Transcript
X4ZMO6aYg8w • Peternakan Domba Bunting dengan Manajemen Modern Dikelola Anak Muda 23 Tahun!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0592_X4ZMO6aYg8w.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Jadi saya dulu itu dalam 1 hari kerja
dua sip itu biasa mah pas waktu belum
full terjun di packing itu saya tuh
nyambi di packing. Jadi jam 08.00 sampai
jam 10. Jam 12.00-nya itu packing sampai
jam .00. Kalau yang kerja di du sip sama
packing itu saya 4 bulan
langsung loro ya
tipes
ini saya Mas ya. Alhamdulillah setelah
saya itu menghidupi keluarga saya
rezekinya sama Allah dikasih banyak.
Kita kan tidak tahu ternyata doanya
orang tua kan tidak ada
halang-halangannya toh Mas. Langsung
tembus toh Mas. Terus ada lagi kalau
kita nikah katanya sama Allah itu
rezekinya digerojokkan. Saya coba nikah
nanti akhirnya saya nikah alhamdulillah
energi tetap digerojokkan. Saya dulu
mikir istri saya kuliah kesehatan mahal
gitu apa bisa? Alhamdulillah ya bisa.
Kalau saya mengambil keuntungan per satu
ekor buntingan ini sama aja ya. Jadi
contoh saya beli betinanya R2 juta
sampai Rp2 juta. Anggap aja R juta. Saya
jualnya Rp35uta. Pakan saya per hari per
ekor itu selama 1 bulannya itu sekitar
Rp150 sampai Rp200.000 sebulan. Jadi
mungkin kalau kita di 3 bulan mungkin
sekitar ya 300-an sekitar segitu.
Soalnya kan saya produksi bakar sendiri
lah. Untungnya ya tinggal sisanya itu.
[Tertawa]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ian
dari Diamundofarm Kediri yang beralamat
di Desa Padangan, Dusun Tangkelan,
Kecamatan Kenkidol, Kabupaten Kediri.
Kenapa kok peternakan saya namanya dia
Mundo? Dulu kan awal mula terakini
berdiri itu kan saya dulu lulus SMA
kerja Mas sampai pindah delan pekerjaan
dulu. Terus yang kelapan dulu saya kerja
di peternakane orang di Malang lah.
Peternakane orang ini namanya dia mundu.
Pekerja di peternakane orang itu saya
kerja hampir 1 tahun terus ternyata
manajemennya yang situ yang ngelola itu
kurang belajar di dunia peternakan.
Narti manajemennya kurang, cara
perawatannya kurang dan akhirnya dari
domba 70 ekor itu mati tinggal 22 ekor
aja. 22 ekor itu dibawa ke sini, Mas,
samanya disuruh bawa ke sini terus tak
ramut, tak kelola terus saya tetap
menggunakan namanya Diamundo. Itulah
awal mulainya Diamundo itu di sini saya
bangun usaha peternakan ini. Jadi mulai
dari awal lulus SMA, gang 3 hari
langsung sales sales sales regulator
LPG, Mas. Orang-orang sekarang banyak
yang baron-baron sales jilarang masuk
lah. Itu saya dulu orang-orang yang
kayak gitu, Mas. Terus yang keduane saya
barista. Saya barista itu pindah tiga
kali kafe. Terus security di mall kecil
yang ada di Kediri namanya dulu Galuh
Aksesoris. Terus kerja di sawit Lampung.
Terus packing barang online terus host.
Berarti packing saya sambil jadi host
live. Yang terakhir itu peternakan. Dan
itu sudah proses saya mungkin sama Allah
yang 8 ini alhamdulillah dikasih hoki
ownernya baik akhirnya saya disuruh
mengembangin usaha ini. Yang sebenarnya
22 itu ownernya itu udah lepas Mas itu
udah enggak tahu mau dikemain. Rugi
sudah mentok ruginya. Dan saya saya bawa
ke sini enggak ada kandang, Mas. Dulu
ada kandang ayam cuma ukuran berapaan
loh, Mas. Jadi tak umbar full, tak kasih
jaring waring, dombanya tak full umbaran
itu 22. Saya juga bingung, Mas. Dulu mau
diapain itu. Niatnya juga nulung. Ya
udah, Mas. Dombanya itu saya bawa aja
enggak apa-apa nanti di Kediri tak ola
tak kelolanya gitu.
