Transcript
yR3ahlkkvvE • Strategi Bertani Melon Modern: Modal Awal, HPP, dan Rahasia Panen Cepat
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0538_yR3ahlkkvvE.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Saya baru sadar juga akhir-akhir ini,
Mas. Sebenarnya jadi perhitungannya itu
biasanya orang kan ee ngitungnya
terutama yang green yang dikerjakan
sendiri ya. Maksudnya enggak enggak ada
orang yang bantu. Biasanya kita ngitung
tuh kayak pupuk, benih, obat. Nah,
biasanya tuh orang ini yang ngerjain
kita sendiri tuh enggak masuk hitungan.
Jadi yang dihitung tuh cuman pupuk,
benih, obat gitu. Sedangkan pekerja yang
kita sendiri ngelakuin itu biasanya
belum masuk hitungan. Jadi kayak belum
masuk ke HPP awal gitu. Kadang orang
yang lupa tuh di situ. Jadi yang
dihitung cuman awal-awal tok orangnya
enggak kehitung.
Jadi kalau menurut saya kalau mau
hitungan yang benar ya istilahnya kita
tuh juga digaji walaupun itu punya kita
sendiri gitu. Jadi sebulan misalkan kita
pengin digaji berapa gitu. Nah dari
hitungan gaji itu nanti akan masuk ke
akumulasi e yang lain. Nah dari situ
ketemu HPP-nya, harga pokok produksinya
berapa gitu. Nah, saya sendiri juga baru
nyadar dua periode ini, Mas. Jadi, yang
periode sebelumnya itu saya kerja itu
kayak enggak saya hitung gitu. Eh, jadi
dua K2 ini baru sadar, oh harusnya ini
aku tuh digaji loh, walaupun ini punyaku
sendiri gitu. Jadi hitungannya jelas
gitu. Baru sadarnya di situ, Mas.
Hitungan detailnya di situ.
Sebenarnya sebelum saya merantau dulu,
Mas, ke Jakarta itu sebelum rantau itu
tujuan saya itu rantau itu kembali
pulang pasti. Tapi belum tahu waktunya
kapan kan pulangnya ke desa maksudnya. J
kebetulan saya juga anak tunggal harus
menemani Bapak Ibu yang sudah sepuh di
rumah. Jadi sebelum berangkat dulu
pikiran saya tuh harus pulang. Enggak
boleh menetap selamanya di sana.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Atka
Ahmad Mubarok. Saya pendiri dari Lanina
Faram yang lokasinya di Desa Madesan,
Kecamatan Solopuro, Kabupaten Blitar,
Jawa Timur. Saya mulainya sejak 2024
pertengahan. Masih relatif baru, masih 1
tahun, Mas. Saya, Mas. Panennya
alhamdulillah empat kali, Mas. Ini jalan
yang kelima. Periode kelima. Iya. Iya.
Sebenarnya kalau mau pengin enggak
istirahat ngo, Mas, lanjut gitu bisa
lima kali sih, Mas. H. Jadi, kemarin itu
saya masih ada istirahatnya. Jadi
setelah panen istirahat seminggu 2
minggu baru mulai dari nol lagi. Tapi
kalau mau terus-terusan setelah panen
benih disiapkan segala macam disiapkan
itu bisa 5 kali en kali bahkan Mas.
Heeh. Apalagi yang umure melon yang
kayak cuma 60 hari 55 hari itu bisa lima
kali. Itu pertama itu dari jenis
melonnya Mas. Jenis melonnya kita cari
yang umurnya pendek. Jadi kebanyakan kan
yang sekarang beredarnya 70 hari setelah
tanam. Tapi ada yang di 60 hari atau 55
hari sudah panen gitu. Jadi kalau mau
panen lebih cepat atau lebih banyak
dalam 1 tahun itu nanti kita ketika
panen benih baru tuh sudah siap dan
medianya baru sudah siap. Jadi ketika
satu keluar satu masuk langsung enggak
ada istirahat sama sekali gitu itu bisa
5 kali en kali. Saat ini pakai greenhost
pakai media cocupit gitu. Jadi
sebenarnya kalau hamparan itu kan ilmu
pertanian lebih konvensional. Heeh. Nah,
itu jujur aja saya enggak ada ilmu sama
sekali di situ background-nya. Jadi,
saya lebih memilih yang lebih modern
pakai hidroponik. Nah, hidroponik itu
kalau dari saya sendiri dipelajarinya
itu lebih simpel kalau saya gitu. Kita
pupuknya cuman ada dua A sama B. Terus
kita ee kombinasikan dicampur baru kita
alirkan ke bag. Kalau yang pakai
hamparan jujur aja saya belum pernah dan
kayaknya pupuknya sama rentang waktunya
juga beda sama yang hidroponik gitu.
