Strategi Mengelola Bisnis Syariah: Margin Rendah, Tapi Tetap Bertumbuh Konsisten!
mfHLaF_qW4U • 2025-07-18
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Allahu Akbar. Allahu Akbar. [Musik] Salah satu poin yang dibahas itu adalah bertransaksi kan bermuamalah kayak gitu dengan akad-akad yang sesuai dengan syariat. Nah, itu yang kita gunakan dalam bisnis. Sebenarnya itu saya sama kakak saya itu enggak dibolehin bisnis, Mas. Penginnya itu jadi dosen, makanya harus S2. Di keluarga besar kami, baik itu dari ayah maupun ibu, ibu saya enggak ada yang ma bisnis. Jadi, kami generasi pertama yang masuk bisnis. Ya, bisnis kan resiko tinggi toh, Mas. Mending jadi PNS. [Musik] DN perusahaan kami itu adalah learning. Salah satu cost terbesar kami adalah di SDM. Dan di SDM pun itu koster besarnya adalah training. Karena teman-teman dulu itu kan sering sharing ya, "Mas, habis berapa untuk membentuk marketing yang sekarang?" G ya, kalau buat beli Innova Zenic bisa gitu. [Musik] Kami punya idealisme itu enggak boleh ambil margin terlalu banyak. Secukupnya aja udah. Yang penting cukup. Cukup untuk kami hidup. Cukup untuk ketika ada resiko-resiko itu tadi dari kami pribadi kan juga enggak yang mencari kesejahteraan pribadi lah. itu bukan tujuan kamiah. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Zaiaudin Sardar. Saat ini saya sedang diamanahi sebagai direktur dari PT Zafir Berkah Indonesia dan sekaligus saya merupakan owner dari Zafir Berkah Indonesia sendiri. Kalau kami sendiri bergeraknya di bidang trend travel utamanya umrah, Mas. Kami berlokasi di Delta Sari Indah, Sidoarjo. Saya saat ini usia 32 tahun. Kalau travel ini sendiri itu udah mulai dari tahun 2016, Mas. Tapi pada saat itu bukan saya yang megang. Itu masih ayah kayak gitu. Kebetulan ayah saya sebagai PNS. Beliau adalah dosen di salah satu universitas di Surabaya. Pada saat itu beliau berkesempatan untuk menjadi ketua kloter dari rombongan haji gitu kan. Nah, sepulang dari itu beliau membuat bisnis travel umrah bersama temannya gitu. Cuman berjalan kurang lebih setahun terus berpisah. Beliau membuat sendiri bersama dengan saya dan kakak saya dan teman dari kakak saya 2017 berarti ya masih kerja sama kayak gitu. Terus berjalan setahun kerja samamanya enggak lanjut lagi. Terus akhirnya 2018 itu kami menjadi cabang cabang dari salah satu travel di Lamongan. Nah, dari 2018 itu akhirnya itu mulai serius dalam menjalankan usaha travel ini. Karena sebelumnya itu murni cuman ayah saya sebenarnya yang bergerak ya. Saya, kakak saya dan teman kakak saya ini hanya kasarannya titip nama lah. Karena kami bergerak di usaha yang lain, Mas. sehingga kita belum fokus di travel umrah. Kami baru fokus travel umrah 2018 itu kuliah 2011, saya lulus 2015 waktu itu. Terus ayah saya minta anak-anaknya harus S2 minimal tapi enggak mau modalin. Ayah saya enggak mau modalin. Nah, ya sudah saya cari side job lah. Saya sudah mulai kerja istilahnya, Mas, ya. Itu dari 2014 kalau enggak salah. Jadi waktu saya masih kuliah tuh saya freelance, Mas. Freelance ikut wedding organizer kayak gitu-gituah. Dari situ saya dapat uang ngumpulin buat bayar S2. 2015 ketika saya lulus saya langsung masuk ke unit usaha yang milik kakak saya yang bergerak di bidang konstruksi. Jadi saya bantuin di situ dari 2015. Islam itu mudah, tapi kita tidak boleh karena itu mudah kita ya wislah enggak pooh enggak apao gitu. Saya lahir dari keluarga pendidik ya. Ayah saya itu aslinya Bima Nusa Tenggara Barat. Beliau untuk kuliah merantau ke Surabaya dulu itu naik kapal masih dari kayu gitu. Jadi perjalanan dari Bima ke sini itu seminggu atau 5 hari kayak gitu. Perjuangannya sebegitu sampai akhirnya sampai sekarang bisa menjadi dosen segala macam lah. Intinya adalah ayah saya ingin mendidik anak-anaknya itu raihlah pendidikan setinggi-tingginya tapi dengan effortmu sendiri. Kami itu di keluarga itu ditanamkan oleh ayah itu bahwa berbakti kepada orang tua itu nomor satu. Makanya travel umrah ini itu sebenarnya adalah bentuk bakti kami saya dan kakak saya ya itu kepada orang tua terutama kepada ayah saya. Karena ayah saya itu punya cita-cita. Beliau ingin itu dalam seumur hidupnya itu bisa berangkat umrah minimal 50 kali. Ya, sebenarnya jemah kami cukup beragam ya. Ada yang sudah istilahnya gelas menengah ke atas, yang menengah ke bawah juga gitu. Cuman kan dengan berjalannya waktu ada beberapa jemaah kami itu yang membuat