Transcript
X4ZMO6aYg8w • Peternakan Domba Bunting dengan Manajemen Modern Dikelola Anak Muda 23 Tahun!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0592_X4ZMO6aYg8w.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Jadi saya dulu itu dalam 1 hari kerja dua sip itu biasa mah pas waktu belum full terjun di packing itu saya tuh nyambi di packing. Jadi jam 08.00 sampai jam 10. Jam 12.00-nya itu packing sampai jam .00. Kalau yang kerja di du sip sama packing itu saya 4 bulan langsung loro ya tipes ini saya Mas ya. Alhamdulillah setelah saya itu menghidupi keluarga saya rezekinya sama Allah dikasih banyak. Kita kan tidak tahu ternyata doanya orang tua kan tidak ada halang-halangannya toh Mas. Langsung tembus toh Mas. Terus ada lagi kalau kita nikah katanya sama Allah itu rezekinya digerojokkan. Saya coba nikah nanti akhirnya saya nikah alhamdulillah energi tetap digerojokkan. Saya dulu mikir istri saya kuliah kesehatan mahal gitu apa bisa? Alhamdulillah ya bisa. Kalau saya mengambil keuntungan per satu ekor buntingan ini sama aja ya. Jadi contoh saya beli betinanya R2 juta sampai Rp2 juta. Anggap aja R juta. Saya jualnya Rp35uta. Pakan saya per hari per ekor itu selama 1 bulannya itu sekitar Rp150 sampai Rp200.000 sebulan. Jadi mungkin kalau kita di 3 bulan mungkin sekitar ya 300-an sekitar segitu. Soalnya kan saya produksi bakar sendiri lah. Untungnya ya tinggal sisanya itu. [Tertawa] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ian dari Diamundofarm Kediri yang beralamat di Desa Padangan, Dusun Tangkelan, Kecamatan Kenkidol, Kabupaten Kediri. Kenapa kok peternakan saya namanya dia Mundo? Dulu kan awal mula terakini berdiri itu kan saya dulu lulus SMA kerja Mas sampai pindah delan pekerjaan dulu. Terus yang kelapan dulu saya kerja di peternakane orang di Malang lah. Peternakane orang ini namanya dia mundu. Pekerja di peternakane orang itu saya kerja hampir 1 tahun terus ternyata manajemennya yang situ yang ngelola itu kurang belajar di dunia peternakan. Narti manajemennya kurang, cara perawatannya kurang dan akhirnya dari domba 70 ekor itu mati tinggal 22 ekor aja. 22 ekor itu dibawa ke sini, Mas, samanya disuruh bawa ke sini terus tak ramut, tak kelola terus saya tetap menggunakan namanya Diamundo. Itulah awal mulainya Diamundo itu di sini saya bangun usaha peternakan ini. Jadi mulai dari awal lulus SMA, gang 3 hari langsung sales sales sales regulator LPG, Mas. Orang-orang sekarang banyak yang baron-baron sales jilarang masuk lah. Itu saya dulu orang-orang yang kayak gitu, Mas. Terus yang keduane saya barista. Saya barista itu pindah tiga kali kafe. Terus security di mall kecil yang ada di Kediri namanya dulu Galuh Aksesoris. Terus kerja di sawit Lampung. Terus packing barang online terus host. Berarti packing saya sambil jadi host live. Yang terakhir itu peternakan. Dan itu sudah proses saya mungkin sama Allah yang 8 ini alhamdulillah dikasih hoki ownernya baik akhirnya saya disuruh mengembangin usaha ini. Yang sebenarnya 22 itu ownernya itu udah lepas Mas itu udah enggak tahu mau dikemain. Rugi sudah mentok ruginya. Dan saya saya bawa ke sini enggak ada kandang, Mas. Dulu ada kandang ayam cuma ukuran berapaan loh, Mas. Jadi tak umbar full, tak kasih jaring waring, dombanya tak full umbaran itu 22. Saya juga bingung, Mas. Dulu mau diapain itu. Niatnya