Kesuksesan Adalah Balas Dendam Terbaik: Dulu Dihina, Kini Sukses di Australia
fXwTIcs4G24 • 2025-08-15
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Saya itu sebagai anak kecil dulu
berontak. Cara berontak saya adalah ya
saya nakal karena saya mencari
perhatian. Saya nyuri, saya maling.
Setelah gede ini udah saya ngaku ya Mas
ya sama orangnya. Saya ngaku, "Iya saya
yang nyuri dulu. Iya saya yang maling
dulu. Saya maling toko itu saya naikin.
Bayangkan cewek umur 10 tahun.
[Musik]
Hal lain yang bikin saya tidak bisa di
sini lagi adalah ayah tiri saya yang
seharusnya menjadi pengganti ayah saya
itu dia
eh how to say this
I got sexual harassment from him and I
was only a kid.
Terus saya ke sekolah, guru yang
seharusnya melindungi saya bisa jadi
tempat perlindungan saya selain di rumah
itu guru saya yang di sekolah juga
begitu cabul.
Sampai di Kalimantan dijemput ternyata
berjam-jam jauh ke Kota Tambang. Dan itu
pun sebenarnya is human trafficking
untuk aktivitas all the illegal work.
Anything that woman should never step
their foot on.
Jadi itu perdagangan manusia, Mas.
Sampai di sana dijelaskan seperti itu,
saya nangis loh, karena saya perawan,
Mas. Saya perawan.
Saya bilang, "Maaf, ini yang dijelaskan
ke saya enggak seperti ini." Saya
bilang, "Bu, ini bukan yang saya mau
kerjaan ini. Saya enggak bisa disuruh
kerja begini. Saya bayar apa? Saya
gimana kerja yang lain, Bu? Apa aja saya
kerjakan. Orang mati udah kayak ayam aja
gitu harus bersihin badannya. Udah kayak
bersihin ayam aja gitu. Disuruh berenang
di kubangan kotoran manusia hanya untuk
menyenangkan hatinya dia. Dan itu saya
ingat sekali orangnya.
Jadi untuk para wanita yang terzalimi,
ternodai dengan paksaan ya Mas ya, speak
up. Kalian harus speak up. Kalian harus
berani ngomong, harus keluarkan dari
dada kalian. Kalian enggak sendiri,
banyak, cuma mereka memilih untuk tidak
bicara. Dan ini harus diakhiri.
[Musik]
Halo, perkenalkan saya Jessica. Saat ini
saya berdomisili di Magetan dan
Australia. Berdomisili di dua negara.
Saya saat ini bekerja di salah satu
tambang terbesar di Australia sebagai
chef. Jalur dan alurnya sih terus terang
pergaulan ya, Mas ya, pergaulan dan
pekerjaan. Karena saya background-nya
dulu selalu di hospitality dari Novotel
Balikpapan. Terus saya juga e mengurus
salah satu restoran terbesar di
Balikpapan waktu itu. Terus saya pindah
ke Bali juga background saya pun
hospitality. Jadi saya juga harus bisa
berbahasa Inggris. Dari situ saya bisa
bergaul dengan bule yang meleading ke
hubungan. Itu jawaban saya. Bagaimana
saya bisa sampai ke Australia. That's
the truth. Kalau dibilang suka masak ya
enggak sih, Mas. Karena saya di kampung
kita sebenarnya mau enggak mau ya harus
bisa masak.
Karena kan saya dari kecil saya ee tidak
besar dengan orang tua. Saya besarnya
sama Mbah Biung, kakek nenek. Jadi Mbah
Biung saya petani. Mereka di sawah, di
ladang. Jadi kalau pulang sekolah kadang
enggak ada makanin, saya harus bisa
goreng telur, harus bisa masak mie buat
saya sama adik saya.
Itu kehidupan saya seperti itu di desa
cari rumput, cari kayu ranting untuk
masak gitu gitu-gitu seperti itu, Mas.
Saya orang kampung jadi dari kecil sudah
bekerja keras bantu Mbah Biyung ke
ladang, tandur gitu. Saya memutuskan
untuk meninggalkan desa di usia 11 tahun
itu karena saya merasa ketidakamanan ya,
Mas ya. Saya tidak aman berada di rumah,
tidak aman berada di lingkungan sekolah.
Itu yang membuat saya memutuskan untuk
oke, you have to go, you have to find
your life, make yourself safe. Jadi,
pertama yang saya cari adalah keamanan.
Dan itu setelah saya keluar dari desa
itu perjalanan saya yang pembelajaran
hidup yang benar-benar dimulai itu
setelah saya sampai di kota itu kok usia
berapa?
Itu usia 11 tahun.
Kabur? Iya. Kabur.
