Transcript
m6ikAJ-ODPc • Guru Sukses Bangun Bisnis Sampingan Sepatu Custom Hingga Jadi Warisan Anak Cucu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0588_m6ikAJ-ODPc.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Gaji guru sama pendapatan bikin alas sandal tinggi mana? Yoh tinggi sandal pengrajin itu suruh yang ngompor-ngompori saya suruh keluar itu banyak dulu. Tapi saya tetap tekun aja mengajar supaya saya keluar aja enggak usah ngajar ini aja teruskan gitu. Tapi saya juga enggak kegoh istilahnya yaitu sama bujuk provokasi teman-teman itu tetap ya ngajar saya jalani ya kerajinan saya laksanakan gitu. [Musik] Perkenalkan nama saya Bapak Suprayogi. Nama panggilannya Pak Ogi, tempat tanggal lahir di Magetan, 29 Desember 1959. Perkenalkan nama saya Muhammad Alaziz Mahardika. Saya anak ketiga dari Bapak Suprayogi. Tempat tanggal lahir juga di Magetan. Kebetulan tanggal lahirnya 17 Agustus 1998. Usaha yang saya geluti yang pertama itu adalah kerajinan kulit. Kerajinan kulit khususnya spesial alas kaki. Selain alas kaki itu saya biasanya bermitra dengan teman lain. Contohnya ikat pinggang atau mungkin dompet atau mungkin tas atau mungkin jaket. Dikasih pendowo itu karena saya itu dulu berlima itu laki semua. Saya yang paling tua. Terus nomor dua. Nomor dua itu di Mojokerto itu di pabrik gula. Nomor tiga itu di pindat. Terus nomor empat itu di sini. Terus nomor lima itu dulu pegang penyamaan sama nomor 6. Seiring bertambahnya tahun bapak saya itu tambah dua. Muncul anak yang nomor 6. Yang terakhir itu perempuan, Mas. Karena bapak saya itu minta anak perempuan satu-satu gitu. Alhamdulillah dikasih oleh Allah sebelum pendowo berdiri itu kan dulu awal-awalnya si itu saya itu hanya membantu Mas membantu palik saya saya cari pengalaman untuk bisa mengerjakan sepatu itu. balik saya itu mereknya Sayjo tuh kalau dari nenek itu memang nenek saya itu juga membikin kerajinan tapi khusus sandal aja alas kaki khususnya sandal tapi kalau orang dulu itu mengerjakan kerajinan itu boleh dikatakan 1 tahun penuh Mas 1 tahun penuh itu hanya mengerjakan aja lah nanti dijualnya di bulan Ramadan luar biasanya orang dulu seperti itu. Jadi khusus bulan Ramadan dulu nak bekerja hanya memasarkan barang lain dengan yang saya tangani saat ini. Kalau gak ada pemasukan 1 hari sudah lain ceritanya. L [Tepuk tangan] terus seiringnya berjalannya itu kan itu tutup Mas. Setelah itu tutup terus di era tahun -an itu muncullah le lingkungan industri kecil itu. Jadi lingkungan kauman ini dulu kan penyamak-penyamak semua, Mas. Jadi setiap rumah itu baunya bau kulit semua dulu. Karena kan dulu kan penduduknya masih sedikit, airnya masih kemercik kan begitu, Mas. Lah oleh pemerintah di era tahun 0 itu dikumpulkan menjadi satu antara penyamaan dan kerajinan. Terus seiring berubahnya tahun juga yaitu sekarang menjadi penyamaan aja itu dulu Ringin Agung itu sudah termasuk di pinggir kota, sekarang sudah masuk di dalam kota. Sekarang yang berisiko itu limbahnya itu kadang kala mendapat keluan dari lingkungan yang ada di sekitar lingkungan industri kecil. Akhirnya jenengan inisiatif pelanjutkan usahanya Bapak setelah saya mengajar, Mas. mengajar