Transcript
XCnRz5xOcH8 • Bisnis Bangkrut Setelah Nikah! Kini Jualan Sate, Sehari 12 Kambing Ludes!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0580_XCnRz5xOcH8.txt
Kind: captions Language: id [Musik] 2016 itu saya full resign jadi udah fokus di bisnis rumput laut dan ternyata kena tipu hampir 1/2 M 490 dari saya awal karir kerja ngelumpukin ngelumpukin ngelumpukin ternyata zong katanya nikah itu bakalan rezekinya tambah lancar tapi ini kok malah bangkrut Karena memang kacau. Semua pernah saya pengin lalui waktu itu dalam arti wis mungkin tanda kutip pengin mengakhiri semuanya lah karena udah enggak kuat itu kan. Terus saya mulai 2022 itu mulai di bujumangin warung sate itu. Cuma warung saya sate juga saya bingung. Omset segini Rp700.000 omsetnya. karyawan waktu itu 4 bayaran sehari Rp35.000 berarti 140 ya per harinya. Ini yang jelas enggak cukup ngemin malahan operasionalnya warung sate ngemin. Omset 700 dengan beban karyawan Rp100.000 itu udah berapa persennya? Jadi dulu saya dikasih amalan dalam arti perbaiki dirimu dulu. Engkok sing ngatur wis pangeran. Mosok io kan gitu toh dulu. Akhirnya ya dari qobliah subuh dukaha dan itu fantastisnya luar biasa. Belum 1 tahun perkembangane Bujumangit semakin naik semakin naik semakin naik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Res Wardana. Saya itu cucu dari Buumangin, pemilik pertama atau pendiri dari Sate Bujumangin. Jadi saya itu adalah generasi ketiga. Kebetulan saya baru meneruskan warung sate bujumangin ini. Itu dari tahun 2022. Lokasi warung kami itu di Jalan Pamenang nomor 6. Gampangannya itu di sebelah utara Oramil Ngasem, Kabupaten Kediri. Warung sate Bujumangin sendiri itu kita masih belum ada cabang dari zamannya Mbah sampai sekarang ya tetap di situ. Sebelumnya saya lebih ke bisnis rumput laut. Jadi dari produk mentang kita jadikan setengah jadi untuk disuplai ke pabrik. merintisnya itu mulai 2012 berhenti di awal corona 2020. Mulai usaha itu kira-kira usia 27. Terus pernah juga masuk di dunia kafe perkopian juga pernah. Itu 2 tahun di peternakan kambing juga pernah. sempat gulung tikar bangkrut sampai sebangkrut-bankrutnya ya pernah dari bisnis rumput laut itu kita itu 2020 itu benar-benar itu musibah cuma ya menurut saya itu titik balik jadi kita itu bangkrut modal semuanya habis jadi sudah tidak ada harapan lag benda-benda yang saya punya sepeda motor semuanya saya jual dapat modal waktu itu sekitar Rp0 juta. akhirnya berharap memulai dari nol lagi di peternakan peternakan kambing. Cuma ya alhamdulillah kena tipu lagi. Jadi semua kambing yang ada di kandang itu ternyata dijual di luar pengetahuan saya. Pengalamannya itu oh kita ternyata enggak bisa 100% percaya dengan orang tuh enggak bisa. Kita harus dalam koridor SOP. Tetap sedekat apapun kita dengan mitra kita atau dengan karyawan kita tetap harus diikat dengan SOP. Enggak bisa kita harus percaya 100% itu. Jadi saya benar-benar tidak punya apa-apa waktu itu. Di lain sisi mungkin Gusti Allah ngasih jalan melalui warung sate bujumangin. Waktu itu masih ibu yang pegang. Pada saat awal corona beliau sudah mau nutup permanen sate bujumangin tidak dilanjut. Mungkin karena faktor waktu itu kan semua segmen usaha hampir lumpuh ya. Cuma saya tetap meneruskan karena eman-eman kan udah warisan dari Mbah Omset Bujumangin waktu itu kita itu satu kambing habis 2 hari perkiraan 1 hari itu 200 sampai 300 tusuk sehari dikit omset Rp700.000 kalau kita rupiahkan dengan saya bawa empat orang karyawan dulu menanggung empat orang karyawan dengan omset R00800.000 Waktu itu kita biasanya kalau weekend kebanyakan orang luar kota biasanya 3.000 ke 3.500 tusuk per hari itu kisaran 12 kambing. Cuma tanda kutip kambingnya bukan besar-besar ya. Jangan bayangkan 12 kambing. Wah enggak mungkin kambingnya kita kecil-kecil. Satu kambing itu 3 sampai 4 kilo daging. Kalau dikonversi ke tusuk sekitar 3.000 3.500. Itu kalau Sabtu Minggu. Kalau di hari-hari biasa kayak sekarang itu 2000 sekian tusuk kambing kecil kalau kita dari kualitas. Kualitasnya