Kind: captions Language: id [Tepuk tangan] Soalnya saya sudah bingung, Mas, mau usaha apa. Soalnya sudah saya coba semua dari ayam, ternak kelinci, semua sudah saya coba-cobain. Coba dunia kambing dan domba ya. Itu yang kebanyakan faktor mati banyak itu dari kambing Jawa. Ternyata yang kambing Jawa saya tidak cocok. Banyak yang mati gara-gara pakan dulu. Modal dari jual mobil sama bikin kandang Rp150 juta. Itu harta satu-satunya itu mobil pribadi saya lemparkan ke peternakan domba itu. Habis itu domba penjualan ramai dari pertama berawal dari du ekor dijual 1 bulan bisa sampai laku 5 sampai 10 ekor. Itu sudah alhamdulillah. Padahal punya karyawan empat. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Oki Toni Wirawan dari owner Farm Nusantara Jaya Farm. Lokasi di alamat Blitar Lingi, Desa Bening, Utara Rumah Sakit Putih Resuden, pinggir jalan raya. Sekarang usia 33 berdirinya Faminik mulai 2022 jalan 4 tahun. sebelum e sudah nikah sebelumnya saya usaha dari perburungan, jualan burung mendatangkan burung dari Kalimantan, dari Batam. Nah, habis itu jualan burung sepi akhirnya beralih ke domba. Karena faktor kemarin kan ada corona jadi gantangan-gantangan semuanya ditutup. Akhirnya ganti haluan ke domba. Dulu masih dua ekor, Mas, ternak domba itu dibuat iseng-iseng ya. Terus habis itu domba penjualannya bagus, akhirnya banding setir haluan di burung 7 tahun jual beli morai kecil sampai merambat sampai ke luar pulau cari burung-burung dari sana dari akhirnya saya ngepul. Akhirnya saya sebagai supplier yang dikenal di Bitar akhirnya punya nama akhirnya ya itu langsung jualnya cepat lancar. Kalau untuk domba sebenarnya buat iseng aja. Kalau ndak kena Covid corona itu mungkin masih jualan burung. Iya. Menjanjikan, Mas. Alhamdulillah prospeknya bagus. Waktu itu omset per bulan itu untuk kotor bisa 1 M. Burung murai batu, burung kacer, burung cucak rowo, burung cucak ijau. Saya kan cuma agen ngepul gitu, Mas. 1 bulan tuh soalnya sekali datang itu langsung kanian, Mas. Ya, langsung 500 ekor, 1000 ekor, 2.000 ekor. Nanti langsung ada banyak-banyak bakul yang datang. penjualan cuma via online dulu sempat sih saya tuh jualan keliling ke pasar-pasar habis itu ada di online ke itu Facebook akhirnya ramai banyak bakul yang datang itu sekitar kurang lebih R00 juta dari jualan burung terus akhirnya usaha burung gulung tikar gara-gara bukan gunung tikar sih sebenarnya masih tetap sukses buat bangun rumah habisnya itu. Jadi hasilnya dari burung itu saya buat beli tanah, saya bangun terus yang kedua saya mikir kalau bangun pasti nanti rodalnya kan selama-lama kan habis terus akhirnya kena COVID juga akhirnya sampai kolap saya akhirnya ternak domba itu iseng harus banting setir ke dunia domba mungkin ini dunia burung sudah sepi dunia domba untuk kabak rugi mas cuma habis untuk bangun rumah berarti tidak ada kerugian berarti modalnya buat bangun rumah habis diutang-utang tuh pada tidak ada yang bayar kan saya utang-utangkan dulu dulu, Mas, burungnya itu sampai sekarang belum bayar orang-orang. Iya, namanya usaha, Mas. Soalnya kan anggapannya orang-orang bilangnya itu mati tidak mau bayar. Ada yang kabur enggak mau bayar. Mungkin kurang lebih sekitaran R500 juta, Mas. Tapi kan itu sudah untungnya. Dulu kan saya cuma jualan itu kan ada yang modali dari bosnya. Modalnya itu kan berawal dari dua