Pesaing Berat Mie Gacoan! Strategi Jualan Mie dari Kosan Jadi 15 Cabang
e0ti_q5xKz8 • 2025-06-18
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Jadi waktu saya baru kuliah S2 ditinggal
sosok ibu di situ yang buat saya itu
down. Jadi ketika D saya itu udah enggak
mau ngapa-ngapain lagi, serasa enggak
pengin hidup lagi. Karena apapun itu
saya tuh selalu cerita sama Ibu. Jadi
bahasanya adalah beliau yang memberi
saya saran, wejang, dan sebagainya. Dan
itu masih belum bisa sampai 5 tahun.
Saya sering PP Jogja Kediri, Jogja
Kediri hanya untuk berkunjung aja di
makamnya Ibu gitu. Jadi setiap ada
kendala, masalah saya selalu ke makamnya
Ibu. hanya sekedar pengin curhat
ee ini shoot atau sudah shoot? Sudah
shoot. Ini sudah. Oh, sudah. Sudah mulai
sor.
Oke. Perkenalkan nama saya Robi Adiw
Wijaya bertempat tinggal di Kota Kediri.
Usaha yang saya geluti Mi Level yaitu
merek dengan brand Mi JUT. Mie JUTEK
berdiri dari 2015 sebelum usaha
aktivitas seperti biasa ya kita sekolah
kuliah. Nah ketika waktu kuliah
ngejalanin usaha kecilan seperti bakso
mie ayam waktu sembari kuliah di Jogja.
Jadi ketika itu kita lagi proses tesis,
akhirnya saya tutup karena dosen yang
saya itu mau ke luar negeri. Jadi mau
enggak mau harus menyelesaikan dengan
tepat. Setelah itu mulai baru balik ke
Kediri lagi gitu. Pada dasarnya suka
mengeluti bidang memasak ya. Jadi saya
dulu suka ketika kuliah itu sering makan
masak sendiri. Jadi iseng, trial, error
sendiri. Nah, ada waktu luang pengin
untuk mencoba untuk berbuka usaha. Salah
satunya yang berhubungan dengan pribadi
adalah makanan ya. Dan di Jogja itu kan
juga anak kuliah banyak ya. Jadi kayak
makanan bakso sama mie itu adalah
sesuatu yang biasanya sudah masuk di
lidahnya para mahasiswa sih. Jadi coba
untuk masuk di sana. Dari situ terbesit
kita berbuka usaha. Kebetulan kita dalam
bentuk kedai. Jadi beberapa aset yang
kita miliki justru itu berawal dari
tabungan ya. Jadi kita sewa tempat terus
aset itu kita meminimalkan dari bikin
sendiri. Jadi tempat-tempatnya tuh biar
lebih hemat tuh gimana. Jadi mengurangi
cost untuk membangun usaha itu salah
satunya itu. Dan yang kedua proses dari
awalnya memang saya lakukan sendiri dari
saya produksi bakso setelah subuh sampai
dengan jam 0.00 sudah mulai berangkat ke
kedai
belanja justru di sore kalau belanja
kita di malam hari karena ada pasar
malam kalau di Jogja itu ya pasar
Iwangan kan gitu jadi malam kita proses
belanja paginya proses untuk pembuatan
produk termasuk mie. Jadi, mie juga
bikin sendiri, tidak beli dari pasar.
Jadi, kita tahu produk kita itu apa yang
kita jual itu harus bisa dimakan kita
sendiri. Jadi, kita
mempertanggungjawabkan itu. Jadi, aman
ketika kita konsumsi cara pribadi maupun
kita jual di luar sekaligus
menyelesaikan tesis. Iya. Nah, ini yang
asik di situ sebenarnya. Jadi, ketika
kita sibuk di pagi hari, waktu yang
tepat ketika kita menunggu pelanggan
biasanya. Jadi ketika ada pelanggan
kosong kita coba untuk mengerjakan tesis
itu. Jadi tidak bisa sekaligus pagi
harus saya kerjakan, enggak bisa. Jadi
saya harus mengerjakan dulu poin
utamanya di pembuatan bakso sama mya nih
bahan setengah jadi. Kita buka dulu di
kedai jam 09.00 baru kita sembari nunggu
ya sembari bawa catatan atau note ya.
