Transcript
cAr3Vkjx4II • Tinggalkan Dunia Saham, Pilih Sebar Jutaan Al-Qur’an & Air Bersih ke Plosok Negeri
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0575_cAr3Vkjx4II.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Saya jadi penjahat kecil waktu itu. Yang terbesar satu klien tuh ada yang nilai 15 M. Training di saham dan banyak itu kalau pasar modal kan komisi ya. Pernahlah betah R juta biasa itu ya. Enggak. Justru yang ngedorong kuat tuh malah istri tinggalin aja. Bener nih? Benar. Ya udah. Ya udah yang saya ingat itu waktu itu ternyata yang menentukan kebahagiaan itu bukan nominal, bukan uang. Kebahagiaan itu tidak melulu oleh uang. Kita perlu uang, tapi tidak semua harus pakai uang. Di Klaten. Kita bawa Quran. Kebetulan waktu itu di daerah itu akan ada pemilihan. Ulang belum dibagi, Pak Kiai? Minta arahan. Maksudnya apakah ini nomor satu, nomor dua, nomor tig? Oh gak. Oh, kalian aneh bawa 1000 kok buat mereka sudah besar gitu 1.000 tuh dan tidak ada pilihan ke mana-mana. Tidak ada beari umat oleh umat untuk umat. Oh, gitu ya. Lah iya ya itulah keanehan Indonesia. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Hazairin Hasan. Tapi anak-anak di kantor manggil Babe. Tapi kalau nama panggung Erwin. Asal Palembang tapi besar Jakarta. Kantor kita Badan Wakaf Al-Qur'an di daerah Tebet Jakarta. Akte awal 2005 waktu itu masih BHP. Sekarang jadi yayasan. Dulu sebelum di BWA saya sempat di pasar modal. Jadi yang saya urusin tuh uang-uang besar dan saya banyak private klien sehingga ilmu itu bisa dipakai ketika saya di BWA, kami mulai buka pasar corporate. Kalau dulu hanya pengajian perkantoran, mulai kita buka ke corporate. Bapak di pasar modal dari usia berapa, Pak? 25 lah sampai 40-an. Banyak ketemu ustaz-ustaz belajar. Dia bilang, "Sudah tinggalkan, cari yang lebih baik lagi." Walaupun awalnya memang ragu-ragu, apakah bisa hidup? Ternyata alhamdulillah sampai sekarang masih Allah kasih kemudahan-kemudahan, banyak kemudahan. Yang terbesar satu klien tuh ada yang nilai 15 M. Trading di saham dan banyak itu pokoknya klien yang saya pegang tuh minimal 1 M. Di bawah itu gak gak main. Walaupun efeknya memang bikin kita suka tidak tidur nyenyak apalagi kalau dunia begejolak. besok mesti ngapain gitu kan. Waktu kacau tuh istri saya bilang sering igo. Saya yang saya ingat itu waktu itu ternyata yang menentukan kebahagiaan itu bukan nominal, bukan uang. Kebahagiaan itu tidak melulu oleh uang. Kita perlu uang, tapi tidak semua harus pakai uang. Cari yang lebih barokah. Saya jadi penjahat kecil waktu itu. Antum bayangkan saya bisa discreen order. Jadi saya bisa ngapain aja itu order. Jadi saya eksekusi baru telepon. saya sudah eksekusi transaksinya 10 miliar tadi siang sudah profit lah itu kan high risk kalau los gimana dan saya lakukan itu dan mereka happy-happy so far aman-aman aja tapi ya intinya cara yang lebih baik lagi. Dan setelah kita jalani ternyata kebahagiaan itu bukan soal materi itu tadi. Kebahagiaan yang bisa dapat itu dengan membantu orang itu. Bayangkan ketika suatu daerah yang tidak ada air misalnya, kemudian dengan upaya kita dan tim kemudian dapat air, terima kasihnya mereka itu yang yang bikin merinding. [Musik] Meninggalkan dunia itu, Pak. Sudah ada