Transcript
tLMA2HfUH90 • Tinggalkan Karir Mentereng di Luar Negeri, Demi Riset 10.000 Tanaman Super Jamu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0545_tLMA2HfUH90.txt
Kind: captions Language: id Kita punya minyak urut itu yang luar biasa. Kami telusuri ternyata itu mereka pembuatannya itu merpati yang hidup. Merpatinya ini hidup ya. Itu dipatahkan kakinya kiri kanan dipatahkan kemudian dibiarkan sembuh sendiri dan setelah sembuh merpatinya itu diekstrak minyaknya. Dan itu ketika digunakan untuk obat patah tulang itu sangat cepat penyembuhannya. Nah, itu kami telitik kenapa kok bisa seperti itu. Ternyata burung merpati itu ketika dipatahkan kakinya dia akan memproduksi namanya Grofactor. Jadi tulangnya itu penuh dengan grofaktor untuk menyembuhkan dirinya sendiri kan. Jadi apa yang kita produksikan itu adalah yang kita konsumsi sehari-hari. Bahkan dulu waktu baru pertama Indo Negeri berjalan gitu kan staf-staf kita itu sampai tanya, "Mbak, kok enggak pernah beli obat dari luar?" sampai kemarin itu ayah saya itu stroke juga mohon maaf untuk buang airnya sampai enggak kerasa gitu kan. Alhamdulillah menggunakan risetnya kita sendiri, kita membuat produk kita sendiri, kita terapi pakai itu. Alhamdulillah sekarang sudah bisa naik motor listrik ke mana-mana. Saya memang bidangnya itu banyak ke bioteknologi, kemudian mikrobiologi. Jadi produk-produk turunan dari bioteknologi tersebut ee salah satunya bioenergi ya. J saya ee memang pernah diundang sama Najwa Syihab di acaranya itu dan saya diprediksi sama tempo itu sebagai e 10 tokoh pemuda Indonesia yang diprediksi bahkan memberikan kontribusi positif untuk Indonesia di tahun 2045 di 100 tahun Indonesia di bidang energi karena salah satu peneliti energi yang berpengaruh di Indonesia alhamdulillah kami ya terutama masalah energi terbarukan Ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Sulfahri. Saya adalah staf ahli bidang penelitian di Indonesia Green Innovation dan beliau adalah direktur Indonesia Green Innovation sekaligus istri saya di saya merupakan staf beliau. lahir tahun berapa? 2020. Beliau ini latar belakangnya kan sebagai dosen dan memang kami dari SMA punya ketertarikan di bidang penelitian. Waktu beliau menjadi dosen itu banyak karya-karya yang dihasilkan dalam bentuk green produk. Jadi green produknya itu ada green farming yang pupuk, pestisida semuanya organik dan juga ada produk-produk herbal. Dan semuanya itu melalui riset yang dilakukan oleh beliau. Jadi, beliau memiliki produk-produk organik berdasarkan riset ilmiah yang sesuai dengan kajian-kajian jurnal internasional begitu ya. Waktu itu kita lagi tinggal di Australia waktu itu ya, Pak. Beliau Posd dan saya riset juga di sana. Beliau mau pulang karena jatah POD-nya sudah habis. Dan waktu itu saya dapat tawaran dari supervisor untuk menetap di sana dan jadi bagian dari peneliti di negara bagian Victoria. Suami saya mendukung waktu itu. Saya kepikiran sebagai seorang ibu kan sudah punya anak satu gitu ya tahun 2019 akhir. Jadi waktu itu suami saya sangat mendukung ya udah lanjutkan aja karir di sini. Saya bereskan dulu administrasi dan lain-lain yang ada di Indonesia. Nanti kita sama-sama di sini waktu itu di RMIT kita kalau suami kan beliau ASN jadi dosen. Kalau saya peneliti independen karena memang beliau dari awal kalau mau berkarya sebagai istri, sebagai ibu silakan saya dukung tapi enggak usah yang sampai terikat begitu. Takutnya nanti anak juga agak susah kehandle karena anak kita cukup spesial ya. E termasuk kategori spesial karena IQ-nya di atas rata-rata. Jadi pengendaliannya agak susah, Mas. Nah, waktu saya memegang anak saya yang pertama itu sambil mendampingi suami waktu itu menyelesaikan studinya, saya ikut jadi member Natural School of Skin Care yang ada di Boston itu sejak 2013 sampai sekarang. Biasanya mereka kan kumpul antar formulator gitu. Jadi kita sering sharing-sharing, sharing-sharing formula. Total di sini ada 52 produk semuanya. Iya, murid dari kami. Tapi biasanya ada perusahaan juga yang merequest mau produk yang seperti ini tapi ditambahkan kelebihan yang seperti ini. Bisa enggak dibantu untuk risetkan? Jadi kami yang membantu merisetkan. Awalnya kami memang meneliti. Jadi perusahaan ini dulu awalnya memang untuk meneliti apa-apa yang kira-kira dibutuhkan masyarakat. Jadi kami kurang nyaman bahwa hasil-hasil penelitian dosen di Indonesia itu luar biasa, tapi justru hanya ditumpuk di perpustakaan dan tidak dimanfaatkan. Nah, alangkah baiknya bagaimana hasil penelitian itu kita jembatani agar bisa dimanfaatkan untuk masyarakat UAS. Kalau saya lebih ke konsep manajerial, kemudian formulasi. Dari awal memang saya asisten beliau untuk bagian formulasi. Jadi, kita saling bertukar pendapat tapi tetap beliau main formulatornya. Saya juga bantu karena bidang keilmuan kita sama. sama-sama di bidang bioteknologi. Kemudian manajerial pun sama kita jalan bersama tetap suami yang backing hitam di atas putih memang saya direkturnya tapi ya dengan segala keterbatasan sebagai ibu rumah tangga yang sebagai main job saya gitu ya, suami saya tetap yang backing. waktu itu kita