Strategi Mengelola Bisnis Syariah: Margin Rendah, Tapi Tetap Bertumbuh Konsisten!
mfHLaF_qW4U • 2025-07-18
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Allahu Akbar. Allahu
Akbar.
[Musik]
Salah satu poin yang dibahas itu adalah
bertransaksi kan bermuamalah kayak gitu
dengan akad-akad yang sesuai dengan
syariat. Nah, itu yang kita gunakan
dalam bisnis. Sebenarnya itu saya sama
kakak saya itu enggak dibolehin bisnis,
Mas. Penginnya itu jadi dosen, makanya
harus S2. Di keluarga besar kami, baik
itu dari ayah maupun ibu, ibu saya
enggak ada yang ma bisnis. Jadi, kami
generasi pertama yang masuk bisnis. Ya,
bisnis kan resiko tinggi toh, Mas.
Mending jadi PNS.
[Musik]
DN perusahaan kami itu adalah learning.
Salah satu cost terbesar kami adalah di
SDM. Dan di SDM pun itu koster besarnya
adalah training. Karena teman-teman dulu
itu kan sering sharing ya, "Mas, habis
berapa untuk membentuk marketing yang
sekarang?" G ya, kalau buat beli Innova
Zenic bisa gitu.
[Musik]
Kami punya idealisme itu enggak boleh
ambil margin terlalu banyak. Secukupnya
aja udah. Yang penting cukup. Cukup
untuk kami hidup. Cukup untuk ketika ada
resiko-resiko itu tadi dari kami pribadi
kan juga enggak yang mencari
kesejahteraan pribadi lah. itu bukan
tujuan kamiah.
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan
nama saya Zaiaudin Sardar. Saat ini saya
sedang diamanahi sebagai direktur dari
PT Zafir Berkah Indonesia dan sekaligus
saya merupakan owner dari Zafir Berkah
Indonesia sendiri. Kalau kami sendiri
bergeraknya di bidang trend travel
utamanya umrah, Mas. Kami berlokasi di
Delta Sari Indah, Sidoarjo. Saya saat
ini usia 32 tahun. Kalau travel ini
sendiri itu udah mulai dari tahun
2016, Mas. Tapi pada saat itu bukan saya
yang megang. Itu masih ayah kayak gitu.
Kebetulan ayah saya sebagai PNS. Beliau
adalah dosen di salah satu universitas
di Surabaya. Pada saat itu beliau
berkesempatan untuk menjadi ketua kloter
dari rombongan haji gitu kan. Nah,
sepulang dari itu beliau membuat bisnis
travel umrah bersama temannya gitu.
Cuman berjalan kurang lebih setahun
terus berpisah. Beliau membuat sendiri
bersama dengan saya dan kakak saya dan
teman dari kakak saya 2017 berarti ya
masih kerja sama kayak gitu. Terus
berjalan setahun kerja samamanya enggak
lanjut lagi. Terus akhirnya 2018 itu
kami menjadi cabang cabang dari salah
satu travel di Lamongan. Nah, dari 2018
itu akhirnya itu mulai serius dalam
menjalankan usaha travel ini. Karena
sebelumnya itu murni cuman ayah saya
sebenarnya yang bergerak ya. Saya, kakak
saya dan teman kakak saya ini hanya
kasarannya titip nama lah. Karena kami
bergerak di usaha yang lain, Mas.
sehingga kita belum fokus di travel
umrah. Kami baru fokus travel umrah 2018
itu kuliah 2011, saya lulus 2015 waktu
itu. Terus ayah saya minta anak-anaknya
harus S2 minimal tapi enggak mau
modalin. Ayah saya enggak mau modalin.
Nah, ya sudah saya cari side job lah.
Saya sudah mulai kerja istilahnya, Mas,
ya. Itu dari 2014 kalau enggak salah.
Jadi waktu saya masih kuliah tuh saya
freelance, Mas. Freelance ikut wedding
organizer kayak gitu-gituah. Dari situ
saya dapat uang ngumpulin buat bayar S2.
2015 ketika saya lulus saya langsung
masuk ke unit usaha yang milik kakak
saya yang bergerak di bidang konstruksi.
Jadi saya bantuin di situ dari 2015.
Islam itu mudah, tapi kita tidak boleh
karena itu mudah kita ya wislah enggak
pooh enggak apao gitu.
Saya lahir dari keluarga pendidik ya.