kami tidak bisa menjadikan usaha ini hanya sebagai bentuk pengabdian kepada ayah. Tapi kami juga harus menjadikan ini sebagai pengabdian kami kepada jemaah. Kayak gitu. Ada jemaah kami itu yang cukup membekasi saya itu ya ada tiga. Yang pertama itu tukang tambal banas. Beliau enggak cerita nabung berapa lama, tapi beliau sudah tua. Pada saat berangkat umrah bersama kami itu usianya sudah 60-an. Itu sebelum pandemi, Mas. Yang kedua itu pedagang es wawan. Es yang panjang itu, Mas yang di dalam sterofor itu ada mat kami. Terus yang ketiga itu adalah orang Tulung Agung. Ini penjahit sol sepatu. Penjahit sol sepatu ini dia itu enggak cerita berapa lamanya dia menabung. Cuman beliau cerita metodenya gitu. Dia setiap hari pokoknya ada uang Rp20.000 dimasukkan tabungan. Setiap ada dia nemu uang Rp20.000 dimasukkan tabungan. Begitu terus. Orang-orang seperti itu kan kesempatannya untuk umrah kan bisa dibilang sekali seumur hidup, Mas. Itu yang akhirnya merubah mindset kami bahwa kami enggak bisa kalau hanya menganggap ini sebagai bisnis. Ya sudahlah pokoknya orang tua bisa berangkat. enggak bisa seperti itu, gitu. Tapi bagaimana kami bisa memaksimalkan pelayanan kami kepada jemaah-jamaah kami kayak gitu agar mereka bisa beribadah dengan aman, nyaman, dan itu bisa menjadi kesan buat mereka. Kami merasa bahwa di travel umrah itu tanggung jawabnya besar, Mas. Karena ini berbeda dengan bisnis yang lain. Enggak bisa dilihat dari nominal, Mas, ya. Kayak misal gini, saya beli mobil harga Rp200 juta. Ketika sudah saya sudah beli enggak cocok, it's ok, enggak ada masalah gitu. Saya bisa jual lagi, ganti baru. Tapi kalau umrah kan enggak kayak gitu, Mas. Umrah itu kan buat sebagian orang perjalanan sekali seumur hidup. Iya kan? Karena ini merupakan perjalanan sekali seumur hidup makanya dari kami ingin memberikan yang semaksimal mungkin kepada jemaah. Agar apa? Agar jemaah yang sudah memilih kami, yang sudah mempercayakan ibadah umurnya di kami itu enggak kecewa. [Musik] Kuliah saya kan S1 ekonomi Islam, S2 juga sama ekonomi Islam. Dan di ekonomi Islam itu juga salah satu poin yang dibahas itu adalah bertransaksi kan bermuamalah kayak gitu dengan akad-akad yang sesuai dengan syariat. Nah, itu yang kita gunakan dalam bisnis. Kebetulan karena kami juga bergerak di travel umrah gitu kan yang istilahnya melayani umat untuk beribadah gitu kan. Jadi kami juga dalam aktivitas operasional itu memastikan bahwa jangan sampai yang kami gunakan dalam aktivitas operasional itu melanggar hukum syariat gitu. baik itu operasional sehari-hari maupun untuk transaksional. Kayak contoh misal gini, Mas. Goror ya, ketidakjelasan kayak gitu. Kalau di kami kejelasan itu kami usahakan semaksimal mungkin. Makanya kalau di kami itu kayak misalnya tiket pesawat gitu ya, itu sudah kami booking dulu sebelum kami jual ke jemah atau ke calon jemah kayak gitu ya. Karena ada juga beberapa oknum ya baik itu travel ataupun secara pribadi gitu. Mereka lebih memilih untuk ya saya cari jemah dulu aja kayak gitu. ketika jam sudah terkumpul beberapa baru saya cari tiketnya sehingga kapan berangkatnya segala macam itu masih kondisional masih bisa berubah. Nah, kami berusaha untuk menekan itu, Mas. Artinya buat saya itu di umrah ini ya totalitas tuh segalanya kalau buat saya. Kalau sekarang mungkin alhamdulillah, Mas ya tim sudah lumayan banyak gitu. Kalau dulu, Mas waktu awal-awal itu saya masih ingat setiap jemaah landing di Saudi ya itu kan kalau di sini kan berarti biasanya ya kisaran jam . jam . lagi gitu. Saya pasti karena untuk apa? Karena untuk ngecek untuk ngecek kondisi jemah gimana. Sudah aman belum? Ada yang sakit apa enggak ketika turun dari pesawat itu? Karena kan di pesawat kan lama kan, Mas. Saya menganggap bahwa apa yang saya lakukan ini itu saya menganggap ini sebagai bentuk ibadah saya si harapan saya ketika nanti saya meninggal apa yang saya lakukan itu dicatat sebagai ibadah dalam melayani tamu-tamu Allah. Semua berawal dari hobi, Mas. Saya terutama kakak saya itu hobi jalan-jalan tapi yang murah backpackeran lah kesarnya gitu. Jadi kami kalau ke Malaysia, Singapura, ke Cina kayak gitu itu cuman bawa tas ransel terus di sananya itu sewa dormitory. Jadi yang satu kamar itu isi berelapan campur-campur kayak gitu. Buat apa biar banget kayak gitu ya karena zaman segitu belum belum punya uang kan gitu ya. Dari situ pada saat 2018 kami mikir, Mas 2018 itu yang