pegangan waktu itu? Gak gak ada. Gak ada. Sempat pernah punya usaha, saya pernah bikin restoran, ternyata habis juga. Jadi saya pikir-pikir apa gini cara Allah clean up diri kita itu ya udah santai aja walaupun akhirnya pada awal-awal sering juga kelaparan serius serius serius karena di BWA minimalis awalnya kan saya dari nol betul masuk kerja juga dengan manajemen pengajian kan jadi enggak usah pakai CV enggak usah pakai apa gitu kan besok mulai masuk deh saya ngapain ya sudah belajar dulu kalau restoran waktu itu saya tuh sudah ingetin sama pengelola bagaimana kalau bikin cabang. Ide saya waktu itu adalah kalau bikin cabang yang agak banyak kita jualan ikan aja. Inti jual ikan. Jadi kalau 1 kilo kita ambil margin berapa? Rp5.000 gitu kan. Kan restoran kita sendiri kan si pengelolanya belum sempat bikin cabang tempatnya udah mau dipakai sama yang punya. tiba-tiba tutup udah enggak bisa ngapa-ngapain lagi. Karena dulu itu awalnya ada saudara yang partnership dengan orang lain. Dia bilang, "Nih, partner saya check out mau enggak inject injek jalan jalan sampai 2 tahun lah." Tapi ya udah memang itu cara Allah ya sudahlah enggak usah dibikin susah ngizi going aja l santai aja gitu. Saya bukan founder. Ada beberapa kawan-kawan yang founder. Saya masuk itu 2010. CEO-nya yang ngajak karena teman teman. Dek mau enggak sini bantuin bantuin kita. Memang karena lembaga baru rule out of game-nya masih seringkiali enggak jelas ya. Makanya ke depan pelan-pelan kita perbaiki, kita perbaiki. Jadi saya berpikir sudahlah kalau saya akan besarkan ini bersama-sama harus kita pikirkan nih apa yang mesti di bisa dibuat. Masuk ke corporate, belajar pelan-pelan ke corporate kan. Kalau secara umum di BWA itu programnya banyak. Ada Al-Qur'an, program air, program listrik, kemanusiaan, pendidikan. Nah, itu kita akhirnya banyak membantu orang. Hanya saja memang urusan yang agak besar itu Quran dan air. Saya salah satu BOD di sana, tapi urusin network sama distribution channel karena distribution lebih banyak ke Al-Qur'an. Tapi kalau air kadang-kadang BOD yang lain enggak bisa ya saya yang bantu meresmikan. Karena sebenarnya sumbangan besar untuk sekarang ini Al-Qur'an dan air itu yang lain masih kecil. Al-Qur'an dan air bisa 85%. Lekoleko BWA. Air yang dulu tidak ada sekarang Allah izinkan ada di kampung kita, di desa kita. Kita pandingnya dari masyarakat aja. Dan sekarang kita ada cabang ya lebih kurang 30 lah. 30 cabang tapi tidak di semua provinsi. Kita juga sudah pikirkan bahwa ke depan kita harus ada bisnis sendiri yang bisa support. Karena ini kan tidak, ini betul-betul dari dari masyarakat saja, crowdfunding aja. Tapi online kan belum terbesar. Yang besar ya masih offline di daerah-daerah itu. Jadi ada kawan-kawan daerah itu padrising ke masjid-masjid. Jadi ada kajian terus mereka ngajak masyarakat. Ada juga yang bikin kegiatan dengan sekolah. Jadi, wakaf go to school, ngajak anak-anak sekolah. Mungkin juga enggak terlalu besarlah, tapi yang besar lebih ke masjid, masjid-masjid itu. Makanya perlu cabang-cabang itu. Ingat-ingat saya ya mungkin salah, tapi ingat-ingat saya kalau 2024 itu 75 M ada ya. Karena average kita kalau mungkin 7 M sebulan lah ya. ya kan 7* 12 kan sudah berapa tuh 80-an kan 