Transcript
GON0lZiZosg • Panduan Budidaya Jamur Tiram Skala Rumahan: Formula Kompos & Panen Lebat Setiap Hari!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0556_GON0lZiZosg.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
balik modalnya berapa tahun? Kalau jamur
itu sebenarnya enggak tahunan ya kalau
kita bisa main nyemplung blung itu kan k
6 bulan cukup satu kali main itu ya
mungkin bisa dihitung lah.
Zaman itu masih ada warnet itu kan di
situ saya sering ke warnet lihat di
Google gitu kan. Saya belajar dari situ,
saya print, saya bawa pulang, lalu saya
praktikkan.
Monggo langsung.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ani
Cahya Purnomo. Saya berasal dari Gang
Swasembada, Kalidawir, Tulungagung. Saya
menggeluti dunia penjamuran ini sejak
tahun 2010. Dulu saya itu bekerja
sebagai tukang graji itu loh. Ada serbuk
graji yang tidak digunakan. Otomatis
saya punya pemikiran ini kayaknya bisa
ya dibuat jamur itu kayaknya bisa.
Setiap pulang kerja saya bawa karung itu
saya masuk-masukkan ke karung dari rumah
nanti saya praktikkan bagaimana caranya
buat jamur gitu. Saya tahu jamur pertama
itu 2008 ya masih tahu itu teman saya
ada yang budidaya juga cuma kan beli
waktu itu masih beli lok itu
sekitar 500 lah saya lihat oh ya itu
kayaknya kok menarik juga kan gitu
akhirnya ya saya masih kerja di grajian
itu dan saya berpikir kayaknya ini asik
juga ini kerja di apa itu jamur itu lah
lalu saya punya inisiatif untuk membikin
sendiri lah saya tanya teman saya lalu
diarahkan ke temannya juga yang tahu
tempat sekolahnya itu juga. Setelah saya
datang ke sana ternyata saya suruh
belajar. Belajar waktu itu kena biaya
juga mahal. Kalau mau belajar kan gitu
daripada nanti buang-buang uang ya tahu
ditarik sekitar R10 juta kalau mau
belajar budidaya jamur itu untuk
belajar. Untuk belajar saja itu belajar
buat long mungkin belajar buat bibit
dana R10 juta lebih baik kita gunakan
modal untuk usaha yang lain atau gimana?
Saya belajar lalu waktu itu belum ada
YouTube itu masih konten-kontennya kan
belum ada waktu tahun 2008 2009 10 itu
belum ada. zaman itu masih ada warnet
itu kan di situ saya sering ke warnet
lihat di Google gitu kan saya belajar
dari situ saya print saya bawa pulang
lalu saya praktikkan apa sih
komposisinya bagaimana sih pembuatannya
akan dari situ saya belajar awal itu di
situ yo enggak enggak semudah itak
semudah ya kalau tulisan saja kita
praktikkan ternyata juga hasilnya juga
sangat ekstrem itus saya olah itu
sekitaran hampir 3 tahun itu mal praktik
otodidak saya belajar itu mal praktik
itu selama 3 tahun lebih itu sekitaran
2013 baru nemu formula yang tepat. Untuk
komposisi yang tepat itu 10 karung ke
serbuk gergaji, 10 kg untuk bekatulnya,
5 kg untuk tepung jagungnya untuk
sekitar 5 kilo lah untuk apa kapurnya.
Lalu tetesnya itu sekitar kurang lebih
setengah botol. Itu sudah komposisi yang
tepat. Cuma kalau kita baca kan kita
bingung juga nanti di lapangan bagaimana
sistem pengaplikasiannya. Kita enggak
tahu seberapa basahnya umpa, kadar
airnya berapa, ini umpana kan. Nanti di
situ kita mempertaruhkan di lapangan itu
di situ. Ternyata itu kesulitannya di
situ. Waktu bikin pertama itu kan kadang
ada apa serbuk gregaji yang terkena
hujan itu kan sudah mengandung kadar air
yang tinggi. Kita musim kemarau gitu kan
satu sak itu kan ringan banget itu di
situ kita harus pandai-pandai mengatur
kadar air yang terkandung dalam cerbuk
gergaji itu. Itu dulu saya kesulitan di
situ. Ternyata setelah saya coba,
setelah saya coba saya aduk aplikasinya
jadi satu itu saya timbang di situ baru
ketemu. Nanti kalau bobotnya kan sekitar
1 kilo 3 ons, kapasitas yang lebih itu
basah banget itu sekitar 1 kil 1 itu
sudah maksimal menurut saya.