kami ketahui ya tentang dunia umrah kebanyakan didominasi oleh tokoh-tokoh agama, kiai kayak gitu kan. Lah orang-orang yang di usia kami pada saat itu agak terbatas pilihannya gitu. Pesan saya pribadi melihat revel umrah kok school ya gitu loh gaya-gaya lama lah k orang-orang tua segala macam gitu loh. Padahal kan sebenarnya umrah ini bisa buat siapa aja. Maksud siapa aja itu dalam rentang usia ya. Anak muda pun kalau pengin umrah kan bisa juga. Betapa setiap muslim yang 1 miliar lebih itu pasti mendambahkan untuk datang ke tanah suci. Pada siang hari ini insyaallah Bapak Ibu sekalian akan memenuhi panggilan itu. Karena itu Bapak Ibu sekalian bersyukurlah kepada Allah. Akhirnya kami menggabungkan itu. Kami menggabungkan antara hobi kami suka jalan-jalan dengan murah kayak gitu kan. Terus yang kedua adalah pandangan kami bahwa umrah ini bisa untuk siapa saja kok, enggak hanya untuk orang tua aja gitu. Lah itu kami gabungkan dalam sebuah paket kami namakan waktu itu adalah paket backpacker, Mas. Waktu itu saya masih ingat kami jual paket umrah itu kalau dulu masih ada Saudi ya, Mas ya. Dari Surabaya sekarang sudah enggak ada. Itu di harga Rp1 juta. Sudah all in itu, Mas. Sementara beberapa travel yang lain tuh ada yang masih belum termasuk visa, belum termasuk perlengkapan. Kalau kami sudah 18 juta itu, Mas. Itu sampai kami kena tegur Kemenak gara-gara harga jual kemurahan. Jadi ternyata Kemenak itu punya batas bawah harga. Kami enggak tahu peraturan itu. Akhirnya kami rubah. Nah, mungkin dari situ Mas ya karena harga yang terjangkau tapi dengan fasilitas yang sudah all in lah itu akhirnya menjangkau mereka. Strategi yang kami gunakan adalah ya sosial media Mas. Zaman segitu Mas 2018 sosial media kan masih jarang. Kalaupun ada itu mereka hanya menggunakan sosial media sebagai wadah dokumentasi dan wadah berjualan. Nah, kalau kami sampai saat ini ya dari awal sampai saat ini itu menggunakan media sosial itu ya sebagaimana media sosial. Jadi kami menggunakan media sosial kami itu bukan untuk berjualan meskipun pada akhirnya berjualan ya, tapi nomor satu adalah untuk apa? bersosialisasi untuk membangun kedekatan dengan orang-orang itu sehingga mereka bisa nyaman untuk berkomunikasi dengan kami. Karena kadang itu kan manusia ada sifat takut gitu loh. Belum apa-apa sudah takut. Saya mau ini nih mau tanya-tanya soal mobil atau apa gitu. Kadang-kadang sudah minder duluan sebenarnya mampu gitu. Kami mencoba untuk menghilangkan atau memperkecil batasan-batasan itu. Makanya kami juga menggunakan anak-anak muda di sini. Di sini yang paling tua saya, Mas. Yang lainnya di bawah saya. Jadi gini, Mas. Kami ini membagi umrah ini dalam dua fase, sebelum COVID dan setelah COVID. Sebelum COVID, persepsi umrah backpacker itu enggak kayak sekarang. Kalau dulu itu umrah backpacker itu jarang orang melihat, jarang orang tahu tentang umur backpacker gitu. Cuman kenapa kami namakan umur backpacker itu? Karena ya pertama kesannya biar murah. Yang kedua, karena memang jemah itu kami berikan tas ransel sebagai bagian dari perlengkapan. Jadi tidak menghilangkan esensi backpackernya. Terus experience, artinya experience itu kalau mau dapat penginapan yang murah. Kalau dulu saya waktu suka jalan-jalan tuh yang pertama itu kan yang satu kamar berbanyak, terus yang kedua hotelnya jauh dari pusat kota. Agak jauh lah kayak gitu dari pusat kota. Nah, kondisi di Saudi itu memang normalnya satu kamar berempat kecuali ada beberapa hotel yang bisa satu kamar berenam, berujuh gitu. Jadi itu sudah oke. Tinggal ya kami cari penginapan yang agak jauh dari Masjidil Haram agar apa? Kosnya bisa ditekan. Dan balik lagi Mas ya. Kalau dulu karena isu tentang umur backpeker itu belum selihar, sekarang edukasi kami tidak terlalu ini, Mas. Kasarnya menghabiskan tenaga. Jadi kadang orang cuman tanya, "Mas, umur backbaker ini apa sih?" Ya gini-gini ya kita jelaskan. Umar bakar tuh gini loh, Bu. Sebenarnya ini sama aja kok kayak travel biasanya kayak gitu. Hanya saja untuk menekan biaya dan untuk memberikan experience yang baru gitu kan, pengalaman yang baru. Jamah kita belikan taser, belikan tasel terus hotelnya agak jauh kayak gitu. Kalau sekarang naik bis gitu. Nah, kan experience baru kan kayak gitu loh. Jadi enggak cuman jalan kaki tapi juga naik bis sehingga bisa tahu di luar Masjidil Haram tuh ada apa aja sih sebenarnya. Lah sekarang Mas setelah COVID, setelah