Usaha Minim Kompetitor! Bangkit Dari Bangkrut, Kini Omzet Miliaran Perbulan
xS5VAUx3MH0 • 2025-08-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] kita itu miris, kita itu masih punya pola pikir yang agraris. Tapi kalau Indonesia kepengin jadi bangsa yang besar, itu terjadinya di masa-masa maritim. Kita cek bagaimana indahnya Indonesia. Orang lain pun akan ngiri karena banyak negara-negara yang tidak punya pantai. Kita pantai itu turah-turah. Garis pantai kita yang terpanjang di dunia ini. Apalagi yang kita ragukan dari nikmat yang Tuhan berikan. Masalahnya apa? Aksesnya harus bagaimana, Mas, kalau kita tidak menggunakan dermaga? [Musik] Dan kami saat ini lagi berbangga beberapa hari ini kita nikmati bersama. Kita bisa 17-an di tengah laut kita buat produk beton tapi terapung. Jadi produk ini Mas, beton untuk dermaga tapi terapung. Jadi dimasukkan ke dalam air itu dia ngambang, enggak goyang, tidak ada pondasi, bahkan itu bisa digeser, dialihkan. [Musik] Untuk membangun dermaga itu biayanya per meter itu bisa R30 juta sampai Rp50 juta tergantung daerahnya. Sementara dengan dermaga apung kami itu per meter lebih kurang R10 juta. [Musik] Sepanjang pengetahuan saya, ternyata kita ditunggu dinas. Kenapa? Karena dinas itu juga pusing ketika serapan anggaran tidak bisa terlaksana karena tidak ada orang di daerah tersebut yang punya beton prikas. Sepanjang saya ketemu dengan beberapa kabupaten kota, kita dibutuhkan di sana. Jadi percayalah yang kita lakukan bukan sesuatu yang red ocean. Yang kita cari blue ocean. [Musik] Halo, perkenalkan Saya Menlu, saya founder dari Rabanton yang bergerak dalam bedang beton Prikas. Lokasinya kami di Banyuwangi, tapi saya percaya kami tidak diutus cuman di Banyuwangi. Saya ini keturunan Tionghoa. Kalau biasanya nama Tionghoa itu kan ada. Nah, tapi seiring dengan peraturan yang ada maka ada asimilasilah istilahnya sehingga nama Mandarin saya itu Mingru. Cuman supaya mungkin lebih sederhana, jadilah menlu. Nah, yang lebih lucu kenapa Bapak saya mengiyakan dan kenapa Bapak-bapak yang waktu itu handle di kelurahan juga membolehkan. Mestinya kan ada sesuatu yang harus diop. Tapi gak apa-apalah karena dengan nama ini ya sisi positifnya adalah saya gampang dikenal orang. Jadi maaf banyak yang mungkin kenal saya tapi saya gak sulit untuk mengingat nama orang. Ya biasa karena kenalan kita banyak. Tapi negatifnya saya pernah pesan pizza juga gak datang. Saya pesan taksi juga gak hadir karena nama itu. Dan kebayangin kalau misalkan saya telepon ambulans nih, "Pak, tolong Pak, saya butuh kondisi urgensi." Oh, iya boleh saya catat dengan Pak siapa? Pak Menlu. Kemungkinan ambulansnya juga enggak datang tuh. Tapi yang positif adalah mungkin ini doa dari papa mama saya supaya saya menjadi orang yang baiklah ya. Kalau papa mama saya itu kerjanya ikan, jadi tidak ada hubungannya sama sekali. Saya ini lahir di satu desa nelayan sebenarnya di Situbondo. Tapi lebih banyak hati saya ini di Banyuwangi. Kenapa? Karena dalam hitungan bulan saya ini sebenarnya sudah pindah ke Banyuwangi. Setelah saya pindah, saya dibesarkan. Saatnya saya keliling. Pada akhirnya saya memutuskan untuk kembali karena bakti. Apapun yang terjadi kalau kita keluar bagi saya, saya tetap harus pulang untuk melayani papa dan mama saya. Nah, terkait setelah saya memutuskan untuk kembali, sempat saya mengikutin bisnis yang papa mama saya kerjakan. Tapi tidak srek di hati. Karena bisnis ikan bagi papa mama saya itu bisnis yang harus dikerjakan bertahun-tahun. Seumur hidup papa saya itu kerjanya di ikan. Ketika saya mau masuk dunia ikan, Papa Mas saya enggak rekomen karena seolah-olah terlalu rumit. Usia berapa waktu itu? Lebih kurang 30 tahun saya di bisnis retail. Kebetulan ada paman nih, beliau punya pabrik semen. Saya menjadi distributor di Banyuwangi. Ini