[Musik]
Banyak anak-anak di kampung itu biasanya
mereka tumbuh dengan orang tua. Saya
tidak, orang tua saya tidak utuh. Saya
tinggal dengan Mbah Biung. Ibu saya
kerja ke kota pulang mungkin 3 bulan
sekali, berapa bulan sekali dan itu
karena ibu saya janda ya sudah pisah
sama ee itu rumor yang jelek-jelek itu
tuh menjadi bully setiap hari untuk
kami, untuk saya sama adik saya gitu.
Jadi grow up tun saya di sini sering
dibully dulu kecilnya ada tetangga yang
sempat bilang ke saya langsung
ibu itu kamu kira bisa beli spray kayak
gini kalau enggak hasil itu sampai
sekarang saya masih ingat orangnya Mas
[Musik]
saya itu sebagai anak kecil dulu
berontak
Cara berontak saya adalah ya saya nakal
karena saya mencari perhatian. Saya
groap, adik, saya groap. Kita enggak
pernah dapat kasih sayang orang tua.
Saya nyuri, saya maling. Setelah gede
ini sudah saya ngaku ya, Mas ya, sama
orangnya. Saya ngaku, "Iya saya yang
nyuri dulu. Iya, saya yang maling dulu."
Cuma waktu itu orang-orang tuh tidak
melihat kalau oh anak ini nyari
perhatian.
Kami tidak punya orang tua yang yang
memperhatikan kami. Jadi saya nakal tuh
kan. Jadi kayak di kampung ini pun saya
dulu kecilnya saya kondang dengan
kenakalan saya, Mas. Saya maling toko
itu saya naikin. Bayangkan cewek umur 10
tahun yang saya ambil apa ya waktu itu?
Kalkulator buat belajar di sekolah.
Oh my God. Iya.
Hal lain yang bikin saya tidak bisa di
sini lagi adalah ayah tiri saya yang
seharusnya menjadi pengganti ayah saya,
melindungi saya itu masa dia
eh how to say this
I got sexual harassment from him and I
was only a kid.
[Musik]
Jadi saya di rumah itu udah enggak bisa
merasa aman. Terus saya ke sekolah, guru
yang seharusnya melindungi saya bisa
jadi tempat perlindungan saya selain di
rumah itu guru saya yang di sekolah juga
begitu cabul. Angkatan-angkatan saya tuh
banyak yang dicabulin, Mas. Cuma enggak
ada yang speakup. Saya tuh kemarin
sempat sampai semu laporkan ke polisi,
ini saya baru terbuka ini dalam kurun
waktu beberapa tahun ini ya, Mas ya.
Sebelumnya saya nutup banget cuma
sakitnya saya, traumanya saya di dalam
itu masih ganjel gitu. Akhirnya saya
cari tahu kan, gimana Pak kalau saya mau
lapor ke polisi, tapi ini kejadiannya
sudah 20 tahun lebih enggak bisa.
Ternyata ada tenggang waktunya. itu saya
mau laporkan itu saya enggak urus
orangnya sekarang udah tua saya kok tiap
lewat saya kasih pandangan yang jelek
sekali karena masih saya sangat masih
marahnya sama dia.
Dari situlah akhirnya umur 11 tahun
kabur.
Kabur
kabur ke mana?
Surabaya. Jadi saya pergi ke Surabaya
itu saya tidak ada tujuan, saya tidak
ada kenalan. Saya intinya pergi saya mau
cari kerja.
Tahun berapa itu?
1999.
Jadi saya pertama sampai ke Surabaya itu
kan saya pakai bas ya, Mas ya. Uang yang
saya pakai untuk sangu ke sana itu uang
saya nyuri uang nenek saya. Saya jujur
saya udah saya udah ini ya sama nenek
saya ya udah ngaku udah saya balikin
berlipat-lipat ganda, udah dimaafkan,
saling memaafkan. Tapi ya saya nyolong
uang nenek saya hasil arisan dari masjid
itu 27.000 jumlahnya, Mas. Itulah modal
awal kehidupan saya. Saya sampai di
terminal Bung Ras itu waktu itu
terminalnya uh enggak kayak gini, Mas.
Sekarang kan terminalnya bagus banget
ya. Saya ambung di terminal Bungur Rasih
itu, Mas. 3 minggu ada saya bambung apa
namanya, homeless. Heeh. Ya udah, karena
saya enggak ada tujuan, jadi saya masih
ada bekal karena ada uang itu tidur di
situ. Saya mandi pakai toilet yang ada
di situ gitu. Saya enggak salah 45 L
hari Bambung itu didatangin sama ibu
yang jualan soto. Kamu tuh anak mana?
