Transcript
sJvcRGtMZZk • Ibu Desa JAGO MARKETING Retail: Toko Tetap Laris di Tengah Gempuran Minimarket Modern
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0574_sJvcRGtMZZk.txt
Kind: captions Language: id Mengapa saya bilang itu ngerinya kayak gitu? Turunnya daya beli sekarang ini betul. Kemudian dihimpit dengan kompetitor yang semakin banyak. Satu lagi regulasi pemerintah yang semakin menggemaskan. Jadi pajaknya naik ya benar. Cuman 1% dari 10% menjadi 11%. Masyaallah. Itu bagi orang retail yang mengumpulkan rupiah demi rupiah persentasenya kecil itu sungguh sangat terasa ya. Sangat terasa. Betul. Paling menjadi penyebab utama dari permasalahan besar uang habis, barang habis itu campurnya uang kasir sama uang kasur. Jadi, banyak pengusaha rilaten bikin laporan keuangan sehingga uangnya toko ya uangnya kasur gitu kan nyampur. Kita ada satu klien yang saldonya itu hampir 1 F. Jadi beliau itu beli Fortuner dua, beli rumah tiga kayak gitu. Ternyata tempo pembayaran ke suppliernya itu 3 bulan, Pak. Terus kemudian 1 hari omsetnya R00 juta. Kebayang R00 juta 3 bulan berapa M ada di saldo lah? Itu kan jadi hijau matanya. Itu lihat apa-apa pengin gitu kan punya hutang 4,4 M. Beliau itu mau nyerah sebenarnya sudah gak kuat dengan delay dengan tagihan dengan mungkin teguran keras dari supplier gitu ya. Sudah sangat itu kita pantau itu di bulan kees9 itu sudah R juta cabangnya sudah mau tujuh. Eh, gimana ya? Marem gitu. Senang banget rasanya bisa melihat klien bangkit lagi gitu. Syukuri perjalanan hidup kita. Karena Allah itu tidak pernah iseng membuat takdir kita. Allah enggak pernah iseng, Bu. Ya, Allah enggak pernah iseng. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Selamat datang Bu Ana di studio pecah Telur. Terima kasih Pak Agung. Ini sudah waktunya ketemu ya. Nah, Bu Ana ini berarti apa, Ibu? Pengusaha di bidang ritail begitu Ibu. Kalau Bu Ana memperkenalkan diri sekarang seperti apa? Berarti praktisi dan konsultan rettail. Bisnis ril. Oh, gitu. Praktisi dan konsultan retail. Bisnis ril. Tapi memang secara hari ini itu lebih besaran mana antara praktisi sama konsultannya? Mungkin ada tiga ya, 30-an. 30, 30, 40 gitu. Oh, gitu. Edukator, konsultan, sama praktisi. Ee edukator, konsultan. Kalau edukator sama konsultan itu berbeda ya? Berbeda. H berbeda. Jadi kita kalau di retail academy, pambayin retail academy, saya lebih ke edukatornya membuat kelas. Kelas tentang retail. He. Kalau konsultan mendampingi langsung. Mendampingi langsung. Kalau yang retail praktisi kita juga ada toko punya toko gitu. Siap siap gitu. Kalau Bu Ana nyaman mana di antara tiga yang titel yang sekarang diemban itu yang paling nyaman, Bu Ana? Ee sebenarnya ada beberapa kepentingan yang membuat nyaman sebenarnya. Kalau paling nyaman saya menjadi konsultan. Oke. Nah, konsultan itu bagi saya banyak apa ya? banyak benefit yang bisa saya terima ketika menjadi konsultan. Saya itu sedang memudahkan urusan orang lain. Itu powerful banget saya di situ semangatnya. Kemudian ketemu orang baru menjadi saudara karena kita mikir bareng. He. Terus kemudian traveling kulineran gitu kan jadi seru gitu Pak. He. Dan memang rata-rata bukan di kota sendiri ya jauh-jauh. Iya betul. Ada yang di kota sendiri tapi ada juga yang di luar provinsi begitu. Oh. Siap. Iya. Oke. Saya ingin mengulik lagi mungkin agak ada yang sedikit lupa mungkin ini Bu Ana ini siapa sih? Terus apa yang pernah dilakukan? Nah, Bu Ana ini mengawali bisnis ril tahun berapa, Bu? Ana ee mengawali bisnis ril-nya itu tidak sengaja 1995. Oh, lama ya? Iya. Jadi karena saya itu lulus dari sekolah perawat, kerja di rumah sakit swasta di Blitar, kemudian hamil anak pertama, nah itu mulailah sudah mau cuti dari cuti hamil itu karena ee ini hiperemis tiap hari muntah-muntah gitu, Pak. Terus cuti. Nah, di rumah suami itu keluarga toko grosir. Nah, suami sedang menjalankan bisnis toko grosir peternakan, alat listrik, dan perabot rumah tangga. Nah, akhirnya begitu cuti dari rumah sakit 195 itu saya mulai bantu di toko. Nah, itu 3 hari bantu di toko ditinggal suami untuk jalankan bisnis yang lain. Tapi tetap di satu rumah ya, Masnya. Tapi udah enggak nge-handle toko. Jadi mau enggak mau saya dipaksa untuk belajarnya cepat gitu, Pak. Nah, itu 95. Jadi terhitung kalau sudah sampai sekarang sudah 30 tahun. Oh, iya ya. Sudah lama ya, Bu? Sudah 30 tahun. Ibarat selukbeluknya sekarang sudah tahu ya. Iya betul. Insyaallah. Pojokannya di mana? Ini barang ada di mana? Uang nyel pernah dibanting-banting berkali-kali gitu, Pak. Jadi berarti memang awalnya karena keterpaksaan ya. Betul. Terpaksa. tidak sengaja mungkin ya kalau terpaksa itu ya berbeda ya. He ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan ya karena ee cuti terus kemudian lagi enggak sehat gitu kan harus di rumah terus boring ngapain nih bantu suami ah gitu. Tapi memang waktu merawat kan enggak sehat pas waktu ril jadi sehat waktu di retail. Iya waktu di grosir itu. Oh itu enggak sehatnya kan karena hiberemisis hamil. Kalau setelah itu sehat Pak. itu sudah melahirkan berarti casnya. Belum. Oh, belum. Belum. Belum. Masih ee 7 bulan. Hampir 7 bulan. Hampil 7 bulan. Emang sudah waktunya sehat kali ya? Oh, ya. Kan ada fase-fasenya. Iya. Tapi mungkin mungkin jiwa merdekanya itu lebih lebih ada ketika menjadi pengusaha ya gitu. Kalau untuk menjadi pegawai waktu itu karyawan rumah sakit itu ritme kerjanya untuk orang sebenan saya cepat bosan itu benar-benar bikin pressure sendiri gitu Pak. Tinggi ya Bu ya? Ya. Sebenarnya kalau untuk orang yang benar-benar menjawai di situ enggak ya enggak enggak begitu tinggi. Tapi saya bosannya itu nanti jam sekian ngapain? jam sekian ngapain besok begitu lagi, besok begitu lagi. Yang saya terhibur kalau dikerja di rumah sakit itu adalah bertemu banyak orang. Mungkin saya memang orangnya senang ketemu banyak orang gitu. Oh, makanya juga di konsultan tadi senang karena ketemu banyak orang. Ketemu banyak orang, ketemu orang baru tiba-tiba cepat dekat, cepat klik kayak gitu. Hm. Jiwanya di situ memang, Bu Ana ya. Mungkin begitu, Pak. Oke. Nah, kemudian kalau toko sendiri, Bu, ee kan awalnya dari toko grosir alat peternakan I di MITAR. Namanya apa, Bu? Itu, Bu. Waktu itu tokonya itu Lestari. Lestari PS Poltri Shop. Oh, Lestari. Oke. Kalau yang pambayon Retail Group itu bukan beda bukan. Jadi pada waktu itu kita belum punya pikiran untuk membuat SPT, untuk membuat perusahaan toko gitu aja. Oke. Nah, itu jalankan toko waktu itu patungan itu tokonya kakak kita yang pengelolanya kayak gitu. Oh. Nah, itu waktu itu terus 2000 tahun 2000 kita mulai patungan lagi sama kakak untuk buat toko grosir sembako. H. He 2014 tambah lagi toko grosir lagi kita partner dengan orang lain. Terus 2018 buka minimarket terpadu. Jadi jualan sayuran, telur, tempe, tahu kayak gitu. 2018. Nah, 2019 mulai ada orang yang minta tolong. Jadi ada beberapa teman yang kita ketemu mungkin di waktu itu di Dinkes Dinas Kesehatan ada pembinaan dari Dinkes tentang penataan barang. Kita tukaran nomor telepon. 