[Musik]
Ya, itu kan dari serbuk gergaji ya. Kita
kumpulkan berapa nanti kita aduk.
Sebenarnya aturan-aturan atau timbangan
itu ada ketentuannya sudah ada
sebenarnya. Cuma kan kalau saya, saya
pribadi itu kan karena pekerjaan saya
sehari-hari jadi sudah kulino lah.
Ibaratnya orang Jawa sudah kulino sudah
jadi tahu segini itu sudah untuk
kapasitas
500 itu berapa? Kalau di ler dier itu
sudah berapa banyak itu kan kita sudah
tahu sendiri nanti segitu itu seberapa.
Nah, di situ kan kita aduk lalu kita
kumpulkan. Kita kumpulkan satu hari baru
kita kita fragmentasi satu malam baru
besok. kita buat lock. Kalau langsung
kadar air di dalam serbuk gergaji belum
menyatu dengan antara tetes tebu sama
kapur. Dan itu untuk mengatur pH-nya
penguapan apa tuh anget panas gitu.
Setelah panas itu kan sudah merata untuk
kadar airnya baru besok kita mulai atau
mungkin lusanya atau 3 hari lah paling
baik 3 hari ya sudah itu dibuat lock
langsung dibungkus. Setelah itu diproses
untuk penyetiman. Waktu pertama kali
nyetim juga pakai itu drom kecil
Pertamina itu perjalanan panjang itu
saya sering berubah-ubah tentang alat
untuk menyetim itu berubah-ubah. Dulu
kapasitas 125 terus naik lagi kapasitas
500, kapasitas 700 lok terus kapasitas
850. Untuk saat ini untuk proses
penyetiman itu sebenarnya tergantung
alat sebenarnya tergantung alatnya juga.
Kalau kita pakai Dream Pertamina itu
satu dikeruk pakai plastik itu sekitar 6
jam. Soalnya kan tipis atasnya plastik.
Jadi untuk suhunya sekitaran mungkin
kalau itu 90-an derajat enggak nyampai
100 itu gak mampu kalau untuk 100
derajat. Jadi butuh waktu lama untuk
proses apa ya untuk mengatur suhu itu
belajarnya cukup lama juga. Soalnya
setiap kali kita pakai alat yang baru
berarti kita malah praktik. Soalnya alat
yang baru ini bagaimana ya untuk
kualitasnya gimana nanti hasilnya
akhirnya gimana kasih bibit bagaimana
lah dari situ kita tahu ketebalan
seporanya itu terlihat spora itu kalau
tebal banget berarti kan otomatis alat
kita itu mampu untuk menyetim lok itu
kalau seporannya masih kelihatan buram
gitu berarti waktunya kita penyetiman
itu kurang lama atau alat kita masih
kurang mampu untuk mencapai tekanan 100
derajat atau mungkin untuk membunuh
bakteri yang ada di lock itu sendiri ya
cukup rumit untuk belajar itu soalnya ya
itu kita kalau cuma 1 tahun 2 tahun itu
masih mencari-cari untuk ilmu di
penjamuran itu masih cari-cari nanti
kalau sudah tahap 3 tahun ke atas
insyaallah mungkin sudah mulai benar ya
mulai benar insyaallah ya kalau orang
sekolah itu konsisten dengan apa yang
mereka pelajari konsisten soalnya apa
dia tahu dari sekolah itu ada
rumus-rumusnya dari situ dipraktikkan
rumus itu tersebut tapi kalau saya
praktik dulu baru ada catatan. Kan
bedanya di situ lah. Kalau dia dari
catatan itu dipraktikkan hasilnya
mungkin ya benar atau salah ya ini
sesuai dengan apa yang mereka pelajari.
