Transcript
3Ives-sFJ74 • Sisi Gelap Bisnis Reseller: Produk Laku atau Cuma Pindah Gudang??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0586_3Ives-sFJ74.txt
Kind: captions Language: id Sahabat pecah telur, pernah tergiur enggak dengan sebuah iklan yang lewat di beranda kalian? Ayo join reseller, untung gede, modal kecil, produk mudah dijual. Ternyata setelah kalian beli, produknya susah dijual dan pada akhirnya produknya numpuk. Bingung mau jualnya gimana, kemudian didiskon pun jadi rugi dan akhirnya enggak tahu harus bagaimana. Nah, kita akan membahas sisi gelap bisnis dengan skema pemasaran reseller. Dan juga di akhir sesi kita akan juga membahas bisnis yang pernah kami kelola atau kami berpartisipasi di situ yaitu snack yang waktu itu menggunakan sistem pemasaran reseller. Memang waktu itu viral dan bahkan dalam 1 bulan peluncuran produknya atau 1 bulan launching produk itu berbuah manis yaitu menghasilkan omset Rp1 miliar dalam 1 bulan. Tetapi ternyata setelah kita dalami banyak sisi gelap yang terjadi saat itu. Nah, yuk kita bahas dalam sisi detektif kali ini. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman Sobat Pecah telur. Perkenalkan saya Agung Hartadi, orang di balik layar dari pecah telur yang telah berkeliling di beberapa kota di Indonesia dan telah menginterview ratusan pengusaha yang kita sajikan di channel Pecah Telur. Apa itu strategi sell in? Strategi sell in adalah strategi jual ke dalam. Jadi eh strategi jual ke dalam itu adalah jual ke dalam sistem, bukan sell out atau selling ke customer. Pada umumnya yang brand to customer mereka adalah menjual produk dari brand menuju customer. Tapi strategi sell in adalah strategi menjual produk dari brand atau gudang brand atau gudangnya si owner pindah ke gudangnya si reseller gitu ya atau pindah ke gudangnya orang yang dalam sistem itu. Nah, itu yang digunakan dalam sistem reseller. Jadi, strategi sell in. Jadi, sebenarnya ketika ada penjualan, katakanlah tertulis hari ini terjual sekian ribu pis atau dengan omset ratusan juta. Sebenarnya produk ini belum terjual benar-benar ke market karena masih terjual di mitranya. Inilah namanya strategi sell in. Nah, strategi ini yang dipakai di sistem reseller. Bukan hanya reseller, ada juga sistem keagenan, sistem juga distributor, gitu. Jadi mereka hanya berputar-putar aja dulu. Dari gudang brand ke gudang distributor, dari brand ke gudang agen atau dari brand ke gudang reseller. Begitu. Kemudian kenapa kok banyak orang join jadi reseller? Karena memang pemilik brand itu memiliki sebuah diskon khusus. Biasanya mereka campaign seperti ini. Harga khusus reseller, harga pembelian sekian akan dapat diskon sekian. Nanti akan ada pendampingan dari saya. Terlebih kalau dia seorang mentor bisnis atau orang yang diakui keilmuan dalam bisnisnya. Pasti ketika dia membuka sebuah kemitraan atau mereka berjualan produk dengan sistem reseller pasti yang daftar banyak. Karena ada tadi ada janji iming-iming, ada pendampingan bisnis, kemudian ada juga ada harga spesial dan juga biasanya ada juga tuh nanti dapat ibaratnya itu bisa gabung bersama kita gitu di komunitas begitu. Jadi itulah kenapa reseller ini sangat banyak yang daftar. Tapi perlu teman-teman ketahui sebenarnya sistem reseller itu hari ini tidak begitu in lagi seperti dulu. Sistem reseller ini sangat in di waktu