3 tahun berikutnya itu di 2019 beliau menghubungi saya karena pengin dibantu mikirin tokonya. Tokonya enggak mampu bayar karyawan. Padahal tokonya besar, minimarketnya besar. Ternyata karena sepi. He heeh. sepi. Terus coba saya datangi, saya bantu, coba dianalisa penyebabnya apa. Waktu itu omsetnya per hari masih Rp600.000. Terus kemudian kita coba analisa apa yang menyebabkan tokonya sepi. Itu 5 bulan setengah kita dampingi alhamdulillah sehari Rp2 juta. Omsetnya dari 600, Bu, ya? Dari Rp600.000. Dari satu karyawan enggak bisa bayar, sekarang kan sudah ya. itu sebelum masuk ke situ, Bu Ana, sebelum masuk ke situ, saya masih penasaran dengan toko yang Bu Ana kelola sendiri tadi, yang dipraktisi tadi. Heeh. Berarti kalau saat ini kalau dikatakan saat ini berarti mengelola berapa toko Bu Ana? Yang kalau yang milik sendiri itu kita berarti empat. Milik sendiri. Milik sendiri. Ini empat. Terus kemudian waktu awal kita memakai skema kemitraan. Jadi kita yang mengelola secara manajemen permodalan itu dari mitranya. Oke. Itu di 2019 itu kita menjalankan itu. Jadi beberapa klien itu kita suplai barangnya, kita dampingi manajemennya seperti itu. Tapi lama-lama ada yang terjadi di bisnis kita yang lain, keluarga kita yang lain sehingga menimbulkan permodalan di toko kami yang nyuplai ke mitra itu terhambat. Akhirnya kita enggak bisa nyuplai lagi barang, enggak bisa nyuplai barang ke mitra. Nah, itu kebangkrutan. Semoga kebangkrutan terakhir ya. Gim gimana tadi Bu Guna? Kan awalnya kita membuat kemitraan dengan cara kita menyuplai barang. Menyuplai barang ke toko itu kan mitra. Berarti mitra itu modelnya cuma bangunan sama dana toko aja. Iya. Bangunan toko, Dana. Nah, itu kita yang suplai barang sambil me ee mendampingi manajemennya. Begitu. Nah, API ee berjalan cuman 1 tahun setengah di bisnis kita yang lain di peternakan waktu itu kita colab. Oh, berarti enggak ada kaitannya sama Mart ini yang yang enggak enggak ada kaitannya sama Mat. Bisnis peternakannya Bu Ana dan keluarga. Iya, betul. Itu kolab sehingga semua permodalan toko tersedot ke peternakan. Oh, untuk nutupi bisnis lain peternakan tadi. Iya betul. Menutupi menutupi hutang-hutang ke supplier peternakannya. He. Karena waktu itu ee ayamnya itu murah banget di obral itu Rp10.000 dapat 4 ekor. Rp10.000 dapat 4 ekor. Jadi 2.500-an per ekor itu ayam siap telur. HPP-nya aja itu Rp52.000. Oh, yang bertelur, Bu. Ya, betul. Siap untuk bertelur. Lek ngarani opo? Eh, Oh, iya. Pulet ya, lek bebek bayah ngoten nik. Betul. Siap telur. Nah, siap telur itu. Nah, akhirnya itu yang menyedot semua permodalan kita. Akhirnya kita tidak bisa lagi ke akhirnya kita lepas kemitraan itu mereka tetap jalan tapi kalau untuk sharing konsultasi tetap jalan sampai sekarang. Itu untuk yang konsep kemitraan dulu itu kita akhirnya lepas gitu. Sampai berapa yang lepas waktu itu Bu? Tujuh. Yang lepas tujuh. Oh lumayan ya Bu. Heeh. Lumayan. Lumayan sebetulnya. Kalau kebangkrutannya banyak Bu ya. Buana kebangkrutannya itu 1,8. Hm. He. 1,8 itu cukup membuat kita pontang-panting ya. 1,8 miliar ya, Bu ya? Iya. 1,8 miliar itu cukup buat pontang panting. Nah, itu sebenarnya 2000 terjadi 2018 tapi dampaknya sampai itu setelah pandemi. Walaupun tokonya running gitu. Heeh. Heeh. Tokonya running tapi runningnya akhirnya keterbatasan untuk pengadaan barang, kelengkapan barang, putarannya sedikit. Nah, ini waktu itu saya seolah-olah itu ee sama Allah itu apa ya? Protes gitu loh, Pak. Aku protes. Protes. Karena kenapa bisnis saya kok dibuat bertubi-tubi bermasalah? Bermasalah di bisnis yang peternakan. Kemudian merembet bermasalah di tokonya karena tokonya kelengkapan barangnya kurang. Heeh. Heeh. Sampai kayak udah mau nyerah, udahlah tokonya ditutup saja. Yang empat sisanya itu. Iya. karena kita benar-benar terseret terseret-seret ya untuk pemenuhan kebutuhan barangnya. He. Nah, ini terjadi delay untuk pembayaran di supplier kayak gitu. Itu benar-benar berat waktu itu 18 19 20. Heeh. Waktu kayak protes-protesnya itu ya dengan apa itu gampangnya ada di grup WA itu sedang ngirim tafsir dari surat Adduha. Wah. Apa itu, Bu? Nah, itu saya mengingat apa itu turunnya surat itu. Pernah mendengarkan ceramah seorang ustaz ya, bahwa itu turun ketika Rasulullah itu sudah berbulan-bulan tidak turun wahyu. E, jadi Rasulullah merasa sudah dilepas sama Allah gitu, tidak dipedulikan ya, ditinggal. Dan itu yang saya rasakan waktu itu. He. Dan ketika ada surat aduhahu kemudian dengan Nuzulul apa itu ayatnya gitu ya, Nzulul Quran. Nzulul asbabnya gitu ya. Asbabun nuzul Bu. Kalau nuzul Quran kan yang anu ya 17 azbabun nuzul. Jadi turunnya itu dengan kondisi seperti itu itu relate banget dengan kondisi saya dan saya juga mendapatkan jawaban seperti yang Rasulullah dapatkan bahwa saya tidak ditinggalkan. Semua ini adalah proses yang sedang Allah jalankan ke saya gitu. Saya pun menunggu kira-kira endingnya seperti apa nanti. Heeh. Heeh. Heeh. Nah, itu yang membuat saya powerful di konsultan. Karena masa-masa saya tidak memenuhi bisa memenuhi barang, barangnya habis, uangnya habis. Itu benar-benar saya alami sendiri. Heeh. Heeh. He. Jadi ketika mendapatkan klien dengan permasalahan serupa, wah saya excited untuk menyelesaikan karena saya pernah ada di fase itu. Iya, betul. Tapi akhirnya ee yang empat tadi terselamatkan, Bu ya? Retail yang empat itu tadi. Betul. Tetap terselamatkan, tetap ada. Iya, betul. Sampai sekarang. Nah, kemudian tetap ada dan itu menjadi laboratoriumnya saya untuk uji coba untuk riset-riset apa gitu. Betul. Risetnya kepaksa sih sebenarnya ya risetnya karena perjalanan itu tadi kenapa sih harus dikasih masalah bertubi-tubi gitu. Iya. Iya. Ternyata 2019 seperti itu. 2021 antrian panjang pendampingan karena video pecah telur yang pertama. Wah, alhamdulillah. Alhamdulillah itu antrian panjang untuk pendampingan. Betul pendampingannya panjang karena dari satu teman yang kita dampingi free 5 bulan setengah dia cerita ke teman yang lain temannya minta didampingi. Iya. Iya. I terus kemudian minta lagi minta lagi. Akhirnya kita kewalahan. Awal-awal itu saya tetap freikan. Saya ee perlu ngeluarkan duit dari kantong sendiri untuk bayar manajer saya yang ngedampingin juga gitu. Karena niatnya awalnya bantu aja. mikir sebanyak ini gitu. Iya, betul. Enggak mikir kalau bakalan banyak yang minta pendampingan. Awalnya itu benar-benar kali aja ini bisa jadi solusi gitu. Heeh. Heeh. He. Nah, akhirnya karena masalah saya seperti masalah yang saya hadapi kemudian Allah datangkan orang yang dengan masalah