Kind: captions Language: id capek ya, Teman-teman. Udah kerja keras tiap hari, ngurus bisnis dari pagi sampai malam, udah promosi, bikin konten, termasuk produksi, bahkan ikut pelatihan tiap hari. Tapi kok rasanya bisnis itu masih gitu-gitu aja ya? Enggak maju, enggak nambah. Yang malah itu nambahnya rasa bingung. Teman-teman juga ngerasa gitu enggak? Banyak pengusaha termasuk saya juga itu fokusnya di hal-hal yang kita sukai. Kita suka desain ya kita akan sibuk di kemasannya. Kita jago promosi, kita bakal bikin konten terus. Kita suka urusan lapangan, yang ada kita akan disibukkan terus lari-lari urusin hal-hal teknis. Tapi jarang itu kita tanya ke diri sendiri, apa benar ini masalah yang harus saya hadapi? Apa betul ini benar-benar masalah utama bisnis saya? Assalamualaikum, saya Surya. Selamat datang di segmen Detektif Bisnis. Dan hari ini saya pengin ngajak teman-teman untuk mikirin satu pertanyaan penting. Pertanyaan yang kelihatannya sederhana tapi sebenarnya bisa mengubah arah usaha kita. Sebenarnya kita ini sedang menjalani bisnis apa sih? dan bagaimana mengenali akar masalah yang selama ini kita hindari supaya bisnis kita ini benar-benar tumbuh bukan cuma sibuk aja. [Musik] Banyak teman-teman pengusaha itu yang semangat banget di awal bikin nama brand, desain logo, desain kemasan, bikin akun Instagram, bikin konten tiap hari. Karena itu memang menyenangkan. itu bisa kita kerjakan dengan percaya diri. Tapi lama-lama akan muncul rasa bingung. Kok udah rajin posting tapi order masih seret. Kok udah sering kasih diskon tapi pelanggan enggak balik lagi. Kok udah capek tapi enggak ada hasil yang benar-benar kerasa. Dan di sinilah jebakannya biasanya muncul. Teman-teman mungkin enggak sadar, tapi bisa jadi kita itu sedang jatuh cintanya itu sama aktivitas, bukan sedang menyelesaikan permasalahan utama. Karena kita suka desain, akhirnya fokusnya kekemasan terus. Karena kita nyaman bikin konten, akhirnya yang jalan promosinya terus. Tapi bagian yang paling penting, bagian yang sebenarnya sedang bocor malah kita abaikan. Padahal salah identifikasi masalah itu bisa bahaya banget buat bisnis kita. Yang pertama misalnya bisnis kita itu bisa mandek karena kita muter aja di tempat yang sama. Udah kerja keras tapi hasilnya enggak naik. Risiko yang kedua adalah kita bisa salah rekrut orang. Karena mikirnya itu bisnis adalah soal promosi, maka yang kita rekrut adalah orang yang jago desain. Padahal sebenarnya yang kita butuhin itu adalah orang yang di bagian gudang yang jago ngatur stok. Yang ketiga, kita bisa menghabiskan sumber daya berupa uang untuk malah mempercantik gejalanya, bukan untuk menyembuhkan penyakit utamanya. Misal kita borong alat produksi yang mahal, padahal belum tentu pasarnya itu kuat untuk membeli dengan harga yang mahal. Dan yang paling berat, resiko paling besar adalah ketika semua ini justru membuat kita kehilangan semangat. Sudah kerja keras tapi kerasa tidak dihargai. Lalu sudah ada niat baik tapi hasilnya enggak kelihatan. Akhirnya yang muncul itu adalah rasa frustasi dan mulai bertanya, "Apa sebenarnya saya ini cocok ya berbisnis?" Sebenarnya bukan, Teman-teman. Bukan karena Teman-teman enggak cocok berbisnis, tapi mungkin karena kita itu belum menyentuh masalah yang sebenarnya. [Musik] Biar kita bicaranya enggak di awang-awang, saya mau ajak teman-teman untuk melihat contoh nyata. bukan dari buku, bukan dari teori, melainkan dari lapangan, dari kehidupan yang