ekor, Mas. Ya, saya dua ekor itu beli babon anak jenis crossel. Nah, itu anaknya tumbuh besar. itu akhirnya saya jual, saya belikan domba yang sudah bunting lagi nambah uang gitu. Jadi tetap dari dua ekor lagi tapi bunting semua gitu. Lama-lama saya sambil jualan dombanya saya kan ada modal sedikit toh Mas. Saya habiskan beralih ke domba sama mobil saya pribadi saya jual untuk mengembangkan usaha domba. Itu pun masih jatuh lagi. Karena faktor pertama belum punya pengalaman di domba. Akhirnya masalah pertama itu masalah kesehatan domba belum tahu, masalah pemasaran juga belum tahu. Akhirnya dipermainkan sama bakul. E belinya mahal nanti jual lagi ke orangnya diterima murah. Akhirnya rugi sama kematian. Waktu itu saya itu sekitaran 50 ekor domba. Habis 2 ekor tuh 50 ekor domba langsung. Jadinya total 25 ekor domba. Itu mati sekitaran 25 ekor 30 ekor separuh lebih. Karena faktor pakan saya pakannya itu jadi enggak menggunakan rumput langsung menggunakan ide pribadi lihat-lihat dari YouTube pakai fermentasi ditampuri tetes tebu tampiri rumput pak dicoper akhirnya busuk akhirnya ke domba sakit mati keracunan jadi pengalamannya pemalahan pribadi. Habis itu saya tanya-tanya ke teman-teman, ke fam-F gimana cara perawatan domba yang benar. Kita sambil belajar pelan-pelan gini gini gini. Kalau domba itu kalau masih kecil harus dipakan, harus sulijaan, jangan dikasih pakan-pakan kering nanti takutnya mencret mati gitu, Mas. Akhirnya dari kerugian banyak ya tiap hari ngarit cari rumput. Waktu itu saya punya karyawan Pak, total domba tinggal 25 30-an ekor lah. Itu aja nanti buat bayar karyawan apa bisa nanti? Saya akhirnya banting setir ke enggak jadi ternak langsung trading langsung penjualan. Saya jual masih rugi. Ada yang cuma kerja bakti pok pernah gitu, Mas. Tapi kan saya pengalaman kalau harga domba itu gini apa permainannya domba kayak gini. Saya tetap berjuang lah intinya itu tetap usaha ini harus maju. Iya bertahan. Pengin coba utang bank ke mana-mana enggak diac soalnya kan enggak punya nama di dunia perbankan. Enggak punya nama gitu loh, Mas. Saudara juga enggak mendukung. Jadi cuma gimana ya tadi beli jual beli jual gitu Mas. Jadi sampai benar-benar berkembang dari tahun 2022. 2022 itu mulai gencar-gencar dunia domba diitar itu. Karena aku lihat di YouTube-YouTube kok peternakan kok apa menjanjikan ternak domba daripada ayam. Ayam dulu pernah sempat mati juga rugi. Tapi kan itu hasil dari burung. Jadi coba-coba Mas saya tuh semuanya hewan saya coba-coba. Saya pelihara dulu pernah dari ikan, ayam, burung, terus merambat ke hewan-hewan yang agak langka-langka tapi yang impor itu. Terus sama domba. Cobalah ini domba ini bisa sukses apa enggak gitu. Soalnya saya sudah bingung, Mas, mau usaha apa. Soalnya sudah saya coba semua dari ayam, ternak kelinci, perikanan, ternak ikan koi, semua sudah saya coba-cobain. Coba dunia kambing dan domba ya. Itu yang kebanyakan faktor mati banyak itu dari kambing Jawa. Jadi dua dulu tuh saya pelihara dua jenis dari domba sama kambing jawa. Ternyata yang kambing jawa saya tidak cocok. Banyak yang mati gara-gara pakan. Habis itu jual ke orangnya lagi biar gak mati banyak ternyata malah rugi besar. Dulu modal dari jual mobil sama bikin kandang Rp150 juta. Itu harga satu-satunya itu mobil pribadi saya lemparkan ke peternakan domba itu. Habis itu