sama. He. Akhirnya saya mikir, "Oh, gini polanya Allah itu." Gitu kan. Kalau doanya saya pengin bermanfaat, saya dikasih masalah. Terus saya bisa menyelesaikan, bisa menjalani itu. Dikirimlah orang supaya nanti saya kasih ee solusinya itu sesuai gitu. Nah, itu awal-awalnya seperti itu. Siap. Sebenarnya bisnis ril apa ya, Bu? Kalau kita bicara bisnis ya, prospek prospektus atau peluang opportunity margin itu masih menjanjikan enggak, Bu, untuk bisnis retail hari ini? Iya. Memang bisnis retail itu salah satu bisnis yang red ocean ya. Jadi ini ngeri-ngeri sedap gitu ya. Ngeri-ngeri sedap. Ngerinya dua kali, sedapnya satu kali. Bu sedap gitu mungkin ya. Sedapnya panjang ya hanya panjang gitu. Sedapnya lama gitu. Insyaallah begitu sedap. Kalau bisa ngelewati dua ngeri sedap gitu ya. Jadi ngeri-ngeri gitu kan cepat ya. Ngeri-ngeri sedap. Sedap gitu. Oh gitu ya. Ngeri-ngerinya itu karena semakin banyak kompetitor yang bermunculan. Oke. Banyaknya PHK tahun-tahun ini di negara kita itu memunculkan ide bisnis teman-teman yang di PHK itu buka toko. Memang kan paling mudah ya. Iya paling mudah. Heeh. He iya. Pokok ee katanya nenek saya ya pokok irunge murep wis iso buka toko gitu. Jadi enggak ada yang hidungnya gak enggak kan enggak ada ya Bu ya realit yang hidungnya ke atas ya. Jadi semua orang bisa buka toko. Iya betul. Saking mudahnya dicreate gitu kan. sebelum ke arah situ, Bu. Ternyata teman-teman di sini juga buka toko, Bu. Di kantin, di belakang ada namanya kantin kejujuran. Oh, jadi itu yang ngelola adalah ee admin finance dari uang yang tidak dikelola untuk perusahaan gitu. Jadi, Teman-teman kalau enggak belanja di sini anu diseneni. Iya. Itu win-win solution gitu mendatangkan income stream sama biar enggak ada waktu ngelur-keluar gitu ya. Ini eh intermeso. Iya, intermiso. Lanjut, lanjut, lanjut. banyaknya bermunculan kompetitor, banyaknya pengangguran, mereka buka toko. Siapapun bisa buka toko. Asalkan hidungnya ke bawah. Betul. Nah, saking mudahnya buka toko, bahkan tidak mempedulikan punya ilmu atau tidak. Pokoknya buka aja, jalani dulu gitu kan. Betul. Itu memunculkan banyak kompetitor. Nah, munculnya banyak kompetitor itu semakin red osen. Heeh. Semakin ee ketat ya persaingannya semakin ketat. Heeh. Mengapa saya bilang itu ngerinya kayak gitu? He. Nah, kemudian turunnya daya beli sekarang ini ya. Betul. Turunnya jaya beli kemudian dihimpit dengan apa itu kompetitor yang semakin banyak. Satu lagi regulasi pemerintah yang semakin menggemaskan. Apa kaitan sama regulasi dalam hal minimar apa retail ini? Pajak. Oh, jadi pajaknya naik ya. Benar. cuman 1% dari 10% menjadi 11%. Masyaallah. Itu bagi orang retail yang mengumpulkan rupiah demi rupiah, persentasenya kecil itu sungguh sangat terasa ya. Sangat terasa. Betul. Sedapnya kalau kita menemukan market yang tepat. Hm. Walaupun dengan kompetitor yang banyak, kalau kita menemukan market yang tepat, kita bisa memunculkan value atau keunggulan yang lebih daripada kompetitor. Kita tetap akan terpilih. Hm. gitu. Nah, jadi contohnya begini. Ketika tidak dipungkiri sekarang itu minimarket modern 3 kilo ada lagi, 5 kilo ada lagi. Bisa jadi minimarket kita itu di depannya ada si A, di sampingnya ada si I gitu kan. Nah, bisa jadi head to head-nya segitunya. Heeh. He. Nah, tapi kalau kita bisa menemukan marketnya dan kita punya value, contohnya toko Madura. Heeh. Heeh. Toko Madura itu adalah satu-satunya toko yang bisa mengalahkan minimarket modern dengan value-nya buka sampai kiamat. Buka 25 jam gitu kan. Kiamat kurang 2 hari sih, Bu tepatnya. Eh sehari atau du hari. Iya iya iya. Nah itu itu value-nya luar biasa dan ee barangnya benar-benar yang benar-benar dibutuhin aja. Enggak neko tidak banyak tapi benar-benar tepat sasaran gitu ya. Betul. F moving aja. itu ternyata cukup untuk membuat toko Madura itu hidup hidup gitu. Tapi ada yang bilang juga gini, Bu Ana. Jadi misal kayak memang walaupun berhadap-hadapan ya di sini ada yang minimarket modern, di depannya ada toko Madura, tapi memang yang dibeli beda dan marketnya beda gitu gitu ya Bu Ana. Memang gitu ya. Betul. Betul betul. Heeh. Nah, itu ya apalagi kalau kita tahu bagaimana memainkan strategi kompetitor. Hm. Kalau misalnya si minimarket modern lagi promo minyak. Heeh. Biasanya mereka promonya hari Jumat, Sabtu, Minggu. Heeh. Dibeli aja itu promonya. Promonya. Nanti kita gantian promo di Senin, Selasa, Rabu. Jadi gantian ya. Gantian siapa yang promo walaupun yang dipromoin sama atau seperti yang kita lakukan di minimarket kita. Kalau di depan kita itu si A sama si I di sebelah itu lagi promo minyak, kita promonya bawang merah. Oke. Jadi ibu-ibu jadi bingung beli ke mana ya? Oh, beli bawang merahnya ke sini, beli minyaknya ke situ. Atau daripada ee ini harus pindah, udahlah beli beli bawang merah sambil beli minyak walaupun enggak promo. Oh, iya. Iya. Iya. Tetap ada yang bisa kita lakukan walaupun dengan persaingan se seketat itu. Seketat itu gitu. Ee red os itu bisa disiasati asalkan ketemu market yang bagus. Betul. Apalagi, Bu? Ketemu market yang bagus dan punya value. Punya value. Iya, betul. bisa dijelaskan sedikit enggak punya bagaimana nemu market yang bagus dan value seperti apa yang harus dimiliki seorang yang mau buka minimarket. Oke, yang pertama marketnya beda gitu tadi ya. Menemukan market yang tepat itu tadi itu karena kita tahu marketnya beda. Minimarket modern itu lebih menyiapkan barang-barang yang untuk pemakai jalan. Jadi orang yang lalu lintas. Heeh. Heeh. He. Jadi minuman, snack gitu. He. Tapi untuk sembako keseharian mereka sangat minim punya barangnya. Heeh. He. Jadi kalau beras, minyak itu sedikit sekali mereka punya. Berarti kebutuhan masyarakat marketnya mungkin sama, tapi kebutuhannya ada beberapa yang tidak terpenuhi di minimarket modern. Maka itu yang kita penuhi. He. Contohnya marketnya yang tepat itu akan relate sama penyediaan barang. Contoh misalnya di satu wilayah ada minimarket modern itu menyediakan merek pampersnya itu A. Ternyata orang sekitar pakai pampersnya B. H. Minimarket modern ini untuk merubah menjual pampers B itu harus mengajukan regulasinya sampai atas lama. Heeh. Sedangkan kita yang retail lokal, kita tahu tetangga kita yang dipakai pampersnya apa, kita langsung bisa sediakan pampers itu. Jadi, kita lebih cepat tahu kebutuhan market apa dan kita bisa cepat menyediakan. Itu keuntungannya kalau retail lokal gitu. Jadi, tidak perlu birokrasi yang panjang ya, Bu. Ya, betul. Seperti truk gandeng. Heeh. Kalau lagi di jalan macet sama sepeda motor, cepetan cari jalannya pintaran yang sepeda motor gitu. Karena tidak harus pakai haluan besar gitu. Berarti nyisi market yang sudah ada intinya gitu ya, Bu ya. Betul. Jadi harus mengenali di daerah tersebut masyarakatnya behavior-nya seperti