masa buruk kehidupan saya pada saat saya menjalankan bisnis semen. Kenapa? Karena semen saya itu bukan semen premium. Jadi, semen itu barang yang substitusinya banyak. Sehingga pada akhirnya bisnis semen ini kalau sama bisnis koperasi atau finance kita jauh lebih parah. Mengapa demikian? Misalkan nih ada satu toko ambil semen 200 sak harga Rp40.000 kita suplly semen itu senilai Rp8 juta tapi tanpa ada jaminan yang diberikan ke saya. Yang punya toko ini pasti enggak mau ngasih jaminan ke saya dan selain harga harus murah-murahan, tempo juga harus panjang. Ngerinya adalah semen ini seminggu saya bisa ditelepon karena barang habis tapi pembayarannya adalah bisa 45 hari alias saya bisa faktor kalinya adalah 6. Jadi saya bisa ngutangin orang R2 juta tanpa jaminan. Terus kemudian dihajar untuk promonya tinggi-tinggian. Di masa akhir saya menjalankan pabrik semen, saya sempat ngomong saya menyerah karena hutang kami di luaran itu nilainya besar sekali. Semakin saya ngutangin orang itu saya semakin gali lebih dalam. Jadi ending dari saya mengerjakan semen itu bukan dari posisi saya punya tabungan minus. Tapi pilihannya kan selalu dua, Mas. Saya kita itu mau apa? Mau selesai di sana atau menyerah atau kita mau bangkit sih? Di situ saya memulai sisa-sisa dana saya. Saya beli cetakan lima. Lima yudit ini saya kerjakan. Kalau cerita konyolnya masih molen yang ada di pinggir jalan itu yang warnanya orane itu kita pakai timbah, kita isi pasirnya. itu sistemnya ya sesuai takaran yang kita lihat di saksemen itu. Itu saya kerjakan sendiri. Masih ibaratnya saya bekerja dengan doa, dengan upaya ini upaya saya yang terakhir. Kalau ini gagal saya enggak tahu mesti ngapain. [Musik] Waktu itu pabrik sebagai supplier bilang pengambilannya adalah kalau kamu mau ngambil satu begitu, maka yang separuh harus saya lunasi dulu. Yang nyantol Mas itu hitungannya sudah M. Itu yang saya mulai. Jadi saya sekali lagi tidak mulai dari plus, saya mulainya dari minus. Tapi ya itu tadi sisa saya cuman semangat sama saya masih bisa berpikir. Modalnya dari mana waktu itu? ya sisa dari dana tetap ada tabungan. Tabungan maksudnya dari pelanggan yang tetap membayar ya mereka yang masih jujur itu masih ada. Tapi di luaran ya saya ngutangin orang yang untuk nilai yang lumayan besar ya. Siapa sih yang mau kehilangan uang? Tapi bagi saya itu uang sekolah Mas. Kalau itu nak hilang sampai detik ini tidak ada rabanton. Jadi dengan hilangnya uang itu, itu uang sekolah saya. untuk punya bisnis yang saat ini saya geluti. Jadi sebenarnya begini, saya itu melihat orang pakai semen saya bisa diolah jadi batako, Paking, genteng beton dan seterusnya. Saya cuman berpikiran begini. Waktu itu Pak Bupati saya ngomong yunah yutun. Kalau mereka kepepet mereka buat puffing, mereka buat yang geblokan maksudnya buat secara manual. Saya tidak mau mengganggu profesi kerja mereka. Saya ingin membuat sesuatu yang lebih padat karya. yang saya rasa orang mau meniru sulit. Jadi waktu itu dengan lima cetakan saya buat kira-kira 100 barang, bangga saya, oh ternyata buat kayak begini bisa. Jalanlah saya ke dinas. Maaf saya tidak sebut nama. Beliau waktu itu menjadi orang yang saya matur. Kulo nuwun saya ketok pintu, Pak. Saya buat produk kayak begini. Setelah saya ketok pintu di ACC beliau SPK-nya turun, Mas. SPK-nya waktu itu kalau dirupiahkan mungkin sekitar 10 SPK ya. Anggaplah nilai per SPK itu sekitar 200 juta. Tapi otomatis yang berupa barang kan separuhnya mungkin ya karena kan masih ada pekerjaan manualnya, galiannya dan lain sebagainya. Wah saya kelabakan. Saya pikir punya 100 itu sudah wah ternyata enggak. 