Kemarin notebook yang kita miliki kita
edit. Jadi ada beberapa yang dari dosen
nanti akan kita rubahlah. Kebetulan di
situ kita mencoba untuk memperbaiki apa
kekurangan dari tesis kita sembari
nunggu pelanggan.
Datang ke kota orang. Heeh. Asli Kediri
datang ke Jogja
ambil kuliah. Kok berani? Awalnya memang
ragu ya tapi itu sudah saya trial ke
teman-teman. Jadi saya punya temuan
kuliah yang nota b saya untuk trial.
Jadi saya enggak mau ngejual tanpa ada
yang mencicipi. Dan untungnya teman saya
itu memang dia tipikal yang jujur. Jadi
kalau ada kekurangan dari produk yang
saya kasih pasti diconfirm, "Oh, ini
kurangnya ini menurut saya dan itu
enggak satu orang." Jadi bisa ada
beberapa orang yang bisa memberikan
masukan ke saya diikuti dengan keinginan
untuk survive tuh gimana sih biar kita
tuh enggak hanya ngerjakan tesis saja
ya. Jadi kalau kadang kita ngerjakan
sesis kan bosan nih tesis mentok
pikirannya di situ kan balik lagi terus
akhirnya ya berpikir ya sekalian jualan
biar pikirannya bisa oh arah ke yang
lain juga gitu. Dan respon orang tua
ketika melihat anaknya malam bikin usaha
kayak apa, Mas? Suruh nutup.
Salah satu orang tua termasuk ayah suruh
menutup usaha itu karena sudah
kebablasan terlalu asik ke arah usaha.
Jadi selesaikan dulu kuliahnya. Tujuan
kamu kuliah bukan tujuan untuk usaha.
Setelah kuliah terserah kamu mau ke
mana. Apakah bekerja ataukah berbisnis
itu hal yang paling Oh iya benar juga
saya gitu. Mau tidak mau saya tutup
semua. Awalnya waktu lulus S1 kan memang
ingin bekerja. Nah, setelah S2 punya
pemikiran sendiri, ada beberapa teman
yang punya usaha sendiri dan membuat
mindset saya itu berubah. Jadi, saya
tidak ingin bekerja, tapi saya ingin
menciptakan pekerjaan waktu itu meskipun
lingkupnya enggak besar kecil ya saya
mencoba untuk arah ke sana kan. Salah
satunya dulu kuliah sempat dapat
beasiswa. Salah satunya usaha itu kan
saya ambil dari tabungan dari beasiswa
itu. Jadi kalau dikuliahnya dibiayain
orang tua, uang usahanya dari beasiswa
itu.
[Musik]
sempat dulu kakek itu juga
background-nya sebenarnya usaha
sebenarnya berawal dari situ cuma orang
tua mulai bekerja tapi ketika saya
mengenal dari teman-teman yang punya
usaha dan tipikal saya orangnya itu
tidak mau yang monoton jadi saya
berusaha untuk bisa berkembang dengan
cara usaha itu sendiri gitu loh. Tapi
saya berpikirnya waktu itu bekerja itu
monoton dari pagi sampai dengan sore.
Tapi ternyata ketika saya usaha dari
pagi sampai dengan pagi, bukan dari pagi
sampai dengan sore
yang saya alami seperti itu. Jadi lebih
enjoy karena kita bisa mengatur sesuai
dengan keinginan kita. Mau arahnya ke
mana nih? Itu tergantung dari sisi saya
sendiri gitu. Jadi saya sempat di Malang
terus ngelihat ada beberapa peluang di
sana mungkin salah satu brand juga besar
di sana ya. Lah saya menikmati di situ.
Saya lihat kondisinya di sana. Kenapa
kok banyak konsumennya perempuan?
Sedangkan saya tipikal orang yang enggak
suka pedas, Mas. Tapi saya menilainya
pengin menilai kenapa sih tempat itu
bisa dikunjungi wanita dan mereka kok
suka yang pedas gitu. Salah satunya itu.
Jadi dari situ saya terbesit. Saya punya
pengalaman background mie ya dulu saya
bikin somainya sendiri, saya bikin
intinya saya dulu waktu bikin bakso sama
itu kan kondimennya kita bikin sendiri
semuanya. Jadi kita tahu mau
memproduksinya itu arahnya gimana,
kualitasnya mau dibikin seperti apa, itu
saya bisa untuk membuatnya gitu kan.