bertumbuh ya mulai dari kita itu basicnya memang meneliti aja. Kemudian waktu itu titik orang-orang benar-benar mengenal kita sebagai Indo Negeri waktu itu adalah waktu ada wabah COVID. Waktu wabah COVID itu sebenarnya kita kan sudah pulang dari Australia sudah pulang. Kemudian waktu itu sudah ketemu sama beberapa teman ini yang lama enggak ketemu. Biasa kan pesan produk yang kita bikin sekalian ee bikin yang banyak, Mas. Mbak, aku pengin gitu kan. Ya udah kita kumpul-kumpul sekalian kita mau pamit lagi. Kita itu mau ke Hubey ya waktu itu karena Pak Fari mau melanjutkan pos doknya ke sana ke Hubei University di Wuhan. Nah, waktu itu di TV itu sudah ramai tuh COVID di sana sudah sangat keos banget gitu ya. Ya udah kita karena mau ke sana ya Mas Fahri menyampaikan ayo kita formulasi buat kita bisa berangkat ke sana kita enggak was-was lagi karena di sana kayaknya rempah-rempah agak susah deh. Karena kita kan basicnya kalau obat-obat herbal apa itu memang dari rempah-rempah. kita punya prinsip apa yang menjadi makananmu itu obatmu. Ya udah akhirnya kita formulasi untuk anti Covid itu teman-teman juga gitu tinggali kita apa namanya produknya jangan sampai nanti Mbak Ika sama Mas Fari udah jauh susah kan seperti itu. Ternyata wabah Covid itu semakin lama semakin meluas itunya kita sampai lockdown dan lain-lain gitu. Banyak teman-teman ada juga yang sampai kena ya kena COVID-nya sampai saturasinya itu rendah banget. Waktu itu ada yang sampai saturasi 56 56 itu alhamdulillah kok cocok pakai herbal dari kita gitu. Masih hidup sampai sekarang. Sampai sekarang itu beliau pensiunan BI. Iya. Pensiunan BI Bank Indonesia. Bank Indonesia. Salah satu member kita. maksudnya itu beliau termasuk penasihat kita juga karena beliau sudah agak sepuh ya. Nah, dari situ produk-produk kita mulai dikenal. Itu luar biasanya rempah-rempah yang ada di Indonesia. Ee untuk menemukan herbal ini, kita itu sampai screening 10.000 tanaman herbal berkhasiat yang ada di Indonesia untuk memilih mana yang terbaik. Kemarin kan peneliti dari Thailand bilang yang paling bagus itu ada namanya kloroin. Itu yang paling bagus katanya. Kemudian ya udah kita coba pakai colorin. Kemudian ada lagi ilmuwan yang bilang dari Taiwan yang paling bagus itu sambil loto. Ya udah kita coba pakai sambilo. Kemudian kita screening lagi 10.000 tanaman itu kita combine mana yang paling bagus antara 10.000 tanaman ini plus Sambiloto plus chlorokin yang diklaim e oleh lemuan tersebut kami petahkan. Itu pakai teknologi bioinformatika ya. Jadi namanya insilo. Cara cepat untuk mensimulasi antara virus ini dengan senyawa aktif yang ada pada herbal itu kami simulasi itu sampai cukup cepat ya 3 bulan lah kurang lebih itu kami menemukan bahwa dari 10.000 awalnya ke 19 tanaman. Ben dari 19 tanaman itu kami seleksi lagi menjadi tujuh tanaman yang kami racik yang terbaik untuk melawan virus dan memang terbukti secara ilmiah sampai kami dipanggil dari tim satgas COVID ya dari pemerintah pusat ini untuk ee membantu penanganan COVID secara nasional dan herbalnya ini kemarin kami distribusikan selama COVID ini lebih dari 1 juta botol. Kami bisa klaim bahwa lebih dari 1 juta nyawa yang kami bantu untuk diselamatkan dari COVID ini. Itu luar biasanya. Alhamdulillah. Jadi ada beberapa herbal yang memang harus didatangkan di pulau-pulau tertentu di Indonesia. Jadi tidak ada di Pulau Jawa, hanya ada di Pulau Selayar. Ya, memang dia tumbuhnya banyak. Pulau Selayar itu adalah salah satu pulau di Sulawesi Selatan dan dia memang tumbuhnya di situ. Jadi, suatu tanaman yang hanya bisa ditumbuh di tempat tertentu disebut dengan endemik. Jadi, hanya bisa tumbuh di situ. Itu kami datangkan dari sana karena memang khasiatnya luar biasa sebagai antivirus. Ada juga yang ambil dari teman-teman dari peneliti dari Maluku Utara itu ada juga herbal dari sana. Iya, karena Indoegeri ini bertumbuh ya, jadi waktu itu sarana dan prasarananya belum terlalu mumpuni. Itu belum e memenuhi kaidah BPOM. Beda case dengan COVID. Karena waktu COVID itu pemerintah men-support betul siapa masyarakat, peneliti dan lain-lain itu didorong. Untuk legalitas belum terlalu diperketat. Tapi ketika wabah COVID ini sudah selesai, kita kembali ke TRK. Jadi ketika kembali ke TRK, kita tidak bisa mengedarkan obat herbal ataupun produk-produk lain yang belum berizin ke masyarakat. Oleh karena itu, beberapa teman juga yang tergabung di Indoegeri kan juga merupakan pengusaha yang sebelumnya juga sudah mengetahui profil kami. Begitu. Dari situ kita membuat bahwa Indoegeri ini ee belum bisa kalau misalnya langsung membuat produk sendiri gitu. Jadi kita memberikan pelayanan jasa penelitian kepada pengusaha-pengusaha yang kira-kira punya visi dan misi sama dengan kita. Jadi janganlah pengusaha itu karena dalam kutip asal banyak uang ayolah gitu kan. Kita tetap kalau bisa pada TRK green produk. Green produk yang kira-kira memang dalam jangka panjang bermanfaat untuk kesehatan maupun lingkungan. Jadi kita biasanya menerima konsultasi dari perusahaan-perusahaan pengin produk yang seperti ini. Nanti kita bantu Mas Fahri yang jadi ketua tim untuk projjectnya gitu. Kadang kita jual produk itu rugi karena memang kita lihat masyarakat sangat membutuhkan butuh. Jadi keuntungannya disupport dari produk lain yang tidak terlalu dibutuhkan masyarakat baru kita ambil margin yang besar. Tapi kalau benar-benar di masyarakat itu sampai rugi. Ini kita bisa sampai miliaran kalau bisa sampai ruginya. 