itu jamnya enggak begitu banyak sehingga terlalu pagi kita itu sudah boleh pulang. Dulu awal-awalnya seperti itu. Gaji pegawai negeri masih sedikit dulu. Jadi diperkenankan oleh Bapak-bapak kepala sekolah itu yang punya sampingan di rumah monggo Kang Jam sampun telas manggaaken. Kan begitu dulu dari situlah Pendowo lahir. Saya berusaha yaitu mempersiapkan segala peralatannya ya. Dulu saya tangani sendiri aja karena membelinya peralatannya kan dulu kan juga masih jauh masih Surabaya. Kalau di Surabaya itu nge-bas lain dengan sekarang. Kalau sekarang kan tinggal ngebel ngebel-ngebel aja sudah datang sendiri. Jenengan dulu ngawalinya nyamak atau langsung bikin alas kaki? Produk alas kaki awal-awalnya nyamak, Mas. Saya rasa enggak cocok nyamak karena nyamak kan harus jual ke Surabaya. Kalau enggak Surabaya di Mojokerto. Padahal saya paginya harus ngajar. Saya masih manggul kulit itu jam .00 pagi, jam 3. pagi di Mojokerto sana. Berjalan berapa tahun begitu, Pak? Ya kira-kira sekitar 5 tahunan Mas. Bolak-balik put dulu masih call, Mas. Kendaraannya itu call T itu bukan zaman sekarang seperti saat-saat ini. Tidak kuat tadi akhirnya beralih beralih beralih ke kerajinan. Pengalaman saya dulu terus saya teruskan begitu. Terus saya pemasarannya dulu keliling Mas antar teman guru, teman guru begitu saya hubungi yang ngantar ke Ngawi, yang ngantar ke Ponorogo, yang ngantar ke Wonogiri. Naik Vespa aja dulu kendaraannya masih pesa, Mas. Belum secanggih sekarang ini. Dulu pegawai pekerjanya berapa dulu? Awal-awalnya sekitar enam kalau gak salah. Tapi spesial sandal alas kaki aja sandal. Gaji guru sama pendapatan bikin alas sandal tinggi mana? Yo tinggi sandal pengrajin itu suruh yang ngompor-ngompori saya suruh keluar itu banyak dulu. Tapi saya tetap tekun aja mengajar supaya saya keluar aja enggak usah ngajar ini aja teruskan gitu. Tapi saya juga enggak kegoh istilahnya yaitu sama bujuk provokasi teman-teman itu tetap ya ngajar saya jalani ya kerajinan saya laksanakan gitu. Jadi kan kalau lihat Bapak ternyata ceritanya gitu perasaannya jenengan kayak apa? Nggih perasaan saya ya jadi terbangkitkanlah Mas perjuangannya dari dulu terus sampai sekarang mempertahankan sepatu sampai sedemikian rupanya juga. Jadi menurut saya kalau emang kalau tidak diteruskan juga emang sayang banget apalagi Bapak kan cari pelanggan itu kan juga enggak gampang dari dulu sampai sekarang juga kan merintis untuk cari pelanggan itu enggak mudah apalagi dengan era sekarang juga kan enggak bertambahnya nganu kan juga susah juga Mas dulu sempat Bapak pernah nyuruh saya mengajar saya dulu sempat pernah mengajar di SMP juga Mas bertahan sampai 4 bulan saja habis itu ya saya memutuskan kan untuk melanjutkan usaha saya sendiri yang ada. Itu kan saya ngerintis juga dari kuliah sembari saya kan diminta Bapak untuk di rumah menemani kedua orang tua saya di rumah sembari melanjutkan ini juga, Mas. Karena siapa lagi? Kalau enggak saya enggak ada, Mas. Soalnya di rumah tinggal saya. Adik saya juga sudah berkeluarga, kakak dua-duanya juga profesinya kan sudah beda semuanya juga, Mas. semuanya kan juga nanti kan mungkin dibimbing kalih Bapak