Setiap kali praktik masih proses
percobaan saya foto satu hasilnya
gimana. Ini percobaan kedua saya foto
hasilnya gimana. Lalu kan saya kumpul
baru kita mengambil kesimpulan yang
benar yang mana, yang baik yang mana. Di
situ kalau kita senengi kan kita
otomatis ringan juga kan kalau kalau
kita senang dengan pekerjaan itu. Tapi
kalau di kayu itu berat kan menurut saya
berat itu soalnya kita mengangkat kayu
setiap hari itu rasanya capek itu di
badan. Oh sik enom kok nyambut gae
mabot. Yaah itu kata-kata orang tua kan
gitu. Otomatis saya mungkin harus
mengalihkan pekerjaan untuk bekerja
dengan yang ringan gitu. Setiap hari kan
masih kerja graji itu. Nah, pulang graji
saya bawa umput. Ada uang sedikit untuk
modal buat eksperimen. Nanti hasilnya
gimana? Besok graji lagi, bawa umpi,
eksperimen lagi. Nah, nanti kita
kumpulkan riset-riset saya itu bagaimana
yang ini berhasil atau enggak, yang
kedua lagi bagaimana nanti saya
kumpulkan. Lah setelah woh yang ini
percobaan sudah mencap berhasilah saya
katakan berhasil. lah baru saya
kembangkan lebih banyak lagi. Saya
tinggalkan pekerjaan yang lama. Otomatis
kan kalau kita kerja satu hari kerja
katakanlah Rp100.000 saja lah. Kalau
jamur saya sudah mencapai Rp100.000
berarti kan sudah imbang. Nah ini sudah
Rp100.000, ini sudah Rp100.000 otomatis
saya harus meninggalkan yang satu. Saya
fokus di sini otomatis bagaimana
sekarang tinggal kita membuat bagaimana
yang Rp100.000 ini bisa Rp200.000.
sekarang sehari itu ya apa ya tergantung
kapasitas lok saya juga kan juga kalau
di jamur itu enggak tentu ya untuk
setiap harinya mungkin dirata-rata
sekitar 20 kiloan kalau 1 kilo
Rp15.000-an
tinggal kalikan aja 20 kilo kali
Rp15.000.
Penjualannya masih sangat sulit di tahun
itu. Di tahun 2010 itu penjualan jamur
itu belum familiar soalnya jamur itu
kalau kita jual ke pasar itu sama
emak-emak itu ini jamur opo iki? mendemi
ya kan gitu masih awam yang tahu itu
cuma orang-orang yang berpendidikan
tinggi seperti guru-guru itu baru tahu
ini oh ini jamur enak lah baru dia yang
beli-beli itu yang otomatis orang yang
berpendidikan saja menurut saya itu
sekarang 1 hari itu sekitar ya itu 850
itu untuk 1 hari sebenarnya 1 hari
pembuatan baru melakukan penyetiman
besoknya bongkar baru besok lusa baru
pembubitan itu terus berulang-ulang
terus mungkin 1 minggu itu bisa tiga
kali penyetiman jadi 850*
3 kali 1 minggu iya soalnya tenaga kerja
juga sendirian bukan punya karyawan
enggak saya enggak punya karyawan saya
mengel kelola dua kumbung. Satu kumbung
kapasitas Rp10.000. Jadi dua kumbung
Rp20.000 untuk kumbung saya.
Ya, lumayan. Tapi kendalanya kan hari
ini pada itu serbuk gergajinya itu sulit
enggak seperti dulu. Dulu itu kita luru
lah ibaratnya luru itu banyak itu tiap
ada orang graji atau mungkin di gergaji
itu dulu saya itu dikasih suruh ambil
aja dulu. Tapi sekarang mahal. Sekarang
PLTO juga gunakan itu orang apa itu
untuk ternak ayam itu juga gunakan
serbuk itu. Jadi kita saingan kita itu
bukan jamur saja orang yang menggunakan
serbuk gergaji itu ada kalanya kan
overload banyak sekali. Katakanlah kita
punya kapasitas 10.000 Ibu itu panen
rata-rata per harinya itu sekitar 20
kilo, 30 kilo ada kalanya dikalah suhu
sangat bagus untuk pertumbuhan jamurnya
itu bisa 50 kilo juga bisa itu untuk 1
hari itu mungkin naik naik naik naik
naik 1 minggu itu 50 40 mungkin turun
lagi gitu lah. Jadi enggak bisa cuma
kita ambil rata-rata saja untuk
rata-rata dapat uangnya ya sekitar itu
20 kilo untuk jamurnya. lah nanti
sisa-sisanya kadang ada pesanan untuk
keripik lalu kita bisa kita buatkan
untuk keripiknya.