Ayah saya itu aslinya Bima Nusa Tenggara
Barat. Beliau untuk kuliah merantau ke
Surabaya dulu itu naik kapal masih dari
kayu gitu. Jadi perjalanan dari Bima ke
sini itu seminggu atau 5 hari kayak
gitu. Perjuangannya sebegitu sampai
akhirnya sampai sekarang bisa menjadi
dosen segala macam lah. Intinya adalah
ayah saya ingin mendidik anak-anaknya
itu raihlah pendidikan
setinggi-tingginya tapi dengan effortmu
sendiri. Kami itu di keluarga itu
ditanamkan oleh ayah itu bahwa berbakti
kepada orang tua itu nomor satu. Makanya
travel umrah ini itu sebenarnya adalah
bentuk bakti kami saya dan kakak saya ya
itu kepada orang tua terutama kepada
ayah saya. Karena ayah saya itu punya
cita-cita. Beliau ingin itu dalam seumur
hidupnya itu bisa berangkat umrah
minimal 50 kali. Ya, sebenarnya jemah
kami cukup beragam ya. Ada yang sudah
istilahnya gelas menengah ke atas, yang
menengah ke bawah juga gitu. Cuman kan
dengan berjalannya waktu ada beberapa
jemaah kami itu yang membuat kami tidak
bisa menjadikan usaha ini hanya sebagai
bentuk pengabdian kepada ayah. Tapi kami
juga harus menjadikan ini sebagai
pengabdian kami kepada jemaah. Kayak
gitu. Ada jemaah kami itu yang cukup
membekasi saya itu ya ada tiga. Yang
pertama itu tukang tambal banas. Beliau
enggak cerita nabung berapa lama, tapi
beliau sudah tua. Pada saat berangkat
umrah bersama kami itu usianya sudah
60-an. Itu sebelum pandemi, Mas. Yang
kedua itu pedagang es wawan. Es yang
panjang itu, Mas yang di dalam sterofor
itu ada mat kami. Terus yang ketiga itu
adalah orang Tulung Agung. Ini penjahit
sol sepatu. Penjahit sol sepatu ini dia
itu enggak cerita berapa lamanya dia
menabung. Cuman beliau cerita metodenya
gitu. Dia setiap hari pokoknya ada uang
Rp20.000 dimasukkan tabungan. Setiap ada
dia nemu uang Rp20.000 dimasukkan
tabungan. Begitu terus. Orang-orang
seperti itu kan kesempatannya untuk
umrah kan bisa dibilang sekali seumur
hidup, Mas. Itu yang akhirnya merubah
mindset kami bahwa kami enggak bisa
kalau hanya menganggap ini sebagai
bisnis. Ya sudahlah pokoknya orang tua
bisa berangkat. enggak bisa seperti itu,
gitu. Tapi bagaimana kami bisa
memaksimalkan pelayanan kami kepada
jemaah-jamaah kami kayak gitu agar
mereka bisa beribadah dengan aman,
nyaman, dan itu bisa menjadi kesan buat
mereka. Kami merasa bahwa di travel
umrah itu tanggung jawabnya besar, Mas.
Karena ini berbeda dengan bisnis yang
lain. Enggak bisa dilihat dari nominal,
Mas, ya. Kayak misal gini, saya beli
mobil harga Rp200 juta. Ketika sudah
saya sudah beli enggak cocok, it's ok,
enggak ada masalah gitu. Saya bisa jual
lagi, ganti baru. Tapi kalau umrah kan
enggak kayak gitu, Mas. Umrah itu kan
buat sebagian orang perjalanan sekali
seumur hidup. Iya kan? Karena ini
merupakan perjalanan sekali seumur hidup
makanya dari kami ingin memberikan yang
semaksimal mungkin kepada jemaah. Agar
apa? Agar jemaah yang sudah memilih
kami, yang sudah mempercayakan ibadah
umurnya di kami itu enggak kecewa.
[Musik]
Kuliah saya kan S1 ekonomi Islam, S2
juga sama ekonomi Islam. Dan di ekonomi
Islam itu juga salah satu poin yang
dibahas itu adalah bertransaksi kan
bermuamalah kayak gitu dengan akad-akad
yang sesuai dengan syariat. Nah, itu
yang kita gunakan dalam bisnis.
Kebetulan karena kami juga bergerak di
travel umrah gitu kan yang istilahnya
melayani umat untuk beribadah gitu kan.
Jadi kami juga dalam aktivitas
operasional itu memastikan bahwa jangan
sampai yang kami gunakan dalam aktivitas
operasional itu melanggar hukum syariat
gitu. baik itu operasional sehari-hari
maupun untuk transaksional. Kayak contoh
misal gini, Mas. Goror ya,
ketidakjelasan kayak gitu. Kalau di kami
kejelasan itu kami usahakan semaksimal
mungkin. Makanya kalau di kami itu kayak
misalnya tiket pesawat gitu ya, itu
sudah kami booking dulu sebelum kami
jual ke jemah atau ke calon jemah kayak
gitu ya. Karena ada juga beberapa oknum
ya baik itu travel ataupun secara
pribadi gitu. Mereka lebih memilih untuk
ya saya cari jemah dulu aja kayak gitu.
ketika jam sudah terkumpul beberapa baru
saya cari tiketnya sehingga kapan
berangkatnya segala macam itu masih
kondisional masih bisa berubah. Nah,
kami berusaha untuk menekan itu, Mas.
Artinya buat saya itu di umrah ini ya
totalitas tuh segalanya kalau buat saya.
Kalau sekarang mungkin alhamdulillah,
Mas ya tim sudah lumayan banyak gitu.
Kalau dulu, Mas waktu awal-awal itu saya
masih ingat setiap jemaah landing di
Saudi ya itu kan kalau di sini kan
berarti biasanya ya kisaran jam . jam .
lagi gitu. Saya pasti karena untuk apa?
Karena untuk ngecek untuk ngecek kondisi
jemah gimana. Sudah aman belum? Ada yang
sakit apa enggak ketika turun dari
pesawat itu? Karena kan di pesawat kan
lama kan, Mas. Saya menganggap bahwa apa
yang saya lakukan ini itu saya
menganggap ini sebagai bentuk ibadah
saya si harapan saya ketika nanti saya
meninggal apa yang saya lakukan itu
dicatat sebagai ibadah dalam melayani
tamu-tamu Allah. Semua berawal dari
hobi, Mas. Saya terutama kakak saya itu
hobi jalan-jalan tapi yang murah
backpackeran lah kesarnya gitu. Jadi
kami kalau ke Malaysia, Singapura, ke
Cina kayak gitu itu cuman bawa tas
ransel terus di sananya itu sewa
dormitory. Jadi yang satu kamar itu isi
berelapan campur-campur kayak gitu. Buat
apa biar banget kayak gitu ya karena
zaman segitu belum belum punya uang kan
gitu ya. Dari situ pada saat 2018 kami
mikir, Mas 2018 itu yang kami ketahui ya
tentang dunia umrah kebanyakan
didominasi oleh tokoh-tokoh agama, kiai
kayak gitu kan. Lah orang-orang yang di
usia kami pada saat itu agak terbatas
pilihannya gitu. Pesan saya pribadi
melihat revel umrah kok school ya gitu
loh gaya-gaya lama lah k orang-orang tua
segala macam gitu loh. Padahal kan
sebenarnya umrah ini bisa buat siapa
aja. Maksud siapa aja itu dalam rentang
usia ya. Anak muda pun kalau pengin
umrah kan bisa juga.
