Kind: captions Language: id Jadi dulu tuh saya pernah tanya ke Ibu, Mas, Bu, nyapa toh, Bu, kok karyawan tuh ibu kasih gaji harian gitu loh, kenapa enggak bulanan gitu? E ibu cuma bilang itu itu lebih ke bersosialnya apa ya bersimpati ke karyawan gitu loh. Kamu enggak lihat le kalau misal ibu kasih harian itu nanti ibu-ibu, bapak-bapak yang kerja itu kalau misal pulang itu bisa kasih jajan ke anaknya, bisa beli nasi goreng, bisa beli pecel gitu loh, Mas. Tiap hari bisa gitu pegang uang gitu loh, Mas. Jadi enggak perlu karyawan itu nunggu bulanan gajian gitu kan. Kebanyakan kalau nunggu gajian itu kalau orang enggak punya uang kan pasti ujung-ujungnya kan ngutang ya, Mas ya. Kalau karyawan gitu. Kalau basket kan sering tuh, Mas, dapat tawaran, ayo kerja di sini tapi ikut basketnya. Ayo kerja di Pertamina nanti ikut basketnya. Kayak gitu. Itu sering Mas, saya dapat tawaran seperti itu. Tapi saya tuh enggak pernah mau ya, Mas, jadi karyawan. Enggak tahu kenapa k disik cilikanku. Pokoke aku cita-citane dadi wong sugih. Mbuh sugih piye carane pokoke ya dari usaha itu [Musik] dulu. Yang merintis pertama itu dari kakek saya. Iya. Kek saya tahun 1960. Iya. sebelum G30S sudah ada, sudah eksis rambak ini menurut ceritanya sebelum kemerdekaan sudah ada. Memang sudah ada jarahnya diproduksi secara manual semua. Untuk merendamnya kita dulu waktu pertama kali belum ada Sanyo, kita ngerendamnya di sungai itu. Terus untuk menghilangkan kadar airnya kita itu pakai tangan, pakai jasa orang. Sekarang kita sudah modern sedikit. Saya waktu mengambil keputusan itu tahun 1998. Tapi sebelum itu saya sudah mulai bantu-bantu orang tua itu mulai tahun 90. Habis lulus sekolah, saya lulus sekolah 89 90 langsung kerja kerja bantu orang tua. Saya bagian mencari bahan baku di luar pulau sampai tahun '96 saya putuskan untuk menekuni. Ini kan dari ayah kan ada 10 bersaudara. Jadi beberapa saudara adik kakaknya ayah tuh ada yang bikin masing-masing produk sendiri. Jadi udah diajarin dari kakek nenek saya dulu gitu. Dulu pas apa, Mas? Pas masih muda ya juga pernah supir mikrolet ya? Ya. Di Surabaya sebelum anu sebelum nekunin ini ya bujang ya. Ya. Iya. Keinginan saya itu kalau ikut orang tua itu gak enak. Nanti kan saudaranya banyak, nanti kita dikirain nimbrung sama orang tua. Enak memang langsung melanjutkan orang tua enak, tapi saya lebih berpikir ke depan untuk usaha sendiri supaya nanti ndak diganggu sama saudara-saudara saya yang mungkin ada yang dari 10 orang saudara saya kan gak sama, Mas. Ada yang berontak, ada yang anu dikira saya nanti anu lobak saya usaha sendiri begitu. Jagani omongan yang gak enak ya. Dulu waktu pertama itu saya produksinya satu hari bisa satu lembar aja. satu lembar kulit itu ya saya produksi sendiri, saya ambil sendiri di pasar, terus saya olah sendiri waktu itu dengan modal ya Rp35uta kira-kira tahun 7 untuk beli bahan bakunya, untuk beli alat-alatnya gitu Rp35uta itu jadi dulu itu bukan kayak gini, Mas, rumahnya ini masih ini belum jadi. Jadi prosesnya itu di belakang sini semuanya kita jemurnya juga di depan-depan sini, Mas. dulu kadang di kuburan juga sebelah itu buat jemur jemur kulit-kulitnya gitu. Sudah nikah