Transcript
sJvcRGtMZZk • Ibu Desa JAGO MARKETING Retail: Toko Tetap Laris di Tengah Gempuran Minimarket Modern
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0574_sJvcRGtMZZk.txt
Kind: captions
Language: id
Mengapa saya bilang itu ngerinya kayak
gitu? Turunnya daya beli sekarang ini
betul. Kemudian dihimpit dengan
kompetitor yang semakin banyak. Satu
lagi regulasi pemerintah yang semakin
menggemaskan.
Jadi pajaknya naik ya benar. Cuman 1%
dari 10% menjadi 11%. Masyaallah. Itu
bagi orang retail yang mengumpulkan
rupiah demi rupiah persentasenya kecil
itu sungguh
sangat terasa ya.
Sangat terasa. Betul. Paling menjadi
penyebab utama dari permasalahan besar
uang habis, barang habis itu campurnya
uang kasir sama uang kasur. Jadi, banyak
pengusaha rilaten
bikin laporan keuangan
sehingga uangnya toko ya uangnya kasur
gitu kan nyampur. Kita ada satu klien
yang saldonya itu hampir 1 F. Jadi
beliau itu beli Fortuner dua, beli rumah
tiga kayak gitu. Ternyata tempo
pembayaran ke suppliernya itu 3 bulan,
Pak. Terus kemudian 1 hari omsetnya R00
juta. Kebayang R00 juta 3 bulan berapa M
ada di saldo lah? Itu kan jadi hijau
matanya. Itu lihat apa-apa pengin gitu
kan punya hutang 4,4 M.
Beliau itu mau nyerah sebenarnya sudah
gak kuat dengan delay dengan tagihan
dengan mungkin teguran keras dari
supplier gitu ya. Sudah sangat
itu kita pantau itu di bulan kees9 itu
sudah R juta cabangnya sudah mau tujuh.
Eh, gimana ya? Marem gitu. Senang banget
rasanya bisa melihat klien bangkit lagi
gitu.
Syukuri perjalanan hidup kita. Karena
Allah itu tidak pernah iseng membuat
takdir kita.
Allah enggak pernah iseng, Bu. Ya,
Allah enggak pernah iseng.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah. Selamat datang Bu Ana di
studio pecah Telur.
Terima kasih Pak Agung.
Ini sudah waktunya ketemu ya.
Nah, Bu Ana ini berarti apa, Ibu?
Pengusaha di bidang ritail begitu Ibu.
Kalau Bu Ana memperkenalkan diri
sekarang seperti apa? Berarti
praktisi dan konsultan rettail. Bisnis
ril.
Oh, gitu. Praktisi dan konsultan retail.
Bisnis ril.
Tapi memang secara hari ini itu lebih
besaran mana antara praktisi sama
konsultannya?
Mungkin ada tiga ya, 30-an. 30, 30, 40
gitu.
Oh, gitu.
Edukator, konsultan, sama praktisi.
Ee edukator, konsultan. Kalau
edukator sama konsultan itu berbeda ya?
Berbeda. H
berbeda. Jadi kita kalau di retail
academy, pambayin retail academy, saya
lebih ke edukatornya membuat kelas.
Kelas tentang retail.
He. Kalau konsultan mendampingi
langsung.
Mendampingi langsung. Kalau yang retail
praktisi kita juga ada toko punya toko
gitu.
Siap siap
gitu.
Kalau Bu Ana nyaman mana di antara tiga
yang titel yang sekarang diemban itu
yang paling nyaman, Bu Ana?
Ee sebenarnya ada beberapa kepentingan
yang membuat nyaman sebenarnya. Kalau
paling nyaman saya menjadi konsultan.
Oke.
Nah, konsultan itu bagi saya banyak apa
ya? banyak benefit yang bisa saya terima
ketika menjadi konsultan. Saya itu
sedang memudahkan urusan orang lain. Itu
powerful banget saya di situ
semangatnya.
Kemudian ketemu orang baru menjadi
saudara karena kita mikir bareng.
He.
Terus kemudian traveling kulineran gitu
kan jadi seru gitu Pak.
He. Dan memang rata-rata bukan di kota
sendiri ya jauh-jauh.
Iya betul. Ada yang di kota sendiri tapi
ada juga yang di luar provinsi begitu.
Oh. Siap.
Iya.
Oke. Saya ingin mengulik lagi mungkin
agak ada yang sedikit lupa mungkin ini
Bu Ana ini siapa sih? Terus apa yang
pernah dilakukan? Nah, Bu Ana ini
mengawali bisnis ril tahun berapa, Bu?
Ana
ee mengawali bisnis ril-nya itu tidak
sengaja 1995.
Oh, lama ya?
Iya. Jadi karena saya itu lulus dari
sekolah perawat, kerja di rumah sakit
swasta di Blitar, kemudian hamil anak
pertama, nah itu mulailah
sudah mau cuti dari cuti hamil itu
karena ee ini hiperemis tiap hari
muntah-muntah gitu, Pak. Terus cuti.
Nah, di rumah suami itu keluarga toko
grosir.
Nah, suami sedang menjalankan bisnis
toko grosir peternakan, alat listrik,
dan perabot rumah tangga.
Nah, akhirnya begitu cuti dari rumah
sakit 195
itu
saya mulai bantu di toko.
Nah, itu 3 hari bantu di toko ditinggal
suami untuk jalankan bisnis yang lain.
Tapi tetap di satu rumah ya, Masnya.
Tapi udah enggak nge-handle toko. Jadi
mau enggak mau saya dipaksa untuk
belajarnya cepat gitu, Pak.
Nah, itu 95. Jadi terhitung kalau sudah
sampai sekarang sudah 30 tahun.
Oh, iya ya. Sudah lama ya, Bu?
Sudah 30 tahun.
Ibarat selukbeluknya sekarang sudah tahu
ya.
Iya betul. Insyaallah.
Pojokannya di mana? Ini barang ada di
mana? Uang nyel
pernah dibanting-banting berkali-kali
gitu, Pak.
Jadi
berarti memang awalnya karena
keterpaksaan ya.
Betul. Terpaksa. tidak sengaja mungkin
ya kalau terpaksa itu ya berbeda ya. He
ketidaksengajaan.
Ketidaksengajaan ya karena
ee cuti terus kemudian lagi enggak sehat
gitu kan harus di rumah terus boring
ngapain nih bantu suami ah gitu.
Tapi memang waktu merawat kan enggak
sehat pas waktu ril jadi sehat
waktu di retail.
Iya waktu di grosir itu.
Oh itu enggak sehatnya kan karena
hiberemisis hamil. Kalau setelah itu
sehat Pak.
itu sudah melahirkan berarti casnya.
Belum.
Oh, belum. Belum.
Belum. Masih
ee 7 bulan. Hampir 7 bulan. Hampil 7
bulan. Emang sudah waktunya sehat kali
ya?
Oh, ya. Kan ada fase-fasenya.
Iya. Tapi mungkin mungkin jiwa
merdekanya itu lebih
lebih ada ketika menjadi pengusaha ya
gitu. Kalau untuk menjadi pegawai waktu
itu karyawan rumah sakit itu ritme
kerjanya untuk orang sebenan saya cepat
bosan itu benar-benar bikin pressure
sendiri gitu Pak.
Tinggi ya Bu ya?
Ya. Sebenarnya kalau untuk orang yang
benar-benar menjawai di situ enggak ya
enggak enggak begitu tinggi. Tapi saya
bosannya itu nanti jam sekian ngapain?
jam sekian ngapain besok begitu lagi,
besok begitu lagi. Yang saya terhibur
kalau dikerja di rumah sakit itu adalah
bertemu banyak orang. Mungkin saya
memang orangnya senang ketemu banyak
orang gitu.
Oh, makanya juga di konsultan tadi
senang karena ketemu banyak orang.
Ketemu banyak orang, ketemu orang baru
tiba-tiba cepat dekat, cepat klik kayak
gitu.
Hm. Jiwanya di situ memang, Bu Ana ya.
Mungkin begitu, Pak.
Oke. Nah, kemudian kalau toko sendiri,
Bu, ee kan awalnya dari toko grosir alat
peternakan
I
di MITAR. Namanya apa, Bu? Itu, Bu.
Waktu itu tokonya itu Lestari. Lestari
PS Poltri Shop.
Oh, Lestari. Oke. Kalau yang pambayon
Retail Group itu bukan beda
bukan. Jadi pada waktu itu kita belum
punya pikiran untuk membuat SPT, untuk
membuat perusahaan toko gitu aja. Oke.
Nah, itu jalankan toko waktu itu
patungan itu tokonya kakak kita yang
pengelolanya kayak gitu.
Oh.
Nah, itu waktu itu terus 2000 tahun 2000
kita mulai patungan lagi sama kakak
untuk buat toko grosir sembako.
H. He
2014 tambah lagi toko grosir lagi kita
partner dengan orang lain. Terus 2018
buka minimarket terpadu. Jadi jualan
sayuran, telur, tempe, tahu kayak gitu.