100 itu kecil. Bayangin kita cuman punya satu kresek teh sama gula yang hadir di kondangan itu 1000 orang. Saya mau gimana? Segera saya buat cetakan dengan ikhtiar saya rekrut warga sekitar. Molen saya beli. Saya melakukan segala sesuatunya saya kerjakan. Di tahun 2017 pekerjaan saya tuntas. waktu itu kalau bisa dihitung secara projectnya itu mungkin di angka R miliar. Itu momen awal. Tapi begini, momen awal apakah langsung lancar? Enggak, Mas. Tahun pertama itu omset saya oke kita katakan sekitar saya lupa 700 sampai 1 miliar habis itu gimana ya banyak nganggurnya. Kenapa? Karena proyek pemerintah ini memiliki massa kan biasanya projek pemerintah itu di bidang konstruksi itu lancar di bulan 7 ke atas sampai dengan akhir tahun. Jadi modal saya yang saya peroleh tahun itu saya harus puasa lagi nih antara bulan 1 sampai bulan 7. Demikian siklusnya. Tapi kalau ikhtiar semesta mendukung, Tuhan berkenan, saya mampu melalui segala sesuatunya ini. Sampai sekarang apakah gak pusing? Tetap pusing. Kenapa? Karena balik orang itu tanggung jawabnya ke siapa? Kalau misalkan karyawan tanggung jawabnya ke siapa sih? Ke bos sama ke keluarganya. Paling tanggung jawabnya 4 L orang. Kalau saya misalkan punya karyawan 10 orang saja, maka tanggung jawab saya adalah ke10 orang ini plus anggota keluarganya anggaplah empat. Jadi ke 40 orang. Tuhan enggak buta, Mas. Tuhan tahu banget. Kalau saya butuh entah dari mana, setiap Sabtu bayaran mereka saya gak pernah luput. Selalu ada. Jangan ngomong kita yang kuat, Tuhan yang kasih jalan. Dan pesannya adalah kita tetap harus menyisihkan untuk mereka. Kalau belum bisa menyisihkan sesuatu yang lebih buat mereka, satu aja deh. Cukupkan. Kalau UMR aja saya gak bisa gaji. Artinya kan kita menyuruh orang itu di bawah minimumnya. Kalau orang di bawah minimumnya apa yang mereka lakukan? Maaf nih nyolong. Saya gak mau. Karena itu cek ke seluruh karyawan saya. Saya masih mampu untuk membayar mereka gaji UMR minimal. Itu yang tetap saya pegang. Dan satu hal saya ndak mau telat gaji lepas 1 hari saya enggak mau. Saya maunya kalau memang waktu itu bayarannya setiap hari Sabtu saya selesaikan di hari Sabtu. Dan lagi-lagi saya nak bilang ini karena saya nak kalau enggak ada karyawan saya mau jadi apa? Gak mungkin. Saya ini cuman sebagai seorang manajer yang dipercaya sama Tuhan. Kalau ada apa-apa saya cuman nodong Tuhan kantongnya kosong. Saya harus ngapain? Padahal ini hari Sabtu waktunya membayar mereka. ini sudah akhir bulan saya harus membayar mereka. Pasti ada yang bayar Tuhan sebagai komisaris ya. Iya bukan saya. Kalau saya yang mengerjakan sendiri ya gak tahu. Dalam sejarah Rabanton pun saya nak berdiri sendiri. Saya berterima kasih atas bantuan teman-teman saya. Teman-teman main saya waktu SD di situ ada Pak Johnson yang saat ini menjadi komisaris. Ada Pak Adi yang juga membantu saya. Komisaris juga untuk membantu saya. Saya berterima kasih kepada mereka berdua. Saat saya tiada peralihan dari bekerja semen ke bekerja beton, mereka yang hadir membantu saya. Saya tidak akan pernah melupakan mereka. [Tepuk tangan] [Musik] Filos namanya dulu. Rabanton itu karena saya orang Banyuwangi nih. Rajanya Banyuwangi. Beton Rabanton. Tapi kita plesetin sedikit nih. Rajanya barang beton. Saya ini kan bikinnya Yudit, Mas. Yudit dan box dan pager. Jangan ngomong muluk-muluk, Dek. Saya ini cuman buat got sama buat pager. Tapi yang kita sayangkan, kita ngelihat bahwa hampir di setiap kabupaten itu ada aspal. Tapi sebenarnya percuma orang mengaspal karena musuhnya aspal ini air. Artinya ketika posisi hujan drainasenya perkotaan itu tidak tertata rapi percuma karena aspalnya juga akan rusak. Jadi guru yang saya anut ini kan aspal. Kalau Banyuwangi itu aspalnya sudah sedemikian banyak. Kalau di Indonesia jalannya sudah banyak saya cuma mikir alangkah baiknya kalau di kabupaten itu juga ada drainasenya. Jadi pabrik aspal nih AMP aspal mixing plan itu kan selalu ada banyak di paling gak di satu karisiden ada tapi preas-nya ini