Gaji UMR, Beban Kerja CEO? Trend Quiet Quitting di Kalangan Gen Z!
KHnUsDi9yr8 • 2025-07-03
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo, Sobat pecah telur. Pernah enggak sobat merasa seperti ini? Punya tim sebenarnya mereka itu hadir, mereka datang, pekerjaan diselesaikan. Tapi kok ada yang kurang ya? Mereka rasanya tidak dekat dengan kita. Ada jarak, mereka hanya mengerjakan tugas. minim rasa memiliki terhadap usaha itu. Atau jangan-jangan kita sebagai seorang tim yang merasa seperti itu. Kita kerja ya biasa aja, tidak ada ambisi, tidak ada ingin lebih baik di situ, hanya numpang kerja biasanya di sini. Kalau teman-teman sedang mengalami itu, mungkin kita ada di fenomena yang bernama quite quitting. Apa itu quite quitting? Yuk, kita bahas di segmen detektif bisnis kali ini. [Musik] Halo, kembali lagi di segmen Detektif Bisnis bersama saya Agung Hartadi. Saya sudah 4 tahun mengelola channel ini pecah telur dan saya sering di balik layar. Nah, saat ini saya sering menyapa teman-teman langsung dengan hadir di depan layar dengan segmen detektif bisnis. Oke, apa itu quiet quitting, Teman-teman? Apakah ini adalah gelombang resign? Tidak. Jadi, karyawan juga tetap ada, tim tetap ada di situ. Mereka hadir tapi mereka tidak resign. Tapi mereka ada tapi rasanya kayak tidak ada begitu. Mereka enggak mau ambil lembur, enggak mau promosi jabatan. Istilahnya mereka itu atau tim kita itu enggak mau mengeluarkan energi lebih untuk perusahaan. atau istilah yang lagi populer adalah kerja toko lembur thank you. Maksudnya apa? Jadi ketika pukul atau 5 sore tank gitu kan ee ada bel berbunyi tanda pulang mereka langsung go gitu atau ketika mereka ditawarin lembur lembur thank you artinya apa? mereka menolak untuk lembur. Jadi, Quite Quiting ini pertama kali muncul atau viral lah ibaratnya itu di Amerika tahun 2022, tepatnya setelah pandemi. Jadi, karena pandemi itu kerjanya 24 jam boleh dibilang ya, mereka kerja dari rumah, work from home gitu. Ketika mereka sudah balik kerja setelah COVID, ada beberapa perusahaan yang masih menerapkan seperti itu. Jadi, mereka pulang masih Zoom, terus kemudian masih mengerjakan tugas di rumah. Nah, kemudian ada gelombang quiting ini. Jadi, mereka tidak mau lagi bekerja dengan penuh seperti itu. Mereka ingin ya sudah kalau sudah jam 5. Ya sudah mereka pulang, mereka melakukan kegiatan lain. Namun ini menjadi viral lagi ketika di Jepang juga ikut-ikutan ternyata. Jadi ini juga ngetren di Jepang di tahun 2024. Dulu kan kita kenal ya, Jepang itu kerjanya sangat keras gitu ya. Work hard banget mereka. intinya seperti itu. Tapi ketika ada istilah ini mulai merebak di sana dan mereka juga akhirnya meras merasa merasa benar begitu ya. Karena apa? Karena ternyata ketika mereka kerja keras enggak kenal waktu maka tingkat stresnya juga tinggi yang mereka alami selama ini. Maka tidak heran kalau kita sudah sering dengar di sana persentasi produsinya tinggi. Maka dengan adanya quieting ini cukup mempengaruhi beberapa generasi terutama generasi Genz Jepang. Jadi mereka ya sudah kerja sampai jam .00 selebihnya mereka ingin kembali dengan keluarga melakukan hobinya atau juga mereka ingin melakukan kegiatan yang lain mungkin kerja yang lain yang ada masih relate dengan yang mereka senangi. Survei MYVI bilang bahwa 45% ini cukup tinggi bahwa orang Jepang tidak lagi memikirkan jabatan. Mereka memikirkan tentang kehidupan, kesenangan, tentang work life balance mereka. [Musik] Nah, ternyata fenomena ini muncul juga di negara kita tercinta, yaitu negara Indonesia. Kenapa bisa muncul di Indonesia? Tentu karena ada media online yang tidak bisa terbendung ya. Quite quieting ini merebak juga di Indonesia. Statement work, life balance itu juga kemudian diadopsi oleh orang-orang kita. Mereka tidak ingin selalu bekerja. Mereka tidak ingin selalu dituntut perusahaan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan yang mereka tidak mungkin tidak sedang ingin ambil, mereka ingin life balance. Maka di beberapa kita, di generasi kita, terutama Genz mulai merebak. Terlebih adanya faktor