saya langsung usaha ini sebelum kan masih bantu bantu orang tua saya bagian belum '97 saya nikah '96 itu mulai dari tahun 2000 itu berjalan sudah 4 tahun sekitar 4 tahun apa 5 tahun gitu sudah mulai terasa hasilnya. Iya, krisis 98 itu iya berdampak juga krisis moneter itu yang berdampak itu bahan bakunya itu bahan bakunya mahal sekali. Minyak, harga minyak juga mahal waktu itu. Terus penjualan juga omsetnya juga menurun tapi tetap bisa produksi. Yakin, Pak. Soalnya mulai dulu dari kakek saya sampai ibu sampai saya itu kakek saya jualan bawa sepeda keliling. Itu mulai dari Tulungagung, Kediri, Kertosono keliling bawa sepeda. Iya. itu bawa kerupuk rambak itu penuh di belakang ada apa andangnya itu pulang mesti habis saya yakin itu pulang terus mesti bawa uang yang saya yakin itu ya diteruskan orang tua saya orang tua saya naik base naik kereta nanti dari sana sudah dijemput becak keliling mesti habis pulang mesti bawa uang jadi akhirnya saya yakin kalau saya ngawali bawa bok sudah sewa bok untuk keliling mulai dari Kediri Kertosono sampai Surabaya saya itu kelilingan sendiri gak sih, Mas? Kalau saya tuh emang dari kecil tuh sudah ndak pernah gengsi. Kalau misal sekolah kan ibu suka nitip rambak gitu toh, Le, bawaan ya opo bawa ke kantin atau bawa ke mana gitu. Dari SD, SMP, SMA itu saya sering bawa gitu. Jadi kalau pas SMA kan di Surabaya, jadi nanti pas saya pulang itu bawa rambak setengah online gitu tak bawa ke sana. Jadi pas sekolah itu istirahat itu saya masuk-masuk ke kelas, "Ayo rambak, rambak gitu. Siapa yang mau beli rambak gitu?" Dulu pernah Mas ada yang ngatain juga, "Eh, kasihan ya anu itu Kak Andreas ya jualan rambak pasti buat uang jajan gitu juga. Tapi aku wis enggak pernah mikir sing aneh-aneh, Mas. Ya wis, aku niate emang hidup dari rambak kok mau gengsi gimana, Mas?" Saya di SMA YPPI 1 di Surabaya. Gak tahu, Mas, ya. Kok ndak pernah gengsi aku, Mas. dari SD itu memang sudah diajarin ibu sama ayah tuh memang seperti itu. Jadi sampai kuliah pun nek misal kan saya kan kuliah di Surabaya di Ubaya itu kalau pulang itu bawa mobil tuh udah full rambak sak mobil tuh wis full rambak Mas jadi penumpang yang sebelah kiriku itu sudahudah tak turunin semua jadi rambak wis dilebokne kabeh ning mobil sedeng nanti baru dinyampai di kos baru kontak-kontakan teman ini loh rambake wis teko rambak wis teko ayo moro ning koso n kos gitu mas dulu mobil sak sedenge sak sedenge wis pokoke diiseni pokoke ya kalau memang mau punya tabungan ya harus bekerja sebagai pedagang gitu. Jadi saya kan dapat beasiswa beasiswa basket. Jadi ibu sama ayah ya cuma biayainnya cuma ya uang jajan tuh kadang kalau misalnya saya sudah bawa rambak itu ya enggak dikasih gitu jadi sudah bawa dari jualan makan dapat dari mes. Sekolah juga dibiayain sama basket. sekolahnya beasiswa beasiswa semua mulai SMA sampai perguruan tinggi beasiswa semua sampai sampai perguruan tinggi beasiswa jadi anu paling enak ini Andreas sih saya ndak mengeluarkan banyak uang resepnya kita sama pelanggan itu dianggap apa saudara gitu saudara sama pelanggan itu bukan dianggap orang lain sesama pelanggan itu kita anggap saudara terus mutunya harus terjamin rasanya kualitasnya