domba penjualan ramai dari pertama berawal dari du ekor dijual 1 bulan bisa sampai laku 5 sampai 10 ekor. Itu sudah alhamdulillah. Padahal punya karyawan empat. Nanti kalau enggak laku jual ada selaku-lakunya buat bayar karyawan. Soalnya gimana sudah berani punya usaha mengerjakan karyawan harus bisa membayar. Alhamdulillah dari situ mulai ramai dikenal saya akhirnya membentuk kelompok domba di Mbitar intinya sekarang jadi pelopornya lah di Kota Mbitar. Akhirnya domba langsung ramai viral di Kota Blitar dari membangun kelompok saya mengadakan event kontes didukung sama pihak kepala desa suruh ngisi acara untuk memperkenalkan. Jadi kontes pertama di Kota Mbitar saya yang pencetusnya ya intinya yang ramaikan di dunia kelompok domba di Mbitar. Akhirnya orang-orang petani-petani langsung dari fashbacknya penjual saya tambah ramai. Banyak yang minta 10 ekor, 20 ekor. Saya tarik DP saya kan model cuma kadang cuma tinggal itu aja saya belanjakan kan rata-rata domba itu yang banyak di daerah Jember Banyuwangi ya Mas ya. Jadi saya belanja di situ. Belanja cuma 10 20 ekor pulang besok belajar lagi. Mumpung banyak pesanan ramai. Lama-lama saya enak fokus trading daripadaing. Kalau breading kan lama waktunya Mas. Kalau trading nanti domba laku 20 ekor bisa nambah lagi di 25 ekor keuntungannya. Kalau kita breading akhirnya agak lama lah 5 bulan sampai 6 bulan. Dari situ sampai banyak banyak sampai di populasi 100 ekor akhirnya ada teman ngasih dana lah investor lah itu membantu. Saya akhirnya didukung sama beliau akhirnya tambah banyak di 200 300 sampai sekarang populasi bisa sampai 1000 teman lah intinya dia tuh lihat saya itu kok nelongso. Iya kok usahanya kok enggak bisa maju. Habis dari situ kan dulu du teman akrab lah. Habis itu di didukung kasih modal nanti pembagian. Alhamdulillah sekarang modal pribadi dari populasi 50 ekor. Berawal dari 2 ekor tadi kan iseng sampai sekarang sampai 1000 ekor. Kalau di sini jenis dombanya jenis domba lokal, jenis domba merino, jenis domba crossel sampai tekel pulbat pun juga ada dari dorper, sulfog semuanya ada, Mas. Garut ada. Jadi semua saya jenis di sini saya kompliti. Jadi mulai harga yang termurah termahal kita readykan. Termurah di harga Rp500.000 itu cemple kecil. Iya. Kadang kan orang-orang kan ada yang minta harga murah. Usia lepas sape itu domba lokal ya. Paling termahal harganya Rp0 juta. Itu domba impor dari apa? Inggris jenisnya sulfk sama beltek dari Belanda. Domba tekstil full blood ya. Itu ada kemarin laku cepat. Alhamdulillah itu dari situ saya merambat ke impor. Sebenarnya sih saya pengin fokusnya itu domba lokal ngembangkan domba lokal. Tapi kalau kita enggak mengikuti zaman, enggak mengikuti arus di dunia bisnis perdombaan, akhirnya nanti enggak mungkin bisa besar. Saya silangkan. Padahal di kelompok kita itu mengunggulkan domba asli Indonesia. Tapi kita tetap nanti disilangkan kan dengan hasil anakannya kan bisa menurunkan harga anakannya kualitasnya bagus. Di domba itu berbedanya sih tambah sibuk waktunya masih pola makannya itu Mas tambah ribet tambah banyak. Iya. Kalau dengan segi SOP ya, Mas, kalau domba itu kasih pakan kering apa pakan silase sudah cukup. Kalau kita cari rumput dengan populasi banyak mungkin enggak bisa, Mas. Kalau makanya di orang-orang petani-petani domba populasinya di bawah 50 pasti bagus-bagus