Arep nyang cah wedok kok nyang
pirang-pirang dino ditanyain gitu-gitu
Mas. Terus aku bilang, "Saya mau nyari
kerja Bu, saya dari Magetan. Saya mau
nyari kerja." Dia kasihan. Jadi malah
orang-orang di sekitaran situ tuh di ayo
Pak dipulangkan. Saya mereka tuh
bersedia bayar bas saya supaya saya
dipulangkan ke Magetan. Saya bilang,
"Enggak, Bu. Saya mau nyari kerja. Dan
baiknya Tuhan itu saya begitu keluar
dari rumah itu saya dipertemukan dengan
orang baik gitu loh, Mas. Jadi waktu itu
ibu itu nyuruh saya bantuin dagang
jualannya Mas ya. Ada keripik, ada
kacang naik turun basah ya. Karena kan
lokasinya di Bungurase gitu kan sama ibu
itu kalau enggak salah seminggu lebih.
Terus ibu itu bilang sama saya gini,
"Nduk, ibu carikan kerjaan neng
omah-omah ya, Nduk. Ora apik wong wedok
eneng terminal kowe engko gajimu sing
pertama dijukuk separuh karo bapak iki."
Yo, Nduk. iki bapak sing
penyalur-penyalur gawean kayak gitu.
Akhirnya ya saya diikutkan ke Bapak ini
diarahkan ke makelar tempat penyaluran
pembantu gitu kan. Di situ saya
diadopsiah
sama satu keluarga. Terus waktu itu
perjanjiannya itu 1 bulan Rp25.000
gajinya Mas. Iya. Bersih-bersih itu
pembantunya ada empat Mas. Orang Cina
rumahnya gede banget. Saya kerja sama
mereka 2 tahun itu saya tidak dapat
gajian saya tuh Rupiah pun saya enggak
dapat enggak digaji karena saya waktu
itu paling kecil kayaknya ya di itu ya
jadi setiap saya Bu kapan saya digaji
itu pun saya tanggal masuknya saya kapan
tuh saya juga enggak tahu ini tanggal
berapa saya enggak tahu karena kita
terkunci di dalam rumah kita tuh enggak
ada yang bisa keluar setiap saya tanya
Bu kapan saya digaji wes gajimu tak
simpan wae kowe engko mulh duitmu wis
okeh nah saya ada teman orang Madura
Jember namanya Misna itu dia ee pulang
duluan karena anak dan saudara dan
lain-lain gitu. Aku bilang, "Miss, aku
minta tolong. Aku enggak bisa di sini
lagi." Kita tuh sering disiksa. Kita tuh
kelaparan di situ, "Mas, aku enggak bisa
di sini lagi. Minta tolong, Miss. Aku
minta tolong pinjam uangmu. Aku tak ikut
kamu sama Missna dipinjamin uang waktu
Rp20.000 katanya udah nyampai ini ke
Jember." Katanya kayak gitu. Nanti
sampai di Jember, terminalnya naik ojek
udah cukuplah katanya. Ternyata duitnya
enggak cukup. Oh my God. Jadi saya naik
sudah naik buis aras Jember itu duit
saya enggak cukup, Mas. Saya bilang, pas
dibilang ongkosnya segini, saya bilang,
"Pak, uang saya cuma ada segini." Gitu
kan. "Lah, ini kamu ke mana?" Saya
bilang, "Saya mau nyari teman saya, Pak.
Saya kabur dari tempat kerja gini gini
gini gini. Saya enggak ada dibayar. Saya
kerja 2 tahun. Akhirnya sama kondur
buisnya itu diturunkan exactly di Jember
dan uang saya dibalikin. Baiknya saya
ketemu orang-orang baik yang waktu itu
selalu membantu saya.
[Musik]
Akhirnya ketemu lagi teman saya Misna.
Saya di rumahnya Misna itu mereka yang
membantu saya selama hampir kurang lebih
3 minggu. Terus pamannya Misna membantu
kami balik lagi kerja ke Surabaya lagi,
Mas. Saya itu walaupun umur saya 11
tahun terus badan saya tuh gede. Jadi
waktu itu balik dari situ itu kan
sebenarnya dari Jember balik ke Surabaya
lagi. Itu sebenarnya kan saya umur saya
kan baru 13 14 ya, tapi saya keterima
masuk Mas Pion. Sudah gitu kita diajak
demo apa segala macam minta kenaikan
gaji dan ini itu. Nah, kita orang baru
ikut aja demo. Ikut aja demo. Bukannya
kita dinaikkan gaji malah banyak dari
kami yang dipecat. termasuk saya dan
Wisna. Balik lagi saya ke Jember lagi.
Terus ada orang yang datang kita mencari
pekerja untuk dibawa ke Kalimantan.
Terus saya tanya, "Nanti kerjanya apa,
Pak?" Saya bilang kayak gitu. "Di sana
kamu nanti bisa milih, mau di restoran
bisa, di swalaian bisa, di counter HP
bisa." Dia bilangnya kayak gitu kan.