kalau Bapak sempat bilang Mas pokoknya lek guru yo minak eng setiap bulan ada aja nanti buat tambah-tambah dan sebagainya. Tapi gimana ya Mas? Soalnya saya merasa kayak passionnya tuh tidak mengajar, Mas. Sudah saya coba terus, terus terus tapi kok ya gitu akhirnya enggak ada kecocokan ya. Mungkin sempat bikin kecewa Bapak mungkin kan Bapak mintanya juga dua-duanya kalau bisa jalan terus akhirnya mungkin ya begitulah. Mas jenengan ngantar pelanggan ke Ngawi Ponorogo itu satu picis sepatu atau banyak jumlahnya ya sekitar 10 15 gitu Mas. Banyak ngih. 10 pasang enggak banyak toh, Mas. 10 pasang, 7 pasang begitu, 12 pasang enggak terlalu banyak, Mas. Yang jelas, Mas, kalau pengrajin-pengrajin zaman dulu itu gak pernah tidur kayaknya seperti itu. Pendak esok tok nek turu apalagi menjelang Ramadan begitu dulu loh. Tapi yang saya bilang itu dulu karena pembuatan sepatu di era dulu sama sekarang sudah jauh beda sekali, Mas. Jadi dulu itu katakanlah untuk dasarnya itu aja sudah bikinnya ruwet. Dah ruwet semuanya harus dari kulit begitu. Terus bikin solnya lagi juga harus dari kulit harus dibelah, harus dipaku. Terus tumpukannya itu untuk haknya itu harus juga dari kulit. Itu kalau tidak salah 13 atau 12 biji begitu terus baru dipeso begitu. Kalau dulu pengrajin itu harus ngungkal pesonya itu harus bisa tajam. Kalau pengrajin sekarang enggak enggak bisa ngungkal tajam. Enggak bisa pakai karter sekarang sudah lain eranya. Berapa karyawan sekali, Pak? Ya, ini yang masih bertahan itu sekitar 15. Pekerjaan sepatu itu kan terbagi menjadi meliputi bagian gambar. Setelah gambar dipotong, digunting, setelah digunting dipacking. Begitu setelah dipacking itu kan dikasih petunjuk itu jumlahnya sekian pasang modelnya seperti ini. Siapa yang mengerjakan nanti? Setelah itu dikerjakan. Setelah jadi terjadilah bagian atas seperti ini. Setelah bagian atas selesai seperti ini, dibawa ke belakang di bagian bawah terus dikasih sol. Terus kalau sudah menginap 1 hari baru dilepas. Setelah dilepas difinishing, Mas. Mulai daripada dilemeki, mulai dibersihkan mulai terus sampai difinishing, dipacking baru masuk ke ruangan sini biasanya. Jadi walaupun kita itu UMKM kecil-kecilan tapi finish-nya itu stop and go process of production begitu. Jadi setiap orang itu tanggung jawabnya jelas. Kamu bekerja dari ini sampai sini, kamu bekerja dari ini sampai dengan sini. Begitu. Jadi tidak boleh kecelakaan di tengah jalan kok diteruskan terus saja gak boleh. Jadi misalnya ada di bagian depan itu kok mengkerut atau cacat dan lain sebagainya sudah terhusus terhenti di situ. Mampu produksi berapa produk? Kalau macamnya sesuai dengan permintaan, Mas. Berarti custom. Iya. Mboten jual yang produk jadi terus tiba-tiba disebar mboten nggih. Mboten. Saya modelnya itu masuknya ke agen lebih senang ke agen Mas daripada individu. Ya, kalau individu itu pusing Mas ya. Memang harganya lebih mahal tapi kan mintanya kan macam-macam Mas sesuai dengan tenaga kerja yang ada. Karena tenaga kerja yang ada di bidang kerajinan itu kan maksimal pokoknya SMP, SMA, Mas, lulusannya. Kalau disuruh dia mikir terlalu banter ya pusing juga dia. Untuk agen itu sehari mampu berapa dengan 12? Setiap anak itu pokoknya bisa 12 sampai 15 per pasang per hari. I misalkan pesannya 1.000 itu berarti harus pesan 3 bulan sebelumnya. Harus begitu kan. Katakanlah misalnya di bagian bawah itu ada katakanlah empat yang sekarang ini itu Mas empat itu 1 hari 15 pasang. Berarti 4 itu 60 pasang per hari Mas. Berarti 60 pasang per hari. Kalau 6 hari kerja berarti 360. 