiga makanya saya videoin di part pertama saya videoin. Oh pas part pertama sudah diideoin sebenarnya. Iya part pertama sudah saya videoin saat saya ngobrol lewat telepon dengan si orang yang mengatasnamakan atasan atau siapa gitu kan yang mungkin berkumis itu kali ya yang ibu-ibu. Yang ibu-ibu ya. Nah, kemudian ngobrol gitu di part pertama sudah saya videoin. Nah, video itu muncul saat dia sudah mengatasamakan ini karena uang dari Pak RI. Nah, ini saya spontan buat bukti nih. Tapi saya masih kode etik loh. Sampai itu pun ngomong, "Bu, ini izin saya rekam ya." Oh, enggak apa-apa silakan. Kode etik jurnalistik berani dia ya. Dia enggak takut viral. Dia berani. Oke, silakan silakan. Udah ketemu, sudah akhirnya berdebat, berargumen. Saya dapat sudah boleh masuk ya. Eh, apa udah boleh masuk diantar sama Bellboy-nya. Udah. Aduh. Oh, berarti udah lolos tuh. Udah lolos. Sudah boleh masuk. Udah. KTP saya sudah dibawa juga. KTP dibawa. Tiba-tiba jam 11.00 malam digedor dua orang. Blek blek ble dekg dek dek. Ya, intinya saya sudah mengganggu ketertiban. Ee saya tidak sesuai dengan aturan perusahaan. He. Dan itu GM-nya dan security-nya. Oh, yang baju kuning tuh GM. GM-nya. Yang kumisan itu security. Yes. Ee sebelumnya enggak menghadapi dua orang itu. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dua orang. Tetapi yang ibu baju kuning tuh sebelum saya memvideokan dia sempat datang dengan Bellboy. Intinya pengin ngejelasin tetapi saya bilang, "Bu, saya sudah istirahat pengin istirahat saya capek." Itu yang tidak terekam. Heeh. Heeh. Yang ee apa namanya? Hidden story-nya itu tidak terekam. Tapi kan poinnya adalah Bu, saya benar-benar mau isyarat. Saya enggak mau ngomong sekarang. Kalau mau besok. Iya. I mungkin karena dia Heeh. Ya, bayangkan loh, Mas. Heeh. He. Terus ada yang bilang, "Kenapa saya milih hotel itu enggak hotel banyak yang lebih mahal, lebih apa, lebih apa?" Sekali lagi mungkin ini caranya Allah. Saya lihat di Travela, kenapa saya pilih hotel itu. Bukan masalah saya pengin mahal atau tidak. Karena jam .00 pun saya harus check out kan. He. Saya juga enggak mau ngambil breakfast. Saya jam 11.00 sudah ee check in, jam 10.00 sudah check in 10. 10 malam. Jadi menurut saya buat transit tidur aja lah ya. He gitu sih. Iya. Ya, kalau setahu saya memang kan yang ibaratnya lolos di aplikasi Traveloka harusnya kan sudah kayak enggak ada pungutan-pungutan tambahan. Sepakat? Iya. Jadi apapun hotel yang kita pilih berarti kan sudah clear harusnya. Benar. Benar. Benar. Dan kerennya lagi pasca kejadian itu pihak Traveloka itu email saya, ng-DM saya juga klarifikasi minta maaf dan dia akan memberikan semacam edukasi buat pihak hotel. He. Kemudian saya dikasih voucher. Hm. Hm. Enggak masalah nominal vou yang besar, tetapi ini sebagai bentuk recovery atau handling complain yang baik. Hm. Ini harusnya bisa ditiru nih. Iya. I dari aplikasinya. Iya. Ya, menarik ya, Mas ya. Nah, jadi waktu malam itu akhirnya Mas Rama beneran dikeluar, diusir begitu ya. Iya, beneran diusir. Terus saya akhirnya pindah hotel. Pindah hotel yang di video ke berapa ya? Keempat kalau enggak salah. banyak serinya ini karena saya sengaja kan ee part part part part part part part ya iya iya di TikTok juga enggak bisa panjang ya bisa panjang cuma memang audiensnya suka yang iya nah saya pindah ke hotel tersebut sampai ada netizen namanya netizen kan berak ngomong ya wah ini settingan ini PR-nya hotel yang ini nih saya dibilang marketingnya enggak tapi itu hotel yang beneran syariah dan saya random aja tiba-tiba ke hotel itu berhenti di tempatnya dan saya langsung ke depannya resepsionis baru pesan Travelok jadi fair Mas, saya boleh ya pesan lewat Traveloka? Heeh. Oke, boleh saya pesan ya karena di Traveloka lebih murah. Oke, silakan Pak. Fair gitu kan. Ya udah nginp di sana. I dan hikmahnya hotel yang saya nginp yang kedua itu jadi rame. Oh, hotel apa itu, Mas, yang jadi PR-nya? Jangan, jangan disebut nanti jadi malah jadi bukan, bukan ketahuan malah jadi beneran diing dikira. Iya. Tapi menariknya gini, Mas. Ini gimana gimana tuh ownernya hotel tersebut? Yang kedua, K itu juga punya hotel besar, jaringan internasional. Oke. Ee dia punya hotel yang sama, yang lebih besar lagi. He. Saya kemudian dihubungin sama manajernya untuk dikasih voucher silakan mau menginap kapanpun. Oh, heeh. Jadi ngajak keluarga boleh mungkin sebagai bentuk terima kasih ya. Tapi bukan menginap di hotel yang itu, di hotel satunya yang lebih bagus, yang lebih berpintah. Di lokasi cam di Pekalongan juga. Masyaallah. Jadi banyak hikmahnya ya. Banyak hikmah. Banyak banget. Hikmah tuh banyak banget, Mas. Oke, Mas. Kalau melihat jadi Mas Rama ini kan juga seorang mentor, trainer juga, pebisnis juga begitu ya Mas ya. Kalau melihat dari hikmah yang Mas Rama ee apa alami waktu itu, apa Mas yang bisa jenengan share ke teman-teman? Oke, jadi ada dua poin ya, poin ee spiritual dan poin secara psikologis. Nah, kita bicara spiritual menarik. Oh, asik. Oke. Jadi, Allah itu pasti akan menguji umatnya berdasarkan apa yang menjadi kemampuannya. Karena sebelum saya ee datang ke kasus diusir itu sebulan yang lalu di kejadian itu, sebelum kejadian itu saya menulis buku namanya Yuk Berani Bicara, ebook. Oke. Yang buku itu menceritakan bagaimana kita berbicara, terstruktur, punya cara hingga punya makna dan