File TXT tidak ditemukan.
Transcript
7-tGnrN4qqk • Bangun Cafe NYENTRIK di Kaki Gunung Kelud, Tempat Pelarian Orang Kota Cari Tenang
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0596_7-tGnrN4qqk.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Pada saat sudah dapat uang, tapi Bapak malah sakit terus meninggal. Menurutku enggak adil. Jadi kayak apaan sih? Di saat aku ingin membalikkan keadaan kebaikan Bapak dulu ke aku, kok malah bapak sing dijupuk. Aku itu orangnya susah nangis ya. Aku ditinggal bapak hanya mbes ya. Bingung enggak tahu harus bas-basi seperti apa. Menyesal-menyesal banget karena dulu seperti itu ya kan. Terus apa yang dikatakan beliau-beliau itu benar semua tapi enggak tak pernah tak jalani. [Musik] E dulu pernah kan omsetnya sini labaku sama gajinya anak-anak banyak gajinya anak-anak loh bener itu, Mas. HP-nya anak-anaknya iPhone semua HP-ku opo, Mas? Itu dulu pada saat sepi-sepinya, Mas. Sedangkan aku itu kalau sudah sama karyawan sudah loyal tuh haram untuk mengejat. Menurutku aja ya, Mas. Saya pernah jual mobil, jual motor hanya untuk bertahan, untuk ngisi operasional. Motor, mobil habis pinjol. Aku harus mengutamakan yang makan dulu lah. Nanti lek urusanku belakangan. So tanggung jawabku masih makan mereka. Mereka yang sudah kerja sama aku harus tak kasih makan duluan. Kan tuntas. Alhamdulillah. Di awal ramai sampai waiting list dulu. Itu satu hari waiting list numpuk 10 atau 15 itu biasa dulu Mas. Kalau per hari bisa sampai 8 ke 10 Masjut. Iya di weekend mungkin ya. Kalau di weekday mungkin si 4 keen 6 pada saat rame ya. Ngapain waktu itu perannya owner Mas? Aku dulu nganter-ngantar minuman malahan Mas. Jadi aku dulu sepakat sama temanku jangan pernah nge-share siapapun yang punya ini nanti takutnya orang enggak enak dan lain sebagainya. Bahkan orang tuaku dulu enggak tahu aku bikin coffee shop. Tahunya bikin warung. [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Rindra Prasetyo. Saya pemilik kampen coffee and space di Tulungrejo, Gandusari, Kabupaten Blitar. Kepen itu terletak di Desa Tulungrejo, jalan arah wisata hutan pinus loji. Jadi nanti sebelum loket ada pertigaan belok kiri aja. Itu gabung dengan shelter pendakian Gunung Gelut. Jadi kita ada di bawah parkirannya kedainya. Jadi enggak begitu kelihatan dari jalan. Namanya campen itu diambil dari salah satu distrik di Belanda karena di atas itu ada namanya hutan pinus loji kan identik dengan Belanda. Aku coba cari ide-ide apa yang identik dengan Belanda. Terus ada kesinambungan dengan wisata yang di atas. Akhirnya nyari-nyari browsing-browing. Ketemulah Campen itu distrik penghasil kopi di Belanda. Terus suasananya hampir mirip dengan sinilah dekat hutan terus asri nyaman gitu. Penulisannya seperti itu. Terus spell pengucapannya seperti itu. Jadi tulisannya kmnh pengucapannya kampen. Saya saat ini 31 tahun. Sebenarnya ini sudah tak gambar dari 2017 ya, Mas ya. Nah, dari 2017 itu sering nongkrong di sini karena suka daki, akrab dengan pengelola pendakian. Dulu akhir sering nongkrong di sini, terus melihat-lihat lokasi di sini, wah kayaknya seru ini dibuka coffee shop untuk menyediakan kopi yang proper. Terlaksana di 2021. Di 2021 setelah menikah itu aku dulu punya toko odor di daerah Hulingi. Setelah