daripada yang 1000 ekor. Tapi 1000 ekor pun bisa menjamin bagus juga. Kondisi sehat semua. Kalau kita apa itu standar os opennya pakan tercukupi, alhamdulillah dombanya nyaman. Bal enggak mati. Saya ikut umumnya orang-orang itu akhirnya Mas pakai tebon jagung dicopoter dielase cuma itu aja dikasih konsentrat enggak neko-neko itu aja nanti per kilonya ketemu cuma Rp2.000 R000 itu untuk domba sudah cukup. Kalau untuk dua kali makan sepagi dan sore mungkin di 4.000 sudah cukup untuk ternak. Kalau kita pakan pakai full hijauan yang cari rumputnya yang susah, Mas. Iya. Yang kedua nanti lebih mahal rumput itu lebih murah ke pakan kering. Jadi kayak gitu ya. Menurut saya itu Mas kadang ada orang-orang beli pakan kering mahal takutnya nanti dijual murah. Kalau kita bisa memanajemen pakannya mungkin insyaallah tidak. F kuncinya kalau untuk ternak domba dengan populasi besar ya itu Mas yang kita harus bisa memanajemen pola pakannya. Pakannya itu harus standar kebutuhan domba sudah tercukupi itu sudah aman Mas. Alhamdulillah. Kalau untuk kesehatan saya belajar didat pengalaman dari teman-teman cara nyuntik domba gimana, cara perawatan gitu dengan populasi sekian ini untuk kematian alhamdulillah sekarang sudah berkurang enggak terlalu banyaklah biar laku ya saya bawa ke pasar dengan posting ngonten gitu Mas. Dari situ saya pertama ngundang untuk YouTube Sahabat Sapi. Dari situ lama-lama dikenal sama orang, banyak permintaan. Dari penjualan mulai semakin banyak. Sampai hari ini pun penjualan sudah mencapai 1000 ekor per bulan keluar masuk domba. Permintaan ke supplier-suplier, ke bakul-bakul gitu. Saya soalnya kan kalau ngambil keuntungan cuma sedikit, Mas. Yang penting berputar uangnya biar cepat berkembang. Kalau sama bakul itu overnota itu cuma Rp50.000. Kalau sekali ambil kadang 50 kadang 75 satu armada kan 75 ekor Mas. Satu muatan cuma situ saya tekuni Mas soalnya saya pikirnya harus punya pasar dulu gitu Mas ya. Nanti kalau keuntungan kita banyak itu nanti dipikir belakangan, Mas. Yang penting intinya kalau bisnis kan yang penting harus siap berani rugi dulu. Cari nama dulu, cari sebanyak mungkin market di dunia domba punya pasar, habis itu kita tinggal mainkan harga lagi kembali. Kalau saya prinsipnya gitu maksudnya, Mas. Sekarang tinggal cuma jual domba aja sama pakan jandi aja. Kalau di toko itu saya kasih produk pakan jadi dari pabrik-pabrik sama silase. Cuma itu aja. Jadi usahanya cuma maton domba ini aja. Kalau per kilo harga R.200 untuk silase. Ya, dari petani itu dikirim ke sini cuma harga Rp500, Rp600 gitu. Kita giling, kita kemas, kita jual. Ini membutuhkan tim 8 orang cukup ya, Mas ya? Cukup ya. Itu pun setiap hari pasti ada yang keluar domba kirim dari sekian banyak tadi itu. Di sisi itu kan saya juga punya mitra juga, Mas. Dari kemitraan itu pun saya juga dapat modal. Kadang kan orang-orang gengsi mau ternak domba. Apalagi kaum pemuda-pemuda kalau dilihat dari sisinya domba kan gengsi. Kok sekolah setinggi-tinggi nanti kok cuma usahanya ternak domba ngarit. Kadang-kadang ada yang gengsi. Kalau saya pikir yang penting kita bisa memutarkan uang bisnis biar cepat lancar. Itu aja sebenarnya. Saya cuma kuliah tapi enggak lulus, cuma SMA aja. Untuk ternak sama orang tua kalau ibu di-support, cuma sama papa gak. Saya kan keluarga Chines, Mas. Ibu saya Jawa, papa saya Cina. Sama