Transcript
tLMA2HfUH90 • Tinggalkan Karir Mentereng di Luar Negeri, Demi Riset 10.000 Tanaman Super Jamu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0545_tLMA2HfUH90.txt
Kind: captions
Language: id
Kita punya minyak urut itu yang luar
biasa. Kami telusuri ternyata itu mereka
pembuatannya itu merpati yang hidup.
Merpatinya ini hidup ya. Itu dipatahkan
kakinya kiri kanan dipatahkan kemudian
dibiarkan sembuh sendiri dan setelah
sembuh merpatinya itu diekstrak
minyaknya. Dan itu ketika digunakan
untuk obat patah tulang itu sangat cepat
penyembuhannya. Nah, itu kami telitik
kenapa kok bisa seperti itu. Ternyata
burung merpati itu ketika dipatahkan
kakinya dia akan memproduksi namanya
Grofactor. Jadi tulangnya itu penuh
dengan grofaktor untuk menyembuhkan
dirinya sendiri kan.
Jadi apa yang kita produksikan itu
adalah yang kita konsumsi sehari-hari.
Bahkan dulu waktu baru pertama Indo
Negeri berjalan gitu kan staf-staf kita
itu sampai tanya, "Mbak, kok enggak
pernah beli obat dari luar?"
sampai kemarin itu ayah saya itu stroke
juga mohon maaf untuk buang airnya
sampai enggak kerasa gitu kan.
Alhamdulillah menggunakan risetnya kita
sendiri, kita membuat produk kita
sendiri, kita terapi pakai itu.
Alhamdulillah sekarang sudah bisa naik
motor listrik ke mana-mana.
Saya memang bidangnya itu banyak ke
bioteknologi, kemudian mikrobiologi.
Jadi produk-produk turunan dari
bioteknologi tersebut ee salah satunya
bioenergi ya. J saya ee memang pernah
diundang sama Najwa Syihab di acaranya
itu dan saya diprediksi sama tempo itu
sebagai e 10 tokoh pemuda Indonesia yang
diprediksi bahkan memberikan kontribusi
positif untuk Indonesia di tahun 2045 di
100 tahun Indonesia di bidang energi
karena salah satu peneliti energi yang
berpengaruh di Indonesia alhamdulillah
kami ya terutama masalah energi
terbarukan Ya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya
Sulfahri. Saya adalah staf ahli bidang
penelitian di Indonesia Green Innovation
dan beliau adalah direktur Indonesia
Green Innovation sekaligus istri saya di
saya merupakan staf beliau. lahir tahun
berapa? 2020. Beliau ini latar
belakangnya kan sebagai dosen dan memang
kami dari SMA punya ketertarikan di
bidang penelitian. Waktu beliau menjadi
dosen itu banyak karya-karya yang
dihasilkan dalam bentuk green produk.
Jadi green produknya itu ada green
farming yang pupuk, pestisida semuanya
organik dan juga ada produk-produk
herbal. Dan semuanya itu melalui riset
yang dilakukan oleh beliau. Jadi, beliau
memiliki produk-produk organik
berdasarkan riset ilmiah yang sesuai
dengan kajian-kajian jurnal
internasional begitu ya. Waktu itu kita
lagi tinggal di Australia waktu itu ya,
Pak. Beliau Posd dan saya riset juga di
sana. Beliau mau pulang karena jatah
POD-nya sudah habis. Dan waktu itu saya
dapat tawaran dari supervisor untuk
menetap di sana dan jadi bagian dari
peneliti di negara bagian Victoria.
Suami saya mendukung waktu itu. Saya
kepikiran sebagai seorang ibu kan sudah
punya anak satu gitu ya tahun 2019
akhir. Jadi waktu itu suami saya sangat
mendukung ya udah lanjutkan aja karir di
sini. Saya bereskan dulu administrasi
dan lain-lain yang ada di Indonesia.
Nanti kita sama-sama di sini waktu itu
di RMIT kita kalau suami kan beliau ASN
jadi dosen. Kalau saya peneliti
independen karena memang beliau dari
awal kalau mau berkarya sebagai istri,
sebagai ibu silakan saya dukung tapi
enggak usah yang sampai terikat begitu.
Takutnya nanti anak juga agak susah
kehandle karena anak kita cukup spesial
ya. E termasuk kategori spesial karena
IQ-nya di atas rata-rata. Jadi
pengendaliannya agak susah, Mas. Nah,
waktu saya memegang anak saya yang
pertama itu sambil mendampingi suami
waktu itu menyelesaikan studinya, saya
ikut jadi member Natural School of Skin
Care yang ada di Boston itu sejak 2013
sampai sekarang. Biasanya mereka kan
kumpul antar formulator gitu. Jadi kita
sering sharing-sharing, sharing-sharing
formula. Total di sini ada 52 produk
semuanya. Iya, murid dari kami. Tapi
biasanya ada perusahaan juga yang
merequest mau produk yang seperti ini
tapi ditambahkan kelebihan yang seperti
ini. Bisa enggak dibantu untuk risetkan?
Jadi kami yang membantu merisetkan.
Awalnya kami memang meneliti. Jadi
perusahaan ini dulu awalnya memang untuk
meneliti apa-apa yang kira-kira
dibutuhkan masyarakat. Jadi kami kurang
nyaman bahwa hasil-hasil penelitian
dosen di Indonesia itu luar biasa, tapi
justru hanya ditumpuk di perpustakaan
dan tidak dimanfaatkan. Nah, alangkah
baiknya bagaimana hasil penelitian itu
kita jembatani agar bisa dimanfaatkan
untuk masyarakat UAS. Kalau saya lebih
ke konsep manajerial, kemudian
formulasi. Dari awal memang saya asisten
beliau untuk bagian formulasi. Jadi,
kita saling bertukar pendapat tapi tetap
beliau main formulatornya. Saya juga
bantu karena bidang keilmuan kita sama.
sama-sama di bidang bioteknologi.
Kemudian manajerial pun sama kita jalan
bersama tetap suami yang backing hitam
di atas putih memang saya direkturnya
tapi ya dengan segala keterbatasan
sebagai ibu rumah tangga yang sebagai
main job saya gitu ya, suami saya tetap
yang backing.
waktu itu kita bertumbuh ya mulai dari
kita itu basicnya memang meneliti aja.