Betapa
setiap muslim yang 1 miliar lebih itu
pasti mendambahkan untuk datang ke tanah
suci. Pada siang hari ini insyaallah
Bapak Ibu sekalian akan memenuhi
panggilan itu. Karena itu Bapak Ibu
sekalian bersyukurlah kepada Allah.
Akhirnya kami menggabungkan itu. Kami
menggabungkan antara hobi kami suka
jalan-jalan dengan murah kayak gitu kan.
Terus yang kedua adalah pandangan kami
bahwa umrah ini bisa untuk siapa saja
kok, enggak hanya untuk orang tua aja
gitu. Lah itu kami gabungkan dalam
sebuah paket kami namakan waktu itu
adalah paket backpacker, Mas. Waktu itu
saya masih ingat kami jual paket umrah
itu kalau dulu masih ada Saudi ya, Mas
ya. Dari Surabaya sekarang sudah enggak
ada. Itu di harga Rp1 juta. Sudah all in
itu, Mas. Sementara beberapa travel yang
lain tuh ada yang masih belum termasuk
visa, belum termasuk perlengkapan. Kalau
kami sudah 18 juta itu, Mas. Itu sampai
kami kena tegur Kemenak gara-gara harga
jual kemurahan. Jadi ternyata Kemenak
itu punya batas bawah harga. Kami enggak
tahu peraturan itu. Akhirnya kami rubah.
Nah, mungkin dari situ Mas ya karena
harga yang terjangkau tapi dengan
fasilitas yang sudah all in lah itu
akhirnya menjangkau mereka. Strategi
yang kami gunakan adalah ya sosial media
Mas. Zaman segitu Mas 2018 sosial media
kan masih jarang. Kalaupun ada itu
mereka hanya menggunakan sosial media
sebagai wadah dokumentasi dan wadah
berjualan. Nah, kalau kami sampai saat
ini ya dari awal sampai saat ini itu
menggunakan media sosial itu ya
sebagaimana media sosial. Jadi kami
menggunakan media sosial kami itu bukan
untuk berjualan meskipun pada akhirnya
berjualan ya, tapi nomor satu adalah
untuk apa? bersosialisasi untuk
membangun kedekatan dengan orang-orang
itu sehingga mereka bisa nyaman untuk
berkomunikasi dengan kami. Karena kadang
itu kan manusia ada sifat takut gitu
loh. Belum apa-apa sudah takut. Saya mau
ini nih mau tanya-tanya soal mobil atau
apa gitu. Kadang-kadang sudah minder
duluan sebenarnya mampu gitu. Kami
mencoba untuk menghilangkan atau
memperkecil batasan-batasan itu. Makanya
kami juga menggunakan anak-anak muda di
sini. Di sini yang paling tua saya, Mas.
Yang lainnya di bawah saya.
Jadi gini, Mas. Kami ini membagi umrah
ini dalam dua fase, sebelum COVID dan
setelah COVID. Sebelum COVID, persepsi
umrah backpacker itu enggak kayak
sekarang. Kalau dulu itu umrah
backpacker itu jarang orang melihat,
jarang orang tahu tentang umur
backpacker gitu. Cuman kenapa kami
namakan umur backpacker itu? Karena ya
pertama kesannya biar murah. Yang kedua,
karena memang jemah itu kami berikan tas
ransel sebagai bagian dari perlengkapan.
Jadi tidak menghilangkan esensi
backpackernya. Terus experience, artinya
experience itu kalau mau dapat
penginapan yang murah. Kalau dulu saya
waktu suka jalan-jalan tuh yang pertama
itu kan yang satu kamar berbanyak, terus
yang kedua hotelnya jauh dari pusat
kota. Agak jauh lah kayak gitu dari
pusat kota. Nah, kondisi di Saudi itu
memang normalnya satu kamar berempat
kecuali ada beberapa hotel yang bisa
satu kamar berenam, berujuh gitu. Jadi
itu sudah oke. Tinggal ya kami cari
penginapan yang agak jauh dari Masjidil
Haram agar apa? Kosnya bisa ditekan. Dan
balik lagi Mas ya. Kalau dulu karena isu
tentang umur backpeker itu belum
selihar, sekarang edukasi kami tidak
terlalu ini, Mas. Kasarnya menghabiskan
tenaga. Jadi kadang orang cuman tanya,
"Mas, umur backbaker ini apa sih?" Ya
gini-gini ya kita jelaskan. Umar bakar
tuh gini loh, Bu. Sebenarnya ini sama
aja kok kayak travel biasanya kayak
gitu. Hanya saja untuk menekan biaya dan
untuk memberikan experience yang baru
gitu kan, pengalaman yang baru. Jamah
kita belikan taser, belikan tasel terus
hotelnya agak jauh kayak gitu. Kalau
sekarang naik bis gitu. Nah, kan
experience baru kan kayak gitu loh. Jadi
enggak cuman jalan kaki tapi juga naik
bis sehingga bisa tahu di luar Masjidil
Haram tuh ada apa aja sih sebenarnya.