papa saya kan enggak didukung karena ini kan kita pada kayak menyiksa hewan lah. Papa saya kan Buddha. Kalau mengurungi mengurungi hewan kan namanya kan menyiksa. Nah, artinya enggak didukung. Papa saya cuma ya orang punya n di Kota Blitar tapi tidak didukung sama sekali karena dia usaha hewan. Dia enggak jelas tidak maulah intinya memodalinya. Jadi saya usaha sendiri ini bangkit dari sendirinya gitu. Termasuk burung tadi gak didukung apa? Iya gak didukung soalnya kan burung ada yang makanannya ulat. Ulat itu berapa nyawa? Itu yang di dalam itu kan setiap hari kan banyak berapa ekor yang kamu matikan. Itu kan dia juga menyiksa keyakinan agama lah intinya gitu. Saya enggak didukung padahal dulu dikasih apa itu modal besar. Kamu buka osorum mobil kasih modal besar. Tapi saya dari kecil sukanya hewan. Gimana lagi Mas? Dari situ saya akhirnya usaha sendiri sampai punya tanah apa punya rumah sendiri. Itu pun orang tua tidak tahu sudah meninggal, Mas. Jadi caranya itu pengin nguahkan i loh anaknya sudah bisa sukses tanpa bantuan tapi terlanjut sudah meninggal dulu waktu baru-barunya corona itu meninggalnya kena serangan jantung. Saya dari kecil Islam terus kakak saya juga gitu dia usaha showroom mobil yang pertama kerja di rumah sakit ya dokter yang satunya showroom mobil. Itu pun semuanya enggak mendukung adiknya kan usaha hewan ini kan enggak boleh di dalam keluarga kalau ada yang usaha hewan. Tapi saya pengin menciptakan usaha sendiri tanpa meneruskan usaha orang tua. Usaha orang tua dulu bengkes sama showroom ya. Tapi namanya saya dari kecil sukanya hewan, Mas. Monyet pun saya pelihara dulu semuanya saya suka hewan. Hewan apa-apa pun saya pelihara. Sampai dulu pernah saya pelihara hewan yang dilindungi ya kena polisi kan sudah tergedi dulu, Mas. Iya. Kakak tua kayak Jalak Bali, Crindrawis kan dilindungi. Sekarang fokus ke ternak yang tidak dilindungi sama oleh negara lah intinya gitu, Mas. Pelihara yang aman-aman saja. Tapi namanya cita-cita Mas, dari dulu saya pengin punya kebun binatang sendiri soalnya saya dulu sampai pernah ke Ivan Hakim ke sana juga dulu ngantar burung unta ke tempat temannya. Ada videonya cuplikan ada juga sama Ivan Hakim. Saya ngantar ke orang temannya sampai ke sana ternyata mati satu. Saya mau ke tempate Evan Hakim manggil dokternya biar nanti aman. Ternyata tetap mati. Akhirnya sama Evan Hakim dibikin konten. Ya dari Brung itu saya penjualan banyak Mas. Pelihara mulai kecil kan harga Rp15 juta sepasang. Saya jual laku 75 laku cuma pembesaran aja tadi belum cuma ternak nelur itu laku 75 sampai R1 juta per pasangnya itu. Itu saya buat bikin rumah. Jadi semuanya tuh saya ambil alih ke beli tanah dan rumah itu habis-habisan pokoknya habis bangun itu. Kalau di sini menurut saya ya, Mas ya, itu cuma standar kenyamanan kandang. Yang penting tinggi dari lantai. Ideal kotorannya nanti biar di amoniaknya biar enggak naik ke atas. Terus palungan pakannya harus standar, kandang harus pakai kayu. Terus yang terus atapnya ke atas tingginya harus 2 m. Kayak gitulah intinya, Mas. Saya kalau untuk SP kandang segi hewan saya cari domba yang yang penting sehat-sehat gitu. Cic hewan sehat, Mas. Kalau waktu dikasih makan pasti makan. Kalau dia dombanya cuma diam berarti dombanya itu bermasalah. Cuma itu aja, simpel aja itu. Kalau masalah harus bersih, dicukur bulu habis itu dimandikan nanti bomb populasi banyak kan pasti ribet, Mas. Kalau populasi segitu. Kalau populasi sedikit mungkin bisa terawat bagus. Kalau populasi banyak mending cuma cukur bulu aja sudah cukup. Biasanya faktor pertama itu domba itu kurang sehatnya karena masuk angin apa dia kembung gitu, Mas. Habis itu makanannya tidak bagus akhirnya kan domba bisa sakit kayak gitu. Ciri-ciri fisik yang penting itu dombanya itu badannya gemuk, habis itu raut wajahnya segar, habis itu bulunya bersih. Cuma itu aja sih menurut saya, Mas. Pokoknya enggak kena penyakit. Kan penyakit yang sering terjadi di domba kan penyakit memprengen. Mulutnya itu luka itu loh, kena rumput basah apa-apa itu cepat menular. Habis itu kena penyakit gudik itu faktor kurang kebersihan kandang. SC itu faktor mencret itu yang cepat nular. Cuma menurut saya itu Mas kendalanya. Kalau sudah ambruk untuk angka hidup agak sedikit nul kecil pasti kebanyakan mati. Saya suntik pakai obat-obat herbal terus habis itu kita suntik taspad. Gitu aja sih, Mas. Kalau domba-domba yang kena ambruk. Tapi kalau ternyata tetap tidak bisa berhasil, ya udah gimana lagi, Mas? Dikubur, Mas. Gak bisa dibelh ya? Gak bisa, Mas. Soalkan sudah menjadi bangkai. Kalau masih sekarat masih bisa disembelih. Kalau sudah mati enggak ketahuan pasti membusuk di kubur masih yakin menjanjikan? Karena ini salah satu ketahanan pangan di Indonesia. Faktor maksudnya itu orang-orang petani rata-rata kan pelihara domba, sapi, ayam. Cuma itu aja kan, Mas? Kalau kita ke dunia burung pasti itu permainan pasar, permainan hobi. Kalau domba dibikin hobi bisa, dibikin kesibukan, bisa dibikin pekerjaan, bisa. Kalau domba sapi itu menurut saya itu, Mas. Makanya saya yakin harga domba tetap stabil lah ya sampai benar-benar dikenal seluruh Nusantara. Kan namanya Nusantara Mas Katanya. Iya. Ika usia 24. Jadi istri itu ke mana-mana kalau belanja selalu tak saya bawa Mas boyong. Dia enggak berani tidur di rumah di sendirian. Kadang sebenarnya dulu dari dari kakak dari istri itu yang mendukung usaha ternak domba. Dia kan pelihara domba dititip-titipkan ke petani-petani kayak caranya gado lah intinya gitu. Terus saya punya ide lihat-lihat di YouTube ternak domba itu gimana? Apa perlu harus ngarit? Kalau dengan populasi sedikit biar tidak rugi ya ngarit. Apalagi punya karyawan waktu saat itu sampai dilihat sama orang-orang. Wong anaknya Bapak saya kan Pak Hongli ya. Anaknya Pak Hongli kok ngarit. Ya gimana lagi Mas? Namanya usaha orang tua ya wis pikir bodoh yang penting saya ngarit membuktikan bahwa saya bisa sukses tanpa modal orang tua. Lekaunya ya pernahlah dulu sampai dibilang sama teman sama saudara kalau usaha ternak domba itu apa mungkin bisa maju apa mungkin bisa membuat kamu sukses lah gitu. Saya tetap yakinlah dari pendirian saya bahwa domba itu nanti kalau kita rawat dengan bagus, domba itu kasih pasti kasih saya rezekil lah dari ternak kita sendiri itu dari sini sekitaran 50 sampai Rp0 juta pakannya aja itu soalnya kan dengan populasi banyak tadi Mas per hari aja habis sekitaran R1 juta lebih Mas untuk populasi 1000 ekor. Sekarang saya kan saya punya nama saya punya brand sendiri nama akhirnya saya jual pasti orang-orang pada tanya gitu. Nah, saya kan juga punya kandang di Jember juga. Jadi sana suruh carikan domba-domba. Kalau sudah terkumpul ada saudara di sana bawa langsung ke sini tinggal lempar-lempar bakul. Untungnya bisa banyak sekarang, Mas. Kalau dulu masih untung sedikit saya lempar. Kalau sekarang sudah untungnya lumayan ya kurang lebih ya 1.200-an lah. Mas kandang Blitar aja berapa berarti ya 1000an. Di Jember cuma 200-an lah. Soalnya kan kandang buat tampung aja Mas ya. Nanti kalau sudah terkumpul bawa ke sini gitu. Fokusnya ke penjualan. Saya sekarang cari pasar sendiri sudah dikenal. Jadi enggak perlu ke pasar, Mas. Jadi bikin pasar sendiri di rumah dari dunia YouTube itu tadi. Iya. Perputaran cepat. Habis itu kan akhirnya lama-lama kan bakul-bakul kan pada tanya, "Sana loh murah, sana loh murah gitu. Kita memainkan harga habis itu, Mas. Kita jual buntingan. Untung-untung juga banyak dari pejantan fullbat-bulbat tadi kan disilangkan, Mas. Domba domba lokal sama domba impor disilangkan. Nanti kan keluarannya bagus. jual paketan ada yang enggak enggak bisa beli yang harga mahal nanti silangan-silangannya itu saya bikin nama nusantara ini ya gara-gara pengin memajukan domba di seluruh Indonesia di Nusantara gitu peternak-peternak itu harus bisa maju dari nama situ saya cepusan Nusantara itu tadi ya ising-ising tetap lihatlah lebih lagi ya kini masih masih belajar lagi Mas kalau masalah market alhamdulillah sudah tertata maksudnya untuk dunia domba kalau mengenai kesehatan dan sebagainya masih belajar lagi. Saya mulai fokus trading kan sudah 2 tahun lebih ini Mas. Kalau tahun pertama itu kan fokus breading. Jadi masih perlu ilmu yang di dipelajari lagi Mas. Masih perlu belajar lah. Yang saya sampaikan, ya intinya saya itu pengin orang tua itu kalau mendukung anak itu jangan sampai penginnya itu harus bisa punya usaha sendiri biar papah itu biar tahu gitu loh. Didukunglah anaknya itu sampai kayak gini. Saya kan ya intinya ya orang tua enggak ada ya termasuk nyeselah. membuktikan kalau bahwa saya itu benar-benar bisa tanpa orang tua gitu loh. Kudu disepelekin disik itu buat pacuan untuk seorang anak. Mungkin orang tua didik mungkin kayak gitu, Mas. Iya kan berbeda-beda. Jadi saya itu disuruh kamu terjunnya semaksimal mungkin nanti kalau benar-benar enggak bisa pasti orang tua masti membantu. Jadi carane anake dicul dishik Mas kon golek pangan searep-arepe dishik. Tapi udah usaha sudah mencampai jalan segini waktu pembuktian orang tua yang enggak ada itu merasa sedih lah intinya. Biar tahulah orang tua itu tak biar tahu kalau anaknya bisa berhasil punya usaha ini gitu. Sama orang tua sudah terlanjur tidak ada. Gimana lagi Mas? Ya intinya kalau saya sih penginnya pemuda-pemuda saat ini jangan malu beternak domba dan sapi. Soal itu suatu usaha menciptakan usaha sendiri tidak perlu kita kerja di orang gituah intinya gitu. Mas harus puncak lapangan kerja sendiri, harus bisa semangatlah motivasinya untuk peternak muda. Ngawalinya harus pertama ya harus punya bank pakan kalau masih baru ya Mas ya. Harus punya bank pakan kandang sama lihat harga domba dulu. Mengenali harga pasar dulu, Mas. Biar nanti biar enggak terblonyok kayak saya lah. Intinya kalah di awal. Harus tahu cara kesehatannya domba gitu, Mas. Harus benar-benar cara merawat domba itu harus tahu dulu. Yang kedua baru marketnya. Kalau sudah dipelajari monggo bisa beli domba. beli dengan farm yang ternama. Maksudnya itu beli farm yang jelas-jelas recommended