lebih mudah dipelajari pakai green ya,
Mas ya? Berarti iya secara pemupukan tuh
soalnya kita cuman pakai satu pupuk AB
Mikto gitu. Modelnya lumayan sih, Mas.
Jadi saya dari nol nol itu dalam artian
mulai membuka lahan ya. Dulu kan
lahannya itu masih banyak rumput, banyak
tanaman liar gitu. Itu modalnya all
in-nya sampai jadi siap tanam 100. Itu
kenapa mahal? Karena pembersihan
lahannya juga butuh modal ya. Di samping
modal pembangunan green-nya. Saya nyari
vendor, Mas. cari yang lebih pengalaman.
Jadi daripada saya bangun sendiri yang
belum ada pengalaman, kalau menurut saya
lebih bagus cari vendor yang lebih
pengalaman. Jadi pengerjaannya cepat dan
bagus awet gitu. harapannya seperti itu
kok berani nggih niku sebenarnya nekad
setengah berani lah niku nggih jadi ya
bismillah aja kemarin itu bismillah kita
mulai di bidang pertanian nggih
sebenarnya ee sebelum saya mulai di
greenhost itu pertimbangan pertama itu
harus di bidang pertanian Mas karena
pertanian itu kan semua orang butuh
teknologi secanggih apapun nanti orang
itu pasti baliknya ke pertanian balik
lagi ke masalah perut kan nah di
pertanian ini apa yang kira-kiranya bisa
dilakukan oleh saya yang enggak paham
apa-apa itu. Jadi ee yang lebih mudah
gitu dilakukannya. Jadi saya milih
pertaniannya yang melon dan di dalam
green house ee insyaallah sih belum.
Iya masih belum sih kayaknya sih Mas ya
ee saya enggak hitung detailnya tapi
sepertinya mungkin butuh waktu setahun
lagi kalau masalah balik modal. Cuman di
tujuan saya untuk green itu bukan untuk
balik modalnya sih sebenarnya. Heeh.
Jadi biar untuk saya bisa di kampung
lebih dekat sama keluarga gitu. Jadi
kalau misalkan nilai ekonominya itu
kayak bonus lebih gitu ya kita kan ee
enggak bisa 100% toh windate-nya Mas
itu. Tapi ya tetap masalah aja sih
sebenarnya kan minimal enggak rugi Mas.
Minimal enggak rugi ya. Kita sebisa
mungkin ya meminimalisir hama tetap
sesuai perawatan SOP standar enggak yang
cuman tanam terus enggak dikendalikan
itu enggak gitu ya. Tetap sesuailah sama
SOP. Kalau hitungan kasar saya itu di
greenose itu 2 tahunan, Mas. 2 tahunan
nggih. Longgar itu sudah longgar itu.
Kalau skala yang besar itu pandangan
saya itu di 300 m² sampai 500 itu sudah
lumayan yang besarlah. Heeh. Jadi balik
modalnya ataupun masuk ke skala
industrinya itu sudah masuk gitu.
Populasi 1.000. Jadi 300 m² itu bisa
dipopulasi sekitar 1.000.
[Musik]
Saya baru sadar juga akhir-akhir ini,
Mas. Sebenarnya jadi perhitungannya itu
biasanya orang kan ee ngitungnya
terutama yang green yang dikerjakan
sendiri ya. Maksudnya enggak enggak ada
orang yang bantu. Biasanya kita ngitung
tuh kayak pupuk, benih, obat. Nah,
biasanya tuh orang ini yang ngerjain
kita sendiri tuh enggak masuk hitungan.