sosial media itu merebak gitu, wah itu kita ekstra ini menjelaskan PPK itu seperti apa. Ekstra banget kayak gitu. Karena banyak banget yang mengira bahwa ini adalah umrah mandiri, tidak dinaungi segala macam gitu. Makanya kami selalu mencantumkan bahwa kami ini full service, all in, dan sudah berizin resmi ke manaat. Bahkan bisa dicek gitu kan ada web-nya kan itu di Kemenak itu bisa dicek nama kami sudah masuk di situ gitu. Aku dulu awalnya enggak dipercaya. Orang sudah dis ke sini, sudah ke kantor nih, sudah tanya-tanya terus enggak jadi. Ketika ditanya, kebetulan dia itu saudara temanku. Direkom sama temanku padahal. Terus pulang enggak jadi kan temanku tanya ke saudara, "Kenapa enggak jadi, Mas?" Yo iku niat gak moso umro sik arek cilik-cilik sik arek enom-enom k temenan gak iku ya enggak percaya mas gitu karena dia datang ke kantor yang nerima anak-anak muda iki temenan tah iki gak nibu tah iki kayak gitu tapi ternyata pada saat dia berangkat sudah sampai Madinah terus janjian karena ada saudaranya yang kerja di Madinah Mas lah ternyata saudara yang kerja di Madinah itu adalah tim kami. Jadi kami kan punya tim juga tim di Madinah di Mekah itu kan ada, Mas. Jadi dia itu yang enggak jadi dengan enggak percaya itu justru dimarahin dimarahin sama saudaranya kerja di Madinah itu sama tim kami. Loh lapo kok enggak percoyo aku loh kerja nang kuno ya gitu kan. Tapi akhirnya itu membuat kami ini sadar sih bahwa di umrah itu memang teras nomor satu gitu. Itu yang selalu kami jaga gitu dan itu yang selalu kami bangun di sosial media kami. Ashadu allaahaillallah. Tantangannya lumayan, Mas. Karena kami ini berjalan hampir 7 tahun dengan brand yang lama. Cuman ada satu hal sih yang membuat pada akhirnya orang itu jemaah ya, terutama itu tetap ke kami itu adalah kami hanya berubah nama tapi identitas yang lain kami tidak berubah. Termasuk cara kami melayani jemah, cara kami men-deliver konten di sosial media itu enggak ada yang berubah. itu akhirnya membuat orang bisa menerima meskipun Mas ya pada akhirnya ada yang dalam tunggip kegocek juga kegocek dalam artian karena dikiranya kami sama ya kan sama dengan yang sebelumnya gitu sehingga dia daftar di yang sebelumnya tapi yang cabang lain bukan di cabang kami karena dikira sama kan padahal berbeda sebenarnya kayak gitu sehingga akhirnya mereka kaget loh kok sekarang sudah ganti nama berarti beda ya dengan yang dulu ya sudah beda kak gitu sudah beda ya saya sudah terlanjur daftar ya sudah enggak apa-apa apa kayaknya gimana lagi kan gitu kan ya tantangannya di situ sih sampai saat ini pun masih belum ada yang sadar bahwa kami sudah berubah ya memang kami berusaha untuk membuat perubahan itu tidak terlalu terasa sih sebenarnya biar orang juga tidak semakin ragu gitu loh kurang lebihnya Mas ya ada 8.000 R000 mungkin ya. Jemah. Iya. Karena rata-rata kami per tahun itu 2.200 gitu kan jemaah. Heeh. Rata-rata per tahunnya ya kan kalau musim umrah itu normalnya 10 bulan Mas ya. Ya dalam 1 bulan tuh bisa empat bisa tiga kali keberangkatan kayak gitu. Jadi rata-rata per bulannya itu kami berangkatkan sekitar 200 sampai 210 jemah. Menurut saya itu perilaku konsumen di Indonesia itu biasanya enggak terlalu suka. Kalau belum apa-apa langsung dijualin. Contohnya ini nih based on pengalaman pribadi ya, experience itu masih tanya-tanya nih sebenarnya atau masih cari-cari gitu. Terus saya masuk ke sebuah outlet baju gitu ya. Terus saya tuh dibuntutin langsung dibuntutin gitu mau cari apakah gitu. Saya kurang nyaman saya gitu. Jadi mending saya cari-cari dulu, lihat-lihat barangnya. Ketika misalnya ada yang saya penasaran saya baru tanya itu. Saya lebih lebih suka kalau saya seperti itu kayak gitu. Makanya itu yang saya aplikasikan ke teman-teman. Makanya kami itu menyebutnya itu bukan sales tapi konsultan. Jadi kalau di kami itu di Instagram itu ya itu kan ada satu sosok virtual ya, sosok virtual itu namanya Minleh. Itu singkatannya admin yang insyaallah saleh. Karena tadi Mas, karena kami ingin membangun komunikasi. Naman komunikasi ini harus juara Mas. Nah, kami harus membangun satu sosok nih untuk dijadikan sebagai objek berkomunikasi kepada jemaah gitu daripada cuman admin, admin, admin kayak gitu kan kurang keren lah kayak gitu. Kami menggunakan sosok Minleh itu tadi yang sampai sekarang dikenal. Pertama soal resiko ya. Ini sekali lagi perspektif pribadi Mas ya. Kalau di kami sih sebenarnya