punya adab. Itu poin pertama. He ternyata saya diuji untuk mempraktikkan isi buku itu mungkin kan begitu ya. E hikmahnya yang check out banyak setelah itu. Ini sekali lagi hikmah ya seperti yang di kaos itu yaani bicara. Oke. Oke. Iya. Iya. Terus yang kedua adalah secara psikologis saya diuji bagaimana kita bisa membuat diri kita menjadi tenang di saat menemukan atau menghadapi situasi segenting apapun, sekres apapun. Di situ saya sampai dibilang netizen soft spoken. Ini yang bilang netizen. I dan entah kenapa saya bisa setenang itu saya istigfar walaupun dalam batin saya tuh sudah deg-degan gitu kan ya. Tapi masyaallah Allah ngasih kekuatan ke saya. Saya bisa tenang dalam menghadapi ujian itu. Nah, jadi sampai dibilang ini kalau aku jadi bapaknya, jadi emnya aku bakal marah-marah nih. Wah, jangankan gitu. Istri saya aja mungkin marah-marah kan. Iya, iya. Iya. Jadi seperti itu. Ih, hikmahnya banyak banget, Mas. Dan kita dibanting dulu untuk melenting. Oh, dibanting untuk melenting. Itu hikmah spiritual. Jadi karena Mas Rama seb se seb apa sebelum kejadian itu pernah menulis sebuah keilmuan yang dirangkum menjadi sebuah temayuk berani bicara itu. Maka Mas Ramah diuji. Benar. Benar. Benar. Benar. Benar. Perspektif yang menarik sebenarnya. Iya. I. Oke. Yang lain, Mas. Yang lain. Oke. Kemudian ee hikmah yang kedua adalah ternyata netizen Indonesia itu solid. Oh, gitu ya. Dan viral itu nyata, Mas. Viral itu nyata. Iya, viral itu nyata dan saya merasakan efek viral ternyata. Gimana? Apa itu efeknya? Jadi follower saya di TikTok kan sebelumnya itu 26.000,7 ya, 26.000an. Per hari ini tadi saya cek udah Rp15.000. Oh, naiklah ya. Naik naik banget. Jadi naiknya banget gitu ya. Dan di saat saya ada orang yang ah itu cuma R.000 aja bla bla bla. netizen itu nyerang si orang yang itu. Jadi saya itu malah justru punya punya orang-orang yang membela saya gitu. Iya. Iya. Dibelain gitu. Dibelain. Jadi yang mereka ribut sendiri. Iya. I dan saya ngerasain ternyata saya bisa masuk lambetura. G masuk Lambetura juga. Lambetura City the Insider. Detik Kompas sampai masuk TV. Dan masuk TV itu tahunya malah dari teman saya tu. Mas Pak Masuk TV. Masuk TV. Ya Allah. Ini masuk TV-nya kalau sebuah prestasi saya apa ini diusir gitu loh ya. Berawal dari diusir menjadi sebuah prestasi yang nyata. Masallah sampai ada yang bilang wah salah ngusir orang dan sebagainya. Masyaallah itu argumen dari teman-teman. Termasuk Mas Agung ee tiba-tiba WA saya. Masyaallah Mas main yuk. Kok ramei-rame Mas? Ini apa ini, Mas? Itu iya i ya. Jadi, jadi banyak sekali hikmah dan sekali lagi saya pun akhirnya membuka pintu tangan terbuka untuk berdamai. Hm. Pihak hotel meminta maaf walaupun secara langsung dia pihak hotel itu belum nemuin saya sampai sekarang. Minta maafnya gimana? Berarti lewat tim saya WA dan mereka juga membuat klarifikasi video sampai dua kali karena klarifikasi video pertama itu masih denial didatangin orang PHRI. Bukan gitu cara klarifikasinya. Harus mengakui permintaan maaf secara tulus. dan yang kedua didampingin oleh pihak PR dan juga dinas terkait. Nah, akhirnya klarifikasi minta maaf. Tapi masalahnya begini, Mas. Ini pelajaran buat semuanya ya. Termasuk saya sebagai pemilik bisnis nasihat ya. Kalau kita punya bisnis apapun itu, service itu kan nomor satu. Heeh. Heeh. Handling complain juga dan bagaimana kita recovery-nya setelah kejadian. Hm. Yang saya amati, saya menyayangkan hotel tersebut recovery-nya lama, Mas. H. Harusnya kalau ee hotel tersebut membaca recovery yang cepat, saya harusnya diundang atau saya dilibatkan untuk recovery. Heeh. He kan begitu. Ini bukan saya mengharapkan bukan ya. Tapi ini konteks recovery ya. Karena saya sudut pandang pebisnis dan juga consulting ya. Heh. Heh. Heeh. Ya. Ibaratnya kalau Mas Agung punya usaha ada orang komplain kan penginnya langsung handling complain kan. Betul. Betul. Recovery gimana caranya dikasih komplimen kan. Nah ini enggak. Hmm. Dia recovery sendiri gitu. recovery malah dia ee apa ya buat postingan-posingan terus sampai di TikTok itu harganya kemarin satu malamnya sampai Rp45.000 ee diobral gitu kan diobral gitu ya. Oh ini recovery-nya lama kalau kayak gini gitu harusnya mengundang katakanlah cara cara recovery yang cepat mengundang orang yang bersangkutan untuk datang lagi. Apa namanya Mas? Eh hotelnya apa nama omban apa strategi handling complaint. Handling complain. Jadi handling complaintnya harus bagus. recovery-nya harus cepat dan melibatkan orang yang bersangkutan. Oh, iya. I harusnya seperti itu. Apa yang terjadi setelah ee viral kejadian viral itu di hotel tersebut, Mas? Ee saya ini membaca ya ee hotel tersebut namanya sampai berubah dirubah menjadi hotel gaib Indonesia sampai diserang bintangnya sampai 1 koma. Sekali lagi saya enggak expect ya maksudnya enggak nyangka se solid itu netizen Indonesia dan hotel gaib ya sekarang namanya. Tapi kayaknya udah berubah lagi. Udah berubah lagi dan bintangnya udah 3 koma. Enggak tahu strateginya seperti apa. Kok cepat banget ya loh yang satu itu bisa cepat 3 koma kok. Ini permainan review bisa secepat ini ya. Dulu sampai 1 koma ya. 1 koma Mas dan sampai 17.000 kalau enggak salah yang review itu ya. Iya. Oh. Dan sampai ada yang laporan TikTok saya. Saya kenal aja enggak. Lapor dan bintang sudah satu. Ini fakta. Ya Allah. Saya kenal enggak? Terus