apa, behavior itu membutuhkan barang apa yang tersedia di minimarket modern apa yang belum apa? Tapi misal Bu, ada enggak kemungkinan seperti ini? Jadi di minimarket itu memang sudah survei juga untuk menyediakan kebutuhan yang banyak dibutuhkan masyarakat gitu. Betul. Bisa jadi seperti itu. Heeh. Itu gimana strateginya kalau seperti itu? Strateginya kita bisa mempunyai value better P ya. Better P itu better P 5P. Oke. Jadi produknya lebih bagus atau diferensiasi. Better atau diferensiasi? Beda. Heeh. Heeh. Better PE yang pertama itu produknya beda. Minimal beda itu beda itu mereka tidak jualan bawang merah, kita jualan bawang merah. Mereka enggak jualan tempe, kita jualan tempe. Berarti produknya beda diferensiasi atau better. Terus kemudian di mereka itu better-nya lagi itu bisa di better price P berikutnya price. Jadi mereka itu kalau di minimarket modern beli satu sama beli satu karton harganya ya satu dikalikan isinya satu karton berapa? Misalnya satu ee air mineral harganya Rp3.000 satu karton isinya 24 itu langsung Rp72.000 Padahal kalau di kita satu karton itu cukup dengan R2.000 misalnya seperti itu. Jadi iya betul sistem yang ada di mereka ternyata kalau kita audit kompetitor itu mereka itu lebih enggak bisa melayani permintaan masyarakat kalau beli banyak lebih murah itu enggak bisa. Sedangkan di retail kita bisa kita tampilkan better price kemudian berikutnya better place. tempatnya mungkin mereka pakai AC, mungkin mereka itu lebih bersih gitu ya. Gimana kita juga bisa menampilkan sebersih mereka, serapi mereka. Nah, kalau ada yang pakai AC, pakai tutup kaca, kemudian letaknya di desa, orang mau belanja itu kesannya wah itu mahal gitu ya. Kita berarti bisa enggak usah pakai kaca tapi barangnya tetap bersih, displaynya tetap rapi, itu better place. He. Nah, kemudian yang berikutnya lagi itu better promo. Nah, tadi kalau mereka promo apa, kita promo apa ya? Kita punya promo diferensiasi atau lebih bagus lagi. Promo kalau beli banyak lebih murah, beli banyak harga grosir itu juga bisa dimunculkan. He. Nah, berikutnya lagi better people. Kalau mereka kalau ada orang belanja selamat datang, selamat berbelanja. Kalau di kita, Bu, Bu Tiwi ya, Bu Tiwi mau masak apa, Bu? Tadi udah masak apa kemarin, Bu? Sekarang mau masak apa, Bu? Tadi anak-anak si kecil, si Toni sudah berangkat sekolah, Bu. Itu lebih pelayanannya lebih humble. Betul. Nah, ini juga apa itu bisa kok. Itu hanya salah satu beberapa contoh aja value yang bisa kita munculkan untuk menghadapi persaingan dengan minimarket modern. Bisa pakai better P 5P tadi. Siap, Bu. Ana kalau untuk harga itu biasanya gimana sih cara ngitung harga jual seorang yang mau buka itu? Oke. Nah, biasanya untuk teman-teman yang ingin buka minimarket sebelum benar-benar buka, sebelum menentukan tempatnya, lokasinya harus melakukan survei dulu. Survei pemilihan lokasi kepadatan penduduknya padat apa enggak. Nanti jangan-jangan kita itu di tengah-tengah persawahan atau hutan kita mau buka minimarket nanti siapa pembelinya gitu ya. Jadi pilih lokasinya survei dulu kepadatan penduduk sama ramai jalannya enggak. Terus kemudian setelah itu kita itu kekuatan pendanaannya berapa? Jangan semua dialokasikan ke bangunan, nanti sudah enggak bisa beli barang. He. Maka nanti bikin RAB yang sesuai dengan kemampuan pendanaan kita. Heeh. Lalu kulaan persiapkan barangnya. Nah, bagaimana membuat setting harga jualnya itu harus tahu juga kompetitor di sekitarnya. Nanti tidak bisa dipukul rata ambil 10%. Enggak bisa. Karena ada beberapa barang bisa ngambil 30%. Ada barang yang ngambilnya cuma 2%. Jadi harus survei kompetitor. Kompetitor jual berapa? Kita agak murah dikit. Hm. Jadi murai kompetitor juga ya? Iya. Murah. Lebih murah dari kompetitor dikit. Kalau dari awal kita terkenal mahal juga enggak bisa menjadi value, akhirnya dari awal enggak bisa dipilih sama customer. Heeh. Ya, memang strategi harga murah itu masih sangat berlaku ya di ritel, Bu ya. Tergantung ini ya sekarang itu tergantung dari behavior masyarakatnya. Untuk masyarakat menengah ke atas pricing itu tidak terlalu penting, tapi kenyamanan, pelayanan gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Nah, itu kalau masyarakat mid law mungkin pressing itu menjadi salah satu pengaruh. Iya. Ee bagi teman-teman yang mau buka retail ee mereka juga menemukan problemnya itu di harga beli Bu Ana. Jadi harga belinya sudah agak mahal. Jadi mereka akhirnya tidak bisa bersaing. Nah, untuk seperti ini bagaimana case-nya untuk solusinya strategi? Oke. Iya, betul. Jadi ketika kita ambil posisi sebagai toko pengecer atau sebagai toko semi grosir atau grosir, kita harus tahu sumber dari suplai barang kita cocoknya yang mana. Kalau pengecer berarti bisa belanjanya ke toko grosir. He. Sama-sama ee harga ecer itu masih bisa bersaing. Kalaupun untuk toko pengecer itu head to head sama minimarket modern kita bisa lebih murah sebenarnya. Hm. Tetap lebih murah. Sebenarnya minimarket modern itu mahal. Heeh. Heeh. yang murah itu ya hanya yang dipromoin itu aja gitu. Nah, kemudian kalau kita ambil posisi sebagai semi grosir, kita harus ee ke distributor resmi belinya dan itu pun pakai kuantitas minimal order. Maka sebenarnya kulak bareng itu menjadi salah satu solusi bagaimana kita mendapatkan HP murah dari distributor itu. Iya, betul. Kulak bareng itu bisa dilakukan oleh jaringan retail keluarga misalnya. Jadi si kakak punya toko, si adik punya toko, si ponakan punya toko itu bisa kulak bareng. Heeh. Kalau gak seperti itu, kita bukan mereka bukan keluarga kita, tapi kita ajak kulak bareng itu juga bisa. Heeh. Heeh. Kayak misalnya di jaringannya Bu Ana pernah ada laku, pernah melakukan itu enggak? Kulak bareng itu pernah. Bahkan kita kulak bareng sama kompetitor. Oh, gitu ya. Jadi mengubah kompetitor menjadi mitra, menjadi kawan ya. Iya. Jadi kayak bahasa diplomasinya begini. Ini aku dapat barang murah sekian, mau enggak kita kulak bareng? Kalau enggak mau, ya sudah kamu akan kalah sama aku. Loh, tak ajak kulak bareng enggak mau gitu kan. Padahal di sini itu maksudnya ngajak itu diplomatisnya itu supaya volume pembeliannya terpenuhi gitu. Jadi itu bisa n asalkan itu benar-benar visinya jelas gitu kan kita ajak kompetitor untuk kulak bareng itu bisa banget dan itu sering kita lakukan. Heeh. Misalnya kita minuman e AMDK ya, air minum dalam kemasan, kita kulak bareng itu satu wingbx. Wingbx itu satu wingbx itu kalau air minum itu isinya sekitar 18.400 karton. He. Nah, kita ternyata kemampuan jualnya cuma 10.000 karton. Yang Rp8.000 kita ajak kompetitor. He. Supaya kita bisa dapat HP murah, sama-sama murah. Jadi kompetitor juga dapat murah, kita dapat murah. Di setiap kota itu apa? selalu ada distributor Bu Ana enggak mesti ada. Tapi dari semua princiipel itu punya