Transcript
1mRzVuSR_h4 • Modal 4 Juta! Wanita 24 th Sukses Bangun Bisnis Croffle Hingga 7 Cabang
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0573_1mRzVuSR_h4.txt
Kind: captions Language: id Sering terbebani, Mas. Kayak saya itu kerja ya ngerasa enggak dapat apa-apa gitu. Cuman ya udah saya jalanin sampai akhirnya kan saya di kos ya, Mas ya. Jadi saya banyak waktu untuk sendiri. Kalau ada banyak waktu sendiri saya lebih tenang, Mas. Tapi kalau di rumah gitu kan misalnya orang tua lagi enggak punya uang atau gimana, saya kan dengar ya, Mas ya. itu malah lebih kayak mending aku enggak usah dengar gitu loh. Kan tambah capek di akunya ya, Mas ya. Kalau pengin protes pasti, Mas, kenapa kok terjadi di saya? Kenapa kok saya harus jadi sandwich generation? Terus aku juga iri, Mas, kalau lihat orang-orang yang gaji ya wis dibuat main, dibuat senang-senangnya dia. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Eh, saya Tiani dari Mojokerto. Saya berumur 24 tahun. Memiliki usaha dirvel, chicken pukpuk, sama Noira perfume. Jadi, yang kita jalankan ada tiga usaha. Dirraffel ini dimulai di bulan Desember 2023. Di mana itu saya masih bekerja di suatu perusahaan IT di Surabaya. Sampai saat ini juga saya masih kerja. Dirvel ini dibentuk karena waktu itu saya itu keadaannya dalam kondisi saya itu finansialnya kurang, Mas. Jadi waktu itu gaji saya hanya cukup untuk membiayai keluarga. Nah, waktu itu adik saya itu masuk kuliah, Mas. Masuk kuliah dan saya perlu bayar UKT. Uang masuknya itu diminta 2 semester langsung. Waktu itu saya itu enggak ada uang backup, Mas. Cuma ada R5 juta kalau enggak salah. Terus saya itu dipinjamin sama suami saya sekarang gitu. Waktu itu saya kan belum nikah. dipinjamin terus saya ee cicil per bulan akhirnya lunas. Setelah itu saya diajak sama suami saya untuk gimana kalau bikin usaha biar ada second income gitu. Sebenarnya kan enggak boleh ada second income di perusahaan saya gitu. Enggak apa-apa nanti aku yang jalanin. Suami saya bilang gitu. Jadi nanti saya bantunya pas weekend aja gitu yang setiap harinya nanti biar suami saya gitu. Terus ya wis enggak apa-apa dicoba. Nah, ternyata waktu awal buka opening itu enggak ada setengah jam itu udah habis, Mas. Bawa 50 picis kan masih trial ya. Itu enggak ada setengah jam langsung habis. Itu kita enggak nyangka, Mas. Kenapa kok sewelcome itu orang-orang Mojokerto dengan brand baru ini gitu. UMK Surabaya lebih dikitlah. Terus ada uang lembur-lemburnya waktu itu. Tapi kan saya kan anak pertama ya, Mas ya. Ayah saya sudah pensiun tapi masih kerja lagi di suatu perusahaan tapi perusahaan kecil gitu Mas. Jadi yang membiayai di rumah itu saya. Terus adik saya itu juga kuliah kan penginnya orang tua itu kan biar sama-sama sederajat sama kakaknya gitu. Saya kan dulu kuliah kuliah di Politeknik Negeri Malang D3 Manajemen Informatika. Nah, adik saya itu juga sama pengin kuliah gitu. Jadi ya wis kalau memang ada kesempatan dia juga lolos juga ya wis enggak apa-apa diusahakan gitu. Waktu itu saya masih 21 tahun waktu awal buka ini. Kalau idenya itu kita itu sering kayak cari-cari di YouTube atau di Instagram kan banyak kayak inovasi-inovasi usaha atau di kota-kota lain kita jajan gitu kan. Terus ya udah kita nyoba RnD bikin ini. Kan di Mojokerto enggak ada, Mas. Mungkin ada tapi adanya itu di toko-toko roti yang bukan kayak kita yang kaki lima gitu. Kalau di toko roti atau di mall-mall gitu kan biasanya di atas Rp10.000 harganya. ya. Nah, kita RND gimana caranya biar di sini itu harganya itu murah Rp5.000 ya. Kita menekankan di HPP-nya biar