yang pertama itu adalah keuangan Mas. Karena gini umrah ini resikonya tinggi sekali sangat tinggi kayak itu. Itu yang pertama. Yang kedua, uang itu kan diterima di depan, Mas. bukan yang kayak saya bayar saya langsung dapat barang kan enggak. Sampean daftar bayar sekian juta terus baru berangkatnya kan bisa jadi tergantung pilihan jenengan kan 3 bulan lagi atau 4 bulan lagi kayak gitu. Maka di kami itu adalah keuangan menjadi nomor satu gitu loh. Makanya kami ini punya konsultan keuangan juga. Kami menggandeng agar jangan sampai bisnis ini menjadi tidak aman. Ada beberapa teman travel yang kami kenal itu secara keuangan itu masih belum profesional. Pertama, antara uang perusahaan dengan uang pribadi jadi satu lah. Itu yang membuat resiko umrah itu menjadi tinggi. Kalau di kami, kami enggak boleh seperti itu. Makanya kami mengganding konsultan konsultan keuangan sehingga benar-benar bahwa ini adalah uang bisnis. uang bisnis enggak boleh diapa-apain. Itu salah satu cara kami ya untuk meminimalisir resiko karena resiko tidak bisa dihilangkan kan Mas. Yang kedua itu dari sisi operasional sih. Operasional tuh kami harus membudget semuanya. Kami menargetkan bahwa profit margin harus sekian. Terus beban beban operasional harus sekian. Untuk itu tadi, Mas, meminimalisir resiko yang ada. Karena kita enggak pernah tahu, Mas, resiko itu datangnya kapan. pernah kayak gini jemaah itu harusnya pulang besok nih. Ternyata itu ada pemberitahu dari Mas Kapai Flag-nya dichedule ke besoknya lagi. Jadi jemah harus extend jemah di sana Mas. Kan enggak mungkin jemah kamu minta nambah Mas. Akya kami yang harus menanggulangi itu. Hal-hal seperti itu kan sudah kami perkirakan sebelumnya. Jadi memang based on experience itu juga penting kayak gitu sehingga kami bisa meminimalisir resiko itu. Ling by the way beneran Mas by experience. Oh, ternyata ada kejadian kayak gini ya. Oke, oke, oke. Berarti apa yang harus kita lakukan nih next-nya buat biar enggak kejadian seperti itu. Tapi gini, Mas. Di perusahaan kami itu adalah learning. Salah satu cost terbesar kami adalah di SDM dan di SDM pun itu cost terbesarnya adalah training setiap posisi. Tapi terutama yang paling banyak ya komersial. komersial itu menyangkut marketing and sales. Makanya ada teman-teman dulu itu kan sering sharing ya, "Mas, habis berapa untuk membentuk team marketing yang sekarang gitu ya? Kalau buat beli Innova Zenic bisalah gitu. Saya pun masih belajar, Mas karena menganggap DNK Medaeda Learning ya, maka belajar itu menjadi sebuah keharusan gitu. Sebenarnya kalau usaha kami ini ada beberapa Mas karena kami ini sebenarnya holding. Cuman memang motor utamanya motor terbesnya dari umrah ini. Kami itu penginnya ya penginnya idealismenya kami itu kan orang itu mau memberi brand kami, mau memberi produk kami baik jasa atau produk itu bukan karena kamu siapa, siapa pemiliknya tapi karena yang memang saya sepakat dengan value dari produk itu, dengan value dari brand itu. Karena menurut saya itu akan lebih long daripada menjual sosok ya dalam tatkip itu. Karena kalau menjual sosok Mas ini sekali lagi pandangan pribadi saya ya gitu loh. Itu kan kita manusia Mas ya. Enggak lepas dari kesalahan. Saya takutnya karena kesalahan saya pribadi misal kayak gitu kan akhirnya membuat naudubillah bisnis ini jadi berantakan gitu kan. Merembet kepada orang-orang yang menggantungkan hidupnya di kami itu menjadi berantakan juga hidupnya. Itu yang kami jauhi Mas. Gimanap pun juga namanya manusia, Mas, enggak lepas dari kesalahan, enggak lepas dari dosa. Cuman ya saat ini ditutupi aja oleh Allah kan kayak gitu ya. Kan kita enggak tahu ya siapa tahu Allah ngasih ujian terus dibuka gitu. Wah bahaya kan. [Musik] Sebenarnya tuh saya sama kakak saya itu enggak dibolehin bisnis, Mas. Penginnya itu jadi dosen, jadi pengajar, pendidik. Makanya harusnya seduka di keluarga besar kami baik itu dari ayah maupun ibu ibu saya enggak ada yang bisnis. Jadi kami generasi pertama yang masuk bisnis. Jadi ibaratnya kalau diomong ini perintis benar-benar perintis. Pernah juga dapat pertanyaan ketika saya ngisi acara di kampus ada seorang mahasiswa itu tanya dia tuh enggak boleh bisnis sama orang tuanya. Ya bisnis kan resiko tinggi toh Mas. Mending jadi PNS. Tapi bagaimana cara dia bisa meyakinkan orang tuanya agar dia perbolehkan bisnis gitu. Ini dulu saya dan kakak saya pakai. Saya minta waktu ke orang tua saya. beri