Kemudian waktu itu titik orang-orang
benar-benar mengenal kita sebagai Indo
Negeri waktu itu adalah waktu ada wabah
COVID. Waktu wabah COVID itu sebenarnya
kita kan sudah pulang dari Australia
sudah pulang. Kemudian waktu itu sudah
ketemu sama beberapa teman ini yang lama
enggak ketemu. Biasa kan pesan produk
yang kita bikin sekalian ee bikin yang
banyak, Mas. Mbak, aku pengin gitu kan.
Ya udah kita kumpul-kumpul sekalian kita
mau pamit lagi. Kita itu mau ke Hubey ya
waktu itu karena Pak Fari mau
melanjutkan pos doknya ke sana ke Hubei
University di Wuhan. Nah, waktu itu di
TV itu sudah ramai tuh COVID di sana
sudah sangat keos banget gitu ya. Ya
udah kita karena mau ke sana ya Mas
Fahri menyampaikan ayo kita formulasi
buat kita bisa berangkat ke sana kita
enggak was-was lagi karena di sana
kayaknya rempah-rempah agak susah deh.
Karena kita kan basicnya kalau obat-obat
herbal apa itu memang dari
rempah-rempah. kita punya prinsip apa
yang menjadi makananmu itu obatmu. Ya
udah akhirnya kita formulasi untuk anti
Covid itu teman-teman juga gitu tinggali
kita apa namanya produknya jangan sampai
nanti Mbak Ika sama Mas Fari udah jauh
susah kan seperti itu. Ternyata wabah
Covid itu semakin lama semakin meluas
itunya kita sampai lockdown dan
lain-lain gitu. Banyak teman-teman ada
juga yang sampai kena ya kena COVID-nya
sampai saturasinya itu rendah banget.
Waktu itu ada yang sampai saturasi 56 56
itu alhamdulillah kok cocok pakai herbal
dari kita gitu. Masih hidup sampai
sekarang. Sampai sekarang itu beliau
pensiunan BI. Iya. Pensiunan BI Bank
Indonesia. Bank Indonesia. Salah satu
member kita. maksudnya itu beliau
termasuk penasihat kita juga karena
beliau sudah agak sepuh ya. Nah, dari
situ produk-produk kita mulai dikenal.
Itu luar biasanya rempah-rempah yang ada
di Indonesia. Ee untuk menemukan herbal
ini, kita itu sampai screening 10.000
tanaman herbal berkhasiat yang ada di
Indonesia untuk memilih mana yang
terbaik. Kemarin kan peneliti dari
Thailand bilang yang paling bagus itu
ada namanya kloroin. Itu yang paling
bagus katanya. Kemudian ya udah kita
coba pakai colorin. Kemudian ada lagi
ilmuwan yang bilang dari Taiwan yang
paling bagus itu sambil loto. Ya udah
kita coba pakai sambilo. Kemudian kita
screening lagi 10.000 tanaman itu kita
combine mana yang paling bagus antara
10.000 tanaman ini plus Sambiloto plus
chlorokin yang diklaim e oleh lemuan
tersebut kami petahkan. Itu pakai
teknologi bioinformatika ya. Jadi
namanya insilo. Cara cepat untuk
mensimulasi antara virus ini dengan
senyawa aktif yang ada pada herbal itu
kami simulasi itu sampai cukup cepat ya
3 bulan lah kurang lebih itu kami
menemukan bahwa dari 10.000 awalnya ke
19 tanaman. Ben dari 19 tanaman itu kami
seleksi lagi menjadi tujuh tanaman yang
kami racik yang terbaik untuk melawan
virus dan memang terbukti secara ilmiah
sampai kami dipanggil dari tim satgas
COVID ya dari pemerintah pusat ini untuk
ee membantu penanganan COVID secara
nasional dan herbalnya ini kemarin kami
distribusikan selama COVID ini lebih
dari 1 juta botol. Kami bisa klaim bahwa
lebih dari 1 juta nyawa yang kami bantu
untuk diselamatkan dari COVID ini. Itu
luar biasanya. Alhamdulillah. Jadi ada
beberapa herbal yang memang harus
didatangkan di pulau-pulau tertentu di
Indonesia. Jadi tidak ada di Pulau Jawa,
hanya ada di Pulau Selayar. Ya, memang
dia tumbuhnya banyak. Pulau Selayar itu
adalah salah satu pulau di Sulawesi
Selatan dan dia memang tumbuhnya di
situ. Jadi, suatu tanaman yang hanya
bisa ditumbuh di tempat tertentu disebut
dengan endemik. Jadi, hanya bisa tumbuh
di situ. Itu kami datangkan dari sana
karena memang khasiatnya luar biasa
sebagai antivirus. Ada juga yang ambil
dari teman-teman dari peneliti dari
Maluku Utara itu ada juga herbal dari
sana.
Iya, karena Indoegeri ini bertumbuh ya,
jadi waktu itu sarana dan prasarananya
belum terlalu mumpuni. Itu belum e
memenuhi kaidah BPOM. Beda case dengan
COVID. Karena waktu COVID itu pemerintah
men-support betul siapa masyarakat,
peneliti dan lain-lain itu didorong.
Untuk legalitas belum terlalu
diperketat. Tapi ketika wabah COVID ini
sudah selesai, kita kembali ke TRK. Jadi
ketika kembali ke TRK, kita tidak bisa
mengedarkan obat herbal ataupun
produk-produk lain yang belum berizin ke
masyarakat. Oleh karena itu, beberapa
teman juga yang tergabung di Indoegeri
kan juga merupakan pengusaha yang
sebelumnya juga sudah mengetahui profil
kami. Begitu. Dari situ kita membuat
bahwa Indoegeri ini ee belum bisa kalau
misalnya langsung membuat produk sendiri
gitu. Jadi kita memberikan pelayanan
jasa penelitian kepada
pengusaha-pengusaha yang kira-kira punya
visi dan misi sama dengan kita. Jadi
janganlah pengusaha itu karena dalam
kutip asal banyak uang ayolah gitu kan.