ada yang bilang, "Pak, ini saya sudah ng-review." Lapor, lapor. Padahal saya enggak kenal semuanya. Masyaallah. Kayak solid gitu ya. Solid banget ya. Ya, ini mungkin yang relate dengan kondisi Indonesia sekarang. Makanya sekarang juga ketika ada isu apa maka sangat solid juga, Teman-teman. Iya. Iya. Iya. Benar. Benar banget. Benar banget. Berarti dari kata yang salah bisa jadi malapetaka ya, Mas ya. Asik. Begitu ya. Kesalahan kata bisa menimbulkan malapetaka. Benar, benar, benar, benar. itu itu memang kita k hati-hati banget karena si security-nya pun mengatakan ini yang saya kutip ya, saya usir Anda dengan paksa, dengan kasar apa dengan paksa ya saya lupa. Itu kan sudah diclear yang sangat salah kan. Iya iya. Heeh. Nah, terus si ibunya malah memvideo saya balik. Iya iya kan itu ada video. Iya. Aduh sambil joget-joget. Masyaallah. Aduh aduh. Iya iya iya i. Oke. Oke. Nah, berarti juga apa ya kalau dalam kondisi seperti itu bagaimana kita kayak menguasai emosi, Mas. Jadi, kan kadang-kadang seperti itu ya, emosi kita yang mengambil peran kita ya untuk bagaimana kita katanya jadi enggak terkontrol. Terus itu kalau di diajarin juga di ebook yang Mas Rama bikin. Iya, diajarin. Jadi, manusia itu kan secara karakter berbeda-beda ya. Dari pendekatan Stepin, DIS, C itu kan beda-beda karakternya. Jadi semuanya tidak bisa disamakan. ada yang berapi-api ngomongnya, orang yang domin yangu itu beda-beda. Tetapi poinnya adalah di saat kita dihadapkan segala situasi, kalau pandang psikologi kita bisa makai yang namanya teknik pernafasan, mindfulness. Oh, makanya kalau ada orang emosi biasanya apa? Duduk dulu, tarik nafas dulu. Oh, kan begitu kan? Tarik nafas dari hidung, ngeluarkan lewat mulut sampai ada trainingnya juga kan seperti itu. Mindfulness. Kemudian yang kedua, kalau dari segi agama, orang kalau marah-marah berdiri suruh duduk. Heeh. Heeh. Heeh. Suruh wudu. E betul. Suruh wudu. Iya. Iya. Benar kan? Suruh minum dulu. Iya. Iya. Jangan orang nangis malah dibilang udah enggak usah nangis. Salah kan? Iya. I iya iya. Orang lagi marah-marah jangan bilang udah enggak usah marah. Ditempeleng. Jadi harus duduk dulu. Kayak gitu ya. Jadi ee secara singkat itu bisa dilatih dengan pernafasan. Kalau lagi kalau enggak bisa duduk atau enggak bisa minum itu benar pernapasan. Dengan mengatur nafas. Saya ngatur nafas. Hm. Emang degdegan, Mas, saat itu taruh naas dan mindset saya dirubah. Mindset saya begini. Sesimpel itu. Saya mindsetnya dua orang ini bukan tandingan saya. Di saat saya bilang dua orang ini bukan tandingan saya, saya menganggap kita ada gap di sini. Ya udah saya enteng aja. Karena kalau saya menganggap itu tandingan saya dan saya meladeni, yang terjadi apa? Saya capek, Mas. Iya, gitu. Oh, jadi ada mindset juga dia bukan tand bukan tandingan saya tandingan saya. Yes. Ses it bukan, bukan musuh gitu ya. Bukan musuh yang harus adu argumen dan sebagainya. Yes. Saya enggak mau ngelawan mereka. Tapi setelah ini mungkin akan ada efek atau balasannya. Itu efek balasannya itu mungkin imbas dari kejadian itu. Dan ternyata benar. Hm. Saya percaya kan semua apa yang kita perbuat pasti ada impact-nya kan. Ada. Heeh. Ada impactnya, ada balasannya. I ya. Ya. Ya. Begitu Mas. Menarik ya, Mas ya? Menarik. Iya. Iya. I iya iya. Jadi kalau ngatur nafas itu maksudnya nafasnya dipelanin gitu ya, Mas ya. Jadi gini, kalau secara nafas itu kan banyak teknik ya. Salah satunya teknik. Makanya orang kalau pengin tarik nafas tuh tarik lewat hidung, tarik empat kali kemudian hempaskan di mulut hempaskan empat kali pakai pernafasan perut. Kan saat saya dulu zaman siaran, bagaimana suara menjadi bulat agar kita enggak nervous, bagaimana saat di panggung kita bisa menjadi rileks. Itu kan ada teknik pernapasan. Bagaimana mood booster dan sebagainya. Ya, gua jadi training nih. Sepil dikit lah untuk penonton pecah telur. Iya iya iya iya. Penonton pecah telur. Kalau orang yang suka berkomunikasi namanya komunikator. Kalau pecah telur orang-orang yang terlibat di pecah telur namanya petelur. Karena dulu waktu saya bikin apa ee branding di mobil ini, Mas, jualan telur ya? Benarbenar. Iya iya iya. I Oke, Mas ee kita kembali lagi yang lain gitu ya. Jadi, Mas Rama ini kan apa selalu berkeliling kalau saya lihat ya di sosmet-nya aktif juga di beberapa menjadi pembicara dan sebagainya. Ada juga bebisnis. Kalau boleh Mas Rama ini mendefinisikan sendiri apa kayak diri sendiri itu loh, Mas. Oke. Ee suka yang mana atau disebut apa sekarang, Mas? Oke. Kalau saya mendefinisikan tiga kata kunci saya, siapa Rah Sahid dan kalau orang Google siapa Rama Sahid gitu ya. Muncul seorang profesional trainer, consultant, dan entrepreneur. Hm. He. Jadi kata kunci yang pertamaal trainer dan juga consult baru entrepreneur di nomor ketiga. Yes. Karena entrepreneur ini kan saya couple bisnis juga dengan istri kan. H karena ee jadi professional trainer, consultant, entrepreneur. Jadi ibarat apa ya dari tiga bidang yang Mas Rama tekuni itu atau sekarang dijalani itu yang paling senang berarti yang dua awal. Yes. Dua di awal karena disebutkan di awal ya. He. Ee disebutkan di awal karena ini bagian dari passion. Saya itu kan traveling ya. Passion ya Mas ya. Passion. Passion. Hmm. Haleling. Heeh. Padahal aslinya saya orang introvert kan. Oh oke. Jadi traveling training. Jadi bagi saya para