sebanding dengan apa yang didapat gitu. R5.000 itu kita coba jualan, Mas. Terus ternyata ya wis ee untungnya itu kita putar balik lagi untuk buat modal lagi buat nambah terus buat nambah-nambah properti gitu. Awal buka itu kita modalnya itu patungan, Mas. Saya sama suami saya itu patungan 50% 50% tapi ada tambahan sedikit dari suami saya masih banyak suami saya kan karena saya kan uangnya pas-pasan waktu itu dia baru lulus kuliah D4 jadi kita satu teman kuliah D3 terus saya langsung kerja karena saya enggak ada biaya untuk lanjut D4 juga suami saya D4 di Polinema juga sama terus dia baru lulus punya tabungan buat patungan ini gitu langsung di Mojokerto. Nah, waktu buka itu modalnya enggak sampai R5 juta, Mas. Pokoknya sedikit modalnya itu. Karena kita ee kompor itu pinjam punya orang tua saya. Alokasinya Rp4 juta itu untuk apa si? Meja, terus tenda terus kayak dulu itu pakai gerobak buat mejanya kan meja lipat ya, Mas. Jadi ditaruh di gerobak. Gerobaknya dibawa pulang ke rumah. Kalau sekarang kan udah dititipin di tempat dekat jualan gitu kan. gerobak yang bukan bongkar pasang, gerobak yang sudah jadi. Jadi tinggal didorong gitu perintilan-perintilannya terus Rn bahannya gitu. Setelah itu kita itu bukanya pakai kompornya dari mama saya, terus gasnya dari ibunya suami saya terus banyak yang bantu gitu loh bukanya itu. Karena kan kita modalnya pas-pasan, barang-barang juga ada yang pinjam gitu. Outlet pertama di mana? Di Jalan Benteng Pancasila di Mojokerto. Sekarang ada tujuh cabang. Alhamdulillah. Kalau yang devel ini kan Desember 2023 ya, Mas ya. Kalau yang parfum itu di bulan sebelum lebaran bulan puasa Maret berarti, Mas. Yang chicken pukpuk itu sama Maret itu juga. Itu juga dukungan dari suami saya Mas. Saya kan kerja ya, Mas ya. Pikirannya itu campur-campur, Mas. Wis penting aku ngajarin SDM-nya anak-anak yang di lapangan itu suami saya gitu. Mojokerto ada enam. Yang satu gresik baru buka minggu kemarin dan welcome sekali di sana. Ramai terus, Mas. Di sana yang digresik itu. Kalau kravel sendiri sebenarnya bahannya dari keroisan. Kerroisan yang buat roti biasanya itu loh, Mas. Tapi kan kalau keroisan kan dipanggang ya. Kalau ini pakai pen dipenyet gitu nanti dalamnya dikasih isian ada yang original gitu. Itu jajanan yang murah-murah tapi rasanya tuh enak. Awalnya itu kita hanya coba-coba, Mas. Dari awal itu hanya coba-coba karena kondisi finansial tadi saya pengin dapat second income dari gaji saya. Tapi kok responnya orang Mojokerto baik banget. Terus orang itu repeat order sampai kita itu pernah penjualan itu 1000 picis dalam 1 hari, Mas. Itu satu cabang aja. 1000 picis di bulan puasa tahun kemarin itu benar-benar karyawan kita dalam satu outlet itu ada enam. Biasanya kan cuman dua ya, Mas ya, normalnya. Sekarang kan dua itu enam saking enggak ngatasinya dan kita itu saking viralnya di Mojokerto. Terus responnya orang-orang baik, akhirnya kita buka cabang. Yang kedua, setelah buka cabang ada orang yang minta franchise. Nah, di situ kita mulai mencoba ekspansi dari Dirk Raffel ini. Gimana caranya biar enggak stuck di Mojokerto aja, enggak stuck dipegang kita aja, biar orang juga sama-sama e mendapatkan rezeki dari kita, sama-sama sharing rezeki lah. Kalau jalan rezekinya dari Dir Raffel kan kalau mereka untung kita juga sama-sama senang gitu, Mas. Gitu. akhirnya coba membuka pintu untuk franchise dan alhamdulillah padahal itu lokasinya itu enggak di kota Mas agak di pelosok desa gitu di daerah Jatirejo. Alhamdulillah welcome banget di sana itu. Orang sana juga banyak yang kenal Dir Travel jadi tahu oh