Kita tetap kalau bisa pada TRK green
produk. Green produk yang kira-kira
memang dalam jangka panjang bermanfaat
untuk kesehatan maupun lingkungan. Jadi
kita biasanya menerima konsultasi dari
perusahaan-perusahaan pengin produk yang
seperti ini. Nanti kita bantu Mas Fahri
yang jadi ketua tim untuk projjectnya
gitu. Kadang kita jual produk itu rugi
karena memang kita lihat masyarakat
sangat membutuhkan butuh. Jadi
keuntungannya disupport dari produk lain
yang tidak terlalu dibutuhkan masyarakat
baru kita ambil margin yang besar. Tapi
kalau benar-benar di masyarakat itu
sampai rugi. Ini kita bisa sampai
miliaran kalau bisa sampai ruginya. 1
juta botol kemarin kalau dibilang itu
sangat murah kemarin sangat murah. Iya
dari Indonegeri waktu itu kan memang
bentukannya komunitas ya. Jadi
teman-teman itu ya udahlah buat galangan
donasi enggak cuma Mas Fahri sama Mbak
Ika aja ini yang jalan. Kita bantu Mas
Fari sama Mbak Ika untuk menyediakan
produknya, bahannya, apanya dan
lain-lain. Jangankan kok ambil margin
istilahnya kalau di perusahaan gaji
sebagai peneliti pun ya udah enggak ada.
itu sebenarnya karena memang kami itu
mulai dari SMA sampai kami S3 itu memang
sudah dibiayai sama pemerintah. Jadi
saya dulu SMA itu sudah dapat biaya dari
pemerintah. Kemudian pada saat SMA ikut
lomba, pada saat itu mewakili Indonesia
alhamdulillah ke India. Nah, pada saat
itu dapat medali. Mendali Perak pada
saat itu. Nah, pada saat pulang itu
dipanggil sama Presiden saat itu Pak
Susilo Bambang Yudoyono pulang ke
Indonesia ke Istana Negara. Kemudian
diperkenankan e diberi beasiswa mulai
dari S1, S2, S3 dan di semua program
tinggi bebas memilih diperuntukkan
sesuai dengan beasiswa yang tersedia
pada saat itu. Masalah green farming
hanya bebas memilih kan. Saya memilih S1
di ITS pada saat itu, ITS Surabaya,
kemudian Universitas Airlangga, kemudian
di Universitas Negeri Malang, kemudian
lanjut di Australia lagi. Nah, itu semua
dari pemerintah. Artinya kan uang dari
rakyat nih, hasil rakyat ini harus
kembali juga ke rakyat ya, masyarakat
Indonesia agar bisa dinikmati.
Sebenarnya prinsipnya seperti itu.
Beliau juga seperti itu. S1 dapat dari
pemerintah dan ada juga dari swasta ya.
Dia dapat beasiswa doble malah S1-nya.
dari pemerintah dapat, dari swasta
dapat, kemudian dari S2-nya pemerintah,
kemudian S3-nya dari pemerintah
Australia bahkan. Ya udah ini kembali ke
masyarakat lagi.
[Musik]
Saya memang bidangnya itu banyak ke
bioteknologi, kemudian mikrobiologi.
Jadi produk-produk turunan dari
bioteknologi tersebut ee salah satunya
bioenergi ya. J saya ee memang pernah
diundang sama Najwa Syihab di acaranya
itu dan saya diprediksi sama tempo itu
sebagai ee 10 tokoh pemuda Indonesia
yang diprediksi bahkan memberikan
kontribusi positif untuk Indonesia di
tahun 2045 di 100 tahun Indonesia di
bidang energi karena salah satu peneliti
energi yang berpengaruh di Indonesia
alhamdulillah kami ya terutama masalah
energi terbarukan ya kayak bioetanol
seperti itu biogas. Nah, beliau ini ke
ahli biogasnya. Kemarin di Australia pun
biogas dari kotoran ayam ya kemarin ya
industri. Kalau saya memang ahli di
bioetanol. Jadi kami produksi bahan
bakar itu dari rumput laut. Kalau di
Australia miliar mesti per tahunnya ya.
Jadi kan di sana gajian itu kalau
dihitungnya kan beda sama Indonesia per
bulan. Bayangkan di Indonesia 1 jamnya
di sana sangat jauhlah perbandingannya
ya. R miliar dibanding Indonesia. Paling
ya peneliti itu kurang lebih deh 10
sampai 20 juta lah. Itu yang udah top
banget ya. Saya pun sebenarnya merupakan
staf peneliti di Australia. Jadi saya
selain staf peneliti di Indonesia, saya
juga merupakan staf peneliti di
Australia di Australia Indonesia Center.
Memang penelitian kami selalu didanai
sama peneliti Australia itu meneliti
bagaimana rumput laut yang ada di
Indonesia itu dikembangkan menjadi
energi terbarukan. Itu
penelitian-penelitian kami yang unggul
tapi dipakai oleh peneliti Australia.
Jadi bukan kami, kami enggak boleh
mengkomersialisasi itu memang haknya
penut Australia. Tapi kalau misalnya
yang kami kembangkan sendiri itu
merupakan anti Covid kemarin. Iya
bestellernya sama pupuk juga kami pupuk
pupuk organik itu untuk sawit itu juga
terjual jutaan ya sampai sekarang itu
per bulannya bisa sampai 1 juta saset 1
bulan itu yang pupu organik tersebut ya
memang untuk sawit. Jadi sawit jantan
pun itu bisa jadi berbuah ketika
menggunakan bubu itu. Dia sebenarnya
pembenah tanah. Jadi di Indonesia itu
tanahnya hanya bisa dipakai hingga
beberapa tahun lagi. Setelah itu tanah
di Indonesia sudah enggak bisa dipakai.
Kenapa? Karena over pupuk. Jadi terlalu
jenuh, terlalu banyak pupuk kimia
sehingga tanahnya itu menjadi kering.
Tidak bisa lagi nutrisi tersebut
dideliver ke tanaman. Sudah jenuh.
Akhirnya kami membuat pupuk bagaimana
caranya mengembalikan tanah lagi seperti
ratusan tahun yang lalu. Nah, itu yang
kami kembangkan dan itu larut sekali ya
bahan bakunya dari mikroorganisme
mikroorganisme lokal yang ada di
Indonesia. Jadi kami seleksi ya kita
isolat di laboratorium kita itu
penelitiannya memang sudah dari 2017 ya.
Awalnya memang
2012 setelah kita menikah memang
penelitian kita yang ke arah komersial
produk itu pertama itu ya pupuk itu.
Iya. Jadi sudah 13 tahun kita
penelitiannya itu sehingga memang
alhamdulillah bisa dan terus terus kita
upgrade kita upgrade selama 13 tahun.
Jadi memang benar-benar sudah matanglah
produknya.
