Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Saya yakin banyak teman-teman yang pernah ngerasa kayak gini. Ada sesuatu dalam diri yang pengin banget tumbuh. Ada ide, ada impian, ada keinginan buat hidup lebih jujur sama diri sendiri. Tapi setiap kali mau mulai, rasa takut itu langsung datang. Kalau gagal gimana ya? Kalau nanti ditertawain orang gimana ya? Gimana kalau ternyata aku enggak sanggup? Padahal di balik ketakutan itu bisa jadi ada kehidupan yang selama ini teman-teman lagi cari. Nah, hari ini saya ingin ngajak Teman-teman untuk melihat bahwa ketakutan itu bukan pertanda kita lemah, tapi pertanda kita sedang berdiri di depan sebuah pintu perubahan besar. Salam teman-teman, saya Surya. Selamat datang di segmen Detektif Bisnis. tempat kita membahas bukan cuma strategi usaha tapi juga strategi hidup. [Musik] Hari ini saya pengin cerita tentang sesuatu yang sering dilalui oleh banyak orang. Mungkin juga teman-teman salah satunya yang setiap hari bangun pagi, kerja dari pagi sampai malam, tapi diam-diam ngerasa kok hidupku gini terus ya. Mereka itu enggak benci sama pekerjaannya, tapi mereka tahu ada sesuatu yang enggak terpenuhi, ada sisi hidup yang enggak hidup. Tapi begitu ada ide untuk berubah, memulai usaha atau hidup lebih sesuai hati nurani, yang datang pertama itu justru bukan semangat tapi malah rasa takut. Takut gagal, takut enggak bisa makan, takut dibilang nekat. Padahal bisa jadi justru di balik ketakutan itu ada kehidupan yang sebenarnya mereka cari. Nah, saya pernah dengar cerita dari seseorang, kita sebut saja namanya Andi. Andi ini kerja di Kantor Industri keuangan. Gajinya bagus, jasnya rapi, hidupnya terlihat berhasil di mata orang lain. Tapi setiap pagi dia ini bangun dengan dada yang kerasa sesak. Bukan karena tekanan pekerjaan, tapi karena dia itu tahu dia sedang menjalani hidup yang bukan miliknya. Andi punya mimpi dia pengin punya sebuah usaha sendiri, bisa bekerja dengan nilai-nilai yang dia yakini. Tapi setiap kali keinginan itu muncul, yang datang itu bukan langkah, tapi malah rasa takut. Seperti yang kita sebutin tadi, kalau gagal gimana ya? Kalau nanti enggak bisa bayar cicilan terus gimana? Gimana kalau keluarga kecewa dan teman-teman malah menertawakan? Nah, akhirnya dia diam. Dia bertahan di pekerjaan itu bukan karena nyaman, tapi karena takut. Sampai suatu malam dia pulang kantor terus duduk di parkiran dan dia nanya ke diri sendiri, "Kalau seandainya aku meninggal besok, apa aku bisa bilang aku udah benar-benar hidup dengan jujur?" Ya. Dan di situ dia sadar yang dia benar-benar takuti ternyata bukan sebuah kegagalan, tapi kehilangan hidup yang sesuai dengan hati. Nah, Teman-teman, rasa takut seperti ini ini gak cuma Andi yang ngalamin. Kita semua pada suatu titik pernah atau bahkan saat ini sedang merasakannya. Tapi sebetulnya apa sih yang terjadi dalam diri kita waktu kita takut? Kenapa otak kita seperti menolak sebuah langkah pertama? Teman-teman, rasa takut itu bukan musuh. Faktanya takut adalah bagian dari desain ilahi dalam diri manusia. Kalau seandainya manusia itu enggak punya rasa takut, mungkin nenek moyang kita ini udah punah dari dulu. Dalam neuroscience, rasa takut ini muncul di bagian kecil di otak yang namanya amigdala. Bagian ini memang tugasnya adalah untuk mendeteksi ancaman dan memicu reaksi cepat untuk lari, lawan, atau diam. Ini ada penelitian dari ahli neuroscience di New York menunjukkan bahwa amigdala ini bisa bereaksi bahkan sebelum kita sadar sepenuhnya. Artinya kita ini bisa merasa takut bahkan sebelum tahu apa yang kita takuti. Nah, masalahnya sekarang ini kita enggak lagi dikejar oleh harimau, tapi otak kita ini masih pakai sistem alarm yang sama untuk menghadapi hal-hal seperti presentasi yang gagal, komentar orang, ide usaha yang belum tentu berhasil. Dan inilah jebakannya, otak kita itu benci sama ketidakpastian. Di dalam psikologi ini disebut intolerance of uncertainty. Kita ini lebih memilih sesuatu yang menyakitkan tapi familiar daripada sesuatu yang belum tentu menyakitkan tapi kita tidak kenal. Ini ada penelitian dari Yel yang menyebut fenomena ini sebagai addicted to familiar suffering. Otak itu lebih suka pola lama meskipun enggak sehat karena lebih lebih hemat energi dan lebih bisa ditebak. Makanya banyak orang lebih memilih bertahan di pekerjaan yang menyiksa daripada mencoba hal baru yang mungkin lebih sesuai sama hati. Bisa jadi yang kita takuti ini bukan kegagalan, Teman-teman, tapi kehilangan rasa aman yang selama ini kita kenal meskipun itu menyakitkan. Nah, kalau gitu gimana caranya kita menghadapi rasa takut ini tanpa memusuhinya? Gimana kita melangkah meskipun kaki ini terasa gemetaran, Teman-teman? Kalau rasa takut itu bagian dari sistem alami manusia, berarti tujuannya itu bukan untuk dimusnahkan dong, tapi dikenali, dipahami, dilatih agar enggak lagi jadi sebuah penjara