ini yang di benteng ya. Oh ini yang di dekat sunres itu ya. Gitu. Terus kita buka buka franchise. Alhamdulillah lancar. Terus buka cabang lagi, buka cabang lagi. Ada yang minta franchise lagi. Jadi total franchise kita sekarang ada tiga. Jadi tujuh itu tadi tiga franchise, empat saya pegang sendiri. Karena dari saya sendiri ya, Mas. Dulu itu saya awal buka itu udah banyak yang minta franchise, tapi saya belum siap. Belum siap dengan dokumennya, belum siap dengan ee resiko-resikonya, terus belum siap dengan kesiapan dengan stok adonannya. Kan harus ambil dari kita semua kan, Mas. itu akhirnya gimana caranya biar bisa nama Deavel ini tetap terjaga, kualitasnya terjaga, ya udah kita buka franchise dengan kesiapan kita harus ambil adonan dari kita. Kita stok adonan yang mencukupi untuk semua franchisefanchise yang buka itu tadi. Kita bikin surat perjanjian di atas materai semuanya itu sudah tertulis, Mas. Kalau misalnya pelanggar ataupun tidak sesuai dengan konteks yang ada di surat perjanjian, ya sudah nanti kita bisa dimusyawarahkan atau mau ke pihak berwajib gitu. semuanya sudah tertulis di dokumennya itu. Jadi dokumennya itu sudah kami siapkan untuk franchise gitu. Sehari itu kita bukan harian, Mas, produksinya mingguan. Mingguan itu bisa sampai sekarang ya, Mas ya. 4.000, 3.000, 4.000-an. Produksi sendiri. Iya. Gini, Mas. Sebenarnya saya itu kurang bisa mengembangkan pikiran saya tentang bisnis ya, Mas ya. Karena saya kan basicnya orang kantoran gitu. Jadi yang punya ide-ide itu suami saya. Terus Dirk Travel ini kan kita kan enggak mungkin ya terus jaga nol lah dari Dirk Rel gitu kan pastinya itu ada pasang surutnya. Mungkin kita enggak tahu Dir Travel ini makin berkembang kayak gimana atau mungkin besok itu kita udah nge-handle dari mungkin kita punya SPV atau gimana jadi kita tinggal accc aja gitu. Jadi kita bikin usaha lain biar kita ada second income lagi gitu. dari misal yang kemarin chicken pupuk itu kita babatnya itu kan bulan puasa itu kan penjualannya itu masih biasa gitu loh Mas. Enggak kayak kraffel itu kan awal langsung boom gitu kan. Itu yang chicken pukpuk itu penjualannya itu ya udah hampir kita minus hampir minus gitu. Tapi ya wis enggak apa-apa kita coba ngonten terus memperbaiki rasa, memperbaiki kemasan, terus diperbaiki desain-desainnya gimana berarik terus lighting-nya di sana gitu. Yang paling utama ngonten sih Mas. Sekarang kan orang-orang lebih tertarik lewat sosial media ya. Jadi ketika kita sering up di sosial media di TikTok, di Instagram itu ee orangku jadi kepikiran, "Oh, aku pengin jajan ini." Padahal awalnya enggak kepengin. Gitu. Kalau saya itu campur-campur, Mas ngontennya. Kalau yang chicken pupuk ini, ya udah kita ngontennya di makanannya, kadang di karyawannya, kadang cara pembuatannya gitu. Campur-campur, Mas. Tapi dipastikan itu kontennya tentang pukpuknya itu. Kalau yang kraffel itu kadang itu di menunya, kadang di kayak kita kan sering ada event event wedding atau event Christmas gitu. Itu tetap diposting semua kegiatannya setiap harinya. Sekarang kan ee yang ngelihat itu kan bukan hanya dari umur-umur Genzi aja kan, Mas. Ada yang ibu-ibu, ada yang anak kecil gitu. Kadang kita up yang kraffel es krim gitu. Menu baru kan itu es krim. Ya udah yang suka itu anak kecil, Mas. Kraffel es krim. Karena kan udah kravel manis tambah es krim gitu. Saya itu lebih ke pengembangan, Mas. Pengembangan dari SDM-nya. SDM-nya itu kan awal masuk karyawan itu lebih ke dia itu anak baru lulus sekolah, dia belum pernah kerja. Nah, itu yang perlu dibentuk. Anak baru lulus sekolah itu