beberapa tahun ke belakang sebelum ada sistem affiliate. Walaupun demikian, walaupun tidak begitu in hari ini tidak begitu masif, tapi tetap aja masih ada banyak brand yang tetap efektif menggunakan sistem reseller sebagai channel distribusi mereka. Ada juga kok mereka yang masih eksis, ada yang masih tetap menguntungkan dengan sistem reseller ini. Tapi memang sebagian besar sudah berpindah. Karena dengan adanya TikTok, dengan adanya Shopee yang mereka memudahkan sistem affiliate, banyak brand yang kemudian tidak kompetitif menggunakan sistem reseller dan mereka langsung end user dengan cara affiliate. Jadi seakan-akan mereka dapat benefit seperti reseller, banyak yang bantu ngjualkan tapi dengan produk yang tidak terlalu tinggi. Kalau reseller ini biasanya harga ke enduser-nya jadi jadi tinggi. Nah, karena apa? Karena ini memberikan space keuntungan kepada reseller sekian rupiah, sekian persen. Biasanya ada yang 15%, ada yang 20% bahkan ada yang 40%. Nah, inilah keuntungan reseller. Kenapa banyak orang yang kemudian join di reseller sebuah brand? Ini namanya strategi sell in. Jadi jual ke dalam, pindah gudang. Dari gudang si owner pindah ke gudangnya reseller. Segmen kedua, kenapa banyak yang join dan kemudian terjebak? Sebenarnya ini ada dua sisi yang perlu kita benahi. Pertama dari sisi brand. Mereka terlalu overpromise bahasanya. Mereka terlalu lebay dalam memberikan sebuah promise atau sebuah janji yang dilewatkan dengan game pain. Contoh, ada pendampingan, ada mentoring 101 bahkan gitu. Nanti dibimbing secara khusus oleh saya. Pada realitanya mungkin tidak akan seperti itu. Pada realitanya mereka hanya suruh beli kemudian dimasukkan grup ternyata tidak ada pendampingan secara khusus. Nah, ini juga namanya overpromise. Jadi sangat menggebu-gebu ketika janji tapi realitanya tidak sesuai ekspektasi. Kemudian dari segi promis juga mereka menjanjikan harga yang sangat fantastis potongannya sampai 20%, 30% bahkan ada yang 40%. Kalau potongannya jam 40% bisa ketebak dong HP produk itu seperti apa. Berarti produk itu sebenarnya secara quality bisa jadi under value atau under price atau price-nya itu jauh lebih tinggi daripada value yang dia terima. Sehingga apa? Sehingga produk yang memberikan diskon tinggi kepada reseller bahkan sampai 40% sampai 50% bisa jadi susah dijual. Karena apa? Karena produknya sebenarnya nge-upnya terlalu tinggi karena dia bagian ke resellernya tinggi. Dia sendiri kan juga pasti ngambil keuntungan dong si brand. Jadi itu sisi yang kedua. Yang ketiga adalah biasanya mereka tidak mengatur supply and demand-nya. Permintaannya berapa, suplainya berapa, tidak diatur kelangkaannya, tidak diatur suplly demand-nya tidak diatur. Memang kalau reseller ini susah untuk diatur per area ya. Per area itu susah diatur karena sifatnya online. Berbeda dengan distributor. Kalau distributor itu biasanya per wilayah. Jadi misal di daerah Tulungagung itu siapa distributornya? Nah, tidak boleh ada distributor kedua di area itu. Jadi secara distributor bisa dilindungi. Tapi reseller ini memang agak rumit karena dia berbasis online dan online tidak bisa dibatasi secara teritorial. Jadi ini agak agak rumit ya sebenarnya. Jadi karena tidak bisa dibatasi teritorial mungkin brand secara bijak mengatur produknya. Mentang-mentang dia itu mudah bikin produknya atau punya vendor