360 tinggal dikalikan aja 1 bulan 24 hari kan begitu. Gitu aja. Kalau peran saya untuk sementara ini nggih biasanya saya bantu menjualkan juga, Mas. Sekarang juga kan mulai mau bantu juga ke sosial media lagi juga. Untuk keseharian di sini mungkin kalau ada kekurangan apa-apa saya juga bantu. Bantu biasanya juga untuk kirim barang ke luar kota. Ke luar kota juga biasanya saya. Soalnya Bapak kan juga sudah enggak kuat kalau perjalanan jauh-jauh. Kadang kalau dikasih ke orang itu, Mas, sayang juga biaya untuk wira-wirinya kan ngasih ke orang daripada ngasih ke orang kan ke anak kan ya kan, Mas. Habis itu kan gawatnya lagi kan kalau semisal nanti kan biasanya kan kalau sudah langganan tahu ke orang-orang itu kan juga nanti kan beresiko juga Mas. Nah, ya itu lebih baik mending saya gitu aja ya. Sementara yo bantu-bantu aja, Mas, di sini, Mas. Mungkin yang kekurangan apa mungkin gitu atau mungkin diperintah Bapak apa nggih. Siap gitu. Ini kan saya juga sambil bikin untuk mungkin yang agak anak muda ya, Mas ya. Saya kan juga nyelipin paling enggak kan dikit-dikit gitu, Mas. Mulai sudah bikin-bikin juga gitu tapi kan enggak bisa langsung kan enggak bisa, Mas. Apalagi kan saya juga masih menggunakan jasanya Bapak itu kan tukangnya kan juga enggak terlalu bisa diganggu juga, Mas. Apalagi kalau pesanannya juga lagi banyak. Kalau enggak pas terlalu longgar kan enggak bisa jernih juga untuk memikirkan mungkin model yang baru seperti apa dan lain sebagainya gitu. Jadi nyelipinnya emang harus pelan-pelan Mas. Enggak bisa langsung. Jenengan nate produksi alas kaki ini kewalahan moten nate enggak di situasi itu, Pak? Pernah, Mas. Detik ini aja saya kewalahan, Mas. Karena ya SDM-nya, Mas. SDM-nya di bidang kerajinan itu tidak semuanya itu orang itu bisa mampu. Yang sulit itu akhir-akhir ini itu SDM-nya, Mas. Ya, bisa tapi biasanya kurang rapi, Mas. Kurang rajin. Kan sepatu itu bagian atas sama bawah. Atas itu seperti ini ngerangkai itu. Terus bagian bawah itu yang merapikan pakai ee yang itu masang sol itu, Mas. Jadi, gimana putarnya itu supaya tidak kelihatan begitu, rawapi enggak legok-lenggik kan begitu dan seterusnya dan seterusnya itu [Musik] terus kerajinan itu kalau bisa itu kalau yang masih kecil harus maklon dengan yang besar. Sistem saya sudah seperti itu, Mas. Jadi saya itu kok tidak hanya melayani agen saja. Jadi teman-teman saya kerajinan yang ada di kota lain ya saya datangi. Kadang kala dia kan jauh dari bahan Mas tapi dia semangat juga bikin kan begitu. Akhirnya dia kewalahan juga membikinkan pesanan. Kadang kalala pesanannya dilemparkan ke bahasa saya tinggal dia mereknya merek apa begitu. Saya enggak kekeh harus merek saya pendowo begitu gak. Pokoknya yang sepenting teman-teman kerja saya itu semuanya setiap hari bisa