trainer itu bilang training itu bagian dari healing. Sebenarnya training bagian dari healing gitu ya. Iya kan kita ngomong ke orang sama aja kan kita semi curhat. Tapi agak agak bertolak belakang ya Mas menurut saya ya saya pahami. Jadi kadang-kadang orang introvert he setelah training itu energinya habis Mas. Sepakat saya kalau habis training, saya diajak jalan sama siapa klien atau apa, saya tuh milih di kamar, di hotel, tidur atau enggak saya buka laptop doang. Oke. Energinya, energinya cepat habis di situ. Dan orang introvert itu cenderung temannya enggak banyak, tetapi sekalinya punya teman dia berkualitas. Oke. Menjaga hubungan pertemanan itu. He. Nah, gitu. Tapi dikatakan tadi kayak ngisi training, tapi kok healing gitu. E energinya kan banyak keluar. Jadi artinya healing itu begini, karena salah satu cara orang merilis emosi itu salah satunya dengan bercerita. Oh, jadi curcol gitu ya. Iya. Makanya podcast pecah telur kalau hostnya Mas Agung, Mas Agung lama-lama awet muda nih karena bercerita terus. Oh, gitu kan. Laki-laki mengeluarkan 7.000 kata. Nah, perempuan 21.000 kata. Jadi kalau Iya. Jadi kalau istri pengin cepat merilis ya diajakin podcast aja. Cohost. Id baik itu. Iya. Saya belum podcast sama istri saya. Saya ajak podcast kalau gitu. Nanti namanya bukan pecah telur, retak telur. Jangan nanti jadi pecah ranjang nanti salah ngomong. Iya kan Mas Agung nih aslinya bocor ini ya. Saya ketemu pertama nih kayak pendiam gitu ya. Oh dulu ya. Dulu capek kali Mas. Oh capek. Introvert juga. Jangan-jangan saya itu kalau tes STVIN strovert Mas. Oke. Cuma teman-teman saya introvert terus sekarang ada yang mendefinisikan saya sampai ini ambivot Mas gitu. Oh ambivot. Kan karena mungkin dari darahnya saya kan AB. Oh iya ya ya. Introvertnya dari darah. Terus habis itu kemudian kalau dari stepin strovert. Benar. Benar. Benar. Nah bisa jadi berarti ee bisa jadi bocornya ini karena ketemu orang-orang yang mungkin tertentu ya. Oh iya. Ketemu Mas Rama. Waduh. Iya iya iya iya iya. Oke Mas. Jadi tadi kan seorang profesional trainer dan juga seorang konsultan. Konsultan. Nah apa yang Mas Rama ee bidangi? Oke. Kalau bicara konsultannya, He. Konsultan saya itu fokusnya di bidang komunikasi. Oh, relate ya berarti. Iya. Iya, relate. Karena dulu perjalanan saya di radio, kemudian di TV. Saya pernah mimpin perusahaan juga sekarang menjadi pengusaha. Artinya komunikasi ini bukan bicara basic public speaking. Iya, dulu basic banget. Tapi komunikasi lebih bagaimana membangun komunikasi dengan tim, dengan atasan, dengan klien, bahkan dengan konstituen. Kenapa saya bilang bahkan dengan konstituen? Karena di kemarin sebelum Pilkada di era Pilkada kemarin, saya alhamdulillah diberikan diberikan kesempatan mendampingi beberapa calon pejabat, calon pemimpin daerah. Ada yang jadi, ada yang tidak. Tapi alhamdulillah kebanyakan jadi itu ngebangun dari basic yang cara berkomunikasi sehingga dia bisa diterima muncul personal brand-nya, muncul bagaimana dia bisa di ee percaya orang. Itu kan berawal dari komunikasi. Betul. Betul. Gitu. Kalau kita lihat hari ini lagi ramai-ramai demo dan sebagainya kan juga gara-gara gagal komunikasi Mas public figure kita. Iya betul. Para pemangku kebijakan itu kan ngomongnya aja yang ngomongnya salah gitu. Iya iya iya iya benarbenar. Jadi sepakat sepakat banget gara-gara salah kata jadi malapetaka. Malapetaka relate ada yang tadi relate kayak yang hotel tadi. Benar. Gara-gara salah kata sampai dijarah. Iya, sampai demo. Sampai demo. Ini kan kata-kata yang munculnya enggak nyampai semenit, tapi efeknya luar biasa. Kenapa orang banyak salah kata? Biasanya dia terlalu emosional, tidak dipikir dulu, tidak diendapkan dulu. Benar enggak sih kata-kata yang saya munculkan? He. He. Dan perkataan itu cerminan dari tindakan sebenarnya. Perkataan. Oke. Iya kan? Heeh. Heeh. Heeh. Gitu. Iya. Dulu kan ketika ada saya ee ingat juga katakanlah ada perbincangan Nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sama sahabat. Iya. Jadi waktu itu apa yang seharusnya Nabi marah tapi dia justru enggak marah dan yang ada di luar ee teko adalah cerminan dari yang di dalam teko. Sepakat? Sepakat ya Mas ya? Betul. Saya lupa tadi nak kejadian detailnya kira-kira seperti itu. Benar. Benar. Benar. Benar. Benar. Dan ternyata kalau kita mudah salah kata, cara yang paling mudah sebenarnya kita tuh langsung meminta maaf. Oh. Nah, yang terjadi kemarin beberapa figure itu minta maafnya kalau udah didedsak. Heeh. Atau sampai sekarang ada yang belum minta maaf kan. Heeh. Heeh. Heeh. Minta maaf aja. Masalah dia ada sisi benarnya minta maaf. Karena apa? Maaf itu adalah bagian dari dia untuk meredam emosi, untuk dia benar-benar tawadu lagi, merendahkan hatinya, mengontrol kondisi. Nah, seperti itu kan? Iya. Iya. Nah, penting itu. Oke. Oke. Nah, ini masalahnya public figure ada yang sampai sekarang minta maaf aja belum. Iya. Klarifikasinya belum kan begitu ya. Rata-rata memang ya itu tadi minta maafnya setelah terdesak dan itu mungkin kalau dari kita menilai kan ya terpaksa gitu ya. Walaupun juga mencoba untuk tidak terpaksa secara mimik muka. I. Oh iya. Jadi jadi seperti itu ya Mas. Jadi e fokus di komunikasi ya konsultasi ya. fokus komunikasi dan juga super tim karena kan saya juga nulis buku sama sahabat saya Ridwan Abadi dan juga e Mas Joko, Coach