mudah ditemui sehari-hari. Kita mulai dari cerita yang paling umum. Ada seorang ibu yang kita sebut saja namanya Bu Rini. Beliau punya toko kue rumahan. Kuenya enak. Pelanggannya banyak yang loyal. Bahkan tiap minggunya mereka sering repeat order. Tapi anehnya omsetnya itu enggak naik. Omsetnya mentok di situ-situ aja. Padahal beliau sudah coba perbanyak varian rasanya, tambah postingan tiap hari, termasuk bikin promo. Nah, waktu kami ngobrol ternyata masalahnya bukan ada di rasa, melainkan ada di bagian distribusinya. Beliau belum punya sistem pengantaran yang rapi, belum ada kerja sama dengan reseller dan belum ada kerja sama dengan outlet-outlet seperti tempat menjual oleh-oleh. Akhirnya jangkauan penjualannya itu hanya ada di sekitar rumah aja. Bisnisnya bukan soal rasa, melainkan soal logistik dan jaringan. Tapi karena fokusnya masih di dapur, bukan di jalanan, ya pertumbuhannya mentok di situ aja. Contoh lainnya ada kenalan, kita sebut saja namanya Mas Dimas. Beliau itu buka barbersop yang keren. Secara desain itu udah bagus banget. Bisa dibilang malah instagramable banget. Awal bukanya ramai, tapi 3 bulan kemudian mulai tuh kerasa pelanggannya berkurang, mulai sepi. Usut punya usut, ternyata hair stylist-nya sering gonta-ganti. Ada yang pulang kampung, ada yang ngerasa enggak cocok sama sistem kerjanya. Akhirnya pelanggan itu enggak nyaman karena hasil potongan rambutnya itu enggak konsisten. Nah, masalah Dimas di sini itu bukan tentang soal penataan ruangnya, tapi ada di rekrutmen dan pelatihan. Barbershop itu bukan cuma soal potong rambut, tapi juga soal menciptakan pengalaman yang konsisten dan itu butuh orang yang tepat. Dan sekarang saya mau cerita sedikit tentang Garung Pam, bisnis peternakan saya. kesalahan saya sendiri. Dulu saya pikir bisnis saya ini adalah soal penjualan. Maka saya habiskan kebanyakan waktu saya di awal-awal dulu itu untuk mikirin strategi penjualan, ngitung margin, mikirin harga, bikin rencana promosi, strategi marketing. Saya ngerasa kalau domba-dombanya bisa laku, berarti saya sudah berhasil. Tapi lama-lama saya mulai ngelihat banyak ternak itu yang bermasalah. Pertumbuhan yang enggak seragam, angka kelahirannya rendah, angka kematian tinggi, banyak kelahiran itu prematur. Dan kalaupun akhirnya lahirnya itu cempinnya normal, induknya malah yang lumpuh. Itu terus-terusan terjadi. Padahal saya sudah nyiapin strategi-strategi penjualan. Dari situ lama-lama saya sadar masalahnya itu ternyata bukan soal marketing, tapi ada di manajemen breeding-nya. Saya belum benar-benar membangun sistem untuk menghasilkan domba yang berkualitas dari hulunya. Saya pikir saya sedang menjalani bisnis pertonakan yang butuh marketing. Padahal saya ini sedang berbisnis yang mempunyai basis produksi dan itu butuh akurasi sistem dan kontrol kualitas bahkan sebelum fase kawin. Waktu itu saya sadar rasanya itu kayak kayak ditampar karena ternyata saya sedang tutup mata terhadap akar masalah yang sebenarnya. Sejak saat itu saya mulai belajar lagi tentang fase kehidupan ternak. Mulai belajar tentang formula pakan, nutrisi ternak. Mulai belajar lebih dalam lagi tentang reproduksi dan termasuk ekosistemnya. Dan pelan-pelan hasilnya mulai terasa bukan cuma dari angka tapi juga dari rasa tenang. Karena akhirnya saya tahu saya enggak lari lagi dari masalah utama. Nah, setelah tahu bahwa banyak dari kita ternyata bisa aja sibuk di tempat yang salah, pertanyaan berikutnya adalah kalau