bekerja. Apa artinya? Saya harus kekeh pendowo tapi teman kerja saya enggak bisa kerja kan percuma juga. Di antaranya seperti itu. L. Jadi kadang kala, Mas, pengrajin-pengrajin yang seperti saya itu tadi jarang juga yang mau karena keakuannya yang tinggi. Ini loh bikinan saya begitu repotnya itu. Kalau sudah seperti itu sudah kan kerajinan itu kan timbek, Mas. kerja bareng seperti sepak bola itu loh. Jangan masuknya hanya karena penalti aja begitu loh. Kan lucu kalau hasil kerja sama kan enak bola itu masuknya itu. Tapi kalau hasilnya misalnya penal masuk karena penalti kan yang sakit yang tak. Iya atau yang terkena hukuman itu tadi kan begitu Mas. Akhirnya saya saya dengan pengrajin mana pun juga baik. yang ada di Jogja, yang ada di mana, Klaten. Saya berhubungan semua gitu loh. Jadi kalau tidak ada pekerjaan saya silaturahmi atau mungkin sekali-kali ngebel begitu. Sama Mojokerto juga begitu. Karena masing-masing daerah itu karakternya berbeda-beda, Mas. Kerajinan di Jawa Timur itu kan yang ada di Magetan, Mojokerto, Surabaya, sama Malang. Kan begitu, Mas. Lah kita orang Magetan jangan sampai memasarkan ke Surabaya atau ke Mojokerto bunuh diri kan begitu. Cari daerah-daerah yang tidak ada pengrajinnya. Yang betul kan seperti itu. Maka saya mengarahnya ke barat tegnya ke Jawa Tengah begitu, Mas. Kan kadang kala orang enggak jarang berpikir yang seperti itu. Terus harus titen, Mas. Mengetahui bulan ini bulan ini misalnya bulan manten harus dijakan slop yang banyak. Bulan seperti misalnya 17 Agustus ini bikin PDH, PDL paskaka yang sebanyak-banyaknya begitu kan. Jarang pengerjin yang niteni seperti itu. Itu kalau saya sudah seperti itu. Walaupun tenaganya sedikit tapi bagaimana harus tetap terus bekerja. Mergane saya pernah dituturi karo Cina Suraboyo, Mas. UMKM itu harus bekerja terus. Enggak bisa seperti bikin sepatu seperti pabrik-pabrik itu enggak bisa. Kalau pabrik itu pakai mesin kita itu sudah terbatas. Jadi anak satu biasanya bisa menjadikan 15 ya. 15 itu aja sudah dihitungkan. 15 1 tahun itu 360 hari dihitung aja 300 satu orang itu berapa jadinya gitu aja Cina itu yang bilang seperti saya seperti itu. Mas berarti jenengan fokus di marketing aja ya, bukan di operasionalnya ngih. Untuk saat ini seperti itu sih, Mas. Soalnya kan saya kan juga ini kan lagi ya yang saya bilang kemarin lagi buka di toko di Pasar Baru. Sementara kan saya ngelola mungkin di situ juga soalnya kan kalau gak ada saya kan juga enggak ada yang ngelola juga Mas nanti Mas gak ada yang megang juga Bapak kan juga juga sambatannya sudah capek i kan seperti itu. Sudah capek yang saya maksud itu agar supaya yang muda itu lebih bersemangat gitu loh Mas. Kalau saya terus di depan aja kan dikiranya ya toh tua gak tahu diri kan begitu maksud saya. Pak, dengan 15 karyawan menjenengan hidupi itu 1 bulan perputaran uangnya berapa, Pak? Pokoknya kalau untuk jasanya aja, Mas, ya, 15 itu pokoknya 6 hari kerja itu pokoknya sekitar antara 8 sampai R juta untuk jasanya. Itu untuk jasanya. Belum pembelanjaan ubo rampene kulitnya, ubo rampennya kulit belum itu ya. Untuk jasanya aja katakanlah 9 ya, 9 * 4 R6 juta. Iya. itu bahannya nek