Terbesit. Kenapa enggak saya jual di
Kediri dengan konsep siapa tahu sama
orang Kediri suka dengan makanan seperti
ini kan gitu.
Jadi ya dulu adalah pertama kali di 2015
saya membuat dengan brand namanya Mie
Judes. Mie juaranya pedes sebenarnya
gitu dasarnya. Jadi kita mengambil
konsep segmen anak-anak atau anak
sekolah yang suka makan makanan pedas
dengan tidak terlalu kenyang. Kalau mie
porsinya kan tidak terlalu besar. Jadi
mereka bisa menikmati tidak terlalu
kenyang tapi bisa merasakan pedas yang
mereka inginkan tingkatnya gitu. Jadi
sebenarnya berawal 2015 itu kan sudah
mulai proses kita mau patenkan. Cuma di
sana dari konsultan menyarankan ini
sudah ada yang waktu itu namanya adalah
ayam judes. Jadi diarahkan, disarankan
untuk mengganti yang akan dipatenkan.
Akhirnya sebenarnya nama Mijotek itu
sudah dari 2015 tapi ketika kita jualan
kok Mi Judas masih tetap jalan ya sudah
kita masih menjalankan Mi Judes itu
sendiri sampai di tahun 2021. Nah,
ternyata di tahun 2017 kita juga
bingung, ternyata ada yang sudah
mematenin nama judes lagi gitu kan.
Terus akhirnya kita mau tidak mau
merubah dari yang sudah kita patenkan
dari Mij Judes menjadi Mijek. Untuk
merubah itu kan tidak mudah Mas ya.
Brand awal Mi Judes sudah dikenal
bertahun-tahun menjadi Mijut itu kan
sesuatu yang sangat berat ketika kita
untuk memperkenalkan ulang. Jadi saat
itu kita butuh waktu 2 tahun untuk
bermain dengan beberapa psikologis
konsumen ya. Jadi contoh nota kita
tambahkan logo JUTEK di sebelahnya logo
Judes di gede-gede kita kasih banner
yang ada tulisan Mijek-nya. Terus di
beberapa desain di sosmet kita juga
perkenalkan di situ. Seingat saya di
gongnya 2021-22 itu kita totalitas rubah
semuanya. sempat ada bergejolakan dari
konsumen kenapa nama itu berubah menjadi
Mijotek gitu kan. Dan waktu itu udah
hampir berapa ratus ribu hampir berapa
ratus ribu yang melihat dan komentar itu
sudah banyak sekali kan sampai dipikir
juga karena marketing S3 ya sebenarnya
bukan pada dasarnya juga karena kita mau
rubah aja dari M Judas jadi Mutek.
Waktu itu kita mengganding beberapa sel
food ya dari yang lokal mulai dari
kota-kota yang kita miliki Mijut ini
termasuk Gediri, Mojokerto, Jombang,
Nganjuk gitu. kita coba kerja sama sama
mereka semuanya untuk meng-hype-kan
gimana caranya memperkenalkan Mijut itu
adalah Mijudes itu yang memang agak
sedikit berat tapi alhamdulillah
sekarang sudah bisa diterima karena
mengingat tempat tidak berubah
sebenarnya tempat kita juga tidak
pindah-pindah tim kita juga tidak ada
yang ganti kan gitu jadi kita mencoba
untuk memberikan produk yang sesuai juga
ke konsumen konsumen mungkin mulai bisa
menerima hal itu gitu tapi sekarang pun
juga masih ada ketika ngomong itu makan
di Mij Judes bukan di Mijutek. Lahir
pertama di Kediri itu tepatnya di
Parepansi sekitar 15 di Nganjuk, Kediri,
Kediri Kabupaten Blitar, Jombang, sama
Mojokerto. Kalau dari saya pribadi saya
lebih menekankan ke kualitas produk,
konsistensi kita memberikan produk dari
dulu sampai dengan sekarang itu sangat
penting sekali. Kalaupun perlu kita
rubah itu harus lebih bagus, bukan lebih
turun lagi. Jadi ada beberapa
permasalahan yang harus kita perbagi.