[Musik]
Karena kita peneliti itu kan sifatnya
penelitian itu dinamis ya, Mas ya. Jadi
kalau kita itu riset, maksudnya baca
hasil riset 1 hari itu ada berapa
penemuan terbaru itu sudah. Jadi kita
itu harus benar-benar up to date ini ada
penemuan terbaru apa. Jangan sampai kita
itu hanya sebagai penonton aja. Banyak
kan biasanya kalau sudah dari jurnal
perusahaan besar menghubungi penelitinya
untuk diajak kerja sama memformulasi
kemudian penelitinya nanti dikasih
royalti itu kok butuh proses yang sangat
panjang dan lama. Kemudian nyampai ke
masyarakat itu juga dengan harga yang
tentunya mahal. Iya. Jadi tidak semua
lapisan masyarakat itu bisa menjangkau.
Dengan kualitas yang sama, harapan kita,
kita bisa menjangkau produk yang kita
hasilkan, bisa menjangkau kelapisan
masyarakat lebih sampai ke menengah,
menengah ke bawah bisa sampai terjangkau
di situ. Standar dari pemerintah itu
tidak boleh lebih dari 6%. Jadi,
misalnya N-nya, P-nya, K-nya itu tidak
boleh lebih dari 6% itu dianggap
organik. Jadi misalnya NPK-nya itu kami
peroleh dari bebatuan, kotoran
kelelawar, kemudian kotoran cacing kami
formulasi sedemikian rupa. Kemudian kami
tambahkan mikroorganisme lokal yang kami
peroleh dari bermacam-macam. Ada dari
akar bambu, kemudian kami dari
tanah-tanah yang memang sangat subur itu
kami olah sedemikian rupa sehingga
menjadi pupuk yang banyak dicari orang.
Sekarang kalau di bidang pupuk
alhamdulillah kita sudah ada izin edar
deptannya. Kalau untuk mengedarkan
sendiri, kita saat ini retailing untuk
pupuk belum belum retailing untuk pupuk.
Jadi untuk komersialisasi pupuk itu
masih B2B. Kami menjalin kerja sama
dengan perusahaan, salah satu perusahaan
yang ada di Pekanbaru. Dari situ itu
yang mendistribusikan harga mahal atau
tidak itu kan relatif ya, Mas ya, di
masyarakat. Tapi kita tetap jadi ada
beberapa periode tertentu kita melakukan
kegiatan sosial tetap seperti itu. Jadi
ada keuntungan yang kita sisihkan untuk
kegiatan sosial. Meskipun perusahaan
kita belum termasuk perusahaan besar
yang kita diwajibkan untuk CSR. Kita kan
enggak ada kewajiban seperti itu. Karena
memang perusahaan kita masih perusahaan
yang masih terus bertumbuh gitu kan ya.
Tapi produk kami kalau misalnya mau
dihitung secara rupiah itu memang murah.
Murah. Misalnya ya, ada sebuah produk
kami pupuk saset. Satu sasetnya itu
setara dengan 30 L pupuk cair. Jadi kami
mengompres 30 L pupuk cair ke satu saset
20 gr. Kami jualan pupuk cair mau
mengirim 30 L itu ongkos kirimnya lebih
mahal dibanding pupuknya. Akhirnya kami
ngompres ya kan dari cair itu ke saset.
Jadi kalau yang saset itu kami jual
misalnya Rp100.000 harusnya kan itu
harga Rp3 juta kan. Nah, itu bisa kami
kompres itu. Itulah bioteknologi. Jadi,
kami di sini perkuat di bioteknologi
yang bagaimana 30 L itu dirubah menjadi
20 gr dengan biaya yang murah. Kalau di
perusahaan pun itu pasti biayanya mahal.
Kenapa? Karena harga untuk memproses
dari 30 L ke 20 gr itu ongkosnya mahal.
Nah, kami di sini karena peralatan
sendiri yang kami desain sedemikian rupa
dengan teknologi yang kami kembangkan
sendiri itu bisa jauh lebih murah
dibandingkan perusahaan tersebut. Jadi
bahkan satu saset itu bisa untuk 1
hektar. Satu saset 20 gram untuk 1
hektar bisa. Itulah yang butuh 14 tahun
untuk meneliti iya butuh memang belasan
tahun Mas. Kemudian kalau waktu itu cair
kita juga resiko di perjalanan biasanya
bocor tumpah gitu.
[Musik]
Nah, kendala kita sebagai peneliti apa
ya? Keterbatasan waktu, keterbatasan
sarana prasarana. Karena untuk
menjadikan hasil karya itu menjadi
sebuah produk itu butuh usaha lebih.
Jadi kita ingin bahwa Indoegeri ini
menjadi wadah bagi para peneliti,
kemudian bagi masyarakat juga saling
bahu-membahu. Bagaimana agar hasil karya
ini bisa sampai ke masyarakat. Dosen ini
sebenarnya bebannya itu kan sangat
banyak ya. beban mengajar, beban
meneliti, beban mengabdi. Untuk memenuhi
itu ada yang namanya BKD begitu ya,
pengajaran harus sekian. Seolah-olah
rekan yang lain gitu merasa bahwa enak
ya jadi Pak Fahri bisa berkarya sekarang
sudah kaya begitu kan. Di sisi lain saya
yang tahu betul bahwa beliau itu punya
tanggung jawab yang lebih luar biasa
pengaturan jadwalnya. Jadi beliau tetap
mengajar secara online. Kemudian karena
kebijakan yang sudah disusun oleh
institusi itu kan sudah ada rules-nya
ya. Jadi kita itu untuk mau keluar dari
zona yang sudah dipakemkan oleh dosen.
Kalau misalnya kita mau berkarya itu
enggak cukup waktu Mas. kayak Pak Fahri
ini dituntut untuk mengajar sekian SKS
kemudian mengabdi, mengabdi mengi. Nah,
akhirnya ranah yang untuk peneliti ini
mengekspresikan
hasil karyanya agar karya ini sampai ke
masyarakat itu bisa dihitung jari. Harus
ada orang yang berani berkorban. Dan
saya itu melihat beliau, beliau yang
berkorban. Ya sudahlah. Kadang beliau
jatuh mengajarnya itu dipangkas habis
karena beliau itu dipikir jarang hadir
atau apa. Tapi alhamdulillahnya seperti
rektor dari institusi beliau itu sangat
mengapresiasi.
Lebih enak sebagai pegiat lingkungan.
Tapi tetap saya juga harus mendeliver
ilmu-ilmu ke mahasiswa. Ya, saya tidak
boleh meninggalkan bagian mengajar
karena memang ada banyak hal yang harus
disampaikan memang ke mahasiswa. Tidak
boleh hanya membaca atau melalui I.