titik-titik distribusi distributornya masing-masing. Oh, pasti dilewati prinsip. Iya. Kalau enggak tiga kabupaten ya dua atau per tiap kabupaten tergantung dari kebijakan princiipal masing-masing. Oke. Itu bagi toko yang buka semi grosir. Betul. Tapi kalau untuk retail aja berarti kan enggak usah ke apa ke distributor kan Bu? Ke grosir aja sudah cukup. Betul. Kalau ke distributor juga bisa, tapi dia akhirnya dapat harga yang lebih mahal malahan karena volume ee pengambilannya lebih kecil. Iya. Iya, iya. Mending ke grosir kan, Bu? Iya. Jadi kalau ke grosir itu seperti kulak bareng sama si grosir itu gitu sebenarnya. Kalau di setiap kota pasti ada grosir kan? Pasti ada grosir. Iya. I pasti ada toko grosir. Nah, biasanya memang kalau yang modelnya enggak begitu banyak ini ee anjurannya untuk retail Bu ya. Betul. He kalau mau ke grosir itemnya yang disedikitin. Oke. Fokus apa begitu ya? Iya betul. Misalnya kalau minimarket pengecer punya 2.000 sampai 4.000 item. Tapi karena penginnya itu grosir maka uang segitu itu bisa untuk buka grosir tapi hanya mungkin lima item. H tapi kuantitasnya besar-besar. klien yang pernah Bu Ana dampingi kan Bu Ana sudah mendampingi puluhan atau bahkan ratusan Bu Ana masih puluhan Pak masih belum sampai ratusan ya belum insyaallah amin puluhan klien ya kalau puluhan itu tepatnya sampai berapa angkanya Bu Ana ee hari ini on project itu ee hampir 40 hampir 40 40 klien minimarket atau retail yang pernah didampingi gitu ya. Iya. Jadi kita beragam. Jadi pendampingan kita awalnya itu untuk minimarket namanya klinik minimarket. Membantu melahirkan minimarket sama di minimarket itu membantu melahirkan. Membantu melahirkan minimarket sama mengobati minimarket yang sakit. Oh bidan dan Iya. Tapi dalam perjalanannya di tahun kedua klinik minimarket itu berdiri itu yang masuk minta pendampingan itu apotek, toko pertanian, toko bangunan, toko peternakan, jadi toko baju, kemudian toko mainan. Jadi semua jenis bisnis ril pendampingan kita. Dan kita juga alhamdulillah itu on project juga ee kita pernah mendampingi manufaktur makanan, kemudian kita on project mendampingi manufaktur minuman, kemudian manufaktur untuk alat rumah tangga. Manufaktur itu juga retail pabrik bukan sebenarnya beda. Oh berarti retail dan manufaktur sekarang. Iya sekarang rettail dan manufaktur. Dan retailnya ini juga dari berbagai kalangan. Iya. Iya. dari mulai kalangan TKW yang mau pulang penginnya pulang itu sudah jalan tokonya gitu. Ada juga yang seperti itu. Iya. Jadi minta Bu Ana untuk melahirkan dan merapikan di awal-awal. Heeh. Beliau pulang langsung sudah jalan. Betul. Itu ada sudah jalan cerdas itu, Bu Ana. Iya. Betul. Ada juga yang sedang persiapan masa pensiun. Oh. Jadi sebelum pensiun, setahun sebelum pensiun minta dibukakan. Nanti setelah pensiun itu buat hiburan di rumah supaya enggak bingung. ee kegiatannya apa kalau sudah pensiun? Nah, kemudian ada juga yang paling banyak itu adalah klien yang tokonya sudah besar, sudah lama beliau itu sudah berumur pengin mewariskan bisnisnya ke anaknya. Oh. Karena bisnis itu yang menjalankan beliau sendiri, maka tidak membutuhkan sistemasi yang terlalu detail. ketika diturunkan ke anaknya, anak-anak masa kini kalau sistemnya itu enggak bagus, enggak rapi, mereka juga bingung belajarnya mulai dari mana. Itu yang paling banyak. yang paling banyak saya malah kebayang itu bagaimana cara buat melakukannya ya dengan banyaknya kompleksitasnya yang di kan apa ya jadinya kan ibarat pasien itu beragam ya Bu ya pasti mikirnya juga satu-satu dan mungkin kalau diturunkan ke orang selain Bu Ana mungkin juga bingung berarti kan harus ditangani Bu Ana sendiri satu-satu juga diturunkannya di delegas juga satu-satu betul oh nah itu bagaimana ee berarti timnya sekarang banyak gitu, Bu. Atau belum banyak sih, tapi lumayan ada dan ee alhamdulillah kita bisa nambah-nambah tim agar semakin banyak klien yang bisa kita dampingi gitu. Hm. Itu kalau klien itu yang di namakan klien sekali kunjungan atau kayak harus berapa lama begitu atau seperti apa treatmentnya? Kalau Iya, kita biasanya kalau ada WA masuk, ada permintaan untuk konsultasi ke kita. Awalnya kita konsultasi free dulu by WA, nanti sampai dengan jelas permasalahannya apa, kemudian kita ajak Zoom free, konsultasi Zoom free. Nah, di Zoom itu kita coba identifikasi masalahnya apa. Heeh. Heeh. Nah, setelah identifikasi masalah untuk menguatkan diagnosa, maka kita menawarkan namanya bedah bisnis. Kita datangi ke kliennya 2 sampai 3 hari kita amati bisnis flow-nya. He, ada kejanggalan apa, ada permasalahan apa, kemudian minta kita minta beberapa data keuangan, data penjualan, pembelian juga kita analisa datanya. Hm. Dari data sebagai sampel laboratoriumnya, kemudian observasi itu ee di bisnis flow-nya itu coba kita identifikasi masalah. He. Lalu kita buatkan action plan untuk solusinya. Heeh. He. Nah, itu bedah bisnis. Jadi, 2 sampai 3 hari kita datang. klien mendapatkan, "Oh, ternyata sakitku di sini. Oh, salahku di sini. Oh, yang benar seperti ini." Mulainya kita urutkan langkah action plan-nya itu. Pertama, harus diginikan, harus diginikan, harus diginikan. Kalau dia bisa melakukan sendiri action plan itu, itu namanya rawat jalan. Jadi, budah bisnis itu rawat jalan. Nah, kalau ternyata kliennya tidak bisa mengeksekusi plan sendiri, barulah masuk ke pendampingan. Heeh. He. Kalau pendampingan berapa lama biasanya, Bu? Tergantung case-nya. Hm. Kalau pendampingan melahirkan minimarket dari mulai menentukan lokasi atau sudah punya lokasi, kemudian persiapan bangunan, denahnya, layout-nya, persiapan alat, RAB-nya, persiapan barang, persiapan tim, kemudian persiapan grand opening sampai pasca grand opening itu 2 sampai 3 bulan. Hm. Kita dampinginya lama ya, 2 sampai 3 bulan ya. itu durasi bukan setiap hari kita ke situ. Hanya durasi aja. Oh, kalau kunjungannya kalau kunjungannya masih sekali atau dua kali gitu ya. Enggak, Pak Agung. Tergantung pada action plan-nya, Pak Agung. Oh, contoh kita biasanya minta dari klien yang melahir pengin buka minimarket gitu ya, kita minta mau buka tanggal berapa. Kan biasanya klien itu ada hitungan jaowo kan, Pak Agung. Hari baiknya apa gitu kan. Oh, berlaku banget Pak Agung. Jadi ee katanya orang tuanya harus bukanya Senin paing misalnya gitu ya. Boleh Senin Wage kelahiran saya. Oh itu kita titik tangganya kita note ya. Berarti kita butuh berapa hari tindakan sebelum itu kita kondon kita kondon maka nanti tanggal sekian ngapain? Tanggal sekian ngapain? Tanggal sekian ngapain gitu. Ada yang minta itu 12 hari lagi buka. Masyaallah itu berarti harus lembur gitu ya. Nah, Bu Ana, jadi kalau yang tidak minta hari ada misalnya oh terserah yang penting persiapan beres itu artinya ada ada juga Pak ramai juga atau gak ramai ramai juga malah saya