kalau masuk kerja dia pasti kaget. Kagetnya itu kayak kadang itu disuruh itu enggak mau, kadang itu enggak suka, terus enggak mood. Musuhnya itu anak-anak yang baru lulus itu kayak gitu, enggak mood. Kadang itu malas, kadang itu telat. Wis itu musuhnya itu. Jadi kita harus nata sesuai kita ada SOP. Kalau kamu enggak mematuhi SOP nanti kamu kena bisa kena SP atau potong gaji atau beberapa ee sanksi-sanksi yang kita buat gitu yang sudah perjanjian dari awal gitu. Terus ee pengembangan yang konten itu tadi ya itu saya Mas bagiannya itu kalau suami itu lebih ke lapangannya ya operasionalnya dari pengalaman Mas. E jadi misalnya dulu awal-awal itu saya tuh bingung Mas karena kan saya basicnya enggak punya basic ngebimbing anak anak kerja gitu kan. Saya juga karyawan yang datang pulang datang pulang gitu terus dapat karyawan yang gitu bukanya padahal dulu itu jam 3. Dia datangnya jam 5.00 terus ada juga yang tiba-tiba enggak masuk tapi enggak ngabarin itu wis udah marah-marah tok Mas. Jadi kita evaluasi terus, evaluasi terus, terus kalau udah enggak bisa dievaluasi ya udah kita cut off, kita cari lagi. Kalau kayak gitu itu saya 4 bulan pertama, Mas, 4 bulan pertama itu baru bisa kayak mengetahui ini itu karyawannya anaknya kayak gimana, harus diarahkan kayak apa, kalau kayak gini harus kayak gimana gitu. Itu 4 bulan awal itu Mas. Setelah itu udah dari interview kan pasti kelihatan kan, Mas waktu cari karyawan gitu dia itu kayak gimana. Nah, kalau udah dari awal kelihatan udah enggak saya terima atau di masa training udah diterima kan kita kan ada trainingnya 2 minggu di masa training udah kelihatan dia ini enggak ada perkembangan atau enggak bisa diarahkan atau tidak bisa dibilangin gitu ya udah udah kita cut off kita cari lagi karyawan 10 terus ada karyawan freelance juga yang misalnya ada yang enggak masuk atau ada yang sakit gitu kita ada karyawan freelance itu tiga waktu itu dengan gaji saya yang segitu ya Mas ya UMK Surabaya plus lebih dikit saya itu dapat untuk saya sendiri ya, Mas. Cuma Rp500.000. UMK Surabaya kan ya cukup besar ya, Mas ya. Cuma Rp500.000 untuk biaya hidup saya di Surabaya dalam 1 bulan. Percaya enggak percaya saya gimana cara hidupnya? Ya wis, Mas. Masak atau gimana atau kadang enggak makan pagi biar jadi satu sama makan siang gitu. itu untuk biaya rumah, listrik dan lain-lain. Membelanjakan orang rumah, bayar UKT adik, bayar kosnya adik, K saya, terus sangu-sangu untuk adik saya, terus nenek saya. Ya, karena saya anak pertama, Mas. Dan anak pertama, cucu pertama yang pertama kali kerja. Enggak tahu ya, Mas, ya. Karena kayaknya itu sandwich generation. Jadi, saya enggak mau kalau itu turun-temurun ke saya dan anak saya besok gitu. Itu sandwich generation dari orang tua saya mungkin ya, Mas ya. Soalnya saya dari kecil itu dari SMP atau SMA ya, Mas ya. Saya sudah dibilangin kamu tak kuliahno tapi nanti lek selesai kuliah harus langsung kerja terus kuliahno adikmu gitu. Sering Mas. Sering sering terbebani Mas. Kayak saya itu kerja yang di Surabaya ya Mas ya. Kayak ngerasa enggak dapat apa-apa gitu cuman ya udah saya jalanin sampai akhirnya saya diajak untuk buka usaha ini. Gitu. Waktu itu kan saya di kos ya Mas ya. Jadi saya banyak waktu untuk sendiri. Kalau ada banyak waktu sendiri saya lebih tenang, Mas. Tapi kalau di rumah gitu kan misalnya orang tua lagi enggak punya uang atau gimana, saya kan dengar ya, Mas ya. Itu malah lebih kayak mending aku enggak usah dengar gitu loh. Mending ya udah misalnya kalau mau bantu ya bantu. Tapi daripada aku dengar kan tambah capek di akunya ya Mas