1 juta botol kemarin kalau dibilang itu sangat murah kemarin sangat murah. Iya dari Indonegeri waktu itu kan memang bentukannya komunitas ya. Jadi teman-teman itu ya udahlah buat galangan donasi enggak cuma Mas Fahri sama Mbak Ika aja ini yang jalan. Kita bantu Mas Fari sama Mbak Ika untuk menyediakan produknya, bahannya, apanya dan lain-lain. Jangankan kok ambil margin istilahnya kalau di perusahaan gaji sebagai peneliti pun ya udah enggak ada. itu sebenarnya karena memang kami itu mulai dari SMA sampai kami S3 itu memang sudah dibiayai sama pemerintah. Jadi saya dulu SMA itu sudah dapat biaya dari pemerintah. Kemudian pada saat SMA ikut lomba, pada saat itu mewakili Indonesia alhamdulillah ke India. Nah, pada saat itu dapat medali. Mendali Perak pada saat itu. Nah, pada saat pulang itu dipanggil sama Presiden saat itu Pak Susilo Bambang Yudoyono pulang ke Indonesia ke Istana Negara. Kemudian diperkenankan e diberi beasiswa mulai dari S1, S2, S3 dan di semua program tinggi bebas memilih diperuntukkan sesuai dengan beasiswa yang tersedia pada saat itu. Masalah green farming hanya bebas memilih kan. Saya memilih S1 di ITS pada saat itu, ITS Surabaya, kemudian Universitas Airlangga, kemudian di Universitas Negeri Malang, kemudian lanjut di Australia lagi. Nah, itu semua dari pemerintah. Artinya kan uang dari rakyat nih, hasil rakyat ini harus kembali juga ke rakyat ya, masyarakat Indonesia agar bisa dinikmati. Sebenarnya prinsipnya seperti itu. Beliau juga seperti itu. S1 dapat dari pemerintah dan ada juga dari swasta ya. Dia dapat beasiswa doble malah S1-nya. dari pemerintah dapat, dari swasta dapat, kemudian dari S2-nya pemerintah, kemudian S3-nya dari pemerintah Australia bahkan. Ya udah ini kembali ke masyarakat lagi. [Musik] Saya memang bidangnya itu banyak ke bioteknologi, kemudian mikrobiologi. Jadi produk-produk turunan dari bioteknologi tersebut ee salah satunya bioenergi ya. J saya ee memang pernah diundang sama Najwa Syihab di acaranya itu dan saya diprediksi sama tempo itu sebagai ee 10 tokoh pemuda Indonesia yang diprediksi bahkan memberikan kontribusi positif untuk Indonesia di tahun 2045 di 100 tahun Indonesia di bidang energi karena salah satu peneliti energi yang berpengaruh di Indonesia alhamdulillah kami ya terutama masalah energi terbarukan ya kayak bioetanol seperti itu biogas. Nah, beliau ini ke ahli biogasnya. Kemarin di Australia pun biogas dari kotoran ayam ya kemarin ya industri. Kalau saya memang ahli di bioetanol. Jadi kami produksi bahan bakar itu dari rumput laut. Kalau di Australia miliar mesti per tahunnya ya. Jadi kan di sana gajian itu kalau dihitungnya kan beda sama Indonesia per bulan. Bayangkan di Indonesia 1 jamnya di sana sangat jauhlah perbandingannya ya. R miliar dibanding Indonesia. Paling ya peneliti itu kurang lebih deh 10 sampai 20 juta lah. Itu yang udah top banget ya. Saya pun sebenarnya merupakan staf peneliti di Australia. Jadi saya selain staf peneliti di Indonesia, saya juga merupakan staf peneliti di Australia di Australia Indonesia Center. Memang penelitian kami selalu didanai sama peneliti Australia itu meneliti bagaimana rumput laut yang ada di Indonesia itu dikembangkan menjadi energi terbarukan. Itu penelitian-penelitian kami yang unggul tapi dipakai oleh peneliti Australia. Jadi bukan kami, kami enggak boleh mengkomersialisasi itu memang haknya penut Australia. Tapi kalau misalnya yang kami kembangkan sendiri itu merupakan anti Covid kemarin. Iya bestellernya sama pupuk juga kami pupuk pupuk organik itu untuk sawit itu juga terjual jutaan ya sampai sekarang itu per bulannya bisa sampai 1 juta saset 1 bulan itu yang pupu organik tersebut ya memang untuk sawit. Jadi sawit jantan pun itu bisa jadi berbuah ketika menggunakan bubu itu. Dia sebenarnya pembenah tanah. Jadi di Indonesia itu tanahnya hanya bisa dipakai hingga beberapa tahun lagi. Setelah itu tanah di Indonesia sudah enggak bisa dipakai. Kenapa? Karena over pupuk. Jadi terlalu jenuh, terlalu banyak pupuk kimia sehingga tanahnya itu menjadi kering. Tidak bisa lagi nutrisi tersebut dideliver ke tanaman. Sudah jenuh. Akhirnya kami membuat pupuk bagaimana caranya mengembalikan tanah lagi seperti ratusan tahun yang lalu. Nah, itu yang kami kembangkan dan itu larut sekali ya bahan bakunya dari mikroorganisme mikroorganisme lokal yang ada di Indonesia. Jadi kami seleksi ya kita isolat di laboratorium kita itu penelitiannya memang sudah dari 2017 ya. Awalnya memang 2012 setelah kita menikah memang penelitian kita yang ke arah komersial produk itu pertama itu ya pupuk itu. Iya. Jadi sudah 13 tahun kita penelitiannya itu sehingga memang alhamdulillah bisa dan terus terus kita upgrade kita upgrade selama 13 tahun. Jadi memang benar-benar sudah matanglah produknya. [Musik] Karena