senang yang itu. Senang yang itu. Itu tergantung keyakinan lah ya. Iya. Sebenarnya kita kan kalau untuk grand opening itu harusnya memilih hari Sabtu atau Ahad karena ramai. Karena ramai karena para pembeli itu sedang longgar waktunya. Nah, jadi untuk seremonial grand opening untuk melihat apa itu meriahnya grand opening itu ada waktu masyarakatnya itu kayak benar-benar dibuat meriah gitu ya, Bu. Ada balon-balon, ada doorpress gitu ya. Ada balon-balon, ada doorpress, ada live musik, karaokean, ada senam, ada badut kayak gitu-gitu supaya menarik perhatian masyarakat sekitar bahwa di situ eh ada minimarket. Oh, gitu. Iya, gitu. itu biasanya sampai grand opening dan pasca opening itu mostly 2 sampai 3 bulan. Kalau yang recovery itu tergantung cas-nya. He. Dari empat pilar bisnis mana nih yang bermasalah? Apakah inventorynya, keuangannya, SDM-nya, sistemasinya atau marketingnya. Jadi kalau di retail itu ada lima pilarnya ya. H ketambahan inventory. Karena kalau di bisnis lain mungkin inventory enggak begitu ya. Nah, itu tergantung kalau masalahnya kompleks. Jadi terkait banyak hal itu bisa ada yang satu setengah tahun. Uh, tapi kita enggak tiap hari ke datangnya masa pendampingannya gitu ya. Masa ada nanti tetap ada action plan di awal. Jadi, apa yang mau dilakukan, kapan itu dilakukan. Kita butuh ee combin dengan tim mereka yang bagian apa gitu juga ada. Heeh. Itu kalau recovery kalau orang mau minta pendampingan apa selalu bisa atau harus ngantri dulu Pak Ana? Ee enggak tentu Pak Agung karena misalnya case-nya lagi SDM tuh tim kita yang bagian SDM lagi longgar bisa langsung cepat. Enggersediaan timnya Bu Ana. Betul tergantung ketersediaan. Nah kemarin itu karena tim kita juga belum lengkap maka akhirnya antrian pendampingan itu saya buatkan kelas. Hm. Sambil gitu. Betul. sambil nungguin itu 2021 saya mulai adakan kelas namanya Semesta Bisnis Rail Indonesia. Nah, di situ kita bahas manajemen dasar atau manajemen transisi dari tradisional menjadi e poajemen profesional. Itu kita lima pilarnya kita bahas semua 13 sampai 15 kali pertemuan Zoom seminggu sekali. He itu awalnya offline. Awalnya offline 6 hari, 5 hari. Kemudian karena setelah pandemi itu kita baru ke online. Online. Baru ke online. Nah itu alhamdulillah satu batch itu 30 orang dari hampir seluruh Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia. Dan itu alhamdulillah ee 50% itu bisa mengatasi permasalahan. Betul. Dan mereka tidak jadi pendampingan. Iya. Iya. Tapi ada beberapa yang sangat kompleks. Akhirnya bingung mulai dari mana. Akhirnya tetap minta pendampingan begitu. Pendingan. Memang kan pemahaman orang beda-beda, Bu. Ya, betul. Nggih. Ada yang dengan melihat podcast ini aja mungkin problemnya sudah beres, Bu. Oh, iya betul. Semoga seperti itu. Kan kita tadi ngomongin ilmu-ilmu juga kan. Iya, betul. Betul. Nah, semoga nanti teman-teman juga banyak yang dapat aya. Ahanya. Aha. Itu Agung Hartadi, Bu. Oh, gitu tah. Betul betul. Dulu diklaim sama Atta. Oh, gitu. itu itu di Ata I ya. Oke, Bu Ana. Jadi kalau yang paling Bu Ana banyak amati ini kan Bu Ana banyak 40 klien yang pernah di pernah disinggung atau pernah didampingi? Didampingi. Permasalahan yang paling banyak yang ditemukan Bu Ana di bagian apa? Iya, ini permasalahan yang paling banyak dan bikin saya ngenes gitu ya. Ngenes Bu. Ngenes. Karena mereka datang telat. Ya sudah, kalau penyakit itu stadium 4 gitu. Oh, udah agak waduh kok baru sekarang gitu. Oh, ada stadiumnya juga ya. Sama seperti kanker ya? Saya kira cuma kanker aja. Emang stadium itu gimana itu kronologinya? Jadi ee biasanya permasalahan yang paling besar itu adalah uang habis, barang habis. Oke. Itu stadium berapa? Itu stadium 4. Uangnya sudah habis. Iya, uangnya habis. Barangnya sudah habis. Barangnya juga habis. hampir habis ya. Tapi bisa dibilang kalau ada pembeli datang udah enggak ada yang di Heeh. Yang diminta pembeli sudah enggak punya. Itu ke mana, Bu? Rata-rata larinya uang atau Nah, betul. Nah, ini yang paling menjadi penyebab utama dari permasalahan besar uang habis, barang habis itu yang pertama itu campurnya uang kasir sama uang kasur. Jadi, banyak pengusaha rilaten bikin laporan keuangan. Heeh. He. Sehingga uangnya toko ya uangnya kasur gitu kan nyampur uang kasur sama uang kasur. He. Berawal dari tidak tahu labanya berapa tapi tahu pengeluarannya berapa gitu kan. Jadi kirologi di laba tapi betul-betul bikin RB rencana anggaran kan yang dibikin pengeluaran gitu. Nah ini jadi enggak harusnya rencana pendapatan ya bukan rencana pengeluaran bukan anggaran ya. Betul Bu Ana. Berarti kalau yang tidak bisa memisah antara keuangan pribadi sama toko tadi berarti kan masih kecil ya Bu Ana atau ada juga yang sampai besar seperti itu? Sampai besar. Sampai besar seperti itu. Tapi kok bisa besar ya? Kok bisa besar? Karena gaya hidupnya itu masih di bawah pendapatannya dulunya ya. Iya. Oh. Jadi pendapat ee gaya hidupnya di bawah pendapatannya. Jadi pertama tadi kan uang kasir sama uang kasurnya nyampur. Itu masih bisa selamat sama enggak? selamat itu kalau ternyata gaya hidupnya di bawah profit. Nah, kalau gaya hidupnya di atas profit, maka timbul masalah kedua, besar pasak daripada tiang dan itu tidak kerasa. Mengapa kalau di dunia retail enggak kerasa, enggak langsung disadari? Karena kebanyakan retail itu mendapatkan tempo pembayaran dari supplier. Jadi, ketika ada cash dilaci itu bukan uangnya sebenarnya, uangnya supplier. Selagi belum ditagih supplier, aman tuh. He. Serasa punya saldo, serasa punya cash. Kita ada satu klien yang saldonya itu hampir 1 M saldo. Heeh. Jadi beliau itu beli Fortuner dua, beli rumah tiga kayak gitu. Buat apa? Forter dua, Bu? Iya, buat istri sendiri. Terus ini tiga ya? Tiga. Malahan. Buat istri sendiri, buat suami sendiri. Yang satu buat jemput saya gitu kayaknya. Ini malah bercanda, Bu. Betul. Itu betulah terjadi. Iya. katanya yang satu buat jemput saya gitu. Oh, gitu ya. Benar. Iya, betul. Ada terjadi kayak gitu. Padahal tadi saya buana ke sini enggak saya jemput padahal. L iya. Nah, itu ee wow-nya ketika kita coba lihat kan beliau ngerasa aja ini kok kayaknya ada yang salah gitu. Tapi masih bukan stadiumnya empat tadi karena barangnya masih ada. Masih ada ini masih ada. Ternyata tempo pembayaran ke suppliernya itu 3 bulan, Pak. Aku Oh, lumayan panjang ya. nya banyaklah berarti. Iya, betul. Terus kemudian 1 hari omsetnya R200 juta. R00 juta. Kebayang 3 bulan. Heeh. Kali 3 R juta 3 bulan berapa M ada di saldo? Harus banyak ya harusnya. Nah, itu kan jadi hijau matanya itu lihat apa-apa pengin gitu kan. Makanya beli Funer 3 gitu. Nah, itu yang berbahaya ketika kebijakan dari supplier itu berubah menjadi kreditnya 1 bulan. Bu itu penasaran R juta sehari toko apa, Bu? Ada toko pertanian, ada toko mainan segitu, Pak. Oh, dia