Jadi yang dihitung tuh cuman pupuk
benih, obat gitu. Sedangkan pekerja yang
kita sendiri ngelakuin itu biasanya
belum masuk hitungan. Jadi kayak belum
masuk ke HPP awal gitu. Kadang orang
yang lupa tuh di situ gitu. Jadi yang
dihitung cuman awal-awal tok orangnya
enggak kehitung. Jadi kalau menurut saya
kalau mau hitungan yang benar ya
istilahnya kita tuh juga digaji walaupun
itu punya kita sendiri gitu. Jadi
sebulan misalkan kita pengin digaji
berapa gitu. Nah dari hitungan gaji itu
nanti akan masuk ke akumulasi ee yang
lain. Nah dari situ ketemu HPP-nya,
harga pokok produksinya berapa gitu.
Nah, saya sendiri juga baru nyadar dua
periode ini, Mas. Jadi yang periode
sebelumnya itu saya kerja itu kayak
enggak saya hitung gitu. Heeh. Jadi dua
K2 ini baru sadar, oh harusnya ini aku
tuh digaji loh walaupun ini punyaku
sendiri gitu. Jadi hitungannya jelas
gitu. Baru sadarnya di situ, Mas.
Hitungan detailnya di situ. Itu banyak
yang gak notis ya orangnya kayak gitu
ya. Mungkin ya kayak saya contohnya yang
awal-awal gitu mungkin ya. Mungkin
seperti itu. Mungkin yang dihitung kalau
misalkan ada pekerja pun yang pekerja
lepas. Nah, mungkin yang dimasukkan ke
kos HP-nya cuman yang pekerja lepas itu.
Sedangkan dirinya sendiri yang
sehari-hari ngopeni, ngerawat itu lupa
dimasukkan. Gigih. Betul, Mas. Jadi,
perawatan sehari-hari itu untuk ukuran
grenos saya masih sanggup sendiri. Tapi
ada saat-saat tertentu yang saya butuh
orang. Misalkan kayak pindah tanam,
terus polinasi yang ngawinkan bunga
jantan, bunga betina, sama panen. Paling
panen kan banyak toh harus
angkat-angkat. Kalau sendiri kan emas
juga, Mas, gitu, Mas. Jadi butuh orang
beberapa gitu biasanya. Tapi
sehari-harinya itu pagi sore pagi sore
itu saya sendiri yang rawat. Sistemnya
kami pakai vertigasi tetes.
Pertimbangannya itu vertigasi tetes
kelebihannya dia lebih terkontrol untuk
kita menjaga satu pobag aja gitu. Jadi
kita fokus ke pobag itu pertimbangannya
itu jadi dia lebih apa ya kalau misalkan
ada kena penyakit satu itu yang kena
cuma satu bag. Yang lainnya insyaallah
enggak gampang tertular. Resiko
tertularnya lebih sedikit. gitu. Gigih.
Betul. Niku effortnya memang lebih. Saya
akui emang untuk membersihkan media
tanam setelah tanam niku butuh waktu
sekitar 5 hari lah hampir seminggu. Itu
pun dikerjakan 2 t orang. Jadi memang
effortnya lebih tapi di samping itu kan
juga ada kelebihannya gitu. Nah, mungkin
beda sama sistem NFT ya. Kalau NFT kan
habis panen cuman dibersihkan sehari
selesai langsung tanam lagi sudah bisa
lebih cepat gitu. Cuman mungkin juga ada
kekurangannya juga. Masing-masinglah,
Mas. Metode yang petani pakai itu ya
masing-masinglah. Tinggal dari petaninya
aja tuh nyamannya pakai yang mana secara
hitungan yang mana secara nyaman
pemeliharaan yang mana. Bebas sebenarnya
giih. Mas, jadi awal-awal dulu tuh
mengalami itu karena belum tahu kalau
harus diflashing. Jadi di flashing itu
dialirkan air aja di saluran trip
irigasinya gitu. Salah satu tujuan
flasing itu untuk membersihkan
jalur-jalur vertigasinya. Tapi setelah
semakin ke sini kan belajar dari
pengalaman kita lakukan flashing selama
seminggu sekali. Alhamdulillah sampai
saat ini belum ada yang macet lagi, Mas.
Paling adanya tuh yang rusak. Jadi ganti
yang baru aja udah selesai. Nggih.