menikah ada Shopee enggak jalan. Akhirnya berpikir, "Gimana cari uang lagi ya kan." muncul ide yang dari 2017 itu coba bikin di sana. Akhirnya hubungi temanku yang dulu berpartner denganku di sini. Akhirnya ketemu jalannya akhirnya bikin. Ini lokasinya miliknya Perhutani. Kebetulan tidak susah karena ini lahan kosong yang tidak produktif. Kalau lahan produktif kan sebelah sana itu untuk tumbuhan pinusnya sama yang atas untuk wisata. Jadi kita belum masuk lokasi wisata, kita masih di bawahnya. Jadi di sini dulu kosong boleh digunakan asal tidak menebang pohon yang sudah ada gitu. Jadi cari sela-selanya yang ada. L akhirnya konsep bangunnya seperti ini. [Musik] Menarik atau enggak itu? Kalau dari sudut pandangku menarik, Mas. Soalnya kalau dulu teman-teman yang berbisnis di coffee shop mereka harus mengedukasi pasar. Sekarang kan tidak pasar sudah teredukasi semua. Bahkan anak SMA sudah nong di coffee shop, Mas. Sekarang, sekarang kan tinggal gimana ngemasmu aja kan semenarik apa tempatmu, apa yang kamu tawarkan. Pada saat aku down dulu sebenarnya sudah pengin buyar kan, Mas? Aku ah tutup aja lah. Mungkin tempatku tidak mentak PD. Sampai ketemu ada pembicara subah namanya. Beliau itu orang dari Jomba kalau enggak salah ngobrol-ngobrol ngobrol. Kalau faktor kopi enak itu sebenarnya kan ada tiga kan dari petani, rostery, sama baristanya. Tapi ada faktor X yang dilupakan biasanya. Di mana ngopimu dan sama siapa kamu ngopi. Kopimu mau seenak apa kalau tempatnya tidak nyaman? Ya kopimu tidak enak. Kopimu seenak apa, lek tempate nyaman tapi kamu sedang tukaran karo pacarmu pada saat ngopi? Yo enggak enak juga. Ahah. PD lagi itu aku. Oke, berarti tempatku punya value lebih nih yang bisa dijual. Ya sudah, tempat aja yang aku jual. Menunya ngikutin tempat sudah oke, menu harus oke. Kalau tempat yang oke aja, menu biasa aja, orang enggak balik lagi ke sini, Mas. Situasinya sudah kebentuk sendiri customernya di sini. Jadi, orang-orang yang pengin mengasingkan diri datang ke sini atau menikmati suasana yang beda dari tempat di kota datang ke sini. Aku menyediakan varian kopi kok. Jadi, aman untuk semuanya mungkin ya. Jadi, orang-orang yang pengin menikmati kopi dengan suasana yang beda datang ke sini. Jadi kalau biasanya itu siang itu pegawai-pegawai yang diwilingi malah lari ke sini untuk makan siang dan ngobi. Jadi balik lagi sorenya. Kalau sore biasanya anak-anak kuliah nugas datang ke sini mungkin sudah stabil ya Mas ya. Karena pasarnya sudah kebentuk ya PR-nya kan sekarang tinggal cari pasar yang baru lagi untuk datang ke sini. Orang di sekitar kafen Mas ngopine kan ngopi gerasak Mas. Benar. Dan ngopi sing ndak aneh-aneh. Iya. Gimana cara jenengan akhirnya mengenalkan? Aku enggak berusaha mengenalkan Mas. Malah aku berada di sini lihatan aja aku. Jadi lek jenengan selarane seperti itu enggak apa-apa tapi aku membuat sajian yang seperti ini. Aku enggak bisa memaksakan noh Mas. Ibaratnya beliau mereka-mereka yang biasa ngopi 3.000 dapat satu gelas lah nk sini Rp20.000 ya enggak bisa memasakkan halku no Mas. Mungkin lek ngoyoh-ngoyo ya susah mereka tambahan. Tapi akhirnya kan orang lokal yang sudah pernah di luar kota akhirnya menemukan ini kan kayak wah kok ada ya nk sini seperti ini. Akhirnya kan