kami waktu 6 bulan untuk membuktikan kami bisa berbisnis apa enggak. Akhirnya dalam 6 bulan itu ya kami bisa membuktikan. Nah, semenjak itu alhamdulillah orang tua mendukung dan pesan orang tua itu adalah sebarkan manfaat itu seluas-luasnya. Makanya istilahnya selama kami masih bisa memberikan manfaat meskipun rugi gitu ya, tapi selama cash flow masih aman, masih lancar, sudah jalan dulu aja kayak gitu. Yang penting kita bisa memberikan manfaat ke orang lain. Itu tadihaillallah. Saya itu kan baru masuk umrah itu kan 2018 ya. Nah, sebelumnya itu kan saya berkecimpung di dunia konstruksi. Saya enggak beda, enggak ada basic konstruksi kan, Mas. Saya kan lulusan ekonomi Islam kan gitu. Tapi di konstruksi yang hubungnya sama sipil kayak gitu. Ada satu momen Mas yang cukup membuat saya punya pandangan juga ya, bahwa saya harus bermanfaat ke sebanyaknya banyak-banyaknya orang itu ya. Itu gini, kalau di tukang desa waktu itu Mas ya, itu gajiannya kan tiap hari Sabtu itu kan kita kasih cash kayak gitu kan. Hari Sabtu lah setiap hari Sabtu kami kajian. Ada satu momen, Mas. Salah satu tukang bapak-bapak senior itu waktu saya ee ngasih gaji itu beliau ngomong ke saya gini, "Mas, alhamdulillah, Mas, berkat sampean gaji saya rutin enggak apa, enggak molor-molor gitu kan. Anak saya kemarin bisa daftar sekolah. Apakah saya akan dalam tanda kutip ya berkarir di dunia usaha atau saya cari kerja?" Dosenlah. Karena pada saat itu Mas jujur ya saya dapat tawaran menjadi dosen tetap. Semenjak itu oke saya tolak kayak gitu. Ada satu momen juga ketika pada saat saya diundang di kampus untuk ngisi materi itu lah itu lucu Mas materinya menurut saya membandingkan antara menjadi pegawai atau menjadi pengusaha gitu. Saya bilang ke teman-teman pada saat itu di sesi itu saya bilang bahwa mau menjadi pegawai, mau menjadi pengusaha itu enggak ada yang lebih baik. Yang terpenting adalah apa goals kamu? Terus mana cara yang paling baik untuk mencapai goals kamu. Gols hidup ya kayak gitu. Apakah menjadi pengusaha atau menjadi pegawai. Jadi enggak penting kayak gitu loh. Itu kan hanya ini sarana aja kan Mas? sarana dalam mencapai tujuan kan gitu. Jujur alhamdulillah dari travel umrah ini tim saya cuma 16%. Tapi dari sini saya bisa membangun unit usaha yang lain yang sekarang kalau di tootal itu ada sekitar 80 orang. Jadi 16 di sini di travel sisanya yang 60-an itu di unit saya yang lain. Tapi berawal dari sini ya daripada untuk kami pribadi Mas sebenarnya kami menikmati kan juga bisa g saya pensiun dinilai itu kan juga bisa gitu. [Musik] Kami waktu itu 2018 itu masih full 100% sosial media. Saya juga heran kok beliau bisa menjangkau. Termasuk yang terakhir ini kan di Tulungagung itu kan yang soal sepatu itu. Saya juga heran kok bisa ya menjangkau gitu waktu itu. Tapi saya enggak bertanya sih. Saya enggak tanya tahu kami dari mana segala macam. kami enggak bertanya itu. Cuman yang kami lakukan adalah kami 100% full sosial media. Tapi kami enggak tahu ya kalau misal ada alumni kami yang mereferensikan itu kan enggak tahu juga ya. Karena pada saat itu sebelum pandemi itu kami tidak menggencarkanlah alumni jemah kami gitu untuk membantu mbasikan kami itu enggak kami gencarkan. Baru kami gencarkan tuh akhir-akhir ini dan alhamdulillah cukup efektif Mas. Kalau dulu sebelum pandem itu 100% dari sosial media, sekarang tuh bertahap dari sosial media itu sekitar 70 sampai 75%. Sisanya dari referal, Mas. Jadi referal awalnya nol, alhamdulillah sekarang bisa sampai 25 sampai 30%. Satu hal sih, Mas, yang membuat saya bersyukur artinya pelayanan kami cukup memuaskan buat jemaah sehingga akhirnya mereka mau mereferalkan kami. Di antara sekian banyak jemaah kami ya, pembagiannya itu kan saya bisa bilang mayoritas tuh menengah, jarang yang menengah ke atas gitu. Apalagi dengan branding umur backpacker kan. Makanya kami mempunyai branding baru Zafir ini. Nama Zafir itu kan diambil dari salah satu batu yang berharga kan, Mas? Kayak gitu lah. Itu harapannya adalah bisa mentarget untuk market yang menengah atas kayak gitu. Kembali lagi karena mayoritas jemaah kami adalah menengah sehingga yang mereka itu ibadah umrah adalah sekali seumur hidup ya itu makanya kecil gitu ya. Paling ada 10% enggak sampaah setahun ya. Tapi ya he setahun ya kayak gitu. Karena rata-rata biasanya orang umrah itu setahun sekali. Jadi repeat ordinnya misal saya berangkat tahun ini, tahun depan lagi