Lah sekarang Mas setelah COVID, setelah
sosial media itu merebak gitu, wah itu
kita ekstra ini menjelaskan PPK itu
seperti apa. Ekstra banget kayak gitu.
Karena banyak banget yang mengira bahwa
ini adalah umrah mandiri, tidak dinaungi
segala macam gitu. Makanya kami selalu
mencantumkan bahwa kami ini full
service, all in, dan sudah berizin resmi
ke manaat. Bahkan bisa dicek gitu kan
ada web-nya kan itu di Kemenak itu bisa
dicek nama kami sudah masuk di situ
gitu. Aku dulu awalnya enggak dipercaya.
Orang sudah dis ke sini, sudah ke kantor
nih, sudah tanya-tanya terus enggak
jadi. Ketika ditanya, kebetulan dia itu
saudara temanku. Direkom sama temanku
padahal. Terus pulang enggak jadi kan
temanku tanya ke saudara, "Kenapa enggak
jadi, Mas?" Yo iku niat gak moso umro
sik arek cilik-cilik sik arek enom-enom
k temenan gak iku ya enggak percaya mas
gitu karena dia datang ke kantor yang
nerima anak-anak muda iki temenan tah
iki gak nibu tah iki kayak gitu tapi
ternyata pada saat dia berangkat sudah
sampai Madinah terus janjian karena ada
saudaranya yang kerja di Madinah Mas lah
ternyata saudara yang kerja di Madinah
itu adalah tim kami. Jadi kami kan punya
tim juga tim di Madinah di Mekah itu kan
ada, Mas. Jadi dia itu yang enggak jadi
dengan enggak percaya itu justru
dimarahin dimarahin sama saudaranya
kerja di Madinah itu sama tim kami. Loh
lapo kok enggak percoyo aku loh kerja
nang kuno ya
gitu kan. Tapi akhirnya itu membuat kami
ini sadar sih bahwa di umrah itu memang
teras nomor satu gitu. Itu yang selalu
kami jaga gitu dan itu yang selalu kami
bangun di sosial media kami. Ashadu
allaahaillallah.
Tantangannya lumayan, Mas. Karena kami
ini berjalan hampir 7 tahun dengan brand
yang lama. Cuman ada satu hal sih yang
membuat pada akhirnya orang itu jemaah
ya, terutama itu tetap ke kami itu
adalah kami hanya berubah nama tapi
identitas yang lain kami tidak berubah.
Termasuk cara kami melayani jemah, cara
kami men-deliver konten di sosial media
itu enggak ada yang berubah. itu
akhirnya membuat orang bisa menerima
meskipun Mas ya pada akhirnya ada yang
dalam tunggip kegocek juga kegocek dalam
artian karena dikiranya kami sama ya kan
sama dengan yang sebelumnya gitu
sehingga dia daftar di yang sebelumnya
tapi yang cabang lain bukan di cabang
kami karena dikira sama kan padahal
berbeda sebenarnya kayak gitu sehingga
akhirnya mereka kaget loh kok sekarang
sudah ganti nama berarti beda ya dengan
yang dulu ya sudah beda kak gitu sudah
beda ya saya sudah terlanjur daftar ya
sudah enggak apa-apa apa kayaknya gimana
lagi kan gitu kan ya tantangannya di
situ sih sampai saat ini pun masih belum
ada yang sadar bahwa kami sudah berubah
ya memang kami berusaha untuk membuat
perubahan itu tidak terlalu terasa sih
sebenarnya biar orang juga tidak semakin
ragu gitu loh kurang lebihnya Mas ya ada
8.000 R000 mungkin ya. Jemah.
Iya. Karena rata-rata kami per tahun itu
2.200
gitu kan jemaah. Heeh. Rata-rata per
tahunnya ya kan kalau musim umrah itu
normalnya 10 bulan Mas ya. Ya dalam 1
bulan tuh bisa empat bisa tiga kali
keberangkatan kayak gitu. Jadi rata-rata
per bulannya itu kami berangkatkan
sekitar 200 sampai 210 jemah. Menurut
saya itu perilaku konsumen di Indonesia
itu biasanya enggak terlalu suka. Kalau
belum apa-apa langsung dijualin.
Contohnya ini nih based on pengalaman
pribadi ya, experience itu masih
tanya-tanya nih sebenarnya atau masih
cari-cari gitu. Terus saya masuk ke
sebuah outlet baju gitu ya. Terus saya
tuh dibuntutin langsung dibuntutin gitu
mau cari apakah gitu. Saya kurang nyaman
saya gitu. Jadi mending saya cari-cari
dulu, lihat-lihat barangnya. Ketika
misalnya ada yang saya penasaran saya
baru tanya itu. Saya lebih lebih suka
kalau saya seperti itu kayak gitu.
Makanya itu yang saya aplikasikan ke
teman-teman. Makanya kami itu
menyebutnya itu bukan sales tapi
konsultan. Jadi kalau di kami itu di
Instagram itu ya itu kan ada satu sosok
virtual ya, sosok virtual itu namanya
Minleh. Itu singkatannya admin yang
insyaallah saleh. Karena tadi Mas,
karena kami ingin membangun komunikasi.
Naman komunikasi ini harus juara Mas.
Nah, kami harus membangun satu sosok nih
untuk dijadikan sebagai objek
berkomunikasi kepada jemaah gitu
daripada cuman admin, admin, admin kayak
gitu kan kurang keren lah kayak gitu.
Kami menggunakan sosok Minleh itu tadi
yang sampai sekarang dikenal.