jadi customer loyal yang sini juga. Akhirnya repeat ke sini lagi ke sini lagi gitu. Jadi aku malah enggak berusaha ngedukasi wis biarin aja lah itu customernya sana aku tak bikin pasar sendiri gitu. [Musik] Jadi dulu itu aku lulus sekolah itu langsung kerja. Jadi sebelum nerima ijazah kelulusan aku sudah langsung kerja di perusahaan yang instalasi BTS itu. Jadi anak baru gampang diterima dengan gaji sedikit yang penting dapat pengalaman. Kerja waktu itu R00.000 per bulan di Surabaya itu jalan hampir 1 tahun terus ada lowongan jadi helper alat berat. Okelah masuk. Kebetulan temanku yang ngajak di situ cuma digaji Rp50.000 per minggu. Yang penting dapat pengalaman untuk yang lebih lagi ya. Aku jadi helper 3 atau 4 bulan terus jadi operator alat berat sampai 2014 kalau enggak salah. Dari situ terus punya uang sedikit ngumpulin barang buat sewa tenda, perlengkapan mendaki terus akhirnya buka toko sendiri. Sama sedikit dimodelin dari orang tua sih. Almarhum bapak saya itu hanya mandor perkebunan. Ibu saya hanya pembantu rumah tangga di Surabaya. mungkin sudah melihat perputaran uangnya ya. Nah, punya tabungan sedikitnya tambah gitu. Akhirnya jadilah tokonya buat sewa toko sama buat belanja barang sedikit gitu loh. Enggak salah dulu. Akhirnya jalan beberapa tahun gitu. Seiring berjaya waktu semakin banyak persewaan, semakin banyak toko online ya kan. Akhirnya tokonya sepi. Akhirnya harus berpikir harus buka bisnis apa lagi. Kira-kira aku kerja sudah enggak passion, sudah menikah. Paling enggak aku harus berkumpul terus sama istriku. Kalau kerja nanti kasihan tak tinggali gitu. Toko order dari 2015 sampai 2021 tutupnya. Banyak orang yang pengin naik gunung yang proper gitu kan pasti butuh perlengkapan yang proper toh. Daripada beli mending sewa kan dulu. Dulu masih nakal juga. Kebetulan nakal karena nakal punya banyak koneksi dan teman. Kalau kata orang tua kan minum-minuman beralkohol itu nakal ya kan. Dulu saya suka motor kan nongkrong sama anak-anak motor naik gunung sama ketemu orang baru akhir kenalan minum untuk mengakrabkan sebuah pertemuan itu adalah minuman kan kalau sudah pernah minum bareng akhir ketemu obrolannya akhir besok di saat ketemu lagi sudah seperti teman lama tapi alhamdulillah sekarang sudah tidak minum mbak pedes ya mbak request dewe aku untuk tidak minum-minuman beralkohol karena ini sih kalau dulu di bisnis dulu dulu mungkin kebawa waktu muda ya. Jadi saya enggak begitu mementingkan beranggapan bahwa besok-besok bisa dipikir lagi. Kalau di sini kompleks. Ibaratnya aku buka kampen ini jadi sebuah kanvas bagiku yang baru lagi. Kayak aku dinaikkan terus diturunkan, dihancurkan, kamu gambar lagi yang baru gitu. Jadi mulai masalah semua itu ada nk sini harus selesai. Jadi kayak wah masalah kayak gini kok gimana selesaimu? Kalau enggak bisnismu tutup loh. Modalmu banyak loh ini. Akhirnya kan kalau minum kan aku tidak bisa berpikir kan bisa berpikir untuk senang-senang aja. Aku enggak bisa berpikir gimana besok aku harus ngapain besok apa yang tak rencanakan besok. Enggak bisa. Kalau orang minum besok se mumet awang-awangan kerjo dan lain sebagainya. Aku enggak mau seperti itu lagi. Aku sesok kudu harus fit lagi untuk next hari berikutnya. Hari berikutnya harus tak pikirkan lagi. Yaitu yang membuat alasanku enggak minum lagi. Bapak meninggal tuh di tahun 2014. Jadi itu yang memutuskan saya untuk berhenti jadi operator alat berat. Soalnya adik masih kecil, ibu kerja di Surabaya. Yang di rumah tinggal nenek sama adik. Cari kerja yang dekat-dekat aja lah. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja dulu. Jadi ditinggal Bapak itu malah momen-momen kelamku sebenarnya, Mas. Karena di waktu itu aku tidak pernah dekat sama Bapak. Pada saat aku sudah bisa bekerja, aku ingin sedikit menyisihkan untuk Bapak pada saat sudah dapat uang, tapi Bapak malah sakit terus meninggal. Menurutku enggak adil. Jadi kayak apaan sih? Di saat aku ingin membalikkan keadaan kebaikan Bapak dulu ke aku, kok malah bapak sing dijupuk. Nyalah Gusti Allah juga yo pernah, Mas. Tapi akhirnya kan bisa berpikirlah setiap manusia kan pasti ada akhirnya. setiap sesuatu hal yang hidup pasti akan mati. Aku suka band metal kan, tapi enggak suka black metal. Ada suatu band metal itu yang ada sedikit sentuhan satanis-satanisnya ya kan. Ah, lebih baik aku memuja setan aja lah daripada aku memuja Tuhan dulu waktu itu. Ya menurutku tidak adil pada waktu itu. Bikin sadar akhirnya ke sini ke sini. Kalau dulu bapak itu menyuruhku untuk salat untuk ngaji. Kan keras kan bapak sama ibu dulu waktu kecil dipaksa gak pernah masuk. Jadi ajaran agama apa itu enggak pernah masuk. Begitu ke sini dewasa ini dengan relate dengan kehidupan akhirnya nyari sendiri aku, Mas. Nyari sendiri ketemu ketemu sendiri. Oh gini ya tiba akhirnya ya membalik sendiri kan akhirnya jalan dengan sendirinya. Ya itu mungkin caranya Tuhan mengingatkan mungkin akhirnya bisa berpikir gitu. Kayak dulu kan gak kalau menyesal ya pasti Mas. Sangat-sangat menyesal. Cuma aku sudah terbiasa orangnya itu flat gitu karena tidak pernah diajarin. Karena dari dulu tidak pernah hidup sama bapak sama ibu. Tidak pernah diajarin. Emosimu harus seperti ini loh untuk menerima hal ini. Emosimu harus seperti ini untuk menerima hal ini. Bahkan hal simpel aja ya. Ulang tahun aja aku enggak pernah dirayakan dahulu. Ingat aja alhamdulillah. Jadi saat punya istri terus istri merayakan Hallowe aku benci. Aku enggak bisa berekspresi seperti yang kamu mau. Ya kan? Saya kan sekarang punya anak. anakku suka dirayakan. Akhirnya mau gak mau aku harus mengikuti. Wah, seperti ini dirayakan. Oke. Kalau menyesal sangat-sangat menyesal sebenarnya, Mas. Cuma dulu itu kan enggak bisa berekspresi aku di saat ditinggal Bapak. Aku itu orangnya susah nangis ya. Aku ditinggal bapak hanya mbes ya. Bingung enggak tahu harus beras-beras seperti apa. Menyesal-menyesal banget karena dulu seperti itu ya kan. Terus apa yang dikatakan beliau-beliau itu benar semua tapi enggak tak pernah tak jalan soalnya kulino metani dewe. Jadi lek belum nyemplung kan belum tahu aku. Jadi jemplungi dulu rasanya seperti apa. Oh ya benar tiba. Soalnya tidak pernah diajari jadi gagal dulu. Kamu harus seperti ini, kamu harus seperti ini kan dulu. Tapi tidak ada pendekatan emosi yang dalam kan hanya perintah menurutku. Aku tuh orang egois sebenarnya tapi sayang sama pasanganku. Ketemu istriku tuh hanya pacaran 6 bulan langsung tak lamar menikah. Istriku tuh tidak pernah melarangku minum, tidak pernah melarangku main