tidak menyusul. Jadi impian saya itu adalah saya ini mau jadi semut ada banyak di mana-mana bukan gajah yang ada besar di satu tempat dan itu dikirimkan ke seluruh Indonesia. Itu gak layak Mas Bagi saya itu lebih tertarik untuk menggarap di jalan protokol belok kiri belok kanan. Nah, itu yang saya kerjakan yang jalan besarnya silakan mereka yang gajah. Saya tidak mengotak-ngatik bisnis mereka. Saya cuman mau Banyuwangi, kabupaten. Anda butuh apa untuk drainase? Karena itu secara armada yang saya punya itu bukan yang armada yang gede-gede, tronton trailer gak. Saya cuman punya yang call diesel yang bannya cuman enam. di situ saya pasang krin untuk saya taruh sehingga masyarakat itu di jalan-jalan kecil bisa merasakan bahwa dinas ini bekerja dengan cara yang luar biasa. Pertama kali saya ikut survei pada saat pemasangan itu saya duduk-duduk nih. Mereka enggak tahu nih kalau saya yang kebetulan yang mengirimkan produk lewat kontraktor. Kontraktor yang masang dan saya duduk-duduk di sana. Saya dengerin orang ini ngomong ee pakai bahasa Jawa ya lebih kurang ngomongnya gini. Dinas yang benar harusnya kayak begini, enggak kayak yang lain. Nanti maksudnya setelah jalan telungulan barangnya wis rusak. Nek iki sampai awakmu mati yo barangnya tetap ada. Itu kebanggaan tersendiri bagi saya karena saya bisa men-supplai apa yang masyarakat butuhkan. Sebenarnya produk kita itu ditunggu-tunggu di seluruh Indonesia. Cuman tidak banyak pabrik yang mau turun ke kota-kota kecil. Jadi mereka maunya bagaimana? Suplai ke tempat yang besar. pabrik besar ini cuman mau yang besar-besar aja, yang kecil enggak. Konsep saya satu, Mas. Saya ingin franchise menggandeng pengusaha lokal di seluruh Indonesia atas dasar saya waktu itu negatif, saya bekerja, berjuang menciptakan sistem yang minimalis untuk men-suplai kotanya. Sebenarnya saya ini pernah kirim sampai ke Nganjuk pernah, tapi saya duduk diam merenung. Kenapa kok pengusaha Nganjuk tidak membuat yang sama untuk menjawab kebutuhan kotanya? Atas dasar itulah prinsip dari franchise ini muncul dan sistemnya ini begini. Saya gak kenal royalti royaltian. Jadi yang saya mau Anda yang kelola, kami yang tunjuk. Terkait hal-hal yang belum diketahui, saya akan supply manpower-nya, tenaga kerjanya, sistem QC-nya akan saya buat, laboratoriumnya harus terbentuk dengan baik. Karena saya juga enggak mau bikin barang yang asal-asalan. Cukup saya yang memulai pengalaman dulu dipercaya orang walaupun produknya asal-asalan. Cukup saya. Tapi untuk yang lain saya mau tetap ada compression stress. Ini ibaratnya kalau kita ngomong masakan itu lidahnya sudah saya kopy ke teman-teman supaya membuatnya itu benar-benar enak. Beton itu mutu tinggi, mutu rendah itu secara visual gak ada bedanya. Tapi uji compression test, uji kekuatan beton itu yang kita utamakan. di mana itu semuanya dihitung berdasarkan rumusan matematis dan dites dengan alat tesnya. Jadi, kita kerjakan secara teoritis benar, kita buat barangnya baru masuk ujinya. Model bisnis yang dijalankan Ranton artinya B2B aja atau B2C juga. Sebenarnya saya lebih kepengin B2B. Saya mencari pengusaha-pengusaha lokal yang mau naik tingkat. Banyak, Mas. pengusaha seperti saya yang dulu maksudnya bekerja semen, mereka supplier besi. Masa sih cuman mau di distributor? Gak ada yang salah dengan distributor. Baik mereka melayani. Tapi kita harus memahami juga bagaimana bisnis sekarang yang bisa jalan itu bisnis yang dekat dengan pabrik. Maaf nih, istri saya pun beli popok itu beli secara online yang barangnya saya yakin bukan dari distributor, langsung dari pabrik. Karena dengan adanya e-commerce yang berkembang sekarang ini itu berusaha menghilangkan middlem alias distributor dan dis subdisk-nya. Karena itu saya menantang ayo kita harus berkembang bagaimana kita punya produk benar-benar