Pertama di Indonesia! Produksi 1000 Toples Nastar Apel Perhari dengan Mesin Canggih
VhDem5XsfVQ • 2025-06-20
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Ada suatu waktu kami itu karena mungkin kurangnya kami belajar, kurangnya kami teliti sehingga Obi pernah dibobol sampai sekian ratus juta oleh karyawan. Nah, nangis? Iya, saya nangis. Cuman lagi-lagi dari sisi suami yang ini, "Sudahlah itu memang Allah sudah berkehendak seperti itu. Kalau tidak ikhlas dengan kehilangan seperti ini, yo nanti suatu saat yo kita tidak akan pegang uang yang lebih besar dari itu." Sudah diikhlaskan. [Musik] Dari sekarang anak-anak saya sudah saya tekankan usaha orang tua adalah usaha orang tua. Jadi nanti di kehidupan ke depan mereka juga harus punya usaha sendiri. Mereka harus punya impian sendiri. Jadi kami tekankan jangan pernah tergantung pada warisan karena belum tentu ini jadi milikmu. Bisa jadi nanti kami dari orang tua kami hibahkan ke mana itu kami sudah tekankan dari sekarang. Terus untuk anak-anak saya, saya juga tidak pernah memberi uang saku yang berlebih. Tetap sesuai dengan kapasitasnya mereka. Kalau yang kecil masih di 2.000 3.000 ya tetap di situ. Yang besar pun tidak pernah lebih dari Rp50.000. Hari-harinya cuman R5.000. Karena saya orang muslim, saya harus menempatkan suami itu seperti yang ada di dalam Al-Qur'an, yaitu arijalu qamuna alanisa. Jadi ketika itu kita tempatkan pada tempatnya, Allah itu tidak pernah bohong. Maka kita akan ditempatkan dan dimuliakan oleh Allah dengan cara Allah sendiri tanpa harus kita minta. itu insyaallah akan jadi pegangan. Yang penting kita ikhlas dan rida dengan ketentuan Allah semuanya akan jadi mudah. Karena kalau kita yang menyelesaikan dengan kemampuan kita, kemampuan kita itu tidak banyak. Tapi kalau Allah yang menyelesaikan, insyaallah nanti semuanya jadi luar biasa. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Robiatun Hasanah. Saya biasa dipanggil Bu Obi sesuai dengan nama rumah kue Obi. Saya memulai usaha ini mulai awal saya nikah. Jadi saya menikah tahun 1999. sudah 25 tahun lebih. Awal usaha ini kami memulai dari kue kering. Basic saya dari Fakultas Hukum sebenarnya sudah di notaris dulu. Awalnya ditawari ke dosen juga cuman di tengah perjalanan setelah ambil kuliah lagi di IGIP malah kecantol ke kue. Prinsip saya dulu penginnya saya kerja di rumah sambil mengasuh anak-anak tapi saya juga punya penghasilan. Makanya ketika awal-awal bikin kue cukup mematahkan semangat sebenarnya awal-awal karena awalnya saya terima pesanan kue kering itu ada tetangga yang pesan saya masih ingat banget itu kue larut keju karena saya masih dalam taraf belajar bikinnya keras terus sampai 11 kali karena saya berkomitmen tetap memberi yang terbaik ke pelanggan akhirnya kami belikan di toko kue kita belikan yang enak 2 kilo sesuai dengan pesanan Alhamdulillahnya tidak dibayar sama tetangga itu. Padahal itu kan menghabiskan gaji suami untuk uji cobanya. Saat itu tidak banyak sih, cuman Rp40.000. Tapi bagi kami saat itu karena yang rusak sudah 11 kali percobaan itu jadi kan cukup banyak. Saya senang di membuat kue utak-utek resep. Utak-utek kue itu seperti apa. Saya ada passion di situ. Saya itu kalau lagi marah sama suami atau lagi marah sama anak-anak, saya bikin kue atau saya masak. Tapi endingnya rasanya