2018.
Nah, 2019 mulai ada orang yang minta
tolong. Jadi ada beberapa teman yang
kita ketemu mungkin di waktu itu di
Dinkes Dinas Kesehatan ada pembinaan
dari Dinkes tentang penataan barang.
Kita tukaran nomor telepon. 3 tahun
berikutnya itu di 2019 beliau
menghubungi saya karena pengin dibantu
mikirin tokonya. Tokonya enggak mampu
bayar karyawan. Padahal tokonya besar,
minimarketnya besar. Ternyata karena
sepi.
He heeh. sepi. Terus coba saya datangi,
saya bantu, coba dianalisa penyebabnya
apa. Waktu itu omsetnya per hari masih
Rp600.000.
Terus kemudian kita coba analisa apa
yang menyebabkan tokonya sepi. Itu 5
bulan setengah kita dampingi
alhamdulillah sehari Rp2 juta.
Omsetnya
dari 600, Bu, ya?
Dari Rp600.000.
Dari satu karyawan enggak bisa bayar,
sekarang kan sudah
ya. itu
sebelum masuk ke situ, Bu Ana, sebelum
masuk ke situ, saya masih penasaran
dengan toko yang Bu Ana kelola sendiri
tadi, yang dipraktisi tadi.
Heeh.
Berarti kalau saat ini kalau dikatakan
saat ini berarti mengelola berapa toko
Bu Ana? Yang
kalau yang milik sendiri itu kita
berarti empat.
Milik sendiri.
Milik sendiri. Ini empat. Terus kemudian
waktu awal kita memakai skema kemitraan.
Jadi kita yang mengelola secara
manajemen permodalan itu dari mitranya.
Oke.
Itu di 2019 itu kita menjalankan itu.
Jadi beberapa klien itu kita suplai
barangnya, kita dampingi manajemennya
seperti itu.
Tapi lama-lama ada yang terjadi di
bisnis kita yang lain, keluarga kita
yang lain sehingga menimbulkan
permodalan di toko kami yang nyuplai ke
mitra itu terhambat.
Akhirnya kita enggak bisa nyuplai lagi
barang, enggak bisa nyuplai barang ke
mitra. Nah, itu kebangkrutan. Semoga
kebangkrutan terakhir ya.
Gim gimana tadi Bu Guna?
Kan awalnya kita membuat kemitraan
dengan cara kita menyuplai barang.
Menyuplai barang ke toko itu kan mitra.
Berarti mitra itu modelnya cuma bangunan
sama
dana
toko aja.
Iya. Bangunan toko, Dana. Nah, itu kita
yang suplai barang sambil me
ee mendampingi manajemennya. Begitu.
Nah, API ee berjalan cuman 1 tahun
setengah di bisnis kita yang lain di
peternakan waktu itu kita colab.
Oh, berarti enggak ada kaitannya sama
Mart ini yang yang
enggak enggak ada kaitannya sama Mat.
Bisnis peternakannya Bu Ana dan
keluarga. Iya, betul. Itu kolab
sehingga semua permodalan toko tersedot
ke peternakan.
Oh, untuk nutupi bisnis lain peternakan
tadi.
Iya betul. Menutupi menutupi
hutang-hutang ke supplier peternakannya.
He.
Karena waktu itu ee ayamnya itu murah
banget di obral itu Rp10.000 dapat 4
ekor.
Rp10.000 dapat 4 ekor.
Jadi 2.500-an per ekor itu ayam siap
telur.
HPP-nya aja itu Rp52.000.
Oh, yang bertelur, Bu. Ya,
betul. Siap untuk bertelur.
Lek ngarani opo? Eh, Oh, iya. Pulet ya,
lek bebek bayah ngoten nik.
Betul. Siap telur.
Nah, siap telur itu. Nah, akhirnya itu
yang menyedot semua permodalan kita.
Akhirnya kita tidak bisa lagi ke
akhirnya kita lepas kemitraan itu mereka
tetap jalan tapi kalau untuk sharing
konsultasi tetap jalan sampai sekarang.
Itu untuk yang konsep kemitraan dulu itu
kita akhirnya lepas gitu.
Sampai berapa yang lepas waktu itu Bu?
Tujuh. Yang lepas tujuh.
Oh lumayan ya Bu.
Heeh. Lumayan. Lumayan sebetulnya.
Kalau kebangkrutannya banyak Bu ya.
Buana
kebangkrutannya itu 1,8.
Hm. He.
1,8 itu cukup membuat kita
pontang-panting ya.
1,8 miliar ya, Bu ya?
Iya. 1,8 miliar
itu cukup buat pontang panting. Nah, itu
sebenarnya
2000 terjadi 2018 tapi dampaknya sampai
itu setelah pandemi. Walaupun tokonya
running gitu.
Heeh. Heeh.
Tokonya running tapi runningnya akhirnya
keterbatasan untuk pengadaan
barang, kelengkapan barang, putarannya
sedikit. Nah, ini waktu itu saya
seolah-olah itu ee sama Allah itu apa
ya? Protes gitu loh, Pak. Aku
protes.
Protes. Karena kenapa bisnis saya kok
dibuat bertubi-tubi bermasalah?
Bermasalah di bisnis yang peternakan.
Kemudian merembet bermasalah di tokonya
karena tokonya kelengkapan barangnya
kurang.
Heeh. Heeh.
Sampai
kayak udah mau nyerah, udahlah tokonya
ditutup saja.
Yang empat sisanya itu.
Iya. karena kita benar-benar terseret
terseret-seret ya untuk pemenuhan
kebutuhan barangnya. He.
Nah, ini terjadi delay untuk pembayaran
di supplier kayak gitu. Itu benar-benar
berat waktu itu
18 19 20.
Heeh.
Waktu kayak protes-protesnya itu ya
dengan apa itu gampangnya ada di grup WA
itu sedang ngirim
tafsir dari surat Adduha.
Wah. Apa itu, Bu?
Nah, itu saya mengingat apa itu turunnya
surat itu. Pernah mendengarkan ceramah
seorang ustaz ya, bahwa itu turun ketika
Rasulullah itu sudah berbulan-bulan
tidak turun wahyu.
E,
jadi Rasulullah merasa sudah dilepas
sama Allah gitu, tidak dipedulikan ya,
ditinggal. Dan itu yang saya rasakan
waktu itu.
He.
Dan ketika ada surat aduhahu kemudian
dengan Nuzulul apa itu ayatnya gitu ya,
Nzulul Quran.
Nzulul asbabnya gitu ya.
Asbabun nuzul Bu.
Kalau nuzul Quran kan yang anu ya 17
azbabun nuzul. Jadi turunnya itu dengan
kondisi seperti itu itu relate banget
dengan kondisi saya dan saya juga
mendapatkan jawaban seperti yang
Rasulullah dapatkan
bahwa saya tidak ditinggalkan.
Semua ini adalah proses yang sedang
Allah jalankan ke saya gitu. Saya pun
menunggu kira-kira endingnya seperti apa
nanti.
Heeh. Heeh. Heeh.
Nah, itu yang membuat saya powerful di
konsultan.
Karena masa-masa saya tidak memenuhi
bisa memenuhi barang, barangnya habis,
uangnya habis. Itu benar-benar saya
alami sendiri.
Heeh. Heeh. He.
Jadi ketika mendapatkan klien dengan
permasalahan serupa, wah saya excited
untuk menyelesaikan karena saya pernah
ada di fase itu. Iya,
betul.
Tapi akhirnya ee yang empat tadi
terselamatkan, Bu ya? Retail yang empat
itu tadi.
Betul. Tetap terselamatkan,
tetap ada.
Iya, betul. Sampai sekarang. Nah,
kemudian tetap ada dan itu menjadi
laboratoriumnya saya untuk
uji coba untuk riset-riset apa gitu.
Betul. Risetnya kepaksa sih sebenarnya
ya risetnya karena perjalanan itu tadi
kenapa sih harus dikasih masalah
bertubi-tubi gitu.
Iya. Iya.
Ternyata
2019 seperti itu. 2021
antrian panjang pendampingan karena
video pecah telur yang pertama.
Wah, alhamdulillah. Alhamdulillah itu
antrian panjang untuk pendampingan.
Betul pendampingannya panjang karena
dari satu teman yang kita dampingi free
5 bulan setengah dia cerita ke teman
yang lain temannya minta didampingi.
Iya. Iya. I
terus kemudian minta lagi minta lagi.
Akhirnya kita kewalahan.
Awal-awal itu saya tetap freikan. Saya
ee perlu ngeluarkan duit dari kantong
sendiri untuk bayar manajer saya yang
ngedampingin juga gitu.
Karena niatnya awalnya
bantu aja. mikir sebanyak ini gitu.
Iya, betul. Enggak mikir kalau
bakalan banyak yang minta pendampingan.
Awalnya itu benar-benar kali aja ini
bisa jadi solusi gitu.