kita peneliti itu kan sifatnya penelitian itu dinamis ya, Mas ya. Jadi kalau kita itu riset, maksudnya baca hasil riset 1 hari itu ada berapa penemuan terbaru itu sudah. Jadi kita itu harus benar-benar up to date ini ada penemuan terbaru apa. Jangan sampai kita itu hanya sebagai penonton aja. Banyak kan biasanya kalau sudah dari jurnal perusahaan besar menghubungi penelitinya untuk diajak kerja sama memformulasi kemudian penelitinya nanti dikasih royalti itu kok butuh proses yang sangat panjang dan lama. Kemudian nyampai ke masyarakat itu juga dengan harga yang tentunya mahal. Iya. Jadi tidak semua lapisan masyarakat itu bisa menjangkau. Dengan kualitas yang sama, harapan kita, kita bisa menjangkau produk yang kita hasilkan, bisa menjangkau kelapisan masyarakat lebih sampai ke menengah, menengah ke bawah bisa sampai terjangkau di situ. Standar dari pemerintah itu tidak boleh lebih dari 6%. Jadi, misalnya N-nya, P-nya, K-nya itu tidak boleh lebih dari 6% itu dianggap organik. Jadi misalnya NPK-nya itu kami peroleh dari bebatuan, kotoran kelelawar, kemudian kotoran cacing kami formulasi sedemikian rupa. Kemudian kami tambahkan mikroorganisme lokal yang kami peroleh dari bermacam-macam. Ada dari akar bambu, kemudian kami dari tanah-tanah yang memang sangat subur itu kami olah sedemikian rupa sehingga menjadi pupuk yang banyak dicari orang. Sekarang kalau di bidang pupuk alhamdulillah kita sudah ada izin edar deptannya. Kalau untuk mengedarkan sendiri, kita saat ini retailing untuk pupuk belum belum retailing untuk pupuk. Jadi untuk komersialisasi pupuk itu masih B2B. Kami menjalin kerja sama dengan perusahaan, salah satu perusahaan yang ada di Pekanbaru. Dari situ itu yang mendistribusikan harga mahal atau tidak itu kan relatif ya, Mas ya, di masyarakat. Tapi kita tetap jadi ada beberapa periode tertentu kita melakukan kegiatan sosial tetap seperti itu. Jadi ada keuntungan yang kita sisihkan untuk kegiatan sosial. Meskipun perusahaan kita belum termasuk perusahaan besar yang kita diwajibkan untuk CSR. Kita kan enggak ada kewajiban seperti itu. Karena memang perusahaan kita masih perusahaan yang masih terus bertumbuh gitu kan ya. Tapi produk kami kalau misalnya mau dihitung secara rupiah itu memang murah. Murah. Misalnya ya, ada sebuah produk kami pupuk saset. Satu sasetnya itu setara dengan 30 L pupuk cair. Jadi kami mengompres 30 L pupuk cair ke satu saset 20 gr. Kami jualan pupuk cair mau mengirim 30 L itu ongkos kirimnya lebih mahal dibanding pupuknya. Akhirnya kami ngompres ya kan dari cair itu ke saset. Jadi kalau yang saset itu kami jual misalnya Rp100.000 harusnya kan itu harga Rp3 juta kan. Nah, itu bisa kami kompres itu. Itulah bioteknologi. Jadi, kami di sini perkuat di bioteknologi yang bagaimana 30 L itu dirubah menjadi 20 gr dengan biaya yang murah. Kalau di perusahaan pun itu pasti biayanya mahal. Kenapa? Karena harga untuk memproses dari 30 L ke 20 gr itu ongkosnya mahal. Nah, kami di sini karena peralatan sendiri yang kami desain sedemikian rupa dengan teknologi yang kami kembangkan sendiri itu bisa jauh lebih murah dibandingkan perusahaan tersebut. Jadi bahkan satu saset itu bisa untuk 1 hektar. Satu saset 20 gram untuk 1 hektar bisa. Itulah yang butuh 14 tahun untuk meneliti iya butuh memang belasan tahun Mas. Kemudian kalau waktu itu cair kita juga resiko di perjalanan biasanya bocor tumpah gitu. [Musik] Nah, kendala kita sebagai peneliti apa ya? Keterbatasan waktu, keterbatasan sarana prasarana. Karena untuk menjadikan hasil karya itu menjadi sebuah produk itu butuh usaha lebih. Jadi kita ingin bahwa Indoegeri ini menjadi wadah bagi para peneliti, kemudian bagi masyarakat juga saling bahu-membahu. Bagaimana agar hasil karya ini bisa sampai ke masyarakat. Dosen ini sebenarnya bebannya itu kan sangat banyak ya. beban mengajar, beban meneliti, beban mengabdi. Untuk memenuhi itu ada yang namanya BKD begitu ya, pengajaran harus sekian. Seolah-olah rekan yang lain gitu merasa bahwa enak ya jadi Pak Fahri bisa berkarya sekarang sudah kaya begitu kan. Di sisi lain saya yang tahu betul bahwa beliau itu punya tanggung jawab yang lebih luar biasa pengaturan jadwalnya. Jadi beliau tetap mengajar secara online. Kemudian karena kebijakan yang sudah disusun oleh institusi itu kan sudah ada rules-nya ya. Jadi kita itu untuk mau keluar dari zona yang sudah dipakemkan oleh dosen. Kalau misalnya kita mau berkarya itu enggak cukup waktu Mas. kayak Pak Fahri ini dituntut untuk mengajar sekian SKS kemudian mengabdi, mengabdi mengi. Nah, akhirnya ranah yang untuk peneliti ini mengekspresikan hasil karyanya agar karya ini sampai ke masyarakat itu bisa dihitung jari. Harus ada orang yang berani berkorban. Dan saya itu melihat beliau, beliau yang berkorban. Ya sudahlah. Kadang beliau jatuh mengajarnya itu dipangkas habis karena beliau itu dipikir jarang hadir atau apa. Tapi alhamdulillahnya seperti rektor dari institusi beliau itu sangat mengapresiasi. Lebih enak sebagai pegiat lingkungan. Tapi tetap saya juga harus mendeliver ilmu-ilmu ke mahasiswa. Ya, saya tidak boleh meninggalkan bagian mengajar karena memang ada