sama teman-temanku. Aku minum ditemenin, aku nongkrong ditemenin, aku jalan-jalan dia jadi terne. Sampai akhirnya aku sungkan sendiri. Gu kan egois kan cowok itu egois dia ngomong enggak pernah tak dengerin tapi yang diomongin itu benar akhirnya mau gak mau aku harus mendengarkan kata dia. Aku itu manusia yang enggak bisa bangun pagi dahulu sedangkan aku itu masih ngerintis usahanya berarti dulu ya kan harus bangun pagi nanti kamu bisa kayak gini bisa ngerjain ini, bisa ngerjain itu daripada nanti siang bangunmu. Akhirnya setelah berjaya waktu ya benar sih aku harus bangun pagi. Aku dulu orang sing selalu berpikir untuk lima step yang atas. Aku step di posisi tiga, aku harus berpikir ketujuh itu caranya gimana. Tapi aku melupakan yang step 4 5 6 akhirnya moleng sendiri ya carane gap yang tujuh gitu akhirnya brun out budrek ya kan Mas. Lah istriku tuh menyarankan, "Ayo ngerjain hal-hal kecil dulu nk sekitarmu. Apa kek, apa kek lah menurutku tidak menghasilkan itu." Tapi setelah ke sini oh iya benar ya. Kalau ini tak kerjakan nanti jalannya akan kebuka sendiri sih. Bisnis kafe itu juga dipertemukan dengan istriku ya. Karena toko sepi setelah menikah kok kebetulan istriku tuh pernah kerja di coffee shop. Jadi aku tuh tidak pernah tahu bisnis FnB sama sekali bukan bidangku. Tidak tahu menahu tentang kopi sama sekali. Jadi nul aku tuh hanya suka nongkrong aja Mas. Jadi sehari itu kalau pacaran sama istriku saya pindah ke shop lima kali dulu. Suka ngopi, suka nongkrong. Ya, akhirnya ketemu istriku sedikit tahu tentang dalamnya bisnisnya kayak apa. Jalan. Jadi ini [Musik] dulu itu ada sedikit tabungan sekitar R juta paling Mas. Terus sama pantungan dengan partnerku itu. Jadi di luar estimasi sebenarnya bangun ini dulu uangnya habis di bangunan isinya belum ada. Sedangkan bangunannya pada waktu itu estetik terus di jalur wisata jadi banyak orang mampir kan. Pusing aku, Mas. Tempatku buat foto-foto tapi aku gak dapat income. Ini akhirnya sama ibuku dikasih lagi itu ya buat belanja. Tak bilang aku utang ya, Bu. Enggak usahlah pakai air. Akhirnya buat belanja itu. Jadi buka datang di sini itu mesin kopi grinder, show isinya kosong, Mas. Akhirnya belanja kopi, belanja poder-poder frozenan itu untuk snack-snack itu dan ke Malang dulu karena belum tahu supplier yang di dekat-dekat sini. Karena basicnya istriku dulu kan kerja di Malang. Jadi dia lebih familiar belanja di Malang. Jadi jalanlah ke Malang belanja itu semua yang keperluannya. Istriku nak paham kopi, aku juga tidak paham kopi. Temanku paham kopi sedikit. Akhirnya gimana caranya buka? Ada salah satu temanku yang diulingi juga. Kebetulan dia kuliah di Solo. Pada waktu aku buka toko itu dia pernah nawarin binmit kopi gitu. Ke ingat? Coba tak telepon. Kamu masih jadi barista gak? Lur? Masih. Aku lagi buka gede ini. Coba ayo buka bareng dulu. Kok kamu enggak nyaman ya Cabuto enggak apa-apa aku. Akhirnya beliau ke sini jalan sambil ini buka aku cari barista lagi. Jadi istriku pernah kerja di coffee shop tapi ndak pesion tentang kopi. Dia pesennya masakan. itu temanku datang akhirnya jalan rame kan ngapain waktu itu perannya owner Mas aku dulu nganter-ngantar minuman malahan Mas jadi aku dulu sepakat sama temanku jangan pernah nge-share siapapun yang punya