Pertama soal resiko ya. Ini sekali lagi
perspektif pribadi Mas ya. Kalau di kami
sih sebenarnya yang pertama itu adalah
keuangan Mas. Karena gini umrah ini
resikonya tinggi sekali sangat tinggi
kayak itu. Itu yang pertama. Yang kedua,
uang itu kan diterima di depan, Mas.
bukan yang kayak saya bayar saya
langsung dapat barang kan enggak.
Sampean daftar bayar sekian juta terus
baru berangkatnya kan bisa jadi
tergantung pilihan jenengan kan 3 bulan
lagi atau 4 bulan lagi kayak gitu. Maka
di kami itu adalah keuangan menjadi
nomor satu gitu loh. Makanya kami ini
punya konsultan keuangan juga. Kami
menggandeng agar jangan sampai bisnis
ini menjadi tidak aman. Ada beberapa
teman travel yang kami kenal itu secara
keuangan itu masih belum profesional.
Pertama, antara uang perusahaan dengan
uang pribadi jadi satu lah. Itu yang
membuat resiko umrah itu menjadi tinggi.
Kalau di kami, kami enggak boleh seperti
itu. Makanya kami mengganding konsultan
konsultan keuangan sehingga benar-benar
bahwa ini adalah uang bisnis. uang
bisnis enggak boleh diapa-apain. Itu
salah satu cara kami ya untuk
meminimalisir resiko karena resiko tidak
bisa dihilangkan kan Mas. Yang kedua itu
dari sisi operasional sih. Operasional
tuh kami harus membudget semuanya. Kami
menargetkan bahwa profit margin harus
sekian. Terus beban beban operasional
harus sekian. Untuk itu tadi, Mas,
meminimalisir resiko yang ada. Karena
kita enggak pernah tahu, Mas, resiko itu
datangnya kapan. pernah kayak gini
jemaah itu harusnya pulang besok nih.
Ternyata itu ada pemberitahu dari Mas
Kapai Flag-nya dichedule ke besoknya
lagi. Jadi jemah harus extend jemah di
sana Mas. Kan enggak mungkin jemah kamu
minta nambah Mas. Akya kami yang harus
menanggulangi itu. Hal-hal seperti itu
kan sudah kami perkirakan sebelumnya.
Jadi memang based on experience itu juga
penting kayak gitu sehingga kami bisa
meminimalisir resiko itu. Ling by the
way beneran Mas by experience.
Oh, ternyata ada kejadian kayak gini ya.
Oke, oke, oke. Berarti apa yang harus
kita lakukan nih next-nya buat biar
enggak kejadian seperti itu.
Tapi gini, Mas. Di perusahaan kami itu
adalah learning. Salah satu cost
terbesar kami adalah di SDM dan di SDM
pun itu cost terbesarnya adalah training
setiap posisi. Tapi terutama yang paling
banyak ya komersial. komersial itu
menyangkut marketing and sales. Makanya
ada teman-teman dulu itu kan sering
sharing ya, "Mas, habis berapa untuk
membentuk team marketing yang sekarang
gitu ya? Kalau buat beli Innova Zenic
bisalah gitu. Saya pun masih belajar,
Mas karena menganggap DNK Medaeda
Learning ya, maka belajar itu menjadi
sebuah keharusan gitu. Sebenarnya kalau
usaha kami ini ada beberapa Mas karena
kami ini sebenarnya holding. Cuman
memang motor utamanya motor terbesnya
dari umrah ini. Kami itu penginnya ya
penginnya idealismenya kami itu kan
orang itu mau memberi brand kami, mau
memberi produk kami baik jasa atau
produk itu bukan karena kamu siapa,
siapa pemiliknya tapi karena yang memang
saya sepakat dengan value dari produk
itu, dengan value dari brand itu. Karena
menurut saya itu akan lebih long
daripada menjual sosok ya dalam tatkip
itu. Karena kalau menjual sosok Mas ini
sekali lagi pandangan pribadi saya ya
gitu loh. Itu kan kita manusia Mas ya.
Enggak lepas dari kesalahan. Saya
takutnya karena kesalahan saya pribadi
misal kayak gitu kan akhirnya membuat
naudubillah bisnis ini jadi berantakan
gitu kan. Merembet kepada orang-orang
yang menggantungkan hidupnya di kami itu
menjadi berantakan juga hidupnya. Itu
yang kami jauhi Mas. Gimanap pun juga
namanya manusia, Mas, enggak lepas dari
kesalahan, enggak lepas dari dosa. Cuman
ya saat ini ditutupi aja oleh Allah kan
kayak gitu ya. Kan kita enggak tahu ya
siapa tahu Allah ngasih ujian terus
dibuka gitu. Wah bahaya kan.
[Musik]
Sebenarnya tuh saya sama kakak saya itu
enggak dibolehin bisnis, Mas. Penginnya
itu jadi dosen, jadi pengajar, pendidik.
Makanya harusnya seduka di keluarga
besar kami baik itu dari ayah maupun ibu
ibu saya enggak ada yang bisnis. Jadi
kami generasi pertama yang masuk bisnis.
Jadi ibaratnya kalau diomong ini
perintis benar-benar perintis. Pernah
juga dapat pertanyaan ketika saya ngisi
acara di kampus ada seorang mahasiswa
itu tanya dia tuh enggak boleh bisnis
sama orang tuanya. Ya bisnis kan resiko
tinggi toh Mas. Mending jadi PNS. Tapi
bagaimana cara dia bisa meyakinkan orang
tuanya agar dia perbolehkan bisnis gitu.