Heeh. Heeh. He.
Nah, akhirnya karena masalah saya
seperti masalah yang saya hadapi
kemudian Allah datangkan orang yang
dengan masalah sama.
He.
Akhirnya saya mikir, "Oh, gini polanya
Allah itu." Gitu kan. Kalau doanya saya
pengin bermanfaat, saya dikasih masalah.
Terus saya bisa menyelesaikan, bisa
menjalani itu. Dikirimlah orang
supaya nanti saya kasih ee solusinya itu
sesuai gitu. Nah, itu awal-awalnya
seperti itu.
Siap. Sebenarnya bisnis ril
apa ya, Bu? Kalau kita bicara bisnis ya,
prospek prospektus atau peluang
opportunity margin itu masih menjanjikan
enggak, Bu, untuk bisnis retail hari
ini?
Iya. Memang bisnis retail itu salah satu
bisnis yang red ocean ya. Jadi ini
ngeri-ngeri sedap gitu ya.
Ngeri-ngeri sedap. Ngerinya dua kali,
sedapnya satu kali. Bu
sedap gitu mungkin ya. Sedapnya panjang
ya
hanya panjang gitu. Sedapnya lama gitu.
Insyaallah begitu sedap. Kalau bisa
ngelewati dua ngeri sedap gitu ya. Jadi
ngeri-ngeri gitu kan cepat ya.
Ngeri-ngeri sedap.
Sedap gitu.
Oh gitu ya.
Ngeri-ngerinya itu karena semakin banyak
kompetitor yang bermunculan. Oke.
Banyaknya PHK tahun-tahun ini di negara
kita itu memunculkan ide bisnis
teman-teman yang di PHK itu buka toko.
Memang kan paling mudah ya.
Iya paling mudah.
Heeh. He
iya. Pokok ee katanya nenek saya ya
pokok irunge murep wis iso buka toko
gitu. Jadi enggak ada yang hidungnya gak
enggak
kan enggak ada ya Bu ya realit yang
hidungnya ke atas ya. Jadi semua orang
bisa buka toko.
Iya betul. Saking mudahnya dicreate gitu
kan. sebelum ke arah situ, Bu. Ternyata
teman-teman di sini juga buka toko, Bu.
Di kantin, di belakang ada namanya
kantin kejujuran.
Oh,
jadi itu yang ngelola adalah ee admin
finance
dari uang yang tidak dikelola untuk
perusahaan gitu. Jadi, Teman-teman kalau
enggak belanja di sini
anu diseneni.
Iya. Itu win-win solution gitu
mendatangkan income stream sama biar
enggak ada waktu ngelur-keluar gitu ya.
Ini eh
intermeso.
Iya, intermiso. Lanjut, lanjut, lanjut.
banyaknya bermunculan kompetitor,
banyaknya pengangguran, mereka buka
toko. Siapapun bisa buka toko.
Asalkan hidungnya ke bawah.
Betul. Nah, saking mudahnya buka toko,
bahkan tidak mempedulikan punya ilmu
atau tidak. Pokoknya buka aja,
jalani dulu gitu kan.
Betul. Itu memunculkan banyak
kompetitor.
Nah, munculnya banyak kompetitor itu
semakin red osen.
Heeh.
Semakin ee ketat ya persaingannya
semakin ketat. Heeh.
Mengapa saya bilang itu ngerinya kayak
gitu?
He.
Nah, kemudian turunnya daya beli
sekarang ini ya. Betul.
Turunnya jaya beli kemudian dihimpit
dengan apa itu kompetitor yang semakin
banyak. Satu lagi
regulasi pemerintah yang semakin
menggemaskan.
Apa kaitan sama regulasi dalam hal
minimar apa retail ini?
Pajak.
Oh,
jadi pajaknya naik ya. Benar. cuman 1%
dari 10% menjadi 11%. Masyaallah. Itu
bagi orang retail yang mengumpulkan
rupiah demi rupiah, persentasenya kecil
itu sungguh
sangat terasa ya.
Sangat terasa. Betul. Sedapnya kalau
kita menemukan market yang tepat.
Hm.
Walaupun dengan kompetitor yang banyak,
kalau kita menemukan market yang tepat,
kita bisa memunculkan value atau
keunggulan yang lebih
daripada kompetitor. Kita tetap akan
terpilih.
Hm.
gitu.
Nah, jadi contohnya begini. Ketika tidak
dipungkiri
sekarang itu minimarket modern 3 kilo
ada lagi, 5 kilo ada lagi. Bisa jadi
minimarket kita itu di depannya ada si
A, di sampingnya ada si I gitu kan.
Nah, bisa jadi head to head-nya
segitunya.
Heeh. He.
Nah, tapi kalau kita bisa menemukan
marketnya dan kita punya value,
contohnya toko Madura.
Heeh. Heeh.
Toko Madura itu adalah satu-satunya toko
yang bisa mengalahkan minimarket modern
dengan value-nya buka sampai kiamat.
Buka 25 jam gitu kan.
Kiamat kurang 2 hari sih, Bu tepatnya.
Eh sehari atau du hari.
Iya iya iya.
Nah itu itu value-nya luar biasa dan ee
barangnya benar-benar yang benar-benar
dibutuhin aja. Enggak neko
tidak banyak tapi benar-benar tepat
sasaran gitu ya.
Betul. F moving aja.
itu ternyata cukup untuk membuat toko
Madura itu hidup
hidup
gitu.
Tapi ada yang bilang juga gini, Bu Ana.
Jadi misal kayak memang walaupun
berhadap-hadapan ya di sini ada yang
minimarket modern, di depannya ada toko
Madura,
tapi memang yang dibeli beda dan
marketnya beda gitu gitu ya Bu Ana.
Memang gitu ya.
Betul. Betul betul. Heeh.
Nah, itu ya apalagi kalau kita tahu
bagaimana memainkan strategi kompetitor.
Hm.
Kalau misalnya si minimarket modern lagi
promo minyak.
Heeh.
Biasanya mereka promonya hari Jumat,
Sabtu, Minggu.
Heeh.
Dibeli aja itu
promonya.
Promonya. Nanti kita gantian promo di
Senin, Selasa, Rabu.
Jadi gantian ya. Gantian siapa yang
promo walaupun yang dipromoin sama atau
seperti yang kita lakukan di minimarket
kita. Kalau di depan kita itu si A sama
si I di sebelah itu lagi promo minyak,
kita promonya bawang merah.
Oke.
Jadi ibu-ibu jadi bingung beli ke mana
ya? Oh, beli bawang merahnya ke sini,
beli minyaknya ke situ. Atau daripada ee
ini harus pindah, udahlah beli beli
bawang merah sambil beli minyak walaupun
enggak promo.
Oh, iya. Iya.
Iya. Tetap ada yang bisa kita lakukan
walaupun dengan persaingan se
seketat itu.
Seketat itu gitu.
Ee red os itu bisa disiasati asalkan
ketemu market yang bagus.
Betul.
Apalagi, Bu?
Ketemu market yang bagus dan punya
value.
Punya value.
Iya, betul. bisa dijelaskan sedikit
enggak punya bagaimana nemu market yang
bagus dan value seperti apa yang harus
dimiliki seorang yang mau buka
minimarket.
Oke, yang pertama marketnya beda gitu
tadi ya. Menemukan market yang tepat itu
tadi itu karena kita tahu marketnya
beda.
Minimarket modern itu lebih menyiapkan
barang-barang yang untuk pemakai jalan.
Jadi orang yang lalu lintas.
Heeh. Heeh. He.
Jadi minuman, snack gitu. He.
Tapi untuk sembako keseharian mereka
sangat minim punya barangnya.
Heeh. He.
Jadi kalau beras, minyak itu sedikit
sekali mereka punya. Berarti kebutuhan
masyarakat marketnya mungkin sama, tapi
kebutuhannya ada beberapa yang tidak
terpenuhi di minimarket modern.
Maka itu yang kita penuhi.
He.
Contohnya
marketnya yang tepat itu akan relate
sama penyediaan barang. Contoh misalnya
di satu wilayah ada minimarket modern
itu menyediakan merek pampersnya itu A.
Ternyata orang sekitar pakai pampersnya
B.
H.
Minimarket modern ini untuk merubah
menjual pampers B itu harus mengajukan
regulasinya sampai atas lama. Heeh.
Sedangkan kita yang retail lokal, kita
tahu tetangga kita yang dipakai
pampersnya apa, kita langsung bisa
sediakan
pampers itu. Jadi, kita lebih cepat tahu
kebutuhan market apa dan kita bisa cepat
menyediakan. Itu keuntungannya kalau
retail lokal gitu.
Jadi, tidak perlu birokrasi yang panjang
ya, Bu. Ya,
betul. Seperti truk gandeng.
Heeh. Kalau lagi di jalan macet sama
sepeda motor, cepetan cari jalannya
pintaran yang sepeda motor gitu. Karena
tidak harus
pakai haluan besar gitu.
Berarti nyisi market yang sudah ada
intinya gitu ya, Bu ya.
Betul.
Jadi harus mengenali di daerah tersebut
masyarakatnya behavior-nya seperti apa,
behavior itu membutuhkan barang apa yang
tersedia di minimarket modern apa yang
belum apa?
Tapi misal Bu, ada enggak kemungkinan
seperti ini? Jadi di minimarket itu
memang sudah survei
juga untuk menyediakan kebutuhan yang
banyak dibutuhkan masyarakat gitu.
Betul. Bisa jadi seperti itu.
Heeh. Itu gimana strateginya kalau
seperti itu?
Strateginya kita bisa mempunyai value
better P ya. Better P itu better P 5P.
Oke.
Jadi produknya lebih bagus atau
diferensiasi. Better atau diferensiasi?
Beda.
Heeh. Heeh. Better PE yang pertama itu
produknya beda. Minimal
beda itu
beda itu mereka tidak jualan bawang
merah, kita jualan bawang merah. Mereka
enggak jualan tempe, kita jualan tempe.
Berarti produknya beda diferensiasi atau
better. Terus kemudian di mereka itu
better-nya lagi itu bisa di better price
P berikutnya
price. Jadi mereka itu kalau di
minimarket modern beli satu sama beli
satu karton harganya ya satu dikalikan
isinya satu karton berapa? Misalnya satu
ee air mineral harganya Rp3.000 satu
karton isinya 24
itu langsung Rp72.000
Padahal kalau di kita satu karton itu
cukup dengan R2.000 misalnya seperti
itu. Jadi
iya betul sistem yang ada di mereka
ternyata kalau kita audit kompetitor itu
mereka itu lebih
enggak bisa melayani permintaan
masyarakat kalau beli banyak lebih murah
itu enggak bisa.
Sedangkan di retail kita bisa kita
tampilkan better price
kemudian berikutnya better place.
tempatnya mungkin mereka pakai AC,
mungkin mereka itu lebih bersih gitu ya.
Gimana kita juga bisa menampilkan
sebersih mereka, serapi mereka. Nah,
kalau ada yang pakai AC, pakai tutup
kaca, kemudian letaknya di desa, orang
mau belanja itu kesannya wah itu mahal
gitu ya. Kita berarti bisa enggak usah
pakai kaca tapi barangnya tetap bersih,
displaynya tetap rapi, itu better place.
He.
Nah, kemudian yang berikutnya lagi itu
better promo. Nah, tadi kalau mereka
promo apa, kita promo apa
ya? Kita punya promo diferensiasi atau
lebih bagus lagi.
Promo kalau beli banyak lebih murah,
beli banyak harga grosir itu juga bisa
dimunculkan.
He.
Nah, berikutnya lagi better people.
Kalau mereka kalau ada orang belanja
selamat datang, selamat berbelanja.
Kalau di kita, Bu, Bu Tiwi ya, Bu Tiwi
mau masak apa, Bu? Tadi udah masak apa
kemarin, Bu? Sekarang mau masak apa, Bu?
Tadi anak-anak si kecil, si Toni sudah
berangkat sekolah, Bu. Itu lebih
pelayanannya lebih
humble. Betul. Nah, ini juga
apa itu bisa kok. Itu hanya salah satu
beberapa contoh aja value yang bisa kita
munculkan untuk menghadapi persaingan
dengan minimarket modern. Bisa pakai
better P 5P tadi.
Siap, Bu. Ana kalau untuk harga itu
biasanya gimana sih cara ngitung harga
jual seorang yang mau buka itu?
Oke. Nah, biasanya untuk teman-teman
yang ingin buka minimarket sebelum
benar-benar buka, sebelum menentukan
tempatnya, lokasinya harus melakukan
survei dulu.
Survei pemilihan lokasi kepadatan
penduduknya padat apa enggak. Nanti
jangan-jangan kita itu di tengah-tengah
persawahan atau hutan kita mau buka
minimarket nanti siapa pembelinya gitu
ya.
Jadi pilih lokasinya survei dulu
kepadatan penduduk sama ramai jalannya
enggak.
Terus kemudian setelah itu kita itu
kekuatan pendanaannya berapa? Jangan
semua dialokasikan ke bangunan, nanti
sudah enggak bisa beli barang.
He.
Maka nanti bikin RAB yang sesuai dengan
kemampuan pendanaan kita. Heeh.
Lalu kulaan persiapkan barangnya. Nah,
bagaimana membuat setting harga jualnya
itu harus tahu juga kompetitor di
sekitarnya.
Nanti tidak bisa dipukul rata ambil 10%.
Enggak bisa. Karena ada beberapa barang
bisa ngambil 30%. Ada barang yang
ngambilnya cuma 2%. Jadi harus survei
kompetitor. Kompetitor jual berapa? Kita
agak murah dikit.
Hm. Jadi murai kompetitor juga ya?
Iya. Murah. Lebih murah dari kompetitor
dikit. Kalau dari awal kita terkenal
mahal juga enggak bisa menjadi value,
akhirnya dari awal enggak bisa dipilih
sama customer.
Heeh.
Ya, memang strategi harga murah itu
masih sangat berlaku ya di ritel, Bu ya.
Tergantung ini ya sekarang itu
tergantung dari behavior masyarakatnya.
Untuk masyarakat menengah ke atas
pricing itu tidak terlalu penting, tapi
kenyamanan, pelayanan gitu. Heeh. Heeh.
Heeh.
Nah, itu kalau masyarakat mid law
mungkin pressing itu menjadi salah satu
pengaruh. Iya.
Ee bagi teman-teman yang mau buka retail
ee mereka juga menemukan problemnya itu
di harga beli Bu Ana. Jadi harga belinya
sudah agak mahal.
Jadi mereka akhirnya tidak bisa
bersaing.
Nah, untuk seperti ini bagaimana
case-nya untuk
solusinya strategi?
Oke. Iya, betul. Jadi ketika kita ambil
posisi sebagai toko pengecer atau
sebagai toko semi grosir atau grosir,
kita harus tahu sumber dari suplai
barang kita cocoknya yang mana.
Kalau pengecer berarti bisa belanjanya
ke toko grosir.
He.
Sama-sama ee harga ecer itu masih bisa
bersaing.
Kalaupun untuk toko pengecer itu head to
head sama minimarket modern kita bisa
lebih murah sebenarnya.
Hm.
Tetap lebih murah. Sebenarnya minimarket
modern itu mahal.
Heeh. Heeh. yang murah itu ya hanya yang
dipromoin itu aja gitu.
Nah, kemudian kalau kita ambil posisi
sebagai semi grosir, kita harus ee ke
distributor resmi belinya dan itu pun
pakai kuantitas minimal order.
Maka sebenarnya kulak bareng itu menjadi
salah satu solusi bagaimana kita
mendapatkan HP murah
dari distributor itu.
Iya, betul. Kulak bareng itu bisa
dilakukan oleh jaringan retail keluarga
misalnya. Jadi si kakak punya toko, si
adik punya toko, si ponakan punya toko
itu bisa kulak bareng. Heeh.
Kalau gak seperti itu, kita bukan mereka
bukan keluarga kita, tapi kita ajak
kulak bareng itu juga bisa.
Heeh. Heeh.
Kayak misalnya di jaringannya Bu Ana
pernah ada laku, pernah melakukan itu
enggak? Kulak bareng itu
pernah. Bahkan kita kulak bareng sama
kompetitor.
Oh, gitu ya.
Jadi mengubah kompetitor menjadi mitra,
menjadi kawan ya.
Iya. Jadi kayak bahasa diplomasinya
begini. Ini aku dapat barang murah
sekian, mau enggak kita kulak bareng?
Kalau enggak mau, ya sudah kamu akan
kalah sama aku. Loh, tak ajak kulak
bareng enggak mau gitu kan. Padahal di
sini itu maksudnya ngajak itu
diplomatisnya itu supaya volume
pembeliannya terpenuhi gitu. Jadi itu
bisa n asalkan itu benar-benar visinya
jelas gitu kan kita ajak kompetitor
untuk kulak bareng itu bisa banget dan
itu sering kita lakukan. Heeh.
Misalnya kita minuman e AMDK ya, air
minum dalam kemasan,
kita kulak bareng itu satu wingbx.
Wingbx itu satu wingbx itu kalau air
minum itu isinya sekitar 18.400
karton.
He.
Nah, kita ternyata kemampuan jualnya
cuma 10.000 karton.
Yang Rp8.000 kita ajak kompetitor. He.
Supaya kita bisa dapat HP murah,
sama-sama murah. Jadi kompetitor juga
dapat murah, kita dapat murah.
Di setiap kota itu apa? selalu ada
distributor Bu Ana
enggak mesti ada. Tapi dari semua
princiipel itu punya titik-titik
distribusi distributornya masing-masing.
Oh, pasti dilewati prinsip.