banyak hal yang harus disampaikan memang ke mahasiswa. Tidak boleh hanya membaca atau melalui I. Harus memang kita sampaikan langsung ke mahasiswa. Budaya tentang herbal Nusantara kita, budaya pertanian kita itu sudah mulai ditinggalkan. Padahal itu adalah sangat penting untuk kesehatan kita maupun keberlangsungan pertanian di Indonesia. Nah, itu yang kami deliver. Di dunia penelitian pun banyak hal-hal yang palsu. Sebenarnya kita diajarin hal padahal hal tersebut salah. Makanya Mark Twine bilang yang berbahaya itu bukan hal yang baru. Namun yang berbahaya adalah hal lama yang sudah kita ketahui, kita anggap benar dan ternyata itu salah. Nah, itu yang kami terus perbaharui. Misalnya dikatakan bahwa menyambung tadi Klorokuin lah yang terbaik, Sambil Lotolah yang terbaik. Kan masing-masing negara mengklaim kan. Padahal di Indonesia itulah yang terbaik adalah di Indonesia tapi harus dikombinasikan. Pernah enggak berpikir di Indonesia itu tidak ada budaya minum jus tomat. Yang ada adalah sambal tomat. Sambal tomat itu warisan budaya dari leluhur kita. Tapi orang-orang sekarang marah ramai-raminya minum jus tomat. Padahal tahu enggak bahwa tomat itu kaya akan kandungan likopen. Likopen. Likopen itu tidak bisa larut dalam air. Jadi kalau kita kasih tomat sama air kemudian kita jus. Kita minum tomat itu percuma likopennya enggak bisa diserap. Tapi coba nenek moyang kita bikin sambal itu kan tomatnya digoreng terlebih dahulu dicampur dengan minyak. Akhirnya likopen yang ada pada tomat itu larut ke dalam minyak. Nah, itu baru kita konsumsi dalam bentuk sambal. Itu luar biasanya kebudayaan kita dan itu sudah kita tinggalkan. Nah, seperti-seperti itu yang banyak ditinggalkan. Misalnya lagi saya kasih contoh jamu beras kencur. Jamu beras kencur itu kan dikombinasi antara beras dan kencur. Padahal kan ngapain kok dikombinasi sama beras? Padahal kan pagi kita makan beras ya kan dalam bentuk nasi. Siang makan nasi, malam makan nasi. Kenapa kok kencur ini dikombinasi lagi sama beras? Pernah enggak kita berpikir itu? Padahal nenek moyang kita sangat canggih di kencur itu kayak akan kurkumin ya. Kurkumin ini akan terbantu penyerapannya ke dalam tubuh ketika dibantu sama vitamin B6. Jadi kurkumin bergabung sama vitamin B6 itu penyerapannya luar biasa ke dalam tubuh. Nah, vitamin B6 itu banyak terdapat di air beras. Berarti beras ditambah dengan kencur itu adalah super jamu yang luar biasa. Sebenarnya nenek mo yang kita tahu dari ratusan tahun yang lalu kita sekarang sudah meninggalkan tersebut. Itulah yang kami harus deliver kepada mahasiswa. Bukan hanya dalam bentuk produk. Produk bisa dinikmati tapi mahasiswa juga harus banyak yang tahu biar kita punya banyak bibit-bibit penerus untuk ke depan. Seperti itu sebenarnya kunyit asem. Kunyit itu kayak akan kandungan kurkumin juga. Kurkumin itu juga bisa dibantu penyerapan tubuh ketika dibantu sama vitamin C. Vitamin C itu banyak didapat di yang asem. Makanya nenek moyang kita mengkombinasikan kunyit asem. Nah, itu luar biasa sebenarnya mereka itu. Kita sebenarnya cuma mengkaji apa-apa yang luar biasa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita itu kita kembangkan dalam bentuk bioteknologi untuk kita sebarlaskan. misinya itu sebenarnya mengembalikan kejayaan Indonesia lagi. Jadi termasuk tanahnya kan tanahnya kita mau kembalikan ke ratusan tahun yang lalu seperti di zaman Majapahit. Kemudian kesehatannya orang itu mau kita kembalikan ke zaman yang lalu ke Majapahit karena minuman-minuman mereka memang diramu dengan sangat luar biasa. Ketika kesehatan kita setara dengan orang-orang Majapahit, tanah kita suburnya setara dengan pada saat kerajaan Majapahit itu insyaallah Indonesia akan maju. Karena sekarang sudah enggak bisa ditanam nih. Tanaman kita itu kalau enggak dikasih pupuk itu tanamannya enggak bisa tumbuh. Serius? Ataupun tumbuh itu malah rugi. Lebih banyak biaya operasionalnya lah. Manusia itu harus punya amalan andalan. Jadi kamu bisa andalanmu di mana? Puasamu kah? Andalan salatmu kah? Bisa enggak kamu menjaga salat lima waktu di masjid selama 40 tahun? Bisa enggak? Mampu enggak? Atau salat tahajudmu terus-menerus? Nah, mungkin salah satu amal yang mau kami jadikan amal andalan adalah seperti ini. Produk-produk yang bisa dinikmati masyarakat yang memang bagus untuk bumi. Kami sebutnya sebagai sedekah bumi. Jadi, pupuk yang kami masukkan ke tanah itu adalah sedekah untuk bumi. [Musik] Yang pertama tetap anak-anak ya. Kalau suami, suami ya tetap men-support. Jadi anak saya ini kebetulan homeschooling, jadi kita sendiri yang pegang. Tetap saya dampingi, tapi kalau ada keputusan-keputusan penting tetap beliau juga. Begitu. Kemudian karena saya banyak urusan domestik gitu ya, makanya tempat produksi kita ya udah seberangan aja sama rumah kan tinggal melangkah aja tinggal ke belakang. Udah ada rumah produksi kita di sini. Alhamdulillah saat ini anak saya juga sudah mulai membangun komunitas sendiri karena dia itu masuk kelas sekolah internasional dengan kemampuan bahasa Inggris yang di atas rata-rata temannya. Bahkan sekarang juga alhamdulillah kalau di event-event dia