Kind: captions Language: id [Musik] Selama satu dekade ini kan bisnis kami itu didanai oleh venture capital totalnya lebih dari Rp2 triliun. Itu saya bisa juga sharing-sharing terkait gimana mendapatkan funding bisnis kita dari venture capital gitu berdasarkan pengalaman kami. Sehingga ibaratnya kita ketemu like minded people, like hearted people. jadi orang yang satu frekuensi gitu. Sehingga ketika orang satu frekuensi ini dikumpulkan itu otomatis nanti akan lahirlah itu kerja sama-kerja sama yang ada di dalamnya gitu, Mas. Kalau kita lihat misalnya Redalio sendiri investor dan ekonom global yang sangat terkenal itu, itu kan sudah menyebutkan bahwa eranya Amerika itu sudah hampir habis gitu. Empire on decline gitu yang mensponsori Israel. bisa berkuasa sampai sekarang ya Amerika itu kan. Nah, Amerika is on decline. Jadi dan itu yang menyampaikan adalah ekonom sendiri bahwa mereka itu sudah on decline dan akan ada peradaban baru yang muncul gitu. [Musik] Jadi, Profesor Abdul Fattah itu kepakaran beliau adalah tentang teori geopolitik. Spesialnya adalah di Baitul Maqdis. Dalam observasi beliau 30 40 tahun keliling dunia Islam itu untuk ngajar-ngajar, beliau menyampaikan bahwa di antara negara-negara muslim yang paling siap dan paling bisa diandalkan untuk memimpin pembebasan Baitul Maqdis adalah umat muslim Indonesia. Kesimpulannya itu bahwa generasi yang paling siap untuk bisa memimpin pembebasan Baitul Maqdis adalah generasi muslim Indonesia. Wah, luar biasa kan? Iya. Surya tutup bersinar. Syahadah tuwati karena hijau bersaing membuat. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Gofron Mustaqim. Saya berasal dari Sleman, tepatnya di Moyudan, dekat tempat kelahirannya Presiden Soeharto dulu. Saya saat ini menjalani profesi sebagai pengusaha di bidang teknologi selama satu dekade terakhir. Tetapi sebelumnya mengawali karir setelah lulus kuliah itu dengan berkarir sebagai konsultan ee manajemen di salah satu firma konsultan yang terbesar di dunia. Latar belakang keluarga kami ya, keluarga pada umumnya keluarga kita berasal dari keluarga Muhammadiyah, Bapak Ibu aktivis aktif di Muhammadiyah dan juga PNS ya. Saya sendiri sejak lahir di klinik Muhammadiyah kemudian TK TK Muhammadiyah, SDSD Muhammadiyah, SMP SMA di Pondok Muhammadiyah. E jadi semuanya Muhammadiyah. Kuliah ngambil jurusan hubungan internasional. Dulu saya melihat bahwa banyak pengusaha-pengusaha di level global itu yang ngambil pengalaman dulu sebagai konsultan. Makanya kemudian setelah lulus dari kampus kemudian saya kerja di firma konsultan. Kantor pusatnya di New York tapi kalau saya ngantornya yang di Jakarta tapi nangan klien di Indonesia, Singapura sama Brunei. Nama perusahaannya adalah Mcinentan Company. Nah, dari situlah kemudian dapat ilmu tentang dunia bisnis, tentang dunia manajemen. Setelah itu ada pengalaman di sana, kebetulan diajak oleh teman untuk mulai terjun ke dunia bisnis gitu, Mas. Ya, waktu itu teman saya ngerintis B2C fashion e-commerce, gampangnya toko online buat fashion khususnya wanita. Waktu itu di masa-masa Indonesia ini baru mulai ada perusahaan investasi masuk di Indonesia atau venture capital. Kebetulan kawan saya itu dapat funding dari Venture Capital. Lalu kemudian ya saya diminta juga untuk membantu ngurusi operasional. Nah, lalu kemudian ngurusi juga untuk incharge ekspansi ke pasar di luar negeri kayak Malaysia, Filipin, Vietnam sama Australia gitu. Nah, jadi terlibat dari tim yang masih kecil waktu itu sampai timnya lebih dari 1000 yang kami kelola bersama. Namanya perusahaannya Stock. Lalu kita pernah rebranding juga jadi namanya Sorabel. Kalau saya malah sebenarnya titik terendah itu sebelum bergelut di dunia bisnis. Saya di firma konsultan itu sangat bersyukurlah karena teman-temannya pintar, pengalamannya sangat berharga, luar biasa klien-kliannya jos lah, mantap. Cuma ada satu hal yang hilang ketika saya di sana, yakni saya hampir enggak pernah salat jemah di masjid kecuali 1 minggu sekali, yakni di salat Jumat. Karena ya sibuk sekali sehingga ya enggak mungkin bisa punya fleksibilitas waktu untuk bisa ke masjid lah gitu. Itu membuat rasanya itu hampa. Jadi kayak ada yang hilang gitu dari kita menjalani hidup. Nah, itulah yang kemudian dalam tanda kutip saya berjanji pokoknya setelah ini apapun kesibukannya entah itu bekerja ataupun