Alhamdulillah itu saya coba menjaga lah,
Mas. Jadi greenose itu saya ibaratkan
rumah buat melon. Jadi sebisa mungkin
kalau punya rumah itu ya dibersihkanlah
gitu biar tanamannya nyaman gitu. Kalau
misalkan ada yang kotor atau gimana gitu
kan tanaman enggak nyaman nanti rewel
dia, Mas. Jadi banyak penyakit datang
atau segala macam. Jadi saya sebisa
mungkin itu pertama sebelum ee pindah
tanam itu pasti dibersihkan rumput
semuanya. Terus setelah tanam terus di
pertengahan sama di akhir itu pasti
dibersihkan secara berkala sih, Mas.
Gitu. Jadi biasanya yang sering
bersih-bersih nyapu tuh istri saya, Mas.
Kalau saya kan enggak telaten toh nyapu
kayak gitu. Jadi istri saya nyapu ada
debu tuh disapu gitu. Intinya kita
anggap itu rumah lah buat melon. Nggih.
Alhamdulillah dia mau nimbrung. Mas
perannya apa, Mas di usaha ini, Mas? di
Melan ini tiap hari dia itu ke kebun,
Mas, sebenarnya, tapi mungkin durasinya
enggak lama. Biasanya kan dia juga punya
tanggung jawab untuk ngurusin anak kan
di rumah maksudnya. Jadi di kebun tuh
paling sejam 2 jam itu pun sudah cukup
menurut saya kalau setiap hari sejam 2
jam itu ya raketan cuman resik lantai
lah atau bantu-bantu potong-potong apa
itu pasti ada kerjaan gitu, Mas. Itu
alhamdulillahnya masih dibantu. Jadi
enggak enggak berat-berat banget
dikerjain sendiri. Itu luasannya 500 m²,
Mas.
[Musik]
Eh, naik turun ya, Mas. Itu antara 20
sampai 30-an lah. Satu kali panen. Kalau
pas lagi bagus, terus pas lagi rezekinya
itu ya 30. Kalau yang belum rezekinya ya
20-an. Kalau memang waktunya panen ya
harus dipanen gitu ya, Mas ya. Gak gak
bisa nunggu ya. Gigih betul enggak bisa
nunggu karena resiko, Mas. Kalau
kematangan itu nanti coplok jatuh. Jadi
resiko daripada jatuh kan udah enggak
bisa diapa-apain toh. Jadi kalau
waktunya panen ya kita harus tetap
panen. Cuman harga melon harusnya stabil
terutama yang melon premium. Kalau cara
menjual itu utamanya lewat sosial media.
Sosial media nggih. Jadi saya biasanya
kalau ada waktu panen itu promo di
Instagram, di TikTok, Facebook gitu.
Nah, terus selain itu ada beberapa
relasi juga dari teman, kerabat, dari
kerabatnya istri, temannya istri, relasi
istri, relasi ibu bapak itu juga banyak
yang datang, Mas. Ikut manen meramaikan
panen melon lah gitu biasanya. Sangat
efektif, Mas. Jadi yang yang lihat itu
juga pasti ribuan kan. Dari ribuan
mungkin yang datang 100-an sudah cukup,
Mas. Iya. Ya, semogalah Mas nanti ke
depannya semakin banyak lagi yang datang
nanti. Jadi yang saya pakai itu metode
kita rutin upload untuk update
perkembangan melonnya. Jadi calon-calon
customer ini atau calon yang pengin beli
buah ini tahu, oh sekarang tuh sampai
usia berapa sih gitu. Oh, kira-kira
panennya berapa lama lagi sih gitu. Oh,
perkembangan melonya tuh kayak gini loh.