lah intinya itu yang jelaslah, yang terpercaya lah intinya gitu. Jangan beli asal ke yang lain-lain nanti belum tahu marketnya, susah penjualannya. Kebanyakan sih untuk peternak pemula tuh bingung pasar intinya gitu, Mas. C ngawalinya ya ya itu belantik dulu kan cari pengalaman dulu, Mas. Ke sana ada yang orang beli domba kan akhirnya kan nanti punya modal. Nah, ke sana dulu sama-sama mengenal marketnya, Mas. Jangan langsung dor-tudur kayak saya, langsung beli banyak dihapusi bakul. Ya, akhirnya kan rugi, Mas. Itu kan sambil belajar market, sambil belajar perawatan. Oh, domba nanti dikirim ke sana beli. Jadi cuma modal nekad pun bisa juga untuk ternak domba. Kami punya domba impor yang jenis dari Inggris namanya sulfok. Domba sulfok itu itu salah satu ikan di Nusantara. Kenapa kok satu dari ikan nusantara? harganya yang pertama mahal, yang kedua itu adalah satu domba terbaik di kota Mitar. Domba ekstrem lah intinya gitu. Domba berat. Di situ kan saya sering ikut kontes mengadakan event untuk mendongkrak harga domba biar baguslah. Saya tangan kedua, Mas. Saya nempil. Kalau impor harus banyak populasinya gitu, Mas. Jadi nempil satu tapi yang benar-benar yang bagus itu sampai ditawar harga Rp100 juta, Mas. Itu yang satu ekor itu, Mas. Soalnya sering apa itu ikut kontes. Iya. Yang kedua, domba jenis tekstil itu yang dari Belanda. Salah satu untuk merubah genetik bagus peternak di Indonesia biar dagingnya kualitasnya biar baguslah intinya domba-dombanya biar unggul. Ada sertifikatnya komplit semua ya. Domba dorper. Domba dorper kan sudah mungkin di seluruh farm kebanyakan sudah menyebar kan yang agak jarang ini kan domba tekstur fullb blood jenis sulfog fullb blood itu masih jaranglah gitu. Kalau dari saya sih yang penting intinya ternak domba itu harus tekun, harus tanggung jawab, harus hobi dulu, harus konsisten, jangan bimbanglah intinya gitu, Mas. Dipantau jadi cuma enggak harus sekedar cuma kasih makan. Harus kita itu kalau bisa lihat sekilaslah untuk kasih makan dilihat dombanya itu jadi biar ada interaksi antara tuannya sama dombanya itu harus punya interaksiah harus menyayangi. Insyaallah itu mungkin bisa berhasil sukses untuk peternak-peternak ya harus benar-benar dijaga perawatannya. Harus punya bank pakan harus disiapkan. Jangan menyerah, pasti ada lika-liku. Semua butuh proses. [Tepuk tangan] Kalau untuk usaha ini awal-awal saya bingung masalah limbahnya itu nanti dibuang ke mana. Akhirnya saya kelola, saya produksi. Jadi limbahnya itu dibuat untuk pupuk pertanian. Alhamdulillah banyak permintaan dari pertanian, dari warga-warga yang cari pupuk dan kebanyakan rata-rata diambil mentahnya untuk limbah. Jadi enggak bingung masalah koinya. Nah, ternyata untuk domba itu koenya benar-benar bermanfaat untuk pertanian. Untuk permintaan koe alhamdulillah meningkat draktis sampai bisa jual ke luar kota, bisa sampai jual ke Batu itu tempat wisata itu banyak. sana pertanian membutuhkan kohe dari domba atau kambing sampai orang-orang ambil ke sini sendiri. Jadi belum sempat kirim sudah banyak yang ambil untuk kotorannya domba itu. Alhamdulillah saat ini usaha tetap berjalan lancar sampai fokus ke penjualan dombanya itu. [Tepuk tangan] [Musik] Saya Oki Wirawan dari owner Nusantara Jaya Farm beramat Wingi nomor HP 081234599407. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.