Iya. Kalau enggak tiga kabupaten ya dua
atau per tiap kabupaten tergantung dari
kebijakan princiipal masing-masing.
Oke. Itu bagi toko yang buka semi
grosir.
Betul.
Tapi kalau untuk retail aja berarti kan
enggak usah ke apa ke distributor kan
Bu? Ke grosir aja sudah cukup.
Betul. Kalau ke distributor juga bisa,
tapi dia akhirnya dapat harga yang lebih
mahal malahan karena volume ee
pengambilannya lebih kecil.
Iya. Iya, iya. Mending ke grosir kan,
Bu?
Iya. Jadi kalau ke grosir itu seperti
kulak bareng sama si grosir itu gitu
sebenarnya.
Kalau di setiap kota pasti ada grosir
kan?
Pasti ada grosir.
Iya. I
pasti ada toko grosir.
Nah, biasanya memang kalau yang modelnya
enggak begitu banyak ini ee anjurannya
untuk retail Bu ya.
Betul. He
kalau mau ke grosir itemnya yang
disedikitin.
Oke. Fokus apa begitu ya?
Iya betul. Misalnya kalau minimarket
pengecer
punya 2.000 sampai 4.000 item.
Tapi karena penginnya itu grosir maka
uang segitu itu bisa untuk buka grosir
tapi hanya mungkin lima item. H
tapi kuantitasnya besar-besar. klien
yang pernah Bu Ana dampingi kan Bu Ana
sudah mendampingi puluhan atau bahkan
ratusan Bu Ana
masih puluhan Pak
masih belum sampai ratusan ya
belum insyaallah amin
puluhan klien ya kalau puluhan itu
tepatnya sampai berapa angkanya Bu Ana
ee hari ini on project itu ee hampir 40
hampir 40
40 klien minimarket
atau retail yang pernah didampingi gitu
ya.
Iya. Jadi kita beragam.
Jadi pendampingan kita awalnya itu untuk
minimarket namanya klinik minimarket.
Membantu melahirkan minimarket sama di
minimarket itu membantu melahirkan.
Membantu melahirkan minimarket sama
mengobati minimarket yang sakit.
Oh bidan dan
Iya. Tapi dalam perjalanannya di tahun
kedua klinik minimarket itu berdiri itu
yang masuk minta pendampingan itu
apotek, toko pertanian, toko bangunan,
toko peternakan,
jadi toko baju, kemudian toko mainan.
Jadi semua jenis bisnis ril
pendampingan kita. Dan kita juga
alhamdulillah itu on project juga ee
kita pernah mendampingi manufaktur
makanan, kemudian kita on project
mendampingi manufaktur minuman, kemudian
manufaktur untuk alat rumah tangga.
Manufaktur itu juga retail pabrik bukan
sebenarnya beda.
Oh berarti retail dan manufaktur
sekarang.
Iya sekarang rettail dan manufaktur.
Dan retailnya ini juga dari berbagai
kalangan.
Iya. Iya. dari mulai kalangan TKW yang
mau pulang penginnya pulang itu sudah
jalan tokonya gitu. Ada juga yang
seperti itu.
Iya. Jadi minta Bu Ana untuk melahirkan
dan merapikan di awal-awal.
Heeh. Beliau pulang langsung sudah
jalan. Betul. Itu ada
sudah jalan cerdas itu, Bu Ana.
Iya. Betul. Ada juga yang sedang
persiapan masa pensiun.
Oh.
Jadi sebelum pensiun, setahun sebelum
pensiun minta dibukakan.
Nanti setelah pensiun itu buat hiburan
di rumah
supaya enggak bingung. ee kegiatannya
apa kalau sudah pensiun?
Nah, kemudian ada juga yang paling
banyak itu adalah klien yang tokonya
sudah besar, sudah lama beliau itu sudah
berumur pengin mewariskan bisnisnya ke
anaknya.
Oh.
Karena bisnis itu yang menjalankan
beliau sendiri, maka tidak membutuhkan
sistemasi yang terlalu detail. ketika
diturunkan ke anaknya, anak-anak masa
kini kalau sistemnya itu enggak bagus,
enggak rapi, mereka juga bingung
belajarnya mulai dari mana. Itu yang
paling banyak. yang paling banyak
saya malah kebayang itu bagaimana cara
buat melakukannya ya dengan banyaknya
kompleksitasnya yang di kan apa ya
jadinya kan ibarat pasien itu beragam ya
Bu ya
pasti mikirnya juga satu-satu
dan mungkin kalau
diturunkan ke orang selain Bu Ana
mungkin juga bingung
berarti kan harus ditangani Bu Ana
sendiri
satu-satu juga diturunkannya di delegas
juga satu-satu betul oh nah itu
bagaimana ee berarti timnya sekarang
banyak gitu, Bu. Atau
belum banyak sih, tapi lumayan ada dan
ee alhamdulillah kita bisa nambah-nambah
tim agar semakin banyak klien yang bisa
kita dampingi gitu.
Hm. Itu kalau klien itu yang di namakan
klien sekali kunjungan atau kayak harus
berapa lama begitu atau seperti apa
treatmentnya? Kalau
Iya, kita biasanya kalau ada WA masuk,
ada permintaan untuk konsultasi ke kita.
Awalnya kita konsultasi free dulu by WA,
nanti sampai dengan jelas
permasalahannya apa, kemudian kita ajak
Zoom free, konsultasi Zoom free.
Nah, di Zoom itu kita coba identifikasi
masalahnya apa.
Heeh. Heeh.
Nah, setelah identifikasi masalah untuk
menguatkan diagnosa,
maka kita menawarkan namanya bedah
bisnis. Kita datangi ke kliennya 2
sampai 3 hari kita amati bisnis
flow-nya. He,
ada kejanggalan apa, ada permasalahan
apa, kemudian minta kita minta beberapa
data keuangan, data penjualan, pembelian
juga kita analisa datanya.
Hm.
Dari data sebagai sampel
laboratoriumnya,
kemudian observasi itu ee di bisnis
flow-nya itu coba kita identifikasi
masalah.
He.
Lalu kita buatkan action plan untuk
solusinya.
Heeh. He.
Nah, itu bedah bisnis. Jadi, 2 sampai 3
hari kita datang.
klien mendapatkan, "Oh, ternyata sakitku
di sini. Oh, salahku di sini. Oh, yang
benar seperti ini." Mulainya kita
urutkan langkah action plan-nya itu.
Pertama, harus diginikan, harus
diginikan, harus diginikan.
Kalau dia bisa melakukan sendiri action
plan itu, itu namanya rawat jalan. Jadi,
budah bisnis itu rawat jalan.
Nah, kalau ternyata kliennya tidak bisa
mengeksekusi plan sendiri, barulah masuk
ke pendampingan.
Heeh. He. Kalau pendampingan berapa lama
biasanya, Bu?
Tergantung case-nya.
Hm.
Kalau pendampingan melahirkan minimarket
dari mulai menentukan lokasi atau sudah
punya lokasi, kemudian persiapan
bangunan, denahnya, layout-nya,
persiapan alat, RAB-nya, persiapan
barang, persiapan tim, kemudian
persiapan grand opening sampai pasca
grand opening itu 2 sampai 3 bulan.
Hm.
Kita dampinginya
lama ya, 2 sampai 3 bulan ya. itu durasi
bukan setiap hari kita ke situ. Hanya
durasi aja.
Oh, kalau kunjungannya
kalau kunjungannya masih
sekali atau dua kali gitu ya.
Enggak, Pak Agung. Tergantung pada
action plan-nya, Pak Agung.
Oh,
contoh kita biasanya minta dari klien
yang melahir pengin buka minimarket gitu
ya,
kita minta mau buka tanggal berapa. Kan
biasanya klien itu ada hitungan jaowo
kan, Pak Agung. Hari baiknya apa gitu
kan.
Oh, berlaku banget Pak Agung. Jadi ee
katanya orang tuanya harus bukanya Senin
paing misalnya gitu ya. Boleh Senin Wage
kelahiran saya.
Oh itu kita titik tangganya kita note
ya. Berarti kita butuh berapa hari
tindakan sebelum itu kita kondon
kita kondon maka
nanti tanggal sekian ngapain? Tanggal
sekian ngapain? Tanggal sekian ngapain
gitu. Ada yang minta itu 12 hari lagi
buka. Masyaallah itu berarti harus
lembur gitu ya. Nah, Bu Ana, jadi kalau
yang tidak minta hari ada misalnya oh
terserah yang penting persiapan beres
itu artinya
ada ada juga Pak
ramai juga atau gak
ramai ramai juga malah saya senang yang
itu.
Senang yang itu. Itu
tergantung keyakinan lah ya.
Iya. Sebenarnya kita kan kalau untuk
grand opening itu harusnya memilih hari
Sabtu atau Ahad
karena ramai.