juga nulung. Ya udah, Mas. Dombanya itu saya bawa aja enggak apa-apa nanti di Kediri tak ola tak kelolanya gitu. Kalau manajemen sih di sini kan ternaknya itu termasuk ternak unik, Mas. Saya itu jualnya buntingan. Jantan dikoloni sama betina. Nanti 2 bulan bunting. Saya pemasaran nanti semalam 1 bulan. Jadi selama 3 bulan sekali saya panen. Lah jualnya itu buntingan. Jadi saya itu setiap 2 bulan sekali mesti ready buntingan, Mas. Berarti jualan saya tuh unik kayak gitu. Nanti untuk manajemennya mungkin enggak terlalu ribet ya karena bunting keluar nanti kita beliin betina lagi gitu teman-teman. Ada yang jual kiloan tapi kalau saya itu jualnya jogrok Mas. Jogrok itu per ekor. Jadi ada ranks. Contoh saya ada empat jantan yang jenisnya berbeda. Contoh jantan dolper itu harga buntingannya 3,5. Jant Sulfog harga buntingannya Rp4 juta. Ada rank harganya saya pakainya gitu. Jadi itu nanti fleksibel kita bisa nego-negoan. Kalau timbang kan kadang kita agak susah buat nego-negoan. Tapi kalau kita jogrok kita itu lebih fleksibel untuk nego-negoan sama pembeli. Terus saya kan juga produksi pakan sendiri Mas. Jadi untuk pakan saya juga menyerap dari masyarakat lingkungan sini itu tebon jagung Mas. Tebun jagung itu setiap orang yang punya tebon jagung bisa disetorkan ke gudang saya. Nanti saya olah, saya produksi, saya jual juga. Jadi, manajemen saya termasuk lumayan mudah lah, Mas. Enggak yang terlalu banyak keluar masuknya. Jadi, keluar masuknya hanya ketika saya panen. Ramai sih, Mas. Alhamdulillah, ya. Mesti lumayan habis. Terus contoh gini, Mas, ya. Ini kan ada empat kandang. Empat kandang itu selalu saya ambil di 50%-nya. Contoh saya koloni 30 ekor. Jadi 50% kan sekitar 15 per kandang. Jadi kalau kali 4 kan sekitar berapa? 45an lah. 45 sampai 50 kadang. Lah berarti saya itu sebulan harus bisa menjual 50 ekor buntingan. Kalau 50 ekor itu enggak kejual berarti kan saya harus molor di nantinya koloni selanjute. Soalnya kan ada kandang yang tersekat buat betina-betina yang bunting. Akhirnya harus saya selalu harus pemasarannya harus full kencang. [Musik] Pekerjaan yang terakhir di FAM itu, Mas. Menurut jenengan apa yang bikin bangkut? E menurut saya itu dulu itu pas waktu saya kerja di situ, saya kan sedikit banyak tahu peternakan. Soalnya dulu saya kuliah peternakan tapi enggak lulus. Habis itu saya dulu selalu menyampaikan bahwasanya ada nutrisi-nutrisi dalam pakan itu yang harus terpenuhi ya. Di sana itu tidak terpenuhi. Contohnya kita ada serat, karbohidrat, dan protein. Ternyata di sana kita cuma dikasih pakan Pak Cong aja. Nah, ketika saya menyampaikan sesuatu ke atasan saya itu kurang dilakukan dan akhirnya ya kalau tidak dilakukan namanya kita hebu nutrisinya tidak terpenuhi loh Mas, pasti dombanya kan juga tersiksa toh Mas. Bahwasanya domba itu membutuhkan nutrisi-nutisi tersebut untuk memenuhi kebutuhan tubuh tapi dia terpenuhi jadinya ya dia kurang sehat badannya. Terus dia tidak ada keluar masuk, Mas. Dombanya di sana belum pernah jual gitu loh. Maksudnya niatnya tuh diternak terus nanti beranak dijual. Tetapi dombanya dia kurus-kurus, Mas. Dombanya perawatannya kurang baik. Terus siapa yang mau beli? Jadi dulu itu perawatannya kurang, manajemennya juga kurang. Jadi saya menyampaikan ini kok enggak diginiin, enggak diginiin. Saya itu langsung menyampaikan