Umpamanya di kedai A dengan kedai B itu
berbeda. Itu kenapa? Nah, itu harus kita
perbaiki. Jadi jangan sampai kedai A, B,
C itu berbeda-beda untuk rasa. Jadi,
saya menekankan di kualitas produk yang
kita miliki saat ini. Jadi, kita pasti
membuat SOP. SOP yang kedua adalah
controlling. Kita buat SOP tanpa
controlling orang tidak akan bisa
mempertahankan produk itu. Contoh saya
melihat pada posisi kenapa saya harus
ngambilnya di Jombang, Mojokerto. Jadi
ketika saya mengirim barang juga itu
tidak terlalu mengeluarkan biaya besar.
Yang kedua adalah kita mengambil bahan
baku dari luar. kita bisa memilih
beberapa agen atau beberapa orang yang
bisa men-supplai kita di produk yang
kita akan buat gitu, Mas. Bahan bakunya
terutama itu juga sangat penting banget
kalau menurut saya karena kita bisa
menekan cost atau biaya. Contoh saya
belum pernah mau mengambil kerja sama
dengan pasar atau cabe ya itu dalam 1
tahun harga sama. Itu saya enggak pernah
mau. Karena fluktuatifnya cabe itu kita
bisa lihat kadang tinggi kadang rendah.
Nah, ketika kita tinggi kita akan
mengurangi produksi kita, tapi ketika
kita rendah, kita akan naikkan di
produksi kita. Jadi kita bisa mengurangi
biaya yang dari produk yang kita buat
sebenarnya di situ. Saya melihat dari
sisi kompetitor ini, Mas, yang terutama
yang besar kan kalau di Jawa Timur ada
dua yang besar dan sekarang di area
Kediri juga ada dua. Itu yang besar di
sini juga. Saya melihatnya dari sisi
yang pertama adalah percepatan mereka
untuk berkembang itu sangat luar biasa
menurut saya. Memang saya akui saya
posisi itu memang saya tidak ada
apa-apanya ya mungkin. Tapi kalau ketika
saya untuk mempertahankan produk yang
saya miliki dengan sampai detik saat ini
alhamdulillah segmen yang kita bentuk
dari awal sampai dengan sekarang itu ada
tersendiri. Itu poin utamanya. Jadi kita
membuat produk yang kita miliki,
kualitas produk yang kita miliki,
pelayanan kita miliki itu bisa
mendapatkan konsumen yang tetap mau
berkunjung di tempat kita. Jadi dengan
beberapa hal itu memang kita bisa
mempertahankan dari sisi itu juga salah
satunya
[Musik]
awalnya pasti khawatir ketika opening
kompetitor pasti mengalami penurunan
signifikan sekali. Tapi ketika beberapa
1 sampai 2 bulan ternyata konsumen sudah
bisa memilih produk mana yang tepat
untuk mereka nikmati seperti itu. Jadi
meskipun ada dua brand yang berbeda,
ternyata tekstur yang kita miliki, rasa
yang kita miliki juga berbeda. Jadi
orang akan memilih mau arah yang kesatu
atau yang kedua. Jadi kita
mempertahankan gimana caranya agar
konsumen yang sudah loyal itu tetap
hadir di tempat kita. Salah satunya itu
kualitas kita tidak boleh dirubah sama
sekali dengan cara pengkontrolan
kualitas itu sendiri. Dari awal sampai
sekarang itu produknya sama terus ee ada
perubahan. Jadi ada pertambahan produk
seperti snack itu kita tambah. Terus
sekarang memang kita melihat dari
kompetitor yang lain kita mempunyai
tagline yang baru yaitu juaranya m kuah
pedas. Jadi kita punya satu produk
andalan yang memang kuah versi rasa Mie
Jutek itu sendiri. Jadi saya tidak mau
ngerubah base-nya itu harus pedas tapi
model Korea. Pedas model ramen saya
enggak mau. Tapi memang dari rasa Mie
Jutek itu gimana caranya biar bisa masuk
menjadi versi kuahnya. itu yang otentik
dari yang kita miliki ini yang
sebenarnya belum dimiliki kompetitor.