Karena ramai karena para pembeli itu
sedang longgar waktunya. Nah, jadi untuk
seremonial grand opening untuk melihat
apa itu meriahnya grand opening itu ada
waktu masyarakatnya
itu kayak benar-benar dibuat meriah gitu
ya, Bu. Ada balon-balon, ada doorpress
gitu ya.
Ada balon-balon, ada doorpress, ada live
musik, karaokean,
ada senam, ada badut kayak gitu-gitu
supaya menarik perhatian masyarakat
sekitar bahwa di situ eh ada minimarket.
Oh, gitu.
Iya, gitu. itu biasanya sampai grand
opening dan pasca opening itu mostly 2
sampai 3 bulan.
Kalau yang recovery itu tergantung
cas-nya.
He.
Dari empat pilar bisnis mana nih yang
bermasalah?
Apakah inventorynya, keuangannya,
SDM-nya, sistemasinya atau marketingnya.
Jadi kalau di retail itu ada lima
pilarnya ya. H
ketambahan inventory. Karena kalau di
bisnis lain mungkin inventory enggak
begitu ya.
Nah, itu tergantung kalau masalahnya
kompleks. Jadi terkait banyak hal itu
bisa
ada yang satu setengah tahun.
Uh,
tapi kita enggak tiap hari ke datangnya
masa pendampingannya gitu ya.
Masa ada nanti tetap ada action plan di
awal. Jadi, apa yang mau dilakukan,
kapan itu dilakukan. Kita butuh ee
combin dengan tim mereka yang bagian apa
gitu juga ada. Heeh.
Itu kalau recovery
kalau orang mau minta pendampingan apa
selalu bisa atau harus ngantri dulu Pak
Ana?
Ee enggak tentu Pak Agung karena
misalnya case-nya lagi SDM tuh
tim kita yang bagian SDM lagi longgar
bisa langsung cepat. Enggersediaan
timnya Bu Ana.
Betul tergantung ketersediaan. Nah
kemarin itu karena tim kita juga belum
lengkap maka akhirnya antrian
pendampingan itu saya buatkan kelas.
Hm. Sambil gitu. Betul. sambil nungguin
itu 2021 saya mulai adakan kelas namanya
Semesta Bisnis Rail Indonesia.
Nah, di situ kita bahas manajemen dasar
atau manajemen transisi dari tradisional
menjadi e poajemen profesional.
Itu kita lima pilarnya kita bahas semua
13 sampai 15 kali pertemuan Zoom
seminggu sekali. He
itu awalnya offline. Awalnya offline 6
hari, 5 hari.
Kemudian karena setelah pandemi itu kita
baru ke
online.
Online. Baru ke online.
Nah itu alhamdulillah satu batch itu 30
orang dari hampir seluruh Indonesia dari
berbagai daerah di Indonesia. Dan itu
alhamdulillah ee 50% itu bisa mengatasi
permasalahan. Betul. Dan mereka tidak
jadi pendampingan. Iya. Iya.
Tapi ada beberapa yang sangat kompleks.
Akhirnya bingung mulai dari mana.
Akhirnya tetap minta pendampingan
begitu.
Pendingan. Memang kan pemahaman orang
beda-beda, Bu. Ya,
betul. Nggih.
Ada yang dengan melihat podcast ini aja
mungkin problemnya sudah beres, Bu.
Oh, iya betul. Semoga seperti itu. Kan
kita tadi ngomongin ilmu-ilmu juga kan.
Iya, betul. Betul. Nah, semoga nanti
teman-teman juga banyak yang dapat aya.
Ahanya. Aha. Itu Agung Hartadi, Bu.
Oh, gitu tah. Betul betul.
Dulu diklaim sama Atta.
Oh, gitu.
itu itu di Ata
I ya. Oke, Bu Ana. Jadi kalau yang
paling Bu Ana banyak amati ini kan Bu
Ana banyak 40 klien yang pernah di
pernah disinggung atau pernah
didampingi?
Didampingi.
Permasalahan yang paling banyak yang
ditemukan Bu Ana di bagian apa?
Iya, ini permasalahan yang paling banyak
dan bikin saya ngenes gitu ya.
Ngenes Bu.
Ngenes. Karena mereka datang telat. Ya
sudah, kalau penyakit itu stadium 4
gitu.
Oh,
udah agak waduh kok baru sekarang gitu.
Oh, ada stadiumnya juga ya.
Sama seperti kanker ya?
Saya kira cuma kanker aja.
Emang stadium itu gimana itu
kronologinya?
Jadi ee biasanya permasalahan yang
paling besar itu adalah uang habis,
barang habis.
Oke. Itu stadium berapa?
Itu stadium 4.
Uangnya sudah habis.
Iya, uangnya habis. Barangnya sudah
habis.
Barangnya juga habis. hampir habis ya.
Tapi bisa dibilang kalau ada pembeli
datang udah enggak ada yang di
Heeh. Yang diminta pembeli sudah enggak
punya.
Itu ke mana, Bu? Rata-rata larinya uang
atau
Nah, betul. Nah, ini yang paling menjadi
penyebab utama dari permasalahan besar
uang habis, barang habis itu yang
pertama itu campurnya uang kasir sama
uang kasur.
Jadi, banyak pengusaha rilaten
bikin laporan keuangan. Heeh. He.
Sehingga
uangnya toko ya uangnya kasur gitu kan
nyampur uang kasur sama uang kasur. He.
Berawal dari tidak tahu labanya berapa
tapi tahu pengeluarannya berapa gitu
kan. Jadi kirologi di laba tapi
betul-betul bikin RB rencana anggaran
kan yang dibikin pengeluaran gitu.
Nah ini jadi enggak harusnya rencana
pendapatan ya bukan rencana pengeluaran
bukan anggaran ya. Betul
Bu Ana. Berarti kalau yang tidak bisa
memisah antara keuangan pribadi sama
toko tadi berarti kan masih kecil ya Bu
Ana atau ada juga yang sampai besar
seperti itu?
Sampai besar. Sampai besar seperti itu.
Tapi kok bisa besar ya?
Kok bisa besar? Karena gaya hidupnya itu
masih di bawah pendapatannya
dulunya ya.
Iya.
Oh.
Jadi pendapat ee gaya hidupnya di bawah
pendapatannya. Jadi pertama tadi kan
uang kasir sama uang kasurnya nyampur.
Itu masih bisa selamat sama enggak?
selamat itu kalau ternyata gaya hidupnya
di bawah profit.
Nah, kalau gaya hidupnya di atas profit,
maka timbul masalah kedua, besar pasak
daripada tiang dan itu tidak kerasa.
Mengapa kalau di dunia retail enggak
kerasa, enggak langsung disadari?
Karena kebanyakan retail itu mendapatkan
tempo pembayaran dari supplier.
Jadi, ketika ada cash dilaci itu bukan
uangnya sebenarnya, uangnya supplier.
Selagi belum ditagih supplier, aman tuh.
He.
Serasa punya saldo,
serasa punya cash.
Kita ada satu klien yang saldonya itu
hampir 1 M
saldo.
Heeh. Jadi beliau itu beli Fortuner dua,
beli rumah tiga kayak gitu.
Buat apa? Forter dua, Bu?
Iya, buat istri sendiri.
Terus ini tiga ya? Tiga. Malahan. Buat
istri sendiri, buat suami sendiri. Yang
satu buat jemput saya gitu kayaknya.
Ini malah bercanda, Bu.
Betul. Itu betulah terjadi. Iya. katanya
yang satu buat jemput saya gitu.
Oh, gitu ya. Benar.
Iya, betul. Ada terjadi kayak gitu.
Padahal tadi saya buana ke sini enggak
saya jemput padahal.
L iya. Nah, itu ee wow-nya
ketika kita coba lihat kan beliau
ngerasa aja ini kok kayaknya ada yang
salah gitu. Tapi masih bukan stadiumnya
empat tadi
karena barangnya masih ada.
Masih ada ini masih ada. Ternyata
tempo pembayaran ke suppliernya itu 3
bulan, Pak. Aku
Oh, lumayan panjang ya.
nya banyaklah berarti.
Iya, betul. Terus kemudian 1 hari
omsetnya R200 juta. R00 juta.
Kebayang 3 bulan.
Heeh. Kali 3
R juta 3 bulan berapa M ada di saldo?
Harus banyak ya harusnya.
Nah, itu kan jadi hijau matanya itu
lihat apa-apa pengin gitu kan.
Makanya beli Funer 3 gitu.
Nah, itu yang berbahaya ketika kebijakan
dari supplier itu berubah menjadi
kreditnya 1 bulan. Bu itu penasaran R
juta sehari toko apa, Bu?
Ada toko pertanian, ada toko mainan
segitu, Pak.
Oh, dia banyak toko.
Satu toko
tapi kayak gir
grosir. Betul. Toko pertanian ada, toko
bangunan lebih besar lagi.
Iya, iya, iya.