juga pelayanannya nya gitu. Karyawan kita harus kita perhatikan betul. umpama kita ada pembeli, pembeli 1 kilo, 2 kilo, kita suruh monggo ngicipi, nanti kita pulang dikasih bonus. Entah itu rambak yang kecil-kecil, entah itu dikasih bonus satu bungkus, pelanggan sudah sudah senang sekali, sudah menganggap kita itu sebagai saudara, bukan anu orang lain lagi. Jadi kita tetap awet tuh apa pelanggan antara pelangan dengan anu awet sekali. Kita gak pernah banyak, Mas, penjual rambak-rambak semua kan sini banyak. Tapi kalau sudah masuk di sini wis sudah gak mau pindah, satu rasanya juga kita pelayanannya harus bagus. Iya gak apa-apa untung-utung promosi ya. Promosi juga mulut ke mulut kan cepanya. Kita harus kan pembeliannya kalau banyak baru dianu Mas. Kalau belinya sedikit kita yo suruh ngicipi saja gitu. Minim ya 1 kilo. 1 kilo pasti dapat. Gak pernah saya rinci, Mas. Sampai sekarang ya. Pokoke punya uang belikan kulit nanti dirambak. Belikan kulit lagi sampai rambaknya numpuk. Nanti kalau ada beli aset, beli anu masih bisa gitu aja. Jadi gak pernah belum pernah dirinci nih. Gak tahu nanti kalau Andreas melanjutkan dirinci saya suruh merinci sampai detailnya. Tapi ternyata ya masih ada sisanya berarti kan untung kita sekarang minim sekali masak ya 50 lembar yang kulit sapi nanti kulit kerbo yo sekitar 400 kilo tenaganya akan dibagi. Soalnya bagian masak itu yang membutuhkan tenaga banyak yang motong belum itu 2 hari sekali hari se Heeh kalau tiap harinya ya bisa 300 kilo itu bisa 6 yang tiap hari itu yang harian itu. Iya, asli kerbo. Kulit kerbo itu itu kerbo dua. Kalau saya kerbo dua sapi. Kalau kulit kerbo, kulit kerbo kering. Yang yang proses pengolahan kulit sapi. Pengolahan kulit sapi sama kulit kerbu kan sama. Itu namanya kerbu dua. Jadi bahannya dari anu itu sapi fresh. Rasanya juga hampir sama untuk yang sapi. Yang sapi harus direndam pakai air kapur. Kalau yang sapi kering, garam. Sapi garan, sapi kering harus itu. Itu nanti jatuhnya di kulit sapi. Harganya di bawahnya kulit kerbo dua, kerbo satu, kerbo dua, terus sapi. Itu kulit sapi kalau besaran kita kan banyak. Banyak sekali. Kita nunggu seakali idola aja itu bisa dipakai hampir 1 tahun. Kita biasa dapat 40 ton. Oh 30 ke atas. J kerbo kita dari Makassar ada dari NTT ya. dari Makassar kota itu prosesnya lebih sulit, Mas. Kalau yang kerbau itu bedanya kalau misalnya yang kerbau itu ada mentenge barang ya. Heeh. Pengeringan berapa kali gitu, Mas. Kan bulunya juga enggak bisa enggak bisa dikerok gitu. Bahannya memang lain, Mas. Iya, bahannya lain. Tapi memang teksturnya dari rasa beda banget banyak sekali. Jadi produknya di keramba utama ini kerbo super tiga macam 50 lembar itu sekitar 1 ton lebih itu jadinya kalau 1 ton ya sekitar 300 kilo tergantung kulitnya kulitnya bagus bagus terus Pak 2 hari sekali 200 kilo ada [Musik] saya ini baru pulang Mas sebenarnya kan ayah ini kan jualannya kan pas offline terus toh Mas jadi saya belajar apa jualan di online-nya gitu take video sendiri bikin konten-konten sendiri di TikTok, di Instagram gitu, Mas. Jadi, ya mulai dipasrahin sama ayah buat di bagian online-annya dulu gitu buat ngembangin usaha ini buat semua orang