membangun usaha ini pokoknya satu kriteria utamanya adalah yang ini ya gimana bisa salat berjamaah di masjid ini sesuatu yang enggak bisa dikompromikan gitu. Jadi harus diikhtiarkan sebaik mungkin. Kalau mungkin bolong-bolong enggak ke masjid sesekali enggak apa tapi harus environmentnya itu environment yang bisa membuat kita habit itu bisa terus bertahan. pertama mungkin karena kebiasaan di lingkungan ya, entah itu lingkungan keluarga maupun dulu juga saya di pondok juga kan terbentuk sama kebiasaan ke masjid lah gampangannya. Kalau salatnya sih pasti salat gitu itu mah wajib walaupun kadang-kadang jamak juga saking sibuknya dan berada di perjalanan tapi ke masjidnya itu hilang. Ini emang sesuatu yang secara sederhana. Mungkin bisanya adalah ketika mengalami itu sendiri. Makanya saya kadang-kadang cerita ke teman-teman kalau misalnya saya pernah mengalami fase di mana salat jemah itu jadi sesuatu yang lakseri gitu, sesuatu yang istimewa. Makanya teman-teman jangan sepelekan itu kalau ada waktu bisa salat jemah ke masjid, manfaatkan itu karena itu sesuatu yang mahal. Itu saya kadang-kadang ngomong sama teman-teman seperti itu. Keputusan-keputusan berikutnya ketika saya memilih kesibukan, ya itu salah satu kriteria yang saya lihat gitu. Misalnya tadi ee membangun yang bisnis fashion e-commerce, lalu kemudian membangun bisnis yang social ecommerce. Ini enggak bisa ditinggalkan nih. Artinya bisa menyesuaikan terhadap kebutuhan dasar ini ya. Ini bisa salat jemah di masjid gitu. [Musik] Sebenarnya saya sih ngerasa biasa-biasa aja. Saya enggak merasa ketika terpuruk itu terpuruk banget gagal. Ketika berhasil ya biasa aja. Cuma mungkin yang salah satu yang bisa disyukuri adalah ee di bisnis kami yang setelah sell stock itu, itu kan kita bersama teman-teman menggembangan bisnis, Evermos namanya, bergerak di bidang social commerce. Nah, alhamdulillah bisa memberikan dampak yang signifikan gitu, mengembantu ribuan orang untuk bisa memiliki tambahan penghasilan dan di sisi lain juga mendapatkan kepercayaan investor gitu, mendapatkan eh funding lebih dari 1 triliun lah totalnya setelah kami bangun itu. Nah, cuma itu pun saya enggak sebut sebagai kayak pencapaian terbesar gitu ya. Ya, biasa aja, normal aja lah gitu. Karena saya sekarang masih ada di live mission yang memiliki target yang jauh lebih besar dan lebih mungkin impact-nya insyaallah bisa lebih jangka panjang gitu. Nah, sebelum itu tercapai menurut saya itu belum merupakan sebuah pencapaian. Siap. Oke, kita membantu brand-brand lokal lah, brand-brand UMKM untuk bisa lebih laku dengan dibantu dengan jaringan yang kita miliki. Jaringannya bisa ada yang ibu-ibu, ada jaringannya mas-mas yang jualan dengan iklan. Jadi membantu brand lokal atau UMKM agar produknya semakin terpasarkan melalui berbagai macam omni channel gitu, Mas. Sampai berapa ya? Mungkin puluhan ribu mungkin ya total di ekosistem gitu ya. Mungkin bisnisnya memiliki bisnis model yang relatif inovatif. Lalu kemudian pertumbuhannya juga oke. Ee lalu ya diberkahi dengan tim-tim yang luar biasa jadi salah satu faktor lah untuk bisa mendapatkan funding gitu. Jadi, Mas, ketika bulan Oktober 2023 itu ee jujurlah saya sudah merasa bahwa ada sesuatu yang membuat saya itu gusar sehingga enggak bisa fokus ngapa-ngapain, termasuk ngurusin kerjaan lah gampangannya. Karena peristiwa genus di Gaza yang sampai hari ini yang meninggal dan hilang sudah di atas R.000. itu sebuah peristiwa yang mengubah prioritas hidup saya. Lalu kemudian saya melihat lagi belajar tentang kaitannya Palestina dan istri waktu itu ngaji di dekat rumah di Bandung sana. Kebetulan ustaznya itu ngisi tentang Palestina dan membahas sebuah buku yang ditulis oleh Profesor Abdul Fattah Al-Awaisi. Menarik sekali pembahasannya waktu itu. Karena bukunya Profesor Abdul Fattah Alwaisi ini menyampaikan tentang Baitul Maqdis atau Palestina tidak hanya dari perspektif ilmu agama gitu, tapi dari perspektif multidimensional. Beliau sendiri adalah guru besar hubungan internasional. Dulu pas kuliah saya juga jurusannya hubungan internasional. Jadi saya merasa ini menarik gitu karena pembahasannya multidimensional dan bisa konkret gitu kira-kira apa yang bisa kita lakukan gitu. Jadi tidak hanya sekedar empati, tidak hanya sekedar peduli, tapi juga apa yang bisa kita lakukan. Karena saya sangat