ini nanti takuti orang enggak enak dan lain sebagainya bahkan orang tuaku dulu enggak tahu aku bikin coffee shop tahunya bikin warung sampai dirasani disenen mas prasiko gawe warung ratusan juta i warung sing koy opo bahkan ke teman-teman juga sekarang dulu basicnya suka nongkrong k temannya nya banyak. Enggak pernah aku share ya aku bikin coffee shop di sini. Aku sama istri tuh takut dijelokne mental nanti kamu ning kono sapa pasarmu, sapo sing arep tuku gave-kafe ning kono sing tung demit. Akhire mereka tanya bikin apa? Camping ground. Sesuai karo backgroundku yang lama kan camping ground. Jadi tak undang ayo makan-makan nk sini ya nongkrong-nongkrong di sini aku buka coffee shop nk sini gitu. Jadi sebenarnya marketing pertamaku ya teman-temanku sendiri. Untungnya punya banyak teman, akhirnya banyak yang nge-share jadi ramai. [Musik] Pengalamanku seperti itu ya, Mas ya. Enggak tahu kalau yang lainnya. Karena kembali lagi bahwa budget untuk marketingku pada saat itu tidak ada. Mungkin kalau beliau-beliau owner yang lain punya budget untuk marketing, ya sah-sah aja. Kebetulan value lebihku di teman-teman ya, akhirnya teman-teman yang tak gerakkan. Tanpa aku menggerakkan, mereka pun dengan senang hati untuk bikin story dan dis-are di sosial medianya mereka. Jadi aku heing barista yang sudah bisa tadi pertama sambil belajar aku untuk menentukan menunya sesuai lidahku sama istriku. Jadi rasanya seperti ini gimana? Oh iya wis gini masuk gini gimana enggak masuk jadi dol karena suka nongkrong tadi kan. Alhamdulillah banyak suka tahun pertama buka sangat untung sekali Mas. Iya karena mungkin ini konsep baru di Blitar. Jadi mungkin orang customer itu melihatnya nyeleneh tapi disajikan dengan brober atau mungkin selama ini yang ada di hutan-hutan mungkin warung aja ya selama ini lah. Itu aku melihatkan sebenarnya suka nongkrong karena akhirnya melihat-lihat mana di mana di mana gitu. Terus aku berpikir kok belum ada ya coffee shop sing nk pinggir hutan sing viewnya menyenangkan tapi disajikan dengan proper misnya di kafe-kafe nk kota coba bikin ini dengan asumsiku adalah bahwa nk atas ini kan ada tempat wisata masa enggak ada sih 25% dari customernya wisata yang mau mampir ke sini gitu ternyata enggak ada tadi pertama buka itu kalau orang ke sini ya pengin ke sini customernya sini yang beli di sini itu yang pengin ke sini jadi kalau customer yang dari atas itu hanya mungkin 5%-nya aja lah di awal ramai sampai waiting list dulu itu satu hari waiting list numpuk 10 atau 15 itu biasa dulu. Jadi itu kayak aku dinaikkan tadi yang pertama tak bahas tadi bahwa aku dinaikkan sama Tuhan langsung diturunkan lagi. Tapi aku menyadari bahwa ini viral ini. Nah ini enggak bertahan lama pasti bertahan lama mah sampai 6 bulan seperti itu. Heeh. Aku harus jumawa dong. Wah santlah nyant lah gitu aja. Enggak berpikir ke depannya piye, maintenance-nya seperti apa nanti. Akhirnya enggak berpikir seperti itu. Ngepehne jalan ramai 6 bulan berikutnya sepi mulai turun turun turun sepi. Kalau per hari bisa sampai 8 ke 10 Mas. Iya di weekend mungkin ya. Kalau di weekday mungkin si 4 ke6 pada saat ramai ya. I berarti ratusan per bulan. Iya, makanya saya bilang ramai, Mas. Makanya saya jumwaah. Bahkan satu [Musik] sosial media