maklon. Dia sistem maklon vendor ke sebuah pabrik. Mentang-mentang dia punya uang, dia produksi dalam jumlah yang sangat banyak. Ketika barang habis di stok dia, dia produksi lagi. Dia tidak melihat ternyata produknya masih ada di gudang reseller. Begitu. Brand hanya fokus campaign pada penambahan reseller. Mereka tidak fokus pada campaign tentang produknya. Ah, ini juga banyak nih. Jadi, ayo nambah reseller. Jadi, campaign-nya itu banyak fokus. Ayo nambah reseller, profit tinggi, modal kecil, dan sebagainya. Tapi dia tidak pernah mempromosikan, tidak pernah memberikan ibaratnya ee bantuan promosi atau bahasanya kalau teman-teman lapangan itu mereka kanvasing atau pasukan darat, tidak ada pasukan langitnya atau tidak ada brandingnya. Entah itu branding TV-TV besar misalnya atau branding di yang sifatnya dia awareness sehingga dia memanfaatkan itu sebagai channel pembelian aja. Jadi ada juga brand yang hanya dia fokusnya campaign tentang adanya reseller ini juga problem. Nah, ini adalah empat kesalahan yang melekat kepada brand. Mungkin juga ada yang banyak ee mungkin ada juga yang lain ya. Nanti teman-teman kalau menemukan yang lain coba tulis di komentar. Nah, kemudian yang melekat kepada konsumen atau calon reseller. Biasanya yang menjadi sasaran empuk dari program kempain reseller ini adalah para mereka yang baru atau pebisnis baru yang mereka ingin jualan atau mereka yang sangat mengidolakan sosok yang membuka kemitraan tersebut atau yang mengidolakan sosok yang menjalankan brand dengan sistem reseller tersebut. Jadi intinya dia ingin dekatlah dengan sosok tersebut atau dia ingin belajar ilmunya karena ada iming-iming mentoring. Nah, ini boleh dibilang ini kategorinya FOMO ya. FOMO. Takut ketinggalan. Takut ketinggalan kereta, takut ketinggalan peluang. Padahal realitanya dia tidak bisa dalam bisnis ini. Dia tidak tahu bisnisnya ini seperti apa, marketnya bagaimana, cara promosinya apa. Bahkan yang unik adalah mungkin dia baru mengenal ada produk seperti ini. Nah, ini juga. Jadi, bagi sobat pecah telur, sedikit banyak nanti belajar tentang FOMO. Jangan sampai kita ikut VOMO. Jadi, apa sih bedanya FOMO dan tidak FOMO? Kalau FOMO ini ikut-ikutan. Kalau tidak FOMO ya ikut-ikutan di awalnya enggak apa-apa, tapi diikuti dengan belajar yang rajin supaya kita tahu keilmuannya. Segmen ketiga, apakah sistem reseller ini salah? Dan jawabannya adalah ya pada umumnya gitu ya, tidak bisa dikatakan salah, tidak juga dikatakan benar. Seperti kita melihat dari pisau. Pisau ini ketika digunakan oleh penjahat maka bisa jadi salah. Akibatnya kan bisa ee pisau ini digunakan untuk menodong orang, kemudian membunuh orang tapi pisau di tangan saf maka akan tercipta sebuah masakan yang enak. Jadi ini adalah sebuah sistem risal ini adalah sebuah sistem penjualan yang bisa can be positif and can be negatif. Jadi bisa jadi positif bisa juga negatif tergantung siapa yang makai. Mas, apakah ada sistem reseller ini yang bagus dan survive saat ini? banyak teman-teman ya banyak. Jadi brandnya mereka sangat bagus mereka memberikan pendampingan kepada resellernya mereka tidak terlalu overpromise. Mereka membantu support marketing juga untuk produknya. Menjaga kelangkaan produknya atau menjaga supply demand-nya. Dan bahkan mereka lebih dari keluarga. Maksudnya bagaimana? Karena saking dekatnya dengan reseller