tertarik dengan Prof. Abdul Fattah LYC itu. Kemudian saya coba cari-cari kontaknya lah. Akhirnya nemu bisa kontak beliau dan saya WhatsApp itu dijawab oleh beliau. Intinya waktu itu saya dan istri sebenarnya pengin ke tempat beliau. Kebetulan beliau itu sebenarnya aslinya Palestina, tapi beliau itu mukim di Scotland di Inggris sana. Saya ee pengin ke sana untuk jalan-jalan sekaligus pengin ketemu beliau untuk belajar ya. Tapi beliau malah menyampaikan bahwa beliau aja yang ke sini gitu. Dan kemudian kita bisa belajar bareng ngajak sama teman-teman. Pada bulan April tahun 2024 itulah saya ngajak teman-teman terutama dari teman-teman Serikat Usaha Muhammadiyah karena saya juga berkecimpung di dalamnya untuk belajar daurah gitu. selama seminggu intensif ngaji tentang Baitul Maqdis ke Profesor Abdul Fattah ini. Jadi itu salah satu titik awal ketertarikan saya terhadap Baitul Maqdis untuk ya untuk berkomitmen untuk belajar dan juga komitmen untuk berbuat sesuatu. [Musik] Setelah muktamar Muhammadiyah di Solo tahun 2022 itu kan saya diamanahi sebagai wakil ketua lembaga UMKM di pimpinan pusat Muhammadiyah. Ee sebagai pengurus di pimpinan pusat Muhammadiyah saya kemudian berijtihad untuk mendirikan serikat Usaha Muhammadiyah atau kumpulan komunitas pengusaha-pengusaha Muhammadiyah maupun yang non Muhammadiyah. Berarti tahun awal 2023 kami menginisiasi Serikat Usaha Muhammadiyah itu. Alhamdulillah kita sudah memiliki anggota ribuan lah dari ratusan kota kabupaten Indonesia. Hubungannya dengan kita belajar Baitul Maqdis adalah ya awalnya kita mengundang Profesor Abdul Fattah Alwesi shahibul baitnya adalah surkat usaha Muhammadiyah ini. Karena yang belajarlah teman-teman ya pengusaha dan kita kan kadang-kadang ya kalau kumpul ngomongin bisnis tuh sudah biasa. Nah ini kita ngomongin ee Baitul Maqdis ini jadi sesuatu yang ee menarik gitu. Nah, ini untuk mengestimasikan nilai Muhammadiyah. Apabila asumsinya Muhammadiyah ini divaluasi seperti perusahaan, saya ngambil yang konservatif aja karena variannya tadi banyak ya, dari 1 sampai 60 multiplayernya. Saya hanya ambil 10 kali multiplayer. Dengan 10 kali multiplayer, net tangible aset Muhammadiyah yang sebanyak 27 biliun USD tersebut itu akan berakhir dengan hitungan market cap Muhammadiyah senilai 270 bilun US Dar. Ini menjadikan Muhammadiyah sebagai grass root nonprofit, salah satu yang terbesar di dunia. Poin menariknya di sini, Mas. Di surah al-Isra ayat 1 itu disebutkan, "Subhanalladzi asro biabdihi lailam minal masjidil harami ilal masjidil aqsalladzi barokna haulahu." Ada kata menarik di situ, barokna haulahu dan itu menunjuk ke sebuah tempat yakni Masjidil Aqsa dan daerah sekitarnya Baitul Maqdis sebagai tempat yang diberkahi. Saya belajar dari Profesor Abdul Fattah bahwa makna keberkahan ini di antaranya adalah bahwa memang wilayah ini memiliki signifikansi secara geopolitik. Eah, signifikansi secara geopolitik itu artinya kalau kita melihat sejak ribuan tahun yang lalu, peradaban-peradaban yang bisa memiliki pengaruh global itu pasti adalah peradaban yang menguasai mengontrol wilayah Baitul Maqdis ini. kita ingat Mesir lalu kemudian kerajaannya Nabi Daud, Nabi Sulaiman ada kemudian Mesopotamia, Persia, Babilonia, Romawi dan kemudian peradaban Islam yang kemudian sekarang ada adalah peradaban Barat. Kita lihat itu adalah peradaban-peradaban yang memimpin dunia, memiliki pengaruh global dan itu semuanya menguasai kawasan yang Baitul Maqdis ini. Nah, Barokna haulahu itu memiliki signifikansi geopolitik tersebut. Buat pengusaha itu apa maknanya? Terutama pengusaha muslim ya. Karena di ayat 7 itu disebutkan bahwa di surat Alisra disebutkan in ahsantum ahsantum lianfusikum wain asum falaha faidza jaa waul akirah liu wujuhakum waliadul masjida aal marah. Di situ disebutkan bahwa sekarang kan kondisinya Baitul Maqdis itu dijajah. Sama halnya dulu pas zaman Rasulullah Baitul Maqdis juga dijajah. Sama persis. Sekarang ini waktu itu Rasulullah menyiapkan sahabat untuk bisa memerdekakan Baitul Maqdis. Waktu itu ada masih di dalam kekuasaannya Romawi Bizantium. Ya, itu kemudian akhirnya pada zaman Umar bin Khattab akhirnya bisa dibebaskan. Ya, itu disebutkan di surat Al-Isra itu sebagai pembebasan yang pertama awal marah tadi. Di ayat itu disebutkan bahwa pembebasan Baitul Maqdis itu tidak hanya terjadi di