Kalau manajemen sih di sini kan
ternaknya itu termasuk ternak unik, Mas.
Saya itu jualnya buntingan. Jantan
dikoloni sama betina. Nanti 2 bulan
bunting. Saya pemasaran nanti semalam 1
bulan. Jadi selama 3 bulan sekali saya
panen. Lah jualnya itu buntingan. Jadi
saya itu setiap 2 bulan sekali mesti
ready buntingan, Mas. Berarti jualan
saya tuh unik kayak gitu. Nanti untuk
manajemennya mungkin enggak terlalu
ribet ya karena bunting keluar nanti
kita beliin betina lagi gitu
teman-teman. Ada yang jual kiloan tapi
kalau saya itu jualnya jogrok Mas.
Jogrok itu per ekor. Jadi ada ranks.
Contoh saya ada empat jantan yang
jenisnya berbeda. Contoh jantan dolper
itu harga buntingannya 3,5. Jant Sulfog
harga buntingannya Rp4 juta. Ada rank
harganya saya pakainya gitu. Jadi itu
nanti fleksibel kita bisa nego-negoan.
Kalau timbang kan kadang kita agak susah
buat nego-negoan. Tapi kalau kita jogrok
kita itu lebih fleksibel untuk
nego-negoan sama pembeli. Terus saya kan
juga produksi pakan sendiri Mas. Jadi
untuk pakan saya juga menyerap dari
masyarakat lingkungan sini itu tebon
jagung Mas. Tebun jagung itu setiap
orang yang punya tebon jagung bisa
disetorkan ke gudang saya. Nanti saya
olah, saya produksi, saya jual juga.
Jadi, manajemen saya termasuk lumayan
mudah lah, Mas. Enggak yang terlalu
banyak keluar masuknya. Jadi, keluar
masuknya hanya ketika saya panen. Ramai
sih, Mas. Alhamdulillah, ya. Mesti
lumayan habis. Terus contoh gini, Mas,
ya. Ini kan ada empat kandang. Empat
kandang itu selalu saya ambil di
50%-nya. Contoh saya koloni 30 ekor.
Jadi 50% kan sekitar 15 per kandang.
Jadi kalau kali 4 kan sekitar berapa?
45an lah. 45 sampai 50 kadang. Lah
berarti saya itu sebulan harus bisa
menjual 50 ekor buntingan. Kalau 50 ekor
itu enggak kejual berarti kan saya harus
molor di nantinya koloni selanjute.
Soalnya kan ada kandang yang tersekat
buat betina-betina yang bunting.
Akhirnya harus saya selalu harus
pemasarannya harus full kencang.
[Musik]
Pekerjaan yang terakhir di FAM itu, Mas.
Menurut jenengan apa yang bikin bangkut?
E menurut saya itu dulu itu pas waktu
saya kerja di situ, saya kan sedikit
banyak tahu peternakan. Soalnya dulu
saya kuliah peternakan tapi enggak
lulus. Habis itu saya dulu selalu
menyampaikan bahwasanya ada
nutrisi-nutrisi dalam pakan itu yang
harus terpenuhi ya. Di sana itu tidak
terpenuhi. Contohnya kita ada serat,
karbohidrat, dan protein. Ternyata di
sana kita cuma dikasih pakan Pak Cong
aja. Nah, ketika saya menyampaikan
sesuatu ke atasan saya itu kurang
dilakukan dan akhirnya ya kalau tidak
dilakukan namanya kita hebu nutrisinya
tidak terpenuhi loh Mas, pasti dombanya
kan juga tersiksa toh Mas. Bahwasanya
domba itu membutuhkan nutrisi-nutisi
tersebut untuk memenuhi kebutuhan tubuh
tapi dia terpenuhi jadinya ya dia kurang
sehat badannya. Terus dia tidak ada
keluar masuk, Mas. Dombanya di sana
belum pernah jual gitu loh. Maksudnya
niatnya tuh diternak terus nanti beranak
dijual. Tetapi dombanya dia kurus-kurus,
Mas. Dombanya perawatannya kurang baik.
Terus siapa yang mau beli? Jadi dulu itu
perawatannya kurang, manajemennya juga
kurang. Jadi saya menyampaikan ini kok
enggak diginiin, enggak diginiin. Saya
itu langsung menyampaikan ke ownernya
paling atas. Ternyata ownernya paling
atas juga baru tahu itu ceritanya itu.