seburuk apapun mereka harus menghabiskan. Jadi saya larinya ke masak karena saya orangnya kalau suruh marah-marah yang keras saya gak bisa. Nah, jadi saya larinya ke masak, bikin kue. Saya senang di situ. Walaupun awalnya saya juga pernah terima pesanan kuetar pertama itu satu kuetar itu satu hari gak selesai. Saya sampai nangis-nangis ketika mau diambil sama orangnya saya belum selesai. Itu bongkar pasang, bongkar pasang gak jadi-jadi. Tapi dari situ saya ketika jadi dan konsumen saya puas, saya ada kepuasan tersendiri bukan dinilai rupiahnya, tapi di memberi kebahagiaan sama orang. Orang puas itu saya senang. Awalnya suami itu kan kerja ya dulu. Nah, suami itu kerja di konstruksi. Gaji suami itu kadang habis 1 minggu untuk saya trial uji coba. Perjuangan cukup panjang di situ. Bahkan pernah ketika suami masih kerja, kami pernah jualan donat. Saya keliling ke sekolah-sekolah itu saya masih sambil kuliah lagi. Pagi 0.30 karena punya sepeda motor cuman satu. ngantar suami ke kantor. Pulangnya saya ke sekolah-sekolah, ngantar donat. Pulang dari ngantar donat saya kuliah, pulangnya belanja. Kalau suami jam 5.00 sore setelah saya jemput pulang, dia ngadon donat pakai tangan. Tapi saat itu donat saya laris karena mungkin pakai tangan. Jam 5.00 ngadon sampai magrib. Habis magrib kita nunggu kembang terus kita bentuk sampai jam 09.00 malam. Jam 09.00 malam saya istirahat. Nanti jam 11.00 malam suami goreng sampai jam 12. malam atau jam . Nanti jam 3.30 saya bangun, habis itu salat kita topping hiasan macam-macam donatnya. Udah habis itu habis subuh aktivitas untuk pribadi masak macam-macam 0.30 ngantar suami. Begitu rutinitas sampai kami akhirnya meng-hire satu karyawan. Pada saat itu memang kami berjuang. suami juga pekerjaannya itu sebenarnya sudah cukup bagus, tapi kami pengin lebih berkembang lagi karena bagaimanapun kalau kerja itu kan terbatas ya, Mas ya. Tapi kalau kita punya usaha sendiri kan kita bisa berkembang sesuai yang kita mau. Walaupun di situ ada satu waktu saya dapat momentum yang menyentil hati suami saya. Suami saya kan kerja ya. itu saya belanja di pasar kan saya wanita, tapi saya orangnya itu ngotot dan gak pernah malu. Maksudnya walaupun saya sarjana saya tidak malu untuk bawa barang sekian banyak. Nah, sama tukang parkir itu bolak-balik ditanya, "Mbak, mbak, mbaknya itu gak punya suami tah?" "Loh, kenapo, Mas, kok gak punya suami?" "Lah tiap hari bawa tepung, bawa mentega, bawa pisang, depan belakang penuh lah. Suami sampean ke mana kok tega?" Akhirnya saya iseng cerita ke suami. Nah, itu yang membuat suami resign. Butuh waktu sekitar 1 tahun untuk memutuskan betul-betul resign. Jadi, usaha ini memang pada saat itu belum menghasilkan seperti yang kami mau, tapi sudah mulai jalan. Nah, ketika suami resign justru di situ malah usaha ini semakin berkembang pesat karena saya bisa fokus ke pengembangan produksi. Saat 2004 suami sudah mulai ancang-ancang untuk resign. Kami sudah mulai nitip-nitip tidak ke sekolah lagi, tapi ke pasar-pasar. Jadi saat itu sampai Singosari, sampai Bonul, sampai ke ee Panjen sampai ke Batu itu kami nitip-nitip ke sana. [Musik] Pada saat itu kalau dinilai dengan nominal gak banyak ya, karena dulu itu nilai rupiah juga tidak besar seperti sekarang. Mungkin saya masih di angka ratusan ribu ya. Iya. Per hari itu