situ saja, tapi akan ada pembebasan berikutnya ketika Baitul Maqdis dijazah, yakni saat ini. Saat ini kan sedang dijajah dan itu pasti kita akan bisa memerdekakan itu Baitul Maqdis. Artinya Baitul Maqdis itu tidak akan selamanya dijajah seperti sekarang. Pasti akan merdeka. [Musik] Nah, tanda-tandanya itu sekarang sudah terlihat. Jadi, sebelum pembebasan Baitul Maqdis itu akan terwujud, ada kisi-kisinya di surat Al-Isra ayat 7 itu. In ahsantum ahsantum lfusikum wain asum falaha faza ja waul akir liasu wujakum baru liadul masjida. Di situ disebutkan bahwa wajah para penjajah ini akan reputasinya rusak, mereka citranya jadi buruk di dunia internasional. Dan sekarang itu kita sudah melihat setelah genosida di Gaza ini kita melihat bahwa Amerika Zionis itu banyak dikecam lah. Bahkan ya oleh Mahkamah Internasional juga demikian. Masyarakat nonmuslim dunia pun juga mengutuk mereka gitu. Jadi mereka wajahnya itu reputasinya sudah rusak. Nah, sehingga liasu wujuhakum ini sekarang sedang terjadi. Wallahuam. Ini akan terjadinya 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun. Wallahuam. Tapi ini periode ini sedang terjadi. Setelah milestone ini adalah waliadkulul masjida aal marah. Jadi kita bisa kemerdekaan Baitul Maqdis itu bakal terwujud. Jadi milestone pertama sedang terjadi sekarang. Nah, nanti insyaallah sebentar lagi dan semoga itu ada di masa hidup kita itu Baitul Maqdis bisa kita merdekakan. Nah, balik lagi tadi ke teori geopolitik awal. Barang siapa peradaban yang menguasai Baitul Maqdis adalah peradaban yang memimpin dunia, berarti ketika Baitul Maqdis itu nanti kembali lagi ke umat Islam, maka umat Islamlah yang bakal kembali memimpin dunia secara ekonomi, secara ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Artinya peradaban Islamlah yang insyaallah akan kembali lagi memimpin dunia. Kalau Reidalio itu menyebutkan bahwa Amerika sekarang itu adalah empires yang sedang dikline gitu dan nanti akan bergeser ke Cina. Kalau menurut saya nantinya itu yes, Cina akan menjadi peradaban yang besar tapi dunia nanti adalah dunia yang multipoler. Artinya Cina besar dan di sisi lain peradaban Islam juga besar dan kita sama-sama saling bisa bekerja sama untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, lebih damai, lebih sejahtera gitu. Nah, tapi poinnya adalah peradaban Islam akan kembali lagi menjadi peradaban yang memimpin dunia. Dan ini adalah momentum momentum yang ada dalilnya. Dan pengusaha itu untuk usahanya bisa melesat pasti harus ikut momentum kan. Jadi ikut momentum itu adalah wajib buat pengusaha yang pengin usahanya bisa berkembang dengan lebih pesat. Nah, Profesor Abdul Fattah menghabiskan waktu 30 tahun lebih untuk ngeriset terkait hal tersebut. Beliau sendiri yakin bahwa bahkan pembebasan Baitul Maqdis itu akan terjadi waktu beliau masih hidup. Beliau usianya sudah mendekati 70 tahun. Jadi maksudnya insyaallah dalam usia kita itu kita akan melihatnya gitu. Dan sebagai pengusaha harus jeli melihat momentum ini. Jadi akan terjadi pergeseran geopolitik dunia nih dan kita harus memposisikan diri sebagai pengusaha gimana agar kita bisa memanfaatkan momentum tersebut gitu. Enggak ketinggalan. Nah, itu penjelasan rasionalnya. Penjelasan lainnya spiritualnya adalah bahwa insyaallah dengan kita itu peduli dengan Baitul Maqdis, tidak hanya peduli tapi juga berkontribusi atas pembebasan Baitul Maqdis, insyaallah kita akan dapat berkahnya tadi. Dan berkah ini bisa termanifestasi macam-macam. Salah satunya adalah kita akan diberikan petunjuklah oleh Allah untuk bisa mengembangkan bisnis kita agar bisa semakin dahsyat. [Musik] Kalau pengusaha muslim yang cerdas itu mulai hari ini harus mulai berpikir gimana caranya bisa berkontribusi ke pembebasan Baitul Maqdis. Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan ilmu. Jadi mengilmui terkait Baitul Maqdis. Karena saya saya akan ceritakan tentang upaya politik, upaya militer itu upaya-upaya yang bukan pokoklah. itu penting sekali. Tapi yang paling pokok dan pondasi itu adalah terkait ilmu. Mengilmui tentang Baitul Maqdis ini itu bisa macam-macam gitu. Kita belajar tentang sejarahnya, kita belajar tentang keberkahannya, kita belajar tentang tatanan sosial di Baitul Maqdis. Kenapa dulu Umar bin Khattab bisa menciptakan perdamaian di sana? Kita belajar tentang Salahuddin al-Ayyubi. Dan selain itu juga kita bisa belajar juga tentang implikasi ketika Baitul Maqdis itu kita sudah bisa bebaskan, sudah bisa merdekakan. Berarti kan peradaban Islam yang akan memimpin dunia nih, termasuk dalam hal ilmu, pengetahuan, teknologi, ekonomi itu kan kita yang memimpin. Nah, kita sebagai pengusaha itu kita harus melihat peluang ini kira-kira apa yang bisa kita lakukan gitu. Inovasi apa yang harus kita lakukan. Karena konteksnya kita akan berbisnis tidak hanya dengan skala Indonesia lagi gitu, tapi bisa skalanya kita ngomong skala global. Sama halnya kita melihat sekarang perusahaan-perusahaan terbesar di dunia adalah perusahaan-perusahaan yang basisnya di Barat gitu mayoritas ya. Itu nanti kita akan melihat ketika Baitul Maqdis itu sudah kembali lagi ke umat Islam, perusahaan-perusahaan terbesar di dunia adalah perusahaan-perusahaan kita dan orang-orang terkaya di dunia saat ini adalah banyakan dari barat gitu. Nanti ketika Baitul Maqdis sudah kembali lagi ke umat Islam, orang-orang terkaya di dunia, saya pakai quote karena definisi kekayaan umat Islam itu perlu ditwik ya, beda sama yang al kapitalisme. Tapi saya sampaikan di sini pengusaha-pengusaha terbesar dunia nanti adalah dari kalangan umat Islam sendiri. Oleh karena itu, saya punya inisiatif baru ini, Mas. Ya, ini kami membuat yang namanya komunitas ummah internasional. Ummah internasional itu kita mengumpulkan teman-teman pengusaha maupun profesional. Profesional itu ya berbagai macam profesi ya. Ada bisa profesi sebagai konsultan, profesi dokter. Kita kumpulkan ini di komunitas ini, teman-teman pengusaha dan profesional tidak hanya di Indonesia tapi juga around the world dari berbagai macam belahan dunia untuk sama-sama kita belajar tentang Baitul Maqdis. Alhamdulillah Profesor Abdul Fattah bersedia untuk menjadi board of advisor, jadi penasihat langsung komunitas ini. Jadi kita bisa belajar langsung dari beliau. Goal-nya adalah kita sama-sama belajar dan juga berkontribusi dengan cara kita masing-masing untuk membebaskan Baitul Maqdis. Dan juga di antaranya kita bisa saling karena kita bisa terkoneksi bisa saling bantu satu sama lain, bersinergi, berkolaborasi entah itu kerja sama bisnis atau mungkin ada karir yang bisa dikerjamakan. Intinya ketika sudah terhubung ini kan potensi untuk kerja samanya juga bisa banyak. Tapi ini adalah sebuah komunitas yang kita desain agar kita para profesional, para pengusaha ini bisa berkumpul dan sama-sama belajar tentang Baitul Maqdis. dengan output insyaallah kita bisa sama-sama membebaskan Baitul Maqdis. Nah, saat ini kita juga masih mengalami penjajahan nih. Jadi, ketika Masjid Al-Aqsa Baitul Maqdis itu dijajah oleh entitas Zionis itu yang bekerja sama atau representasi dari Barat itu sebenarnya yang dijajah itu bukan orang Palestina, tapi yang dijajah adalah seluruh umat Islam. Jadi, termasuk kita yang ada di sini di Indonesia. Selama Baitul Maqdis Masjidil Aqsa itu masih terjajah, maka kita belum merdeka. Sehingga itu adalah agenda prioritas kita. Gimana caranya agar kita merdeka. Kita belajar dari sejarah bahwa ketika para pengusaha dan profesional itu bisa berkumpul, bersatu, saling bahu-membahu, itu sejarah membuktikan bahwa bisa kita membuat perubahan besar. Dalam hal ini adalah perubahan terkait pembebasan Baitul Maqdis. [Musik] Nah, ini sebenarnya belajar dari sejarah sendiri, Mas. Yang paling dekat dengan kita lah. Ee bahwa salah satu katalis penting kebangkitan nasional Indonesia itu adalah adanya serikat dagang Islam. Gimana para pedagang, para pengusaha, para pengrajin gitu itu berserikat. Lalu kemudian ya mereka motifnya apa? mereka pengin bisa membantu satu sama lain sehingga kuat dan juga mereka bisa melawan penjajah Belanda ketika itu gitu. Dan waktu di bawah kepemimpinan HOS Cokro Aminoto bisa sangat masif dengan jutaan anggota ketika itu dan ya akhirnya kemudian menelurkan berbagai macam gerakan-gerakan yang ujungnya akhirnya Indonesia bisa merdeka. Selain belajar dari Serikat Dagang Islam itu saya juga belajar dari Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan oleh K. Ha. Ah Dalan dan dirintis awalnya oleh para pengusaha-pengusaha badik. Terus kemudian ya pengusaha-pengusaha lah. Dan kita lihat ya Muhammadiyah bisa sangat progresif bahkan sampai sekarang disebut sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Nah