senioritas di sebuah perusahaan. Misal ini ya, ini juga quite quitting ini banyak berlaku pada karyawan baru biasanya. Contoh ya ketika ada perusahaan yang menerima karyawan baru. Entah itu perusahaan yang dinas atau perusahaan yang UMKM atau yang lebih terasa di industri-industri besar itu biasanya muncul sionaritas. Jadi biasanya anak baru ini diberikan beban kerja yang berlebih. Misal katakanlah jobd-nya itu A sampai E begitu ya. Dikasih lagi oh ini ada anak baru nih. Dikasih beban lagi F G H. Lama-lama kan numpuk juga nih pekerjaan di anak baru ini. Sehingga apa? Awalnya sih enjoy-enjoy aja 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, enjoy-enjoy aja. Tapi lama-lama dia juga mikir, kok kerjaku jadi berat ya? Bahkan waktunya sudah pulang dia harus masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan. Deadline lah ibaratnya. Dia lama-lama mikir, kok aku jadi dieksploitasi ya? Nah, gitu ya. ini biasanya ketika dia sudah merasa seperti itu maka kemudian dia menerapkan ilmu ini quite jadi kemudian bekerja seai job deser yang dilebihkan untuk perusahaan itu. Kalau gen seperti itu, gen rata-rata seperti itu. Tapi bagi generasi milenial kadang-kadang masih bisa menerima, "Oh, ini challenging ini, ini kesempatan ini aku dikasih porsi lebih walaupun juga gajinya belum berlebih." Ini kesempatan bagi saya untuk apa? Untuk belajar, untuk membuktikan diri, untuk validasi ilmunya di sini ee bagus enggak begitu. Tapi hati-hati teman-teman owner ini walaupun gen milenial ee kalau kelamaan juga tetap bisa quite quieting juga. Kalau dia kelamaan terus dikasih beban yang berlebih. Tidak ada reward reward lembur, tidak ada apresiasi yang dia terima. Ya, bisa jadi juga dia ketika sudah jenuh juga quite quieting juga. Jadi hati-hati teman-teman yang endingnya adalah quite quieting ini bermuara pada hilangnya trust dari seorang pekerja atau tim kepada ownernya atau kepada perusahaannya. Prof. Izumi dari Universitas Tokyo bilang seperti ini. Quite quitting itu bukan karena malas, tapi karena sadar. Sadar bahwasanya kerja keras tidak dibayar dengan stimpal. Makanya mereka tetap kerja profesional, tapi tidak ada ambisi, tidak ada lembur, dan tidak mau mencurahkan energinya lebih untuk perusahaan itu. Lantas apa yang harus dilakukan? Kalau teman-teman merasa timnya mulai seperti itu, hadir tapi tidak hadir, terasa ada indikasi quit quitting, ini alarm, jangan lama-lama dibiarkan. Atau juga bagi teman-teman yang hari ini sedang merasa dalam fase itu, merasa sebagai tim yang quite quiting, maka juga harus ini alarm bagi teman-teman. Nanti setelah ini kita akan bahas apa yang harus dilakukan baik bagi bisnis owner atau bagi tim yang sekarang di fase itu. Oke, sekarang kita akan bahas dulu bagi seorang bisnis owner. Apa yang harus kita lakukan selaku bisnis owner ketika kita merasa ada tim kita ini quite quiting? Pertama adalah pastikan rasa aman dulu. Mereka di sini itu harus memiliki rasa aman. Aman terhadap gajinya, aman terhadap job desnya, dan aman terhadap masa depannya. Apa maksudnya? Jadi misal ternyata di tim kita atau di perusahaan yang sedang kita bangun ada senioritas, ya sudah kita itu hilangkan. Tidak boleh ada senioritas. Semua harus bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Kedua adalah bagaimana kita memberikan rasa aman secara karir. Jadi maksudnya apa? Kita tunjukkan, kita pastikan mereka bisa bertumbuh di sini. Mereka bisa ada karir yang kemudian mereka bisa capai perusahaannya bertumbuh. Mereka tidak hanya sekedar numpang lewat di situ, tidak hanya sekedar numpang gaji, tapi mereka terlibat aktif bahwasanya perusahaan ini aman untuk dia bertumbuh, aman untuk dia sekarang gajinya aman, waktunya aman, dan masa depannya juga aman. Tentu ini tidak mudah tapi bisa digapai. Sebelum lanjut yang kedua ini saya akan sampaikan ini yang kita terapkan ya di pecah telur. Tapi mungkin di beberapa industri juga akan berbeda karena beberapa industri strateginya berbeda. Yang saya kasih adalah strategi di bis kreatif ya. Yang kedua adalah libatkan tim dalam goal perusahaan. Jadi ketika