kami sudah bisa meng-hire tiga karyawan kalau gak salah di 2004 itu. Tapi karena nitip-nitip ke pasar itu resikonya lebih besar. Jadi sistemnya kan konsinyasi. Kalau konsinasi resiko ada di kami semua. Puncaknya itu ketika ada bom Bali di tahun 2011 ya. Semua pasar sepi. Akhirnya semua barang kita kembali tidak ada yang laku. Di sampah kita, tempat sampah kita itu sampai berkarung-karung ya dibuang. Biasanya kadang ada orang ngambil untuk pakan ternak. Dari situlah kami memikirkan untuk buka toko sendiri. Tapi kami kan gak punya modal karena keluarga kami tidak ada yang pengusaha. Jadi suami itu basicnya keluarganya pegawai, kalau saya basicnya dari petani. Jadi pada saat itu kami coba untuk buka toko sendiri karena kok enak ya kalau toko sendiri bisa kasih diskon ke konsumen. Tapi kalau konsinasi kita kan gak bisa kasih diskon. Kadang dari kita harganya misal Rp10.000 otomatis kan dengan kualitas Rp10.000. Ketika sama toko kue lain dijual Rp25.000 kita tuh merasa kasihan ya konsumennya. Nah, kita kan bikinnya kualitasnya sebesar Rp10.000, tapi jualnya kan lebih tinggi dari situ. Akhirnya kami buka awal buka itu di 2006 itu di depan apotek satu etalase tapi sama yang punya apotek, "Bu, sudah gak usah bayar, ditabung aja sisanya." Cuman karena kami ngemper dan kami nunut ya istilahnya ya, kami harus tahu diri. Jadi, etalase itu di luar menghadapnya juga tidak ke jalan. Jadi miring itu kalau hujan ya pakai payung, kalau panas juga pakai payung. Jadi saya masih ingat itu omset pertama itu Rp34.000 saat itu sehari. Dari omset yang sekecil itu dan dari kami ngemper di depan apotek itu Allah itu memberi rezeki yang tidak disangka-sangka. Dari situ ada staf sekretaris dewan di Kota Batu yang melihat kok kualitasnya bagus, terus enak, harganya juga kompetitif, maka beliau ngambil ke kita. Terus setelah dites berapa bulan karena kita sering tepat waktu, kita menjaga mengutamakan ketepatan waktu sehingga ketika rapat kue sudah ready. Akhirnya mereka pesan ke kita itu sampai kita dikontrak hampir 10 tahun untuk melayani di situ. Nah, dari situlah mulai berkembang ke instansi-instansi lain seperti Pemkap, Polres itu ee akhirnya kami berkembang dari situ dan kami tidak mengajukan ke proposal. Alhamdulillahnya ketika beberapa tanya teman-teman, "Ibu gimana caranya ngajukan ke DPRD, ke Polres, ke Pemkap?" Terus terang memang kami tidak pernah mengajukan proposal. Jadi mereka yang datang, mereka yang tes kue kita, mereka yang cek ketepatan waktu kita, akhirnya kita yang dapat kontrak itu. Itu tahun 2006. Jadi dari instansi-instansi, dari sekolah-sekolah itu yang membuat kita berkembang. kita akhirnya bisa sewa tempat yang lebih bagus, kita bisa menambah karyawan sehingga semakin besar omset yang kita dapat juga semakin besar, semakin bisa bermanfaat buat masyarakat sekitar. Karena saya penginnya ketika obi ini besar, obi ini bisa memberi manfaat khususnya untuk karyawan dan juga masyarakat sekitar toko. Jadi seperti lipat kardus, potong wortel itu kami memberdayakan masyarakat sekitar. Tidak fokus di instansi ya itu kami sesuaikan dengan budget yang mereka punya. mereka budgetnya seperti apa. Terus kita juga merambah kue kering. Sempat juga kita bekerja sama dengan distributor kue kering untuk pengiriman ke luar pulau. Tapi pada saat itu ada lonjakan LPG yang