kita yang buat dan dimanfaatkan oleh tetangga kita. Yang kita lihat Mas aspal ini kan ada di mana-mana. Beton pracetaknya untuk saluran bagaimana? Kerjakan manual. Usia setahun sudah harus dibongkar dan diperbarui, dipasang lagi. Anggaran kita gak cukup, Mas. Kita butuh barang yang awet. Saya tahu bahwa kita kalau ngomong primer itu makan. Terus kemudian yang penting lagi tentang baju ya, sandang. Tapi bagi pemerintah, kebutuhan pembangunan itu pertama pasti berbicara tentang infrastruktur dan gedung. Enggak ada yang lain. Dua ini aja infrastruktur dan gedung. Infrastruktur sendiri itu berbicara tentang jalan. Jalan Mas itu kalau ngomong tol baru pasti rigit beton. Itu beton basah. Tapi beton keringnya untuk saluran drainase. Dan setiap kita lewat di tol kiri kanan itu ada pager yang membatasi. Kebutuhannya ngeri sedemikian tinggi. Karena kota yang maju itu dilihat dari hutan betonnya. Ukurannya demikian. Tapi saya tidak mau masuk dalam sisi hutan betonnya. Tapi yang penting bagaimana kita mempreserve, kita merawat keberadaan air kita dengan drainasi yang tepat. Jawabannya cuman diudit dan rekayasa engineering yang kalau kita ngomong di Surabaya nih, banyu urip itu dulu daerah banjir. Terus kemudian dengan dibasang bokvet itu sungainya ada di atasnya. Jadi jalan kita ngelihat di Gubeng waktu itu di depan salah satu rumah sakit swasta tiba-tiba ambles bukan sulap bukan sihir. Lebih kurang 2 minggu 1 bulan selesai tuntas hitungan hari kalau enggak salah waktu itu dari mana? Dari beton. Solusi kebencanaan itu beton. Di Bajra barusan ini yang kita cek di Bali sama beton jawabannya. Jalannya rusak tiba-tiba longsor. Pengamannya pakai apa? Pakai beton. Dan kalau kita mau yang kita kerjakan itu tuntas, jawabannya memang harus dari beton. Kenapa? Seringkiali itu Senin kita bangun di daerah A, Selasa kita bangun, Rabu kita bangun, Kamis mau bangun, eh ternyata ngrepair yang Senin. Mau ngerjakan Sabtu daerah yang baru, yang Selasa sudah rusak. Itu kalau pasangannya manual. Kenapa? Makarena kualitasnya kita gak pernah tahu dengan mengerjakan manual. Tapi dengan kita terukur di pabrik, pabrik beton pras kita50 kita buat pembesiannya juga kita sudah konsultasikan dengan konsultan. Kita punya insinyur-insinyur yang menghitung dengan presisi. Kita uji coba trialkan sehingga kebutuhan kota itu bisa terselesaikan. Kita lihat yang paling maju itu negara Cina. Majunya karena apa sih? Jawabannya satu, saat infrastrukturnya jadi, daerah-daerah terpencil yang bisa berkembang membangun kotanya dikatakanlah Cina maju. Kan sama dengan nawa cita dari Bapak mantan Presiden Jokowi yang diteruskan. Jawabannya kalau infrastrukturnya enggak ada ya gimana kita mau maju. Kalau Indonesia mau maju, harus ada jalan akses antar kota yang proper, yang baik, yang pembangunannya sekali dibangun sekarang tolong 5 tahun, 10 tahun lagi jangan rusak. Jawabannya di apa? Di beton. Kalau dikerjakan manual bisa gak? Bisa. Tapi ya begitu. Masa kita mengerjakan Sabtu untuk dandan-dandan yang hari Senin. Bagaimana Indonesia mau maju? Infrastruktur kita harus benahi. Dapat gambaran ya kenapa harus ini difranchise kan? Dikuasai oleh pengusaha-pengusaha lokal. Saya penginnya pengusaha lokal ayo bergabung. Standarnya sama. Saya tahu Anda pengusaha lokal bisa buat, tapi Anda akan pengalamannya itu kan harus mengulang apa yang harus saya lakukan 7 5 6 7 8 tahun yang lalu. Alangkah lebih baik yuk bergabung dengan kami. Seperti yang saya tadi ceritakan, semua orang bisa buat beton, tapi alangkah baiknya kami punya sistemnya. Mas, kurang menarik apa? Kalau Anda untung baru Anda bagi. Royalti saya ndak mau. Kalau Anda mancing ikan dapat 10. silakan dibagikan ke saya. Tapi kalau belum dapat ikan, apa yang mau saya ambil? Pancingnya, jorannya, senarnya. Anda jadi gak bisa mancing. Gak mau