Harus memang kita sampaikan langsung ke
mahasiswa. Budaya tentang herbal
Nusantara kita, budaya pertanian kita
itu sudah mulai ditinggalkan. Padahal
itu adalah sangat penting untuk
kesehatan kita maupun keberlangsungan
pertanian di Indonesia. Nah, itu yang
kami deliver. Di dunia penelitian pun
banyak hal-hal yang palsu. Sebenarnya
kita diajarin hal padahal hal tersebut
salah. Makanya Mark Twine bilang yang
berbahaya itu bukan hal yang baru. Namun
yang berbahaya adalah hal lama yang
sudah kita ketahui, kita anggap benar
dan ternyata itu salah. Nah, itu yang
kami terus perbaharui. Misalnya
dikatakan bahwa menyambung tadi
Klorokuin lah yang terbaik, Sambil
Lotolah yang terbaik. Kan masing-masing
negara mengklaim kan. Padahal di
Indonesia itulah yang terbaik adalah di
Indonesia tapi harus dikombinasikan.
Pernah enggak berpikir di Indonesia itu
tidak ada budaya minum jus tomat. Yang
ada adalah sambal tomat. Sambal tomat
itu warisan budaya dari leluhur kita.
Tapi orang-orang sekarang marah
ramai-raminya minum jus tomat. Padahal
tahu enggak bahwa tomat itu kaya akan
kandungan likopen. Likopen. Likopen itu
tidak bisa larut dalam air. Jadi kalau
kita kasih tomat sama air kemudian kita
jus. Kita minum tomat itu percuma
likopennya enggak bisa diserap. Tapi
coba nenek moyang kita bikin sambal itu
kan tomatnya digoreng terlebih dahulu
dicampur dengan minyak. Akhirnya likopen
yang ada pada tomat itu larut ke dalam
minyak. Nah, itu baru kita konsumsi
dalam bentuk sambal. Itu luar biasanya
kebudayaan kita dan itu sudah kita
tinggalkan. Nah, seperti-seperti itu
yang banyak ditinggalkan. Misalnya lagi
saya kasih contoh jamu beras kencur.
Jamu beras kencur itu kan dikombinasi
antara beras dan kencur. Padahal kan
ngapain kok dikombinasi sama beras?
Padahal kan pagi kita makan beras ya kan
dalam bentuk nasi. Siang makan nasi,
malam makan nasi. Kenapa kok kencur ini
dikombinasi lagi sama beras? Pernah
enggak kita berpikir itu? Padahal nenek
moyang kita sangat canggih di kencur itu
kayak akan kurkumin ya. Kurkumin ini
akan terbantu penyerapannya ke dalam
tubuh ketika dibantu sama vitamin B6.
Jadi kurkumin bergabung sama vitamin B6
itu penyerapannya luar biasa ke dalam
tubuh. Nah, vitamin B6 itu banyak
terdapat di air beras. Berarti beras
ditambah dengan kencur itu adalah super
jamu yang luar biasa. Sebenarnya nenek
mo yang kita tahu dari ratusan tahun
yang lalu kita sekarang sudah
meninggalkan tersebut. Itulah yang kami
harus deliver kepada mahasiswa. Bukan
hanya dalam bentuk produk. Produk bisa
dinikmati tapi mahasiswa juga harus
banyak yang tahu biar kita punya banyak
bibit-bibit penerus untuk ke depan.
Seperti itu sebenarnya kunyit asem.
Kunyit itu kayak akan kandungan kurkumin
juga. Kurkumin itu juga bisa dibantu
penyerapan tubuh ketika dibantu sama
vitamin C. Vitamin C itu banyak didapat
di yang asem. Makanya nenek moyang kita
mengkombinasikan kunyit asem. Nah, itu
luar biasa sebenarnya mereka itu. Kita
sebenarnya cuma mengkaji apa-apa yang
luar biasa yang telah dilakukan oleh
nenek moyang kita itu kita kembangkan
dalam bentuk bioteknologi untuk kita
sebarlaskan. misinya itu sebenarnya
mengembalikan kejayaan Indonesia lagi.
Jadi termasuk tanahnya kan tanahnya kita
mau kembalikan ke ratusan tahun yang
lalu seperti di zaman Majapahit.
Kemudian kesehatannya orang itu mau kita
kembalikan ke zaman yang lalu ke
Majapahit karena minuman-minuman mereka
memang diramu dengan sangat luar biasa.
Ketika kesehatan kita setara dengan
orang-orang Majapahit, tanah kita
suburnya setara dengan pada saat
kerajaan Majapahit itu insyaallah
Indonesia akan maju. Karena sekarang
sudah enggak bisa ditanam nih. Tanaman
kita itu kalau enggak dikasih pupuk itu
tanamannya enggak bisa tumbuh. Serius?
Ataupun tumbuh itu malah rugi. Lebih
banyak biaya operasionalnya lah. Manusia
itu harus punya amalan andalan. Jadi
kamu bisa andalanmu di mana? Puasamu
kah? Andalan salatmu kah? Bisa enggak
kamu menjaga salat lima waktu di masjid
selama 40 tahun? Bisa enggak? Mampu
enggak? Atau salat tahajudmu
terus-menerus? Nah, mungkin salah satu
amal yang mau kami jadikan amal andalan
adalah seperti ini. Produk-produk yang
bisa dinikmati masyarakat yang memang
bagus untuk bumi. Kami sebutnya sebagai
sedekah bumi. Jadi, pupuk yang kami
masukkan ke tanah itu adalah sedekah
untuk bumi.