Ridwan sama Koko. Buku Super Team Super Productivity. Oke. Ini ngebangun tentang bagaimana kita nge-develop tim. Saya bicaranya dari sudut pandang pendekatan komunikasi kan begitu. Super team ya, Mas. Supertim dibangun dari pendekatan komunikasi. Iya. I. Jadi ada banyak pendekatan salah satunya saya ngebangunnya dari pendekatan komunikasi. Gimana itu, Mas? Bisa dikasih simpel enggak, Mas? Jadi artinya begini, komunikasi itu kan sederhana ya. Kalau kita filosofikan, definisikan secara sederhana, komunikasi itu kan muncul karena ada yang berbicara dan ada yang mendengar. Betul. Nah, kayak kita ngobrol nih, di saat satunya berbicara, satunya bukan diam, tapi mendengar. He he. Kalau diam berarti dia pasif, kan? Mendengarkan itu kan diam, kan, Mas? Beda ya? Iya. Artinya mendengarkan dengan diam beda. Kalau mendengarkan dia berarti harus menjadi orang yang active learning eh active e listening. Active listening artinya aktif listening kalau diam itu kan begini. Saya ngajak ngobrol Mas Agung nih. Mas Agung cuma diam begini nge-freze. Ini diam tapi belum tentu dia dengerin. Dia lagi traveling pikirannya ke mana-mana i dia enggak enggak sedang di situ. Yes. He. Fisiknya di situ tapi pikirannya ke mana-mana. Nah, tapi kalau orang yang listening dia memberikan respon, memberikan feedback. Gimana responnya? Ngangguk. He. Terus dia bisa berempati. Karena level of listening pun ada lima tahapan. Oke. Menarik. Wah, menarik kan? Ada lima tahapan sampai yang tahapan terakhir adalah empatic listening. Empatic listening. Yes. Orang kalau empatic listening, Mas, saya menceritakan tentang masa lalu. Misalkan saya dulu pernah dibully, orang tua saya ada masalah atau apa, dia bisa nangis, Mas. Nah, itu empatik banget. Oh, itu bukan cengeng ya, tapi empatik. Iya. Nah, ini mumpung bahas itu, ada beberapa pertanyaan yang enggak bisa saya jawab, Mas. Jadi begini, Mas. Kenapa orang rata-rata diinterview sama pecah telur rata-rata kok nangis? Orang diinterview pecah telur kenapa dia nangis? Nah, yang rata-rata di dokumenter kan kalau kalau podcast ini kan berbeda, Mas. Kalau podcast kan kita aktif berbicara, dengerin, nimpalin dan kemudian berbicara. Nah, di dokumenter yang kemudian rata-rata orang nangis, "Kenapa ya?" Terus tak pikir kenapa ya saya kok ee kok narasumber nangis? Memang tak lihat rata-rata itu yang nangis duluan saya, Mas. Oh, gitu. Iya. Jadi ee tadi serilate juga dengan ilmu yang Mas Rama mungkin saya empat listening tadi kayaknya. Benar, benar, benar. Jadi saya misalnya misal Mas saya kejadian itu di Mas Sabtu katlah yang temannya Mas Rama, Mas Sabtu hari bercerita jadi ee dia dulu dulu enggak bisa katakanlah susah ada jarak dengan anak kemudian dia beli bisa beliin sepeda. Wah senang Mas gitu saya nangis Mas dengerin gitu ya. Nah gara-gara saya nangis berkaca-kaca sambil lihatin Mas Sabtu berbicara dia ikutan nangis. Salah satunya itu salah sat itu empat listening. Oh gitu ya. Iya jadi gitu. Itu bukan cengeng Mas empatik. Oke, terima kasih sudah memilih saya. Iya, ya. Ini ee merendah untuk meninggi ya. Tapi benar, benar pokoknya begitu sampai orang nangis dan dia teringat masa lalunya, bagaimana perjuangannya. Betul, betul, betul, betul. Ya, ini bukan cengeng, tapi ini bagian dari empatik dan dia mengingat bagaimana dulu perjuangannya yang relate dengan kondisi sekarang. Heeh. Heeh. Jadi makanya Mas Agung tuh sudah menggugah orang lain dan bisa jadi nangisnya Mas Agung, pertanyaannya Mas Agung itu ada makna di situ. Kadang orang berbicara tapi enggak pakai makna. Hm. Ya kan? He. Nah, makna itu yang semua orang enggak bisa. Wis asik nih. Saya jadi anu ya dapat kuliah gratis ya. Iya. Oh, gitu ya, Mas. Jadi iya iya saya tadi sudah ee ada perbedaan ternyata diam sama mendengarkan berbeda. Mendengarkan pun juga ada beberapa level ternyata. Benar. Iya. Saya kalau training selalu bilang gini, oke misalkan ada presentasi baik ee kita ada grouping gitu. Saya selalu bilang ke peserta, "Baik kalau prinsip komunikasi satunya berbicara satunya apa?" Rata-rata selalu bilang diam. Terus saya bilang salah Bapak Ibu, yang lainnya mendengarkan. Oke. Ya kan definisi diam kan beda kan sama mendengarkan begitu. Iya. Iya. ilmu baru, ilmu yang sudah saya ee alami saya tapi saya enggak enggak ngerti definisinya. Nah, karena pelajaran hidupnya Mas Agung sangat lebih berharga, artinya sudah mempraktikkan. Mahal loh ini. Ada ada juga ee Mas katakanlah situ ada seorang sosok namanya Mas He siapa namanya yang berburu mobil impian? Mas Mas Mahid. Saya itu diinterview nangis baru kali ini. Oh, gitu. Jadi sampai bikin story gitu setelah setelah interview. I iya. Oh, gitu ya. Terus ada juga ada namanya Mas ee Arli. Mas Oh, Mas Arli Kurnia. I kan punya teman namanya Mas. Bung Afan. He Bung Afan itu kalau kata Mas Arli hatinya keras gitu, jarang nangis. Terus ee kan itu temannya Mas Arli. Terus habis itu habis interview saya ee mainlah ke tempatnya Mas Harle. Iya. Ah, Bung Afan nangis kok. Apain, Mas? Bung Afan nangis. Iya ya. Aku cuma interview, tanya, dengerin, tak timpalin, Mas, gimana seterusnya. Dia sampai nangis. Wih kok apa sampai waktu itu kan Mas Harle juga anu sendiri, Mas pernah saya interview juga kan. Iya. Iya. Iya. Terus dia mencoba menganalisa. Ah, ini aku menganalisa kenapa kok apa ini rumusnya, apa rahasianya. Habis itu Oh, ya aku tahu, Mas. Aku tahu. Heeh. Katanya Mas Harle ini ya. Heeh. Kayaknya n pas wak poin pentingnya itu pas waktu doa. Oh. Jadi, kan kayak tadi kita mau mulai kan. Iya. Heeh. Heeh. Ee doa dulu ya. Iya. Yang benar nih. Ini jadi saya baru kali ini diajak podcast atau acara kayak gini doa dulu. Ini ini langsung deep banget loh, Mas. Oh, gitu ya. Beda ya? Beda. Oh, justru Mas kita berdoa dulu. Tiba-tiba yang tadi kita ketawa-ketawa seketika langsung set set gitu ya. Kayak beda alam gitu ya. Iya. I iya. Oh, ini yang jujur aja yang saya belum dapat di tempat lain. Oke. Oke. Masyaallah. Nah, kata Masli katanya doa. Wah, kayaknya nanti, Mas. E karena saya waktu setelah doa beda gitu yang seperti yang Mas Rama katakan. I nah gitu gitu. Dan saya lagi menganalisa ini apa ya, Mas Agung yang bikin saya banyak orang terharu ya. Saya malah langsung termainset saya ee kata menit ke berapa nih bakal nangis. Tapi kalau podcast enggak, Mas. Kalau sudah kalau podcast enggak ya. Kalau podcast enggak saat dokumenter ya? Iya, saat dokumenter. Karena dokumenter itu kalau kita kan juga itu bagian dari komunikasi ya. Iya. Iya. Tapi memang ee komunikasi yang saya gunakan saat dokumenter itu adalah mendengarkan. Yes. Jadi saya memberikan ee waktu sebanyak-banyaknya kepada narasumber untuk bercerita tanpa dijeda. Karena dokumenter itu, Mas, itu memang bisa diedit-edit kan, Mas. Jadi karena bisa diedit-edit, ya sudah nanti editor aja yang motongin ketika dia meleber ke mana-mana. I tapi kita memberikan feel yang berbeda biar dia keluar emosinya gitu. Iya. I. Iya. Jadium itu bisa 1 jam, 2 jam, bahkan ada yang 3 jam. Masyaallah. Itu nanti cuma di jadinya cuma 40 menit. Cuma Iya. I ya i dan fun fact-nya kekuatan mendengar, kemampuan untuk mendengar itu lebih susah daripada kemampuan untuk berbicara. Mas, di awal-awal saya tersiksa, Mas. Saya tersiksa. Wah, itu itu benar-benar mahal banget loh, Mas. Kemampuan mendengar itu harus diri, Mas. Har ya. Nah. Nah, kemudian kembalilah ee betul kata Mas Rama sangat menahan diri. Nah, waktu itu kan sudah era dokumenter sudah berjalan nih, sudah 3 tahun zamannya podcast. Nah, saya harus mengembalikan yang dulu. Jadi, saya enggak enggak boleh hanya mendengarkan aja karena nanti jadi kayak kurang hidup. Benar, benar, benar. Sampai saya sekolah komunikasi, Mas. Tapi waktu itu karena belum kenal Mas Rama, saya sekolah di Jakarta. Tapi memang ini masih latihan. Jadi, bagaimana biar podcastnya bisa asik, bisa hidup. Iya. Kalau saya ketemu Kak ini kayak ibarat kita sekolah gratis ini atau saya boleh nih ngelamar jadi cohost deh. Boleh nih. Cabang mana nanti pecah telurnya? Atau kita bikin anu aja pecah telur cabang Jogja. Oh boleh lu. Bener loh nih kadang kadang kadang ide itu kan munculnya dari diskusi gini kan gitu gitu karena dari dari diskusi lahirlah menyamakan frekuensi tapi dari menyamakan frekuensi muncullah inovasi tapi segeralah untuk eksekusi. Kalau kelamaan keburbasi kata-katanya. Benar ya? Apa sudah diri sebelumnya? Enggak, enggak. I ya boleh Mas nanti teman-teman kreatif dipikirin ini. Karena Mas Rama baru pindah di Jogja. Benar benar dan saya kayak flashback memori dulu saya dunia radio juga di Jogja. Mas Ram itu sebenarnya dari gimana sih secara apa secara tempat tinggal kok. Jadi waktu kenalan kan masih di Tegal. Yes benar. Jadi sekarang sudah di Jogja. Jadi saya itu kalau flashback saya lahir besar di Jogja. Saya 15 saudara lahir besar di Jogja. Tapi ibu saya orang Samarinda, ayah saya orang Banjarmasin. Tinggalnya di Jogja. Tinggalnya sudah di Jogja. Lahirlah saya dan kakak saya yang di Jogja. Kalau kakak-kakak saya enggak di Jogja. Yang tiga itu yang saya dan kakak persis baru di Jogja. Kemudian sekolah di Jogja saya bertemu istri yang senang jadi istri saya juga di Jogja kuliah. Tapi istri saya itu ibunya Bengkulu, ayahnya orang Medan. Jadi marganya Lubis. Oh. Nah, menikah. Terus setelah dari Jogja saya hijrah ke Jakarta. Dari Jakarta saya hijrah ke Semarang kemudian ke Tegal sampai Tegal resign kemudian ke sini ya. Jadi artinya ya kerjaan saya itu pindah-pindah karena dulu saya kan bekerja di dunia otomotif sebagai leader atau manager ya. Nah jadi ee mungkin saya bisa seperti ini ya karena saya sering terlalu terlalu sering ketemu banyak orang itu mungkin di situ. Iya. Iya. Berarti satu kata yang menggambarkan Mas Rama adalah Nusantara. Asik. Karena pindah-pindah ke mana-mana itu kan bukan hanya pindah tapi kan tinggal kan di benar tinggal tinggal dan anak saya yang satu kedua lahirnya di Semarang yang ketiga lahirnya di Tegal kan begitu. Oh oke oke. Sekarang pindah ke Jogja. Jogja harus ada anak lagi Mas biar ada anak yang lain. Saya sempat ngomong gitu ke istri istri saya enggak cc. Aduh ini usia sudah tidak muda lagi. Iya iya i. Tapi kalau bisnis gimana Mas? Belum belum sempat ee singgung bisnisnya tadi ya? Oke, bisnis saya Bakery Shop dulu sempat punya sate juga ya, sate Kambing Muda. Saya join sama teman saya e orang Tegal tapi qadarullah habis tutup tutup karena something gitu kan. Kemudian bakery shop-nya masih ada di Tegal. Kemudian cafee shop-nya juga ada di Tegal. H. Dulu saya pernah punya usaha 2012 punya tambak udang, Mas, di Semarang. Oh. Alhamdulillah 1 tahun bangkrut, Mas. Alhamdulillah, ya. Alhamdulillah. Karena saya ternyata enggak passionate di situ dan orang yang saya amanahin enggak