saya. Saya rabanton dengan tulus hati. Setelah kami ajarkan, silakan Anda cari duit di situ. Kembangkan kota Anda. Kalau ada hasilnya baru sisihkan. Jadi, fungsi pengusaha lokal di sana itu jelas. Janganlah orang lain yang datang, orang lain yang dapat profit, orang daerah cuman melongo tidak kebagian apapun. Untuk kapnya ini satu set tidak 4 120 untuk 30 di sini titik tumpuannya masanya yang panjang 120 dan ini semua satu setnya untuk lebarnya nanti 40 cent kita pakai K350. Saya cuman pesan satu, tahap awal ini assesment dulu. Kita belum dealing apa-apa. Silakan datang ke Banyuwangi dilihat proses kerja kami. Setelah melihat proses kerja kami, calon franchiser ini melihat masuk bisa dikerja kerjakan, visibility study-nya sudah dikerjakan dalam pikiran baru melangkah ke tahap selanjutnya. Tapi detik Anda datang ke tempat kami, terus kemudian Anda menyatakan, "Pak Mu, kelihatannya saya ndak bisa mengerjakan kayak begini. Gak apa-apa." Kenapa? Karena saya tulus pengin mengembangkan Indonesia. Saya butuh bantuan teman-teman di seluruh Indonesia. Aceh sampai Papua butuh beton prikas. Tapi yuk, saya mengundang pengusaha lokal. Kita gandeng bersama-sama, kita buat bersama-sama. Silakan Anda jaya di Aceh, silakan Anda di Riau, mungkin di Bengkulu, di Jambi, Sumatera Utara, kota-kota kecil. Kita enggak ngomong yang besar. Mungkin di Takengon, mungkin di Bagansi Api-Api atau mungkin di Palangkaraya atau di distrik yang lebih kecil dari itu. Silakan dikerjakan. Selama-selama di situ ada pasir, koral, batu split. Beberapa daerah bilangnya begitu. Semen, besi siap untuk buat beton. Yang penting Anda pengusaha lokal, saya ajarin prosesnya bagaimana. Tidak cuman SOP, alat-alat juga saya siapkan, tinggal ganti biaya produksi. Saya ndak ambil untung dari saya jualan cetakan molding atau mesin. Saya ndak ambil untung dari itu. Kalau beli truk, saya gak punya truk untuk saya jual. Silakan cari di luaran. Saya mereferensikan. Oh, truk misalkan yang second harganya sekitar 200 sampai Rp300 juta. Kalau Anda nemu atau sudah punya truknya, gak usah beli. Kalau Anda sudah punya forcliff, gak usah beli. Jadi produksinya itu boleh dikatakan saya hanya yang esensi aja yang perlu beli. Yang sudah punya silakan, gak perlu. Terkait ilmunya saya ajarkan 100%. Caranya bagaimana? Saya akan kirim tim kami mulai dari kepala pabrik, kepala produsen, kepala produksi, terus kemudian QC-nya kita akan kirimkan, kita ajarkan transfer teknologinya harus sampai benar-benar terjadi. Sesudah terjadi transfer teknologi, pabriknya sudah mulai berjalan, silakan. Dan begini, kebutuhan tiap daerah berbeda. Di dataran rendah mungkin butuh yang lebar, di dataran tinggi karena lebih berkontur dibutuhkan yang kurus-kurus lebih tinggi. Itu menyesuaikan kebutuhannya. Intinya pengusaha daerah harus memiliki kedekatan emosional dengan daerahnya. Terus kemudian niat untuk mengembangkan daerahnya harus ada, harus pengusaha lokal, cinta ke daerahnya, mau mengembangkan daerahnya. Dan saya gak muluk-muluk, Mas. Satu kota, satu kabupaten, cuman satu aja. Saya bukan model bisnis franchise yang satu parkiran ketemu parkiran yang lain sudah ada. Parkiran pusat perbelanjaan yang lain di sana ada. Karena jangkauan saya, jangkauan rabanton itu kota. Kita ngomongin jangkauannya kota bukan kecamatan juga. Kemudian bagaimana pendekatan dengan dinas? Saya akan ajarkan. Dan sebenarnya begini, Mas. Sepanjang pengetahuan saya ternyata kita ditunggu dinas. Kenapa? Karena dinas itu juga pusing ketika serapan anggaran tidak bisa terlaksana karena tidak ada orang di daerah tersebut yang punya beton prikas. Sepanjang saya ketemu dengan beberapa kabupaten kota Gorontalo misalkan, kita dibutuhkan di sana. Jadi percayalah yang kita lakukan bukan sesuatu yang red ocean. Yang kita cari blue ocean. [Musik] Dan kami saat ini