ya. Aku udah kerja terus mari ngono biayain keluarga, miayain adik saya gitu. Saat ini ya Mas ya. dari awal saya kerja sampai punya usaha ini yang ngajarin saya untuk menabung itu ya suami saya, Mas. Dulu itu suami saya itu waktu saya masih kos di sana itu saya diwajibkan untuk menabung maksimal Rp500.000 untuk dada darurat saya. Karena kan saya mau jagakno sopo Mas di sana itu. Jadi harus ada Rp500.000 gitu. Jadi ya wis saya sisihkan entah 200 300 itu pasti kepakai waktu akhir bulan enggak jadi nabung Mas akhirnya enggak punya tabungan. Tabungan terakhir itu ya dibuat modal usaha ini. Itu pun dari lemburan waktu itu. Waktu itu ada lemburan project gitu kan terus ada uang lemburannya. Alhamdulillah langsung saya sisihkan gitu. Waktu itu 2 juta tabungan saya udah 2 juta aja Mas. 1 tahun kerja 1 tahun lebih. Kalau pengin protes pasti, Mas. Kenapa kok terjadi di saya? Kenapa kok saya harus jadi sandwich generation? Terus aku juga iri, Mas, kalau lihat orang-orang yang gaji ya wis dibuat main, dibuat senang-senangnya dia. Terus mungkin keluarga kok dikasih secukupnya. Bahkan ada yang keluarga itu masih ngasih ke anak yang udah kerja, "Wis enggak usah simpanan ae, ini tak kasih untuk jaga-jaga kamu gitu." Kadang mueri, Mas, aku lek kayak gitu itu tapi ya wis mungkin rezeki dari adik saya, ayah saya, mama, keluarga itu melewati saya gitu. Terus apalagi kan saya bantu nyok lain adik ya, Mas ya. Wis, semoga-moga berkah dan adik saya itu bisa segera selesai dan kerja gitu. Jadi, waktu saya sudah punya usaha ini, saya kan masih kerja kan otomatis saya sudah dapat income dari sini dan saya dibantu mungkin untuk kebutuhan saya. Ya, jadi untuk kebutuhan UKT adik saya itu sudah dibilangin sama suami saya, sebelum kamu menikah atau sebelum mau minta resign atau apa, pokoknya kebutuhan untuk adikmu itu sudah terpenuhi. Jadi, waktu itu saya per bulan wajib menabung R juta sampai Rp3 juta gitu disisihkan, Mas. Jadi, sekarang itu untuk kebutuhan adik saya sudah terpenuhi, udah ada backup-nya. Tinggal yang per bulannya orang rumah aja yang di sana gitu. Kalau omset tahun kemarin ya, Mas ya, itu 1 tahun itu hampir menyentuh 1 M ya. Receh R5.000. Ini kalau sekarang itu kan FOMOya kan udah enggak terlalu ya, Mas ya. Gimana caranya tetap penjualannya tetap sesuai kita batasannya berapa itu sekarang itu omset per bulannya itu sekitar 80 sampai 100. Profit marginnya dia ngambil berapa persen di angka 40 sampai 50%. Nah, ini Mas ceritanya. Jadi itu saya kerja dari 2022, lulus kuliah langsung kerja terus buka usaha 2023. 2023 Desember itu saya udah PP Mas Surabaya Mojokerto setiap hari naik motor untuk handle usaha ini. Sebelumnya itu saya nge-cos PP Mas. Nah, PP itu kan capek ya, Mas ya. Itu udah minta resign saya. Tapi saya kan masih ada tanggungan adik saya, tanggungan orang rumah gitu. Terus ini itu masih satu cabang enggak aja. Maksudnya apa yang dibuat gandolan gitu loh, Mas. Terus masih ragu gitu. Akhirnya ditunggu dulu, ditunggu dulu. Per bulan ini saya mengajukan resign selesainya tanggal 1 Agustus besok itu baru saya mengajukan resign karena udah enggak ngatasi, Mas. Saya PP setiap hari naik motor, naik base. Naik base. Kalau pagi itu umpel-umpelan, Mas. Untuk duduk aja enggak bisa wis berdiri. Kalau usaha itu kita bisa mengembangkan, bisa ada ide-ide itu dari kita, Mas. Jadi kita bisa explore sebesar mungkin, bisa ekspansi sebesar mungkin gitu. Kalau jadi karyawan kan monoton, Mas. Kamu ngerjain ini ya ini, taksmu ini, ini, posisimu ini, ya ini. Kalau enggak ada jenjang karir, ya udah, Mas. Kita stuck di situ. Kita bakal