saya berangkat kayak gitu. Kalau di tootal sih 10% ada, tapi kalau hitungan dalam 1 tahun 10% sih ee enggak sampai kayaknya. Cuman ada yang sampai memberangkatkan ilan orang keluarganya sampai sekarang. Jadi kayak awalnya dia berangkat guru ngajinya, terus udah pulang berangkatin siapa lagi? gurunya pulang berangkatin siapa lagi? Jadi continue terus setiap 3 bulan sekali berangkatin jemaahnya umrah. Dan kami biasanya gini, bentuk men-support jemah itu ketika misal gini dia memberangkatin tahfiz, kami berikan potongan gitu. Itu sebagai bentuk sedekah kami juga. Ada yang berangkatin guru ngaji misal guru ngajinya dia kami berikan potongan juga gitu disconnect. Dan kami juga ada program sebenarnya dalam setahun sekali itu kami memberangkatkan marput masjid orang-orang yang tidak mampu di sekitar kami kayak gitu. Itu kami berangkatan umrah gratis. Sahabat Safir berkah umrah backpacker mantap. Dadah. Momen paling berat ya. Satu momen Mas Covid Mas. Jadi bisa dibayangin Mas ya. Saya itu menikah itu tahun 2020 tanggal 1 Maret. Umrah ditutup itu jadi seminggu atau 2 minggu sebelum saya nikah. Jadi setelah saya nikah yang harusnya saya kepala keluarga gitu kan, tapi malah usaha utama saya ditutup. Itu paling berat sih, Mas. Karena saya merasa bahwa saya tidak bisa menjalankan kewajiban saya secara maksimal sampai sekarang itu akhirnya menjadikan itu sebagai pelajaran terbesar. Banyak pelajarannya ternyata ya kan kita enggak bisa menyalahkan keadaan Mas ya. Yang bisa kita salahkan kan diri kita sendiri gitu loh. Kenapa kita enggak menyiapkan ketika ada hal-hal seperti itu gitu ya. Akhirnya dari situ kita belajar banyak lah, Mas. kita menyiapkan banyak hal sehingga naudubillah kalau sampai itu kejadian kita sudah siap. Cuman memang pada saat itu Mas tim kami di umrah enggak ada yang kami pecat meskipun enggak jalan 100% gaji terus meskipun penyesuaian kami sesuaikan uangnya dari unit usaha yang lain. Untungnya adalah sebelum pandemi itu kami punya unit bisnis yang lain yang sudah berjalan. Wtu meninggal pada saat COVID itu. Jadi pada saat COVID itu saya kena dua hantaman ya. Pertama dari sisi finansial karena pendapatan utama Mandek. Yang kedua adalah dari sisi psikologis gitu karena mertua enggak ada gitu. Istri saya tuh orang yang sangat dekat dengan ayahnya. Pada saat itu istri dalam kondisi hamil juga dan saya enggak di sini. Saya lagi di luar kota. Ya karena pandemi itu, Mas ya enggak ada pendapatan kan. Jadi saya coba untuk melihat peluang-peluang yang lain gitu meng luar kota gitu kan. Ya itu itu yang membuat saya sangat terpukul ya. Jadi pandemi itu dua momen sekaligus dan meninggalnya pun karena COVID juga dalam satu tahun yang sama. Agak tricky, Mas. Ya, sebenarnya jujur agak tricky memang karena kesannya kayak jualan agama gitu ya. Tapi gini, Mas. Yang penting adalah niat dulu. Kalau dari saya niatnya adalah membantu jemaah, membantu umat muslim yang beribadah umrah. Itu adalah nomor satu gitu loh. Kedua, baru kita memikirkan sisi bisnisnya. Saya enggak munafik sih, Mas. Enggak mungkin kita menghilangkan sisi itu. Kembali lagi, Mas. dalam umrah itu kan juga ada resiko kan lah. Salah satu cara kita meminimalisir resiko itu adalah kan poin nomor dua ya dari sisi bisnisnya itu ya. Nah, tapi kan nomor satu ini membantu nih membantu itu bagaimana caranya kami itu adalah kami punya idealisme itu enggak boleh ambil margin terlalu banyak secukupnya aja sudah. Malah kami yang tahun ini, Mas itu ada 23,9 juta. Yang penting cukup cukup untuk kami hidup. cukup untuk ketika ada resiko-resiko itu tadi. Dari kami pribadi kan juga enggak yang mencari kesejahteraan pribadi lah. Itu bukan tujuan kamiah. Motif kami adalah memberi kebermanfaatan seluas-luasnya gitu. Salah satu yang diajarkan oleh saya Mas ya. Satu doa yang harus kamu sematkan dalam kehidupan sehari-hari adalah minta ke Allah agar jangan cabut nyawamu sebelum kamu bisa bangun 1000 masjid dan lima sekolah gratis. Nah, itu yang jadi motivasi kami yang pertama dan kedua ya membentengi kamiah agar tetap itu tadi istikamah siratal mustaqim [Musik] saya kalau ke beberapa teman saya ya saya ngomongnya gini kalau sudah ada niatan untuk umrah segera daftar karena godaan setan itu banyak Mas Godaan setan kepada orang yang ibadah atau orang yang mau beribadah itu kan banyak, Mas. Insyaallah kalau secara finansial belum mampu pasti akan ada jalan kok. Minimal nabung. Karena