tuh bisa ngenal gitu loh, Mas. Bisa kenal sama Rambak Utama gitu. Dari Tangerang saya dari BSD. Saya kan atlet atlet profesional basket. Saya 5 tahun di basket, saya 3 tahun di Tangerang. Ini kontrak saya ini pas habis habis gini minggu depan ini habis. Jadi pas kemarin habis tunangan tuh ya tak pepetin sekalian biar pulang ke sana pamitan terus langsung pulang ke sini itu loh Mas. Kub Tangerang Haus. Iya benar. Kompetisi IBL itu kayak liga satunya di bola gitu. Shooter ya shoter beda poin cut yang sering bawa bola gitu. Kalau saya kan bagiannya yang ke pojok-pojok sing bagian nembak-nembak tok gitu loh Mas. Kayaknya saya ini sebenarnya anu Masion saya di basket sama di bisnis itu hampir-hampir sama. Jadi kalau misal saya takutnya kalau terlalu lama pulang ini ndelok bisnise berjalan terus itu saya juga beh basket neh apa enggak yo gitu loh Mas. Jadi pengin lanjut bisnis terus gitu. Cuma sampai sekarang ini saya masih mikir fifty-fifty gitu Mas buat antara balik ke basket atau lanjutin usahanya ayah buat ngembangin bantu ngembangin gitu. Saya 26 tahun sebenarnya masih panjang karirnya cuma ya saya mikir kalau misal basket terus gimana ya Mas ya untuk sanuk diguyu mek ayah ngono loh Mas penghasilan wulanane ngono ya cukuplah Mas kalau profesional tapi kan dibanding dengan penghasilane ayah sing bulanan kan yo wadoh toh mas kok diguyu aku wis dong panggah bas ket eng wis mulih rene lho tak ajari dodolan rambak ngonojar saya passion hobi bisnis juga dari dulu ya mas soalnya kan dari SMA Sama juga belajar jualan-jualan usus, jualan rambak gitu. Jadi saya enggak mempermasalahkan itu. Mau saya mau ninggalin basket sekarang pun juga sebenarnya saya bisa gak ini gak eman gak eman sama sekali. Dulu tuh sebenarnya saya kan tukang olahraga lah ibarat bukan pembasket tok gitu. Dulu diajaki ya sepak bola juga gitu. Kecil sudah saya ajari sepak bola. Terus tiba-tiba pas SMP ii sering dicengi konco-kanco l masapo kui dibal-balan noo melu karate kene basket kene gitu. Akhirnya memutuskan buat ke basket. Eh, enggak tahunya pas ke Surabaya main di Liga apa UNESA Cup itu ada salah satu pelatih yang di CLS namanya dulu CLS clubnya tapi CLSnya itu kan sudah bubar pelatih saya itu ngelihat saya main pas itu ada dua orang teman saya yang diambil saya sama satu lagi anak Mbago sini cuma yang lanjut ke profesional cuma saya terus dibiayain sekolah sama CLS sampai kuliahnya juga dibiayain sama Ubaya setelah itu baru saya main di Pasifik di Pasik Caesar itu saya 2 tahun di Pasifik, habis gitu baru saya pindah ke Tangerang. Lancar, Mas. Puji Tuhan. Lancar. Kontrak setahun nilainya ya, Mas ya sekitar 200 sekian lah. Usaha gak pernah dihitung ayahnya. Pokoknya iso tukuleh diberikan anu lagi diputar gitu. Ini cukup nggih, Pak. Cukup cukup Pak ya. Untuk biaya anak kuliah biaya yang dua masih kuliah satu itu sing penting ada gitu pas butuh ada gitu. Memang gak pernah dirinci yo, Mas. Betul. Tiap hari bayari karyawan. Ada gajiannya harian. Kalau di sini karyawannya harian gak mingguan. Ya. Jadi dulu tuh saya pernah tanya ke Ibu toh, Mas, "Bu, nyapa toh, Bu, kok karyawan tuh ibu kasih gaji harian gitu loh, kenapa enggak bulanan gitu?" E ibu cuma bilang itu itu lebih ke bersosialnya apa ya bersimpati ke karyawan gitu loh. Kamu enggak lihat le kalau misal ibu kasih harian itu nanti ibu-ibu, bapak-bapak yang kerja itu kalau misal pulang itu bisa kasih jajan ke anaknya, bisa beli nasi goreng, bisa beli pecel gitu loh, Mas. Tiap hari bisa tiap hari bisa istirahat gitu, pegang uang gitu loh, Mas. Jadi enggak perlu karyawan itu nunggu bulanan gajian gitu kan. Kebanyakan kalau nunggu gaji itu kalau orang enggak punya uang kan pasti ujung-ujungnya kan ngutang ya Mas ya kalau karyawan itu. Nah ini kalau di kita kan sistem gajiannya tuh harian itu setiap hari digaji gak? Nanti kalau pas SD dibalikne ke ibu SD, SD SMP pas SMA dipek kabeh bablas duite. duite pas SMA sama kuliah itu wis pokoknya bawa dari rumah wis tak dol di Surabaya wis duite bablas manak s anake dipek kabeh satu ndak nyangoni dua ndak bayar kuliah ituuk syukur saya soalnyauk satu anunya kan kalau adiknya ini kuliah diubah sama ini kan mahal semesternya [Musik] kita ada outlet di stasiun saya punya outlet sendiri terus ada kerja sama sama-sama teman yang setahun juga itu ada kita juga kirim di Kediri, Surabaya juga ada tapi sebagian aja gak kayak dulu saya putar diri sekarang dikirim lewat travel gitu. Kita sudah pertama sudah bisa nyekolahkan anak yang baru lulus ini bisa beli kendaraan sendiri, bisa beli aset tanah untuk gudang, aset tanah untuk tabungan juga ada. Mobil box dulu sewa. Mobil bok dulu sewa, sekarang sudah beli sendiri. beli sendiri gak dihitung sama sekali. Kita situasi yang paling berat COVID, Mas. Covid kemarin ya. Ya, kemarin tuh gak berat ada kalau krisis ya. Covid yang COVID ini COVID ini selama hampir 2 tahun ya 3 tahun ini kita sudah pokoknya bisa putar aja cukup soalnya gak ada orang bepergian. Covid yang paling berat itu signifikan banget P. Signifikan ya hampir ya hampir 70%nya menurun. Iya. Iya. Tapi masih bisa untuk muter masih bisa untuk bayari karyawan masih bisa cukup karyawan yang penting. Iya. Nah, sing penting karyawannya bisa kerja semua. Tapi tetap diganti sipsipan daripada nanti gak kerja semua disipsip gitu biar semua dapat kerjaan kerjaan semua. kita habis COVID 23 mulai ramai 2024 ya sudah mau 3 tahun ini sudah mulai normal lagi ya waktu itu ada pikiran begitu Masnya kan sudah mulai usianya sudah mulai 26 belum ada pacar belum laku gitu ya sekarang sudah dapat orang Britar istrinya kerja di sini ya saya suruh mikir sendiri mau pulang apa mau lanjut terserah kalau mau pulang kan lebih enak dekat sama istrinya kalau lanjut di Jakarta lagi Kan nanti jauh istrinya di sini Andreas main basket di Jakarta. Pulangnya mesti setahun dua kali ya. Setahun dua kali itu pasti setahun dua kali. Nanti kasihan istrinya gak tahu nanti yang mengambil keputusan Andria sendiri gak apa-apa. Saya juga gak apa-apa tapi ambil yang dekat-dekat ini aja. Surabaya apa Jogja? Jogja. Jogja lah Mas. Paling gak Jogja kan ada klub Jogja apa Surabaya itu kan bisa pulang 1 minggu sekali kan masih bisa. Shopee aktif. Kalau yang jualannya emang dari pertama bikin tuh kan Shopee sama Tokopedia. Ini mulai ngerintis di TikTok shop-nya, Mas. Jadi mulai ngenalin ya videonya udah mulai lumayan banyak cuma