bosan, kita bakal enggak bisa berkembang sampai umur berapa pun ya wis kayak gitu kalau memang enggak ada jenjang karirnya. Jadi, kalau usaha kita bisa mengembangkan sebesar mungkin, kita tabung, nanti tabungannya bisa buat usaha lagi gitu. Kalau lebih capeknya itu capek karena saya itu senang, Mas. Kalau karyawan, iya senang awal-awal waktu pertengahan monoton. Enggak bisa, Mas. Saya diam gitu. Saya kan anaknya aktif ya, aktif k kayak kegiatan di luar gitu. Kalau di kantor kan pasti monoton gitu, Mas. Apalagi kalau enggak ada jenjang karir itu enggak bisa. Itu cari kerja di lain itu kan enggak bisa kayak sebulan, 2 bulan dapat itu pasti kan nge-apply-apply terus. Itu ya susah cari kerja yang lainnya gitu, Mas. Jadi lebih suka jadi pelaku usaha untuk saat ini ya. Karena di sisi lain kita yang lebih mengatur jam kerjanya, kita yang ngatur jam istirahatnya. Kalau mau libur ya libur. Tapi kita jarang libur sih. Kalau dari segi income juga lebih suka usaha gitu gitu, Mas. Sebenarnya itu dari bukan dari profit berapanya sih, Mas. Karena resain-nya itu karena kan saya baru nikah bulan kemarin. Nah, bulan ini kan berarti kan baru 1 bulan ya, Mas ya. Saya ngerasain 1 bulan PP setelah nikah itu cuapek banget, Mas. Soalnya kan saya harus bersih-bersih rumah, saya harus handle karyawan, terus di sisi lain saya sudah merasa backup untuk adik saya sudah cukup. Kan itu udah janji dari suami saya dari waktu aku nabung kan, Mas. Pokoknya sebelum kamu resign backup untuk adikmu itu sudah cukup gitu. Akhirnya memutuskan benar-benar dipikir matang-matang ini siap resign apa enggak gitu. Dari segi income juga tabungan kita ya, Mas ya, yang kita sisihkan itu saya rasa sudah cukup gitu, Mas. Tapi di lain itu kalau saya enggak resign ini pasti kurang berkembang, Mas, yang dirar travel ini. Soalnya kalau saya misal di rumah gitu ya, Mas ya, saya all out banget, Mas. Mulai dari pagi, siang, sore, malam itu ngonten, nge-up gitu terus bikin kreasi-kreasi. Terus kalau saya misalnya kerja dari jam .00 sampai jam .00 itu saya itu monoton di kerjaan saya. Saya enggak bisa mengembangkan ini. Kan pengembangan itu kan butuh kayak ide-ide terus eksekusinya gitu kan. Waktunya cuma bisa hanya weekend aja, Mas. Gitu. Jadi semua itu pilihan dan saya berani berkorban untuk saya risin aja. Dia itu basicnya dari keluarganya basic usaha, Mas. Jadi, keluarganya itu punya usaha dari ibunya, terus saudara-saudaranya itu punya usaha. Nah, jadi jiwa entrepreneurnya itu dari kecil udah ada, Mas. Terus dia itu waktu kuliah itu nyambi gimana caranya bisa punya brand sendiri untuk tepung gitu. Dia cari distributor-distributor biar dia bisa kemas sendiri dan dijual gitu. Jadi, jiwa uletnya itu udah ada dari dulu. Cuman dia itu kurang gimana caranya ekspansinya itu atau ngembangin itu dengan baik. Akhirnya kan saling melengkapi ya, Mas, dengan cara kayak gitu, Mas. Terus ya itu emang orangnya itu low profile enggak mau inframe di sini gitu. Terus enggak mau apapun, Mas, di konten itu juga enggak mau. Jadi ya udah dia di belakang layar aja. Kita juga udah ada sistemnya untuk memantau dari jauh. Jadi ada sistem kasir dan manajemennya. Jadi adonan yang kita bawakan harus sesuai dengan penjualan. Misal mau ambil 1.000 pisis gitu ya, penjualannya berapa direkap. penjualannya total harus 1000 pisis. Kalau lebih dari 1000 pisis kan berarti ada kecurangan ya, Mas. Berarti berarti dia dari mana yang lebihnya ini kan ambil dari kita kan cuma 1.000. Jadi kita bisa memantau dari jauh gitu. Kalau udah kelihatan gitu kita bisa langsung cut sistemnya kita langsung kan