sehingga hubungan mereka itu bahkan melebihi baiknya saudara gitu ya. bahkan bisa menjadi saudara antar kota, antar provinsi kan menarik tuh. Jadi seorang brand memiliki banyak saudara di beberapa kota karena mereka apa? Mereka menjaga hubungan baik, mereka selalu berkomunikasi. Jadi si brand ini tidak selalu berpikir tentang profit oriented, tapi juga mereka berpikir, "Bagaimana resellerku? Apakah dia bisa bertumbuh? Apakah produknya sudah laku?" Nah, begitu. Bahkan ada juga sebuah brand yang ibaratnya itu buy back lah atau membantu menjualkan. Jadi misal contoh nih di kota A ternyata stok kosong. Nah, di kota B stoknya masih menimpah. Nah, ketika di kota A beli di brand mereka menahan dulu, eh jangan dulu beli di saya. Coba dilinkan antara A dan B. Coba teman-teman ee kita bantu untuk komunikasi. Bisa enggak yang B ini memberikan sedikit keuntungannya kepada A dan A juga mengurangi nanti potensi keuntungannya. Ada juga yang semacam itu. Sehingga apa? CCLE yang terbentuk itu circle enak, hangat, kekeluargaan. Jadi kalau sudah terbentuk seperti itu kan enak dan memang rata-rata teman-teman yang bisa survive adalah yang bentuknya di atasi reseller atau bahasanya itu distributor yang mereka bisa menjaga teritorialnya gitu ya, mereka bisa menjaga kawasannya gitu ya. Kalau memang reseller, reseller itu kekurangannya harganya terlalu murah untuk bisa menjadi reseller. Sehingga bagi pemilik brand juga untuk bisa melepaskan satu wilayah kepada reseller mereka menganggap terlalu kecil. Diangkat lagi menjadi distributor itu menjadi sebuah keuntungan gitu ya. secara pembelian mereka juga bisa banyak komitmennya ada dan sebuah brand ada kayak sebuah kepastian oh brandu di kota ini dipegang oleh ini. Nah itu juga lebih lebih bijak. Jadi apakah sistem ini salah? Tidak selalu. Bisa jadi benar bisa jadi juga salah. Tapi memang kalau menurut saya kalau sistem stock berarti kan reseller dan distributor ini kaitannya dengan stokis ya dengan stok barang. Jadi lebih enak agak naik sedikit dengan distributor. Resteller pun juga bisa, tapi dengan wilayah yang lebih kecil per kecamatan atau apa. Dan kemudian ee dibagi. Poin yang kedua, apakah sistem reseller ini salah juga? Ini kita lihat dari sisi resellernya, dari sisi orang yang menjualkan atau yang mau join reseller. Jadi ini juga bisa jadi salah nih si reseller yang kaitannya sama VOMO tadi. FOMO tadi juga kaitannya juga promosi yang berlebihan juga sih sebenarnya dari brand, tapi juga akhirnya dia kemakan iklan dan dia tidak menghitung apakah dia bisa menjual, apakah dia itu bisa nanti mengeluarkan produknya, perhitungannya seperti apa dan lain sebagainya. Ya, jadi seperti itu karena kita sebagai calon reseller juga harus bisa menghitung nanti bagaimana ya keuntungannya, siapa yang menjalankan, nanti hitung hitungannya ibaratnya untuk pengiriman berapa, untuk biaya kirim dari sana ke sini berapa, harus dihitung nanti untuk produk ini berapa lama expired-nya dan sebagainya. Jadi, bagi teman-teman calon reseller juga harus benar-benar menghitung. Jangan hanya takut ketinggalan. Itu FOMO namanya. Oke, segmen keempat bedah kasus pecah telur snack. Nah, saya akan berah kasus pecah telur snack yang di mana waktu itu juga menggunakan sistem reseller, Teman-teman. Nah, ini saya akan memberikan sebuah gambaran yang objektif sehingga Teman-teman bisa