sekarang beberapa travel enggak cuman kami aja sih sebenarnya itu sudah ada program tabungan kok tabungan umrah kayak gitu. Dan itu biasanya kalau di bank-bank ataupun di travel-travel itu enggak boleh diambil sampai sudah jumlah tabungannya memenuhi untuk bisa daftar umrah. Saran saya itu langsung daftar aja. Itu yang pertama. Yang kedua, umrah itu sepengalaman saya ya semakin tahun semakin mahal. Jadi semakin menunda semakin besar biaya untuk umrah itu. What's next Mas ya? Karena PT Zafir ini kan izinnya baru terbit tahun ini, bulan Juni kemarin. Kami ingin bermanfaat lebih luas lagi yaitu haji. Cuman persyaratannya itu kan harus memberangkatkan minimal 1000 jamaah umrah atau sudah berjalan 2 tahun kalau enggak salah. Selain umrah sekarang coba haji. Coba tantangan baru Mas. Meskipun kami belum ada yang haji ya. Tim-tim belum ada yang ngaji. Lebih kompleks pasti, Mas. Tapi itu menjadi ini sih menjadi tantangan yang harus kami hadapi, Mas. Karena memang di umrah dan haji itu kan masuk kategori high involvement industry gitu. Artinya kan untuk seseorang mau membeli jasa itu, produk itu, itu kan discovery-nya panjang, perjalanannya panjang. Enggak kayak kalau saya beli air mineral ya. Kalau enggak ada brand A ya sudah brand B. Tapi kalau kayak umrah kan enggak bisa kayak gitu, Mas. Jadi mereka pasti akan membandingkan segala macam. Itu menjadi tantangan kami sih dalam rangka untuk menjaga standarisasi pelayanan kami. Kami scoring. Jadi jemaah yang pulang tuh selalu kami telepon yang berkenan kami telepon kami telepon untuk kami tanyain pelayanan kami segala macam. Dan menelepon itu meskipun tim kami tapi itu kayak tim ad hoc kayak gitu loh. Bukan termasuk tim operasional, bukan termasuk tim marketing. Dia berdiri sendiri biar apa? Biar objektif. Jadi dia mewawancarai jemaah gitu kan. Apa yang buat mereka berkesan? apa yang menjadi komplain mereka kalau ada komplain atau membuat mereka tidak puas apa itu selalu kami tanyakan dan pasti apa yang membuat mereka akhirnya mau mendaftar di kami adalah dari sisi pelayanan kami baik itu di WA, di Instagram maupun ketika di customer service respon segala macam kayak gitu. Saya bersyukur banget punya tim-tim yang bekerja dengan kami itu punya visi yang sama bahwa mereka itu dalam membantu jemaah itu totalitas. Pernah itu ada yang closing, Mas, itu jam . pagi dan saya herannya tim saya kok masih bangun ngapain dan itu zaman Kalimantan orang Kalimantan gitu beliau itu kami tanyain kenapa Mas kok akhirnya memilih kami dan kenapa harus jam . Kayak gitu loh harus jam .00 gitu jam . Soalnya waktu itu gini, Mas. Saya sudah ada niatan umrah, sudah tanya-tanya beberapa travel gitu kan. Terus dia habis salat kalau enggak salah, terus ada niatan oke saya daftar. Dia ngejat ke beberapa travel di jam yang sama yang memberikan respon ternyata kami daftar di kami seluruh Indonesia karena kami ada dua keberangkatan kan Mas dari Surabaya dan Jakarta. Meskipun dari total keberangkatan itu Jakarta 10% mayoritas dari Surabaya. Jadi kami ada Mas juga jemaah dari Papua itu ada dari Bali, dari Mataram, Sulawesi itu ada Kalimantan ada. Cuman kalau dari luar pulau paling banyak Kalimantan. Padahal kami enggak punya kantor di situ, enggak punya agen di situ. Jadi semua B online, Mas. Apa-apa dikirim, apa-apa dikirim. Udah itu aja. Pendampingan pun via online gitu. Misal kayak sekarang kan butuh vaksin ya. Vaksin kami carikan. Ibu rumahnya di mana? Oh, di sini. Kami carikan klinik dekat situ tuh di mana yang bisa menerima vaksin. Sampai seperti itu sih, Mas. [Musik] satu value yang saya yakini ya dan value itu juga yang saya tanamkan ke teman-teman dan itu juga menjadi value dari usaha kami gitu kan. Saya pernah dapat materi itu gini, value terbaik dari sebuah perusahaan itu adalah ketika value owner yang diimplementasikan. Jadi enggak usah mikir ke mana-mana udah value ownernya apa? Itu aja jadikan value perusahaan. Itu kan value yang terbaik. Untuk value saya sendiri itu adalah gini. Sebaik-baik manusia adalah manusia bermanfaat untuk orang lain. Itu yang selalu saya pegang kayak gitu. Makanya dalam setiap bahasa gampangnya langkah kaki kami gitu kan, kami akan melihat bagaimana dampaknya ini ke orang lain itu, Mas. Oke. Saya Ziaudin, founder dari umrahpekpr.id by Zafir Tour and Travel yang beralamat di Sidoarjo, Jawa Timur. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. aman itu
Resume
Categories