Jadi itu bisa kebayang saldonya berapa,
terus kemudian bagaimana mengendalikan
apa itu keinginan gitu ya,
hasrat untuk beli sesuatu. Betul. Nah,
itu ternyata ketika seperti itu itu
berubah
apa metode pembayarannya dari supplier
berubah, kebijakan supplier berubah
langsung pusing. Dan ini sudah terjadi.
Ada yang terjadi di klien saya yang
lain.
Hmm. Yang stadium 4 tadi.
Iya, yang stadium 4 itu. Betul. Dan itu
menyisakan ini satu case lagi yang
pernah kita tangani.
Apa itu, Bu?
Jadi punya hutang 4,4 M.
Heeh. He.
Hutang 4,4 M dengan nilai barangnya itu
1,2 M.
Punya H
hutang kesuplayannya 4,4 barangnya 1,2.
Yang 3,2 ke mana?
Oke, itu ke Fortuner tadi sepertinya.
Iya, betul.
Kebanyakan hal itu ke tanah, ke rumah
kayak gitu ya.
Iya. Tapi kalau ke tanah bisa dijual ya,
porter juga bisa dijual sih.
Tapi kan enggak secepat kita punya
barang. Betul, betul, betul,
betul.
Terus gimana solusinya? Gimana, Bu?
Kalau sudah seperti
pada waktu itu ee itu juga sebenarnya
gaya hidupnya kalau case itu tidak
terlalu tinggi ya. Tapi memang
enggak tahu ya ini sudah jalan 22 tahun
kemudian datang ke saya dengan ee
tagihan ke supplier delay 2 4,4.
Aduh.
Nah, kemudian saya lihat piutangnya itu
2 M lebih.
Heeh. He.
Jadi itu pun 60% macet.
Oh iya. Piutangnya macet.
Heeh. Jadi itu untuk bayar hutang
supplier juga
sulit akhirnya. Nah, itu alhamdulillah
karena prospek bisnisnya bagus itu masih
belum stadium 4. Alhamdulillah ya
sudah setengah lah dia.
Waktu kita datang kita coba analisa,
masih ada harapan beberapa celah peluang
untuk bisa sembuh gitu, Pak Agung.
Nah, akhirnya kita coba terapkan
disiplin transaksi
uang kasir sama uang kasur kita pisah
sampai kita dampingi untuk buat anggaran
keluarganya.
Hm.
Agar anggaran keluarga itu kita pastikan
di bawah profitnya.
Heeh. Heeh.
ada ee laba yang bisa ditahan untuk
memulihkan kondisi kesehatan bisnisnya.
Kita perkirakan itu 14 bulan sampai 18
bulan
kalau disiplin bisa sembuh.
Bisa sembuh karena karena menjanjikan ya
Mas ya.
Karena betul menjanjikan gurih.
Beliau itu mau nyerah sebenarnya sudah
gak kuat dengan delay, dengan tagihan
dengan mungkin teguran keras dari
supplier gitu ya. Sudah sangat
apa
berat ya di beliaunya. Nah, itu
alhamdulillah saya yakinkan kalau Ibu
disiplin, kalau Bapak disiplin dengan
pengeluaran keluarga seperti ini kita
anggarkan untuk kuliah anaknya berapa,
untuk ini apa kehidupan sehari-hari
berapa kita bantu buat anggaran
keluarga. Alhamdulillah di bulan kees9
karena kita pantau neracanya, kita ada
software yang bisa pantau neraca anytime
itu kita minta fotokan neraca itu tiap
hari dan ada di grup itu saya. He.
Itu kita pantau itu di bulan kees9 itu
sudah R00 juta.
Hm. Alhamdulillah.
Nah, itu dan sekarang itu mm 2022 2002
ee 2022.
Heeh. Heeh. Sekarang beliau sudah mau
buka cabang lagi dua.
Sekarang
cabangnya sudah mau tujuh.
Hmm.
Waktu itu lima.
Ini alhamdulillah sudah cabang ini. He
bagi saya walaupun ini semoga terhindar
dari sombong ya.
Bagi saya itu adalah
ee gimana ya marem gitu. Senang banget
rasanya bisa melihat klien bangkit lagi
gitu. Oke. Oke.
Nah, ternyata ketika dapat porsi segitu,
Pak Agung, tahun lalu kita dapat porsi
lebih kompleks lagi. Jadi,
ini stadiumnya lebih lagi berarti.
Iya, lebih lagi. Omsetnya itu ee 300
sampai R00 juta per hari.
Lebih berarti lebih tinggi.
Iya, betul. Dengan delay 22 M.
Delay tagihan ke supplier 22 4,4 ya. Ini
22.
Dan paniknya itu
Heeh.
19 M itu hartanya berupa tanah.
pekarangan.
Hmm. Dijual pasti lama.
Lama dijualnya lama. Yang liquit itu
hanya barang dagangan yang kira-kira 3 M
set lah seperti itu.
Oke. Oke. Ibu Ana ini mainannya barang
gede-gede ya?
Enggak juga. Enggak juga. Nanti yang
omsetnya masih sehari R juta itu juga
ada.
Nah, tadi bayangan saya ril kan
kecil-kecil ya ini kok jadi
Iya. Awalnya juga saya pikirnya gitu,
Pak. Awalnya gitu terus kemarin juga
sempat oh kok namanya klinik minimarket
padahal sudah ngedampingin selain
minimarket gitu kan. Iya, iya. I
ya. Enggak apa-apa loh dikenalnya itu
dulu gitu.
Siap. Ada.
Nah, itu dari yang masalah terbesar.
Uang habis, barang habis. Masalah
berikutnya tokonya sepi
lah. Ini yang berat, Bu. Toko sepi ini
berat.
Iya. Ini se
ini 22 M tadi beda
beda beda. Ini adalah masalah terbesar
kedua. Kalau yang pertama masalah yang
dihadapi klien terbesar pertama kan
barang habis, uang habis.
Penyebabnya tadi uang kasir sama uang
kasur nyampur.
Besar pasak daripada tiang. Heeh.
Nah, ini sebenarnya yang kedua
masalahnya toko sepi ini juga bisa
menjadi penyebab barang habis uang
habis. Tapi harusnya kalau tokonya sepi
barangnya enggak habis.
Barangnya habis Bu. Kan dijuali uangnya
untuk dia.
Iya kan?
Itu tadi itu yang cas pertama
kayak yang ini toko sepi gitu ya.
Padahal barangnya ada tapi tokonya sepi.
Heeh. He he.
Nah, ini barulah kita biasanya itu apa
nih yang salah dari empat hal?
Hm. H
yang pertama kelengkapan barang. Apakah
persediaan barangnya tidak match sama
kebutuhan marketnya?
Berarti dia dalam pengadaan asal gitu
aja. Asal comot gitu.
Yang slow moving banyak, yang fast
moving enggak punya.
Wah itu akhirnya tokonya sepi.
Berarti enggak pintar gitu, Bu? Ya,
berarti ada yang lost di SOP-nya.
Saya kira enggak pintar.
Nanti kalau enggak pintar gimana? Itu
ada yang los di SOP-nya. Jadi, dia
belanjanya asal. Kemudian kalau ada
sales yang menawarkan beberapa ini
diambil tanpa memperhitungkan kemampuan
Jawal atau memperhitungkan kemampuan
market.
Siap-siap.
Nah, itu tokonya sepi. Nah, tadi kita
mikirnya kelengkapan barangnya bagaimana
gitu.
Yang kedua, displaynya menarik apa
enggak gitu.
Yang ketiga, harganya kalah apa enggak
gitu.
Bu, display itu pengaruh ya, Bu ya?
Pengaruh. Pengaruh.
Seberapa pengaruh display?
Pengaruhnya besar. Ketika kita masuk
sebenarnya mau tuku, mau beli barang A,
B, C.
Heeh.
Begitu lihat displnya amburadul,
padahal kita yang mau dibeli makanan,
terus ditumpangi semen, terus ditumpangi
pakaian dalam, kan enggak jadi beli.
Ih kok kayak gini gitu ya. Higis enggak
sih? G
kasusnya ekstrem, Bu. Itu yang makanan
ditumpangi semen sama.
Tapi ada, Pak Agung. Sayang, saya enggak
bawa fotonya kalau mau ditampilin. Ada.
Betul.
Realita. Saya kira itu ngawang loh, Bu.
Ana
enggak
realita. Enggak. Dan yang ditumpangin
apa?
Buffer, Pak Agung.
Kan tinggal nelan enggak usah dikunyah.
Jadi buffer ditumpangin semen gitu.
Ada Pak Gung.
Gimana? Saya enggak bisa ngebayangin
buffer ditumpangi semen.
Iya. Terus di atasnya itu
celana dalam.
Heeh. Celana dalam yang belum ditata.
Wuduh berhamburan kayak itu ada gitu,
Pak. Parah itu. Itu itu ya.
Siap Bu Ana.
Itu jadi yang pertama tadi kelengkapan
barang. Yang kedua itu tentang apa itu
displinnya. Yang ketiga, harganya kalah
apa enggak? Dan yang keempat
pelayanannya bagaimana?