di perjanjiannya sudah ada mau musyawarah atau gimana nanti kalau melakukan kecurangan itu juga ada dendanya. Produksinya enggak di sini Mas. Produksinya di rumah Kediri di rumahnya suami saya itu. Di sana juga ada produksinya. Nah, di sini itu ya untuk yang produksi untuk dijualnya bukan ini kan bentuknya frozen kan, Mas. Jadi tinggal ditata nanti itu 3 sampai 4 jam sebelum jualan. Terus nanti tinggal dibawa ke stand-stand masing-masing. Saya itu dekat dan pacarannya dari kuliah kan sama suami saya itu. Nah, jadi kan kita merintisnya dari dulu kan, Mas. Maksudnya kita bersamanya dari dulu sudah tahu karakternya. Saya kerja di di Surabaya ya udah anak-anak kerja kan pulang kerja enggak ada tambahan lagi uangnya juga segitegitu karena gajinya segitu gitu kan Mas. Nah, sekarang kan saya suka yang ulet gitu terus maring ngono bertanggung jawab maksudnya ya ini jangan sampai kita itu down kita harus up terus kita harus ekspansi ke usaha-usaha lain kita harus berkembang selain dir travel ini gitu gimana caranya kita itu berkembang tapi usaha yang sudah kita buat itu jangan sampai down enggak neko-neko, tidak berperilaku konsumtif. Kalau biasanya cowok gitu kan outfit-outfitan gitu kan Mas biasanya. Nah, ini enggak, Mas. Yus, apa adanya. Low profile banget pokoknya, Mas. Kaget, Mas. Dulu itu saya kan kalau kantoran kan yes, outfit, outfit, terus make up, dress up lah. Benar-benar dress up sebaik mungkin kalau saya kerja. Terus saya itu sering beli ya enggak sering sih kayak beli baju itu 1 bulan sekali ya. Untuk dress up itu tadi dari uang Rp500.000 itu tadi, Mas. Kadang itu saya beli beli baju itu untuk self reward gitu terus dimarahin gaji segitu maksudde sisih not mending daripada dia beli baju mending sesehno gitu kata suami saya waktu itu. Terus ya saya bilang lah apa sih wong aku kerja kan ya untuk dress up diriku sendiri gitu. Terus semenjak saya menjadi bisnis owner saya udah enggak terlalu mikirin ot gitu Mas. Yang penting saya pakai baju yang sopan. Saya ke stand, saya bantu anak-anak, saya nyiapin anak-anak, yang penting uangnya tetap mengalir ke saya gitu. Enggak peduli orang bilang apa. Sering, Mas. Jadi kita ambil jalan tengah atau kita saling menghargai keputusan. Solusinya cuma itu. Misal ini untuk kebutuhan ini, sedangkan kita habis mengeluarin banyak, ya wis kita rem dulu gitu. Atau ini pengin beli ini, kita habis keluar banyak, kita rem dulu. atau kita cari keputusan bersama, ya wis kita beli tapi nunggu kita harus mendapatkan apa dulu. Misal ini viral, view-nya banyak, penjualan meningkat, ya wis nanti tak belikan ini, gitu. Jadi kita harus meraihnya itu ada usahanya dulu, enggak asal beli. Misal kayak kemarin pukpuk itu beberapa minggu ini kan viral lagi up gitu kan di Mojokerto. Ya wis gimana caranya ini tetap tetap viral, tetap naik penjualannya, dijaga kualitasnya, dijaga ee pelayanannya, nanti ada reward-nya apa gitu. Jadi enggak asal beli gitu, Mas. Soalnya kan ya wis baju kan ya wis buat apa ya wis nyump-nyumpekin lemari. Rasanya itu awal itu kaget, Mas. pegang 20 itu aja kaget, Mas. Kan enggak pernah pegang segitu. Kaget terus lama-lama kan yus diarahin ini disisihkan, ditabung. Kita buka rekening baru untuk rekening bersama. Maksudnya rekening untuk kita operasional untuk kita berdua gitu. Terus waktu kita itu kan belum nikah kan, Mas. Jadi masih pacaran tapi kita sudah punya rekening untuk tabungan bersama gitu. Benar-benar hemat. Jangan sampai kita itu self reward atau senang-senang dengan masih kita baru buka. Kan belum ada setahun ya. Jangan sampai kita itu senang-senang