itu memang kualitas daging yang guri empuk itu ada di kambing kecil. Kambing yang masih belum 1 tahun. Kalau kambing ya belum poel. Cempe lah kita nyebutnya. Cuma marginnya tipis. Nah, karena dengan harga Rp1.200, Rp1.500 500 kita hanya mendapatkan daging 4 kilo paling mentok. Sedangkan kalau kambing besar harga Rp2.000 daging bisa 11 kilo. Cuma marginnya banyak kalau kita main di kambing besar. Karena memang otentiknya bujumangin itu dari zamannya Mbah, zamannya ibu itu kambingnya kambing kecil cempe. Nah, itu yang jadi identitasnya kita sampai saat ini. Meskipun tanda kutip ya kebanyakan orang itu kan ya enggak tahu ya kualitas-kualitas harga kambing dan sebagainya. menganggap kok di bujumin harga saten-nya lebih mahal daripada yang lain gitu. Nah, kalau menurut saya ya wis itu tergantung orangnya gitu kan. Cuma kita kan punya pakem sendiri seporsi itu 45 kita dengan size satu porsi itu 10 tusuk berat daging itu 250 gr. 1 kilo itu kita 40 tusuk. Jadinya sempat kayak ditertawakan kan di Kediri harga segitu mana bisa. Cuma saya kan yakin setiap produk pasti ada pasangannya, pasti ada pembelinya. Daripada saya main di segmen murah berarti kualitas di downowrade gitu kan. Saya penginnya wis kualitas yang bagus aja lah. Udah bismillah di situ aja saya. [Musik] bentuk kita bersyukur, bentuk kita bersungguh-sungguh dalam usaha, yaitu memastikan produknya kita itu 100% yang kita keluarkan untuk konsumen. Jadi, harus benar-benar diteliti, harus benar-benar di-upgrade. Banyak yang komen ngasih masukan, kita senang dan itu kita enggak pernah sakit hati dihujat. Alot ya dagingnya. Oh, berarti kita harus mer-review lagi alotnya karena apa nih? Oh, ternyata dalam satu kambing enggak semua daging bisa dipakai karena ada berapa part bagian itu yang alot. Nah, itu yang enggak kita pakai terus kita evaluasi terus. Itu bentuk keseriusan, bentuk syukur saya punya bujumangi saya itu untuk kualitas tetap ada di tengah-tengahnya tim. Bagi saya itu bisnis autopilot itu masih belum bisa berlaku di PUM. Karena meskipun kita punya SOP misalnya bumbu, oh garam harus sekian gram. ada gramasinya sendiri tapi tetap evaluasi terakhir itu adalah di lidah. Kalau kita masih hanya sebatas takaran saja, takaran itu bisa berubah. Misalnya garam, benar garam itu 10 gram, tapi 10 gram cairannya berapa? Airnya berapa? Tetap kita harus ada di tengah-tengah itu. Brand itu kalau di FNB adalah produk. Brand itu bukan nama ya. Brand itu adalah nama dan makna. kita sebut naik Adidas yang terbesit sama kita. Ada makna yang khas di situ. Kita sebut Lamborghini misalnya, ada hal yang terbesit di situ. Kita sebut iPhone ada hal yang terbesit di situ. Cuma kalau misalnya kita sebut black chain misalnya terbesit apa kita enggak ada kan ya. Brand itu adalah nama dan makna. Makna di sini kan value. Value itu adalah produk kalau di makanan. Kalau kalau di bujumangin itu karena tradisional food. tradisional food itu adalah di tast enggak percaya? Coba kita flashback berapa banyak warung itu ramai tapi secara tempat ala kadarnya. Tapi kok orang mau ya rela antri di situ ya? Padahal ngemper dan sebagainya. Sebut saja kalau di Jogja itu ada gudek zoom itu. Nah, sebenarnya apa sebenarnya? Oh, itu adalah rasa. Berarti menurut saya kalau kita mau main di tradisional food brand itu adalah tes adalah rasa, adalah produknya itu sendiri. itu kuncinya di situ. Jadi sejalan dengan cita-cita sayang, bentuk keseriusan kita mau jualan itu kita harus serius di produk, serius di rasanya, serius di pelayanannya. [Musik] Akhirnya brand tercipta sendiri. Orang mempersepsikan bujumangin. Oh, bujumangin itu legend. Pantes ya kalau legend enak, legenda rasa benar gitu kan. Nah, itu orang sudah mancep sendiri. Ingat ya, brand itu bukan hanya nama. 4 tahun yang lalu kita ngomong bujumangin, mungkin jenengan juga enggak bakalan paham apa itu bujumangin. Iya kan? Enggak ada paham. Awal saya pegang bilang bujumangin orang paham enggak paham. Cuma sekarang saya beli popok popoknya anak. Dari mana, Pak? Ya saya bujumangin. Oh, sate itu ya. Orang sudah tahu berarti brand kita sudah hidup. Brand itu adalah kan persepsi ya. Nama bujumangin itu dipersepsikan seperti apa? Oh, sati yang legendaris sing ngene ngene ngene dan sebagainya bla bla bla. Itu adalah brand. Makane proses pertama yang saya bangun waktu itu adalah produk. Keseriusan bangun produk berarti kita keseriusan bangun brand. Saya pengin Bu Jumangin benar-benar terkenal sebagai sate legendaris Kediri. Terkenal karena empuknya, karena otentik rasanya. Kenapa otentik rasa? Karena kita perpaduan kacang sama kecap. Saya itu dari minus akhirnya ya seperti ini bisa makan. Wis alhamdulillah. Ternyata ya Gusti Allah ngasih lebih enggak hanya cukup untuk makan, bisa untuk nyekolahkan anak, bisa untuk ya wis beli ini, beli ini dan sebagainya. Karyawan yang pertamanya 4 orang, sekarang sudah 32 orang. 3 tahun kalau enggak jalan dari Gusti Allah itu enggak mungkin sangat. Enggak mungkin omset di dua digit lah ya. Marginnya itu triis kita itu kita diangka 10% untuk margin sate itu kan harga jualnya tinggi gitu kan ya. Jadi mungkin 100 porsi untuk sate dengan 100 porsi nasi goreng omsetnya beda gitu kan ya. Cuma margin kalau di nasi goreng itu kan besar bisa sampai 50%. Kalau di sate karena kita HPP-nya juga sudah mahal gitu kan ya. Jadi enggak mungkin kalau kita kasih 30% mau dijual berapa. Saya ambil tipis saja yang penting udah bisa muter. Nah selama ini kita enggak kekurangan kok malah dicukupkan. malah lebih bukan dicukupkan lagi. [Musik] Dulu saya sempat kerja di sebuah perusahaan. Jadi secara gaji juga lumayan. Waktu itu kita sudah di level regional. Regional analis itu gajinya sudah dua digit ya di Jawa Timur. 2010 itu saya mulai kerja ikut perusahaan itu. Kemudian 2012 sudah bisa nyelengi. Akhirnya kita buka usaha rumput laut. Waktu itu kecil-kecilan akhirnya wis mulai mulai berkembang. Mulai berkembang akhirnya saya resign. itu saya full resign jadi udah fokus di bisnis rumput laut dan ternyata kena tipu hampir seteng m 490 dicelengi celengi modal terkumpullah 500 juta waktu itu akhirnya ya zong 490 itu kan semuanya itu dari saya awal karir kerja ngelumpukin ngelumpukin ngelumpukin ternyata zong sempat sakit sempat untuk ketemu sama orang takut bukan masalah hutang cuma R90 juta itu satu rumah hilang begitu saja gitu kan ya. Sudah enggak punya harapan. Waktu itu saya itu waktu 2010 dengan saleri yang besar seperti itu gitu kan. Itu saya di perusahaan rokok waktu itu kan masih monster-monsternya ya. Jadi bayaran di gudang Garam terus terakhir Sampurna. Jadi dua-dua nih saya pernah di situ. Nah, cuma kan ada sesuatu yang kurang dalam arti bayaran yang kita dapat itu kan hanya bisa kita nikmati sendiri. Untuk kita sedekah masih terbatas karena gaji segitu kan enggak bisa kita nambah-nambah sedekah. Paling enggak kita sedekahnya hanya berapa persen dari gajinya kita kan gitu. Saya pengin itu sedekahnya itu cita-cita ya 1000 anak yatim dua fah yang saya tiap bulan harus ada untuk mereka gitu. Tanda kutip yang dipelihara gitu kan. Bukan hanya satu kali ngasih terus selesai, enggak. Tapi gimana caranya itu tiap bulan harus saya ngasih. Nah, itu bisa dilakukan dengan usaha. Dan saya yakin ketika harus usaha, saya yakin itu pasti ada jalan untuk ke sana. Karena saya pernah dapat dari senior saya itu, terus dari guru-guru saya juga, rezeki itu bukan gaji gitu kan. Gaji itu terbatas. Cuma kalau mau gaji yang tidak terbatas ya harus memulai usaha. entah usahanya apa aja gimana caranya pendapatan kita unlimited ya harus dengan itu. Meskipun dulu hanya masih ragu ragu dalam arti masa iya ya gitu kan. Kalau saya itu dengan bujumangin putu mantu. Kalau orang Jawa betul saya nikah dengan cucunya Bujumangin. Kenal dengan istri dulu di tempat kerja sempat di Bank Jatim saya. Nah bank Jatim 3 bulan resign. Alasannya yang pertama karena memang enggak bisa lagilah hati ini untuk kerja di ikut orang lah gitu ya. Dari rugi terus dua kali usaha itu sudah nikah atau belum? Awal-awal nikah itu tapi masih belum punya anak waktu itu. Ya shoknya ya karena itu e kita enggak punya apa-apa. Katanya nikah itu bakalan rezekinya tambah lancar. Tapi ini kok malah bangkrut karena memang kacau. Semua pernah saya pengin lalui waktu itu dalam arti wis mungkin tanda kutip pengin mengakhiri semuanya lah karena udah enggak kuat itu kan. Ternyata rezeki itu bukan hanya uang ya. Pada saat saya enggak punya apa-apa, semua harta, modal semuanya sudah habis dan saya itu udah pasrah akhirnya memberanikan diri ngomong sama istri. Alhamdulillah itu kayak saya itu dapat bidadari dari surga. Benar. Karena istri dengan santainya sambil makan waktu itu kita kopi sama jagung serut itu dengan santainya dia itu bilang, "Ya kalau memang kondisinya memang kayak gitu terus sampai kapan kamu mengurung diri kayak gini?" Ini loh, cincin cincin nikah. Aku masih ada sepeda lipat S waktu itu zaman Corona kita punya Sally itu jual aja. Terus kita punya waktu itu sepeda motor Scoopy masih 6 bulan itu kita beli itu dijual juga langsung ditawarkan seperti itu sama istri ini kita bangkit lagi semuanya kita jual kita reset dari nol akhirnya direset dari nol dikasih semua itu sama istri nah itu yang menurut saya itu rezeki itu bukan hanya uang lah istri yang bisa nerima kita pada saat kita benar-benar gak duwe opo-opo itu iso nerima kita dan bisa men-support. Tidak hanya itu, saya punya ibu mertua, kita takut karena di sini kita numpang kan gitu kan. Ngobrol ibu mertua itu malah mendukung dalam arti, "Ya udah kalau memang kondisinya kayak gitu, itu memang jalannya kamu memang direset sama yang di atas itu untuk memulai semuanya dari bawah. Entah apa rahasianya nanti ya udah ini kamu terima." Nah, jadi ibu itu yang mengarahkan saya itu lebih ke ya salatnya ditoto, puasanya ditoto. Kalau dulu los losan, Mas. Wasalam. Di saat yang bersamaan, mama saya kandung almarhum waktu itu divonis kanker stadium akhir 2021 zamannya corona omikron itu kita divonis kanker stadium akhir. Wus, itu sudah enggak karuan saya. saya itu ya hidupnya ya numpang dalam arti pinjam ke teman-teman kalau sudah berangkat mau k mau ke terapi pinjam 200 300 untuk ongkos sebulan itu bisa empat kali dalam arti satu minggu sekali kita k kemoterapi waktu itu kebetulan istri itu kan masih kerja meskipun gajinya sudah enggak utuh waktu itu gaji istri itu tersisa itu Rp400.000 dari sekian juta kepotong cicilan tinggallah Rp400.000 Jadi gimana caranya dalam sebulan kita hidup dengan R00.000? Semuanya tak lakuin, Mas. Jual obat kuat saya pernah kosmetik pernah sama minuman-minuman diet wis tak lakoni semua. Kita kulak kulaknya wis Rp30.000 dijual 120 bisa bertahan hidup di situ untuk makan. 1 tahun. Terus saya mulai 2022 itu mulai di bujumangin warung sate itu. Cuma warung saya sate juga saya bingung. Omset segini Rp700.000 omsetnya. Karyawan waktu itu empat bayaran sehari Rp35.000 berarti 140 ya per harinya. Ini yang jelas enggak cukup ngemin malahan operasionalnya warung sate ngemin. Omset 700 dengan beban karyawan Rp100.000 Ibu itu udah berapa persennya? [Musik] Bisnis itu kan sudah warisan dari Mbah. Nah, kebetulan istri itu kan tiga bersaudara. Jadi, ada kakak, istri sama adik. Yang kakak sama adik ini cowok. Nah, habis itu ditawarinlah ke mereka bertiga. Ini warung sate mau tak tutup. Ibu sudah pengin ibadah aja gitu. Jadi wis enggak kuat operasional warung ini yang mau melanjutkan monggo. Karena ketiganya tidak punya basic memasak, akhirnya ditawarinlah ke saya sebagai menantu. Desi, ini warung enggak ada yang pegang, rencana mau tak tutup. Gimana? Jangan, Bu, eman-eman. Pada waktu itu ya saya juga pendapatan gak ada. Kalau omsetnya segitu juga ya saya enggak tahu gitu kan. Cuma karena lantaran eman gitu kan sudah sudah dari tahun 0 itu berdiri kenapa harus tutup akhirnya ya soalnya ini ibu tawarkan ke emas, ke adik ini enggak ada yang mau. Kalau kamu mau ya silakan. Akhirnya dengan rembuk dan sebagainya saya yang pegang. Kebetulan meskipun saya enggak pernah di sekolah chef dan sebagainya cuma karena di keluarga saya di Madura itu kita bersaudara cowok semua. Jadi saya paling dekat sama mama itu yang sering bantu mama yus ngerajang brambang dan sebagainya akhirnya kulino atau terbiasa masak. Karena itu orang semuanya bertanya-tanya kok bisa ya punjum angin melesat seperti ini bukan. Kalau pengin mau melesat kamu itu harus siap-siap dibanting dulu sampai Gusti Allah. Saya gitu enggak ada yang hal yang spesial dibujuangin enggak ada. Setelah dipegang saya dengan sebelumnya resep sama yang membedakan itu. Mungkin pangeranku wis kasihan ngelihat saya ya. Saya itu benar, Mas. Enggak ono speser pun duit untuk makan besok itu je belum kepikiran hari ini saya waktu itu. Ditambah lagi pikiran saya harus hancur karena Mama udah kanker nasofaring waktu itu. Stadium 4B itu stadium akhir sudah e kita sudah enggak bisa ngapa-ngapain. Jadi benar-benar hancur waktu itu. Kebetulan saya alhamdulillah saya juga di lingkaran teman-teman yang menurut saya malaikat-malaikat ya. Jadi saya pinjam duit, hanya pinjam aja ngasih janji kapan mau melunasi. Saya enggak berani. Nanti kalau misalnya aku oleh duit tak tutup. Cuma nantinya ini enggak tahu kapan karena kondisi saya seperti ini. Beliau-beliau ini teman perkopian, teman ngopi tidak ada saudara dan sebagainya ada. Dulu itu kita kan bingung ya dalam arti dengan omset segitu sehari 200 tusuk, 250 tusuk. Jangankan makan dari warung, untuk biaya operasional saja itu sudah minus. Yang pertama kali saya lakukan yaitu ngikut apa yang dibilangin sama ibu, sama guru-guru saya, guru-guru ngaji. Enggak usah terlalu muluk-muluk. Kita harus belajar marketing level dewa dan sebagainya. Ya itu bentuk ibadah. Belajar itu ibadah. Ikhtiar itu ibadah. Cuma memperbaiki kapasitas diri dulu. Jadi dari salat. Jadi dulu saya dikasih amalan dalam arti perbaiki dirimu dulu. Engkok sing ngatur wis pangeran. Mosok io kan gitu toh dulu. Akhirnya wis dari qobliah subuh duha dan itu fantastisnya luar biasa. Belum 1 tahun perkembangan Bu Jumangit semakin naik semakin naik semakin naik. Terus kondisinya mama yang waktu itu sakit ya. Saya cuma ya sering ketemu sampai beliau sungkem minta doanya. Dan pangeran Gusti Allah itu ngasih jalan itu luar biasa jalannya. Waktu itu dari teman-teman konten yang sekarang di Malang. Teman-teman konten Malang moro-moro ke warung waktu itu. Padahal kita belum punya power apa-apa. Satu dua konsumen yang datang. Tiba-tiba kok mau meliput katanya. Loh kok enggak salah tempat toh? Kan gitu nak Mas. Wis ini koy kok otentik dari tempate. Kok wis suwi. Nah, dari situ Gusti Allah membukakan jalan. Rezeki kebuka. Ketika saya melarat ya dulu itu kabar gembiranya itu istri hamil. Kita nunggu 4 tahun. Kabar gembira pertama kali itu istri hamil. Setelah itu mulai kebuka. Bujumangin mulai jalan-jalan. Dari yang belian satu kambing habis 2 hari. 1 hari 2 hari habis. Sekarang kalau kita itu di 8 sampai 12 kambing per hari dari mana itu? Gak ada ilmu marketing yang mengajarin instan seperti itu enggak ada. Kalau enggak memang jalannya yang kuasa ya. [Musik] Dulu saya itu ya karena kita itu kotor ya, jadi dikasih amalan yang seperti itu. Suruh salat duha, suruh qobliah subuh. E kita sebagai anak milenial ya yang hidupnya di jalan seperti aku itu hidupnya di jalan dulu klub malam semuanya itu itu adalah lingkungan saya dulu dengan cara melariskan dagangan atau usaha hanya dengan cara seperti itu impossibel menurut saya mosok io le gak obah mosok mek salat tok moro-moro ternyata enggak karena memang waktu itu enggak ada jalan lain Mas kita mau marketingan seperti apa modal enggak ada kok mau improve menu seperti apa modal enggak Ada kok satu-satunya cara ya itu yang memperbaiki apa yang hari itu bisa aku lakukan ya termasuk salat itu. Nah, tambah ke sini itu tambah yakin saya. Makanya saya itu enggak pernah merasa tersaingi ketika ada tempat usaha yang lain ramai terus punya saya enggak seramai itu yaak. Karena saya yakin semuanya sudah ada takarannya. Saya malah alhamdulillah kok ketika bujum angin melecit saya makan siang itu biasanya pasti makan siang di warung sate orang-orang. Jadi sekitaran sini kan banyak warung sate. Oh, ternyata beliau kok jualannya agak sepi. Ya, saya makan di situ, bungkus di situ. Sampai sekarang yang saya lakukan itu. Cuma karena sekarang orang sudah banyak tahu dengan saya, saya beli ke tempatnya dia malah koyak gimana gitu kan ya. Enggak enak. Akhirnya kita nyuruh karyawan, kita nyuruh beli lima porsi nasi campur, terus sebagian kita taruh ke tukang becak-tukang becak. Itu ritual yang sama. [Musik] Saya yakin setiap produk itu pasti ada jodohnya, ada pembelinya. Cara kita berusahanya adalah memperkenalkan. Kalau di bahasa marketingnya itu kan awareness. Hal pertama kali kalau kita punya produk adalah memperkenalkan. Jadi, gimana caranya orang beli kalau orang itu tidak pernah tahu dengan produk kita. Nah, yang bisa saya lakukan waktu itu adalah gimana caranya orang aware tahu dengan tempat kita. Tahu dari situ banyak macam, bisa dari mulut ke mulut, teman ke teman, dan sebagainya. Bisa dari teman-teman dari media, konten kreator dan sebagainya. Cuma kalau kita ke konten waktu itu kita masih belum ada budget. Cuma momentumnya adalah di saat saya udah enggak ada budget, cuma hal-hal yang kecil yang bisa saya lakukan. Sebar brosur, ngasih kupon, makan gratis. Akhirnya orang kan berbondong-bondong makan di tempat kita. Macetlah itu jalan. Padahal macetnya bukan kita jualan. Macetnya itu makan gratis. Apa yang bisa kita lakukan? Udah amalan sudah saya lakukan tinggal sedekah. Saya pengin tahu se powerful apa sodqah. Akhirnya tiap hari itu 30 kupon yang saya sebar dalam arti 30 orang yang datang. Nah, di jam yang bersamaan mereka datangnya pasti di jam makan siang. Kalau sate itu kan pasti identik dengan makan besar. Jamakan siang 30 orang berdatangan dengan space-nya kita terbatas akhirnya apa? Ngantri macet. Di lain sisi ada teman media dia mau meliput di sini dalam di Kediri sini. Kebetulan lewat di tempat saya lihat orang makan banyak padahal makannya itu gratisan. Karena memang saya itu bagi-bagi kupon sampai sekarang bagi-bagi kupon makan gratis. Akhirnya masuklah itu Mas Oji. Sekarang jadi saudara sama saya. Mas Oji Malang. Mas, ini gini gini gini. Tapi kita enggak punya budget, Mas. Oh, enggak apao. Wis anu aja sediakan menu seiklase jenengan menu seperti apa. Itu pertama kali kita masuk ke sosial media. Sebenarnya proses awal marketing itu warnes, cuma setelah saya pegang usaha sendiri enggak segampang itu. Terbatasi di budget karena semuanya pasti butuh budget gitu kan. awareness bikin orang tahu. Orang tahu itu ada dua, dia hanya sebatas tahu atau dia itu kepo. Tertarik. Tertarik lahirlah trial. Nah, trial bakalan melahirkan dua lagi nih. Yang pertama dia kecewa dengan masakane. Yang kedua dia itu puas bakalan repeat. Repeat itu dia bakalan hanya repeat untuk dirinya sendiri atau repeat-nya dia sambil ngajak konco merekomendasikan. Jadi sebelum saya proses yang pertama aware, saya harus benar-benar yakin kalau kualitas kita itu benar-benar enak, benar-benar layak. Akhirnya dari kualitas mulai di-upgrade waktu itu. Dari kita beli daging di pasar, beli ke jagal, akhirnya kita masuk ke farm sendiri. Jadi peternak-peternak itu kita pilih sendiri itu. Terus kalau sekarang kita sudah ada farm sendiri, cuma enggak sebegitu besar. Hanya untuk suplai secukupnya di warung. Yang besar itu kan rumput laut sama kambing. Nah, saya pernah di coffee shop juga. Coffee shop gagal. Terus pernah produksi kopi bubuk juga dulu. Nama mereknya itu Cap Kelanceng dulu. Kita nganfas sendiri toko, ke toko, ke toko, ke toko. Gagal juga ini. Tidak semua orang ya. Bagi saya ini prinsip. Dulu itu saya tuh sombong dalam arti itu saya bisa menjalankan usaha dengan background saya pernah kerja di perusahaan-perusahaan besar gitu kan ya. Jadi semua ilmu yang ada di sana saya bawa saya terapkan. Ternyata kesuksesan itu bukan tentang itu gitu yang saya yang alami ya. Ternyata sepintar-pintarnya saya enggak bisa kok mendatangkan pembeli itu enggak bisa. Bagi saya itu pembeli yang datang itu yang yang menggerakkan itu tetap Gusti Allah. Makanya saya itu enggak terlalu muluk-muluk tentang bujumangin. Bujumangin harus marketingnya seperti ini, marketingnya seperti enggak. Saya lebih mensyukuri sekarang yang saya jalani itu proses bersyukur gitu aja. Rasa syukur saya itu ada di bucuangin ini. Kalau di model bisnis karyawan itu ada hitungannya omset berapa baru boleh nambah karyawan. Seperti itu. Semua yang saya pelajari seperti itu. Tapi di bujumangin gak. Saya pengin nambah dua orang udah nambah aja. Karena niat saya, oh pengin orang itu benar-benar butuh pekerjaan. Akhirnya kita tarik. Karena saya yakin setiap orang yang masuk ke Bujumangin rezekinya itu dia bawa sendiri lewat Bujumangin. Dari 200 tusuk per hari akhirnya jadi rata-rata 2.000 ke 3.000 tusuk. Itu dari mana? Kalau enggak dari teman-teman karyawan ini. Setiap ada penambahan karyawan, omset nambah. Sampai sekarang saya ketagihan masih nambah karyawan. tempatnya kecil seperti itu 32 sama tim parkir itu karyawannya mau nambah lagi sampai bingung itu kita dua shift ya shift tempuk atau ketemunya dua shift itu kan di jam . Nanti itu umpel-umpelan itu penuh. Jadi kita fasilitasi wis makan, wis makan di situ. Yang cowok-cowok mau ngerokok ya kita kasih rokok. SOP untuk bisnis jangan dituru saya karena itu secara model bisnis enggak bagus dalam arti semuanya ada hitungannya kok. Kost itu harus ada hitungannya. Saya yakin sama di atas karena sudah melalui dua bisnis dengan SOP-nya yang luar biasa. SOP kedai copy shop itu betapa strengnya dia. Cuma enggak bisa kok saya enggak bisa bertahan juga. Kita enggak punya sandaran selain Gusti Allah. Enggak punya. Yang mendatangkan pembeli Gusti Allah. Yang kita ketemu seperti ini, saya kaget kok. Dikabari kita mau sharing dari mana? [Musik] Itulah jalan keberkahan. Ketika saya kaget dengan omset segitu, tapi ibu bisa bertahan sampai menyelekolahkan Mas saya. sarjana, istri saya juga sarjana, terus adik saya juga sarjana. Dari mana kalau enggak jalan keberkahan? Nah, dari situ saya yakin, wah ini hanya angka yang nyantol di kita itu. Itu bukan masalah angka. Itu motivasi dari mana? Dari ibu. Wis toh, Le, Mas Sak mono. Karena di awal-awal saya ragu. Wis to le buktine yo ibu iso kok nyekolahkan, Mas, nyekolahkan istrine sampeyan yo iso, adik sampeyan yo iso. Itu proses menurut saya itu prosesnya bukan ke bujumanginnya ya, tapi proses ke kayak saya yang ditempah waktu itu. Saya itu tetap meyakini kalau rezeki itu restunya dari orang tua, dari ibu sama dari guru-guru. Jadi kalau kita bisa menspesialkan perlakukan beliau itu spesial, insyaallah pangeran tuh pasti ngasih spesial. Buat kita sampai sekarang ketika mama enggak ada, mama kandung ya enggak ada ya sampai sekarang itu ya saya masih mengingat beliau dan yang paling tak rindukan karena jimat saya sudah kurang berkurang satu yang tetap saya pegang itu jadi the power of doa power of sedekah itu yang tetap tak pegang saya itu enggak terlalu khawatir dengan bujumangin gitu kan yang saya khawatirkan malah ke sayanya sendiri takutnya malah ngeslong niatnya sedekah malah lihat uang yang begitu itu banyak semakin banyak yang harus dikeluarkan nanti ada rasa eman yang saya khawatirkan di situ. Kalau di bujumanginnya insyaallah gak bujumangin itu alhamdulillah tetap berkembang. Saya dulu itu kan punya cita-cita ya, punya usaha yang bisa ngangkat derajat saya keluarga, anak putu dan juga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Lahirlah Gusti Allah ngasih saya bujumangin. Nah, saya pengin bujumangin itu bukan hanya untuk saya, tapi untuk karyawan saya dan masyarakat. Untuk sekarang yang bisa kita lakukan itu kita punya keluarga besar Bujumangin sudah 32 tim. Terus gimana caranya hidup mereka layak? Layak dulu. Yang ini yang terus kita usahakan layak. Terus untuk sedekah, sedekah sendiri. Sedekah kita masih ya dari cita-cita yang sangat besar. Kita pengin 1000 orang yang kita jadikan keluarga kita masih hanya 70 orang yang kita bisa santuni. Penginnya itu bujumangin itu kayak sumur gitu loh, Mas. sumur yang setiap orang itu bisa minum dari situ. Meskipun itu sumur pada saat ini ada di tengah-tengah keluarga saya, Bu Jumangin, tapi pengin sumur itu semuanya orang bisa minum di situ. Itu cita-cita angan-angan saya seperti itu. Entah kapan Bujumangin bisa punya banyak cabang dan setiap cabang dia juga bisa ngasih seperti yang di cabang utama. Jadi santunan dan sebagainya itu masih cita-cita. Tirakatan ibu yang sekarang dalam arti tirakat amalan ya yang tetap saya jalani itu adalah sedekah. Jadi bujumangin itu dari zamannya ibu itu memang sedekah. Powernya Bujumangin sedekah. Dulu mungkin secara perkembangannya ya hanya itu-itu aja ya Bu Cumangin. Cuma keberkahannya ibu bisa menyekolahkan anak-anaknya. Terus di zamannya saya kita tambah besar terus karyawan juga tambah banyak. Ya, mungkin ya keberkahannya ya itu perbedaannya hanya kita sekarang itu keluarganya lebih besar gitu aja. Masalah supply chain. Supply chain saya merubah memodif itu jadi magnet lingkaran rezeki. Kita butuh berambang, kita butuh kambing dan sebagainya dan sebagainya. Oke. Tolak ukurnya adalah harga kualitas. Itu wajib. Kualitasnya oke dulu, harganya sesuai dulu. Terus yang kedua, siapa yang akan kita ajak bermitra? Orangnya seperti apa? Dia juga punya semangat sedekah enggak? Dia punya karyawan gimana dia memperlakukan karyawannya? Semua yang tanda kutip mitra mitranya ibu dulu. Ibu kulakan di toko A, di toko B, semuanya akhirnya enggak kita pakai. Kenapa? Karena saya melihat beliau memperlakukan karyawannya itu udah di luar semangatnya Bu Jumangin. Jadi, kita milih mitra-mitra itu yang benar-benar dia itu memperlakukan yang pertama memperlakukan karyawannya dengan baik. Yang kedua, beliau juga semangat untuk sedekah. Kemudian terbentuklah yang seperti sekarang ini. Yang sito, oh yang bagian beras dia juga ngasih doa ke kita. Yang bagian peternakan dia juga ngasih doa ke kita. Yang bagian nyetor jeruk untuk minum, oh ternyata orangnya seperti ini. Karyawannya juga diperlakukan dengan baik. Ngasih doa yang baik juga ke kita. Jadi terbentuklah yang seperti saat ini. Kalau kita mau main di dunia FMB, kita kan memang harus ada perhitungan ya, penghitungan HPP. Ingat ini kebanyakan pemula saya dulu mungkin ini ngomong sama resi 4 tahun 5 tahun yang lalu. Kalau kamu mau jualan jangan pres-nya dengan harapan kamu bisa jual barang itu lebih murah. Jangan. Karena perhatikan juga fluktuatif bahan baku. Fluktuatif bahan baku katakanlah kenaikannya sampai paling ekstrem dua kali lipat. Berarti penghitungan HPP itu dua kali lipat dulu. Jadi jangan takut jualan harganya mahal. Jangan perhatikan semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kalau kita marginnya misalnya margin tipis, terus kapan jenengan mau membahagiakan tim jenengan? Kapan jenengan mau ngreditkan motor untuk mereka? Kapan jenengan mau jatah mereka beras satu karung tiap bulan? Ya, itu harus dipikirkan. Dan percaya kalau keyakinan saya itu berapapun harga yang saya jual, tiap produk pasti ada pembelinya. Itu aja saya. Yang penting saya enggak ingkar dengan konsep-konsep saya di awal kalau saya harus punya semangat sedekah dan sebagainya. Saya tidak punya kata-kata yang bagus. Ini hanya kata-kata by pengalaman saya gitu kan. Ternyata jalan itu di luar apa yang kita bayangkan selama ini. Kita enggak tahu jalan yang mana yang bakalan membuka rezekinya kita. Kita enggak tahu jualan yang jenis atau barang yang seperti apa yang bakalan membuat kita itu cukup. Apapun usahanya, apapun barangnya yang kita jualkan, asalkan itu halal, udah bismillah aja. Karena dari barang kecil pun ternyata saya jualan sate bisa menghidupi anak keluarga saya. Jadi itu hanya dari sate ya, bukan dari jualan kayak rumput laut sampai tontonan itu. Jadi jangan pernah membanding-bandingkan, jangan pernah kecil hati karena jualannya masih kecil. Pokoknya wis bismillah sudah jualan aja. Saya Mas Res Wardana dari Warung Sate Pujumangin yang bertempat di Dusun Sobo, utara Koramil Ngasem. Terima kasih yang sebesar-besarnya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.