Jadi ikutlah sama Bapak ini. Sampai di
rumahnya Bapak ini di Jember banyak
wanita-wanita Mas. Saya pikir, "Oh,
semua nyari kerjaan. Semua nyari kerjaan
gitu." Akhirnya saya ikut
diterbangkanlah kita ke Kalimantan. Itu
pertama kali saya naik pesawat. Sampai
di Kalimantan dijemput ternyata
berjam-jam jauh ke Kota Tambang. Dan itu
pun sebenarnya is human trafficking.
Untuk aktivitas all the illegal work,
anything that woman should never step
their foot on.
Jadi itu perdagangan manusia, Mas.
Jadi kita sampai di Kalimantan, kami
dari balik papan itu dijemput pakai
sopir ya, Mas. Dua mobil sampai di
Kalimantan itu diarahkan ke satu gedung
tempatnya gede banget itu diskotek.
Ternyata gedung diskotik di belakangnya
tuh ada mes. Nah, sampai di situ itu
ownernya lah datang nemuin kita
satu-satu dijelasin kerjanya bagaimana.
Sementara ini bukan exactly bukan yang
dijelaskan waktu saya pertama direkrut.
Katanya kan mau kerja di restoran bisa
di swalayan bisa di counter HP bisa. itu
benar-benar tiga kata itu yang mereka
bilang ke saya. Makanya saya bilang,
"Oke, saya ikut." Sampai di sana
dijelaskan seperti itu, saya nangis loh,
karena saya perawan, Mas. Saya perawan.
Saya bilang, "Maaf, ini yang dijelaskan
ke saya enggak seperti ini. Dan kebaikan
Tuhan sekali lagi yang diberikan ke saya
waktu itu.
Ibunya ini dia baru melahirkan dia punya
anak bayi. Ibunya bosnya itu. Saya
bilang, "Bu, ini bukan yang saya mau
kerjaan ini. Saya enggak bisa disuruh
kerja begini. Saya bayar apa? Saya
gimana kerja yang lain, Bu? Apa aja saya
kerjakan." Terus di ibunya bilang, "Kamu
bisa momong bayi." Dan kebetulan saya
ada pengalaman di Surabaya kan bisa, Bu.
Saya dulu kerjanya momong bayi di
Surabaya. Gini-gini. Akhirnya untuk
bayar utang saya, pesawat saya ke
Kalimantan itu, saya kerja ngurus anak
Ibu ini selama 2 tahun lagi, Mas, tanpa
dibayar. Cuma ya makan tidur semuanya
kan disediakan. Saya ngikutin ibunya ini
dan kebetulan dia kan juga punya usaha
apa. Jadi, ya saya ngikutin orang ini
tapi juga mendapatkan benefit juga gitu
loh. Terselamatkan kembali. selama 2
tahun lunas utangnya.
Iya, lunas utangnya. Saya keluar udah
enggak dimes lagi maksudnya tinggalnya
apa segala macam. Terus ee saya kenal
dengan lelaki yang waktu itu adalah
suami pertama saya. Saya umur saya waktu
itu 16 tahun dan kami menikah karena
mungkin masih sama-sama muda. Saya 16,
dia juga belum 20 apa segala macam
berlangsung 6 bulan. Itu bukan cinta
kalau saya bilang ya, Mas ya. waktu itu
mungkin hanya apa namanya sebatas
pelarian pelayanan waktu muda
[Musik]
dari situ saya cerai sama Zainal karena
nikahnya pun juga nikah siri kayak gitu.
Jadi terus saya ke balik papan itu
karena lokasinya dari Sangata itu
sekitar 6 jam kalau enggak salah memulai
kehidupan baru lagi. Kebetulan juga
keluarga saya yang dari sini banyak di
Balik Papan ya seperti itu. Saya waktu
di Balikpapan itu kenal dengan seorang
wanita yang bersuamikan bule. Nah, suami
buleya ini dia membantu saya masuk kerja
di perusahaan tambang ini yang ada di
sana. Tapi bukan kerjaan yang berkelas
ya, Mas. bersih-bersih. Cuma karena itu
udah perusahaan asing, karyawan yang
situ udah banyak bahasa Inggris apa
segala macam banyak bahasa Inggris. Saya
ada disuruh dua tiga task yang memang
disuruh saya ngerjain, tapi nyuruhnya
tuh pakai bahasa Inggris dan saya enggak
paham. Akhirnya enggak saya kerjakan
karena emang saya enggak paham. Saya
waktu itu ngertinya yes no yes no aja
gitu kan. Akhirnya mereka bikin rules
Jessica setiap hari. Coba kamu belajar
dua tiga kata setiap hari dinaikin
English word. Saya juga waktu itu dipush
untuk walaupun bicara sama mbak-mbak
sekretaris yang ada di situ apa segala
macam itu saya diusahakan untuk
berbicara pakai bahasa Inggris gitu. Itu
Mas benar-benar 8 bulan di situ itu
adalah sekolah gratis yang bisa saya
praktikkan langsung itu. Akhirnya dengan
bisa berbahasa Inggris itu pintu rezeki
saya itu terbuka lebar benar-benar pintu
rezeki nyari kerjaan itu tuh benar-benar
kebuka lebar Mas. Just because I can
speak good English.