masih belum banyak yang beli gitu loh, Mas. Jadi orang-orang masih penasaran kayak kulit kerbu ini ternyata bisa dijadikan rambak kayak gitu-gitu. Banyak orang nanya kayak gitu, Mas. konten biasanya saya pertama itu proses pembuatannya proses pemotongan, terus penggorengan nanti packing kayak gitu-gitu, Mas. Jadi proses-proses setiap hari aja saya ngambil ke gudang, take video sendiri gitu daily activity ya. Pas hari ini pas lagi goreng, Ibu telepon tuh, "Yan, lagi goreng ini ke gudang enggak?" "Oke, ke gudang." Ke gudang ng-videoin orang-orang goreng gitu, video-video simpel gitu, Mas. Wah, banyak Mas sing komen. Sing komen akeh koy Prindavan lah koy ikilah. Tapi sebenarnya kalau menurut saya Mas ya, dari sekian banyak di sini itu salah satunya punya saya tuh yang paling bersih, Mas gudangnya. Nanti kalau Mas mau lihat sendiri langsung bisa. Ini bukan settingan ya, Mas ya. Bukan settingan harus karena masih datang terus kita siap-siap enggak. Tapi Mas ada SOP-nya kayak karyawannya yang cowok harus pakai sepatu boot panjang, harus pakai sarung tangan kayak gitu memang ada. Jadi enggak sembarangan kemproh-kemproh gitu, enggak. Ada, Mas. Beberapa yang di TikTok yang kulitnya sampai diidek-ideek ng alas kaki gitu loh, Mas. Tanpa alas kaki juga ada. Itu ada juga di TikTok. Jadi saya bikinnya ya emang dari dulu ayah gitu ya. Ya, ayah kan orangnya bersihan juga. Kalau ayah ke kuda lihat karyawan-karyawan yang kayak gitu pasti marah. Ayah dimarahin kayak ngene iki diseret ngono ae. Peh ayah iso bengok-bengok iku kayak sing mentahan diseret ng gitu. Ayahnya masih bengok-bengok mesti iya harus bersih, Mas. Kalau enggak gitu makanan susah, Mas. Kasihan orang-orangnya juga, Mas, yang beli. Cari apa? PRTnya juga susah PRT-nya. Harus SP-nya sesuai dengan dari dinas harus keramik semua. I karir basket. Usaha, Mas. Usaha yang lebih jelas aja, Mas. Uangnya, Mas. Itu kita udah masa apa ya? Kita sudah dewasa ya, Mas ya. Sama-sama ngertilah. Kita orang dewasa pasti butuh uang, ya, Mas, ya, buat nanti buat istri, buat anak ke depannya. Kalau enggak mulai dari sekarang mau sampai kapan lagi, Mas? Ya, meskipun ada teman-teman yang basket yang sampai 30 tahun ke atas yang sukses juga ada banyak. Saya enggak bilang kalau basket kecil gajinya enggak. Cuma kan kalau saya ngikutin passion di basket, hobi di basket terus kan enggak enggak bisa Mas ya buat-buat kehidupan sehari-hari nantilah. Saya penginnya sih tek cita-cita kayak nisik Mas ya. Cita-cita kayak disik ditakoni ayah dis jadi polisi disuruh jadi ini dokter lah. Saya tuh gak pernah mau Mas. Nanti ditawarin karyawan apa kalau basket kan sering tuh Mas dapat tawaran, ayo kerja di sini tapi ikut basketnya. Ayo kerja di Pertamina nanti ikut basketnya kayak gitu. Itu sering Mas saya dapat tawaran seperti itu. Tapi saya tuh enggak pernah mau ya Mas jadi karyawan. Enggak tahu kenapa k disik cilikanku pokoke aku cita-citane dadi wong sugih mbuh sugih piye carane pokoke ya dari usaha itu gitu loh Mas. Dari dulu cita-citanya seperti itu. Beberapa kali ditawarin I yang di Jakarta ada teman yang nawarin mau kerja enggak di Pertamina tapi ikut basketnya gitu kayak gitu. Mas di bank juga pernah