Bagus apa enggaknya itu kita coba
tampilkan di setiap update video-video
yang di sosmet Lanina Farm gitu. Dari
situ sendiri kan customer bakalan aware
toh, Mas, pakai, "Oh, ini udah bentar
lagi panen gitu. Oh, ini udah ada
pengumuman untuk open farm atau apa
gitu." Nanti customer sudah tuh. Jadi,
saya pakai metode yang itu. Em, kalau
saya mungkin, Mas, ya, harga 25 di
sekitaran sini mungkin memang
kelihatannya mahal gitu. He. Jadi, saya
kalau ke tetangga-tetangga saya itu
bagiin aja, Mas, melon. Pernah saya
bagiin melon. Jadi pas panen pertama itu
satu lingkungan sini, satu RT sini saya
bagiin melon rumah gitu. Jadi biar
tetangga-tetangga ini ngerasa nih
bedanya melon yang di dalam Windows
Premium dengan dibanding melon yang
mungkin yang hamparan gitu. Jadi dari
situ kan nanti ada penilaian sendiri
dari mereka, oh ini rasanya lebih manis,
pantas harganya segini gitu. Jadi dari
situ ee paling enggak kita mengurangilah
celado-celadonnya tetangga gitu. Tapi
pernah ya, Mas gitu? Ee belum dengar
langsung sih, Mas. Belum ada yang pernah
ngomong langsung di depan sih. Paling
cuman kebanyakan yang di sini tuh tanya
sih, Mas, bikin apa ini? Jadi, pas
pertama kita bikin kayak pondasi gitu,
mau bikin apa ini? Mau bikin rumah
apa-apa? Kok rumah tapi kok besar banget
gitu. Saya jawab, "Ini bikin rumah
melon." gitu. Melon perlu dibikin rumah
gitu. Terus akhirnya ya saya coba
jelaskan kalau ini metode baru lah.
Terbaru yang di sini tuh belum ramai.
Akhirnya setelah panen satu kali itu
Mas, mereka baru tahu kan, oh ternyata
hasil melon yang dibikinin rumah tuh
kayak gini gitu. Jadi yang negatif itu
belum terdengar langsung ke saya.
Alhamdulillahnya. Sebenarnya di awal
dulu, Mas itu saya milih bidang
pertanian itu belum langsung fokus ke
melon, Mas. Jadi di bidang pertanian itu
apa yang mungkin bisa nilai ekonomisnya
tinggi dan bisa sustain lama gitu. Nah,
ee nilai ekonomis yang tinggi itu kalau
saya dulu mikirnya buah. Nah, jatuhnya
ke melon. Melon ini nilai ekonomisnya
tinggi dan sustainability-nya itu tinggi
karena permintaannya memang banyak, Mas.
Jadi, dari beberapa sejauh ini ya
setahun ini. Jadi, beberapa itu ada yang
menghubungi itu permintaannya melon
banyak per minggunya tuh juga 34 ton.
Jadi, dari angka itu aja kan kita sudah
bisa membayangkan toh, Mas. Banyak
sekali permintaannya ya. Walaupun
mungkin sekarang sudah banyak yang
greenos-greenos itu, tapi selama kita
menjaga kualitas panen, kualitas buah
gitu, customer pasti juga insyaallah
balik lagi. Apalagi kita sudah punya
customer yang loyal, maksudnya customer
yang kalau panen ya udah kembalinya ke
sini. Kalau misalkan pengin melon ya
kembalinya ke sini gitu. Customer yang
loyal itu biasanya yang rabat dekat,
teman, saudara kayak gitu-gitu, Mas.
Selain itu saya juga menjualnya juga
enggak cuman ke customer dekat sini. Ada
yang juga kirim luar pulau, luar kota.
Iya. Sekarang transport kan banyak
opsinya dan packing-nya kita juga coba
yang aman gimana ngih. Jadi packing-nya
itu biasanya kalau keluar kota kita
pakai kardus, kardusnya yang tebal. Jadi
biar enggak terjadi pembusukan itu
kardusnya kita bolongi, Mas. Kita
lubangi. Jadi biar ada sirkulasi. Terus
melon kan juga kita tumpuk-tumpuk biar
hemat. Nah, di antara sela tumpuan itu
kita kasih sekat. Sekatnya itu bentuknya
kardus juga. Jadi dia enggak langsung
bergesekan antar melon satu sama lain.
Nah, itu lebih aman dan nanti sampai di
lokasi pun enggak enggak yang busuk
gitu. Enggak aman. Apa yang membuat
jenengan Mas? Karena balik lagi tadi,
Mas, di pertanian itu kan semua orang
pasti butuh nantinya. Jadi semua ini kan
muaranya ke perut orang masing-masing.
Jadi dunia pertanian ini pasti punya
peluang yang besar. Apapun itu, buah
ataupun sayur ataupun bahan-bahan pokok
gitu. Jadi ke depannya pasti prospeknya
masih tetap bagus. Sebenarnya yang
paling bikin beda itu fleksibilitas,
Mas. Jadi kalau misalkan kerja
profesional kan kita ada jam yang
mengharuskan kita ada di kantor atau
mengharuskan kita kerja misalkan jam
08.00 sampai jam 5.00. Tapi kalau kita
bertani, kita bisa mengatur waktu kita
sendiri. Misalkan pengin ke kebun jam
berapa itu bisa diatur. Tergantung nanti
di kebun ada kerjaan apa gitu. Tapi
balik lagi kan harus ya sesuai SOP lah.