dari R5.000 ke 75 dan saya perhitungan untuk k kering omset besar saya belum matang. Akhirnya di situ saya malah kurang bagus. Harusnya untung saya tidak dapat untung. Pada saat itu perhitungan saya bisa untung sekitar R30 juta. Bagi kami sangat besar sampai sewa rumah-rumah tetangga untuk bikinnya. Tapi ternyata di akhir acara saya malah ada hutang di supplier bahan itu Rp0 juta. Saya kayak orang gila cari-cari uang di bawah baju di bawah barangkali ada sisa uang yang tersimpan. Ternyata memang enggak ada. Yang saya rasakan saat itu saya malu sama Allah. Malunya begini. Pada saat itu saya merasa saya bisa nih sebagai seorang wanita berpenghasilan lebih dibanding dari suami. Jadi pada saat itu bisa nih saya saya bisa menghasilkan keuntungan sekian gitu. Tapi ternyata Allah menghendaki justru bukan keuntungan tapi kerugian yang saya dapat. Karena mungkin di situ sombongnya saya terlalu percaya diri. Yang saya rasakan di situ ini Allah lagi memperingati saya nih. Biar itu gak terjadi. Akhirnya ke depan saya bisa lebih berhati-hati lagi. Saat itu ketika saya terpuruk justru beliaunya jadi bmper saya di depan. Ketika ada orang tanya, "Kok bisa rugi? Kok bisa ini gini gini gini? Suami yang menjawab, saya yang salah hitung. Padahal itu kesalahan saya, momentum tersendiri buat saya sebagai seorang wanita. Kadang saya dengan teman-teman pengusaha muda sekarang ada rasa malu sebenarnya. Karena gini, yang muda-muda ini 2 tahun, 3 tahun sudah busak kak cabang banyak sekali. Sementara saya kok masih di sini ya. masih belum ketemu ya dengan apa yang kami inginkan. Tapi bagi kami yang membuat kami bertahan adalah rasa syukur. Kenapa? Ketika suatu saat saya mengajukan ke sebuah universitas, tiga universitas untuk wisuda. Nah, kebetulan saat itu kok tidak diac ditolak. Ada ya Allah kok ditolak ya ini kok ini ya. Tapi ketika ada suatu majelis kita memang diharapkan lebih banyak ke sodqah dan bersyukur pada saat hari wisuda di universitas tersebut saya justru bersyukur kenapa universitas itu gak pesan ke saya. Karena apa? Pada saat tanggal wisuda tersebut saya dapat pesanan dari tempat lain bukan dari universitas tersebut dan nilainya itu jauh lebih besar dibanding wisuda yang saya harapkan. Makanya saya bersyukurnya ketika sambil kirim, saya ikut kirim saya melewati tempat wisuda tersebut, saya memang menangis bersyukur sama Allah. Ya Allah terima kasih seandainya semuanya pesan ke saya seperti apa tenaga saya, seperti apa tim saya, mungkin gak akan mampu. Memang ini yang terbaik. Jadi saya tetap mengikuti kelas-kelas kursus untuk kue, untuk masakan sampai sekarang saya masih tetap ngikuti untuk upgrade produk. Terus untuk pemasaran mau ndak mau kondisi sekarang yo kami harus ikut di kelas digital marketing karena kalau ndak ngikuti itu mesti kita ketinggalan. Saya ngikuti kelas digital marketing itu mulai dari tahun 2018. Cuman karena kondisi saya bukan generasi yang sekarang nyantolnya mungkin 5% ikut kelas lagi 2% nyantol karena harus mikir produk, harus mikir ini. Kami dulu kan memikirkannya adalah ini yang penting laku, dapat uang, bisa gaji karyawan, tidak memikirkan perkembangan yang sebagai sebuah usaha yang berkembang terus. Nah, COVID itu membuat hikmah yang besar buat kami. Memang dari sisi usaha kami sempat tutup sampai 3 bulan karena memang di sebelahnya toko OBI itu ada orang pertama di Indonesia yang meninggal karena COVID. Otomatis masuk zona merah. Jadi, kami merumahkan beberapa karyawan, ada dua cabang OBI yang tutup. Dari situ saya berusaha belajar dan ikut komunitas. Karena kalau selama ini berkutar di dapur, berkutar dengan pesanan, berkutar dengan mengelola toko, gak sempat ikut komunitas. Di mana ternyata di komunitas itu banyak sekali ilmu, banyak sekali pengembangan-pengembangan usaha yang saya dapat. Jadi saya sangat senang sekali ketika dapat ilmu karena sebenarnya selama ini saya berusaha mencari untuk seperti apa sih sebenarnya usaha itu. Nah, dari situ saya senang banget ada salah satu komunitas yang membuat saya itu betul-betul terbuka dan saya tidak malu walaupun di situ tempatnya anak-anak muda. Saya merasa saya hanyalah mantan anak muda. Jadi bukan orang tua. Tapi saya menganggap ilmu itu datangnya tidak hanya dari yang tua, tapi dari yang muda-muda. Saya tidak malu diskusi, tanya sama mereka yang muda, ngikuti mereka yang muda. Walaupun kadang yo juga capek ngikuti langkah-langkah mereka, tapi saya senang karena dengan adanya digital marketing, kami fokus di situ, berusaha agar di penjualan online itu bagus. Akhirnya ketika 1 tahun berikutnya itu di devisi online itu omsetnya bisa menyamai satu toko yang tutup. Karena kalau kita pakai outlet yang offline, kita masih harus bayar sewa outletnya, masih harus bayar sewa karyawan yang di sana, masih harus bayar transportasinya, armadanya, itu cukup banyak pengeluaran. Tapi dengan adanya digital marketing, pelan-pelan itu tergantikan. Berapa, Bu? Kalau boleh tahu untuk sekarang kami berada di hampir 500-an hari. Sebulan alamin kalau sehari. Nastar apel itu tepatnya tahun 2024 bulan Juni itu ada East Food di Surabaya. Nah, saya itu ketemu sama Chef Acen. Jadi beliau adalah mentor bagi saya. Nah, beliau adalah CF yang besar tapi orangnya cukup menghargai bagi saya yang masih sangat kecil ini. Jadi di situ saya diajak jalan-jalan, ditunjukin alat-alat untuk bikin nastar. Terus ayo beli ini. Saya tidak pernah bermimpi karena harganya kan mahal bagi saya dari mana duitnya. Sementara usaha kan masih belum tumbuh secara normal. Nah, itu beliau mengasih ide. Di Malang kan banyak apel, kamu bikin nastar apel. Oke. Nah, tapi pulang dari sana saya juga belum merespon. sampai November kemarin ketika mau akhir tahun biasanya kan orang banyak cari kue kering untuk Natal, untuk liburan tahun baru. Saya baru kepikiran tentang nastar apel. Akhirnya di situ saya uji coba dari beberapa apel yang ada di Malang karena ada banyak jenis. Saya coba mana yang cocok, mana yang mendekati ke nanas. Karena bagaimanapun orang kan masih nastar itu adalah nanas. Jadi saya cari yang paling mendekati dan cocok dipadukan dengan kulit nastar. Akhirnya sampai mungkin ada 1 bulan saya trial untuk selinya di kulkas saya itu sampai penuh sele A, sele B, selai C dengan komposisi yang macam-macam. Nah, ketika itu sudah ketemu awalnya sama dengan nastar biasa, cuman saya penginnya ada pembeda. Apa nih pembedanya? Akhirnya saya buat yang semirip mungkin dengan apel yang saya pakai. Ketika saya incip ke teman-teman, mereka sama-sama antusias. Mereka bilang, "Ini bagus, ini ikonik." sampai akhirnya ada wartawan yang meliput dari beberapa TV, terus dari beberapa