Kerjaan pertama yang digaji dari
keahlian bahasa Inggris itu kerjaan apa?
Eh, pertama di Novotel Balikpapan. Saya
waktu itu EO-nya di sana.
Kalau kerja di Novotel tuh enggak perlu
sekolah perhotelan, hospitality gitu
kan?
No, that's that's the thing I go. Itu
yang saya bilang tadi, Mas. Keajaiban
kebaikan Tuhan itu datang ke saya itu
dengan cara yang saya tidak bisa
jelaskan. Bayangkan orang-orang mau
masuk ke hotel itu kan mereka perlu
CV-nya apanya itu kan semuanya harus
profesional da da gitu kan. Saya enggak
waktu itu saya bisa dibilang pergaulan
saya sudah lumayan beda ya dengan yang
di Sangata ya Mas ya. Jadi saya
posisinya sebelum di-hire di Novotel itu
saya kerja di restoran GM-nya hotel ini
dia datang ke situ sering makan gitu loh
Mas. kita jadi kita interaksi terus kita
suka ngomong soal event apa segala macam
tapi dia nih GM-nya nih punya punya
istri orang Indonesia juga orangnya
sangatsangat baik sangat apa gitu. Jadi,
GM-nya nih ngomong sama ini ada cewek
yang kayaknya ini deh. Dan istrinya
malah bilang, "Give her a chance." Dan
saya dikasih saya enggak nyari kerja.
Saya ditawarin kerja, "Mas, enggak usah
pakai CV and lain-lain. Saya waktu itu
enggak ngerti apa itu Chivi."
Oke. Oke. Oke. Oke.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk
okelah balik papan Kalimantan mungkin
kalau dibilang ponnya terlalu kecil, I
kan. Akuarium yang terlalu kecil.
Bagaimana kalau saya ke Bali? Akhirnya
saya memberanikan diri untuk pindah ke
Bali. Saya di Bali waktu itu kerja di
Bambu Bar and Grill. Saya ada juga kerja
di MITS Bali. Kerjaan saya selalu
berganti-ganti sih, Mas. Jadi kalau mau
saya sebutkan satu persatu di Bali itu
banyak. Saya kerja di sana 8 bulan
pindah ya full time, part-time, tapi
saya suka cling clingclong. Heeh.
Pindah-pindah gitu dari sini kayak
enggak happy atau toxic apa saya pindah.
Saya mencari sesuatu yang baru yang bisa
saya loncatin. Ketemu kenyamanan tetap
masih sebagai host tapi di restoran yang
lebih besar lagi. Heeh. Saya menemukan
kenyamanan di sana karena tamu-tamunya
itu orang-orang berkelas. Cara kita
mehosting ke mereka itu benar-benar
mengasah semua aspek dalam diri saya in
termospitality. Jadi saya harus I need
to know how to interact with people. I
need to know table manners. Walaupun
memang saya enggak selalu pakai ya, Mas
ya. I need to know how to greet people.
Itu salah satu restoran yang besar di
Seminyak namanya Sarong. Itu saya dulu
kerja di situ. Itu mendidik saya di
Bali. Saya kalau enggak salah 34 tahun
ya, Mas ya, ketemu suami saya di situ.
Kami menikah di Bali.
[Musik]
Jadi kita menikah di Bali didatangin
dengan keluarga saya sama suami kita
sama-sama ayo kita cari kerja ke
Australia karena waktu itu suami saya
juga baru keluar dari perceraian dan
lain-lain. Akhirnya karena dia punya
saudara di Australia dia bilang, "Oke,
ayo kita ke Australia. Aku ada paman di
sini." Datanglah kita ke Australia. Saya
pun waktu itu datang juga masih turis
visa. Jadi tiap 3 bulan saya pergi,
suami saya waktu itu mencari pekerjaan
di situ. Tapi suami saya dapat pekerjaan
duluan. Akhirnya karena saya masih turis
visa, saya enggak bisa kerja ya, Mas ya.