melihat dari dua perspektif dari seorang brand dan juga seorang reseller. Nah, asal muasal dari pecah telur snack itu sendiri. Jadi, pecah telur snack sendiri itu sebenarnya bukan ide dari pecah telur ya awalnya ya. Jadi, ada seorang pengusaha pihak ketiga berarti ya itu menawarkan sebuah konsep, "Mas, bagaimana kalau kita bekerja sama dengan pecah telur dengan cara membuat camilan snack gitu ya?" Nah, Mas bisnis snack itu gurih ya. Memang betul gurih ya. Kemudian sistemnya waktu itu yang kita sepakati adalah pecah telur sebagai brand hanya menampilkan logonya saja sebagai brandnya aja ditambahi snack. Jadi pecah telur snack tapi tidak terlibat dalam operasional. Jadi tidak terlibat dalam permodalan, tidak terlibat dalam operasional pengiriman dan sebagainya. Intinya hanya numpang logo doang di situ. Dan nanti bikinkan video dengan sosok yang kemudian kita sepakati kemudian ditampilkan di pecah telur. Nah, itu kewajibannya. Kemudian haknya seperti apa? Waktu itu kita dikasih royalty lah bahasanya. Jadi waktu itu kita dikasih royalti 2.000 per penjualan snack satu pack. Jadi waktu itu satu pack kalau enggak salah seingat saya harganya sekitar Rp2.000 sampai Rp14.000 ya kalau enggak salah segitu. Nanti kita ketika ada penjualan kita mendapatkan Rp2.000. Jadi memang kita kayak semacam di-endorse gitu brandnya di di-endorse kemudian kita mendapatkan royalty. Pada waktu itu memang secara partner saya itu sudah mentargetkan ya teman-teman ya. Saya hanya bisa melihat dari jauh. Saya hanya mengamati karena saya tidak terlibat langsung. Saya mengamati memang menargetkan R miliar di bulan pertama dengan beberapa strategi. Contoh nanti kita launching-nya di bulan ini. Ada juga nanti kegiatan pralaunching ya seperti negosiasi dengan vendor, kemudian menciptakan sebuah momentum, terus kemudian banyak hal yang perlu dipersiapkan. Saya tidak bisa cerita detail karena panjang sekali dan ternyata realitanya benar teman-teman ya. Pas waktu kita launching viral sekali e benar-benar diciptakan untuk viral. memang waktu itu viral sekali dan benar capek R miliar pertama di 1 bulan pertama waktu itu dengan merekrut 400 reseller seingat saya 200 atau 400 ya karena seingat saya pokoknya jumlahnya R miliar dengan kalau 400 reseller berarti sekitar 2,5 seingat saya itu ya masing-masing reseller ditargetkan beli sell in tadi seperti yang kita bahas di segmen satu sell in jual dari pusat ke gudang reseller dengan di angka 2,5 juta. Nah, kemudian ada 400 orang yang kemudian daftar jadi risalah dan terciptalah angka R miliar pertama di bulan pertama dan cukup bombasis waktu itu, cukup viral. Saya banyak dikontak orang waktu itu ya, banyak influencer ngontak saya, banyak juga artis ngontak saya kok bisa dan sebagainya. Bahkan karena waktu itu jadi trending Twitter jadi pecah telur, snack, hashtag itu jadi trending Twitter. Memang sangat bagus ini sistemnya yang pihak ketiga ini. Saya ingin bahas sisi gelapnya. gelapnya adalah karena ini vendornya tidak biasa mengerjakan dengan kuantitas yang segitu banyak untuk produk ini. Memang ini vendor besar, produknya banyak, dia memproduksi banyak kacang ya, tapi untuk kacang medan yang kita produksi, dia itu tidak mengerjakan itu secara daily. Sehingga ketika ada order yang sangat banyak waktu itu sampai berapa ton begitu loh. Bayangkan itu kan cuma berapa gram ya, ini