channel-channel itu meliput ke OBI karena mereka bilang ini unik dan e ikonik banget untuk Kota Batu gitu. Dan saya awalnya tidak menyangka ini akan jadi sesuatu yang bagus bagi kami. Karena selama ini kan saya memang juga punya penginan apa ya produk yang bisa saya produksi, saya buat untuk oleh-oleh Kota Malang. Karena selama ini kan saya berkutatnya di kue tradisional. Kue tradisional kan tidak bisa dibawa ke mana-mana dan kue tradisional umurnya pendek. Ketika ada pesanan banyak mesti kami gak tidur. Tapi kalau yang kue kering yang awet kan itu bisa dibawa ke mana-mana. Awalnya ketika kami manual di Nastar Apel ini, kami produksinya cuman 51 per hari satu toples. Karena polesannya itu saya tiga kali pakai tiga kali polesan. Jadi untuk menghasilkan gradasinya itu tersendiri, untuk memberi tangkainya tersendiri dan untuk polesan kuning telurnya agar glowing itu dua kali. Jadi cukup panjang di situ memang prosesnya. Kadang-kadang saya itu merasa jadi sesuatu yang beda yang mungkin oh ini belum nih orang lain belum bikin. Ketika saya bikin terus orang bisa nerima saya senang. Demikian halnya di kue tradisional pun saya berkreasi dengan buket kue tradisional, tumpeng kue tradisional. Itu saya senang sesuatu yang keluar dari pakemnya dan itu lucu atau itu bikin gemes, saya senang di situ. Dan diastar apel ini alhamdulillah karena masukan dari teman-teman karena memang ini original dari Obi itu sudah kami patenkan juga baik bentuknya maupun mereknya. Nastar apel ini saya bisa berkembang seperti sekarang ini dari 51 per hari itu kan manual. Sementara karena kemarin viral, ramai, macam-macam, permintaan tinggi di toko itu anak-anak menolak orang datang itu sampai 30 sampai 50 orang yang tidak terlayani. Kan sayang. Akhirnya saya komunikasi dengan teman di Bank Jatim. Saya punya produk ini. Saya ada mesin nih, cuman saya gak berani setelah diskusi. Gak apa-apa, Bu. Ini ini potensinya ini bagus ini. Ini nih. Akhirnya saya ke pabrik mesin di Jawa Barat. Saya ke sana. Terus setelah dapat dukungan dari Bank Jatim, saya berani melangkah. Jadi, alhamdulillah nastar apel ini bagi kami adalah anugerah. Anugerah yang sangat luar biasa. Karena dengan nastar apel saya yang belum pernah ke luar Jawa, akhirnya saya ke luar Jawa dengan diajak Bang Jatim dalam misi dagang. Awalnya saya bingung misi dagang tuh seperti apa. Tapi setelah masuk di sana saya berterima kasih sekali karena di sana kami dipertemukan dengan pengusaha-pengusaha di Kalimantan itu yang mereka sangat respek juga dengan kami pengusaha-pengusaha dari Jawa Timur dan mereka respek dengan Nastar Apel. Jadi beberapa toko oleh-oleh di sana sudah melakukan pesanan terhadap kami. Per hari ini kita bisa memproduksi nastar apel itu dari yang 51. Dengan adanya fasilitas kami bisa beli mesin, kami bisa 1000 toples per hari. 1000 toples per hari. Alhamdulillah kami sedang merintis nastar apel ini tidak hanya untuk event-event tertentu tapi akan jadi oleh-oleh khas Kota Malang. kemarin dari Walikota Batu dari Pemkap Kabupaten Malang mereka juga sangat responsif dengan adanya nastar apel karena bagi mereka ini betul-betul Malang gitu. Sudah punya putra atau putri? Putra dua. Yang satu semester 4, yang satu kelas 1 SD. Yang menurut jenengan paling priority di peran yang apa? Dari tiga peran. Sebagai ibu, dari