Sampai mungkin ada 1 tahun saya enggak
bisa kerja. Cuma saya waktu itu karena
memang saya background-nya selalu orang
kerja, saya stres berat. Enggak kerja
itu malah justru saya stres berat. Jadi
selama enggak kerja itu saya udah udah
research apa yang bisa saya kerjakan.
apa dengan kemampuanku background ini
apa yang bisa aku kerjakan yang pertama
muncul ya waitress karena memang
backgroundku hospitality gitu kan nah
begitu saya udah dapat visa yang
diizinkan untuk study saya langsung
study waktu itu Mas saya langsung
ngambil apa yang bisa aku kerjakan
sekarang dan maksudnya bisa bayar pajak
semuanya legal legal legal akhirnya saya
study sertifikat 3 in age care. Nah,
saya ngambil kursus itu enggak lama kok
waktu itu enggak sampai 6 bulan. Terus
langsung saya dikirim untuk magang dan
saya ditawarin kerjaan di situ. Dua kali
berturut-turut ini kejadian, Mas. Yang
pertama saya magang di Edge Care itu
saya ditawarin kerjaan di Edge Care
juga. Yang kedua saya waktu ngambil
diploma inursing saya ditawarin kerjaan
juga di rumah sakit umum. twice it's
always happen. Jadi itu yang saya bilang
kebaikan Tuhan itu oh my god sama saya
itu tidak bisa saya datangnya dari arah
mana itu tidak bisa ditebak. Tapi begitu
saya sudah masuk di edihat lagi apa nih
yang bisa saya kerjakan lagi nih yang
bisa membuat saya naik lagi nih. Karena
saya kerja di Care itu ada 1 tahun Mas.
Kok tiap hari gini ya? Saya ngurusin
orang tua ini-ini aja. Seperti saya
lihat tidak ada kesempatan lagi saya
untuk naik lagi di situ gitu kan. Terus
saya akhirnya apaagi? apa yang bisa aku
lakukan untuk supaya aku bisa keluar.
Terus di tempat saya kerja itu kan tiap
hari kita ada dokter, ada nurses. Jadi
saya konsultasilah sama mereka.
Kira-kira apa ya yang bisa mengangkatku
dari level yang ada sekarang? Dia
bilang, "Kamu harus sekolah lagi."
Sekolah apa? Ambil nursing. Dia bilang
kayak gitu. Sementara, "Hah,
what is that?" gitu kan. Dan itu gimana
ya ngomongnya ya? Ini kebaikan Tuhan.
Yang satu lagi yang datangnya tidak bisa
ditebak itu saya iseng-iseng ngelamar
nih diploma inursing di salah satu
universitas di sana. Karena saya ada
sury in care itu yang saya jadikan ini
loh ijazah terakhir patokan saya. Dan
mereka they accept me. Sebelum masuk itu
saya dikasih assesment dulu berapa
pertanyaan gitu. Begitu saya buka ini
aduh mati aku. Apa ini?
Kan banyak matematikanya kan, Mas, kalau
di nursing kan itu apa ini gitu kan.
Muter-muterlah sudah saya cari salah
satu nurse yang yang baik yang kira-kira
bisa saya mintain tolong. Saya bilang,
"Tolong dong, please help me. Ini kayak
apa nih? Ini apa nih? Saya enggak paham
kayak gini-gini." Akhirnya dijelasin,
didudukin, dibantu sama dia kayak
gini-gini. Dan waktu itu untuk assesment
yang pertama itu dia yang membantu saya,
Mas. Mungkin itu semua jawabannya dia
karena dia udah nurse gitu kan.
Dan ternyata karir nurse ini relatif
panjang dari sebelumnya.
Panjang. Saya kerja di healthc itu lebih
dari 7 tahun, Mas, di Australia. Dari
satu hospital ke hospital yang lain,
dari satu panti jompo ke panti jompo
yang lain. Saya banyak megang orang yang
benar-benar meninggal di tangan saya.
Saya benar banyak sekali membantu
membersihkan jenazah-jenah orang. Dan
itu pembelajaran saya selama 7 tahun itu
culture itu shocking banget loh. The
different in culture is so shocking.
Cara orang Barat memperlakukan
keluarganya, memperlakukan orang tuanya
itu dengan orang kita itu sangat-sangat
berbeda.
[Musik]
Kalau dibilang zona nyaman, zona nyaman
ya, Mas. Saya udah ngerti jalan tikusnya
maksudnya apa ini itu. Cuman kalau
kadang kerjaan apapun kalau kita
ngelakukannya begitu lama passion kita
hilang. Saya yang pertama setahun, 2
tahun, 3 tahun tuh saya masih passionate
banget dengan kerjaan saya gitu. Saya
masih passionate banget kalau ada orang
meninggal saya masih pakai perasaan,
saya masih nangis. Udah masuk tahun
keempat, kelima, keenam itu saya udah
orang mati udah kayak ayam aja gitu.
Harus bersihin badannya udah kayak
bersihin ayam aja gitu. Jadi, passion
saya udah enggak ada lagi
dan akhirnya membawa gunnya FNB.