[Musik]
Yang pertama tetap anak-anak ya. Kalau
suami, suami ya tetap men-support. Jadi
anak saya ini kebetulan homeschooling,
jadi kita sendiri yang pegang. Tetap
saya dampingi, tapi kalau ada
keputusan-keputusan penting tetap beliau
juga. Begitu. Kemudian karena saya
banyak urusan domestik gitu ya, makanya
tempat produksi kita ya udah seberangan
aja sama rumah kan tinggal melangkah aja
tinggal ke belakang. Udah ada rumah
produksi kita di sini. Alhamdulillah
saat ini anak saya juga sudah mulai
membangun komunitas sendiri karena dia
itu masuk kelas sekolah internasional
dengan kemampuan bahasa Inggris yang di
atas rata-rata temannya. Bahkan sekarang
juga alhamdulillah kalau di event-event
dia sering diir ke mahasiswa-mahasiswa
begitu. Jadi dia mengumpulkan
teman-teman yang ingin belajar bahasa
Inggris bersama kayak begitu. dia sudah
mulai baru mulai tapi sudah mulai tumbuh
seperti itu. Kadang banyak hal-hal yang
kita temui itu secara kebetulan ya. Tapi
kembali lagi kita sandarkan kepada kitab
Al-Qur'annya. Benar enggak kita disuruh
makan seperti ini? Benar enggak kita
disuruh minum seperti ini? Misalnya
kemarin Bu Mim probiotik. Kenapa sih
kita harus minum probiotik? Benar enggak
probiotik itu harus dikonsumsi setiap
manusia? Kita kaji di agama itu seperti
apa? Nabi pernah enggak minum probiotik?
Nah, ternyata pernah. bahwa suatu ketika
Nabi menanyakan lauk apa yang ada di
dapur, di meja makan. Terus diberitahu
bahwa cuma ada roti dan cuka. Terus Nabi
mengatakan bahwa cuka adalah laut
terbaik atau laut terbaik adalah cuka.
Ada apa sebenarnya dengan cuka? Kan?
Nah, ternyata cuka itu adalah probiotik.
Nah, beda sama cuka kita zaman sekarang
ya. Cuma zaman sekarang itu sudah
berbeda di zaman cuka yang ada di zaman
Nabi. Nah, kami ini menghidupkan kembali
cuka yang ada pada zaman Nabi. Jadi,
menghidupkan sunah yang sudah
ditinggalkan. Kemudian kembali lagi
misalnya Nabi sebelum makan itu selalu
makan garam dulu ya. Dicelupkan terus
makan garam. Kenapa? Ternyata garam itu
mengandung 83 mineral. Terus kami cek
benar enggak harusnya garam di Indonesia
itu mengandung 83 mineral. Ternyata
enggak sampai 10 segaram kita
mineralnya. Berarti setiap kali makan
kita kehilangan 73 mineral. Enggak dong
kalau maksimal mineralnya 10 ya. Nah itu
kami teliti sedemikian dalam. Ternyata
proses pembuatan garam di Indonesia itu
garamnya itu air laut direbus dengan
suhu yang sangat tinggi. Karena direbus
dengan suhu yang sangat tinggi,
mineralnya sebagian besar rusak. Makanya
kami merekomendasikan kalau menggunakan
garam-garam yang ditambang karena itu
mineralnya masih utuh tanpa melalui
proses pemanasan ataupun garam yang
dikelola secara tradisional tidak
melalui pemasakan hanya di dengan sinar
matahari. Dijemur menggunakan sinar
matahari suhunya enggak ekstrem sehingga
mineralnya tetap terjaga. Selain dari
Al-Qur'an, jadi dari kebiasaan kami
sehari-hari. Kemarin banyak sekali kita
belajar di Australia ya. Di Australia
itu Mas itu sulit sekali mendapatkan
rice cooker yang ada penghangatnya. Jadi
rice cooker di sana itu sekali pakai
hanya dipakai untuk memasak, hanya untuk
cook. Warumnya enggak ada di semua
toko-toko di Australia itu enggak ada.
Kami teliti, kenapa kok di Australia
punya kebijakan enggak boleh
mengeluarkan dress cooker yang ada
penghangatnya ya atau dibatasi. Ternyata
nasi itu kebanyakan kita kena diabetes
itu karena konsumsi nasi kan nasinya
berlebih. Kenapa? Karena nasinya
dihangatkan. Jadi nasi itu ternyata
mengandung insulin. Jadi nasi itu kan
diolah menjadi gula. Gula mampu diserap
ke dalam darah itu karena insulin. Nah
ternyata nasi itu sudah mengandung
insulin sebenarnya tapi insulinnya rusak
ketika dipanaskan berlebih. Jadi kalau
dimasak satu kali aja selesai dimasak
selesai itu insulinnya masih tinggi.
Tapi ketika dihangatkan secara lama itu
insulinnya sudah mulai berkurang atau
bahkan hilang. Makanya di Australia itu
tidak ada penghangat karena mereka tahu
itu. Nah, dari situlah kami mengadakan
bagaimana kalau ini kan pemerintah sulit
untuk kita intervensi jangan produksi
ini dan itu. Bagaimana kalau kita
menciptakan sebuah herbal yang kaya akan
hormon insulin secara alami dari
tumbuh-tumbuhan? ya sudah kami cari
herbal-herbal yang kaya akan hormon
insulin atau dapat memicu untuk produksi
insulin atau membenarkan pankreas yang
sudah mulai rusak. Nah, itu yang kami
upayakan cari solusinya. Jadi, solusi
cepat yang kira-kira e tanpa
mengintervensi e pemerintah tetapi
efektif untuk digunakan di masyarakat.
Semua orang itu unik dengan caranya
masing-masing, dengan hobinya
masing-masing. Sedangkan saya dan suami
saya memang hobi kita itu ya udah kalau
ada apa kita selalu apa sih ini, apa sih
kandungannya, apa ini? Dari hobi ini
bagaimana sih kita itu bisa
berkontribusi? Konon katanya maksimalkan
apa yang menjadi passionmu. Jadi dari
passion itu kita sederhanakan untuk
teman-teman yang menganggap bahwa ini
ribet banget. Kita bahasakan dengan
sederhana. Kita buatkan produk yang
menarik untuk dikonsumsi itu seperti
apa. Kemudian kita berikan edukasi yang
lebih sederhana. Karena kalau di
perguruan tinggi, kalangan mahasiswa itu
biasa menggunakan bahasa-bahasa tingkat
tinggi. Jadi kalau di Indonegeri kita
bersama teman-teman lebih membahasakan
secara umum bagaimana agar teman-teman
yang lain itu bisa mendapatkan transfer
ilmu. Jadi memang by riset ya kami ya.
Bahkan di olahraga pun saya riset. Jadi
misalnya olahraga, apa sih yang paling
cocok misalnya buat manusia itu yang
paling bagus sebenarnya apa sebenarnya
kan ternyata memanah. Jadi saya rajin
memanah tuh di atas itu ada lapangan
memanah. Lapangan memanah ternyata
memanah. Kenapa? Karena kita melatih
fokus. Jadi manusia itu harus fokus
kepada satu tujuan. Kalau mana kan satu
sasaran akhirnya kita terlatih untuk
fokus tidak mencle-mencle tidak tergoda
ke kanan ke kiri. Jadi kita fokus
terhadap apa yang ingin kita capai itu
memana. Jadi selain melatih otot-otot
kita, kemudian berjalan. Jadi kegiatan
memanah itu banyak berjalan ya, menarik
sasaran, menarik anak panahnya. Kemudian
berkuda. Kami punya peternakan kuda.