anak, sebagai istri, sebagai pelaku usaha. Bagi saya adalah sebagai ibu. Karena saya harus mempersiapkan anak-anak saya ini menjadi generasi yang tidak lemah. Saya hampir tiap hari tetap menemani mereka baik itu ngaji maupun belajar. Saya tetap luangkan waktu untuk itu walaupun saya ada kesibukan di usaha. Dari sekarang anak-anak saya sudah saya tekankan usaha orang tua adalah usaha orang tua. Jadi nanti di kehidupan ke depan mereka juga harus punya usaha sendiri, mereka harus punya impian sendiri. Jadi kami tekankan jangan pernah tergantung pada warisan karena belum tentu ini jadi milikmu. Bisa jadi nanti kami dari orang tua kami hibahkan ke mana itu kami sudah tekankan dari sekarang. Terus untuk anak-anak saya, saya juga tidak pernah memberi uang saku yang berlebih. Tetap sesuai dengan kapasitasnya mereka. Kalau yang kecil masih di 2.000 3.000 ya tetap di situ. Yang besar pun tidak pernah lebih dari Rp50.000. hari-harinya cuman Rp25.000. Jadi saya memang tidak pernah menekankan bahwa mereka ini loh kamu anaknya owner ini, gak. Jadi mereka harus berkehidupan seperti biasanya. Bahkan anak saya yang kuliah itu punya tugas untuk belanja. Jadi belanjanya itu bukan belanja yang ke mall atau dak. Dia bawa obrok ke pasar. Tahu obrok ya yang di belakang itu ya. Jadi dia belanja sayur, belanja terasi, belanja apa. Jadi biar dia juga mengenal di kehidupan bawah dan tidak sombong, tidak malu. Ketika ada hobi, bagi kami, saya menekankan sama anak-anak, ini bukan milik kita. Ini hanya titipan. Jadi nanti kamu juga harus punya usaha sesuai dengan yang kamu mau. Dan usaha apapun itu harus jadi alat untuk lebih mendekat sama Allah, bukan menjauh sama Allah. dan Obi belum tentu jadi warisanmu. Kami tekankan seperti itu. [Musik] Ketika saya berusaha mungkin ada orang yang menilai kok tidak pernah berhenti ya berusaha padahal sudah cukup, sudah ini. Tapi bagi kami bukan itu tujuan kami. Saya pengin usaha ini besar. Manfaatnya buat karyawan juga besar, manfaat buat orang-orang yang di desa. Kebetulan saya dari desa. Jadi kami ada beberapa binaan, guru-guru, anak yatim, guru madrasah, pesantren. Jadi kami ke sana kalau orang lain menilai usaha itu sudah tua kok masih ngotot, sudah tua kok masih ngoyo kan gitu ya. Tapi bagi saya, saya tidak akan pernah berhenti. Karena saya pengin ketika usaha saya semakin besar, berarti sangu saya untuk akhirat itu juga harus semakin besar. Ada suatu waktu teman saya sempat gini, "Kan saya ya orangnya santai, saya tidak pernah pakai sesuatu yang bermerek. Jadi tas saya ditawari, ini loh ini ini kamu sudah waktunya pakai ini owner ini. Kamu harus pakai tas harga sekian-sekian. Bagi saya lebih ke manfaat. Bagi saya harga tas 200, 300 itu sudah cukup, tidak perlu yang puluhan juta, yang sekian juta. Karena bagi saya kalau tas yang segitu berarti sedekahnya harus sekian banyak lagi gitu. Ee buat apa tasnya segitu kalau sangunya cuman sedikit sangu untuk akhiratnya? Jadi bagi kami bukan itu gitu. L ada kalanya saya ke mana? Saya juga pakai sandal jepit, pakai ini. Bagi saya enjoy-enjoy saja gak akan berpengaruh apa-apa bagi saya. Demikian juga ke karyawan. Saya selalu menekankan, "Niatlah kerja untuk ibadah, bukan hanya cari uang. Kalau cari uang dapatnya cuman uang. Tapi kalau niat ibadah manfaatnya banyak. Jadi pahalanya juga dapat." Ketika harus menafkahi keluarganya, anaknya, saudaranya dapat pahala. Untuk gaji, untuk bonus itu adalah sudah dengan sendirinya akan didapat. Tapi kalau niatnya salah, ya gak akan dapat apa-apa. Cuman dapat uang. Karena uang itu R10 juta bisa kurang, bisa juga lebih. Demikian juga R juta bisa kurang, bisa juga lebih. Tergantung kita memaknainya. Kalau saya gitu, uang yang saya pegang itu sebenarnya bukan uang saya. Itu semua titipan. Ada titipan dari supplier, ada titipan dari karyawan. Kadang pagi bisa pegang uang sekian ratus juta, sore pegang uang puluhan juta. Itu juga dialami, saya alami. Jadi saya tidak bingung. Maksudnya gini, ketika ada uang mungkin di rekening masuk sekian banyak, yo saya santai. Karena bagi saya itu belum tentu itu uang saya semua. Itu adalah titipan bagi saya dan belum tentu itu adalah hak saya semua. Ada suatu waktu kami itu karena mungkin kurangnya kami belajar, kurangnya kami teliti sehingga Obi pernah dibobol sampai sekian ratus juta oleh karyawan. Nah, nangis. Iya, saya nangis. Cuman lagi-lagi dari sisi suami yang ini, sudahlah itu memang Allah sudah berkehendak seperti itu. Kalau tidak ikhlas dengan kehilangan seperti ini, yo nanti suatu saat yo kita tidak akan pegang uang yang lebih besar dari itu. Sudah diikhlaskan. Bahkan ada karyawan lain yang ayo ini dituntut ke ini. Ee kata suami gak usah ini kita kalau Allah yang menyelesaikan semuanya nanti lebih besar. Kalau kita yang menyelesaikan paling ya sebatas nilai uang itu. Tapi kalau Allah pasti gantinya jauh lebih banyak. Wal Covid itu makanya COVID itu bagi kami sesuatu bukan hanya karena COVID-nya tapi karena ada pengalaman yang cukup luar biasa bagi kami. Sehingga ya memang kalau orang bilang habis-habisan yo kami tidak habis sih. Habisnya kan ya cuma dinilai mata uangnya tapi kan kami masih tetap sehat, masih tetap bisa berpikir, masih tetap bisa bermanfaat gitu. Kalau saya bisa jadi apa yang menjadi pemikiran saya itu ada yang tidak sependapat dengan saya. Tapi kalau saya ketika kita sebagai wanita memilih untuk berkarya atau memilih untuk berpenghasilan sendiri itu yang harus dijaga adalah hati. Karena di situ ujian bagi seorang wanita ketika merasa lebih merasa lebih hebat, merasa lebih punya penghasilan tinggi, maka ada godaan ego itu merasa lebih bagus dibanding suamilah, dibanding anaklah. Nah, itu yang harus dijaga. Jadi mental sama akhlak itu harus tetap-tetap dipegang sehingga ketika berada di rumah ya harus ditempatkan suami itu seperti karena saya orang muslim saya harus menempatkan suami itu seperti yang ada di dalam Al-Qur'an yaitu arrijalu qawamuna alanisa. Jadi ketika itu kita tempatkan pada tempatnya, Allah itu tidak pernah bohong. Maka kita akan ditempatkan dan dimuliakan oleh Allah dengan cara Allah sendiri tanpa harus kita minta. Itu insyaallah akan jadi pegangan. Yang penting kita ikhlas dan rida dengan ketentuan Allah. Semuanya akan jadi mudah. Karena kalau kita yang menyelesaikan dengan kemampuan kita, kemampuan kita itu tidak banyak. Tapi kalau Allah yang menyelesaikan, insyaallah nanti semuanya jadi luar biasa. Saya Obi, owner dari Nastar Apel Obi Malang. Alamat saya di Jalan Raya Sengkaling 2011 atau tepatnya di depan kantor Kecamatan Du, Kabupaten Malang. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. K [Musik]
Resume
Categories