Bu Ana, saya melihat berat betapa
kompleksitasnya hal yang Bu Ana tangani
sejauh ini ya. Jadi dari karena Bu Ana
sepertinya ee karena tadi prinsipnya
menolong ya, jadi setiap siapun yang
kemudian datang berupaya untuk ditolong
gitu ya. Danun to
Iya. Tapi kalau saya bisa, Pak Agung,
kalau saya enggak mampu, saya juga
bilang saya enggak mampu.
Oke. Dan kebetulan banyak yang mampu
gitu ya.
Ada, Pak, yang enggak mampu.
Ada juga.
Terus dipaksa terus akhirnya mampu.
Oh, ya kan akhirnya gitu kan.
Akhirnya enggak ada kita minta diaudit
keuangannya. Kita enggak pernah ngudit
keuangan. Jadi saya bilang enggak mampu.
Heh.
Tapi beliau mengalami trauma tras.
Oke.
Akhirnya kalau enggak saya enggak mau.
Heeh.
Akhirnya saya belajar belajar untuk
ngudit keuangan.
yang bisnisnya ketika kita keuangannya
cuman R.000
gitu. Masyaallah
[Tertawa]
19.000 dalam
Iya 7 tahun.
Nah, itu ada bisnis keluarga yang mereka
patungan bikin bisnis bareng
terus minta diaudit. Ee ini berapa nih
yang laba yang bisa kita bagi? Ternyata
salah satu bisnis kelihatan memang Bu
memang sepi atau gimana?
Jalan sih sebenarnya jalan tapi enggak
pernah bisa baca laporan keuangan Pak
Agung. Jadi ini sebenarnya worth itanjut
atau enggak gitu.
Dan pernah ngundang juga auditor KAP ya.
Heeh. Tapi entah apa kliennya saya
enggak mudeng
atau auditor Kapinnya enggak bacain
hasil dari auditnya,
maka enggak tahu. Padahal itu 3 tahun
sebelum saya ngudit.
Oh.
Nah, itu ternyata ketika diaudit labanya
satu minimarket itu Rp1.000 dalam 7
tahun. Terus mau ngakak semua anggota
keluarga mau dibagi 1000an apa 2.000-an
gitu.
Apa hal yang Bu Ana syukuri saat ini?
banyak ya. Tapi nomor satu adalah
mensyukuri perjalanan hidup. Perjalanan
hidup itu kita bisa merencanakan,
membuat impian, tapi kita adalah
miliknya Allah. Jadi perjalanan hidup
kita itu haknya Allah. Bagaimana
memperjalankan hidup kita?
Kita ketika menghadapi beberapa ujian
yang menurut kita itu adalah masalah,
yang menurut kita itu adalah kegagalan,
bisa jadi itu caranya Allah membentuk
kita.
Jadi syukuri perjalanan hidup.
Ikhtiarkan terbaik. Ikhtiarnya porpolan,
berserahnya diri totalitas kepada Allah.
Insyaallah perjalanan hidup kita itu
akan sangat mudah untuk disyukuri.
Yang paling saya syukuri itu adalah
perjalanan hidup saya di mana saya tidak
pernah tahu bahwa seorang Bu anak kecil
yang pengin jadi arsitek sekolahnya
perawat jadinya bakul kemudian jadinya
konsultan seperti ini. Itu sungguh saya
tidak pernah merancang semua itu.
Mengapa Allah memberi saya masalah yang
bertubi-tubi? Ternyata doa-doa saya
terbesar adalah pengin bermanfaat. Dan
ternyata Allah memberi jalan caramu
bermanfaat itu. Kamu harus bertubi-tubi
dapat masalah dulu supaya kamu bisa
memberikan saran kepada orang lain yang
sedang menghadapi masalah yang sama.
Syukuri perjalanan hidup kita karena
Allah itu tidak pernah iseng membuat
takdir kita.
Itu yang kita yang saya syukuri.
Ih, mantap. Allah enggak pernah iseng,
Bu. Ya,
Allah enggak pernah iseng. Itu quot.
Allah tidak pernah iseng. Nah, kemudian
yang saya syukuri banyak bentuk rezeki.
Oke.
Tapi Allah beri ke saya itu lengkap
rezeki lengkap.
Rezeki saya itu ada rezeki berupa
keluarga, ada rezeki berupa harta, ada
rezeki berupa tahta. Lumayan kan Pak
Agung jadi owner terus jadi konsultan
pasti dihormati ya.
Oh ya. Oh ya. Ada takahtau ya?
Ada ya. Oh, i
jadi keluarga kemudian harta, tahta
kemudian kata. Oh,
tidak ada orang yang berkata-kata kasar
kepada saya. Itu rezeki kata.
Oh, kata. Saya baru tahu rezeki itu, Bu.
I dan terakhir adalah cinta.
Oke.
Ketika saya kesulitan, banyak orang yang
bilang, "Bua, saya bisa bantu apa?"
Eh,
itu cinta.
Oh, ada yang care ya, Bu Ana dengan Bu
Ana.
Iya, betul. Dan ini Allah lengkap
hadirkan ke saya. Itu yang sangat saya
syukuri. Jadi rezeki saya ada 5A A itu
ya. Ada keluarga, kemudian ada harta,
kemudian ada tahta, kemudian ada kata,
dan ada cinta.
Nah, ini
nada drengnya Chinese ini.
Ini
sudah mau asar.
Sudah mau asar.
30 menit sebelum salat asar itu. Oh,
gitu. Oh,
i, Bu.
Ada lagi?
Udah itu Pak Agung. Jadi pesannya
mungkin ya buat teman-teman pengusaha
retail
di Indonesia. Teman-teman retail itu
satu bisnis yang multi manfaat.
Jika ada jalan rezeki di situ dan
teman-teman bisa bertahan, lakukan
segala upaya untuk teman-teman bisa
tetap di situ. Mengapa retail itu multi
manfaat? Ketika kita memenuhi kebutuhan
orang lain di sekitar kita itu kita
sudah memudahkan urusan orang lain. Kita
sudah ber membantu para UMKM untuk
menjual barangnya. Kita membantu para
pedagang kecil untuk tempat belanjanya
lebih dekat. Kemudian kita juga menjadi
jalan rezeki karyawan-karyawan kita.
He.
Masih banyak bisnis turunan yang bisa
dihadirkan melalui bisnis retail. Heeh.
Seiring berjalannya bisnis itu akan ada
banyak peluang yang bisa muncul.
Bu Ana, saya jadi penasaran
ending-nya kalau impiannya Bu Ana,
endingnya nanti bakalan seperti apa, Bu
Ana?
Nah, ini saya pernah bercita-cita
mempunyai doa dan mempunyai impian 100
cabang.
Heeh.
100 cabang yang dikelola apa itu? 100
cabang toko yang dikelola secara
keislaman
agar di setiap toko rata-rata en orang
kalau 100 cabang ada 600 orang yang
setiap hari akan tilawah Al-Qur'an, yang
setiap hari akan salat duha.
He.
Nah, di sini saya menjadikan bisnis itu
sebagai jalan dakwah saya.
Itu cita-cita saya. Namun dalam
perjalanannya tokoh saya hari ini masih
empat.
Heeh. He.
Tapi 40 klien yang kita dampingi itu
sudah bisa merasakan manfaat hadirnya
saya dalam hidup ini.
Jadi bisa jadi 100 cabang itu bukan
berbentuk cabang yang Allah berikan ke
saya, tapi 100 manfaatnya diri saya di
100 toko. Kalau kita jumlah dari peserta
kelas kita sudah hampir 400 orang,
hampir 1.000 orang. Jadi ternyata Allah
sudah ijabah doa saya. Hanya bentuknya
saja berbeda.
Jadi teman-teman kalau punya doa,
kalau punya impian, tetaplah upayakan
semaksimal mungkin tapi beri ruang
kepada Allah untuk memberi bentuk yang
lebih indah.
Nah,
dari doa kita itu melebihi indahnya
bentuk yang kita mau.
Berarti Bu Ana akan tetap di jalan ini.
Begitu ya. Betul.
Ini adalah bagian dari ending yang Bu
Ana ingin cita-citakan gitu ya.
Betul. Betul. Nah, ini semoga tahun ini
kita ada legasi yang bisa saya
tinggalkan untuk teman-teman pengusaha
ril. Saya pengin menulis buku on proses
bukunya nanti semoga dimudahkan.
Kemudian ada beberapa
ilmu yang nanti bisa teman-teman akses
melalui ecos atau melalui
rekaman-rekaman di
digital. digital kita gitu.
Semoga dilancarkan Bu Ana ilmunya semoga
tetap ada.
Amin. Amin.
Terdokumentasi dengan baik. Semoga bisa
memberi manfaat untuk banyak orang.
Amin. Amin ya rabbal alamin.
Terima kasih Bu Ana sudah mampir di
sini. Teman-teman terima kasih sudah
nyimak. Kita tutup. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
He.