lagi berbangga seperti yang tadi beberapa hari ini kita nikmati bersama. Kita bisa 17an di tengah laut kita buat produk beton tapi terapung. Saya pasti akan bekerja sama dengan para pengambil franchise kami untuk memasarkan di setiap kota. Jadi produk ini Mas, beton untuk dermaga tapi terapung. Jadi dimasukkan ke dalam air itu dia ngambang, enggak goyang, tidak ada pondasi, bahkan itu bisa digeser, dialihkan. Kita harus paham bahwa Indonesia ini bahasanya adalah dipisahkan oleh pulau. Padahal bukan kita itu disatukan oleh lautan. Kita itu miris. Kita itu masih punya pola pikir yang agraris. which is itu ndak salah. Tapi kalau Indonesia kepengin jadi bangsa yang besar, itu terjadinya di masa-masa maritim, Sriwijaya, Majapahit itu di mana kita bisa jaya. Kenapa sih kok kita tidak punya pola pikir yang sama bahwa kita harus lebih serius mengembangkan bisnis maritim kita? Bisnis maritim kita itu enggak sekedar cuma nangkap ikan. Kita cek bagaimana indahnya Indonesia. Orang lain pun akan ngiri karena banyak negara-negara yang tidak punya pantai. Kita pantai itu turah-turah. Garis pantai kita yang terpanjang di dunia ini. Apalagi yang kita ragukan dari nikmat yang Tuhan berikan. Nah, masalahnya apa? Pulau-pulau kita itu karakternya bukan pulau besar yang mungkin ada yang luasannya cuman 10 hektar, 5 hektar, 3 hektar. Aksesnya harus bagaimana, Mas, kalau kita tidak menggunakan dermaga? Kalau ini nilai ekonomisnya tinggi, baru pemerintah mau turun tangan. Dalam arti untuk membangun dermaga itu biayanya per meter itu bisa R3 juta sampai R juta tergantung daerahnya. Sementara dengan dermaga apung kami itu per meter lebih kurang R10 juta. Kenapa kami bangga? Karena kami membuat dari sesuatu yang belum ada di Indonesia. di Indonesia ini kami satu-satunya pengusaha perusahaan swasta yang membangun yang membuat dari nol untuk Denmaga Apung tersebut. Saya cuman berharap bahwa saya menginspirasi bahwa Rabanton bisa menginspirasi Indonesia. Jadi dari sesuatu yang tidak ada, dari suatu teknologi yang kayaknya susah untuk diadaptasi, kita mampu. Orang Indonesia itu pintar-pintar, Mas. Jangan salah. Orang Indonesia itu pintar-pintar, cerdas-cerdas. cuman maaf butuh dukungan dari pemerintah birokrasi untuk men-support kita didorong tapi belum dorongan secara maksimal dan maaf ya kadang kita mencibir hasil penemuan yang kita peroleh seringkiali kita mencibir begitu Mas boleh aku Kalau saya ceritakan lebih lanjut, saya ini jengkel dengan BUMN. Setiap kali BUMN hadir itu rakyat tidak ada yang diuntungkan. Kenapa? Karena saya tahu sendiri bagaimana pengusaha lokal itu diutang bayarnya. Karena mereka itu merasa I am Superman superior. Saya pernah ke toko waktu itu pembangunan hotel Santika di Banyuwangi. Terus kemudian hotel Santika orang kan dari orangnya PP mampir ke tokonya terus kemudian dia ngomong ngasih ini. Pak saya butuh semen berapa? 200 sak Pak Besi 6 besi 8 didata semua ini. Ini dihitungkan sama dia. Dihitung habis minyalkan R30 juta. Terus kemudian ya wis Pak tolong dikirim ke proyeknya Hotel Santika PP di sini. Terus kemudian ditoleh sama dia. Iya, Pak. Nanti untuk pembayarannya aturan di perusahaan kami itu kami tagihkan notanya dulu. Nanti kira-kira 2 minggu 1 bulan baru kita akan bayar. Terus ambil orangnya dilihat lagi terus ngomong gini, "Kalau aturannya di toko saya ini kalau gak dibayar saya gak mau kirim barang, Pak." Loh, ngomong aturan ya saya ngomong aturan begitu. Jadi ya memang BUMN hadir itu jarang sekali meninggalkan kesan baik warung di hutang. Maksudnya ya memang betul karyawannya itu ada di sana ngutang ke warung enggak kebayar. Broron itu benar dan gunung es-nya adalah yang keluar itu cuman yang timnya Broron itu yang gak lapor karena orangnya sudah mati, sudah putus asa. Saya ini kalau ngutangin PP ya gak besar sih mungkin seratusan juta. Tapi kan banyak yang dibegitukan itu banyak. [Musik] Ini saya ceritakan ngerinya ya. Kalau menurut saya itu buatan Pak untuk menjebak. Pemerintah punya project bikin jalan tol kena siapa? Kalau gak ada duit karena projjectnya belum selesai belum sehingga belum dibayar sama perintah ngutangnya ke siapa? Himpunan beli semennya ke mana? Diangin gak? Pasti diutangin karena apa? Karena mentalitasnya kan birokrat. Jadi utang gak poo wong duduk duitku bisa gak swasta dikayak begitukan? Gak mungkin bisa. Siapa yang kuat ngutangin atau pokoknya yang karya-karya prec itu ratusan miliar sampai triliunan gak ada yang kuat. Bayangkan orang punya toko modalnya R00 juta, R00 juta demi dapat keuntungan lebih suplly ke sana diutangi sampai R00 juta, R00 juta tokonya kukut orangnya gak bisa nagih, sudah nyerah, sakit dan lain sebagainya. Saya curiganya begini, artinya kan ada keuntungan. Saya kan membukukan keuntungan, tapi keuntungan saya berupa apa? Piutang. Ngutangin siapa? Untung gede. Enggak mungkin utangnya retail itu bisa mengalahkan utangnya dari karya-karya ini tadi. Jadi setelah kelihatan kan laporan neracanya bagus tuh. Asetnya berupa piutang ke pihak ketiga sekian triliun, sekian puluh triliun, sekian ratus triliun. Akhirnya kan laba. Laba berapa? Wah, setahun bank untungnya R triliun, R triliun. Terus kemudian ditanyain sama kamu kan untung R triliun. Saya gak minta banyak 30%-nya 6 triliun storin ke saya. Untung kan enggak ganggu perputaran kan. Jangan sampai nanti yang terjadi adalah kita gak punya duit bos. Kita gak bisa setor. Loh, kok bisa gak bisa setor? Kamu ngomong untung 20 triliun setahun. Iya, Bos. ngutangin. Jadi kalau bayar itu jadi duit baru saya setoran. Rusak gak? Saya pemda mau. Kenapa? Karena mereka punya anggaran. Setahun kan pengajuan ada dana perimbangan dan lain sebagainya. Tapi kalau saya ngutangi BUMN gak karena gak jelas kapan mau dibayar. Mau tunai gak mau sudah. Saya gak ngerti ya apakah negara ini sedang baik-baik saja atau gak. Saya gak tahu. Saya menghormat berendira kemarin waktu pengibaran. Iya nahan saya. Damn, I love this Indonesia. Saya masih cinta negara ini. Walaupun saya ini triple minoritas kayak Ahok saya ini. Saya ini Nasrani. Terus saya ini Cina walaupun kulit terbakar. Pokoknya saya minoritas lah. Tapi kalau mau dibuka merah putihan dibandingkan orang yang lain, saya jauh lebih merah putih. Yakin saya? Saya membentuk Rabanton ini dari minus dari nol. Niat saya murni. Saya pengin melihat negara kita maju. Karena itu saya yakin bahwa konstruksi itu ndak akan lepas dari beton. Kalau kita mau pengin percepatan Indonesia menjadi daerah yang sama-sama kita nikmati, bagaimana yang daerah tidak terlalu ngiri dengan yang pusat karena sudah ada pembangunan yang memiliki ee usia pakai yang lama. Jawabannya kita harus kembangkan dari ujung ke ujung. Salah satu jawabannya saya rasa kita menggunakan beton prikas. Jadi saya yakin bahwa cita-cita saya ini bukan cita-cita yang terlalu muluk-muluk, bukan cita-cita yang sulit untuk dikapai. Yang penting kita kerjakan. Karena saya pengin tidak ada anggaran yang sia-sia. Jadi barang yang rusak yang usia pakainya sebentar. Jawabannya beton. Saya tantang Anda. Saya tantang negara ini. Penduduk di daerah setiap daerah. Yuk kita buat bersama-sama. Kita majukan Indonesianya. Kalau infrastrukturnya beres, silakan dikembangkan untuk yang lain. Kalau jalannya ada, kita bisa membuat sesuatu yang berbeda. Kalau jalannya tidak ada, mengatakan cuman orang bodoh yang melakukan tindakan yang sama tapi pengin hasil yang berbeda. Yuk, berubah bersama-sama. Kita kembangkan, kita gapai bersama-sama. Kita raih cita-cita. Akhir kata saya Menlu dari Banyuwangi. Yuk kita kembangkan Indonesia. Terima kasih sudah menikmati podcast ini. Salam [Tepuk tangan]
Resume
Categories