Makanya yang sisa itu akhirnya ini usaha
yang di sini di stop aja. Domba 22 ekor
ini akhirnya dibawa ke Kediri ini. Itu
semuanya dulu crossel. Jadi crossel itu
betina-betina cross sama jantannya lokal
satu.
Owner yang menghibahkan kambingnya 22
itu sekarang situasinya seperti apa?
Dia malah sering ke sini, Mas. Soalnya
itu kesenangan tersendiri, Mas. Tahu
ternyata alhamdulillah ternyata bisa
berkembang gitu. Dulu kan saya
hitungannya usaha kan baru tuh. Jadi
saya harus punya mentor usaha juga. Dan
akhirnya saya dulu itu sering minta
pendapat walaupun dia orangnya mungkin
enggak terlalu paham tentang petakan,
tetapi sedikit-sedikit kalau saya tetap
pentakan dia tetap bisa mengasih solusi
kalau saya ada kendala. Jadi ya lumayan
sering ke sini juga sering ya kita
ngobrol-ngobrol lah Mas gitu. Saya juga
sangat berterima kasih soalnya soalnya
itu kan termasuk perantara saya yang
mungkin di hidup saya yang paling besar.
Kalau tidak ada perantara itu mungkin
saya kan juga belum punya peternakan.
Mungkin masih kerja.
[Musik]
Kalau saya itu pertama di ternak itu
mesti ada SOP kandang masuk. Jadi kalau
saya kandang masuk itu SOP-nya yang
pertama mungkin disuntik vitamin, Mas.
Nafsu makan dan lain-lain. Yang keduanya
disuntik anti parasit, Mas. Tujuannya
apa? Parasit yang dari luar tidak masuk
ke dalam kandang. Yang ketiga itu paling
penting, Mas. Suntik hormon. Jadi suntik
hormon itu saya wajib buat masuk
kandang. Jadi dom itu disuntik hormon
biar apa? Dia hormonnya selalu baik.
Jadi ketika dia masa braynya selalu pas,
enggak telat, enggak lambat gitu. Nanti
kalau domba itu braynya telat, Mas, itu
nanti juga bermasalah dengan rahimnya.
Pengalaman saya gitu. Jadi kalau masa
bayinya itu telat, jadi domba itu tambah
gemuk, tambah gemuk nanti dia itu brinya
susah akhir-akhirnya dan akhirnya susah
bunting. Yang rugi nanti ki peternak.
Jadi saya mewajibkan masuk kandang itu
disuntik hormon. Kalau di buntingan
sebenarnya juga breeding, Mas. Tapi kan
kita mengekat proses yang awalnya nanti
bunting, habis itu ada proses buntingnya
5 bulan terus beranak anaknya lepas.
Saya kan mengekat itu toh dengan
mempercepat perputaran cepatnya bunting
kita juga cepatnya untung. Saya suka
yang cepat soalnya Mas. Jadi mungkin
kalau kita breeding 1 tahun nanti kita
baru panen ya baru panen. Nah, tapi kan
ini 3 bulan sudah panen. Jadi saya dulu
menemukan hal yang unik kayak gitu e
saya langsung ngulik-ngulik itu Mas
akhirnya. Dan saya alhamdulillah kok
lebih suka buntingan itu. Akhirnya kan
saya pakainya di jantan impor, Mas ya.
Jantan impor itu yang ya kita belinya
jantan di luar negeri. Namanya contoh
doorper, sulfog, Texel full blood gitu.
Jadi itu domba-domba yang diimpor dari
Australia lah. Saya pakainya jantan itu.
Tapi menurut saya itu jantan itu bebas.
Menurut saya jantan itu bebas. Bisa
pakai jantan apapun yang penting
kualitasnya itu bagus. Dan juga mungkin
kita juga tergantung perawatannya ya.
Jantan itu ada perawatan-perawatan yang
khusus. Contoh kalau di saya itu uniknya
itu biar panennya maksimal. Terus itu
jantan mandi, Mas. Jantan itu mandi
setiap harinya mandi. Jantan
lima-limanya itu setiap hari mandi.