sampai berapa ton gitu loh permintaan dalam seminggu atau sampai 2 minggu karena memang dikejar-kejar waktu sehingga apa yang terjadi ya dia ketika orang mengerjakan kemudian dikejar de yang sangat tinggi berkali-kali lipat dengan kapasitas yang biasa dia lakukan otomatis apa terjadi produknya turun kualitas dan itu yang terjadi. Ternyata setelah kita produksi buahnya, kemudian produk dikirim, ternyata banyak beberapa komplain kacangnya yang ibaratnya itu tengiklah atau penggorengannya kurang maksimal dan lain sebagainya. Tentu ya karena ini sistem yang diburu-buru ya diviralkan sangat viral dan sangat diburu-buru itulah sisi gelapnya sehingga produk tidak terjamin kualitasnya. Sisi gelap yang kedua adalah ya alhamdulillah ya karena waktu itu saya dapat komisi yang sangat tinggi ya teman-teman ya. Bayangkan di bulan pertama itu saya dapat komisi R200 juta dari penjualan R miliar itu. Wah, enak banget itu ya. Jadi saya seorang content kreator kampung yang kemudian ibaratnya cari profit itu juga masih empis-empisan lah ya. Jadi profit itu masih benar-benar ngumpulin dolar by dolar gitu ya. Dapat untung R00 juta dalam sebulan. Wah, itu apa enggak hijau matanya? Matanya hijau tu. Wah, menarik ini menarik gitu. Nah, ternyata apaam? Ketika itu partner saya langsung memproduksi ulang. memproduksi ulang terus-menerus sehingga apa yang terjadi padahal produk di customer atau produk di reseller belum terjual sepenuhnya. Produknya masih numpuk di gudang mereka sehingga apa yang terjadi? Over supply produk. Nah, gitu ya. Padahal dari kita, saya juga sangat salut kepada partner saya karena sering melakukan pembinaan rutin kepada reseller ya. Jadi ada banyak waktu itu hampir seminggu itu ada setiap hari Zoom mereka dikasih ilmu untuk jualan, ilmu branding, ilmu kanvasing dan sebagainya. Itu sebenarnya menurut saya sudah dilakukan dengan baik dengan diajarin cara jualan dan sebagainya. Tapi memang karena produknya over supply, over banget waktu itu sehingga banyak di antara mereka yang kebingungan menjual produk. Nah, sisi gelap yang ketiga adalah sistem bisnis yang seperti ini tidak bisa bertahan lama bagi seorang brand. Karena realitanya yang saya alami adalah dengan sistem seperti ini itu hanya bisa berlangsung 6 bulan gitu ya. Benar memang untungnya tinggi di awal-awal tapi semakin hari semakin redup semakin redup semakin redup sehingga di bulan keenam bahkan setahun itu sudah tidak ada bagi hasil tidak ada royalti tadi karena saya tidak tahu apakah ada kerugian ataupun ada keuntungan berapa yang tercipta dari partner saya karena kita hanya sebagai orang yang dibayar royaltinya. Jadi saya tidak dikasih tahu dan saya memang tidak bertanya kepada partner saya apakah dia rugi ataukah apakah dia ada produk-produk yang kemudian tidak laku dan sebagainya. Itulah sisi gelap dari bisnis reseller yang diviralkan seketika. Jadi memang waktu itu meangviral sekali tapi memang manisnya hanya di awal-awal tapi untuk tahan lama tidak bisa gitu ya teman-teman. seperti tadi juga saya bahas di segmen 3, kalau mau aman, mau lama dengan sistem reseller ya dirawat ya seperti yang dalam kasus yang segmen ketiga tadi teman-teman. Itu adalah sisi gelap dari bisnis reseller. Kalau teman-teman suka dengan konten ini, teman-teman coba komen kita mau bahas sisi gelap bisnis apa lagi. Sampai jumpa di next episode.