Kalau yang dulu kita harus kerja keras
ya dari kita melakukan sendiri secara
operation-nya. Tapi kalau sekarang kita
bisa mencoba untuk manage tim-tim yang
ada untuk bisa mengembangkannya lagi
gitu loh. Jadi operasinya bukan saya
sendiri. Jadi ada tim sendiri yang bisa
menjalankan dari sisi operation kedai
itu sudah ada sendiri. Jadi saya sudah
dibantu di arah sana. Kalau dulu saya
harus sendiri nih, mau tidak mau ya tadi
dari pagi sampai dengan pagi lah.
Sedangkan kalau sekarang kita bisa
mengkoordinirkan dan itu pikiran saya
tidak hanya satu. Kalau dulu kan cuma
satu pikiran saya aja. Kalau sekarang
sudah ada tim. Jadi ketika kita pengin
perbaikan apa dari sisi apa produknya
atau dari sisi punya program promo atau
punya plan apa setelah bulan ketiga,
bulan keempat target apa di tahun ini,
itu sudah kita bisa bicarakan dengan
tim. Jadi kita bisa ada yang membantu
arah ke sana. Yakinkah bisnis Mi ini
masih sustain ke depan? Oke. Ada berapa
persen orang yang suka mie di Indonesia
ini?
Oke. Di setiap rumah ada enggak mie?
Apakah itu mie kemasan, apakah itu ada?
Artinya ketika ada demand itu pasti
bisnis mi akan tetap berjalan.
Jadi saya dulu melihat kenapa saya
menjalankan bisnis mie ini salah satunya
adalah melihat setiap rumah itu pasti
ada menyimpan produk mie. Artinya satu
rumah itu pasti ada satu orang yang suka
dengan mie atau doyan lah minimal gitu.
Terus yang kedua, seberapa besar orang
Indonesia suka pedas? Mulai dari ayam
geprek, mulai dari mie pedas, mulai dari
penyetan. Banyak sekali. Hampir semua
orang Indonesia tuh suka dengan pedas.
Jadi kalau saya melihat dari data
tersebut, saya juga optimis Mi ini akan
tetap survive untuk ke depannya.
Jadi ketika contoh kita mau buka satu
tempat, kita kan pasti ngelihat tuh
pendapatan per kapitanya berapa. Terus
biasanya ngelihat polahnya ada berapa,
mungkin ada kampusnya ada berapa,
perumahannya ada berapa. Jadi kita juga
menganalisisnya dari sisi itu juga. Kita
mau buka di satu tempat tapi di tempat
itu tuh enggak berpotensi. Kita enggak
akan lanjutkan. Contoh salah satunya
dulu pernah ada yang minta ingin
franchise sebenarnya pada dasarnya kita
tuh enggak ingin memfranchisean, tapi
beliaunya untuk minta difranchisekkan.
Tapi kita datang, nah kita analisa area
itu dan kita paparkan ini loh
kelebihannya, ini kekurangannya. Ketika
buka di sini ada kompetitornya ini
jumlah penduduknya sekian, sekolahnya
sekian, kemungkinan tuh omsetnya segini
dari yang kita punya data sebelumnya
yang kita alami gitu. Jadi ketika
dipaksakan tetap tidak akan bisa jalan
rugi gitu maksud saya. Jadi kita juga
memberikan solusi. Jadi enggak bisa
ketika ada orang ingin franchise, oke
enggak apa-apa franchise saya dapat
duit. Bukan seperti itu konsepnya.
Karena kita enggak mau memberikan data
yang bohong gitu. Beban. Kalau saya
pribadi saya beban sekali ketika
memberikan sesuatu data yang tidak
sesuai gitu. Hanya untuk kepentingan
saya kan banyak sekarang, Mas ya. Oh,
mau franchise tiba-tiba ini pasti nih 7
bulan sudah balik modal dan akhirnya
minus bangkrut. Nah, kalau kita
menerapkannya enggak enggak mau seperti
itu. Makanya kita untuk beberapa tahun
ini kan memang untuk membatasi orang
tidak kita enggak memfranchisekan untuk
saat ini gitu kan karena waktu itu belum
mampu untuk memberikan produk salah
satunya kita enggak bisa
mendistribusikan produk kita ke
francesesi gitu kan karena kemampuan
dari produksi saya yang belum bisa
memadai. Jadi kekurangan dari diri saya.
Jadi bukan ya saya hantam aja ya enggak
apa-apa kamu kasih modal sekian nih
sekian jual urusan rugi belakangan.