sering diir ke mahasiswa-mahasiswa begitu. Jadi dia mengumpulkan teman-teman yang ingin belajar bahasa Inggris bersama kayak begitu. dia sudah mulai baru mulai tapi sudah mulai tumbuh seperti itu. Kadang banyak hal-hal yang kita temui itu secara kebetulan ya. Tapi kembali lagi kita sandarkan kepada kitab Al-Qur'annya. Benar enggak kita disuruh makan seperti ini? Benar enggak kita disuruh minum seperti ini? Misalnya kemarin Bu Mim probiotik. Kenapa sih kita harus minum probiotik? Benar enggak probiotik itu harus dikonsumsi setiap manusia? Kita kaji di agama itu seperti apa? Nabi pernah enggak minum probiotik? Nah, ternyata pernah. bahwa suatu ketika Nabi menanyakan lauk apa yang ada di dapur, di meja makan. Terus diberitahu bahwa cuma ada roti dan cuka. Terus Nabi mengatakan bahwa cuka adalah laut terbaik atau laut terbaik adalah cuka. Ada apa sebenarnya dengan cuka? Kan? Nah, ternyata cuka itu adalah probiotik. Nah, beda sama cuka kita zaman sekarang ya. Cuma zaman sekarang itu sudah berbeda di zaman cuka yang ada di zaman Nabi. Nah, kami ini menghidupkan kembali cuka yang ada pada zaman Nabi. Jadi, menghidupkan sunah yang sudah ditinggalkan. Kemudian kembali lagi misalnya Nabi sebelum makan itu selalu makan garam dulu ya. Dicelupkan terus makan garam. Kenapa? Ternyata garam itu mengandung 83 mineral. Terus kami cek benar enggak harusnya garam di Indonesia itu mengandung 83 mineral. Ternyata enggak sampai 10 segaram kita mineralnya. Berarti setiap kali makan kita kehilangan 73 mineral. Enggak dong kalau maksimal mineralnya 10 ya. Nah itu kami teliti sedemikian dalam. Ternyata proses pembuatan garam di Indonesia itu garamnya itu air laut direbus dengan suhu yang sangat tinggi. Karena direbus dengan suhu yang sangat tinggi, mineralnya sebagian besar rusak. Makanya kami merekomendasikan kalau menggunakan garam-garam yang ditambang karena itu mineralnya masih utuh tanpa melalui proses pemanasan ataupun garam yang dikelola secara tradisional tidak melalui pemasakan hanya di dengan sinar matahari. Dijemur menggunakan sinar matahari suhunya enggak ekstrem sehingga mineralnya tetap terjaga. Selain dari Al-Qur'an, jadi dari kebiasaan kami sehari-hari. Kemarin banyak sekali kita belajar di Australia ya. Di Australia itu Mas itu sulit sekali mendapatkan rice cooker yang ada penghangatnya. Jadi rice cooker di sana itu sekali pakai hanya dipakai untuk memasak, hanya untuk cook. Warumnya enggak ada di semua toko-toko di Australia itu enggak ada. Kami teliti, kenapa kok di Australia punya kebijakan enggak boleh mengeluarkan dress cooker yang ada penghangatnya ya atau dibatasi. Ternyata nasi itu kebanyakan kita kena diabetes itu karena konsumsi nasi kan nasinya berlebih. Kenapa? Karena nasinya dihangatkan. Jadi nasi itu ternyata mengandung insulin. Jadi nasi itu kan diolah menjadi gula. Gula mampu diserap ke dalam darah itu karena insulin. Nah ternyata nasi itu sudah mengandung insulin sebenarnya tapi insulinnya rusak ketika dipanaskan berlebih. Jadi kalau dimasak satu kali aja selesai dimasak selesai itu insulinnya masih tinggi. Tapi ketika dihangatkan secara lama itu insulinnya sudah mulai berkurang atau bahkan hilang. Makanya di Australia itu tidak ada penghangat karena mereka tahu itu. Nah, dari situlah kami mengadakan bagaimana kalau ini kan pemerintah sulit untuk kita intervensi jangan produksi ini dan itu. Bagaimana kalau kita menciptakan sebuah herbal yang kaya akan hormon insulin secara alami dari tumbuh-tumbuhan? ya sudah kami cari herbal-herbal yang kaya akan hormon insulin atau dapat memicu untuk produksi insulin atau membenarkan pankreas yang sudah mulai rusak. Nah, itu yang kami upayakan cari solusinya. Jadi, solusi cepat yang kira-kira e tanpa mengintervensi e pemerintah tetapi efektif untuk digunakan di masyarakat. Semua orang itu unik dengan caranya masing-masing, dengan hobinya masing-masing. Sedangkan saya dan suami saya memang hobi kita itu ya udah kalau ada apa kita selalu apa sih ini, apa sih kandungannya, apa ini? Dari hobi ini bagaimana sih kita itu bisa berkontribusi? Konon katanya maksimalkan apa yang menjadi passionmu. Jadi dari passion itu kita sederhanakan untuk teman-teman yang menganggap bahwa ini ribet banget. Kita bahasakan dengan sederhana. Kita buatkan produk yang menarik untuk dikonsumsi itu seperti apa. Kemudian kita berikan edukasi yang lebih sederhana. Karena kalau di perguruan tinggi, kalangan mahasiswa itu biasa menggunakan bahasa-bahasa tingkat tinggi. Jadi kalau di Indonegeri kita bersama teman-teman lebih membahasakan secara umum bagaimana agar teman-teman yang lain itu bisa mendapatkan transfer ilmu. Jadi memang by riset ya kami ya. Bahkan di olahraga pun saya riset. Jadi misalnya olahraga, apa sih yang paling cocok misalnya buat manusia itu yang paling bagus sebenarnya apa sebenarnya kan ternyata memanah. Jadi saya rajin memanah tuh di atas itu ada lapangan memanah. Lapangan memanah ternyata memanah. Kenapa? Karena kita melatih fokus. Jadi manusia itu harus fokus kepada satu tujuan. Kalau mana kan satu sasaran akhirnya kita terlatih untuk fokus tidak mencle-mencle tidak tergoda ke