Kalau emang waktunya ada pekerjaan di
kebun ya kita harus ke kebun. Tapi
jamnya kan lebih fleksibel enggak ada
yang nyuruh, enggak ada yang memarahi
Mas. Nanti yang memarahi kan paling
hasilnya. Kalau kita enggak disiplin
mungkin hasilnya juga kurang gitu. Itu
yang paling beda fleksibilitasnya.
Saya di profesional itu di beberapa
posisi, Mas. Jadi sebenarnya jadi yang
pertama itu saya masuk di bidang
manufaktur pompa itu di bagian technical
engineering gitu. Jadi saya yang
menyiapkan pompa yang cocok untuk
kebutuhan customer istilahnya gitu. Jadi
saya yang milihin pompa ya bahasa
sederhananya saya yang milihin pompa
yang cocok yang mana gitu. Jadi ketika
pompa ini sudah cocok kita tawarkan ke
customer. Itu posisi yang awal-awal saya
dulu ee masuk. Terus sebelum resign itu
saya masuk di tim sales-nya di
penjualannya. Jadi saya lebih banyak
berhubungan dengan customer langsung
gitu. Jadi udah udah beda beda profesi
divisinya gitu. Jadi dari dua itu udah
beda gitu. Di profesional emm 8 tahun
Mas totalnya di Jakarta ya. Jadi setelah
saya resign dan pulang ke rumah itu
perbedaan lingkungan itu kan jauh Mas.
di sana itu lingkungannya itu lebih
keramai, hektik, dan kebanyakan itu
kayak kalau saya lihatnya tuh buru-buru.
Semua orang tuh buru-buru serba cepat
gitu. Kalau di sini kan kita mau nyantai
pun juga enggak kelihatan toh. Soalnya
kan di desa kan mau nyantai juga enggak
kelihatan. Kalau di sana tuh pasti
buru-buru gitu. Diburu-buru waktu itu
sebenarnya enggak enak, Mas. Gitu. Jadi
mungkin itu yang bikin betah enggak
betah gitu. Cuman kan juga ada yang
bikin betahnya juga di sana. Di sana kan
fasilitas lebih lengkap. apa-apa ke mana
tuh juga dekat. Mau apapun di sana tu
juga gampang nyarinya gitu. Kalau di
desa kan salah satu kekurangannya kan
kita kalau mau nyari fasilitas misalkan
kesehatan atau fasilitas hiburan itu
juga harus jauh dulu, Mas. Perlu waktu
dulu yang lama gitu. Sebenarnya sebelum
saya merantau dulu, Mas, ke Jakarta itu
sebelum rantau itu tujuan saya itu
rantau itu kembali pulang pasti. Tapi
belum tahu waktunya kapan kan pulangnya
ke desa maksudnya. Jadi kebetulan saya
juga anak tunggal, harus menemani Bapak
Ibu yang sudah sepuh di rumah. Jadi
sebelum berangkat dulu pikiran saya tuh
harus pulang, enggak boleh menetap
selamanya di sana gitu. Tinggal waktunya
kapan, caranya gimana, itu dipikirin
sambil jalan gitu. Jadi motivasi utama
saya sekarang kembali ke desa dan melon
itu ya biar supaya lebih dekat dengan
keluarga semuanya gitu, Mas. Tuh.
Apalagi kan 8 tahun itu sudah waktu yang
lama ya, sudah cukup ya. Apalagi istri
saya juga dulu perantaunya lebih dari eh
13 tahun, 14 tahun dia. Jadi lebih lama
dia juga pengin pulang kampung gitu.
Pulang kampung dekat sama bapak ibunya
di sini, dekat sama keluarga utama yang
di sini gitu. Jadi kalau SOP itu pertama
tanah Mas itu saya juga ikut dari
teman-teman yang melakukan pendampingan.
Jadi SOP awal itu pasti saya ikut dulu
gitu. Tapi semakin ke sini kan kita juga
tahu toh, Mas, sudah pengalaman di lahan
kita ini butuh SOP yang seperti apa.