Enggak gitu. Jadi unsur konsepnya adalah
ketika kita membangun bisnis mau tidak
mau bisnis itu gimana caranya
berkembang. Itu yang sangat penting
menurut saya dalam menjalan pegang
bisnis ini. Mas yang paling murah itu di
fase di fase waktu COVID. Jadi COVID itu
di mana pemerintah membatasi untuk makan
di tempat. Omset yang darinya 100% bisa
jadi cuma 30%. Di antara value atau
porsi? Porsi aja. Oh saja
ya. Bisa diangkat di 400 sampai 500 kan
gitu. Iya waktu itu. Terus turun jadi ke
100 kan gitu. Tapi memang itu yang
paling terberat karena kita memikirkan
tidak bisa memecat karyawan itu sangat
susah sekali karena apa? Ada beberapa
yang punya cicelan, ada punya kebutuhan,
tapi kita kasih pengertian ke mereka,
mau tidak ketika diganti 1 hari masuk 1
hari off. Karena kan kita mengingat
gimana caranya presion ini tetap jalan,
saya bisa tetap menggaji juga dan
kebutuhan untuk biaya-biaya lain juga
bisa terpenuhi. Meskipun dari sisi saya
juga enggak untung, enggak ada masalah.
di usia 37
momen paling berat dalam hidup itu di
momen apa? Ditinggal Ibu. Jadi waktu
saya baru kuliah S2 ditinggal sosok ibu
di situ yang buat saya itu down. Jadi
ketika down saya itu udah enggak mau
ngapa-ngapain lagi, serasa enggak pengin
hidup lagi. Karena apapun itu saya tuh
selalu cerita sama ibu waktu itu ketika
kuliah. Temp saya tuh ibu sebenarnya.
Jadi bahasanya adalah beliau yang
memberi saya saran, wejang dan
sebagainya dan itu masih belum bisa
mfonton sampai 5 tahun. Saya sering PP
Jogja Kediri, Jogja Kediri hanya untuk
berkunjung aja di makamnya Ibu gitu.
Jadi setiap ada kendala, masalah saya
selalu ke makamnya Ibu. Hanya sekedar
pengin curhat.
Tapi momen yang paling berharga menurut
saya, Mas ya, 2 hari sebelum Ibu saya
meninggal kan sudah mau mendaftarkan
haji sebenarnya di situ. Jadi kita
pengin mendaftarkan sudah melihat di 2
hari sebelumnya itu sudah brosur dan
sebagainya setelah 2 hari itu meninggal.
Nah, itu yang momen yang menurut saya
itu masih teringat terus sampai dengan
sekarang kan gimana caranya saya harus
bisa berbakti ke Ibu itu gimana gitu.
Mungkin waktu dulu belum bisa memberikan
terbaik, sekarang pengin memberikan
terbaik tapi beliaunya sudah enggak ada
kan seperti itu. Jadi saya berharap bisa
hidup sampai dengan tua dengan catatan
saya bisa mendoakan orang tua saya
sampai saya mati. Jadi harapan saya
kepada Allah salah satunya adalah itu.
Terus yang kedua adalah mensedekahkan
sebagian pendapatan saya untuk almarhum
ibu saya. Saya ingin bersedekah untuk
orang tua saya ini yang sudah meninggal
gitu. Prinsip saya adalah itu. Jadi saya
bagikan sebagian atasnya untuk almarhum
ibu saya gitu. Untuk next time Mijotek
inginnya berkembang lebih besar lagi dan
ingin berkembang di beberapa provinsi
lainnya. Jadi, next project-nya adalah
kita pengin mengembangkan lebih banyak
lagi dan membuat lowongan pekerjaan yang
lebih besar lagi. Saya juga mengucapkan
banyak terima kasih kepada tim PJUTEK
yang ada saat ini dulu yang mulai dari
awal juga sampai dengan sekarang juga
masih ada. Jadi terima kasih atas kerja
samamanya untuk mengembangkan bisnis ini
dan semoga bisnis ini bisa berkembang
lebih besar lagi. Amin. Amin ya rabbal
alamin. Saya Robi Adi Wijaya owner
Mijut. Terima kasih. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Tepuk tangan]
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:29 UTC
Categories
Manage