Pendapatan Rp300.000 sehari itu cukup
ya?
Ya sebenarnya bukan dikatakan cukup ya
juga cukup-cukup enggak cukup mungkin
kan sebagian untuk hari-hari juga nanti
sebagian juga untuk modal lagi untuk
pengembangan lagi ya bukan berarti harus
Rp300.000 I gak saya kan juga ada untuk
penjualan lok lah. Kalau lok saya jual
laku otomatis kan bukan jual jamur
mungkin jual lok beda lagi nanti ada
penjualan bibit juga mungkin ada yang
beli bibit F1 F2 lah itu juga mungkin
dari situ juga ada hasil lain tapi satu
rangkaian tetap dijamur. Kalau F0 itu
kan vegetatif awal. Jadi F0 itu kita
buat dari jamurnya itu sendiri. kita
tanam dengan menggunakan PDA, PDA potato
dekctrosa agar-agar itu dengan
menggunakan yaitu pakai godir itu kan.
Nah, pakai potato pakai kentang itu dan
di situ juga ada rumusnya mungkin 1 lit
untuk airnya, 200 grentangnya
lah. Mungkin sekitar untuk ager-agernya
itu sekitar 5 gram sekitar gitu lah.
Nanti kita rebus untuk kentangnya kita
ambil sarinya. Setelah itu kita kukus.
Sama seperti pembuatan lok juga selama 6
jam baru dibiarkan dingin. Tunggu sampai
penggumpalan godirnya itu lah. Setelah
itu selesai steril baru kita masukkan
bibit jamurnya.
[Musik]
Kalau F0 kan dari bahannya itu F0 itu
bahannya dari godir itu. Kalau F1 itu
kan turunan dari F0 itu. F1 turunan
pertama, F2 itu turunan kedua. Jadi kita
ambil sedikit jamur itu untuk F0-nya
kita taruh di godir itu. Setelah itu
merambat sudah misilum penuh baru kita
turunkan ke F1 dengan media banyak.
Menggunakan jagung juga bisa,
biji-bijian pokoknya pakai corgum itu
juga bisa, pakai gabah juga bisa, serbuk
kayu juga bisa. Yang penting pembuatan
F1 itu nutrisinya lebih tinggi daripada
pembuatan lock. Kita baliklah. Kita
balik. Kalau kita membuat lok itu 10
karung untuk serbuknya, 10 kilo untuk
bekatulnya lah kita balik 10 kilo untuk
serbuknya baru 10 karung untuk
bekatulnya. Jadi seperti itu sebenarnya
untuk proses pembuatan. Jadi untuk F1
itu nutrisinya lebih ditinggikan. Untuk
F0-nya itu di harga sekitaran ratusan
ribu. Rusan ri.000 per botol. Kalau F1
itu sekarang sekitar 50 25 30.000
gak sama itu per tempat itu beda itu per
orang juga beda. Mungkin dari sini
berapa, dari tempat sana berapa itu
beda-beda. Satu botol F0 itu bisa jadi
sekitaran 10 atau mungkin 15 botol F1. 1
botol F1 itu bisa jadi 90 botol F2. F2
nanti kita turunkan kan ke lock. Jadi
secuil jamur itu mampu untuk dua kumbung
saya itu sudah mampu untuk membibiti dua
kumbung saya itu sudah mampu secuil
jamur bibit awal itu. Cuma pembuatan
bibit itu kan enggak semua orang itu
bisa untuk membuat itu soalnya takut.
Takut kalau ini benar jamur yang saya
tanam atau bukan. Kadang di situ
ketakutan mereka itu lah kita buat
belajarlah buat F0. Dulu saya belajarnya
juga sulit di sini tuh F0 kita bikin
sendiri berhasil atau enggak kita coba
uji. Nah, nanti tumbuh jamur atau dak?