bahannya itu ngitungnya dari sepatunya aja Mas enaknya sepatu itu kan misalnya setiap anak tadi 15 kalau 4 anak berarti kan 60 itu kalikan berapa dalam 1 bulan kan begitu lah itu untuk beli bahannya kan ada sekitar 50 atau 60 kan begitu untuk bahan-bahannya tapi kalau untuk produk terlakunya Bapak itu untuk setiap tahunnya mungkin sepatu sekolah Mas sem sepatu safety yang bentuknya ini. Nah, itu mungkin setiap tahun itu kan ada terus Bapak itu alhamdulillah pokoknya terbantu dengan sekolah-sekolah SMK itu loh, Mas. SMK itu kalau bengkel safety-nya mesti ambil ke kita kebanyakan. Dan itu SDM-nya yang sulit, Mas. Bikin sepatu saf itu SDM-nya tidak semua anak bisa. Soalnya Bapak kan untuk sementara ini emang paling suka ngejar yang sepatu kayak gini, Mas. Soalnya borongannya gede-gede, Mas. Kalau Bapak itu melayani sepatu yang fashion terlalu model, cuma laku satu dua, makanya Bapak kan enggak mau. Soalnya itu tadi, Mas, enggak ada uangnya itu tadi. Apalagi kan lakunya kan cuma segitu, Mas. Apalagi kan kalau di karyawannya juga kan susah juga, Mas, kalau cuma bikin kayak gitu. Kalau borongan gini kan jauh lebih enak, lebih gampang juga. Apalagi pembeli-pembeli. Saya kan pembeli-pembeli minded, Mas. Kalau gak pekerjaannya Pak Ogi enggak itu banyak sekali. Karena servis saya itu yang pertama itu tepat waktu, Mas. Barusan baru tepat waktu. Bukan belum-belum yang lain-lainnya. Saya pesan sama Pak Ogi sana loh. Seminggu ya seminggu gitu loh. Sampai ya sampai kalau gak ya nak gitu. Jadi saya itu baru nyervis tepat waktu belum yang lain-lainnya sebetulnya kan. Itu biasanya diringankan sama teman-teman pengrajin soal ketepatan waktu itu. Jadi sanggup hari ini jadi tapi belum jadi jadinya baru besok dan lain sebagainya. Karena sudah pernah saya sampai saya itu merinding itu ada salah seorang dari Ngawi itu Mas pesan ke kita kan pakai nota kita tulisi jadi tanggal sekian bisa diambil begitu lah pada saat itu belum jadi Mas ditunggui Mas ini notanya jadinya kan Bapak bilang tanggal ini. Saya kan enggak salah saya jauh dari Ngawi. Akhirnya saya selikan, saya selesaikan hari itu juga Mas gembrobol semua sama pernah ya itu tadi yang Mas bilang pesanan terbesar dari mana dari BUMN itu lewat sales orang Solo itu 3.000 pasang saya jadikan 2.500. Terus dia minta pokoknya dalam minggu ini pokoknya harus selesai padahal itu sudah di tengah-tengah hari Mas. Jadi berapa hari begitu saya mengerjakan sepatu itu 500 pasang, Mas. Yang narik-narik terus, yang ngekap-ngekap terus, yang ngamplas ngamplas terus aja. Sampai dulu itu Aqua-aka, botol gede itu saya kasih hemafiton semua itu biar enggak tidur atau enggak gimana itu 24 jam. Akhirnya mau menjelang subuh itu baru jadi terus saya bawa ke Karang Anyar. Bapak tinggal pilih yang 2.500 bayaran atau menyelesaikan 500 harus selesai tinggal pilih. Ya, otomatis saya kan kalah toh, Mas. Kalau yang 500 tidak terselesaikan berarti enggak gajian semua. [Musik] Pak, jenengan lek misalkan pengin pejang masika nopo, Pak? Soal keseriusan di dalam mereka itu berusaha gitu loh, Mas. istilahnya kurang kontinue. Jadi sedikit-sedikit waleh umpamane basone wong tuek ngene walean gitu loh. Kan