Jadi punya stabel itu di Tuban itu di
Tuban itu lambangnya kuda. Tapi di sana
tidak ada stabel besar ya. Jadi tidak
ada peternakan kuda yang benar-benar
maju di sana. Akhirnya kami bikin
peternakan kuda di Tuban ini yang
kudanya kuda-kuda pilihan kami sendiri
yang benar-benar top. Nanti insyaallah
baguslah untuk membanggakan Indonesia
nanti di dunia pacuan. Jadi kami
memadukan antara berkuda. Kalau kami di
Tuban kami berkuda kalau di sini
memanah. Kadang-kadang kami juga berkuda
sambil memanah. Nah itu pun kami riset
bahwa memang kuda itu bagus untuk
kesehatan. Jadi misalnya untuk
tipoterapi. Jadi bersentuhan antara
kulit manusia dengan kulitnya kuda itu
panas yang dihasilkan oleh kuda pada
panas tubuhnya kuda itu bisa merangsang
sistem saraf di tubuh kita bisa menjadi
lebih bagus. Kemudian gerakannya kuda
itu bisa memperbaiki postur tubuh kita,
memperbaiki sistem-sistem saraf kita
menjadi lebih bagus, sistem koordinasi
dan macam-macam. Bahkan katanya melatih
lebih dari 300 otot sekali berkuda itu.
Nah, itu yang akhirnya kami aplikasikan.
[Musik]
Jadi, apa yang kita produksikan itu
adalah yang kita konsumsi sehari-hari.
Bahkan dulu waktu baru pertama Indo
negeri berjalan gitu kan, staf-staf kita
itu sampai tanya, "Mbak, kok enggak
pernah beli obat dari luar?" Sampai
kemarin itu ayah saya itu stroke juga.
Mohon maaf untuk buang airnya sampai
enggak kerasa gitu kan. Alhamdulillah
menggunakan risetnya kita sendiri, kita
membuat produk kita sendiri, kita terapi
pakai itu. Alhamdulillah sekarang sudah
bisa naik motor listrik ke mana-mana.
Karena kita butuh dan kita aplikasikan
ternyata bermanfaat baru kita sampaikan
juga ke masyarakat gitu. Jadi kita belum
pernah oh ini ada produk baru kita
tawarkan. Enggak. Kita pakai sendiri
dulu. Jadi pertama itu pakai sistem
bioinformatik. Kemudian beberapa uji
coba Mas Fari sering menggunakan mencit
juga. Kemudian jadi sebelum produk ini
itu sampai ke masyarakat pasti ke
keluarga kita sendiri. Keluarga sama
karyawan. Keluarga sama karyawan.
Kemarin teman rekan kita Pak Fajar ya
obat sudah enggak bisa masuk ke dalam
tubuhnya karena COVID-nya parah. Itu
kita cari penetrasi apa yang kira-kira
bisa masuk ke dalam tubuh. Ya, kalau
diinfus ini sudah enggak mempan
diminumkan apaagi sistem pencenan sudah
terganggu. Kira-kira apa? Ternyata nenek
moyang kita itu menggunakan obat healing
oil ya, obat oles oles top kan ada
minyak urut ya. Kemudian kita teliti
minyak urut apa yang paling berhasiat di
Indonesia itu ternyata kita punya minyak
urut itu yang luar biasa. Kami telusuri
ternyata itu mereka pembuatannya itu
merpati yang hidup. merpatinya ini hidup
ya. Itu dipatahkan kakinya kiri kanan
dipatahkan kemudian dibiarkan sembuh
sendiri dan setelah sembuh merpatinya
itu diekstrak minyaknya dan itu ketika
digunakan untuk obat patah tulang itu
sangat cepat penyembuhannya. Nah, itu
kami teliti kenapa kok bisa seperti itu.
Ternyata burung merpati itu ketika
dipatahkan kakinya dia akan memproduksi
namanya Grofactor. Jadi tulangnya itu
penuh dengan grofaktor untuk
menyembuhkan dirinya sendiri kan. Ketika
dia sudah sembuh, Gowaktornya itu masih
ada, diekstrak lah growfaktornya. Jadi
kalau kita patah tulang, tidak perlu
menenggu tubuh kita memproduksi
growaktor biar tulangnya sembuh, tapi
cukup mengambil grofaktor dari burung
merpati tersebut. Itu luar biasa. itu
nenek moyang kita sudah tahu dari
ratusan tahun yang lalu hal-hal seperti
itu yang sekarang ini dokter-dokter pun
masih sangat sedikit yang tahu dan itu
harus peneliti yang benar-benar murni
pure peneliti yang bisa tahu ya hal-hal
yang seperti itu. Dan kemudian kami
mencari kira-kira apa yang bisa
menggantikan growfaktor ini yang tidak
harus menyiksa burpati. Jadi kami
carilah dari rempah-rempah yang ada di
Indonesia yang kira-kira mengandung
growtor yang menyerupai burung merpati.
Nah, itulah kami pakai di minyak urut
kami, minyak minyak healing oil ya, yang
bisa dipakai untuk bayi biar
pertumbuhannya lebih bagus, nafsu
makannya lebih bagus, perutnya tidak
kembung. Jadi bisa diaplikasikan untuk
segala usia. Nah, jadi proses pencarian
itu kita cari memang dari sumber-sumber
yang dipercaya. Bukan hanya yang semua
orang juga tahu tinggal digoogling.
Tidak bisa seperti itu. Dan itu kalau
kita baca jurnalnya itu enggak semudah
kita membaca Google karena itu ada
variasi-variasi variabel-variabel yang
sangat banyak. Nah, dari situ kita
pilih, kita kaji biasanya beberapa bahan
kandidat ya. Kemudian kita sinkronkan
lagi dengan bidang ilmu bioinformatik.