Ini dulu saya dan kakak saya pakai. Saya
minta waktu ke orang tua saya. beri kami
waktu 6 bulan untuk membuktikan kami
bisa berbisnis apa enggak. Akhirnya
dalam 6 bulan itu ya kami bisa
membuktikan. Nah, semenjak itu
alhamdulillah orang tua mendukung dan
pesan orang tua itu adalah sebarkan
manfaat itu seluas-luasnya. Makanya
istilahnya selama kami masih bisa
memberikan manfaat meskipun rugi gitu
ya, tapi selama cash flow masih aman,
masih lancar, sudah jalan dulu aja kayak
gitu. Yang penting kita bisa memberikan
manfaat ke orang lain. Itu
tadihaillallah.
Saya itu kan baru masuk umrah itu kan
2018 ya. Nah, sebelumnya itu kan saya
berkecimpung di dunia konstruksi. Saya
enggak beda, enggak ada basic konstruksi
kan, Mas. Saya kan lulusan ekonomi Islam
kan gitu. Tapi di konstruksi yang
hubungnya sama sipil kayak gitu. Ada
satu momen Mas yang cukup membuat saya
punya pandangan juga ya, bahwa saya
harus bermanfaat ke sebanyaknya
banyak-banyaknya orang itu ya. Itu gini,
kalau di tukang desa waktu itu Mas ya,
itu gajiannya kan tiap hari Sabtu itu
kan kita kasih cash kayak gitu kan. Hari
Sabtu lah setiap hari Sabtu kami kajian.
Ada satu momen, Mas. Salah satu tukang
bapak-bapak senior itu waktu saya ee
ngasih gaji itu beliau ngomong ke saya
gini, "Mas, alhamdulillah, Mas, berkat
sampean gaji saya rutin enggak apa,
enggak molor-molor gitu kan. Anak saya
kemarin bisa daftar sekolah. Apakah saya
akan dalam tanda kutip ya berkarir di
dunia usaha atau saya cari kerja?"
Dosenlah. Karena pada saat itu Mas jujur
ya saya dapat tawaran menjadi dosen
tetap. Semenjak itu oke saya tolak kayak
gitu. Ada satu momen juga ketika pada
saat saya diundang di kampus untuk ngisi
materi itu lah itu lucu Mas materinya
menurut saya membandingkan antara
menjadi pegawai atau menjadi pengusaha
gitu. Saya bilang ke teman-teman pada
saat itu di sesi itu saya bilang bahwa
mau menjadi pegawai, mau menjadi
pengusaha itu enggak ada yang lebih
baik. Yang terpenting adalah apa goals
kamu? Terus mana cara yang paling baik
untuk mencapai goals kamu. Gols hidup ya
kayak gitu. Apakah menjadi pengusaha
atau menjadi pegawai. Jadi enggak
penting kayak gitu loh. Itu kan hanya
ini sarana aja kan Mas? sarana dalam
mencapai tujuan kan gitu. Jujur
alhamdulillah dari travel umrah ini tim
saya cuma 16%. Tapi dari sini saya bisa
membangun unit usaha yang lain yang
sekarang kalau di tootal itu ada sekitar
80 orang. Jadi 16 di sini di travel
sisanya yang 60-an itu di unit saya yang
lain. Tapi berawal dari sini ya daripada
untuk kami pribadi Mas sebenarnya kami
menikmati kan juga bisa g saya pensiun
dinilai itu kan juga bisa gitu.
[Musik]
Kami waktu itu 2018 itu masih full 100%
sosial media. Saya juga heran kok beliau
bisa menjangkau. Termasuk yang terakhir
ini kan di Tulungagung itu kan yang soal
sepatu itu. Saya juga heran kok bisa ya
menjangkau gitu waktu itu. Tapi saya
enggak bertanya sih. Saya enggak tanya
tahu kami dari mana segala macam. kami
enggak bertanya itu. Cuman yang kami
lakukan adalah kami 100% full sosial
media. Tapi kami enggak tahu ya kalau
misal ada alumni kami yang
mereferensikan itu kan enggak tahu juga
ya. Karena pada saat itu sebelum pandemi
itu kami tidak menggencarkanlah alumni
jemah kami gitu untuk membantu mbasikan
kami itu enggak kami gencarkan. Baru
kami gencarkan tuh akhir-akhir ini dan
alhamdulillah cukup efektif Mas. Kalau
dulu sebelum pandem itu 100% dari sosial
media, sekarang tuh bertahap dari sosial
media itu sekitar 70 sampai 75%. Sisanya
dari referal, Mas. Jadi referal awalnya
nol, alhamdulillah sekarang bisa sampai
25 sampai 30%. Satu hal sih, Mas, yang
membuat saya bersyukur artinya pelayanan
kami cukup memuaskan buat jemaah
sehingga akhirnya mereka mau
mereferalkan kami.
Di antara sekian banyak jemaah kami ya,
pembagiannya itu kan saya bisa bilang
mayoritas tuh menengah, jarang yang
menengah ke atas gitu. Apalagi dengan
branding umur backpacker kan. Makanya
kami mempunyai branding baru Zafir ini.
Nama Zafir itu kan diambil dari salah
satu batu yang berharga kan, Mas? Kayak
gitu lah. Itu harapannya adalah bisa
mentarget untuk market yang menengah
atas kayak gitu. Kembali lagi karena
mayoritas jemaah kami adalah menengah
sehingga yang mereka itu ibadah umrah
adalah sekali seumur hidup ya itu
makanya kecil gitu ya. Paling ada 10%
enggak sampaah setahun ya. Tapi ya he
setahun ya kayak gitu. Karena rata-rata
biasanya orang umrah itu setahun sekali.