untuk diri ini. Ini ada beberapa langkah kecil yang terbukti secara ilmiah untuk membantu kita melangkah meskipun masih gemetar. Satu, kenali dan sebutkan rasa takutmu atau biasa dikenal name it to tame it. Kadang kita ini enggak bisa melangkah bukan karena masalahnya yang besar, tapi karena kita sendiri enggak tahu nih apa yang sebenarnya sedang kita takuti. Coba teman-teman tulis atau ucapkan misalnya saya takut kelihatan gagal atau saya takut nanti keluarga kecewa atau bisa juga saya takut nanti merasa malu. Nah, penelitian dari UCL ini menunjukkan bahwa menyebut nama emosi ini ini bisa menurunkan aktivitas dari amigdala. Artinya dengan menyebutkan rasa takut kita ini enggak lagi dikuasai emosi, tapi mulai untuk memegang kendali. Yang kedua, hadapi dengan paparan yang kecil. Jadi, jangan langsung lompat keluar kerjaan misalnya atau langsung buka usaha besar-besaran. Ini kita perlu mulai dari paparan yang kecil dulu yang bisa dilatih secara bertahap. Misalnya kita bisa coba jual satu produk ke satu orang dulu. Bisa coba posting ide teman-teman di grup WhatsApp keluarga misalnya. Terus bisa juga coba latihan skill baru seminggu sekali. Konsep ini disebut graded exposure. Teknik yang banyak dipakai dalam terapi psikologi untuk mengatasi kecemasan. Kuncinya itu bukan besar atau kecilnya langkah, tapi konsistensinya yang penting. Keberanian itu bukan hasil dari banyak berpikir, tapi dari sering latihan menghadapi yang ditakutin. Yang ketiga, ubah pertanyaan dari ancaman ke tantangan. Nah, Teman-teman bisa coba ubah cara bicara kita ke diri sendiri dari gimana ya kalau gagal menjadi gimana kalau ternyata ini justru membukakan jalan. Riset dari Stanford menunjukkan dengan mengganti sudut pandang seperti ini, otak ini akan melepaskan hormon bernama dopamin. Ini hormon motivasi dan rasa penasaran. Yang keempat, gunakan teknik wook wis, outcome, obstacle, dan plan. Contoh dari wish atau harapan ini adalah saya pengin punya usaha sendiri. Lalu contoh outcome-nya atau hasil adalah saya nanti bisa lebih bebas nih waktu dan batin saya jadi tenang. Lalu ada contoh dari obstakle atau rintangannya. Saya takut ditolak dan saya bingung harus mulai dari mana. Lalu dicontoh plan atau rencana. Oke, saya akan mulai dari jualan kecil di sekitaran RT dulu lah minggu ini. Teknik ini dikembangkan oleh Gabriel Ottingen dari NYU dan terbukti meningkatkan kemungkinan sukses ini karena membuat otak kita ini siap menghadapi kenyataan. Bukan cuma berandai-andai aja. Yang kelima, bergerak aja dulu. Rasa percaya diri akan datang belakangan. Kadang kita itu nunggu percaya diri dulu baru mulai. Padahal justru setelah kita mulai barulah rasa percaya diri ini mulai datang. Motion preced emotion atau bisa diartikan gerakan dulu. perasaan itu akan menyusul. Kemudian kalau kita nunggu siap, kita mungkin enggak akan mulai-mulai. Mungkin langkah pertama ini enggak akan langsung bikin kita kaya, Teman-teman. Tapi bisa jadi itulah langkah yang bikin Teman-teman mulai ngerasa hidup lagi. Sekarang pertanyaannya, kalau keberanian bisa dilatih dan ketakutan itu bisa dijinakkan, apa yang sebenarnya kita cari dari semua ini? Teman-teman, di antara semua ketakutan yang kita punya, kadang yang paling besar itu bukan takut gagal, tapi takut menjalani hidup yang enggak jujur pada panggilan hati kita sendiri. Takut jadi orang tua yang menyesal karena dulu enggak berani mencoba. Takut jadi manusia yang hidupnya habis di tempat yang sebenarnya itu enggak dia yakini. Padahal dalam Islam kita diajarkan juga jangan takut kepada manusia, tapi takutlah kepada Allah. Nah, ini ini pengingat buat saya juga kalau kalau takut kepada manusia sering itu malah membuat kita diam. Tapi kalau takut sama Allah ini justru bisa mendorong kita hidup secara lebih utuh. Karena hidup ini bukan soal nyaman aja, tapi juga soal benar. Mungkin hari ini kita masih ragu. masih takut, masih belum yakin, tapi jauh di dalam hati ini ada suara lain, lebih pelan, lebih dalam yang bilang, "Coba aja dulu kamu bisa kok. Coba aja dulu kamu enggak sendirian kok." Maka ketika teman-teman ragu, boleh jadi itu bukan sebuah akhir, tapi justru suatu awal dari keberanian yang perlahan itu tumbuh. Karena keberanian ini bukan tentang tidak takut, tapi tetap melangkah meskipun hati ini gemetar. Kalau teman-teman merasa takut itu nyata banget, itu wajar kok, Teman-teman. Tapi jangan biarkan dia jadi satu-satunya suara yang kita dengar. Coba tanyakan ke diri sendiri apa satu langkah kecil yang bisa aku coba minggu ini. Enggak harus langsung berhasil, kadang cukup berani untuk melangkah aja dulu. Nah, kalau teman-teman rasa video ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman-teman yang sedang butuh kekuatan yang sama biar tahu kalau dia enggak sendirian kok. Sampai jumpa di video selanjutnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Resume
Categories