Nah, balik lagi karena kan saya dari
dulunya kan FnB gitu kan. Background
saya kan selalu waitressing,
hospitality. Di Bali pun juga banyak
saya dikerja di restoran. Jadi
background saya itu food and beverage.
Sekolah lagi akhirnya di
Akhirnya saya sekolah lagi. Saya bilang,
"I need to do something else. I don't
wann to do this nursing anymore." Dan
waktu itu suami saya support saya
banget. Oke, what do you wanna do? Terus
aku bilang, "I wanted to cooking."
Sebelum itu sih saya juga kerja di
restoran, restoran biasa di di Pertoran
ke restoran lainnya. Saya kerja di salah
satu restoran terbesar di Australia yang
kapasitasnya 2.500 orang pas di samping
stadion. Itu dapurnya Mas sebesar rumah
saya ini karena dia itu yang main
restoran. Jadi anakan restorannya itu
ada beberapa itu suplai roti, suplai apa
semua diproduksi di situ. Ih, besar
sekali tempatnya. Saya pernah jadi
bagian dari mereka.
Pulang ke Magetan sudah jadi sultan ya?
S
enggaklah, Mas. Ini saya untuk bangun
rumah ini prosesnya banyak tahun. Dari
beli Tegalanya dulu baru dipapak dulu.
Ini prosesnya nih banyak-banyak tahun
untuk bikin rumah ini. Rumah kakek saya
tuh tuh di bawah situ hanya 2 menit
jalan kaki. Saya dulu janji saya bangun
rumah ini tuh saya janji sama Mbah
karena Mbah saya tuh kalau pagi dia suka
minum kopi tuh sambil ngelihat matahari
gitu loh Mas. Nah, saya bilang, "Mbah,
eng tak banguni omah ning duwor kono ben
kowe iso ndelok srengenge." Itu janji
saya sama Mbah. Dan alhamdulillah mbah
saya sudah sempat tidur di sini sebelum
beliau meninggal. Sudah melihatlah apa
yang saya bangun untuk beliau.
Apa yang Kak JZ yakini sehingga di
situasi saat ini?
Saya pantang menyerah. Makanya saya bisa
ada di situasi saat ini, Mas. Saya
pantang menyerah. Saya selalu mencari
jalan baru. Saya tidak puas dengan satu
pencapaian. Saya selalu oke. I can do
something else. I can do better. Let's
try this. Let's do that. Itu yang bikin
saya sampai di titik sekarang. Faktor
lain adalah saya ingin memperlihatkan ke
banyak orang yang dulu memandang saya
begitu rendah. Itu salah satu faktor di
mana yang memicu semangat saya untuk
menjadi lebih baik. Faktor itu saya
ingin membuktikan kepada mereka ini loh
aku anak yang dulu kamu bully ini loh
aku anak yang tidak besar dengan
keluarga yang utuh aku tidak punya orang
tua yang kamu sebut ya saya tuh sering
dikatain kata-katain binatang kayak gitu
sering Mas saya pernah nih ini ada satu
cerita ya di kampung sebelah yang atas
itu dulu kan kita kalau WC di rumah apa
segala macam itu kan baru-baru mulai
dibikin tahun waktu saya masih kecil ya
Mas ya orang-orang kampung sini tahu
ternyata orang-orangnya di kampung atas
itu WC-nya itu diturun pun kan langsung
ke kali kalinya yang arahnya ke kita
akhirnya dibikin bendungan lah ya di
kali situ karena dulu kita mandinya suka
mandi di kali Mas kecilnya cuma saya
waktu itu sebagai anak kecil saya tidak
tahu kalau bendungan itu tuh bendungan
kotoran manusia ada orang dewasa yang di
situ yang tahu exactly what it is aku
sama adikku kan aku bilang boleh enggak
ya kita selulup di sini mereka bilang oh
ya ya ya ibu ini nih satu orang ini saya
ingat sampai sekarang oh i ya selulupo
selupo aku sama adikku tuh malah kita
disuruh untuk mandi di sitang Aku
awasin-awasin sementara anak-anak yang
lain mereka juga mau berenang itu diop
sama mereka. Jangan. Enggak boleh.
Enggak boleh. Aku sama adikku sengaja
sama ibu ini disuruh berenang di
kubangan kotoran manusia hanya untuk
menyenangkan hatinya dia. Dan itu saya
ingat sekali orangnya.
Ya, dendam amarah itu ada terus, Mas.
Gak bisa e anak kecil khususnya
perempuan yang terluka sebegitu dalamnya
waktu kecil dan luka itu tidak pernah
dibuka, tidak pernah dibicarakan, tidak
pernah diobati itu luka itu selalu ada,
Mas. Enggak bisa hilang begitu saja.
Luka saya tuh masih ada sampai sekarang.