amanah. Oh, gitu. Tapi yang sekarang jalan ada dua itu bakery sama coffee shop. Coffee shop di Tegal. Iya, di Tegal. Dan ini bakery shop-nya di Jogja juga. Ini baru soft opening tapi belum grand opening. Oh, namanya apa, Mas? Namanya Mimi Brownie. Mimi Brownie. Ada ee makanan-makanan seperti brownies, bowen dan sebagainya gitu kan ya. Terus saya juga kemarin diajakin teman saya untuk ngebangun tour and travel di Jawa Tengah, DIY. Oh ya, saya sebagaiounder dan saya tidak mengeluarkan modal sedikit pun karena memang kita kolaborasi ya itu. Dan sekarang saya enggak tahu kenapa kok akhir ini saya suka nulis, Mas. Padahal saya nulis itu kan bukan sebuah hobi dan saya enggak terlalu suka nulis. Nah, ini kenapa kok sekarang jadi punya suka nulis buat konten di medsos gitu? Yang salah satu yang ditulis yang tadi. Yuk, berani jara. Iya. I keren, keren, keren. Oke. Jadi kemungkinan di Jogja ini bakalan terus di situ ya, Mas? Di Jogja terus. Oke, finallynya eh karena saya kerjaannya di dunia training dan consulting, saya ngisi ke corporate itu suka di kota besar ya, di beberapa kota bahkan di luar Jawa saya muter saya lebih nyaman dan lebih ngerasa tenang kalau keluarga saya di Jogja aja karena orang tua dan mertua saya di Jogja semua. Oh. Jadi ibaratnya saya keliling-keliling anak istri di Jogja deh. He he. Nah, karena pendidikan di Jogja kan juga berbeda ya. Nah, itu jadi ee next-nya mungkin masa pensiun kami juga di Jogja. Tapi memang ee kalaupun toh saya diizinkan untuk bikin rumah, saya kok nyaman di Jogja, Mas. Di bikin rumah lagi maksudnya. Iya. I dan saya enggak tahu kok kenapa. Dan ini mungkin jawaban untuk podcast cabang Jogja. Bisa jadi. Iya. Iya. Gimana? Benar ya? Benar. Benar. Iya. Ya. Saya jadi cohostnya bolehlah. Benar. Menarik. Benar. Iya. I ya. Enggak ada kan? Enggak tahu kan ya? Ini ini relate kan? Iya. Gak bisa jadi. Karena kalau dulu pernah ee podcast sebelum ini konsepnya itu moving. He. Jadi alat-alat kita ini kita setting alat yang bisa di kita bawa moving, Mas. Yes. Yes. Jadi kayak ee TV-nya eh bukan TV ya, kayak alatnya semuanya itu sudah case berupa case-case gitu. Itu tinggal dibawa dibawa ke kota yang ingin kita tuju. Dan yakinlah sesuatu yang sifatnya moving suatu saat dia enggak mau moving lagi. Lelah, Mas. Gitu ya. Iya. Faktor usia. Iya. faktor tenaga. Nah, terus kemudian di sini, di sini. Wah, kayaknya memang betul kayaknya udah di sini aja, tapi nanti dipertimbangkan untuk I ya. Karena harus mencari daerah yang sifatnya tengah-tengah. Betul. Ee ada juga sebuah ee podcast di luar negeri yang dia itu bukan di daerah kota, Mas, ya. I. Jadi, kalau kita lihat, He. Podcast itu paling banyak kan di dari Jakarta memang dia kan pusatnya. Ya, betul. Pernah kita juga punya podcast di Jakarta, Mas. Cuma ee kurang bertahanlah saya sayanya yang kurang iya ee pengin pulang lingkungannya faktor lingkungan tuh berbeda kali ya. Iya karena keluarga enggak bisa dibawa ke sana dan timnya di sini jadi ee pengin pulanglah. Pengin kalau di sana enggak enggak betah gitu loh. I iya iya iya iya iya iya. Nah habis itu di sini. Tapi yang di podcast di luar negeri itu dia juga berasal dari daerah yang terpencil bukan daerah utama. He. Nah, dia punya kayak perwakilan di daerah-daerah yang ramai. Iya. Iya. I. Jadi, mungkin kalau kata Mas Rama yang tengah tadi tengah bisa di Jogja, bisa juga nanti di Jakarta dan sebagainya. Itu juga bisa menarik itu. Iya. Ya, itulah yang itu yang dilakukan kalau kita flashback ee saya sebut TV-nya ya. SCTV dulu kan seperti itu. STTV di Jakarta dia punya biro di Surabaya kan selalu begitu karena untuk meng-cover ke daerah timur justru malah yang hidup itu yang di daerah timurnya yang di daerah. Karena isu-isu di daerah itu kan kadang enggak nyampai ke pusat kan. Betul. Betul. Kalau isu pusat kan aksesnya gampang. He he. Nah, ya mungkin itu perlu ekspansi, Mas. Asik. Terdekatnya Jogja. Saya sangat mendukung ya, Teman-teman. Di Jogja juga banyak kan. Apalagi Jogja itu ee kayak pusatnya gitu loh. Kalau kalau kita bicara kuliner pusatnya banyaklah di Jogja. Terus pengusaha juga apalagi banyak. Kalau kita kan juga kalau pecah telur saya amati ini bergerak dari komunitas ke komunitas, Mas. Nah, apalagi di Jogja komunitasnya banyak banget. Benar. Benar. Dan saya pindah Jogja sekarang tuh alhamdulillah saya ikut ngaji ee pengajian para pengusaha. He. Itu lucunya saat saya ikut pengajian ini loh ini kan teman waktu zaman jahiliah. Dulu sempat di dunia entertain, dunia unit sekarang ngaji bareng. Jadi seru ketemu orang-orang lama semuanya. Iya. Orang lama yang dulu jahiliah bareng sekarang sekarang tobat bareng gitu ya. Iya. Iya. Tobat bareng. Masyaallah. Kalau dulu Mas katanya dulu pernah introvert. Bagaimana seorang introvert bisa jadi seperti ini gitu ya? Dulu introvert. Oke. Yes. Iya. Introvert. Jadi kalau karakteristik introvert tu tuh ya akan selamanya menjadi introvert. Tapi bagaimana yang namanya faktor lingkungan itu mempengaruhi dia. Secara genetis kan introvert tapi secara empiris, secara lingkungannya dia kan bisa berubah ya. Nah, yang membuat saya berubah pertama adalah saya ini kerja pindah-pindah kota. Oke, bertemu dengan karakter yang berbeda, etnis yang berbeda, ya. Pernah ee bekerja di perusahaan yang notep ini dipimpin sama orang Jepang, ya. Karena perusahaan ee otomotif saya ini kan