kita memiliki gen sebagai tim yang banyak seperti dipecah telur, maka kita libatkan aktif mereka dalam merumuskan sebuah gol dan kita ajak mereka untuk mencapai gol itu bareng-bareng. Tidak perlu gol yang besar. Ini untuk menciptakan tras kita buatkan gol yang kecil-kecil dulu ya. Ayo kita gol jangka pendek 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Apa yang bisa kita kerjakan bareng? Kita kerjakan bareng. Nanti dari gol yang tercapai itu nanti pasti ada impact di perusahaan. Entah impact finansial atau impact perusahaan yang naik. Biasanya itu ada income juga yang datang. Maka itu income itu juga kita bagi-bagi gitu nih, Teman-teman ya. kita bagi-bagi, ada bonus, ada pencapaian dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah kadang-kadang jangan lulu tagih brutal ya, Teman-teman ya. Tapi juga hargai proses. Dulu memang kita sangat mengenal tagih brutal, tapi untuk sekarang ini menjadi kurang relevan ya, karena banyak faktor yang harus kita pertimbangkan gitu ya, apalagi gensi hari ini ya. Maka juga dalam prosesnya itu juga harus dikawal gitu ya. prosesnya juga harus dihargai walaupun the end belum berhasil tapi juga mereka harus dikasih support begitu ya entah bukan tidak melulu support tentang reward ya support apresiasi support ee menenangkan dan lain sebagainya tapi juga jangan terlalu ditolerir ya teman-teman ya. Jadi ketika mereka sedang trouble ya sudah ee oke ini trouble tapi apa ya pelajaran yang kita dapat apa evaluasi yang akan kita dapat dari ini dan kita akan terapkan di kemudian yang berbeda supaya strateginya berhasil jadi tidak jangan dimanja tapi jangan jangan di terlalu keras begitu ya yang keempat adalah sediakan ruang bicara yang sehat ya itu juga kami terapkan juga di pecah telur ya teman-teman mungkin juga di bisa diadopsi di teman-teman di industri yang lain jadi biasanya kita ada sesi interview. Maksudnya interview itu bukan hanya interview kerja ya. Jadi kadang-kadang mereka sebulan sekali kita diskusi apa yang kamu inginkan terhadap perusahaan ini, apakah sudah sesuai dengan ee dream kamu dan lain sebagainya. Atau bahkan di kita di Pahter juga ada sering kita main bareng. Setiap tahun itu kita upayakan ada dua kali main bareng. keluar dari kantor kita ke mana begitu kita bakaran, kita diskusi. Nah, itu untuk bagaimana kita biar engage dengan mereka. Jadi, ada diskusi ruang-ruang diskusi publik yang mereka itu bisa mencurahkan apa isi hatinya. Mereka bisa nyaman dengan perusahaan ini. Jadi memang kalau mau tim kita itu engage, kalau mau mereka bersatu, mereka ingin mengupayakan visi misi perusahaan ya mereka harus dekat dengan kita. Dan kemudian adalah yang kelima ini yang kami terapkan adalah sistem reward atau pencapaian yang adil. Jadi tidak melulu ee apa ya mereka dikasih beban yang kerja yang tinggi tapi mereka dikasih reward juga yang tinggi kalau benar-benar berefek. Jadi ada transparansi. Jadi kerjamu seperti ini, kita sedang menuju Dream yang ini, kerjamu bagus, kamu mendapatkan reward seperti ini. Contoh ya, contoh kecil di kita yang kita terapkan misal ini ternyata view-nya bagus, misal video yang kali ini view-nya bagus begitu ya. maka pasti ada akan ada reward bagi editornya, bagi kameramennya kalau yang dokumenter. Terus kemudian kalau ternyata bonusnya bagus ini atau pendapatannya bulan ini bagus, biasanya kita ada bagi-bagi emas gitu ya, 1 gram bagi satu orang tim yang kita ee kita gilir begitu ya. Dan itu kita lakukan dengan sering. Nah, dengan trust yang terbentuk bagi seorang tim kepada perusahaan ini sangat bagus sekali. trust mereka terhadap kita ini sangat kalau ini sudah kebentuk powerful banget gitu ya bahwasanya mereka tidak merasa sedang dieksploitasi tapi mereka diajak membersamai kita untuk membangun masa depan dengan perusahaan ini. Nah, ini kan keren kan? Jadi mereka atau kita bisa tumbuh bersama, kita bisa jalan bareng untuk mencapai visi atau dream yang kita canangkan bersama-sama. Oke, yang kedua. Sisi yang kedua adalah ketika kamu atau kamu sebagai kamu adalah seorang karyawan atau seorang tim yang kemudian terjebak dalam suasana quite quieting di perusahaan yang mungkin tidak seperti yang kalian inginkan. Apa yang harus kalian lakukan? Pertama adalah kamu harus jujur pada dirimu sendiri. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa yang sebenarnya kamu ingin cari? Coba kamu lebih ber lebih berdamai, berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Nah, ini memang fase-fase berat. Jadi, apakah akan tetap seperti ini ataukah kamu akan ingin melakukan hal-hal yang lain. Jadi, kamu pertama lakukanlah kamu bertanya pada dirimu sendiri. Yang kedua adalah coba bicara dengan atasanmu. Tentu atasan yang baik tidak mau timnya kehilangan semangat dan jangan dibiarkan lama-lama quating ini sebelum menjadi luka luka batin yang terlalu dalam. Yang ketiga adalah cari makna, bukan sekedar gaji. Jadi ketika kamu menerima, ketika kamu menerima perusahaan ini, maka cari makna yang lain selain gaji. Cari makna yang yang lebih dari sekedar gaji. Impactmu apa di perusahaan itu? Impact perusahaan ini terhadap terhadap apa produknya, terhadap masyarakat apa? Cari makna lain sehingga kamu menjadi lebih damai, sehingga kamu menjadi lebih bermakna di situ. Yang keempat adalah tetap jaga profesionalitas walaupun kamu lagi lesu. Jadi ee tetap sesuai jobd awal harus dilakukan walaupun kamu sebenarnya tidak cocok, sedang lesu ya, tapi harus tetap dilakukan. Kalau kamu terpaksa harus pindah, ya udah kamu resign dengan baik-baik. Ketika keluhanmu tidak didengar, ya sudah kamu merasa ingin pindah, ya sudah pindah dengan baik-baik. Jangan sampai masuknya baik-baik, keluarnya jadi tidak baik. Quite quating itu sunyi. Tim itu tidak bilang kalau dia sedang quite quitting. Tiba-tiba gitu aja, tidak ada pengumuman, tidak ada pemberitahuan. Tapi kalau kita peka sebagai bisnis owner, kita merasa tim kita sedang ada seperti itu, kita harus segera berbenah karena itu bahaya. Karena apa? Bagi kita apalagi masih UMKM, karena tim adalah aset yang luar biasa. Jadi kesuksesan kita tergantung bagaimana kita membina tim dengan baik. Kalau saya sendiri ya, apakah saya pro atau kontra terhadap quite quitting ini. Kalau saya seorang tim yang kemudian di-challenge kemudian dengan banyak pekerjaan, mungkin saya akan menerima di awal-awal juga. saya akan belajar, saya akan terchallenge. Tapi kalau lama-lama juga mungkin juga quite quitting. Jadi ketika saya memiliki ilmu yang saya dapat, kemudian saya sudah merasa mampu, maka saya akan mencari pekerjaan yang lebih baik di situ. Karena apa? Karena sebuah tim ini tidak sepatutnya untuk dieksploitasi berlebih gitu ya. Dipeksploitasi aja sudah salah, apalagi berlebih. Kalau kita seorang perusahaan atau kita seorang owner, tim ini adalah hal yang sangat riskan bagi seorang yang benar-benar berbisnis. Tidak hanya mencari profit yang mereka berbisnis. Adanya kan statement saya tidak mencari hanya profit, saya mencari surga dengan berbisnis. Pernah dengar seperti itu? Dan mungkin kita ingin mengupayakan seperti itu kan gitu. Mungkin nanti ketika di hari pembalasan gitu ya, kita tidak ditanya ya omset bisnismu berapa? Omset ee usahamu ini profitnya berapa? per bulan. Tapi ketika kita memperlakukan tim dengan tidak adil, maka kita ditanya teman-teman ya, kenapa kamu memperlakukan timmu seperti ini? Kita tidak hanya berhubungan secara bisnis to bisnis atau karyawan dengan bosnya, tapi ini juga habluminen nas gitu ya. Kalau kita diberi kesempatan untuk mengelola sebuah bisnis, maka buatlah peraturan yang baik, buatlah peraturan yang adil, yang transparan, dan lihatlah dia sebagai manusia. Bagi teman-teman yang punya pendapat lain ataupun merasa memiliki situasi yang sama entah sebagai bis owner atau sebagai tim yang hari ini quite quiting, coba tinggalkan komen di bawah kita berdiskusi. Ee walaupun tidak semuanya saya balas tapi semuanya dibaca oleh kami atau tim kami. Terima kasih. Sampai jumpa di next episode Detektif Bisnis atau teman-teman yang punya ide mau bahas detektif bisnis tentang apa, silakan tinggalkan di komentar. See you. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories