Pesaing Berat Mie Gacoan! Strategi Jualan Mie dari Kosan Jadi 15 Cabang
e0ti_q5xKz8 • 2025-06-18
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Jadi waktu saya baru kuliah S2 ditinggal sosok ibu di situ yang buat saya itu down. Jadi ketika D saya itu udah enggak mau ngapa-ngapain lagi, serasa enggak pengin hidup lagi. Karena apapun itu saya tuh selalu cerita sama Ibu. Jadi bahasanya adalah beliau yang memberi saya saran, wejang, dan sebagainya. Dan itu masih belum bisa sampai 5 tahun. Saya sering PP Jogja Kediri, Jogja Kediri hanya untuk berkunjung aja di makamnya Ibu gitu. Jadi setiap ada kendala, masalah saya selalu ke makamnya Ibu. hanya sekedar pengin curhat ee ini shoot atau sudah shoot? Sudah shoot. Ini sudah. Oh, sudah. Sudah mulai sor. Oke. Perkenalkan nama saya Robi Adiw Wijaya bertempat tinggal di Kota Kediri. Usaha yang saya geluti Mi Level yaitu merek dengan brand Mi JUT. Mie JUTEK berdiri dari 2015 sebelum usaha aktivitas seperti biasa ya kita sekolah kuliah. Nah ketika waktu kuliah ngejalanin usaha kecilan seperti bakso mie ayam waktu sembari kuliah di Jogja. Jadi ketika itu kita lagi proses tesis, akhirnya saya tutup karena dosen yang saya itu mau ke luar negeri. Jadi mau enggak mau harus menyelesaikan dengan tepat. Setelah itu mulai baru balik ke Kediri lagi gitu. Pada dasarnya suka mengeluti bidang memasak ya. Jadi saya dulu suka ketika kuliah itu sering makan masak sendiri. Jadi iseng, trial, error sendiri. Nah, ada waktu luang pengin untuk mencoba untuk berbuka usaha. Salah satunya yang berhubungan dengan pribadi adalah makanan ya. Dan di Jogja itu kan juga anak kuliah banyak ya. Jadi kayak makanan bakso sama mie itu adalah sesuatu yang biasanya sudah masuk di lidahnya para mahasiswa sih. Jadi coba untuk masuk di sana. Dari situ terbesit kita berbuka usaha. Kebetulan kita dalam bentuk kedai. Jadi beberapa aset yang kita miliki justru itu berawal dari tabungan ya. Jadi kita sewa tempat terus aset itu kita meminimalkan dari bikin sendiri. Jadi tempat-tempatnya tuh biar lebih hemat tuh gimana. Jadi mengurangi cost untuk membangun usaha itu salah satunya itu. Dan yang kedua proses dari awalnya memang saya lakukan sendiri dari saya produksi bakso setelah subuh sampai dengan jam 0.00 sudah mulai berangkat ke kedai belanja justru di sore kalau belanja kita di malam hari karena ada pasar malam kalau di Jogja itu ya pasar Iwangan kan gitu jadi malam kita proses belanja paginya proses untuk pembuatan produk termasuk mie. Jadi, mie juga bikin sendiri, tidak beli dari pasar. Jadi, kita tahu produk kita itu apa yang kita jual itu harus bisa dimakan kita sendiri. Jadi, kita mempertanggungjawabkan itu. Jadi, aman ketika kita konsumsi cara pribadi maupun kita jual di luar sekaligus menyelesaikan tesis. Iya. Nah, ini yang asik di situ sebenarnya. Jadi, ketika kita sibuk di pagi hari, waktu yang tepat ketika kita menunggu pelanggan biasanya. Jadi ketika ada pelanggan kosong kita coba untuk mengerjakan tesis itu. Jadi tidak bisa sekaligus pagi harus saya kerjakan, enggak bisa. Jadi saya harus mengerjakan dulu poin utamanya di pembuatan bakso sama mya nih bahan setengah jadi. Kita buka dulu di kedai jam 09.00 baru kita sembari nunggu ya sembari bawa catatan atau note ya. Kemarin notebook yang kita miliki kita edit. Jadi ada beberapa yang dari dosen nanti akan kita rubahlah. Kebetulan di situ kita mencoba untuk memperbaiki apa kekurangan dari tesis kita sembari nunggu pelanggan. Datang ke kota orang. Heeh. Asli Kediri datang ke Jogja ambil kuliah. Kok berani? Awalnya memang ragu ya tapi itu sudah saya trial ke teman-teman. Jadi saya punya temuan kuliah yang nota b saya untuk trial. Jadi saya enggak mau ngejual tanpa ada yang mencicipi. Dan untungnya teman saya itu memang dia tipikal yang jujur. Jadi kalau ada kekurangan dari produk yang saya kasih pasti diconfirm, "Oh, ini kurangnya ini menurut saya dan itu enggak satu orang." Jadi bisa ada beberapa orang yang bisa memberikan masukan ke saya diikuti dengan keinginan untuk survive tuh gimana sih biar kita tuh enggak hanya ngerjakan tesis saja ya. Jadi kalau kadang kita ngerjakan sesis kan bosan nih tesis mentok pikirannya di situ kan balik lagi terus akhirnya ya berpikir ya sekalian jualan biar pikirannya bisa oh arah ke yang lain juga gitu. Dan respon orang tua ketika melihat anaknya malam bikin usaha kayak apa, Mas? Suruh nutup. Salah satu orang tua termasuk ayah suruh menutup usaha itu karena sudah kebablasan terlalu asik ke arah usaha. Jadi selesaikan dulu kuliahnya. Tujuan kamu kuliah bukan tujuan untuk usaha. Setelah kuliah terserah kamu mau ke mana. Apakah bekerja ataukah berbisnis itu hal yang paling Oh iya benar juga saya gitu. Mau tidak mau saya tutup semua. Awalnya waktu lulus S1 kan memang ingin bekerja. Nah, setelah S2 punya pemikiran sendiri, ada beberapa teman yang punya usaha sendiri dan membuat mindset saya itu berubah. Jadi, saya tidak ingin bekerja, tapi saya ingin menciptakan pekerjaan waktu itu meskipun lingkupnya enggak besar kecil ya saya mencoba untuk arah ke sana kan. Salah satunya dulu kuliah sempat dapat beasiswa. Salah satunya usaha itu kan saya ambil dari tabungan dari beasiswa itu. Jadi kalau dikuliahnya dibiayain orang tua, uang usahanya dari beasiswa itu. [Musik] sempat dulu kakek itu juga background-nya sebenarnya usaha sebenarnya berawal dari situ cuma orang tua mulai bekerja tapi ketika saya mengenal dari teman-teman yang punya usaha dan tipikal saya orangnya itu tidak mau yang monoton jadi saya berusaha untuk bisa berkembang dengan cara usaha itu sendiri gitu loh. Tapi saya berpikirnya waktu itu bekerja itu monoton dari pagi sampai dengan sore. Tapi ternyata ketika saya usaha dari pagi sampai dengan pagi, bukan dari pagi sampai dengan sore yang saya alami seperti itu. Jadi lebih enjoy karena kita bisa mengatur sesuai dengan keinginan kita. Mau arahnya ke mana nih? Itu tergantung dari sisi saya sendiri gitu. Jadi saya sempat di Malang terus ngelihat ada beberapa peluang di sana mungkin salah satu brand juga besar di sana ya. Lah saya menikmati di situ. Saya lihat kondisinya di sana. Kenapa kok banyak konsumennya perempuan? Sedangkan saya tipikal orang yang enggak suka pedas, Mas. Tapi saya menilainya pengin menilai kenapa sih tempat itu bisa dikunjungi wanita dan mereka kok suka yang pedas gitu. Salah satunya itu. Jadi dari situ saya terbesit. Saya punya pengalaman background mie ya dulu saya bikin somainya sendiri, saya bikin intinya saya dulu waktu bikin bakso sama itu kan kondimennya kita bikin sendiri semuanya. Jadi kita tahu mau memproduksinya itu arahnya gimana, kualitasnya mau dibikin seperti apa, itu saya bisa untuk membuatnya gitu kan. Terbesit. Kenapa enggak saya jual di Kediri dengan konsep siapa tahu sama orang Kediri suka dengan makanan seperti ini kan gitu. Jadi ya dulu adalah pertama kali di 2015 saya membuat dengan brand namanya Mie Judes. Mie juaranya pedes sebenarnya gitu dasarnya. Jadi kita mengambil konsep segmen anak-anak atau anak sekolah yang suka makan makanan pedas dengan tidak terlalu kenyang. Kalau mie porsinya kan tidak terlalu besar. Jadi mereka bisa menikmati tidak terlalu kenyang tapi bisa merasakan pedas yang mereka inginkan tingkatnya gitu. Jadi sebenarnya berawal 2015 itu kan sudah mulai proses kita mau patenkan. Cuma di sana dari konsultan menyarankan ini sudah ada yang waktu itu namanya adalah ayam judes. Jadi diarahkan, disarankan untuk mengganti yang akan dipatenkan. Akhirnya sebenarnya nama Mijotek itu sudah dari 2015 tapi ketika kita jualan kok Mi Judas masih tetap jalan ya sudah kita masih menjalankan Mi Judes itu sendiri sampai di tahun 2021. Nah, ternyata di tahun 2017 kita juga bingung, ternyata ada yang sudah mematenin nama judes lagi gitu kan. Terus akhirnya kita mau tidak mau merubah dari yang sudah kita patenkan dari Mij Judes menjadi Mijek. Untuk merubah itu kan tidak mudah Mas ya. Brand awal Mi Judes sudah dikenal bertahun-tahun menjadi Mijut itu kan sesuatu yang sangat berat ketika kita untuk memperkenalkan ulang. Jadi saat itu kita butuh waktu 2 tahun untuk bermain dengan beberapa psikologis konsumen ya. Jadi contoh nota kita tambahkan logo JUTEK di sebelahnya logo Judes di gede-gede kita kasih banner yang ada tulisan Mijek-nya. Terus di beberapa desain di sosmet kita juga perkenalkan di situ. Seingat saya di gongnya 2021-22 itu kita totalitas rubah semuanya. sempat ada bergejolakan dari konsumen kenapa nama itu berubah menjadi Mijotek gitu kan. Dan waktu itu udah hampir berapa ratus ribu hampir berapa ratus ribu yang melihat dan komentar itu sudah banyak sekali kan sampai dipikir juga karena marketing S3 ya sebenarnya bukan pada dasarnya juga karena kita mau rubah aja dari M Judas jadi Mutek. Waktu itu kita mengganding beberapa sel food ya dari yang lokal mulai dari kota-kota yang kita miliki Mijut ini termasuk Gediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk gitu. kita coba kerja sama sama mereka semuanya untuk meng-hype-kan gimana caranya memperkenalkan Mijut itu adalah Mijudes itu yang memang agak sedikit berat tapi alhamdulillah sekarang sudah bisa diterima karena mengingat tempat tidak berubah sebenarnya tempat kita juga tidak pindah-pindah tim kita juga tidak ada yang ganti kan gitu jadi kita mencoba untuk memberikan produk yang sesuai juga ke konsumen konsumen mungkin mulai bisa menerima hal itu gitu tapi sekarang pun juga masih ada ketika ngomong itu makan di Mij Judes bukan di Mijutek. Lahir pertama di Kediri itu tepatnya di Parepansi sekitar 15 di Nganjuk, Kediri, Kediri Kabupaten Blitar, Jombang, sama Mojokerto. Kalau dari saya pribadi saya lebih menekankan ke kualitas produk, konsistensi kita memberikan produk dari dulu sampai dengan sekarang itu sangat penting sekali. Kalaupun perlu kita rubah itu harus lebih bagus, bukan lebih turun lagi. Jadi ada beberapa permasalahan yang harus kita perbagi. Umpamanya di kedai A dengan kedai B itu berbeda. Itu kenapa? Nah, itu harus kita perbaiki. Jadi jangan sampai kedai A, B, C itu berbeda-beda untuk rasa. Jadi, saya menekankan di kualitas produk yang kita miliki saat ini. Jadi, kita pasti membuat SOP. SOP yang kedua adalah controlling. Kita buat SOP tanpa controlling orang tidak akan bisa mempertahankan produk itu. Contoh saya melihat pada posisi kenapa saya harus ngambilnya di Jombang, Mojokerto. Jadi ketika saya mengirim barang juga itu tidak terlalu mengeluarkan biaya besar. Yang kedua adalah kita mengambil bahan baku dari luar. kita bisa memilih beberapa agen atau beberapa orang yang bisa men-supplai kita di produk yang kita akan buat gitu, Mas. Bahan bakunya terutama itu juga sangat penting banget kalau menurut saya karena kita bisa menekan cost atau biaya. Contoh saya belum pernah mau mengambil kerja sama dengan pasar atau cabe ya itu dalam 1 tahun harga sama. Itu saya enggak pernah mau. Karena fluktuatifnya cabe itu kita bisa lihat kadang tinggi kadang rendah. Nah, ketika kita tinggi kita akan mengurangi produksi kita, tapi ketika kita rendah, kita akan naikkan di produksi kita. Jadi kita bisa mengurangi biaya yang dari produk yang kita buat sebenarnya di situ. Saya melihat dari sisi kompetitor ini, Mas, yang terutama yang besar kan kalau di Jawa Timur ada dua yang besar dan sekarang di area Kediri juga ada dua. Itu yang besar di sini juga. Saya melihatnya dari sisi yang pertama adalah percepatan mereka untuk berkembang itu sangat luar biasa menurut saya. Memang saya akui saya posisi itu memang saya tidak ada apa-apanya ya mungkin. Tapi kalau ketika saya untuk mempertahankan produk yang saya miliki dengan sampai detik saat ini alhamdulillah segmen yang kita bentuk dari awal sampai dengan sekarang itu ada tersendiri. Itu poin utamanya. Jadi kita membuat produk yang kita miliki, kualitas produk yang kita miliki, pelayanan kita miliki itu bisa mendapatkan konsumen yang tetap mau berkunjung di tempat kita. Jadi dengan beberapa hal itu memang kita bisa mempertahankan dari sisi itu juga salah satunya [Musik] awalnya pasti khawatir ketika opening kompetitor pasti mengalami penurunan signifikan sekali. Tapi ketika beberapa 1 sampai 2 bulan ternyata konsumen sudah bisa memilih produk mana yang tepat untuk mereka nikmati seperti itu. Jadi meskipun ada dua brand yang berbeda, ternyata tekstur yang kita miliki, rasa yang kita miliki juga berbeda. Jadi orang akan memilih mau arah yang kesatu atau yang kedua. Jadi kita mempertahankan gimana caranya agar konsumen yang sudah loyal itu tetap hadir di tempat kita. Salah satunya itu kualitas kita tidak boleh dirubah sama sekali dengan cara pengkontrolan kualitas itu sendiri. Dari awal sampai sekarang itu produknya sama terus ee ada perubahan. Jadi ada pertambahan produk seperti snack itu kita tambah. Terus sekarang memang kita melihat dari kompetitor yang lain kita mempunyai tagline yang baru yaitu juaranya m kuah pedas. Jadi kita punya satu produk andalan yang memang kuah versi rasa Mie Jutek itu sendiri. Jadi saya tidak mau ngerubah base-nya itu harus pedas tapi model Korea. Pedas model ramen saya enggak mau. Tapi memang dari rasa Mie Jutek itu gimana caranya biar bisa masuk menjadi versi kuahnya. itu yang otentik dari yang kita miliki ini yang sebenarnya belum dimiliki kompetitor. Kalau yang dulu kita harus kerja keras ya dari kita melakukan sendiri secara operation-nya. Tapi kalau sekarang kita bisa mencoba untuk manage tim-tim yang ada untuk bisa mengembangkannya lagi gitu loh. Jadi operasinya bukan saya sendiri. Jadi ada tim sendiri yang bisa menjalankan dari sisi operation kedai itu sudah ada sendiri. Jadi saya sudah dibantu di arah sana. Kalau dulu saya harus sendiri nih, mau tidak mau ya tadi dari pagi sampai dengan pagi lah. Sedangkan kalau sekarang kita bisa mengkoordinirkan dan itu pikiran saya tidak hanya satu. Kalau dulu kan cuma satu pikiran saya aja. Kalau sekarang sudah ada tim. Jadi ketika kita pengin perbaikan apa dari sisi apa produknya atau dari sisi punya program promo atau punya plan apa setelah bulan ketiga, bulan keempat target apa di tahun ini, itu sudah kita bisa bicarakan dengan tim. Jadi kita bisa ada yang membantu arah ke sana. Yakinkah bisnis Mi ini masih sustain ke depan? Oke. Ada berapa persen orang yang suka mie di Indonesia ini? Oke. Di setiap rumah ada enggak mie? Apakah itu mie kemasan, apakah itu ada? Artinya ketika ada demand itu pasti bisnis mi akan tetap berjalan. Jadi saya dulu melihat kenapa saya menjalankan bisnis mie ini salah satunya adalah melihat setiap rumah itu pasti ada menyimpan produk mie. Artinya satu rumah itu pasti ada satu orang yang suka dengan mie atau doyan lah minimal gitu. Terus yang kedua, seberapa besar orang Indonesia suka pedas? Mulai dari ayam geprek, mulai dari mie pedas, mulai dari penyetan. Banyak sekali. Hampir semua orang Indonesia tuh suka dengan pedas. Jadi kalau saya melihat dari data tersebut, saya juga optimis Mi ini akan tetap survive untuk ke depannya. Jadi ketika contoh kita mau buka satu tempat, kita kan pasti ngelihat tuh pendapatan per kapitanya berapa. Terus biasanya ngelihat polahnya ada berapa, mungkin ada kampusnya ada berapa, perumahannya ada berapa. Jadi kita juga menganalisisnya dari sisi itu juga. Kita mau buka di satu tempat tapi di tempat itu tuh enggak berpotensi. Kita enggak akan lanjutkan. Contoh salah satunya dulu pernah ada yang minta ingin franchise sebenarnya pada dasarnya kita tuh enggak ingin memfranchisean, tapi beliaunya untuk minta difranchisekkan. Tapi kita datang, nah kita analisa area itu dan kita paparkan ini loh kelebihannya, ini kekurangannya. Ketika buka di sini ada kompetitornya ini jumlah penduduknya sekian, sekolahnya sekian, kemungkinan tuh omsetnya segini dari yang kita punya data sebelumnya yang kita alami gitu. Jadi ketika dipaksakan tetap tidak akan bisa jalan rugi gitu maksud saya. Jadi kita juga memberikan solusi. Jadi enggak bisa ketika ada orang ingin franchise, oke enggak apa-apa franchise saya dapat duit. Bukan seperti itu konsepnya. Karena kita enggak mau memberikan data yang bohong gitu. Beban. Kalau saya pribadi saya beban sekali ketika memberikan sesuatu data yang tidak sesuai gitu. Hanya untuk kepentingan saya kan banyak sekarang, Mas ya. Oh, mau franchise tiba-tiba ini pasti nih 7 bulan sudah balik modal dan akhirnya minus bangkrut. Nah, kalau kita menerapkannya enggak enggak mau seperti itu. Makanya kita untuk beberapa tahun ini kan memang untuk membatasi orang tidak kita enggak memfranchisekan untuk saat ini gitu kan karena waktu itu belum mampu untuk memberikan produk salah satunya kita enggak bisa mendistribusikan produk kita ke francesesi gitu kan karena kemampuan dari produksi saya yang belum bisa memadai. Jadi kekurangan dari diri saya. Jadi bukan ya saya hantam aja ya enggak apa-apa kamu kasih modal sekian nih sekian jual urusan rugi belakangan. Enggak gitu. Jadi unsur konsepnya adalah ketika kita membangun bisnis mau tidak mau bisnis itu gimana caranya berkembang. Itu yang sangat penting menurut saya dalam menjalan pegang bisnis ini. Mas yang paling murah itu di fase di fase waktu COVID. Jadi COVID itu di mana pemerintah membatasi untuk makan di tempat. Omset yang darinya 100% bisa jadi cuma 30%. Di antara value atau porsi? Porsi aja. Oh saja ya. Bisa diangkat di 400 sampai 500 kan gitu. Iya waktu itu. Terus turun jadi ke 100 kan gitu. Tapi memang itu yang paling terberat karena kita memikirkan tidak bisa memecat karyawan itu sangat susah sekali karena apa? Ada beberapa yang punya cicelan, ada punya kebutuhan, tapi kita kasih pengertian ke mereka, mau tidak ketika diganti 1 hari masuk 1 hari off. Karena kan kita mengingat gimana caranya presion ini tetap jalan, saya bisa tetap menggaji juga dan kebutuhan untuk biaya-biaya lain juga bisa terpenuhi. Meskipun dari sisi saya juga enggak untung, enggak ada masalah. di usia 37 momen paling berat dalam hidup itu di momen apa? Ditinggal Ibu. Jadi waktu saya baru kuliah S2 ditinggal sosok ibu di situ yang buat saya itu down. Jadi ketika down saya itu udah enggak mau ngapa-ngapain lagi, serasa enggak pengin hidup lagi. Karena apapun itu saya tuh selalu cerita sama ibu waktu itu ketika kuliah. Temp saya tuh ibu sebenarnya. Jadi bahasanya adalah beliau yang memberi saya saran, wejang dan sebagainya dan itu masih belum bisa mfonton sampai 5 tahun. Saya sering PP Jogja Kediri, Jogja Kediri hanya untuk berkunjung aja di makamnya Ibu gitu. Jadi setiap ada kendala, masalah saya selalu ke makamnya Ibu. Hanya sekedar pengin curhat. Tapi momen yang paling berharga menurut saya, Mas ya, 2 hari sebelum Ibu saya meninggal kan sudah mau mendaftarkan haji sebenarnya di situ. Jadi kita pengin mendaftarkan sudah melihat di 2 hari sebelumnya itu sudah brosur dan sebagainya setelah 2 hari itu meninggal. Nah, itu yang momen yang menurut saya itu masih teringat terus sampai dengan sekarang kan gimana caranya saya harus bisa berbakti ke Ibu itu gimana gitu. Mungkin waktu dulu belum bisa memberikan terbaik, sekarang pengin memberikan terbaik tapi beliaunya sudah enggak ada kan seperti itu. Jadi saya berharap bisa hidup sampai dengan tua dengan catatan saya bisa mendoakan orang tua saya sampai saya mati. Jadi harapan saya kepada Allah salah satunya adalah itu. Terus yang kedua adalah mensedekahkan sebagian pendapatan saya untuk almarhum ibu saya. Saya ingin bersedekah untuk orang tua saya ini yang sudah meninggal gitu. Prinsip saya adalah itu. Jadi saya bagikan sebagian atasnya untuk almarhum ibu saya gitu. Untuk next time Mijotek inginnya berkembang lebih besar lagi dan ingin berkembang di beberapa provinsi lainnya. Jadi, next project-nya adalah kita pengin mengembangkan lebih banyak lagi dan membuat lowongan pekerjaan yang lebih besar lagi. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada tim PJUTEK yang ada saat ini dulu yang mulai dari awal juga sampai dengan sekarang juga masih ada. Jadi terima kasih atas kerja samamanya untuk mengembangkan bisnis ini dan semoga bisnis ini bisa berkembang lebih besar lagi. Amin. Amin ya rabbal alamin. Saya Robi Adi Wijaya owner Mijut. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Tepuk tangan] [Musik]
Resume
Categories