dari Jepang, ya. Kemudian dipimpin orang Batak, malah istri saya orang Batak. Kemudian lingkungan yang Chinese, yang Arabik, banyak sekali. Itu membuat saya menjadi mendewasakan diri. Oke. Kemudian ketemu ee sekarang ini sebagai pengusaha ketemu yang namanya karyawan itu anak-anak Genzi. teknologi yang sekarang serba cepat semuanya jadi mau enggak memuntut kita untuk beradaptasi. He. Nah, selain itu tuntutan profesi, Mas. Artinya tuntutan profesi ya sebagai trainer, konsultan, ketemu banyak orang, latar belakang berbeda. Saya harus bisa menyesuaikan. H. Nah, kayak Mas Agung banyak podcast tamu yang berbeda. Lama-lama Mas Agung itu menjadi sosok yang tanda kutip estrovert banget. Karena itu jadi perjalanan jurni kan. Iya. Jadi jurn ekstrovert banget ya. Iya. Jadinya, kesannya kan begitu. Iya. Iya. Begitu. Jadi semua itu bisa dimunculkan karena faktor lingkungan. Oh. Dari apa yang pernah dia lalui. Yes. Betul banget. Dan siapa cennya? Kan begitu. Saya dulu e ketika ketika itu, Mas ee awalnya strovert dulu. Dulu ketika dipecah telur itu di bisnis sebelumnya strovert. He he. Habis itu dipecah telur ee bertemu dengan partner saya yang introvert juga ee agak sedikit terinfluence. He. Terus ketika model komunikasi saya yang sebanyak mendengarkan. Heh. Heh. Nah, itu semakin introvert kalau menurut saya. J semakin banyak jadi kayak saya berpikir sendiri kok saya berubah ya gitu berubah ya. Jadi ee berbeda gitu. Kalau dulu ramai sekarang Iya. Kalau saya melihatnya berubahnya ini kita mungkin enggak fair kalau mendikotomi strovert introvert. Nah, itu kan kayaknya terlalu mendikotomi ya. I ya mungkin kalau saya lihat ee sosok Mas Agung bukan menjadi estrovert introvert atau apa, tetapi Mas Agung menjadi lebih matang. Karena salah satu ciri-ciri orang matang, dia akan menjadi lebih tenang. Oh, gitu ya. Dia lebih banyak mendengarkan. Oh, gitu. Tidak buru-buru berbicara, lebih matang dalam eksekusi dan membuat keputusan. Betul enggak, Teman-teman? Terima kasih sudah saya lagi. Ini saya enggak ada maksud apa-apa ya. Kayaknya ini memuluskan untuk yang cabang Jogja. Ini bagian dari skill negosiasi, Mas. Nah, sekarang Mas saya ingin kembali lagi ke ekstrofetan karena dengan kayak gini karena waktu saya menjadi merasa merasa agak menjadi pendiam itu ketika obrolan obrolankruk itu kurang hidup apa ya obrolan jadi kayak bijijak dan sebag tapi memang kurang hidup kurang kurang hidup aja gitu. Nah, sekarang ketika ada podcast ini saya pengin mengembalikan strovert menjadi yang pas Rama bilang ekstrovert banget nanti suatu ketika. Mungkin poinnya begini, bukan ekstrovert-trangkan ya. Ibaratnya kalau dalam komunikasi ini kan ada yang namanya orang gap communication, gap generation. Oke. Oke. Nah, bisa jadi orang yang diajak bicara sama Mas Agung sekarang ini bukan generasi Mas Agung, tapi generasi di bawahnya bisa Genzi atau gen alpha yang selalu bilang tung tungt tung sahur gitu. Iya. I iya kan? Artinya apa? Mungkin bijaknya ini ya karena pendewasaan diri. Oke. Jadi setelah pendewasaan di kalau teorinya itu kan paling puncak aktualisasi diri kan. I nah artinya orang-orang yang di bawahnya ini secara generasi sudah terjadi gap berbeda ya begap. Nah kemudian gap communication pembahasannya sudah ngomongin soal dunia politik soal ini. Yang lainnya masih ngomongin soal dunia arisan gitu kan. Oke. Ee atau apa mungkin itu bisa menjadi sebuah pendewasan diri. Menarik. Menarik. Mas. Saya kembali lagi ke kaos yang Mas Rama pakai ini. I asal dari kata yuk berani bicara itu dari apa sih dulu kok mencetuskan yuk berani bicara itu? Yang pasti definisi yuk berani bicara itu dari kata bicara. Artinya bicara ini kan saya bicara kan melekat dengan kata-kata komunikasi ya. Bagaimana orang bisa berani speak up ngomong tetapi harus bicaranya sesuai dengan struktur delivery-nya baik dan dia bisa menjadi sosok yang menyenangkan, diterima, dan punya cara dan juga adab. Yang pasti. Nah. Nah. Kemudian kata-kata berani. Kadang kan banyak orang enggak berani, Mas. Heeh. He. Orang gagal berkolaborasi karena dia enggak berani ngomong. Gagal menikah karena enggak berani ngelamar. Ya kan? I ada yang kena nih, Mas. Iya. Makanya senyum-senyum ya. Masalah ditolak nomor dua. Berani. Iya. Yang penting berani dulu. Berani dulu. Oke. Justru bisa jadi karena orang ini berani malah mendapatkan simpati bahkan empati. Wah, gitu kan. Dan empati yuk. itu kata ajakan yuk berani bicara dan saya terinspirasi Mas Jay juga kan yuk bisnis gitu kan ya. Nah yuk berani bicara yuk sesimpel itu aja dan ini menjadi gerakan buku dan insyaallah menjadi gerakan. Oh gerakan ya. Heeh. Gerakan bagaimana ingin mengajak orang salah satunya live media sosial dan nanti kita akan membuat acara-acara training, acara-acara ke komunitas yang sifatnya feel free. Gimana ngajakin orang dan ini beberapa orang sudah menyambut baik gerakan ini. Gerakan berani bicara berarti ya. Yes, betul banget. Hm. Bisa jadi bapak-bapak berani bicara karena bagaimana bicara ke istrinya takut. Oh, berarti konteks bicara itu gimana ya, Mas? Berarti konteks bicara itu jadi konteks bicara itu bagaimana berbicara berdasarkan fakta data, tidak hanya berdasarkan asumsi. Karena banyak orang ngomong cuma pakai asumsi persepsi doang, tapi enggak pakai data dan fakta. Ya. Kedua, bicara yang penuh makna. Jadi, bicara it
Resume
Categories