Nah, berangkat dari situ saya sekarang
sudah ada SOP baru yang sedikit berbeda
enggak enggak sama itu menyesuaikan
dengan kondisi lingkungan karena tiap
lingkungan itu pasti beda-beda gitu.
Jadi di sana mungkin diaplikasikan
berhasil, belum tentu di sini berhasil.
Kalau di Larina Farm itu lingkungannya
kan cenderungnya berembun, banyak
embunnya kalau pagi karena kan
sekelilingnya itu kan pohon-pohon. Nah,
itu SOP-nya itu jadi saya lebih e
antisipasi ke jamur. Jadi, penyemprotan
jamurnya itu saya mulai lebih awal,
lebih rutin, dan timingnya itu timing
yang saya pelajari sesuai biasanya
serangannya itu di usia berapa. Jadi,
sebelum usia itu saya spray. Nah,
mungkin di tempat lain mungkin tidak
seperti itu SOP-nya. Jadi, sesuai
lingkungan masing-masing. Banyak, Mas.
Tantangan noh. Tantangannya itu jamur
pasti kalau di tempat saya. Jadi, jamur
itu lebih rentan menyerang melon-melon
saya. Karena tadi itu, Mas lingkungannya
lebih lembab, lebih rebur-rembun. Itu
lahan punya Ibu pinjam saya, Mas.
Alhamdulillah Ibu punya lahan yang belum
termatkan
secara ekonomis tinggi. Jadi saya coba
manfaatkan. Tapi ada tarifnya setiap
tahun ya ngasih ya? Paling bayarin pajak
tahun.
Iya pajak tahunan. Jadi saya itu belajar
untuk memanfaatkan peluang sebenarnya.
Jadi peluang itu dalam artian misalkan
ada peluang di pertanian yang memiliki
ekonomis tinggi itu saya coba masuk.
Jadi ketika ada peluang itu langsung
kita harus manfaatkan. Jadi intinya ya
pintar-pintar cari peluang aja sih Mas
di samping privilege yang jenengan
sebutkan tadi Mas. Orang-orang kalau mau
belajar di sini boleh ya? Boleh banget
Mas gitu. Jadi kalau mau belajar tinggal
hubungin aja. nomor yang di sosmet nanti
janjian ketemu ke sini gitu. Janjian aja
dulu, Mas. Kadang kan saya juga enggak
di rumah terus toh gitu. Jadi kalau
nanti tiba-tiba ke sini enggak ada orang
kan kasihan gitu mending janjian. Tapi
kebanyakan waktu saya juga di green
house kok begitu. Takutnya nanti pas
ketepaakan pas saya enggak di green
house atau enggak di lokasi gitu kan
kasihan orang Mas kalau mau datang.
Sebenarnya melon itu bagusnya tiap hari
diinceng Mas. Dicek dilihat. Maksudnya
melon itu kan dia itu termasuk tanaman
yang agak manja. Jadi kalau misalkan ada
sesuatu yang enggak normal di melon,
misalkan daunnya kuning yang itu enggak
normal, itu kita harus tahu sesegera
mungkin gitu. Jadi kita tiap hari itu
sebisa mungkin itu dicek,
dikelilinginlah kebunnya itu muter-muter
di kebun aja ada apa enggak yang enggak
normal itu apa gitu. Jadi sebenarnya
enggak bisa ditinggal iya juga, tapi
kalau kita mau ninggal juga kita
pastikan dulu di melon kita tuh aman,
enggak ada apa-apa. Nanti baru boleh
kita tinggal sehari, du hari. gitu.
Kalau enggak ya resikonya itu Mas, kalau
sampai penanganannya terlambat itu
menyebarnya cepat. Kalau di green house
gak bisa liburan panjang ya, Mas ya.
Nah, makanya tadi saya liburannya habis
panen, Mas.
Habis panen baru ayo liburan duluah
seminggu, 2 minggu gitu. Kalau kayak
gini tuh mau liburan ya bisa tapi enggak
tenang akhirnya takutnya Milan
kenapa-napa gitu. Mungkin untuk
teman-teman sesama petani aja kali, Mas.
Untuk teman-teman sesama petani tetap
semangat, tetap kuat, terus tetap
sehatlah. Saya Mubarok, owner Lalina Fam
alamatkan di Desa Mandesan, Kecamatan
Slopuro. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.