semuanya itu kan harus dipegang secara kontinuitas kan. Boleh dikatakan ini saya itu maaf baru berapa tahun kan sudah saya pegang berapa puluh tahun kan begitu Mas. Mulai saya SMP SMP itu saya lulus 76 di era 7080-an saya sudah pegang kerajinan ini Mas. Dulu itu, Mas, yang namanya bikin sepatu antara kanan sama kiri sama itu aja sulitnya setengah mati, Mas. Setiap orang itu mesti mengeluh, "Pak, iki sing kiwok logo toh, Pak. Sing kanan kok pas mesti begitu, Mas." Itu aja carinya luar biasa sulitnya. Jadi, kan cetakannya itu kan dulu dari sini, dari Malang, dari Mojokerto ada, dari Japanan ada, Mas. Lah saya itu langganannya orang Malang sana, Mas. Bikin list itu di Jalan Kawi sana. sampai saat ini orangnya sampai sudah melengkung itu bikin listnya itu. Kalau dari keseharian ya Bapak itu emang orangnya disiplin, Mas. Tepat waktu apa-apa itu Mas. Mulai dari bangun tidur, mandi apa-apa itu jam-jamnya itu sudah ada, Mas. Dari saya kecil sampai sekarang juga semuanya kayak gitu. Diajarkan disiplin sama Bapak itu, Mas. Emang, Mas, kalau untuk model bisnis seperti apa? Saya cenderung untuk memperbaiki model-model mungkin dari produknya dulu, Mas. Kalau Bapak kan soalnya kan cenderung emang fokusnya sepatu yang seperti ini. Sedangkan kalau kita mengikuti zaman itu kan kita harus dikit demi sedikit kan juga harus mengikuti model, Mas. Enggak bisa kalau kita harus menutun seperti ini juga. Soalnya kadang kalau kita kan juga punya toko, toko itu kan juga pembelinya kan enggak semuanya peminat sepatu yang seperti ini juga, Mas. Makanya harus diseling juga model-model baru juga, Mas, yang kekinian juga. Untuk sementara ini emang PR-nya lebih ke situ. Tapi kalau untuk pasar yang sudah ada seperti ini ya tetap dipertahankan, Mas, kualitasnya mungkin dan lain sebagainya mungkin harus dipertahankan. Cuma mungkin tambahan-tambahan itu tadi Mas, yang saya bilang soalnya kan Bapak kan sudah enggak mau ribet yang seperti itu, Mas. Makanya mungkin PR-nya penerusnya itu tadi. Kalau orang tua zaman dulu itu harus punya keahlian yang tidak dimiliki oleh orang lain. Maso iki tukang cukur kan jual jasa tapi dadi tukang cukur sing apik. Engko lak diminati karo mereka yang ingin potong rambut. Kan begitu. Kalau dulu itu orang tua seperti sekarang eh orang tua dulu-dulu itu ya itu tadi Mas harus memiliki keahlian yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain gitu dikatakan seperti itu istilahnya jual jasa lah pokoknya setiap usaha itu ada prosesnya setiap usaha itu mesti ada kendalanya tidak sedetik pun Allah itu tidak memberikan satu cobaan pasti semuanya seperti kerajinan sepatuhi seperti ini, Mas kadang kala ordernya banyak bahannya komplit kadang kala SDM-nya kebetulan usum-usum hajatan akeh sing enggak mlebu, akeh yang begini begini. Akhirnya keterlambatan soal jadinya dan seterusnya. Pokoknya setiap daripada kita usaha itu tidak ada yang ideal. Dikasih ideal itu nanti beberapa gitu aja. [Musik] Saya Suprayogi. Saya Dika. Generasi keempat dari Pendowo, produksi alas kaki terfokuskan untuk alas, sandal, dan sepatu yang beralamat di Jalan Imam Bonjol nomor 11. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]