Kadang saya tuh kalau udah ingat hal
kayak gitu tuh saya bisa marah-marah
sendiri. Saya kalau lewat dan saya
ngelihat orang yang dulu jahatnya sama
saya tuh saya udah saya pengin pukul
gitu kan karena saya pikir lu udah tua
sekarang ya. Kepukul sekali orangnya
udah tua banget gitu kan. Marah itu
pasti ada belum sembuh. Makanya saya
minta tolong Mas ini saya mau didengar.
I want to be heard. Karena kita enggak
sendiri. Banyak sekali
perempuan-perempuan di sana yang
terzalimi lah katanya ya. terzalimi dan
mereka merasa malu atau takut atau
apapun itu. Kita tuh seenak-enaknya di
luar negeri, seak-enaknya cari uang di
luar negeri, tetap kita di negara
sendiri lebih enak. Ini aja saya sudah
mulai separuh waktu kan, separuh waktu
di sana, separuh waktu di sini gitu.
Jadi ini saya kayak baru 2 bulan kemarin
saya pulang ini. Saya pulang lagi gitu.
Setiap waktu saya ada bisa saya larikan
ke sini, saya lari ke sini.
Kenapa? Kan di sana lebih enak. Iya
betul, Mas. Tapi your heart is where you
belong. Saya di sini dari kecil udah
biasaan hidup di pegunungan ya. Jadi
hati saya itu udah ah di pegunungan
kayak gini. Saya kalau di sini walaupun
makan cuma nasi pakai sambal gitu, saya
ayam gitu loh. Jadi saya pasti nanti
suatu saat kalau emang saya sudah balik
ke rumah apa segala macam, saya pasti
mengikuti jejak-jejak orang-orang yang
sudah lebih dulu berkebun.
Enggak dendam gitu. Kalau di desa kan
ngelihatin orang yang bully waktu itu
enggak sih? Justru justru itu kemenangan
saya. Justru sekarang ini adalah
kemenangan saya. Kalau saya bilang
sekarang saya memberi tangan-tangan yang
pernah menyakiti saya. Walaupun mereka
pikir saya tidak ingat tuh sebenarnya
saya ingat masih satu persatu. Semakin
orang itu dulu menyakiti saya semakin
saya kasih.
Dikasih dalam bentuk apa?
Bisa jadi uang, bisa jadi sabun cuci,
bisa jadi gula, telur, apapun. Kan saya
kalau pulang itu saya suka belanja. sama
mbak-mbak itu saya suruh penuhin tuh
mobil pakai ya sabun, gula, telur,
minyak kayak gitu. Jadi kalau saya lewat
tuh saya selalu kasihkan orang-orang
kalau saya lagi enggak ada barang-barang
itu ya kas saya kasih uang.
Worthed mana? Kabur aja dulu atau di
sini?
Worthed kabur aja dulu. Tetap tetap
worthed kabur aja dulu. Karena dengan
kabur aja dulu kita udah satu satu step
ahead untuk meninggalkan
ketidakbaikan ini. Mencari sesuatu yang
lebih baik gitu loh. Karena kan
Indonesia sekarang nyari kerja kan susah
banget ya Mas ya. Parah Teh. Kalau di
Australia tuh walaupun kita kerjanya
nyuci piring anggaplah nyuci piring aja
tuh kita masih bisa hidup dan masih bisa
nabung.
Tapi masih tetap cinta Indonesia.
Sangat. Saya sangat cinta Indonesia.
Makanya saya sudah persiapan untuk
pensiun. ini apa yang saya taruh di
rumah apa itu sesuatu yang untuk
kenyamanan saya nanti di hari tua gitu
loh.
[Musik]
Jadi untuk para wanita yang terzalimi,
ternodai dengan paksaan ya Mas ya. speak
up. Kalian harus speak up. Kalian harus
berani ngomong, harus keluarkan dari
dada kalian. Kalian enggak sendiri,
banyak, cuma mereka memilih untuk tidak
bicara. Dan ini harus diakhiri. Kalau
untuk orang yang lagi mencari kerja
karena lagi susah kerja, ya kalian harus
resilient. Resilien, pantang, menyerah
dan harus diappreciate, Mas. Berapapun
itu gajinya harus diapreciate. Jangan
kalau kerja gajinya sedikit kerjanya
ogah-ogahan. Banyak tuh yang saya lihat
kayak gitu. Ah, gajinya kurang tuh.
Makanya kerjanya ogah-ugahan. Kita di
Australia itu terlihat kayak gaji kita
besar, tapi benar-benar karena kami
digaji per jam, jadi every minute is
counted. Jadi saya Jessica, warga negara
Indonesia yang sepenuhnya mencintai
Indonesia. Tapi saat ini saya bekerja
sebagai chef di Australia. Terima kasih.
Oke, thank you. Terima kasih.
Aman ya,
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:53 UTC
Categories
Manage