kanan ke kiri. Jadi kita fokus terhadap apa yang ingin kita capai itu memana. Jadi selain melatih otot-otot kita, kemudian berjalan. Jadi kegiatan memanah itu banyak berjalan ya, menarik sasaran, menarik anak panahnya. Kemudian berkuda. Kami punya peternakan kuda. Jadi punya stabel itu di Tuban itu di Tuban itu lambangnya kuda. Tapi di sana tidak ada stabel besar ya. Jadi tidak ada peternakan kuda yang benar-benar maju di sana. Akhirnya kami bikin peternakan kuda di Tuban ini yang kudanya kuda-kuda pilihan kami sendiri yang benar-benar top. Nanti insyaallah baguslah untuk membanggakan Indonesia nanti di dunia pacuan. Jadi kami memadukan antara berkuda. Kalau kami di Tuban kami berkuda kalau di sini memanah. Kadang-kadang kami juga berkuda sambil memanah. Nah itu pun kami riset bahwa memang kuda itu bagus untuk kesehatan. Jadi misalnya untuk tipoterapi. Jadi bersentuhan antara kulit manusia dengan kulitnya kuda itu panas yang dihasilkan oleh kuda pada panas tubuhnya kuda itu bisa merangsang sistem saraf di tubuh kita bisa menjadi lebih bagus. Kemudian gerakannya kuda itu bisa memperbaiki postur tubuh kita, memperbaiki sistem-sistem saraf kita menjadi lebih bagus, sistem koordinasi dan macam-macam. Bahkan katanya melatih lebih dari 300 otot sekali berkuda itu. Nah, itu yang akhirnya kami aplikasikan. [Musik] Jadi, apa yang kita produksikan itu adalah yang kita konsumsi sehari-hari. Bahkan dulu waktu baru pertama Indo negeri berjalan gitu kan, staf-staf kita itu sampai tanya, "Mbak, kok enggak pernah beli obat dari luar?" Sampai kemarin itu ayah saya itu stroke juga. Mohon maaf untuk buang airnya sampai enggak kerasa gitu kan. Alhamdulillah menggunakan risetnya kita sendiri, kita membuat produk kita sendiri, kita terapi pakai itu. Alhamdulillah sekarang sudah bisa naik motor listrik ke mana-mana. Karena kita butuh dan kita aplikasikan ternyata bermanfaat baru kita sampaikan juga ke masyarakat gitu. Jadi kita belum pernah oh ini ada produk baru kita tawarkan. Enggak. Kita pakai sendiri dulu. Jadi pertama itu pakai sistem bioinformatik. Kemudian beberapa uji coba Mas Fari sering menggunakan mencit juga. Kemudian jadi sebelum produk ini itu sampai ke masyarakat pasti ke keluarga kita sendiri. Keluarga sama karyawan. Keluarga sama karyawan. Kemarin teman rekan kita Pak Fajar ya obat sudah enggak bisa masuk ke dalam tubuhnya karena COVID-nya parah. Itu kita cari penetrasi apa yang kira-kira bisa masuk ke dalam tubuh. Ya, kalau diinfus ini sudah enggak mempan diminumkan apaagi sistem pencenan sudah terganggu. Kira-kira apa? Ternyata nenek moyang kita itu menggunakan obat healing oil ya, obat oles oles top kan ada minyak urut ya. Kemudian kita teliti minyak urut apa yang paling berhasiat di Indonesia itu ternyata kita punya minyak urut itu yang luar biasa. Kami telusuri ternyata itu mereka pembuatannya itu merpati yang hidup. merpatinya ini hidup ya. Itu dipatahkan kakinya kiri kanan dipatahkan kemudian dibiarkan sembuh sendiri dan setelah sembuh merpatinya itu diekstrak minyaknya dan itu ketika digunakan untuk obat patah tulang itu sangat cepat penyembuhannya. Nah, itu kami teliti kenapa kok bisa seperti itu. Ternyata burung merpati itu ketika dipatahkan kakinya dia akan memproduksi namanya Grofactor. Jadi tulangnya itu penuh dengan grofaktor untuk menyembuhkan dirinya sendiri kan. Ketika dia sudah sembuh, Gowaktornya itu masih ada, diekstrak lah growfaktornya. Jadi kalau kita patah tulang, tidak perlu menenggu tubuh kita memproduksi growaktor biar tulangnya sembuh, tapi cukup mengambil grofaktor dari burung merpati tersebut. Itu luar biasa. itu nenek moyang kita sudah tahu dari ratusan tahun yang lalu hal-hal seperti itu yang sekarang ini dokter-dokter pun masih sangat sedikit yang tahu dan itu harus peneliti yang benar-benar murni pure peneliti yang bisa tahu ya hal-hal yang seperti itu. Dan kemudian kami mencari kira-kira apa yang bisa menggantikan growfaktor ini yang tidak harus menyiksa burpati. Jadi kami carilah dari rempah-rempah yang ada di Indonesia yang kira-kira mengandung growtor yang menyerupai burung merpati. Nah, itulah kami pakai di minyak urut kami, minyak minyak healing oil ya, yang bisa dipakai untuk bayi biar pertumbuhannya lebih bagus, nafsu makannya lebih bagus, perutnya tidak kembung. Jadi bisa diaplikasikan untuk segala usia. Nah, jadi proses pencarian itu kita cari memang dari sumber-sumber yang dipercaya. Bukan hanya yang semua orang juga tahu tinggal digoogling. Tidak bisa seperti itu. Dan itu kalau kita baca jurnalnya itu enggak semudah kita membaca Google karena itu ada variasi-variasi variabel-variabel yang sangat banyak. Nah, dari situ kita pilih, kita kaji biasanya beberapa bahan kandidat ya. Kemudian kita sinkronkan lagi dengan bidang ilmu bioinformatik. Kemudian baru disinkronkan lagi di bioteknologi seperti itu. Nah, pelajaran berharga mulai dari kita belajar masuk di dunia research preneer ini sampai sekarang karena kita dulu terlalu polos atau terlalu naif ya ya udah anda baik enggak perlulah ya terlalu maksudnya itu hitam di atas putih yang penting masih butuh kita suplly kita suplly