ke ownernya paling atas. Ternyata ownernya paling atas juga baru tahu itu ceritanya itu. Makanya yang sisa itu akhirnya ini usaha yang di sini di stop aja. Domba 22 ekor ini akhirnya dibawa ke Kediri ini. Itu semuanya dulu crossel. Jadi crossel itu betina-betina cross sama jantannya lokal satu. Owner yang menghibahkan kambingnya 22 itu sekarang situasinya seperti apa? Dia malah sering ke sini, Mas. Soalnya itu kesenangan tersendiri, Mas. Tahu ternyata alhamdulillah ternyata bisa berkembang gitu. Dulu kan saya hitungannya usaha kan baru tuh. Jadi saya harus punya mentor usaha juga. Dan akhirnya saya dulu itu sering minta pendapat walaupun dia orangnya mungkin enggak terlalu paham tentang petakan, tetapi sedikit-sedikit kalau saya tetap pentakan dia tetap bisa mengasih solusi kalau saya ada kendala. Jadi ya lumayan sering ke sini juga sering ya kita ngobrol-ngobrol lah Mas gitu. Saya juga sangat berterima kasih soalnya soalnya itu kan termasuk perantara saya yang mungkin di hidup saya yang paling besar. Kalau tidak ada perantara itu mungkin saya kan juga belum punya peternakan. Mungkin masih kerja. [Musik] Kalau saya itu pertama di ternak itu mesti ada SOP kandang masuk. Jadi kalau saya kandang masuk itu SOP-nya yang pertama mungkin disuntik vitamin, Mas. Nafsu makan dan lain-lain. Yang keduanya disuntik anti parasit, Mas. Tujuannya apa? Parasit yang dari luar tidak masuk ke dalam kandang. Yang ketiga itu paling penting, Mas. Suntik hormon. Jadi suntik hormon itu saya wajib buat masuk kandang. Jadi dom itu disuntik hormon biar apa? Dia hormonnya selalu baik. Jadi ketika dia masa braynya selalu pas, enggak telat, enggak lambat gitu. Nanti kalau domba itu braynya telat, Mas, itu nanti juga bermasalah dengan rahimnya. Pengalaman saya gitu. Jadi kalau masa bayinya itu telat, jadi domba itu tambah gemuk, tambah gemuk nanti dia itu brinya susah akhir-akhirnya dan akhirnya susah bunting. Yang rugi nanti ki peternak. Jadi saya mewajibkan masuk kandang itu disuntik hormon. Kalau di buntingan sebenarnya juga breeding, Mas. Tapi kan kita mengekat proses yang awalnya nanti bunting, habis itu ada proses buntingnya 5 bulan terus beranak anaknya lepas. Saya kan mengekat itu toh dengan mempercepat perputaran cepatnya bunting kita juga cepatnya untung. Saya suka yang cepat soalnya Mas. Jadi mungkin kalau kita breeding 1 tahun nanti kita baru panen ya baru panen. Nah, tapi kan ini 3 bulan sudah panen. Jadi saya dulu menemukan hal yang unik kayak gitu e saya langsung ngulik-ngulik itu Mas akhirnya. Dan saya alhamdulillah kok lebih suka buntingan itu. Akhirnya kan saya pakainya di jantan impor, Mas ya. Jantan impor itu yang ya kita belinya jantan di luar negeri. Namanya contoh doorper, sulfog, Texel full blood gitu. Jadi itu domba-domba yang diimpor dari Australia lah. Saya pakainya jantan itu. Tapi menurut saya itu jantan itu bebas. Menurut saya jantan itu bebas. Bisa pakai jantan apapun yang penting kualitasnya itu bagus. Dan juga mungkin kita juga tergantung perawatannya ya. Jantan itu ada perawatan-perawatan yang khusus. Contoh kalau di saya itu uniknya itu biar panennya maksimal. Terus itu jantan mandi, Mas. Jantan itu mandi setiap harinya mandi. Jantan lima-limanya itu setiap hari mandi. Terus 2 minggu sekali ada suntik hormon juga buat jantan. Terus ada lagi makan kecambah kayak gitu-gitu buat spermainnya kualitasnya biar bagus. Itu adalah tujuannya buat memaksimalkan bunting-buntingannya itu banyak dan juga fertilitas jantannya itu biar bagus. Terus doper saya itu ada satu ekor itu maskot dari kandang saya itu jombo. Dulu belinya 42. Jantan pertama itu beli di Mas Feri dulu. Mas Feri terus saya tukarkan sama teman teman lokalan sini saya tukarkan. Ada yang lebih saya tukarkan lah. Itu sekarang jatnya yang sekarang itu yang saya tukarkan itu. [Musik] Saya 23 Jalan 24 ini sekitar 3 tahun. 3 tahun jalan ini sejak dipindah ini kalau full bisa 130. Handle sendiri saya dulu itu awalnya kan Bapak kerja di sawah. Terus selama-kelamaan itu pas saya membangun peternakan ini, Mas. Saya itu penginnya cuma satu. Saya mempunyai pimpinnya cuma satu. Pertama kepenginnya enggak muluk-muluk. Peternakan besar enggak? Penginnya cuma satu, Bapak sama Ibu enggak kerja. Penginnya cuma satu itu. Bapak sama Ibu enggak kerja, saya pengin Bapak Ibu itu istirahat. Berarti saya ngopen, "Mas, saya itu mencari relasi di Kediri. Saya membentuk relasi di Kediri. Saya belajar di mentor-mentor yang sudah berpengalaman di bidang peternakan. Makanya saya berterima kasih kepada semua relasi yang di Kediri. saya sebut nama. Terima kasih Pak Irfan, Mas Feri, sama Masar. Saya berterima kasih banyak atas jenengan-jenengan bisa mementori saya sampai peternakan saya bisa berkembang saat ini. Jadi saya membentuk relasi, Mas. Dulu itu 22 ekor itu jantannya kan satu. Itu jantannya itu lokal, Mas. Dan saya itu ditawari sampean tak pinjami jantan mau sama teman saya itu. Akhirnya dipinjamin jantan, dikawinkan sama betina-betina 22 ekor itu. Akhirnya saya bisa panen pertama kali dan akhirnya jantannya tak cicil. Alhamdulillah bisa ngelunasi. Jadi jantannya kan di sini saya semuanya pakai impor. Jantannya saya nyicil satu. Alhamdulillah sampai sekarang bisa sampai lima. Satu jantan itu bisa 30 sampai 40 ekor betinanya. Tabungan enggak ada, Mas. Jadi tabungan itu, Mas, saya kan dulu kerjanya ya UML lah, Mas. Lah saya berani saya bawa ke sini ya. Dulu pertama kali niatnya itu membantu, Mas. Yang membantu sana itu sudah bingung. Jadi sudah bingung 22 ekori nanti mau dijual semua. Terus saya tawari, "Mas, kalau dibawa ke Kediri, dijual di Kediri gimana?" gitu loh. Akhirnya dibawa di Kediri, Mas. Lah di Kediri itu saya juga sambil kerja dulu. Saya kan jualan online, Mas. Jadi ilmu yang saya dulu saya jadi host live terus jualan produk sama packing itu akhirnya saya terapkan jualan online saya sendiri. Produknya dulu sanitari. Sanitari itu kebersihan contoh wastaffel kayak gitu-gitu. Dulu ngambil di teman Malang juga sampai sekarang. Dulu sampingan, sekarang utama malah hasilnya mengalahkan yang sanitari. Tahu dari mana Mas si domba ini buting atau gak? Dulu saya juga kaget karena ada USG. Awal itu juga saya itu ada teman yang menyarankan buat USG, akhirnya saya USG. Ternyata domba kan juga bisa di USG. Buat mungkin orang-orang yang masih awam USG itu mempercepat panen kita. Soalnya kan kita enggak jual e mamang nafsir, oh ini bunting kan enggak jadi positif bunting. Kalau saya pakai dokter, kita kalau pakai dokter itu nanti kalau ada masalah hormon dalam kandungan atau hormon yang bermasalah itu nanti sama dokternya dikasih tahu. Jadi kita bisa evaluasi lebih banyak lagi. Kalau di peternakan