itu lagi-lagi membuktikan bahwa kekuatan pengusaha, kekuatan profesional ketika bisa bersatu ternyata bisa melahirkan sesuatu yang besar. Karena pembebasan Baitul Maqdis itu bukan sekedar kemenangan spiritual. kemenangan politik, tapi ini adalah civilizational turning point, gitu. Itulah yang akan mengantarkan peradaban Islam bisa menjadi peradaban yang memimpin dunia. Artinya kebangkitan umat Islam atau umat Islam ini akan menjadi rahmatan lil alamin itu gerbangnya itu ada di pembebasan Baitul Maqdis ini. Selama Baitul Maqdis itu belum bisa dibebaskan, kita semua umat Islam masih terjajah dan kita belum bisa mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Karena Islam sebagai rahmatan lil alamin kan berarti kita harus menjadi solusi atas semua permasalahan-permasalahan dunia saat ini, kan. Dan saya percaya bahwa tugas pembebasan Baitul Maqdis itu bukan tugasnya warga Palestina, bukan tugasnya orang Arab, tapi seluruh komponen umat Islam di seluruh dunia. Dan saya yakin pilar pokoknya itu adalah di pengusaha dan profesional tadi. Saya tidak ada satu tokoh yang menginfluence dengan masif. Ya, artinya saya terinfluence oleh banyak tokoh gitu yang saya sebutkan tadi seperti K. Hjadahlan Cokro Aminoto Diponegoro gitu, Sudirman. Nah, itu sebagai tokoh-tokoh yang saya banyak terinspirasi oleh spirit-spirit beliau gitu. Yang pertama adalah dia melandaskan semua perjuangannya dengan niat jihadnya, jihad fisabilillah gitu. Dengan amwal mereka maupun dengan anfus mereka gitu. Meniatkan semuanya itu dengan latar belakang jihad. Nah, itulah yang saya pelajari dan saya pengin teladani juga terkait hal tersebut. Haji Omar Said Cokro Aminoto itu menurut saya profil yang sangat menarik karena beliau itulah yang menginspirasi berbagai macam ideologi yang ada di Indonesia gitu. Saya baca itu ada sekitar 2 juta anggota Serikat Islam waktu itu dari serikat dagang Islam sudah ganti jadi serikat Islam ada 2 juta orang tuh karena Sokoro Aminuto perjuangannya sangat relate dengan kebutuhan penderitaan masyarakat ketika itu gitu. Kok Kiai Haji Pak Ahmad Dalan jelaslah karena saya lahir hidup ya bahkan bisa baca nulis hitung itu karena Muhammadiyah menurut saya yang saya pelajari dari beliau itu adalah visioner berkemajuan dan juga keikhlasannya itu luar biasa ya. Enggak mungkinlah Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang dan berkembang sampai sekarang kalau dulu pendirinya itu enggak memiliki keikhlasan. Ini sebenarnya kan wujud berkah dari keikhlasan K. Haji Amadalan dan para pendahulu Muhammadiyah itu. Nah, itu yang saya pelajari. Nah, beliau beliau pengusaha usahanya bukan yang usaha besar sekali gitu ya, usaha batiklah gitu, tapi ya sebegitu berkahnya gitu dengan usahanya tersebut itu bisa membiayai, membidani organisasi yang akhirnya bisa bertahan lebih dari 100 tahun dan dengan aset yang luar biasa besar gitu. [Musik] Jadi, Profesor Abdul Fattah itu kepakaran beliau adalah tentang teori geopolitik. Spesialnya adalah di Baitul Maqdis. Nah, beliau itu selama hampir 40 tahun terakhir itu sudah ngajar di kampus-kampus di Inggris, di Turki, di negara-negara Arab, di Malaysia, dan baru saja mulai di Indonesia. Setelah kita ada program Saladin Cem ini kemudian kita ada kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk buka. Nah, beliau itu menyampaikan sesuatu yang menarik bahwa dalam observasi beliau 30 40 tahun keliling dunia Islam itu untuk ngajar-ngajar, beliau menyampaikan bahwa di antara negara-negara muslim yang paling siap dan paling bisa diandalkan untuk memimpin pembebasan Baitul Maqdis adalah umat muslim Indonesia. Kesimpulannya itu bahwa generasi yang paling siap untuk bisa memimpin pembebiasaan Baitul Maqdis adalah generasi muslim Indonesia. Wah, luar biasa kan? Ini adalah buku terakhir beliau, buku monumental beliau ee yang kemudian sudah diterbitkan oleh suara Muhammadiyah dengan berbahasa Indonesia. Ya, kita bisa belajar dari sini nih untuk bisa mendalami terkait Baitul Maqdis di awal. Nah, dari sini nanti akan membuka berbagai macam wawasan untuk kita bisa belajar hal-hal yang lain. Nah, bahkan sebagai pengusaha ee bisnis baru yang saya bikin itu inspirasinya adalah ketika belajar tentang Baitul Maqdis ini. Ya, jadi belajar Baitul Maqdis ini bagi pengusaha bisa memberikan inspirasi bisnis. Insyaallah ini bisnis yang