Bank Jatim BCA banyak ya karena basket itu bisa dapat privileg seperti itu, Mas ya. Tapi saya enggak tertarik Mas. Enggak tahu kenapa. Dulu tuh pernah mikir sebuah mimpi buruk bagi saya kalau misal bangun jam . pagi terus pulang sore lagi itu kayak sekolah lagi gitu loh Mas. Saya tuh ndak pernah kepikiran punya kerjaan seperti itu. Gak pernah. Saya penginnya kayak lebih fleksibel. Saya bisa bangun kapan aja, bisa selesai kerjanya kapan aja. Ya meskipun di usaha itu ternyata kadang sehari itu kita bisa 20 jam kerja gitu loh. Enggak cuma 10 jam. Kayak karyawan biasanya itu kan jam 08.00 jam .00 sore pulang. Kalau di usaha itu sebenarnya kan bisa sampai 15 jam bisa 20 jam kerja belum berhenti gitu kan. Itu malah lebih capek. Tapi enggak tahu kenapa saya lebih suka gitu loh kalau di bisnis itu. Makanya saya quick choice tadi bisa memutuskan basket apa usaha. Usaha langsung gitu. Ya kita sama percaya sama orang aja yang jaga toko. Toko yang di stasiun ternyata ya masih saudara ternyata uangnya disalahgunakan. Kan gak dicatat toh Mas. Pemasukan peng gak dirinci. Kita percaya sama saudara saya, akhirnya uangnya disalahgunakan, banyak yang dipakai gitu. Akhirnya tetap disyukurilah lama itu hampir 13 ya, Pak ya. 2013 tuh terakhir terakhir ya. Wih itu habisnya ratusan juta, Mas. Karena kan pas itu juga saya pernah jaga sendiri sama ibu pas hari raya gitu loh, Mas. Hari raya kan saya bisa kira-kira kalau misal satu hari dapatnya segini padahal itu posisi ndak ada rambak loh kita ndak punya rambak kerbo pas itu. Nah pas dijaga orang itu malah oleh kok sak mene ngono loh oleh kok sitik pas dijogok padahal rambak kebo mentah itu lek ngirim satu hari bisa dua karung tiga karung ya. Nah, pas saya jaga sama ibu itu saya kita ndak punya rambak kerbau sama sekali. Sapi, kita paling ngirim setengah karung ke toko hari itu ya. Kita dapatnya justru malah lebih banyak dari yang pas dijaga itu Mas. Suka-dukanya itu. Iya. Itu itu yang paling kalau saya sebagai anak ngelihat orang tua yang pas kesusahan ya pas itu Mas. Malah kita malah membutuhkan dana dari anu dari bank. Iya. sebenarnya dicatat Mas di buku cuma orangnya itu pintar banget buat ngatur gitu loh. Jadi misal oleh opo dicatat opo jadi setiap hari pulang ke sini totalan itu ya sesuai sama uang yang dikasihnya ke kita gitu sama saudara itu. Saya itu rencana kalau anak-anak yang mau meneruskan monggo. Tapi harus ada yang mau meneruskan. Soalnya kita mulai babatnya kan sudah lama. Nanti kalau gak ada yang meneruskan yo eman-eman usaha ini yang sudah dirintis. Untuk merintis ini juga kita butuh waktu untuk mendidik anak itu mulai dari bahan baku carinya di mana, proses pengolahannya gitu sampai bahan jadinya sampai pemasarannya. Kalau pemasaran relatif bisa sudah bisa. Tapi kalau bahan bakunya sampai prosesnya yang harus diajari itu halal. Iya sudah. kemarin baru saya dapat sertifikat halal sertifikat halal tahun 2 tahun yang lalu ya 2 tahun yang lalu ya 2 tahun yang lalu 2 tahun harus ada sertifikat halal kalau rambak saya Pak Indro saya Andreas kami pemilik usaha kerupuk rambak super sebagai ownernya alamat di Desa Sembung RT4 RW3 Kecamatan Kota Tulungagung terima kasih kasih [Musik]