Kemudian baru disinkronkan lagi di
bioteknologi
seperti itu. Nah, pelajaran berharga
mulai dari kita belajar masuk di dunia
research preneer ini sampai sekarang
karena kita dulu terlalu polos atau
terlalu naif ya ya udah anda baik enggak
perlulah ya terlalu maksudnya itu hitam
di atas putih yang penting masih butuh
kita suplly kita suplly atas dasar
kepercayaan tapi ternyata di dunia
bisnis tidak seperti itu. atas dasar
kepercayaan, atas dasar kekeluargaan.
Ternyata tidak boleh seperti itu. Dan
tunggakan itu ketika kami tanyakan udah
enggak diakui katanya karena enggak ada
di notaris katanya. Jadi ya udah kami
harus merelakan uang miliaran di mitra
yang enggak mau ee menguskan kerugian
dari miliaran ya.
[Musik]
Kalau mau langsung dikomersialkan,
kita butuh tangga. Kalau orang-orang
biasanya kan gini, enggak usah sekolah
tinggi-tinggi, yang penting jadi
pengusaha aja. Nah, kalau kita, kita
tetap harus sekolah karena sekolah itu
yang akan mengubah pola pikir.
Kemudian sekolah itu akan membentuk
karakter kita. Sudah banyak orang yang
memilih jalan. Heeh. Prener-preneer yang
lain gitu ya. Tapi balik lagi karena
passion kita memang peneliti dan kita
juga mau
membuat bahwa hasil penelitian itu nyata
gitu loh. Jadi kita memilih untuk jalur
research prener ini karena kita
berpasangan jadinya couple research
prener gitu.
Jadi untuk memastikan bahwa apa yang
kita distribusikan itu benar-benar hasil
riset dan memang benar-benar dibutuhkan
dan diimpikan oleh masyarakat. Misalnya
di orang Sulawesi itu e Indonesia Timur
lah, Indonesia ee bagian tengah dan
timur itu tidak minum air putih. Mereka
minumnya air merah. Jadi airnya mereka
di zaman dahulu ya itu berwarna merah
bukan warna putih kayak sekarang. Karena
mereka pakai rempah khusus. Jadi ketika
airnya itu direbus itu pakai rempah
ditambahkan rempah ke air minumnya. Nah
air minumnya itu berwarna pink akhirnya
merah ya salah satunya secang. Secang.
Nah dicampur secang karena mereka tidak
terbiasa minum air putih. Mesti air itu
merah. Kalau di pedalaman sekitar
Sulawesi sekarang masih banyak yang
seperti itu. Nah ternyata kita teliti,
wah ternyata memang ini air secang ini
bermanfaat sebagai anti kanker,
antioksidannya sangat tinggi. Maka
mereka itu sangat kuat ya. Usia tua itu
masih sangat kuat. Ee nenek saya sendiri
itu 100 tahun itu masih masak sendiri.
Kalau ada tamu masih nyuguhin teh
sendiri. Masihugin sendiri. Buatin teh
sendiri. Buatin teh sendiri. Karena
memang minumnya mereka air yang pink,
yang merah eh merah ya air merah
tersebut. Nah, kita pengin masyarakat
Indonesia bisa menikmati usia 100 tahun
masih bisa melayani tamu dengan baik
dengan benar. Akhirnya bagaimana kalau
misalnya air apa rempah-rempahnya itu di
masyarakat disuruh merebus sendiri kan
repot. Banyak orang yang sudah tidak
merebus air kan, tinggal beli air galon
aja ya kan seperti akhirnya kita
menciptakan produk yang ditetes aja.
Jadi air galonnya tinggal ditetes aja ke
airnya. Airnya langsung berubah jadi
pink. Nah, seperti itu sudah menikmati
kekayaan di Indonesia Timur yang e
rempah-rempahnya kita ramu sedemikian
rupa tanpa perlu repot merebus dan
lain-lain. Kadang-kadang kita bukan
tidak mau tahu ilmunya, tapi
kadang-kadang enggak mau repot, sulit
dapatkan rempahnya, belum lagi harus
memasak dan enggak ada kesempatan. Kalau
ini tinggal diteteskan, insyaallah
banyak yang usernya nantinya. Dan itu
alhamdulillah kita distribusikan di
Pekanbaru oleh mitra itu tanggapannya di
masyarakat sangat bagus, positif sekali.
Kalau kami sih impiannya ya pengin punya
sekolah di mana di sekolah itu kita
memang belajar hal-hal yang berguna.
Kebayang enggak kita dulu SMA belajar
integral ya kan sangat sulit belajar
tersebut dan ternyata hal-hal yang kita
pelajari itu tidak pernah kita gunakan
sekalipun seumur hidup kita dan itu
banyak terjadi. Kita belajar luar biasa
perjuangannya mempelajari satu hal dan
ternyata hal tersebut tidak kita
pergunakan lagi sampai kita mati
nantinya. Nah, kita pengin punya sekolah
yang di mana yang diajarkan tersebut
benar-benar yang digunakan yang akan
kita gunakan sumur hidup kita yang
benar-benar bermanfaat untuk hidup kita,
baik untuk lingkungan kita, baik untuk
kesehatan kita dan dan mampu bersaing
secara global gitu ya. Jadi harapan kita
semacam mendirikan Indonegeri, Indonesia
Green Innovation Institute harapannya.
He. Jadi di situ anak-anak bisa belajar
apa yang dibutuhkan, tantangan apa yang
siap dihadapi. Karena kita itu berada di
zaman yang sangat cepat berubah. Kalau
kita itu lengah sudah ada AI, persaingan
global semakin luar biasa. Begitu. Kita
sedang merintis sebenarnya lewat anak
kita. Jadi anak kita memang kita pegang
sendiri, cuma kita masih ada
keterbatasan waktu. Beberapa teman juga
sudah mulai request, ayo kapan ini
Indoegeri Institut mau dibuka. Tapi
karena memang langkah kita itu kita
masih dalam ee kondisi scale up ya
sekarang ya. Mohon doanya teman-teman
semua gitu. Jadi nanti insyaallah kalau
produk-produk Indoegeri kita sudah pada
TRKnya terdistribusi secara baik dan
insyaallah sudah ada tabungan yang bisa
digunakan untuk mendirikan itu.
Insyaallah kita jalan.
Saya Dr. Fahri. Saya Dr. Ika. Kami
berdua adalah founder dari CV Indonesia
Green Innovation yang telah melahirkan
52 produk inovatif baik di bidang
kesehatan, pertanian, maupun kecantikan.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Indoegeri.
berpijak pada teknologi, bergerak dengan
hati, berkontribusi untuk Ibu Pertiwi.
Pleas