Terus 2 minggu sekali ada suntik hormon
juga buat jantan. Terus ada lagi makan
kecambah kayak gitu-gitu buat
spermainnya kualitasnya biar bagus. Itu
adalah tujuannya buat memaksimalkan
bunting-buntingannya itu banyak dan juga
fertilitas jantannya itu biar bagus.
Terus doper saya itu ada satu ekor itu
maskot dari kandang saya itu jombo. Dulu
belinya 42. Jantan pertama itu beli di
Mas Feri dulu. Mas Feri terus saya
tukarkan sama teman teman lokalan sini
saya tukarkan. Ada yang lebih saya
tukarkan lah. Itu sekarang jatnya yang
sekarang itu yang saya tukarkan itu.
[Musik]
Saya 23 Jalan 24 ini sekitar 3 tahun. 3
tahun jalan ini sejak dipindah ini kalau
full bisa 130. Handle sendiri saya dulu
itu awalnya kan Bapak kerja di sawah.
Terus selama-kelamaan itu pas saya
membangun peternakan ini, Mas. Saya itu
penginnya cuma satu. Saya mempunyai
pimpinnya cuma satu. Pertama kepenginnya
enggak muluk-muluk. Peternakan besar
enggak? Penginnya cuma satu, Bapak sama
Ibu enggak kerja. Penginnya cuma satu
itu. Bapak sama Ibu enggak kerja, saya
pengin Bapak Ibu itu istirahat. Berarti
saya ngopen, "Mas, saya itu mencari
relasi di Kediri. Saya membentuk relasi
di Kediri. Saya belajar di mentor-mentor
yang sudah berpengalaman di bidang
peternakan. Makanya saya berterima kasih
kepada semua relasi yang di Kediri. saya
sebut nama. Terima kasih Pak Irfan, Mas
Feri, sama Masar. Saya berterima kasih
banyak atas jenengan-jenengan bisa
mementori saya sampai peternakan saya
bisa berkembang saat ini. Jadi saya
membentuk relasi, Mas. Dulu itu 22 ekor
itu jantannya kan satu. Itu jantannya
itu lokal, Mas. Dan saya itu ditawari
sampean tak pinjami jantan mau sama
teman saya itu. Akhirnya dipinjamin
jantan, dikawinkan sama betina-betina 22
ekor itu. Akhirnya saya bisa panen
pertama kali dan akhirnya jantannya tak
cicil. Alhamdulillah bisa ngelunasi.
Jadi jantannya kan di sini saya semuanya
pakai impor. Jantannya saya nyicil satu.
Alhamdulillah sampai sekarang bisa
sampai lima. Satu jantan itu bisa 30
sampai 40 ekor betinanya. Tabungan
enggak ada, Mas. Jadi tabungan itu, Mas,
saya kan dulu kerjanya ya UML lah, Mas.
Lah saya berani saya bawa ke sini ya.
Dulu pertama kali niatnya itu membantu,
Mas. Yang membantu sana itu sudah
bingung. Jadi sudah bingung 22 ekori
nanti mau dijual semua. Terus saya
tawari, "Mas, kalau dibawa ke Kediri,
dijual di Kediri gimana?" gitu loh.
Akhirnya dibawa di Kediri, Mas. Lah di
Kediri itu saya juga sambil kerja dulu.
Saya kan jualan online, Mas. Jadi ilmu
yang saya dulu saya jadi host live terus
jualan produk sama packing itu akhirnya
saya terapkan jualan online saya
sendiri. Produknya dulu sanitari.
Sanitari itu kebersihan contoh wastaffel
kayak gitu-gitu. Dulu ngambil di teman
Malang juga sampai sekarang. Dulu
sampingan, sekarang utama malah hasilnya
mengalahkan yang sanitari.
Tahu dari mana Mas si domba ini buting
atau gak?
Dulu saya juga kaget karena ada USG.
Awal itu juga saya itu ada teman yang
menyarankan buat USG, akhirnya saya USG.
Ternyata domba kan juga bisa di USG.
Buat mungkin orang-orang yang masih awam
USG itu mempercepat panen kita. Soalnya
kan kita enggak jual e mamang nafsir, oh
ini bunting kan enggak jadi positif
bunting. Kalau saya pakai dokter, kita
kalau pakai dokter itu nanti kalau ada
masalah hormon dalam kandungan atau
hormon yang bermasalah itu nanti sama
dokternya dikasih tahu. Jadi kita bisa
evaluasi lebih banyak lagi. Kalau di
peternakan saya itu kalau di sayingnya
bunting tapi keadaan pas waktu di
kandang yang si pembeli itu ternyata
mboten bunting. Enggak boten buntingnya
ada contoh mboten keguguran. Ya, kalau
keguguran mungkin kesalahan dari
peternak. Tapi ternyata ternyata emang
enggak bunting. Mungkin dari sini itu
kawinnya agak awal. Jadi kedeteksi
USG-nya terlalu kecil janinnya. Jadi pas
waktu di pembeli ternyata jantinnya
gugur di dalam eh bukan gugur di luar.
Dan itu di peternakan saya ada
kompensasi tanggung jawab dari
peternakan saya. Jadi ada uang buat
mengganti rugi untuk si pembeli yang
kerugiannya. Ternyata domba itu tidak
penting. Karena apa? Saya dulu juga tahu
rasanya kalau kita tuh beli domba
bunting, ternyata moten bunting. Kalau
si penjualnya tidak mau tanggung jawab
itu takutnya kita sakit hati. Makanya
saya itu selalu memberikan orang itu
biar enggak sakit hati sama orang-orang
biar tetap senang. Itu akhirnya saya ada
kompensasi seperti itu. E anggap aja
kita yang buntingan paling murah itu 3,5
ya. 3,5 itu berarti kalau 50 ya tinggal
dikali 50 ekor gitu.
150 berapa
ya? segituan lah.
[Musik]
Kalau dari betinanya, Mas ya. Kalau
sampai betina itu di harga R2 juta. HPP
harga pakan per hari per ekor sampai
panen itu sekitar sudah bersih, Mas.
Sudah semuanya juga itu per ekornya
ketemunya sekitar Rp300.000. Jadi kan
sekitar Rp2.300-an.
R juta sudah siap kawin. Berarti usia
sekitar 7 89 itu sudah siap kawin. Terus
jadikan sekitar Rp2.300 itu lah. Jadi
saya jualnya kan sekitar Rp35uta.
Alhamdulillah pakan saya itu bisa
menekan biaya pakan yang sangat rendah.
Soalnya kan saya bikin sendiri Mas.
Berarti Rp25 juta kalau saya jualnya
Rp35uta ya sisanya untung gitu. Jadi
seumpama tinggal dikali berapa ekor yang
kita bisa jual dalam 1 bulan itu. Terus
saya ngambil keuntungannya ya enggak
banyak Mas. Saya kembalikan lagi di
peternakan biar peternakan saya itu
tambah besar. Jadi ngambilnya sekitar 1
bulan itu ya sekitar ee 5 sampai 8.
Seumpama dari 100% ya saya mungkin cuma
ngambil di 15% Mas sampai 20%. Selainnya
tak masukin lagi. Jadi hasil untungnya
lumayan Masar aja Mas ya. Kalau di sini
kan saya serat. Otomatis saya harus
memenuhi seratnya karbohidratnya sama
proteinnya. Kalau seratnya saya
ngambilnya di tebon jagung. Tebon jagung
dicoper dan akhirnya membuat usaha baru
lagi jual silase. Silas tebon jagung
sudah coper itu tebon jagung sama tumpi
jagung untuk seratnya. Terus saya
karbohidratnya pakai singkong itu
dicoper juga sama bekatul. Jadi singkong
sama bekatul itu gilingnya barengan.
Tujuannya biar tidak kempel gitu loh.
Proteiknya pakai kopra jadi ya mayar
sudah pakannya itu sudah murah juga
soalnya di Kediri itu bahan pakan yang
melimpah itu dan nafsu magannya.
Alhamdulillah kalau nutrisinya sudah
tercukupi, Mas, domba itu insyaallah
tidak ada kendala-kendala yang
sakit-sakit yang kayak gimana-gimana
udah enggak. Soalnya apa? Masuk sudah
kita suntik nafsu makan, obat cacing
luar dalam, parasit luar dalam sudah
enggak ada. Terus nutris pakannya sudah
terpenuhi. Insyaallah domba itu sudah
nyaman dan sehat. Jadi kita
mengantisipasi yang kita biar enggak
sering nyuntik di tengah-tengah atau di
akhir kita itu di awal dibereskan semua.
saya penjualan itu full online. Jadi
online ini contoh ya di
platform-platform yang sudah tersedia
contoh ya YouTube, TikTok, FB. Jadi saya
semuanya itu saya jual di situ. Mungkin
kalau teman-teman TikTok YouTube sudah
ada yang pernah lihat saya jualan di
situ, berarti ya saya sudah
mempromosikan di platform-platform itu.
Saya kalau dengan relasi enggak terlalu
begitu banyak. Contoh dibeli teman itu
enggak begitu banyak. Jadi saya tuh full
kirimnya ke banyak luar kotanya daripada
e lokalan ke di sini. Efektif sekarang
kan kita harus juga memanfaatkan
platform-platform itu toh, Mas. Apalagi
saya juga live TikTok itu loh, Mas. Live
TikTok domba itu juga yang kemarin itu
yang saya coba itu ngaruh tuh sangat
ngaruh. Yang pertama kalau di TikTok itu
saya edukasi dulu, Mas. Saya edukasi
terus nanti saya arahkan untuk masuk ke
DM gitu. Nanti kita DM, kita arahkan ke
WhatsApp, dimasukkan ke WhatsApp. Itu
nanti tujuannya kan kita kalau kita
upload story, upload stok atau produk
kita di story kan nanti teman-teman bisa
lihat. E nanti kita setiap harinya ada
upload buat stok domba-domba kita. Jadi
yang dulunya saya jualnya buntingan,
sekarang aku itu dititipin domba
teman-teman jual, jual jual. Jadi kan
saya juga alhamdulillah dapat untung
dari yang namanya trading domba gitu.
Kalau dibunting aman, Mas. Soalnya apa?
dijual buntingan lebih tua kan lebih
mahal. Buntingan tua itu lebih mahal,
Mas, harganya. Soalnya mungkin si
pembeli menginginkan domba itu lebih
cepat untuk beranak. Terus kalau sampai
beranak di sini berarti kan kita juga
bisa jual babon sama anak. Jadi kita
bisa tetap untung gitu. Kalau mungkin
evaluasi dari diri saya mungkin kenapa
saya kadang kok malas, masa saya malas
gitu. Kadang emang malas, Mas. Soalnya
jadi saya tuh pemasarannya kurang dalam
1 hari mungkin cuma di TikTok sama
YouTube aja contohnya. di FB-nya enggak.
Jadi untuk menciasati kayak gitu itu
saya lebih menyemangati diri saya. Jadi
biar buntingan itu selalu habis, saya
kan jadinya harus oh ini saya punya
target 1 bulan harus habis akhirnya saya
harus menggebu-gebu buat memasarkan
domba-domba yang bunting itu.
[Musik]
Yang pertama saya ekonomi tadi keluarga
saya kan ya cukup lah, Mas. Kadang cukup
kadang kurang gitu. Jadi saya itu dipacu
buat kerja. Jadi dulu saya kuliah sama
kerja ya, banyak pekerjaan itu yang
tidak memperbolehkan. Kita pada waktu
izin buat kerja itu banyak yang tidak
memperbolehkan. Terus saya mau masuk
kelas karyawan juga biayanya mahal, Mas.
Akhirnya saya ya tetap ternyata harus
kerja. Jadi saya itu memutuskan dulu
buat enggak kuliah lagi itu sekitar
semester 3 mau keempat. Soalnya juga
saya itu membantu keluarga, Mas ya.
Membantu keluarga desa itu julur dua.
Jadi Bapak saya cuma petani, Mas. Cuma
petani biasa, ya. sawahnya enggak enggak
banyak cukup. Jadi panenannya buat
sehari-hari itu ya kadang kurang kadang
cukup. Jadi akhirnya mendongklak saya
itu harus lebih.
Jadi itu saya dulu itu dalam 1 hari
kerja duip itu biasa mah pas waktu belum
full terjun di packing itu saya tuh
nyambi di packing. Jadi jam 08.00 sampai
jam 10.00 jam 12.00-nya itu packing
sampai jam .00. Kenapa packingnya sampai
jam 12.00? Karena orangnya punya usaha
angkringan. Jadi nunggu tutup
angkringan. Habis itu packing jam
12.00-nya. nya tutupnya jam 12.00 itu
sampai subuh packing bareng. Kalau yang
kerja di duip sama packing itu saya 4
bulan
langsung loro
tipes. Saya kan dulu kan atlet toh
atlet. Jadi dulu itu dulu saya atlet
pencak silat yang atlet loh ya bukan
yang di jalan-jalan bukan saya atlet
saya saking semangatnya itu saya enggak
bisa sakit lah. Pertama kali sakit itu
tipes. Ternyata saya percaya kalau saya
bisa sakit. Alhamdulillah kalau altit
itu lumayan tinggi Mas. Jadi saya dulu
kota kabupaten saya itu sidit n jadi
kayak juara bertahan gitu loh. Terus
kalau provinsi dulu itu malah saya
enggak pernah juara di Jawa Timur. Saya
itu mainnya dulu di Jawa Tengah malahan.