gitu gimana sih caranya biar kita bisa tahu apa sih masalah utama di bisnis saya sebenarnya? Nah, saya mau ajak teman-teman untuk pakai pendekatan yang saya sebut dengan tiga kaca pembesar. Ini bukan rumus rumus ajaib ya, tapi alat bantu sederhana untuk melihat lebih jujur ke dalam bisnis kita sendiri. Yang pertama ada kaca pembesar yang berfungsi untuk mendeteksi rasa sakit. Apa bagian dari bisnis kita yang paling sering bikin kita itu frustrasi? Bagian yang tiap kali muncul yang ada itu kita langsung pening. Misalnya tentang ngatur stok, komunikasi sama tim atau ngejar pembayaran yang enggak lunas-lunas. Nah, justru di situlah seringki masalah utamanya itu tersembunyi, Teman-teman. Kalau kita terus merasa kesal aja di titik yang sama, di titik itu-itu aja, bisa jadi itu bukan karena kita yang lemah, tapi karena kita sedang menahan sesuatu yang sebenarnya perlu dibenahi. Yang kedua, ada kaca pembesar yang berfungsi untuk mendeteksi hal-hal yang teman-teman itu sering hindari. Coba perhatikan apa aja hal-hal yang paling sering kita tunda-tunda. Misalnya udah lama tahu kalau harus cek laporan keuangan tapi ternyata enggak pernah dibuka. Harusnya sudah rekrut orang baru tapi terus kita tunda-tunda. Harusnya belajar tentang strategi distribusi. Tapi kita malah sibuk ngurusin desain fit Instagram. Terkadang apa yang kita hindari itu itu justru yang seharusnya kita hadapi. Dan yang ketiga ada kaca pembesar yang berfungsi untuk mendeteksi hal-hal yang menguras energi kita. Ini yang bikin kita kelihatannya itu sibuk banget. Effort-nya yang besar tapi hasilnya segitu-gitu aja. Kita udah posting konten tiap hari misalnya, tapi enggak ada yang tanya harga. kita udah ikut pelatihan tiap bulannya, tapi masih bingung aja mulai dari mana. Sudah gonta ganti packaging tapi repeat order enggak nahi. Nah, bisa jadi kita sebenarnya sedang mempercantik gejalanya padahal penyakitnya malah belum diobati. Teman-teman, tiga kaca pembesar tadi ini bukan alat untuk menyalahkan diri sendiri, tapi untuk membantu kita menatap lebih jujur. Karena kadang kita itu sibuk nyapu lantai, tapi sebenarnya yang bocor adalah atapnya. Nah, setelah kita melihat dari tiga kaca tersebut, ada satu langkah tambahan ini yang yang penting banget. Kita perlu membedakan antara masalah yang perlu ditaklukkan dan masalah yang memang salah jalur. Saya sebut ini sebagai masalah yang sulit tapi perlu versus masalah sulit karena memang salah arah. Contohnya gini, Teman-teman. mau jualan online misalnya, tapi belum pernah live sebelumnya atau bahkan belum pernah bikin konten sebelumnya, rasanya itu bakal berat banget karena akan terasa enggak nyaman, malu. Nah, ini bisa jadi contoh masalah yang sulit tapi sebenarnya kita perlukan karena begitu berhasil efeknya itu besar, ilmunya akan kepakai terus. Tapi kalau kita sudah jalan 6 bulan misalnya kita jadi sudah belajar dan sudah jalan selama 6 bulan coba jualan produk tapi ternyata enggak laku-laku juga dan data menunjukkan enggak ada permintaan. Mungkin ini contoh masalah karena salah arah. Bukan butuh semangat lebih, tapi butuh keberanian untuk putar haluan. Kuncinya ada di sini. Kalau masalah itu susah karena kita belum bisa, itu masih bisa dipelajari. Tapi kalau masalahnya susah karena pondasinya yang salah, ya kita harus berani ganti cara. Sekarang saya mau ajak teman-teman untuk duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Dari semua yang saya kerjakan minggu ini, berapa