banyak toko. Satu toko tapi kayak gir grosir. Betul. Toko pertanian ada, toko bangunan lebih besar lagi. Iya, iya, iya. Jadi itu bisa kebayang saldonya berapa, terus kemudian bagaimana mengendalikan apa itu keinginan gitu ya, hasrat untuk beli sesuatu. Betul. Nah, itu ternyata ketika seperti itu itu berubah apa metode pembayarannya dari supplier berubah, kebijakan supplier berubah langsung pusing. Dan ini sudah terjadi. Ada yang terjadi di klien saya yang lain. Hmm. Yang stadium 4 tadi. Iya, yang stadium 4 itu. Betul. Dan itu menyisakan ini satu case lagi yang pernah kita tangani. Apa itu, Bu? Jadi punya hutang 4,4 M. Heeh. He. Hutang 4,4 M dengan nilai barangnya itu 1,2 M. Punya H hutang kesuplayannya 4,4 barangnya 1,2. Yang 3,2 ke mana? Oke, itu ke Fortuner tadi sepertinya. Iya, betul. Kebanyakan hal itu ke tanah, ke rumah kayak gitu ya. Iya. Tapi kalau ke tanah bisa dijual ya, porter juga bisa dijual sih. Tapi kan enggak secepat kita punya barang. Betul, betul, betul, betul. Terus gimana solusinya? Gimana, Bu? Kalau sudah seperti pada waktu itu ee itu juga sebenarnya gaya hidupnya kalau case itu tidak terlalu tinggi ya. Tapi memang enggak tahu ya ini sudah jalan 22 tahun kemudian datang ke saya dengan ee tagihan ke supplier delay 2 4,4. Aduh. Nah, kemudian saya lihat piutangnya itu 2 M lebih. Heeh. He. Jadi itu pun 60% macet. Oh iya. Piutangnya macet. Heeh. Jadi itu untuk bayar hutang supplier juga sulit akhirnya. Nah, itu alhamdulillah karena prospek bisnisnya bagus itu masih belum stadium 4. Alhamdulillah ya sudah setengah lah dia. Waktu kita datang kita coba analisa, masih ada harapan beberapa celah peluang untuk bisa sembuh gitu, Pak Agung. Nah, akhirnya kita coba terapkan disiplin transaksi uang kasir sama uang kasur kita pisah sampai kita dampingi untuk buat anggaran keluarganya. Hm. Agar anggaran keluarga itu kita pastikan di bawah profitnya. Heeh. Heeh. ada ee laba yang bisa ditahan untuk memulihkan kondisi kesehatan bisnisnya. Kita perkirakan itu 14 bulan sampai 18 bulan kalau disiplin bisa sembuh. Bisa sembuh karena karena menjanjikan ya Mas ya. Karena betul menjanjikan gurih. Beliau itu mau nyerah sebenarnya sudah gak kuat dengan delay, dengan tagihan dengan mungkin teguran keras dari supplier gitu ya. Sudah sangat apa berat ya di beliaunya. Nah, itu alhamdulillah saya yakinkan kalau Ibu disiplin, kalau Bapak disiplin dengan pengeluaran keluarga seperti ini kita anggarkan untuk kuliah anaknya berapa, untuk ini apa kehidupan sehari-hari berapa kita bantu buat anggaran keluarga. Alhamdulillah di bulan kees9 karena kita pantau neracanya, kita ada software yang bisa pantau neraca anytime itu kita minta fotokan neraca itu tiap hari dan ada di grup itu saya. He. Itu kita pantau itu di bulan kees9 itu sudah R00 juta. Hm. Alhamdulillah. Nah, itu dan sekarang itu mm 2022 2002 ee 2022. Heeh. Heeh. Sekarang beliau sudah mau buka cabang lagi dua. Sekarang cabangnya sudah mau tujuh. Hmm. Waktu itu lima. Ini alhamdulillah sudah cabang ini. He bagi saya walaupun ini semoga terhindar dari sombong ya. Bagi saya itu adalah ee gimana ya marem gitu. Senang banget rasanya bisa melihat klien bangkit lagi gitu. Oke. Oke. Nah, ternyata ketika dapat porsi segitu, Pak Agung, tahun lalu kita dapat porsi lebih kompleks lagi. Jadi, ini stadiumnya lebih lagi berarti. Iya, lebih lagi. Omsetnya itu ee 300 sampai R00 juta per hari. Lebih berarti lebih tinggi. Iya, betul. Dengan delay 22 M. Delay tagihan ke supplier 22 4,4 ya. Ini 22. Dan paniknya itu Heeh. 19 M itu hartanya berupa tanah. pekarangan. Hmm. Dijual pasti lama. Lama dijualnya lama. Yang liquit itu hanya barang dagangan yang kira-kira 3 M set lah seperti itu. Oke. Oke. Ibu Ana ini mainannya barang gede-gede ya? Enggak juga. Enggak juga. Nanti yang omsetnya masih sehari R juta itu juga ada. Nah, tadi bayangan saya ril kan kecil-kecil ya ini kok jadi Iya. Awalnya juga saya pikirnya gitu, Pak. Awalnya gitu terus kemarin juga sempat oh kok namanya klinik minimarket padahal sudah ngedampingin selain minimarket gitu kan. Iya, iya. I ya. Enggak apa-apa loh dikenalnya itu dulu gitu. Siap. Ada. Nah, itu dari yang masalah terbesar. Uang habis, barang habis. Masalah berikutnya tokonya sepi lah. Ini yang berat, Bu. Toko sepi ini berat. Iya. Ini se ini 22 M tadi beda beda beda. Ini adalah masalah terbesar kedua. Kalau yang pertama masalah yang dihadapi klien terbesar pertama kan barang habis, uang habis. Penyebabnya tadi uang kasir sama uang kasur nyampur. Besar pasak daripada tiang. Heeh. Nah, ini sebenarnya yang kedua masalahnya toko sepi ini juga bisa menjadi penyebab barang habis uang habis. Tapi harusnya kalau tokonya sepi barangnya enggak habis. Barangnya habis Bu. Kan dijuali uangnya untuk dia. Iya kan? Itu tadi itu yang cas pertama kayak yang ini toko sepi gitu ya. Padahal barangnya ada tapi tokonya sepi. Heeh. He he. Nah, ini barulah kita biasanya itu apa nih yang salah dari empat hal? Hm. H yang pertama kelengkapan barang. Apakah persediaan barangnya tidak match sama kebutuhan marketnya? Berarti dia dalam pengadaan asal gitu aja. Asal comot gitu. Yang slow moving banyak, yang fast moving enggak punya. Wah itu akhirnya tokonya sepi. Berarti enggak pintar gitu, Bu? Ya, berarti ada yang lost di SOP-nya. Saya kira enggak pintar. Nanti kalau enggak pintar gimana? Itu ada yang los di SOP-nya. Jadi, dia belanjanya asal. Kemudian kalau ada sales yang menawarkan beberapa ini diambil tanpa memperhitungkan kemampuan Jawal atau memperhitungkan kemampuan market. Siap-siap. Nah, itu tokonya sepi. Nah, tadi kita mikirnya kelengkapan barangnya bagaimana gitu. Yang kedua, displaynya menarik apa enggak gitu. Yang ketiga, harganya kalah apa enggak gitu. Bu, display itu pengaruh ya, Bu ya? Pengaruh. Pengaruh. Seberapa pengaruh display? Pengaruhnya besar. Ketika kita masuk sebenarnya mau tuku, mau beli barang A, B, C. Heeh. Begitu lihat displnya amburadul, padahal kita yang mau dibeli makanan, terus ditumpangi semen, terus ditumpangi pakaian dalam, kan enggak jadi beli. Ih kok kayak gini gitu ya. Higis enggak sih? G kasusnya ekstrem, Bu. Itu yang makanan ditumpangi semen sama. Tapi ada, Pak Agung. Sayang, saya enggak bawa fotonya kalau mau ditampilin. Ada. Betul. Realita. Saya kira itu ngawang loh, Bu. Ana enggak realita. Enggak. Dan yang ditumpangin apa? Buffer, Pak Agung. Kan tinggal nelan enggak usah dikunyah. Jadi buffer ditumpangin semen gitu. Ada Pak Gung. Gimana? Saya enggak bisa ngebayangin buffer ditumpangi semen. Iya. Terus di atasnya itu celana dalam. Heeh. Celana dalam yang belum ditata. Wuduh berhamburan kayak itu ada gitu, Pak. Parah itu. Itu itu ya. Siap Bu Ana. Itu jadi yang pertama tadi kelengkapan barang. Yang kedua itu tentang apa itu displinnya. Yang ketiga, harganya kalah apa