saya itu kalau di sayingnya bunting tapi keadaan pas waktu di kandang yang si pembeli itu ternyata mboten bunting. Enggak boten buntingnya ada contoh mboten keguguran. Ya, kalau keguguran mungkin kesalahan dari peternak. Tapi ternyata ternyata emang enggak bunting. Mungkin dari sini itu kawinnya agak awal. Jadi kedeteksi USG-nya terlalu kecil janinnya. Jadi pas waktu di pembeli ternyata jantinnya gugur di dalam eh bukan gugur di luar. Dan itu di peternakan saya ada kompensasi tanggung jawab dari peternakan saya. Jadi ada uang buat mengganti rugi untuk si pembeli yang kerugiannya. Ternyata domba itu tidak penting. Karena apa? Saya dulu juga tahu rasanya kalau kita tuh beli domba bunting, ternyata moten bunting. Kalau si penjualnya tidak mau tanggung jawab itu takutnya kita sakit hati. Makanya saya itu selalu memberikan orang itu biar enggak sakit hati sama orang-orang biar tetap senang. Itu akhirnya saya ada kompensasi seperti itu. E anggap aja kita yang buntingan paling murah itu 3,5 ya. 3,5 itu berarti kalau 50 ya tinggal dikali 50 ekor gitu. 150 berapa ya? segituan lah. [Musik] Kalau dari betinanya, Mas ya. Kalau sampai betina itu di harga R2 juta. HPP harga pakan per hari per ekor sampai panen itu sekitar sudah bersih, Mas. Sudah semuanya juga itu per ekornya ketemunya sekitar Rp300.000. Jadi kan sekitar Rp2.300-an. R juta sudah siap kawin. Berarti usia sekitar 7 89 itu sudah siap kawin. Terus jadikan sekitar Rp2.300 itu lah. Jadi saya jualnya kan sekitar Rp35uta. Alhamdulillah pakan saya itu bisa menekan biaya pakan yang sangat rendah. Soalnya kan saya bikin sendiri Mas. Berarti Rp25 juta kalau saya jualnya Rp35uta ya sisanya untung gitu. Jadi seumpama tinggal dikali berapa ekor yang kita bisa jual dalam 1 bulan itu. Terus saya ngambil keuntungannya ya enggak banyak Mas. Saya kembalikan lagi di peternakan biar peternakan saya itu tambah besar. Jadi ngambilnya sekitar 1 bulan itu ya sekitar ee 5 sampai 8. Seumpama dari 100% ya saya mungkin cuma ngambil di 15% Mas sampai 20%. Selainnya tak masukin lagi. Jadi hasil untungnya lumayan Masar aja Mas ya. Kalau di sini kan saya serat. Otomatis saya harus memenuhi seratnya karbohidratnya sama proteinnya. Kalau seratnya saya ngambilnya di tebon jagung. Tebon jagung dicoper dan akhirnya membuat usaha baru lagi jual silase. Silas tebon jagung sudah coper itu tebon jagung sama tumpi jagung untuk seratnya. Terus saya karbohidratnya pakai singkong itu dicoper juga sama bekatul. Jadi singkong sama bekatul itu gilingnya barengan. Tujuannya biar tidak kempel gitu loh. Proteiknya pakai kopra jadi ya mayar sudah pakannya itu sudah murah juga soalnya di Kediri itu bahan pakan yang melimpah itu dan nafsu magannya. Alhamdulillah kalau nutrisinya sudah tercukupi, Mas, domba itu insyaallah tidak ada kendala-kendala yang sakit-sakit yang kayak gimana-gimana udah enggak. Soalnya apa? Masuk sudah kita suntik nafsu makan, obat cacing luar dalam, parasit luar dalam sudah enggak ada. Terus nutris pakannya sudah terpenuhi. Insyaallah domba itu sudah nyaman dan sehat. Jadi kita mengantisipasi yang kita biar enggak sering nyuntik di tengah-tengah atau di akhir kita itu di awal dibereskan semua. saya penjualan itu full online. Jadi online ini contoh ya di platform-platform yang sudah tersedia contoh ya YouTube, TikTok, FB. Jadi saya semuanya itu saya jual di situ. Mungkin kalau teman-teman TikTok YouTube sudah ada yang pernah lihat saya jualan di situ, berarti ya saya sudah mempromosikan di platform-platform itu. Saya kalau dengan relasi enggak terlalu begitu banyak. Contoh dibeli teman itu enggak begitu banyak. Jadi saya tuh full kirimnya ke banyak luar kotanya daripada e lokalan ke di sini. Efektif sekarang kan kita harus juga memanfaatkan platform-platform itu toh, Mas. Apalagi saya juga live TikTok itu loh, Mas. Live TikTok domba itu juga yang kemarin itu yang saya coba itu ngaruh tuh sangat ngaruh. Yang pertama kalau di TikTok itu saya edukasi dulu, Mas. Saya edukasi terus nanti saya arahkan untuk masuk ke DM gitu. Nanti kita DM, kita arahkan ke WhatsApp, dimasukkan ke WhatsApp. Itu nanti tujuannya kan kita kalau kita upload story, upload stok atau produk kita di story kan nanti teman-teman bisa lihat. E nanti kita setiap harinya ada upload buat stok domba-domba kita. Jadi yang dulunya saya jualnya buntingan, sekarang aku itu dititipin domba teman-teman jual, jual jual. Jadi kan saya juga alhamdulillah dapat untung dari yang namanya trading domba gitu. Kalau dibunting aman, Mas. Soalnya apa? dijual buntingan lebih tua kan lebih mahal. Buntingan tua itu lebih mahal, Mas, harganya. Soalnya mungkin si pembeli menginginkan domba itu lebih cepat untuk beranak. Terus kalau sampai beranak di sini berarti kan kita juga bisa jual babon sama anak. Jadi kita bisa tetap untung gitu. Kalau mungkin evaluasi dari diri saya mungkin kenapa saya kadang kok malas, masa saya malas gitu. Kadang emang malas, Mas. Soalnya jadi saya tuh pemasarannya kurang dalam 1 hari mungkin cuma di TikTok sama YouTube aja contohnya. di FB-nya enggak. Jadi untuk menciasati kayak gitu itu saya lebih menyemangati diri saya. Jadi biar buntingan itu selalu habis, saya kan jadinya harus oh ini saya punya target 1 bulan harus habis akhirnya saya harus menggebu-gebu buat memasarkan domba-domba yang bunting itu. [Musik] Yang pertama saya ekonomi tadi keluarga saya kan ya cukup lah, Mas. Kadang cukup kadang kurang gitu. Jadi saya itu dipacu buat kerja. Jadi dulu saya kuliah sama kerja ya, banyak pekerjaan itu yang tidak memperbolehkan. Kita pada waktu izin buat kerja itu banyak yang tidak memperbolehkan. Terus saya mau masuk kelas karyawan juga biayanya mahal, Mas. Akhirnya saya ya tetap ternyata harus kerja. Jadi saya itu memutuskan dulu buat enggak kuliah lagi itu sekitar semester 3 mau keempat. Soalnya juga saya itu membantu keluarga, Mas ya. Membantu keluarga desa itu julur dua. Jadi Bapak saya cuma petani, Mas. Cuma petani biasa, ya. sawahnya enggak enggak banyak cukup. Jadi panenannya buat sehari-hari itu ya kadang kurang kadang cukup. Jadi akhirnya mendongklak saya itu harus lebih. Jadi itu saya dulu itu dalam 1 hari kerja duip itu biasa mah pas waktu belum full terjun di packing itu saya tuh nyambi di packing. Jadi jam 08.00 sampai jam 10.00 jam 12.00-nya itu packing sampai jam .00. Kenapa packingnya sampai jam 12.00? Karena orangnya punya usaha angkringan. Jadi nunggu tutup angkringan. Habis itu packing jam 12.00-nya. nya tutupnya jam 12.00 itu sampai subuh packing bareng. Kalau yang kerja di duip sama packing itu saya 4 bulan langsung loro tipes. Saya kan dulu kan atlet toh atlet. Jadi dulu itu dulu saya atlet pencak silat yang