mungkin di antara beberapa yang saya tekuni sebelumnya. Insyaallah lah, insyaallah bisnis yang paling berkah lah. Nah, ini bahasnya tentang ee rencana strategi pembebasan Masjid Al-Aqsa yang membahas secara multidimensional terkait Baitul Maqdis, Masjidil Aqsa dan juga langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan nih untuk kita bisa berkontribusi terhadap pembebasan Baitul Maqdis. Pertama adalah kita punya platform online-nya, Mas. Jadi biar teman-teman dari berbagai macam belahan dunia ini termasuk yang dari Indonesia ini bisa bersilaturahmi lah berkoneksi secara online ya. Gampangannya kayak media sosial internal kita gitu. Yang kedua kita ngadakan berbagai macam kegiatan forum-forum gitu untuk kita bisa belajar tentang Baitul Maqdis. Lalu kemudian Saladin Cam yang sudah kita jalankan selama 1 tahun terakhir empat angkatan dan diikuti oleh 1000 orang alumni itu umah juga bagian dari sohibul bait untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut. Kalau yang selama setahun terakhir itu dari Indonesia saja pesertanya, nah harapannya ke depannya Saladin Game ini juga bisa diikuti oleh peserta-peserta dari luar negeri. Karena Profesor Abdul Fattah punya daurah juga di Bangladesh, di Malaysia, di Turki, di tempat-tempat lain. Nah, kita harapannya kita bisa menyingg rekan itu bersama-sama gitu. Selain itu juga di sana karena teman-temannya itu profesinya adalah ya pengusaha dan juga berbagai macam lintas profesi, mereka bisa saling sharing satu sama lain gitu. Personally misalnya yang bisa saya share itu adalah ya pengalaman kami di dunia bisnis selama satu dekade ini kan bisnis kami itu didanai oleh venture capital totalnya lebih dari Rp2 triliun. Itu saya bisa juga sharing-sharing terkait gimana mendapatkan funding bisnis kita dari venture capital gitu berdasarkan pengalaman kami. Sehingga ibaratnya kita ketemu like minded people, like hearted people. jadi orang yang satu frekuensi gitu. Sehingga ketika orang satu frekuensi ini dikumpulkan itu otomatis nanti akan lahirlah itu kerja sama-kerja sama yang ada di dalamnya gitu, Mas. Karena total 10 tahun, Mas. Kalau yang 1 triliun itu kan tadi yang bisnis terakhir ya, yang itu. Kalau yang semuanya 10 tahun itu sama yang sell stock itu kan totalnya jadi 2 triliun. [Musik] Sarah Kam ini serunya karena yang ikut teman-temannya lintas profesi, lintas organisasi. Nah, jadi majmuk dan itu kan kekuatan umat Islam itu di situ. Karena dengan kemajemukan itulah sebenarnya adalah model kekuatan kita. Nah, kita belajar intensif itu sama Profesor Abdul Fattah sendiri beliau yang ngajar. Jadi enggak ada pembicara yang lain. Kita mulai dari jam 3.00 salat tahajud terus kemudian sesi kelas pagi itu dimulai jam 08.00. Lanjut sampai sore malamnya diakhiri dengan tadabur Al-Qur'an surah Al-Isra. Karena surah Al-Isra ini merupakan salah satu sunah yang dilupakan. Dulu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu belum tidur sebelum membaca surah Al-Isra ini. Karena apa? Surah Al-Isra itu luar biasa, Teman-teman. Jadi, surah Al-Isra itu membahas di ayat-ayat awal itu terkait pembebasan Masjidil Aqsa. Pembebasan yang pertama maupun pembebasan yang kedua. Nah, di ayat-ayat berikutnya itu menyampaikan tentang ciri-ciri generasi yang bakal membebaskan Baitul Maqdis. Misalnya ciri-cirinya antara lain gemar sodqoh, terus birul walidain, qiyamulail. Di Al-Isra itu disebutkan secara spesifik tentang sifat-sifat atau karakter-karakter orang-orang yang pasti nanti bisa membebaskan Baitul Maqdis itu gitu. Jadi, kalau kita mau mencocokkan itu gampang. Apakah kita itu bakal menjadi golongan yang berkontribusi terhadap pembahasan Baitul Maqdis atau dak? Ya tinggal cocokkan aja sama surat Al-Isra itu. [Musik] Itu berhari-hari karena dibagi ke beberapa level. Level beginner atau basic itu 4 hari. Intermediate 1 itu 3 hari. Intermediate 2 3 hari advance 3 hari. Jadi kalau ikut semuanya ya bisa 2 minggu itu Mas. Dan itu seru. Serunya apa? ditandain adalah dari alumni-alumni yang ikut itu selalu pengin ikut lagi. Nah, karena dulu kan kebayangan saya cuma ngadakan sekali aja pas bulan April itu. Tapi kenapa akhirnya bisa sampai empat kali selama 1 tahun adalah karena ya request dari teman-teman alumni itu. Kalau yang angkatan pertama, kedua di Jogja, angkatan ketiga di Lampung, angkatan keempat kemarin di Bogor sama Jakarta, nanti Oktober ada lagi itu insyaallah di Bogor. Ini mungkin semua pengusaha pasti memiliki pemikiran yang sama bahwa bisnis itu harus nyari momentum, bukan ya nyari tren ya, karena tren itu short term. Kalau momentum itu bisa memberikan lompatan dan pijakan baru yang lebih sustainable gitu. Nah, momentum ini kan enggak bisa ditebak sebenarnya, enggak bisa dicari. Biasanya kan disarankannya adalah kita harus siap-siap sehingga nanti ketika ada momentum ada ya kita bisa ride the momentum gitu. Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa globalisasi Islam pertama terjadi setelah pembebasan Masjid Al-Aqsa yang pertama di era Umar bin Khattab. Nanti globalisasi Islam yang kedua itu terjadi setelah pembebasan Masjid Al-Aqsa selanjutnya yang insyaallah di usia kita ini yang akan menyempurnakan globalisasi Islam yang pertama dulu, gitu. Nah, ini harus kita lihat nih momentum ini dan kita harus menyiapkan bisnis kita untuk bisa memanfaatkan momentum tersebut. [Musik] Ya, wallahuam. Apa yang biasanya terjadi di depan mata itu bisa jadi enggak menjelaskan 100% cerita gitu. Apakah misalnya Iran itu intensinya adalah untuk membebaskan Palestina ataukah untuk sebagai mekanisme selfdefense dan self defens aja tanpa ada ibaratnya niat untuk membebaskan Baitul Maqdis ya saya enggak bisa berkomentar terlalu banyak terhadap hal-hal itu. Dan satu lagi yang saya belajar dari Profesor Abdul Fattah itu adalah kita harus berhenti bersikap reaktif, kita harus mulai bersikap strategis. Jadi kita terhadap apa yang ada di depan mata itu kita ojo kagetan, ojo gumunan. Kita fokus saja sama strategi yang kita siapkan gitu ya. Karena kita enggak akan bisa memerdekakan tanah sebelum kita memerdekakan pikiran kita. Dan itu merdekakan pikiran adalah dengan ilmu. Nah, dengan ilmu itu kita akan bisa lebih bijaksana melihat apa yang ada di depan mata. termasuk mengomentari apa yang terjadi fenomena yang ada di Iran sama e melawan Israel itu kita akan memiliki pemahaman yang lebih dalam lah. Nah, saya bukan ahlinya sehingga saya enggak terlalu bisa berkomentar terhadap hal itu. Kalau kita lihat misalnya Redalio sendiri investor dan ekonom global yang sangat terkenal itu, itu kan sudah menyebutkan bahwa eranya Amerika itu sudah hampir habis gitu empire on decline gitu. hutangnya tinggi, terus kemudian konflik sosial ya berbagai macam masalah lah yang ada di di sana gitu. Itu membuat Amerika turun dan yang mensponsori Israel bisa berkuasa sampai sekarang ya Amerika itu kan. Nah, Amerika is on decline. Jadi dan itu yang menyampaikan adalah ekonom sendiri bahwa mereka itu sudah on decline dan akan ada peradaban baru yang muncul gitu. Saya sih ingin berpesan ya kepada teman-teman pengusaha, kepada teman-teman ya lintas profesi itu mulai hari ini mulai meniatkan untuk bisa berkontribusi ke pembebasan Baitul Maqdis. Karena ini once in lifetime opportunity gitu. Pembebasan Baitul Maqdis itu adalah kepastian. Yang enggak pasti itu adalah kita akan berkontribusi di dalamnya atau tidak gitu. Nah, kalau kita ingin dapat berkahnya, insyaallah berkahnya itu akan memberikan manfaat dunia akhirat gitu. ya buat bisnis kita, buat keluarga kita dan lain sebagainya. Kita harus mengambil peran terhadap pembahasan Baitul Maqdis itu sehingga insyaallah kita bisa menjadi pilar penting ketika peradaban Islam ini bisa menjadi peradaban yang memimpin dunia. Kita tidak hanya sekedar pasif menonton gitu, tapi kita bisa menjadi pilar penting di dalamnya, berperan penting di dalamnya. Karena itu ya manfaatnya insyaallah pahala jariah yang luar biasa. Kalau tentang kesuksesan-kesuksesan duniawi itu pastilah itu enggak usah dicari. Tapi dengan kita memiliki peran terhadap pembahasan Baitul Maqdis itu, insyaallah kita akan ya akan mendapatkan kesuksesan yang luar biasalah. Silakan teman-teman yang ingin bergabung dengan Rumah, linknya ada di deskripsi silakan diklik. Nah, insyaallah kita bisa bertemu secara online ataupun offline dan juga saya cantumkan juga nomor WhatsApp kami yang teman-teman kalau misalnya mau berinteraksi. Nama saya Gofron Mustaqim, khadim atau pelayan ummah. Nasr minallahi wafatun qibasiril mukminin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Demi keadilan baitul kita bebaskan. Islam menjadi rahmat semesta alam. Peradaban dunia dalam asuhan genggaman. Yeah.