Jadi repeat ordinnya misal saya
berangkat tahun ini, tahun depan lagi
saya berangkat kayak gitu. Kalau di
tootal sih 10% ada, tapi kalau hitungan
dalam 1 tahun 10% sih ee enggak sampai
kayaknya. Cuman ada yang sampai
memberangkatkan
ilan orang keluarganya sampai sekarang.
Jadi kayak awalnya dia berangkat guru
ngajinya, terus udah pulang berangkatin
siapa lagi? gurunya pulang berangkatin
siapa lagi? Jadi continue terus setiap 3
bulan sekali berangkatin jemaahnya
umrah. Dan kami biasanya gini, bentuk
men-support jemah itu ketika misal gini
dia memberangkatin tahfiz, kami berikan
potongan gitu. Itu sebagai bentuk
sedekah kami juga. Ada yang berangkatin
guru ngaji misal guru ngajinya dia kami
berikan potongan juga gitu disconnect.
Dan kami juga ada program sebenarnya
dalam setahun sekali itu kami
memberangkatkan marput masjid
orang-orang yang tidak mampu di sekitar
kami kayak gitu. Itu kami berangkatan
umrah gratis.
Sahabat Safir
berkah
umrah backpacker
mantap.
Dadah.
Momen paling berat ya. Satu momen Mas
Covid Mas. Jadi bisa dibayangin Mas ya.
Saya itu menikah itu tahun 2020 tanggal
1 Maret. Umrah ditutup itu jadi seminggu
atau 2 minggu sebelum saya nikah. Jadi
setelah saya nikah yang harusnya saya
kepala keluarga gitu kan, tapi malah
usaha utama saya ditutup. Itu paling
berat sih, Mas. Karena saya merasa bahwa
saya tidak bisa menjalankan kewajiban
saya secara maksimal sampai sekarang itu
akhirnya menjadikan itu sebagai
pelajaran terbesar. Banyak pelajarannya
ternyata ya kan kita enggak bisa
menyalahkan keadaan Mas ya. Yang bisa
kita salahkan kan diri kita sendiri gitu
loh. Kenapa kita enggak menyiapkan
ketika ada hal-hal seperti itu gitu ya.
Akhirnya dari situ kita belajar banyak
lah, Mas. kita menyiapkan banyak hal
sehingga naudubillah kalau sampai itu
kejadian kita sudah siap. Cuman memang
pada saat itu Mas tim kami di umrah
enggak ada yang kami pecat meskipun
enggak jalan 100% gaji terus meskipun
penyesuaian kami sesuaikan uangnya dari
unit usaha yang lain. Untungnya adalah
sebelum pandemi itu kami punya unit
bisnis yang lain yang sudah berjalan.
Wtu meninggal pada saat COVID itu. Jadi
pada saat COVID itu saya kena dua
hantaman ya. Pertama dari sisi finansial
karena pendapatan utama Mandek. Yang
kedua adalah dari sisi psikologis gitu
karena mertua enggak ada gitu. Istri
saya tuh orang yang sangat dekat dengan
ayahnya. Pada saat itu istri dalam
kondisi hamil juga dan saya enggak di
sini. Saya lagi di luar kota. Ya karena
pandemi itu, Mas ya enggak ada
pendapatan kan. Jadi saya coba untuk
melihat peluang-peluang yang lain gitu
meng luar kota gitu kan. Ya itu itu yang
membuat saya sangat terpukul ya. Jadi
pandemi itu dua momen sekaligus dan
meninggalnya pun karena COVID juga dalam
satu tahun yang sama.
Agak tricky, Mas. Ya, sebenarnya jujur
agak tricky memang karena kesannya kayak
jualan agama gitu ya. Tapi gini, Mas.
Yang penting adalah niat dulu. Kalau
dari saya niatnya adalah membantu
jemaah, membantu umat muslim yang
beribadah umrah. Itu adalah nomor satu
gitu loh. Kedua, baru kita memikirkan
sisi bisnisnya. Saya enggak munafik sih,
Mas. Enggak mungkin kita menghilangkan
sisi itu. Kembali lagi, Mas. dalam umrah
itu kan juga ada resiko kan lah. Salah
satu cara kita meminimalisir resiko itu
adalah kan poin nomor dua ya dari sisi
bisnisnya itu ya. Nah, tapi kan nomor
satu ini membantu nih membantu itu
bagaimana caranya kami itu adalah kami
punya idealisme itu enggak boleh ambil
margin terlalu banyak secukupnya aja
sudah. Malah kami yang tahun ini, Mas
itu ada 23,9 juta. Yang penting cukup
cukup untuk kami hidup. cukup untuk
ketika ada resiko-resiko itu tadi. Dari
kami pribadi kan juga enggak yang
mencari kesejahteraan pribadi lah. Itu
bukan tujuan kamiah. Motif kami adalah
memberi kebermanfaatan seluas-luasnya
gitu. Salah satu yang diajarkan oleh
saya Mas ya. Satu doa yang harus kamu
sematkan dalam kehidupan sehari-hari
adalah minta ke Allah agar jangan cabut
nyawamu sebelum kamu bisa bangun 1000
masjid dan lima sekolah gratis. Nah, itu
yang jadi motivasi kami yang pertama dan
kedua ya membentengi kamiah agar tetap
itu tadi istikamah siratal mustaqim
[Musik]
saya kalau ke beberapa teman saya ya
saya ngomongnya gini kalau sudah ada
niatan untuk umrah segera daftar karena
godaan setan itu banyak Mas Godaan setan
kepada orang yang ibadah atau orang yang
mau beribadah itu kan banyak, Mas.