banyak sih yang sebenarnya menyentuh akar masalahnya? Dan berapa banyak yang cuma bikin saya itu merasa sibuk terus, tapi ternyata kita tetap berputar-putar di tempat yang sama. Karena dari kejujuran tadi, perubahan biasanya terjadi. [Musik] Di dalam dunia medis misalnya ada orang demam terus dia terus-terusan minum obat pereda panas padahal ternyata dia ini sedang terkena infeksi yang serius. Maka obat itu cuma bisa membuatnya nyaman sebentar, bukan benar-benar sembuh. dan lama-lama infeksinya itu malah bisa menyebar lebih jauh bahkan bisa merusak organ dalam tanpa terasa. Nah, dalam bisnis pun sama. Kita sering sibuk meredakan gejalanya, kita poles desain, kita gencarkan promosi, kita upgrade alat, padahal akar masalahnya belum tersentuh. Dan yang buat wawasan ini berkesan buat saya itu adalah karena hal ini itu juga bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Karena kalau kita mau jujur, ada hal-hal yang harusnya kita selesaikan tapi ternyata kita tunda terus. Ini bukan karena kita tidak tahu solusinya, tapi lebih karena kita takut untuk menghadapinya. Itu kenapa diperlukan keberanian. Keberanian untuk mundur sejenak dan bertanya sebenarnya apa sih penyakit utamanya? Kadang yang kita butuhkan itu bukan ide baru, tapi kejujuran lama yang selama ini sebenarnya kita hindari. Nah, di titik ini saya ingat satu perumpamaan indah dalam Al-Qur'an. Perumpamaan kalimat yang baik adalah seperti pohon yang baik. Akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Teman-teman, kalau bisnis kita hari ini belum bisa berbuah seperti yang kita harapkan, mungkin bukan karena tanahnya yang salah, mungkin karena akarnya yang belum kita rawat dengan sungguh-sungguh. Dan akar itu bisa jadi hal-hal yang kita hindari selama ini, hal-hal yang kita anggap remeh, hal-hal yang tidak kelihatan, tapi sebenarnya sangat menentukan. Maka tugas kita bukan sekedar menyiram daun, tapi menyusuri akarnya, mencangkul tanahnya, menguatkan yang tersembunyi. Meskipun enggak semua orang mengerti. Karena yang tumbuh dalam diam biasanya itu adalah yang paling kokoh. Dan kalau hari ini teman-teman merasa lelah, merasa seperti jalan di tempat, bisa jadi itu bukan akhir dari perjalanan, tapi ajakan halus dari Allah untuk mulai menengok ke dalam, bukan hanya keluar. [Musik] Teman-teman, kalau video ini terasa relate dengan kondisi bisnis yang sedang Teman-teman jalani, mungkin ini waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, untuk menengok ke dalam, bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk lebih jujur apa masalah utama yang sebenarnya sedang kita hadapi. Nah, kalau Teman-teman bersedia, coba tulis di kolom komentar apa satu masalah yang selama ini paling teman-teman hindari. Tapi teman-teman tahu sebenarnya itu harus diselesaikan. Siapa tahu jawaban dari teman-teman nanti juga bisa jadi cerminan untuk orang lain. Siapa tahu nanti mereka akan semakin tumbuh harapannya karena tahu ada orang lain juga yang sedang merasakan hal yang serupa supaya kita bisa saling berbagi dan bisa saling menguatkan satu sama lain. Terima kasih sudah menonton video ini hingga akhir. Kalau teman-teman merasa konten seperti ini bermanfaat, boleh bantu bagikan ke teman-teman pengusaha lainnya yang kira-kira sedang mengalami hal serupa. Sampai ketemu di video berikutnya. Semoga usaha teman-teman makin bertumbuh, makin berkah, dan makin dekat ke jalan yang benar. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.