sih, Mas, yang tak manfaatkan. Jadi kebetulan dari pertemanan tadi membuat Instagram dan TikTok-nya sini ramei. Banyak yang follow tanpa aku ngurusin itu. Bahkan fotonya itu hanya coming dulu itu. Tapi yang ngetag banyak sampai aku akhirnya harus wah ini harus airing content creator. Jadi yang tak tekankan adalah yang aku jualkan suasananya. Aku enggak mau orang itu dipaksa untuk datang ke sini. Enggak mau. Tak tawarkan kamu kalau ngopi di sini suasananya seperti inilah. Cuacanya seperti ini. E ambiansnya seperti ini. Ngopi di mana lagi kamu dengan backsound burung-burung dan jangkrik di sini? Bukan dari suara sound system loh ya. Asli loh ya. Ini pada saat itu malah bukan kami yang bikin Mas. Jadi ada temannya adikku main ke sini. Kebetulan pada saat itu kabut di sini terus menikmati teh sama kopi. Kelihatannya kan hangat ketemu FYP waktu itu pada saat COVID kalau enggak salah ya. Terus tak cari-cari siapa ya ini? Ternyata temannya adikku tak suruh ke sini. Ternyata dia masih kena COVID. Tak suruh ke sini tak kasih menu mau apa dan terima kasih sudah dipromosikan. Pada saat saya buka tuh Juni 2021 saya buka seminggu opening PPKM. Jadi pembatasan nongkrong di kota-kota itu kan jamnya dibatasi. Nongkrongnya bolehnya pagi. Akhirnya ada yang baru di pinggir hutan. Mungkin orang-orang berpikir bahwa di situ jauh dari operasi polisi ya. Akhirnya lari ke sini semua. Wah, ramai. Tapi viap-nya di pagi sampai sore. Kalau sore mereka sudah pada pulang. Mungkin karena akses jauh ya. Jauh dari kota. Jadi dari tempat tinggalnya. Soalnya rata-rata yang ke sini orang kota. Kalau enggak Blitar Kota Tulungagung, Malang, Kediri gitu sama Wingi gitu. Kalau yang sekitaran sini ya jarang berada pada saat itu dulu malah mungkin 2 bulan ya ramai banget itu ya Mas ya. Makan ramai itu akhirnya dioperasi juga di sini. Tapi operasinya jam 8.00 malam di sini sudah kosong, Mas. Ini bisa bangun atap sebelah sini, atap sebelah sini. Dulu kan hanya bangunan ini aja, lainnya order. Karena menurutku keren aja di pinggir hutan tempatnya order. Ternyata di sini kan curah hujannya tinggi ya. Kalau di sini penuh hujan, wah di sini enggak pasar, Mas. Ngumpul di dalam semua kan enggak nyaman. Sedangkan penginku tempatnya nyaman, tetap bisa dinikmati. Sekarang alhamdulillah berjalan lagi. Sudah sedikit ada perkembangan membaik. Yang penting stabil aja sih, Mas. Sekarang ini bisa diputar uangnya untuk belanja. Anak-anak yang kerja di sini dapat gaji yang sepantasnya gitu. Dana emergency, ya, Mas, menurutku yang harus diamankan. Operasional 3 bulan setelahnya itu harus aman sebenarnya. Harusnya menurut pengalaman pribadi ini bisa salah, bisa enggak lah ya. Jadi kalau pada saat rami mungkin kita harus mengamankan operasional cost operasional 3 bulan ke depan. Jadi harus aman itu semua untuk tetap bisa beroperasional. Kalau HPP kan fleksibel, tergantung penjualan kan. Semakin ramai jualannya, semakin banyak app-nya yang dibelanjakan juga kan. Jadi kita tetap bisa promosi, tetap ini bisa bersih untuk jalan seperti ini. Ini tetap bisa beroperasional seperti biasa. Yang paling penting adalah bisa gaji karyawan. [Musik] E dulu pernah kan omsetnya sinilah bagu sama gajinya anak-anak banyak. Gajinya anak-anak loh. Bener itu, Mas. HP-nya