Insyaallah kalau secara finansial belum
mampu pasti akan ada jalan kok. Minimal
nabung. Karena sekarang beberapa travel
enggak cuman kami aja sih sebenarnya itu
sudah ada program tabungan kok tabungan
umrah kayak gitu. Dan itu biasanya kalau
di bank-bank ataupun di travel-travel
itu enggak boleh diambil sampai sudah
jumlah tabungannya memenuhi untuk bisa
daftar umrah. Saran saya itu langsung
daftar aja. Itu yang pertama. Yang
kedua, umrah itu sepengalaman saya ya
semakin tahun semakin mahal. Jadi
semakin menunda semakin besar biaya
untuk umrah itu.
What's next Mas ya? Karena PT Zafir ini
kan izinnya baru terbit tahun ini, bulan
Juni kemarin. Kami ingin bermanfaat
lebih luas lagi yaitu haji. Cuman
persyaratannya itu kan harus
memberangkatkan minimal 1000 jamaah
umrah atau sudah berjalan 2 tahun kalau
enggak salah. Selain umrah sekarang coba
haji. Coba tantangan baru Mas. Meskipun
kami belum ada yang haji ya. Tim-tim
belum ada yang ngaji. Lebih kompleks
pasti, Mas. Tapi itu menjadi ini sih
menjadi tantangan yang harus kami
hadapi, Mas. Karena memang di umrah dan
haji itu kan masuk kategori high
involvement industry gitu. Artinya kan
untuk seseorang mau membeli jasa itu,
produk itu, itu kan discovery-nya
panjang, perjalanannya panjang. Enggak
kayak kalau saya beli air mineral ya.
Kalau enggak ada brand A ya sudah brand
B. Tapi kalau kayak umrah kan enggak
bisa kayak gitu, Mas. Jadi mereka pasti
akan membandingkan segala macam. Itu
menjadi tantangan kami sih dalam rangka
untuk menjaga standarisasi pelayanan
kami. Kami scoring. Jadi jemaah yang
pulang tuh selalu kami telepon yang
berkenan kami telepon kami telepon untuk
kami tanyain pelayanan kami segala
macam. Dan menelepon itu meskipun tim
kami tapi itu kayak tim ad hoc kayak
gitu loh. Bukan termasuk tim
operasional, bukan termasuk tim
marketing. Dia berdiri sendiri biar apa?
Biar objektif. Jadi dia mewawancarai
jemaah gitu kan. Apa yang buat mereka
berkesan? apa yang menjadi komplain
mereka kalau ada komplain atau membuat
mereka tidak puas apa itu selalu kami
tanyakan dan pasti apa yang membuat
mereka akhirnya mau mendaftar di kami
adalah dari sisi pelayanan kami baik itu
di WA, di Instagram maupun ketika di
customer service respon segala macam
kayak gitu. Saya bersyukur banget punya
tim-tim yang bekerja dengan kami itu
punya visi yang sama bahwa mereka itu
dalam membantu jemaah itu totalitas.
Pernah itu ada yang closing, Mas, itu
jam . pagi dan saya herannya tim saya
kok masih bangun ngapain dan itu zaman
Kalimantan orang Kalimantan gitu beliau
itu kami tanyain kenapa Mas kok akhirnya
memilih kami dan kenapa harus jam .
Kayak gitu loh harus jam .00 gitu jam .
Soalnya waktu itu gini, Mas. Saya sudah
ada niatan umrah, sudah tanya-tanya
beberapa travel gitu kan. Terus dia
habis salat kalau enggak salah, terus
ada niatan oke saya daftar. Dia ngejat
ke beberapa travel di jam yang sama yang
memberikan respon ternyata kami daftar
di kami seluruh Indonesia karena kami
ada dua keberangkatan kan Mas dari
Surabaya dan Jakarta. Meskipun dari
total keberangkatan itu Jakarta 10%
mayoritas dari Surabaya. Jadi kami ada
Mas juga jemaah dari Papua itu ada dari
Bali, dari Mataram, Sulawesi itu ada
Kalimantan ada. Cuman kalau dari luar
pulau paling banyak Kalimantan. Padahal
kami enggak punya kantor di situ, enggak
punya agen di situ. Jadi semua B online,
Mas. Apa-apa dikirim, apa-apa dikirim.
Udah itu aja. Pendampingan pun via
online gitu. Misal kayak sekarang kan
butuh vaksin ya. Vaksin kami carikan.
Ibu rumahnya di mana? Oh, di sini. Kami
carikan klinik dekat situ tuh di mana
yang bisa menerima vaksin. Sampai
seperti itu sih, Mas.
[Musik]
satu value yang saya yakini ya dan value
itu juga yang saya tanamkan ke
teman-teman dan itu juga menjadi value
dari usaha kami gitu kan. Saya pernah
dapat materi itu gini, value terbaik
dari sebuah perusahaan itu adalah ketika
value owner yang diimplementasikan. Jadi
enggak usah mikir ke mana-mana udah
value ownernya apa? Itu aja jadikan
value perusahaan. Itu kan value yang
terbaik. Untuk value saya sendiri itu
adalah gini. Sebaik-baik manusia adalah
manusia bermanfaat untuk orang lain. Itu
yang selalu saya pegang kayak gitu.
Makanya dalam setiap bahasa gampangnya
langkah kaki kami gitu kan, kami akan
melihat bagaimana dampaknya ini ke orang
lain itu, Mas. Oke. Saya Ziaudin,
founder dari umrahpekpr.id by Zafir Tour
and Travel yang beralamat di Sidoarjo,
Jawa Timur. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh.
aman itu
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:11 UTC
Categories
Manage