dengan penjualan kita gitu. Diputar lagi buat buka cabang lagi, buat nambah-nambah properti gitu, buat perbaikan desain kayak gitu, Mas. Kalau rasanya itu ya pas pasti kayak banyak gitu. Tapi kan sekarang kan ya wis tahulah Mas sekarang harga rumah berapa, harga mobil berapa kan enggak ada apa-apanya dengan uang kita. Kalau misalnya misalnya kita sadar diri gitu loh, Mas. Misal kan lihatnya kan sering ikut kayak seminar-seminar atau perkumpulan yang lebih ke pengusaha-pengusaha gitu kan, Mas. Jadi kita enggak ada apa-apanya, mereka malah lebih besar gitu. Jadi kita harus semangat biar bisa kayak mereka gitu ngelihatnya gitu. Jangan lihat sekarang udah berapa ratus juta gitu, enggak usah dilihat gitunya. Kita lihat yang atasnya aja. Kalau dapat apa ajanya itu kita rumah belum ada ya, Mas ya. Tapi untuk tabungan untuk beli rumahnya itu sudah ada. Tapi kita belum berani untuk membeli rumahnya itu. Selain itu itu saya cuma beli HP untuk ngonten sama beli motor untuk saya PP. Nikah ini biaya sendiri, Mas. Iya. Dari kita berdua. Nah, itu biaya nikah itu yang paling cukup besar kan ya itu Mas itu kita biaya sendiri. Jadi kami juga pernah terjadi kerugian di usaha kami ini. Yang melakukan kerugian tersebut diakibatkan oleh karyawan kita yang udah ikut lama. mereka melakukannya secara rapi sehingga kita sempat terlena dan kita enggak tahu awalnya sehingga terjadi seperti itu. Untuk nominalnya juga menurut kami yang UMKM masih baru itu cukup besar karena nominalnya kurang lebih 60 juta dan kita mencoba untuk bangkit dengan cara menyelesaikannya satu persatu dan yang paling penting adalah ikhlas biar kita bisa tetap jalan maju ke depannya dengan usaha ini. Tidak stak di permasalahan itu saja. kita itu ada rencana berkembang itu bukan hanya kravel aja, Mas. Jadi, ada beberapa produk roti, ada beberapa produk mungkin ya banyaklah Mas ini masih rencana yang masih mau up kita up tapi masih kepending. Nunggu saya resign dulu jadi banyak tapi nantinya ini bakal lebih besar enggak kraavel aja. Dan pastinya saya mau ee ini cabangnya itu enggak hanya di Mojokerto aja, ekspansi ke luar lebih banyak. Jadi kemarin-kemarin ada yang minta franchise, tanya franchise enggak saya jawab, Mas. Kadang saya tanyain lokasinya mana, tapi enggak saya lanjut. Kalau sekarang sudah saya lanjut mau lokasi mana, mau budget berapa, kan kita rencit kan ada batasannya berapa. Terus mau bukanya model yang gimana, ada yang gerobak, kontainer ataupun tenda. Tergantung lokasi sih, Mas. Kalau lokasinya Mojokerto itu masih enggak enggak terlalu mahal. Kalau lokasinya di luar Mojokerto itu nanti bisa lebih tinggi gitu. Jadi kalau yang sandwich itu jangan diterusin ke anak turunnya kalian. Jadi cukup di kalian aja, jangan diterusin. Karena pasti kalau ngerasain itu kan enggak enak, enggak enak sekali. Terus mending kita bekerja keras saat ini dan nantinya itu anak tinggal menikmati. Jangan sampai anak itu ikut menerima dan merasakan sakitnya ataupun capeknya ataupun beban tekanannya dari sandwich generation gitu. Terus untuk yang masih bekerja, kalau memang itu passion kalian ya silakan dilanjut. Tapi kalau sudah notok dan monoton ya sudah cari pekerjaan lain atau ee buka usaha. Karena buka usaha itu tidak seburuk yang kalian pikir. Dan kalau belum mencoba usaha pasti akan takut. Pasti akan takut. Dulu saya juga takut membuka usaha. Sekarang saya berani buka usaha karena ya udah ada pengalamannya. Saya Tiifania Fitri, owner dari Dirk Ravel Chicken Buk dan Noira Perfume dari Mojokerto. Izin pamit mundur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.