anak-anaknya iPhone semua. HP-ku opo, Mas? Itu dulu pada saat sepi-sepinya, Mas. Sedangkan aku itu kalau sudah sama karyawan sudah loyal tuh haram untuk mengejar. Menurutku aja ya, Mas. Anak sudah loyal sama aku, ya menurutku apapun yang terjadi harus aku usahakan untuk bisa ngaji kamu. W kamu sudah mencerahkan waktu dan tenagamu di sini. Sebenarnya bisnis FnB itu menyenangkan kalau cabangnya banyak. Kalau satu itu mengerikan untuk buka cabang lagi masih belum ada, Mas. Ini rencananya menjanjikan kalau cabangnya banyak soalnya ada pasti ada backup. Kalau di sana ramai, di sini bisa dibantu sama yang ini yang lagi sepi. Begitu. Itu yang tak pelajari, Mas. Aku harus buka satu lagi atau dua di tempat yang beda. Soalnya kalau hanya satu, kalau pada saat berdarah-darah ya nangis, Mas. Bisa jual mobil, jual motor. Saya pernah jual mobil, jual motor hanya untuk bertahan, untuk ngisi operasional. Motor mobil habis pinjol. Aku harus mengutamakan yang makan dulu lah. Nanti lek urusanku belakangan. So tanggung jawabku ngasih makan mereka. Mereka yang sudah kerja sama aku harus tak kasih makan duluan kan. Tuntas alhamdulillah. Kalau pinjol sedikit sih, Mas. Paling ya antarane 4 ke ya. Pada saat bulan itu karena cashfnya kosong aku harus ngaji anak-anak harus tak bayar juga kan. Kira ambil pinjol yang siap sedia untuk diambil. Jadi karena dananya sudah habis, aku enggak bisa hiring influencer untuk datang ke sini terus mempromosikan sini kan. Aku bikin brosur tak sebar di loket wisatawan yang ke atas tak kasih brosur aku main diskon juga. Main diskon dulu tuh aku pernah bikin diskon kopi pagi sudah cappuccino sama free donat. Ini yang masih berjalan sampai sekarang tuh disukin hujan. Jadi di saat hujan jenengan pesan pada saat hujan di sini diskonnya 10%. sama bikin konten di sosial media, bikin video lagi, tak bikin sendiri dulu itu bikin pakai HP gitu sama anak-anak yang kerja di sini tak suruh up story, tak suruh bikin video. Nanti kalau ramai tak kasih V aku kalau kiat-kiatnya ada dua, Mas. Kamu dari background-nya orang ada atau kamu gila lah. Kalau enggak ada terus itu bisnismu tidak masuk akal, ngapain kamu pertahankan? Ya kan gitu logikanya. Mungkin aku sebagian dari orang gila ya. Aku tidak punya background keuangan yang bagus. Keluargaku tidak dari keluarga yang berada nekat aja. Mau mobil aja tak jualannya untuk bertahan. Kalau kiat-kiatnya aku beda dari tempat lain. Aku punya produk beda, aku punya tempat beda, aku punya suasana yang beda. Itu aja sih, Mas. Yang aku jual perbedaannya. Karena aku berpedoman bahwa sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik. Jadi, aku lebih beda sedikit enggak apa-apa. Yang penting aku tetap dinotis. Bukan pencucian uang ya, Mas ya. Alhamdulillah bukan. Bahkan pada saat don-downnya itu kadang berpikir enggak enak ya wong sir nyuci uang rene gitu ya. Paling enggak utangku lunas. Itu [Musik] untuk mengetahui jatuh itu sakit, kamu enggak perlu jatuh. Sebenarnya dengar cerita dari orang lain bahwa jatuh itu sakit sudah cukup bisa membuatmu tahu bahwa jatuh itu sakit. Saya Arindra Prasutyo. Saya owner dari Campen Coffee Shop yang beralamat di Tulungrejo, Gandusari, Kabupaten Blitar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sudah. Terima kasih. Yeah.