atlet loh ya bukan yang di jalan-jalan bukan saya atlet saya saking semangatnya itu saya enggak bisa sakit lah. Pertama kali sakit itu tipes. Ternyata saya percaya kalau saya bisa sakit. Alhamdulillah kalau altit itu lumayan tinggi Mas. Jadi saya dulu kota kabupaten saya itu sidit n jadi kayak juara bertahan gitu loh. Terus kalau provinsi dulu itu malah saya enggak pernah juara di Jawa Timur. Saya itu mainnya dulu di Jawa Tengah malahan. Dari dulu saya malah kejuaraan provinsi malah juara di Jawa Tengah. Habis itu mulailah main-main di open turnamen internasional, open turnamen nasional itu alhamdulillah banyak yang nyabet Mas. Makanya alhamdulillah kalau prestasi ya dulu juga mendorong saya di ekonomi juga. Sekarang berlanjut, Mas? Enggak. Sekarang kaki saya yang kiri itu ligamennya sobek. Dulu itu perawatan kabupaten kota itu menurut saya kurang dulu. Jadi pas waktu cedera atletnya akhirnya gitu. Jadi ligam saya itu kurang seumpama diobatin itu kurang maksimal. Menurut saya senangnya itu ya Mas ya. Kalau di saya kan hobi. Jadi hobi itu senangnya gimana? Saya itu kalau ngeramut, ngasih makan, bahkan mandiin setiap hari loh kalau sama di logika orang itu kok telaten gitu. Mandiin setiap hari jantan ngasih kecambah sendiri satu-satu per ekornya itu. Jadi saya itu hobi akhirnya suka meramutnya itu yang sukanya yang terakhir adalah cuan. Otomatisnya kan kita kalau hobi aja kalau tidak menghasilkan uang kan juga kita banyak ruginya tuh Mas gitu. Aktivitas ini menghidupi sinten mawon Mas? orang tua, adik sekolah sama saya sama istri saya baru nikah sekitar 4 bulanan. Dan saya itu juga menghidupinya tambah banyak soalnya istri saya itu kuliah kesehatan. Jadi saya itu yang menghidupi orang tua, adik saya sekolah dua, istri saya kuliah sama diri saya sendiri. Alhamdulillah cukup. Dari hasil ternak domba ini sudah dapat apa? Kalau yang pertama sih itu tetap menghidupi itu kalau saya sudah apa ya? Motor tiga. Alhamdulillah sudah mobil. Terus mungkin ya HP HP saya, HP keluarga, HP istri ya semualah. Kan saya juga menghidupi keluarga ya saya utamakan keluarga dulu itu ya. Mungkin dari niat baik itu Mas. Ini saya Mas ya. Alhamdulillah setelah saya itu menghidupi keluarga saya rezekinya sama Allah dikasih banyak. Kita kan tidak tahu ternyata doanya orang tua kan tidak ada halang-halangannya toh Mas. Langsung tembus toh Mas. Terus ada lagi kalau kita nikah katanya sama Allah itu rezekinya digerojokan. Saya coba nikah nanti akhirnya saya nikah alhamdulillah energi tetap digerojokan. Saya dulu mikir istri saya kuliah kesehatan mahal gitu. Apa bisa? Alhamdulillah ya bisa [Musik] ya. Kalau saya sih para pemuda-pemuda yang mungkin masih baru terjun di peternakan ya, orang-orang mungkin yang teman-teman semua yang baru terjun di peternakan ya saran saya ya tetap semangat ya diulik-ulik bahwasanya ternak ini hal yang bisa dipelajari jadinya insyaallah tetap mudah tentunya bisa menggunakan mentor-mentor di lokasi masing-masing atau teman-teman bisa juga menghubungi saya buat mungkin belajar bareng gitu teman-teman semua-semua ya tetap semangat buat ternak di Indonesia ini gitu. Saya owner Diamond Farm Kediri, Mas Ian yang beralamat di Desa Padangan, Dusun Tangkilan, Kecamatan Keng Kidul, Kabupaten Kediri. Terima kasih banyak. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. [Musik]