atas dasar kepercayaan tapi ternyata di dunia bisnis tidak seperti itu. atas dasar kepercayaan, atas dasar kekeluargaan. Ternyata tidak boleh seperti itu. Dan tunggakan itu ketika kami tanyakan udah enggak diakui katanya karena enggak ada di notaris katanya. Jadi ya udah kami harus merelakan uang miliaran di mitra yang enggak mau ee menguskan kerugian dari miliaran ya. [Musik] Kalau mau langsung dikomersialkan, kita butuh tangga. Kalau orang-orang biasanya kan gini, enggak usah sekolah tinggi-tinggi, yang penting jadi pengusaha aja. Nah, kalau kita, kita tetap harus sekolah karena sekolah itu yang akan mengubah pola pikir. Kemudian sekolah itu akan membentuk karakter kita. Sudah banyak orang yang memilih jalan. Heeh. Prener-preneer yang lain gitu ya. Tapi balik lagi karena passion kita memang peneliti dan kita juga mau membuat bahwa hasil penelitian itu nyata gitu loh. Jadi kita memilih untuk jalur research prener ini karena kita berpasangan jadinya couple research prener gitu. Jadi untuk memastikan bahwa apa yang kita distribusikan itu benar-benar hasil riset dan memang benar-benar dibutuhkan dan diimpikan oleh masyarakat. Misalnya di orang Sulawesi itu e Indonesia Timur lah, Indonesia ee bagian tengah dan timur itu tidak minum air putih. Mereka minumnya air merah. Jadi airnya mereka di zaman dahulu ya itu berwarna merah bukan warna putih kayak sekarang. Karena mereka pakai rempah khusus. Jadi ketika airnya itu direbus itu pakai rempah ditambahkan rempah ke air minumnya. Nah air minumnya itu berwarna pink akhirnya merah ya salah satunya secang. Secang. Nah dicampur secang karena mereka tidak terbiasa minum air putih. Mesti air itu merah. Kalau di pedalaman sekitar Sulawesi sekarang masih banyak yang seperti itu. Nah ternyata kita teliti, wah ternyata memang ini air secang ini bermanfaat sebagai anti kanker, antioksidannya sangat tinggi. Maka mereka itu sangat kuat ya. Usia tua itu masih sangat kuat. Ee nenek saya sendiri itu 100 tahun itu masih masak sendiri. Kalau ada tamu masih nyuguhin teh sendiri. Masihugin sendiri. Buatin teh sendiri. Buatin teh sendiri. Karena memang minumnya mereka air yang pink, yang merah eh merah ya air merah tersebut. Nah, kita pengin masyarakat Indonesia bisa menikmati usia 100 tahun masih bisa melayani tamu dengan baik dengan benar. Akhirnya bagaimana kalau misalnya air apa rempah-rempahnya itu di masyarakat disuruh merebus sendiri kan repot. Banyak orang yang sudah tidak merebus air kan, tinggal beli air galon aja ya kan seperti akhirnya kita menciptakan produk yang ditetes aja. Jadi air galonnya tinggal ditetes aja ke airnya. Airnya langsung berubah jadi pink. Nah, seperti itu sudah menikmati kekayaan di Indonesia Timur yang e rempah-rempahnya kita ramu sedemikian rupa tanpa perlu repot merebus dan lain-lain. Kadang-kadang kita bukan tidak mau tahu ilmunya, tapi kadang-kadang enggak mau repot, sulit dapatkan rempahnya, belum lagi harus memasak dan enggak ada kesempatan. Kalau ini tinggal diteteskan, insyaallah banyak yang usernya nantinya. Dan itu alhamdulillah kita distribusikan di Pekanbaru oleh mitra itu tanggapannya di masyarakat sangat bagus, positif sekali. Kalau kami sih impiannya ya pengin punya sekolah di mana di sekolah itu kita memang belajar hal-hal yang berguna. Kebayang enggak kita dulu SMA belajar integral ya kan sangat sulit belajar tersebut dan ternyata hal-hal yang kita pelajari itu tidak pernah kita gunakan sekalipun seumur hidup kita dan itu banyak terjadi. Kita belajar luar biasa perjuangannya mempelajari satu hal dan ternyata hal tersebut tidak kita pergunakan lagi sampai kita mati nantinya. Nah, kita pengin punya sekolah yang di mana yang diajarkan tersebut benar-benar yang digunakan yang akan kita gunakan sumur hidup kita yang benar-benar bermanfaat untuk hidup kita, baik untuk lingkungan kita, baik untuk kesehatan kita dan dan mampu bersaing secara global gitu ya. Jadi harapan kita semacam mendirikan Indonegeri, Indonesia Green Innovation Institute harapannya. He. Jadi di situ anak-anak bisa belajar apa yang dibutuhkan, tantangan apa yang siap dihadapi. Karena kita itu berada di zaman yang sangat cepat berubah. Kalau kita itu lengah sudah ada AI, persaingan global semakin luar biasa. Begitu. Kita sedang merintis sebenarnya lewat anak kita. Jadi anak kita memang kita pegang sendiri, cuma kita masih ada keterbatasan waktu. Beberapa teman juga sudah mulai request, ayo kapan ini Indoegeri Institut mau dibuka. Tapi karena memang langkah kita itu kita masih dalam ee kondisi scale up ya sekarang ya. Mohon doanya teman-teman semua gitu. Jadi nanti insyaallah kalau produk-produk Indoegeri kita sudah pada TRKnya terdistribusi secara baik dan insyaallah sudah ada tabungan yang bisa digunakan untuk mendirikan itu. Insyaallah kita jalan. Saya Dr. Fahri. Saya Dr. Ika. Kami berdua adalah founder dari CV Indonesia Green Innovation yang telah melahirkan 52 produk inovatif baik di bidang kesehatan, pertanian, maupun kecantikan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Indoegeri. berpijak pada teknologi, bergerak dengan hati, berkontribusi untuk Ibu Pertiwi. Pleas