enggak? Dan yang keempat pelayanannya bagaimana? Bu Ana, saya melihat berat betapa kompleksitasnya hal yang Bu Ana tangani sejauh ini ya. Jadi dari karena Bu Ana sepertinya ee karena tadi prinsipnya menolong ya, jadi setiap siapun yang kemudian datang berupaya untuk ditolong gitu ya. Danun to Iya. Tapi kalau saya bisa, Pak Agung, kalau saya enggak mampu, saya juga bilang saya enggak mampu. Oke. Dan kebetulan banyak yang mampu gitu ya. Ada, Pak, yang enggak mampu. Ada juga. Terus dipaksa terus akhirnya mampu. Oh, ya kan akhirnya gitu kan. Akhirnya enggak ada kita minta diaudit keuangannya. Kita enggak pernah ngudit keuangan. Jadi saya bilang enggak mampu. Heh. Tapi beliau mengalami trauma tras. Oke. Akhirnya kalau enggak saya enggak mau. Heeh. Akhirnya saya belajar belajar untuk ngudit keuangan. yang bisnisnya ketika kita keuangannya cuman R.000 gitu. Masyaallah [Tertawa] 19.000 dalam Iya 7 tahun. Nah, itu ada bisnis keluarga yang mereka patungan bikin bisnis bareng terus minta diaudit. Ee ini berapa nih yang laba yang bisa kita bagi? Ternyata salah satu bisnis kelihatan memang Bu memang sepi atau gimana? Jalan sih sebenarnya jalan tapi enggak pernah bisa baca laporan keuangan Pak Agung. Jadi ini sebenarnya worth itanjut atau enggak gitu. Dan pernah ngundang juga auditor KAP ya. Heeh. Tapi entah apa kliennya saya enggak mudeng atau auditor Kapinnya enggak bacain hasil dari auditnya, maka enggak tahu. Padahal itu 3 tahun sebelum saya ngudit. Oh. Nah, itu ternyata ketika diaudit labanya satu minimarket itu Rp1.000 dalam 7 tahun. Terus mau ngakak semua anggota keluarga mau dibagi 1000an apa 2.000-an gitu. Apa hal yang Bu Ana syukuri saat ini? banyak ya. Tapi nomor satu adalah mensyukuri perjalanan hidup. Perjalanan hidup itu kita bisa merencanakan, membuat impian, tapi kita adalah miliknya Allah. Jadi perjalanan hidup kita itu haknya Allah. Bagaimana memperjalankan hidup kita? Kita ketika menghadapi beberapa ujian yang menurut kita itu adalah masalah, yang menurut kita itu adalah kegagalan, bisa jadi itu caranya Allah membentuk kita. Jadi syukuri perjalanan hidup. Ikhtiarkan terbaik. Ikhtiarnya porpolan, berserahnya diri totalitas kepada Allah. Insyaallah perjalanan hidup kita itu akan sangat mudah untuk disyukuri. Yang paling saya syukuri itu adalah perjalanan hidup saya di mana saya tidak pernah tahu bahwa seorang Bu anak kecil yang pengin jadi arsitek sekolahnya perawat jadinya bakul kemudian jadinya konsultan seperti ini. Itu sungguh saya tidak pernah merancang semua itu. Mengapa Allah memberi saya masalah yang bertubi-tubi? Ternyata doa-doa saya terbesar adalah pengin bermanfaat. Dan ternyata Allah memberi jalan caramu bermanfaat itu. Kamu harus bertubi-tubi dapat masalah dulu supaya kamu bisa memberikan saran kepada orang lain yang sedang menghadapi masalah yang sama. Syukuri perjalanan hidup kita karena Allah itu tidak pernah iseng membuat takdir kita. Itu yang kita yang saya syukuri. Ih, mantap. Allah enggak pernah iseng, Bu. Ya, Allah enggak pernah iseng. Itu quot. Allah tidak pernah iseng. Nah, kemudian yang saya syukuri banyak bentuk rezeki. Oke. Tapi Allah beri ke saya itu lengkap rezeki lengkap. Rezeki saya itu ada rezeki berupa keluarga, ada rezeki berupa harta, ada rezeki berupa tahta. Lumayan kan Pak Agung jadi owner terus jadi konsultan pasti dihormati ya. Oh ya. Oh ya. Ada takahtau ya? Ada ya. Oh, i jadi keluarga kemudian harta, tahta kemudian kata. Oh, tidak ada orang yang berkata-kata kasar kepada saya. Itu rezeki kata. Oh, kata. Saya baru tahu rezeki itu, Bu. I dan terakhir adalah cinta. Oke. Ketika saya kesulitan, banyak orang yang bilang, "Bua, saya bisa bantu apa?" Eh, itu cinta. Oh, ada yang care ya, Bu Ana dengan Bu Ana. Iya, betul. Dan ini Allah lengkap hadirkan ke saya. Itu yang sangat saya syukuri. Jadi rezeki saya ada 5A A itu ya. Ada keluarga, kemudian ada harta, kemudian ada tahta, kemudian ada kata, dan ada cinta. Nah, ini nada drengnya Chinese ini. Ini sudah mau asar. Sudah mau asar. 30 menit sebelum salat asar itu. Oh, gitu. Oh, i, Bu. Ada lagi? Udah itu Pak Agung. Jadi pesannya mungkin ya buat teman-teman pengusaha retail di Indonesia. Teman-teman retail itu satu bisnis yang multi manfaat. Jika ada jalan rezeki di situ dan teman-teman bisa bertahan, lakukan segala upaya untuk teman-teman bisa tetap di situ. Mengapa retail itu multi manfaat? Ketika kita memenuhi kebutuhan orang lain di sekitar kita itu kita sudah memudahkan urusan orang lain. Kita sudah ber membantu para UMKM untuk menjual barangnya. Kita membantu para pedagang kecil untuk tempat belanjanya lebih dekat. Kemudian kita juga menjadi jalan rezeki karyawan-karyawan kita. He. Masih banyak bisnis turunan yang bisa dihadirkan melalui bisnis retail. Heeh. Seiring berjalannya bisnis itu akan ada banyak peluang yang bisa muncul. Bu Ana, saya jadi penasaran ending-nya kalau impiannya Bu Ana, endingnya nanti bakalan seperti apa, Bu Ana? Nah, ini saya pernah bercita-cita mempunyai doa dan mempunyai impian 100 cabang. Heeh. 100 cabang yang dikelola apa itu? 100 cabang toko yang dikelola secara keislaman agar di setiap toko rata-rata en orang kalau 100 cabang ada 600 orang yang setiap hari akan tilawah Al-Qur'an, yang setiap hari akan salat duha. He. Nah, di sini saya menjadikan bisnis itu sebagai jalan dakwah saya. Itu cita-cita saya. Namun dalam perjalanannya tokoh saya hari ini masih empat. Heeh. He. Tapi 40 klien yang kita dampingi itu sudah bisa merasakan manfaat hadirnya saya dalam hidup ini. Jadi bisa jadi 100 cabang itu bukan berbentuk cabang yang Allah berikan ke saya, tapi 100 manfaatnya diri saya di 100 toko. Kalau kita jumlah dari peserta kelas kita sudah hampir 400 orang, hampir 1.000 orang. Jadi ternyata Allah sudah ijabah doa saya. Hanya bentuknya saja berbeda. Jadi teman-teman kalau punya doa, kalau punya impian, tetaplah upayakan semaksimal mungkin tapi beri ruang kepada Allah untuk memberi bentuk yang lebih indah. Nah, dari doa kita itu melebihi indahnya bentuk yang kita mau. Berarti Bu Ana akan tetap di jalan ini. Begitu ya. Betul. Ini adalah bagian dari ending yang Bu Ana ingin cita-citakan gitu ya. Betul. Betul. Nah, ini semoga tahun ini kita ada legasi yang bisa saya tinggalkan untuk teman-teman pengusaha ril. Saya pengin menulis buku on proses bukunya nanti semoga dimudahkan. Kemudian ada beberapa ilmu yang nanti bisa teman-teman akses melalui ecos atau melalui rekaman-rekaman di digital. digital kita gitu. Semoga dilancarkan Bu Ana ilmunya semoga tetap ada. Amin. Amin. Terdokumentasi dengan baik. Semoga bisa memberi manfaat untuk banyak orang. Amin. Amin ya rabbal alamin. Terima kasih Bu Ana sudah mampir di sini. Teman-teman terima kasih sudah nyimak. Kita tutup. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. He.