Kadang juga enggak. Enggak tumbuh. Itu
seperti apa tuh? Kalau dikatakan orang
jamuran itu mandul. Tumbuh putih
merambat putih saja tapi gak tumbuh
jamur. Ya, kalau misalnya kita kegagalan
di F01 saja itu berarti kita fatal satu
kumbung lebih satu kumbung itu kalau
kita coba-coba enggak ini berhasil atau
enggak enggak tahu. Makanya belajar itu
buat 1 F0 dulu. Turunkan mana yang
berkualitas. Menurut saya sendiri.
Menurut kita mana yang paling bagus?
Baru diturunkan lagi F2. Lihat nanti di
hasilnya gimana lalu bikin lagi. Itu
butuh bertahun-tahun untuk belajar
pembuatan itu. Kalau secara otodidak
mungkin kalau ada gurunya itu lebih
singkat sebenarnya 1 hari sudah bisa
kalau ada gurunya. Kalau enggak ada kita
kan eksperimen sendiri ini berhasil atau
enggak ini kalau tanah bagaimana itu
kita cari-cari sendiri treatment ya
tentang jamur itu yang penting menurut
saya sekarang ini di perawatan perawatan
paling utama perawatan itu mengatur suhu
kandang saja itu kelembaban suhu
sebenarnya itu beda tempat menurut saya
itu juga beda-beda. Saya itu pernah uji
coba itu tempat teman saya itu kan di
pinggiran sawah itu kan untuk kelembaban
udaranya cukup tinggi kurang kadar
airnya itu kurang. Kalau di sini
insyaallah kelembaban udara itu cukup
bagus. Jadi pengabutan dalam kumbung
atau mungkin penyemprotan itu
perawatannya lebih mudah di tempat saya.
Kalau suhu suhu yang dibutuhkan
sebenarnya adalah suhu kamar 28 derajat
Celcius untuk pertumbuhan. Lebih bawah
lagi sampai 26 itu lebih baik. Nanti
kalau katakanlah waktu musim berdiding
itu bagus-bagusnya untuk pertumbuhan
jamur di wilayah Jawa Timur ya.
Cara menjaga kelembaban di dalam kumbung
saya itu ada spayer-spayer kecil itu.
Nah, nanti setiap kali terik matahari
panas banget atau bagaimana nanti kita
hidupkan untuk spirnya. Di atapnya juga
saya kasih untuk bikin hujan buatan lah.
Demikian jadi agar terjaga untuk
kelembaban suhunya. untuk dalam dan
luarnya itu tetap terjaga agar tetap
eksis dingin gitu aja. Cuma harus
pandai-pandai juga menjaga kelembaban
airnya. Soalnya ketika terlalu banyak
air jamur itu juga akan basah. Basah itu
harga jualnya juga enggak sama. Mungkin
kalau kita buat hari ini zuhnya enggak
ada hujan lah katakanlah itu. Itu jamur
sedikit agak kering. Kelembaban cukup
bagus untuk dijual. Mungkin tahan untuk
2 hari 3 hari tahan. Kalau basahnya
terlalu tinggi, kebasahan tingkat
kebasaannya terlalu tinggi itu nanti
sore itu sudah layu, enggak kuat, sudah
ngelempruk atau gimana itu sudah enggak
bisa pretel gampang pretel gitu. Untuk
pengolahan jamun a saya gunakan untuk
keripek itu. Keripik itu saya kenapa
saya dulu juga eksperimen juga buat
keripek itu juga eksperimen dulu.
Soalnya kan gini, dulu itu di
tahun-tahun dulu itu cukup sulit saingan
di pasar itu kita harus menyesuaikan
juga kita buat banyak itu kalau kita
enggak bisa jual kan juga otomatis kita
harus tahu pasar.
Tahu pasar dulu. Waktu dulu itu saya
juga di pasar lokal sini untuk mengisi
pasar lokal. Kapasitas pasar lokal itu
sudah di maksimal 30 kilo. Ketika
panenan saya itu lebih dari 30 kilo,
otomatis buang. Mau jual ke mana lagi?
Saya otomatis saya pindah pasar, tambah
pasar lagi, tambah pasar lagi. Otomatis
dia di situ saya kok banyak yang sisa
ya. Saya panen sampai 50 kilo, setiap
hari sisa 20 kilo, 30 kilo. Diapain lagi
ini? Nah, otomatis di situ saya berpikir
untuk nah buat keripik aja lah. Itu
prosesnya juga lama. Itu proses lagi
bagaimana cara bikinnya, bagaimana itu
bumbunya apa, bagaimana pembuatannya
baru belajar, belajar belajar. Ya,
awalnya juga enggak bisa awet. Satu kali
goreng nanti sore sudah ngelempruk gak
bisa. Ini bagaimana ya biar kriuk itu
gimana nanti pengaplikasiannya tepungnya
apa, bagaimana ya itu penggorengannya
gimana itu rumit banget juga di situ.
Akhirnya sampai berapa tahun itu saya
baru nemu resep yang ya mungkin pas
untuk hari ini saya patenkan sedemikian
sekianlah sudah cukup ini sudah bagus
untuk dipasarkan.
Rp10.000 itu bisa anu nggih kita kerasa
ya hasilnya ya
bisa kerasa cuma kan kita harus tahu
dulu gimana nanti sistem penjualannya.
Kalau saya untuk petani-petani saya itu
saya punya klub atau kelompok sendiri.
Nah nanti di situ kita sering main WA-an
bagaimana kalau ada sana ada sisa
otomatis seperti itu. Pasar kapasitas 30
lah nanti sisa 20 otomatis saya ada sisa
segini gimana? Nah bawa ke sini biar
saya jualkan. Otomatis kita harus kerja
sama dengan petani yang lain. Kalau kita
diam aja di rumah ya enggak tahu nanti
eh ini mau diapain gimana enggak dijual
atau gimana kan enggak tahu. Otomatis
kalau kita main sering kumpul kita
sering nanti saya punya kelebihan jamur
ini gimana baru teman bawan sini tak
jualin gitu. Oh iya pengepul saya kurang
lah otomatis ya itu bisa jalan. Kalau
petani awal saya rasa itu banyak yang
kendalanya di situ. Kita produksi, kita
beli lok, lalu kita rawat sendiri di
rumah. Nah, otomatis ketika panen cukup
10 kilo, 15 kilo lah ini nanti untuk
sekitaran rumah saja kan sudah cukup
lah. Ketika nanti ada kalanya panen
besar sampai 3050 kilo mereka akan
bingung. kadang menjual dengan harga
yang murah daripada enggak laku. Itu
yang mungkin membuat mereka itu takut
dijamur itu di situ.
Dengan lok.000 itu paitannya
ya? sekitar 2030 juta
balik modalnya berapa tahun?
Kalau jamur itu sebenarnya enggak
tahunan ya kalau kita bisa main
nyemplung blung itu knya enggak sampai
itu bukan tahunan itu pakai bulan
sebenarnya 6 bulan cukup satu kali main
itu ya mungkin bisa dihitunglah
katakanlah kita beli lock sekitaran ya
Rp10.000 itu dengan harga R30 juta. R
juta kita rawat dengan baik. Jangan
asal-asalan rawatnya nanti juga akan
tumbuh dengan baik. Kita catat aja. 1
hari ini berapa keluar berapa jamur?
Berapa kilo kita jual? Katakanlah 1 hari
kan bertahap. Mungkin hari ini 5 kilo,
besok naik lagi 8 kilo, 10 kilo. Nah,
baru 15 kilo, 20 kilo, 30 kilo, 40, 50,
50, 50, 50. Berapa? 4 hari. Kadang nanti
baru merosot lagi, nanti kita lakukan
perawatan ekstra lagi baru nanti naik
lagi. Seperti itu dari kita hari ini
memasukkan bibit dalam lok. Setelah itu
merambat penuh miselumnya itu sekitaran
30 hari. 10 hari untuk proses penuh
miselium, pemadatan sekitar 10 hari baru
tumbuh jamur. Tumbuh jamur kira-kira
sekitar 40 hari baru tumbuh. Kadang juga
kalau musimnya bagus 20 hari juga bisa
sudah tumbuh. Enggak, enggak tentu.