Dari dulu saya malah kejuaraan provinsi
malah juara di Jawa Tengah. Habis itu
mulailah main-main di open turnamen
internasional, open turnamen nasional
itu alhamdulillah banyak yang nyabet
Mas. Makanya alhamdulillah kalau
prestasi ya dulu juga mendorong saya di
ekonomi juga. Sekarang berlanjut, Mas?
Enggak. Sekarang kaki saya yang kiri itu
ligamennya sobek. Dulu itu perawatan
kabupaten kota itu menurut saya kurang
dulu. Jadi pas waktu cedera atletnya
akhirnya gitu. Jadi ligam saya itu
kurang seumpama diobatin itu kurang
maksimal.
Menurut saya senangnya itu ya Mas ya.
Kalau di saya kan hobi. Jadi hobi itu
senangnya gimana? Saya itu kalau
ngeramut, ngasih makan, bahkan mandiin
setiap hari loh kalau sama di logika
orang itu kok telaten gitu. Mandiin
setiap hari jantan ngasih kecambah
sendiri satu-satu per ekornya itu. Jadi
saya itu hobi akhirnya suka meramutnya
itu yang sukanya yang terakhir adalah
cuan. Otomatisnya kan kita kalau hobi
aja kalau tidak menghasilkan uang kan
juga kita banyak ruginya tuh Mas gitu.
Aktivitas ini menghidupi sinten mawon
Mas? orang tua, adik sekolah sama saya
sama istri saya baru nikah sekitar 4
bulanan. Dan saya itu juga menghidupinya
tambah banyak soalnya istri saya itu
kuliah kesehatan. Jadi saya itu yang
menghidupi orang tua, adik saya sekolah
dua, istri saya kuliah sama diri saya
sendiri. Alhamdulillah cukup.
Dari hasil ternak domba ini sudah dapat
apa?
Kalau yang pertama sih itu tetap
menghidupi itu kalau saya sudah apa ya?
Motor tiga. Alhamdulillah sudah mobil.
Terus mungkin ya HP HP saya, HP
keluarga, HP istri ya semualah. Kan saya
juga menghidupi keluarga ya saya
utamakan keluarga dulu itu ya. Mungkin
dari niat baik itu Mas. Ini saya Mas ya.
Alhamdulillah setelah saya itu
menghidupi keluarga saya rezekinya sama
Allah dikasih banyak. Kita kan tidak
tahu ternyata doanya orang tua kan tidak
ada halang-halangannya toh Mas. Langsung
tembus toh Mas. Terus ada lagi kalau
kita nikah katanya sama Allah itu
rezekinya digerojokan. Saya coba nikah
nanti akhirnya saya nikah alhamdulillah
energi tetap digerojokan. Saya dulu
mikir istri saya kuliah kesehatan mahal
gitu. Apa bisa? Alhamdulillah ya bisa
[Musik]
ya. Kalau saya sih para pemuda-pemuda
yang mungkin masih baru terjun di
peternakan ya, orang-orang mungkin yang
teman-teman semua yang baru terjun di
peternakan ya saran saya ya tetap
semangat ya diulik-ulik bahwasanya
ternak ini hal yang bisa dipelajari
jadinya insyaallah tetap mudah tentunya
bisa menggunakan mentor-mentor di lokasi
masing-masing atau teman-teman bisa juga
menghubungi saya buat mungkin belajar
bareng gitu teman-teman semua-semua ya
tetap semangat buat ternak di Indonesia
ini gitu. Saya owner Diamond Farm
Kediri, Mas Ian yang beralamat di Desa
Padangan, Dusun Tangkilan, Kecamatan
Keng Kidul, Kabupaten Kediri. Terima
kasih banyak. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah.
[Musik]