84 ya tapi saya hitung mungkin 75an lah karena kadang 6 kadang 7 jadi kan kalau kita bicara fikih wakaf itu memang ada sebagian yang bisa diambil tapi makruf secukupnya lah a kita ada ahlinya lagi di kantor yang urus-urus kayak gitu mereka yang atur saya gak urus-urusnya kayak gitu saya urusnya cuma distribusi aja kawan-kawan di kantor yang lebih paham yang urus-urus kayak gitu tapi pokoknya prinsipnya makruf sewajarnya saja bagian dari perjalanan yang kita lakukan dengan membawa tim media itu, itu adalah cara kita untuk membungkus. Nanti kita sampaikan ke masyarakat ini loh. Yang kedua, dulu itu kita sering juga bawa kawan-kawan yang sudah membantu terus kita ajak bareng-bareng. Akhirnya dengan distribusi Quran ini banyak komunitas, banyak orang-orang yang peduli yang membantu. Akhirnya menjadi saudara kita di Jawa Timur nih. Terutama di Sidoarjo kita ada pengusaha yang punya tracking dia support kita. Kalau area Jawa dia yang urus tuh distribusinya. Itu sudah bestib besti. Pokoknya begitulah. Kalau kita ada distribusi atau kegiatan Jawa Timur misalnya di Malang terus loncat langsung ke Malang ngamuk. Kita harus lapor dulu. Lapor ke dia nanti dia akan support. Perlu apa? Mobil berapa? Ah entar diurusin. Ya Allah ya Rahman, ya Rahim. Hari ini kami mau distribusi Al-Qur'an ke Kabupaten Sarmi. Ya Allah. Ya Allah ya Rahman, ya Rahim. Berikanlah keselamatan kepada kami ya Allah. Selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke tempat kami ya Allah. kita Quran itu kalau distribusi kita per Juli ini 2,7 juta seluruh Indonesia. Karena rata-rata itu kalau kita hitung Quran bandingnya 30.000 per Quran berarti setahun tuh Rp360.000. Karena kita awal agak serius itu ketika 2018 saya hitung itu dari 2005 sampai 2018 perolehan kita lebih kurang R500.000 500.000 ukuran. Saya bilang, "Wah, ini harus kita jadikan titik balik nih R00.000 ini. Bagaimana caranya tahun depan kita bikin project R juta setahun?" Tapi paling tidak yang saya lakukan adalah saya ingin mengukur seberapa sih kekuatan kita? Apakah yang R500.000 ini kita bisa capai dalam 6 bulan atau setahun. Dari 2018 yang R500.000 tadi, mulailah kita 2019 bikin campaign. Waktu itu campaignnya kan kempen yang ramai di luar tuh 2019 ganti presiden. Nah kita 2019 sejuta Quran satukan Indonesia. Tapi average rata-rata antara katakanlah kalau misalnya tadi 360 ya segitulah yang bisa kita banding untuk Al-Qur'an. Kalau distribusi secara umum mulai dari Aceh sampai bulan lalu tuh kita ke Papua. Papua tuh kita bawa R0.000 Ibu kita bagi-bagi. Ada yang Papua Barat Daya, Papua Barat Daya itu ada Sorong, ada Raja Empat, terus yang daerah lain lagi ada yang ke Biak dan ke Jayapura. Saya yang ke Jayapura, Jayapura, Sentani, Kerom. Terus saya mampir ke Timika buka jalan. Alhamdulillah dengan izin Allah ketemu kawan di sana dikenalin ketemu beliau. Pokoknya dia yang ngurusin imam masjid musala sekabupaten. Jadi paslah ketemu orang yang pas. Dia bilang nanti kalau mau distribusi entar kita atur. Bahkan mudah-mudahan ada potensi untuk ngajak masyarakat lain tidak cuman dapat Quran tapi juga berwakaf. Maksudnya masyarakat yang ditimika itu kan area terbatas kan. Enggak sebauk. Alhamdulillah kita sudah sampai di tanah Papua. Untuk kali ini kita membawa 60.000 Al-Qur'an yang kita bagikan di berbagai wilayah. Kalau air itu terakhir itu yang saya ingat sudah 55 yang diresmikan. Kalau listrik masih sedikit. Listrik tuh daerah Sorong ada. Terus yang kecil-kecil dulu di daerah Sukabumi. Kalau di Sukabumi itu kerja sama dengan wanita listrik, Bu Triumpuni. Kebetulan dia teman dari CEO kita sehingga kerja samalah. Ada juga yang di Sulawesi Selatan mikrohidro air terjun. Kalau di daerah lain itu seperti yang di Sorong Selatan kita pakai solar cell. Paling tidak satu rumah ada listriknya lah. Karena gelap. Yang bikin kita semangat di Sorong itu mereka mengeluh. bilang 2018 ya kita masih Indonesia betul Pak So merdeka lama betul Pak tapi tidak ada listrik sementara di Teluk Bintuni yang kira-kira mungkin 7 jam dari sana itu kan ada LNG Taguh LNG Tangguh itu sumber listrik untuk Bintun terus mereka enggak dapat itu buat mereka tuh suatu yang menyakitkan gitu kan makanya kita usahakan untuk kita bant enggak banyak cuman beberapa ratus keluarga lah yang kita bantu yang kita bikin itu yang paling sederhana lah. Kita enggak instalasi macam-macam, cuman satu unit itu bisa ditarik, bisa buat beberapa kamar tek tek gitu. Kalau malam bisa buat bohlam. Kebetulan ada kenalan yang support teknologinya dia paham terus dia bantu kita di kantor. Dibanding yang lain mungkin saya salah satu orang yang paling bodoh. Ya bodoh aja yang lain pintar ngitung pintar saya mungkin bodoh gitu kan. Nah pikiran saya sebagai orang bodoh apa yang bisa saya lakukan? ngantar Quran. Karena Quran wakaf yang kita bawa itu enggak bakal bermanfaat kalau tidak sampai ke masyarakat dan orang yang tepat gitu. Biasanya di lapangan itu kita tidak pernah gagal ketemu orang baik, ketemu ulama-ulama. Dibayar apapun tidak dibayar dia pasti ngajar Quran. Banyak di pelosok-pelosok itu kita ketemu mereka, kita support mereka dengan Quran. Walaupun kadang-kadang mereka suka periksa Quran kita. Ini Quran aneh katanya. Loh, kenapa Pak? Karena di belakang tidak ada gambar. Jadi selama ini Quran itu datang 5 tahun sekali mesti ada gambar. Gambar orang cari calon calon apa gitu. Calon DPR, calon e gitu-gitu lah. Kita kosongan gitu kan. Kita paling ada alamatnya kita terus ada tasih dari Kementerian Agama. Udah bahkan ada di Klaten. Kita bawa Quran kita taruh ke sebuah pondok tapi yang nitip kawan kita. Kita bilang titip dulu besok kita serah-serahan. Dia enggak mau bagi ke santrinya. Nunggu kita datang. Kebetulan waktu itu di daerah itu akan ada pemilihan. Gu bilang belum dibagi, Pak Yi. Minta arahan. Maksudnya apakah ini nomor satu, nomor dua, nomor tig? Oh gak kalian aneh bawa 1000 kok buat mereka sudah besar gitu 1000 tuh. Dan tidak ada pilihan ke mana-mana. Tidak ada bei. Ini dari umat oleh umat untuk umat. Oh gitu ya. Lah iya ya. Itulah keanehan Indonesia. Kalau saya bilang sih basicnya itu hanya khairunas anfahum linas ingin berbuat baik aja. Ya itulah kita bisanya itu gitu kan kita enggak bisa bikin sekolahan enggak ada modal kan sesederhana itulah walaupun ternyata sesederana itu akhirnya jadi besar gitu kan. Kalau dulu kita awal-awal misalnya distribusi Quran 5.000 sudah besar sekarang 5.000 kecil ya kita R0.000 Ibu sekarang turun aja kan di waktu yang bersamaan Rp80.000 40 * 2 Jawa Tengah Rp40.000, Jawa Timur Rp40.000 bulan depan kita lagi prepare mungkin pertengahan Agustus Sulawesi Utara Rp40.000, Sulawesi Tenggara tuh Buton itu mungkin Rp0.000 jadi Rp100.000. Jadi begini, kita bicara data dulu penting nih. Dan ini yang keluarkan Kementerian Agama. 65% orang Indonesia tidak bisa baca Quran. 65% ngeri ini. Bahkan di kampus besar di Jawa Barat 90% mahasiswa tidak bisa baca Quran. Yang orang Islam ya coba dirandom, dicek dah. Ah itu kan fakta yang mengerikan. Kemudian selanjutnya soal Al-Qur'an. Kalau antum lihat di kota besar mungkin satu rumah itu mungkin ada lima, ada enam. Tapi jangan bayangkan di daerah-daerah terpencil itu kasus di Tidore sebelum kita datang ada pondok yang anak-anak itu ngaji harus antri. Satu Quran itu gentian. Yang lain main-main dulu yang satu ngaji. Selesai ngaji dia ikut main yang maju bisa satu Quran buat 10 orang. Nah, ini fakta yang ada di negeri kita. Makanya kita konsentrasi ke sana. Nah, kalau kita mau kompasi yang berikutnya kita lakukan kompasi. Katakanlah kalau orang Islam di Indonesia ini ada 200 juta, 50% sudah bisa ngaji. Nah, yang 50% R juta itu enggak bisa ngaji. Kalau enggak bisa ngaji berarti enggak ada Quran dia. Itulah pasar yang kita garap. Berapa tahun kita bisa selesaikan? Kalau katakanlah tadi catatan kita tadi 5 tahun terakhir kita bisa kumpulkan 2,5 juta gitu, berarti berapa puluh tahun. Yang kedua, lembaga-lembaga lain yang punya program seperti ini, dia punya problem dengan apa? Distribusinya. Jadi, melakukan distribusi Quran itu memerlukan orang-orang yang agak gila. Kami ini sudah gila semua nih, punya keberanian untuk masuk ke berbagai daerah. Dan seingat saya kalau yang mungkin yang katakanlah ekstrem ekstrem yang pernah kita lakukan kita dari Wakatobi ke Tali Abu. Tali Abu itu Maluku Utara paling barat. Kita harus tempuh 40 jam naik kapal laut. Kapalnya kapal kecil. Jangan bayangkan kapal peri besar ya. Kebetulan kita ada kapal wakaf 3,5 kalau saya gak salah kali 18. Kita harus pakai itu. Alhamdulillah. Jadi itu kan kapal itu di bawah itu kayak ada tempat tidur gitu. Di bawahnya tuh mesin di tengah itu. Jadi harus pegangan dan tas itu harus kita ikat glok glok gitu 40 jam. Alhamdulillah kita di bulan Ramadan 2018 itu masih bisa buka puasa dengan air putih dan pisang kecil sahur pakai itu juga luar biasa. Dan alhamdulillah kita sudah mulai merasakan apa yang disebut dengan tradisional detok. Tradisional detok itu cara Allah mengeluarkan isi perut kita. Kita harus asam lambungnya naik sekali harus keluar kan. Itu kan tradisional detok. Kalau enggak dikeluarkan sakit itu bahasa kampungnya muntah. Kalau bahasa bulehnya jetpap. Jadi aku bilang sama kawan-kawan, kalau ada orang masih enggak percaya sama Allah, ikut dijamin jalan 2 jam. Allahu Akbar. Karena dihajar gelombang. Makanya gua bilang sama kawan-kawan mulai sekarang kita harus mewakafkan diri kita sama Allah. Urusan yang lain enggak usah dipikirin dah. Karena kalau kita berjuang membela agama Allah, biarlah Allah yang baresin urusan kita. Kalau yang emosional tuh kita dulu ada projek air di Gunung Kidul itu. Nah, kita ini projject kecil. Jadi, kita harus masuk gua kira-kira 100 m. Jadi guanya itu pertama 10 m itu harus merayap. Merayap bayi nih. Merayap bayi. Setelah itu agak tegak dikit nunduk-nunduk sampai ke ujung itu kira-kira 80 m lah totalnya. Nah di sana ada lueng. Orang orang sana bilang lueng. Lubang. Lubang. Nah baru turun ke bawah lebih kurang 100 m lah. Di situ ada sungai bawah tanah. Sungai bawah tanah itulah yang kita eksplore. Dengan cara apa? Kita bikin bendungan. Hitungan kita itu mungkin bisa R1 juta liter. Nah itu tinggal kita sedot. Teorinya gitulah. Tapi turunnya nangis tu. Hanya saja tidak semudah itu juga karena ternyata dalam perjalanan uangnya habis. Cari lagi siapa penana. Alhamdulillah dengan izin Allah ada pejabat tinggi negara yang istrinya orang sana. Lewat dialah akhirnya beliau harus keluar sampai 1,5 miliar. Akhirnya sekarang sudah mengalir tuh ke berbagai kampung. Momentumnya itu momentum ketika peresmian saya melipir nih. Biarlah yang lain-lain lah ya. Saya melipir aja kan. Tapi tiba-tiba setelah premmen itu ada mbah-mbah pegang saya bahasa Jawa. Kira-kira pokoknya dia bilang, "Ja kalau enggak kena kamu enggak ada air." Ah, enggaklah. Aku bilang saya bilang, "Kok segini ya?" Ada lagi projek lain di NTT di TTS Timur Tengah Selatan itu secara kasat mata enggak ada sumber air. Tetapi di akar-akar pohon itu air pada keluar. Nah, sama kawan-kawan itu ditampunglah. Jadi ada bak penampungan begitu sudah banyak kan kita bisa dorong. Kalau gak salah beberapa tempat itu ada masjidnya tapi banyakan gereja. Gereja kita bantu aja. Makanya mereka bilang ini air Islam. Oh gitu. Air Islam? Iya. Iya air Islam. [Musik] Kalau pasar modal kan komisi ya pernahlah betah R juta biasa itu ya. Enggak. Justru yang ngedorong kuat tuh malah istri. Udahlah tinggalin aja katanya. Benar nih. Benar nih. Ya udah ya udah berangkat. Ah kalau kita yang putusin dia enggak enggak terima kan berantem terus tiap hari kan kelontang kelontang gitu kan. Iya. Jadi istri saya sudah mendahului kita sudah 13 bulan. ini kan Juli kan dia meninggal Juni tahun lalu. Kadang-kadang dulu itu kalau saya bilang jadwalnya seminggu ternyata pulangnya baru 8 hari gitu kan masuk seminggu dia kawan pulang seminggu aku bilang sama dia yang kita lakukan ini kebaikan buat orang enggak semua orang bisa lakukan ini. Kalau ibu dan anak-anak di rumah support kita juga tenang di lapangan insyaallah ada pahala buat ibu dan bagian orang lain yang di rumah. Oh, diam dia. Oh, iya. Siap. Tapi belanja ditambah ya. Siap. Jadi pernah seingat saya di di daerah Kerinci ya, Sungai Penuh. Kita dari Padang ke Kerinci itu jauh kan, jaraknya sekitar 8 jam. Nah, pada saat sebelum masuk ke kerinci itu istri saya telepon malam-malam, "Besok kirim uang ya? Enggak bisa makan nih." "Oh iya ya." ya, "Ya, insyaallah padahal enggak ada uang." Ya udah, ya. Malamnya ngadu saya sama Allah. Ya Allah, jangan kau permalukan umatmu ni, Ya Allah. kita lagi safar, "Ya Allah berilah penyelesaian yang paling baik untuk umatmu ini, Ya Allah." Dah sebenarnya kalau masih butuh dia nelpon lagi kan enggak nelepon-nelepon. Zaman dulu kan masih ATM-ATM-an kan orang di bawah 2015. Sampai saya pulang 4 hari kemudian enggak nelepon lagi. Pas pulang saya tanya, "Eh, kenapa kemarin gua enggak nelepon lagi?" Senyum-senyum deh. "Eh, serius bilang." Rupanya ada kawan kita, kawan saya dan kawan istri saya itu nelpon laki lu gua telepon enggak ngangkat-ngangkat ya? Oh iya lagi luar kota. Kenapa? Aku tuh ada hutang. Ah udah ke aku aja. Selesai itu. Jadi Allah ganti dengan cara yang seperti itu. Saya juga lupa apakah ada hutang apa enggak. Boncara Allah kayak gitulah menyelesaikan urusan uang tadi itu. Dan saya ini luar biasa. Jadi saya sampaiin ke kawan-kawan, ke tim kita, perjalanan kita lakukan ini good timing untuk apa? untuk berdoa sama Allah. Ada hajat apapun, ada masalah apapun, inilah momentum yang paling baik untuk minta sama Allah. Dan kita dalam perjalanan kita dari hal-hal yang ya terutama yang kecil-kecil ya, misalnya singgah ke rumah kiai gitu kan. Terus saya bilang sama kawan-kawan nih sore ini enaknya makan yang hangat-hangat ya. Apa ya kata kawan yang satu? Eh, kuah berkuah ya. Insyaallah pamitlah kiai. Mau pamit, mau pamit kita. Jangan dikeluarin bakso. Kan kita enggak tahu tuh ada bakso gitu kan. Ya begitulah cara Allah menyenangkan kita yang di dalam perjalanan ini sedikit banyak bantu orang gitu kan. Termasuk ya menghadapi fenomena sedang tidak sehat. Saya bilang sama kawan-kawan jangan nyesel kalau kita lagi jalan terus Allah kasih sakit. Bersyukur itu cara Allah untuk mengurangi dosa kita. Dan memang nanti 5 10 menit alhamdulillah dikurangi dosa. Kita kita sadar tuh begitu sadar kita langsung sembuh. Auto accountnya stop. Akhirnya ketika kebahagiaan membantu orang itu sudah tertanam, kayaknya yang lain-lain minggir deh. Antum bayangin kalau saya datang ke Tulungagung, katakanlah 5 tahun lagu Tulung Agung, terus kata teman-teman Tulung Agung mau dibagi lagi? itu buat saya bahagia karena saya akan ketemu orang-orang yang pernah ketemu dulu 5 tahun yang lalu. Itu itu yang mendorong semuanya tuh udah enggak ada artinya dibanding dengan kebahagiaan jumlah orang-orang itu. Jadi saudara saya di mana-mana tuh jadi banyak nyambung orang-orang yang bantu kita itu di Medan kita ada kawan, di Padang kita ada kawan, dan di berbagai daerah lain. Bahkan dia kalau di Medan itu pokoknya projek Medan ada R50.000 yang kita mau kirim dari awal pengiriman. dia yang sudah atur free obas. Dia juga punya transport sampai di Medan dia yang urus. Begitu di Medan kan kita bagi-bagi tuh ke daerah-daerah yang lain-lain. Jaraknya jauh-jauh. Pokoknya kita cuman kasih titik aja, "Bang, kabupaten ini satu, kabupaten ini ini 5.000 nih." Selesai itu sudah dia bilang, "Laporan Quran sudah di posisi tinggal kita datang." Kan begitu datang nanti dia bilang, "Ini mobil cuma dua nih. Disiapin lagi mobil nih mobil nih." Kadang-kadang dia juga membersamai mau ngikut distribusi juga. Karena saya pernah ngingetin mereka itu, K bilang, "Antum mau bantu wakaf ataupun tidak selama antum support, langsung atau tidak langsung, insyaallah pahala mengalir." Oh, ternyata mereka semangat. Kalau kata ada ulama bilang pahalanya terlalu besar untuk ditinggalkan. Jadi udah dorong aja udah paksain, jangan dikasih ke orang. Bagi saya sih bukan kerugian. E yang penting bagi saya adalah saya bisnis dengan Allah. He. Ya sudah hitungannya sudah pasti plus. He ya. Enggak ada yang enggak plus kalau hitungan dengan Allah. Makanya saya yang minta sama BWA tiap tahun saya kerjain. Semua mereka ini tim program. Memang tugasnya dia kan dia lakukan. terpaksa enggak terpaksa gitu kan. Pokoknya jadi luculah. Nah, kalau saya membersamai mereka, saya selalu mengajak bagaimana ee membuat ini jadi menyenangkan walaupun kadang-kadang suka ada pelanggaran. Contoh pelanggarannya kita biasanya rehat itu hari-hari terakhir. Oh, ini ada rekreasi kita boleh mampir tuh. Ini enggak hari pertama lihat ini ada air terjun mampir orang ni. Pelanggaran nih sebenarnya pelanggaran ini. Gak boleh bilang ya. Tapi artinya kita membuat bagaimana suasana itu jadi menyenangkan sehingga beban itu hilang. Kalau tanya sampai kapan ya sampai saya udah enggak ada tenaga lah. Saya sih pengin terus nih 60 Mas baru karena beda. Kalau saya bilang sudah 60 berarti almost finish. Kalau baru 60 getting start. Ini kan soal sudut pandang kan. Itu sudut pandang itu membedakan hasil kan. Jadi saya berpikirnya positif aja selama kantor bilang, "Udah boleh ah sudah tua ya apa boleh buat. Saya distribusi sendiri aja kalau enggak boleh." Kalau distribusi kita ini bulan depan tuh ke Sulawesi, utara dan tenggara Buton itu. Terus nanti ada juga yang ke Maluku Utara, kemudian ada lagi ke Kalimantan Tengah. Itulah sampai akhir tahun. Desember kita stop, Ramadan juga kita stop. Kalau dari Al-Qur'an mohon doa kita tetap istikamah dan Allah kasih mudah. Kita menyaksikan bahwa banyak anak-anak yang mau tidak mau dari berangkat sekolah pagi-pagi kemudian siang hari pulangnya dia harus mengambil air. Mereka menggunakan alat-alat seperti ini nih, seperti bambu ini. Bambu ini memang jadi mainan tapi dipergunakan untuk memasang nanti memasang dirigen-jirigen setelah mereka pulang sekolah sehingga yang dibawa lebih dari satu. Kalau mau bantu BWA bisa lihat di bwa.id. Di bwa.id itu bisa lihat project secara spesifik. Karena macam Quran tuh Quran ke mana aja. Macam air tuh ada juga air. Kalau yang terdekat daerah sini tuh ada yang di daerah Blitar. Jadi nanti di sana bisa lihat masih kurang berapa, mau bantu berapa. Karena itu kan buat ramai-ramai, buat sama-sama. Yang berikutnya lagi kita juga pengin luasan jangkauan kita itu sampai ke luar negeri. Insyaallah kita akan support. Karena ada beberapa kali kita upayakan misalnya waktu saya umrah berangkat ke sana saya ketemu orang saya bilang, "Pak, mau enggak Bapak saya kasih tahu sesuatu yang pahalanya besar sekali?" Apa tuh? Katanya, "Bapak berikrar wakaf sama saya, tapi wakafnya buat di Indonesia, tapi ikrarnya di Mekah. Pahalanya 100.000 kali, Pak. Ya udah salaman. Terus dia wakaf R 2,5 juta. 2,5 juta kali R.000 berapa tuh? 2,5 M apa 25 M? Ya kayak gitulah kira-kira. Nah, kita kepengin sebenarnya secara natural wakif-wakib dari luar negeri yang support kita. Insyaallah akan terbuka karena kemarin kita ketemu dengan ee ibu-ibu yang bantu distribusi di daerah masih masuk Malang Selatan dan di sana katanya banyak ini adiknya ada yang di luar negeri ya. entar kita coba koneksikan ee untuk bantu kita projek-projek kita melalui PMI, pekerja migran Indonesia yang ada di Hongkong, yang ada di Malaysia. Saya Haji Hajarin Hasan dari Badan Wakaf Al-Qur'an beralamat di Jalan Tebetur Dalam 1 mengucapkan terima kasih pada teman-teman di pecah telur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.