Tergantung waktunya juga. Bulan-bulan
itu juga berpengaruh terhadap cuaca
sekitar pokoknya itu berpengaruh penuh
terhadap tumbuhnya jamur. Dapat apa aja
dari aktivitas usaha jamur itu?
Kalau dihitung dapat apa saja ya banyak
ya, Mas ya. Beli mobil sudah itu dulu.
Modal buat beli sapi juga sudah. Itu
untuk usaha yang lain kan juga sudah.
Penambahan kumbung itu juga otomatis
sudah alhamdulillah juga ada
perkembanganlah sedikit-sedikit ada
untuk untuk hari-hari juga terpenuhi.
Alhamdulillah waktu itu saya sebelum ada
corona itu saya kandang saya itu
sebenarnya sudah full penuh semua. Nah,
ketika waktu panen tumbuh jamur itu, nah
itu di situ baru penjualannya sulit
banget. Soalnya apa? Saya sudah
ketergantungan untuk ke pengepul. saya
setor ke Surabaya itu waktu itu. Waktu
itu juga enggak bisa keluar jamur.
Bagaimana lagi nanti untuk saya kan
titip ke bus itu, bus untuk bongkar di
terminal Surabaya itu lah. Itu dijatah
harusnya setiap hari saya panen kan
setiap hari jamur ada lah. Otomatis 1
minggu dijatah dua kali ya. Yang
hari-hari yang lain tuh ke mana? Ke
lokal aja sudah enggak mampu ngatasi.
Waktu itu panenan saya sekitar 70 60
segitu. Ya, otomatis kalau 1 minggu
kirim cuma dua kali lain-lain itu ke
mana? Mau saya bikin keripik dijualnya
ke mana? Enggak bisa lockdown, enggak
bisa keluar ke mana-mana, mana-mana
portal. Nah, otomatis di situ saya
biarkan saja jamur otomatis ya tumbuh
kena hama gurem atau yang lain itu
otomatis mungkin jatuhnya lebih drastis.
Itu sangat ekstrem. Itu
berapa
waktu itu ya? sekitaran 60 ada 60 juta
lebih dua kandang projek ke depan untuk
membangun tigang suada ini ya
mungkin pengembangan untuk pembuatan lok
ya mungkin nanti saya punyain pemikiran
tuh apa itu pembuatan itu mesin untuk
serbuk gergaji mungkin kita beli kayu
sotiran itu nanti kita buat cerbuk danah
nanti mungkin tetangga-tetangga yang
nganggur istilahnya begitu dan nanti
bisa dipekerjakan untuk orang lain juga.
[Tertawa]
[Musik]
Soal pekerjaan. Kalau kita sudah senang
di pekerjaan itu menurut kita hobi. Iya.
Apa itu menurut jenengan capek? Kan
mboten.
Ah iya. Lah di situ kalau kita senang
terhadap pekerjaan itu lah. Kalau kita
niatnya ini sudah waktunya berangkat
kerja, otomatis pemikiran kita kan kerja
bukan hobi lah. Kalau kita menganggap
pekerjaan itu hobi, wah waktunya ini
main-main dengan jamur. Nah, gitu kita
buat eksperimen, kita penasaran dengan
hasilnya ini nanti bagaimana ya kita di
situ ada kesenang. Jadi otomatis hari
enggak terasa mungkin tidak merasa
bekerja karena kita hanya bermain hobi
itu saja. Lihat tumbuh jamur banyak itu
kita kan senang di situ. Wah jamurnya
bagus banyak otomatis sening buatnya
gimana. Nanti kita lihat dirak-rakan itu
kita foto, kita lihat sendiri itu
senangnya minta ampun itu di situ sudah
senang banget. Jadi itu suatu kebanggaan
tersendiri juga hobi di situ. Jadi kita
enggak ada yang namanya wah kerja capek
itu nak senang kita di situ. Kata-kata
untuk petani jamur ya hidup ini kan
banyak pilihan dan Anda juga bebas untuk
memilih. Tapi di mana itu Anda harus
bertanggung jawab terhadap pilihan Anda
itu sendiri. Ada kemauan juga pasti ada
jalan. Saya Ani Cahyo Purnomo, owner
dari Mekar Purnama berada di Gang
Swajembada Kalidawir Tulungagung, Jawa
Timur. Terima kasih. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]